So Long [Oneshot]

90

 

Title                       : So Long

Author                  : @ulfahanum1 (DreamGirl)

Main cast             :

  • Choi Jinri
  • Oh Se Hun

Support cast       :

  • Jung Soo Jung
  • Kim Jong In
  • Choi Minho

Rating                   : T

Genre                   : School Life, Romance, Friendship

Length                  : Oneshot

Backsound          : A-Pink – SO LONG

Poster by LittleRabbit’s Artdesign

Disclaimer           : Hello, akhirnya setelah lama menghilang dalam dunia perFFan, author kembali lagi. Maaf kalau misalnya ceritanya jelek. Don’t be silent readers and give some comments for me. Thanks.

Happy Reading

 

Something more than a friend?

-Choi Jinri-

Author POV

“Terkutuklah kau Tuan Oh..” dengus seorang yeoja berparas dingin sambil menggertakkan giginya. Yang dipanggil dengan sebutan Tuan Oh itu mengernyit heran.

“Yah! Siapa yang kau panggil Tuan disini? Aku masih muda dan kita semua tahu itu Jung Soo Jung..” balas Sehun sengit. Mendengarkan Sehun dan juga yeoja yang bermarga Jung bertengkar adalah ritual harian bagi Jinri, yeoja berkulit putih seperti susu dan juga Jongin.

“Ck, selalu seperti ini.” Bisik Jongin dan menyenderkan badannya kesandaran kursi. Matanya menatap dalam Sehun dan juga Soojung yang sedang bersitegang.

“Hah..” Jinri menghela nafas panjang, matanya tertuju kepada ketiga sahabatnya itu. Ia pusing, kepalanya serasa ingin pecah apalagi setelah mendengar suara teriakan Soojung yang begitu menggema diruangan dimana mereka berkumpul.

“Diamlah! Kalian ingin aku pukul?” bentak Jinri yang akhirnya membuat Soojung dan juga Sehun sukses diam.

“Apa? Tidak puaskah kau selama ini memukuliku? Sudah hampir 13 tahun kita bersahabat dan kau selalu memukuliku. ” balas Sehun dan menatap Jinri dingin. Jinri tersenyum simpul dan mendekat kearah Sehun yang sedang rebahan diatas sofa.

Pletak!

“Yah! Kau tahu? Itu sakit bodoh..” rutuk Sehun dan mengelus kepalanya yang terkena imbas pukulan Jinri. Sehun merubah posisinya menjadi duduk dan membiarkan Jinri duduk disebelahnya.

“Aku tahu Oh Sehun, tapi ini rumahku. Bisakah kalian sedikit tenang? Aku tidak keberatan jika kalian berdua berdebat disekolah tapi tidak dirumahku..” ucap Jinri dan merangkul Sehun hangat. Sebuah senyuman meluncur begitu saja dari mulut Sehun. Sungguh, ia senang dirangkul seperti ini oleh sahabatnya sendiri, Choi Jinri.

“Kau begitu jinak jika sudah Jinri yang turun tangan..” sindir Soojung dan tersenyum meledek. Sehun menatap garang Soojung.

“Aigooo, uri Sehunnie neomu kyeopta..” Soojung berjalan kearah Sehun yang masih dirangkul oleh Jinri, tangan Soojung dengan cepat mengelus puncak kepala Sehun.

“Sial kau Jung Soojung..” dengus Sehun dan menatap Soojung yang sudah berlari kearah Jongin, meminta pertolongan dari kekasih sekaligus sahabatnya itu.

oOo

Hari berganti malam, kini hanya tinggal Sehun dan juga Jinri yang ada dirumah Jinri. Mereka berdua tengah menikmati makan malam yang disediakan oleh pembantu Jinri. Tunggu, makan dengan kesunyian apakah bisa dibilang nikmat? Ya, mereka berdua hanya diam dan sibuk dengan pemikiran masing-masing. Tak ada yang mau mengeluarkan suara hingga suara derap langkah mengalihkan Jinri.

“Oppa? Kau sudah pulang?” tanya Jinri kepada sosok laki-laki jangkung yang lebih tepatnya adalah Oppanya.

“Ya, aku sudah pulang. Dan lihatlah, pangeran yang selalu menjaga adikku..” goda Minho dan tersenyum kecil melihat tingkah Sehun yang tiba-tiba menjadi gugup.

“Hyu-hyung, aku bukan pangerannya..” cegat Sehun dan menunjuk Jinri yang hanya tersenyum simpul mendengar ucapan Oppanya.

“Aku hanya sahabatnya, sahabat kecilnya..” tambah Sehun membuat senyuman Jinri luntur begitu saja. Ada rasa sesak didada Jinri dan Jinri tidak tahu apa penyebabnya. Apakah karena ucapan Sehun barusan? Atau karena makanan yang ia makan masuk kesaluran pernafasan bukan kesaluran pencernaannya?

“Aku selesai..” sahut Jinri sembari meneguk air minumnya sekilas kemudian melenggang pergi meninggalkan Minho –Oppanya- dan juga Sehun.

“Aku juga sudah selesai. Selamat malam Hyung..” pamit Sehun dan membungkuk sopan kepada Minho.

“Selamat malam Sehun..” balas Minho dan menatap punggung Sehun yang sudah meninggalkan kediaman Choi.

Author POV END

Jinri POV

Aku berdiri dibalkon kamar sembari menikmati semilir angin malam yang benar-benar menusuk ketulangku. Aku diam dan menatap kelantai bawah, aku melihat Sehun yang bergegas menuju rumahnya yang tepat berada disebelah rumahku. Senyuman pahit terukir begitu saja dibibirku.

“Andaikan 13 tahun yang lalu kita tidak bertemu, mungkin sekarang kita bukan sahabatkan Sehunnie?” lirihku dan menghembuskan nafas berat.

