Private Arrangement chapter 1 [freelance]

Gambar

                        Allendale’s Proudly Present: Private Arrangement [Chapter-One]  

Genre: Marriage and Drama | Rating: PG-17 | Main Cast: Park Chanyeol and Shin Yeonju | Support Cast: Kim Jongin, Lee Hana, and others

 

.

.

.

 

Summary:

Park Chanyeol, penerus L.co Group ke empat, punya masalah: ia harus menikah dan memiliki pewaris. Bahkan bukan ibunya saja yang mendesak Chanyeol. Ada sebuah tradisi dimana penerus saat ini menginjak usia dua puluh tiga dan harus segera merencanakan masa depan perusahaan dengan membuat penerus baru. Chanyeol tidak merasa keberatan, tentu saja, ia hanya mempercayakan ibunya dalam hal ini. Namun terjadi banyak kendala, dua kali bertunangan, sebanyak itu pula ia gagal menikah.

Mengetahui dilema Chanyeol, Shin Yeonju menawarkan diri untuk menjadi pengantinnya. Tapi Yeonju bertekad menjaga jarak dari lelaki itu. Dan ia akan melakukan apa pun untuk menyembunyikan kelemahan terbesarnya, bahwa ia sudah bertahun-tahun jatuh cinta kepada Park Chanyeol.

Setelah lonceng pernikahan dibunyikan, Yeonju menduga Chanyeol merahasiakan sesuatu darinya. Apakah rahasia yang disembunyikan Chanyeol? Bagaimana kehidupan pernikahan mereka? Dan apa reaksi Chanyeol bila mengetahui bahwa istrinya ternyata sudah lama mencintainya?

 

Disclaimer:

Inspired by movie of Anna Karenina and Boys Before Flowers.

Walaupun cerita ini terinspirasi dari kedua film tersebut, cerita sepenuhnya berbeda. Saya cuma mengambil beberapa kejadian dan kebiasaan dari kedua film.

Do not copy-paste this fanfiction without my permission and don’t be a Silent Readers.

 

***

 

 

 

Seoul, South Korea

March 2013

 

Ada beberapa hal yang lebih menyedihkan yang bisa menimpa seorang pria selain diputuskan oleh calon pengantinnya pada hari pernikahan mereka, renung Chanyeol. Namun diputuskan pada hari pernikahan di tengah penderitaan akibat sisa-sisa mabuk berat semalam… well, itu pasti memecahkan rekor nasib sial.

“Aku sangat menyesal!” Kim Seukhye, calon pengantinnya, berbicara dengan suara melengking yang seolah sanggup membuat kulit kepala pria lepas. “Aku tak pernah berniat mengkhianatimu!”

“Benar,” kata Chanyeol. “Kuharap begitu.”

Chanyeol ingin menyandarkan kepalanya yang sakit di kedua tangan, tapi ini jelas-jelas titik yang sangat dramatis dalam kehidupan Seukhye, dan Chanyeol merasa hal itu tidak pantas dilakukan saat ini. Setidaknya ia duduk. Ada kursi berpunggung tegak di kantor gereja, dan Chanyeol sudah mengambil alih tempat itu dengan sikap sangat tidak sopan ketika mereka masuk. Namun sepertinya Kim Seukhye tidak keberatan.

“Oh, Tuanku!” ujar Seukhye, mungkin pada Chanyeol, namun jika mengingat tempat mereka berada sekarang, mungkin dia berseru pada Tuhan. “Aku tak sanggup menahan diri, aku benar-benar tak sanggup. Kau tahu, wanita benar-benar rapuh! Terlalu baik hati untuk melawan sebuah gairah!”

Sebuah gairah? “Sudah pasti,” gumam Chanyeol.

Chanyeol berharap tadi pagi dirinya sempat minum segelas anggur—atau dua gelas. Mungkin minuman itu bisa membuat kepalanya sedikit nyaman dan membantunya memahami apa tepatnya yang berusaha disampaikan tunangannya—selain fakta nyata bahwa gadis itu sudah tidak ingin menjadi istri pemilik L.co Group keempat. Namun Chanyeol, bajingan bodoh yang malang bangun dari tempat tidurnya dan beranggapan hanya akan melewatkan sesuatu yang tidak lebih buruk daripada upacara pernikahan membosankan yang disusul oleh sarapan panjang. Sebaliknya, ia sudah ditunggu oleh Mr. dan Mrs. Kim di depan pintu gereja.

Mr. Kim tampak muram, Mrs. Kim terlihat sangat gugup. Selain itu, calon pengantinnya yang cantik bersimbah air mata, dan Chanyeol tahu, di dalam lubuk jiwanya yang kelam  dan suram, bahwa hari ini ia tidak akan menyantap kue pernikahan.

Chanyeol menahan desahan, dan menatap mantan calon pengantin—yang sebenarnya direkomendasikan oleh pamannya sendiri. Kim Seukhye sangat cantik. Rambut gelap mengilap, mata cokelat terang, kulit wajah mulus, dan payudaranya besar, Chanyeol membatin muram ketika gadis itu berjalan mondar-mandir di hadapannya.

“Oh, Seungchan!” sekarang Seukhye berseru, mengulurkan lengan indahnya. Sayang sekali kantor gereja ini sangat kecil. Drama Kim Seukhye membutuhkan panggung yang lebih luas. “Seandainya saja aku tidak mencintaimu sedalam ini!”

Chanyeol mengerjap dan memajukan tubuh, yakin dirinya melewatkan sesuatu, karena ia tidak ingat siapa Seungchan yang disebut-sebut barusan. “Maaf, Seungchan…?”

Seukhye berbalik dan matanya yang secokelat kacang almond membelalak. “Lee Seungchan. Asisten pendeta di Gangnam dekat toko roti milik Ayah.”

Chanyeol dicampakkan gara-gara asisten pendeta?

“Kalau kau bisa melihat mata hazelnya yang lembut, rambutnya yang kuning mentega, dan sikapnya yang tenang, aku yakin kau akan merasakan apa yang kurasakan.”

Chanyeol mengangkat sebelah alis. Sepertinya itu sangat tidak mungkin. Apa mantan calon pengantinnya ini bergurau?

“Aku mencintainya, Tuan. Aku mencintainya sepenuh jiwaku yang sederhana ini.”

