Something Tomorrow [freelance]

Gambar

Title: Something Tomorrow •• Author: IraWorlds•• Cast: Do Kyungsoo, Kim Hyewoon [YOU/OC] •• Genre: Sad, Romance, Fantasy, Family, Fluff •• Lenght: OneShoot •• Rating: PG-15

Soundtrack: Leona Lewis – Better in time

Summary:
Do Kyungsoo atau pun D.O mereka orang yang sama, namun berbeda nama.

***

 

 

 

2014

 

Ruangan terasa dingin. Jari-jemari bergerak sangat lincah di atas keyboard, mengetik kata-demi kata untuk merangkai sebuah tulisan yang menarik. Semakin lama hari berubah menjadi gelap, menampilkan sang rembulan malam yang bersinar dari balik tirai.

Rasa lelah dan kerinduan, seakan menjadi satu, saat kembali teringat dengan cerita lama.

Mungkin Do Kyungsoo bukan satu-satu nya cerita bagi Kim Hyewoon.

Tapi Do Kyungsoo adalah satu-satu nya cinta bagi Kim Hyewoon.

Pertanyaan ‘kapan kau kembali?’ Seakan tak sirna dengan berjalan nya waktu. Dulu Pria tersebut pernah berkata:

“Aku selalu ada untukmu, percayalah. Aku tak akan meninggalkan mu.”

Jari-jemari yang menari indah itu kini meninggalkan komputer yang menyala, seakan acuh dia, -Hyewoon. Beranjak untuk tidur, tanpa memperdulikan jendela yang terbuka dan tirai yang bergerak di tiup angin.

Hyewoon selalu yakin, bahwa besok. Kyungsoo akan kembali lagi, menemui nya, dan meminta ma’af.

Satu harapan yang tak pernah ia lupakan, karena Hyewoon akan menunggu Do Kyungsoo sampai kapan pun.

 

***

 

Malam yang sunyi dan senyap, Kyungsoo hanya bisa melihat gadis itu penuh dengan rasa bersalah, gadis berusia 21 tahun yang mulai teratur tidurnya secara perlahan.

Terlihat jelas garis hitam di bawah mata nya, Kyungsoo mengetahuinya. Atau bahkan setiap hari. Wajah itu tak pernah terlihat senyum anggunnya, sorot mata itu selalu sendu -seperti tidak ada semangat untuk hidup.

Kyungsoo tak sanggup mengatakan apa-apa, ini semua salah nya telah membuat gadis itu menderita.

Kyungsoo berjalan dan mengambil tempat duduk di sebelah tempat tidur, ia melihat gadis itu yang memunggunginya, terasa ganjal saat melihat tubuhnya yang semakin hari, semakin kurus saja.

Apa ini karena dirinya lagi?

Astaga, “Kenapa kau seperti ini?”

Tak ada jawaban

Hanya deru nafas yang terdengar

Kyungsoo ingin jatuh kebelakang saat tiba-tiba tubuh gadis itu berbalik kearah nya. Dia begitu kaget, dan dia prihatin melihat wajah itu yang sangat pucat.

“Apa dia sakit?”

Tangan Namja itu bergerak, menyibakkan surai hitam yang menutupi sebagian wajah Hyewoon.

Dan saat itu adalah sebuah keanehan yang tidak seperti biasanya, Kyungsoo menatap kedua telapak tangan heran, ia bingung bagaimana ia bisa menyentuh Hyewoon seperti ini?

Apa ini hanya perasaan nya?

Tapi apa sesosok hantu punya perasaan?

Mungkin ‘iya’ tapi siapa yang tahu.

Kyungsoo ingin menjerit mengingat bahwa dirinya hanya seseorang yang sudah hampir dua tahun lalu meninggal dunia.

Ugh! Sungguh menyebalkan.

Hyewoon bergerak samar, mata nya mengerjap-ngerjap. Entah dari mana di malam itu ia merasakan sinar yang silau saat mata nya perlahan ingin membuka.

Ia bagaikan melihat seseorang dengan raut wajah aneh di depan nya.

Mirip seseorang,

Seperti Do Kyungsoo?

Masih dalam keadaan setengah sadar saat tangan gadis itu terangkat ke atas dan mencoba menyentuh tangan pria yang ada di hadapan nya.

“Kyungsoo?..” suara lirih itu hampir tak terdengar sangking lemah nya.

“Ini aku.”

Hyewoon tersenyum.

“Ya, aku tahu itu kau, Kyungsoo selalu ada di dekat ku.”

 

Hoaaam..

 

Hyewoon menguap ngantuk, ia kembali melanjutkan tidurnya.

“Selamat malam Kyungsoo, aku mencintaimu.” Ucap Hyewoon yang terakhir sebelum memulai petualangan di alam bawah sadar.

 

***

 

Kyungsoo mengendarai mobil kebut-kebutan dan salip-menyalip mobil. Ia tak peduli meskipun di depan itu sedang ada pejalan kaki yang berjalan di zebracross. Karena ya pasti akan tembus juga.

Dia kan hantu,

 

Ingat! KYUNGSOO ADALAH HANTU

 

yang pasti dia sudah mati, dan entah dari mana ia diberi kesempatan untuk berkeliaran didunia.

Kyungsoo dibuat kaget karena mendengar klakson mobil yang berbunyi dari sana sini seakan memberitahunya untuk berhenti, dan tak lupa meskipun terdengar tidak jelas, Kyungsoo mendengar di jok belakang di mobilnya ada yang mengatakan;

“hei! Kyungsoo berhentilah!”

 

Cittttttttt

 

Bersamaan dengan mobil nya berhenti pejalan kaki yang merupakan anak sekolahan berteriak sampil menutup matanya.

 

Fiuh

 

Untung saja, padahal sedikit lagi Kyungsoo menabrak nya.

