Secret Darling | Kai’s Side Story

secret-darling kai's side story

:: SECRET DARLING | Kai’s Side Story ::

.

.

.

Author : shineshen

Cast : Kai | OC | Krystal | Sulli

Genre : School Life | Romance | Friendship

Rating : Teen

.

Poster by noxiouspix © Café Poster Art ^^

.

Summary :

Soojeon, Krystal, dan Sulli memiliki kehidupan yang baik-baik saja layaknya gadis-gadis lain di sekolah mereka. Namun semua itu berubah semenjak Kai menjadi murid baru yang dalam sekejap mendapatkan kepopuleran di sekolah mereka. Kai datang dan Krystal jatuh hati padanya. Namun Kai tak pernah menyukai Krystal. Kai menyukai gadis lain.

 

Link to previews : Teaser | 1st Chapter | 2nd Chapter | 3rd Chapter | 4th Chapter | 5th Chapter | 6th Chapter | 7th Chapter | 8th Chapter | 9th Chapter | 10th Chapter

.

.

| Kai and Soojeon’s Past Story |

.

.

 

Gadis itu berlari menuju kelasnya saat jarum jam terus berjalan menuju detik-detik terakhir. Rambut gadis itu berkibar tak karuan, dan suara sepatunya yang berderap di atas lantai jelas terdengar menggema sepanjang lorong. Lorong itu sudah sepi dan yang terlihat hanya gadis itu. Gadis yang tampak manis walau kini penampilannya tak lagi rapi seperti saat ia berangkat dari rumahnya tadi.

Gadis itu tampak panik saat dilihatnya pintu kelasnya sudah tertutup. Ia mencoba mempercepat langkahnya walau napasnya semakin putus-putus. Sungguh, ia selalu membenci berbagai aktivitas fisik. Ia benci pelajaran olahraga, ia benci berlari-larian di tengah lapangan outdoor saat terik matahari menyengat, ia benci saat ia harus berkeringat, ia benci saat napasnya terhela putus-putus, dan ia benci saat nyeri itu kembali menyerang sesuatu dalam rongga dada kirinya.

Sebenarnya ia juga benci aktivitas seperti ini. Berlari-larian di sepanjang koridor menuju kelasnya hanya demi memburu waktu. Namun hari ini ia tak punya pilihan lain. Ia terlambat datang ke sekolah, dan sekarang ia panik karena ia harus terlambat tepat di jam pertama milik Shim seonsaengnim.

Guru fisika itu lelaki, dan ia sangat galak. Ia tidak suka jika ada murid yang terlambat, baik itu laki-laki ataupun perempuan. Biasanya Shim seonsaengnim akan langsung menghukum mereka. Namun bukan hukuman fisik yang mereka dapatkan. Shim seonsaengnim akan menyuruh mereka membaca materi yang sama sekali belum dibahas hanya dalam waktu lima menit, lalu kemudian memberikan mereka sepuluh soal uraian yang harus diselesaikan dalam waktu dua belas menit. Bagi mereka yang tak bisa mengerjakan dengan baik, Shim seonsaengnim akan memasukkan poin mereka dalam daftar remedial yang harus diikuti setiap semester. Semakin banyak poin remedial yang dikumpulkan, maka soal-soal lain yang akan mereka kerjakan sebagai nilai remedial akan semakin banyak. Dan parahnya sembilan puluh persen dari soal-soal itu mungkin saja hanya bisa dijawab oleh murid-murid berotak jenius.

Kaki gadis itu sudah melemas. Selain karena kakinya belum bisa berhenti berlari sejak tadi, ia juga merasa lemas saat ingat tentang ancaman hukuman remedial menyeramkan yang menantinya di depan mata.

Perlahan langkah gadis itu melambat. Gadis berambut kelam itu menyerah, mungkin saja ini sudah takdirnya untuk masuk dalam daftar remedial karena nyaris selama enam semester ini namanya selalu lolos. Tapi tidak di akhir semester ini.

 

Kau akan mendapatkannya, Kwon Soojeon.

 

Perlahan gadis itu memutar kenop pintu kelas yang kini sudah ada dalam genggaman tangannya. Engsel pintu sedikit berderit saat gadis itu membuka pintu kelasnya, namun beberapa detik kemudian ia justru tercengang mendapati bagaimana keadaan kelasnya sekarang.

Nyaris berantakan. Beberapa teman lelakinya berkumpul di salah satu sudut dan terlihat sedang merundingkan sesuatu yang ‘serius’. Sepertinya begitu, jika dilihat dari ekspresi wajah mereka saat sedang berbicara satu sama lain. Sedangkan para anak perempuan berkumpul dalam koloni-koloni kecil, membicarakan tema yang berbeda-beda. Bisa ditebak, tema di antara mereka hanya seputaran mode, para selebritis yang terkena skandal, ataupun anak lelaki dari kelas lain.

Gadis itu memutar matanya, lalu melangkah pelan menuju mejanya yang ada di dekat jendela. Dua sahabat lengketnya telah lebih dahulu menempati kursi yang ada di sana, sedang membicarakan tema—yang entah apa itu—namun terlihat seru.

 

“Soojeon! Astaga, kukira kau tidak masuk hari ini!” seru salah satu dari kedua gadis itu yang pertama kali menyadari kedatangan Soojeon, seorang gadis dengan surai kelam yang lebih tebal.

“Dimana Shim seonsaengnim?” Tanya Soojeon lebih lanjut sambil meletakkan tasnya di kolong meja, lalu duduk dan ikut bergabung bersama kedua sahabat lengketnya tersebut.

“Mungkin dia tidak masuk,” jawab gadis tadi asal sambil mengangkat bahunya. “Oh, seharusnya kau bersyukur jika Shim seonsaengnim tidak masuk hari ini. Kau selamat dari ancaman poin di daftar remedial, kan?”

“Dan ingat perjanjian diantara kita bertiga?” sambung gadis lain yang tampak cantik dengan rambut sebahunya. Gadis itu tersenyum lebar menunjukkan deretan giginya yang rapi, menunjukan bahwa di sekolah ini memang hanya ia yang memiliki senyum sesempurna itu.

“Janji apa?” Soojeon balik bertanya, pura-pura lupa.

Yak!” rengut gadis itu dengan senyum yang memudar. “Kau jangan pura-pura lupa, Jeon-ah. Siapapun diantara kita bertiga yang namanya pertama kali masuk ke daftar remedial setiap semester harus mentraktir di kedai ramyun Bibi Song. Aku dan Krystal sudah kena berkali-kali, namun sampai detik ini kenapa namamu selalu selamat? Kau curang, Jeon-ah.”

Soojeon terkekeh mendengar celotehan sahabatnya. Gadis bernama Sulli itu masih merengut di kursinya, malah tampak semakin jengkel melihat reaksi Soojeon yang hanya seperti itu.

“Sudahlah, Sulli-ya. Hilangkan cemberutmu itu,” sahut Soojeon dengan senyumnya yang tenang. “Kalau kau cemberut terus, kau akan cepat tua dan tidak cantik lagi. Lalu nanti Jinyoung oppa tidak akan suka lagi padamu,”

Yak, apa maksudmu?” protes Sulli cepat-cepat dengan raut wajah salah tingkah. “Aku tidak suka pada Jinyoung oppa!”

“Tapi kau mengaguminya,” kilah Krystal sambil memeletkan lidahnya. “Sudahlah, kau mengaku saja, Sulli-ya. Kau pasti tidak mau mengaku karena malu jika perasaanmu itu diketahui Minho oppa. Benar, kan?”

Sulli memberengutkan wajahnya semakin dalam, membuat Soojeon dan Krystal sama-sama terlihat puas dan terkekeh dengan nada menyebalkan.