Dengan gerakan yang mengejutkan, Seukhye berlutut di hadapan Chanyeol, wajahnya yang cantik dan berlimpah air mata terangkat, kedua tangannya yang putih dan lembut bertaut antara dadanya yang bulat. “Jebal, aku memohon padamu, lepaskan aku dari ikatan kejam ini! Kembalikan sayapku agar aku bisa terbang menuju cinta sejatiku, cinta yang akan kujaga di dalam hati meskipun dipaksa untuk menikah denganmu, dipaksa ke dalam dekapanmu, dipaksa menerima hasrat liarmu, dipaksa untuk—”

“Ya, ya,” Chanyeol cepat-cepat menyela sebelum si kecil Mrs. Kim memperburuk gambaran dirinya sebagai makhluk buas yang senang memaksa. “Aku mengerti aku bukan tandingan seseorang yang berambut sewarna mentega dan hidup sebagai asisten pendeta. Aku mundur dari medan pernikahan. Silahkan. Pergilah pada cinta sejatimu. Selamat, atau apa pun yang kau butuhkan.”

“Oh, terima kasih, Tuan!” Seukhye meremas tangan Chanyeol dan mendaratkan ciuman basah diatasnya. “Aku akan selalu berterima kasih, selalu berutang budi padamu. Seandainya—”

“Benar. Seandainya aku membutuhkan asisten pendeta berambut berwarna sewarna mentega atau istri asisten pendeta, dan lain-lain. Aku akan mengingatnya.” Chanyeol tiba-tiba mendapat inspirasi, lalu merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah cek. Cek yang bernilai tinggi itu seharusnya dicairkan untuk membayar segala persiapan pernikahan yang mendadak ini tadinya. “Terimalah. Hadiah pernikahanmu. Kuharap kau mendapatkan kebahagiaan bersama, eh, Mr. Lee Seungchan.”

Ia menaruh cek itu ke tangan Kim Seukhye.

“Oh!” Mata Seukhye terbelalak semakin lebar. “Oh, terima kasih!”

Setelah menerima hadiah itu, Seukhye segera keluar dari ruangan. Mungkin ia menyadari hadiah berupa cek senilai satu mobil mewah itu merupakan sikap spontan Chanyeol, dan jika ia berada  di sana lebih lama lagi, mungkin pria itu akan berubah pikiran mengenai kebaikan hatinya.

Chanyeol mendesah, mengeluarkan saputangan linen besar, lalu mengelap tangannya yang basah karena ciuman Seukhye. Kantor gereja berukuran kecil yang semula akan menjadi tempatnya menikah. Ia tahu ini bukan pernikahan yang akan dijalaninya dengan berlandaskan cinta. Chanyeol bersikeras bahwa ia tidak akan menikah dengan orang yang mencintainya. Alih-alih ia hanya butuh seorang wanita yang bisa memberinya garis keturunan dan akan dengan berbaik hati memberikan kehidupan yang bebas untuk istrinya kelak.

Sekali lagi, Chanyeol menyadari ia ditinggalkan sendirian di dalam ruangan kecil yang sepi. Chanyeol memasukkan saputangan ke saku jasnya, menyadari salah satu kancing kemejanya sudah longgar. Ia harus ingat untuk memberitahukan pada Jongin.  Chanyeol menyandarkan siku di meja di samping kursinya dan menopang kepala, matanya terpejam.

Masalah kehilangan tunangan seperti ini tidak mungkin terjadi pada abangnya, Park Taehyun, seandainya pria itu hidup cukup lama untuk mencari istri dari kalangan wanita terhormat. Mungkin masalah ada pada diriku sendiri, Chanyeol membantin muram. Ada sesuatu pada dirinya yang tidak disukai lawan jenis—setidaknya jika berhubungan dengan pernikahan. Mau tidak mau ia menyadari bahwa ini kedua kalinya dalam kurang dari satu tahun dirinya mendapat penolakan. Yang pertama, seorang wanita karir–Jung Hyegi yang sekarang sedang menunggu kehamilannya bersama Oh Sehun, sahabatnya sendiri. Ia tidak punya masalah terhadap pengkhianatan Sehun, sama sekali tidak. Meskipun begitu, seorang pria terhormat tetap saja—

Suara pintu kantor gereja yang berderit terbuka menyela lamunan Chanyeol. Ia membuka mata.

Wanita bertubuh tinggi dan langsing terlihat ragu-ragu di depan pintu. Dia teman Jung Hyegi—yang namanya tidak pernah bisa Chanyeol ingat.

“Maafkan aku, apa aku membuatmu terbangun?” tanyanya.

“Tidak, aku hanya beristirahat.”

Wanita itu mengangguk, cepat-cepat melirik ke belakang, lalu menutup pintu, mengurung diri dengan agak canggung bersamanya.

Chanyeol mengangkat alis. Ia tidak pernah menganggap wanita itu sebagai wanita dramatis, tapi bisa jadi pendapatnya benar-benar meleset.

Wanita itu berdiri sangat tegak, pundaknya tegap. Dagunya terangkat tinggi-tinggi. Dia wanita yang sederhana, dengan wajah yang sulit diingat oleh pria—setelah dipikir-pikir, mungkin karena itulah Chanyeol tidak pernah bisa mengingat nama wanita itu. Rambut terang, sedikit kemerahan dan diikat di tengkuk. Matanya cokelat biasa. Pakaiannya tidak modis, jauh dari kata menarik. Namun bukan berarti wanita itu tidak cantik. Jika menatap wanita itu lebih seksama, Chanyeol pasti bisa melihat jejak-jejak urat nadi di balik kulit pucat dan rapuh itu.

Sebaliknya, ia mengalihkan tatapan ke wajah wanita itu. Wanita itu berdiri terpaku ketika Chanyeol mengamatinya, tapi sekarang ada rona samar yang terlihat di tulang pipinya.

Melihat wanita itu gelisah, meskipun sedikit, membuat Chanyeol merasa tidak sopan. Sehingga ucapannya terdengar tajam. “Apa ada yang bisa kubantu, Nona?”

Wanita itu menjawabnya dengan pertanyaan. “Benarkah Seukhye tidak akan menikah denganmu?”

Chanyeol mendesah. “Kelihatannya dia sudah membulatkan hatinya untuk mendapatkan asisten pendeta, dan pengusaha biasa tidak cukup baginya.”

Wanita itu tidak tersenyum. “Kau tidak mencintainya.”

Chanyeol merentangkan tangan. “Sayangnya memang benar, tapi mengakui hal itu membuatku menjadi pria yang tidak terhormat.”

