Posted in Fanfiction, rinaizawa

Chapter 9 : My Smart Boy | Ending Story

my smart boy ending

Author

rinaizawa

Cast

Byun Baek Hyun & Lee Ye Bin

Length

Multichapter

AN

Hai^^ Do you still remember this fanfic?

Preview chapter 8 :

“Ah. Kau payah.” Ye Bin mengejek kesal.

“Arra arra. Aku akan mencobanya. Kali ini aku akan berhasil.” Baek Hyun tak terima jika ia diremehkan. ia mengambil panah lagi. Ini sudah ketiga kalinya dan pria itu yakin kali ini akan berhasil. Dan benar saja, Baek Hyun berhasil menancapkan panah tersebut.

“Yeah!!”

“Wah chukkae. Kau berhasil. Ini hadiahnya.” Ahjussi itu memberika boneka panda yang di inginkan Ye Bin.

“Gomawo ahjussi.”

Setelah mengucapkan terima kasih, Baek Hyun dan Ye Bin pamit. Kini mereka menuju ke sebuah kedai es krim dan memesan dengan dua rasa yang berbeda. Baek Hyun memesan rasa stroberi dan Ye Bin memesan rasa blue mint. Awalnya mereka sempat bertengkar kecil untuk menentukan rasa. Ye Bin ingin Baek Hyun mencoba rasa Blue mint sedangkan Baek Hyun sebaliknya. Agar masalah ini tidak menjadi sebuah masalah yang besar, akhirnya mereka memutuskan untuk memesan sesuai selera masing – masing.

“Kau senang?”

##

 

Last Chapter

##

“Kau senang?” Baek Hyun tiba – tiba berbicara. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang setelah menghabiskan waktu bermain di Lotte world.

“Aku senang. Bagaimana denganmu?” Ye Bin bertanya balik.

“Aku sangat senang. Ini pengganti kencan kita yang gagal dulu.” Ujar Baek Hyun seraya fokus pada arah depan.

Mereka terdiam. Keduanya saling fokus pada pikiran masing – masing. Baek Hyun tidak tidak tahu harus membicarakan apa begitupun Ye Bin. Mereka merasa sedikit canggung. Padahal sebelumnya mereka tak pernah seperti ini. Apa karena kejadian waktu itu? Entahlah. Ye Bin tidak tahu. Kini mereka sudah tiba dirumah Ye Bin. Masih senja. Untung matahari belum sepenuhnya tenggelam dan membiarkan bulan muncul dilangit hitam.

“Terima kasih untuk hari ini.”

“Terima kasih kembali untukmu. Sampai jumpa.”

Baek Hyun melambaikan tangannya saat Ye Bin sudah memasuki rumah. Dan Ye Bin pun begitu.

“Pulanglah. Ini sudah hampir malam.”

Baek Hyun mengangguk. Ia pun melanjutkan perjalanannya lagi menuju halte bis. Sengaja ia tidak membawa mobilnya hari ini. Sesekali ia ingin menghabiskan waktunya berjalan kaki bersama Ye Bin.

Ia merasa sangat sangat senang hari ini. Senyum terus saja mengembang di wajahnya. Dan hatinya masih saja berdegup kencang meski Ye Bin tidak ada lagi didekatnya.

“Yeah!”

Dan ia tidak sadar kalau saat ini ia berada di tempat umum. Beberapa orang menatapnya aneh. Mungkin mereka berpikir : ‘Kasihan sekali haksaeng ini. Pasti begitu banyak tugas yang menumpuk.’ Namun kenyataannya lain. Baek Hyun menyengir sembari meminta maaf telah membuat keributan kecil.

 

##

Seperti biasa, Ye Bin kembali menjadi guru privat Kai. Sejak Ye Bin menjelaskan materi, Kai tidak bisa fokus. Ada sesuatu yang mengganjal di benaknya dan ingin sekali ia ungkapkan.

Kai masih saja bergelut dengan pikirannya ketika Ye Bin memberikannya sebuah soal. Jujur saja, ia masih tidak mengerti dengan yang di ajarkan. Ia berpikir lebih baik mengungkapnya dari pada harus ia pendam.

