Posted in Fanfiction

I Need You-Chapter 2

I Need You-Chapter 2 (redo)

 

Author : Shin Hayoung

Rating : 14+

Length : Twoshoot

Genre : Failed Angst, Romance, Family

Main Cast : Byun Baekhyun (EXO-K)
Han Hami (OC)

Support Cast : Mistery Guest (nahloh ._.)
Summary : Mungkin kali ini takdirku berubah. Hai kembali, gadisku. Selamat tinggal hyung, maafkan aku tidak bisa berbuat apa-apa untukmu, terimakasih sudah mau menolongku dari maut yang menakutkan.
Author Note : Halohaa~ Ini dia chapter kedua yang aku janjikan *v*)/ Maafkan akuu, yang tiba-tiba menghilang tanpa pengumuman apapun, aku terlalu sibuk sama ujian aku kemaren udah gitu, selesai ujian aku langsung berangkat karwis T-T Sekali lagi aku mohon maaf untuk para reader yang nunggu ff ini.. Gantinya, aku ngasih sedikit kejutan kecil untuk seorang eonni yang sudah menginspirasi aku dengan ff keren miliknya^^ Untuk para reader juga tentunya ada gantinya^^~ Kalo kalian lebih jeli, udah aku kasih sedikit bocoran di genre^^

Diclaimer : The plot is mine. The cast belong to their god and family. Don’t copy-paste without my permission. Sorry for the typo.

.:HAPPY READING:.

Author POV

[Last chapter]
“Oppa, apa ada air? Aku haus..” keluh Hami, dan Minseok pun mengambilnya di sudut ruangan, tidak jauh dari tempatnya duduk. Namun saat kembali ponsel Hami berdering dan Hami segera menjawab panggilan dari ponselnya itu. “Ye eomoni?” ‘Siapa?’ pikir Minseok. “Ye?!”

Seketika pandangan Hami kosong, mengapa bisa begini?
“Hami? Han Hami? Kau tidak apa-apa?” ucap Minseok sambil menggoyang-goyangkan bahu Hami. “O-oppa.. Baek.. Baek.. Baekhyun..” ucap Hami terbata-bata. “Ada apa dengan Baekhyun?” tanya Minseok. “Oppa.. Kita harus ke rumah sakit sekarang..” ucap Hami tergesa-gesa.

“Sekarang?” tanya Minseok kaget. “Oppa! Ini penting! Ayolah..” bentak Hami sambil berusaha menarik lengan Minseok yang hanya diam kebingungan. “Ya! Ya! Ya! Mau kemana kalian? Apa yang penting, huh?!” bentak sang fotografer. “Juseonghamnida sajangnim..” setelah mengatakan itu, Hami pun langsung pergi.

Pergi dalam arti, ia pergi sendiri, Minseok masih tetap di tempat. Entahlah, Minseok sendiri pun tidak tahu apa yang ia lakukan.

***
“Baik. Jika Minseok oppa tidak mau mengantarku aku bisa pergi sendiri. Biarkan saja.” Hami terus saja menggerutu selama menunggu taksi. “Haish! Apa taksi juga tidak mau membantuku?!” kesal Hami sambil menghentakkan kakinya yang masih menggunakan heels, bahkan dress putihnya pun masih melekat di badan indahnya. “Okay, tidak ada cara lain, aku harus jalan.” ucap Hami.

“Hei, temanmu sedang sakit dan kau masih bisa menggerutu seperti itu?” tiba-tiba sebuah suara mengagetkan Hami. “Omoya! Haah, kukira siapa.. Apa? Oppa akan bilang tidak mau mengantarku? Cih, baik. Pergi saja sana.” ucap Hami dingin sambil menambah kecepatan berjalannya bahkan ia hampir berlari dan Minseok sedikit ketinggalan. “Hei nona cantik,” panggil Minseok memancing kekesalan Hami. “Hei nona! Butuh tumpangan?” ucap Minseok yang kali ini sedikit berteriak karena Hami lagi-lagi jalan duluan.

“Oppa bercanda?” ucap Hami dengan dahi yang mengkerut. “Tentu saja aku bercanda. Cepat naik.” ucap Minseok dengan senyum manisnya. “Oppa bilang bercanda, tapi mengapa oppa malah menyuruhku naik?” ucap Hami dengan wajah polosnya. “Astagaa~ Kau benar-benar polos.. Maksudku.. Ahh sudahlah, kau mau menjenguk temanmu atau tidak?” ucap Minseok yang kewalahan dengan kepolosan Hami.

***
Sementara di rumah sakit, Baekhyun masih belum sadar. Ibunya pun hanya berjalan kesana-kesini di dalam ruangan Baekhyun. Ibunya bingung. Kesal. Marah. Marah pada diri sendiri karena tidak bisa merawa Baekhyun dengan baik.

“Aku hanya punya waktu 3 hari..” gumam Ibu Baekhyun. “3 hari.. 3 hari..” gumam Ibu Baekhyun sambil berjalan kesana kemari. “Eomma, bisakah kau diam sebentar, kepalaku pusing mendengar ocehanmu..” ucap Baekhyun yang ternyata sudah sadar. “Omo. Baekhyun-ah.. Kau sudah sadar?” ucap ibunya kaget.

“Aku sudah terbangun beberapa menit lalu tapi aku ingin membuat kejutan untuk eomma, makanya aku berpura-pura tidur dan mengagetkan eoma, kk~ Tapi, eomma tidak terlalu kaget, ‘kan?” ucap Baekhyun panjang lebar dengan wajah polosnya yang selalu membuat ibunya tertawa. “Eomma-ya, mengapa menangis? Apa aku terlalu berlebihan membuat kejutan sampai membuat hatimu sakit? Mianhe eomma..” ucap Baekhyun kembali dengan ocehan cerewetnya yang melebihi ibunya saat ia melihat ibunya menangis.

“Tidak, Baekhyun tidak menyakiti hati eomma.. Eomma hanya terlalu senang karena Baekhyun sudah sadar dan memberi eomma kejutan kecil yang manis.. Gomawo Baekhyun-ah..” ujar ibunya sambil tersenyum senang. “Begitukah? Kalau begitu jangan menangis lagi.. Aku akan selalu menemani eomma, tenang saja..” ucap Baekhyun sambil menghapus jejak air mata di wajah ibunya.”Paboya! Sudah kubilang tidak menangis.. Aku hanya terharu..” ucap ibunya sambil tertawaringan. “Jinjja? Wahaha, daebakk.. Aku bisa membuat eomma terharu..” ucap Baekhyun bersemangat, lalu mereka berdua pun tertawa bahagia.

***
Sementara di perjalanan, Hami dan Minseok dengan kesal menunggu antrian macet di jalan raya. “Haisshh! Kapan kemacetan ini berakhir?!” ucap Minseok kesal sambil menekan tombol klakson dengan keras sama seperti pengendara lain.”Aahh ya ampun, bagaimana ini? Bagaimana Baekhyun?” gumam Hami sambil menyandarkan kepalanya pada jok yang ia duduki.

“Oppa.. Aku punya ide!” ucap Hami sambil mengacungkan jari telunjuknya seperti anak kecil. “Mwonde?” ucap Minseok yang bersedia mendengarkan ide konyol Hami yang lainnya—kurasa itu tertular oleh Baekhyun. “Begini saja, jarak rumah sakit dari sini tidak terlalu jauh, bagaimana jika aku berjalan saja? Nanti oppa menyusul, aku benar-benar bisa gila karena kemacetan ini..” ucap Hami yang juga kesal dengan kemacetan di jalan raya.

“Kau yakin?” tanya Minseok ragu dengan ide Hami. “Ya, memangnya kenapa?” tanya Hami. Hami rasa ini ide yang paling waras dibanding ide-ide konyol yang sering ia lontarkan dari bibir cherrynya. “Tidak, tapi ada satu masalah.. Hmm, begini saja, kau ganti sepatu heels mu itu dengan sepatu yang kau pakai saat pergi ke studio pemotretan, sepatunya ada di bagasi belakang. Dan, hmm..” ucap Minseok panjang lebar sambil menatap Hami dari atas sampai bawah.

