Diposkan pada Fanfiction

Paradise [Chapter 1]

ffi

AUTHOR: avyhehe / @a_vy

LENGTH: Chaptered

GENRE: Romance, Friendship, School Life.

RATED: PG-12

CHARACTERs: EXO members, not yet revealed

Park Jung Chan (OC), Han Risung (OC)

Disclaimer: Me and those who inspired me

A/N: Mian, sebenernya ini udh di post di ffindo, dan krn emg ga boleh do-post, rencananya ff ini saya pindah kesini aja, soalnya blognya lebih spesifik ke exo.

Titipan dari temen, enjoy ^^

DON’T BE A SILENT READER!

.

Ini adalah kisah delapan hati.

Siapapun yang dipilihnya, kau tidak akan pernah tahu.

.

Matahari baru saja keluar dari bayang-bayang saat waktu tengah menunjukkan pukul 6 pagi. Sebuah pintu apartemen tiba-tiba terbuka lebar, dan sesosok gadis dengan tampang yang masih kucel berjalan keluar dari dalam. Ia berdiri di depan pintu apartemen, kemudian meneriakkan yel-yelnya setiap pagi.

“Pagi dunia!!!”

Lalu, dengan kondisi masih setengah mengantuk, gadis bernama Park Jung Chan itu mengulet sebentar sambil menguap lebar-lebar sepertikuda nil. Karena pandangannya masih kabur, ia pun mengucek kedua matanya dengan asal kemudian mengerjapkannya beberapa kali hingga penglihatannya berangsur-angsur jelas.

Seperti biasa, Jung Chan selalu mengamati keadaan sekitar apartemennya setiap pagi. Lalu tiba-tiba saja, saat ia menoleh ke arah kanan, ia mendapati tumpukan kardus yang berserakan di depan apartemen tetangganya, padahal kemarin malam kardus-kardus itu belum ada. Terlebih lagi, apartemen tetangganya itu sudah sebulan tidak berpenghuni karena pemilik yang sebelumnya pindah ke luar kota. Jadi milik siapakah kardus-kardus itu? pikir Jung Chan.

Akhirnya, Jung Chan menyimpulkan bahwa ada orang yang baru saja pindahan ke apartemen sebelah.

Ia lalu menggaruk kepalanya dengan bingung.“Hmmm… kira-kira siapa ya, yang baru saja pindahan?” gumamnya sambil terus memperhatikan tumpukan kardus itu. Ia terpaku di tempatnya selama beberapa saat, berharap pemiliknya akan muncul. Namun tetap saja tak ada seorang pun yang terlihat. Kardus-kardus itu seolah dibiarkan tergeletak begitu saja tanpa pemilik.

“Ah, sudahlah. Kenapa aku begitu peduli? Tidak seperti aku saja, Ck.” merasa bodoh karena mempermasalahkan hal yang tidak penting, Jung Chan mendengus dan mengibaskan tangannya, kemudian berbalik kembali menuju apartemennya. Namun belum sempat ia memasuki pintu, langkahnya terhenti saat matanya mendapati tumpukan kardus lain di sisi kiri apartemennya.

“Mwo??” Jung Chan memekik pelan, tidak habis pikir dengan tumpukan kardus yang menghiasi sisi kiri dan kanan apartemennya. “Apa-apaan ini?! Bagaimana mungkin ada dua orang yang pindahan pada hari yang sama? dan lagi, pindahnya persis di sebelah kiri dan kananku!” ujarnya sambil menggaruk-garuk kepalanya frustasi, hingga rambutnya mecuat kemana-mana.

Setelah itu, tanpa berpikir panjang Jung Chan segera berlari memasuki apartemennya sambil bergumam pelan.

“Sepertinya… tetangga kiri-kananku yang baru nanti adalah sekumpulan orang-orang freak…”

Matahari mulai bersinar cerah di ufuk timur, menandakan hari baru saja dimulai. Para pejalan kaki dari segala kalangan, baik siswa sekolah, bussinessman, karyawan, maupun pegawai negeri—mulaitumpah ruah mengisi jalanankota metropolitan ini.