“Kalau begitu aku punya penawaran untukmu.”

“Ya?”

Wanita itu menautkan kedua tangan di depan tubuhnya dan melakukan sesuatu yang mustahil. Dia membuat tubuhnya lebih tegak lagi. “Aku ingin tahu apakah kau mau menikahiku.”

 

 

***

 

 

Shin Yeonju memaksa dirinya berdiri tegak dan menatap mata Chanyeol dengan tenang, tanpa memperlihatkan tanda-tanda merona kekanakan. Bagaimanapun, ia bukan gadis kecil lagi. Ia wanita berusia 22 tahun, sudah sepantasnya ia bersikap seperti wanita sungguhan.

Penawaran yang baru saja ia ajukan benar-benar konyol. Park Chanyeol pria kaya. Pemilik L.co Group. Pria yang memiliki seratus pelayan. Tinggi, tampan, suara berat yang seksi. Pendek kata, pria yang memiliki masa depan yang sempurna bersama gadis-gadis yang tersenyum malu, lebih muda, dan lebih cantik darinya. Meskipun pria itu baru saja ditinggalkan di altar demi asisten pendeta.

Jadi Yeonju mempersiapkan diri untuk tawa, sikap meremehkan, atau yang paling buruk, rasa iba dari pria di seberang sana.

Namun, Chanyeol hanya menatapnya. Mungkin pria itu tidak mendengar ucapannya. Mata hitam sang pengusaha sedikit kemerahan, dan jika dilihat dari caranya memegangi kepala saat ia masuk, Yeonju menduga pria itu berpesta habis-habisan semalam.

Yeonju nyaris tidak menghadiri pernikahan Park Chanyeol. Seukhye sepupu jauhnya, yang baru satu atau dua kali mengobrol dengannya. Namun, Shin Bona, kakak iparnya—yang kebetulan mendapat undangan—jatuh sakit tadi pagi dan memaksa Yeonju datang mewakili keluarga mereka. Jadi di sinilah ia berada, baru saja melakukan hal paling gegabah dalam hidupnya.

Betapa anehnya takdir.

Akhirnya, Chanyeol bergerak. Ia mengusap wajah dengan tangan besarnya, lalu menatap Yeonju melalui jemari tangannya yang panjang dan terentang. “Aku bodoh sekali—kau harus memaafkan aku—tapi aku benar-benar tak ingat namamu.”

Tentu saja. Sejak dulu Yeonju memang tipe yang berada di pinggir kerumunan. Tidak pernah di pusat kerumunan, tidak pernah menarik perhatian di kampus.

Sedangkan Park Chanyeol sebaliknya.

Yeonju menghela napas, mencengkram jemari sebagai usaha menenangkan getaran gugupnya. Ia hanya punya kesempatan ini dan tidak boleh merusaknya.

“Namaku Shin Yeonju. Ayahku Shin Bongsun dari River Web Design.” Keluarganya terpandang serta terhormat, tapi ia tidak berani menjelaskan lebih jauh. Jika Park Chanyeol belum pernah mendengar tentang mereka, pengakuannya mengenai kehormatan mereka tidak akan ada gunanya. “Ayahku sudah meninggal, tapi aku punya dua saudara laki-laki, Honam dan Donghyun. Ibuku imigran Jepang, dia juga sudah meninggal. Mungkin kau ingat aku berteman dengan Jung Hyegi, yang—”

“Ya, ya,” Chanyeol mengangkat tangan dari wajah dan melambaikan tangan untuk menyudahi cerita Yeonju. “Aku tahu siapa kau, aku hanya tidak tahu…”

“Namaku.”

Chanyeol menelengkan kepala. “Benar. Seperti yang kubilang tadi—aku bodoh.”

Yeonju menelan ludah. “Apakah aku bisa mendapatkan jawaban?”

“Hanya saja…” Chanyeol menggeleng dan membuat isyarat samar dengan jemari panjangnya. “aku sadar terlalu banyak minum dan aku masih sedikit terpana akibat penolakan Seukhye, jadi keadaan mentalku mungkin belum siap untuk digunakan, tapi aku tak mengerti mengapa kau ingin menikah denganku.”

“Kau seorang pria yang berkuasa, Chanyeol-ssi. Bersikap pura-pura rendah hati tidak sesuai untukmu.”

Mulut Chanyeol yang lebar melengkung membentuk senyum samar. “Mulutmu lumayan pedas, ya, untuk wanita yang sedang melamar pria?”

Yeonju merasa leher dan pipinya memanas, dan harus menahan desakan untuk membuka pintu dan berlari—melupakan ini pernah terjadi.

“Kenapa,” Chanyeol bertanya lembut, “di antara seluruh pengusaha yang ada di dunia, kenapa kau ingin menikah denganku?”

“Kau pria terhormat. Aku mengetahuinya dari Hyegi.” Yeonju melanjutkan dengan hati-hati. “Mengingat singkatnya pertunanganmu dengan Seukhye, kau sudah tidak sabar ingin menikah, benar kan?”

Chanyeol menelengkan kepala. “Pasti kelihatannya seperti itu.”

Yeonju mengangguk. “Dan aku ingin memiliki rumah tangga sendiri, bukannya mengandalkan kemurahan hati saudara laki-lakiku untuk mencarikan jodoh.” Sebagian alasan itu benar.

“Kau tak punya uang pribadi?”

“Aku punya investasi besar dan uang milikku sendiri. Selain itu aku ingin menikah muda.”

Chanyeol mengamati, sepertinya cukup puas melihat Yeonju berdiri di hadapannya bagaikan seorang yang mengajukan petisi di hadapan raja. Sesaat kemudian, Chanyeol mengangguk dan berdiri, tinggi tubuhnya memaksa Yeonju mendongak. Yeonju memang wanita bertubuh tinggi, tapi Chanyeol lebih tinggi.

“Maafkan aku, tapi aku harus terus terang untuk menghindarkan kesalahpahaman yang memalukan di kemudian hari. Aku menginginkan pernikahan yang sesungguhnya. Pernikahan yang dengan seizin Tuhan akan menghasilkan anak-anak yang didapat dari ranjang pernikahan yang ditempati bersama.” Chanyeol sedikit tersenyum, mengingat itu adalah kewajibannya sebagai ahli waris. “Tapi aku tidak bisa menjanjikan pernikahan yang berlandaskan cinta. Dengan sangat memalukan harus kuakui, aku hanya menginginkan pewaris. Apa kau bersedia dengan semua hal itu?”