“Kau melamun?” Aku tersentak kaget dan sontak melangkah mundur saat mendengar suara Sehun bertanya kepadaku. Inilah kebiasaan buruk seorang Oh Sehun, ia dengan mudahnya melompat dari balkon kamarnya kebalkon kamarku yang kebetulan bersebelahan dan tidak terlalu jauh.

“Kerja yang bagus, kau mengagetkanku..” ucapku kesal dan memukul pundaknya pelan.

“Berhentilan memukuliku..” Sehun menahan lenganku dan tiba-tiba saja menarikku kedalam pelukannya. Pelukannya terasa hangat, aroma maskulin tubuhnya membuat jantungku bekerja tidak normal.

‘Oh jantungku sayang, kau ingin aku diperolok-olokan oleh Sehun karena kau berdetak cepat saat dipeluk olehnya?’ batinku dan terdiam didalam pelukan Sehun.

“Kau tidak boleh memukuliku lagi mulai sekarang..” ujarnya dengan suara serak. Aku tidak bergeming didalam pelukannya. Aku merasa badan ini terasa terlalu nyaman dipelukannya.

“Jika menciumku boleh..” kekehnya kecil ditelingaku. Aku mencubit pinggangnya keras membuat ia merintih kesakitan.

“Ada perlu apa? “ tanyaku dan mencoba melepaskan pelukannya. Tapi apalah daya seorang yeoja, Ia semakin mempererat pelukannya.

“Aku hanya merindukanmu..”jawabnya cepat dan mengecup puncak kepalaku pelan.

“Apa? Omong kosong. “ cibirku dan tersenyum tipis saat kurasakan ia kembali mencium puncak kepalaku.

‘Berhentilah bersikap seperti ini Sehun, jangan membuatku terlalu berharap kepadamu.Bukankah kita seorang sahabat?’ Lirihku dalam hati.

“Kau tahu? Tidak ada seorang sahabat yang memperlakukan sahabatnya seperti ini..” sambungku. Kurasakan pelukan Sehun merenggang. Ia menatapku dengan sebuah senyuman yang begitu tampan.

“Tentu saja ada dan itu adalah aku. Apa sahabat tidak boleh memeluk sahabatnya sendiri? Apa sahabat tidak boleh mencium sahabatnya sendiri bahkan sahabat itu mencium tidak dibibir melainkan disini.” jelas Sehun panjang lebar dan menunjuk kepalaku. Aku terdiam. Apa yang dikatakan Sehun benar. Bukankah seorang sahabat boleh memeluk dan mencium sahabatnya sendiri?

“Dan apakah kau lupa Choi Jinri? Aku pernah memandikanmu disaat kau jatuh sakit 11 tahun yang silam. Aku sudah melihat tubuhmu yang tanpa liukkan dan dada datar yang kau miliki saat itu.” Cibir Sehun dan mengedipkan matanya. Aku terperangah mendengar ucapannya. Wajahku serasa memanas, aku malu. Benar-benar malu. Memang benar aku pernah dimandikan Sehun saat umurku 7 tahun ketika aku jatuh sakit.

“Kau tahu OH SEHUN? Aku ingin menghantamkan kepalamu kedinding agar kau melupakan hal memalukan itu. “ teriakku didepannya. Sehun tertawa geli dan masuk kedalam kamarku, meninggalkanku yang masih kesal dengan sikapnya.

“Yah! Apa yang kau lakukan? Keluarlah sebelum aku memukulimu.” Cercaku kepadanya yang tengah asik rebahan diatas kasurku.

“Bukankah aku sudah mengatakannya? Kau tidak boleh memukuliku lagi mulai sekarang, jika menciumku boleh..” jawabnya dengan santai.

“Aah! Kau benar-benar membuatku gila..” teriakku frustasi.

“Kemarilah, aku akan memelukmu hingga tertidur..” suruhnya dan menepuk pelan permukaan kasurku.

“Kau gila? TIDAK ADA SAHABAT YANG TIDUR DENGAN SAHABATNYA SENDIRI!! SEKARANG KELUAR!!” ucapku kepadanya dan menyeretnya keluar dari kamarku. Aku menutup pintu menuju balkonku, membiarkan Sehun diluar sana. Ia tersenyum kearahku, entahlah aku sendiri tidak mengerti apa arti dan senyuman itu sebenarnya.

“Selamat malam sahabat kecil manisku..” ia menghembuskan nafasnya dijendela kamarku dan menuliskan hal tersebut.

“Pulanglah..” cibirku dan melesat meninggalkannya yang kuyakini juga sudah pulang.

oOo

Seoul, 06.30 KST

Berulang kali aku mengerjapkan mataku, cahaya yang berpacu masuk melewati jendelaku benar-benar menganggu. Kuputar sedikit badanku lebih tepatnya melirik jam berapa sekarang.

“Sialan kau Oh Sehun, kau membangunkanku terlalu pagi..” gerutuku dan menguap kecil. Ya, Sehun selalu datang kerumahku setiap harinya hanya untuk membangunkanku.

“Kau sudah bangun?” tanya seseorang yang kuyakini adalah Sehun. Ia meletakkan sebuah nampan yang berisi segelas susu dan juga piring yang berisi roti diatas meja riasku.

“Tentu saja, bukankah ini ulahmu? Lihat!” tunjukku dengan wajah masam kearah jendela kamarku. Sehun terkekeh kecil dan duduk ditepi ranjangku.

“Kau membuat sebuah danau kecil sayang..” serunya dengan suara lembut membuat jantungku berdetak cepat.

“A-apa maksudmu bodoh?” tanyaku gugup dan mengacak rambutku frustasi. Ayolah, ini masih pagi dan jantung sialan ini sudah berdetak melewati batas normal.

“Kau lihat dibantalmu.” Jawabnya santai dan mengangkat bahu.

“Persetan…” gumamku setelah melihat apa yang ada dibantalku. Sehun tersenyum sumringah dan mengacak rambutku pelan.

“Kau mandilah, setelah itu makan sarapan ini. Aku akan menjemputmu dalam 30 menit.” Ucapnya dan bangkit dari ranjangku.