“Sunbaenim.” Panggil Kai pelan.

“Ye?’

“Maaf jika aku terlalu lancang.”

“Maksudmu?” Ye Bin tidak mengerti dengan Kai yang tiba – tiba berbicara seperti ini. Ia masih fokus pada bukunya.

Sejenak Kai diam. Berusaha menyiapkan keberanian untuk mengatakannya pada gadis dihadapannya ini. Jujur, ia kesulitan untuk menyampaikannya. Ia menghirup nafas dalam.

“Saranghae.”

Ye Bin sontak menoleh ke arah pria itu. Ia menatap Kai tak percaya. Barusan pria di hadapannya menyatakan cinta? Apakah ini benar Kai menyukainya? Tiba – tiba Ye Bin teringat akan tebakkan Baek Hyun sebelumnya. Ia tidak menyangka akan begini jadinya.

“Aku tahu kau kekasih Baek Hyun sunbae. Hanya saja aku ingin mengungkapkan perasaanku yang tertunda.” Kai mengenggam erat tangan Ye Bin. “Aku tidak berharap kau membalas perasaanku. Yang penting kau sudah tahu semuanya. Itu membuatku senang.”

Hening. Tidak ada yang berbicara di antara mereka. Ye Bin membalas genggaman tangan Kai membuat pria itu sedikit terkejut. Ia tersenyum.

“Tidak masalah. Aku juga menyayangi mu…” Ye Bin sengaja menggantungkan kalimatnya. “Sebagai adikku.”

Tanpa mereka sadari, seseorang menatap mereka berdua di balik pintu. Ia tampak menahan emosi sebelumnya. Namun setelah mendengar penuturan terakhir dari sang gadis, ia tersenyum.

Kai melepaskan tangannya lalu menunduk. Enggan menatap Ye Bin. Sedikit sakit ketika mengetahui Ye Bin hanya menganggapnya sebagai adik. Namun ia bisa apa. Tidak mungkin ia memaksa Ye Bin untuk menyukainya. Mustahil.

“Masih ada yang lebih baik dari ku Kai.” Ye Bin masih saja bersikap santai, seolah tidak ada masalah sedikitpun. Sosoknya seperti angelic mampu menenangkan semua orang.

“Aku tahu itu.”

“Bagus. Kalau begitu aku pamit. Jadikan saja ini sebagai pr.”

Baru saja ia ingin keluar dari kelas, seseorang tiba – tiba masuk ke dalam dan menghampirinya yang tengah berhadapan dengan Kai. Pria itu langsung menarik pergelangan tangannya membuat Ye Bin terkejut.

“Kau ..” Ye Bin tak bisa berkata apa – apa dengan pria di hadapannya. Sedangkan Kai menatap keduanya cemas. Ia takut terjadi kembali kesalahpahaman antara keduanya.

“A – Aku ..”

“Ikut aku.”

##

Pikiran Ye Bin berkecamuk sekarang. Berbagai macam pertanyaan muncul di otaknya. Bagaimana Baek Hyun bisa berada disana? Apa Baek Hyun mendengar semua yang ia bicarakan dengan Kai? Mungkinkah Baek Hyun akan bertengkar lagi dengannya?

Oh jangan lagi. Mereka baru saja berbaikkan kemarin. Ia benar – benar tidak sanggup bertengkar lagi dengan pria itu.

Begitu mereka tiba di taman sekolah, Ye Bin berbicara terlebih dulu sebelum pria dihadapannya berbicara.

“Ini tidak seperti yang kau bayangkan.”

“Aku tahu.”

Ye Bin menatap Baek Hyun tak percaya. Apa pria di hadapannya ini tidak marah sedikit pun?

“Baek Hyun. “ Hanya itu yang bisa di ucapkan Ye Bin.

“Kau mengira aku marah?”

“Eoh?”

Baek Hyun meraih kedua tangan Ye Bin seperti yang dilakukan Kai sebelumnya. Lalu menatap gadis di hadapannya dengan tersenyum.

