[CHAPTERED] Mr. Friday (Part 8)

Mr Friday 4 copy

Part 1 | Part 2Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 | Part 7

Tittle : Mr. Friday

Author : Sehunblackpearl

Main Cast :

–  Park Bo Ram (OC)

–  Oh Sehun (EXO)

Supported Cast :

–  Kim Jong In (EXO)

–  Lee Hye Ju (OC)

Genre : Romance, schoollife

Rated : PG-13

Summary : Ibu Sehun memergoki Bo Ram dan Sehun yang sedang melakukan aktivitas malam mereka di depan rumah Sehun. Sehun kesal. Semua jadi makin rumit lagi. Rasanya begitu banyak hal yang muncul begitu saja di jalannya dan menghalangi dia mendapatkan Bo Ram. Ditambah dia juga harus membuat gadis pujaannya itu betul-betul yakin untuk mau bersamanya. Gadis itu memiliki terlalu banyak keraguan terhadap Sehun dalam hatinya. Dan apapun caranya, Sehun harus bisa menghapuskan apapun itu yang mengganjal di hati Bo Ram.

Disclaimer : Plot dan isi cerita is mine. Saya tidak memiliki para cast dalam cerita ini kecuali Sehun suami saya /walaupun dia mau sama Da Eun ataupun Miranda Kerr/ ;”””

A/N :Helloooow I’m back. Cepet kan dipost chapter delapannya. Seneng kaaaaan? Seneng dooooong! *maksa* Saya terharu ternyata yang baca dan komen masih lumayan :”) Ada reader lama ada juga yang baru. Tenkyuuuu :*

Gak usah banyak bacot, happy reading yaaaah buat yang baca ^^

Say No to Bash, Siders, and Plagiator. Respect each other, okay?

^^Mr. Friday^^

Untuk beberapa detik yang terasa seperti selamanya, suasana begitu hening. Tidak ada suara Sehun berbicara, maupun Bo Ram, juga adiknya, dan ibu Sehun. Tidak ada aktivitas lain kecuali diam dan pandang-pandangan. Ibunya menatap Sehun, Sehun menatap Bo Ram, Bo Ram menatap tanah, Do Bi yang tidak kebagian dipandang tetap jongkok dan melihat kedua orang yang bersalah itu bergantian. Diselimuti kecanggungan dan juga takut, perasaan bersalah dan malu seolah menyerang Bo Ram tanpa ampun, dia merasa seperti pencuri yang tertangkap basah. Tidak bisa mengelak juga tidak berdaya untuk bersembunyi. Tapi dia, Bo Ram tidak sanggup melakukan apa-apa, tidak berani mengatakan apa-apa dan takut untuk bergerak bahkan seincipun dari tempat ia berdiri sekarang.

Pada akhirnya, Nyonya Oh yang memecahkan keheningan malam itu dengan cara berdehem agak keras dan dipaksakan. Suasana hatinya betul-betul tidak bisa dianggap main-main saat ini. Tentu saja, dia melihat anaknya dengan anak gadis sebelah sedang berbuat hal yang tidak senonoh di sekitar lingkungan rumahnya, bahkan tepat di depan pagar rumahnya. Apa mereka tidak punya rasa malu sama sekali? Bagaimana kalau ada tetangga yang melihat perbuatan mereka itu? Rasanya dia tidak pernah ingat sudah membesarkan seorang anak laki-laki tidak bermoral seperti Sehun ini. Ditambah jika ia melihat kemeja Bo Ram yang terlihat berantakan, dua kancing atasnya terbuka, dia menjadi semakin ingin marah rasanya. Demi Tuhan, apa yang mungkin akan mereka lakukan jika dia tidak muncul tadi? Adik lelaki Bo Ram yang hanya duduk dan menonton aksi dua remaja itu juga tidak membantu sama sekali, hanya membuat Nyonya Oh semakin kesal.

Wanita paruh baya itu berjalan mendekat ke arah Sehun dan Bo Ram tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dalam setiap langkahnya terasa aura yang begitu mengintimidasi darinya. Dia berhenti tepat di dekat dua remaja bermasalah itu. Tangannya dilipat di depan dada yang sudah sengaja dibusungkannya dan dia menatap tajam Bo Ram, kemudian kepada Sehun. Sehun takut-takut mengintip raut wajah ibunya, yang segera disesalinya. Dia bertemu pandang dengan wanita yang dia panggil “eomma” itu, dan karena satu alasan yang tidak bisa dijelaskannya, dia tidak dapat melepaskan kontak matanya dengan wanita yang dipenuhi kemarahan itu. Manik hitamnya terlihat menjadi seolah lebih hitam, membuat Sehun merinding dan sorotan mata itu, dia sangat mengenalnya. Ibunya sedang mengatakan “Oh Sehun, kau tidak akan lepas dari hal ini sebelum aku puas” dengan matanya. Dan Sehun tidak gagal menerjemahkan bahasa mata itu. Delapan belas tahun sudah ia dibesarkan oleh wanita yang sama dengan yang berdiri di hadapannya sekarang ini, dan dia sudah dapat memahami dengan jelas tatapan marah, sedih, kecewa, bahagia dan murka dari ibunya. Tidak terkecuali sekarang.