“Ngomong-ngomong, aneh sekali apa mereka bisa melihat nya? Maksudku mobil ini?”

“Hm.” Respon Kim Suho, “Mungkin mereka akan habis jika aku tidak memberi tahumu.” Lanjut Suho.

“Ah, tidak seru! Seharusnya Hyung melindas mereka saja tadi.” Tiba-tiba suara Kim Kai menginterupsi diantara berbincangan dua sejoli yang sangat bersahabat. Kim Suho dan Do Kyungsoo.

“Oh astaga! Anak ini benar-benar-” Suho ingin menjewer telinga Kim Kai. Tapi Kai dengan kecepatan kilat langsung menghilang dari sebelahnya.

“Err dasar hitam! Aku heran kenapa dia bisa menjadi malaikat.” Keluh Suho.

“Malaikat jahat.” Kyungsoo ikut mengatai Kai sambil terkekeh.

Tok..tok..tok

Seseorang lelaki berpakaian seragam kepolisian mengetuk kaca pintu mobil Kyungsoo.

Suho tertawa renyah “ku rasa kau harus mempertanggungkan perbuatanmu.”

Wushhh

 

Sosok Suho menghilang dalam sekejap.

“Akh. Sial!” Keluh Kyungsoo.

“Dan satu lagi, semua orang bisa melihatmu tujuh hari kedepan ini.”

Suho menghilang lagi setelah mengucapkan kalimat itu, dia memang pelupa makanya sering muncul dan hilang. Muncul lagi dan hilang lagi dalam waktu yang tak terduga.

 

***

 

Sogokkan yang mempan, polisi tadi mata duitan dan Kyungsoo senang. Berapapun uang yang ia keluarkan, Kyungsoo tidak miskin, bahkan meskipun Kim Kai berhutang kepadanya karena ia ingin membeli motor keluaran terbaru, Kyungsoo juga tak akan miskin. Meskipun begitu Suho adalah lawan nya terberat.

Bedanya ia Hantu kaya, dan Suho Malaikat kaya.

Saat ini Kyungsoo berjalan bolak-balik di depan rumah Hyewoon. Kyungsoo berfikir keras, bagaimana caranya ia bisa menemui gadis murung itu.

Ia takut bisa membuat Hyewoon terluka karena nya.

 

Kyungsoo takut,

 

Kyungsoo sudah membuat Hyewoon berantakan.

 

Kyungsoo ingin minta ma’af.

 

Kyungsoo tak sanggup menemuinya.

 

Kyungsoo—

 

Klek

 

Terdengar pintu yang terbuka dan berhasil membuat Kyungsoo terlonjak, tergesa-gesa ia memasang kaca mata, topi, dan masker.

Di luar saat ini sedang musim dingin.

Setelah mengunci pintu nya. Ia berbalik dan karena ada orang asing di depan rumahnya, ia kaget sehingga tubuhnya agak mundur.

Ia malas bertanya sebenarnya, tapi berhubung orang ini ada di sekitar pekarangan rumah nya, mau tak mau Hyewoon harus bertanya.

“Cari siapa?” Ucap nya dingin tak ada nada santun sedikitpun.

Jantung Kyungsoo bedebar begitu hebat nya.

Wanita itu menatap Kyungsoo, meskipun tak ada ekspresi selain sendu.

Kyungsoo cepat-cepat sadar dengan pertanyaan Hyewon, ia merutuk dalam hati. Bagaimana menjawab pertanyaan itu.

Kyungsoo mau mengatakan sesuatu, tapi ia urungkan ketika Gadis itu berbicara.
“Oh aku lupa, di sini aku tinggal sendiri. Suamiku sudah meninggal.”

Rasa sesak begitu mendominasi Kyungsoo, begitukah pikir Hyewoon pada Kyungsoo?

Persendian Kyungsoo mendadak lemas, tubuhnya bergetar tak karuan.

“Ma’af..”

“Maksudnya?” Tanya Hyewoon yang mendengar gumaman Kyungsoo.

“Ah tidak ada, oh ya kenalkan aku D.O, iya D.O aku yang tinggal di sebelah rumahmu.” Kyungsoo menunjuk rumah yang berada di sebelah rumah Hyewoon.

Kyungsoo tersenyum lebar, nama itu cukup bagus dan alasan yang sempurna.

“Ku rasa di sebelah itu masih ada penghuninya.” Hyewoon berfikir sejenak, mungkin kah ia yang kurang update?

Sesaat kemudian Kyungsoo membelakkan mata, “salah, maksudku di sebelah sini.” Kyungsoo menunjuk rumah di sebelah kanan.

“Oh..”

Tampak nya Kyungsoo salah tingkah, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Disaat seperti ini Kyungsoo mempunyai kesempatan untuk menatap Hyewoon lebih lama, dahulu dia hanya bisa melihat Hyewoon saja tanpa bisa menatap mata nya.

Hyewoon merasa aneh dengan gerak-gerik Pria itu, ia hendak pergi namun Do Kyungsoo atau yang menyamar menjadi D.O itu menahan tangan nya.

“Ada apa?”

“Ayo saling dekat dan mengenal satu sama lain?”

“Apa?”

Hyewoon kaget sekali.

“Ma’af aku tak bisa.” Hyewoon menarik tangan nya, lalu buru-buru pergi.

Kini punggung gadis itu perlahan hilang dari pandangan nya, masih di depan Rumah Hyewoon atau juga rumah nya,Kyungsoo terpaku. “Ah, bodoh sekali!” Dia melepas benda-benda yang menjadi alat penyamaran nya dengan asal-asalan.