“Aku tidak marah baby.”

“Lalu?”

“Awalnya aku memang ingin marah. Tapi ketika aku mendengar kau menyayanginya sebagai adikmu, aku rasa tidak masalah.” Ujar Baek Hyun bijak. “Lagi pula aku yakin kau takkan bisa berpaling dariku.” Baek Hyun berkata dengan percaya diri membuat Ye Bin memandangnya remeh.

“Kau terlalu percaya diri.” Cibir gadis itu.

“Bukan begitu kenyataannya.” Baek Hyun tertawa jahil.

“Terserah kau saja.” Ye Bin cuek. Ia hendak melepaskan genggaman tangannya. Namun Baek Hyun menahannya. Dengan cepat, ia mengecup singkat bibir Ye Bin membuat gadis itu kaget bukan main. Baek Hyun tertawa keras.

“Ya!” Ye Bin menatapnya kesal.

“Sudah ku katakan kau cantik seperti itu.” Baek Hyun menjauh sedikit dari Ye Bin.

“Ngomong – ngomong kau makan permen apa? Bibirmu manis hari ini.” Baek Hyun mengatakannya dengan polos.

“Byun Baek Hyun!”

##

Tidak biasanya hari ini Ye Bin datang terlambat. Ia terlambat bangun padahal semalam ia tidur dengan cepat. Terpaksa Ye Bin bergegas cepat – cepat tanpa sarapan. Hampir lima menit lagi bel berbunyi ia baru tiba di sekolah. Beruntung jam pertama tidak ada guru, sehingga ia bisa sarapan.

Namun ada yang aneh hari ini. Sejak tadi pagi, Ye Bin tidak melihat Baek Hyun berkeliaran di sekolahnya. Biasanya jika gadis itu sudah duduk di kantin pasti Baek Hyun akan datang menghampirinya. Kemana pria berwajah imut itu hari ini, pikir Ye Bin.

“Ye Bin – a!” Pikiran Ye Bin mendadak buyar ketika Se Hun mengejutkannya dari belakang. Se Hun mengambil posisi tepat di depan Ye Bin yang tadi sedang termenung. Pria itu merasa ada yang aneh dengan Ye Bin. Seperti ada pikiran misalnya.

“Ya! Kau kenapa, eo?”

Se Hun melambaikan tangannya di depan Ye Bin. Gadis membuang pandangannya sembarang. Lalu kembali mengunyah roti coklat yang ia makan sejak tadi.

“Ya Lee Ye Bin !”

Ye Bin menatap sekilas. Tampaknya Se Hun agak jengkel dengan sikap sahabatnya. Bisa di lihat kedua tangannya menggeram kesal. Andai saja Ye Bin itu seorang pria, mungkin Se Hun sudah menghajarnya.

“Apa?”

“Kau kenapa? Apa karena Baek Hyun tidak hadir?” tanya Se Hun kesal. Se Hun memang tidak melihat Baek Hyun seharian ini. Menurutnya, bisa jadi Ye Bin bersikap aneh seperti ini karena kekasihnya yang memiliki wajah imut itu tidak hadir.

“Apa?! Baek Hyun tidak hadir?!” kali ini Ye Bin memfokuskan pandangannya pada Se Hun.

Pria itu mengangguk polos. “Pagi ini aku tidak melihatnya.”

“Memangnya dia kemana?”

“Kenapa kau tidak menanyakannya pada Chanyeol?”

Ye Bin membenarkan ucapan Se Hun. Mungkin saja Chanyeol mengetahui alasan mengapa Baek Hyun tidak hadir disekolah. Yang jelas, Ye Bin sedikit khawatir jika terjadi sesuatu pada pria itu. Baru saja mereka berbaikan kemarin, mengapa hari ini Baek Hyun tidak bersekolah?

Gadis itu bangkit dari duduknya meninggalkan Se Hun begitu saja. Beberapa kali Se Hun memanggilnya, ia menghiraukannya. Tujuannya sekarang adalah ke kelas Chanyeol dan menanyakan apa yang terjadi dengan Baek Hyun.

