Keeping Love Again

KLA-lay

Keeping Love Again

Author : Charismagirl

Main Cast :

  • Zhang Yixing
  • Yun Meilan

Genre : Romance, Marriage-Life.

Length : One-Shoot / < 3000 W

Rating : PG-13

Note : Do not copycat without my permission. There’s unpredictable cast will revealed, please anticipated🙂. It feels like after story for ‘Last Kiss’. Let’s bring happiness story for Yixing gege!😄 ENJOY!!

***

Yixing tahu, Tuhan pasti punya rencana bagus untuk hidupnya –namun ia tidak menyangka bahwa dirinya bisa kembali merasakan kebahagiaan seperti dulu.

Yixing akhirnya menikah.

Dengan wanita yang sama sekali tidak asing baginya. Mereka kenal cukup lama, namun Yixing tidak pernah menganggap kehadiran wanita itu lebih dari sekedar rekan kerja. Wanita itu tidak lain adalah sekertarisnya sendiri –Yun Meilan.

Berat bagi Yixing untuk menjalani hidup sendiri pasca kehilangan Lyn. Namun apapun yang terjadi, Yixing harus tetap meneruskan hidupnya, seperti kata Lyn. Dan dia melakukannya.

Minggu-minggu pertama memang terasa bagaikan mayat hidup. Yixing yang terbiasa setiap pagi mengirimkan pesan ucapan selamat pagi untul Lyn, kini mengganti kebiasaannya dengan melamun menatap layar ponselnya. Terkadang meneteskan air mata di pagi yang cerah, namun awan suram terasa menggantung di kepalanya.

Dia punya kehidupan yang mapan untuk lelaki seusianya. Dia adalah direktur salah satu perusahaan besar di Changsa. Kenyataan itu membuatnya mau tidak mau harus pergi ke kantor dan bertemu para karyawannya lagi.

Sir, rapat di mulai tiga puluh menit lagi.” Meilan besera buku catatannya menghampiri Yixing yang baru saja tiba. Yixing tampak lelah. Ada bayangan hitam di bawah matanya. Dan wanita itu cukup tahu bahwa Yixing masih dalam masa pemulihan akibat tragedi yang menimpanya.

“Aku akan masuk ke dalam ruangan lima belas menit lagi. Aku ke ruang kerjaku dulu.” Yixing meneruskan langkah ke ruang kerja yang dia maksud. Sebuah ruangan cukup luas dengan fasilitas lengkap –meja, lemari, pendingin ruangan, komputer, sofa besar dan masih banyak lagi. Ruang kerja itu bernuansa putih –yang memberikan sensasi rileks saat pria itu berada dalam kesibukannya bersama dokumen-dokumennnya.

Sir,” panggil Meilan.

Yixing berbalik –menemukan wanita itu tersenyum sembari menautkan jari-jari tangannya. Satu hal yang terasa asing bagi penglihatannya.

“Selamat pagi dan jangan lupa sarapan Anda.”

Yixing tidak pernah mendapat ucapan seperti itu sebelumnya. Meilan tidak pernah mengungkit perihal sarapan. Yixing sama sekali tidak mempermasalahkan hal ini. Namun saat Yixing masuk ke ruangan kerjanya dan menemukan segelas Americano hangat serta dua potong chocolate croissant, dia baru ingat bahwa dia telah melupakan sarapan paginya.

Meilan telah menyiapkan sarapan pagi untuknya secara diam-diam.

***

Jam menunjukkan pukul 4 sore ketika Yixing baru keluar dari ruang kerjanya. Waktu kerja telah berakhir, para karyawan mestinya bersiap-siap untuk pulang. Sedikit membingungkan karena ternyata mereka masih mengobrol di depan meja kerja masing-masing, namun tidak beserta berkas pekerjaan. Hanya mengobrol.

Beberapa yang melihat Yixing segera memberikan hormat singkat dengan membungkukkan badan sedikit dan senyum –Yixing enggan membalas. Bolehlah anggap Yixing atasan yang sombong kali ini. Dia masih dalam mode mati rasa untuk hatinya yang dulunya hangat.