Hari ini, hari pertama Kyungsoo menjadi manusia, pendekatan nya kepada Hyewoon tak berjalan dengan baik, meskipun ia sempat berkenalan, seharus nya ia tak mengucap kan kalimat tadi. Mungkin saja ‘kan Hyewoon pasti berfikiran yang macam-macam.

Karena. Kyungsoo tahu watak itu, tahu selera gadis itu, tahu kesukaan gadis itu, tahu gadis itu mem-favorite kan apa, dan tahu bahwa gadis itu mungkin membenci nya.

Jika saja beberapa tahun silam, ia menuruti perkataan gadis itu untuk tetap di rumah dan tak pergi di musim dingin di mana pada saat itu ia sedang sakit hebat.

Mungkin kecelakaan itu tak akan terjadi, dan yang lebih parah nya ia koma hingga 2 bulan lamanya dan berakhir saat nafas itu tak lagi ada.

Kyungsoo tak tahu bagaimana keadaan Hyewoon saat ia dinyatakan meninggal dunia, dia tak pernah tahu.

Tapi saat Suho menepuk bahu nya untuk menjadi hantu baik, Kyungsoo menyetujuinya itung-itung dirinya bisa memantau perkembangan Hyewoon tanpa dirinya.

Kyungsoo melangkah gusar di atas tebal nya jalanan yang di selimuti salju putih, di mana musim yang mengingatkan nya akan kematian.

Dia melangkah menuju bagunan yang berada di sebelah kanan rumah Hyewoon, Kyungsoo akan membeli rumah itu, supaya ia bisa dekat dengan Hyewoon. Tak masalah berapa harga rumah itu, dia kan kaya.

.
.
.

Hari Ke dua

 

Ruangan penuh debu yang bertebaran di mana-mana, membuat nafas menjadi sesak, benda-benda elektronik yang tertutup kain putih itu sengaja ia singkirkan dari tempat nya, dan kemudian merapikan benda-benda yang terjatuh dari tempat nya.

Ini melelahkan, Kyungsoo tak ingin membuang waktu dengan hal-hal seperti ini, ia ingin melihat Hyewoon, ya. Kyungsoo jadi tertawa sendiri karena ia begitu ingin melihat gadis itu.

Kyungsoo melangkah ke jendela yang penuh dengan debu menempel di sana, ia membersihkan debu-debu itu hingga kaca terlihat bersih.

Dan saat itu mata nya menangkap seseorang yang berjalan di luar sana, itu Hyewoon dengan pakaian serba tebalnya.

Kyungsoo tak mau membuang-buang waktu, ia menuruni tangga dan keluar mencari sosok itu.

“Hei! Nona!” Kyungsoo keluar dari pagar dan menghampiri Hyewoon.

“Eoh, ya?”

“Bisakah kau membantuku?”

“Apa?”

“Membantuku membersihkan rumah ku, aku tetangga baru mu, dan kau harus membantuku. Bagaimana?”

Hyewoon cengo, kalimat yang di ucapkan pria itu seperti sebuah paksaan. Alis nya saling bertautan memperhatikan Kyungsoo dari atas sampai bawah, sialnya Kyungsoo tidak sadar bahwa dirinya tak memakai topi, masker, dan kacamata.

“Sepertinya aku mengenalmu.” Ucap Hyewoon.

Kyungsoo nampak kebingugan, maksudnya apa?

Dan..

Kyungsoo menyadarinya, ya ampun kenapa dirinya ceroboh sekali.

“T-tentu saja k-kau mengenalku, kemarin kan kita berkenalan.” Ucap Kyungsoo tersenyum aneh, mirip orang yang ke habisan akal.

“Aku tahu itu, tapi kau sangat familiar bagiku. Kau mirip dengan…” Hyewoon ragu untuk mengtakannya.

“Kyungsoo?” Mata Hyewoon membulat sempurna. Ya itu pikirnya

“Tidak, aku D.O.” Kyungsoo kebingungan setengah mati, Hyewoon sudah mengetahui jati dirinya sekarang.

Satu fakta yang membuat jantung Hyewoon anjlok, ia tidak ingin ini hanya ilusinya, ia ingin ini nyata, itulah harapannya.

“Hahaha.” Hyewoon tertawa kecut, “aku pasti sudah gila ya kan? Itu tidak mungkin.” Tawa nya mulai mereda seiring ia menatap laki-laki di hadapan nya.

“Baiklah, aku akan membantumu membersihkan rumah ini.” Arah mata Hyewoon beralih memandang rumah Kyungsoo

Kepala Kyungsoo jadi pusing, ia mengangguk sebagai jawaban, lalu ia mulai berjalan di depan dan Hyewoon mengiringinya dari belakang.

Dia merasa agak canggung dengan Hyewoon, atau mungkin ia kembali merasa bersalah.

Sesudah memasukki rumah ini, Hyewoon terbatuk-batuk menghirup udara di sini. “Rumah nya sudah lama kosong, jadi wajar saja banyak debu di mana-mana.” Ucap Hyewoon sambil membuka kain yang menutupi sofa di ruang tamu.

Kyungsoo mengangguk menyetujui ucapan Hyewoon, dia jadi ingat waktu pertama kali pindah di daerah sini bersama Hyewoon, gadis itu memeluk erat lengan nya sampai-sampai berwana kemerahan saat melalui daerah sekitar sini dan juga rumah ini.

Kyungsoo tersenyum geli mengingatnya.

“Dulu, aku sangat takut hanya melihat rumah ini dari kejauhan, aku sangat penakut, tapi untung saja ada suamiku yang melindungi ku dulu.” Hyewoon tersenyum miris mengingat kenangan lama itu.

Di sudut ruangan Kyungsoo sedang menyapu, di satu sisi ia juga mendengar ucapan Hyewoon, ia sangat sedih sekali. Kebetulan atau tidak pemikiran nya dan Hyewoon sama.

