Secret Darling | 12th Chapter

secret-darling

:: SECRET DARLING | 12th Chapter ::

.

.

.

Author : shineshen

Cast : Sehun | OC(s) | etc.

Genre : Marriage Life | Romance | Friendship

Rating : Teen

.

Poster by chocolatesoda © Café Poster Art ^^

.

Summary :

Shin Minhee adalah gadis berusia 18 tahun yang terjebak pernikahan konyol dengan seorang laki-laki berusia 21 tahun. Hanya karena kesalahpahaman yang menjebak mereka selama satu malam di Pulau Jeju.

 

Link to previous : Teaser | 1st Chapter | 2nd Chapter | 3rd Chapter | 4th Chapter | 5th Chapter | 6th Chapter | 7th Chapter | 8th Chapter | 9th Chapter | 10th Chapter | Kai’s Side Story | 11th Chapter

.

“Mungkin banyak diantara kalian yang belum mengenal siapa aku. Baiklah, perkenalan diri terlebih dahulu. Namaku Sulli Choi, dan aku adalah mahasiswi tingkat akhir dari divisi seni teater.” Ujar senior perempuan itu lalu tersenyum ramah.

“Dan perkenalan juga untuk rekanku yang satu ini. Namanya Jung Hoseok, dia juga mahasiswa tingkat akhir dari divisi seni teater.” Lanjut senior bernama Sulli itu ramah. Sedangkan senior laki-laki bernama Hoseok itu hanya menarik senyumnya sedikit dan membungkuk kecil sebagai tanda penghormatan.

Minhee mengulum senyumnya dalam diam, membenarkan kata-kata Soojeon tempo hari soal keramahan yang akan ditampilkan Sulli pada mereka semua sebagai junior.

“Dan untuk dua rekanku yang lain adalah Baek Sumin dan Lee Jihoon. Mereka berasal dari divisi sastra, namun sayang mereka belum bisa hadir di sini sekarang. Bersama dengan kedatangan Dosen Im, mereka akan menyusul ke sini.” Lanjut Sulli.

Selanjutnya Sulli dan Hoseok berjalan menghampiri peserta satu-persatu, dimulai dari ujung depan, mungkin saja mereka mengumpulkan data singkat mengenai nama mereka beserta jurusan dan tingkat mereka. Posisi mereka dengan giliran Minchan dan Minhee masih cukup jauh, sehingga kedua gadis itu masih menyempatkan berbincang sampai tiba giliran mereka didata.

“Kau kenal senior Baek Sumin?” bisik Minchan.

“Ya, aku pernah dengar namanya sekali,” sahut Minhee sambil meminum air kemasan yang sudah disediakan.

“Dari mana kau mendengar namanya?” Tanya Minchan lebih lanjut.

“Uhm, dari siapa ya…” Minhee mencoba mengingat-ingat. “Oh iya, dari teman sekelas kita, Kim Mingyu.”

“Mingyu?” ulang Minhee setengah tak yakin. “Untuk apa dia membicarakan senior Sumin?”

Minhee mengangkat bahunya. “Entahlah. Aku pernah beberapa kali tak sengaja mendengarkan obrolan para anak lelaki itu soal gadis-gadis yang ada di kampus. Termasuk senior Sumin.”

Minchan mengernyit. “Oh, lalu bagaimana dengan senior Jihoon? Kau mengenalnya?”

Minhee mengangguk lagi kali ini. “Ya, kudengar Eunji menyukainya.”

“Apa?” bisik Minchan kaget. “Eunji? Dia menyukai senior?”

“Entahlah,” lagi-lagi Minhee mengangkat bahunya ragu. “Mungkin saja itu hanya gosip.”

“Hai, mahasiswi baru,” sapa seorang gadis yang tiba-tiba suaranya sudah terdengar ada di dekat mereka. Minchan dan Minhee menoleh, lalu sama-sama kaget saat melihat Sulli dan Hoseok sudah sampai di kursi mereka.

Astaga, bagaimana caranya mereka bisa sampai secepat itu?!

“Ah, sunbaenim,” sapa Minhee balik sambil merekahkan senyumnya. “Sulli sunbaenim, akhirnya aku tahu namamu,”

Gadis itu terkekeh lalu membetulkan letak papan jalar yang ada dalam dekapannya. “Sudah kuduga aku pasti akan bertemu lagi denganmu, tepatnya di casting hari ini.”

“Oh, namaku Shin Minhee,” sahut Minhee dengan senyum. Hoseok terlihat langsung cepat-cepat menuliskan nama Minhee di papan jalar miliknya. “Aku berasal dari fakultas sastra, semester pertama.”

“Temanmu?” Tanya Sulli sambil melempar senyumnya pada Minchan. “Oh, pasti kemarin inilah temanmu yang sedang butuh toilet itu,”

Hoseok terlihat sedikit bingung dengan pembicaraan antara Sulli dan Minhee, laki-laki itu menurunkan sedikit papan jalar dari wajahnya dan melirik Sulli.

“Namaku Park Minchan,” sahut Minchan. “Aku juga berasal dari fakultas sastra, semester pertama. Aku sekelas dengan Minhee.”

“Done.” Sahut Hoseok setelah beberapa puluh detik berkutat diatas kertas yang berisi daftar nama itu.

“Baiklah,” ucap Sulli. “Senang bertemu denganmu, Minhee.”

Sulli berlalu dan beralih menuju deretan kursi lainnya. Minhee sempat membalas senyum Sulli sebelum gadis itu beranjak, menyisakan Minchan yang merasa sama penasarannya dengan Hoseok melihat bagaimana bisa Sulli dan Minhee berbicara banyak dan akrab seperti tadi.

“Kau mengenal senior itu juga?” Tanya Minchan sambil melirik Minhee.

“Itu senior yang kemarin membantuku,” jawab Minhee sambil meneguk beberapa mili terakhir dari air dalam kemasannya. “Dan kau tahu? Soojeon ternyata mengenal Sulli.”

 

 

.

.

| 12th Chapter |

.

.

 

Casting hari ini memakan waktu yang cukup lama. Pukul 4 sore semua peserta selesai menjalani casting, dan para senior mengungumkan bahwa daftar pemeran yang diterima akan diberitahukan besok. Minhee pulang bersama Minchan, namun sayang karena arah hunian mereka yang tak lagi searah, mereka harus berpisah saat Minchan berganti rute bus.

Minhee tiba di apartemennya, dan suasana yang sepi langsung menyambutnya kala ia membuka pintu. Pintu sudah dalam keadaan yang tak terkunci, jadi bisa dipastikan jika Sehun sudah sampai terlebih dahulu di sana. Hanya saja Minhee tak tahu pasti dimana keberadaan laki-laki itu. Mungkin saja sedang di kamarnya sendirian atau di kamar mandi. Minhee terlalu lelah untuk mencari tahu. Satu-satunya hal yang ada di pikirannya saat ini adalah cepat-cepat membersihkan diri, makan malam, lalu melanjutkan rajutannya yang belum selesai.