“Ah!” teriak Minseok yang sempat membuat Hami terlonjak dan hampir mengomel jika Minseok tidak langsung melanjutkan kata-katanya. “Jika ganti baju tidak mungkin disini, kau pakai saja mantel ku.. Sebentar, aku ambilkan sepatumu..” ucap Minseok sambil bergegas keluar dan membuka bagasi mobil sport silvernya. “Igeo..” ucap Minseok yang tiba-tiba membuka pintu Hami yang membuatnya lagi-lagi terlonjak. “Oppa! Jangan bertindak tiba-tiba bisa tidak?” teriak Hami.

“Ahh, mian..” ucap Minseok memamerkan deretan gigi putihnya, sedangkan Hami tidak menghiraukannya dan cepat-cepat memakai sepatu dan mantelnya. “Ah, jika aku memakai mantel oppa.. Lalu, oppa bagaimana?” tanya Hami. “Tenang saja, seorang Baozi tidak boleh kalah dengan angin musim gugur..” ucap Minseok sambil mengangkat kedua lengannya bermaksud menunjukan otot-otot lengan atasnya—walaupun sebenarnya tidak ada. “Hmm, arasseo.. Aku pergi..” ucap Hami sambil melambaikan tangannya dan bersiap untuk menyebrangi jalan, namun ia ragu jalanan di sebrang begiti ramai.

“Hami-ah.. Perlu aku bantu menyebrang?” teriak Minseok karena Hami sudah cukup jauh jaraknya. “E-eh.. Tidak oppa.. Tidak apa-apa..” ucap Hami sambil melambaikan tangannya, tersenyum. Minseok menaikan satu alisnya, bingung. Hei, apa itu yang disebut senyum? Matanya berkaca-kaca. “Ah sudahlah..” gumam Minseok sambil beranjak dari tempatnya. Namun, saat memegang gagang pintu mobil terdengar suara aneh yang…

BRAKK!

…sangat keras seperti sudah menabrak sesuatu—atau mungkin seseorang. Mata Minseok membulat. ‘Hami!’ batinnya berteriak. Ia agak ragu untuk memutar balik badannya, “Ah.. Tidak mungkin.. Dia ‘kan bisa menyebrang sendiri…” ucapannya terpotong. “Tidak! Dia tidak pernah bisa menyebrang di jalanan ramai seperti ini!” Minseok pun membalikkan badannya bersiap melihat kejadian terburuk.

Banyak orang yang mengerumuni tempat kejadian. Itu yang pertama kali Minseok lihat sebelum ia berjalan menuju tempat itu. “Hami.. Oh tidak!” Minseok berteriak dan segera berlari menghampiri kerumunan orang-orang itu. “Permisi! Biarkan aku lewat! Permisi!” bentak Minsoek agar orang-orang tidak menghalangi jalannya.

Hati Minseok kacau. Ia terlalu terkejut. “Hami?” ucapnya dan perlahan-lahan ia duduk menangisi semuanya. “OPPA!” teriak seseorang dari sebrang jalan. Minseok kembali berdiri dan melihat siapa yang memanggilnya. Hanya ada satu orang yang selalu memanggilnya ‘oppa’. “Hami?!” kali ini ia berteriak, alisnya kembali terangkat. Sebenarnya apa ini?

“Oppa, ayo cepat bawa wanita ini ke rumah sakit!” ucap Hami tergesa-gesa. Minseok masih diam membeku, ia terlalu bingung. “Ah ppaliwa! Kita jalan saja, tinggal beberapa blok dari sini..” ucap Hami. Minseok pun menggendong wanita yang tertabrak dan segera menuruti perintah wanita yang menyuruhnya—ia masih bingung, wanita ini Hami?.

Setelah beberapa menit mereka pun sampai di lobby rumah sakit, mereka pun segera menuju ruangan darurat dan kebetulan ada dokter bersama pengawal-pengawalnya yang sedang berjalan disana dan dokter itu pun segera mengambil tindakan. “Oppa.. Bagaimana ini? Kita berhutang pada wanita itu!” ucap Hami panik. Minseok masih tidak bergeming dan hanya memandangi Hami—atau bukan Hami?.

“Tunggu sebentar. Coba jelaskan padaku semuanya, aku masih belum mengerti dengan semua ini.” ucap Minseok cepat. “Hh~ Baiklah, jadi begini.. Oppa lihat raut wajahku saat aku akan menyeberangi jalan bukan? Oh astagaa, sungguh aku sangat takut saat itu, tapi aku tidak ingin ditertawakan oleh oppa, jadi aku memberanikan diri untuk menyeberang sendiri, namun baru satu langkah aku berjalan aku melihat seorang wanita memegang ponselnya seperti ingin memotretku dan wujudnya, maksudku penampilannya sama persis denganku.. Kukira ia seorang sassaeng fan..” ucap Hami menghentikan ceritanya sejenak dan Minseok masih sabar menunggu.

“Tapi sepertinya wanita itu lebih tua dariku, terlihat dari tubuhnya yang tinggi itu, entahlah mungkin berumur sekitar dua puluh tahun.. Karena takut, aku pun langsung menyeberangi jalan tanpa melihat kanan kiri, alhasil sebuah mobil dengan kecepatan cukup tinggi nyaris menabraku tapi aku merasa ada yang mendorongku dan aku tersungkur di trotoar dengan badan yang masih utuh—walaupun ada sedikit luka ringan di lutut kiriku. Namun, saat aku kembali sadar, aku melihat seorang wanita yang tersungkur di tengan jalan dengan berlumuran darah—sepertinya tertabrak karena menyelamatkanku. Namun tak kusangka, wanita yang tertabrak adalah wanita yang kukira sassaeng fan tadi dan aku melihat oppa ikut terduduk di tengan kerumunan sambil menyebut namaku..” ucap Hami menyelesaikan cerita panjangnya.

Minseok hanya memasang wajah datar setelah Hami menyelesaikan ceritanya. “Pabo!” ucap Minseok dengan pukulan ringan di kepala Hami, namun sepertinya itu bukan pukulan ringan bagi Hami dan membuat Hami meringis. “Wanita seperti itu kau bilang sassaeng fan?! Jelas-jelas ia menyelamatkanmu dari kecelakaan tadi.” ucap Minseok.

“Aish! Mana aku tahu wanita itu bukan sassaeng fan, lagipula.. Bukannya oppa mengkhawatirkanku, kau malah memarahiku seperti ini!” ucap Hami sambil memajukan bibirnya kedepan dan melipat tangannya di depan dada. “Aku begini karena mengkhawatirkanmu, bodoh!” ucap Minseok sambil kembali memukul kepala Hami. “Aah, appo.. Kalau oppa mengkhawatirkanku, mengapa oppa terus saja memukul kepalaku? Aish..” ringis Hami kesal. “Aku hanya bercanda..” ucap Minseok sambil memamerkan deretan giginya yang rapih dan putih.

“Haaish, tadi di mobil kau mengagetkanku dan sekarang kau memukul kepalaku, lalu nanti apa? Kau mau membunuhku?” omel Hami panjang lebar. Sepertinya virus cerewet Baekhyun benar-benar sudah menurun pada Hami. Namun, tak lama setelah Hami mengomeli Minseok, seorang dokter yang memeriksa keadaan wanita yang tertabrak tadi keluar dari ruang pemeriksaan.

“Permisi, apa anda keluarga dari korban?” tanya dokter tadi. “Mm, kami bukan keluarganya tapi kami melihat kejadiannya..” ucap Hami sambil tersenyum ramah. “Ahh, kalau begitu, mari kita bicarakan ini di ruanganku..” ucap sang dokter dan mulai berjalan menuju ruangannya di ikuti oleh Hami dan Minseok.

“Silahkan duduk..” ucap sang dokter sesampainya di ruangan yang dimaksud. “Jadi, bagaimana keadaan wanita itu?” tanya Minseok. “Sebenarnya, lukanya tidak terlalu parah, namun terjadi pendarahan yang cukup deras di daerah kepalanya, tapi anda tidak usah terlalu khawatir mungkin besok korban sudah bisa siuman..” ucap dokter. Mendengar penjelasan dokter Hami pun menghela napas lega.

