We’ve Fallen in Love – Part 1

WVFIL POSTER

Title : We’ve Fallen in Love – Part 1

Author : Charismagirl

Main Cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri

Support Cast :

  • Park Chanyeol | Ahn Sungyoung | Do Kyungsoo | Lee Jinhee
  • Oh Sehun | Kim Jongin
  • Byun Family | Park Family

Rating : PG-13, Teen

Length : Chapter

Genre : Romance, Friendship, Family.

Cr poster : zhrfxo

Note : Do not copycat without my permission. Enjoy the story ^^/

Link : Prolog

“…Jadi, untuk beberapa hari ke depan kalian akan tinggal berdua di sini.”

“Apa?!”

***

Pergi ke suatu tempat saat hari libur memang hal yang sangat diinginkan Minri. Dia tidak perlu uring-uringan di dalam rumah yang hanya bisa membuatnya mengunjungi tempat-tempat seperti kamar tidur, ruang tengah dan dapur, atau juga kamar mandi.

Dia akan bersenang-senang!

Bucheon adalah tujuan utama mobil keluarganya saat ini. Meskipun belum tahu rupa daerah Bucheon, tapi Minri yakin dia menyukai tempat itu. Minri suka berpetualang. Dia menyukai hal-hal baru. Terbayang di benaknya padang rumput terbentang luas, atau setidaknya taman belakang si pemilik rumah pasti menjadi tempat favoritnya. Tempat terbaik untuk hunting.

Perjalanan dari rumahnya –Seoul–ke Bucheon membutuhkan waktu sekitar dua jam. Minri tipikal orang yang bosan jika tidak ada yang dikerjakannya, jadi dia mengisi waktu perjalanannya dengan mendengarkan musik, bersenandung dan bermain game.

Bucheon bukan tempat tinggal keluarganya. Orang tuanya mengajaknya liburan ke rumah salah satu kolega kerja ayahnya –keluarga Byun. Minri tahu keluarga Byun, ayahnya sering menceritakan tentang keluarga itu di rumah. Mereka mempunyai dua orang putra, yang sulung sedang bekerja di luar daerah sementara si bungsu –yang katanya hampir seumuran Minri masih meniti perguruan tinggi tingkat akhir.

Senyum gadis itu merekah saat mereka tiba di tempat tujuan. Sebuah rumah yang terbilang besar dengan halaman yang luas. Seperti apa yang ada dalam pikiran Minri sebelumnya. Ayahnya memarkirkan mobil di samping mobil Porsche hitam. Lalu mereka semua turun. Pintu rumah sudah lebih dulu terbuka, seorang wanita cantik keluar dari sana dan menyapa keluarga Minri dengan senyuman yang ramah.

Minri mengekor di belakang ibunya sembari menggeret kopernya yang terbilang berat itu. Gadis itu terpaku di depan pintu ketika seorang lelaki yang berdiri tidak jauh darinya –di anakan tangga dengan membawa cola–menoleh dan menatapnya.

Seorang lelaki berperawakan sedang, berambut hitam kelam –yang sedikit acak-acakan, dengan kaos hitam dan celana pendek selutut. Dia benar-benar tampak masih muda. Dan juga tampan. Matanya sipit, hidungnya mungil, bibirnya… oh astaga! Dia manusia?

Pandangan mereka beradu sebelum Nyonya Byun memanggil lelaki itu.

“Baekhyun-ah, kesini sebentar.”

Lelaki yang dipanggil Baekhyun itupun mengurungkan niatnya untuk menaiki anak tangga. Dia menghampiri kedua orang tuanya yang berarti juga perlahan memutus jarak dengan Minri. Bahkan Minri tidak sadar bahwa Baekhyun telah berdiri di hadapannya.

Minri terkesiap saat ibunya menyenggol lengannya. Minri ingin memukul kepalanya sendiri karena baru saja tertangkap basah kehilangan fokus. Dan yang lebih parah, dia ketahuan memandangi lelaki itu.

Baekhyun mengulurkan tangannya (sekedar untuk berjabat tangan). Minri menatap tangan lelaki itu, jari-jarinya begitu indah dan Minri bisa membayangkan betapa lembut genggaman tangan lelaki itu, sebentar, lebih baik Minri mencobanya sendiri dari pada dia harus mengira-ngira.

