[CHAPTERED] Mr. Friday Part 7

Mr Friday 4 copy

Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6

Tittle  : Mr. Friday

Author  : Sehunblackpearl

Main Cast  :

–  Park Bo Ram (OC)

–  Oh Sehun (EXO)

Supported Cast :

–  Kim Jong In (EXO)

–  Lee Hye Ju (OC)

Genre  : Romance, schoollife, absurd, garing

Rated  : PG-15 (kissing scene)

Summary  : Bo Ram memergoki perselingkuhan Hye Ju dan Jong In. Sekarang dia mengerti selama ini dia dan Sehun dipermainkan oleh kedua orang itu. Yang dia tidak mengerti, kenapa sekarang dia berada di tepian sungai Han berdua dengan Sehun,dengan empat kaleng bir menemani mereka, padahal dia berpikir bahwa itu bukan ide bagus. Hanya ada mereka berdua, di tempat yang luas ini, ditemani angin malam yang asik menggelitik kulit. Yeaaaah, sepertinya ini memang bukan ide bagus.

Disclaimer  : plot dan isi cerita milik saya. Sehun suami saya. Other cast milik SME dan Tuhan.

A/N: Sorry for the very extremely supeeeer late update. Saya betul-betul minta maaf dari hati yang paling paling paliiiiing dalam. /deep bow/ Walaupun author sendiri sedikit (sangat)ragu kalau masih ada yang nunggu bahkan masih ingat epep ini T.T

Author janji, selanjutnya bakal rajin update. Author janji dan gak bakal ngingkarin janji ini. Jadi pliiis para reader, dorawa. Dorawa dorawa Dasi dorawa Dorawa Dorawa. *kemudian nyanyi* Dorawa jebaaaaaal /\ Bacalah kembali ff abal ini T.T

Oke, sebelum saya jadi terkesan lebih hopeless lagi, selamat membaca aja deh bagi yang masih membaca epep ini, walaupun sepertinya sudah tidak ada *pundung di pojokan* Cuap-cuap author di akhir cerita dan author bakal jelasin kenapa author menghilang selama ini (tapi kalau ada yang mau tahu dan kalau masih ada yang ingat dan mau baca ff ini :”) *pundung lagi*

Happy Reading. No BASH. No SIDERS. No Plagiator. ^o^

^^Mr. Friday^^

Sehun mengerutkan keningnya saat dilihatnya Bo Ram berjalan ke arahnya dengan kemarahan tergambar jelas di wajahnya. Apa yang terjadi dengannya ya? Tanya Sehun dalam hati menyaksikan perubahan sikap gadis itu dengan sebelum dia pergi ke toilet tadi.

Sehun baru membuka mulutnya hendak menyapa Bo Ram dan menanyakan apa yang terjadi tapi raut wajah Bo Ram yang jauh dari defenisi kalem dan tidak terlihat seperti dapat diajak bicara dengan baik membuatnya mengurungkan niatnya dan memilih mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ditambah lagi, Bo Ram yang tanpa sepatah kata pun terucap dari bibirnya, langsung menarik Sehun dari tempat duduknya, membuat Sehun terlonjak kaget dan hampir terjatuh tapi dia berhasil menahan keseimbangannya dan berusaha mengimbangi langkah cepat Bo Ram.

“Yaak, Bo Ram. Apa-apaan kau? Kenapa menarikku seperti ini?” Sehun berusaha bertanya sambil tetap membiarkan Bo Ram menyeret tubuhnya keluar dari bar itu.

Bo Ram hanya diam. Tetap menarik lengan Sehun tanpa menoleh sedikitpun padanya. Dia memilih berpura-pura tidak mendengar pertanyaan Sehun. Rasanya otaknya sudah sangat penuh selama beberapa minggu terakhir ini. Terimakasih pada Sehun, Hye Ju dan juga Kim Jong In yang sudah berhasil mengacaukan pikirannya. Sekarang Bo Ram betul-betul tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Dia bahkan tidak yakin apakah tindakannya dengan menyeret Sehun keluar bar seperti ini dan meninggalkan dua orang yang tadi dilihatnya berciuman di dekat toilet itu, adalah tindakan yang tepat.

“Yaa, Park Bo Ram. Berhenti. Kau ini kenapa sih?” Sehun berhenti melangkah begitu mereka sudah keluar dari bangunan yang mereka masuki berempat tadi. Dengan sekali hentakan, dia berhasil melepaskan lengannya dari Bo Ram. Dan gadis itu akhirnya berhenti menyeret Sehun. Dia berbalik dan berhadapan dengan Sehun yang setengah berdiri dan meletakkan tangannya di atas lututnya dan berusaha mengatur nafasnya seolah-olah dia habis lari marathon sejauh 500 meter atau semacamnya. Bo Ram masih tetap hanya diam dan menatap sosok pria di hadapannya.