Pria itu melangkah tegas. Bunyi jejak sepatunya beradu dengan lantai memenuhi koridor panjang yang sekarang tampak sepi. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Dia akan pulang ke apartment-nya, karena sepertinya dia tidak punya tujuan lain lagi yang akan dikunjungi. Yixing bertemu beberapa karyawan lagi sebelum dia masuk ke dalam lift seorang diri. Lalu menekan tombol yang ada disana. Pintupun tertutup.

Lift telah membawanya ke lantai dasar diiringi suara dentingan, kemudian lift itu terbuka. Dia disambut oleh deru tetesan air dari langit yang datang bersamaan.

Hujan.

Satu alasan yang bisa menjawab mengapa para karyawannya lebih memilih untuk mengobrol di atas daripada pulang dalam keadaan basah –kecuali beberapa yang membawa mobil pribadi.

Pria itu meneruskan langkahnya menuju pintu. Menangkap sosok seorang wanita yang dikenalnya, berdiri di depan perusahaan dengan tubuh menghadap ke arah jalan. Wanita itu –Meilan –menatap guyuran hujan yang nampaknya belum ada tanda-tanda akan berhenti.

Yixing berdeham tepat saat dia berada di samping wanita itu (tidak ada maksud lain selain menyapa). Meilan terkesiap, menolehkan kepalanya ke kanan, kemudian membungkuk singkat saat dia mengetahui siapa yang berdiri di sampingnya.

Mereka tidak mengobrol. Hanya berdiri bersisian. Canggung dan dingin. Meilan mulai berpikir untuk melarikan diri dari sana. Namun hujan masih bersikeras menahannya.

Mobil sport hitam berhenti di depan mereka berdua. Meilan berharap terlalu tinggi bahwa Yixing sedang menemaninya menunggu hujan teduh karena pada kenyataannya, pria itu menunggu mobilnya.

Yixing menuruni beberapa anak tangga sebelum mencapai pintu kemudi mobilnya. Dia membuka pintu itu kemudian melangkah masuk. Dia menyalakan mesin mobil, lalu menelengkan kepalanya ke kiri, di balik kaca jendela yang tertutup itu Yixing memperhatikan Meilan.

Pria itu mengurungkan niat untuk menginjak pedal gas. Dia menurunkan kaca mobilnya lantas memanggil Meilan dengan isyarat tangannya. Wanita itu memenuhi panggilan Yixing dengan setengah berlari.

“Ya, Sir?”

“Ingin pulang bersamaku?” tawar Yixing. Jauh di luar dugaan siapapun.

Meilan mengedarkan pandangannya ke sekitar. Merasa di perhatikan beberapa pasang mata dengan pandangan aneh. Dia tahu kalau dia adalah sekretaris Yixing namun dia dan pimpinannya itu tidak pernah terlibat obrolan panjang maupun berada dalam jarak dekat yang cukup lama.

“Maaf Direktur, tidak perlu.”

Sembari berpikir, Yixing memandang ke depan jalan. Dia meletakkan tangan kanannya di atas setir mobil.

“Bagaimana kalau kukatakan bahwa ini adalah sebuah ‘terimakasih’ atas sarapan yang kau siapkan tadi pagi?”

Meilan mengerjapkan matanya cepat sembari menggigit ringan bibirnya. Dia ketahuan, pikirnya. Berpikir untuk menolak, namun takut pria itu akan tersinggung. Hingga dia memutuskan untuk mengangguk, lalu masuk di sisi pintu mobil yang lain.

Mobil hitam milik Yixing melaju di tengah hujan, membelah jalanan Changsa yang cukup sepi. Tidak jauh dengan kesunyian yang melanda dalam mobil itu.

Meilan tahu kehidupan Yixing. Dia sering memperhatikan Direkturnya itu dari jauh. Memperhatikan bagaimana lelaki itu tersenyum, tertawa dan bicara. Dia begitu ramah pada semua orang –sampai ketika kekasihnya pergi untuk bertemu Tuhan, Yixing berubah dingin.

Dia juga tahu dengan Lyn. Seorang wanita cantik berambut sepunggung, memiliki senyuman manis dan hati yang baik. Wanita itu benar-benar serasi ketika disandingkan dengan Yixing. Mereka sempurna. Namun Tuhan berkehendak lain. Semuanya berubah.