Di dekat sebuah halte bus yang tidak terlalu ramai di sudut kota Seoul, terlihatlah seorang yeoja berambut acak-acakan tengah berlari mengejar sebuah bus kota yang baru beberapa saat lalu meninggalkan halte. Dengan napas terengah-engah, ia meneriaki bus yang terus saja melaju itu,dan terus berlari dengan kecepatan maksimal untuk mengejarnya.

“Yaaah!! berhenti kau, bus jahat!!!” teriaknya lantang-lantang tanpa memperdulikan pandangan orang-orang di sekitarnya. Tapi percuma, meskipun suara teriakannya sudah sekeras toa, bus kota berwarna merah marun itu terus saja melaju hingga menghilang di sudut jalan tanpa sedikitpun berniat menurunkan kecepatan.

Merasa tidak sanggup lagi berlari, akhirnya yeoja itu menyerah dan berhenti untuk mengatur napasnya yang terasa sangat berat.Ia terlihat sangat lelah, sekujur tubuhnya dibasahi oleh keringat padahal hari masih pagi dan lumayan dingin. Jantungnya juga mulai berdetak dengan tidak terkendali.

“Aigooooo… pagi-pagi aku sudah tertimpa musibah…” gerutunya sambil menghapus aliran keringat di dahinya. Setelah merasakan nafasnya mulai kembali normal, yeoja itu berjalan kembali menuju halte bus sambil bergumam kesal. Mau tidak mau, ia harus menunggu bus kloter berikutnya. Itu artinya, ia akan terlambat hadir sepuluh menit di sekolah.

Sambil mengelap peluh di pelipisnya yang seakan tidak berhenti mengalir, yeoja itu mendudukkan dirinya di atas bangku panjang halte. Matanya menatap jalanan di depannya yang dipenuhi pejalan kaki dan mobil-mobil yang berlalu-lalang, namun tidak satupun bus yang terlihat melintas di sana.

“Arghhh!” yeoja itu menjambaki rambutnya sendiri yang dibiarkan tergerai sampai ke punggung. “ini semua gara-gara ulah Junhong yang bodoh itu! Berani-beraninya dia menyembunyikan sepatuku di pot bunga, membuat waktuku yang berharga terbuang untuk mencarinya! Awas saja, pulang sekolah nanti dia tak akan kuberi makan!” ujar yeoja itu dengan mata berapi-api dan tangan kanan yang terkepal ke atas. Ternyata tingkahnya itu menarik perhatian seorang namja yang kebetulan duduk di sebelahnya, satu-satunya orang yang menunggu di halte itu selain dirinya. Namja itu menoleh dan mengernyitkan dahinya.

“Ternyata ada juga perempuan yang suka menggerutu sepertimu,” komentar namja itu sekilas, “aku tidak suka perempuan yang suka menggerutu.” ucapnya yang diikuti decakan pelan, kemudian memalingkan wajahnya kembali pada buku di tangannya yang sejak awal sudah dibacanya.

Yeoja itu terlihat kaget karena tiba-tiba dikomentari seenaknya. Bukan hanya kaget, tapi juga kesal dan marah karena yang mengomentarinya adalah orang asing, disaat yang tidak tepat pula.

“Yah! Kau pikir kau siapa, mengomentariku seenak jidatmu? Lagipula, siapa yang peduli kalau kau menyukai perempuan yang hobinya menggerutu atau tidak!” omelnya sambil menoleh ke arah namja di sebelahnya. “kau pasti orang yang sangat menyebalkan, ya kan? Mana mungkin ada orang yang—” yeoja itu menggantungkan kalimatnya tepat di saat matanya bertemu dengan namja itu. Ia membelalak lebar dan tampak kaget.

“Wae? Kenapa omelanmu tiba-tiba berhenti?” celetuk si namja sambil melirik yeoja itu dengan sudut matanya. Sedangkan yeoja itu masih melongo keheranan.

