Secret Darling | 11th Chapter

secret-darling

:: SECRET DARLING | 11th Chapter ::

.

.

.

Author : shineshen

Cast : Sehun | OC(s) | etc.

Genre : Marriage Life | Romance | Friendship

Rating : Teen

.

Poster by chocolatesoda © Café Poster Art ^^

.

Summary :

Shin Minhee adalah gadis berusia 18 tahun yang terjebak pernikahan konyol dengan seorang laki-laki berusia 21 tahun. Hanya karena kesalahpahaman yang menjebak mereka selama satu malam di Pulau Jeju.

 

Link to previous : Teaser | 1st Chapter | 2nd Chapter | 3rd Chapter | 4th Chapter | 5th Chapter | 6th Chapter | 7th Chapter | 8th Chapter | 9th Chapter | 10th Chapter | Kai’s Side Story

.

Gadis itu tersenyum lebar. “Aku lolos seleksi untuk beasiswa melanjurkan studi ke Berklee, Bibi. Aku senang sekali!”

“Benarkah?” Tanya Bibi Seo dengan wajah berbinar. “Oh, selamat, Jeon-ku sayang! Kau pasti akan menjadi mahasiswi yang berprestasi disana, permainan pianomu sangat bagus.”

“Terimakasih, Bibi. Aku akan berusaha yang terbaik karena aku sudah diterima di sana. Itu impianku sejak dulu.” Sahut gadis itu.

“Jeon-ah,” panggil Bibi Seo dengan nada suara yang berubah dari sebelumnya. “Apakah kau sudah menyelesaikan semuanya?”

Raut wajah gadis itu berubah mendung saat Bibi Seo menyeretnya pada tema obrolan yang lain. Sorot mata gadis itu berubah sendu, lalu dengan gelengan ia menjawab pertanyaan Bibi Seo.

“Kau akan pindah ke Berklee sebentar lagi. Dan kau belum menyelesaikan masalah itu juga?”

“Aku tidak tahu bagaimana cara mengakhirinya, Bibi.” Jawab gadis itu sedih. “Dia bahkan tak mau bicara apapun lagi denganku. Ia memutuskan tali persahabatan kami. Aku tak tahu dengan cara apa lagi aku harus membujuknya agar mau bicara lagi denganku.”

Minhee terhenyak mendengar kata-kata gadis itu. Seketika ia teringat Minchan, teringat jika mereka sedang bertengkar sejak kemarin. Mendengar kata soal pemutusan tali persahabatan membuat Minhee ciut, ia takut mengalaminya juga dengan Minchan walaupun itu sama sekali bukan kenyataan yang diharapkannya.

“Aku akan menyelesaikannya langsung dengan Krystal.” Sambung gadis itu lagi. “Jika aku diterima di Berklee berarti aku akan satu kampus dengan Krystal. Aku sengaja mengincar beasiswa itu, Bibi. Aku tahu Krystal berkuliah di sana, sebab universitas itu sama-sama menjadi impian kami sejak dulu. Aku ingin menemui Krystal lagi. Aku ingin menyelesaikan semuanya langsung saat aku berhasil bertemu dengannya.”

“Aku sangat mengerti bagaimana posisimu sekarang, Jeon-ah. Aku mengerti jika sejak awal ini semua bukan keinginanmu. Kau tidak pernah mau mengkhianati Krystal, dan bukan keinginanmu juga untuk satu universitas bersama Kai.”

“Yuri eonni yang memintaku untuk berkuliah di universitas itu,” sahut gadis itu lagi. “Bukan salah Yuri eonni karena ia bahkan tak tahu sama sekali soal aku, Krystal, maupun Kai. Ia hanya memintaku memilih universitas itu karena mengingat kualitas yang mereka tawarkan untuk para mahasiswa. Tak ada siapapun yang ingin aku salahkan, Bibi. Setelah tahun-tahun yang kami lalui, kami membiarkan semuanya masih berupa salah paham. Tak ada yang maju untuk menyelesaikan itu semua, termasuk aku.”

“Kau sudah berusaha mencari tahu tentang Krystal, kau berniat memperbaiki tali persahabatan kalian. Itu kebaikan, Jeon-ah. Kau juga tak bisa dibilang bersalah sepenuhnya dalam kasus ini,” hibur Bibi Seo dengan senyumnya yang hangat. “Lalu… Kapan kau akan berangkat ke Berklee?”

“Mungkin semester depan.” Jawab gadis itu sambil menunduk.

“Kalau begitu, kau harus berbicara dengan Sulli sebelum keberangkatanmu ke sana.” sahut Bibi Seo yakin. “Dia pasti mau mendengarkanmu kali ini.”

Minhee terdiam total setelah mendengar semua pembicaraan antara Bibi Seo dan gadis itu. Minhee menolak hatinya yang mengatakan bahwa ia menguping pembicaraan orang lain. Karena pada dasarnya ia memang tak punya pilihan. Bibi Seo dan gadis itu berbicara banyak saat Minhee ada di dekat mereka.

Tapi tunggu… Kai? Gadis itu satu kampus dengan Kai?

Bukankah berarti… Ia satu kampus dengan Minhee juga?

 

 

.

.

| 11th Chapter |

.

.

 

“Oh, aku lupa memperkenalkan teman baru untukmu, Jeon-ah.” Sahut Bibi Seo tiba-tiba, membuat Minhee kontan menoleh kaget ke arah Bibi Seo dan gadis itu.

Gadis itu tersenyum, dan entah mengapa Minhee merasa cukup terhibur melihat betapa hangatnya senyum milik gadis itu. Ia seorang gadis yang cantik.

 

“Jeon-ah, ini Minhee. Dia baru saja bergabung dengan komunitas merajut kita.” Ujar Bibi Seo dengan senyum cerah.

Minhee membalas senyum gadis itu lalu membungkuk kecil di hadapannya. “Senang bertemu denganmu, Jeon-ssi.”

“Jangan memanggilku begitu,” tawa gadis itu renyah. “Kau boleh memanggilku Soojeon. Namaku Kwon Soojeon.”

Minhee menegakkan kembali tubuhnya dengan cepat. “Kwon Soojeon?”

“Ya,” jawab gadis itu. “Ada apa? Apa kita sudah pernah saling mengenal sebelumnya?”

“Bukan, tapi…” Minhee memutus kata-katanya yang terdengar jelas bernada ragu. Gadis itu memandang Soojeon agak lama, membuat kening Bibi Seo dan Soojeon sendiri sama-sama mengerut tak mengerti.

“Ada apa, Minhee?”

“Soojeon-ssi—” sahut Minhee pelan dengan pandangan yang agak menunduk dari sebelumnya. “—apa benar kau pernah menjadi mantan kekasih seorang lelaki bernama Kai?”