“Kau benar-benar sangat suka mengatur hidupku..” seruku tak terima.

“Kau ingin aku mandikan seperti 11 tah-“

“Berhentilah mengungkit itu bodoh!!” kesalku dan melemparkan sebuah bantal kearahnya.

“Tidak, tidak akan..” jawabnya singkat dan berjalan pergi meninggalkanku.

Jinri POV END

Sehun POV

Seperti ucapanku tadi, aku benar-benar kembali dalam 30 menit kekamarnya hanya untuk menjemputnya. Ia sudah rapi dengan seragam kebanggaan sekolah kami. Kulirik nampan yang tadi kuletakkan dimeja rias, tidak ada lagi susu dan juga rotinya. Syukurlah, sahabat manisku menghabiskan sarapannya.

“Kau akan mengikat rambutmu?” tanyaku saat menyadari ia akan mengikat rambutnya.

“Hmm.” Dehemnya pelan. Aku mengerucutkan bibirku dan mendekat kearahnya.

“Kau tidak cantik. Jangan diikat..” cegatku dan menatap bayangan kami berdua didepan kaca rias.

“Sejak kapan aku terlihat cantik didepanmu huh? Bukankah selama ini kau bilang aku ini tidak cantik?” Jinri menggembungkan pipinya, membuat ia semakin manis dan juga lucu.

“Aku memang tidak bilang kau cantik, tapi aku selalu mengatakan bahwa kau ini manis..” belaku. Jinri menjulurkan lidahnya kecil dan dengan cepat mengikat rambutnya.

“Kau tidak mendengarkanku?” keluhku. Jinri mengangguk mantap dan menyandang tas ransel bewarna biru mudanya itu.

“Ayo pergi..” ajaknya dan menyeretku kelantai bawah untuk pergi kesekolah bersama.

oOo

Genie High School, 07.20 KST

Aku dan Jinri sampai disekolah, Jinri berjalan lebih dahulu dariku. Ia berjalan dengan langkah cepat sedangkan aku dibelakang mengekorinya. Aku mendesah pelan dan melihat tanganku yang kosong, tak ada tangan Jinri disini. Biasanya kami akan bergenggaman tangan layaknya sepasang kekasih, tapi tidak lagi untuk 2 tahun ini dan aku tidak mengerti dengan perubahan sikap Jinri.

“Yah!” teriak Jinri saat dengan cepat aku mengikuti langkahnya dan menarik paksa ikatan rambutnya. Membuat rambutnya tergerai indah.

“Kau ingin kupukul?” gertaknya dan menatapku sengit.

“Boleh, tapi berjanjilah satu hal..” ujarku kepadanya. Jinri mengernyit bingung.

“Berjanji apa?” tanyanya bingung.

“Pukul bibir dengan bibir..” cibirku dan tersenyum geli saat melihat Jinri dengan langkah cepat meninggalkanku.

“Menggemaskan..” seruku dan tetap memandang punggungnya yang semakin jauh.

“Sampai kapan?” sebuah tangan melayang indah dipundakku. Aku tersentak kaget dan menoleh kesisi kiriku. Kim Jongin, sahabat baikku itu tengah menunjuk kearah Jinri yang tengah berjalan menaiki tangga.

“Apa maksudmu?” tanyaku tak mengerti.

“Sampai kapan kau akan menjadi sahabatnya? Kau menyanyanginya bukan? Dan sepertinya Jinri juga begitu menyayangimu..” jelas Jongin.

“Kami bersahabat, dan pastinya sahabat itu saling menyayangi..” sergahku dan mulai melangkah menuju kelas.

“Aku tahu, tapi rasa sayang Jinri kepadamu berbeda. Aku bisa melihatnya..” seru Jongin membuatku tersenyum kecil.

“Kau bukan peramal Kim Jongin..” ejekku membuat Jongin memukul pelan pundakku.

“Aku tahu, hanya saja aku tidak ingin sahabatku tersiksa lebih lama..” ujar Jongin dan mengangkat bahunya.

“Tersiksa apanya? Aku tidak menyakitinya..” ucapku tidak terima.

“Kau benar-benar bodoh. Ayo kekelas.” Ajak Jongin. Aku terdiam dan mengikuti langkah besar Jongin.

‘Apa aku pernah menyakitimu Jinri?’ batinku dalam hati dan mendesah pelan.

oOo

Aku duduk dibagian belakang bersama dengan Jongin. Pandanganku hanya tertuju pada Jinri yang duduk bersama Soojung didepan sana. Ia melirik kearah Soojung dan melemparkan senyuman andalannya yang begitu manis. Aku tidak pernah bosan melihat senyuman itu walaupun aku sudah bersahabat dengannya selama 15 tahun. Senyuman yang benar-benar memabukkan dan membuatku candu untuk melihatnya.

“Kau mengawasinya?” bisik Jongin dan tersenyum mengejek.

“Ya, karena aku sahabatnya..” jawabku membuat tawa Jongin meledak.

“Kau tahu? Aku benar-benar bosan mendengar kata sahabat dari mulutmu. Aku juga sahabatnya tapi tingkahku terhadapnya tidak sepertimu..” jelas Jongin panjang lebar.

“Karena aku su-“

“Karena kau sudah bersahabat dengannya 13 tahun? Iyakan? Sudahlah. “ Jongin memasang earphonenya dan tidak mendengarkan ucapanku lagi.

Seoul, 15.00 KST

Aku memperhatikan Jinri yang rebahan dikamarnya. Aku mendengus pelan dan mendekat kearahnya, ikut merebahkan badanku disebelahnya. Ia hanya diam. Jinri benar-benar berbeda 2 tahun ini. Kemana Jinriku yang dulu? Aku memutar badanku untuk menatap badannya yang membelekangiku.

“Jinri?” panggilku. Tak ada jawaban. Tidurkah dia?