Minri mengangkat tangannya ragu, hingga lelaki itu lebih dulu menggenggam tangan Minri. Seperti apa yang dibayangkannya, bahkan di luar ekspektasinya, tangan lelaki itu terasa hangat dan lembut, mengalirkan aliran listrik voltasi rendah.

“Byun Baekhyun.” Untuk pertama kalinya Minri mendengar suara lelaki itu. Suaranya terkesan indah di telinganya Minri.

“Park Min–” Minri belum selesai dengan kalimatnya tapi lelaki itu sudah keburu melepaskan genggaman tangannya. Dari sisi yang ini, Minri sedikit sebal. Lelaki itu bahkan sama sekali tidak tersenyum. Dasar tidak sopan, Minri menggerutu dalam hati.

“Baekhyun, tolong bawa koper Minri ke atas.” Nyonya Byun bicara dengan lembut, lalu mengalihkan pandangannya pada Minri. “Kau boleh isirahat. Senang bertemu denganmu, cantik.”

Tanpa bicara apa-apa, Baekhyun mengambil alih koper di tangan Minri, membuat genggaman Minri pada gagang kopernya terlepas.

Sebenarnya Minri malu tentang membawa koper yang terlalu besar. Ibunya memberi informasi sekedarnya tentang liburan ke tempat kolega ayahnya –atau bisa disebut sahabat ayahnya. Minri mengira mereka akan tinggal di suatu villa. Minri terlalu antusias akan hal ini hingga dia membawa banyak pakaian dan mengira liburannya akan berlangsung selama berhari-hari. Tetapi dia tidak diberi informasi apapun setelahnya. Dia tidak tahu seberapa panjang liburannya di tempat ini.

Minri membungkuk sesaat pada tuan rumah kemudian mengekor Baekhyun menuju kamar sementara-nya. Minri memandangi punggung Baekhyun. Lelaki itu tidak bicara apapun sampai mereka tiba di sebuah ruangan yang Minri kenali sebagai kamar.

“Kau mau menginap berapa hari sih? Kopermu berat sekali.” Baekhyun mencibir, lalu meletakkan koper Minri di depan pintu dengan sedikit dihentakkan.

“Sebentar,” panggil Minri, saat Baekhyun baru saja mengambil satu langkah untuk pergi. Mengabaikan bibir lelaki itu yang terus mencibir.

“Apalagi? Jangan seenaknya menyuruh-nyuruhku! Aku bukan pelayan disini.” Minri ingin sekali melemparkan kopernya ke wajah lelaki yang menyebalkan itu. Oh, apakah kekaguman Minri pada wajah manisnya telah menguap begitu saja karena kelakuannya?

Minri berdecak lalu memutar bola matanya. Dia menunjuk gagang pintu. Pintu itu masih tertutup rapat dan Baekhyun akan meninggalkannya seperti petugas hotel. Dan ngomong-ngomong, Minri tidak memegang kuncinya.

“Kau belum membukakan pintunya. Bagaimana aku bisa masuk? Apakah aku harus mendobraknya terlebih dahulu?” Minri sedikit meninggikan nada bicaranya. Dia tidak peduli sedang berada di rumah siapa. Lagi pula sekarang dia adalah tamu, bukannya tamu memang harus diperlakukan dengan baik?

Baekhyun mendekat ke arah pintu, membuat Minri perlu memundurkan tubuhnya sedikit agar mereka tidak bertubrukan.

“Pintunya tidak di kunci. Manja sekali,” ucap Baekhyun sebelum benar-benar pergi dari sana.

“Mana aku tahu,” dengus Minri. Gadis itu menendang udara pelan, seolah tidak rela udara sekitarnya terkontaminasi oleh lelaki dingin menyebalkan itu. “Terimakasih,” ujar Minri dengan nada ketus.

Liburan seperti yang diimpikannya sepertinya tidak akan terwujud saat ini. Berada dalam satu rumah bersama lelaki bernama Byun Baekhyun itu tidak akan membawanya pada liburan yang berkesan menyenangkan. Minri yakin Baekhyun tidak akan mau mengajaknya berkeliling, mencoba hal baru, memperkenalkan isi rumahnya dan lain-lain.

