Retrouvailles — Feel

retrouvailles

Author

rinaizawa

Cast

Kris Wu & Lee Jooyeon

Length

1990 wordcount

~~

Come to my side

If you still love me

 

##

Namanya Wu Yi Fan. Orang – orang lebih sering memanggilnya Kris. Dia teman sekelasku. Teman sebangku ku. Bahkan sahabatku. Setiap hari kami selalu menghabiskan waktu berdua layaknya orang pacaran. Ke kantin bersama, ke perpustakaan bersama, dan juga pulang bersama. Tetapi kami tidak memiliki hubungan apapun waktu itu. Hanya sebatas sahabat. Tidak lebih. Karena saat itu kami masih pelajar menengah pertama. Belum sepenuhnya mengerti hubungan pacaran atau apapun itu.

Aku selalu memanggil Kris dengan julukan berbeda setiap harinya. Kadang aku memanggilnya Yi Yi, Fan Fan, Kriseu, Tiang pendek – walau sebenarnya ia lebih tinggi 15 cm dariku -, menara eiffel bahkan aku memanggil yeobo – untuk panggilan ini Kris akan bersikap baik dan manja padaku jika aku memanggilnya – Semua panggilan aneh yang ku buat itu tidak pernah menyebabkan Kris marah atau kesal padaku. Justru ia semakin menyayangiku sebagai sahabat.

Ia pernah membelaku saat aku di tuduh mengambil kalung berharga milik Yi Hwa. Saat itu ada seseorang yang menjebakku ketika ada acara perpisahan disekolah. Orang itu mengambil kalung Yi Hwa dan meletakkannya di tasku. Aku yang tidak tahu apa – apa tentang kalung itu nyaris di keluarkan dari sekolah jika Kris tidak membelaku. Beruntung, pria itu memberikan bukti yang benar sehingga semua orang percaya bukan aku pencuri. Aku sangat berterima kasih kepadanya.

“Aku percaya bukan kau pencurinya.”

Itulah kalimat yang di ucapkan Kris untuk menghiburku. Dia benar – benar sahabat yang baik. Aku bahagia memiliki sahabat sepertinya. Yang selalu ada disaat ku membutuhkannya. Yang selalu membantuku membersihkan rak – rak buku perpustakaan ketika aku terlambat. Yang selalu melarangku dekat dengan teman pria disekolahku dengan alasan yang jelas. Untuk hal ini aku masih tidak mengerti mengapa Kris melarangku.

Aku menyukai Kris, sebagai sahabat tidak lebih.

Banyak teman – teman yang mengira kami berpacaran. Bahkan gadis – gadis penggemar Kris sempat membenciku karena aku terlalu dekat dengannya. Mereka benar – benar mengira aku dan Kris berpacaran. Cih! Yang benar saja. Berpacaran dengan pria tinggi yang masih memiliki sifat anak – anak. Ya, sejak di sekolah menengah pertama Kris sudah terlihat tinggi. Saat itu tingginya 170 cm. Maka aku sering menyebutnya tiang pendek. Ups. Harusnya tiang listrik. Aku menyebutnya tiang pendek karena ia sering merendahkan tubuhnya di depanku. Maklum saja aku masih terlihat pendek saat itu. Tak jarang Kris sering memberiku saran – saran untuk tubuhku semakin tinggi.

“Kau harus sering bergantung dan minum susu Yeonnie. Atau kau ingin bergabung dengan klub basket ku?”

Namun aku menolak semua itu karena ajakkan Kris terdengar mengejek. Bahkan aku sering kesal padanya. Dan kalian tahu bagaimana pria itu menghilangkan badmood ku? Ia mentraktir dan membiarkan ku membeli eskrim apa saja. Tentu saja aku sangat senang. Karena dengan makan eskrim semua rasa kesal ku akan hilang dengan sendirinya ketika memakan makanan dingin itu.

Pernah suatu hari, pria itu membuat ku badmood. Saat itu ia meminjam buku catatan ku. Namun entah kesengajaan atau tidak ia mengatakan buku itu hilang entah kemana. Dan dengan santainya ia mengganti buku yang hilang dengan buku biasa. Untung saja aku tidak membentak dan memarahinya waktu itu. Sekalipun aku ingin, aku tidak bisa bersikap seperti itu padanya. Jadilah, sebagai permintaan maafnya ia mentraktir ku eskrim. Dan kalian tahu, aku menghabiskan uang jajannya selama seminggu karena aku terlalu banyak meminta tambahan eskrim. Walaupun begitu ia tidak marah ataupun kesal padaku. Benar – benar sahabat yang baik.