Tak butuh waktu lama, ia sampai di tempat tujuan. Dengan langkah pasti ia membuka pintu kelas Chanyeol yang juga merupakan kelas Baek Hyun. Namun ada sedikit pemandangan aneh – mungkin – bagi Ye Bin. Ia mendapati Chanyeol yang sedang bersandaran dengan Minji dan begitu sebaliknya. Mereka saling membelakangi satu sama lain dan tertawa dengan sendirinya. Ye Bin menggeleng kepala melihat tingkah aneh teman Baek Hyun itu. Lantas ia menghampiri Chanyeol yang sepertinya tak menyadar kehadiran Ye Bin.

“Maaf aku menganggu sejenak.”

Sontak Chanyeol dan Minji menoleh dengan serentak. Chanyeol bersikap santai seolah tidak terjadi apa – apa. Namun berbeda dengan gadis disebelahnya yang terlihat salah tingkah. Minji tersenyum kikuk. Ye Bin tidak terlalu memperdulikannya karena ia hanya ingin bertanya satu hal kepada Chanyeol.

“Oh hai Lee Ye Bin.” Chanyeol menyapa riang.

“Mana Baek Hyun?” Ye Bin tidak ingin basa – basi lagi.

“Baek Hyun? Ia tidak hadir hari ini.”

“Mengapa?”

“Entahlah. Mungkin sakit?”

“Apa?!”

 

##

Setelah mendengar kabar dari Chanyeol kalau ternyata Baek Hyun sakit, Ye Bin memutuskan untuk ke rumah Baek Hyun sepulang sekolah. Ia semakin khawatir jika pria itu sakit parah –bahkan ia belum melihatnya –

Tangan Ye Bin tergerak mengetuk pelan pintun rumah Baek Hyun. Tak butuh waktu lama, pintu di buka oleh seseorang yang tidak asing lagi bagi Ye Bin. Gadis itu menatap tak percaya. Sedangkan yang membuka pintu menatap Ye Bin bingung.

“Kau –“ Ye Bin sedikit tertahan dalam menyampaikan maksudnya.

“Mengapa kau disini?” tanya orang tersebut yang tak lain adalah Baek Hyun. Aneh saja bagi Baek Hyun mendapati Ye Bin yang tiba – tiba ada di rumahnya. Sebab gadis itu tak pernah berkunjung sebelumnya.

Ye Bin menaruh telapak tangannya di kening Baek Hyun membuat pria itu semakin bingung. Sebenarnya apa yang terjadi pada gadisnya ini.

“Hei.”

“Chanyeol mengatakan kalau kau sakit.”

Baek Hyun menghela nafas. Ia sudah tahu apa yang terjadi. Lantas ia melepaskan tangan Ye Bin dari keningnya. Lalu mengenggam erat tangannya. Sementara Ye Bin menatap Baek Hyun seolah menunggu jawaban yang pasti darinya.

“Kau di bohongi olehnya.”

Mata Ye Bin membulat mendengar jawaban Baek Hyun. Jadi pria ini tidak sakit? Berarti Park Chanyeol sudah membohonginya tadi. Benar – benar gila. Awas saja kau Park Chanyeol, Ye Bin menggerutu dalam hati.

Kemudian ia berpikir lagi.

“Lalu kalau kau tidak sakit mengapa kau tidak ke sekolah?”

Tatapan Ye Bin penuh dengan selidik. Seperti seorang polisi menyelidik buronan yang merampok uang 10 Miliyar Won di bank. Ini membuat Baek Hyun kikuk dan sedikit gugup. Padahal ia bukan buronan Korea Selatan. Hanya saja tatapan Ye Bin membuatnya seperti ini.

Baek Hyun mengusap tengkuknya yang terasa dingin. Matanya melirik kesana kemari menghindari dari tatapan Ye Bin. Ia memejamkan matanya sesaat. Ketika ia membuka matanya, wajah Ye Bin sudah mendekat ke arahnya. Hampir saja Baek Hyun berteriak namun gadis itu memicingkan matanya.