“T—Tunggu,” kata si yeoja dengan keadaan masih kaget, “apa kau satu sekolahan denganku?” tanyanya sambil memperhatikan seragam yang dikenakan namja itu, yaitu kemeja putih yang dibalut blazer berwarna abu-abu dengan dasi berwarna hitam yang tersemat di leher.

“Sepertinya aku juga tidak asing dengan mukamu,”lanjut yeoja itu lagi sambil menggaruk-garuk pelipisnya. “Siapa namamu?” tanyanya kemudian sambil menggeser duduknya mendekati si namja, dengan ekspresi rasa ingin tahu yang tinggi.

Merasa jaraknya dengan yeoja ‘aneh’ itu semakin dekat, si namja menggeser duduknya menjauh sambil memasang tampang risih. Namja itu lalu mengamati yeoja tersebut dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan sudut matanya, dan akhirnya membuat kesimpulan sendiri.

“Maaf, tapi aku tidak kenal dengan perempuan berantakan sepertimu.” kata-kata itulah yang terlontar darinya setelah mengamati yeoja di sebelahnya, kemudian tanpa rasa bersalah ia memalingkan pandangannya kembali pada buku di tangannya.

Mendengar ucapan yang lumayan kasar itu, si yeoja kontan saja melotot tidak percaya. “Cih! baru saja aku berniat untuk beramah-tamah, tapi responmu malah seperti itu! kau memang kurang ajar!” dengusnya sambil menyilangkan tangannya di depan dada dan membuang muka, benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan namja di sebelahnya yang berwajah lumayan imut tapi brengsek. Sebenarnya, ia sering melihat namja ini berkeliaran di sekitar kelasnya, tapi ia benar-benar lupa. Entah memang karena lupa—atau karena dia terlalu antipati dengan keadaan sekitarnya, ia benar-benar tidak tahu.

Tak selang beberapa saat, sebuah bus berwarna merah berhenti tepat di depan halte. Si yeoja buru-buru berdirikarena tidak ingin lama-lama duduk dengan orang yang menyebalkan. Ia laluberjalancepat ke pintu masuk bus yang baru saja terbuka secara otomatis.

Baru saja ia hendak menaiki tangga bus di hadapannya, tiba-tiba ada seseorang yang menyerobot di depannya.

“Orang ganteng duluan,” ucap si namja menyebalkan tadi dengan nada sombong, kemudian buru-buru masuk ke dalam bus.

“Aigoo!!” gerutu si yeoja sambil mendecak kesal dan mengentak-entakkan kakinya.Entah sarapan apa yang dimakannya pagi ini hingga ia bisa bertemu dengan namja yang kelakuannya kurang ajar, dan sangat sombong.

Jung Chan berlari terengah-engah menghampiri sekolahnya yang jaraknya hanya tinggal beberapa meter saja di depannya. Gerbang sekolah yang bisa terbuka selebar lima meter itu kini hanya terbuka satu meter saja, menandakan sebentar lagi bel masuk sekolah berbunyi, dan gerbang itu akan ditutup secara total. Dalam hati,Jung Chan bersyukur. Untung saja bus yang ditumpanginya tadi melaju dengan kecepatan yang lumayan karena supirnya kejar tayang ke halte berikutnya, sehingga ia sempat mengejar keterlambatannya.

“Aigooo… aku selamaaatt… aku selamaattt…” gumam Jung Chan penuh syukur setelah berhasil memasuki gerbang sekolah dengan aman dan tentram, meski sempat dipelototi oleh Rain songsaengnim, guru tatib yang kini sudah bertengger di pinggir gerbang. Tepat setelah Jung Chan berlari masuk ke dalam, Rain songsaengnim memerintahkan satpam sekolah untuk menutup gerbang sekolah rapat-rapat dan menggemboknya, tidak memberi ampun sedikitpun kepada anak-anak yang terlambat.