“Kalau begitu, apa kami sudah bisa menjenguknya?” tanya Hami masih dengan senyum ramahnya. “Oh ya silahkan..” ucap sang dokter. “Ahh, kalau begitu terimakasih dokter—“ Minseok sedikit ragu, ia tidak tahu nama dokter ini. “Jeon Jisoo imnida..” ucap dokter Jeon mengerti atas kebingungan Minseok. “Ahaha, ne.. Terimakasih dokter Jeon..” ujar Minseok sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Mereka pun keluar dari ruangan dokter Jeon. “Hami-ah, kau pergilah menjenguk Baekhyun, biar aku yang menjaga wanita itu..” ucap Minseok mengingat tujuan awal Hami. “Ah benar! Baekhyun! Gomawo oppa.. Na kanta..” ucap Hami yang langsung pergi begitu mengingat Baekhyun. “Geurae, tidak ada kesempatan untukku lagi..” gumam Minseok dan ia pun pergi.

***
Sementara di ruangan 3116—ruang Baekhyun di rawat- Baekhyun dan ibunya masih saja bersenda gurau sekedar menghilangkan kegelisahan ibunya. “Eomma, omong-omong, apa Hami akan kesini?” tanya Baekhyun disela pembicaraannya. “Ahh, ia bilang akan kesini, tapi kenapa belum datang juga ya?” ucap ibunya sambil melirik ke arah pintu. Baekhyun kelihatannya khawatir, batin ibunya. “Tenang saja.. Eomma yakin ia akan datang..” ucap ibunya dan Baekhyun pun mengangguk mengerti.

Selang beberapa menit, mereka—Baekhyun dan ibunya- mendengar pintu ruangan Baekhyun digeser. “Haah, a-annyeong haseyo eomoni, haah..” ucap Hami dengan keringat bercucuran di sekitar dahinya. “Omona~ Kau tak apa Hami?” ucap ibu Baekhyun yang langsung menghampiri Hami di daun pintu dengan napas yang tidak beraturan.

“Ahaha, tidak apa-apa eomoni.. Hanya ada sedikit insiden saat datang kemari..”ucap Hami masih dengan napas yang sedikit tidak beraturan namun berhasil ia kontrol. “Wae? Kau terluka?” tanya Baekhyun yang tiba-tiba berbicara, ia berusaha turun dari kasurnya dengan tubuhnya yang masih lemah. “Baekhyun-ah..” ucap Hami yang melihat tindakan Baekhyun pun langsung berjalan ke arah Baekhyun.

“Hei hei tenanglah.. Aku tidak terluka sedikitpun..” ucap Hami sambil membantu Baekhyun membenarkan kembali posisi Baekhyun. “Baekhyun-ah eomma pergi keluar sebentar ne.. Kalian nikmatilah waktu bersantai kalian..” ucap ibu Baekhyun.

“Hm, ini.. Untukmu.. Maaf terlambat menjengukmu..” ucap Hami sambil menyerahkan sebuket bunga dan menyimpan beberapa buah kesukaan Baekhyun di nakas dekat kasur Baekhyun. “Gomawo.. Jadi ini alasanmu terlambat menjengukku?” ucap Baekhyun sambil tertawa kecil dan Hami pun ikut tertawa.

Hami sedikit bergerak gelisah, seperti menutupi sesuatu. Baekhyun mulai curiga dengan gerak gerik Hami, ia pun melihat Hami dari atas sampai bawah, namun sebelum matanya melihat ke arah bawah, matanya menangkap sesuatu di lutut kirinya. “W-wae?” tanya Hami gugup.

“Kau berbohong padaku..” ucap Baekhyun memalingkan mukanya dan melipat bibirnya ke bawah. Sungguh, ia terlihat seperti anak kecil saat ini. “Apa?” tanya Hami bingung. “Kau bilang kau tidak terluka sama sekali, tapi lututmu terluka..” ucap Baekhyun. “Ahh, tidak apa-apa Baekhyun, ini hanya sedikit tergores.. Aku tidak apa-apa..” ucap Hami mencoba menenangkan ke khawatiran Baekhyun.

“Kau yakin? Perlu aku tempelkan plester luka tidak?” ucap Baekhyun, kini raut mukanya berubah khawatir. “Sungguh, Baek.. Aku tidak apa-apa..” ucap Hami sambil tersenyum. “Baiklah, sebagai gantinya, kau ceritakan bagaimana lututmu bisa terluka seperti itu..” ucap Baekhyun. “Astaga Byun Baekhyun, sudah kubilang aku tidak apa-apa.. Tadi aku hanya tersenggol orang yang sedang berlari dan aku terjatuh.. Sekarang berhentilah mengkhawatirkanku, oke?” ucap Hami sambil duduk di kursi sebelah kasurBaekhyun dan mengusap pelan rambut halus Baekhyun.

“Tapi tidak ada salahnya kan, aku mengkhawatirkanmu..” ucap Baekhyun kembali murung. “Astaga Baekhyun, baiklah baiklah.. Kau tidak salah, sudahlah.. Aku hanya tidak memperhatikan diriku tadi, aku terlalu memikirkan kau Baek, karena kau sahabatku..” ucap Hami mencoba menghibur Baekhyun, namun Baekhyun masih bergeming menatap kosong ke arah buket bunga yang diberi Hami.

“Baek.. Ayolah, aku benar-benar tidak sakit sama sekali..” ucap Hami. “Kau tahu? Aku hanya mengkhawatirkanmu, Hami.. Kau pacarku, kau yang selalu—“ Baekhyun menghentikan ucapannya, ia sendiri terlalu kaget dengan apa yang ia ucapkan tadi. Bisa-bisanya ia mengeluarkan kata-kata yang lancang seperti itu. “A-apa? P-pacar?” ucap Hami gugup.

“A-aahaha, ti-tidak, lupakan saja tentang itu, ya ampun Baekhyun kau ini bicara apa.. Ha-haha, lupakan saja Hami..” ucap Baekhyun sambil merutuki dirinya sendiri di hadapan sahabatnya sendiri dengan gugup. Oke, mungkin perlu aku garis bawahi lagi, sahabatnya. Hami pun hanya membalas dengan senyuman kakunya.

‘Bodoh bodoh! Byun Baekhyun, bagaimana bisa kau membicarakan hal memalukan itu di depannya!’ batin Baekhyun. Beberapa menit mereka hanya terdiam, benar-benar diam—walaupun terkadang keduanya saling melemparkan lirikan kaku.

“Euh, Hami.. Aku ingin tanya sesuatu..” ucap Baekhyun. Baekhyun sebenarnya sudah menghilangkan perasaan gugup, namun tetap saja nada suaranya masih bergetar gugup. “A-ah, ya apa?” tanya Hami dengan gugup. Baekhyun kembali bungkam. Bukan, mereka berdua kembali bungkam.

1 detik

2 detik

3 detik

Sungguh, Baekhyun tidak bisa menahan ini lagi, ia benar-benar harus mengatakannya pada Hami. “E-euh.. Aku ingin menanyakan tentang.. A-apa jawabanmu tentang itu?” ucap Baekhyun. “’Itu’ apa maksudmu?” ucap Hami berbalik bertanya pada Baekhyun. “I-itu pengaku—M-maksudku hal yang kita bicarakan saat di taman sekolah waktu itu..” ucap Baekhyun lalu menundukan kepalanya. Pipinya memanas dan bersemu merah. Sungguh, Baekhyun menahan rasa malu yang luar biasa memalukan.

“Waktu kapan, Baek?” tanya Hami, Baekhyun mengangkat wajahnya dan memasang muka datar. “Aishh, kau ini sebenarnya memang seorang gadis berumur 18 tahun atau kau ini roh yang umurnya sudah ratusan tahun, sih?” omel Baekhyun frustasi. Hami tidak ingin di omeli lagi karena penyakit lupanya kambuh, ia pun mencoba mengingat kejadian di taman saat terakhir kali Baekhyun masuk sekolah.

Ia memutar kedua bola matanya ke segala arah dan sesekali menggelengkan kepalanya karena ingatannya yang lemah itu. “Astagaa..” keluh Baekhyun kesal, namun Hami tetap tidak menghiraukan segala keluhan Baekhyun yang sungguh, ia tidak berhenti mengomel. “Baek, kau diam dulu sebentar agar aku bisa ingat kejadian saat—Ah! Aku ingat, aku ingat!” ucap Hami sambil mengacungkan telunjuk kanannya. Seperti anak kecil saja, pikir Baekhyun.