“Kau ini kenapa sih?” Sehun melontarkan pertanyaan yang sama sekali lagi setelah dia dapat mengatur pernafasannya senormal mungkin. “Tiba-tiba saja..”

“Apa sebaiknya kita kembali ke dalam lagi?” Bo Ram langsung memotong perkataan Sehun dan di balas dengan kerutan di kening oleh Sehun. Sehun memandang Bo Ram tak percaya, bertanya-tanya sebenarnya apa yang ada di pikiran gadis itu? Sebentar mukanya terlihat sangat marah, sampai Sehun ketakutan dan berharap dalam hatinya bahwa bukan padanya kemarahan itu ditujukan oleh gadis itu. Dan sekarang wajahnya sudah sangat tenang hampir tidak menunjukkan emosi sedikitpun. Tadi dia menyeret paksa Sehun keluar dan sekarang dia mengajaknya kembali ke dalam. Betul-betul gadis yang rumit.

“Aku tidak mengerti kau.” Ujar Sehun akhirnya, meletakkan sebelah tangannya di pinggangnya.

“Kurasa tidak baik meninggalkan mereka berdua di dalam sana begitu saja.”

“Kalau begitu dari awal jangan menarik orang begitu saja.” Ujar Sehun sedikit frustasi. Dia kemudian mengacak rambut Bo Ram.

“Yak, untuk apa itu?” Bo Ram menarik kepalanya menjauh dari tangan Sehun dan mencibirkan bibirnya sembari membetulkan poninya yang menjadi tidak jelas bentuknya gara-gara Sehun. Sehun hanya tertawa ringan dan tidak merasa dirinya telah bersalah sedikitpun dengan apa yang dilakukannya pada Bo Ram.

“Tapi… berhubung kita sudah terlanjur keluar begini,” kata Sehun lagi angkat bicara. “Sekalian saja kita pergi.” Dia menarik lengan Bo Ram dan membawanya menjauh dari bangunan bar itu.

“Bagaimana dengan Hye Ju dan Jong In oppa?” protes Bo Ram, tapi dia tetap mengikuti tarikan Sehun tanpa perlawanan sedikitpun.

“Biarkan saja.”

Sejak Bo Ram tau kalau Sehun memiliki dua kekasih tapi masih tertarik dengan dirinya, dia pun tau kalau bukan ide bagus jika terlalu sering berhubungan dengan tetanga playboy nya itu. Yang tidak Bo Ram tau saat ini adalah alasan apa yang telah dia berikan kepada otaknya sendiri tadi sehingga dia bisa berakhir di tepian sungai Han bersama Sehun sekarang. Dengan motor Sehun mereka biarkan diparkir sekitar dua ratus meter dari mereka dan keduanya duduk menatap pemandangan yang ditawarkan Sungai yang sangat terkenal di Seoul itu, dengan dua kaleng bir yang masih utuh diletakkan di antara mereka berdua, dan sekaleng bir mereka genggam di tangan masing-masing.

Bo Ram tidak tahu harus mengatakan apa. Setelah dari bar tadi, Sehun menyuruhnya mematikan ponselnya dan membawanya berjalan ke rumah Chanyeol yang berjarak sekitar sepuluh menit berjalan kaki dari bar tadi. Karena alasan tertentu yang tak mau Sehun jelaskan sama sekali, motornya tadi sore sengaja ia parkir di rumah pria tinggi itu. Dia hanya tersenyum dan mengatakan untunglah dia memarkirnya tadi si situ. Kemudian Sehun mengajaknya ke pantai yang ditanggapi Bo Ram dengan ‘pantai mana yang akan kita datangi malam-malam begini dan memangnya menurutmu berapa jam kita akan sampai ke sana lalu berapa jam lagi kita akan kembali. Kau pikir ibuku tidak akan membunuhku jika dia tau aku pergi denganmu dan pulang setelah pagi hari dan ponselku kumatikan semalaman hah?’ Pada akhirnya Sehun setuju bahwa pergi ke pantai memang bukan ide yang bagus dan akhirnya dia hanya menyuruh Bo Ram langsung naik ke atas motornya dan memutar gas motornya dan membawa mereka ke tepian sungai Han setelah mampir sebentar ke toko kelontong di dekat rumah Chanyeol untuk membeli empat kaleng bir untuk mereka berdua.