Meilan memang lancang karena diam-diam memperhatikan Direkturnya itu. Semua itu dilakukannya bukan tanpa alasan. Meilan menaruh hati pada Yixing sejak awal mereka bertemu, meskipun akhirnya dia harus jatuh cinta dan patah hati bersamaan karena ternyata Yixing sudah punya kekasih.

Meilan tidak berhenti mencintai Yixing.

“Apa rumahmu masih jauh?” tanya Yixing.

“Tidak, Sir. Tinggal beberapa blok lagi saja. Kau bisa menurunkanku di depan Floral Shop di pertigaan jalan.”

Titik-titik hujan mulai berkurang, namun belum juga berhenti. Yixing menepikan mobilnya di depan toko bunga. Mesin mobil masih menyala. Meilan yang menyadari bahwa mereka sudah sampai, segera melepaskan sabuk pengamannya. Dia menatap ke arah langit. Tempat tinggalnya berada di belakang toko bunga, mungkin dia akan sedikit kebasahan. Tapi itu lebih baik daripada dia harus terjebak di tempat kerja sampai waktu yang tidak tentu.

“Terimakasih, Direktur Zhang.” Meilan baru akan melangkahkan kakinya keluar namun pergelangan tanganngannya dicekal Yixing. Jantungnya serasa berhenti beberapa detik. Tangan pria itu hangat dan lembut.

“Bawalah payung ini.” Yixing melepaskan pegangan tangannya, lalu mengambil payung yang berada di bangku belakang.

Meilan menyambut payung itu, lantas membukanya setelah dia keluar mobil. Pintu mobil ditutup. Meilan berdiri di tepi jalan sambil memegangi payung. Dia memberikan hormat singkat pada Yixing sebelum lelaki itu membawa mobilnya kembali ke jalan.

Cuaca di sekitar Meilan begitu dingin ditambah dengan hembusan angin yang membawa percikan hujan ke bajunya. Namun, dia merasa suhu tubuhnya menghangat, mengalir hingga ke wajah. Dia baru saja diantar pulang oleh Yixing, dan momen yang paling membuatnya ingin melompat adalah ketika Yixing memegang pergelangan tangannya.

Meilan merasa sedikit konyol. Dia seperti anak remaja yang baru saja jatuh cinta. Ugh, dia bisa gila.

 

Yixing melirik kaca spion mobilnya. Meilan masih berdiri di depan toko bunga. Dia masih bisa menangkap seulas senyuman di bibir wanita itu sebelum dia berbalik dan menyapa pemilik toko bunga dengan senyumnya yang ceria.

Tanpa sadar Yixing ikut tersenyum. Dia seperti baru saja menemukan serpihan hatinya yang retak. Pikirannya menggema, menyerukan nama wanita itu.

Yun Meilan…

***

Hari kembali berganti.

Jalanan masih sedikit lembab akibat hujan kemarin. Namun langit tampak cerah, dengan keangkuhan mentari menyilaukan. Yixing turun dari mobilnya, lalu memasuki gedung tempatnya bekerja.

Pria itu tampak lebih hidup. Dia memakai jas hitam senada dengan warna rambutnya. Wajahnya tampan dan tegas, namun dia akan begitu hangat ketka tersenyum. Pria itu seperti supermodel, membuat siapapun yang melewatkannya merasa rugi.

Dia menyapa beberapa karyawan yang dilewatinya. Termasuk Meilan. Wanita itu tidak bisa mengalihkan pandangannya sedikitpun. Harus ada seseorang yang menyadarkannya bahwa yang dia lihat adalah Zhang Yixing –direkturnya sendiri, bukan pangeran yang berasal dari Changsa.

Pintu ruangan Yixing tertutup bersamaan ketika pria itu sudah masuk ke dalam ruang kerjanya. Meilan akhirnya berkedip. Lantas kembali pada berkas-berkas kerjanya. Dia memperhatikan catatan jadwal Yixing. Kosong. Hari ini Yixing tidak ada rapat atau pertemuan apapun. Itu berarti Meilan tidak punya kesempatan untuk menemui lelaki itu. Dia tidak punya alasan.

Wanita itu menghela nafas. Mencoba memokuskan diri pada pekerjaannya.

“Kau tidak menyiapkan sarapan untukku?”

Meilan mendongak dengan mata yang sedikit melebar. Dia terkesiap karena suara Yixing. Sejak kapan lelaki itu berada di depan mejanya?