“Ku rasa, kau sangat mencintainya.”

“Ya, sangat-sangat mencintainya.”

Kyungsoo tersenyum lebar.

“Dia sangat beruntung mempunyai Istri sepertimu,” Kyungsoo mengatakan apa yang ia rasakan.

“Ku rasa aku yang beruntung, dia selalu sial bersamaku, dia juga meninggal karena ku,”

“Apa?” Kyungsoo tak percaya dengan kata-kata terakhir. Ini semua bukan karena nya, dia juga tidak sial jika berasama Hyewoon, justru sebaliknya ia merasa bahagia bersama Hyewoon.

“Kau tidak salah, ini sudah takdir. Jangan menyalahkan dirimu, dan aku yakin dia sangat bahagia bersamamu. Percayalah.”

“Aku tahu kau mau menghiburku bukan?”

“Tidak—”

“Oh ya tuan, ngomong-ngomong vas ini kalau di tarus di sini sangat cocok.” Hyewoon menaruh di atas meja ruang tamu.

“Ya, di situ bagus.”

.
.
.

Hari ke tiga

 

Di dalam rumah mewah nya, Hyewoon yang tidak pernah mengikat rambutnya setelah kepergian Kyungsoo, memulai mengingat kuncir kuda rambut panjang itu.

Ia ingin memulai hari ini dengan datang ke kantornya, karena selama seminggu belakangan ini ia mengambil cuti.

Entah kenapa ia sedikit mulai bahagia menjalani sisa-sisa hidupnya tanpa Kyungsoo dan selamanya tanpa Kyungsoo.

Tok..tok..tok

Heran masih pagi seperti ini ada yang bertamu, biasanya tidak ada orang yang bertamu setiap harinya.

Ia berjalan mendekati pintu rumah nya, kemudian membuka pintu.

“Eh?”

Dengan jas rapi, di hadapan nya tengah berdiri Kyungsoo bersama sebuket bunga lily di depan dadanya.

Kyungsoo menampilkan dereran gigi putihnya. Tersenyum manis. Lelaki itu jadi mengingat bagaimana pertama kali ia bertemu dengan Hyewoon di bandara.

Saat itu, Kyungsoo ingin menjemput kedatangan adik perempuan satu-satunya dari Jepang, ketika mereka bertemu dan Kyungsoo ingin mengajak nya untuk makan siang, tapi malah salah menarik orang. Yang saat itu adalah Hyewoon.

Adiknya malah tertawa terbahak-bahak.

Kyungsoo nyengir nggak jelas, ia membungkuk dan meminta ma’af yang sebesar-besarnya.

Si Hyewoon, melihat tingkah Kyungsoo geli. Sebenarnya itu kali pertama ia di genggam seorang Lelaki, pada dasar nya Hyewoon gadis yang pendiam dan tidak pernah bergaul dengan Laki-laki, bahkan ia belum pernah pacaran.

Kemudian pertemuan mereka kembali berlanjut saat Hyewoon berkunjung ke rumah teman Ibu nya di Gangnam, dan ternyata teman Ibunya adalah Ibu Do Kyungsoo.

Ibu Kyungsoo menyuruh anak tertuanya itu untuk menemani Hyewoon berkeliling di sekitar rumah. Dan saat itu butiran-butiran cinta mulai mereka rasakan satu sama lain.

Hingga perkenalan 2 bulan itu, yang membuat Do Kyungsoo mantap melamar Hyewoon hingga ia pun mempersunting Hyewoon menjadi Istrinya.

Tapi baru satu bulan mereka menikah, Kyungsoo mengalami musibah, hingga ia meninggal dunia.

“Tuan?”

Kyungsoo tersadar dalam realita. “Ahh.. jangan memanggil ku seperti itu, panggil aku D.O.”

“Ya.. D.O.” agak canggung waktu Hyewoon menyebut nama itu.

“Jadi, ada apa?”

“Ini bunga untukmu, anggap saja sebagai ucapan terimakasih ku untuk yang semalam, saat kau bersedia membantu ku.”

Hyewoon mengalihkan perhatian nya menuju bunga cantik itu. Tangan nya perlahan mengambil bunga yang di maksud. “Terimakasih, bunga ini bunga favorite ku.” Hyewoon menyukai filosofi tentang bunga lily.

Tentu saja ini favorite Hyewoon, Kyungsoo atau D.O tahu segala hal tentangmu, meskipun waktu kebersamaan itu singkat.

“Di luar sangat dingin, kau tak ingin masuk?” Ajak Hyewoon.

“Dengan senang hati.”

Hyewoon mempersilahkan Kyungsoo untuk duduk, lalu menyediakan minuman dan beberapa cemilan.

Mata Kyungsoo melihat-lihat isi rumah ini, dia juga melihat foto pernikahan dirinya dan Hyewoon yang terpajang di dinding ruangan ini.

“Itu suamimu?”

Hyewoon baru saja ikut duduk di hadapan Kyungsoo, lalu ikut menoleh seperti Kyungsoo. “Hm.”

“Dia sangat mirip denganku.”

Kyungsoo ingin tertawa dengan penututuran nya itu. Oh ayolah, dia yang di maksud adalah dirinya.

“Ternyata apa yang ku rasakan, juga kau rasakan.” Hyewoon terkekeh.

“Hyewoon.”

 

“Ya?”

 

“Sebenarnya aku…”

 

“Sebenarnya apa?”

 

“Aku..”

 

“Kau?”

 

“Do—”

 

Drtttt..drttt..

“Ma’af sepertinya aku harus mengangkat panggilan ini, aku lupa jika aku masuk kantor hari ini.”

Kyungsoo menghela nafas.

Padahal sedikit lagi.

