Butterfly Wings

BUTTERFLY-2

Tittle: Butterfly Wings

Cast:

-Kim jongin

-Moon Jina

-Oh Sehun(OC)

-Han Ji(OC)

Length: Oneshot

Genre: Romance

Rate: Teen.

Note : Author bawa cerita baru (Oneshoot) hehehe bukannya update The Sun Flower malah update FF baru 😛 untuk FF TSF author update besok^^ and visit my personal BLOG

_HAPPY READING_

Bunga merona

Kupu-kupu gemetar

Cintakah itu?

Moon Jina (P.O.V)

Hari itu, ia berdiri di seberang lapangan yang perlahan mulai sepi. Tinggi, dengan dagu sedikit mendongak dan tatapan angkuh yang sedikit mengintimidasi. Menatapku dari kejauhan, lalu membuang muka sebelum aku melakukannya terlebih dahulu. Muak adalah kata yang tidak terlalu tepat untuk menggambarkan perasaanku kepadanya. Lebih dari muak. Lebih dari sebal. Ada kemungkinan aku membencinya.

Ketika aku menoleh lagi, ia sedang berjalan melintasi lapangan. Dibelakangnya, matahari mulai terbenam, menjadikan langin berwarna jingga. Menjadi latar yang muram bagi sosoknya yang berwajah keras. Beberapa namja mengikuti langkahnya dibelakang. Seolah-olah dirinya seorang pemimpin dari gerombolan mafia.

Mereka mendekat kearah kami, para yeoja yang berkumpul berasama-sama selama pertandingan basket berlangsung. Pertandingan baru saja usai, tetapi kami masih berkumpul untuk mengobrol, terutama karena yeoja-yeoja yang berdiri berasamaku menyukai si namja angkuh itu.

Bukannya melewati tempat yang lebih lapang, ia malah memilih jalur sempit diantara kami. Lengannya dengan sengaja menyenggol bahuku,membuatku terhuyung. Aku berseru marah.

“Hei! Bisa sopan dikit tidak?!”

Ia menoleh, berbalik dan mendekatiku. “Apa mungil?”

“Ya! Kau malah menghina!”

            Ia tersenyum. Anehnya senyum itu manis, mengubah wajahnya yang kaku dan merengut menjadi lebih cerah,lebih terlihat ramah. Namun, itu hanya kesan yang mengelabui. Lebih lama menatap bola matanya sedekat itu,aku segera berubah pikiran.

Tidak. Itu senyum nakal. Senyum yang berbahaya.

“Wae? Ada masalah?” gertakku. Seharusnya, ia tahu bahwa aku tidak seperti yeoja-yeoja lain yang langsung menciut saat ditatap dengan garang seperti itu. Senyum maut serigalanya itu mungkin akan membuat yeoja-yeoja lain pingsan ketakutan.

“Benar, ada masalah.”

“Katakan, apa masalahnya! Jangan hanya cari gara-gara!”

“Aku tidak menyukaimu.”

“Kau pikir aku juga menyukaimu? Aku membencimu. Asal kau tahu itu.”

“Kenapa kau membenciku?”

“Kalau dijelaskan, bisa samapi setahun kira berdiri disini.”

“Coba saja kalau begitu.”

“Tidak usah, aku malas berbicara denganmu.”

Ia tertawa pendek.” Kau membentakku duluan.”

“Karena kau cari gara-gara denganku!”

“Nah, ini dia yang membuatku tidak suka, kau itu bawel.”

“Kau bilang apa?!”

“Bawel”. Ia menyeringai lebar,tampak puas. Lalu, ia berbalik meninggalkanku, yang masih berdiri dipinggir lapangan beberapa menit kemudian,dengan tangan mengepal dan wajah merah padam.

Sejak saat itu, kuputuskan aku memang membencinya. Sangat membencinya−kalau boleh kutekankan lagi. Bukan hanya karena tinggi badannya yang mengintimidasi, juga karena sikapnya yang angkuh dan sok pandai. Sangat menyebalkan harus terpaksa melihatnya bermain basket dengan teman-temanku, saat aku melonggokan kepala keluar jendela samping rumahku. Aku menyesali posisi jendela yang menghadap ke lapangan basket. Aku menyesali lapangan basket yang dibangun dekat dengan komplek perumahanku sehingga ia bisa setiap waktu bermain dengan teman-temanku.