Kris pernah berkata, bahwa ia tidak akan meninggalkanku apapun yang terjadi. Ia akan berada disisiku selamanya. Ia juga akan melindungi ku dari gangguan teman – teman. Namun pada hari itu, saat musim semi. Harusnya menjadi musim yang indah bagiku dan juga Kris. Karena kami telah memiliki rencana untuk merangkai bunga. Tapi semua itu mendadak tidak jadi. Kris mengingkari perkataannya. Perkataan yang tidak akan meninggalkanku. Ternyata Kris berbohong – aku beranggapan seperti itu dulu – ia meninggalkan ku. Ia pindah ke Kanada. Tepatnya ke Vancouver.

Aku benci karena Kris membohongiku. Tapi disatu sisi aku merasa sangat sedih dan juga – kehilangan. Kehilangan sahabat. Tidak. Ini bahkan lebih dari sahabat. Aku merasa kalau aku mencintai pria itu. Seiring berjalannya waktu entah kenapa perasaanku terus berubah. Hingga di hari keberangkatan Kris aku sadar. Sekarang aku menyukainya bukan karena sahabat lagi, tapi karena aku mencintainya. Aku tidak tahu apakah perasaan itu juga ada padanya.

Kris memintaku untuk menemuinya di Bandara. Awalnya aku tidak niat sedikit pun untuk kesana. Tapi Kris terus menelfon dan memaksaku. Terpaksa aku mengikuti permintaannya itu. Aku meminta tolong kepada kakak ku, Lee Donghae untuk mengantarku ke Bandara. Beruntung ia tidak menerima penolakkan. Selama dalam perjalanan aku berdoa agar disana tidak menangis untuk menemui pria jahat yang telah mengambil hatiku. Aku harus bisa menahannya.

Pria itu menatapku. Sementara aku menunjukkan ekspresi biasa saja. Walau dalam hati aku ingin memeluknya. Mengatakan aku mencintainya. Tapi itu tidak bisa. Aku tidak bisa melakukannya.

“Kau – jahat.” Aku menunduk. Menahan air mata yang hampir membasahi pipiku. Bodoh. Hanya itu yang mampu ku ucapkan.

Tiba – tiba aku merasa dekapan yang hangat. Sangat hangat sehingga aku tidak ingin melepaskannya. Pelukan Kris.

“Aku memang jahat. Aku melanggar perkataan ku dulu. Tapi semua itu di luar rencanaku. Aku tidak tahu orang tua ku tiba – tiba ingin pindah. Sebenarnya aku masih ingin disini. Bersamamu. Menghabiskan hari – hariku bersamamu. Tapi aku tidak bisa. Aku harus tetap ikut bersama orang tuaku.”

Bagaimana aku harus mendeskripsikan mu, Kris. Aku benar – benar membenci sekaligus mencintaimu. Pria jahat.

“Tapi aku akan kembali untukmu. Aku tidak akan lama disana. Aku akan kembali untuk melindungimu, sahabat.”

Menyakitkan. Kris masih menganggapku sebagai sahabatnya. Ternyata perasaan itu tidak tumbuh dalam benaknya. Baiklah Kris. Aku tidak peduli apa kau menganggapku sebagai sahabatmu. Aku tetap menunggumu kembali padaku. Entah itu sebagai sahabat atau musuh. Aku akan tetap disini dan selalu menunggumu Kris. Selalu. Maaf jika aku merusak persahabatan kita selama ini. Karena aku mencintaimu lebih dari seorang sahabat. I’m fallin’ in love with you, Kris. Semoga kau akan merasakan hal yang sama.

 

20 April 2003

JY Lee

 

##

 

Seoul, April 2018

 

Hawa musim semi begitu terasa. Bunga – bunga semakin banyak bertebaran. Aku duduk menikmati jam istirahatkku di salah satu cafe di dekat perusahaan tempat aku bekerja. Perkenalkan, namaku Lee Joo Yeon. Usia 28 tahun. Dan pekerjaanku adalah seorang Direktur Resort di perusahaan kakak ku, yang dulunya adalah perusahaan Ayah ku.

Sudah lama aku duduk disini. Sekitar – mungkin satu jam lebih. Ini sudah melewati jam istirahat tapi aku tidak peduli. Aku masih ingin menikmati suasana ini. Suasana yang sangat ku rindukan. Atau lebih tepatnya aku merindukan orangnya. Orang yang merasuki pikiran ku selama satu jam tadi. Membuatku harus mengingat kembali hal – hal yang terjadi dulu ketika aku berada di sekolah menengah tingkat pertama.