Kyungsoo bingung memikirkan rencana apa atau alasan apa untuk menemui Hyewoon. Dia sangat merindukan Hyewoon rasanya ingin sekali memeluk Hyewoon dan berkata bahwa ia adalah Do Kyungsoo suaminya bukan D.O tetangga baru nya.

.
.
.

Hari ke empat

 

“Kebetulan sekali kita bertemu di sini.” Ucap Kyungsoo.

Sore di hari itu, di mana sisa-sisa waktu Kyungsoo tinggal 3 hari lagi. Ia bertemu dengan Hyewoon di sungai Han yang kebetulan gadis itu baru saja pulang dari kantor nya.

Mereka berjalan beriringan di pinggir sungai. Mereka terdiam sibuk dengan pemikiran nya.

“Udara sangat dingin..” Kyungsoo mengusap-usap telapak tangan.

Tiba-tiba Kyungsoo menghilang begitu saja, Hyewoon di buat kaget karena nya. Padahal pemuda itu baru saja berbicara, kenapa cepat sekali menghilang.

Masa bodo -mungkin saja dia tadi berlari dengan cepat, pikir Hyewoon. Hyewoon menghampiri kursi panjang di sebelah pohon , musim dingin ini membuat kursi itu tertutupi salju. Hyewoon yang ingin duduk terpaksa mengurungkan niat nya.

“Hey! Ini untuk mu.” Suara Kyungsoo kembali terdengar. Dia memberikan minuman kepada Hyewoon.

Hyewoon mengambilnya dengan senang hati. “Wah daebak kau tahu? Kopi adalah minuman kesukaanku kapan pun dan di mana pun.” Hyewoon meminum kopinya.

“D.O, kau mengingatkan ku pada dia.” Gadis itu tersenyum manis, membuat jantung Kyungsoo berdetak tak karuan.

‘Andai kau tahu aku bukanlah sekedar seseorang yang mirip dengan nya, tapi aku adalah dirinya.’

“Kau ingin bertemu dengannya?” Tanya Kyungsoo.

Hyewoon tertawa menampilkan eye smile. “Aku selalu bertemu dengan nya.”

Deg..deg..deg..

“Di mana?”

Kyungsoo sangat penasaran, apa kedok nya sudah ketahuan?

Hyewoon menatap lekat Kyungsoo, gadis itu mencari sesuatu di balik manik mata bulat itu.

“Di dalam mimpi-mimpiku.” Ujar Hyewoon lirih. Air mata nya tak bisa terbendung kan, entah kenapa ketika ia menatap D.O membuatnya kembali teringat dengan pujaan hatinya itu.

Oh ayolah, Kyungsoo tak tahan jika tidak berbuat apa-apa. Gadis itu sangat lemah sekali, sedikit-sedikit menangis gara-gara mengingat dirinya.

Kyungsoo berjalan mendekati Hyewoon yang menunduk sedang menangis pelan. Perlahan ia mulai membawa Hyewoon ke dalam pelukan nya.

Setengah terkejut dengan perilaku Kyungsoo, tetapi ia merasa nyaman dengan ini, hatinya menjadi sedikit lega, entah ini sihir dari mana.

‘Kau tahu? Aku tidak ingin pergi dengan meninggalkan bekas luka untukmu..’ batin Kyungsoo.

.
.
.

Hari ke Lima

 

“Kau sangat betah tinggal di rumah ini sendiri, kenapa?” Tanya Kyungsoo.

Kyungsoo bertanya karena penasaran, menurutnya kenapa gadis itu tak pulang saja ke Paris, di sana Kota kelahiran nya dan Keluarga nya menetap di sana.

“Setiap ruangan di sini mempunyai makna dan kenangan tersendiri untuk ku. Hampir dua tahun tak akan cukup untuk melupakan cinta pertama, bagaimana pun rasa sakit yang kuderita tetap saja kadar cinta itu tak berkurang sedikit pun.”

Kyungsoo menangis mendengar itu, air matanya keluar tanpa di komando.

Hyewoon memasukkan adonan kue ke dalam oven, lalu ia berbalik dan mendekati kyungsoo yang ia tahu sedang meracik bahan-bahan. Mereka berdua sedang berada di dapur.

Katanya Kyungsoo ikut numpang bikin kue untuk kado Ibunya. Kyungsoo beralasan ia tak memiliki oven dan lain-lain yang berbau dengan dapur karena belum sempat membeli nya. Padahal ini hanya alasan untuk kembali bertemu dengan gadis itu.

“Hey! Kau menangis ya?”

“Mana mungkin aku mengangis, ini gara-gara aku salah memotong, malah memotong bawang. Ugh! Perih sekali.”

Kyungsoo mengibas-ngibaskan tangan di sekitar wajah.

“Sini aku tiup.”

Hyewoon semakin mendekat, ia berjinjit untuk meniup mata Kyungsoo.

“Sudah, bagaimana apa masih perih?”

Kyungsoo menegang, masih syok dengan perlakuan Hyewoon.

“Tidak, emm Thank you.”

.
.
.

Hari ke enam

 

Malam semakin larut saja, Hyewoon mampir di restoran cina yang masih buka, restoran yang sudah lama tak ia kunjungi, Hyewoon merindukan menu-menu di sini.

Setelah membayar di kasir ia berjalan keluar, jangan di tanya bagaimana suhu udara saat itu, yang pasti dingin dan heran nya Hyewoon biasa saja.

Tiba-tiba ponsel Hyewoon bergetar

Ia langsung mengangkat nya setelah melihat nama yang tertera di layar.

“Hallo bu?”

“Ma’af Ibu jarang menemuimu, Ibu minta ma’af sekali.”

“Tak apa bu, aku tahu rutinitas Ibu sangat padat.”

Hyewoon rupanya berbicara dengan mertuanya yang berada jauh di Gangnam.