“Kau ‘kan mengatakan kalau kau.. Me-menyukaiku?” tanya Hami ragu. Tubuh Baekhyun menegang, ia menghentikan napasnya untung saja ia masih dalam keadaan sadar. “Ah y-ya.. Bagaimana?” tanya Baekhyun gugup. Lagi. “A-aku..” ucap Hami, ia menjeda sedikit ucapannya. Baekhyun semakin menegang ia benar-benar takut Hami mengatakan hal yang ia takuti.

“Biarkan aku menghela napasku dulu, Baek.. Huuh..” ucap Hami, sungguh Baekhyun benar-benar gugup dengan jawaban gadis pelupa disampingnya ini dan ia malah bersikap seperti orang idiot. “Ya Byun Baekhyun!” teriak Hami tiba-tiba yang membuat Baekhyun terlonjak dari kasurnya dan nyaris membuka mulutnya untuk mengomeli Hami namun tidak jadi karena Hami langsung berbicara kembali.

“Ya, kau tahu seberapa besar aku menahan perasaanku untuk menyatakan langsung semua perasaanku? Saat kau berbicara, saat kau tertawa, saat kau tersenyum, dan semua yang kau lakukan membuat perasaan ini semakin bertambah setiap harinya, namun aku terlalu malu untuk menyatakan bahwa aku menyukaimu..” ucap Hami panjang lebar.

“Hhh~ Aku sudah tahu akan seperti ini.. Aku tahu kau akan mengatakan bahwa kau—“ Baekhyun menghentikan ucapannya, matanya membulat. “Kau bilang apa tadi? K-kau menyukaiku?” ucap Baekhyun bingung. Dan Hami pun hanya tersenyum menahan tawa dan mengangguk. “Ha?! Kau serius Hami? Wuaa, kyaaaa!! Han Haaamiii, kau memang yang terbaik!” teriak Baekhyun dan memeluk erat Hami.

“Ahaha, ya ya, aku tahu aku memang yang terbaik..” ucap Hami sambil membalas pelukan Baekhyun. Baekhyun pun melepaskan pelukannya lalu memegang kedua pundak Hami dengan lengannya dan tersenyum pada Hami yang membuat tubuh Hami seperti tersengat listrik.

“Terimakasih..” ucap Baekhyun dan medekatkan wajahnya ke arah wajah Hami hingga akhirnya bibir tipis Baekhyun menyentuh bibir cherry Hami. Gadisnya. Selama hampir 1 menit mereka diam dengan posisi seperti itu hingga akhirnya sebuah suara—atau mungkin lebih tepat sorakan, menginterupsi kegiatan manis sepasang kekasih yang baru saja terjalin.
“Wohoo, yeaay!” teriak seorang, pria? Hami dan Baekhyun yang mendengar teriakan itu pun segera melepaskan kontak bibir mereka dan cepat-cepat merapikan penampilan mereka. Sesaat Baekhyun terdiam kaget melihat siapa yang datang.

“C-chanyeol? Sehun?” ucap Baekhyun kaget. Kenapa Chanyeol dan Sehun bisa disini? “Aah, akhirnya kalian datang juga..” ucap Hami sambil tersenyum penuh arti kepada Chanyeol dan Sehun. Baekhyun semakin bingung, ia mengalihkan pandangannya pada Hami dan berganti lagi ke arah Chanyeol lalu Sehun lalu Hami dan kembali lagi pada Chanyeol. Sungguh, sekarang ini ia seperti orang yang idiot.

“Baekhyun-ah, hentikan pandangan konyolmu itu, Hami sengaja menghubungi kami saat ada kabar kau masuk rumah sakit..” ucap Sehun sambil tersenyum. Peristiwa langka yang Baekhyun lihat selama 10 tahun bersahabat dengan Sehun yang selalu memasang muka datar.

“I-itu.. Aku hanya berusaha mengembalikan kalian seperti dulu lagi, jadi aku sengaja menghubungi mereka tapi mereka malah datang disaat yang memalukan tadi.. Kau, tidak marah ‘kan, Baek?” ucap Hami. Tapi Baekhyun malah menundukan wajahnya dan air mukanya kembali murung. Sekarang apalagi?

“Baek, kau marah? Maafkan aku.. Aku hanya melakukan yang kurasa harus kulakukan untukmu.. A-aku hanya ingin kau kembali ceria seperti saat kau masih bersama dengan Chanyeol dan Sehun, aku hanya ingin melihat kau kembali tersenyum, kembali tertawa.. A-aku hanya—“ ucapan Hami terpotong.

“Hentikan Han Hami..” ucap Baekhyun datar. Semuanya terdiam, termasuk Chanyeol dan Sehun dan Hami menundukan kepalanya merasa bersalah. Baekhyun menatap Hami yang menundukan kepalanya. “Aku tidak marah sama sekali, sungguh.. Aku hanya malu pada diriku sendiri..” ucap Baekhyun mulai menjelaskan semuanya, Hami mendongakan kepalanya ke arah Baekhyun dengan tatapan tidak percaya.

“Aku malu.. Untuk ukuran seorang pria, aku malu pada diri sendiri. Aku malu, kenapa kau terus membantuku, padahal seharusnya seorang pria lah yang membuat wanitanya bahagia, tapi aku malah terbaring lemah di kasur sedangkan kau bekerja keras untuk membuatku kembali seperti dulu..” ucap Baekhyun.

Hami tersenyum ke arah Baekhyun dan tangannya memegang erat tangan Baekhyun yang kaku. “Tidak Baek, kau tidak harus malu.. Aku tulus membantumu, dan aku tidak pernah malu menjadi gadismu..” ucap Hami yang membuat pipinya merah karena ucapannya sendiri. Mendengar perkataan manis Hami, Baekhyun pun menarik kedua sudut bibirnya ke atas dan membentuk sebuah senyuman yang mungkin akan membuat semuawanita terpana.

“Aigoo, romantisnya.. Seperti menonton drama saja, membuatku terharu..” ucap Chanyeol. “Ya, sampai tidak menyadari bahwa ada kami disini..” ucap Sehun datar, warna asli mukanya sudah kembali. Hami dan Baekhyun pun tertawa melihat tingkah laku Sehun dan Chanyeol.

“Jadi, Baek.. Kami kesini ingin minta maaf padamu karena sudah menjauhimu dengan alasan konyol itu..” ucap Chanyeol dengn cengiran kudanya. “Tak apa.. Sudah ku maafkan..” ucap Baekhyun sambil tersenyum.
“Ya, aku juga minta maaf sudah mengataimu ‘pengecut’ tapi dibalik semua perkataan kasarku padamu, aku—maksudku kami, sebenarnya sangat mengkhawatirkan saat mendengar bahwa kau punya masalah dengan jantungmu..” ucap Sehun.

“Eey, sudah kubilang tidak apa-apa.. Kemarilah kalian..” ucap Baekhyun dan tersenyum jahil ke arah Chanyeol dan Sehun. “K-kenapa kami harus kesana?” ucap Chanyeol menyadari ada yang tidak beres dengan Baekhyun si Mood Maker itu. “Sst! Jangan banyak bicara, cepat kesini..” ucap Baekhyun masih dengan senyuman jahilnya.

Chanyeol dan Sehun pun akhirnya hanya pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti. “Ini! Rasakan ini! Ini untuk perbuatan kalian yang menyebalkan!” teriak Baekhyun mencubit perut Chanyeol dan Sehun. “Aaah! Appo! Yaaa!” teriak Sehun dan Chanyeol bergantian. Sedangkan Hami hanya tertawa melihat kelakuan ketiga orang konyol ini.

“Ah, Baekhyun-ah.. Aku lupa, Minseok oppa sudah menungguku.. Aku pergi dulu ya..” ucap Hami sambil menatap jam tangan putih yang melingkar di lengannya. “Oh begitu? Baiklah.. Jangan coba-coba melirik pria lain,hati-hati..” ucap Baekhyun dan—

Chup!