Yeonju menatap mata Chanyeol, tidak berani berharap. “Ya.”

Chanyeol menunduk. “Kalau begitu, Nona Shin, aku merasa terhormat untuk menerima tawaran pernikahanmu.”

Dada Yeonju terasa tercekat, dan pada saat yang sama seakan-akan ada makhluk liar bersayap yang memukul-mukul tulang rusuknya, berjuang untuk membebaskan diri dan terbang ke sekeliling ruang dengan bahagia.

Yeonju mengulurkan tangan. “Terima kasih, Chanyeol-ssi.”

Chanyeol tersenyum jenaka menatap tangan Yeonju yang terulur, lalu menerimanya. Namun bukannya mengguncang tangannya untuk meresmikan kesepakatan, pria itu membungkukkan kepala di atas buku jari Yeonju. Yeonju merasakan gesekan lembut dari bibir hangat pria itu. Ia menahan getaran penuh damba akibat sentuhan sederhana itu.

Chanyeol menegakkan tubuh. “Aku hanya berharap kau akan tetap bertema kasih padaku setelah hari pernikahan kita, Nona Shin.”

Yeonju membuka mulut untuk menjawab, tapi Chanyeol sudah berbalik. “Sayangnya kepalaku sakit. Aku akan mengunjungi kakak laki-lakimu dalam tiga hari ini, boleh? Aku harus bersikap seperti kekasih yang dicampakkan selama setidaknya tiga hari, bukankah begitu? Jika lebih singkat dari itu bisa memberi dampak buruk pada reputasi L.co Group.”

Sambil tersenyum ironis, Chanyeol menutup pintu pelan-pelan.

Yeonju membiarkan pundaknya penuh kelegaan. Sejenak ia menatap pintu, lalu melihat sekeliling ruangan. Ruangan itu sederhana, kecil, dan agak berantakan. Bukan sesuatu yang akan ia ingat sebagai tempat ketika kehidupannya jungkir balik. Namun—kecuali seperempat jam terakhir merupakan mimpi di siang bolong—ini tempat yang menjadi saksi ketika kehidupannya mengalami perubahan kearah yang baru dan sepenuhnya tak terduga.

Ia mengamati punggung tangannya. Tidak ada tanda-tanda yang memperlihatkan bagian yang dicium Park Chanyeol. Ia sudah mengenal Chanyeol selama bertahun-tahun, namun pria itu belum pernah mendapat kesempatan untuk menyentuhnya. Yeonju menempelkan punggung tangan ke bibirnya dan memejamkan mata, membayangkan seperti apa rasanya jika Park Chanyeol menempelkan bibir di bibirnya. Tubuhnya gemetar saat membayangkannya.

Kemudian Yeonju menegakkan punggung lagi, merapikan blouse-nya yang sudah rapi, dan menyapukan jemari di rambut untuk memastikan semua berada di tempatnya. Setelah selesai, ia mulai beranjak meninggalkan ruangan, tapi ketika bergerak, kakinya menabrak sesuatu. Kancing berwarna putih tergeletak di atas lantai, tersembunyi oleh kegelapan sampai ia melangkah. Yeonju memungutnya dan membaliknya pelan-pelan di dalam genggaman. Huruf C terukir di atas kancing itu. Yeonju menatapnya sejenak sebelum menyembunyikan kancing itu di dalam saku celananya.

Kemudian ia keluar dari kantor gereja.

 

 

***

 

 

“Jongin, apakah kau pernah mendengar tentang pria yang kehilangan pengantin dan mendapatkan tunangan pada hari yang sama?” Chanyeol bertanya iseng sore harinya.

Ia sedang duduk berselonjor di dalam bak mandinya yang dibuat khusus dan berukuran sangat besar.

Kim Jongin, anak buah kepercayaannya, berada di sudut ruangan, sibuk mengurusi pakaian di dalam laci. Ia menjawab tanpa berbalik. “Belum, Guv.”

“Kalau begitu, kurasa akulah orang pertama dalam sejarah yang melakukannya. Korea seharusnya mendirikan patung untukku. Anak-anak kecil akan menghampiri patungku dan melongo sementara para orangtua mereka menegur agar tidak mengikuti jejakku yang gegabah.”

“Benar sekali, Guv.” Jawab Jongin datar.

Kim jongin memiliki suara yang sempurna. Sebagai orang yang bekerja untuk mengurus segala keperluan Chanyeol, Jongin termasuk pria yang menawan. Bertubuh tinggi, mata yang tajam, serta rahangnya yang tegas membuat dirinya selalu dikait-kaitkan sebagai pria dengan tangkapan bagus untuk dijadikan pendamping hidup. Chanyeol memang pria paling berpengaruh di Korea, tetapi Jongin tidak pernah memanfaatkan posisinya sebagai ajudan untuk hal yang tidak pantas.

Chanyeol menemukan Jongin sewaktu mengunjungi bar murah bersama Sehun. Kalau saja hari itu ia tidak memenuhi teman lamanya untuk bertemu disana, ia tidak akan menemukan orang sepintar Jongin dimana pun. Jongin menghabiskan hari-harinya di bar. Chanyeol pertama kali melihat Jongin di motel kumuh, mendapat pukulan keras dengan tabah. Pemandangan itu benar-benar membuatnya terusik hingga saat Jongin keluar dari bar, Chanyeol menawari pria itu posisi sebagai pelayan pribadinya. Jongin langsung menerima tawaran itu. Dua tahun kemudian, Jongin menjadi pribadi yang dingin. Setidaknya ia setia pada Chanyeol, dan berusaha membuang jauh-jauh masa kelamnya sebagai Pria Penggoda.

“Apakah kau sudah mengirim surat itu pada Nona Shin?” Chanyeol sudah menulis surat dengan sopan menyatakan dirinya akan mengunjungi kakak Yeonju tiga hari dari sekarang jika wanita itu tidak memperlihatkan tanda-tanda berbuah pikiran.

“Sudah, Guv.”

“Bagus. Bagus. Kurasa pertunangan ini akan berhasil. Aku punya firasat soal itu.”

“Firasat?”

“Ya,” kata Chanyeol. “Seperti yang kurasakan beberapa malam yang lalu saat bertaruh sepuluh dolar untuk kuda betina berleher panjang,”

Jongin berdeham. “Saya rasa kuda betina itu terbukti payah.”