“Y-ya?”

Meilan meletakkan pulpennya di atas meja, lalu berdiri. Yixing tidak pernah minta disiapkan sarapan. Dia seperti baru saja disinggung atas perbuatan lancangnya kemarin. Kalau memang Yixing menginginkannya, Meilan tentu akan melakukannya.

“Maaf, Sir. Aku tidak tahu kalau kau ingin sarapan di kantor.”

“Kemarin kau pun tidak tahu, tapi kau menyiapkannya.”

“Maaf,” ucap Meilan dengan kepala yang menunduk. “Apakah Anda menginginkan Americano dan chocolate croissant lagi?”

“Tidak,” Yixing memberi jeda sesaat, “Aku ingin sarapan bersamamu.”

“Hah?”

“Ini perintah.”

 

Jadi, apakah Meilan memenuhi perintah Yixing yang agak konyol tentang menemaninya sarapan?

Jawabannya tentu saja, iya.

Disinilah mereka berdua. Duduk berhadapan di sebuah meja kecil kafe yang terletak tepat di samping gedung kerjanya. Suasana masih sepi, karena memang biasanya kafe itu akan ramai menjelang jam makan siang.

“Ingin pesan apa Tuan?” tanya seorang pelayan yang berperawakan cukup tinggi dengan bayangan hitam di bawah matanya.

“Dua pancake cokelat dan dua susu vanilla.”

Meilan hanya diam, memperhatikan Yixing bicara pada pelayan itu. Dia tidak protes tentang pesanan yang disebutkan Yixing karena memang pancake cokelat dan susu vanilla termasuk dalam daftar makanan favoritnya.

“Baik, akan kami siapkan.”

“Anda tidak memesan Americano?” tanya Meilan setelah pelayan itu pergi.

“Tidak bagus terus-terusan meminum kopi. Dan darimana kau tahu bahwa aku suka minum Americano?”

“Ah? I-itu….”

Yixing tertawa pelan, membuat Meilan merasa dunia di sekitarnya berubah menjadi Wonderland. Seakan berada di sebuah taman, ada bunga-bunga yang merekah, ada kupu-kupu indah dengan seribu warna. Lalu muncul pangeran berkuda putih dengan senyumnya yang menawan.

“Kau tidak perlu gugup seperti itu.” Suara Yixing kembali menarik Meilan pada dunia yang sebenarnya. “Aku baru ingat bahwa aku pernah memintamu sekali untuk membelikannya.”

“Ya, Sir. Setelah itu kupikir itu adalah minuman kesukaan Anda.”

“Tapi kau memang benar.” Yixing menatap mata Meilan. “Bisakah kau berenti bicara formal padaku? Kita berada di luar gedung kerja sekarang.”

“Tidak bisa, maafkan saya. Bagaimanapun Anda tetap atasan saya, dimanapun berada.”

“Kalau aku menjadikan ini adalah perintah, bagaimana?”

“Baiklah, Sir.

Pesanan merekapun datang. Mereka makan dengan tenang. Dentingan sendok beradu dengan piring. Meilan merasa tenggorokkannya kering. Beberapa kali dia mencoba bicara pada Yixing seolah Yixing adalah teman, merupakan hal yang sulit dilakukan karena dia tidak terbiasa akan hal itu.

Namun jauh dalam hatinya, Meilan merasa bahagia. Dia bisa melihat Yixing kembali tersenyum, kembali tertawa. Sedikit melupakan kenyataan bahwa Yixing pernah kehilangan kekasihnya dalam sebuah kecelakaan tragis.

Yixing menatap Meilan yang sibuk dengan pancake coklatnya. Wanita berwajah manis itu beserta senyumnya yang menawan mengingatkannya kembali pada sosok Lyn. Wanita itu seolah menghadirkan Lyn untuk kedua kalinya di dalam hidupnya.

Yixing tidak ingin membandingkan Lyn dan Meilan, namun, kalau boleh jujur dua wanita itu telah berhasil membuat Yixing merasakan bahagianya saat jatuh cinta.

Yixing jatuh cinta lagi.

***

Waktu terus melaju. Bulan-bulan berganti. Hubungan Meilan dan Yixing semakin dekat. Yixing pernah berkunjung ke tempat tinggal Meilan. Begitupun sebaliknya. Meskipun mereka belum resmi terikat sebagai pasangan kekasih, mereka sudah mengenali secara mendalam.