 

Gadis bernama Soojeon itu tertegun membeku, bahkan senyum hangat di wajahnya berangsur menghilang. Minhee menggigit bibirnya, merasa tak enak hati. Mungkin benar ia memang gadis yang kurang sopan, melemparkan pertanyaan pribadi seperti itu di awal pertemuan mereka. Namun Minhee tak bisa menahan rasa penasarannya lebih lama lagi. Kenyataan bahwa ia bertemu dengan Soojeon lebih fantastis daripada pertemuannya dengan Yuri tempo hari dan mendengar Yuri menyebut nama Soojeon lewat sambungan telepon.

Bibi Seo pun menampakkan ekspresi yang sama, ia sungguh tidak menyangka. Dunia begitu sempit, mengapa orang-orang yang dikenalnya saling mengenal pula satu sama lain?

 

Uhm… Maaf?” ulang Soojeon dengan ekspresi wajah yang mencoba ia stabilkan. “Kau mengenal Kai?”

“Kai—” Minhee lagi-lagi memutus kalimatnya. Memikirkan bahwa tak mungkin menyebut bahwa Kai adalah sahabat dari seorang laki-laki yang telah ia sebut sebagai suami. Di usia semuda ini ia sudah memiliki suami? Oh tidak, apa yang akan Bibi Seo dan Soojeon pikirkan?

“Kai adalah salah satu teman dari kakakku. Aku juga satu kampus dengan mereka semua. Apa itu berarti aku juga satu kampus bersamamu?” lanjut Minhee dengan kalimat yang lancar. Minhee bersyukur karena ia bisa melanjutkan kalimatnya dengan lancar, walau lagi-lagi ia harus menyembunyikan nama Sehun dan lebih memilih untuk mengusung nama Minhyuk sebagai kakaknya.

 

“Oh, benarkah?” Tanya Soojeon sedikit terkejut. “Kau berasal dari divisi apa? Aku berasal dari divisi musik kontemporer. Bagaimana denganmu?”

“Aku berasal dari divisi sastra, tahun pertama.” Jawab Minhee dengan senyum yang terkembang.

“Oh, aku dengar soal berita itu,” sahut Soojeon lagi. “Divisi sastra dan divisi seni teater akan berkolaborasi untuk pentas drama mendatang. Kau mendapatkan peran, Minhee?”

Casting belum diadakan,” jawab Minhee. “Kami masih menunggu instruksi selanjutnya dari Dosen Im.”

“Jadi kalian sudah saling mengenal sebelumnya?” Tanya Bibi Seo yang tiba-tiba datang sambil membawa sepoci teh hijau dan tiga gelas cangkir.

Soojeon dan Minhee menggeleng bersamaan, lalu saling terkekeh.

“Tidak, Bibi. Dia seniorku,” jawab Minhee. “Kami hanya sekedar mengenal orang yang sama. Begitu ‘kan, Soojeon sunbaenim?”

“Panggil saja aku Soojeon eonni,” koreksi Soojeon dengan senyum hangatnya. “Aku kurang nyaman dengan panggilan sunbae, ngomong-ngomong. Aku jarang dekat dengan junior, Minhee adalah junior pertama yang pernah aku kenal.”

“Oh, begitu,” sahut Bibi Seo sambil menuangkan teh ke dalam masing-masing cangkir.

“Wah, Bibi mempelajari tata cara penyajian teh?” celetuk Minhee kagum saat Bibi Seo menuangkan teh ke dalam cangkir menggunakan tata cara formal.

Bibi Seo tertawa kecil. “Eomma sudah mengajarkannya padaku sejak kecil.”

“Bibi Seo sepertinya berasal dari keluarga bangsawan, ya?” tebak Minhee. Bibi Seo tertawa lagi.

“Tidak,” jawab Bibi Seo. “Aku memang tertarik dengan segala tradisi yang berbau formal. Ibuku yang mengajarkan semua padaku, termasuk tradisi penyajian teh ini.”

 

Bibi Seo memberikan mereka masing-masing cangkir yang sudah terisi teh. Minhee menghirup aroma minuman hangat itu sesaat, sebelum akhirnya menempelkan bibirnya pada mulut cangkir.

Namun di balik cangkir ia tertegun sesaat ketika menyadari sorot mata Soojeon sedang menatapnya. Mata Soojeon seakan berbicara, menyampaikan satu pesan pada Minhee.

 

Mengenai pertanyaanmu, aku akan jawab itu nanti tapi bukan disini. Kuharap kita dapat bertemu lagi di kesempatan yang berbeda, Minhee-ya.

 

***

 

Minhee datang ke kampusnya sedikit siang hari ini, sesuai dengan jadwal kelas yang kemarin sudah diinformasikan oleh Dosen Kim. Sebenarnya… Hari ini hubungannya dengan Sehun sudah mulai membaik. Setidaknya begitu. Sehun sudah mau satu meja makan bersamanya, meskipun selama itu pula mereka harus terjebak dalam keheningan walau duduk berhadapan.

 

Minhee melangkah menuju kelasnya sambil mendekap sebuah paper bag berwarna putih. Menyadari langkahnya yang semakin mendekat menuju kelas, hatinya berdegup-degup semakin kencang. Ada rasa gugup sekaligus cemas, takut saat membayangkan hadiah yang ada di dekapannya ini akan mendapat penolakan dari sang penerima nanti. Minhee sudah berjuang menyelesaikan hadiah ini sendiri selama tiga hari, maka ia akan sangat kecewa dan sedih jika sahabatnya itu tak mau menerima hadiah tanda permintaan maafnya ini.

Minhee menutup kedua matanya saat selangkah lagi ia memasuki kelas, berusaha menghilangkan rasa gugupnya sendiri. Gadis itu menghela napas dalam dan menghembuskannya kembali pelan-pelan saat dilihatnya sang sahabat sudah duduk di kursi yang berbeda dari masa lalu.

 

“Minchan,” panggil Minhee pelan. Gadis itu mengangkat kepalanya dari layar gadget yang sejak tadi menahan pandangannya, sedikit terkejut melihat Minhee memberanikan diri berdiri di hadapannya lagi setelah selama beberapa hari kemarin menjauhkan diri. Tak bisa Minchan bohongi, ada rasa rindu saat ia melihat Minhee lagi. Rasanya ia ingin segera menarik Minhee untuk duduk di kursi sebelahnya, mengajaknya bercerita banyak, seperti dulu.

“Aku punya sesuatu untukmu,” sahut Minhee lagi, sambil menyodorkan paper bag itu pada Minchan. “Aku sudah menyelesaikannya susah payah selama tiga hari. Jadi jangan menolaknya, oke? Atau aku… Atau aku akan sangat sedih.”

