Diposkan pada Fanfiction

My Wife Is … ? (Chapter 1)

Untitled-1

Starring by :

❤ XI LUHAN

❤ SHIN NAOMI

OH SEHOON

KIM JONG IN

Author : @adinda_elements / Dindong Elements / Byun Deer Kookiary

Ratting : teen / pg 16

Genre  : Marriage life and action

Note : buat reader dina yang Muslim, mari kita sama – sama baca surah Al – Fatihah untuk saudara – saudara kita yang ada di Palestina dan untuk yang Non Muslim, mari bantu do’a agar serangan Israel bisa berhenti 🙂

My Wife Is … ? (Chapter 1)

‘Let’s Laugh, Let’s Fight’

Byisfe (2)

Last Story =>

“Kau tidak suka dengan perjodohan ini ?” Luhan memberhentikan mobilnya secara tiba – tiba. Naomi kembali merasakan sakit ketika kepalanya harus membentur dashbor mobil. Oh God, Naomi bersumpah jika ia bukan sedang masa dinasnya ia pasti akan —- ARGGHHH~

“Dengar, kau bukan tipe gadisku dan kau juga tidak sexy” Naomi merutuk di dalam hatinya dengan apa yang Luhan katakan.

“aku bisa saja melakukan tindakan yang tidak menyenangkan padamu. Jadi, sampai aku mendapatkan jalan keluar dari pernikahan bodoh ini. Aku ingin kita mengatur urusan masing – masing. Kau tidak boleh ikut campur dengan urusanku dan aku juga tak akan mencampuri urusanmu. Kau boleh membawa siapa saja ke apartment kita dan begitu juga denganku. Kau mengerti ?” dari sudut pandang Naomi, Luhan tampak sangat mengerikan sekarang dank arena ia tak bisa berbuat apa – apa Naomi hanya mengangguk pelan. Luhan kembali menghidupkan mesin mobil dan menjalankan mobilnya lagi. entah apa yang terjadi, tapi Luhan merasa bersalah setelah memarahi Naomi beberapa saat lalu. untuk memastikan Naomi, Luhan melirik kea rah gadis itu sekilas. Ia bernafas lega ketika melihat gadis itu tak menangis dan lebih memilih untuk melihat pemandangan di luar jendela. Sebenarnya, jika Luhan jujur. ia akan mengatakan kalau pernikahan ini tak seburuk yang ia katakan.

Teaser | Chapter 1 ❤

Selama diperjalanan, Naomi hanya menatap pemandangan di luar jendela. Ia tak berani menatap Luhan, takut kalau pria itu kembali memakinya dan kembali menggores luka lagi di hatinya. begitu juga dengan Luhan, pemuda tampan itu tampak enggan untuk memulai pembicaraan dengan Naomi. disamping ia juga memikirkan kata – katanya yang cukup kasar tadi, Luhan juga tak tau harus memulai percakapan yang seperti apa. ia belum mengenal Naomi.

‘DRRT DRRT’

Ponsel Luhan berbunyi. Dengan cepat, pemuda itu mengangkatnya dan perhatian Naomi juga tertuju padanya sekarang. dari raut wajahnya, Luhan tampak tak suka dengan orang yang menelpon. Di dalam benaknya, Naomi bertanya – Tanya siapa geragangan yang menelfon pemuda garang itu. tapi itu tak bertahan lama, rasa penasaran Naomi terhenti ketika Luhan menatapnya. Gadis itu langsung memalingkan wajahnya pada jalanan yang semula ia perhatikan.

“kau tak percaya ? baik akan kubuktikan!” Luhan langsung mematikan sambungan telfon. Ia lantas mempercepat laju mobilnya. Naomi yang tak tau apa – apa hanya bisa berpegangan dan berharap kalau Luhan tidak sedang bermain – main dengan hidup.

❤ ❤ ❤

Luhan memberhentikan mobilnya tepat di sebelah sebuah taman. Naomi yang semula menutup rapat – rapat matanya, mulai membuka secara perlahan. Ia menghembuskan nafasnya dan tak lupa bersyukur karena Tuhan masih memberinya kesempatan untuk hidup. Luhan segera keluar dari mobil dan dari penglihatan Naomi, pemuda itu terlihat berjalan kearah memutar kearahnya.

Dan, benar saja penglihatan Naomi. Luhan membuka pintu mobil dan langsung menarik pergelangan tangan Naomi agar gadis itu keluar dari mobil. Setelah pintu mobil kembali tertutup, Luhan mendorong Naomi pelan hingga punggung gadis itu menabrak pinggiran mobil.

“maaf jika tadi ucapanku keterlaluan. tapi sekarang, aku membutuhkan bantuanmu. Apa kau bisa ?” Luhan memohon tapi Naomi belum merespon. Ia masih belum bisa mengerti, kenapa Luhan membawanya ke taman dan kenapa juga pria itu meminta bantuannya ? dan sekarang, pria itu malah menyudutkan Naomi dan mengurungnya di dalam penjara lengan milik pria itu sendiri.

“Naomi, kau mau membantuku ?” karna Naomi tak merespon, Luhan kembali melemparkan permohonannya. Jujur, selama 22 tahun Luhan hidup. Baru kali ini ia memohon pada seorang wanita.