Kalau aku muncul di jendela saat ia sedang bermain basket, ia akan menatapku dengan tatapan yang seperti seolah-olah ingin menelanjanginku. Lalu bibirnya, melafalkan kalimat “Hai mungil”tanpa suara. Menyebalkan!

Aku tak tahu mengapa sikapnya denganku tidak pernah manis. Namun, kalau dipikir-pikir lagi, ia memang tidak pernah bersikap manis kepada yeoja mana pun.

“Lihat! Jongin yang paling banyak menyumbang angka!” Yoo ji, anak tetangga depan rumah, berdiri di depan jendelaku. Wajahnya yang terkagum-kagum, tak sedikit pun berpaling dari lapangan basket,tempat Jongin sedang bermain.

“Kenapa sih kalian menyukainya?” gerutuku. “Menyapa kalian saja, ia tidak pernah.”

“Justru karena itu. Semakin misterius, semakin membuat kami penasaran.” Sahut Yoo ji.

“Huh” Aku menunjukan mimik jijik.

Mesiki hubunganku dengan Jongin tidak bisa dibilang berteman, kami kerap berkumpul bersama. Teman-tema sepermainanku semuanya namja, dan mereka satu sekolah dengan Jongin. Cuma aku yang berbeda. Aku diterima di High school favorite,mereka tidak. Hal itu selalu menjadi bahan ejekan Jongin untuk memancing pertengkaran denganku.

“Hey Sehun, Kau tahu apa bedanya sekolah favorite dengan yang bukan?” tanyanya kepada Sehun.

“Tidak” jawab Sehun kembali membaca komiknya.

“Murid Sekolah favorite itu harus rajin belajar, supaya pintar.” Ia menyeringai. “Mereka mempunyai kebiasaan mulia, belajar kapan pun dan dimana pun.”

“Aku memang pintar, kau yang bodoh!”. Aku yang sedang duduk diatas pohon mangga, mengerjakan tugas matematika,terpancing. Satu-satunya, alasanku mengerjakan tugas di dekat teman-temanku saat itu karena beberapa dari mereka terutama Sehun jago matematika. Jadi aku bisa bertanya jika ada soal yang tidak bisa kupecahkan.

Jongin pun tak mendengar. Aku melemparnya dengan putik mangga,dan tepat mengenai dahinya. Ia mendongak, matanya berkilat-kilat. Dengan cekatan, ia memanjat, dan dengan sekejap sudah berada di dahan yang sama denganku.

“Kau tahu, itu sedikit membuat dahiku sakit!.” Ia menatapku.

“Pasti.” Ujarku tak acuh,meski aku yakin tidak. Ia hanya sedang menakut-nakuti ku lagi.

Ia mencondongkan badannya mendekat ke arahku, menatapku lekat-lekat. “Jangan bergerak,” bisiknya. “Aku sedang memperhatikan apakah kau ini benar-benar yeoja,soalnya kau selalu bermain bersama namja.”

Ia tersenyum. Senyum yang manis-tapi-berbahaya itu lagi.

Aku merasa risih dan jengkel dengan tatapannya,dan wajahnya yang semakin mendekat ke wajahku. Seandainya teman-temanku di bawah mendongak,mereka mungkin akan mengira Jongin sedang bermaksud menciumku. Sialan!

“Pergi dari sini!” Aku mendorong dadanya hingga ia nyaris terjatuh ke bawah. “Aku sudah bermain dengan mereka sejak kecil. Kau yang aneh. Kemana teman-temanmu sendiri? Bahkan orangtuamu pun tidak pernah kelihatan!”

Ia tertegun. Wajahnya berubah menjadi kaku,dan sinar matanya menjadi dingin. Tiba-tiba, aku ingin mengigit lidahku,karena menyesal. Aku seharusnya tidak mengungkit itu. Semua teman-temanku pun tidak pernah membicarakannya. Itu hal yang sangat sensitive untuk Jongin.

***

Mata yang dingin

Bisu seperti batu

Mianhae..