—satu kecupan manis mendarat di pipi Hami. Mata Hami membelalak kaget, “A-ah, baiklah.. A-aku akan mengunjungimu lagi besok.. Annyeong, Baek..” ucap Hami dan berjalan dengan cepat. Ia malu. Sedangkan Baekhyun hanya tersenyum senang melihat kelakuan gadisnya itu. “Aigoo, sepertinya Baekhyun sudah benar-benar jatuh cinta..” ucap Sehun.

“Baekhyun sudah ‘dewasa’ ternyata, hahaha..” ucap Chanyeol sambil tertawa. “Mwo? Apa maksud kata ‘dewasa’ tadi, hah?” ucap Baekhyun yang merasa tersindir dengan ucapan Chanyeol. “Tidak, bukan apa-apa, Baek..” ucap Chanyeol dengan raut muka mulai takut.

“Yeol-ah lebih baik kita.. LARI!” ucap Sehun dan mereka pun berlari sebelum Baekhyun kembali mengamuk. “Ya! Kalian! Kemari! Hey!” teriak Baekhyun dari kamarnya, sedangkan Sehun dan Chanyeol sudah berlari keluar kamar Baekhyun.

***
“Aishh! Byun Baekhyun. Anak itu kenapa bisa-bisanya melakukan hal memalukan di depan teman-temannya.. Aah, awas saja kau Baekhyun!” gumam Hami yang masih memegang pipinya.

“Hei, kau Hami, ‘kan?” tanya Chanyeol yang kebetulan lewat. “Ahh, ya.. Kau.. Chanyeol, ‘kan? Oh, dan kau.. Hmm, Sehun? Ah ya, kau Sehun..” ucap Hami yang cukup kesulitan mengingat nama Sehun. “Mm, ngomong-ngomong, selamat ya..” ucap Chanyeol.

“S-selamat?” tanya Hami. “Ya.. Atas hubunganmu dengan Baekhyun.. Aah, dan sekarang anak itu benar-benar seperti orang idiot, dia sering tersenyum bahkan tertawa sendiri.. Mungkin karena memikirkanmu, Hami-ssi.. Pokoknya, selamat ya..” ucap Sehun panjang lebar, sedangkan Chanyeol di sebelahnya hanya melotot memandangi Sehun. Bayangkan saja, baru kali ini ia mendengarkan ucapan Sehun yang panjang lebar.

Pipi Hami seketika kembali memerah karena kata-kata Sehun. “A-ah.. Ya, terimakasih..” ucap Hami malu. “Hei, sudahlah jangan membuat dia malu lagi.. Kalau begitu, kami pergi dulu, Hami-ssi..” ucap Chanyeol dan berjalan beriringan dengan Sehun.

“Mwo? Bagaimana bisa ia malu?” tanya Sehun pada Chanyeol yang samar-samar terdengar oleh Hami. “Ya. Kau tidak lihat pipinya yang memerah karena omonganmu tentang Baekhyun?” ucap Chanyeol.
“Haaish! Byun Baekhyun kau benar-benar akan mati!” gumam Hami dan berjalan cepat ke arah kamar wanita yang tertabrak tadi.

***

Tok tok tok.

Hami mengetuk kamar wanita itu dan kepalanya pun menyembul ke dalam kamar memastikan bahwa itu kamar yang benar. “Oh, oppa..” ucap Hami dan segera memasuki kamar itu setelah ia rasa kamar itu benar. “Oppa, mian aku sedikit terlambat, tadi aku sedikit memberi kejutan pada Baekhyun..” ucap Hami antusias menceritakan kejadian yang ia alami saat menjenguk Baekhyun tadi.

Bahkan sampai memberi kejutan.. batin Minseok. “Oh geurae? Lalu apa yang dikatakan Baekhyun?” tanya Minseok berusaha menutupi kesedihannya. “Ia bilang ia malu karena ia tidak pernah memberiku kejutan padaku, dan ah! Coba tebak. Aku sudah resmi menjadi pacar Baekhyun! Kyaa, oppa tidak tahu seberapa senangnya diriku…….” dan Hami terus saja bercerita tanpa memperhatikan Minseok.

Hah, apa kubilang. Cepat atau lambat ia tetap akan mengungkapkannya, batin Minseok. “Oppa?” tanya Hami yang baru tersadar bahwa Minseok melamun. “Kau mendengarku, ‘kan?” tanya Hami lagi. “A-ah ya.. Benarkah ia melakukannya? Woaah, anak itu ternyata hebat juga, ahaha.. Selamat ya..” ucap Minseok sambil tersenyum sinis.

“Aigoo, senyum apa itu? Iri? Aigoo, oppa jangan terlalu sedih karena wanita.. Oppa pasti akan dapat wanita yang baik-baik..” ucap Hami dan Minseok pun hanya tersenyum. Tiba-tiba ponsel Minseok berbunyi.
“Oh, ne sajangnim? Ah , ye.. Aku akan segera kesana..” Minseok mengakhiri sambungan teleponnya. “Wae oppa? Sajangnim?” tanya Hami. “Ya, kurasa kita telah membangunkan singa yang ada di dalam diri sajangnim.. Aku pergi dulu ya..” ucap Minseok. “Oh, begitu? Baiklah.. Untuk malam ini biar aku yang menjaga wanita ini, oppa istirahatlah dirumah..” ucap Hami.

“Kau yakin kau akan semalaman disini?” tanya Minseok ragu. “Ya, aku akan baik-baik saja.. Besok pagi aku akan pulang dan sekalian menghubungi kerabat dekat wanita ini..” ucap Hami. “Oh, baiklah.. Aku pergi..” ucap Minseok. “Ne.. Oppa, jalgaraa..” ucap Hami sambil melambaikan tangannya dan Minseok keluar dari kamar.

“Ige mwoya.. Aku sendiri lagi?” gumam Hami dan memandangi wanita yang sedang terbaring nyaman di kasurnya. “Aah, aku juga ingin tidur..” rengek Hami sambi menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.

***

“Ireonaa..” ucap seorang wanita yang membuat tidur Hami terganggu. “Mmm, nanti saja..” gumam Hami sambil menepis tangan yang menggoyang-goyangkan bahu Hami. “Huh, astaga.. YA! Ireona ppali!” teriak wanita yang membangunkan Hami. “Ah! Telingaku sakit! Kenapa harus teriak?!” teriak Hami.
“Kakiku. Kakiku lebih sakit kau tiduri sepanjang malam, kau tahu?” keluh wanita itu sinis. “A-ah, mian..” ucap Hami menyadari siapa yang berbicara dengannya. “Tubuhmu, sudah terasa lebih sehat?” tanya Hami mencoba mencairkan suasana. “Lebih sehat bagaimana? Tubuhku, terutama kaki, terasa pegal setelah kau tiduri dengan kepala beratmu itu..” ucap wanita itu sinis.

“A-ahh, mianhe.. Jeongmal mianhe..” ucap Hami sambil membungkukan badannya. “Seharusnya kau berterima kasih setelah aku menyelamatkanmu dari tabrakan mobil sialan itu.” ucap wanita itu dingin. “Wanita ini.. Kenapa selalu marah-marah, ‘sih?” gumam Hami. “Mworago?” tanya wanita itu sambil melebarkan matanya.

“A-ahh, tidak.. Setelah semua bantuanmu, aku benar-benar berterimakasih padamu.. Maaf aku membuat kesan pertama padamu yang buruk..” ucap Hami dengan membungkukan badannya berkali-kali. “Ah, ya ya.. Sekarang duduklah, aku pusing melihat gerakanmu yang naik turun tanpa henti itu..” ucap wanita itu dan Hami pun segera duduk.

“Kalau begitu kita ulang dari awal.. Annyeong haseyo, Han Hami imnida.. Bangapseumnida..” ucap Hami memperkenalkan dirinya. “Ahh geurae? Baiklah, giliranku.. Annyeong, Park Minri imnida.. Nado bangapta..” ucap Park Minri—wanita itu. “Aah, ternyata namamu Park Minri.. Boleh aku memanggilmu ‘eonni’? Kelihatannya kau lebih tua dariku..” ucap Hami dengan senyum ramahnya yang membuat matanya ikut terangkat dan membuat wajahnya terlihat lebih cantik.