Naomi menatap Luhan heran, ia memikirkan sejenak permohonan Luhan. “kenapa kau berubah secepat ini ?” astaga, kata – kata laknat itu berhasil meluncur dengan sukses dari mulut Naomi. dengan cepat gadis itu menutup mulutnya. Di dalam hati, ia merutuki dirinya yang sering berkata tanpa pemikiran terlebih dahulu. Luhan menautkan alisnya. Sebenarnya apa yang Naomi katakan tidak salah, sifatnya yang di mobil dan sekarang sangat jauh berbeda.

“tidak, bukan begitu.. maksudku aku mau membantumu” Luhan tersenyum. Ia tau Naomi mau melakukannya karena tak mau dibentak atau dimaki lagi. pemuda itu lantas menggenggam telapak tangan ‘calon istrinya’ lembut dan membawanya memasuki taman. Tak tau kenapa, Naomi merasa hangat ketika kulit telapak tangan miliknya bersentuhan dengan milik Luhan. Ia bahkan tak sadar kalau senyumnya sangat sulit ia hentikan.

Luhan tampak terburu – buru sehingga Naomi sulit untuk menyamai langkahnya hingga akhirnya pria itu berhenti di depan seorang wanita. Naomi tak bisa melihat ke depan karna penglihatannya terhalang oleh punggung Luhan.

“Luhan ?” Naomi mendengar suara seorang wanita. ia semakin penasaran untuk apa Luhan meminta bantuannya.

“jangan mendekat. Bukankah sudah kukatakan kalau kita putus ? kesucianmu bahkan belum ku renggut” astaga, rentetan kata – kata yang Luhan lontarkan tadi sangat menyakitkan. Bahkan Naomi yang sebenarnya bukanlah target dari kata – kata itu juga ikut merasa sakit hati.

“ta–tapi”

“kenalkan, ini calon istriku dan mulai sekarang kau tak perlu susah – susah untuk mengurus hidupku” Luhan menarik Naomi.

“di—dia ? tidak tidak, kau pasti wanita bayaran, bukan ?” Naomi terkejut ketika wanita yang ada di depannya mengatakan kalau ia adalah wanita bayaran. Baiklah, sebenarnya Naomi memang wanita bayaran tapi dalam arti kata ia bukanlah wanita bayaran yang dibayangkan wanita itu. Ia adalah wanita bayaran yang memiliki tugas untuk dikerjakan.

“perkenalkan, namaku Shin Naomi dan aku memang akan menikah dengan Luhan seminggu lagi. maaf, tapi kenapa calon suamiku harus membayarku ? kurasa sudah jadi kewajiban bagi seorang suami untuk mencari nafkah dalam sebuah keluarga” Naomi menjawab dengan baik. Luhan yang berada di sampingnya tak bisa memungkiri kalau jawaban Naomi sangatlah bagus.

“tidak, aku tetap tak percaya” wanita itu bersedekap dada. Ia menampakkan wajah jengkelnya. Alis Naomi bertaut, sepertinya wanita yang ada di hadapannya sangatlah terobsesi dengan seorang Xi Luhan. Ia lantas menatap Luhan yang tampak jengah.

“jadi, apa yang harus kulakukan agar kau percaya ?” Luhan menantang dan wanita itu berpikir sejenak. Naomi menatap cemas kearah keduanya.

“ciuman ? kurasa kau sudah sering melakukannya. Tidur bersama ? aku tak tau sudah berapa kali kau melakukannya. Dan sekarang aku ingin tau, bagaimana caramu menyampaikan rasa sayangmu pada calon istrimu itu ? jika benar dia calon istrimu, buktikan! Kecuali jika kau berbohong” mata Naomi terbelalak kaget. Ia was was dengan apa yang akan Luhan lakukan. Ia bahkan reflek bergerak mundur, tapi sayang Luhan telah lebih dulu menahannya.

“kau ingin tau caraku dan calonku ?” Luhan tersenyum. Bukan, itu bukan senyuman. Itu adalah raut wajah setan dan Naomi yakin itu. Luhan semakin mengeratkan pegangannya di bahu Naomi, membuat gadis itu harus meredam rasa sakitnya. Setelah itu ia membalikkan badan Naomi sehingga posisi mereka sekarang menjadi berpelukan. Tinggi badan Naomi yang hanya sejajar dengan mulut Luhan, membuat pemuda itu harus menunduk sedikit agar dapat mencapai lehernya dan disanalah awal kegilaannya.

Luhan memulai aksinya dengan menghembus leher Naomi, membuat gadis itu merasa geli dan selanjutnya ia berhasil menancapkan bibir merah mudanya disana. Bukan hanya sampai disitu, Luhan juga memainkan sedikit lidahnya disana. Sungguh perbuatan yang berani. Naomi yang berperan sebagai korban tak bisa berbuat apa – apa karena kedua tangannya sedang berada di genggaman si setan Luhan.

“CUKUP!!! HENTIKAN XI LUHAN!!!” Luhan melepaskan skinshipnya dengan Naomi. ia puas melihat wajah mantan kekasihnya yang sudah basah oleh air matanya sendiri. Sementara Naomi, Luhan merasa ada gempa skala kecil yang terjadi pada gadis itu. tapi sudahlah, yang terpenting kebebasannya sudah hampir kembali, pikir Luhan.

“dan untukmu bodoh” Naomi terkejut ketika wanita yang baru saja Luhan sakiti berjalan mendekat kearahnya.

‘PLAK’

Naomi terkejut ketika wanita itu hendak menamparnya, tiba – tiba Luhan datang bak superhero dan alhasil dialah korban tamparan itu. di dalam hati, Naomi salut dengan kecepatan Luhan yang langsung menghalangi wanita itu dengan wajahnya sendiri.