Terutama untuk Yixing, dia tahu seluk beluk keluarga Meilan, dia tahu makanan favorit, hal yang disukai dan dibenci wanita itu. Yixing mengenali Meilan secara detail.

Yixing tidak akan meminta Meilan menjadi kekasihnya, karena Yixing tidak membutuhkan seorang pacar. Dia menginginkan seseorang yang lebih dari itu, dia ingin Meilan menjadi pendamping hidupnya.

Jadi malam itu, di bawah sinar bulan saat Yixing membawa Meilan ke sebuah taman. Yixing melamarnya. Kilauan berlian terpancar dari dalam kotak beludru biru. Cahayanya berpendar terkena pantulan bulan.

Malam itu Yixing bagaikan sosok pangeran yang membawakan sejuta kebahagiaan untuk hidup Meilan.

“Maukah kau menikah denganku? Membangun kebahagiaan bersama, menciptakan keluarga kecil yang bahagia bersama-sama sampai wajah kita menua sampai waktu memisahkan kita?”

Meilan menganggukkan kepalanya, tanpa sadar air matanya mengalir. Yixing menggapai satu tangan Meilan kemudian menyematkan cincin berlian ke jari tangan wanita itu.

Setelahnya wanita itu menyelipkan kedua tangannya di pinggang Yixing, menyandarkan kepalanya di dada lelaki itu. Lalu Yixing membalas pelukannya.

Kalian tidak akan pernah menyangka bahwa kebahagiaan itu sesungguhnya berada di dekat kita tanpa kita menyadarinya.

***

Hari pernikahan tiba. Di musim panas yang cerah dan penuh bunga.

Di sebuah ruangan yang sudah disulap sedemikian rupa menjadi ruang pesta. Terang benderang karena puluhan pasang lampu dinyalakan. Hiasan dinding yang mewah menjadikan tempat itu seindah istana.

Yixing berdiri diujung altar, menunggu Meilan yang berjalan pelan dengan seorang pria pendamping –ayahnya.

Wanita itu tampak sangat cantik dengan balutan gaun putih sampai kaki. Rambutnya di gerai, sementara mahkota kecil terpasang di kepalanya, berkilauan indah, angkuh dan elegan.

Suasana mendadak senyap. Semua mata tertuju pada wanita bergaun putih dan pria yang ber-tuxedo putih pula. Meilan tersenyum saat dia sudah tiba di depan Yixing, dia menyambut uluran tangan pria itu lalu bersama-sama menghadap pastur.

Hari itu, mereka mengucap janji pernikahan. Riuh tepuk tangan para tamu undangan memenui ruangan itu, sampai akhirnya acara sakral itu ditutup dengan sebuah ciuman simbolis dari sepasang pengantin baru.

 

Acara berlanjut dengan sepasang pengantin yang berdiri di salah satu spot, menyambut ucapan selamat dari rekan, teman dan keluarga.

Aww Minri! kenapa kau mencubitku?”

“Kau menginjak gaunku, Baek. Ish! Menyebalkan. Kenapa aku harus berpakaian macam ini.” Minri mengangkat gaunnya cukup tinggi, dia menurunkan kembali gaunnya saat dia berada di depan Yixing.

Yixing mengenali gadis itu –namanya Minri. Dia adalah anak dari salah satu rekan kerja Yixing –keluarga Park. Mereka berasal dari Seoul. Yixing dan keluarga Park sudah cukup lama menjadi rekan kerja. Dan mereka cukup dekat untuk bisa disebut sebagai keluarga. Yixing bisa berbahasa Korea sedikit karena dulu Yixing pernah tinggal disana selama beberapa bulan.

Gadis itu bersama seorang lelaki yang tidak Yixing kenali. Mungkin kekasihnya? Entahlah.

“Hai Minri,” sapa Yixing.

“Yixing gege, selamat ya, semoga bahagia!” Minri membungkuk singkat pada Yixing dan Meilan. Dia tidak tahu harus bicara apa karena Minri sama sekali tidak pernah belajar bahasa mandarin.