“Bagaimana kabarmu, sayang?”

“Baik, bu.”

Hyewoon menghela nafas, dan uap begitu nyata terlihat keluar dari mulut nya.

Ibu Kyungsoo juga ikutan menghela nafas, karena Hyewoon mendengar deru nafas dari seberang sana.

“Sebenarnya Ibu khawatir denganmu karena kau sangat betah tinggal di sana sendiri, besok dua tahunan Kyungsoo telah tiada, Ibu  ingin ke makam nya. Kau mau ikut? Biar Ibu yang jemput.”

“Aku tak mungkin lupa dengan itu. Aku menghargai mu, aku akan ikut bu. Sebelum nya terimakasih telah mengajakku.” Hati Hyewoon mendadak perih, tenggorongkan nya susah sekali menelan air liur. Ia mencoba meredakan gejolak di dadanya.

Ia merindukan Kyungsoo, bukan hari ini saja tapi setiap hari, entah kenapa rasa rindu itu semakin tak bisa di atasi, benar rasanya ia ingin mati saja.

“Aku menyanyangi mu seperti aku menyangi Kyungsoo. Aku benar-benar terluka karena kehilangan nya. Aku ingin kau tidak terbebani dengan ini semua. Ibu mencintaimu Hyewoon. Selamat bertemu besok.”

Tut..tut..tut..

Hyewoon memasukkan ponsel itu kedalam tas.

Bruk

Hyewoon tak melihat ketika berjalan karena ia terfokus di ponsel dan tas. Hingga ia menubruk seseorang.

Ia ingin terhuyung kebelakang karena posisinya kurang seimbang, tapi untung lah orang yang di tubruk nya menolong dengan sigap. Dia Kyungsoo menahan tubuh Hyewoon.

Waktu terasa berputar sangat lama, saat nafas-nafas itu menyatu di udara. Di bawah awan mendung yang mendominasi daerah sekitar.

Hyewoon benar-benar merasa ada yang aneh, wajah lalaki yang sangat dekat itu mengingatkan nya kepada suaminya.

Hyewoon baru menyadari ini.

“Kau Kyungsoo? Do Kyungsoo?”

Mungkin ilusi lagi yang menguasai pikiran Hyewoon, tapi Hyewoon yakin itu dia. Dan pada dasar nya mereka di ciptakan untuk saling bersama, di bawah langit yang sama, dan perasaan yang sama.

Cinta mereka selalu tak akan hilang dengan di telan nya jaman, sampai tua nanti, sampai roh ini keluar dari tubuhnya. Mereka akan saling mencintai.

Tangan Hyewoon terangkat untuk menyentuh wajah Kyungsoo.

“Aku mencintaimu Kyungsoo.”

Detik itu mata Kyungsoo terpejam, dadanya begitu sesak, tubuhnya terasa tak berfungsi lagi, ia merasa kaku dan air mata nya turun dengan tenang melewati setiap inci wajah Kyungsoo.

“Bu-bukan.” Kyungsoo sungguh merutuki dirinya, ia bingung kenapa sangat sulit sekali mengucapkan rahasia yang sebenarnya. Kyungsoo takut Hyewoon tak percaya.

Buru-buru Hyewoon menjauh. “Ma’af.. aku sudah menyama-nyamakan mu dengan dia.” Ucap Hyewoon teramat lirih.

Lalu Hyewoon melenggang menjauh.

 

 

“Ck. Sungguh mengharukan takdir mereka.”

Kai tersedu-sedu sambil meminjam dasi Suho untuk membersihkan air mata nya. Ia di sini terharu ya bukan cengeng.

“Ish! Kau menjengkel kan sekali, kau membuat ku tercekik.”

Suho harus bersabar menghadapi Kim Kai. Mereka sedang menonton Kyungsoo dan Hyewoon dari mobil yang terpakir tak jauh dari tempat itu.

“Kenapa dia tak jujur saja, Hyung?”

“Tanya saja pada Kyungsoo.”

Kai medesis.

“Aku baru tahu 6 hari yang lalu, jadi Kyungsoo mempunyai Istri ya waktu masih hidup, kenapa dia tak pernah mengatakan nya kepada kita? Atau.. jangan bilang Hyung sudah tahu.”

“Hm, karena itu aku membantu Kyungsoo.”

“Bagaimana dengan 7 hari itu?” Ucap Kai, “Besok hari terakhirnya kan?”

Suho mengalihkan pandangan nya menuju kai, “iya aku tahu.”

Rasanya Kai ingin menggigit Suho karena jawaban nya itu tak sesuai dengan yang ia inginkan. Jawaban macam apa itu, singkat, pendek, dan tak jelas.

.
.
.

Hari ke Tujuh

 

Banyak hal-hal menakjubkan yang terjadi di luar sana, banyak impian yang ingin di raih oleh semua manusia, jam selalu berahkir pada pukul 12 dan selalu seperti itu. Tanda-tanda musim semi semakin terlihat ketika anak gadis di luar sana mengamati serangga keluar dari persembunyian di dekat pohon,

Hyewoon jadi ingat, hal itu pernah ia lakukan juga di Paris bersama Ibunya, saat ini ia sedang menunggu Ibu Mertuanya yang sudah mengajak untuk ke makam Kyungsoo, sambil menunggu ia memperhatikan gadis kecil anak tetangganya.

Sesekali ia menengok ke arah rumah D.O, tetapi nampak nya rumah itu kosong terlihat gembok yang mengunci pagar rumah itu.

Tit..tit..tit..

Terdengar bunyi klakson mobil dari kejauhan, sementara itu Hyewoon melambai-lambaikan tangan di udara. Dan sebuah mobil berhenti di depan Hyewoon.