Wanita itu tampak lebih terkejut, ia bahkan menatap tangannya tak percaya. Air matanya semakin deras dan akhirnya ia pergi meninggalkan Naomi dan Luhan.

“kau tak apa ?” Naomi mengangguk pelan dan Luhan kembali merangkulnya tapi gadis yang dirangkul malah menolak. Ia lebih memilih jalan ke mobil sendirian daripada bersama Luhan. Bisa – bisa terjadi sesuatu yang luar biasa lagi jika ia berada terlalu dekat dengan Luhan.

Luhan hanya melihati punggung Naomi dari tempatnya. Ia tersenyum lantas meraba bibirnya. ‘ini terlalu manis untuk kurasakan’ gumamnya dan mulai menyusul Naomi.

❤ ❤ ❤

Naomi masuk ke dalam mobil dan ia menghempaskan tubuhnya di jok depan. Tak berapa lama kemudian Luhan juga memasuki mobil, pemuda itu langsung menghidupkan mesin mobil tanpa menoleh ataupun melirik kearah sampingnya. Selama diperjalanan, keadaan di dalam mobil terasa canggung bagi Naomi. karna jujur, baru kali ini ia berada sedekat itu dengan seorang pria. Jangankan melakukan pelukan, berpegangan tangan saja sudah membuat perut Naomi sakit.

“Aish, wanita sialan” Naomi menoleh kearah Luhan. Ia menyipitkan matanya seakan Luhan adalah objek yang sulit untuk dilihat dengan mata telanjang. Seperti amoeba atau plankton, mungkin.

“kau bodoh” lagi, Naomi mengeluarkan kata – kata tanpa pikir panjang. Luhan mendengarnya dan ia langsung menoleh kesamping.

“bukankah seharusnya kau berterima kasih padaku ?” Luhan membela diri.

“untuk apa ? karna kau cabul ? tidak, terima kasih” cibir Naomi. Luhan memberhentikan laju mobilnya secara mendadak, membuat dahi Naomi harus mencium dashbor mobil untuk kedua kalinya. Ia menatap Luhan marah. Namun tatapan marahnya tak bertahan lama karna wajah Luhan yang semakin mendekat. Naomi membulatkan matanya reflek dan perlahan memundurkan badannya.

“a—apa yang akan kau lakukan ?” sial, Naomi terdesak. Punggungnya telah menyentuh pintu mobil, Ia tak bisa membukanya karna Luhan memberhentikan mobil tepat di tengah jalan. akan terlihat bodoh jika Naomi membuka pintu dan berlari keluar. Bisa – bisa ia tertabrak dan meninggal sia – sia. Sungguh memilukan.

Jarak mereka tak begitu jauh, Naomi dapat dengan jelas melihat betapa mulusnya wajah dan beningnya mata Luhan saat ini. “Welcome to the Hell” Naomi tercengang mendengar ucapan Luhan tersebut dan bersamaan dengan itu Luhan menjauh dan kembali ke tempatnya semula.

‘apa itu ?’ Naomi bergumam dan mobil kembali menyala. Tanpa berkata lagi, Luhan mulai menancap pedal gas dan begitulah awal perkenalan mereka. Sangat bermakna dan yang pasti dari pihak Naomi maupun Luhan pasti tak akan lupa. Percayalah.

❤ ❤ ❤

Luhan memarkirkan mobilnya di basement sebuah gedung. Ia keluar dan meregangkan otot – otot badannya yang tegang selama di perjalanan. Naomi yang masih berada di dalam mobil juga ikut keluar. Ia menatap Luhan tak percaya. Bagaimana mungkin pria cantik seperti itu memiliki sifat cabul seperti orang mesum ?, pikir Naomi.

Luhan yang sedang melakukan peregangan merasa janggal, ia berhenti dan berbalik. Naomi langsung memalingkan wajahnya ketika melihat pergerakan Luhan yang berbalik, tapi sayang ia sudah tertangkap basah oleh pria mesum itu.

“apakah aku setampan itu sampai – sampai kau harus diam – diam melihatku ?” Luhan terlalu percaya diri. Naomi menggeleng dan menampakkan raut wajah kesalnya. Ia memanyunkan bibir mungilnya, membuat Luhan gemas.

“mimpi saja kau” umpat Naomi seraya memalingkan wajahnya.

Luhan menggeleng pelan dan ia berjalan masuk menuju gedung tempat apartmentnya berada. Setelah ditinggal cukup jauh, Naomi baru menyadari kalau Luhan telah mendahuluinya. Dengan hati yang menggebu – gebu, Naomi berjalan mengikuti Luhan dari belakang dan lagi, umpatannya tentang Luhan masih belum berhenti.

❤ ❤ ❤

“kenapa lama sekali ?” Naomi menoleh kearah Luhan yang bertanya dengan nada mengejek. Heol~ Jika saja disini tak banyak orang, Naomi pasti akan memukul pria itu dengan High heel yang sedang ia pakai. Mengingat kepandaiannya dalam memakai benda itu sangat payah. Entah sudah berapa kali ia hampir terjatuh oleh benda biadab itu.