Aku mendesah berat. Percuma saja aku disini. Tidak ada yang ku lakukan selain – melamun. Bahkan aku sudah memesan dua cangkir Coffelatte dan sudah menghabiskannya tanpa sisa. Sepertinya aku benar – benar harus kembali. Pekerjaan ku akan semakin menumpuk jika aku menundanya. Dan Donghae oppa bisa marah padaku.

Ku tinggalkan beberapa lembar uang di atas meja sebelum beranjak dari kursi ku. Aku sedikit malas menemui kasir dan lagi pula aku sudah terbiasa seperti ini.

Langkah ku terhenti di depan pintu cafe saat melihat seseorang berdiri di depan sana. Orang tersebut menatapku dengan senyuman. Senyuman khasnya yang sangat aku kenali. Benarkah, itu dia? Dia yang selama ini aku tunggu? Dia yang selama ini membuatku sering melamun seperti orang bodoh. Apakah dia yang bernama Wu Yi Fan atau aku sering memanggilnya Kris?

Pertanyaan itu   terus memenuhi pikiranku yang selama ini kosong. Tanpa aku sadari ia sudah berdiri di hadapanku, menarik pergelangan ku dan membawa ku ke suatu tempat. Anehnya aku tidak memberontak sedikit pun. Aku masih terlalu sibuk dengan pertanyaan yang bermunculan. Hingga akhirnya kami berhenti di sebuah taman di belakang perusahaan.

Ia menatapku dan aku menatapnya. Hening. Tidak ada yang berbicara. Aku masih saja menatapnya untuk memastikan benarkah ini dia. Terlalu sulit bagiku untuk menerima kenyataan bahwa ini adalah Kris. Mungkin karena aku sangat bahagia. Aku mengalami Retrouvailles.

“Kau tidak mengingatku?”

Bodoh. Tentu saja aku mengingatmu. Walaupun kau banyak berubah, mata, hidung serta mulutmu tidak berubah.

“Namaku Wu Yi Fan. Kau sering memanggilku Kris, atau –“

“Tiang pendek, Yi yi, Fan Fan, menara eiffel, dan Kriseu.”

Aku memotong kalimatnya. Apakah dia pikir aku telah melupakan semuanya? Tiba – tiba pelukan hangat itu kembali memelukku. Pelukan yang sudah lama tidak aku rasakan.

“Aku merindukanmu. Sangat.” Bisiknya lirih.

“Aku juga. Sangat, sangat merindukanmu Kris.”

Lama kami berpelukan seperti ini. Aku tidak peduli sudah berapa menit kami berpelukkan. Bahkan aku sudah melupakan tugas ku di kantor. Ah biarkan saja. Aku terlalu amat merindukan Kris. Aku terlalu bahagia bertemu dengan pria ini sehingga meninggalkan pekerjaanku yang penting begitu saja.

“Apa – pertemuan kita tidak sengaja?” tanyaku. Masih dalam pelukannya.

“Tidak,” Kris menjeda kalimatnya sejenak. “Aku sudah bertemu Donghae hyung kemarin. Menanyakan gimana kabarmu, tapi ia tidak memberiku jawaban. Ia menyuruhku mendatangi kantormu. Dan saat aku datang, sekretarismu bilang kau sedang di cafe. Jadi aku menyusulmu.” Jelas Kris.

“Mengapa kau tidak menanyakan langsung kepada ku?” Kris diam. Ia tampak memikirkan jawabannya. Entahlah. Aku berharap jawabannya bukanlah sebuah kebohongan.

“Aku takut – jika kabarmu tidak baik.” Kris mengeratkan pelukannya. “Apa kabarmu baik?” ia bertanya kemudian.

“Tidak. Tapi – aku berusaha untuk terlihat baik.” Jawabku pelan. “Kau sendiri pastinya cukup baik, bukan?”

Hening. Entah sampai kapan kami betah dalam posisi seperti ini. “Kau tahu, selama disana aku tidak baik – baik saja. Aku terus saja memikirkanmu. Apa kau masih di ganggu oleh teman – teman, apa kau bergaul dengan baik mengingat waktu itu kau hanya berteman dengan ku saja.”

Jawaban Kris membuatku tertawa pelan. Ia menganggapku seperti adiknya. Apa dia pikir aku tidak bisa mencari teman lain, huh?

“Yeon?”

“Hem?”

“Aku baru menyadari sesuatu saat aku di Vancouver. Ternyata aku sudah – jatuh hati – padamu.”