“Jinri?” panggilku lagi. Masih tak ada jawaban. Aku beringsut mendekat kearahnya, sepersekian detik aku langsung merengkuhnya posesif.

“Jinri?” panggilku lagi dengan suara pelan dan juga lembut. Masih tak ada jawaban, yang kudengar hanyalah suara dengkuran kecilan.

“Selamat beristirahat..” aku mengeratkan pelukanku terhadapnya. Kurasakan mata ini semakin berat. Rengkuhanku terhadap dirinya tak ingin kulepas hingga ia terbangun nantinya.

Sehun POV END

Author POV

Jinri beringsut bangun, dia menguap kecil dan mata yang indah itu mengerjap berulang-ulang kali. Jinri memutar badannya, tepat kearah dimana Sehun memeluknya tadi. Wajahnya berubah kaget saat melihat Sehun tidur disebelahnya.

“YAH! OH SEHUN!” umpat Jinri kesal dan menjambak rambut Sehun.

“Yah! Appo..” ringis Sehun yang langsung terbangun dari tidurnya.

“Bukankah aku sudah pernah bilang? Tidak ada sahabat yang tidur bersama dengan sahabatnya..” bentak Jinri kepada Sehun yang kini sedang meregangkan badannya.

“Apa tidurmu nyenyak? Aku memelukmu hingga kau terbangun. Bukankah itu terasa nyaman?” ujar Sehun mengalihkan pembicaraan. Jinri menghembuskan nafas kecil dan dengan segera bangkit dari ranjangnya.

“Kau pulanglah, aku sedang malas bertemu denganmu.” Suruh Jinri yang membuat Sehun membulatkan matanya.

“Apa? Kau kenapa?” cerocos Sehun dan menahan lengan Jinri yang akan pergi.

“Aku tidak apa-apa, sungguh.” Jawab Jinri sambil menghempaskan tangan Sehun yang menahannya.

“Kau berubah, apa kau punya masalah?” tanya Sehun dengan suara lirih.

“Tidak, aku ingin mengganti bajuku. Sebaiknya kau pulang sekarang Sehun..” suruh Jinri. Sehun melangkah dengan berat hati kearah balkon kamar Jinri kemudian menghilang. Ya, dia sudah pulang kerumahnya.

Jinri menarik nafas dalam-dalam dan memukul dadanya berulang kali. Dadanya sesak. Ia tidak mengerti dengan perasaan ini. Ia senang dipeluk oleh Sehun tadi, tapi dilain hal dia merasa takut dengan persahabatan mereka yang tiba-tiba saja akan berganti dengan permusuhan. Jinri takut Sehun menyadari perasaan Jinri yang sesungguhnya terhadap Sehun.

“Ke-kenapa? Dia hanya sahabatku, tak lebih..” setetes air mata jatuh bergulir dipipi mulus Jinri yang dengan cepat diseka Jinri.

“Kumohon perasaan ini pergilah..” lirih Jinri dan terduduk lemah dilantai kamarnya. Ia menangis tersedu, memohon agar perasaan yang selama ini mengganggunya hilang begitu saja.

oOo

Sehun duduk diruang keluarga kediaman Oh. Sedari tadi ia membalik buku komik yang dipegangnya, tak ada niat untuk membacanya.

Prak!

Sehun membuang komik itu keatas meja dengan keras yang menghasilkan suara dentuman kecil. Nyonya Oh yang berada didekat Sehun menatap bingung anaknya. Ini kali pertama baginya melihat anak kesayangannya itu bertingkah aneh dan emosional seperti ini.

“Kau kenapa sayang?” tanya Nyonya Oh dan membereskan buku komik kepunyaan Sehun.

“Jinri bersikap aneh kepadaku akhir-akhir ini, dia tidak seperti Jinri yang dulu. Aku tidak mengerti dengan perubahan sikapnya Eomma..” geram Sehun dan menatap Nyonya Oh dengan masam.

“Berubah bagaimana? Bisakah kau memberikan Eomma contoh?” tanya Nyonya Oh lagi dan duduk disebelah Sehun.

“2 tahun yang dulu, kemanapun kami pergi dia akan selalu menggenggam tanganku layaknya sepasang kekasih. Tapi sekarang? Ia selalu berjalan mendahuluiku..” gerutu Sehun dengan menggebu-gebu.

“Lalu?” Nyonya Oh tersenyum kecil melihat tingkah anaknya itu.

“Jika kupeluk dia akan selalu memberontak minta dilepaskan atau mengancam akan memukuliku.” Cuap Sehun dan mengacak rambutnya frustasi.

“Kau tahu Sehunnie? Dia hanya tidak mau orang-orang salah sangka dengan hubungan kalian. Sekarang kalian sudah berumur 18 tahun, berpelukan dan berpegangan tangan bukanlah hal yang biasa bagi orang-orang seumuran kalian. Orang yang melihatnya akan mengira bahwa kalian adalah sepasang kekasih. “ jelas Nyonya Oh panjang lebar dan membereskan tatanan rambut Sehun.

“Apa Jinri seperti itu karena ada seseorang yang sedang ia sukai Eomma?” Wajah Sehun seketika berubah dingin dan menatap Nyonya Oh dalam.

“Mungkin saja. Siapa yang tahu bukan?” jawab Nyonya Oh dan mengangkat bahu.

“Aah, sial. “ dengus Sehun dan mengacak rambutnya kembali.

Sehun berlari meninggalkan Nyonya Oh yang hanya tersenyum tipis. Sehun pergi kebalkon kamarnya, bersiap akan melompat kebalkon kamar Jinri. Ia ingin menanyakan sesuatu kepada Jinri.

Bruk!

“Ah..” teriak Sehun kecil saat kakinya tersangkut dan membuat dirinya tersungkur dibalkon kamar Jinri.

“Kau baik-baik saja?” tanya Jinri yang sudah berdiri dipintu balkon kamarnya.