Akhirnya yang ditunggu datang. Pintu lift terbuka. Naomi dan Luhan masuk ke dalam beserta beberapa orang lainnya. Taukah kalian ? keadaan lift yang bintang kita masuki sangat sesak. Orang – orang berdesakan, membuat Luhan harus menyumpahi orang – orang yang tanpa sengaja menginjak kakinya. Naomi yang juga berada di dalam lift itu langsung berjalan pelan menuju sudut lift, bermaksud untuk mencari tempat yang aman.

Tapi, setibanya Naomi di sudut lift—–

“Kenapa kau ke sini ?” Naomi terkejut ketika mendapati Luhan sudah berada di sudut lift. Astaga, kenapa harus pria itu lagi ?

“a—” baru Naomi akan menjawab tapi seseorang telah lebih dulu mendorongnya. Gadis itu kehilangan keseimbangan dan —

“tetap disini, kita aman jika bersama” Luhan menarik Naomi agar masuk ke dalam pelukannya. Mata gadis itu terbelalak kaget dengan cara Luhan yang terlalu mendadak itu. ia bahkan belum mempersiapkan detakan jantungnya sendiri. Naomi menengadah, menatap wajah Luhan.

‘terima kasih’ gumamnya dan berusaha bersikap senormal mungkin.

❤ ❤ ❤

“kau tak apa ?” baru saja mereka keluar dari lift, Naomi langsung melontarkan pertanyaan ketika melihat wajah Luhan yang memerah. Luhan menaikkan sebelah alisnya dan jalan melewati Naomi. gadis itu berbalik dan kembali mengumpat.

‘apa itu ?’ Naomi merasa kesal dengan Luhan. Disamping sikap mesumnya, ternyata pria itu juga memiliki sikap acuh tak acuh. Dengan wajah yang ditekuk, Naomi mengekor kemana kaki Luhan berjalan dan tak berapa lama kemudian pria itu berhenti di depan pintu yang bernomorkan 327. Luhan menekan beberapa digit angka dan pintu terbuka. Ia masuk dan Naomi mengikuti.

“Arghhh~ badanku” Luhan menggerutu seraya menghempaskan badannya di atas sofa yang berhadapan dengan televisi. Ia memijit bahunya yang terasa kaku. Naomi yang melihat pria itu tak menghiraukan. Gadis itu terus saja berjalan menuju dapur untuk mengecheck bahan makanan.

Setibanya di dapur, Naomi membuka kulkas dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati hanya sebotol anggur di dalamnya. Gadis itu mengambil anggur dan berkata “mana mungkin aku hidup hanya dengan minum ini ?” Naomi menggeleng pelan dan memasukkan anggur itu ke dalam kulkas. Ia melihat sekeliling. Kalau dipikir – pikir apartment ini sangat luas. Lihatlah jarak ruang tamu dan dapurnya, bukankah itu agak jauh ?

‘TING TONG’ Khayalan Naomi buyar ketika mendengar bel apartment berbunyi. Ia berlari ke depan, begitupula dengan Luhan. Mereka berhenti tepat di ambang pintu. Keduanya saling menatap ketika hendak membuka pintu. Mereka penasaran, siapa gerangan yang datang ? padahal tak sampai 10 menit yang lalu mereka sampai. Luhan memberanikan diri untuk membuka pintu. Rasa tegang meliputi keduanya pada saat detik – detik pintu akan terbuka. Dan ketika pintu terbuka, mereka sama – sama menghela nafas ketika melihat pria berpakaian seperti pelayan berdiri di depan pintu. Luhan menyunggingkan bibirnya, pertanda kesal.

“apa ?” Naomi menatap Luhan tajam lantas menginjak kaki pria itu, membuat ia merintih kesakitan. ‘sopanlah sedikit’ ucap Naomi ketika Luhan juga menatapnya. Pria itu hanya memutar bola mata hitamnya.

“apa ada yang bisa ku bantu ?” Naomi bertanya dengan senyum manis tertempel di wajahnya. Luhan yang melihat itu hanya bisa mengumpat, sekarang ia tau kalau Naomi bukanlah gadis sembarangan yang bisa disuruh ini dan itu.

“ah iya, tadi sebelum kalian datang. Ada seseorang yang menitipkan ini dan kurasa ini untuk Shin Naomi” pelayan itu memberikan sebuah amplop cokelat pada Naomi. gadis itu hendak menerimanya, tapi Luhan telah lebih dulu menyambar. Ia penasaran dengan isi di dalamnya. Akan tetapi, Ketika hendak membuka amplop itu, Luhan berhasil mendapatkan sebuah injakan kaki lagi dari Naomi. membuatnya memberikan amplop itu pada Naomi.

‘kau bahkan lebih kejam dari seorang ibu tiri’ umpat Luhan seraya menatap tajam Naomi. namun gadis itu tak menghiraukannya.

“aku Naomi. terima kasih sudah mengantarnya dan maafkan pria ini” Naomi membungkukkan sedikit badannya. Pelayan itu hanya tertawa kecil dan mengatakan kalau ia sudah biasa di perlakukan seperti itu.

“kalau begitu aku permisi, maaf sudah mengganggu” pelayan itu pamit dan membungukkan sedikit badannya. Naomi tersenyum dan mempersilahkannya. Sementara Luhan ?

“pergilah ! kau mengganggu —” belum sempat pria itu menyelesaikan ucapannya, Naomi telah lebih dulu menyumpalnya dengan tissu yang berada tak jauh dari mereka. Pelayan tadi tersenyum canggung dan segera pergi dari apartment . Naomi buru – buru menutup pintu dan langsung meninggalkan Luhan yang masih berusaha untuk mengeluarkan tissu dari mulutnya.