Ayah Jongin tak pernah terlihat lagi sejak setahun yang lalu. Ibunya yang dulu selalu mengurung diri dirumah kini sebaliknya. Ia selalu pergi menjelang sore dan kembali larut malam.

“Ayahnya Jongin di penjara karena kasus penipuan.” Kata ayah,saat aku bertanya kepadanya. Ayahku kenal ayah Jongin. Mereka dulu sering bertemu. Kata ayahku, sebenarnya ayah Jongin tak bersalah. Ia hanya sial dan terseret masalah yang ditimbulkan orang lain.

Lalu tak sengaja ku dengar selentingan gossip dari para ahjuma rumpisaat mereka berbelanja. Ibu Jongin yang cantik itu bekerja di club malam.

Sejak ucapanku padanya di atas pohon mangga itu, Jongin menjaga jarak denganku. Ia masih suka menatapku dengan tajam. Tetapi tanpa memanggilku”mungil”seperti biasa. Ia masih suka menyenggol bahuku dengan keras,tetapi tidak pernah lagi mengejeku walau aku berteriak marah. Tatapan dingin dan wajahnya semakin merengut. Tampang Jongin tampan,sungguh. Namun dengan mimik yang seperti itu, ia tampak dua kali lebih menyeramkan daripada preman.

Kupikir ia membenciku. Dan seharusnya aku merasa senang karena ia tidak akan mengangguku lagi. Namun aku justru sangat menyesal. Ingin rasanya memutar waktu agar bisa mangganti kata-kata yang kuucapkan saat itu. Agar tidak membuatnya sakit hati.

“Tak usah dipikirkan,” kata Sehun sambil menepuk-nepuk bahuku. “Jongin bukan seorang pendendam.”

“Tapi dia jadi mendiamkanku..”

“Bukankah duani menjadi lebih damai?”Sehun terkekeh melihat wajahku yang memelas. “Apa tidak bosan adu mulut terus?”

Aku terdiam. Didasar hatiku, sesungguhnya aku lebih suka beradu mulut dengan Jongin, daripada didiamkan seperti ini. Dan penyesalan yang tak tertebus.

“Ya sudah, mau ikut mampir?”Tanya Sehun. Sore itu aku dan teman-teman ku sedang berjalan pulang sehabis menonton pertandingan tenis meja di kompleks sebelah. Lima namja dan satu yeoja berkeliling menggunakan sepeda,itulah kebiasan kami.

Tiba-tiba aku tersadar, sudah beberapa hari ini Jongin tidak bersama kami.

“Sehun, kenapa Jongin tidak pernah kelihatan?” tanyaku.

Sehun tersenyum.”Nanti juga kau akan tahu.” Aku menatapnya curiga, tetapi ia pura-pura tak peduli.

“Kalau kau tak mau ikut, pulang sendiri saja ya?” Sehun menyenggolku.

“Kita mau mampir kemana?”

Sehun tersenyum.”pokoknya kau ikut saja”

Aku tidak mau pulang sendirian. Menjelang senja langit semakin redup. Dan itu sungguh menyeramkan berjalan sendiri melewati kebun bambu yang sepi. Jadi kuputuskan untuk ikut.

Tujuan mereka adalah sebuah studio dance yang cukup jauh dari kompleks kami. Aku mengintip ke ruangan yang terdengar sedikit bising. Ia memakai kaus hitam dan celana trainee. Wajahnya yang keras, bibirnya kerucut sedikit tebal tak asing lagi. Sebelum aku mundur dari kaca, orang itu telah melihatku. Aku panik. Rasanya ingin melarikan diri saat itu juga.

Terlambat. Ia mengehentikan gerakan dancenya,berjalan kepintu dan keluar.

“Hey! Jongin!” teman-temanku menyapanya dengan gembira. Ia tertawa lebar, menepuk bahu mereka,lalu menoleh kepadaku.

Aku gemetar. Ingin tenggelam ke dasar bumi.

Namun, ia hanya menatapku sebentar dengan bola matanya yang gelap seperti proyeksi langit senja. Lalu kembali mengobrol dengan yang lain.