“Kau tenang saja. Kami adalah sahabatmu yang paling baik. Kami tidak akan mengadukan pada Minho oppa jika kau menyukai sahabatnya, oke?” celoteh Krystal sambil memberikan Sulli satu kerlingan.

“Apa jaminannya, hah?” tantang Sulli. “Jika Minho oppa sampai tahu hal terkecil sekalipun, aku tak akan segan-segan menyebarkan pada satu sekolah jika kau menyukai si anak baru itu.”

“Apa?!” Soojeon terkejut. Begitupun dengan Sulli dan Krystal. Tampaknya Sulli baru saja kelepasan bicara, terbukti dari tatapan mematikan yang diberikan Krystal pada Sulli setelahnya.

Namun semua itu terlambat, sebab Soojeon sudah terlebih dahulu tertarik dengan sebutan ‘anak baru’ yang tadi Sulli bicarakan.

“Siapa dia, Krys?” Tanya Soojeon. “Apa Kai? Jadi kau menyukai Kai?”

“Sulli…” geram Krystal dengan nada yang terdengar mengerikan. Sulli hanya bisa meringis minta maaf, lalu menatap Soojeon dengan makna yang sulit diartikan.

“Hei, ada apa ini sebenarnya?” Tanya Soojeon lagi sambil melipat kedua tangannya di depan dada. “Kalian sahabatku, tapi aku sama sekali baru tahu bahwa Krystal menyukai Kai?”

“Seharusnya aku memberitahumu nanti,” rengut Krystal kecil. “Tapi Sulli sudah terlanjur menyebutkannya lebih dahulu. Kau memang payah, Sulli-ya.”

“Maafkan aku,” ringis Sulli kecil.

Krystal tak menjawab. Ia hanya mendengus dan melempar pandangannya ke lain arah. Dan tepat saat itulah ia tertegun ketika matanya menangkap siluet tubuh seseorang yang sedang berjalan di luar kelas mereka. Tepatnya di koridor, dan kini orang itu semakin mendekat menuju pintu kelas mereka. Krystal membelalak shock.

 

“Astaga…”

“Ada apa, Krys?” Tanya Soojeon khawatir melihat perubahan raut wajah Krystal yang tampak mengejutkan itu. Soojeon ikut menoleh menuju arah dimana pandangan Krystal terpaku, dan saat itulah keningnya mengerut.

Sulli yang penasaran ikut menolehkan kepalanya menuju arah yang dimaksud Krystal, dan saat itu ia langsung mengerti. Sulli hanya membulatkan mulutnya, lalu sejenak kemudian terkekeh sambil sibuk menggoda Krystal.

Soojeon yang merasa tidak tahu apa-apa sedikit tersinggung. Soojeon cemberut dan meminta Sulli menjelaskan mengapa di sana hanya ia yang tidak mengerti apa-apa. Sulli tak bisa berhenti tertawa karena sukses menggoda Krystal, apalagi saat salah tingkah Krystal mencapai puncaknya.

Kai benar-benar datang ke kelas mereka dengan membawa setumpuk kertas di tangannya.

 

Uhm…” Kai bergumam salah tingkah saat baru saja memasuki kelas yang asing baginya itu. Manik mata Kai bergerak kesana-kemari dengan bingung, sibuk mencari-cari orang yang sekiranya bisa ia mintai bantuan. Kai baru diterima di sekolah ini selama tiga minggu, ia baru saja pindah dari SMA lain yang berbeda distrik dari SMA barunya ini. Dengan kelasnya sendiri saja ia masih sering canggung, bagaimana dengan kelas yang bahkan baru sekali dikunjunginya ini? Melihat satu-persatu wajah yang ada di kelas ini saja sudah membuat Kai asing, apalagi jika Kai sampai harus bertanya pada salah satu dari mereka?

 

“Apakah ada yang tahu siapa ketua murid di kelas ini?” Tanya Kai canggung. Kai melontarkan pertanyaan itu di muka kelas, dan nyaris tidak ada murid yang memperhatikannya. Kai semakin bingung harus bagaimana lagi untuk menyita perhatian murid-murid yang ada di kelas itu. Ia hanya berdiri di muka kelas dengan tumpukan kertas yang cukup menggunung di tangannya, terlihat memelas.

Soojeon menyikut pelan lengan Krystal untuk segera menyadarkan gadis itu. Krystal menoleh pada Soojeon dengan raut wajah yang sedikit linglung.

“Hampiri dia,” bisik Soojeon pada Krystal. Sulli juga terlihat setuju dari caranya yang mengangguk penuh semangat. Sedangkan Krystal justru bersikap sebaliknya. Gadis itu menggeleng panik, dan cepat-cepat menelungkupkan wajahnya di atas meja.

Sulli dan Soojeon terpana melihat bagaimana reaksi Krystal. Mereka saling berpandangan untuk menunjukkan betapa tidak menyangkanya mereka pada reaksi Krystal yang akan seperti ini.

“Krys, kau tidak mau?” Tanya Sulli bingung.

Krystal tidak menjawab dan hanya menggelengkan kepalanya berulang kali, bahkan ia masih menyembunyikan wajahnya dari Sulli dan Soojeon. Sulli dan Soojeon kembali bertukar tatap.

“Bagaimana ini?” bisik Sulli dengan gestur mulutnya.

Soojeon mengangkat bahunya lalu balas berbisik, “kasihan Kai jika ia terus-menerus diacuhkan di depan kelas seperti itu. Tapi Krystal… Dia juga tak mau menemui Kai. Apa yang harus kita lakukan untuk membantu? Bukankah Kangjun sedang tidak masuk hari ini?”

“Bagaimana kalau kau saja yang membantunya?” usul Sulli.

Soojeon membelalakan matanya, lalu menuding dirinya sendiri. “Apa? Aku? Kenapa harus aku? Kenapa tidak kau saja?”

“Sudahlah, aku harus menenangkan Krystal,” kilah Sulli. “Lagipula kuyakin hanya dirimulah yang peduli padanya sekarang. Jadi bantulah ia.”

Soojeon mengerutkan keningnya tak mengerti lalu kemudian sibuk menggeleng-gelengkan kepalanya tanda keberatan.

“Oh, ayolah. Kau mau melihat ada gadis lain yang menghampiri Kai dan bersikap sok manis di depannya? Kau mau melihat Krystal menangis cemburu, hah?” bujuk Sulli lagi. “Ayolah, Jeon-ah. Hanya kau satu-satunya gadis yang tak akan dicemburui Krystal. Selain aku juga, tentu saja.”

Soojeon menggigit bibir bawahnya ragu. Ia terus mempertimbangkan saran Sulli, sekaligus sibuk berpikir tentang kemungkinan apa saja yang akan terjadi bila ia menghampiri Kai sekarang. Soojeon masih gelisah, ia membalikkan tubuhnya lagi untuk melihat keadaan Kai yang teracuhkan, namun seketika ia membelalak saat melihat Kai menyerah dan berniat untuk keluar lagi dari kelas itu.

 

“Kai-ssi! Tunggu!” tahan Soojeon secara spontan. Soojeon berteriak cukup keras hingga sampai ke telinga Kai. Kai langsung berbalik dan matanya dengan cepat menemukan sosok Soojeon diantara belasan murid perempuan yang ada di kelas itu. Entah mengapa Kai begitu yakin jika gadis itu yang baru saja memanggil namanya tadi, dan menyadarinya membuat Kai menarik senyumnya tipis.

Beberapa teman sekelas Soojeon juga ikut menoleh dan ramai-ramai memandangi Soojeon. Beberapa koloni anak perempuan bahkan terang-terangan menatap Soojeon tak suka, dan lebih-lebih tak suka lagi saat Kai berjalan menghampiri Soojeon yang masih berdiri di tempatnya tanpa bergerak satu jengkalpun.