Setibanya di ruang tamu, Naomi segera membuka amplop itu. tapi, pergerakannya terhenti ketika menyadari Luhan telah berada di sampingnya. Awalnya ia terkejut akan kedatangan Luhan namun lambat laun ia menatap pria itu bosan.

“apa ? kau ingin mengintip isinya ?” Luhan menggeleng.

“ayo kita lihat bersama” Luhan hendak mengambil amplop itu, tapi Naomi menghindarinya. Ia tak ingin Luhan juga ikut melihat isi amplop itu. bagaimana jika nanti isi amplop itu merupakan tugasnya ? bukankah semuanya akan menjadi hancur ?

“tidak” Naomi berlari menjauh dari Luhan. Pria itu tak mau kalah, ia malah mengikuti Naomi.

Aksi kejar – kejaran terjadi. Naomi berusaha berlari menjauh dari Luhan, tapi pria itu selalu mengikutinya. Ia bahkan tampak tak ingin menyerah sebelum mendapatkan amplop yang Naomi pegang. Rasa pensarannya telah sampai di ubun – ubun.

“bukankah lebih baik melihatnya bersama – sama ?” Naomi menggeleng. sebenarnya ia sudah terdesak sekarang. lihatlah, tak ada ruang kosong untuk gadis itu berlari. Luhan berada tepat di depannya. ia berjalan mendekat,sementara Naomi sudah tak bisa bergerak lagi karena punggungnya yang membentur dinding.

“berubah pikiran ?” Luhan benar – benar memutus jalan Naomi. ia mengurung gadis itu disudut ruangan dengan lengannya sebagai penutup.

“baik. Tapi singkirkan lenganmu” Naomi memerintah dan Luhan mengikuti. Ia menatap gadis itu dan Naomi mulai membuka amplop. Hei, apa gadis tu benar – benar menyerah ? heol~ kemana Naomi yang sebenarnya ?

Naomi membuka amplop dan mengeluarkan isi di dalamnya dengan perlahan. Luhan yang berada tepat di depannya hanya melihat, ia tersenyum penuh kemenangan. Beda halnya dengan Luhan, Naomi memang mengeluarkan isi amplop tersebut tapi, belum juga setengah isi amplop keluar gadis itu kembali berlari dan langsung masuk ke dalam ruangan yang kebetulan pintunya terbuka. Luhan yang melihat itu hanya bisa tercengang dan mengandaikan dirinya sebagai keledai karena baru saja ditipu oleh seorang wanita. astaga, sebenarnya siapa yang berkuasa disini ?

Luhan memukul dahinya pelan. Ia merutuki sikap bodohnya sehari ini yang selalu kalah oleh Naomi. ia bahkan hanya memimpin di awal perkenalan dan sekarang keadaan terbalik. Naomi telah mendominasi. Karena terlalu lelah, Luhan memutuskan untuk beristirahat di ruangan yang berada tepat di sebelah ruangan yang Naomi masuki. Di dalamnya telah tersedia ranjang dan beberapa ornament khas kamar. Luhan menutup pintu dengan kakinya dan ia langsung menghempaskan badannya di atas ranjang.

❤ ❤ ❤

Naomi menutup pintu ruangan itu, ia bahkan menguncinya. Gadis itu menghela nafasnya terlebih dahulu sebelum membuka isi amplop untuk kedua kalinya. Ia tak menyangka, berlarian mengelilingi apartment bisa membuatnya selelah ini. Setelah merasa nafasnya teratur, Naomi melihat ke sekeliling ruangan yang ia masuki.

Ruangan itu di dominasi oleh warna biru. Mulai dari ranjang, meja rias, lemari dan pintu kamar mandinya juga. Tanpa perlu banyak berpikir, Naomi tau kalau ruangan ini adalah kamar dan ia juga yakin kalau kamar ini adalah kamarnya. Mengingat ada meja rias di dalamnya, kecuali jika Luhan memang punya kelainan. *if you know what Naomi mean.

Naomi berjalan mendekat ke ranjang. Ia duduk di tepiannya dan langsung membuka amplop. “Oh ? ini kartu apa ?” Naomi mendapati sebuah kartu dan surat di dalamnya. Ia lantas membuka surat dan membacanya.

Untitled-4

Naomi tersenyum setelah membaca surat itu. ia menggenggam kartu pemberian bosnya dan ia langsung berlari keluar kamar. Ketika diluar, Naomi tidak mendapati wujud Luhan dimanapun. Ia penasaran, kemana perginya pria mesum itu. ia mencari Luhan di setiap sudut apartment, tapi pria itu belum ditemukan dan akhirnya, Naomi memberanikan diri untuk membuka pintu yang bersebelahan dengan kamarnya. Ia menjulurkan kepalanya dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati Luhan telah terkapar diatas ranjang.

Naomi menggeleng pelan bahkan terkekeh. Ia mendekat kearah Luhan dan duduk di tepian ranjang. “aku heran, kenapa wajah seimut ini bisa memiliki pikiran mesum” ucap Naomi pelan. Ia lantas beranjak dan menyelimuti Luhan. Dengan pelan, Naomi berjalan mundur meninggalkan Luhan.

‘mimpi indah’ gumamnya sebelum menutup pintu kamar Luhan.