Seolah teringat sesuatu, Jung Chan langsung celingukankarena merasa ada sesuatu yang ganjil. “Hmm… bukannya tadi aku bersama namja brengsek itu, ya? Kemana dia? jangan-jangan dia tidak sempat masuk gerbang sekolah yang sudah digembok itu.” ujarnya bingung. Ia pun berjinjit sedikit untuk melihat keluar gerbang karena penasaran dengan nasib namja tadi, namun detik kemudian kegiatannya terpaksa berhenti karena Rain songsaengnim tiba-tiba meneriakinya dengan suara yang menakutkan.

“Apa yang kau lakukan?! Kau lihat apa?! cepat masuk ke kelasmu!” bentak Rain sambil menunjuk-nunjuk Jung Chan dengan telunjuknya. Bentakannya yang terdengar seperti suara halilintar di pagi hari itu mampu membuat Jung Chan melonjak kaget.

“Ara, ara… !” seru gadis itu sambil meniup poninya dengan sebal. Ia lalu membalikkan tubuhnya dengan cepat, lalu berjalan menuju kelasnya di lantai dua. “Haisshh… teriakan guru satu itu benar-benar daebak!” gerutunya sepanjang perjalanan melewati lorong-lorong kelas dua.

Setibanya di depan kelasnya, yakni kelas 2-B, Jung Chan meniup poninya dan menyiapkan mental untuk memasuki pintu kelas.

Baru dua langkah ia memasuki pintu, tiba-tiba saja terdengar teriakan sangat cempreng yang menyambutnya dari dalam.

“PARK JUNG CHAN!!!” teriak seorang yeoja yang duduk di pojokan kelas.

Bingo!gumam Jung Chan dalam hati, sambil memberi selamat kepada dirinya sendiri karena mendapatkan dua teriakan yang memekakkan telinga dalam satu pagi.

“Ssssshhh… teriakanmu itu bisa terdengar sampai ruang kepala sekolah…!” balas Jung Chan, ialantas berjalan cepat menghampiri oknum dengan teriakan cempreng tersebut—yangtak lain dan tak bukan adalah teman sebangkunya yang duduk di pojok belakang sendiri, Han Risung.

Setibanya di bangku paling belakang, Jung Chan melempar tasnya tepat di sebelah Risung. “Yah! berjanjilah untuk tidak berteriak seperti itu lagi, atau aku akan membekapmu dengan sapu tangan yang dicampur obat bius.” ujarnya mengingatkan. Risung meringis dan memajukan kursinya agar temannya itu bisa lewat.

“Hehehe… mian, aku hanya kaget saja.Kukira hari ini kau tidak masuk sekolah. Biasanya kau tidak pernah terlambat.”

“Sebenarnya bukan terlambat, tapi nyaris terlambat.” ujar Jung Chan sambil berjalan lewat belakang Risung dan menduduki kursinya yang beradapaling pojok, “dan aku terlambat gara-gara anak berandalan itu!”

“Anak berandalan? Maksudmu ‘Pelo’? hahaha…”

“Zelo.” ralat Jung Chan, seperti sudah memaklumi Risung yang sering salah-salah menyebutkan nama. Jung Chan memang memiliki adik sepupu laki-laki bernama Zelo yang tinggal bersama di apartemennya. Tentu saja, Zelo bukan nama yang sebenarnya. Nama lengkapnya adalah Choi Junhong.

“Ups, mian.Haha. Ya, Zelo, tentu saja. Memangnya dia berbuat ulah apalagi?” tanya Risung penasaran. “berarti hari ini kau tidak berangkat bersamanya?”

“Seperti aku sudah gila saja, mau berangkat bersamanya setelah mengerjaiku!” dengus Jung Chan, “tadi pagi dia menyembunyikan sepatuku di dalam pot, karena kemarin aku tidak membelikan ayam goreng titipannya.Kenapa dia selalu bertingkah seperti anak kecil?!”geramnya dengan mata berapi-api.