Minchan tercenung menatap paper bag itu sesaat, lalu pandangannya kembali terangkat menuju Minhee. Gadis mungil itu mengerutkan keningnya, walau tangannya mulai terulur menyentuh paper bag itu.

“Putih?” Tanya Minchan spontan. “Kau—“

“Ini simbolis jika aku benar-benar ingin berbaikan denganmu,” potong Minhee sambil tersenyum kecil. “Ayolah, aku mohon. Aku lelah perang dingin denganmu seperti ini.”

 

Minchan mengambil paper bag itu dari tangan Minhee dan segera melihat apa isinya. Kerut di keningnya semakin dalam, membuat Minhee secara spontan memejamkan matanya. Takut Minchan akan melempar rajutan itu ke hadapannya tanpa tedeng aling-aling lagi.

 

Beanie?” Tanya Minchan lagi sambil mengeluarkan beanie rajutan itu dari dalam paper bag. Beanie itu berwarna merah, persis seperti warna kesukaan Minchan.

Rupanya Minhee masih mengingat itu.

 

Minhee membuka matanya takut-takut, lalu sedikit bisa menghela napas lega saat Minchan masih utuh memegang beanie rajut itu dalam tangannya. Setidaknya ia belum melemparkannya. Yang bisa Minhee lihat hanyalah wajah Minchan yang tercenung kosong.

 

“Kau… Tidak suka?” Tanya Minhee kecil, suaranya mulai terdengar sedih.

“Aku—“ Minchan memotong kalimatnya dengan sebuah helaan napas, membuat Minhee semakin ketar-ketir.

“Minchan—“

“Aku merindukanmu, Minhee-ya!” seru Minchan dengan satu pelukan yang tiba-tiba untuk Minhee. Beanie itu tetap ada di genggaman tangannya saat ia memeluk Minhee, sama sekali tak ada indikasi jika Minchan membenci hadiah itu dan berniat mencampakkannya langsung di hadapan Minhee.

Minhee tertegun diam, kaget saat mendapatkan respon seperti itu dari Minchan. Sampai akhirnya, gadis itu ikut membalas pelukan rindu sahabatnya.

“Aku juga rindu padamu, Minchannie.”

 

“Maafkan atas sikap menyebalkanku kemarin,” sahut Minchan lagi, kali ini dengan suara kecil yang terdengar menyesal. “Tidak seharusnya aku berkata seperti itu padamu. Aku hanya—hanya—”

“Aku mengerti,” potong Minhee sambil tersenyum. “Kau begitu menyayangi pernikahanku, Minchan. Aku sangat menghargai itu. Terimakasih.”

“Aku hanya tidak ingin ada yang terluka diantara kau dan Sehun,” balas Minchan sambil melepaskan pelukannya, dan tentu saja, mereka membicarakan semua perbincangan itu dengan suara kecil. Mereka masih mengingat kesepakatan bahwa tak boleh ada satu orang lain pun di kampus yang boleh tahu tentang pernikahan Sehun dengan Minhee selain Minhyuk, Kai dan Minchan.

“Senang bisa bersahabat lagi denganmu,” sahut Minhee ceria. “Apa… Aku harus meminta Eunji agar mengosongkan kursimu lagi?”

Minchan menggeleng. “Tidak perlu, Minhee. Hanya saja sebaiknya…”

“Apa?” Tanya Minhee menuntut kelanjutan saat Minchan memberikan jeda pada kalimatnya.

“Lebih baik kau meminta hal itu pada Melanie saja,” lanjut Minchan sambil menyeringai jahil. “Lihat? Kursiku hanya berjarak 3 kursi dari kursi Jungkook. Melanie pasti akan menyukai itu.”

 

 

“Tunggu!” tahan Minchan tiba-tiba saat ia dan Minhee sedang berjalan menuju gerbang kampus selesai kuliah mereka.

Minhee kontan ikut menghentikan langkahnya dan mengernyit heran saat melihat Minchan memutar-mutar pinggangnya sambil memegangi perut.

“Kau kenapa?”

 

“Aku ingin buang air kecil,” jawab Minchan polos. “Temani aku ke toilet sebentar, setelah itu kita akan pulang. Oke?”

Aish, jinjja.” Keluh Minhee sambil memutar matanya. “Kenapa tidak sejak tadi saja?”

“Aku baru merasa ingin buang air kecil sekarang,” jawab Minchan lagi. “Oh ayolah, Minhee. Bisakah kau lebih cepat lagi mengantarkanku? Aku tidak tahu dimana letak toilet di sekitar sini.”

“Kau pikir aku tahu? Please, aku juga tidak tahu.” Keluh Minhee. “Sebentar, kurasa aku harus bertanya lebih dahulu pada senior yang ada di sekitar sini. Tunggu.”

 

Minhee meninggalkan Minchan dan sedikit panik ketika harus bertanya pada salah satu senior yang sedang berlalu-lalang disana. Jujur, Minhee bukanlah orang yang bisa dengan mudah bertanya tentang suatu arah atau lokasi pada orang lain. Jadi ia sedikit gugup dan bingung untuk bertanya kali ini.

 

“Oh, permisi, sunbaenim.” Panggil Minhee pada salah satu senior perempuan yang sedang berjalan diantara mahasiswa lainnya. Senior yang satu itu terlihat ramah, atau itu hanya firasat Minhee saja. Minhee belum tahu.

Senior itu berhenti melangkah dan berbalik untuk menghadap Minhee, sedikit menahan senyumnya saat melihat Minhee membungkukkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum memulai kata.

“Kau pasti mahasiswi baru,” sahut senior itu ramah lalu terseyum. “Arra, tidak perlu terlalu formal seperti itu padaku.”

“Ah, maafkan aku, sunbaenim.” Sahut Minhee tak enak hati. “Sebenarnya aku hanya ingin bertanya… Uhm, gedungku berada di area belakang kampus, dan sekarang temanku sedang butuh toilet. Bisakah sunbaenim memberitahuku dimana letak toilet di sekitar sini?”

“Oh,” tawa senior itu kecil. “Di dekat ruangan itu ada toilet. Kau bisa mengantar temanmu pergi kesana.”

Mata Minhee tertuju pada sebuah ruangan berpintu cokelat yang ditunjuk oleh senior itu. Setelah mendapatkan jawaban, Minhee segera mengangguk mengerti dan mengucapkan terimakasih pada senior cantik berambut sebahu itu. Sepertinya dari penampilannya yang modis… Senior itu berasal dari fakultas seni.

 

Minhee berpisah dengan senior itu dan segera menghampiri Minchan lagi.

“Kau lama sekali,” rengut Minchan.