Bo Ram merasakan jantungnya berpacu, memompa darahnya jauh lebih cepat dari normal. Dia bahkan dapat merasakan jantungnya yang berdebar gila itu di kepalanya, dia mendengarnya di telinganya dan bertanya-tanya apakah Sehun dan ibunya juga dapat mendengar suara jantungnya yang memalukan itu. Detak jantung ini bahkan jauh lebih cepat dari saat tiap kali Sehun mendekatkan wajahnya padanya, lebih gila dari tiap kali Sehun menciumnya. Namun, berbanding terbalik dengan jantungnya yang menjadi sangat cepat, seluruh otot-otot di bagian lain tubuhnya menegang dan urat syarafnya seakan mau putus saking takutnya dia dengan situasi ini. Bo Ram belum pernah merasa setakut ini dalam hidupnya. Maka saat Nyonya Oh sudah berdiri tegak di dekat mereka, Bo Ram sudah menyiapkan dirinya untuk dampratan dari Nyonya Oh, dan mungkin satu atau dua tamparan di pipinya.

Tapi bukannya didamprat maupun tamparan yang Bo Ram dapatkan, malahan dia mendengar suara Nyonya Oh yang begitu manis,”Selamat malam Nona Park.” Sedikit rasa kesal pun tidak dapat ditangkap Bo Ram dari suaranya. “Ini sudah begitu malam. Maaf Sehun membawamu keluar pada udara yang tidak begitu hangat ini.” Dia bahkan tersenyum begitu tulus dan memandang Bo Ram sedikit khawatir.

Bo Ram yang tidak menyangka akan mendapat reaksi yang begitu malah tergagap, tidak tahu harus mengataakan apa kecuali “ah..uh…” dan langsung dipotong oleh Nyonya Oh dengan pertanyaan berikutnya.

“Apa kau tidak apa-apa? Aku takut kau masuk angin karena keteledoran putraku ini.” Dan pada kesempatan ini, Bo Ram tidak melewatkan lirikan maut Nyonya Oh yang ditujukannya pada putranya. Malah jadi Bo Ram yang merinding melihat hal ini. Uuh, baiklah. Mungkin Nyonya Oh tidak menanggapi hal ini sesantai yang ia sempat kira tadi. “Eeem, kurasa sebaiknya kau segera masuk saja ke dalam rumahmu sebelum tubuh terkena lebih banyak angin malam.” Lanjut ibu Sehun, sekali lagi tersenyum hangat pada Bo Ram. Tapi ini terdengar seperti ‘sebaiknya kau segera masuk atau kubuat kau menyesal kalau kau tinggal lebih lama’ di telinga Bo Ram. “Ajak juga adikmu sekalian.” Wanita itu tersenyum begitu hangat tapi sepertinya kehangatan itu langsung terusir dinginnya udara malam itu dan hati Bo Ram tidak bisa tenang dibuatnya.

“B.. baiklah.” Jawab Bo Ram ragu. Dia berbalik menuju pagar rumahnya, menyuruh Do Bi berdiri dan membuka pintu pagar rumah mereka. Bo Ram berbalik sekali lagi sebelum memasuki halaman rumahnya. Membungkuk kepada Sehun dan Nyonya Oh. “Selamat malam Nyonya Oh. Selamat malam oppa.”

“Ya, selamat malam Bo Ram. Mimpi indah.” Jawab Nyonya Oh tenang masih dengan senyumnya yang malah membuat Bo Ram merinding. Tapi Bo Ram berusaha mengabaikannya dan mengikuti Do Bi yang berjalan di depannya.

“Tidak kusangka kau berkencan dengannya.” Ujar Do Bi santai, kemudian bersiul, tangannya dimasukkan ke kantong hoodienya. Bo Ram memilih untuk mengabaikan perkataan Do Bi. “Aku tidak tahu kalau Sehun Hyung juga tertarik padamu.” katanya lagi. Sekali lagi, hanya ditanggapi Bo Ram dengan kebisuannya. “Tapi… berani juga kalian, melakukannya di depan rumah.”

“Yaak Park Do Bi, kau jangan berani-beraninya menceritakan ini pada Eomma dan Appa.” Kali ini Bo Ram menanggapi cepat, dia menarik topi hoodie adiknya itu.

“Tenang saja Noona. Aku tidak tertarik memberitahu hal seperti ini pada mereka.”

Bo Ram tidak menjawab Do Bi lagi. Dia malah bertanya-tanya dalam hatinya. Bagaimana pendapat Nyonya Oh tentang dirinya ya? Jangan-jangan ibunya Sehun itu sekarang menganggapnya bukan wanita baik-baik. Hhhh… Kalau begini, ceritanya jadi tambah rumit. Flying apanya? Kali ini rasanya dia tidak akan bisa terbang lagi. Sayapnya sudah patah dan bulu-bulunya berontokan, jatuh ke tanah, begitu juga tubuh Bo Ram, jatuh. Dan dia agaknya menghantam tanah dengan sangat keras.

^^Mr. Friday^^

Begitu bayangan Bo Ram dan adiknya tak tertangkap lagi oleh mata, menghilang di balik pintu rumah berwarna abu-abu, atmosfer udara di luar langsung berubah. Sehun dengan jelas merasakan perubahan tekanan dan dia rasanya ingin berlari dari situ saat itu juga. Senyum di wajah Nyonya Oh langsung pudar dan dia langsung berbalik, melangkah menuju rumahnya, tanpa mengatakan sepatah kata pun pada Sehun. Sejak dia mendapati Sehun dan Bo Ram di pagar dan adik lelaki Bo Ram berjongkok tak jauh dari mereka tadi, beliau belum mengucapkan sepatah kata pun pada anak laki-lakinya itu.