Risung menahan tawanya mendengar perkataan Jung Chan, “Bagaimanapun juga, ‘anak kecil’ itu lebih tinggi darimu!” ujarnya. Jung Chan menoleh ke arahnya dan memasang wajah cemberut, membuat Risung tidak tega dan ia pun menepuk-nepuk pundak Jung Chan untuk menghibur temannya itu.

“Hmmm… tapi sebenarnya wajah Zelo lumayan juga, kalau saja tingkahnya tidak memusingkan seperti itu.” komentar Risung asal, saat amarah Jung Chan mulai mereda.

“Nde, nde. Kalau saja tingkahnya itu tidak ‘memusingkan’.” gumam Jung Chan sambil mengusap-usap pelipisnya depresi sambil menyandarkan punggungnya di kursi. Tak selang beberapa saat, tiba-tiba saja ia terlonjak dari duduknya,kemudian mengguncang-guncang pundak Risung yang tengah asyik mencorat-coret notes di mejanya.

“Wae?” Risung mengernyit heran melihat tingkah teman sebangkunya yang mendadak heboh.

“Aku baru ingat, ada sesuatu yang ingin kuceritakan padamu!” ujar Jung Chan sambil menepuk dahinya.Ia tidak sengaja teringat pada insiden tadi pagi, dan ingin sekali bercerita kepada Risung. “Sebenarnya, hari ini ada kejadian aneh yang menimpaku.”

Risung menaikkan kedua alisnya penasaran. “Benarkah? Cepat ceritakan!” perintahnya agak memaksa.

Jung Chan berdehem untuk membersihkan tenggorokannya. “Jadi, hari ini aku punya tetangga baru…” ia memulai ceritanya.

“Tetangga baru? bagian mananya yang aneh?” potong Risung heran sambil melongo, membuat Jung Chan melotot ke arahnya.

“Aiiisshh… kebiasaan! aku kan belum selesai bicara!” omelnya.

“Hehehe… mian.” Risung terkekeh tidak enak, “oke, lanjutkan.”

“Begini, bagian anehnya itu… yang pindahan bukan hanya seorang, tapi dua orang. Ditambah lagi, mereka menempati apartemen persis di sebelah kiri dan kananku.”

“Mwooo?!” pekik Risung, kemudian ia menutup mulutnya dengan kedua tangan saking kagetnya. “Kau serius? itu mengerikan sekali!” ia mengguncang-guncang pundak Jung Chan.

“Ya, aku serius.Ini memang aneh, tapi kau tidak perlu berlebihan seperti itu! memangnya apa yang mengerikan?”

“Kau gila? tentu saja ini sangat mengerikan! bagaimana kalau tetangga barumu itu orang jahat? Atau yang lebih buruk lagi, bagaimana kalau mereka itu… stalker?” Risung mengecilkan volume suaranya saat menyebutkan kata ‘stalker’.

Jung Chan mengernyit heran dengan dugaan-dugaan Risung yang terlalu berlebihan itu. “Hah? kau masih waras, kan? memang apa untungnya men-stalking ku,‘toh aku bukan artis K-pop atau semacamnya.”

Risung terdiam sejenak dan terlihat mencerna perkataan Jung Chan. “Eum, dipikir-pikir iya juga sih,” ucapnya kemudian sambil mengangkat pundaknya, “atau mungkin saja… itu stalker-nya Zelo?”

“Haissh, untuk apa membuntuti anak labil itu?” Jung Chan langsung berjingkat mendengat dugaan temannya yang semakin lama semakin aneh itu, sementara Risung sendiri malah semakin bersemangat.

“Lalu? Apa kau punya penjelasan yang lebih logis?” timpal Risung kemudian dengan gaya seperti detektif.

Jung Chan memutar bola matanya, “Sudahlah! Masa bodoh. Kapan-kapan saja kuperiksa para tetangga baru itu, dan semoga saja mereka bukan manusia yang aneh.”