“Ya. “ jawab Sehun angkuh dan segera berdiri. Sehun menatap wajah Jinri dalam, ia melihat ada raut tak nyaman diwajah Jinri.

“Kau baik-baik saja?” tanya Sehun dan mendekat kearah Jinri. Jinri melangkah mundur dan mengangguk kecil.

“Wajahmu berkata tidak kepadaku. Ada apa? Katakanlah..” ucap Sehun sedikit memaksa. Ia menahan lengan Jinri yang terus berjalan mundur. Sehun menarik badan Jinri kuat untuk mendekat kearahnya. Sehun mendengar suara desahan keluar dari mulut Jinri.

“Kau membuatku bingung Choi Jinri. Sikapmu ini begitu ambigu..” sambung Sehun dengan suara yang semakin tinggi.

“Aku tidak melakukan apapun kepadamu..” desah Jinri pelan dan menundukkan kepalanya.

“Oh ayolah Choi Jinri sahabat manisku, 2 tahun ini..tidakkah kau merasakannya?” sungut Sehun dan semakin menarik Jinri untuk lebih mendekat kearahnya.

“Ada apa dengan 2 tahun ini?” tanya Jinri dan mendongakkan kepalanya, menatap mata Sehun.

“Kau berbeda. Dulu aku dengan gampang bisa memelukmu, bisa mengenggam tanganmu kemanapun. Kenapa sekarang tidak lagi? Kau menyukai seseorang dan tidak ingin orang itu mengira bahwa kita ini pacaran? Benar bukan?” ujar Sehun panjang lebar. Jinri mengerjapkan matanya berulang kali, mencoba mencerna satu persatu kata yang dilontarkan Jinri.

“Aku ini sahabatmu! Jika kau menyukai seseorang katakanlah kepadaku!! Setidaknya beri tahu aku siapa dia jadi aku bisa sedikit menjaga jarak darimu dan membuat orang itu bisa dekat denganmu.” Sehun menghempaskan tangan Jinri dan menatap Jinri sengit.

“Se-sehun, Oh Sehun.. “ lirih Jinri dan mundur selangkah. Tatapan Sehun benar-benar menusuk relung hati Jinri yang paling dalam.

“Aku tidak suka kau seperti ini! Menyimpannya sendirian! Bukankah kita sahabat?! ” bentak Sehun dan sukses membuat air mata Jinri jatuh begitu saja. Sehun pergi dari kamar Jinri, meninggalkan Jinri yang menangis tersedu dengan bentakan dan ucapan dari Sehun.

Author POV END

Jinri POV

Seoul, 08.00 KST

Aku bergerak malas menuruni ranjangku, kulirik jam yang sekarang sudah menunjukkan pukul 8. Sial, aku terlambat bangun dan sepertinya aku harus mengorbakan hari ini untuk tidak kesekolah. Kenapa Sehun tidak datang untuk membangunkanku? Apa ia marah kepadaku karena hal kemarin sore?

Dengan langkah gontai aku menuju kekamar mandi, mencuci muka dan menatap bayanganku didepan kaca sana. Persetan dengan wajah sembab dan juga mata yang sembab. Kenapa aku menangis lagi semalam? Kenapa aku menangisi dia lagi? Bukankah ini semua percuma, Sehun tidak akan pernah mengetahui perasaanku.

Drrt..Drrt..

Aku meraih ponsel yang kuletakkan didashboard tempat tidur. Sebuah pesan baru saja masuk dan pesan itu dari Soojung.

From     : Soojung

Kau dimana? Hari ini bolos sekolah bersama dengan Sehun? Dia tidak masuk sekolah hari ini.

Aku terlonjak kaget. Sehun tidak masuk sekolah hari ini? Bagaimana bisa?

To           : Soojung

Aku telat bangun. Sehun tidak masuk sekolah hari ini? Apa kau sudah mencoba menghubunginya?

From     : Soojung

Dia sakit.

Sakit? Sial. Dengan cepat aku mengganti pakaianku dengan baju kaus bewarna hitam dan celana jeans selutut. Aku keluar kamarku, melirik kebalkon kamar Sehun.

“Ba-bagaimana?” gugupku saat mencoba melompati balkon kamar Sehun.

“Hah, ini terlalu berbahaya. Sebaiknya aku kebawah saja..” gerutuku dan kembali kekamar. Mengambil ponsel yang hampir saja kutinggalkan dan berlari menuju rumah Sehun.

oOo

Aku menekan knop pintu kamar Sehun dan mendorong pintu tersebut perlahan. Kulihat wajah tirus milik Sehun tengah tertidur lelap diatas kasurnya. Aku melangkah masuk dan menutup kembali pintu kamar Sehun.

Dengan hati-hati aku duduk ditepi ranjang Sehun, tangan kiriku dengan bergetarnya tergeletak diatas kepala Sehun. Panas, itulah yang kurasakan saat permukaan tangan ini bertemu dengan permukaan kepala Sehun.

“Bodoh..” cibirku dan menarik kembali tanganku.

“Siapa yang kau bilang bodoh hmm?” ujar Sehun dan membuka matanya.

“Yah! Kau membuatku kaget..” rutukku dan melayangkan sebuah pukulan hangat dikepalanya.

“Sudah aku bilang! “ ujarnya dan menahan lenganku, secepat mungkin ia menarikku kedalam pelukannya.

“Aku merindukanmu. Maaf jika aku membuatmu menangis kemarin..” bisiknya halus dan mengelus rambutku dengan lembut.

“Jangan bilang kau sakit karena merindukan sahabat manismu ini..” ejekku membuat sebuah senyuman tergambar dibibir Sehun.

“Aku sakit karena aku tidak memelukmu kemarin malam sebelum tidur. Kau tahu, bagiku pelukanmu adalah obat tidur. “ serunya membuatku terdiam. Hanya karena itu?

“Hanya karena itu? Konyol..” ucapku yang masih berada didalam pelukannya.

“Apa kau lupa setiap malam aku selalu melompati balkon kamarmu, menyuruhmu keluar kemudian memelukmu?” tanya Sehun dan menautkan alis matanya.