“Benarkah?” Chanyeol mengayunkan sebelah tangan. “Tak masalah. Tak seorang pun boleh membandingkan wanita dengan kuda, dalam kondisi apa pun. Intinya aku berusaha menyampaikan bahwa kami sudah tiga jam bertunangan, dan Nona Shin belum membatalkannya. Kau pasti terkesan, aku yakin.”

“Itu pertanda positif, Guv, tapi bolehkah saya ingatkan bahwa Nona Kim menunggu sampai hari pernikahan kalian untuk memutuskan pertunangan.”

“Ah, tapi dalam kasus ini, Nona Shin yang mengajukan gagasan mengenai pernikahan.”

“Benarkah?”

Chanyeol berhenti menggosok kakinya. “Tapi aku tidak mau kenyataan ini terdengar di luar ruangan ini.”

Tubuh Jongin berubah kaku. “Tidak, Guv.”

Chanyeol mengernyit. Sial, ia sudah membuat Jongin tersinggung. “Tidak baik menyakiti perasaan wanita meskipun dia menyerahkan dirinya di kakiku.”

“Menyerahkan, Guv?”

“Secara kiasan.” Chanyeol membuat isyarat menggunakan sikat bergagang panjang, mencipratkan air ke kursi di dekatnya. “Sepertinya dia mendapat kesan aku setengah mati ingin menikah sehingga mungkin saja mau menerimanya.”

Jongin mengangkat sebelah alis. “Dan Anda tidak meluruskan pendapatnya?”

“Jongin, Jongin, bukankah aku pernah memberitahumu agar tidak menentang ucapan wanita? Itu membuang-buang waktu—bagaimanapun mereka tetap akan memercayai apa yang mereka inginkan.” Chanyeol menekan hidungnya dengan sikat mandi. “Lagi pula, aku memang harus menikah. Menikah dan memiliki keturunan seperti yang dilakukan oleh seluruh leluhurku. Tidak ada gunanya berusaha menghindari tugas itu. Satu atau dua orang anak laki-laki—mudah-mudahan kepala mereka setidaknya berisi setengah bagian otak—harus dimiliki untuk melanjutkan bisnis turun-temurun keluarga Park. Cara ini menghemat waktuku sampai berbulan-bulan karena tidak perlu keluar dan meminang gadis lain. Kau tahu kan, ibuku bisa saja membuka audisi konyol demi mencari istri yang sepadan.”

“Ah. Kalau begitu menurut Anda, wanita mana pun sama saja?”

“Ya,” kata Chanyeol, lalu cepat-cepat berubah pikiran. “Tidak. Terkutuklah kau, Jongin, atas logikamu yang bak pengacara. Sebenarnya, ada sesuatu pada diri Nona Shin. Aku tidak tahu bagaimana cara menggambarkannya. Dia memang bukan wanita yang akan kupilih, tapi ketika berdiri di hadapanku, dia terlihat sangat berani sekaligus mengerutkan kening seakan-akan aku akan meludah di hadapannya…well, aku terpesona, kurasa. Jelas dia bukan salah satu wanita yang mengharapkan cinta.”

“Tentu saja.” gumam Jongin.

“Omong-omong. Maksudku aku berharap pertunangan ini berakhir dengan pernikahan. Kalau tidak, aku akan segera mendapat reputasi sebagai telur busuk.”

“Benar, Guv.”

Chanyeol menatap langit-langit sambil mengernyit. “Jongin, kau tidak boleh menyetujui ucapanku saat membandingkan diriku dengan telur busuk.”

“Baik, Guv.”

“Terima kasih.”

“Sama-sama, Guv.”

Chanyeol mendengus. “Kau masih saja memanggilku Guv.”

“Hanya karena Anda tidak mau dipanggil ‘Tuan’ oleh saya.”

“Ya, ya, terserah kau saja.” Chanyeol mengibaskan tangannya. “Aku hanya bisa berdoa Nona Shin tidak bertemu dengan asisten pendeta mana pun dalam beberapa minggu sebelum pernikahan. Terutama yang berambut kuning mentega.”

“Benar.”

“Tahukah kau,” Chanyeol berkata dengan nada merenung. “kurasa aku belum pernah bertemu asisten pendeta yang kusukai.”

“Benarkah?”

“Rasanya mereka selalu tidak punya dagu.” Chanyeol menyentuh dagunya sendiri yang agak panjang.

Di sisi lain kamar, Jongin memindahkan setumpuk pakaian ke puncak lemari. “Apakah hari ini Anda akan tinggal di rumah, Guv?”

“Sayangnya tidak. Ada urusan lain yang harus diselesaikan.”

“Apakah urusan Anda berkaitan dengan penjualan lahan milik Kim Dongguk di Gangnam itu?”

Chanyeol mengalihkan tatapannya dari langit-langit pada orang kepercayaannya. Ekspresi Jongin yang biasanya kaku terlihat sedikit mengernyit di sekitar mata, yang merupakan ekspresi cemas pria itu.

“Sayangnya begitu. Setelah lahan terjual, aku harus segera mencarikan sebuah rumah untuk mereka. Nari pasti sangat terguncang, apalagi saat ia tahu aku mendapat tunangan yang baru. Aku harus menemaninya, setidaknya sampai ia merasa tenang.”

Jongin melintasi ruangan sambil membawa handuk besar. “Selalu beranggapan wanita itulah yang akan menjadi istri Anda.”

Chanyeol keluar dari bak mandi menerima handuknya. “Ya, selalu beranggapan seperti itu.”

Jongin mengamati Chanyeol mengeringkan tubuh, dengan ekspresi yang sama di matanya. “Maafkan saya, Guv, saya tidak senang bicara di luar wewenang saya—”

“Tapi kau tetap akan melakukannya,” gumam Chanyeol.

Jongin melanjutkan ucapan seakan-akan tidak mendengarnya. “Tapi saya khawatir Anda mulai terobsesi dengan wanita ini. Ayahnya terkenal tukang mabuk, dan saya yakin ibu Anda tidak akan senang mendengar Anda masih berhubungan dengan wanita itu. Apa yang membuat Anda beranggapan dia pantas mendapatkan cinta yang tulus dari Anda?”

“Tak ada.” Chanyeol melempar handuk dan berjalan ke kursi tempat pakaiannya berada lalu mulai berpakaian. “Dia mandiri, pintar, pekerja keras, dan entah apa lagi yang jelas Tuhan tahu sampai kapan pun aku akan mencintainya. Karena aku memang akan mencintainya sampai Tuhan mengambil nyawaku. Hanya orang bodoh yang tidak menyukainya, termasuk ibuku. Tapi aku tak bisa membiarkan perusahaan leluhurku hancur hanya karena menentang kewajibanku sebagai pewaris.”