Kaca jendela perlahan terbuka di sana terlihat wanita paruh baya yang mempunyai tubuh sedang. “Lama menunggu?”

“tidak bu,”

“Ayo masuk.”

“hem.”

Suasana hening begitu kentara saat mereka melangkah di sekitar area pemakaman. Banyak hal-hal yang dipikirkan Hyewoon, tentang bagaimana masa depan nya nanti? tetapi jauh dari pemikiran itu ia tengah memikirkan seseorang.

Hyewoon pun tak pernah menyangka, bahwa takdirnya akan seperti ini. Ia sangat-sangat bahagia bisa ditakdirkan hidup bersama Kyungsoo. Meskipun itu tak berangsur lama. Semua lebih dari cukup.

Ya..semua lebih dari cukup.

Mereka sudah sampai di tempat pemakaman Kyungsoo, Ibu Kyungsoo meneteskan air mata saking sedihnya.

Hyewoon memanjatkan do’a di pusara, ia ingin bertemu Kyungsoo, ingin bertemu, dan sangat ingin bertemu. Itu semuanya hanya keinginan hati nya yang terdalam.

.

.

Yeoja itu mengeratkan mantel coklat, ia berjalan di sekitar area dekat rumahnya, di luaran sini terlihat banyak anak-anak kecil yang bermain, mengingat sebentar lagi musim dingin berakhir, jadi anak-anak itu tidak ingin menyia-nyikan momen hanya sekedar bermain salju.

Langkahnya terusik lantaran begitu mendengar suara orang. Ia mulai membalikkan badan, seseorang berdiri di depannya.

“Siapa?”

Hari sudah semakin sore, menjelang malam. lantaran lelah ia tak ingin berbasa-basi. Mungkin sebentar lagi ia akan menanyakan. Ada apa, dan kenapa? Jika pemuda itu tak kunjung menjelaskan ke hadirannya.

“Perkenalkan..” dia sengaja menggantung kalimat hanya untuk menarik nafas, “Aku Kim Jongin.. atau Kim Kai.” Ia megulurkan tangan ke depan.

Hyewoon menatap Kai agak curiga. “Jangan mencurigaiku, aku orang yang baik.” Hyewoon terperagah sendiri, kenapa dia bisa tahu apa yang ku pikirkan -batin Hyewoon. Padahal memang Kai bisa membacara pikiran orang lain.

Hyewoon membalas uluran tangan Kai, “Kim Hyewoon imnida.” Ia tersenyum.”Jadi, kenapa?” Ucap Hyewoon setelah saling berkenalan dan ia melepas tautan tangan mereka.

“Sebenarnya aku sahabat Do- err maksudku D.O, ya begitu lah. Jadi, aku ingin menyampaikan apa yang ingin di sampaikannya. Maaf ini agak terbelit-belit, D.O berpesan bahwa ia akan pergi ke luar negeri, untuk itu ia berterimakasih atas 6 hari yang sangat memnyenangkan itu.” Di akhir kalimat Kai tersenyum. Tapi senyumannya luntur saat melihat wajah Hyewoon yang bisa di kategorikan sedih.

“Oh jadi begitu.” Jelas saja ini menyedihkan, karena pertemuannya dengan D.O bisa menyihir Hyewoon agar tidak sedih seperti sebelumnya, D.O teman yang baik, adanya D.O bisa membuat ia tersenyum setelah sekian lama ia terpuruk dalam kesedihan.

Jarak nya berpijak tidak jauh dengan jarak rumah D.O, ia menengok ke rumah nan sepi tersebut.

“Terimakasih atas pemberitahuannya-” Setelah itu ia kembali menoleh ke Kai. Yang di ajak bicara malah tidak ada sama sekali batang hidungnya.

“Kemana dia?”

 

/Sementara itu di tempat yang berbeda, namun di waktu yang sama\

 

Do Kyungsoo mengetuk-ngetuk pintu rumah seseorang yang di ketahui adalah rumah Ibunya, hatinya bergetar aneh, ini bisa dibilang pertemuan yang pertama.

Pemuda itu berpakaian bak seorang pengantar barang, dengan topi dan kacamata. Alhasil ia tak mungkin di kenali dengan sosok Do Kyungsoo. Melainkan orang asing.

Tidak lama berselang pintu akhirnya terbuka, di sana berdiri seorang wanita paruh baya yang masih memakai pakaian serba hitam waktu berkunjung kepemakaman beberapa waktu yang lalu.

“Ada titipan barang untuk Nyonya. Lee Han-eul.”

Kyungsoo pura-pura mengeja kertas di tangannya, ia menyerahkan kotak sedang kepada sang Ibu.

“Dari siapa?”

Wanita ini bertanya, saat tak melihat tanda pengirimnya.

“Saya tidak tahu, dan bisa anda mendatangani ini?”

“oh, ya tentu saja.” Tangan nya bergerak di secarik kertas untuk membuat coretan di sana.

Kamsahamnida.” Ucap Ibu Kyungsoo sambil tersenyum.

Hati Kyungsoo benar-benar bahagia saat itu.

Kyungsoo berjalan pergi dari rumah itu, hati nya memang berat untuk pergi, tapi apa mau di kata, ini takdirnya.

Lalu satu lagi, Kyungsoo mencintai dua wanita itu, sangat.

“Tiba saat nya untuk pergi, kau siap?” Ini kata Suho yang sedang mencegat Kyungsoo. Rasanya kasihan juga saat mata Kyungsoo mulai berair.

“Dia, Hyewoon sangat ramah Hyung.” Ucap Kai sambil menepuk pundak Kyungsoo.

Antara sedih dan tertawa saat Kyungsoo mengucapkan; “Ya dia memang ramah, aku tak salah mencintainya.”