“Kau benar. Semalam kau tidak mendatangiku..” anggukku cepat dan memukul pelan dada bidangnya.

“Lepaskan bodoh, aku tidak suka dengan posisi ini..” sambungku yang malah membuat Sehun semakin mengeratkan pelukannya.

“Jinri, sekarang aku sakit. Bisakah kau mandikan aku seperti aku memandikanmu 11 tahun yang silam?” rengek Sehun yang membuat wajahku bersemu merah.

“Kau gila?” bentakku dan mencubit pinggangnya keras.

“Yah! Sakit bodoh. Tidak bisakah kau bersikap lembut kepadaku?” gerutu Sehun membuatku tersenyum kecil.

“Biar aku pertimbangkan dahulu. “ jawabku dan melepaskan pelukan Sehun. Aku duduk ditepi ranjangnya, menatap Sehun sekilas sembari berpikir.

“Kenapa begitu lama?” oceh Sehun yang sukses membuatku tersenyum geli.

“Aku bisa bersikap lembut kepadamu. Sebaiknya kau mandi Oh Sehun. Aku akan pergi kebawah untuk mengambil sarapanmu.” Suruhku kepadanya. Sehun mendecakkan lidah tak suka.

“Aku sedang malas mandi..” jawabnya dan kembali menarik selimutnya hingga menutupi seluruh badan tak terkecuali kepala.

“Baiklah, terserah kau saja. Aku akan kembali dalam 10 menit..” ujarku dan melenggang pergi dari keluar kamarnya. Aku berjalan dengan langkah cepat menuju kedapur rumah Sehun, mencari sosok Nyonya Oh dan membawa makanan yang sudah disiapkan oleh Nyonya Oh –Eomma Sehun-.

Dalam 10 menit aku kembali kekamar Sehun. Ia sudah merubah posisinya menjadi duduk dan menatapku sekilas. Aku melayangkan sebuah senyuman tipis kemudian duduk ditepi ranjangnya.

“Makanlah..” suruhku kepadanya dan menyodorkan nampan yang kupegang.

“Suapkan aku..” perintahnya dengan wajah memelas.

“Ne? Kau punya tangan bukan? “ seruku secara tidak langsung menolak perintahnya.

“Tapi aku ingin kau menyuapiku Jinri..” lirihnya dan menekukkan kepala kebawah. Aku mendengus kesal dan dengan berat hati aku menyendokkan bubur yang dibuatkan Nyonya Oh.

“Bukalah mulutmu.” Suruhku dan dengan cepat Sehun mendongakkan kepalanya kearahku. Ia tersenyum merekah dan langsung memakan sesendok bubur yang kuarahkan kepadanya.

“Choi Jinri..” gumam Sehun memanggil namaku. Aku melirik heran kearahnya, memandangnya dengan penuh tanya karena ia memanggilku dengan nama panjangku.

“Kau masih ingat pertemuan kita dahulu?” tanya Sehun yang membuatku mengangguk kecil dan kembali menyuapkan bubur kearah Sehun.

“Ya, aku tidak pernah melupakan hal itu. Seorang namja berkulit seputih susu datang menghampiriku disaat semua orang menyisihkanku. Namja itu berkata kalau dia ingin berteman denganku dan dia juga bilang entah darimana muncul perasaan untuk melindungiku, yeoja rapuh yang tidak memiliki teman.” Jelasku panjang lebar dan Sehun mengangguk-anggukan kepalanya dengan senyuman tipis dibibirnya. Sebahagia itukah kau Oh Sehun?

“Namja itu bernama Oh Sehun, dia selalu melindungiku. Dia selalu menjagaku dari orang-orang jahat yang menggangguku bahkan dia tidak pernah membiarkan seorang namjapun menyentuhku. Pernah suatu ketika, saat aku tengah duduk dikelas menunggu dia membelikan minuman kaleng. Seorang laki-laki berpipi Chubby dengan wajah tampan datang dan duduk disebelahku. Laki-laki itu bernama Lee Taemin, sunbae kita. Dia hanya menyentuh pipiku sedikit tapi malaikat pelindungku langsung melayangkan sebuah pukulan hangat. “ celetukku membuat Sehun terkekeh kecil.

“Karena aku benar-benar tidak suka melihat sahabat kecilku disentuh oleh orang lain selain aku. Tangan ini, bibir ini, pipi ini, dahi ini, semuanya adalah milikku..” jawab Sehun dan menggenggam tanganku. Aliran hangat langsung menjalar keseluruh tubuhku dan berujung dipipiku yang berubah menjadi rona merah.

“Kau selalu bersikap sesuka hatimu..” ketusku dan menarik tanganku dari genggamannya.

“Hmm, apa kau ingat Sehun?” seruku dan menggaruk tengkukku yang tak gatal.

“Apa?” tanyanya dan menatapku bingung.

“Bagaimana semua orang menatap kita dengan penuh cemburu karena kau selalu berada disekitarku, menggenggam erat tanganku kemanapun kita pergi, selalu tersenyum hanya kepadaku. Kita selalu bersama.” Cuapku panjang lebar.

“Ya aku ingat. Aku ingat betul bagaimana tatapan cemburu mereka terutama kalangan yeoja bukan?” tanya Sehun kepadaku.

“Ya, “ jawabku cepat dan singkat.

“Jinri, siapa dia?” tanya Sehun lagi kepadaku.

“Siapa? Maksudmu?” tanyaku balik dan Sehun menghela nafas kasar.

“Namja yang kau sukai hingga membuatmu berubah kepadaku selama 2 tahun ini. Apakah dia tampan dan juga baik?” celoteh Sehun membuatku hanya diam termenung.

“Yah! Choi Jinri..” sungutnya dan mengetuk pelan puncak kepalaku dengan tangannya.

“A-apa?” tanyaku gugup dan meletakkan mangkuk bubur Sehun kemeja tepat disebelah ranjang Sehun.