 

Setelah selesai membersihkan diri, Minhee keluar kamar kembali. Suasana masih sama, sepi. Minhee sedikit mendengus kecewa dan melangkahkan kakinya menuju dapur. Beberapa perkakas dapur yang kotor teronggok di dalam bak cuci piring, mungkin Sehun baru saja memasak ramyun instan sendiri saat Minhee masih di kamar tadi. Minhee merasa bersalah juga karena hubungan mereka tak kunjung pulih seperti sedia kala, bahkan di hari menjelang ulangtahun Sehun.

Baiklah, mereka memang sudah satu meja makan lagi setiap pagi. Namun, masih tak ada tegur sapa antara mereka sampai detik ini. Suasana masih menghambar, dan jauh dalam lubuk hatinya Minhee sangat membenci suasana seperti ini. Mempertengkarkan berbagai hal tidak penting bersama Sehun akan jauh lebih menyenangkan, meskipun selalu Minhee yang merasa kesal setengah mati karena terlalu mengambil hati.

Minhee merindukan itu semua. Tapi apakah ia mampu mengatakan semua kerinduan konyolnya itu langsung pada Sehun?

 

Malam ini Minhee memasak ramyun untuk dirinya sendiri. Menghabiskannya sendiri sambil duduk di atas kursi makan. Walau tak bisa dipungkiri beberapa kali matanya melirik ke arah pintu kamar Sehun yang tertutup rapat. Minhee kecewa, dan ia sedikit kesal dengan dirinya sendiri.

Kesal dengan Jungkook juga mungkin?

Mengapa laki-laki itu menitipkan buku untuk Minhee lewat tangan Sehun? Padahal seharusnya ia tahu, sejak awal Sehun sudah tak bersikap ramah padanya. Sehun sudah terang-terangan menunjukan rasa ketidaksukaannya saat pertama kali melihat Minhee ada di dekat Jungkook, tapi Jungkook tidak peka merasakan itu semua sebagai bentuk ketidakwajaran.

Tak bisakah Jungkook menyerahkannya langsung saja pada Minhee? Jika ia tak berhasil menemui Minhee di kampus, setidaknya apakah ia tak bisa menunggu hari esok sampai ia benar-benar menyerahkan buku itu langsung ke tangan Minhee?

 

Selesai membersihkan semua peralatan dapur dan menatanya kembali di atas rak, Minhee kembali ke kamarnya sendiri. Di dalam sana Minhee melanjutkan rajutannya, dengan teliti dan tulus menyelesaikan baris demi baris benang sampai terajut sempurna membentuk sebuah syal yang hangat. Kata-kata Bibi Seo tempo hari masih diingatnya dengan baik, tanpa cacat sedikitpun, seakan menjadi bahan bakarnya agar terus semangat menyelesaikan rajutan itu tepat di hari ulangtahun Sehun.

Dan tepat ketika jam menunjukan tengah malam, Minhee baru memejamkan matanya dengan tangan yang masih menggenggam rajutan setengah jadi yang sedang ia rapikan jalinan demi jalinan benangnya.

 

***

 

“Sudah siapkah kau mendengar pengumuman hari ini?” Tanya Minchan dengan mata berbinar-binar. Minhee melirik Minchan setengah malas lalu mengangkat bahunya.

“Entahlah, Minchan. Jujur aku lebih semangat mempersiapkan kejutan ulangtahun Sehun oppa nanti malam, daripada harus mendengar pengumuman itu sekarang. Membuang waktu.” Jawab Minhee malas-malas.

Aish, jangan berkata seperti itu,” sahut Minchan sambil menyikut pelan lengan Minhee. “Kemarin kau sepertinya berakting secara total, kuyakin mereka tertarik dengan bakatmu. Bagaimana jika kau yang mendapatkan peran utama itu?”

“Sudahlah, banyak yang jauh lebih cantik dan berbakat daripada aku,” sahut Minhee balik. “Contohnya… Melanie? Sepertinya ia bersemangat sekali, kan?”

“Kau selalu pesimis,” dengus Minchan gemas.

“Aku bukannya pesimis, tapi aku betul-betul tak niat kali ini.” Koreksi Minhee datar.

“Lalu bagaimana kalau benar-benar yang terpilih nanti? Kau harus menerima peran itu, Minhee. Ingat, ini acara kampus. Tidak pantas jika kau menolaknya.” Ujar Minchan.

 

Beruntunglah, kali ini pengumuman diadakan di aula gedung fakultas sastra sehingga mereka berdua tidak perlu jauh-jauh lagi menempuh perjalanan bermandikan panas matahari menuju gedung fakultas seni yang berjarak sekitar 200 meter dari gedung fakultas mereka.

Ketika tiba di depan pintu aula yang belum terbuka, sudah ada beberapa mahasiswa dan mahasiswi lain yang berkumpul di sana. Banyak diantara mereka yang berbicara secara berkelompok, namun tentu saja membicarakan hal dengan tema yang sama yaitu siapa saja pemeran yang terpilih nanti. Banyak diantara mereka yang menebak-nebak dan saling menyebutkan nama-nama yang menurut mereka pantas menjadi kandidat.

 

Tak lama kemudian, segerombolan mahasiswi dari fakultas seni terlihat datang. Di antara mereka, terlihat sosok Sulli dan Hoseok yang kini sudah bersama rekan mereka yang lain yaitu Sumin dan Jihoon. Jihoon yang sudah memegang kunci segera membuka pintu ruangan aula, sehingga para junior bisa segera masuk untuk mendengar pengumuman penting yang dibawa mereka. Setidaknya penting menurut mereka semua, kecuali Minhee yang melangkah malas menuju ruang aula dengan dorongan Minchan.

“Selamat siang, semuanya!” sapa Sulli ramah seperti biasa, lalu menyerahkan laptop yang sejak tadi dipegangnya pada Hoseok. Hoseok kemudian menghubungkan laptop itu pada proyektor yang akan memancarkan hologram pada slide putih besar di depan sana.

“Yap, sesuai dengan infromasi yang kemarin diberitahukan, hari ini adalah pengumuman untuk daftar nama pemeran yang diterima. Keputusan ini atas dasar godokan para panitia, dewan juri, serta dosen penganggung jawab acara. Diharapkan keputusan yang kami umumkan nanti tidak menimbulkan kerusuhan apapun, dan jika ada pertanyaan kami membuka kesempatan. Tapi harap diingat, oke? Kami menerima pertanyaan, bukan protes.” Kali ini senior Sumin yang memberikan celotehan panjang lebar. Minhee rasa mereka sengaja menyuruh senior Sumin yang berwajah dingin untuk memberitahukan bagian yang ini, sebab supaya para junior dapat mengingatnya baik-baik. Melihat dari ekspresi wajahnya saja, Minhee langsung teringat pada Dosen Jung.