 

“Astaga, kurasa Krystal ingin pingsan,” bisik Sulli di balik punggung Soojeon. Menyadari langkah Kai yang semakin mendekat, Sulli melihat Krystal semakin mengubur wajahnya dalam lekukan lengannya. Sebenarnya Soojeon juga penasaran melihat reaksi Krystal sekarang ini. Dan sebagai sahabat ingin rasanya ia ikut mengolok-olok Krystal sampai gadis itu salah tingkah. Dengan cara mengolok-olok itu, setidaknya Kai akan tahu bahwa gadis itu menyukainya.

Namun jangankan olok-olok yang keluar dari mulut Soojeon sekarang, bahkan tertawa pun Soojeon merasa lemah. Ia nyaris tak bisa melakukan apa-apa saat Kai semakin berjalan mendekat ke arahnya. Yang bisa Soojeon lakukan hanyalah menahan napasnya, dan… Oh, apakah jantung Soojeon berdebar lebih cepat ketimbang biasanya?

 

Kau bodoh, Soojeon.

Apa kau menyukai Kai?

Dan kenapa harus Kai? Kai bahkan milik sahabatmu sendiri!

 

Soojeon tak bisa memungkiri pesona yang menguar dari sosok Kai saat laki-laki itu berada semakin dekat dengannya. Dan setelah sekian lama ia banyak mendengar soal pesona Kai…. Baru kali ini ia merasakan sendiri saat dirinya ikut terbius. Dan kali ini Soojeon rasa ia telah menemukan jawabannya.

 

“Kelas ini memiliki ketua murid seorang perempuan?” Tanya Kai setelah ia tiba beberapa meter di depan Soojeon. “Woah, siapa namamu? Kau hebat sekali!”

Soojeon sedikit berdehem sebelum menjawab pertanyaan Kai. Tanpa alasan yang jelas tiba-tiba Soojeon menolehkan kepalanya dan menatap Sulli. Yang ditatap hanya mengangkat bahunya, sedangkan Soojeon sempat melihat Krystal semakin mengubur wajahnya di atas meja.

Uhm… Aku Soojeon. Dan—“ kata-kata Soojeon terputus saat ia merasakan kerongkongannya semakin kering. Soojeon melanjutkan kalimatnya kembali, “—sebenarnya aku bukan ketua murid. Aku hanya murid biasa di kelas ini. Tapi karena Kangjun sedang tidak masuk, jadi… Kurasa aku mungkin bisa membantumu,”

Kai terkekeh tanpa suara saat mendengar nada suara Soojeon yang terdengar gagap saat bicara. Namun Kai malah semakin memperburuk suasana hati Soojeon, sebab laki-laki itu malah semakin membuat Soojeon terbius.

“Dan kau sudah tahu namaku?” Tanya Kai tiba-tiba. Soojeon terhenyak.

Uhm… Itu… Aku—“

“Senang bisa mengenalmu, Soojeon-ssi,” potong Kai ramah.

Entah kenapa Soojeon semakin salah tingkah sendiri. Gadis itu memilin ujung almameternya gelisah, juga dengan ujung sol sepatu yang terus ia putar-putarkan diatas lantai untuk meredam kegugupan konyol ini.

Ada apa dengannya, hei?

 

“Bisa segera aku tahu apa keperluanmu kemari?” Tanya Soojeon untuk mencairkan suasana.

Kai terkesiap sebentar lalu saat sadar kembali ia cepat-cepat memberikan setumpuk kertas yang semula ada ditangannya itu ke tangan Soojeon, bahkan tangan mereka sempat tak sengaja bersentuhan di bawah tumpukan kertas itu. Rasa hangat yang aneh mengalir semakin deras melalui seluruh pembuluh darah yang ada di tubuh Soojeon, menghantarkan rasa yang mirip kejutan listrik itu menuju jantungnya. Ada gemuruh yang berulah dalam jantungnya, namun seketika gemuruh itu membeku saat turun menuju ulu hati.

Soojeon terkesiap atas perasaannya sendiri, tepat saat ia mengingat Krystal yang kini sedang pura-pura menelungkup di belakangnya.

 

“Shim seonsaengnim tidak bisa datang ke kelasmu hari ini,” kabar Kai saat semua keadaan itu sudah berangsur membaik. “Shim seonsaengnim harus menghadiri rapat wali kelas di kantor kepala sekolah. Dan karena Shim seonsaengnim adalah wali kelasku, ketika aku menghadap aku diberikan mandat untuk menyampaikan tugas ini kepada kelas kalian.”

“Oh,” ucap Soojeon setengah sadar. “Oh, ya. Baiklah. Terimakasih atas bantuanmu, Kai-ssi.”

“Oh, baiklah. Sama-sama,” balas Kai dengan nada yang canggung. “Kalau begitu… Aku akan pergi sekarang. Terimakasih telah ikut membantuku, Soojeon-ah.”

 

Soojeon-ah? Krystal terpekur diam-diam saat samar bisa mendengar bagaimana cara Kai memanggil Soojeon. Ada sedikit rasa yang mengganjal dalam hatinya. Ada rasa sesak dan khawatir, namun Krystal mengabaikan itu. Berprasangka yang bukan-bukan pada sahabatnya adalah hal terburuk. Krystal tidak ingin ia menuduh yang macam-macam pada Kai dan Soojeon.

Krystal sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat kepergian Kai dari kelas itu melalui celah lengannya yang menekuk. Kai ada disana, baru saja keluar dan menutup pintu kelas. Krystal menghembuskan napas lega, namun entah kenapa ia sekaligus merasa aneh saat melihat Soojeon masih terdiam di posisinya semula. Dengan tumpukan kertas yang kini sudah berpindah ke tangannya, namun gadis itu masih belum merubah posisinya semenjak Kai pergi.

 

“Kuharap kau tidak cemburu pada Soojeon, Krys.” Bisik Sulli tiba-tiba. Krystal terhenyak dan langung menatap iris cokelat almond milik Sulli yang kini tengah menatap sungguh-sungguh padanya.

“Siapa bilang aku cemburu?” balas Krystal dengan kekehan yang sedikit ia paksakan. Ya, ia terpaksa.

“Tidak mungkin aku cemburu pada sahabatku sendiri, Sulli-ya… Kau dan Soojeon sudah kupercaya sepenuhnya, jadi aku yakin kalian tidak akan pernah mengkhianatiku.”

 

***

 

Sebagai sahabat yang baik, Soojeon tahu benar apa yang harus dilakukannya. Bersama Sulli ia selalu menemani Krystal, meskipun itu hanya memandangi Kai dari jauh. Seringkali Sulli dan Soojeon terpaksa menunda waktu kepulangan mereka, hanya untuk menemani Krystal melihat Kai sedang berlatih basket. Atau beberapa hari sekali mereka juga akan mengikuti langkah Kai dan anak lelaki lainnya menuju Hangan Park, tempat dimana mereka biasa bermain basket sepulang sekolah. Mereka akan duduk di tribun penonton. Sulli dan Soojeon terkadang sampai harus terkantuk-kantuk hingga sore menjelang, lalu setelah itu mereka baru bisa pulang ke rumah masing-masing. Semua itu mereka lakukan atas nama solider persahabatan. Krystal sedang sangat menyukai Kai, ia begitu rajin menghadari semua kegiatan yang Kai ikuti. Sulli dan Soojeon sedikit jengah, namun mereka tak tega menolak permintaan Krystal.

Laki-laki itu juga sepertinya menyadari keberadaan mereka terus-menerus. Terkadang Soojeon menangkap arah pandangan Kai pada mereka sembari ia melintasi lapangan basket, lalu laki-laki itu kembali mengalihkan wajahnya lagi sambil mengulas senyum tersembunyi. Soojeon tak pernah mengatakan itu pada Sulli dan Krystal. Entah mengapa ia menyimpan itu untuk dirinya sendiri. Yang jelas, Soojeon selalu ada di setiap Krystal memandangi Kai dari kejauhan.