“Ahh, begitu ya? Baiklah, mulai hari ini kau boleh memanggilku ‘eonni’..” ucap Minri ramah. “Wuaah, jinjjayo? Ah, aku baru ingat. Hari itu, mengapa eonni menyelamatkanku? Lalu eonni mengapa memotretku? Ah, eonni termasuk fans ku juga?” tanya Hami berbelit-belit.

“Mwo? Fans? Astagaa, aku bukan fans mu Hami.. Ada salah satu temanku—lebih tepat pacarku, tidak sengaja melihatmu, dan yaa, ia salah satu fans mu dan ia memintaku untuk memotretmu.. Aku berusaha keras agar lebih dekat denganmu agar bisa memotretmu dengan jelas, namun saat aku lihat kebelakang, pacarku malah menghilang jadi kukira ia sedang membeli minuman kaleng.. Saat aku melihat ke arahmu lagi, sebuah mobil menghampirimu jadi aku sengaja mendorongmu dan setelah itu aku tidak ingat apapun lagi..” ucap Minri panjang lebar.

“Aahh, ternyata begitu ceritanya.. Lalu, mengapa baju kita bisa sama?” tanya Hami. “Itu.. Entahlah, mungkin kebetulan.. Aku pun baru menyadarinya sekarang..” ucap Minri sambil melihat tubuhnya yang berbalut dress putih yang sama persis dengan Hami. “Oh begitu.. Lalu bagaimana dengan pacar eonni? Ia tidak menjenguk?” tanya Hami.

“Itu masalahnya.. Ponselku dan ponselnya ada padaku, jadi aku tidak bisa menguhubunginya..” ucap Minri dan mukanya langsung murung. “Ah aku ada ide.. Ponsel eonni ada padamu, ‘kan? Coba hubungi teman terdekat pacar eonni saja, mungkin bisa membantu..” ucap Hami. “Ah, benar! Kau pintar, Hami..” ucap Minri dan langsung mengambil ponselnya yang ada di saku dressnya.

Minri pun menghubungi temannya. “Ahn Sungyoung?” gumam Hami yang mendengar nama orang yang Minri tepon. Setelah beberapa menit Minri menelpon temannya ia pun memutus sambungan telpon. “Eottae eonni?” tanya Hami penasaran. “Katanya ia sedang di perjalanan, ia ternyata sudah tahu tentang kecelakaanku kema—“ ada sebuah suara yang menginterupsi pembicaraan mereka.

“Minri!” ucap seorang pria yang Hami rasa itu pacar Minri yang diceritakannya. “Kau tidak apa-apa?” tanya pacar Minri. “Aku tidak apa-apa, Minho-ya.. Terimakasih kau sudah datang..” ucap Minri dan memeluk pacarnya. “Tentu saja aku datang, bagaimana bisa gadisku yang sedang terluka aku tidak datang..” ucap pacarnya dan membalas pelukan Minri.

“Oh, itu siapa?” tanya Minho—pacar Minri. “Ahh, aku lupa.. Ini Hami, orang yang aku selamatkan dari tabrakan mobil kemarin..” ucap Minri tersenyum. “Ah, annyeonghaseyo Han Hami imnida..” ucap Hami memperkenalkan. Minho menatap Hami dengan wajah kaget.

“Kau, Han Hami? Model terkenal itu? Apa aku tidak salah lihat? Chagiya! Kau menyelamatkan seorang artis! Woaah, daebakk.. Minri memang hebat!” ucap Minho sedangkan Hami hanya tersenyum malu. “Oh ya, perkenalkan namaku Choi Minho..” ucap Minho yang memperkenalkan dirinya juga.

“Hentikan tatapan berbinar pada idolamu itu, bodoh! Disaat seperti ini aku merasa seperti bukan pacarmu, kau tahu?” ucap Minri ketus.
“Ahaha, aniya eonni.. Aku bukan tipe wanita yang langsung menyukai seorang pria.. Tenang saja, aku tidak akan merebut Minho-ssi..” ucap Hami mengerti apa yang dimaksud Minri. “Tidak usah memanggilku dengan memakai embel-embel ‘ssi’, panggil saja aku Minho oppa.. Dan kau Park Minri, kau yang bodoh! Rasa sukaku padamu dan Hami berbeda.. Aku hanya suka sebagai seorang fans terhadap Hami..” ucap Minho namun Minri masih saja memasang wajah kesalnya.

“Ya, yang dikatakan Minho oppa benar.. Lagipula aku sudah mempunyai pacar—“ ucap Hami tiba-tiba menghentikan ucapannya. “Mwo? Kau sudah punya pacar?” tanya Minho kaget. “Hah?! Memang tadi aku bicara apa ya? Hehe..” ucap Hami kikuk sedangkan Minri dan Minho hanya memandang tatapan bingung ke arah Hami.

“Hmm, baiklah.. Sepertinya aku harus pergi sekarang, masih ada urusan yang harus kulakukan.. Kalau begitu, sampai ketemu nanti..” ucap Hami dan cepat-cepat keluar dari ruangan Minri. “Aishh, Han Hami bodoh! Bagaimana bisa kau mengucapkan itu di depan fans-mu sendiri.. Aahh, bodoh!” gumam Hami sambil memukul pelan kepalanya.

“Ya, hentikan! Nanti kepalamu sakit..” ucap Minseok yang tiba-tiba muncul di samping Hami. “Oh? Oppa..” ucap Hami menyadari siapa yang berbicara padanya. “Hehe, ayo kita pulang..” ajak Minseok dan Hami pun mengangguk.

***

Matahari mulai naik lagi menyinari kota Seoul, sebenarnya walaupun matahari sudah mulai naik tinggi terkadang masih ada orang yang bergelung di kasur hangatnya—mengingat musim dingin sebentar lagi datang angin jadi semakin dingin— namun berbeda dengan seorang pria yang sedang di periksa karena detak jantungnya sempat berhenti beberapa menit.

“Untungnya, nyawa Baekhyun masih bisa tertolong..” ucap seorang dokter dengan senyum leganya. “Jadi bagaimana keadaan Baekhyun sampai saat ini?” tanya ibu Baekhyun yang ternyata sedang berbicara dengan dokter Kim—dokter yang menolong jantung Baekhyun kembali berdetak.

“Seperti yang ahjumma lihat.. Peredaran darah di jantungnya semakin tidak beraturan dan karena peredaran darah yang tidak beraturan itu masuknya oksigen jadi terhambat dan sering membuat Baekhyun kehilangan detak jantungnya ataupun pusing kepala yang sangat hebat..” ucap dokter Kim menjelaskan.

“Separah itukah?” gumam ibu Baekhyun. “Untuk mencegah penyakitnya mungkin kami bisa melakukan operasi untuk memungkinkan Baekhyun berumur lebih lama..” ucap dokter Kim memberikan solusi.
“Selama ini aku sudah bertingkah bodoh dengan memikirkan keuangan, segera lakukan operasinya dokter Kim..” ucap ibu Baekhyun segera melakukan tindakan untuk menyelamatkan nyawa Baekhyun. Dokter Kim tersenyum melihat tindakan seorang ibu yang benar-benar tulus ingin menyelamatkan anaknya.

“Baiklah, kami akan melakukannya besok pagi..” ucap dokter Kim. “Ah, dan masih ada satu lagi masalah, ahjumma..” ucap dokter Kim.

***

Minseok sebenarnya tidak benar-benar mengantar Hami pulang, ia mengajaknya ke suatu tempat. “Oppa, kita akan kemana? Kurasa ini bukan jalan ke rumahku..” ucap Hami bingung. “Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, tenanglah aku tidak akan melakukan apapun padamu..” ucap Minseok. “Omo, bagaimana bisa seorang Minseok oppa melakukan yang tidak-tidak padaku.. Aku percaya pada oppa..” ucap Hami dan mereka berdua pun terkekeh.

Sesampainya di tempat tujuan, Hami mebelalakkan matanya. “Oppa, tempat ini.. Apa maksud oppa mengajaku kemari?” tanya Hami dengan wajah yang berbinar melihat taman yang sering mereka kunjungi saat mereka masih menginjak bangku sekolah menengah pertama.