Naomi berjalan menuju pintu dan disana telah menanti dua alas kaki. Yang pertama adalah high heel dan yang satunya lagi adalah sepatu sneaker milik Luhan. Untuk beberapa saat Naomi berfikir. Jika ia memakai high heel, pasti akan membutuhkan waktu yang lama untuk berjalan ditambah lagi ia tidak tau seberapa jauh toko serba ada dari apartmentnya. Tapi, jika ia memakai sneaker dan Luhan tidak mengetahuinya akan jadi masalah yang lain lagi. Secara berulang – ulang, Naomi menatap high heel dan sneaker bergantian.

“Luhan, bolehkah aku memakai sepatumu ?” Naomi meminta ijin dengan nada pelan yang pastinya Luhan tidak akan mendengarkan. Tanpa menunggu jawaban, Naomi langsung memasukkan kakinya ke dalam sepatu Luhan. Gadis itu tertawa sendiri ketika menyadari ukuran kakinya dan Luhan tak jauh berbeda. Gadis itu langsung keluar apartment dan berjalan menuju lift.

Jarak lift yang tak jauh dari apartment, membuat Naomi hanya lama dalam menunggu. Ia memperhatikan keadaan sekitar yang sepi. Sepertinya tak banyak yang tinggal di lantai 37, pikirnya dan sesaat kemudian pintu lift terbuka. Naomi masuk dan bersyukur akan keadaan lift yang kosong. Ia menekan tombol 1 dan pintu lift tertutup. Sebelum pintu lift tertutup sempurna, Naomi terkejut ketika mendapati ada tangan yang menahan pintu lift. Ia memiringkan wajahnya dan matanya membulat sempurna ketika melihat sosok tampan nan tinggi muncul di balik pintu lift. Pria itu masuk dan Naomi kembali menekan tombol 1. Sesaat kemudian pintu lift tertutup dan benda itu mulai bergerak turun.

Untuk mencapai lantai 1 memang tak begitu lama, tapi keadaan hening yang terjadi membuat Naomi merasa takut dan canggung, mungkin. Hingga akhirnya …

“kau juga tinggal di lantai 37 ? unit berapa ?” Naomi memberanikan diri untuk bertanya. Ia merasa canggung Karena keadaan di dalam lift begitu sunyi.

Pria itu diam dan tak menoleh. Ia hanya menatap lurus ke depan. Naomi merasa malu, ia menelan air liurnya. “maaf jika kau merasa terganggu” Naomi membungkukkan sedikit badannya dan pintu lift terbuka. Pria itu kembali mengacuhkan Naomi dan pergi begitu saja. Naomi menggerutu melihat kepergian pria tinggi nan tampan itu.

❤ ❤ ❤

Setelah 15 menit mencari, akhirnya Naomi menemukan toko serba. Ia masuk dan gadis yang berjaga di kasir menyapanya. Naomi balas menyapa dan ia berjalan mendekat menuju kasir. “permisi, apa kau bisa menunjukkan ku dimana letak barang – barang yang kucari ? kebetulan aku baru disini” Naomi meminta tolong.

“hmm ? baiklah, kau bisa meminta bantuan gadis yang disana. Ia lebih mengetahui” Naomi mengangguk dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Ia berjalan mendekat kearah gadis yang sedang menyusun beberapa makanan kaleng di rak nya.

“permisi” gadis itu menoleh dan Naomi kagum akan kecantikan yang gadis itu miliki. Apa dia operasi plastik ? pikir Naomi.

“ya ? apa ada yang bisa ku bantu ?” dengan ramahnya gadis itu membalas. Naomi senang karena untungnya dia tidak bertemu lagi dengan orang mesum maupun orang yang mengacuhkannya.

“tunggu, kalau kau tak keberatan. Bagaimana jika kita berkenalan ? aku tak mungkin memanggilmu dengan kata kau selalu” Naomi tersenyum setelah mengatakan itu.

“Han Soo Sun. kau bisa memanggilku Soo Sun. bagaimana denganmu ?” gadis bernama Soo Sun itu mengulurkan tangannya supaya bisa berjabat dengan Naomi. dengan senang hati, Naomi membalas jabatan tangan Soo Sun.

“aku Naomi. senang berkenalan denganmu” Naomi tersenyum senang seraya menggoyangkan tautan tangannya dengan Soo Sun. “O, apa kau bisa membantuku mencari beberapa bahan makanan dan pakaian ?” Naomi meminta bantuan dan Soo Sun menganggukkan kepalanya. Pertanda kalau ia mau membantu Naomi.

“baiklah, bagaimana kalau kita mencari bahan makanan terlebih dahulu ?” Naomi menginterupsi. Soo Sun tersenyum dan menunjukkan arah dimana tempat bahan – bahan makanan berada. Ia mengikuti Naomi selama berbelanja, bahkan Naomi juga meminta pendapat Soo Sun tentang barang – barang yang harus ia beli. Keduanya menjadi lebih akrab dengan cepat.

❤ ❤ ❤

“Soo Sun, sudah berapa lama kau bekerja disini ?” disaat sedang memilih baju, Naomi menyempatkan untuk bertanya pada Soo Sun. berharap gadis itu tak bosan dengannya.

“kurasa hampir 2 setengah tahun” balas Soo Sun dan Naomi mengangguk mengerti.