“Saya khawatir wanita itu bisa membuat Anda bersikap nekad sewaktu-waktu.”

“Tak perlu diragukan lagu kau memang benar, Jongin, seperti biasa.” Chanyeol tidak menatap Jongin ketika memasukkan kepala ke kemejanya. Orang kepercayaannya itu mengaku belum pernah jatuh cinta. Jelas Jongin tidak memiliki dorongan yang sama untuk memperjuangkan itu. “Tapi, sayangnya, alasan tidak penting. Aku harus pergi.”

Jongin mendesah dan membawakan sepatu Chanyeol. “Baiklah, Guv.”

Chanyeol duduk untuk memasang sepatunya yang besar. “Sudahlah, Jongin. Aku tidak akan membantah perintah ibuku untuk menikah dengan wanita dari keturunan terhormat.”

“Terserah Anda, Guv.” Jongin bergumam sambil membersihkan kamar mandi.

Chanyeol selesai berpakaian tanpa bersuara, lalu menghampiri meja rias untuk menyisir dan merapikan rambutnya.

Jongin mengulurkan mantelnya. “Saya yakin Anda tidak lupa, Guv, bahwa Mr. James meminta kehadiran Anda lagi di tanah Park di Pulau Jeju.”

“Sial.” James adalah pengurus tanahnya dan sudah menulis beberapa surat meminta bantuannya dalam masalah perselisihan tanah. Chanyeol sudah mengabaikan pria itu karena harus menikah dan sekarang… “Mr. James terpaksa harus menunggu beberapa hari lagi. Aku tak bisa pergi sebelum berbicara dengan kakak Nona Shin. Tolong ingatkan aku lagi saat aku pulang.

Chanyeol memakai mantelnya, mengambil kacamata, dan keluar dari ruangan sebelum Jongin sempat protes lagi.

 

 

***

 

 

Malam itu, Yeonju duduk sambil makan malam dan menatap daging rebus, wortel rebus, dan kacang polong rebus. Sebenarnya, ini makanan kesukaan kakaknya, Donghyun. Yeonju duduk di satu sisi meja makan panjang sambil mempertimbangkan bagaimana ia akan memberitahu kakak dan iparnya mengenai kesepakatannya dengan Park Chanyeol. Ia memotong sebagian kecil daging sapi dengan hati-hati. Ia mengambilnya dengan jemari dan mengulurkan potongan daging itu ke bawah meja. Di sana, Yeonju merasakan hidung kecil dingin menyentuh tangannya, kemudian daging itu menghilang.

“Aku sangat menyesal melewatkan pernikahan Kim Seukhye,” Shin Bona berkomentar dari ujung meja. “Atau tepatnya pernikahan gagalnya, karena aku yakin ibunya, Mrs. Kim, pasti senang jika aku hadir. Aku diberitahu banyak orang bahwa aku bisa menenangkan dan menghibur orang-orang yang sedang ditimpa kemalangan, dan saat itu Mrs. Kim lumayan malang, bukan?”

Bona berhenti sebentar untuk mengambil potongan kecil wortel rebus dan menatap suaminya meminta persetujuan.

Donghyun menggeleng. “Gadis itu harus dihukum sampai berpikir jernih lagi. Mencampakkan seorang pria paling berpengaruh di Korea. Itu namanya bodoh. Bodoh!”

Bona mengangguk. “Kurasa dia sudah gila.”

Donghyun semangat mendengarnya. Dia selalu tertarik dengan penyakit terlepas profesinya sebagai dokter. “Apa keluarga itu memiliki riwayat penyakit gila?”

Yeonju merasakan sodokan pelan di kakinya. Ia menunduk dan melihat hidung hitam kecil menintip dari bawah tepian meja. Yeonju memotong daging lagi dan mengulurkannya ke bawah meja. Hidung dan daging itu sama-sama hilang.

“Aku tidak tahu apakah keluarga itu punya riwayat penyakit gila, tapi aku tidak akan terkejut,” jawab Bona. “Tidak, sama sekali tidak terkejut. Tentu saja, tidak ada riwayat penyakit gila di sisi keluarga kita, tapi keluarga Kim tidak bisa mengatakan hal yang sama, sayangnya.”

Yeonju menggunakan garpunya untuk mendorong kacang polong ke tepian piring, merasa kasihan pada Seukhye. Bagaimanapun, Seukhye hanya mengikuti kata hatinya. Yeonju merasakan sebuah cakar menyentuh lututnya, tapi kali ini ia mengabaikannya. “Kurasa Seukhye jatuh cinta pada asisten pendeta.”

Mata Bona melebar. “Kurasa itu tidak pantas.”

“Sama sekali tidak pantas,” Donghyun menjawab sesuai dugaan. “Gadis itu sudah mendapatkan jodoh yang memuaskan, dan dia membuangnya begitu saja demi asisten pendeta.” Donghyun mengunyah sambil merenung beberapa saat. “Menurutku Mr. Park beruntung kehilangan gadis itu. Bisa saja membawa bibit kegilaan ke dalam garis keturunannya. Tidak bagus. Sama sekali tidak bagus. Lebih baik dia mencari istri di tempat lain.”

“Omong-omong soal itu…” Yeonju berdeham. Ia tidak mungkin menemukan percakapan pembuka yang lebih baik dari ini. Sebaiknya cepat-cepat diselesaikan. “Ada sesuatu yang ingin kukatakan pada kalian.”

“Ya, Sayang?” Bona sedang memotong daging sapi di piringnya dan tidak mendongak.

Yeonju menghela napas dalam dan mengatakannya dengan terus terang. Tangan kirinya berada di pangkuan, dan ia merasakan sentuhan menenangkan dari lidah yang hangat. “Mr. Park dan aku membuat kesepakatan hari ini. Kami akan menikah.”

Bona menjatuhkan pisau.

Donghyun tersedak anggur yang diminumnya.

Yeonju mengernyit. “Kupikir kalian harus mengetahuinya.”

“Menikah?” Tanya Bona. “Dengan Mr. Park? Park Chanyeol, penerus L.co Group keempat?”

“Ya.”