“Wae?”

Sepertinya jika Baek Hyun mengulurkan waktu ini akan menjadi masalah.

“Baiklah – baiklah.” Baek Hyun berbicara akhirnya. “Aku hanya – terlambat – bangun.”

“Ya!”

Hei alasan konyol macam apa ini, pikir Ye Bin. Ia tak menyangka Baek Hyun akan seperti ini. Hanya terlambat bangun menjadi alasannya tidak masuk sekolah? Yang benar saja. Seingatnya – Ye Bin – dirinya sendiri pernah terlambat bangun. Ia tetap saja bersekolah meskipun pada akhirnya ia harus menetap di perpustakaan untuk membersihkan ruangan tersebut.

“Aku ngantuk sekali tadi. Lagi pula kepala ku sedikit sakit.” Baek Hyun kembali beralasan. Namun alasan keduanya itu sedikit meragukan bagi Ye Bin.

“Alasanmu banyak sekali.”

Ye Bin benar- benar kesal dengan sikap Baek Hyun. Ia memilih untuk pulang saja. Percuma mendatangi orang yang pura – pura sakit. Saat ia berbalik membelakangi Baek Hyun, dengan cepat pria itu mencegah dan menahan lengannya. Hal ini tidak membuat Ye Bin berbalik dan masih saja membelakangi Baek Hyun.

“Ya kau mau kemana?”

“Pulang. Untuk apa aku disini?”

Baek Hyun tersenyum. Tiba – tiba terlintas ide aneh dalam pikirannya. Sesuatu yang ia nantikan untuk melakukannya bersama kekasihnya ini. Ye Bin menoleh. Melihat Baek Hyun yang menatapnya tersenyum membuat ia sedikit takut. Ia berpikir otak Baek Hyun sedang tidak berfungsi.

“K-Kau – kenapa?”

“Bagaimana kalau kita nonton?”

“Eh?”

“Kau ingin menonton apa?”

##

Dan disinilah mereka berakhir.

Di kamar Baek Hyun yang terdapat televisi beserta perangkat dvd lainnya. Dengan suasana yang sedikit mendung. Mereka menonton film Barbie. Oh yang benar saja mereka menonton film itu. Terlebih lagi Baek Hyun. Lihat saja. Sejak film itu diputar pandangannya terus saja ke arah Ye Bin. Sementara Ye Bin begitu menikmati film tersebut.

Walaupun Baek Hyun tidak menyukai film yang ‘sangat’ berbau perempuan itu, tetapi melihat Ye Bin menonton dengan sangat bahagia sudah membuatnya bahagia juga. Ye Bin terlihat seperti anak – anak memang, namun Baek Hyun menyukainya. Ia menyukai semua yang ada pada diri gadisnya. Entah itu sifat anak – anak, sikapnya yang acuh, atau sifat cengengnya. Karena bagi Baek Hyun itu adalah sesuatu yang menarik yang ada pada Lee Ye Bin.

“Menarik bukan?”

Baek Hyun tersenyum. Tangannya mengelus kepala Ye Bin lembut. “Sangat menarik.” Ya, yang menarik dimaksud Baek Hyun adalah Ye Bin bukan film yang mereka nonton.

“Aaa ~ Mereka sangat romantis.”

Ucapan Ye Bin membuat Baek Hyun menoleh ke layar tv. Disana ia melihat Barbie dan pasangannya sedang berdansa. Romantis memang. Baek Hyun mengakui itu. Ia kembali menatap Ye Bin.

“Kau …”

Gadis itu melihat ke arah Baek Hyun. Dan jarak mereka sangatlah dekat. Keduanya bisa merasakan nafas satu sama lain. Jantung Ye Bin berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia tak menyangka jika keduanya sejak tadi berada dalam jarak yang dekat. Berbeda dengan Baek Hyun ia tersenyum. Dan Ye Bin berani mengakui bahwa itu adalah senyum termanis dari seorang Byun Baek Hyun. Ia benar – benar tampan!

“Kau mau kita romantis seperti mereka?”