Apakah Sumin akan seperti Dosen Jung saat dewasa nanti? Entahlah.

 

Layar slide putih itu tak lama kemudian berganti memantulkan hologram dengan latar yang berbeda. Deretan nama terlihat disana, dengan dua kolom yang dipisahkan oleh garis hitam tebal. Kolom pertama untuk nama mahasiswa dan mahasiswi yang terpilih, serta kolom kedua untuk daftar peran yang mereka dapatkan beserta keterangan singkat mengenai karakter itu sendiri.

Minhee memilih untuk tidak memperhatikannya, terlalu banyak kepala yang menghalanginya. Orang-orang lain yang duduk di kursi depannya memilih untuk berdiri, meneliti satu demi satu apakah nama mereka tercantum atau tidak. Font tulisan yang digunakan terlalu kecil, sebab dipaksakan untuk memuat semua daftar pemeran dalam satu slide. Seruan-seruan mulai terdengar, membuat Minhee semakin tidak berminat.

 

“Astaga, Minhee! Astaga!!” seru Minchan tiba-tiba setelah sejak tadi ikut berebut berdiri untuk mengungguli kepala orang lain yang ada di depannya.

Minchan turun dari kursinya dan mengguncang-guncang kedua bahu Minhee dengan heboh, membuat Minhee lagi-lagi terganggu dengan reaksi Minchan yang seperti itu.

“Ada apa, huh?” Tanya Minhee dengan nada terganggu.

“Astaga, Minhee! Kau mendapatkan peran utama!” Minchan nyaris berteriak.

Minhee membelalakan matanya. “APA?!”

“Dan kau… Dan kau…” ucapan Minchan terbata-bata. “Dan kau… Kau berpasangan dengan Jungkook!”

“ASTAGA!” seru Minhee seketika. Gadis itu kontan berdiri dan naik ke atas kursinya untuk melihat kebenaran yang dikatakan Minchan.

Ternyata Minchan benar, gadis itu tidak berbohong sebab nama Minhee benar-benar tercantum di sana sebagai pemeran utama wanita dan otomatis berpasangan dengan Jungkook yang mendapatkan bagian pemeran utama pria.

Kaki Minhee melemas, dan gadis itu buru-buru turun dari kursi sebelum ia benar-benar merosot konyol dari atas kursi itu.

 

“Bagaimana menurutmu? Tebakanku benar, kan?” cerocos Minchan. “Dan kau akan berpasangan dengan Jungkook! Oke, aku sedikit kesal di sana. Kau perlu tahu, aku masih tak suka dengannya.”

“Bagaimana aku mengatakannya pada Sehun oppa?” cicit Minhee kecil dengan wajah yang pias. “Sehun oppa harus tahu aku terpilih untuk drama ini, tapi bagaimana caranya aku memberitahu jika Jungkook berpasangan denganku?! Nanti malam pesta kejutan ulangtahunnya, dan aku tak mau merusak itu dengan kabar ini.”

Minchan mengacak poninya sendiri sama frustasinya. “Entahlah.”

“Aku tidak peduli dengan ini semua!” seru Minhee tiba-tiba setelah cukup lama terdiam dengan raut kosong. Namun beruntunglah karena suasana yang ramai akibat banyak orang yang berbicara, tak ada yang mendengar itu selain Minchan. Minchan menolehkan kepalanya menatap Minhee bingung.

“Apa maksudmu?”

“Aku akan pergi,” sahut Minhee sambil berdiri dari kursinya lalu mencoba menyelinap pergi keluar ruangan aula.

“Hei, kau mau kemana?” tahan Minchan. “Bagaimana jika nanti semua orang mencarimu? Dosen Im dan semua senior itu mencarimu? Kau adalah pemeran utama, Minhee!”

“Aku tidak peduli,” sahut Minhee sambil tetap memaksa pergi. “Besok hari ulangtahun Sehun oppa, dan aku tidak boleh mengacaukannya.”

 

 

Tidak ada seorangpun yang tahu kemana Minhee pergi, termasuk Minchan sekalipun. Minhee berhasil menyelinap keluar dari ruangan aula itu, lalu pergi keluar dari area kampus. Minhee tak bisa pergi ke toko rajut Bibi Seo hari ini, ia terlalu banyak urusan dan semua itu harus selesai sebelum malam menjelang. Masih banyak yang harus ia persiapkan. Ia belum membeli kue dan lilin, bahkan rajutannya sebagai hadiah dari ulangtahun belum selesai. Persentase selesai tinggal sedikit lagi, dan Minhee harus segera menyelesaikan itu semua di rumah nanti beserta dengan persiapan lainnya.

 

Di bus, Minhee mencoba mengingat toko kue langganan ibunya sejak lama. Namun sialnya Minhee hanya samar mampu mengingat jalan menuju toko itu, sebab sudah lama sekali Minhee tidak ikut menemani ibunya pergi ke sana. Minhee hanya masih ingat namanya.

Ya, beruntung Minhee masih mengingat nama toko kue itu. Ahreum Bakery, terletak di barat daya kawasan Myeongdong yang tak terlalu jauh dari toko rajut Bibi Seo.

Minhee mencoba meraba-raba lokasi setelah turun dari bus. Ia mengingat beberapa toko patokan yang masih sempat diingatnya, mulai dari toko pakaian anak-anak, kedai makanan Spanyol, sampai pedagang kaki lima penjual tteokboki yang sejak dulu jadi langganannya.

Dan beruntunglah, setelah cukup lama berputar-putar, Minhee menemukan toko itu. Senyumnya merekah lega saat ia mulai melangkahkan kakinya memasuki pintu berlonceng Ahreum Bakery, mengabaikan deringan ponsel yang berbunyi lirih diantara tumpukan kertas kuliahnya.

 

 

Saenggil chukkaehamnidaSaenggil chukkaehamnida…” Minhee bersenandung kecil saat menata beberapa barang di atas meja makan. Ada beberapa stoples berisi camilan, serta sepiring pasta yang dimasaknya sendiri. Uhm, tidak benar-benar hasil racikan tangannya jika boleh jujur. Minhee menyempatkan diri mampir ke minimarket sebentar tadi, membeli camilan dan bahan pasta beserta saus instannya. Beruntunglah Minhee tiba di apartemen tepat waktu, sebelum Sehun pulang. Entahlah, sepertinya Sehun mulai sering pulang terlambat beberapa hari ini. Mungkin sibuk menyusun skripsi dan mengadakan diskusi dengan teman-temannya yang lain? Minhee kurang paham dengan hal itu. Sehun selalu menganggapnya anak kecil yang masih belum mengerti apa-apa soal skripsi dan materi kuliah. Jadi Sehun tak pernah membicarakan persoalan kuliahnya pada Minhee, berbeda dengan Minhee yang terkadang bercerita pada Sehun tentang berbagai hal sepele yang terjadi di kelasnya walaupun tak peduli Sehun mendengarkannya atau tidak.