Maka di sinlah mereka sekarang. Duduk berdua tanpa sepatah kata pun sejak mereka sampai dan duduk di tepian sungai yang katanya romantis itu. Tapi mereka, jauh dari kata romantis. Yang mereka lakukan hanya duduk dan meneguk bir dari kaleng yang mereka pegang masing-masing.

Bo Ram diam-diam memikirkan tentang kejadian tadi. Dia sangat marah dan kesal. Bukan hanya pada Jong In yang berselingkuh dengan Hye Ju dan Hye Ju yang jelas-jelas telah mempermainkan perasaannya juga memperdaya dia dan Sehun. Mereka berdua tentulah adalah aktor dan aktris yang pantas mendapatkan Oscar. Mana mungkin dia akan pernah menyangkan ternyata Hye Ju dan Jong In melakukan permainan yang jauh lebih kotor dari dia dan Sehun kalau dia tidak memergoki mereka berdua secara langsung tadi. Tapi dia juga kesal dengan Sehun dan dirinya sendiri. Kalau begini rasanya mereka berdualah yang menjadi korban dalam permainan ini. Dan mereka berdua begitu bodoh mengikuti alur permainan HyeJu dan Jong In. Bo Ram betul-betul geram dibuatnya.

“Memikirkan apa sih dari tadi?” Sehun menempelkan kaleng birnya ke pipi Bo Ram memberikan sensasi dingin pada yang empunya dan membuat Bo Ram mengalihkan pandangannya pada Sehun. “Aku berharap kau tidak terlalu menyulitkan dirimu dengan segala sesuatu.” ujar Sehun lagi, kemudian menyesap bir dari kalengnya. Tatapannya jauh pada Sungai Han yang dingin. Bo Ram hanya memandanginya. “Apa yang kau lihat hari ini…. itu sudah berlangsung sejak lama.”

“Kau tahu?” Bo Ram terkesiap. Dia bertanya hampir tergagap.

Sehun hanya tersenyum getir dan melemparkan batu ke arah sungai Han dengan tangan kirinya. “Sangat jelas. Kurasa hanya itu yang dapat membuat wajahmu menjadi seseram tadi begitu kembali dari toilet.”

“Kau sudah tahu selama ini dan kau diam saja?” tanya Bo Ram tak percaya. Dia memilih mengabaikan pernyataan Sehun tentang wajah seramnya.

“Memangnya apa lagi yang harus kukatakan?”

“Bukankah dia, Hye Ju marah saat memergoki kita?” ujar Bo Ram sedikit meninggikan volume suaranya. Sehun malah terkekeh.

“Ya, begitulah dia.”

“Tapi…..”

“Ssshhh…” Segala kata-kata yang hendak diucapkannya ditelan Bo Ram kembali saat Sehun yang mencondongkan badannya ke arah Bo Ram meletakkan jari telunjuknya tepat di depan bibir Bo Ram dan pria itu memandang tepat ke matanya. “Jangan susahkan dirimu dengan memikirkan mereka.”

Bo Ram membatu, kehilangan kemampuan berbicaranya selama sepersekian detik sebelum ia menepis telunjuk sehun dari bibirnya. Dia kembali merasakan panas yang akhir-akhir ini sering hinggap di wajahnya tiap berdua dengan pria tinggi itu dan paru-parunya rasanya seakan kehabisan pasokan oksigen didalamnya, membuat dadanya sesak. Sehun adalah yang terbaik dalam hal membuat wajah Bo Ram panas dan membuatnya susah bernafas. Bo Ram sendiri tidak dapat mengendalikannya.

Bo Ram berdiri, meletakkan kaleng bir di samping kaleng-kaleng yang tadi memisahkan dia dan Sehun. Dia mencoba menutupi kegugupannya serta wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus dengan menghindari tatapan Sehun yang dia tahu pasti sangat tidak baik bukan hanya untuk wajah dan paru-parunya tapi juga terutama untuk jantungnya. Maka ia berdiri di tepian sungai Han, ragu untuk sesaat akan apa yang hendak dilakukannya. Akhirnya dia memutuskan untuk melepaskan seluruh rasa kesalnya terhadap Lee Hye Ju dan Kim Jong In demi memuaskan batinnya.