“Kau mau berdiri di situ sampai pagi?” ujarnya dingin tapi tidak melepaskan nada keibuannya. Mendengar ucapan Nyonya Oh, Sehun segera mengikuti langkah ibunya itu sambil mendorong motornya masuk ke dalam halaman rumah. Nyonya Oh langsung masuk ke dalam rumah sedangkan Sehun terlebih dahulu memasukkan motornya ke garasi. Sehun sengaja berlama-lama di garasi untuk mengulur waktu kena semprotan ibunya dan ayahnya mungkin. Jelas mereka tidak akan membiarkan Sehun lepas begitu saja dari apa yang sudah dilakukannya tadi. Terutama ibunya.

Setelah merasa cukup lama mengulur waktu dan tidak akan bisa membuatnya lebih lama lagi, akhirnya Sehun memutuskan untuk masuk ke rumah, menghadapi apa yang harus dihadapinya. Dia berhenti sebentar di depan pintu, menarik nafas panjang, lalu menekan kenop pintu ke bawah, mendorongnya hingga pintu terbuka. Ibunya sudah berdiri dengan tangan dilipat di depan dada tepat di depan pintu. Sehun memilih untuk bersikap tenang menghadapi ibunya. Jelas sekali ibunya murka, tapi Sehun berusaha bersikap tak acuh, melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah. Dan akhirnya dia berdiri tepat di depan ibunya. Tubuh tinggi Sehun mengintimidasi tubuh Nyonya Oh, tapi tatapan wanita itu membuat nyali Sehun ciut seketika. Dia menelan ludahnya dan dengan jelas merasakan keringat dingin yang menjalar di tengkuknya hanya dengan menatap mata Nyonya Oh. Ibunya sendiri.

Nyonya Oh, tanpa basa basi langsung mendaratkan tamparan keras di pipi Sehun. Dia tetap menatap anak lelaki satu-satunya itu murka. Sehun hanya diam, wajahnya menghadap ke kanan bawah, arah wajahnya terlempar (?) setelah tamparan ibunya tadi.

“Beraninya kau…” kata Nyonya Oh geram, tangannya masih menggantung di udara. “Bagaimana bisa kau melakukan hal seperti itu hah?” teriaknya pada Sehun.

“Eomma… sudahlah. Jangan terlalu keras pada anak.” Tuan Oh yang tadi diam saja di sofa, membaca buku berdiri di samping Nyonya Oh, menurunkan tangan istrinya itu dan mengelus rambutnya, berusaha menenangkan istrinya yang sedang kalap itu. “Apalagi anakmu ini ikut klub judo. Bisa-bisa malah kau yang nanti dibantingnya.”

Tapi Nyonya Oh tidak mau menuruti perkataan suaminya. “Bagaimana mungkin kau melakukan hal seperti itu di tempat terbuka, di depan rumahmu sendiri.” Kembali ia melanjutkan kemarahannya. “Apa kau tidak takut tertangkap orang tuamu atau orang tuanya hah? Dimana moralmu?” Nyonya Oh memukuli badan Sehun dengan tangannya. Sehun masih tetap hanya diam dan menerima pukulan ibunya tanpa berusaha menghindari satu pukulan pun.

“Ya eomma.. eomma tenang.” Ujar ayah Sehun lagi, menarik tangan Nyonya Oh yang memukuli Sehun. “Kau tidak boleh begitu.”

Saat akhirnya Nyonya Oh tenang, setelah beberapa pukulan di dada dan tangan Sehun, dan “aigoo dimana aku telah salah mendidik putraku hingga dia menjadi tidak bermoral begini?” ditambah “kupastikan orang tuanya juga akan mengetahui hal ini besok.” akhirnya mereka duduk di sofa, air putih diambilkan oleh Sehun kepada ibunya dan ibunya meminumnya lalu mengusap dadanya dan mulai bersikap tenang.

“Sejujurnya appa mengerti dengan keadaanmu Sehun. Jadi appa tidak akan memarahimu.” Ujar Tuan Oh kepada Sehun yang duduk berseberangan dari dia dan istrinya. Sehun tetap diam, tapi menatap ayahnya penuh hormat, sangat menghargai kemengertian ayahnya. “Ayah sangat tahu bagaimana hormon anak muda.” Sambungnya lagi sambil nyengir. Nyonya Oh memutar bola matanya mendengar kata-kata suaminya dan melihat senyum di wajah Sehun.

“Tapi appa, apa kau tahu dengan siapa dia melakukannya?” sergah Nyonya Oh, kemudian dia memijit kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing. Jelas, dia tadi begitu masuk langsung menceritakan apa yang disaksikannya di depan gerbang kepada suaminya tapi tidak memberitahu sama sekali siapa partner Sehun. “Aigoo, aku bahkan tidak pernah tau dia berkencan dengan anak itu. Dimana aku telah salah mendidik anak ini hingga dia jadi seperti ini? Aigoo..”