“kalau boleh tau, usiamu berapa ? kulihat kau masih muda” Naomi masih melontarkan pertanyaan disaat dirinya asik memilah baju yang akan ia beli untuk dirinya dan – Luhan tentu saja. Mengingat barang – barang mereka belum diantarkan dan oleh karena itu, mereka tak mungkin memakai gaun maupun stelan lengkap untuk tidur.

“aku akan berumur 20 tahun” Naomi terkejut ketika mendengar jawaban Soo Sun. 20 tahun ? bukankah itu berarti mereka berada pada line yang sama ?

“benarkah ? kukira kau lebih muda . tapi ternyata, kita sama” Naomi antusias mengatakan itu. ia menampakkan deretan giginya pertanda kalau ia senang. Soo Sun juga membalas dengan senyuman. Ugh~ jika ini bukan pertama kalinya mereka bertemu Naomi sangat ingin bertanya tentang kekasih Soo Sun.

“ayo kita ke kasir. Aku sudah mendapatkannya” Naomi merangkul Soo Sun menuju kasir. Mereka saling berbagi lelucon selama diperjalanan. Sungguh, mereka terlihat bagaikan pasangan sahabat.

Setibanya di kasir, Naomi meletakkan seluruh barang belanjaannya untuk dihitung. Soo Sun yang merasa tugasnya sudah selesai memutuskan untuk pamit, karena ia harus mengecheck stock barang yang ada di gudang. Namun, Naomi mencegat.

“izinkan aku mentraktirmu satu kaleng minuman. Ini sebagai ucapan terima kasih ku” Naomi memohon. Ia menangkupkan kedua tangannya. Soo Sun yang melihat itu menjadi tak tega dan menuruti apa yang Naomi inginkan. Melihat anggukan yang Soo Sun lakukan, Naomi berlari kecil menuju mesin minuman yang berada tak jauh dari mereka. Setelah membeli minuman kaleng, Naomi kembali mendekat kearah Soo Sun.

“ini” ia menyerahkan satu kaleng minuman pada Soo Sun dan gadis itu menerimanya. “terima kasih” ucapnya. Naomi hanya tersenyum dan kemudian ia dipanggil kasir untuk membayar barang belanjaannya.

Naomi memberikan kartu pemberian bosnya dan tanpa menunggu lama, proses pembayaran telah selesai. Setelah membayar, Naomi berpamitan pada kasir dan juga Soo Sun.

“kuharap kita bisa berteman baik. Tetaplah mengingatku” Naomi tersenyum pada Soo Sun lalu keluar dari toko serba ada itu.

Soo Sun yang melihat kepergian Naomi hanya bisa melambai dan tersenyum. Sebelum pergi ke gudang, Soo Sun teringat sesuatu. Kata – kata Naomi tadi, itu adalah kata – kata yang pernah dilontarkan seorang pria padanya. Soo Sun tersenyum kecut jika mengingatnya. “aku masih menepati janjiku. Hanya keadaan yang mengubah semuanya” Soo Sun bergumam lalu pergi menuju gudang.

❤ ❤ ❤

“Aku pulang” Naomi masuk ke dalam apartment. Untungnya ia mengingat angka – angka apa saja yang Luhan tekan ketika memasuki apartment. Kalau tidak, bisa – bisa gadis itu menunggu Luhan untuk membuka pintu. Itu tak akan buruk jika Luhan mendengarnya menekan bel tetapi akan menjadi masalah jika ia harus menunggu diluar. Orang lain pasti akan mengatakannya penguntit jika melakukan itu.

Setelah menukar sepatu dengan sandal rumah, Naomi masuk kedalam apartment. Ia melihat ke sekelilingnya dan masih belum mendapati wujud Luhan. Sepertinya pria itu sangat lelah sampai – sampai tertidur dengan begitu lelapnya, pikir Naomi. tak mau ambil pusing, gadis itu berjalan menuju dapur dan meletakkan barang belanjaannya diatas patri dapur.

Setelah meregangkan sedikit badannya, Naomi mulai menyusun barang belanjaannya. Ia meletakkan daging, buah – buahan, jus kalengan dan juga sayur di dalam kulkas. Sementara bahan makanan yang lain ia masukkan ke dalam toples.

Ketika semua barang telah tertata rapi, Naomi melirik jam dinding yang tertancap diatas kulkas. Jarum pendek yang menunjukkan angka 6 membuat Naomi memutuskan untuk mulai memasak makan malam. Ia memang lapar, tapi Naomi bukanlah tipe gadis yang suka makan – makanan instan. Lebih baik memasak daripada harus memakan makanan instan. Itulah prinsip Naomi.

Sebelum mulai memasak, Naomi memutuskan untuk menukar bajunya terlebih dahulu. Akan menjadi sebuah lelucon yang buruk jika ia memasak dengan gaun, apalagi gaun ini bukan miliknya. gadis itu menyeret satu kantung belanjaan yang berisi pakaian. Iapun masuk ke dalam kamarnya.

❤ ❤ ❤

‘DRRT DRRT’

Luhan terkejut ketika mendapati ponselnya berbunyi. Pria itu kemudian bangkit dari tidurnya dan melihat siapa gerangan yang membuat ponselnya berbunyi. Begitu melihat ponselnya, Luhan mengumpat karena yang datang adalah pesan dari operator. Pria itu lalu beranjak dari ranjangnya dan melemparkan ponselnya ke atas ranjang.