“Aaaaaakkkkkhhh!!!!” Baik Bo Ram maupun Sehun sama-sama terkejut dengan kuatnya intensitas teriakan Bo Ram yang ditujukannya ke sungai Han. “Yaaakkkk!! Lee Hye Ju! Kim Jong In! Kalian pikir kalian itu siapa hah????? Mempermainkan orang seenaknya begini. Apa yang sebenarnya kalian berdua inginkan???” teriak Bo Ram sekuat yang ia mampu kepada udara dingin yang menyelimuti tepian Sungai Han. Dia tidak tahu apa yang mendorongnya untuk berteriak seperti itu, dia hanya merasa ingin melakukannya, maka dia melakukannya. Melepas segala kekesalannya kepada orang yang selama ini ia anggap sahabat. Sekarang dia tidak pasti lagi dengan apa sahabat itu sebenarnya. Apakah ada sahabat seperti Lee Hye Ju itu?

Bo Ram melanjutkan teriakannya selama hampir lima menit kemudian sebelum dia kembali duduk di samping Sehun yang sedari tadi hanya duduk minum bir dari kalengnya yang kedua dan menontonnya meneriaki udara kosong.

“Apa kau lega?” tanya Sehun pada Bo Ram yang wajahnya masih terlihat sangat merah. Entah karena kekesalannya atau karena efek teriakannya atau karena udara dingin. Bo Ram hanya diam, tidak merepotkan dirinya menjawab pertanyaan Sehun dan membuka kaleng birnya yang kedua, meminumnya begitu saja secara sembarangan sehingga menumpahkan sebagian isinya.

“Rasanya…. mengesalkan sekali.” Akhirnya Bo Ram membuka mulutnya. Sehun kembali mengalihkan pandangannya dari Sungai Han kepada gadis itu. “Apa yang sudah kulakukan sampai mengalami hal seperti ini?” Menghela nafas. “Maksudku, kenapa aku harus bertemu denganmu waktu itu dan memberi nama Mr. Friday lalu menyukaimu, dan kau pindah ke sebelah rumahku lalu kita melakukan ini dan itu dan aku semakin jatuh cinta padamu tapi juga aku kencan dengan Jong In oppa dan kau juga dengan sahabatku atau yang dulunya sahabatku Hye Ju dan kebetulan saja atau mungkin bukan kebetulan ternyata dia berselingkuh dengan Jong In oppa. Kenapa aku harus mengalami ini?” Bo Ram menghela nafas berat. Sehun masih hanya menatapnya. Sedikit bertanya dalam hatinya mengenai nama Mr. Friday yang baru kali ini didengarnya tapi dia menyimpannya dulu untuk ditanyakan nanti saja. Dia lebih peduli dengan kenyataan Bo Ram mengatakan bahwa ia menyukai Sehun dan memberi garis bawah yang sangat tebal pada kata-kata Bo Ram tadi “aku semakin jatuh cinta padamu”. Senyum bahagia merekah di wajah ganteng Sehun.

“Bukannya sudah kubilang tak usah pedulikan mereka?” ujar Sehun.

“Ya, tapi… aku tidak bisa tidak memikirkannya. Aku benci mereka yang seenaknya mempermainkan kita. Aku juga benci kau yang membuat aku merasa begini. Dan aku benci diriku sendiri yang mudah saja diperlakukan seperti ini oleh kalian bertiga.” Kali ini Bo Ram yang melempar batu ke arah sungai Han dan dia mendengus kesal.

“Memangnya aku membuatmu merasa bagaimana?” tanya Sehun tenang.

“Yaaaa, begini. Kau membuatku kehilangan kewarasanku.” Bo Ram meletakkan dagunya di atas lututnya dan menggenggam tangannya yang memegang botol dengan tangannya yang bebas.

“Tapi aku tidak merasa sudah melakukan apa-apa padamu.”

Bo Ram hanya diam, memilih mengabaikan kata-kata Sehun barusan. Dia tetap dalam posisi yang sebelumnya, hanya sedikit menggoyang-goyangkan kaleng birnya. Tatapannya dipakukan ke kaleng bir itu seolah itu adalah hal paling menarik untuk dilihat. Mereka berdua hening, tidak ada yang berbicara. Bo Ram sibuk dengan pemikirannya sendiri dan mengabaikan Sehun.

“Hei, apa aku boleh bertanya?” Bo Ram tiba-tiba mengangkat kepalanya dan menghadap Sehun seolah baru mendapatkan satu ide.

“Tentang apa?” Sehun yang cukup terkejut dengan perubahan mood gadis di hadapannya itu balik bertanya.

“Apa kau… menyukai Hye Ju?” tanya Bo Ram sedikit ragu.

Sehun tersenyum kecut lalu mengalihkan pandangannya dari Bo Ram ke arah sungai Han sekali lagi. “Entahlah.” Lalu ia meneguk habis seluruh birnya.

“Entahlah?”

“Aku tidak menyukainya seperti aku menyukaimu.” Katanya kali ini sambil melempar kaleng birnya jauh.