Minri memutuskan untuk tidur sejenak. Barangkali dia bisa memikirkan sendiri bagaimana cara menyenangkan dirinya sendiri tanpa harus melibatkan si tuan rumah menyebalkan itu.

***

Baekhyun baru selesai menuangkan cola ke dalam gelasnya ketika suara deru mobil terdengar di depan rumahnya. Kemudian dia mendengar orang tuanya bicara dan juga tertawa.

Sepertinya ada tamu, batin Baekhyun.

Dia berniat kembali ke kamarnya, namun dia menghentikan langkahnya saat seorang gadis yang tampak seumuran dengannya sedang berdiri di depan pintu. Gadis itu menggunakan jumper biru muda kebesaran dan celana panjang hitam. Dia tampak cantik dengan rambut coklatnya yang digerai. Caranya tersenyum membuat Baekhyun terpaku beberapa saat pada senyuman itu.

Baekhyun merasa ada degupan aneh dalam dadanya ketika pandangan mereka bertemu. Dia ingin mengalihkan pandangannya tapi rasanya sulit sekali. Akhirnya suara panggilan dari ibunya sedikit menyelamatkan Baekhyun untuk tidak melongo seperti orang bodoh, berdiri di anakan tangga.

“Baekhyun-ah,” panggil ibunya.

Baekhyun tersenyum pada orang tua gadis itu. Sebelumnya, Baekhyun meletakkan gelas cola-nya di atas meja lalu menghampiri tamu-tamu itu. Dia bersalaman pada Tuan dan Nyona Park. Dan ketika dia berada di hadapan gadis itu, dia mengulurkan tangannya dalam diam.

Gadis berambut coklat itu menatapnya lamat-lamat seolah Baekhyun adalah makanan favoritnya yang begitu menggoda.

Gadis itu tersadar dari lamunannya ketika Nyonya Park menyenggol lengannya. Baekhyun ingin tertawa, tapi rasanya situasi tidak memungkinkan untuk Baekhyun melakukan hal itu. Mereka akhirnya bersalaman. Dan Baekhyun harus segera melepaskan tangannya sebelum terjadi hal yang tidak terduga, misalnya saja tiba-tiba menyukai gadis itu.

Baekhyun membawakan kopernya ke atas, cukup berat. Mengira-ngira apa saja yang gadis itu bawa hingga kopernya bisa seberat baja. Dia tidak tahu harus bicara apa. Gadis itu datang menghancurkan hari liburnya. Sebenarnya belum benar-benar menghancurkan karena Baekhyun tidak tahu apa yang akan gadis itu lakukan di rumahnya.

Baekhyun hanya tidak terbiasa pada kehadiran orang asing di rumahnya. Dia merasa kurang leluasa untuk melakukan kegiatannya.

Setelah menggerutu masalah beratnya koper gadis itu, Baekhyun memutuskan untuk segera pergi dari sana namun Minri memanggilnya, mengharuskan Baekhyun untuk berhenti.

“Kau belum membukakan pintunya. Bagaimana aku bisa masuk? Apakah aku harus mendobraknya terlebih dahulu?” Baekhyun menggertakkan giginya. Well, gadis itu memang cantik. Tapi mulutnya itu benar-benar membuat Baekhyun ingin membekapnya segera–dengan apapun. Dia cerewet sekali.

Baekhyun menghampiri pintu kamar itu lalu membukakannya. Dia sempat melirik Minri yang berdiri tidak begitu jauh.

“Pintunya tidak di kunci. Manja sekali,” ucap Baekhyun kemudian melangkahkan kakinya pergi dari sana.

“Terimakasih.” Baekhyun sempat mendengar kata itu terlontar dari bibir Minri dengan nada ketus. Dia hanya mengendikkan bahunya tidak peduli.

Baekhyun kembali mengambil cola-nya yang tertinggal di ruang tengah, lalu kembali ke kamarnya –yang tanpa Minri tahu letaknya berada tepat di samping kamar –sementara–Minri.