Minhee melirik jarum panjang jam yang ada di dinding ruang makan, menghela napas saat pukul delapan Sehun belum juga pulang ke apartemen.

Minhee melangkahkan kakinya menuju dapur untuk membuang semua bekas kemasan makanan ringan, dan juga mengecek keadaan kue ulangtahun yang ia simpan di lemari pembeku. Kue cokelat itu tampak begitu lezat. Minhee sendiri bahkan tak sabar untuk segera menikmatinya, sebab ia sudah tahu pasti bagaimana kelezatan kue cokelat racikan Ahreum Bakery yang selalu jadi langganan ibunya.

Minhee baru saja menutup pintu lemari pembeku saat tiba-tiba suara dering ponselnya memecah keheningan yang bertahan sedari tadi. Minhee berjalan menghampiri ponselnya yang ia letakkan diatas meja makan. Ia berharap itu panggilan dari Sehun, namun ternyata bukan. Tak ada nama yang tercantum di sana, hanya sebaris nomor yang tak dikenal. Minhee mengerutkan keningnya, namun mau tak mau menjawab panggilan itu.

 

“Halo?”

 

Mine,” balas suara di seberang telepon. Minhee mengerutkan keningnya semakin dalam, mencoba mengingat suara yang terdengar familiar itu.

 

“Siapa di sana?” Tanya Minhee, merasa buntu dengan ingatannya.

 

Ini aku,” sahut laki-laki itu sambil terkekeh kecil. “Kookie.”

 

“Kookie?!” seru Minhee terkejut. “Apa yang kau lakukan? Darimana kau mengetahui nomor ponselku?!”

 

Eunji.” Jawab Kookie—Jungkook—sambil tertawa ringan. “Jangan salahkan dia, oke? Aku yang memaksanya memberitahuku nomor ponselmu.”

 

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Minhee buru-buru. “Eoh, maksudku, ada keperluan apa kau menghubungiku?”

 

Kau tidak datang ke acara pengumuman pemeran drama yang terpilih tadi siang?” Tanya Jungkook. “Kami semua tidak ada yang berhasil menemukanmu. Kau belum tahu jika kau yang terplilih menjadi pemeran utama wanita?”

 

“Tadi siang aku ada urusan mendadak,” Minhee beralasan. “Aku tidak bisa datang ke sana. Namun soal peran itu… Uhm, Minchan sudah mengabarkannya padaku tadi sore.”

 

Oh, kau sudah tahu?” Jungkook bertanya ulang. “Syukurlah. Dan soal pemeran utama pria—“

 

“Aku juga sudah tahu,” potong Minhee. “Kau, kan?”

 

Oh, kau sudah tahu juga,” kekeh Jungkook dengan nada yang sedikit salah tingkah. “Jadi soal naskah… Apa kau sudah mengetahui itu juga?”

 

“Apa? Naskah apa?” ulang Minhee bingung.

 

Ya, naskah drama. Skenario milikmu.” Jawab Jungkook. “Oh, pasti kau belum tahu bagian yang ini. Mungkin Minchan tak menghadiri pertemuan selanjutnya setelah acara di aula itu, sebab yang diizinkan datang ke pertemuan selanjutnya hanyalah para pemeran yang terpilih.”

 

“Oh,” sahut Minhee kecil. “Lalu… Naskah? Maksudku, skenario. Apa sudah diberitahukan kembali?”

 

Naskahmu ada padaku,” jawab Jungkook.

 

Minhee membulatkan matanya, dan beruntung percakapan ini mereka lakukan lewat media telepon, sehingga Jungkook tak bisa melihat bagaimana ekspresi Minhee sekarang.

Oh, what? Naskah Minhee ada di tangan Jungkook sekarang?!

 

Minhee, bisakah kau menemuiku malam ini?” Tanya Jungkook langsung pada tujuannya semula. Minhee membulatkan matanya lagi, lalu dengan cepat melirik jam dinding yang ada di ruangan itu.

 

“Hah?” reaksi Minhee spontan. “Bukankah sudah terlalu malam? Aku takut, uhm, aku takut orangtuaku akan melarangku keluar dan bertanya yang macam-macam padaku.”

 

Baiklah, bagaimana jika aku yang ke rumahmu saja?” tawar Jungkook. Minhee nyaris mengiyakan tawaran itu, namun pikirannya segera sadar.

Oh, bukankah sekarang ia tidak tinggal di rumah orangtuanya lagi? Bagaimana jika Jungkook yang tidak tahu apa-apa malah datang ke rumah orangtua Minhee? Baiklah, mungkin keluarga Minhee akan memberikan alamat apartemen Minhee yang baru pada Jungkook dan Jungkook akan langsung datang ke sana. Namun apa jadinya jika Sehun pulang saat Jungkook sedang bertamu ke apartemen milik mereka?!

Apa Minhee mengharapkan ada perang dunia yang terjadi di malam ulangtahun Sehun?!

Oh, hell no!

 

No!” seru Minhee spontan, lalu setelah tersedar ia cepat-cepat menutup mulutnya sendiri. “Oh, maaf, Jungkook. Maksudku bukan itu,”

 

Jungkook tertawa garing di seberang telepon, mungkin merasa sedikit aneh dengan sikap Minhee selama sambungan telepon ini.

Uhm, baiklah.”

 

“Haruskah kita bertemu malam ini juga? Tidak bisakah kau memberikan naskah itu padaku besok saja di kampus?” Tanya Minhee.

 

Maaf, Minhee. Tapi Sulli sunbae menyuruh kita langsung mulai berlatih besok, jadi malam ini setidaknya para pemeran sudah sedikit mempelajari bagaimana cara memerankan karakter mereka masing-masing.” Jelas Jungkook. “Uhm, kau keberatan, ya?”

 

Uhm, jujur…” Minhee menggumam. “Iya.”

 

Terdengar helaan napas Jungkook di seberang sana, membuat Minhee sedikit tak enak hati. Seharusnya sebagai pemeran utama ia tak boleh banyak menuntut, apalagi ia hanyalah mahasiswi divisi sastra yang segala sesuatunya diurusi oleh senior divisi seni teater selama proyek drama ini berlangsung.

 

Uhm, baiklah, aku akan datang. Dimana kita akan bertemu?”