“Maksud…”

Belum sempat Bo Ram menyelesaikan kalimatnya, Bo Ram merasakan badannya terdorong ke belakang dan tangannya ditekan keras ke tanah menyebabkan birnya tumpah. Dan tanpa memberi kesempatan bagi otak Bo Ram untuk mencerna apa yang sedang terjadi, dilihatnya Sehun sudah berada di atas tubuhnya dengan tangannya menahan kedua pergelangan tangan Bo Ram ke tanah.

“Daripada memikirkan itu…..” ujar Sehun setengah berbisik. “Bagaimana kalau malam ini kita tidak usah pulang saja?”

“Yaak, apa maksudmu? Kau kira apa yang sedang kau lakukan hah?” Bo Ram berusaha duduk kembali dan membebaskan tangannya dari cengkraman Sehun tapi Sehun jauh lebih kuat dan bahkan untuk menggerakkan tangannya sedikitpun, dia tidak bisa.

“Aku sedang menahanmu di atas tanah.” Jawab Sehun. Ia semakin mendekatkan wajahnya pada Bo Ram. “Apa pendapatmu? Apa kita tidak usah pulang saja?” Bo Ram tidak berani menghembuskan nafasnya karena wajah Sehun yang terlalu dekat, untuk menarik nafas pun dia tidak berani. Dadanya jadi sesak.

“Yak, apa kau mabuk?” ujar Bo Ram akhirnya. “Singkirkan tubuhmu dari atasku.”

“Kenapa harus?”

“Dasar bodoh. Lepaskan aku. Kau tidak sedang berpikir jernih Sehun. Kau mabuk.” Bo Ram tetap berusaha melawan kekuatan Sehun yang terlalu besar untuk diatasinya sendiri.

“Siapa bilang aku mabuk? Aku sadar. Sangat sadar. Dan kenapa kau tidak memanggilku oppa hah?” Sehun semakin mendekatkan wajahnya pada Bo Ram, mencoba menciumnya tapi gadis itu memalingkan wajahnya dan menghindari ciuman Sehun.

“Aku mau pulang.” Ujarnya seolah pada udara kosong. Dia menolak melihat bahkan melirik Sehun sedikitpun.

Sehun menatap Bo Ram tertegun. “Kenapa menghindar?”

“Kubilang aku mau pulang. Aku tidak mau beurusan dengan pria mabuk sepertimu.”

“Aku tidak mabuk.” Sehun sedikit melepaskan cengkramannya di tangan Bo Ram dan beralih menyentuh wajah gadis itu. “Sudah kukatakan aku sadar. Dua kaleng bir seperti itu tidak akan membuatku mabuk.”

“Kalau memang tidak mabuk, lalu kenapa kau bersikap aneh seperti ini?” bentak Bo Ram pada Sehun dan ia menyingkirkan tangan Sehun yang menangkup wajahnya. Sekali lagi, Sehun terdiam dan terpana menatapnya. Pria itu menundukkan kepalanya.

“Maaf.” Ucapnya lirih. “Kau benar. Aku tidak berpikir dengan jernih.” Sehun mengangkat kepalanya dan tersenyum pada Bo Ram. “Maaf. Tidak usah kau pikirkan.” Dan dia menyingkir dari atas tubuh Bo Ram. Kembali duduk tegak di samping Bo Ram.

Bo Ram juga mendudukkan dirinya sendiri dan mengelus kedua pergelangan tangannya yang merah karena cengkraman Sehun tadi secara bergantian. Dan dia meniup-niup tangannya untuk menghilangkan panas akibat cengkraman yang tidak main-main tadi. Sehun hanya diam. Begitu juga Bo Ram. Beberapa menit mereka habiskan hanya duduk tanpa satu pun berbicara sama sekali. Bo Ram merasa sedikit canggung dengan Sehun yang tiba-tiba pendiam seperti ini. Suasana begitu hening dan terlalu diam. Hanya hembusan angin yang menerbangkan rambutnya dan menggelitik kulitnya. Sangat aneh rasanya jika Sehun tidak berbicara ataupun menyentuhnya sama sekali.

“Oppa…” ujarnya memecah keheningan. “aku….”

“Ini sudah terlalu malam. Ayo kita pulang.” Sehun tiba-tiba berdiri. Ia menepuk-nepuk pantatnya mengusir debu yang hinggap begitu banyak di bagian belakang celananya. Kemudian berlalu meninggalkan Bo Ram.