“Memangnya siapa?” tanya ayah Sehun keheranan melihat sikap istrinya. Memangnya dengan siapa Sehun bisa melakukan hal seperti itu sampai membuat ibunya sekalap ini? Kemungkinan terburuk yang bisa dipikirkannnya hanya apakah mungkin Sehun menggauli istri orang? Atau mungkin guru dari sekolahnya? Tapi istrinya menyebut anak. Memangnya anak perempuan mana yang bisa sampai seberbahaya itu jika dikencani?

“Park Bo Ram.” ujar Nyonya Oh sedikit dramatis. Sehun menelan ludahnya sekali lagi. Dia sudah cukup bersyukur tadi ayahnya menanggapi hal ini dengan sangat tenang. Tapi dia tidak begitu yakin kalau tahu yang sedang dibicarakan di sini adalah anak perempuan dari sahabatnya.

“Oooh, Park Bo Ram…” Tuan Oh mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum. Sehun sekali lagi bernafas lega melihat reaksi ayahnya yang jauh dari kesan marah yang disangkanya akan didapatnya, sedangkan Nyonya Oh mengernyitkan keningnya. Seharusnya Tuan Oh marah, bukannya mengangguk-angguk kegirangan begitu. “Park Bo Ram..” ujar Tuan Oh lagi, “gadis itu sangat ceria dan ba..ik?” Tuan Oh menggantungkan kalimatnya membuatnya tidak jelas, pernyataan ataukah pertanyaan. Dia seakan tersadar akan sesuatu. “Park Bo Ram?” katanya memandang pada istrinya yang mengangguk. Sehun sekali lagi menelan ludahnya dengan susah payah, merasakan seluruh otot tubuhnya menengang. Baiklah, mungkin memang tidak semelegakan itu. Kali ini dia akan mati. Percayalah. Ayahnya jauh lebih mengerikan kalau sedang marah dari pada ibunya. “Maksudmu anak perempuan Do Mu? Yang di sebelah kita?” ujar Tuan Oh lagi, kali ini dengan mata yang sedikit dipaksa membesar dari ukuran normalnya. “Maksudmu putra kita, Sehun melakukan hal itu pada anak perempuan sahabatku, Do Mu?” Sehun.. tamatlah riwayatmu.

Sehun menundukkan kepalanya, tidak berani menatap pada ayahnya. Kali ini giliran Tuan Oh yang kalap, memarahi Sehun dan memukulinya sedangkan ibunya, berusaha menghentikan Tuan Oh dari memukuli Sehun. Sedangkan Sehun, hanya menerima pukulan-pukulan yang ditujukan padanya, lagi-lagi tanpa berusaha menghindar. Dia sadar, dia dalam posisi bersalah di sini, jadi dia tidak berusaha melawan. Tapi tentu saja, pukulan ayahnya tidak dapat dibandingkan dengan pukulan ibunya tadi. Menerima pukulan ayahnya, meskipun dia sudah sering melatih tubuhnya di klub judo, tetap saja rasanya sangat sakit. Dalam setiap pukulan ayahnya, satu tulangnya terasa remuk.

“Kau pikir apa yang sudah kau lakukan hah?” teriak ayahnya, mendaratkan tinjunya di bahu kanan Sehun. “Bukankah Keluarga Park sering mempercayakanmu mejaga anak perempuannya itu hah?” pukulan berikutnya di lengan kirinya. “Mereka bahkan membiarkanmu menginap berdua di kediaman Park saat malam tahun baru kemarin. Apa yang sebenarnya ada dalam otakmu.” Pukulan-pukulan berikutnya, Sehun tidak yakin didaratkan di mana. Yang dia tahu hanya rasa sakit yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Tapi meski begitu, dia tidak merasa bersalah sama sekali. Walau dianggap bersalah, menurutnya dia tidak salah jika berkencan dengan Bo Ram, walaupun itu anak perempuan sahabat ayahnya yang kebetulan adalah tetangga mereka. Baiklah, memang dia salah memilih tempat. Tapi di luar itu, dia tidak merasa salah sedikitpun.

Setelah akhirnya Nyonya Oh berhasil menenangkan suaminya, Sehun disuruh naik ke lantai dua, masuk ke kamarnya dan istirahat. Sehun menurutinya dan segera memasuki kamarnya. Tubuhnya langsung dihempaskan ke atas kasurnya begitu ia mengunci pintunya. Sakit sekali bekas dipukuli ayahnya, terutama di rahang dan pipinya. Ayahnya memukulnya tanpa ampun dan tidak memakai perasaan. “Hhhmmhh….” Dia mendengus sedikit kesal dan kecewa. Semua jadi makin rumit lagi. Dia sudah cukup bingung memikirkan cara mengatasi Jong In dan Hye Ju, dan agar Bo Ram betul-betul jatuh ke pelukannya. Tapi rasanya begitu banyak hal yang muncul begitu saja di jalannya dan menghalangi dia mendapatkan gadis pujaannya itu. Ditambah dia juga harus membuat Bo Ram betul-betul yakin untuk mau bersamanya. Gadis itu memiliki terlalu banyak keraguan terhadap Sehun dalam hatinya. Dan apapun caranya, Sehun harus bisa menghapuskan apapun itu yang mengganjal di hati Bo Ram. Tapi kalau untuk saat ini, sebaiknya dia tidur saja dulu. Bekas pukulan ayahnya betul-betul menyiksanya. Tentu saja, ayahnya adalah Inspektur Polisi, semasa SMA dia sempat berlatih tinju dan karate. Tidak bisa dibandingkan dengan tiap kali dibanting teman-teman di klub judo.