***

Aku pulang terlambat,senja sudah lewat dan gelap mulai menyelimuti kota Seoul. Yang lebih parah aku lupa menelpon ibuku aku mampir kerumah Han ji.

“Menurutmu cinta itu seperti apa?” Tanya Han Ji tadi.

Aku terdiam. Aku Cuma seorang yeoja berumur 17 tahun. Hal rumit itu tidak pernah mempir di kepalaku.

“Aigoo~ kita sudah kelas tiga. Kalau kau belum pernah pacaran,it doesn’t matter. But, kalau kau tak pernah naksir seseorang itu yang aneh! It’s weirdo babe”

“tentu saja aku pernah naksir seseorang!”sergahku.

“sayang, kuberi tahu ya. Cinta itu rasanya seperti getar sayap kupu-kupu”Ujar Han Ji. “lembut,ringan,indah dan rapuh, tapi disisi lain itu membuatmu merasa kuat.”

Aku terpana.”Dari mana kau dapat kata-kata seperti itu Han ji?”

Han Ji mengedipkan sebelah matanya.”Pengalaman pribadi”sahutnya

“Jadi jika nanti kau punya pacar, kau harus memastikan ada getar sayap itu,”. Ujarnya dengan nada menggurui yang usil.

“butterfly in my stomach?”

Han Ji menggeleng.”Tidak harus diperut,cinta kan bukan cacing pita!”. Kami berdua tertawa.

“Kalau aku, kupu-kupunya ada disini.” Ia mengatakan itu sambil meletakan tangannya didadaku.

***

“Mau pulang?” suara laki-laki mengusikku. Aku menoleh. Laki-laki itu yang duduk di sebelahku,tersenyum.

Karena melamun, aku tidak tahu sejak kapan ia sudah duduk di situ. Kulihat matanya tampak sayu dan merah.

“Mau pulang?” Ia mengulangin pertanyaanya. Suaranya mengambak seperti orang mengantuk. Tetapi aku segera menyadarinya. Orang ini bukan mengantuk. Melainkan, mabuk.

Ketakutan mulai menjalari tubuhku.

“Siapa namamu?” Laki-laki itu masih saja mengajakku bicara,meski aku tak menjawabnya.

Aku menggeleng dan mencari bangku yang masih kosong. Namun nihil. Sepertinya semua bangku terisi. Aku memilih tempat duduk dibelakang,dekat pintu agar cepat turun. Tak kusangka disini aku malah terjebak bersama orang mabuk.

Laki-laki itu mulai menggeser tempat duduknya lebih rapat ke arahku. Aku terdesak di tepi jendela. Menengok kesana-kemari,mencari pertolongan.

“Permisi, bisa geser kesana sedikit? di sini sempit.”

Laki-laki tersenyum liar. Tangannya hinggap di pundakku. Bobot tubuhnya terasa berat dan menakutkan. Aku mencoba melepaskan diri, namun tak kuat. Sial.

“sssst.” Laki-laki itu menyeringgai,sungguh jelek.

“Lepaskan!” Aku meronta, tetapi ia semakin kencang merengkuh bahuku. Aku baru saja memutuskan akan berteriak. Namun tiba-tiba seseorang berdiri di lorong samping bangku kami. Ia menarik si pemabuk menjauh dariku.

“Minggir!” Suaranya dingin membuatku nyaris berhenti bernapas.

“Apa-apaan ini!” Si pemabuk terhuyung ke lorong antar bangku. Kini semua penumpang menoleh kearah kami.

“Jangan macam-macam dengan gadis ini!” Penolongku mengedikan kepalanya ke arahku. Wajahnya garang menatap si laki-laki mabuk.

“Jongin…”Aku tercekat. Kenapa tiba-tiba ada Jongin di bus ini?

“Jangan ikut campur!”

Jongin tidak berbicara lagi. Ia mengulurkan tangannya,menarikku berdiri. Ia mengetukkan jarinya ke kaca pintu bus, sebagai tanda minta berhenti. Ia menyeretku turun.

***

“Mianhae..”

Ia menoleh, “Kau tau kan aku tak suka denganmu karena apa?”. Ia menyeringai melihat wajahku meulai merengut. “Kau itu bawel. Tidak mengerti kapanharus berhenti bicara. Sudah ku bilang,lupakan.”