***

 

Siang itu Soojeon menjadi satu-satunya murid yang pulang terlambat. Setidaknya, itulah yang ia yakini sebab ia menjadi satu-satunya yang melintasi koridor saat keluar dari ruang musik. Soojeon terpaksa pulang sendirian hari ini, sebab Yoo seonsaengnim menyuruhnya berlatih piano lebih keras demi lomba yang akan diadakan seminggu lagi. Sejak dua jam yang lalu ia sudah meminta Sulli dan Krystal agar tidak usah menunggunya, sebab latihan hari ini akan memakan waktu yang cukup panjang. Ditambah lagi Soojeon adalah murid kesayangan Yoo seonsaengnim, ia begitu menyukai permainan piano Soojeon dan tidak akan mengizinkan gadis itu pulang sebelum target latihan mereka melampaui harapan. Biasanya Soojeon sangat mudah dalam memainkan segala bentuk partitur yang gurunya itu berikan, namun tidak hari ini. Soojeon berkali-kali melakukan kesalahan, membuat gadis itu harus tertahan lebih lama di ruang musik.

 

“Hal apakah yang telah memecah konsentrasimu, Soojeon-ssi?”

Bahkan pertanyaan Yoo seonsaengnim masih terus bercokol dalam kepala Soojeon sejak tadi. Kalimat itu terus terulang dalam kepala Soojeon. Membuat gadis itu diam-diam bertanya pada dirinya sendiri, apa penyebab latihannya banyak mengalami kegagalan yang parah hari ini.

 

“Apa kau sedang jatuh cinta?”

Pertanyaan itu lagi-lagi membuat Soojeon terkesiap dan tak mampu menjawab. Gadis itu hanya terpekur menatap partitur yang ada di depannya saat guru musik itu bertanya. Sungguh Soojeon tak tahu harus menjawab apa, sekaligus juga masih didera shock. Mengapa Yoo seonsaengnim menebaknya sedang jatuh cinta?

 

“Sebab jika seorang pianis sedang jatuh cinta, itu akan terlihat jelas dari caranya membaca partitur musik dan menekan tuts piano. Kau sedang jatuh cinta, Kwon Soojeon?”

 

Soojeon menggigil karena udara dingin yang tiba-tiba berhembus. Ia sedang berada di teras sekolah sekarang, menunggu sampai hujan berhenti. Matanya kosong menatap satu-persatu tetes air yang jatuh dari langit, pikirannya penuh dengan pertanyaannya dan pertanyaan Yoo seonsaengnim.

Soojeon tak sempat mendengar suara derap langkah yang semakin mendekat padanya. Suara derap langkah yang berasal dari sol sepatu milik seorang laki-laki. Laki-laki yang sesungguhnya memenuhi pikirannya belakangan ini, namun tak sanggup untuk ia ungkapkan. Namun ia tak pernah tahu jika laki-laki itu memilki perasaan yang nyaris serupa dengannya.

 

“Soojeon?” sapa laki-laki itu sedikit terkejut.

Mendengar namanya tersebut, Soojeon segera menoleh. Ia cukup terkejut pula saat melihat laki-laki itu kembali ada beberapa meter saja berjerak darinya. Mereka kembali bertemu sore ini, dalam suasana yang amat sangat buruk menurut Soojeon.

“Kau?” Soojeon balik bertanya. “Kau belum pulang, Kai-ssi?”

“Oh, aku ada jadwal latihan tambahan bersama Hwang seonsaengnim tadi,” jawab laki-laki itu. Laki-laki itu melangkah semakin dekat dan berhenti di sebelah Soojeon, membuat Soojeon harus cepat memalingkan wajahnya kembali. Perasaan itu begitu hangat mengalir di hati Soojeon, namun entah kenapa ia merasa asing. Soojeon baru sekali ini merasakannya begitu nyata. Ya, ini pertama kalinya.

“Bagaimana denganmu?” Tanya laki-laki itu tiba-tiba, balik bertanya pada Soojeon.

Soojeon sedikit tergagap saat mendengar pertanyaan laki-laki itu. Dan laki-laki itu—Kai—hanya tersenyum simpul memandangi kelakuan Soojeon.

“A-aku ada latihan tambahan juga bersama Yoo seonsaengnim,” jawab Soojeon sedikit grogi. “Sebentar lagi ada perlombaan, aku harus banyak berlatih untuk mewakili sekolah…”

“Perlombaan apa?” Tanya Kai semangat.

Soojeon menggerakan rahangnya kaku. “Uhm… Kontes piano.”

“Kau bisa bermain piano?” Tanya Kai cerah.

Uhm.. Ya,” jawab Soojeon ragu-ragu.

“Kau punya channel YouTube?” Tanya Kai lagi. Soojeon menggeleng sebagai jawabannnya.

Kai mengeluh kecewa. “Padahal aku ingin sekali mendengar dan melihatmu bermain piano.”

“Kau bisa datang saat aku berlatih,” ucap Soojeon tanpa sadar. Setelah sadar, gadis itu langsung meruntuki mengapa ia sampai keceplosan soal itu.

“Benarkah?” Tanya Kai dengan mata berbinar. “Memangnya Yoo seonsaengnim akan mengizinkan aku masuk?”

“Aku tidak tahu,” jawab Soojeon kecil. Gadis itu menundukkan kepalanya, diam-diam menatap sepatunya dan sepatu Kai yang kini terlihat berjarak sangat dekat. Soojeon menelan saliva-nya payah. Kedekatan ini membuatnya gugup. Sungguh.

Bayangan tentang perasaan Krystal menghilang dan tenggelam begitu saja dalam ingatan Soojeon saat gadis itu melihat sepatunya dan sepatu Kai berada dalam jarak sedekat itu. Laki-laki itu impiannya. Soojeon baru tersadar akan hal itu.

Ia menginginkan Kai sama seperti Krystal menginkan Kai.

 

“Soojeon-ah,” panggil Kai pelan. Soojeon tak langsung menoleh, gadis itu terdiam dan ikut menemani Kai dalam kebisuan kalimat di antara mereka selanjutnya. Kai terlihat payah untuk menyambung kalimatnya kembali, begitupun Soojeon yang terlihat putus asa dengan impiannya akan laki-laki yang ada di sebelahnya itu sekarang.

“Apa kau sudah punya pacar?”

 

Pertanyaan Kai sukses membuat jantung Soojeon terlonjak dari tempatnya. Berbagai kejutan perasaan mengalir menuju jantung Soojeon, membuat sensasi yang aneh menjalar ke seluruh tubuhnya. Itu adalah pertanyaan yang begitu sakral untuk ditanyakan oleh seorang laki-laki yang baru sekecap mengenalnya, adalah suatu kewajaran mengapa Soojeon begitu terkejut ketika Kai memberanikan diri untuk bertanya seperti itu.

 

“Kai-ssi… Kau—“

“Kupikir selama ini tak pernah ada seorang laki-lakipun yang pernah dekat denganmu, Soojeon-ah,” potong Kai dengan sepenggal kalimat berintonasi buruk. “Aku memperhatikanmu setiap hari…”

Soojeon membulatkan mulutnya. “Tapi kupikir kau… Kau—“

“Aku tidak memperhatikan Sulli ataupun Krystal,” potong Kai lagi. “Tapi aku memperhatikanmu, Soojeon. Aku melihatmu saat kau melihatku. Aku melihatmu sering menontonku saat aku bertanding basket, dan aku… Aku…”

Soojeon tergagap. Sungguh ia ingin menyela perkataan Kai yang satu ini, namun entah kenapa lidahnya kelu. Soojeon tak bisa mengucapkan apapun, bahkan kini lidahnya terasa lebih kelu daripada saat ia harus membela diri ketika ada kesalahan dalam nada yang ia mainkan.