Bo Ram sedikit tertegun dengan kelakuan tiba-tiba Sehun. Ada apa dengannya? Tadi dia diam saja sekarang tiba-tiba berdiri dan mengatakan mau pulang. Dia bahkan langsung pergi tanpa basa-basi atau membantu Bo Ram berdiri. Bo Ram bangkit dari duduknya dan langsung mengejar Sehun yang sudah jauh. Langkah kaki pria itu cepat-cepat sekali, besar pula.

“Yaakk..” Bo Ram meraih tangannya begitu ia sampai di belakang Sehun, tapi pria itu langsung menepis tangannya membuat Bo Ram terkejut, tidak menyangka. Ia menatap Sehun terbelalak. Sedang Sehun hanya menunduk dan berkata maaf, lalu berbalik dan berjalan lagi kearah ia memarkir motornya.

Bo Ram masih sedikit cengo tapi sekarang ia mengikuti langkah Sehun, berjalan pelan dalam diam. Kenapa dia bersikap seperti itu? Apa Sehun marah? Tapi rasanya dia tidak punya alasan untuk marah. Lalu kenapa dia menepis tangan Bo Ram?

Saat Bo Ram sudah naik ke atas motor pun, Sehun hanya diam dan tanpa mengatakan sepatah kata pun, dia langsung menjalankan motornya membawa mereka pulang ke wilayah rumah mereka.

Sehun menghentikan laju motornya tepat di depan pagar rumah Bo Ram. Masih menjalankan aksi bisunya, dia menunggu Bo Ram turun dari motornya. Tapi gadis itu tidak bergemning. Di tetap duduk di belakang Sehun tanpa ada usaha sedikitpun untuk beranjak dari tempatnya duduk itu.

“Kau tidak berniat untuk duduk di sana semalaman kan?” kata Sehun tanpa peduli melirik Bo Ram sedikitpun.

Bo Ram hanya diam menatap punggung Sehun yang tiba-tiba saja terasa dingin. Kemudian menghela nafas dan berkata baiklah dengan pelan lalu turun dari motor Sehun hati-hati. Begitu ia turun, Sehun langsung menjalankan motornya lagi menuju rumahnya tanpa basa-basi, membuat Bo Ram sekali lagi tertegun. Dia berdiri membatu di tempatnya. Mulutnya ternganga karena shock dengan perlakuan Sehun. Dia melirik Sehun yang sedang membuka pagar rumahnya agar dapat memasukkan motornya dengan kesal. Bo Ram tidak terima Sehun memperlakukannya seperti ini. Dia berlari menghampiri Sehun. Dengan kesal menarik tubuh Sehun ke belakang dan memandangnya seolah menghakimi.

“Yaak, sebenarnya apa masalahmu?” teriaknya lepas kendali. Bo Ram tidak peduli jika tetangga atau bahkan orangtuanya maupun orang tua Sehun akan mendengar teriakannya. Dia jelas tidak bisa peduli lagi. Pria di hadapannya ini begitu menyulitkannya. Tapi Sehun hanya diam, mengerutkan keningnya menatap Bo Ram  dan itu membuat kegeraman gadis pujaannya itu semakin menjadi. “Kau ini maunya apa sih?” teriak Bo Ram lagi tidak kalah kencang dengan yang sebelumnya.

“Tidak apa-apa.” Sehun membuka mulutnya akhirnya. “Memangnya apa yang salah?” dia tersenyum. Bo Ram mengepalkan tangannya, mencoba mengendalikan emosinya. Bisa-bisanya dia tersenyum begitu di saat seperti ini. Dan bisa-bisanya dia tetap terlihat tampan padahal Bo Ram sangat kesal padanya.

“Lalu kenapa kau tiba-tiba saja….” Bo Ram tidak tahu hendak mengatakan apa. “tiba-tiba saja…..” ulangnya lagi. “begini.” Katanya akhirnya sambil menundukkan kepalanya. Dia tidak tahu apa kata-kata yang tepat yag hrus digunakannya. Tidak mungkin dia mengatakan ‘tiba-tiba saja kau berhenti menyerangku dan mengajak pulang.’ Tidak. Tidak. Itu akan terdengar sangat konyol. Tapi dia tidak tahu kata yang paling bagus digunakannya tanpa membuatnya jadi terdengar seolah-olah dia tidak ingin Sehun berhenti melakukan hal-hal tadi padanya dan pulang.

“Memangnya bagaimana?” ujar Sehun sedikit sinis.

“Kau seperti bukan dirimu saja. Kau ini kenapa sih?” Bo Ram mendorong tubuh Sehun ke belakang. Dia kesal sekali dengan pria yang lebih tua darinya itu.