Aku berjalan melewatinya,tanpa menjawab. Jembatan besar itu sudah semakin dekat. Kakiku pegal dan ingin segera sampai dirumah,tak peduli di omeli. Karena aku malas di ejek terus. Jongin menyusulku. Ia berjalan di sampingku. Kami sama-sama diam membisu.

Kami melangkah melawan arah mata angin. Membuat rambutku acak-acakan diterpa angin malam yang dingin. Aku merapikan poniku yang menutupi mata. Sungguh aneh rasanya berjalan dengan orang yang selama ini tidak kusukai. Aneh, karena rasa tidak suka itu perlahan-lahan mulai mencair.

“Dingin ya?” ia bertanya.

Sejenak aku mengira ia mulai mengejeku lagi,tetapi suaranya terdengar tulus.

“Sorry, jaketku tertinggal dirumah teman. Jadi tidak ada yang bisa kupinjamkan agar kau tidak kedinginan.”

“Tidak perlu basa-basi. Jika kamu membenciku, mengapa tadi kau menolongku?” tukasku ketus.

“aku tidak membencimu.” Sahutnya. “Hanya tidak suka kebawelanmu.”

“Ah! Bohong!” seruku. Kami sudahmenapaki jembatan besar menuju gerbang kompleks. Aku berhenti melangkah,berbalik menatapnya dengan rasa frustasi.

“Kenapa kau selalu jahat denganku? Berani taruhan, besok kau pasti akan mencari gara-gara lagi denganku.”

“Mungkin.” Bibirnya melengkung,membentuk senyum serigala.

“Kalau begitu, sana pergi!, cepat menghilang dari hadapanku!”

Ia malah melangkah mendekat. “Kau ini selalu rebut ya?”

Tanganya terangkat. Kupikir, ia akan menyentuhku, jadi aku terus mundur sampai punggungku membentur tiang jembatan. Namun, tangan itu menumpu pada tiang, tepat diatas kepalaku. Menyangga tubuhnya yang dicondongkan ke arahku. Aku terkurung. Matanya menatapku lekat-lekat.

Tiba-tiba segalanya terasa rumit. Aku tidak pernah berada sedekat ini dengannya. Apalagi hanya berdua. Tidak pernah dimalam yang gelap,dengan penerangan yang buram. Aku gugup. Tubuhku mulai bergetar. Aku bahkan bisa mencium aroma tubuhnya.

Ia seperti membaca keresahanku. “Takut denganku?”

Mencoba tampak berani, aku menggelengkan kepala.

“Kenapa? Kau tahu aku anak narapidana bukan? Dan orang orang bilang, ibuku perempuan penghibur di club malam.”

Aku menelan ludah. Ia pasti akan balas dendam.

“Kau tahu apa yang lucu? Saat orang-orang bilang ibuku sedang melayani laki-laki mabuk di bar, ia sedang menghias kopi,dikedai kopinya.”

Aku tertegun.

“Kedai itu dibuka malam hari.”

“Benarkah?”

“Iya, ibuku tidak serendah itu.”

Apa yang dikatakannya membuatku lega,gembira. Dan itu mengejutkan karena aku menyadari apa artinya. Selama ini tanpa kusadari,aku mengkhawatirkannya. Mengkhawatirkan perasaannya atas gunjingan orang-orang.

“Aku tidak ingin jahat denganmu…,”ujarnya. Tiba-tiba suaranya terdengar letih.

“Serius, aku tidak membencimu. Aku senang melihatmu kesal. Kau lucu jika sedang mengomel begitu. Tapi, lama-lama aku takut…”

“Takut?”akhirnya aku bersuara juga.

“Aku takut kau benar-benar membenciku,mungil. Aku tidak suka dibenci, apa lagi dengan yeoja yang lucu jika sedang marah.”

“Kau tidak ingin aku membencimu, tapi kau masih memanggilku mungil!” aku mendelik.

“Oh ne, mianhae, itu kebiasaan.” Tawanya menggema di tengah jembatan.

Aku cemberut.

“Sekarang bisa singkirkan tanganmu? Aku mau pulang.”