“Eottae? Kau menyukainya?” tanya Minseok dan Hami pun mengangguk bersemangat. Taman ini sudah cukup sepi semenjak Hami dan Minseok pergi dari daerah ini. Dulu saat mereka masih disini dan masih berumur 5 tahun (Minseok saat itu sudah 6 tahun), suasana taman selalu ramai dengan suara anak-anak.

“Ini mengingatkanku saat kita masih kecil.. Benar-benar menyenangkan saat itu..” ucap Hami sambil berjalan memasuki taman itu dan memilih duduk di bangku yang di bawah pohon. Tempat duduk Hami dan Minseok saat mereka masih kecil. “Oppa, ingat bangku ini tidak? Dulu kita selalu duduk disini dan aku selalu kau bantu untuk naik ke atas sini karena aku tidak sampai, haha..” ucap Hami dan tertawa mengingat masa kanak-kanaknya.

“Hahaha, geurae..” jawab Minseok singkat. “Oppa, wae geurae? Ada yang ingin kau katakan padaku?” tanya Hami. “A-ahh, itu.. Begini aku ingin kau tahu bahwa aku.. Hmm, bahwa aku..” ucap Minseok. Sungguh saat ini ia benar-benar sulit mengatakannya. “Wae oppa? Katakan saja..” ucap Hami.

“Aku.. A-aku.. Eumm, kemarin aku bertemu sajangnim..” ucap Minseok. Bukan, bukan itu yang ingin dikatakan Minseok saat ini. Bukan topik itu yang ingin ia katakan pada Hami. Namun, sepertinya mulutnya berkata benar, tidak seharusnya ia mengungkapkan perasaannya, lagipula Baekhyun sudah mengambil Hami. Ia tidak boleh merusak hubungan mereka. Ia tidak boleh mencari celah sedikit pun diantara mereka. Hami pasti akan merasa bersalah.

“Ahh, lalu apa katanya?” tanya Hami yang membuyarkan pemikiran Minseok. “A-ah, kemarin aku menjelaskan semuanya dan sajangnim meminta maaf karena sudah berteriak padamu tanpa tahu alasannya.. Jadi, kubilang mungkin kau butuh istirahat dari pekerjaannya, dan sajangnim memberikanmu cuti selama 1 bulan..” jelas Minseok.

“Jinjja? Wuah, oppa gomawo..” ucap Hami dan langsung berhambur ke pelukan Minseok. Hati Minseok sakit, mungkin ini pelukan terakhir yang akan minseok rasakan.

Flashback

Saat Minseok dan Hami sedang berjalan keluar rumah sakit, Minseok melihat ibu Baekhyun berbicara di ruang dokter maka Minseok memberi alasan pada Hami bahwa ia akan ke toilet sebentar. Namun kenyataannya, Minseok menguping pembicaraan ibu Baekhyun dan seorang dokter spesialis jantung.

“Dokter Kim..” gumam Minseok melihat papan nama tertera di depan pintu ruangan. “Ah, dan masih ada satu lagi masalah, ahjumma..” ucap dokter Kim dan Minseok mendekatkan kupignya lebih dekat agar bisa mendengar lebih jelas. “Ne? Apa itu?” ucap ibu Baekhyun. “Seharusnya kami melakukan tindakan ini jauh-jauh sebelum operasi, tapi setidaknya kami memberitahumu.. Kami butuh transplantasi jantung untuk Baekhyun untuk mencegah kemungkinan terburuk saat operasi walaupun itu tidak menutup kemungkinan nyawa Baekhyun terancam, setidaknya kami punya cadangan jika jantung Baekhyun rusak..”ucap dokter Kim.

Minseok membelalakan matanya. “Apa separah itu Baekhyun sakit?” gumam Minseok. “Ne? Tapi bagaimana caraku mencarinya?” tanya ibu Baekhyun panik. “Ahjumma tenang saja, kami akan mencarinya..” ucap dokter Kim. “Ahh, begitukah? Kumohon, tolong selamatkan anakku..” ucap ibu Baekhyun memohon kepada dokter Kim.

“Tentu saja, ahjumma.. Kami akan melakukan yang terbaik..” ucap dokter Kim dan setelah itu, ibu Baekhyun pun keluar dari ruangan dan Minseok bersembunyi di balik tembok. Minseok membulat tekadnya, menghela napas gugup dan berjalan ke arah ruangan dokter Kim tadi. Minseok pun mengetuk pintu ruangan itu dengan gugup.

“Ne, masuk..” ucap dokter Kim dari dalam, saat Minseok masuk dokter Kim menaikkan satu alisnya bingung. “Ada masalah apa kau datang, anak muda? Apa kau sudah ada janji denganku? Siapa namamu?” tanya dokter Kim. Dokter Kim termasuk dokter yang teladan, ia tidak pernah melewatkan satu jadwal dan perintah yang ditetapkan.

“Maaf saya lancang masuk ke ruangan dokter, saya tidak ada janji apapun dengan dokter.. Jusunghamnida, aku mendengar pembicaraan dokter dengan ibu Baekhyun dan—“ ucapan Minseok terpotong. “Tunggu sebentar, mungkin kali ini tidak apa-apa jika kau tidak membuat janji denganku karena jadwalku sedang kosong kali ini.. Tapi, apa kau salah satu anggota keluarga Baekhyun?” tanya dokter Kim.

“Secara biologis mungkin bukan, tapi aku dekat dengan Baekhyun. Aku teman kekasih Baekhyun..” ucap Minseok. “Ahh, kau temannya? Baiklah, apa yang ingin kau tanyakan?” tanya dokter Kim. “Kudengar dokter butuh donor jantung, jadi aku bersedia mendonorkan jantugku untuk Baekhyun..” ucap Minseok.

“Apa? Kau serius, anak muda? Ini hal serius yang dapat menjadi taruhan nyawamu..” ucap dokter Kim kaget. “Aku serius dokter Kim.. Aku hanya ingin temanku kembali hidup, aku bersedia walaupun nyawaku menjadi taruhan..” ucap Minseok serius. Dokter Kim mengurut pelipisnya, ia tidak bisa begitu saja menerima anak muda seperti Minseok, ia juga masih punya rasa manusiawinya.

“Kau benar-benar yakin?” tanya dokter Kim meyakinkan Minseok dan Minseok mengangguk yakin. “Apa yang bisa kulakukan lagi jika seperti ini.. Baiklah jika ini keputusanmu, aku harap kau takkan menyesal.. Kami butuh jantung golongan darah O.” ucap dokter Kim memulai pembicaraannya.
“Karena aku juga bergolongan darah O, maka aku mengajukan pernyataan donor jantung ini..” ucap Minseok. “Begitu ya? Baiklah, kami akan melakukan operasimu besok pagi sekali, karena Baekhyun akan di operasi jam 7 pagi..” ucap dokter Kim. Minseok pun mengangguk mengerti.

“Baiklah, jika tidak ada lagi yang ingin kau katakan lagi, kau boleh keluar dan persiapkan dirimu untuk besok..” ucap dokter Kim. “Kamsahamnida Kim songsaengnim..” ucap Minseok, membungkukan badannya dan berjalan keluar.

“Ah, tunggu sebentar.. Siapa namamu?” tanya dokter Kim. Minseok pun membalikan badannya. “Kim Minseok imnida..” ucap Minseok sambil tersenyum simpul. “Ahh Minseok-ah.. Kau sudah mengambil keputusan yang berani, kau lelaki sejati Minseok-ah.. Ku harap kau akan bahagia kelak..” ucap dokter Kim dan menepuk bahu Minseok bangga. Di zaman yang cukup berkembang ini, masih ada seorang anak yang mengorbankan nyawanya demi temannya.

Back to Present Day

“Oppa.. Ayo kita pulang, aku lelah ingin tidur..” ucap Hami melepas pelukannya dan berjalan ke arah mobil sport Minseok. Minseok yang tidak ingin terlihat kaku oleh Hami, segera mengikuti Hami menuju mobilnya.
“Oppa, kau berjanji akan selalu bersamaku, ‘kan?” tanya Hami. ‘Sekarang apa lagi..’ keluh Minseok dalam hati. “Kau ini bicara apa, seperti orang yang ingin pergi jauh saja..” ucap Minseok tertawa kecil. “Aku hanya bertanya saja, siapa tahu oppa tiba-tiba pergi melupakanku..” ucap Hami. “Ahh, kau tidak ingin aku pergi? Aku tahu aku tampan dan kau tidak ingin pergi dari orang tampan ini,’kan? Kkk~” kekeh Minseok.