“Maaf, tadi aku sedikit grogi.” Sahut Minhee. “Sekarang aku sudah tahu dimana letak toiletnya. Ayo ikut aku,”

“Kau bertanya pada senior laki-laki, eoh?” Tanya Minchan di tengah perjalanan mereka.

Minhee menggeleng. “Tidak, aku bertemu dengan senior perempuan yang sangat ramah. Hanya saja kau tahu aku ‘kan, aku memang selalu grogi saat harus menghadapi orang asing yang bergerombol. Kau bisa bayangkan? Tadi aku ikut terlarut dalam gerombolan senior yang sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.”

 

Mereka berdua akhirnya tiba di toilet yang dimaksud oleh senior perempuan tadi. Minhee tidak mau ikut masuk menemani Minchan sampai cermin washtafel, jadi ia memutuskan hanya menunggu Minchan di pintu keluar yang berhadapan dengan koridor umum untuk para senior tingkat akhir.

Minhee menunggu dengan sedikit bosan. Kenapa Minchan lama sekali di dalam sana?

 

Minhee mulai memutar-mutar ujung sepatunya saat ia menghitung detik demi detik lamanya Minchan di dalam toilet sana. Rasanya membosankan. Minhee berpikir untuk mengeluarkan ponselnya dan bermain game untuk mengusir rasa bosan, namun niatnya urung seketika saat matanya tak sengaja menangkap siluet tubuh seorang senior yang amat dikenalnya. Minhee membelalakan matanya, otaknya secara otomatis teringat pada satu pertanyaan penting yang sedang mati-matian ia kejar jawabannya saat ini.

Baiklah, kakak iparnya tidak mau membantu. Minhee akan bertanya saja pada senior yang satu itu, senior itu pasti mau membantunya.

 

“Kai oppa!” panggil Minhee cepat sambil berlari kecil menghampiri Kai.

Kai menghentikan langkahnya saat mendengar panggilan itu, lalu melepas headset di telinga kanan yang memang sengaja ia pasang secara sebelah. Kai memutar tubuhnya, dan seketika menemukan Minhee yang baru saja selesai mengejarnya dengan payah.

“Ada apa?” Tanya Kai. “Eh, kau tidak pulang bersama Sehun?”

“Tidak,” jawab Minhee dengan napas terputus-putus karena kelelahan. “Aku akan pulang bersama Minchan. Kupikir Sehun oppa pulang bersamamu.”

“Tidak,” jawab Kai lagi. “Kami berpisah di kelas terakhir tadi. Baiklah, dia pasti akan baik-baik saja, Minhee. Tidak usah cemas, suamimu sudah besar.”

Minhee memicingkan matanya mendengar lelucon menyebalkan Kai. “Berhenti. Ini masih di area kampus, oke? Jadi kau tidak boleh bicara yang macam-macam.”

“Baiklah, kalau begitu aku pulang saja,” Kai membalikkan tubuhnya lagi dan bersiap melangkah. Namun dengan cepat Minhee menarik ujung kemeja Kai sehingga langkah Kai tertahan kembali.

Aish, apa maksudmu menggangguku?” gerutu Kai sambil membalikkan tubuhnya kesal menghadap Minhee lagi.

Minhee berkacak pinggang, dan menatap Kai setengah jengkel. “Aku menghampirimu untuk bertanya baik-baik. Kau yang memulai perdebatan lebih dulu,”

“Pantas Sehun selalu bilang betapa menyebalkannya mempunyai istri cerewet sepertimu.” Gerutu Kai lagi. “Pertama kali bertemu denganmu, kupikir kau gadis yang manis dan Sehun saja yang terlalu sensitif terhadapmu. Tapi kurasa, sekarang dia benar.”

“Apa katamu?!” nada suara Minhee mulai melengking kesal.

Kai tak jadi menimpali Minhee lagi, dan lebih memilih untuk menurunkan nada suaranya sendiri. “Oke, maaf. Sekarang aku bertanya sungguh-sungguh padamu, ada urusan apa kau menunda kepulanganku. Jawab dengan baik-baik, karena aku juga bertanya baik-baik padamu. Mengerti?”

Minhee mendengus lalu melipat tangannya ke depan dada. “Oppa, beritahu aku tanggal ulangtahun Sehun oppa. Ppali.”

“Hah?” ulang Kai dengan raut wajah konyol. “Kau? Ulangtahun Sehun? Kenapa kau tiba-tiba menyanyakan hal itu?”

“Haruskah kau tahu apa alasanku?” Minhee balik bertanya.

“Ya sudah, kalau begitu kau juga tak akan mendapatkan jawaban dariku. Silahkan bertanya pada Sehun sendiri. Selamat tinggal, Nyonya Oh.” Putus Kai sambil melenggang menuju lawan arah.

 

Minhee kelimpungan. Tidak mungkin ia harus bertanya langsung pada Sehun! Bagaimana dengan kejutan ulangtahunnya nanti?

 

“Kai oppa, tunggu!” Minhee cepat-cepat mengejar langkah Kai lagi. Kai tersenyum jahil sebelum membalikkan tubuhnya lagi menghadap Minhee. Siapapun tahu jika ia adalah aset satu-satunya Minhee untuk mendapatkan informasi tentang Sehun, jika Luhan tidak bersedia membeberkannya.

“Aku benar-benar kesal padamu sekarang.” Gerutu Minhee sinis saat ia menatap senyum kemenangan Kai.

“Baiklah, anggap saja kita impas. Kita sama-sama bertanya, dan kita sama-sama menjawab.” Timpal Kai sambil menyembunyikan kedua tangannya di dalam saku.

Minhee mendengus sekali lagi. “Aku ingin tahu tanggal ulangtahun Sehun oppa karena aku ingin kami merayakan itu bersama dengannya tahun ini. Aku sudah mendapatkan clue, sebentar lagi ia ulangtahun. Puas dengan jawabanku, Tuan Kim?”

“Oh, romantisnya kalian,” kekeh Kai dengan nada menyebalkan. Minhee mendengus sekali lagi.

“Cepat, sekarang giliranmu untuk memberitahuku.” Sahut Minhee datar.

“Baiklah, 12 April. Kau puas?” jawab Kai sambil membalikkan tubuhnya lagi, melanjutkan langkahnya menuju gerbang kampus yang sejak tadi tertunda.

“Semoga sukses dengan kejutanmu, Nyonya Oh!”

 

Minhee berdiri mematung saat melihat punggung Kai yang semakin menjauh. Ia menatap kesal laki-laki itu. Sungguh sebenarnya ia tidak suka saat Kai memaksanya membuka rahasia kejutan ulangtahun yang akan diberikannya untuk Sehun, namun ia terpaksa. Semua itu ia lakukan demi mendapatkan jawaban 12 April.