Jinri POV END

Sehun POV

Aku menatap Jinri dengan penuh tanya yang sedari tadi hanya diam membisu duduk tepat didepanku. Bahkan ia tidak mau menatap mataku. Ada apa dengannya? Aku semakin mendekat kearahnya, mengelus pelan puncak kepalanya lalu tersenyum tipis.

“Kau tidak perlu mengatakannya sekarang jika memang belum bisa. Aku tidak akan memaksanya..” seruku dan menghembuskan nafas pelan.

“….” Tak ada respon dari Jinri dan itu semakin membuatku khawatir.

“Jin-“

“Apa kau mempunyai sosok gadis yang kau sukai Sehun?” potong Jinri sebelum aku sempat memanggil namanya. Aku terenyuh seketika dan entah mengapa jantungku berdetak tak karuan apa lagi setelah melihat tatapan Jinri.

“A-apa?” tanyaku gugup dan Jinri dengan pandangan yang masih sama tetap menunggu jawabanku.

“Kurasa ada..” seruku setelah itu dan menggaruk tengkukku yang tak gatal. Sekilas kulihat wajah Jinri yang berubah menjadi datar. Tak ada senyuman, tak ada rona merah. Benar-benar datar tanpa ekspresi.

“Oh, siapa dia?” tanyanya lagi dan aku menghembuskan nafas kasar.

‘Choi Jinri bodoh..’ batinku dalam hati dan dengan gusarnya memeluk badan Jinri yang lebih kecil dariku. Dapat kurasakan badan Jinri yang menegang karena pelukan tiba-tiba ku ini.

“Lepaskan!” bentaknya dan mendorong badanku menjauh darinya. Pelukan kami seketika terlepas.

‘Cih, kau bodoh! Kau orangnya! Apa kau pernah melihat aku pergi bersama gadis lain? Dasar bodoh!’ sungutku dalam hati dan merebahkan badanku tanpa menghiraukan sosok Jinri.

Aku tahu ini tidak masuk akal. Tapi percayalah kepadaku, bahwa aku menyukai bahkan mencintai sosok gadis yang ada didepanku saat ini. Ya, dia memang sahabatku tapi dilain hal itu aku selalu menganggapnya melebihi dari sekedar sahabat. Secara diam-diam aku selalu menatapnya sebagai seorang gadis bukan sebagai seorang sahabat.

Bagiku dia bukan hanya sekedar sahabat yang harus kulindungi dan kusayangi tapi juga sebagai sosok gadis yang kucintai. Choi Jinri, aku selalu mencintainya secara diam-diam dan sungguh itu menyakitkan apalagi setelah melihat perubahan sikapnya kepadaku. Dari dulu aku selalu ingin mengungkapkan perasaanku kepadanya tapi aku tidak memiliki keberanian yang besar untuk mengatakannya. Karena apa? Karena aku takut dia hanya menganggapku sebagai ‘SAHABAT’ dan tidak lebih. Aku takut setelah ia menolakku persahabatan kami akan usai. Kami akan menjauh satu sama lainnya dan melupakan semua kenangan yang kami ciptakan secara bersama perlahan demi perlahan hanya karena kelalain dan keegoisanku untuk menyatakan cintaku kepadanya.

Dan mengenai ucapan Kim Jongin beberapa lalu, aku senang mendengarnya. Aku hanya berpura-pura tidak peka terhadap ucapan Jongin. Aku selalu memikirkan ucapan Jongin.

“Kita bersahabat bukan?” tanya Jinri memecah kesunyian yang cukup lama.

“Ya, tentu saja..” jawabku singkat dan jelas dengan posisi yang masih sama.

“Jadi jujurlah kepadaku, siapa yang kau sukai?” ucap Jinri yang membuatku mendengus kesal. Lagi-lagi ia mengucapkan pertanyaan yang sama.

“Baiklah sepetinya aku harus meralat ucapanku barusan. Aku tidak menyukai siapapun. Aku mencintai seseorang.” Ujarku kepadanya.

“Oh, dia benar-benar beruntung..” lirih Jinri dengan raut wajah sedih. Entah mengapa aku merasa bersalah karena sudah mengatakan hal itu.

“Aku mencintainya sejak aku pertama kali bertemu dengannya..” cuapku dan menutup mataku, aku menekan dadaku yang tiba-tiba saja terasa sesak.

“Sungguh? Karena kita bersahabat, aku ingin bertemu dengannya. Bisakah kau menghubunginya?” tanya Jinri. Aku terlonjak kaget dan merubah posisiku menjadi duduk. Kulihat Jinri melayangkan sebuah senyuman dibibirnya.

“Baiklah..” seruku dan meraih ponselku yang ada didekatku. Dengan segera aku mencari nama ‘Jinri’ yang ada dikontakku dan menelfonnya.

“Tunggu, sepertinya seseorang menelfonku..” ucap Jinri dan mengeluarkan ponselnya tanpa melihat kelayar terlebih dahulu siapa yang menelfonnya.

“Yeoboseyo?” suara manis dan ramah itu menjawab panggilanku.

“Aku mencintaimu..” lirihku dan kulihat Jinri menatapku dengan mata yang dibulatkan, kaget.

“….” Jinri hanya diam membisu dengan mata yang masih menatapku lekat.

“Aku mencintaimu..” ulangku lagi dengan pasti dan membalas tatapan Jinri. Jantungku berdegup melewati batas normalnya dan aku yakin ini tidak benar. Aku juga yakin bahwa inilah akhir dari kisah persahabat seorang OH SE HUN dengan CHOI JIN RI.

Aku masih menanti jawaban dari bibir tebal milik Jinri. Ia masih terdiam dan menurunkan ponselnya dari telinganya. Aku melihat sekilas matanya berkaca-kaca dan seketika mungkin ia menunduk. Isakan kecil terdengar jelas ditelingaku. Jinri, dia menangis.