^^Mr. Friday^^

Bo Ram berbaring di atas tempat tidurnya tanpa melakukan apa-apa kecuali memandangi langit-langit kamarnya. Begitu masuk rumah, dia langsung bergegas menuju kamarnya, mengganti pakaiannya dengn piyama dan setelah itu, selama hampir dua jam, dia hanya diam memandangi langit-langit kamarnya. Tidak ada hal lain yang terpikirkan untuk dilakukannya. Sesekali tadi dia melirik ke arah jendela kamar Sehun yang tertutup. Tapi dia sudah berhenti melirik ke arah yang sama setelah dilihatnya lampu kamar Sehun dimatikan. Dia sempat berniat mengirim pesan singkat pada pria itu. Mungkin bertanya tentang apa yang dikatakan ibu dan ayahnya atau semacamnya. Tapi dia mengurungkan niatnya. Dia akhirnya hanya membaca beberapa pesan dari Jong In yang menanyakan kemana dia dan Sehun pergi, menghapusnya, lalu melemparkan ponselnya ke atas kasur. Ada begitu banyak hal yang menggantung di pikirannya saat ini, menekan otaknya, memaksa untuk dipikirkan, dan dia tidak ingin Jong In mapun Hye Ju membuatnya menjadi lebih buruk lagi.

Setelah bosan dengan kegiatan yang itu-itu saja, Bo Ram memutuskan turun dari tempat tidurnya, dan mengendap masuk ke kamar Do Bi. Do Bi tidak pernah mengunci pintu kamarnya, jadi dia langsung membuka pintu begitu saja dan memasukkan kepalanya, menyelinap ke balik pintu dan mencari keberadaan Do Bi.

“Ya, noona. Apa yang kau lakukan?” Do Bi yang tiduran di kasur sambil membaca buku langsung menyampingkan bukunya dan memandang penuh tanya pada Bo Ram.

Bo Ram masuk ke kamar Do Bi dan menutup pintu di belakangnya. “Aku.. hanya ingin sedikit bicara.” Jawab Bo Ram, menggaruk kepalanya.

“Tentang?” Do Bi pun bangun dan duduk masih tetap di kasurnya, menyisakan spasi untuk diduduki Bo Ram. Bo Ram berjalan ke arah Do Bi, naik ke tempat tidur dan duduk di sebelahnya. Dengan memeluk kakinya yang dibungkus piyama.

“Ehheemmm…” Dia berdehem sebelum menumpahkan segala yang mengganggu hatinya. “Aku tahu… kau tidak akan memberitahu eomma dan appa, dan kalaupun kau memang ada niat untuk itu, kau tidak akan kubiarkan selamat. Tapi….” jeda sebentar, Bo Ram terlihat ragu. “apa mungkin….” dia menggigit jarinya. “apa menurutmu.. mungkin saja kalau eomma Sehun akan memberitahu eomma?”

Do Bi tertegun, dia tidak memikirkan kemungkinan seperti itu sama sekali. Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, mungkin saja seperti itu. “Mungkin.. saja.” ujarnya sedikit ragu. Tapi sekarang dia memikirkannya, Ibu Sehun benar-benar mungkin saja melakukan hal seperti itu.

“Aaaahh…” Bo Ram menundukkan kepalanya, dia betul-betul frustasi. “Mau gila rasanya.” Do Bi hanya menatap kakaknya iba. Tapi selain iba, tidak ada lagi yang bisa dikatakan dan dilakukannya untuk kakaknya itu. Nasib mereka berdua, Bo Ram dan Sehun, ada di tangan ibu Sehun sekarang ini.

Do Bi betul-betul kasihan dengan Bo Ram tapi tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu Bo Ram keluar dari masalah ini. Bo Ram dan Sehun harus menghadapi konsekuensinya sendiri. Dia akhirnya mengajak kakaknya bermain game untuk membantunya menghilangkan stres. Jadi mereka bermain game dan Bo Ram betul-betul hilang stresnya tentang Sehun untuk sementara. Hanya sekali topik tentang Sehun dimunculkan.

“Ngomong-ngomong, kau pernah menceritakan tentang kekasih Sehun yang lebih tua.” Ujar Bo Ram sambil masih tetap memegang stik nya, mengendalikan mobil balap, berusaha mengejar mobil Do Bi yang tidak begitu jauh di depan.

“Hm..” respon Do Bi, memilih memusatkan perhatiannya pada balapan mereka.

“Sebenarnya kau tau itu dari mana?”

Diam sejenak.