Berdansa seperti barbie? Yang benar saja.

“Tidak.”

Ye Bin berbohong. Mana mungkin ia mengatakan jika ia memang menginginkannya. Baek Hyun mendekatkan wajahnya tepat menyentuh hidung gadis itu. Sementara Ye Bin hanya bisa diam membeku di tempat. Sekujur tubuhnya begitu dingin. Terlebih lagi ketika pria itu mencium ujung bibir tipis Ye Bin.

“Aku mencintaimu, more than anything.” Ujar Baek Hyun sebelum mencium bibir gadis itu.

Me too.”

-END-

 

— Plus Story —

 

3 years later …

 

Waktu menunjukkan pukul istirahat bagi mahasiswa di Seoul National University. Semua mahasiswa yang berada di ruangan kelas berbondong – bondong keluar karena merasa suntuk dan bosan. Namun tidak untuk pria berkacamata itu. Berbeda dari mahasiswa lainnya yang banyak memutuskan untuk ke kantin, ia memilih untuk tetap berada di dalam ruangan. Membaca buku – buku yang ia pinjam dari perpustakaan tadi pagi. Suasana kelas terasa sangat sepi. Inilah yang ia butuhkan untuk konsentrasi membacanya. Dari pada harus ke kantin dengan suasana yang begitu ramai, konsentrasi nya bisa terganggu. Namun, ia melupakan sesuatu hari ini.

Ketenangan itu hanya berlangsung beberapa menit. Disaat ia fokus dengan membacanya, beberapa mahasiswi dari jurusan yang sama namun berbeda tingkatan – ia tingkat III – mendatangi ruangannya. Sudah biasa hal ini terjadi. Pria ini terkenal pintar di jurusannya. Tak jarang mereka menghampirinya untuk bertanya masalah materi yang sukar di mengerti.

“Sunbaenim.”

“Oppa.”

“Sunbaenim.”

Begitulah panggilan mereka untuknya. Sebenarnya ia sendiri tidak menyukai suasana seperti ini. Ia mencoba tersenyum meskipun perasaannya sedikit risih. Bagaimana tidak, semua yang mengerumuni saat ini adalah para gadis – gadis.

“Oppa, bisakah kau mengajariku materi ini? Aku susah sekali memahaminya.”

“Chakkaman. Sunbaenim, apa kau tahu bagaimana cara mengerjakannya? Aku benar – benar bingung mengerjakannya.”

“Sunbaenim lihat punya ku.”

“Tunggu punyaku dulu.”

Mahasiswi – mahasiwi itu terus saja menyerbunya dengan berbagai macam pertanyaanyan yang mmbuatnya semakin pusing. Bukan karena soal yang begitu payah, tetapi suara – suara mereka yang begitu ribut. Berkali – kali ia mencoba menenangkannya. Namun gadis – gadis itu tidak memperdulikannya, terlebih lagi ia sendiri menghadapi mereka.

“BYUN BAEK HYUN!!”

Suasana mendadak hening. Seorang gadis dengan rambut melewati bahunya berdiri di depan pintu dengan tatapan sengit. Gadis – gadis yang tadinya mengerubuni Baek Hyun mendadak menjauh. Kesempatan ini digunakan Baek Hyun untuk menghirup udara segar. Maklum, ia hampir saja kehabisan oksigen jika gadis didepan pintu itu tidak berteriak.

“Ah eonnie itu lagi.” Begitulah keluhan yang terdengar dari mahasiswi itu.

“Kau –“ kata – kata gadis itu sedikit tertahan. Ia benar – benar kesal melihat Baek Hyun tadi. Sebenarnya ia ingin meluapkan emosinya, namun ini tidaklah sesuai keadaan. Baek Hyun sepertinya mengerti. Lantas ia bangkit dari duduknya.

“Bagaimana jika pertanyaan kalian kirimkan saja ke email – ku? Aku akan membalasnya nanti.” Baek Hyun mengeluarkan selembar memo dan menuliskan emailnya. “Aku harus segera pergi.” Ia masih sempat menebarkan senyum manisnya.