“…aku berharap bisa memilikimu, Soojeon,” lanjut Kai kepayahan. “Apakah kau mengizinkanku?”

 

 

Tuk!

 

Sulli terpaku saat payung yang ada di genggaman tangannya itu melucur bebas membentur tanah. Sulli tak tahu harus berkata apa, ia terlalu terkejut. Ada rasa sakit yang berdenyut dalam hatinya saat ia melihat pengkhianatan itu. Rasanya sesak, meskipun pengkhianatan itu tidak seratus persen tertuju padanya. Sulli tak bisa mengatakan betapa sakit dan terkejutnya ia saat ini. Ia sungguh lebih tak bisa membayangkan andai saja beberapa puluh menit yang lalu ia benar-benar mengizinkan Krystal pergi menjemput Soojeon yang masih terjebak di sekolah.

Namun tak sedikitpun terlintas di benak mereka bahwa Soojeon akan terjebak bersama Kai. Tidak, bukan itu yang mereka pikirkan. Mereka hanya berpikir tentang Soojeon yang bisa saja terlambat datang ke tempat les pianonya karena hujan yang mengguyur, sedangkan ia sendirian dan tak ada Sulli maupun Krystal yang bisa membantunya.

 

Sulli dengan cepat mengatur pola napasnya kembali. Gadis itu berjongkok untuk mengambil payung yang terjatuh di dekat kakinya tersebut, lalu secepat mungkin pergi dari sana sebelum hatinya semakin nyeri ataupun ada salah satu di antara kedua orang itu yang memergokinya. Sulli memang bersembunyi di balik gerbang tadi, cukup aman karena tempat itu tersembunyi. Namun Sulli tak mau mengambil resiko lebih jauh lagi. Gadis berambut sebahu itu cepat-cepat kembali ke rumah Krystal, namun masih bingung apakah ia perlu menceritakan hal ini pada Krystal atau tidak.

Soojeon dan Krystal sama-sama sahabatnya, Sulli tak ingin ada satupun diantara keduanya yang terluka.

 

“Aku tak bisa, Kai!” pecah Soojeon tiba-tiba. Sulli tak pernah tahu jika Soojeon melepaskan genggaman tangan Kai tepat setelah kepergiannya. Soojeon menolak cinta Kai, dan Sulli tak pernah tahu itu.

Kai terpana, menatap Soojeon kecewa.

“Maafkan aku,” lanjut Soojeon dengan pandangan tertunduk, mencoba menyembunyikan airmata yang mulai menuruni pipinya. Gadis itu merasa sakit. Ia membohongi hatinya sendiri. Ia menginkan Kai juga, namun seberkas ingatan akan perasaan sahabatnya kembali teringat. Soojeon tak boleh memiliki Kai, karena Krystal sudah mencintai laki-laki itu lebih dulu.

 

Soojeon tak bisa melanjutkan kata-katanya. Gadis itu berbalik dan berlari menerobos gerimis tanpa pelindung apapun yang menaungi kepalanya. Kai terpaku di tempatnya semula, menatap punggung Soojeon yang menghilang di balik tikungan gerbang sekolah. Perlahan Kai menatap telapak tangannya yang tadi sempat menggenggam pergelangan tangan Soojeon, meskipun ada selembar kain bahan almameter yang membatasi kulit mereka.

Soojeon menolak Kai karena satu alasan yang tak pernah Kai sadari.

***

 

Soojeon mencoba untuk tidak terlihat berantakan saat datang ke sekolah hari ini. Setidaknya ia butuh waktu beberapa menit di depan meja riasnya, hal yang selama ini dengan jujur jarang ia lakukan. Soojeon tak pernah begitu peduli pada penampilannya. Semua kosmetik yang dibelikan kakak perempuannya sejak beberapa bulan yang lalu bahkan masih ada dalam keadaan tersegel di laci meja rias. Namun pagi ini Soojeon pertama kali membuka kemasan BB Cream yang dibelikan Yuri, mengoleskannya tipis-tipis diatas permukaan wajahnya sebagai penyamar raut wajahnya yang kusut.

Setidaknya Soojeon mencoba terlihat wajar di depan ayahnya, ibunya, serta kakak perempuannya yang bernama Kwon Yuri. Mereka sarapan pagi seperti biasanya. Soojeon memang terbiasa menjadi anak yang pendiam, bahkan di depan keluarganya. Tak ada yang curiga bahwa Soojeon sedang stress, karena gadis itu memang jarang mengeluarkan apa yang ada dalam pikiran dan hatinya. Gadis itu begitu introvert, tidak seperti Yuri yang periang dan hobi mengisi cerita dalam keluarga mereka.

 

Hal yang pertama kali Soojeon cari saat tiba di kelasnya adalah Sulli dan Krystal. Beruntungnya Soojeon benar-benar bertemu mereka. Ingin rasanya ia cepat-cepat memeluk mereka, walau sama sekali tak berniat menceritakan apapun soal pertemuannya dengan Kai kemarin sore.

Soojeon tidak akan menceritakan apapun pada Krystal. Tidak akan.

 

“Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku.” Soojeon terpaku saat mendengar ucapan dingin Krystal. Tangan Krystal mencoba menjauhkan Soojeon dari tubuhnya sendiri. Soojeon terpaku memandang iris kelam Krystal, dan saat itulah ia tahu ada suatu hal yang sudah berubah pada diri Krystal.

Sulli memandangi Soojeon dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sirat sedih yang terlukis di sana, namun juga ada rasa terluka. Soojeon memandang iris kedua sahabatnya secara bergantian, merasa pusing dengan apa yang sudah terjadi. Bibir gadis itu bergetar menahan tangis.

“Krys…”

“Aku sudah lelah, Soojeon,” Potong Krystal dingin. Ia tertawa sinis untuk Soojeon, “aku membencimu.”

Soojeon tertegun mendengar ucapan Krystal. Sulli memejamkan matanya tak tega, mencoba menahan airmatanya sendiri. Melihat sahabatnya bertengkar adalah suatu hal yang paling ia benci. Sulli sekaligus meruntuki kebodohan mereka. Mereka sendiri yang telah menghancurkan persahabatan ini.

Seharusnya Krystal tak pernah menyukai Kai.

Seharusnya Sulli tak pernah menyuruh Soojeon menghampiri Kai saat laki-laki itu datang ke kelas mereka untuk pertama kali.

Seharusnya Soojeon tak pernah mendengar cerita bahwa Krystal menyukai Kai.

Semua itu salah mereka. Mereka yang terjebak dalam masalah sama, serta saling membenci hanya karena pengkhianatan dan kebodohan yang pernah mereka lakukan.

 

Krystal merasa muak dengan airmata yang mulai menggenang di pelupuk mata Soojeon. Gadis itu bangkit dan melangkah menuju pintu keluar, meninggalkan Sulli dan Soojeon yang masih terpaku dalam pikiran masing-masing. Tiba-tiba Soojeon meraih tangan Sulli, membuat Sulli tersadar dari ilusinya seketika.

“Sulli… Kumohon…” isak Soojeon dengan airmata yang mulai jatuh satu demi satu.

“Sulli!” panggil Krystal dengan nada tak suka. “Kau pilih aku atau pengkhianat itu, hah?!”

Sulli terkesiap mendengar kalimat tajam Krystal. Sulli memandang Soojeon dan Krystal secara bergantian. Kepalanya penuh dengan pertanyaan dan penyesalan. Jika memang kejujurannya pada Krystal akan membuat mereka terpisah seperti ini, ia akan lebih memilih tidak pernah jujur soal pertemuan Kai dan Soojeon sore itu. Sulli kira Krystal akan memilih Soojeon, tapi…

Krystal tidak memilih Soojeon.