“Hahahaha… oke, oke,” Risung terkekeh, “ceritamu membuatku penasaran saja, kapan-kapan ajak aku main ke apartemenmu lagiyaaaa…!” pintanya sambil merengek, “lalu, kalau aku berkunjung ke sana, jangan biarkan Zelo keluar dari apartemen ya, supaya aku bisa puas melihatnya, hehehe…”

“Haiiish… permintaanmu banyak sekali! kau kira aku jin botol?” Jung Chan melotot mendengar perkataan Risung, “dan soal Zelo… aigoooo! kau ‘kan sudah pacaran dengan kakak kelas, masih saja menanya-nanyakan Zelo!” ujar Jung Chan sambil mendesah, tidak habis pikir dengan tingkah Risung yang seperti cabe-cabean.

Risung tersenyum penuh arti sambil mengedipkan sebelah matanya. “Yaah… tidak apa-apa, ‘kan hanya untuk cuci mata saja!” ujarnya enteng, membuat Jung Chan menghela nafasnya lagi. Dasar Choi Risung!

By the way, bagaimana kabar namjachingu-mu itu?” tanya Jung Chan kemudian, sedikit basa-basi.

“Ngg… aku sudah dua hari tidak melihat wajahnya, jadi sepertinya dia sedang sibuk dengan kegiatannya sendiri.” Jawab Risung seraya menggeser posisi duduknya. ”dia memang benar-benar daebak, aku saja tidak bisa membayangkan bagaimana caranya mengurusi OSIS, basket, dan band sekaligus.” ujarnya sambil menggeleng-geleng pelan, karena membayangkan kegiatan namjachingu-nya yang mungkin tingkat kepadatnya sudah menyamai artis hallyu.

“Dan tambahan; mengurusi fangirls-nya juga.” celetuk Jung Chan sambil berdecak kagum. “Dia memang benar-benar namja yang perfect.Tapi sayangnya… aku tidak tertarik.” katanya sambil berpura-pura mengibaskan rambutnya dengan gaya yang sombong.

“Jangan coba-coba!” ujar Risung dengan nada mengancam dan tangan yang terkepal. Jung Chan hanya menjulurkan lidahnya, dan hal itu membuat Risung tidak tahan untuk tidak memukulnya. Mereka berdua pun tertawa.

Malam semakin larut, jalanan mulai sepi, dan suara jangkrik mulai terdengar bersahut-sahutan. Park Jung Chan baru saja keluar dari restoran fast food tempatnya bekerja saat jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam.

Setelah berpamitan dengan manajer dan teman-teman kerjanya, dengan langkah gontai gadis itu menyusuri jalanan besar yang masih lumayan ramai untuk pulang menuju apartemennya. Setelah beberapa meter berjalan lurus, ia berbelok ke sebuah gang yang lebih kecil dan dikelilingi oleh rumah-rumah penduduk. Gadis itu terus berjalan, hingga jaraknya dengan apartemennya hanya tinggal beberapa blok lagi.

Beginilah rutinitas Jung Chan setiap hari senin hingga jumat, yaitu bekerja sambilan sepulang dari sekolah hingga larut malam. Ia melakukan kerja sambilan bukan karena kekurangan uang—hal itu tidak mungkin mengingat orang tuanya yang tinggal di luar kota selalu rutin mengiriminya uang bulanan. Alasan Jung Chan bekerja sambilan adalah karena dia adalah tipe orang yang senang menghasilkan uang sendiri, bahkan menganggapnya sebagai hobi. Karena kegiatannya yang lumayan padat itulah dia tidak terlalu peduli dengan hal-hal yang tidak penting di sekitarnya, seperti gosip terbaru di sekolah, namja-namja populer, atau murid-murid biang onar yang tidak kalah terkenalnya dengan namja-namja populer. Bahkan dia tidak pernah pusing-pusing memikirkan masalah asmara dan namja-namja di sekelilingnya—kecuali seorang namja bernama Zelo, tentu saja, karena dia tinggal bersama sepupunya yang biang onar itu.