“Oppa apa kami boleh menghubungimu?”

“Sunbaenim jangan lupa pertanyaanku nanti.

Baek Hyun tidak menghiraukan lagi gadis – gadis itu. Ia menghampiri gadis yang menunggunya di pintu dan menariknya dari ruangan. Sementara sang gadis dengan terpaksa mengikuti ajakan Baek Hyun. Namun rasa kesalnya masih tak kunjung reda.

##

Ye Bin menghempas tangan Baek Hyun yang sedari tadi mengenggam tangannya. Bukannya marah Baek Hyun malah tertawa. Tertawa melihat sikap Ye Bin yang mungkin bisa dikatakan cemburu. Ye Bin membelakangi Baek Hyun. Sedikit pun tak bergeming ketika Baek Hyun mengajaknya duduk.

“Ye Bin – a.”

Berkali – kali Baek Hyun memanggilnya gadis itu tidak menoleh. Namun ini tidak seperti biasanya. Ye Bin tidak pernah secemburu ini sebelumnya. Apakah ada kesalahan lain yang ia lakukan? Misalnya …

Astaga!

Baek Hyun melupakan sesuatu. Buru – buru ia mengambil ponsel di sakunya. Tangannya menyentuh kotak pesan masuk. Disana masih ada isi percakapannya dengan Ye Bin semalam.

 

Ye Bin Lee

Eoh? Kau tidak lupakan hari apa besok?

 

Baek Hyun

Tentu saja tidak. Besok, saat istirahat aku akan menemuimu di taman belakang kampus. Tunggu aku disana.

 

Ye Bin Lee

Arra. Aku akan menunggumu.

 

Beranikah ia memberi alasan? Ia melirik arloji hitamnya. Sudah terlambat lebih dari setengah jam. Wajar saja jika Ye Bin kesal dengannya. Apalagi tadi gadis itu yang menjemputnya di ruangan. Baek Hyun merutuk kesal. Ia yang mengajak gadis itu. Mengapa ia bisa melupakan hari penting ini? Hari dimana hubunganya dengan Ye Bin dimulai. Baek Hyun sangat mengingat itu.

Hari ini hari jadi mereka yang ke empat. Baek Hyun berniat memberi suprise dengan mengajak gadis itu berjalan – jalan. Tetapi semua itu batal karena pria itu terlalu ‘semangat’ dalam membaca. Akibatnya ia mengabaikan satu hal yang ia rencanakan. Ini semua tidak sesuai dengan targetnya. Salahkan saja dosen Hyun yang memberinya sebuah buku baru. Andai saja wanita itu tidak memberinya buku, mungkin Baek Hyun akan langsung menemui Ye Bin dan tidak terjebak dengan gadis – gadis tadi.

“Itu – sebenarnya …”

“Ya. Tak perlu menjelaskannya lagi. Kau terjebak dengan mereka lagi kan?”

Ye Bin menunduk. Enggan menatap Baek Hyun yang kini tengah memandanginya. Hal seperti tadi – saat Baek Hyun di datangi oleh mahasiswi dibawahnya – sudah sering ia alami beberapa belakangan ini. Ia berusaha memakluminya. Namun Baek Hyun sangat merasa bersalah. Bukan itu penyebab ia terlambat menemui Ye Bin. Hanya saja ia lupa. Baek Hyun tidak tahu bagaimana cara meminta maaf pada gadis disampingnya ini. Mungkin jujur adalah jawaban yang terbaik, pikirnya.

“Aku lupa.” Baek Hyun menggenggam tangan Ye Bin. Kontan gadis itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah pria itu. “Dosen Hyun memberiku buku baru. Jadinya aku lupa dengan –“ Ia menjeda kalimatnya. Berharap gadis itu akan mengerti maksudnya.

Gadis itu menatap Baek Hyun tak percaya. Benarkah ini seorang Byun Baek Hyun? Yang selalu mudah dilalaikan seperti anak kecil yang di berikan banyak boneka? Rasanya Ye Bin ingin membuang semua yang ada di sekitarnya untuk melampiaskan emosi yang terpendam. Sementara Baek Hyun yang ditatap malah menunjukkan ekspresi tak bersalah dan membuat Ye Bin ingin menjambak rambutnya sekarang.