 

“Maafkan aku, Soojeon… Andai saja kau dan Kai tak pernah bertemu, Krystal tak akan pernah memaksaku untuk membencimu,” perlahan Sulli mencoba melepaskan genggaman Soojeon dari tangannya. Soojeon terpuruk dengan tangisannya, menatap Sulli yang ikut meninggalkannya dan lebih memilih untuk membenci pengkhianat sepertinya.

Hati Soojeon sakit. Ia sakit pada dirinya sendiri.

 

“Krystal!” Soojeon masih terus mencoba memanggil nama Krystal. Gadis itu bangkit dan menyusul jejak langkah kedua sahabatnya yang semakin menjauh dari jarak pandangnya. Krystal tidak menoleh sama sekali. Hanya Sulli yang menoleh, dan gadis itu tak bisa berkutik. Ia merasa bersalah jika tidak membela Krystal sekarang, namun ada kesedihan lain yang menghantui hatinya saat ia tak bisa kembali dan ikut membela Soojeon. Kedua sahabatnya itu kini ada di sisi yang berhadapan, mereka tak lagi satu garis. Sulli harus memilih salah satu dan melepaskan yang lain.

 

“Krys, berhenti,” Sulli mencoba memelas pada Krystal, namun Krystal acuh dan malah mengeratkan genggaman pada pergelangan tangan Sulli. Sulli sedikit meringis kesakitan, namun sakit hati telah mengambil alih perasaan Krystal lebih dominan saat ini.

“Krys…”

“Jangan menyuruhku untuk memaafkannya, Sulli Choi.” Potong Krystal dingin. “Kau tidak ingat bahwa kau bahkan saksi utama dari pengkhianatannya, huh?”

“Kau salah paham dengan maksudku mengatakan hal itu padamu. Ini bukan sikap yang kuharapkan darimu, Krys.” Ujar Sulli pelan. Bibir gadis itu bergetar menahan tangis. Sulli memaksakan diri lepas dari genggaman Krystal, dan ketika Krystal menoleh ia sudah menemukan tangisan bisu Sulli.

Krystal ikut terbisu. Ia tak bisa menjawab kata-kata Sulli. Kepalanya penuh dengan berbagai pertanyaannya sendiri. Krystal menangkup kepalanya dengan telapak tangan.

“Aku hanya ingin menunjukan bahwa…” Sulli melanjutkan kata-katanya, “… bahwa Kai tidak pernah bisa membalas cintamu, Krys. Dia mencintai gadis lain, jadi berhenti menyakiti dirimu sendiri…”

 

“Krystal!” suara Soojeon kembali terdengar memanggil nama Krystal. Rasa sakit hati bercampur emosi dalam batin Krystal kembali tersulut. Ketika suara itu semakin mendekat ke arahnya, Krystal sudah kehilangan kendali atas hatinya. Gadis itu menolak Soojeon dengan keras, membuat Soojeon jatuh terduduk diatas lantai lorong. Soojeon tak bisa berkata apa-apa. Bahunya bergetar shock, dan hatinya semakin sakit saat Krystal menatapnya begitu sarat dengan kebencian.

“Jangan pernah sebut namaku lagi!” jerit Krystal dengan intonasi tinggi. “Aku tidak pernah bersahabat dengan pengkhianat sepertimu! Kau munafik, Kwon Soojeon! Munafik! Aku benci seseorang yang munafik sepertimu!”

Sulli terdiam beku mendengar jeritan Krystal. Pandangan matanya mengosong, dan semuanya terlihat abu-abu dalam matanya sekarang. Soojeon dan Krystal tidak lagi terlihat sebagai dua orang yang dulu dikenalnya, dua orang yang dulu selalu banyak menghabiskan waktu dengannya. Mereka berubah menjadi dua sosok manusia yang asing, membuat Sulli terpuruk dengan kenyataan itu. Sulli merasa ikut kehilangan segalanya.

Soojeon terpaku menatap lantai saat Krystal menjeritinya. Kata-kata Krystal bagaikan hujan jarum yang menghujam hatinya dengan perih. Tak ada kata yang lebih menyedihkan selain mendengar pengakuan bahwa sahabatmu kini sudah membencimu. Seluruh tubuh Soojeon bergetar. Soojeon telah kehilangan sahabatnya. Soojeon telah kehilangan Krystal yang dulu sangat dekat dengannya.

Krystal tak tahu apa yang baru saja ia katakan. Napasnya memburu, dan emosinya masih tersulut saat ia mengucapkan kalimat itu. Kalimat itu ikut membuat hatinya terluka dan airmatanya meleleh, meskipun itu adalah kata-katanya sendiri. Kata-kata menyakitkan yang baru saja ia hujamkan pada Soojeon. Krystal telah kehilangan Soojeon. Nama itu sudah Krystal hapus dari hidupnya. Persahabatan mereka seakan tiada berbekas lagi sekarang. Semua itu terkubur oleh sakit hati.

 

“Soojeon?” suara seorang laki-laki tiba-tiba menginterupsi mereka. Mereka bertiga sama-sama tersadar, dan kedatangan laki-laki itu semakin memperparah keadaan. Sulli tak bisa menahan bentrokan hatinya, begitupun dengan Krystal yang tampaknya sudah mati rasa.

Kai menghampiri Soojeon yang masih terduduk diatas lantai, mencoba untuk membantunya berdiri. Kai memapah Soojeon, dan itu semakin memperkeruh suasana hati Krystal. Krystal terbakar, dan ia semakin yakin jika Soojeon adalah seorang pengkhianat saat Soojeon sama sekali tak menolak bantuan tangan Kai. Semuanya itu sudah terbukti sekarang. Soojeon adalah seorang pengkhianat, dan Krystal sudah teramat salah karena pernah mempercayai gadis seperti Soojeon.

“Apa yang telah kalian lakukan pada Soojeon?” Tanya Kai dengan pandangan tajam menuju Sulli dan Krystal.

Sulli menundukkan kepalanya, sedangkan Krystal justru berani membalas tatapan tajam Kai dengan senyum sinisnya. Gadis itu tersenyum angkuh dan dengan berani meringis ejek.

“Kau boleh memilikinya sekarang.” Entah untuk siapa kalimat itu ditujukan, yang jelas Krystal mengucapkan itu dengan nada sinis yang teramat kentara. Gadis itu membalikkan tubuhnya, lalu melangkah pergi. Hati Krystal sudah mati rasa. Lorong itu bagaikan ruang hampa, Krystal bahkan sudah tak bisa lagi merasakan sakit hatinya. Semuanya sudah melebur menjadi satu, menciptakan rasa sesak yang tak mampu terjabarkan oleh kata.

Sulli menatap Soojeon yang masih ada dalam lindungan Kai. Airmatanya mengembang di pelupuk, menunggu untuk jatuh. Hati Sulli sudah sama matinya dengan Krystal sekarang. Matanya sudah melihat bukti bahwa Soojeon sama sekali tidak menolak Kai. Soojeon seorang pengkhianat, dan hati Sulli sakit menerima kenyataan itu. Jangan katakan Krystal yang menyakiti Soojeon disini, karena Soojeon memang sudah melakukannya terlebih dahulu.

Tanpa kata Sulli ikut melenggang dari tempat itu, meninggalkan Kai berdua dengan Soojeon. Kai menatap kepergian Sulli, sedangkan Soojeon memandang kehancuran hati kedua sahabatnya dengan ekspresi kosong. Hatinya sama hampa. Persahabatan mereka sudah hancur, dan Soojeon tahu ia tak bisa mengembalikan semuanya dengan mudah. Waktu akan terus berjalan, dan bukan jaminan bahwa Krystal dan Sulli bisa memaafkannya. Dugaan pengkhianatan itu telah membunuh hati mereka berdua. Tak ada yang bisa Soojeon lakukan selain membenci dirinya sendiri.

***

 

Universitas apa yang menjadi impianmu selama dua belas tahun ini?