Lelaki itu duduk di depan meja belajarnya dengan tangan terlipat. Dia mengabaikan PSP hitam di mejanya. Baekhyun tidak mendengar aktivitas apapun dari sebelah kamarnya, membuat Baekhyun berpikir tentang apa yang dilakukan gadis itu.

Baekhyun mengerjap cepat.

Sejak kapan memikirkan seorang gadis lebih menarik daripada memainkan PSP? Untuk apa dia memikirkan gadis itu? membuang-buang waktu saja, pikirnya.

***

Minri mengerjapkan matanya pelan. Dia terbangun dari tidur singkatnya dan mendapati dirinya di sebuah ruangan asing, dengan aroma bunga –yang juga asing di penciumannya. Dia menggeliatkan tubuhnya pelan, kemudian duduk dengan mata yang masih mengantuk.

“Minri-ya…”

Gadis itu terkesiap ketika mendengar suara –yang dia kenali sebagai suara ibunya –bersamaan dengan ketukan pintu dari luar kamar itu. Minri beranjak dari kasur, lalu membukakan pintu.

Ne, Eomma?” Minri menguap lebar, membuat ibunya menggeleng pelan.

“Kau sudah tidur selama 3 jam, kau tahu.” Nyonya Park membenarkan tatanan rambut putrinya yang nampak seperti baru saja terserang angin topan.

“Sungguh?” Minri menelengkan kepalanya ke kanan, melihat jam dinding –yang ikut membenarkan bahwa dia memang sudah tertidur selama yang diucapkan ibunya tadi.

“Ayo turun, kita makan bersama keluarga Byun. Dan kami punya beberapa hal yang disampaikan dengan kalian.” Nyonya Park berjalan mendahului Minri sementara Minri masih terpaku di depan pintu dengan kening berkerut.

Tidakkah kata kalian terasa janggal untuk ditujukan pada satu orang saja?

“Maksud Eomma, ‘kalian’ siapa?” Minri mempercepat langkahnya agar sejajar dengan ibunya.

“Tentu saja kau dan–”

Ceklek…

Nyonya Park berhenti saat mendengar suara pintu terbuka. Minri dan ibunya belum jauh melangkah dari kamar yang tadi Minri tiduri. Suara pintu terbuka itu berasal dari kamar sebelah –cukup membuat Minri kaget hingga matanya lebih lebar dari ukuran normal.

“Baekhyun, kebetulan sekali. Apa kau juga baru saja bangun?” tanya Nyonya Park dengan sumringah.

Baekhyun hanya membungkuk singkat dan tersenyum.

“Mari kita makan bersama. Ibumu telah menyiapkan makanan untuk kita.”

Baekhyun berjalan menghampiri Minri dan ibunya yang masih berdiri diam, lalu ketika langkah Baekhyun semakin dekat, Nyonya Park mengambil langkah lebih dulu –menyisakan Baekhyun dan Minri yang berjalan bersisian.

Minri melirik Baekhyun dengan ekor matanya. Dia mendapati lelaki itu juga menatapnya –dengan segera Minri mengalihkan pandangan ke arah lain.

Bicara soal kata ‘kalian’ yang tadi diucapkan ibunya. Sepertinya Minri sudah tahu kepada siapa kata itu ditujukan.

“Ada sesuatu di sudut bibirmu,” bisik Baekhyun.

Minri segera menutup mulutnya. Dia mengusap tepi bibirnya dengan punggung tangan. Dia sadar bahwa dirinya baru saja bangun tidur. Dia tidak sempat bercermin jadi tidak menutup kemungkinan kalau sesuatu yang Baekhyun maksud adalah jejak-jejak air liur. Oh kalau sampai itu terjadi, Minri pasti telah memalukan dirinya sendiri.

Tapi Minri tidak merasakan lembab di tangannya. Dia rasa wajahnya baik-baik saja.

Baekhyun berjalan mendahului Minri, dengan kekehan pelan di mulutnya. Seseorang harus menahan Minri untuk tidak memukulkan sandal jepitnya ke kepala Baekhyun. Dia telah dikerjai oleh lelaki itu!

Beruntung malaikat dalam pikirannya mengalahkan bisikan setan, memenangkan perdebatan tentang pemukulan dengan sandal jepit.