 

Yak, kenapa kau berdiri disini?!” protes Minchan yang tiba-tiba sudah hadir di sebelahnya, menatap jengkel Minhee. “Kau tahu? Kupikir kau meninggalkanku, tapi ternyata kau berdiri disini? Sendirian? Untuk apa, huh?”

“Kai oppa sangat menyebalkan.” Ucap Minhee datar.

“Hah? Dimana Kai oppa? Dia ada di sini?” sambar Minchan cepat, gadis itu menolehkan kepalanya kesana kemari, mencoba mencari sosok Kai apakah benar ada di koridor sepi itu.

“Kau berbohong.” Rengut Minchan setelah ia mendapatkan hasil yang nihil.

“Tidak, tadi dia disini. Mengobrol sebentar bersamaku,” sahut Minhee sambil memulai langkah menuju jalan keluar kampus.

“Apa yang kau bicarakan bersamanya?” Tanya Minchan ingin tahu. “Kalian membicarakan aku, ya?”

“Apa maksudmu?” Cibir Minhee. “Untuk apa kami membicarakanmu, huh.”

“Kau ini jahat sekali,” protes Minchan memperdalam rengutannya. “Kau sudah tahu jika aku menyukainya, mengapa kau dan Sehun oppa tidak berusaha mendekatkan aku dan Kai oppa?”

“Itu masalah kecil, Minchan. Sekarang ini aku sedang sibuk dengan sesuatu, oke?” sahut Minhee sambil menaungkan kepalanya dengan buku saat terik matahari kembali menyambut mereka.

“Sibuk? Sibuk apa?” Tanya Minchan ingin tahu lagi.

“Sebentar lagi Sehun oppa ulangtahun, dan aku harus banyak mempersiapkan segala sesuatunya. Aku harus mencari toko kue terbaik, memikirkan hadiah untuknya, sampai mengatur strategi supaya ia tak tahu jika aku sedang berusaha mempersiapkan segalanya untuknya.” Celoteh Minhee panjang lebar.

“Wah, kau istri yang baik!” seru Minchan riang sambil bertepuk tangan kecil.

Minhee melirik sebentar Minchan, lalu menghembuskan napasnya berat.

Eoh, memangnya kapan ulangtahun Sehun oppa?” Tanya Minchan lagi.

“12 April.” Jawab Minhee singkat. “Aku baru saja memaksa Kai oppa untuk memberitahuku.”

Aigoo!” seru Minchan tiba-tiba. Gadis itu membelalakan matanya panik pada Minhee, lalu mengguncang-guncang kecil kedua bahu Minhee. Minhee mengerutkan keningnya bingung sambil berupaya menghentikan kelakukan aneh Minchan yang tiba-tiba.

“Ada apa denganmu?” protes Minhee. “Lepaskan aku, Minchan.”

“Apa maksudmu? Ulangtahun Sehun oppa jatuh tanggal 12 April?” ulang Minchan panik.

“Memangnya ada apa, huh?” Minhee balik bertanya dengan nada antara bingung dan jengkel.

“Kau tahu sekarang sudah tanggal berapa? Hari ini tanggal 9 April, dan demi Tuhan! ULANGTAHUN SEHUN AKAN JATUH TIGA HARI LAGI!”

“APA?!” Minhee ikut shock mendengar kepanikan Minchan. Dan detik berikutnya, kepanikan menjalar secepat aliran listrik dalam tubuh Minhee.

“ASTAGA, MINCHAN! AKU BAHKAN BELUM SEMPAT MEMPERSIAPKAN APAPUN!”

 

***

 

Minhee! Minhee! Kau harus mendengar ini!” Minhee menjauhkan telinganya dari speaker ponsel saat teriakan panik Minchan nyaris membuat telinga kanannya berdengung.

Aish, jinjja! Ada apa, Minchan?” balas Minhee sedikit panik dan jengkel. Minhee buru-buru meletakkan rajutannya diatas meja rotan milik Bibi Seo dan bergegas menjauhkan diri dari sana.

Melihat kelakuan Minhee, Bibi Seo dan Soojeon sama-sama menatap gadis itu bingung.

 

Kau tahu? Casting drama akan diadakan besok, Minhee-ya! Besok! Besok! Bagaimana ini?!” seru Minchan panik.

 

“APA?!” respon Minhee tak kalah shock dan panik. “Aigoo, bagaimana ini? Persiapan hadiahku pada Sehun oppa bahkan masih tujuh puluh persen lagi! Bagaimana ini? Mengapa aku jadi dikejar waktu seperti ini? Aish, jinjja!”

 

Kau pikir hanya kau saja yang shock?!” balas Minchan. “Bagaimana denganku, eoh? Aku juga panik, oke? Aku bahkan bingung bagaimana caranya supaya eomma tidak mendengar teriakan frustasiku sejak tadi!”

 

“Oke, baiklah…” Minhee mencoba menstabilkan kembali pola napasnya yang berantakan akibat ikut berteriak-teriak heboh. Oke, sekarang kalian tahu seberapa hebohnya Minchan dan Minhee saat sedang membicarakan sesuatu yang mendadak.

“Siapa yang memberi kabar ini padamu?”

 

Eunji.” Jawab Minchan dengan nada yang mulai tenang juga. “Dia menunggu sampai kelas senior bubar sore tadi, hanya demi bertanya kapan casting drama diadakan. Kau tahu apa? Ternyata senior itu nyaris lupa dengan pengadaan casting, andai saja Eunji tidak mengingatkannya. Drama akan diadakan beberapa bulan lagi, dan tentu saja kita butuh persiapan matang dalam latihan. Tapi apakah para senior itu tidak berpikir tentang persiapan kita sendiri untuk menghadapi casting itu?!”

 

“Siapa nama senior itu?” Tanya Minhee lebih lanjut.

 

Aku tak tahu, Eunji tidak memberitahukan namanya. Ia bahkan baru saja meneleponku sepuluh menit yang lalu, menyampaikan berita padaku dengan singkat dan tenang, seolah-olah casting itu bukan masalah besar baginya.” Celoteh Minchan.

 

“Baiklah, kita bahas ini lebih lanjut besok,” putus Minhee. “Aku sedang sibuk, Minchan. Kuharap aku bisa menyelesaikan kesibukanku ini lebih cepat, supaya aku bisa cepat-cepat memikirkan solusi terbaik untuk drama itu dan juga untuk kejutan ulangtahun Sehun oppa. Annyeong.”

 

Minhee memutus sambungan teleponnya dengan Minchan, lalu mendekap ponsel itu sesaat. Minhee mencoba mengatur kembali napasnya yang masih berantakan, agar Bibi Seo dan Soojeon tidak cemas melihatnya saat kembali nanti. Bahkan mungkin mereka sudah kebingungan sejak tadi saat melihat kepanikan Minhee dan suaranya yang berteriak-teriak saat berbicara di telepon.