Ye Bin bangkit dari duduknya. Hendak pergi meninggalkan pria itu. Sebenarnya Ye Bin tidak tega melakukan hal ini kepada Baek Hyun. Hanya saja mood nya sedang tidak bagus hari ini. Berada di dekat Baek Hyun membuat mood nya semakin buruk.

Namun bukan Baek Hyun namanya jika membiarkan Ye Bin pergi begitu saja. Ia menarik lengan Ye Bin dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Ye Bin kaget bukan main. Ia tak menyangka Baek Hyun akan memeluknya di tempat umum. Untung saja taman ini tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa orang yang berada disana.

“Ya! Lepaskan aku.”

“Happy anniversary dear. Saranghae.”

Lagi Ye Bin dibuat terpaku oleh Baek Hyun. Pria itu memeluknya erat sementara Ye Bin masih tidak membalas pelukan itu.

“Dan – maafkan aku. Aku berusaha tidak akan mengulanginya lagi.” Baek Hyun berkata sangat lembut.

“Kau janji?”

“Janji.”

Ye Bin tersenyum. Tangannya tergerak membalas pelukan Baek Hyun. Mereka tidak peduli jika orang –orang akan menatap mereka seperti ini. Yang penting mereka merasa bahagia dan tidak menganggu orang lain.

“I love you so much, Byun Baek Hyun.”

“Me too Ye Bin – a. I love you more than you know.”

 

You, always in my heart
Just stay at the same spot and don’t change
I love you this much
My My My You’re My

_A – Pink song : My My_

##

Notes ::

 Akhirnyaaaaa selesai juga ff ini >w<

Udah lama ya gak di lanjutin :3

Sebenarnya ff ini udah lama mau di tamatin. Cuma slalu aja ada hambatan buat lanjutinnya -,- Tapi sekarang alhamdulillah akhirnya udah selesai meskipun udah ketunda 3 bulan ._.

Gimana? Kecepetan yah? atau absurd? .___.

Karena ini chapter terakhir jangan lupa tinggalkan komen kalian ya^^

Thanks and see you on next fanfic :3

 

_rinaizawa | adorableree_

Iklan

70 thoughts on “Chapter 9 : My Smart Boy | Ending Story

  1. Ff nya kren, saya suka baek.. Hoho
    Baek adalah bias utamaku di exo, bareng D.O oppa ….

    Pokoknya ff ini keren thor .

  2. Author eonni~~ Ini kenapa mereka dibikin happy ending..? ;_; Huaaaa aku sukaaaaa /absurd/ Gapapa deh lama ngeposting nya yg penting ceritanya tetep good^^ wkwkw xD Eonni, plisss ini dikasih sequel kehidupan mereka entar ;_; Nikahin mereka eon ;_; kasih mereka anak/? wkwkwk, pokok nya eon harus dapet ide buat kasih sequel nya /maksa/ xD Cemungudt eoon 😀 Keep Writing^^ Ditunggu juga lanjutan ff Devil and Angel nya eon :*

    1. kan mereka cocok untuk happy ending 😀
      entar cerita kehidupan mereka kepanjangan/? ;_;
      kalo dibuat sequel bingung mau ceritain dari mana wkwk -,,,-
      hihi sip terima kasih banyak ya ^o^

  3. keren bangedd.. walaupun happy end ttp aja keluar nih air mata heheh abisnya feeelnya dpet bnged sih 😌 kerennnn ~

  4. agak kecepetan sih thorr tapi tetep seruu banget dan gatau kenapa aku bayangin si yebin nya tuh taeyeon wkwk good job thor di tunggu karya lainnya ya fighting ^^

  5. end nya cepet amat wkkwkw, tapi mereka sweet apalagi pas masa-masa kuliah ;3
    sequel engga ada? hahahhaha

    keep writing !

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s