“astaga, perutku meronta ingin diberi asupan makanan” Luhan prihatin akan keadaan perutnya yang berbunyi dengan tak enaknya. Untung saja tak ada yang mendengar jika tidak, pasti julukan cassanova Luhan akan musnah seketika. Pria itu langsung berjalan keluar dari kamarnya. ia bermaksud untuk mengecheck isi kulkas, apakah ada makanan atau tidak.

Dengan mata yang masih layu, Luhan berjalan menuju dapur dan alangkah terkejutnya Luhan ketika mendapati Naomi sedang memanggang daging sapi. Harum yang menguar dari daging itu membuat perut Luhan semakin meronta.

“O ? Luhan ? kau datang lebih awal. Aku baru saja memanggang beberapa potong daging” Naomi berbalik dan mendapati Luhan sudah berada di belakangnya. Gadis itu menjelaskan apa yang sedang terjadi dan Luhan hanya mendengarkan seraya menatap Naomi. ia sepertinya kehabisan kata – kata karena perut laparnya.

Naomi yang melihat ada yang aneh dengan Luhan, langsung menyuruh pria itu duduk di dekat meja makan. “tunggu disini, kupastikan sebentar lagi selesai. Ok ?” Naomi membentuk huruf O dengan jarinya, kemudian ia kembali menuju dapur. Luhan yang melihat kepergian Naomi merasa salut dengan gadis itu. ia pikir Naomi hanyalah gadis cerewet dan suka menginjak kaki orang. Tapi, ketika melihatnya memasak. Luhan yakin kalau Naomi bukanlah tipe gadis yang hanya menyusahkan.

Luhan yang sudah kelaparan selalu mencuri – curi pandang ke dapur. Ia benar – benar sudah tak tahan dengan bau daging yang harum itu. ia bahkan menggigit sumpit yang ada di tangannya. Sungguh perbuatan kekanakan.

“maaf sudah menunggu. Kuharap kau menyukainya” Naomi datang dengan sepiring daging ditangannya dan semangkuk nasi di tangan lainnya. Mata Luhan berbinar – binar seketika. Ia benar – benar menantikan kehadiran daging itu. setelah Naomi meletakkan piring yang penuh daging itu di atas meja, Luhan langsung menyambarnya namun gadis itu malah memukul tangan Luhan pelan.

“bukankah sebaiknya kau berdo’a ? apa orang tuamu tidak pernah mengajarkanmu ?” Luhan memutar bola matanya. disaat genting seperti ini Naomi masih saja memperingatinya. Gadis ini benar – benar seperti ibunya.

“baiklah, baiklah” Luhan menuruti apa yang Naomi suruh. Ia tak ingin Naomi mengambil kembali daging – daging itu dan membuat perutnya menahan lapar lagi. pria itu lalu menyatukan tangannya dan ia menutup matanya. Naomi yang melihat itu tersenyum dan mengikuti apa yang Luhan lakukan.

“apa masih ada aturan lagi ?” Luhan telah selesai berdo’a. ia menatap Naomi jengah, sementara yang ditatap hanya tersenyum dan menggeleng.

“tidak. Kau bisa makan sekarang” Luhan tersenyum dan langsung menyambar daging itu. ia makan dengan lahap. Naomi senang karena masakannya bisa dimakan dan ia juga ikut makan, namun tidak serakus Luhan.

Ditengah acara makan, Naomi mendapati ada bekas saus di pipi Luhan. Reflek, gadis itu mengusapkan ibu jarinya disana. Luhan yang tak tau langsung terkejut dengan perlakuan Naomi. jujur, Luhan memang berkencan dengan banyak gadis. Bahkan sudah tak terhitung lagi banyaknya. Tapi, baru kali ini ia mendapati perlakuan manis seperti ini. Biasanya para gadis yang mendekati Luhan hanya ingin hartanya.

Sebelum Naomi menarik tangannya, Luhan mencegat. Pria itu langsung bangkita dari duduknya dan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Naomi. tak ada perlawanan yang Naomi lakukan karena tangannya sedang berada di genggaman Luhan.

Dekat dan semakin dekat hingga hidung mereka bersentuhan bahkan Naomi maupun Luhan bisa dikatakan menghirup oksigen yang sama. Keduanya sama – sama menutup mata dan —

❤ See You Next Time ❤

Hadoh~ ini apa ? tolong kasih tau Dina >.<

Astaga, maaf ya jika ceritanya terlalu aneh dan gak sesuai harapan kalian *Bow

Ya sudahlah, mungkin ini yang terbaik *eaa~

Oea, dina juga selalu menunggu komentar kalian ^_^ jadi, jangan malu – malu untuk berkomentar ya 😀 apalagi kalo isi komentar kalian berupa pendapat..

Wuihh~ dina senang banget.. beneran deh *Love Sign For You

❤ makasih atas komentar kalian di teaser kemarin ^_^

Beneran lhoh, dina gak nyangka kalo kalian se respect itu dengan ff ini dan maaf ya, karena dina gak balas komentar kalian satu – satu.. soalnya jaringan di rumah dina itu minta ribut -_-

But, don’t worry.. dina baca semua komentar kalian kok ^_^

Dan komentar kalian benar – benar membuat dina bersemangat buat ngeanjutin ini ff ❤

Jadi, peraturannya tetap sama kan ya ?

Hehe, dadah semuanya..

Semoga next chapternya bisa cepat di post 😀

Iklan

Penulis:

A Girl who love her Mother and Father ^^ A Girl who claim Byun Baekhyun to be her Husband

293 tanggapan untuk “My Wife Is … ? (Chapter 1)

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s