 

Dan benar saja.

“Ada apa, Minhee-ya?” Tanya Bibi Seo saat Minhee kembali ke kursi rotan. Minhee tersenyum pada Bibi Seo dan Soojeon, seakan memberi isyarat jika tak ada hal yang perlu mereka khawatirkan.

“Tidak apa-apa, Bibi,” jawab Minhee. “Hanya shock sedikit. Casting drama akan diadakan mendadak besok.”

“Benarkah?” Tanya Soojeon dengan mata berbinar dan senyumnya yang hangat. “Oh, apakah itu casting terbuka atau tertutup? Aku ingin sekali ikut melihat casting itu jika dibolehkan,”

“Aku tidak tahu, eonni.” Jawab Minhee sambil menggaruk pelan pipinya. “Eonni, apa kau kenal seorang senior angkatanmu yang mengurusi masalah teater?”

“Sebenarnya…” Soojeon menghentikan kalimatnya sejenak. Gadis itu mengulas senyumnya tipis, namun Minhee bisa mengerti jika itu adalah sebuah senyum kesedihan. “Aku kenal seorang bernama Sulli di sana. Jika dia yang mengurusi masalah teater itu nanti… Kau tidak perlu khawatir. Ia adalah seorang gadis yang sangat baik. Kurasa ia juga akan ramah pada junior.”

“Sulli?” ulang Minhee. Minhee ingat jika Soojeon pernah menyebutnya di depan Bibi Seo tempo hari. Apapun itu, Minhee menebak jika hubungan antara Soojeon dan Sulli sedang tidak terlalu baik saat ini.

“Oh, baiklah. Semoga aku bertemu dengan senior itu besok.” Lanjut Minhee sambil mengembangkan senyumnya lagi. “Uhm, Bibi… Apakah kau bisa mengajarkanku bagaimana caranya untuk menyelesaikan rajutan ini lebih cepat?”

“Mendekatlah kemari,” ajak Bibi Seo ramah sambil menepuk-nepuk sisi kosong disebelahnya. Minhee menurut dan segera berpindah duduk ke sisi itu, mendekat pada Bibi Seo.

 

“Syal ini kau buatkan untuk siapa?” Tanya Bibi Seo lembut. Pipi Minhee memerah seketika. Melihatnya, Soojeon ikut terkekeh.

“Syal ini untuk pacarmu?” tebak Soojeon sambil terkekeh.

“Bu—bukan begitu,” jawab Minhee sedikit gugup. “Ini hadiah untuk—“

“Minhee-ya,” potong Bibi Seo dengan suara lembutnya yang seperti biasa. “Rajutan yang baik bukanlah rajutan yang kau selesaikan dengan buru-buru. Selesaikanlah rajutan ini dengan perasaanmu yang tulus, jika memang kau ingin mempersembahkan rajutan ini untuk seseorang yang kau kasihi. Bahkan kau tidak perlu menyebutkan padanya seberapa besar cinta ataupun kasih yang kau simpan selama merajut syal ini, ia akan dengan mudah merasakannya dari bagaimana caranya kau merajut syal ini untuknya.”

Minhee terenyuh mendengar petuah Bibi Seo yang sangat indah didengar. Seketika ingatannya terisi oleh sosok Sehun, Sehun yang sedang tersenyum untuknya, atau saat ia melakukan perdebatan konyol dengannya. Perdebatan yang menyebalkan, namun memunculkan segurat senyum saat teringat itu semua di kemudian hari.

 

“Kau tersenyum, Minhee-ya,” sahut Soojeon lembut, menyadarkan Minhee dari fantasinya. “Kau pasti sedang memikirkan laki-laki itu. Astaga, kurasa kalian adalah pasangan yang romantis luar biasa.”

“Tidak juga, eonni,” kekeh Minhee kecil, lalu berusaha merapikan jalinan rajutan itu lebih teliti lagi. “Aku hanya teringat hal-hal yang sudah kami lalui bersama, aku teringat—“

“Benar ‘kan dugaanku, Bibi?” kekehan Soojeon memotong ucapan Minhee. “Minhee sudah memiliki pacar, dan syal ini ia rajutkan untuk laki-laki itu. Romantis sekali, bukan?”

“Bukan,” koreksi Minhee sambil tersenyum salah tingkah. “Ini hadiah ulangtahunnya. Ini ulangtahun pertamanya yang aku rencanakan untuk kami rayakan bersama.”

“Apapun itu, kalian adalah pasangan romantis,” kekeh Soojeon tetap pada asumsinya. “Aku jadi penasaran, apakah laki-laki itu juga satu kampus dengan kita?”

 

Minhee nyaris tersedak napasnya sendiri.

Sehun. Sehun.

Bukankah jika dihitung-hitung… Sehun juga satu angkatan dengan Soojeon?

Astaga, bagaimana jika Soojeon ternyata benar-benar mengenal Sehun?!

 

“Oh, itu rahasiaku, eonni.” Senyum Minhee lebar.

“Oh, kau tidak berniat memberitahu sedikit rahasiamu itu pada kami?” sahut Bibi Seo dengan raut wajah yang pura-pura sedih. Minhee terkekeh kecil lalu menggeleng.

Entah, Minhee baru saja menemukan keluarga baru ini. Meskipun mereka hanya bertiga, namun suasana dalam toko rajut ini sangatlah hangat. Bibi Seo sudah ia anggap layaknya bibi kandungnya, sedangkan Soojeon sudah ia anggap layaknya kakak kandung. Selama ini Minhee hanya memiliki satu orang kakak laki-laki yang sikapnya menyebalkan, wajar jika Minhee cepat akrab dengan gadis hangat seperti Soojeon.

 

“Maaf,” Minhee menyedekapkan tangannya di depan dada dengan memasang raut yang menyesal. “Aku belum bisa menceritakan tentangnya sekarang, tapi aku janji jika suatu saat nanti aku akan membawanya kemari. Oke?”

 

***

 

Siang ini cuaca bisa dikatakan sangat panas. Entahlah ini masih pantas disebut musim semi ataukah tidak, sebab cuaca yang seperti ini lebih pantas terasa jika kota sudah memasuki musim panas.

 

“Lihatlah, betapa luar biasanya efek pemanasan global yang sudah terjadi pada planet ini.” Celoteh Minchan saat ia dan Minhee sedang berjalan kepayahan di bawah terik matahari menuju gedung fakultas seni. Payah sekali, sepanjang jalanan lapang ini tidak ada koridor beratap. Mereka terpaksa harus berpanas-panas ria demi menyeberang menuju gedung itu.