“Ngambek seperti biasa ya?” entah kenapa ia tampak senang.

Ada apa dengan Jongin saat ini? Ia seperti orang asing, buka namja angkuh menyebalkan yang ku kenal. Ia membuka diri, menceritakan tentang keluarganya dan perasaanya. Senyumnya bahkan tak lagi bahaya. Ia kelihatan lebih menyenangkan seperti Sehun dan teman-teman kami yang lain.

“Aku ingin mengusulkan genjatan senjata,”katanya. “Aku sedang lelah bertengkar denganmu.”

“Aku tidak percaya, besok pasti kau akan mencari gara-gara lagi.”

“Aku harus bagaimana agar kau percaya?” bibirnya berkedut menyembunyikan tawa.

“Hmm, bagaimana kalo kita pacaran saja? Jadi kau bisa memastikan kita gencatan senjata selamanya bukan?” tambahnya.

“WHAT?!”

“kau tidak mau?”

“AKU TIDAK SUDI!”

“Yakin?” tiba-tiba wajahnya mendekat ke wajahku. “Kalau begitu, aku harus membantumu memutuskan?”

Sebelum aku menyadarinya, tiba-tiba jarak di antara kami hanyalah selarik udara tipis. Bibirnya menyentuh bibirku dengan lembut. Apa yang terjadi ?. aku hanya bisa terpaku.

Di balik mataku, segalanya berkilauan. Aku mendengar suara angin di telingaku, gesekan daun-daun menari. Hanya beberapa detik. Namun rasanya seperti seabad, ketika kemudian wajahnya menjauh,meninggalkan wajahku yang memanas.

“Nah,”katanya sambil tersenyum lebar. “Sekarang sudah resmi.”

Ia berbalik pergi, berjalan menuju ujung jembatan. Cahaya lampu membiaskan siluetnya yang jangkung.

Aku masih terpaku, menggigil dalam cahaya lampu temaram dari kedua ujung jembatan. Menatap punggung Jongin yang melangkah santai, dengan perasaan tak percata. Ia mencuri ciuman pertamaku!.

Aku ingin berteriak kepadanya bahwa aku tidak sudi jadi kekasihnya. Tidak sudi di tembak dengan cara yang jahil seperti itu. Tidak terima dicium dengan semena-mena. Namun, sesuatu yang kurasakan di dadaku mencegahnya. Ada debar-debar disana. Perih, tetapi indah. Halus, tetapi kuat. Aku ingat perumpamaan Han Ji. Kupu-kupu. Ini kah sayap kupu-kupu itu?

Di ujung jembatan, Jongin berhenti dan menoleh.

“Hey Moon Jina!” untuk kali pertama, ia memanggil namaku. “Mau ku antar pulang? Atau kau mau ditemani hantu-hantu yang ada disitu?”

Aku mendongak. Ia berdiri menunggu disana, tangannya terulur kepadaku. Telapaknya terbuka, menawarkan perlindungan kepadaku. Hatinya yang rapuh, tiba-tiba terasa dilapisi oleh baja. Tiba-tiba aku bisa menghadapi apapun karena pemilik tangan itu. Perasaan yang membuatku kuat. Bukankah begitu kata Han Ji?

Maka aku berlari kepadanya, dan ia membungkus tanganku dengan tangannya yang hangat. Menuntunku ke sampingnya, berjalan bersama menuju rumahku. Tiba-tiba semuanya terasa wajar, seolah-olah dari dulu seharusnya begitu.

Hari ini, ketika orang-orang bertanya, siapa pertama bagiku, siapa yang menyentuh hatiku dengan kenangan yang tak lekang di telan zaman. Maka, tanpa ragu aku akan menjawab,”Jongin.”

Tahukah angin

Hatiku ingin terbang?

Sayapku bebas.

 

THE END.

81 thoughts on “Butterfly Wings

  1. oh my god. ini sweet banget. jadi senyum senyum sendiri baca ini
    aahh andaikan di dunia nyata ada kejadian kayak ginii hftt
    jongin kaj sweet bangeett, jadi irii dehh
    di balik kejaialan nya kai ternyata menyimpan rasa suka hihii
    aku suka ceritanya
    di tunggu cerita yang lain thor

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s