“Katakan kalau kau hanya bercanda bodoh!” lirih Jinri yang tangisnya semakin pecah.

“Kau pikir disaat seperti ini aku masih bisa bercanda? Aku tidak bercanda. Aku mencintaimu dan aku tahu ini salah. “ jelasku panjang lebar. Jinri masih menundukkan kepalanya dan hal itu semakin membuatku frustasi.

‘Sialan kau Oh Sehun!’ rutukku dan menguatkan diri untuk menarik Jinri kedalam pelukanku. Badan Jinri masih berguncang akibat tangisnya. Aku mengelus puncak kepalanya, mencoba untuk menenangkannya. Sepertinya aku sudah jawabannya, ia tidak mencintaiku seperti aku mencintainya.

“Jangan menangis. Aku tahu kau tidak mencintaiku. Lupakan apa yang baru saja aku katakan.” Lirihku dan semakin mempererat pelukanku kepadanya. Jinri mengalungkan tangannya dipinggangku, membalas pelukanku.

“Aku mencintaimu Sehun. Sungguh, aku sangat mencintaimu.” Cuap Jinri yang seperti bisikan bagiku. Aku terkesiap kaget dan debaran jantungku semakin menggebu-gebu.

“Benarkah?” tanyaku tak percaya.

“Aku juga mencintaimu Sehun, bukan sebagai seorang sahabat melainkan seorang pria.” Jawab Jinri membuat senyuman mengembang dibibirku. Kukecup berulang kali puncak kepala Jinri yang masih ada dipelukanku.

Kami terdiam selama lima menit. Menikmati kehangatan pelukan yang masih belum kami lepas. Aku menyesap aroma dari rambut Jinri. Dari dulu aromanya masih sama.

“Jadi, apakah kau mau menjadi pacarku hm?” bisikku tepat ditelinga Jinri.

“Hm.” Dehem Jinri sambil menganggukan kepalanya, sungguh menggemaskan. Kulihat sekilas wajah merona Jinri yang ada dipelukanku.

“Kalau begitu, bisakah kau memandikanku sayang?” godaku dan terkekeh kecil.

“Sialan kau Oh Sehun!” sungutnya dan mencubit perutku yang sukses mengundang gelak tawaku melihat tingkahnya.

Sehun POV END

-THE END-

Note : Maaf kalau ceritanya jelek dan typo(s) berserakan dimana-mana. Masih ingat dengan authorkan? Author yang bikin FF Oppa & I, First Kiss & Pocky, 38 Love Note, dll. Karena kesibukan author sekolah apalagi sekarang author udah kelas 3 SMA buat author jadi susah bagi waktu untuk berkarya didunia perFFan. Tapi author bakal usahain untuk selalu meluangkan waktu untuk bikin FF. Harap ditunggu karya Author selanjutnya. Go follow my twitter’s account and be close friend with author. Mention for followback. And sorry if the ending of this story not too good. ^o^

Mohon komentarnya~ ^^

 

 

 

115 thoughts on “So Long [Oneshot]

  1. Ffnya bagus banget. Aku suka sm gaya berceritanya …semoga authornya maubikinin ff hunlli lg ..klo bs hanlli jg hehehe …sumpah pengen nangis terharu bc part sehun confess ke sulli :’)

  2. Bgus thor ff nya.. Q suka bget alur cerita nya bagus smpai di end. Sully dan sehun sm2 takut bertepuk sblah tangan. Tpi pas sehun nyatain cinta sweet banget caranya. Ungkapan penuh surprise dan dalem banget…nyatainnya. Semangat thor buat yg baru.

  3. Liked it author-nim, seneng kali ya jadi Jinri ~Envy. . .
    Tbh, lebih suka sestal couple drpd Sulli-Sehun, tp disini Krystal ama Kai, tp cocok jg sih. Duo maknae, 94Liner.
    Dan lagunya APink yg So Long kebetulan lagu favoritku di Pink Blossom, cocok jd backsound fanfict ini -,-

  4. huwaaa….
    sukaaaa…
    sehun nya cheesy banget disini tapi sukaaa…
    akhirnya cukup kok thor,,,cukup manis banget buat aq🙂
    keep writing ya…
    gomawoyo…

  5. wah.. Eonni.. Seneng deh akhirnya hunli jadian.. Ffnya keliatan simple tapi enak bgt.. Feelnya juga dapet.
    Ya ampun sehun, masih aja pengen dimandiin. Haha
    aku suka smua ff eonni..
    Eonni, bikin ff kaistal lagi ya? Hunli juga?
    Keep writing..

  6. Sehun being chessy :3,aww kiyutt kakkk’-‘)/.
    Jarang jarang loh ada fanfiction sesul ver. Bahasa dimana genrenya happy,romance,friendship.
    Kebanyakannya genrenya married life tapi sad T.T.
    Oh iya Sulli eonnie katanya demam,GWS for Sulli Eonni dan katanya juga Sulli eonni akan hiatuss dari f(x) dan dunia KPOP soalnya banyak komentar negatif tentang Sulli eonni T.T #BeStrongSulli #GetWellSoonSulli ;-;.
    Maaf yah kak jadi curcol,tapi ff nya sweet and cute :3 unyuk banget,walaupun dibaca beberapa kali :3.Sequell yah kak!! Terus buat lagi ff tentang sesul/hunlli with kaistal ^.^

    • Iyaa, kakak tahu kakak ini kiyuttt/? xD
      Iyadong, kakak selalu bikin cerita dimana genrenya berbeda dari yang lainnya. ^^ e.e
      Iyaa nih, Haha, gapapa kok curcol sedikit. #BeStrongSulli #GetWellSoonSulli TuT
      InsyaALLAH ya dek diusahain. Terimakasih yaa. ^^❤

  7. Kyaaaa ini sweet banget, thor!! sempet gemes juga sama sikapnya Sehun yang pas di awal². OK, ditunggu karya author selanjutnyaa! Fighting!! ^^

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s