“Ah.” Donghyun menatap istrinya—yang sama sekali tidak sanggup berkata-kata. Donghyun berpaling pada Yeonju. “Apa kau yakin? Mungkin saja kau salah paham menanggapi ekspresi atau…” ucapannya berhenti begitu saja. Mungkin berpikir Yeonju telah melakukan sesuatu sehingga Chanyeol mau menikahinya.

“Aku yakin.” Yeonju berkata pelan tapi jelas. Ucapannya tenang, meskipun jantungnya bernyanyi di dalam dada. “Mr. Park bilang akan menemuimu tiga hari lagi untuk membicarakan masalah ini.”

“Aku mengerti.” Donghyun menatap makanannya dengan cemas. “Well, kalau begitu kuucapkan selamat, sayangku. Kuharap kau mendapat kebahagiaan bersama Mr. Park.” Ia mengerjap dan menatap Yeonju, mata cokelat pria itu terlihat tidak yakin. “Kalau kau memang yakin.”

Yeonju tersenyum. Meskipun mereka tidak punya banyak persamaan, Donghyun tetaplah saudara laki-lakinya, dan Yeonju menyayangi pria itu. “Aku yakin.”

“Kalau begitu aku akan mengirim pesan untuk memberitahu Mr. Park aku akan menerimanya dengan senang hati.”

“Terima kasih, Oppa.” Yeonju menaruh garpu dan pisaunya dengan sempurna di atas piring. “Nah, sekarang aku permisi, hari ini sangat melelahkan.”

Yeonju meninggalkan meja dan sepenuhnya yakin begitu ia keluar, Donghyun dan Bona akan membicarakan masalah ini. Suara cakar di lantai mengikuti di belakang ketika yeonju berjalan ke kamarnya yang gelap.

Kekagetan keluarganya benar-benar sudah bisa diduga, sungguh. Sudah bertahun-tahun Yeonju tidak pernah memperlihatkan minat terkait dengan hubungan percintaan, alih-alih pernikahan. Sejak pertunangannya yang kacau bersama Min Yonggi dulu. Aneh, jika teringat betapa putus asa dirinya ketika ditinggalkan Yonggi. Semua yang hilang darinya terasa tak tertahankan. Ketika itu emosinya tajam dan membara, sangat mengerikan sehingga ia merasa bisa mati karena penolakan Yonggi. Rasa sakitnya bersifat fisik, luka sayatan dalam yang membuat dadanya nyeri dan kepala berdenyut-denyut. Yeonju tidak ingin merasakan penderitaan seperti itu lagi.

Ia menutup pintu, dan Mouse, anjing terrier kecilnya, melompat ke atas tempat tidur. Mouse berbalik tiga kali, lalu berbaring di atas selimut dan menatapnya.

“Hari yang melelahkan juga bagimu, Mr. Mouse?” Tanya Yeonju.

Anjing itu menelengkan kepala mendengar suara Yeonju, bola mata hitamnya waspada, telinganya yang seperti kancing—satu berwarnya putih, dan satu lagi cokelat—berkedut ke depan.

Yeonju menghampiri meja tulis dan menatap tumpukan kertas yang ada di sana. Ia sudah hampir menyelesaikan terjemahan dongeng, tapi—terdengar ketukan di pintu kamarnya. Mouse turun dari tempat tidur dan menyalak liar di depan pintu seakan-akan di luar ada sekelompok penyerang.

“Hush.” Yeonju menyodok Mouse pelan dengan kaki dan membuka pintu.

Seorang pelayan berdiri di luar. Pelayan wanita itu membungkuk memberi hormat. “Saya mohon, Nyonya, bolehkah saya bicara dengan Anda?”

Yeonju mengangkat alis dan mengangguk, mundur dari depan pintu. Gadis itu menatap Mouse, yang menggeram pelan, dan segera menjauhi anjing itu.

Seraya menutup pintu, Yeonju menatap si pelayan. Gadis itu cantik, dengan rambut cokelat ikal dan pipi merona merah jambu. Dia mengenakan seragam pelayan merah muda bermotif yang lumayan cantik. “Namamu Hana, kan?”

Pelayan itu membungkuk lagi. “Ya,  Nyonya, Lee Hana. Saya pelayan yang mengurus lantai bawah. Saya dengar…” Hana menelan ludah, memejamkan mata rapat-rapat, dan cepat-cepat berkata. “Saya dengar Anda akan menikah dengan Mr. Park, Nyonya, dan jika melakukannya, Anda akan meninggalkan rumah ini dan tinggal bersamanya, dan Anda akan menjadi Mrs. Park muda, karena istri seorang pengusaha seperti Mr. Park harus menata rambut dan pakaian yang cantik, dan maafkan saya, Nyonya, tapi sekarang belum seperti itu. Bukan—” matanya terbelalak, seakan-akan khawatir dirinya baru saja menyinggung Yeonju. “—bukan berarti ada yang salah dengan pakaian atau rambut Anda sekarang tapi itu tidak—”

“Terlihat seperti wanita terhormat,” sahut Yeonju datar.

“Well, benar, Nyonya, jika Anda tidak keberatan saya berkata begitu. Dan yang ingin saya tanyakan—dan saya akan selamanya berterima kasih jika Anda mengizinkan, sungguh, Anda tidak akan kecewa, Nyonya—adalah apakah Anda mau mengajak saya sebagai pelayan pribadi Anda?”

Serbuan ucapan Hana tiba-tiba berhenti. Dia hanya melongo, mata dan mulutnya ternganga seolah-olah ucapan Yeonju berikutnya akan menentukan takdirnya. Dan mungkin memang benar, karena perbedaan posisi antara pelayan biasa dan pelayan pribadi sangatlah besar. Yeonju mengangguk. “Ya.”

Hana mengerjap. “Nyonya?”

“Ya. Kau boleh ikut denganku sebagai pelayan pribadi.”

“Oh!” Kedua tangan Hanya terangkat dan kelihatan ingin memeluk Yeonju, tapi kemudian dia berubah pikiran dan hanya mengayunkan tangannya di udara. “Oh! Oh, terima kasih, Nyonya! Anda tidak akan menyesalinya, sungguh. Saya akan menjadi pelayan pribadi terbaik yang pernah Anda temui, lihat saja.”

“Aku percaya.” Yeonju membuka pintu lagi. “Kita bisa membicarakan tugas-tugasmu secara lebih menyeluruh besok pagi. Selamat malam.”

“Ya, Nyonya. Terima kasih, Nyonya. Selamat malam.”

Hana membungkuk dan memasuki lorong, setengah berputar, membungkuk lagi, dan masih melakukannya ketika Yeonju menutup pintu.