Minhee menyeka peluh sekenanya dengan lengan raglan yang dikenakannya, sedikit beruntung ia tidak mengenakan pakaian yang tidak terlalu panjang ataupun terlalu pendek hari ini. Ia akan tahu sendiri apa akibatnya. Pakaian lengan panjang akan membuatnya semakin gerah, sedangkan pakaian lengan pendek akan membuat kulitnya terbakar matahari. Raglan adalah pilihan terbaik, sebab lengannya menutupi kulit hingga sebatas siku.

 

“Ya,” respon Minhee sekenanya. “Dan kau tahu? Aku baru sadar jika cuaca di Seoul bisa sepanas ini.”

“Lalu apa yang kau bayangkan dengan panas yang ada di Afrika saat ini? Di Gurun Sahara?” timpal Minchan lalu ikut menyeka peluh yang entah sudah berapa kali mengalir di pelipisnya.

“Jangan bayangkan itu,” sahut Minhee sambil menaungi kepalanya dengan buku. Namun itu tak cukup membantu. Suhu udara masih panas, membuatnya serasa tengah berjemur di depan kompor pemanggang daging.

“Kau membawa peralatan make-up hari ini?” Tanya Minchan lagi, kali ini dengan tema berbeda.

Minhee melirik Minchan dengan pandangan sedikit aneh. “Untuk apa? Kau pikir aku Melanie Lee?”

Minchan mengeluh kecil.

“Minchan, dengar. Kita akan casting untuk drama kampus, bukan untuk audisi masuk agensi pencarian bakat. Mengerti?” lanjut Minhee lagi.

Minchan kembali mengeluh. “Uh, aku butuh air.”

“Kau pikir aku tidak?” timpal Minhee. “Aku haus, Minchan. Sangat haus. Dan aku akan sangat kesal jika setelah sampai disana, mereka tidak menyediakan air minum untuk peserta seperti kita.”

“Aku akan mengamuk,” sahut Minchan lagi. “Hei, kita sudah sampai! Lima puluh meter lagi!”

Minhee mengeluh saat Minchan melangkahkan kakinya lebih cepat, meninggalkan Minhee yang masih berjalan kepayahan di bawah terik matahari.

 

Akhirnya mereka tiba di salah satu ruang aula yang ada di gedung fakultas seni. Saat mereka sampai disana, sudah banyak mahasiswa dan mahasiswi lain yang mengantri di kursi tunggu. Banyak dari wajah-wajah itu yang tidak mereka kenal, jadi bisa disimpulkan saja jika mayoritas dari mereka pasti berasal dari fakultas seni itu sendiri.

Lagipula mengingat bagaimana cuaca yang begitu menyengat kepala di luar sana, pasti banyak dari mahasiswa dan mahasiswi fakultas sastra yang mengurungkan niat mengikuti casting hari ini. Kecuali jika Dosen Im berhasil menjaring mereka semua, dan menjatuhkan hukum wajib bagi mereka semua untuk mengikuti casting ini.

 

Uhm, permisi… Apa casting-nya belum dimulai?” Tanya Minchan pada seorang gadis yang sudah duduk di kursi tunggu. Gadis berponi itu menoleh, dan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

 

“Oke, sekarang harap duduk semuanya!” suara seorang gadis tiba-tiba menyeruak, namun bukan bentuk dari kearoganan. Nada suara gadis itu lebih terdengar riang, ditambah lagi dengan senyum yang mengembang di wajahnya yang cantik.

Minchan buru-buru menarik Minhee menuju kursi yang masih kosong, sedangkan Minhee malah memperhatikan senior perempuan itu dengan tatapan yang sedikit tak percaya.

“Oh, itu ‘kan senior yang kemarin memberitahukan letak toilet padaku!” seru Minhee pada Minchan, tepat saat mereka duduk di kursi yang masih kosong.

“Yang mana?” Tanya Minchan sambil ikut mengarahkan tatapannya menuju arah yang ditunjukan Minhee. Di depan sana berdiri dua orang senior yang sepertinya berasal dari fakultas seni, satu orang perempuan dan satu orang laki-laki.

“Yang perempuan,” jawab Minhee dengan nada berbisik.

 

“Mungkin banyak diantara kalian yang belum mengenal siapa aku. Baiklah, perkenalan diri terlebih dahulu. Namaku Sulli Choi, dan aku adalah mahasiswi tingkat akhir dari divisi seni teater.” Ujar senior perempuan itu lalu tersenyum ramah.

“Dan perkenalan juga untuk rekanku yang satu ini. Namanya Jung Hoseok, dia juga mahasiswa tingkat akhir dari divisi seni teater.” Lanjut senior bernama Sulli itu ramah. Sedangkan senior laki-laki bernama Hoseok itu hanya menarik senyumnya sedikit dan membungkuk kecil sebagai tanda penghormatan.

Minhee mengulum senyumnya dalam diam, membenarkan kata-kata Soojeon tempo hari soal keramahan yang akan ditampilkan Sulli pada mereka semua sebagai junior.

 

“Dan untuk dua rekanku yang lain adalah Baek Sumin dan Lee Jihoon. Mereka berasal dari divisi sastra, namun sayang mereka belum bisa hadir di sini sekarang. Bersama dengan kedatangan Dosen Im, mereka akan menyusul ke sini.” Lanjut Sulli.

Selanjutnya Sulli dan Hoseok berjalan menghampiri peserta satu-persatu, dimulai dari ujung depan, mungkin saja mereka mengumpulkan data singkat mengenai nama mereka beserta jurusan dan tingkat mereka. Posisi mereka dengan giliran Minchan dan Minhee masih cukup jauh, sehingga kedua gadis itu masih menyempatkan berbincang sampai tiba giliran mereka didata.

 

“Kau kenal senior Baek Sumin?” bisik Minchan.

“Ya, aku pernah dengar namanya sekali,” sahut Minhee sambil meminum air kemasan yang sudah disediakan.

“Dari mana kau mendengar namanya?” Tanya Minchan lebih lanjut.

Uhm, dari siapa ya…” Minhee mencoba mengingat-ingat. “Oh iya, dari teman sekelas kita, Kim Mingyu.”

“Mingyu?” ulang Minhee setengah tak yakin. “Untuk apa dia membicarakan senior Sumin?”

Minhee mengangkat bahunya. “Entahlah. Aku pernah beberapa kali tak sengaja mendengarkan obrolan para anak lelaki itu soal gadis-gadis yang ada di kampus. Termasuk senior Sumin.”

Minchan mengernyit. “Oh, lalu bagaimana dengan senior Jihoon? Kau mengenalnya?”

Minhee mengangguk lagi kali ini. “Ya, kudengar Eunji menyukainya.”

“Apa?” bisik Minchan kaget. “Eunji? Dia menyukai senior?”