 

Di meja makan keluarga Byun tampak lebih ramai. Kalau biasanya hanya ada tiga orang yang duduk di sana –empat orang kalau putra sulung keluarga Byun pulang –maka sekarang bertambah tiga orang lagi.

Suasana hangat layaknya keluarga sungguhan terasa begitu kentara. Mereka tampak seperti keluarga, meskipun pada kenyataannya keluarga Byun dan keluarga Park hanya punya hubungan sebatas kolega kerja.

“Minri-ya, makan yang banyak ya.” Nyonya Byun menyumpit potongan daging dan meletakkannya di atas nasi dalam mangkuk Minri.

“Terimakasih, Imo.

Nyonya Byun tertawa pelan, lalu menepuk bahu Minri. “Panggil Eomoni saja.”

Baekhyun hampir menyemburkan minumannya saat mendengar ucapan ibunya. Sedikit bingung atas dasar apa ibunya meminta gadis bernama Minri itu memanggilnya dengan cara demikian. Dan berikutnya Baekhyun malah tersedak.

Minri memperhatikan Baekhyun dari meja seberang. Entah terlalu mudah menyadari sesuatu atau apa, Minri yakin kalau penyebab tersedaknya Baekhyun karena Nyonya Byun. Sebenarnya Minri juga merasakan keterkejutan, tapi dia cukup bisa mengontrol dirinya untuk tidak tersedak.

“Kalau begitu Baekhyun juga harus memanggilku Eomoni, ya.” Minri mendelik tajam pada ibunya. Sekarang apa lagi? Ibunya ingin mengikuti jejak Nyonya Byun –untuk meminta Minri memanggil Eomoni tanpa alasan yang jelas.

Yang benar saja! Ada apa dengan semua ini?

“Nah, karena semuanya sudah berkumpul,” Tuan Byun mulai bicara dengan suara kebapakannya yang khas. “kami ingin mengatakan sesuatu pada kalian berdua.”

Sesuatu.

Tiba-tiba Minri merasa perutnya mulas mendengar satu kata beribu makna itu.

“Kami berempat akan pergi menemui klien kami di Jeju. Jadi, untuk beberapa hari ke depan kalian akan tinggal berdua di sini.”

Apa?!” Suara pekikan Baekhyun dan Minri terdengar kompak. Mereka berdua bertatapan dengan raut wajah tidak percaya.

“Tinggal berdua?!” Baekhyun menambahkan rasa ketidakpercayaannya.

“Ya, itulah mengapa Minri kami ajak mengisi waktu liburannya disini. Karena akan ada yang menemaninya selama kami pergi.” Yang ini ucapan dari Tuan Park.

“Sebenarnya kalian tidak benar-benar berdua, karena ada Lee Ajumma yang nantinya akan datang setiap pagi membuatkan kalian sarapan, membersihkan rumah, dan beliau akan pulang sore hari.”

Penjelasan dari Nyonya Byun sedikit menyelamatkan Minri. Tapi tidak cukup untuk menghilangkan kecemasan dalam dirinya.

Tinggal berdua dalam satu atap bersama lelaki yang baru dikenal adalah hal yang paling tidak pernah terlintas dalam benaknya. Sedikitpun.

Baekhyun memijat kepalanya pelan, memikirkan apa yang terjadi selanjutnya jika mereka benar-benar ditempatkan berdua dalam satu rumah. Mereka baru saja bertemu. Dan belum hilang kesan menyebalkan dari diri masing-masing. Lalu tiba-tiba mereka sudah dikejutkan dengan berita semacam ini. Hidup memang sulit diprediksi.

***

“Minggir!” seruan Baekhyun membuat Minri hampir membuat air putih tumpah dari botol yang dituangnya ke gelas. Lelaki itu tanpa rasa bersalah menubruk tubuhnya padahal Minri yakin masih banyak jalan yang tersisa untuk lelaki itu lewat.

“Kenapa kau mengikutiku?” tanya Minri melayangkan serta tatapan tidak sukanya.

“Aku tidak mengikutimu. Lagipula ini dapur. Siapapun boleh kesini. Dan ini rumahku, kalau kau belum lupa.”