 

Pertanyaan itu menjadi topik yang amat hangat dibicarakan akhir-akhir ini. Semua murid semester akhir telah melaksanakan ujian terakhir mereka untuk mendapatkan penguman kelulusan, dan kini waktu semakin berjalan mendekati seuneung.

Seuneung adalah ujian yang akan menentukan masa depan mereka, di universitas apa mereka akan diterima. Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap tahun, dan kini giliran angkatan Soojeon yang mengikutinya. Dan ada satu kebiasaan unik yang hanya dilakukan di sekolah Soojeon, yaitu para murid yang hendak mengikuti seuneung diwajibkan untuk menulis universistas impian mereka di atas secarik kertas lalu menggantungkannya dengan benang pada dahan pohon kering yang ada di halaman sekolah. Setiap bulan November pohon itu akan meranggas, meninggalkan dahan kayunya yang kosong. Sekolah memanfaatkan itu untuk membentuk kreatifitas muridnya dan sekaligus sebagai momen terakhir sebelum pelepasan kelulusan mereka dari bangku sekolah. Carik kertas untuk para murid sudah disiapkan, sebuah kertas yang tampak manis dengan warnanya yang beragam dan bentuknya yang menyerupai hati. Ini adalah momen yang paling ditunggu para murid setiap tahunnya, sebab di momen inilah mereka bisa membaca satu-persatu nama universitas impian teman-teman mereka. Meskipun kertas itu hanya boleh diisi oleh nama universitas tersebut dan tidak memperbolehkan adanya alasan mengapa universitas tersebut menjadi pilihan serta siapa nama pemilik dari masing-masing kertas itu, para murid masih diperbolehkan untuk menghias kertasnya. Tanpa nama memang, tapi setidaknya mereka mulai bisa menebak siapakah pemilik kertas-kertas itu.

 

Hanguk University of Technology, Literature and Arts.

 

Soojeon menjawab pertanyaan sebelumnya dan menggoreskan jawabannya di atas kertas berwarna merah jambu itu. Begitu polos, Soojeon sengaja tidak menghiasnya sama sekali supaya tidak ada teman-temannya yang bisa menebak bahwa itulah jawaban miliknya.

Soojeon bahkan sengaja menggantungkan kertas itu disaat hari sudah beranjak sore, saat semua murid-murid lain sudah pulang dan hanya tersisa beberapa gelintir orang di sekolah. Soojeon datang ke halaman sekolah sendirian, dan hanya semburat matahari sore yang menemaninya. Soojeon nyaris menangis saat kertas miliknya kini sudah resmi tergantung bersama ratusan kertas lainnya, kertas milik teman-temannya. Soojeon menatap haru bayangan pohon yang tercetak di tanah, bersebelahan dengan bayangan tubuhnya sendiri.

Tiba-tiba Soojeon tersadar saat matanya menemukan satu kertas berwarna ungu pastel. Kertas itu dengan mudah menarik perhatiannya, walaupun permukaannya tak banyak dihias oleh dekorasi. Soojeon begitu mengenal tulisan yang terukir disana, Soojeon bahkan ingat betul siapa pemilik tulisan itu.

Krystal. Kertas itu milik Krystal Jung.

 

Berklee College of Music, United States.

 

Airmata Soojeon menitik. Ia ingat kampus itu. Bertahun-tahun yang lalu, Krystal dan Soojeon begitu bersemangat membicarakan tentang kampus itu. Sedangkan mereka tidak sadar jika Sulli hanya terdiam di pojok ruangan sambil mendekap lututnya, merasa sedih sekaligus bingung karena dirinya sama sekali tidak mengerti tentang pembicaraan kedua sahabatnya. Dan semua itu berujung pada impian yang sama-sama terucap dari mulut Krystal dan Soojeon, bahwa mereka ingin sekali berkuliah disana. Universitas itu adalah impian mereka. Soojeon terpaksa menghapus impian itu saat Krystal membuang namanya sebagai sahabat, namun ternyata Krystal masih menyimpan impiannya sendiri. Universitas itu masih menjadi cita-citanya, tak berubah meski Soojoen tidak lagi bisa menemaninya berkuliah di sana.

 

Tiba-tiba ada satu kertas lain yang terjatuh dari dekat kertas milik Soojeon, kertas itu melayang sejenak dan berakhir mendarat di dekat sepatu Soojeon. Soojeon menyadari terjatuhnya kertas itu dan berniat untuk menggantungkannya kembali ke tempat semula. Ia memungut kertas itu, namun tertegun saat melihat nama universitas yang tercantum disana.

 

Hanguk University of Technology, Literature and Arts.

 

Soojeon menghapus sisa airmatanya, dan menatap kertas itu tak percaya. Kertas itu berwarna hijau cerah, dan Soojeon entah kenapa yakin menebak bahwa pemilik kertas itu adalah seorang laki-laki. Namun Soojeon tak bisa menebak siapa orangnya. Kening Soojeon masih mengerut. Beberapa waktu selanjutnya ia mulai memeriksa beberapa kertas lain yang menggantung di sekitarnya, namun tak ada satu kertas lain pun yang menuliskan nama universitas itu. Sejauh ini hanya kertas miliknya dan milik orang itu yang mencantumkan nama Hanguk University of Technology, Literature and Arts. Mengingat sekolahnya adalah SMA umum, dan tidak begitu banyak murid yang benar-benar menggilai dunia seni ataupun teknik.

Jadi… Siapakah yang pemilik kertas itu?

 

Tiba-tiba ponsel dalam saku Soojeon bergetar, menandakan ada suatu notifikasi disana. Oh, tidak, bukan notifikasi. Sepertinya ada seseorang yang mencoba menghubungi Soojeon. Biasanya saat Soojeon masih belum pulang hingga sore hari seperti ini, hanya ada kemungkinan bahwa keluarganya yang mencoba menghubungi.

 

Soojeon membaca nama yang tertera di layar ponselnya. Kakak perempuannya menelepon. Soojeon langsung menjawab panggilanya tanpa menunggu waktu yang lebih lama lagi. Namun ia sedikit terkejut saat mendengar suara kakaknya mendahului salam yang baru saja akan diucapkannya.

 

Soojeon-ah,” panggil Yuri dengan nada yang terdengar sedikit buru-buru. “Dimana kau? Kau belum pulang sesore ini?

 

Eonni, maafkan aku, aku ada keperluan sebentar tadi,” jawab Soojeon. “Memangnya ada apa, eonni? Apa eomma mencariku?”

 

Bukan hanya eomma yang mencarimu,” jawab Yuri. “Astaga, Soojeon. Mengapa kau tidak memberitahu pada kami jika kau sudah memiliki pacar?!”

 

“Apa?!” pekik Soojoen spontan. Ia tergagap, “p—pacar?”

 

Pacarmu sudah menunggu sejak pukul tiga sore,” sahut Yuri. “Yeah, dia memang terlihat sedikit berantakan, Soojeon. Tapi sebagai wanita, aku merasakan dia punya aura yang membuat banyak wanita tertarik padanya. Apa aura itu yang juga telah menarikmu?”

 

Eonni ini bicara apa?!” desis Soojeon sedikit cemas. “Aku tidak punya pacar, eonni! Dia bukan pacarku.”

 

Apa?!” kini giliran Yuri yang terpekik. “Tapi… Tapi… Dia mengaku padaku dan eomma bahwa dia pacarmu, Soojeon. Sungguh. Kau boleh bertanya pada eomma jika kau tidak percaya padaku.”

 

“Siapa dia?” Tanya Soojeon tak tahan lagi. “Kalau ia teman sekelasku, aku akan langsung menegurnya besok.”

 

Dia bilang, dia tidak sekelas denganmu di sekolah,” ujar Yuri. “Dia bilang namanya Kai. Apa kau mengenalnya, Soojeon-ah?”