“Entahlah,” lagi-lagi Minhee mengangkat bahunya ragu. “Mungkin saja itu hanya gosip.”

 

“Hai, mahasiswi baru,” sapa seorang gadis yang tiba-tiba suaranya sudah terdengar ada di dekat mereka. Minchan dan Minhee menoleh, lalu sama-sama kaget saat melihat Sulli dan Hoseok sudah sampai di kursi mereka.

Astaga, bagaimana caranya mereka bisa sampai secepat itu?!

 

“Ah, sunbaenim,” sapa Minhee balik sambil merekahkan senyumnya. “Sulli sunbaenim, akhirnya aku tahu namamu,”

Gadis itu terkekeh lalu membetulkan letak papan jalar yang ada dalam dekapannya. “Sudah kuduga aku pasti akan bertemu lagi denganmu, tepatnya di casting hari ini.”

“Oh, namaku Shin Minhee,” sahut Minhee dengan senyum. Hoseok terlihat langsung cepat-cepat menuliskan nama Minhee di papan jalar miliknya. “Aku berasal dari fakultas sastra, semester pertama.”

“Temanmu?” Tanya Sulli sambil melempar senyumnya pada Minchan. “Oh, pasti kemarin inilah temanmu yang sedang butuh toilet itu,”

Hoseok terlihat sedikit bingung dengan pembicaraan antara Sulli dan Minhee, laki-laki itu menurunkan sedikit papan jalar dari wajahnya dan melirik Sulli.

“Namaku Park Minchan,” sahut Minchan. “Aku juga berasal dari fakultas sastra, semester pertama. Aku sekelas dengan Minhee.”

 

Done.” Sahut Hoseok setelah beberapa puluh detik berkutat diatas kertas yang berisi daftar nama itu.

“Baiklah,” ucap Sulli. “Senang bertemu denganmu, Minhee.”

 

Sulli berlalu dan beralih menuju deretan kursi lainnya. Minhee sempat membalas senyum Sulli sebelum gadis itu beranjak, menyisakan Minchan yang merasa sama penasarannya dengan Hoseok melihat bagaimana bisa Sulli dan Minhee berbicara banyak dan akrab seperti tadi.

“Kau mengenal senior itu juga?” Tanya Minchan sambil melirik Minhee.

“Itu senior yang kemarin membantuku,” jawab Minhee sambil meneguk beberapa mili terakhir dari air dalam kemasannya. “Dan kau tahu? Soojeon ternyata mengenal Sulli.”

 

 

 

 

| T B C |

 

 

Halo semuanyaaaaaa ~~~~~

 

Duh, maaf ya di chapter ini gak ada Sehun-nya 😀

Dia belum kabegian adegan nih >.< hohoho

Maaf bagi yang sudah menunggu-nunggu kehadiran dia dari kemaren, maaf buat yang udah kangen sama kisah Sehun-Minhee nyaaa karena aku belum bisa memunculkan kelanjutan cerita mereka lagi (/-\)

Tapi disini ada clue nih soal ulangtahunnya Sehun, jadi bisa dipastikan chapter depan bakal ada sesuatu-nya 😀 hahaha

Kalian mungkin gatau betapa aku gelisah nungguin jadwal chapter 12 posting, hahaha. Aku gak sabar soalnya bakal ada kejutan yang bakal aku bawa di sana >.< tapi lagi-lagi kalian harus bersabar nih, hahaha

 

Dear semua pembacaku,

Aku mau minta maaf yaa kalo misalnya belakangan ini kinerjaku menurun, gak kayak dulu-dulu 😥

Aku selalu ngaret, udah gitu telat ngurusin komenan pula… Entahlah, aku banyak banget ngasih harkos dan ngecewain kalian 😥

Mumpung sekarang lagi Bulan Puasa, aku mau minta maaf juga sama kalian…

Aku minta maaf ya buat segala kinerjaku sebagai penulis, kalau memang ada yang masih kurang memuaskan untuk kalian 🙂

 

Ah, aku gak banyak cuap-cuap kali ini.

Walaupun aku gak sempat membalas semua komenan kalian satu-persatu (tapi sebagian besar aku bales kok), aku pasti baca kok komentar kalian 🙂

Pendapat kalian soal chapter minggu ini aku tunggu selalu yaa ^^

Semoga kalian suka sama persembahan aku di chapter yang ini 😀

Have a nice holidays, guys! 😉

 

[♥] : Kata makasih gak pernah kering aku ucapin ke kalian, para readers kesayangan aku :3

Sampe detik ini komentar masih terus mengalir, dan jumlahnya beneran buat aku terharu… Aku terharu dengan betapa excited-nya kalian sama fic ini… Terimakasih banyak, aku sayang kalian semua deh… Beneran (/-\)

Makasih banyak ya, komentar kalian kemarin-kemarin selalu melebihi harapan aku… Makasih buat semangatnya :3

Pertahankan terus ya jumlah komentar kalian, supaya gembok bala aku gak nemplok di chapter selanjutnya 😀 mihihi ~

 

 

shineshen

 .

 .

Let’s meet our new cast!

.

Here it Sulli Choi, the 21 y.o girl who had an unfinished affair with Soojeon.

 choijinri-1

.

Here it Jung Hoseok, the 21 y.o boy who became Sulli’s closest friend after her vacillation.

 BmhL0FbCMAAOUkE.jpg large-1

617 thoughts on “Secret Darling | 11th Chapter

  1. Mantap! Unyu deh ceritanya >_<
    Maaf ya admin aku komennya setiap empat chapter sekali soalnya aku penasaraaaaaan kkk~ /deep bow/
    Gak apa apa kok sehunnya jarang ditampilin kalo alur ceritanya bagus kayak gini kkk~
    betewe, aku baru follow eonni di twitter, mau kuliah ya eon? Fighting deh! ^^

    • Iya, gapapa kok. Aku ngga akan menekan kamu buat komen di chapter mana pun yang kamu mau 🙂
      Just enjoy do read my story ^^

      Haha, sebenernya aku udah kuliah sih. Tapi bukan kuliah reguler 🙂

      Anyway kamu ngga perlu manggil aku ‘eonni’ ya. Panggil aja Kak Shen, gapapa kok 🙂

  2. hmm.. apa terjadi di masa lalu kai, soojeon, dan krystal?
    aku suka Bibi Seo.. Dia kayak ibu buat Minhee. hehehe~ malah Minhee kayak yang lebih nyaman sama Bibi Seo daripada ibunya sendiri.

    ff ini di setiap chapternya ada aja yang bikin beda dan penasaran.. hm. sekarang aku penasaran sama kai nih

  3. Ping-balik: Secret Darling | 29th Chapter [Ending Page] – Shen's Fictionary

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s