“Aishh, oppaa, aku serius..” rengek Hami. “Arraseo.. Akan ku usahakan..” ucap Minseok dan mulai melajukan mobilnya. ‘Aku usahakan.. Aku tidak bisa berjanji..’ batin Minseok.

***

Pagi kembali datang, Minseok benar-benar beruntung masih bisa bangun di pagi buta ini untuk pergi menepati janjinya. Setelah siap, Minseok pun segera pergi ke rumah sakit.

Setelah sampai ia pun langsung datang ke ruangan dokter Kim. “Oh, Minseok-ah? Kau sudah datang?” tanya dokter Kim melihat kedatangan Minseok.

“Kau siap? ibu Baekhyun sudah datang dan sedang di kamar Baekhyun, setelah operasimu selesai, kami akan segera mengoperasi Baekhyun..” ucap dokter Kim menjelaskan. Minseok hanya mengangguk, ia tidak peduli dengan jadwal apapun itu, yang ia khawatirkan hanya Baekhyun dan Hami.

“Ah, Kim songsaengnim.. Aku ingin minta satu hal lagi, tolong berikan Baekhyun yang terbaik, tolong kembalikan kesadaran Baekhyun lagi, ne?” ucap Minseok. “Kau teman yang baik, kami pasti akan melakukan yang terbaik.. Kajja..” ucap dokter Kim dan segera mengajak Minseok ke ruang operasi.

***

“Eomoni, annyeonghaseyo..” ucap Hami saat datang ke rumah sakit, namun ibu Baekhyun hanya membalas sapaan Hami dengan senyum tipis dan raut wajahnya gugup. “Eomoni, wae geuraeseyo?” tanya Hami. “Hami-ah, Baekhyun.. Baekhyun sedang di operasi, aku benar-benar gugup..” ucap ibu Baekhyun. “Ye?? Di operasi? Mengapa eomoni tidak memberitahuku? Sekarang Baekhyun dimana?” tanya Hami panik. “Baekhyun sedang di ruang operasi dan sedang di transplantasi jantungnya.” ucap ibu Baekhyun.

“Kalau begitu, ayo kita kesana eomoni..” ucap Hami dan ibu Baekhyun pun mengangguk. Setelah sampai di depan ruang operasi, Hami melihat dari kaca ada seorang pria yang sedang tidur di samping kasur Baekhyun, wajahnya sangat familiar untuk Hami.

“Minseok oppa?!” teriak Hami kaget melihat Minseok terbaring lemah di samping Baekhyun. Lalu tak lama kemudian seorang suster keluar dari ruangan operasi. “Ah, chogi.. Apa yang sedang Minseok oppa lakukan di dalam sana, suster?” tanya Hami panik. “Ah, Kim Minseok? Ia katanya bersedia mendonorkan jantungnya pada Baekhyun..” ucap suster itu.

DUAR!

Hati Hami rasanya tersengat petir. Perih. ‘Kenapa oppa melakukan ini?’ batin Hami. “Ah, agassi yang bernama Hami?” tanya suster itu. “Ne, waeyo?” tanya Hami yang masih kaget. “Ini, ada titipan surat dari tuan Kim Minseok..” ucap suster itu dan memberikan sepucuk surat berwarna biru polos kepada Hami. Hami pun berusaha menenangkan diri sementara ibu Baekhyun bertanya kepada suster tadi tentang keadaan kedua lelaki yang di dalam sana—baekhyun dan minseok.
Setelah dirinya sedikit tenang, ia membuka surat yang Minseok tulis.

Hami-ah,
Mungkin saat kau membaca ini aku sedang di dalam sana atau mungkin sudah tiada.

Hami-ah, aku ingin minta maaf atas semua kesalahanku padamu selama ini, maaf aku tidak bisa menepati janjiku untuk menemanimu dan selalu ada disampingmu, aku hanya ingin menolong Baekhyun, aku hanya ingin melihat kau bahagia dengannya..

Hami-ah, terimakasih sudah selalu berada di sampingku, terimakasih karena kau sudah terlahir dan selalu menemaniku dari kecil hingga kita sudah dewasa seperti ini, terimakasih kau menjadi sahabatku..

Hami-ah, semoga kau selalu bahagia dengan Baekhyun, aku mendoakan yang terbaik untukmu dan Baekhyun.. Semoga di kehidupan selanjutnya, kita bisa bertemu lagi..

Annyeong Hami-ah.

Dari temanmu yang tidak bisa menpati janjinya,
Kim Minseok.

Air mata Hami tumpah begitu saja dan menangis sekencang-kencangnya meluapkan rasa sakitnya ditinggal temannya. Ibu Baekhyun pun yang tadi ikut membaca surat dari Minseok ikut menenangkan Hami. “Sudahlah Hami, tenangkan dirimu.. Ia pasti baik-baik saja disana..” ucap ibu Baekhyun menenangkan Hami.

Setelah beberapa menit kemudian Hami sudah mulai tenang, ia sudah merelakan kepergian Minseok. Dan disaat itulah, dokter Kim keluar, ibu Baekhyun dan Hami segera menghampiri dokter Kim. Dokter Kim tersenyum ke arah Hami dan ibu Baekhyun.

“Kau, kekasih Baekhyun ‘kan? Temanmu, Minseok.. Telah berhasil mengembalikan Baekhyun..” ucap dokter Kim kepada Hami, dan Hami pun tersenyum.

“Ahjumma.. Anakmu, Baekhyun.. Sudah kembali, nikmatilah hidupmu dengan anakmu, penyakitnya sudah hilang total..” ucap dokter Kim kepada ibu Baekhyun.

Ibu Baekhyun dan Hami segera masuk ke dalam ruangan Baekhyun setelah dokter Kim pergi. “Annyeong eomma.. Annyeong Hami..” ucap Baekhyun dengan wajah berseri.

-Kkeut!
Satu hal lagi yang perlu aku pikirin, pasti bakal pada minta sequel /pede bgt-_-/ Oke, Akhirnya selesai jugaa, setelah melewati masa-masa mogok nerusin FF ini -_- Gimana endingnya? Jelekkah? Kurang memuaskan ya? Oke, aku terima sequel kok, serius ._.
Oh ya daan, Rima eonnii, maafkan aku yang buat sifat mu disini jelek (/.\) /menurut aku._./ (tolong jangan lempar aku pake kayu ._.v) Maaf, aku ga coupel-in eonni sama Baekhyun, Baekhyun udah sama akuu :p Sama Minho gapapa kan? Dan iya maafinn aku juga kalo sifat Minho yang aku buat jelek (/.\) Oh dan, karena aku si stalker sejati nan riweuh Rima eonni /apadah-_-/ aku juga jadi tau temen eonni yang namanya siapa itu, kalo gak salah Suchi eonni ya? Hai, eon salam kenal^^ Maaf aku SKSD, abisnya aku ngeliat eonni dan Rima eonni kayanya seru :3 Aku juga masukkin Suchi eonni kesinii walaupun cuma selewat aja, karena aku cuma tau nama doang, ehehe ._.v
Oke, segitu aja dari aku, komen dong tentang FF ini^^ Kalo responnya banyak janji deh aku kasih sequel, hehe^^ Okay, bye all see u in next FF ^w^)/
LOVE YA{}

 

Iklan

Penulis:

just a simple girl :)

22 thoughts on “I Need You-Chapter 2

  1. huwaa….
    minseok nya matiii…. (nangis guling-guling)
    cerita nya di awal bahagia karena bakehyun jadian tapi di akhirnya syedih banget,,,,,
    tapi mungkin itu yang terbaik bagi minseok,,,hehehe…
    cerita kkeut nya berhasil kok thor,,,jelas banget,,,
    ceritanya bagus tapi mungkin karena cuma 2 shot jadinya agak kecepetan kali ya,,,hehehe…
    keep writing ya…
    gomawoyo,,

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s