“Memangnya yang seperti diriku itu bagaimana?” Sehun menjawab ucapan Bo Ram dengan lebih tenang dan nada dingin.

“Yaahh tidak begini.”

“Bagaimana?” Sehun mendekat pada Bo Ram, menatapnya intens. Hal itu membuat Bo Ram refleks berjalan mundur. Sehun mengembangkan senyum sinis di wajahnya. ‘Menarik.’ Pikirnya. Jadi dia berjalan maju lagi semakin mendekat pada gadis itu, sedang Bo Ram tetap mundur teratur. Sampai ia tidak bisa mundur lagi karena punggungnya bertemu dengan pagar. “Jadi? Bagaimana?” tanya Sehun. Dia sengaja memukulkan kedua tengannya ke pagar rumahnya, tepat di samping kiri kanan Bo Ram. Dan dia masih memasang senyum yang sama di wajahnya.

“K.. kau mau apa lagi?” tanya Bo Ram sedikit gugup. Tidak, dia tidak takut. Hanya saja tidak siap dengan perubahan Sehun sekali lagi yang sangat cepat. Bo Ram belum mempersiapkan dirinya.

“Hanya sedang mencoba memancing memorimu. Apa seperti ini aku yang biasa?” Kali ini seringai nakal muncul di wajah Sehun. Dia semakin mendekatkan wajahnya pada Bo Ram. Pria ini cepat sekali berubah kelakuannya. Di lain pihak, Bo Ram merasakan darahnya berdesir, seolah semuanya berlomba menuju kepalanya sehingga dirasakannya wajahnya sangat panas sekarang ini (lagi) dan debaran jantungnya menjadi tidak teratur, berpacu tak jelas, hal yang selalu terjadi setiap kali Sehun mendekatkan wajahnya seperti itu, dan sekali lagi, dia menahan nafasnya sampai paru-parunya seperti mau meledak rasanya, menjerit tolong meminta pasokan oksigen. Tapi otak Bo Ram serasa macet, tidak mau bekerja menyuruh organ-organnya untuk bekerja normal kembali. Tapi bahkan rasanya seluruh sel bahkan yang terkecil dalam tubuhnya tidak mau bekerja sama dan selaras. Membuat Bo Ram seperti mau gila rasanya. Kenapa ini selalu terjadi setiap kali dia bersama pria yang dijulukinya Mr. Friday ini? Sebenarnya apa yang salah dengan seluruh selnya dan Mr. Friday? Membuat Bo Ram serasa hampir kehilangan kewarasannya tidap kali berhubungan dengan pria ini. Baik dia yang sebagai Mr. Friday, atau sebagai Oh Sehun kakak kelasnya, maupun sebagai tetangganya.

“Bernafaslah.” Bisik Sehun tepat di depan wajahnya. Bisikan itu membawa Bo Ram teringat akan ciumannya yang pertama dengan Sehun di rumahnya, ciuman nenas yang sangat berkesan itu. Wajah Bo Ram semakin merah mengingat ciuman mereka itu. Dan seolah digerakkan oleh tangan-tangan yang tak terlihat, wajahnya maju sendiri, dan malah dia yang mencium Sehun terlebih dahulu. Dia menutup matanya, membiarkan dirinya menikmati bibir Sehun yang menempel di bibirnya.

Malam ini…. malam flying Bo Ram. Sekali lagi, dia membiarkan dirinya melupakan dunia di sekitarnya. Mengabaikan bayangan Hye dan Jong In yang menari-nari dalam kepalanya, bahkan dia tidak mempedulikan fakta bahwa sekarang ini punggungnya sedang menempel di pagar rumah Sehun, dan bagaimana kalau orang tuanya….. Ah, Bo Ram tak peduli. Dia serasa sudah tidak berpijak di tanah lagi. Yang dipedulikannya hanya Sehun yang menciuminya penuh nafsu seakan tidak ada hari esok. Dia tidak mabuk tapi dia merasa seakan mabuk, membiarkan Sehun melakukan hal seperti ini lagi padanya. Dia bahkan seolah tak menyadari bibir Sehun yang sudah tak lagi di bibirnya melainkan di lehernya, membuat kissmark disana sini. Dan salah satu tangan nakal pria itu yang seolah tidak pernah bisa tinggal diam, sekarang sudah menyusup ke balik kemeja hitam yang dipakainya. Baiklah, mungkin otaknya memang sedikit di bawah pengaruh bir kaleng dengan kadar alkohol yang sangat rendah tadi. Bo Ram betul-betul kepayang, seakan-akan tadi dia bukannya menolak sama sekali untuk bahkan hanya sekedar dicium sewaktu di pinggir Sungai Han tadi. Tapi Bo Ram sedang tinggi, mengudara di angkasa. Fly, fly Bo Ram. Kalau jatuh pun, dia tidak sendiri. Mereka akan jatuh bersama.