“Halo, namaku Bou Xian.” Minri melongo saat Baekhyun –mungkin –menyapa dengan bahasa mandarin. “Minri adalah pacarku, senang berkenalan dengan kalian. Dan selamat atas pernikahan kalian!” Baekhyun membungkuk hormat pada Yixing dan Meilan.

“Wah, kau pasti sudah sangat dekat dengan keluarga Park, hingga mereka mengajakmu ke pernikahanku.” Yixing menepuk bahu Baekhyun.

“Ya, begitulah.” Baekhyun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Lantas tersenyum canggung.

“Apa yang kalian bicarakan?” Minri menatap Baekhyun dan Yixing secara bergantian. Sepanjang mereka bicara, tidak ada satu katapun yang bisa Minri mengerti.

“Tidak ada.” Baekhyun tertawa pelan.

“Kau tidak bilang bahwa kau bisa bahasa Mandarin, Baek.”

“Hanya sedikit, kok.”

“Harusnya tadi aku mengandalkanmu untuk mencari toilet karena sungguh tidak ada satupun warga China disini mengerti dengan apa yang aku katakan. Dan ini menyebalkan!”

Minri menjinjitkan kakinya agar mulutnya bisa mencapai telinga Baekhyun, dia berbisik pada lelaki itu.

“Minri bilang, Nona cantik sekali.” Baekhyun bicara menghadap Meilan setelah Minri selesai membisikkan satu kalimat di telinganya.

Meilan tersenyum, membuat matanya melengkung. “Xie Xie.”

“Kau hebat,” ucap Minri sembari menepuk lengan Baekhyun.

“Mungkin kau bisa belajar dengannya, Minri-ya.”

Baekhyun tersenyum menang. Berbanding terbalik dengan Minri yang sekarang membuang wajah dan mengerucutkan bibirnya kesal. Dia berpikir untuk mencubit Baekhyun setelah ini. Lelaki itu memamerkan keahliannya yang tidak Minri ketahui.

Yixing mendorong pelan tubuh Baekhyun, hingga lelaki itu dan Minri berdempetan. Lalu Yixing menyatukan kedua tangan mereka dalam satu genggaman.

“Begini lebih bagus,” Yixing berujar sembari tersenyum. “Kalian benar-benar serasi.”

Gege!” protes Minri –dengan wajah merona. “Ah, aku ingin makan cake coklelat.” Mengabaikan tautan tangannya, Minri membawa tubuhnya ke arah kiri. Namun Baekhyun tidak beranjak sedikitpun dari tempat berdirinya.

“Di sebelah sana cake stroberinya.” Baekhyun menarik lengan Minri ke arah yang berlawanan.

Mereka melemparkan tatapan tajam sesaat, sebelum Baekhyun tersenyum dengan senyuman kotaknya. “Baiklah, kita mengambil cake cokelat terlebih dahulu.” Lelaki itu mengalah untuknya? Manis sekali! Beralih kini Baekhyun yang menarik lengannya ke meja cake cokelat.

Yixing dan Meilan tertawa pelan. Kedua anak muda itu tampak lucu dan romantis dengan cara mereka sendiri.

Meilan melingkarkan lengannya di lengan Yixing sembari menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. Memperhatikan para tamu undangan yang berlalu lalang. Ini hari bahagia mereka berdua.

“Aku sayang padamu, Mei.” Yixing berujar dengan suara lirih, namun cukup membuat Meilan tersenyum lebih lebar karena dia mendengarnya.

***

Yixing akhirnya menikah.

Dengan wanita yang sama sekali tidak asing baginya. Mereka kenal cukup lama, namun Yixing tidak pernah menganggap kehadiran wanita itu lebih dari sekedar rekan kerja. Wanita itu tidak lain adalah sekertarisnya sendiri –Yun Meilan.

Matahari sudah bergulir ke bagian lain ketika Yixing dan Meilan tiba di rumah Yixing yang sekarang boleh disebut tempat tinggal mereka berdua.

Meilan belum melepaskan gaun pengantinnya. Dia berdiri di balkon kamar seraya memandangi langit yang bertabur bintang. Meilan menurunkan pandangannya, taman menghampar luas di bawah dengan pencahayaan yang minim berasal dari lampu di tiang pendek.

Dia menghirup udara malam. Tenang dan menyenangkan. Tiba-tiba sepasang lengan melngkar di pinggangnya, membuat wanita itu terkesiap dan merasa degupan jantungnya mulai bekerja cepat.