 

 

Minhee menghela napas panjang terus-menerus, selama langkahnya menempuh jarak menuju kedai kopi yang jaraknya hanya tinggal beberapa puluh meter lagi itu. Bahkan plangnya sudah terlihat di depan sana. Minhee mengeratkan pelukannya pada sweater yang membalut tubuhnya, merasa gelisah sekaligus berdebar disaat yang sama. Bukan orientasi akan pertemuannya dengan Jungkook yang membuatnya berdebar, sekarang ini otaknya justru sedang sibuk berpikir apakah Sehun sudah pulang atau belum. Jika ia pulang sekarang dan menemukan apartemen kosong tanpa kehadiran Minhee, laki-laki itu pasti akan kecewa. Malam ini adalah malam menuju ulangtahunnya, dan pasti ia mengharapkan Minhee tahu itu sehingga bisa mempersiapkan kejutan ulangtahun yang manis untuknya.

Ada perasaan bersalah yang berdesir dalam hati Minhee. Segala persiapan yang telah ia sibuk lakukan sejak siang tadi seakan percuma. Percuma karena ia telah berlomba dengan waktu, percuma karena ia telah mati-matian menyelesaikan rajutan untuk Sehun hanya dalam waktu tiga hari sambil terus mengingat petuah Bibi Seo tentang ketulusan yang disimpan selama merajut syal untuk orang yang dikasihi. Karena setelah semua itu siap dan segala kejutan manis itu tinggal selangkah di depan mata, justru ada kenyataan lain yang menghadangnya. Semua lepas dari kewajiban tunggalnya sebagai istri yang berusaha menyiapkan kejutan manis di ulangtahun suaminya, karena sebagai mahasiswi biasa ia juga memiliki tugas lain untuk mempersembahkan karya bagi kampusnya.

 

Minhee sudah tiba di kedai kopi itu. Kedai kopi dengan aroma yang manis dan desain vintage kental di setiap inci interiornya. Kedai kopi dengan suasana tenang yang menyenangkan, walaupun mata tak bisa mengabaikan banyak pelanggan yang sedang menghabiskan waktunya di sini.

Sosok laki-laki bersurai hitam yang duduk di kursi paling pojok menjadi objek yang dicari Minhee dalam kedai ini. Minhee segera melangkah menghampiri laki-laki itu, berusaha agar tetap beretika sopan dan ramah meskipun ia sedang terburu-buru mengejar waktu kepulangan Sehun ke apartemen.

 

“Jungkook,” panggil Minhee saat ia sudah berjarak beberapa meter saja dari lelaki itu. Lelaki itu menoleh untuk menemui wajah Minhee, lalu tersenyum sebagai bentuk penyambutannya untuk pertemuan mereka lagi.

“Hai, duduklah sebentar, Mine.” Sahut Jungkook sambil menunjuk kursi busa lain yang masih kosong.

Minhee menggeleng, lalu mengadahkan tangannya langsung. “Boleh kuminta naskahku sekarang?”

Jungkook mengerutkan keningnya sambil tetap mempertahan senyumnya. “Kau buru-buru? Bukankah besok kita tidak ada jadwal kelas selain latihan itu?”

“Oh, please, Jungkook. Aku tidak bisa pulang terlalu malam,” pinta Minhee. “Naskahku, aku mohon.”

“Kupikir kau masih Shin Minhee yang menyenangkan,” Jungkook mengeluh sedih.

Minhee memutar matanya, lalu dengan terpaksa duduk di kursi kosong itu sesuai permintaan Jungkook. Jungkook mengulas senyumnya kembali saat melihat Minhee duduk disana.

“Oke, kau mau pesan apa?” Tanya Jungkook riang.

Minhee memutar matanya lagi. “Jungkook, please.”

Moccachino?” tawar Jungkook dengan tangan yang mengacung untuk memanggil pelayan.

“Oh, kau lupa aku benci kopi?” rengut Minhee.

“Baiklah, mint tea.” Sahut Jungkook tepat saat pelayan itu tiba di meja mereka. “Dan machiatto.”

Pelayan segera mencatat pesanan itu lalu meninta mereka menunggu sebentar hingga pesanan diantar ke meja mereka.

Minhee mengeluh dan mengacak rambutnya frustasi, lalu ia menatap sebal pada Jungkook yang malah sedang memandanginya dengan senyum lebar.

 

“Jadi… Kita kencan?” goda Jungkook.

“Kencan apa maksudmu?” balas Minhee sebal. “Kau menjebakku. Kau menyebalkan, Jungkook.”

“Aku hanya ingin bernostalgia sebentar denganmu, Mine. Aku bahkan baru saja kembali dari Amerika setelah nyaris sebelas tahun tak bertemu denganmu. Apa kau tidak merindukanku?” celoteh Jungkook. “Oh, kau bahkan mengingkari kata-katamu. Kau bilang kau juga merindukanku, lalu ingin bercerita banyak padaku tentang hal yang sudah terjadi selama aku pergi. Sejak kapan kau jadi pengingkar seperti ini, Mine?”

“Ini situasi yang sudah berbeda, oke?” tandas Minhee dengan nada yang tidak sabar.

“Apa? Apanya yang berbeda?” sambar Jungkook. “Apa kau sudah memiliki pacar, sehingga kau sebut jika semuanya sudah ada dalam kondisi yang berbeda sekarang?”

Minhee terkesiap saat Jungkook menuduhnya sudah memiliki pacar. Bukan, Jungkook. Tepatnya bukan pacar. Sahabat masa kecil yang ada di hadapanmu ini sudah memiliki suami. Dengar? SUAMI.

 

“Kau tidak mengerti apapun, Jungkook.” Keluh Minhee lelah. Gadis itu kembali melirik jam tangannya yang menunjukan detik demi detik, mendekat pada waktu malam.

“Kalau begitu, ceritakan semuanya. Buatlah aku supaya mengerti.” Sahut Jungkook. Tepat setelah ia berkata seperti itu, dua pesanan milik mereka datang. Mint tea dan machiatto dalam cangkir putih dengan uap hangat yang masih mengepul dari permukaannya.

Minhee menundukkan kepalanya, menyembuyikan jemarinya yang memilin ujung sweater-nya dengan gelisah.

“Jungkook, aku mohon.” Pinta Minhee dengan suara kecil. “Aku tidak bisa berlama-lama disini. Tolong hargai permintaanku.”

Jungkook menatap kedua iris Minhee dengan lekat. Masih seperti bertahun-tahun yang lalu, iris itu masih menggunakan bahasa yang sama. Tak perlu berbicara ataupun menunggu Minhee berbohong, Jungkook sudah mengerti benar apa yang Minhee inginkan lewat bahasa yang ia cerna dalam tatapan itu.