Pekikan tertahan seorang wanita membuat Sehun dan Bo Ram menghentikan aktivitas malam mereka. Keduanya ditarik untuk kembali berpijak ke tanah. Sehun segera menarik dirinya dari dekat Bo Ram, dan mereka berdua serentak melihat ke arah pintu pagar Sehun yang terbuka. Bukan,bukan pintu itu yang menjadi fokus objek lensa keduanya, tapi wanita ramping yang berdiri di situ. Ibu Sehun yang memasang wajah terkejut yang sama dengan keduanya.

“Bersenang-senang Noona? Hyung?”

Sehun dan Bo Ram dengan cepat lagi berbalik dan melihat Park Do Bi, adik lelaki Bo Ram satu-satunya sedang berjongkok tidak terlalu jauh dari mereka. Satu tangannya disandarkan di pipinya sedang tangan yang lain di kantong hoodie yang dikenakannya. Dan dia memandang keduanya seolah bosan.

Bo Ram tidak berani menatap baik Sehun, ibunya, dan adiknya. Dia membatu tak berkutik di tempat ia berdiri. Flying apanya? Uuuh, sepertinya dia sekali lagi memasukkan dirinya dalam masalah. Yeeaaah hebat. Dan hari ini hari Jum’at. Kali ini, dia akan habis.

=TBC=

A/N : Sori yah kalo ceritanya kurang memuaskan T.T Baiklah, sebelumnya sekali lagi saya minta maaf karena saya sudah menghilang tanpa penjelasan sama readerdeul yang setia sama ff ini. Maaf karena saya selama sekitar eeenng *ngitung bulan*kira-kira sembilan bulan gak ngapdet ff ini sama sekali. Gilaaak, udah sembilan bulan gak diupdate. Sama lamanya dengan ibu mengandung -_- Tapi bukan berarti author lagi mengandung makanya gak update, saya aja masih perawan xD Jadi author kan kemarin kelas dua belas jadi author pun menistakan ExoFanFictionWorld /baca: melupakan/ Dan author malah gak bilang-bilang kemaren mau hiatus, maaaaaaaaaaaffffff /.\ Tapi sekarang, author udah lega, udah selese UN *udah lama kelees* dan bimbel kemaren juga udah selese dan sekarang saya udah jadi mahasiswa UNDIP *jeng jeng* dan saya udah gak perlu galau lagi. Author masuk Universitas Diponegoro lewat jalur undangan dan bukan jalur tulis jadi jangan heran kalo author udah keterima aja. Ngomong2 gua kok tua banget siiih udah mahasiswa ajeee /kok malah curhat sih/ tapi untunglah author babyface, umur 17, wajah 12 dan kelakuan 7 tahun /semakin lama semakin melantur/ Dan kabar gembira buat kita semua, kulit manggis kini ada ekstraknya wkwkwk. Enggak deng, becanda doang😀 Jadi, author udah selesai registrasi ulang, verifikasi dan segala macam dan author libur sampe bulan september, jadi author memutuskan untuk kembali ke alam alias back to nature yaitu menulis ff. Jadi berbahagialah kalian *berlaku kalau masih ada yang sudi membaca ff ini* Tapi juga, kalau ternyata hanya sisa sedikit yang masih baca dan setia nunggu ini ff atau malah gak ada sama sekali T.T maka author putuskan untuk tidak melanjutkannya😦 Jadi yaaaaah tergantung respon alias komentar yang akan author dapat nanti, kalau ternyata hanya sedikit atau bahkan gak ada sama sekali maka maaaaaaaafffff, gak bakal diupdate lagi. Pokoknya dilanjutkan atau enggaknya ff ini, tergantung para reader nanti aja. Maaf ya. Kalian boleh marah, kesal, dan benci sama saya asalkan kalian jangan rebut suami saya Thehun. Jadi mohon kerjasamanya. Dan ngomong-ngomong ini gua berharap-harap cemas banget, hati gue deg-degan gitu, penasaran gitu, ini post-an ada readernya kagak sih lol xDDDDDD

122 thoughts on “[CHAPTERED] Mr. Friday Part 7

  1. Aku seriusan pengen punya telenkenis….
    Itu sehun gimana sih… Yakk
    boram yang kuat dong jangan mudah lukuh atuh… Makin greget aja
    Keep writing thor
    FIGHTING!!!

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s