Mereka berdua sedang berada di dapur. Sama sekali tidak berencana berada di tempat dan waktu yang sama. Karena menurut Minri, berada di dekat lelaki itu berpotensi membuat mood-nya buruk.

“Terserah,” Minri menengak minumannya sampai tandas. Dia mendesah lega saat air putih itu melewati kerongkongannya yang tadi terasa kering. Minri mendengar suara gemersik kantong plastik.

Baekhyun sedang mengambil beberapa bungkus snack di lemari penyimpanan. “Hey gadis Seoul,” panggil Baekhyun.

Minri menoleh, lalu memutar bangkunya. Baekhyun memberikan satu bungkus snack keripik kentang dengan wajah datar, tanpa bicara apa-apa.

“Kau memberiku ini?”

“Seperti yang kaulihat,” jawabnya sembari mengangkat bahu. “Kau masih tamuku.”

“Trims.” Minri membuka bungkusan itu lalu memasukkan ke dalam mulutnya.

Uhhuk! Keripiknya-pedas-sekali.

Minri terbatuk beberapa kali. Dia menuang air putih dengan terburu-buru, lalu meminumnya. Dia menatap Baekhyun dengan hidung memerah.

Ups, tertukar.” Baekhyun merebut keripik dari tangan Minri, lalu menyerahkan satu bungkus lagi yang masih utuh. Minri hanya melongo ketika Baekhyun melesat keluar dapur. Minri tidak meminta makanannya ditukar. Dia tidak apa-apa kalau memang Baekhyun ingin mengerjainya, dia akan terbiasa, pikirnya.

Sementara di perbatasan pintu, Baekhyun melirik ke belakang bahunya. Dia berbohong tentang snack itu tertukar. Hanya saja dia tidak tahu kalau level pedas gadis itu payah sekali. Dia tidak tega melihat hidungnya sampai memerah begitu. Mungkin Baekhyun hanya sedikit merasa bersalah karena membuatnya kepedasan. Itu saja.

***

Waktu menjelang sore. Matahari mulai turun dari singasananya. Langit Bucheon tampak jingga berpendar.

Minri terlihat sedang membuntuti ibunya dengan wajah memelas. Setelah makan siang bersama keluarga Byun dan segala berita mengejutkan itu, Minri terus merecoki ibunya, meminta wanita itu membawa Minri bersamanya ke pulau Jeju atau mungkin membiarkan Minri pulang ke rumah.

Dia merasa tidak betah jika harus tinggal berdua dengan Baekhyun. Minri bukannya membenci Baekhyun –bukan berarti juga dia menyukai lelaki itu –tapi dia dan seluruh fantasinya berkembang terlalu pesat. Memikirkan tinggal berdua dengan seorang lelaki, membuat pikiran negatifnya berkabut. Bagaimana kalau lelaki itu melakukan hal yang tidak bermoral padanya? Bagaimana kalau… terlalu banyak yang ada dipikiran gadis itu. Meskipun wajah Baekhyun sama sekali tidak mencerminkan seorang kriminal, tapi siapa tahu. Minri belum mengenal Baekhyun yang sebenarnya ‘kan.

“Minri, Honey, hanya beberapa hari, oke. Kau tidak perlu takut, Baekhyun adalah orang yang baik. Dia juga sangat tampan, bukan?” Nyonya Park menyenggol lengan Minri sembari tersenyum.

Ya, dia memang tampan, Minri mengakui itu. Tapi…

“Mengapa Eomma begitu yakin kalau Baekhyun adalah orang baik? Eomma tidak takut terjadi hal yang tidak diinginkan pada putri kesayangan Eomma ini?” Minri mengangkat dagunya, lalu mendengus.

“Minri,” Nyonya Park memperingatkan, “tidak boleh berprasangka buruk pada orang. Kita dan keluarga Byun sudah lama menjadi kolega kerja, juga sudah lama berteman. Kita sudah seperti keluarga. Jaga bicaramu sayang.”

Eomma, please. Biarkan aku pulang.” Minri memasang wajah merana sembari mengguncang pelan lengan ibunya.

“Membiarkanmu sendirian di rumah? Tidak.”

Lalu membiarkan aku bersama lelaki lain dalam satu rumah, ya.