Apartemennya sudah terlihat di depan mata, dan ia pun mempercepat langkahnya. Jung Chan baru saja teringat untuk memberi makan Zelo. Anak itu pasti sudah kelaparan, pikirnya. Seharian ini, Jung Chan memang tidak memasak apa-apa karena sebal dengan tingkah Zelo yang tadi pagi membuatnya nyaris terlambat ke sekolah. Tapi, Jung Chan merasa sedikit bersalah. Bagaimanapun juga Zelo tetaplah adik sepupunya dan sudah bersedia menemaninya tinggal di apartemen itu sehingga ia tidak perlu hidup sendirian.

Saat berjalan menuju apartemennya yang terletak di lantai dua, ia melewati pintu apartemen salah satu tetangga barunya. Matanya menangkap sebuah plat nama yang masih mengkilat, dan kelihatannya baru saja ditempel di pintu apartemen tersebut. Menuruti rasa penasarannya, Jung Chan berhenti untuk membaca nama yang tertera di permukaannya.

Ia mendapati tulisan besar berwarna hitam, dengan bunyi “PARK” yang menghiasi plat berwarna emas tersebut.

“Hah? ‘Park’?” Jung Chan melongo memandangi plat tersebut dengan penuh tanda tanya. “Park? Aigoooo… kenapa marganya sama dengan margaku? membuat ambigu saja!” komentar gadis itu sambil mendengus pelan. “Haisssh… pasti konyol sekali, melihat ada dua ‘Park’ yang tinggal bersebelahan.”

Krieeeetttt…

Saat matanya masih terpaku pada plakat nama itu, tiba-tiba saja pintu di hadapannya terbuka. Kontan saja Jung Chan melonjak kaget, dan ia nyaris saja terjungkal kalau saja orang yang tiba-tiba muncul dari balik pintu itu tidak langsung memegangi tubuhnya.

Dengan keadaan tubuh yang masih dipegangi oleh penolong asing itu, Jung Chan mengerjap-ngerjapkan matanya dengan shock, dan tiba-tiba saja matanya bertemu dengan mata orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah tetangga barunya, sekaligus orang yang mengagetkannya barusan. Jung Chan menatap orang itu dengan mata yang nyaris tidak berkedip.

Ternyata, tetangga barunya adalah seorang namja…

Bertubuh tinggi… kurus… berambut hitam… bermata lebar…

Jung Chan masih terus menatapnya, dan…

Namja itu membalas tatapannya sambil tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang rapi.

______________

To be Continued

______________

komen?

 

 

Iklan

Penulis:

Writer - Painter - Gamer - Reader

30 tanggapan untuk “Paradise [Chapter 1]

  1. lanjuuuuuuuuuut!!!!!
    Penasaran bangeeet thoooor 😀 lanjut doooooong
    semangat author, author avyhehe yang baik pasti bisa 😀

  2. kyaaa keliatannya itu yang di sebelah apartemennya jung chan park chanyeol dan byu baekhyun kan haha semoga aja bener tarus yang ketemu jing chan di halte bis itu baekhyun kan haha *sotoy* terus yang jadi namjachingunya temennya jung chan itu kriss, aaa molla penasaran bangeet thor sama lanjutan nya 🙂
    next nya ditinggu fighting

  3. Chanyeol? Jangan bilang peran utama cowok chanyeol? Gak ada yang lain thor? Yang sifat cool gt? Sehun kai contohnya?

  4. Itu psti Park Chan Yeol ya ???
    klo dbca dr deskrifsinya ch udh psti bgt itu PCY, aplgi senyum lebarnya… 😀
    klo namja yg d halte, q coba tebak ya… Baek ? Sehun ? Kai ? sprtinya u/ krteria namja dingin, cuex tp mnis bsa jd mreka…g tau jg ch, hnya mnebk… 🙂

    q suka crt nya, perlhn n mengalir, g bru2, feelnya dpt…
    oia, nmja d halte mngkinkh pnghuni bru aprtmen dsblah Jung chan slain PCY ?

    wah ada Zelo B.A.P jg nc…
    q tnggu next chapnya y thor…
    tetep smangat ok 😉

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s