Dan untuk malam ini Minhee tak berbohong. Gadis itu sungguh tak bisa berlama-lama menghabiskan waktu bersama Jungkook di kedai ini. Gadis itu tidak menginginkannya seperti Jungkook menginginkannya. Gadis itu menginginkan sesuatu yang lain, bukan waktu yang akan dihabiskannya bersama Jungkook.

 

Jungkook mengehela napas berat lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam mantelnya. Tumpukan kertas yang sudah dijilid rapi, dengan keterangan besar pada sampulnya jika naskah itu milik sang pemeran utama.

“Ini milikmu.”

Minhee menerima naskah itu dari tangan Jungkook lalu memunculkan senyumnya. Jungkook membalas senyum itu, baginya mungkin sudah cukup melegakan bisa menerima senyum itu lagi. Namun ia tak bisa melupakan rasa kecewanya karena mengerti bahwa bukan dirinya yang gadis itu inginkan.

“Terimakasih banyak, Jungkook.” Sahut Minhee sambil tersenyum manis pada Jungkook. Jungkook membalas senyum itu, sedangkan bagi Minhee sendiri sudah cukup melegakan saat melihat Jungkook mau membalas senyumnya. Jungkook masih sama seperti masa lalu, Jungkook yang akan selalu mengatakan ‘iya’ dan luluh pada setiap hal yang Minhee inginkan.

“Baiklah, sekarang kau mau pulang?” Tanya Jungkook dengan nada kecewa yang tak bisa ditutupi. Minhee tersenyum lagi, lalu menggeleng. Gadis itu meraih cangkir putih yang masih mengepulkan aroma mint yang menguar dari minuman miliknya.

 

“Sebagai rasa terimakasihku, akan menemanimu sebentar sampai teh ini habis, oke?”

 

 

Minhee sampai kembali di apartemennya saat jam nyaris menunjukan pukul sepuluh malam. Minhee mengeluh keras, lalu cepat-cepat berjalan menuju pintu apartemennya. Minhee menyentuh kenop pintu dan akhirnya kecewa secara total saat menemukan bahwa pintu itu tak lagi dalam keadaan terkunci.

 

Minhee mendorong pintu sampai membuka, dan suasana hening lagi-lagi menyambutnya. Minhee cepat-cepat menutup pintu itu kembali, lalu berjalan memasuki apartemennya lebih dalam. Keadaan apartemen itu saat ditinggalkannya dua jam lalu dengan sekarang tak berbeda. Barang-barang di atas meja makan bahkan masih belum berpindah satu inci-pun. Masih ada beberapa stoples camilan yang tadi lupa Minhee sembuyikan dalam laci dapur, dan ternyata stoples itu masih terjaga isinya tetap utuh. Minhee mengerutkan keningnya, lalu mendekatkan langkahnya pada meja makan.

Saat itulah ia tersadar, ada seseorang yang tertidur di atas sofa. Pemandangan itu seakan membawa memori lama Minhee saat tragedi Pulau Jeju dan bulan madu mereka di hotel. Ia kembali melihat saat laki-laki itu tertidur di atas sofa. Terlihat begitu menyedihkan, dan rasa bersalah terasa sangat sulit Minhee telan bulat-bulat kali ini.

Sehun tertidur diatas sofa, tanpa selembar selimutpun yang melindunginya dari hawa dingin. Baiklah, Minhee memang tahu Sehun membenci hawa panas dan tidak terlalu tertarik tidur menggunakan selimut. Tapi kali ini situasinya berbeda. Sehun tidak tidur di dalam kamar, ia tidur di ruang tamu.

 

Minhee melangkah menuju kamar Sehun dan mengambil bed cover dari dalam sana. Sehun sudah menggunakan bantal sofa sebagai pengganjal tidurnya, dan lagipula Minhee tak mungkin mengganggu tidur Sehun hanya untuk sekedar menggantikan bantal yang mengganjal kepala Sehun. Suaminya terlihat begitu lelah, dan Minhee sungguh tidak tega mengusik tidur Sehun hanya untuk sebuah ucapan selamat ulangtahun.

Dengan lembut Minhee menyelimutkan bed cover itu ke atas tubuh Sehun sampai sebatas dagu. Minhee tersenyum tipis memandangi wajah Sehun sebelum akhirnya melangkah menuju dapur untuk mengambil air minum dari dalam kulkas.

Minhee menghela napasnya, merasa bersalah melihat Sehun tidur di sofa sekaligus bertanya-tanya apa alasan laki-laki itu memilih untuk tidur di sana.

 

Minhee bermaksud meraih handle pintu kulkas saat matanya malah tak sengaja menatap lembaran sticky notes tanpa perekat yang sengaja ditempel menggunakan magnet di sana. Minhee terpekur saat membaca deretan tulisan itu.

 

 

Mencoba mempersiapkan kejutan ulangtahun untukku, sayang?

 

***

 

Pagi menjelang, dan alarm ponsel Sehun melakukan tugasnya seperti biasa. Alarm yang disetel dalam ponsel itu berdering, membangunkan Sehun yang masih terlelap di bawah bed cover tebal yang menyelimutinya.

Sehun mencoba mengerjapkan matanya yang masih terasa lengket, serta merasakan ngilu yang luar biasa saat memaksakan diri untuk bergerak dari posisinya semula. Seluruh tubuhnya serasa remuk, namun anehnya ia tak merasa menyesal mengapa semalam lebih memilih menunggu Minhee pulang sampai akhirnya jatuh tertidur di sofa sebelum sempat melihat wajah istrinya itu.

Minhee. Sehun seketika teringat pada gadis itu dan bangkit untuk melihat apakah ia sudah pulang.

 

Sehun menguak sedikit pintu kamar Minhee, dan melihat gadis itu masih tertidur pulas di atas tempat tidurnya. Gadis itu juga tampak kelelahan, entah semalam ia pergi kemana sampai bisa pulang selarut itu.

Sehun mendekati Minhee dan terkekeh kecil saat melihat bagaimana wajah Minhee saat tertidur. Sebenarnya ingin rasanya ia mencubit pipi Minhee kanan-kiri sebagai rasa terimakasih karena sudah mempersiapkan kejutan ulangtahun untuknya, namun ia sadar hal itu tentu saja akan membangunkan Minhee seketika.

Sehun sudah menyadari semua rencana kejutan yang akan diberikan Minhee untuknya. Semalam ia pulang terlambat karena urusan kampus, dan terkejut saat menemukan kue ulangtahun dalam lemari pembeku. Namun ia sedikit kecewa karena Minhee tak berada di apartemen. Gadis itu pergi entah kemana tanpa memberitahu Sehun lewat pesan singkat. Lalu Sehun memutuskan menunggu kepulangan gadis itu, namun kenyataannya ia malah jatuh tertidur lebih awal.