“Sedang apa Mei?” tanya Yixing bererta kecupan ringan di bahu wanita itu.

“Tidak ada.” Meilan mengusap lengan Yixing yang melingkar di pinggangnya. Kehangatan menjalar di tubuhnya saat Yixing semakin merapatkan pelukannya, membuat punggungnya menyentuh dada Yixing.

Detik-detik berlalu dalam keheningan. Yixing membalikkan badan Meilan hingga wanita itu menghadap tubuhnya. Mereka saling bertatapan, tidak lama setelah itu Yixing mendekatkan wajahnya, mengecup puncak kepala wanita itu.

“Aku sayang padamu, Mei.”

I Love you more, Sir.”

Yixing menjauhkan tubuh Meilan sedikit, lalu tertawa. “Sudah lama aku tidak mendengar panggilan itu darimu. Aku merindukan panggilan itu.”

“Ya, Sir. Direktur Zhang. My husband.”

“Ayo masuk.”

Tirai itupun tertutup –memberikan privasi pada pasangan pengantin baru. Yixing sudah memenuhi permintaan Lyn. Dia meneruskan hidupnya dan… dia bahagia.

Sekarang Yixing akan memulai kisah baru dimana ada dia, Meilan dan keluarga kecilnya. Lalu berharap kebahagiaan selalu menyertai mereka.

***END***

HOW? YIXING IN HAPPINESS RIGHT? (Oke, misi selesai. Hutang lunas! XD)

Setelah sebelumnya bikin bang Yixing tersiksa dan nangis, sekarang aku buat dia senyum dan ketawa. Yehet!

Dan welcome 2 alien yang akhirnya nyempil di ff orang lagi. WKAKAK.

(Do not call me ‘thor’! Call me kak, eonni, nuna, rima, karim [kak-rima]. I’m 93-line)

Sorry for typo.

Thanks for read. Waited for comments😉

Let’s meet me on twitter😄 @charismaagirl

Enjoy the bonus pict! bayangin itu gaun diinjek Baek-_-

 bbh-pmr party dress

©Charismagirl, 2014.

126 thoughts on “Keeping Love Again

  1. I may be a late reader but…uwaaaahhhh daebak kakaaa!!! Berasa baca novel romance beneran ㅠㅠ sequel dong kak ceritain keluarga kecilnyaaa!😂😂 reader bnyk mau msh senyum2 efek baca storynya

  2. Ahhhh gilagilagilaaaaaa!!! Aku dibikin gila sama ff author!! Sumpah ini keren banget sosweet banget sesuatu bangettttt!! Bikin aku senyum” ketawa” teriak” sendiri bacanyaaaaa >< ngebayangin yixing ge yg supadupa manly getoh omggggg ♡

    Ffnya over all bagus thor, romancenya terasa banget omg, dan disini aku bs ngerasain gmn bahagianya yixing ♡ ♡ intinya DAEBAK dehhh! Keep writing thor!

  3. wkkkakka betul betul betul…
    BaekRi couple ini emg slalu ngeksiss d ff org, mreka psangn yg manis dgn cra mreka yg sdkit konyol mngkin…😉

    whoa selamat ya Rima udh mnuhin jnji d ff sblumnnya,
    akhirnya Lay bsa idup bhgia,
    ff nya sweet, Lay nya so romance, akhirnya dy dpt pnggnti Lyn…

    btw Lyn n Mei itu wjh nya gmn ya, q g bsa ngbyngiiin…hehe
    oia, plyn d resto q ngbynginnya Tao lho, dr pnjlsn singktny…

    ok dc, mksh ff nya, mian q bca nya tlt bgt…
    tetep smangat ya Rima syg…🙂

    • baekri ngeksis kalo ga ada kerjaan/?

      makasi kak
      iya, cuma sekedar kronologi gmn yixing dpt kebahagiaan gitu deh

      gatau juga nih, aku ga nemu ulzzang chinese yg tepat buat mereka, maaf y kak.
      emang aku bikin itu zitao kok😀

      gapapa
      makasih uda baca~

  4. Eonni calon suami aku menikah sama perempuan lain😥 #nangisguling-guling patah hati tingkat kronis…okelah aku ravovo😥 asalkan Yippa bahagia❤

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s