“Kelihatanya dia gadis yang lumayan manis.” Yeonju berkata pada Mouse. Anjing itu mendengus dan melompat ke atas tempat tidur lagi.

 

 

 

***

 

 

 

Chanyeol mendapati dirinya menjadi tidak berdaya ketika melihat wanita yang dicintainya sedih. Sambil menghindari tatapannya, Nari bergerak dengan anggun ke sofa dan duduk. Dengan mata murung, ia melepas ikatan rambutnya dan menyingkirkannya.

“Apakah kau tidak menyukai apartemennya?” Tanya Chanyeol dengan tenang.

Nari mengangkat tatapannya ke arah Chanyeol, air mata menggenang di matanya dan mengalir ke pipinya. Chanyeol merasa seolah hatinya baru saja dikuliti.

“Paman dan Bibiku di Busan memberi kami tumpangan untuk tinggal disana. Kau tahu, aku sangat menyukai pedesaan, tapi jelas itu akan membuatku harus meninggalkanmu.” Nari mengeluarkan sebuah isakan kecil dan membungkam mulutnya dengan tangannya yang kecil. “Oh, Chanyeol, aku tidak bisa.”

Buku Chanyeol jatuh ke lantai dengan suara berdebam, ia melompat berdiri. Ia melintasi ruangan ke arah Nari, duduk di sampingnya, dan memeluknya. Kemudian Nari sungguh-sungguh menangis, bahunya yang lembut bergetar seiring dengan tekanan kesedihannya.

“Shh, Shh, Chagiya, tidak apa-apa,” gumam Chanyeol.

“Rasanya mengerikan. Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpamu. Aku sangat kesepian, Chanyeol. Sungguh.”                                                 

“Kalau begitu jangan.”

Nari bersandar ke belakang sedikit, matanya mencari-cari kebenaran di mata Chanyeol. “Apa kau juga akan meninggalkanku, seperti yang dilakukan Ayahku?”

“Sebelum kau yang memintaku sendiri untuk meninggalkanmu. Sudahkah kuberitahu, Kau satu-satunya alasan kenapa aku masih ada di dunia ini.”        

“Jangan lakukan itu, Chanyeol, jangan merayuku jika kau tak begitu peduli padaku.”

“Bagaimana aku bisa meyakinkanmu bahwa itu karena aku sangat peduli padamu sehingga aku tidak akan mempertimbangkan untuk menikahimu?” Chanyeol menghujani ciuman di seluruh wajahnya. Merasakan rasa asin air mata Nari. “Hatiku hancur melihatmu sangat tidak bahagia, tapi menikah denganku hanya akan membuatmu semakin lebih sedih. Aku yakin akan hal itu.”

“Aku tahu aku bersikap bodoh,” kata Nari terengah-engah, saat Chanyeol meluncurkan mulutnya di sepanjang lehernya. “Ibumu jelas melarang hubungan kita. Aku bukan apa-apa dibanding dirimu. Aku hanya anak seorang pemabuk dan penjudi.”

Chanyeol menurunkan kepalanya lebih rendah, sambil menggerakkan bibir di sepanjang tonjolan payudara Nari yang lembut. Wanita itu menyisipkan tangannya ke rambut Chanyeol.

“Aku mati-matian sangat ingin kau ada diranjangku ketika mataku terbuka. Aku terus-menerus berpikir kau akan mengejutkanku dan muncul.”

Seraya mengangkat kepala, Chanyeol menahan tatapan Nari yang dipenuhi air mata. “Aku berjanji padamu bahwa setidaknya dua hari dalam seminggu aku akan tidur bersamamu.” Suaranya parau oleh kebutuhannya untuk meredakan rasa sakit yang dirasakan Nari.

“Tapi kau akan menikah. Bagaimana jika dia mengetahui hubungan kita? Aku tidak mau sampai ibumu mendengar hal ini.”

“Percayalah padaku.” Ia mengusapkan ibu jarinya di atas bibir Nari. “Sebaiknya kau pergi tidur sekarang. Aku akan mengantarmu ke kamar.”

Chanyeol berdiri dan mengulurkan tangannya. Ia tidak bisa menjelaskan kenapa rasanya begitu tepat untuk mengatupkan jemarinya di sekeliling jemari Nari dan menariknya berdiri. Seraya terus menggenggam tangannya, Chanyeol menuntun Nari keluar ruangan dan menuju kamarnya.

“Aku akan memberitahu salah satu pelayanku bahwa kau perlu ditemani malam ini.”

Nari menggelengkan kepalanya. “Jangan merepotkan orang lain, lagipula aku benar-benar tidak ingin menjumpai siapa pun.”

“Kau tidak bisa tidur hanya berdua dengan adikmu di sini.”

“Kurasa aku hanya akan duduk dan memandang ke luar jendela.”

Chanyeol mencium pipi Nari, sebelum berkata. “Biarkan aku menemanimu sampai kau terlelap.”

 

 

 

***

To Be Continued

***

 

Tolong kirim kritik dan saran kalian di socmed yang tersedia.

Twitter: @diptiwys | Email: houseofallendale@yahoo.com

 

56 thoughts on “Private Arrangement chapter 1 [freelance]

  1. Aku baca ko binggungnya. Ngertinya pas ending. Hahahah
    Ini cerita bagus. Ko bisa ada ide yg se complicated gituu.
    Yeonju menawarkan diri buat nikah sama Chanyeol. Yeonju sayang sama Chanyeol makanya mau berkorban, padahal Chanyeol suka ma Nari yg anak pemabuk juga penjudi.
    Mau kasian sama Yeonju apa Nari yaa. Aku juga binggung…
    Tapi lebih tragis Yeonju kan, dinikahin tapi ga dicintain…
    Aku ijin baca chapter selanjutnya yaaa..🙂

  2. Wah ada juga cerita begini ya.
    Chanyeol yang menikah karena menginginkan keturunan, sekaligus mencintai gadis lain. Cerita klasik tapi sangat menarik.
    Aku suka banget sama pembawaan ceritanya.
    Sepertinya bakalan panjang dan banyak konflik ya?
    Jadi, please jangan lama-lama kelanjutannya. Penasaran banget hihi 😘

  3. huaaaaaa author knp lama sekali publish yg chapter 2
    aku penasaran sama ceritanyaaaaaaa
    ff ini beda apalg cast nya yeolli ><
    jgn kelamaan peuhlis /.\

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s