Do Bi mem-pause game balap mereka, lalu menatap Bo Ram. Do Bi tidak tahu harus memulainya dari mana. “Itu.. aku mendengar dia sedang berbicara dengan seorang pria yang tidak kukenal.” ujarnya sedikit ragu-ragu. “Waktu itu aku memanggilnya, tapi dia tidak dengar dan sepertinya sangat fokus berbicara dengan pria itu. Lalu kudengar si pria temannya itu bertanya saat aku berada cukup dekat untuk mendengar percakapan mereka. Dia bilang, ‘bagaimana dengan kekasihmu yang lebih tua itu?’ dan dia bilang ‘ah, dia adalah urusan gampang. Aku akan mengurusinya nanti. Dia itu memang banyak sekali protesnya.’ Dia bilang begitu dan waktu itu aku berpikir. ‘Ah ternyata dia itu sudah punya pacar ya. Kupikir dia suka pada noona.’ Dan tepat saat aku pikir begitu, dia melanjutkan lagi. ‘Yang penting saat ini, aku harus mendapatkan gadis tetanggaku itu. Dia sangat menarik.’ Dia bilang begitu dan kupikir kalau begitu dia itu tujuannya ingin mempermainkan noona. Makanya waktu itu aku bilang begitu pada noona, dan memilih tidak memberitahumu tentang dia juga tertarik denganmu. Padahal sebenarnya aku tahu tentang hal itu.” Do Bi menatap Bo Ram bersalah. “Maaf aku tidak memberitahumu waktu itu. Tapi kupikir itu adalah untuk kebaikanmu sendiri.” Katanya lagi. “Tapi sekarang.. semua sudah jadi seperti ini.”

“Haha sudahlah. Tidak usah kau pikirkan.” Bo Ram tersenyum pada adiknya. “Bukan salahmu keadaannya jadi seperti ini. Kau sendiri kan hanya ingin melindungiku. Aku senang.” Katanya tulus pada adiknya. Bo Ram terharu dengan niat Do Bi yang ingin melindunginya dari Sehun. “Ayo, lanjutkan balapnya.”

Yaah, semua sudah terlanjur jadi seperti ini. Dia juga tidak tahu harus bagaimana menyelesaikan masalahnya ini. Dia hanya akan menunggu dan melihat saja apa yang akan terjadi besok. Dia akan menghadapi Jong In, Hye Ju, orangtuanya, dan orangtua Sehun juga, dan dia hanya bisa berdoa dia masih akan tetap hidup setelah besok berlalu. Besok akan sangat berat.

^^Mr.Friday^^

Hal buruk pertama yang harus dihadapi Bo Ram keesokan harinya adalah Hye Ju, berkacak pinggang, berdiri di depan mejanya dan bertanya dengan gaya seorang bos.

“Semalam kenapa kau dan Sehun oppa menghilang?” tanyanya, menatap Bo Ram menyelidik. “Aku kembali dari toilet dan meja kita sudah kosong.” Raut kesal jelas terlihat di wajah Hye Ju.

Kalau saja kau tidak terlalu lama di toilet menciumi Jong In oppa “kekasihku” kami tidak akan langsung pulang begitu saja. Bo Ram membatin dalam hatinya. Tapi dia memilih diam, memasukkan buku-buku yang tadi diambilnya dari loker ke dalam laci mejanya, tanpa mau repot memandang Hye Ju.

“Ponsel kalian berdua pun tidak dapat kuhubungi semalam.”

Bo Ram memutar bola matanya malas. Dia mengangkat wajahnya dan menatap Hye Ju tepat di matanya. ‘Bukan hanya kau yang bisa bersandiwara.’ “Dengar. Semalam itu aku tidak enak badan, jadi aku pulang saja. Karena Jong In oppa dan kau begitu lama di toilet,” sengaja menekankan ‘Jong In Oppa dan kau’. “Jadi, aku bilang pada Sehun oppa untuk menyampaikan pada kalian kalau aku pulang duluan.”

“Sudah kukatakan, yang menghilang itu bukan hanya kau, tapi juga Sehun oppa.” Erang Hye Ju sedikit frustasi.

“Kalau dia juga menghilang, itu sudah bukan urusanku lagi. Mungkin kalian terlalu lama di toilet, makanya dia juga bosan dan memilih pulang. Memangnya apa saja yang kalian lakukan berdua di toilet?” Bo Ram membalas dengan sindiran tajam. Dan dia menikmati reaksi Hye Ju setelah itu.

Hye Ju terkesiap, matanya terbelalak dan sangat jelas dia sama sekali tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti ini. Wajahnya pun merona merah. “Yaa, apa maksudmu kami berdua di toilet?” tapi hanya itu yang bisa dikatakannya, tidak lebih, dan dia memilih mengalihkan pembicaraan. “Lagi pula, apa kau yakin, kau bukannya pergi berdua dengan Sehun oppa dan menciuminya seperti kemarin?”

Bo Ram mencibirkan bibirnya, sekali lagi memutar bola matanya malas. Dia tidak tertarik dengan pembicaraan ini. Ya, dia memang melakukannya, dan dengan cukup buruk. Tapi hak apa yang dimiliki Hye Ju mengatakan hal seperti itu? Dia juga melakukan hal yang sama. Entah apa saja yang dia lakukan dengan Jong In semalam setelah Bo Ram dan Sehun meninggalkan bar. Bisa saja kan mereka melakukan hal yang lebih jauh lagi?

“Pastikan bukan kau yang melakukan hal seperti itu dengan pacar orang lain. Dan aku betul-betul penasaran, apa kau tiba dari toilet lebih dulu dari Jong In oppa, atau sebaliknya, atau malah kalian bersama-sama.”