Kyungsoo kembali menatap Suho “Aku siap, mau bagaimana lagi.” Ia mendelikkan bahu nya. Setelah itu Kyungsoo berangsur-angsur memeluk duo Kim ini.

 

Nanti saat terjadinya gerhana bulan malam ini, di situlah titik keajaiban terjadi, jam sudah menunjukkan pukul 6.30 KST, di mana butiran salju tak lagi turun mengenai bumi.

 

Sinar terang dan berwarna putih membuat mata yang melihatnya akan merasa perih sekali, hingga membuat ada dimensi aneh yang dirasakan.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Saat semua kenangan dulu sirna, bahkan tidak ada yang mengetahuinya dengan jelas.

 

 

Tentang pertemuan di badara saat itu, pernikahan yang terjadi, kecelakaan yang tak bisa dihindari. Tetap sama, tidak ada yang mengingatnya. Seolah takdir itu tidak terjadi sama sekali.

 

 

Di tahun yang sama, di masa yang sama, tetapi di bulan yang berbeda.

 

2014, Paris

.

.

 

Kim Hyewoon seorang sastrawan terkenal di sepenjuru Paris, bakatnya sudah tak di ragukan lagi. Jadwal-jadwal padat kini sudah menantinya.

Di salah satu cafe, Hyewoon duduk di dekat jendela, sambil mengetuk-ngetukkan jari di meja.

 

“Hallo, anda sudah menunggu lama?”

 

Dia kembali sadar lalu mendongak ke atas. Pemuda dengan setelan Jas hitam, kemeja putih, dan dasi yang melingkar rapi di lehernya. Membuat kesan keren di pemuda itu.

Dia ikut duduk di depan Hyewoon setelah kepala Hyewoon mengatakan. “Tidak.”

Do Kyungsoo, sedang merapikan pakaiannya sedikit. “Seperti yang ku katakan di telpon kemarin, aku akan mengajakmu untuk bergabung di perusahaan ku. Bagaimana?”

Hyewoon tersenyum, sebelum menjawab ia menyesap kopi yang asap nya menyembul ke atas. Ia lantas menaruh kembali ke meja. “Ya dengan senang hati Tuan…”

Hyewoon menyipitkan mata sejenak. “..Tuan Do Kyungsoo.” Lanjutnya setelah kembali mengingat-ingat nama pemuda asing di depannya.

Saat mata mereka bertemu, ada sensasi aneh di antara kedua manusia ini, entah dari mana datangnya. Tiba-tiba saja perasaan hangat menjalar di tubuh mereka berdua.

Kyungsoo mengalihkan pandangan ke luar jendela, “Musim panas ini sangat menyenangkan.” Ucap Kyungsoo.

Kyungsoo tak bisa mengerti perasaan nya barusan. Apa ini karena pengaruh musim panas, hingga badannya jadi ikut panas? oh entahlah. Tapi gadis cantik di depannya ini mampu membuat hatinya bergetar. Inikah cinta pandangan pertama?

“Sudah punya pacar?”

 

Ups, Kyungsoo memaki-maki dirinya setelah mengucapkan kalimat itu.

 

“Huh?” Hyewoon jadi bingung, dan tiba-tiba semburat merah merekah dipipi.

Malu-malu Kyungsoo melihat Hyewoon. “Ma’af aku sudah lancang.”

“Ah tidak apa-apa.” Hyewoon menggigit bibir bawah miliknya, hati ini jadi gugup. Jantung ini berfungsi di luar batas. Rasanya ini sungguh menakjubkan.

Kata orang Cinta tidak harus memiliki. Setidaknya Hyewoon sudah mencintai dan memiliki Kyungsoo sebelumnya. Well, siapa yang tahu bahwa mereka kembali mencintai di bulan dan musim yang berbeda, saat itu maut memisahkan dan saat ini takdir yang menyatukan mereka.

 

[Aku bahagia bisa hidup bersamamu di bawah langit yang sama]Kim Hyewoon

 

 

 

FIN

A/n:

Ya ampun basi banget kata-katanya, oh ya apa ini ceritanya aneh? dan terbelit-belit? wah maaf deh kalo begitu. Jadi diakhir itu mereka sama sekali tidak mengingat masa lalu mereka. Ambigu sendiri sih, di buat reinkarnasi eh bingung juga. Haha tadinya mau sad ending, Kyungsoo nya udah berpulang, tapi kasihan juga Hyewoon nya. Oh iya awalnya ini ff judulnya {Ghost Elite} tapi nggak jadi, karena ceritanya ngelantur.

Hehe kritik & saran diterima karena ya aku ini bukan author yg handal, masih newbie.

And then, makasih buat admin Khaerisma yang udah mau aku repotin.

19 thoughts on “Something Tomorrow [freelance]

  1. feel nya dapet thor, sedih iya ngakak juga iya 😀 ‘hantu kaya malaikat kaya’ 😄 gak kebayang kalo mereka bertiga bener bener kek gitu 😀

  2. Aduh eon.. aku terhura hiks…
    iih.. kyungs gk pede ih..
    Hadeh.. aku kurang mudeng..
    Reinkarnasi? Siapa? Dio? Ato keduanya?
    au ah gelap.. akunya kurg mudeng,,
    Keep writing thor!

  3. terhura thor:” harus sedih atau ngakak gaje xD
    ‘hantu kaya, malaikat kaya’ ‘Kai tersedu-sedu sambil meminjam dasi Suho untuk membersihkan air mata nya’ kkk~ lol 😆

    ceritanya bagus, tapi aku kurang ngerti ><" kyungsoo knpa bisa hilang muncul lagi hilang muncul lagi ya? trs knp akhirnya mereka gak ingat apa apa lagi? 🙄

    wahh otakku yang lalod :mrgreen:
    pokoknya ffnya keren kak!!^^ keep writing 🙂 🙂

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s