Payahnya mereka baru bertemu pagi ini, tepat di hari ulangtahun Sehun.

 

Sehun memutuskan untuk tidak membangunkan Minhee. Sesungguhnya Sehun tidak tahu apakah Minhee ada jadwal kuliah hari ini atau tidak. Ia hanya tidak ingin mengganggu istirahat Minhee. Maka laki-laki itu segera keluar lagi dari kamar Minhee, membiarkan Minhee masih terlelap di alam bawah sadarnya sementara Sehun memulai rutinitasnya sebagai mahasiswa tingkat akhir di kampusnya.

 

 

Dua jam setelah Sehun meninggalkan apartemen untuk mengikuti jadwal kuliahnya seperti biasa, alarm di ponsel Minhee baru berbunyi. Beserta sebuah nada lain, yaitu nada tanda ada pesan singkat yang masuk.

Minhee yang sebenarnya sudah mulai mengumpulkan kesadarannya sejak lima menit yang lalu, pada akhirnya terpaksa bangun dari tidurnya dan mengecek notifikasi yang tampil di layar ponselnya. Sebuah pesan singkat dari Jungkook menjadi pesan pertama yang tiba di ponselnya pagi ini, pesan yang berbunyi supaya Minhee tidak terlambat datang pada latihan perdana tim drama mereka pukul sepuluh nanti.

Minhee mengeluh sedikit, lalu menghempaskan ponselnya begitu saja ke atas tumpukan bantal sementara ia bangkit menuju kamar mandi.

 

Hari ini ia memang sedang tidak ada jadwal kuliah, dan seharusnya ia tak datang ke kampus hari ini. Namun latihan drama yang sial itu mengusik semua rencana istirahatnya, mengingat ia pemeran utama maka mau tak mau ia harus datang.

Sial, mengapa harus ia yang ditakdirkan terpilih sebagai pemeran utama wanita dan berpasangan dengan Jungkook?! Jelas-jelas Minhee bahkan tak pernah berdoa agar mendapatkan itu semua.

 

Selesai dengan penampilannya untuk ke kampus hari ini, Minhee keluar dari kamarnya. Suasana sepi lagi-lagi menyambutnya, dan kini Minhee baru menyadari bahwa ia benar-benar merindukan Sehun. Pasti sekarang Sehun sudah berada di kampusnya, sedangkan Minhee sendiri masih di apartemen dan baru akan mengoleskan roti untuk sarapannya.

Oh, bukankah hari ini Sehun ulangtahun? Dan sebentar lagi Minhee akan menyusulnya datang ke kampus? Bagaimana kalau Minhee sekalian membawa serta hadiahnya, jadi ia bisa memberikannya pada Sehun tepat waktu?

Ide bagus!

 

Minhee segera melesat masuk ke kamarnya dan mempersiapkan hadiah untuk Sehun dalam sebuah paper bag kecil.

Senyum gadis itu terus mengembang sembari ia mempersiapkan semuanya. Ia tak sabar untuk segera memberikan hadiah itu pada Sehun. Hadiah yang merupakan hasil perjuangannya sendiri, dan seperti yang Bibi Seo bilang—semoga tanpa Minhee mengucapkannya, Sehun akan mengerti tentang cinta yang Minhee simpan selama ia merajut helai demi helai benang berwarna putih itu sampai terajut sempurna membetuk sebuah syal.

 

Dan Minhee tak muluk-muluk berharap bahwa Sehun akan memberikannya satu pelukan sebagai rasa terimakasih.

 

 

Latihan drama hari ini baru akan dimulai pukul sepuluh nanti, dan Minhee sudah meminta pada Eunji agar memberitahunya jika latihan sudah dimulai. Sekarang Minhee sengaja datang di waktu yang lebih awal. Ia memanfaatkan waktu itu untuk datang ke gedung fakultas Sehun dan mencari laki-laki itu.

Namun seharusnya Minhee tahu jika itu sama sekali bukanlah hal yang mudah. Ruangan di gedung itu terlalu banyak, dan Minhee tidak mungkin memeriksanya satu persatu hanya untuk mencari dimana keberadaan Sehun. Sedangkan di sisi lain, ia tak mungkin menelepon Sehun untuk menanyakan dimana keberadaannya. Jika itu yang terjadi, kejutan macam apa itu?!

 

Minhee mulai kelelahan dan memilih untuk beristirahat sebentar di salah satu tempat duduk yang berjajar di sepanjang koridor. Beruntung itu bukan lokasi yang terlalu ramai, jadi Minhee tak perlu menerima tatapan ingin tahu dari pada seniornya yang sedang berlalu-lalang.

Gadis itu duduk sambil mendekap paper bag-nya, melihat ke sekeliling andai saja tiba-tiba ia melihat sosok Sehun melintas tak jauh dari sana.

 

“Minhee-ya, apa yang sedang kau lakukan di sini?” suara seorang senior tiba-tiba mengagetkannya. Minhee mendongak dan menemukan Sulli sedang menatapnya ramah.

Minhee berdiri dari duduknya dan tersenyum membalas sapaan Sulli. “Oh, aku sedang mencari seseorang, sunbaenim.”

“Seseorang?” ulang Sulli sambil memiringkan kepalanya bingung. “Siapa? Mungkin aku bisa membantumu,”

Uhm…” Minhee menggumam ragu-ragu. Bisa saja Sulli membantunya mencari keberadaan Sehun. Siapa tahu Sulli juga mengenalnya dan kebetulan sedang tahu dimana keberadaan Sehun sekarang, tapi… Apakah harus Minhee menyebutkan nama Sehun di depan Sulli?

Bagaimana jika nanti Sulli malah menanyakan apa hubungan Minhee dengan Sehun, sampai-sampai Minhee harus mencarinya kemana-mana?

 

“Aku—aku sedang mencari…” kata-kata gagap Minhee terputus saat ia melihat siluet seseorang yang memang sedang dicarinya melintas di koridor seberang, tepat di balik punggung Sulli. Ya, itu Sehun. Sehun yang sedang berjalan sendirian, sambil sibuk menyusun beberapa berkas yang ada di tangannya. Ia kelihatan sibuk, ya sibuk. Wajar karena ia sedang menjalani tingkat terakhirnya di kampus ini.

Mulut Minhee baru saja akan memanggil nama Sehun, saat tiba-tiba ia mengurungkan niat tepat ketika ada seorang gadis yang memasangkan sebuah snapback ke atas kepala Sehun sambil merangkulnya akrab dari belakang. Sehun menghentikan langkahnya kaget dan segera membalik tubuh untuk tahu siapa orang yang telah mendatanginya secara tiba-tiba itu.