Dan pembicaraan berakhir. Bo Ram memilih untuk menyudahinya sampai di situ untuk sementara.Tapi melihat ekspresi Hye Ju yang betul-betul tidak mengantisipasi untuk mendapat pertanyaan seperti itu, matanya yang terbelalak dan bibirnya yang menganga terbuka, kehilangan kemampuan bicaranya, sangat jelas Bo Ram yang menang dalam pembicaraan mereka tadi. Karena dia tahu rahasia Jong In dan Hye Ju. Sedangkan Hye Ju berpikir kalau mereka dapat menyembunyikannya dengan baik. 1-0. 1 untuk Bo Ram dan 0 untuk Hye Ju. Entah kenapa persahabatan mereka malah jadi berakhir seperti ini. Hambar.

Bo Ram memutuskan untuk mengikuti permainan apa pun yang sedang dimainkan Hye Ju dan Jong In. Tapi kali ini, bukan hanya mereka yang memegang kendali permainan ini. Tapi Bo Ram juga. Bahkan dia sudah hampir bisa menguasai permainan ini. Dan dia berencana mengikutsertakan Sehun. Tentu saja setelah mereka lepas dari masalah dengan orangtua mereka nanti.

^^Mr. Friday^^

Bo Ram langsung cepat-cepat kembali ke rumahnya setelah sekolah bubar. Bertemu sebentar dengan Jong In di pagar sekolah. Memberikan alasan yang sama dengan yang diberikannya pada Hye Ju kepada Jong In tentang kenapa dia mengjilang semalam dan menyangkal dia pergi bersama Sehun. Mendengar kabar kalau Sehun tidak masuk sekolah hari ini. Dan menolak ajakan Jong In untuk mampir sebentar ke coffe shop dengan alasan ibunya menyuruhnya untuk cepat pulang. Jong In berkata baiklah dan sampaikan salam pada Sehun, sedikit basa-basi lalu berpisah. Tapi tidak lupa, sebelum berjalan ke arah yang berlawanan dengan Jong In, Bo Ram menarik lengan Jong In, berjinjit dan mencium bibir Jong In sekilas lalu memasang senyum malu-malu. Dia sengaja melakukannya karena dilihatnya Hye Ju dan Yu Mi yang berjalan ke arah mereka. Dia menahan senyum penuh kemenangan yang memaksa untuk muncul di wajahnya saat dilihatnya Jong In terpana, menyentuh belakang lehernya salah tingkah tapi kemudian tersenyum malu-malu juga pada Bo Ram. Dan Bo Ram memastikan Hye Ju melihatnya, dan lebih dari puas saat dilihatnya Hye Ju menatap mereka cemburu tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Tentu saja dia tidak bisa melakukan apa-apa. Bo Ram memiliki status dengan Jong In dan haknya untuk mencium Jong In kapan pun dan dimana pun dia mau, termasuk di depan Hye Ju.

Bo Ram tidak lagi menahan senyum kemenangannya keluar saat dia bertemu pandang dengan Hye Ju. Dan saat Jong In menunduk dan mencium pipinya, Bo Ram rasanya seperti akan meledak kapan saja saking senangnya melihat air muka Hye Ju yang jauh dari defenisi rasa senang sama sekali. Kau lihat Hye Ju, permainan ini sekarang bukan hanya milikmu saja tapi juga aku. Kita tunggu saja hasilnya, siapa yang akan hancur lebih dulu, kau atau aku, batin Bo Ram. Dia kemudian tersenyum lagi pada Jong In dan melambaikan tangannya pada pria yang berstatus pacarnya itu lalu berjalan ke halte sendirian. Dia puas dengan hasil yang didapatnya hari ini. Sejauh ini, belum ada hal buruk yang terjadi.

Begitu sampai di komplek rumahnya, Bo Ram berhenti sebentar di depan rumah Sehun sebelum melanjutkan langkahnya memasuki halaman rumahnya. Melihat selop wanita yang tak pernah dilihatnya di rumahnyasekalipun di dekat pintu, dia tau pasti ibu Sehun ada di sini. Hatinya berdebar, penasaran akan apa yang didapatnya jika dia melangkahkan kakinya menuju ruang tamu. Ini lebih mendebarkan dari semua kegiatan memacu adrenalin yang pernah dilakukannya. Bo Ram memaksa untuk menenangkan debaran jantungnya sebelum dia melangkah memasuki ruang tamu. Menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, siapa tahu ini akan menjadi terakhir kalinya dia dapat bernafas dengan bebas. Dan dia pun maju.

Semakin dekat ke ruang tamu, dia merasa mendengar suara dua wanita berkelakar dan tertawa. Bo Ram mengernyitkan keningnya. Mungkin mereka sudah selesai membahas Bo Ram dan Sehun. Bo Ram memberanikan diri melangkah masuk ke dalam ruang tamu. Menginterupsi kedua wanita yang duduk di ruangan itu.

“Aku pulang.” Dan tersenyum pada Nyonya Oh lalu membungkuk memberi salam. “Selamat siang Nyonya Oh, apa kabar?”

“Selamat siang Bo Ram.” Nyonya Oh membalas senyuman Bo Ram dengan ramah. Lagi-lagi, sama seperti semalam tidak ada tanda-tanda kemarahan atau semacamnya dari Ibu Sehun yang ditujukan pada Bo Ram. Ibu Bo Ram sendiri juga bersikap biasa. Apa Ibu Sehun tidak memberitahu tentang yang semalam? Bo Ram menelengkan kepalanya, bertanya-tanya pada diri sendiri. Dan ngomong-ngomong soal Sehun,

“Eeem, Nyonya Oh. Katanya Sehun oppa sakit?” tanya Bo Ram sedikit-sedikit takut terhadap Nyonya Oh.