Eomma…

“Lebih baik kau temui Baekhyun dan mulailah berteman baik dengan anak itu.”

Minri mengerucutkan bibirnya, lalu melangkah keluar kamar dengan langkah gontai. Baru saja dia mencapai pintu, seseorang yang tadi mereka bicarakan muncul di depan pintu, hampir membuat Minri terjengkang karena kaget.

“Nyonya Park, ibu dan ayah sudah siap.” Baekhyun sempat melirik Minri dengan pandangan ‘jangan pandang aku seperti kau baru saja melihat hantu’.

Nyonya Park berdiri dari kursi meja riasnya. Dia mengambil tas jinjing miliknya, lantas menghampiri Baekhyun.

“Panggil aku Eomoni, nak.” Wanita itu menepuk bahu Baekhyun, kemudian berlalu.

 

Minri dan Baekhyun berdiri di depan teras rumahnya, memandangi kedua orang tua mereka memasuki mobil yang sama. Mereka benar-benar akan di tinggal berdua. Dan Minri tidak tahu harus melakukan apa nantinya.

“Kami pergi dulu. Jaga diri kalian.”

“Baek, tolong jaga Minri, ya.”

Minri merapatkan rahangnya. Sedikit gemas pada ibunya yang tersenyum padanya dengan senyum menggoda. Dia tidak pernah mengatakan pada ibunya langsung bahwa dia mengakui Baekhyun itu tampan. Dia tidak pernah bilang bahwa dia menyukai Baekhyun –walaupun kenyataanya memang tidak. Tapi dengan anehnya ibunya bisa menggoda Minri habis-habisan.

“Dah.” Kedua wanita dalam mobil itu melambai riang. Mereka seperti baru saja meninggalkan kedua anak mereka dalam masa bulan madu. Dan Minri merasa mereka adalah pasangan yang baru saja menikah, jika di tinggal berdua seperti ini.

Sebentar, apa yang baru saja terlintas dipikirannya tadi?!

Baekhyun balas melambaikan tangannya sembari tersenyum. Perlahan sedan hitam itu melaju dengan kecepatan sedang. Semakin jauh semakin mengecil hingga hilang dari pandangan mereka.

“Selanjutnya apa yang harus kita lakukan?” tanya Minri pelan, lebih pada diri sendiri.

“Tidur.” Balas Baekhyun sekenanya lantas masuk ke dalam rumahnya.

“Apa?! Dasar mesum.”

“Pikiranmu yang mesum! Aku tidak mengatakan bahwa kita akan tidur berdua.”

“Tapi kau membuat kata yang kau ucapkan itu ambigu!”

“Kau yang mesum!”

“Heh. Kau mau aku pukul ya? Aku pernah belajar bela diri asal kau tahu.”

“Dan aku memegang sabuk tertinggi dalam olahraga Hapkido.”

Perdebatan itu masih berlanjut ketika mereka berdua sudah berada dalam rumah. Langit perlahan menjadi gelap. Cahaya bulan mengintip malu di balik gumpalan awan.

Kedua anak muda itu, untuk pertama kalinya tinggal bersama. Dan sepertinya, harapan ibu Minri agar Minri bisa berteman baik dengan Baekhyun adalah hal yang sulit diwujudkan karena mereka sama-sama keras kepala. Sama-sama memiliki rasa gengsi yang tinggi. Dan yang terpenting, mereka seperti magnet yang berada di kutub yang sama.

Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya?

***TBC***

Haai aku datang!! Gimana? Aku harap kalian suka {} cukup segitu dulu part 1 nya ya, kita selow aja elaaah.

HUAHA AKU BUAT MEREKA BERANTEM. Mpus._.!

PS: Cast yang lain masih aku simpen.

Aku mau ngucapin banyak-banyak terimakasih karena telah memberi support untuk FF ini. Keep support and love the cast yak😉

Do not call me ‘thor’—udah ah aku bosan ngomong ini melee, kalian juga bosan kan dengernya😄

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya.

Selamat menyoblos! Jangan golput eaak😀

Mind to like and leave comment(s)?

Thanks for read! See ya for next!

© Charismagirl, 2014.

397 thoughts on “We’ve Fallen in Love – Part 1

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s