 

Mulut Minhee terkunci secara otomatis. Lidahnya kelu dan bahkan untuk mengucapkan satu seruan terkejutpun ia tak mampu. Kakinya melemas dan bahunya mulai gemetar, hatinya sakit sekaligus sesak saat melihat laki-laki yang selama ini dicintainya dipeluk oleh gadis lain seperti itu.

Minhee merasa seluruh tubuhnya mati rasa, syaraf matanya kaku dan tak bisa memindahkan arah pandangnya meskipun matanya sudah memanas.

 

“Minhee, ada apa?” Tanya Sulli sedikit cemas saat Minhee tiba-tiba saja terdiam seperti patung. Sulli mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah Minhee, namun tak ada reaksi berarti dari gadis itu. Sulli mengerutkan keningnya menyadari tatapan Minhee yang terpaku pada satu arah. Namun sebelum mencari tahu apa yang terjadi, Sulli mengguncang lembut bahu Minhee guna mengembalikan kembali kesadaran gadis junior yang ada di hadapannya itu.

“Minhee!” seru Sulli kecil. Minhee mengerjapkan matanya, dan memandang Sulli. Gadis itu mencoba tersenyum di hadapan Sulli, meskipun hatinya semakin perih melihat pemandangan yang ada di balik punggung Sulli.

Sulli mengerutkan keningnya saat melihat cara tersenyum Minhee yang berubah. Sebagai mahasiswi seni teater, Sulli bisa merasakan jelas perubahan emosi Minhee yang tanpa dibuat-buat.

“Kau…”

“Maaf, aku harus pergi, sunbaenim.” Potong Minhee sambil menundukkan sejenak kepalanya ke bawah, berusaha menyembunyikan airmata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.

 

Sulli tak bisa berkata apa-apa saat Minhee melangkah begitu saja meninggalkannya sambil menundukkan kepala. Sulli tak bisa berhenti mengerutkan keningnya, merasa janggal atas perubahan emosi Minhee yang tiba-tiba.

Sulli segera ingat dengan jawaban yang harus ia cari tahu. Pasti kunci dari perubahan emosi Minhee ada di sana, sebab mengingat tatapan Minhee yang terpaku pada satu arah tadi.

Sulli segera membalikkan tubuhnya untuk mencari tahu apa jawaban itu, dan disanalah ia menemukannya. Mulut Sulli membundar kecil, ia sedikit kaget dengan kenyataan bahwa kedua orang itu sudah bertemu kembali. Namun ada kenyataan kecil lain yang lebih membuatnya terkejut dalam lubuk hatinya, yaitu bilamana ia mengingat perubahan emosi Minhee yang pasti dikarenakan kehadiran kedua orang itu di balik punggung Sulli.

Apakah ada kenyataan yang Minhee sembunyikan selama ini?

 

“Oh,” sahut Sulli kecil dan pelan. “Jung Daeun sudah kembali rupanya.”

 

 

 

 

| T B C |

 

 

Halo semuanyaaaaaa ~~~~~

 

Huahahahahaha… Akhirnya aku lega juga di chapter ini😀😀😀

Eh, ada yang ngeh ngga? Ada cast baru lho😀

Ayo perhatikan nama terakhir yang disebut Sulli unnie di atas ~

 

Jung Daeun.

Jung Daeun?

Siapa Jung Daeun? Hahhahaaha😀

Ih, masa kalian gatau sih siapa dia ~~

Kalo kalian sering mantengin gosipannya anak EXO nih, pasti tahu deh siapa Daeun unnie itu >.<

Ayo coba sini siapa aja yang masih inget siapa Daeun unnie?

Kalo yang ngga tahu siapa dia…. Hm, browsing aja ya😀 #jahat

Engga ding. Bukannya apa-apa aku ngga mau kasitau siapa itu Daeun unnie… Aku gamau potek ah😛 soalnya nanti kalo aku ngejelasin siapa dia, pasti aku potek ‘-‘

Pokoknya kalo penasaran siapa Daeun unnie itu, ketik keyword ‘Jung Daeun’ aja di Google. Ntar result-nya pasti banyak ‘-‘ hahahaha

 

Disini ngga ada adegan romantis kan, ya? Ada sih, tapi secuil… Pasti ngga puas😛 hahaha

Maksud aku kejutan di chapter ini itu ya kemunculannya Daeun unnie, bukannya yang apa-apa😀 hahaha. Bukan harkos lho ini😐

Dan yaa yang seperti kalian tahu, kemunculan Daeun unnie ini akan mengawali konflik kita yang sebenarnya ~ So, prepare yourself! Hahahaha😀

 

Ah, aku gak banyak cuap-cuap kali ini.

Pendapat kalian soal chapter minggu ini aku tunggu selalu yaa ^^

Semoga kalian suka sama persembahan aku di chapter yang ini😀

Have a nice last holiday week, guys!😉

 

[♥] : Kata makasih gak pernah kering aku ucapin ke kalian, para readers kesayangan aku :3

Sampe detik ini komentar masih terus mengalir, dan jumlahnya beneran buat aku terharu… Aku terharu dengan betapa excited-nya kalian sama fic ini… Terimakasih banyak, aku sayang kalian semua deh… Beneran (/-\)

Makasih banyak ya, komentar kalian kemarin-kemarin selalu melebihi harapan aku… Makasih buat semangatnya :3

Pertahankan terus ya jumlah komentar kalian, supaya gembok bala aku gak nemplok di chapter selanjutnya😀 mihihi ~

 

 

shineshen

 

 

 

Let’s meet our new cast!

.

Here it Jung Daeun, the 21 y.o girl who became Sehun’s something on his past >.<

what a pretty unnie, I can’t >.< 😥

 BYRusbMCAAAQyED.jpg large

/sebenernya aku agak gak rela nulis deskripsi tokoh begitu buat Daeun unnie, hahaha/

/aku potek, lol/

 .

Daaaannnn…. Ini bonus buat kalian yang udah nemu siapa itu Daeun unnie, HAHAHAHA.

 250

/aku berasa paparazzi, lol/

/potek/  /bye/

640 thoughts on “Secret Darling | 12th Chapter

  1. hadeuuuh….baper abssss…
    demi apa,nyesek bgt bcanya…
    keren bgt ff ny bs bkin emosi naek -turun!!daebak,auhtornim..^^

  2. Daeun? muncul lagi deh tokoh pho buat hbngan sehun ma minhee, daeun itu eonninya jungkook yg waktu itu pernah jungkook blg ke sehun ma minhee? tau dehh… next kakk

  3. Wah wah wah nah ini yang aku tunggu tunggu, pemeran pho cewek!
    Soalnya aku lebih seneng liat cewek yang cemburu sih daripada cowok kkk~
    Oke chapter ini mulai panas dan aku mulai gak sabar klik chap selanjutnyaaaaa ><

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s