Apa? Kris, bisakah kau mengulangi kalimat terakhirmu? Jatuh hati padaku? Benarkah kau mengatakan itu? Aku tidak bermimpi kan? Ya Tuhan, bangunkan aku jika ini hanya sebuah mimpi. Aku tidak ingin larut dalam kebohongan bunga tidur.

“Kris – aku juga –“ aku terlalu sulit melanjutkan kalimat ku. Aku juga ingin mengatakan yang sebenarnya. “aku juga jatuh hati padamu sejak – kita berpisah 15 tahun yang lalu.”

Mendengar kalimatku Kris sontak melepaskan pelukannya. Tangannya memegang kedua bahuku dan matanya menatapku tak percaya. Seolah yang ku katakan adalah kebohongan. Tapi aku tidak bohong Kris. Ini jujur dari hatiku yang terdalam.

“Bagaimana kau –“

“Aku juga tidak tahu mengapa aku jatuh hati padamu. Aku menyadarinya ketika kau berangkat ke Vancouver. Walaupun aku sudah mencoba berpikir bahwa rasa suka ku pada mu hanya karena kau akan pindah, tetap saja rasa itu tidak memudar. Bahkan aku mencoba menyukai pria lain dan hasilnya aku tidak bisa. Kau selalu memasuki pikiranku, Kris.” Aku terdiam sejenak. “Selama 15 tahun aku mencoba untuk menunggu mu. Aku tidak peduli kau kembali untuk melindungiku atau menyakitiku dengan memperkenalkan gadis barumu di depanku. Yang jelas kau kembali di hadapanku sudah cukup membuatku bahagia.” Jelasku panjang lebar. Ku ungkapkan semua perasaan yang terperangkap di hatiku selama ini. Membiarkan Kris mengetahuinya. Namun setelah mengatakan itu aku malah menangis. Gadis bodoh, kenapa kau harus menangis di depan Kris.

Tidak ada respon dari Kris. Aku menunduk. Mungkin Kris tidak menyukai jawabanku. Aku jadi menyesal mengatakan semua perasaanku. Tiba – tiba, tangan Kris menarik daguku dan memberikan ku ciuman lembut. Astaga! Kris kau yang mencuri ciuman pertama ku. Tubuhku mendadak dingin. Otakku berjalan sangat lambat sehingga aku tidak tahu harus merespon bagaimana. Ku biarkan Kris melakukannya. Ciuman yang terasa penuh dengan rindu. Ia mengakhiri ciuman kami dengan kecupan di bibirku.

Aku tak berani menatapnya. Bahkan wajahku terasa memanas. Kris berlutut di depanku. Matanya berusaha mencari mataku agar aku menatapnya. Apalagi yang akan kau lakukan? Aku tidak tahu apa yang akan pria ini lakukan. Kris mengeluarkan sebuah kotak kecil dan mengulurkannya di hadapanku.

“Would you marry with me, Lee Joo Yeon?”

Aku hanya bisa terdiam menatap perlakuan Kris. Ku rasa mataku mulai berkaca – kaca. Aku yakin pria ini adalah takdirku. Hatiku sudah menetapkan nya. Karena itu aku langsung menerima tawarannya. Jika hatiku telah berkata dia takdirku, maka biarkan aku bahagia bersama Kris selamanya.

“Yes. I would, Wu Yi Fan.”

 

~You’re my delight of all

Even if the world changes, do you know that I will only love you?

My destiny~

 

 

-FINISH-

Hai ketemu lagi sama rina ree >w<

kalau ceritanya gak jelas minta maaf ya😀, soalnya diketik dalam waktu sehari -..-

Terima kasih sudah baca ff singkat ini ^^v

See you😀

_rinaizawa | adorableree_

24 thoughts on “Retrouvailles — Feel

  1. Woo~ Tiang pendek emang romantis orangnya❤ Jadi senyum2 sendiri sama kata2 sweetnya dia😄 Dan berasa jd JY masa😄

    Maafkan aku kak, atas komenan geje aku di atas -__- Aku emang gt kalo lg excited, dan ff ini sukses bikin imajinasi aku jalan, haha😀

    Ffnya bagus kak😀 Aku ga nemu typo pula ^_^

    Keep writing kak, fighting!^^

  2. Wooo~ Tiang pendek emang romantis❤ Senyum senyum sendiri sama kata2 tiang pendek😀 Berasa jadi JY😄

    Maafkan aku atas komenan geje aku, thor -___- Aku emang gini kalo lg exicted😄

    FF nya bagus thor, lanjutkan karyamu! Fighting^^

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s