 

 

 

——————–

 

And the story between them, never be ending yet until this second…

 

 

 

Halo semuanyaaaaaa ~~~~~

 

Mihihi, maaf banget yaa aku baru bisa muncul sekarang .____.

Kemaren aku ujian dua minggu, terus aku kehabisan kuota modem gitu. Terus terus terus… Abis itu aku sedikit dapet masalah sama cerita ini (?) 😀

 

Ehem… Kali ini aku mau curhat sedikit tentang ‘masalah’ yang kemaren aku dapet itu yaa. Bagi kalian para pembaca dimohon pengertiannya 🙂

Beberapa waktu yang lalu aku dapet laporan dari salah satu pembaca kalo ada satu judul fic yang “dicurigai memplagiat Secret Darling”. Aku gak mau mengumbar judul fic itu disini. Seenggaknya untuk sekarang deh. Soalnya aku juga belum dapet kepastian apakah bener author itu ngeplagiat fic aku atau engga. Sejauh ini aku dan beberapa teman aku sedang membantu menyelidiki dan menelaah fic itu, seberapa besar tingkat kemiripannya. Untuk saat ini aku belum ambil tindakan, tapi dipastiin kalo aku dan temen-temen aku bakal terus mengawasi perkembangan cerita fic itu.

Kalo misalnya terbukti positif kalo dia ngeplagiat, baru deh aku ambil tindakan 😀

Mengenai masalah plagiat itu, entah kenapa aku jadi kurang semangat lagi ngejar kelanjutan cerita Secret Darling. Mungkin aku butuh waktu yang lebih renggang sedikit, jadi diharap pengertiannya yaa 🙂

Aku gatau si “terduga plagiator” itu sedang berada diantara kalian atau engga sekarang. Ada atau engganya dia, aku tetap mau kasih wejangan sedikit nih buat kalian 😀

Dear pembacaku, aku yakin kalo semua orang di dunia ini bisa menghasilkan karya yang bagus. Itu semua tergantung dari bagaimana niat kalian menciptakan karya itu, dan juga sudah sejauh mana pengetahuan kalian mengenai tata cara untuk menghasilkan karya tersebut 🙂

Aku percaya kita masing-masing punya kemampuan berpikir yang sama, hanya saja hasilnya mungkin berbeda. Kalian harus percaya sama diri kalian sendiri.

Buat para plagiator di luar sana, kalian seharusnya percaya sama kemampuan kalian sendiri. Jangan plagiat karya orang lain, ya. Karya itu adalah hasil kerja keras orang lain, jadi kalian pasti pernah membaca karya tersebut dan mengaguminya. Adalah kewajiban bagi kalian sebagai pembaca karya tersebut untuk menghargainya, bukan? 🙂

Tangan aku terbuka buat semua pembacaku yang mau share tentang menulis. Aku juga belum jadi penulis sempurna. Aku juga masih belajar dari beberapa author favorit aku, masih saling share terkadang dan sebagai sarana untuk mengakrabkan diri antara penulis dan pembaca aja 🙂

Gimana? Adakah yang mau share sama aku? 😀

 

Harapanku pribadi buat kasus ini, aku ingin masalah ini cepet selesai. Kalo “dia” ada diantara kalian sekarang, aku harap “dia” membaca pesan aku ini. Aku berharap konfirmasi dari “dia” aja kok. Kalo ketemu, aku gak akan marahin “dia”. Aku hanya ingin tahu apa alasan “dia” mencintai karya aku dengan cara seperti ini, hihihi 😀

Buat “kamu yang merasa”, aku tunggu konfirmasinya deh yaa 😉

Aku ada twitter nih, @shineshen97 ^^

 

Oke deh, sekian dulu cuap-cuap aku di chapter ini ~

Maaf ya kalo dateng-dateng aku malah curhat ._______. 😀

 

Pendapat kalian soal chapter minggu ini aku tunggu selalu yaa ^^

Semoga kalian suka sama persembahan aku di chapter yang ini 😀

Have a nice holidays, guys! 😉

 

[♥] : Kata makasih gak pernah kering aku ucapin ke kalian, para readers kesayangan aku :3

Sampe detik ini komentar masih terus mengalir, dan jumlahnya beneran buat aku terharu… Aku terharu dengan betapa excited-nya kalian sama fic ini… Terimakasih banyak, aku sayang kalian semua deh… Beneran (/-\)

Makasih banyak ya, komentar kalian kemarin-kemarin selalu melebihi harapan aku… Makasih buat semangatnya :3

Pertahankan terus ya jumlah komentar kalian, supaya gembok bala aku gak nemplok di chapter selanjutnya 😀 mihihi ~

 

 

shineshen

.

Let me introduce the owns of cracked friendship, maybe you will meet one of them someday later?

.

This is Krystal, the mistaken bestfriend

Krystal-jung-sisters-27764948-320-420

.

This is Sulli, the confused bestfriend

2fc073ca0b9fcb0a916beb2911253d3a

.

And this is Soojeon, the hated bestfriend

Ba2NV_SIQAAKsPC

361 thoughts on “Secret Darling | Kai’s Side Story

  1. Ping-balik: Secret Darling | 29th Chapter [Ending Page] – Shen's Fictionary

  2. Ya ampun thorr pas part merka yang berbertengkar itu bikin mau nangisss sedih bangett… Kasian sama mereka udah sahabatan lama tapi harus pecahh gituu

  3. Ping-balik: Secret Darling | 28th Chapter – Shen's Fictionary

    • Kaistal shipper juga di sini ^^

      tapi aku pake Vivian Hyunjung Cha sbg visualisasinya Kwon Soojeon di sini. dia adik sepupunya Yuri SNSD. dan dia mukanya setipe ama Krystal gitu, mirip-mirip 😀 hahaha. jadi bisa lah dibayangin pake mukanya Krystal 😀

      terima kasih yaa ^^

  4. Ping-balik: Secret Darling | 27th Chapter – Shen's Fictionary

  5. Ping-balik: Secret Darling | 26th Chapter – Shen's Fictionary

  6. Aku lupa buat baca ini padahal emang udh ada rencana:D pengen nangis pas persahabatan mereka hancur kaya gitu.. Aku juga pernah ngerasain kaya mereka (walaupun ga sampe teriak teriakan di lorong & bukan rebutin cowok) dan emang sedih sih.. Kasian soojeonnya, sullinya juga ah gabisa jaga mulut-_- maafin ky kak shen komennya nyebelin semua hihi✌✌✌ jdnya kai bukan sama jiyoung ya..(maafin kyla, jangan hate kyla)

    • haii, Kyla ^^
      i dont hate you, kok 😀 hahaha
      aku gemes aja udah ngasih tau kamu tiga kali ._. hehehe

      Sulli ya… hm. dia kebagian side story kok setelah ending nanti. jadi kalian bakal liat karakter dia yg sebenarnya itu kayak apa. kan selama ini dia ngga terlalu terekspos ya.
      sebenernya dia ngga punya maksud jahat dgn ngelaporin Soojeon ke Krystal… dia cuma ngga pengen Krystal sakit sama perasaannya sendiri karena sdh menggantungkan ekspektasi tinggi pada sosok Kai 🙂

      anyway makasih yaa, Kyla 🙂

  7. Ping-balik: Secret Darling | 25th Chapter – Shen's Fictionary

  8. mau nangis pas part sulli.krystal.soojeon berantem :’) ceritanya ini aku banget loh aku pernah ngerasain juga soalnya tapi dengan ending yg beda hihi 😀
    niatnya males baca kai side story nya tapi ga nyesel juga udh baca hihi 😀
    rada kesel juga waktu soojeon nerima bantuan kai yg buat krystal malahan jadi ada tanduknya haha 😀
    daebak thor ff bikin emosi turun naik, kdang bikin sedih sama seneng haha complete deh feel(?) di ff ini semuanya ngena hihi
    semangat author buat next chap nya 😀

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s