“Oh, ya. Dia memang tidak pergi ke sekolah tadi.” Jawab Nyonya Oh, masih tetap tersenyum. “Badannya sedikit meriang.”

“Dia seharusnya banyak istirahat.” Nyonya Park menimpali. “Anak muda jaman sekarang suka sekali keluar malam dan terkena angin malam seperti itu.”

Bo Ram menelan ludah.

“Kalau begitu aku masuk dulu. Silahkan lanjutkan pembicaraannya.” Bo Ram cepat-cepat minta pamit sebelum pembicaraan ini menjadi lebih jauh dan menjurus kepada pembicaraan tentang kejadian semalam. Dia langsung berjalan menuju tangga ke lantai dua.

“Oh, Bo Ram.” Panggilan Nyonya Oh menghentikan langkah Bo Ram tepat di anak tangga pertama. Dia berbalik lagi menatap Nyonya Oh ragu dan sedikit gamang.

“Ya, ahjumma?”

“Maaf merepotkan, tapi bisakah kau periksa keadaan Sehun di rumah dan tolong beri dia makan siang dan suruh dia minum obatnya. Ahjumma masih harus membahas sesuatu dengan eomma-mu.” Nyonya Oh berkata sambil tersenyum pada Bo Ram. Bo Ram hanya menatapnya ragu. “Ahjumma mohon, ne? Yoona pasti lupa memberinya makan siang.” Katanya sekali lagi.

“Baik..lah.” kata Bo Ram ragu. Dia betul-betul tidak mengerti apa tujuan Nyonya Oh. Bukankah seharusnya saat ini dia sedikit berusaha mempersulit Sehun dan Bo Ram bertemu. “Tapi aku akan mengganti seragamku dulu.” Sambungnya lagi dan dia menaiki anak tangga berikutnya, menuju kamarnya. Dan ngomong-ngomong lagi, siapa itu Yoona?

Seperti yang dijanjikannya, Bo Ram langsung menuju rumah Sehun setelah mengganti seragamnya. Dia langsung masuk ke dalam rumah dan naik ke lantai dua, menuju kamar Sehun untuk memeriksa keadaannya seperti yang dijanjikannya kepada Nyonya Oh.

Nyonya Oh tadi, sebelum Bo Ram menuju rumah Sehun, berkata padanya “tolong jaga Sehun sebentar ya, tapi jangan melakukan yang aneh-aneh di sana ya.” dengan senyum yang sulit diartikan.

Dan ngomong-ngomong, apa yang dilakukan Sehun sampai dia sakit begitu? Mereka sama-sama keluar semalam, tapi bo Ram tidak sakit. Rasanya Sehun mudah sekali sakit. Dan itu mengingatkannya pada Sehun sebagai Mr. Friday lagi. Suaranya serak dan sangat berat kalau dia sedang sakit. Hihi. Bo Ram merasa dirinya seperti orang bodoh, tersenyum sendiri hanya karena mengingat suara Sehun seperti itu. Entah kenapa suara Sehun yang seperti itu sangat berkesan baginya. Rasanya suara Sehun sangat seksi kalau seperti itu.

Bo Ram berdehem saat dia sudah sampai di depan pintu kamar Sehun. Dia menarik nafas dan kemudian, tanpa peduli mengetuk pintu terlebih dahulu, Bo Ram membuka pintu kamar Sehun.

“Oppa, ibumu menyuruhku….” Bo Ram membeku tepat di tempatnya. Yang tak disangkanya adalah dia akan melihat hal yang tidak pernah diharapkannya untuk dilihatnya di balik pintu kamar Sehun. Pemandangan yang tidak terlalu menyenangkan matanya.

Sehun tidur menelungkup di tempat tidurnya. Badan setengah telanjang, hanya memakai celana piyama, nafasnya putus-putus, hampir terengah-engah. Dan yang paling tidak menyenangkan hati Bo Ram adalah, seorang gadis yang tidak dikenalnya duduk di atas tubuh Sehun, tepatnya di atas pinggang Sehun, tangannya menempel di atas punggung Sehun. Tunggu, Bo Ram bukannya tidak mengenal gadis ini. Ya, Bo Ram melihatnya sekali di dekat stasiun di Garosugil, Sehun memeluknya. Gadis cantik yang dilihatnya waktu itu. Ah ya, mungkin ini gadis yang dibicarakan Do Bi. Kekasih Sehun yang lebih tua. Oh dan bukankah tadi Nyonya Oh menyebut namanya? Yoona kalau telinganya tidak salah.

Dan memangnya mereka pikir apa yang sedang mereka lakukan di kamar Sehun?

=TBC=

A/N : Chapternya udah dipanjangin nih, gimana? Kalian suka ndak? Dan ngomong-ngomong kemaren ada yang bilang Sehun ama Bo Ram dijodohin aja sama orang tuanya. Menurut kalian gimanaaaaaa???? Kasih tau pendapat kalian di kolom komentar di bawah oke?

162 thoughts on “[CHAPTERED] Mr. Friday (Part 8)

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s