[Oneshot] You’re Crazy and I’m Out of My Mind

You're Crazy and I'm Out of My Mind

Tittle : You’re Crazy and I’m Out of My Mind

Author : Sehunblackpearl
Main Cast :
– Oh Sehun [EXO]
– Kim Joo Young [OC]
– Kim Joonmyun (Suho) [EXO]
Genre : Romance, sad romance, slight!angst, family
Rated : PG
Summary : Sehun adalah anak yang diambil dari jalanan oleh seorang pengusaha kaya. Setiap hari Sehun diberi makan, pendidikan, dan terutama tempat berlindung. Yang harus dilakukannya hanya menjaga, menemani dan mengawasi putri dari pengusaha itu. Sehun tidak keberatan harus mengawasi dan menemani gadis umur 17 dengan otak setara anak umur lima tahun itu. Tidak, tidak sama sekali. Dan dia melakukan pekerjaannya dengan baik. Tapi, saat dia mulai sering menyentuh tangan gadis itu hingga memeluk dan menciumnya, segala sesuatu tidak pernah lagi menjadi baik.
Disclaimer : Plot dan isi cerita milik saya, saya tidak memiliki para cast kecuali Sehun suami saya :$

Warning : I don’t accept bash and don’t tolerate siders and plagiator. Respect please🙂

*You’re Crazy and I’m Out of My Mind*

Awalnya hanya sentuhan tangan biasa. Terkadang saat mengawasi gadis itu sedang bermain, dia akan berdiri sedikit jauh, memandangi sosoknya yang bermain-main dengan apapun yang dianggapnya menarik. Pelangi, kupu-kupu, capung, bunga, kelinci, dan apapun itu. Dan saat gadis itu tidak memperhatikan langkahnya dan hampir terjatuh atau terkadang dia akan tersandung batu dan di lain waktu tidak sengaja menginjak roknya yang terkadang terlalu panjang, maka dia akan segera berlari ke arahnya, menangkap tubuhnya, menahannya agar tidak terjatuh. Atau kadang, gadis itu tetap akan jatuh tapi tidak akan dibiarkannya tubuh ringkuh itu menghantam tanah dan tubuhnya sendiri yang akan dijadikan tumbal.

Terkadang saat dia menemani gadis itu sarapan dan makan siang atau saat dia membawanya membeli es krim atau burger atau makanan-makanan manis kesukaannya, tangannya akan ditarik gadis itu dengan semangat. Dan sering kali, saat gadis itu melahap makanannya hingga belepotan hampir di seluruh wajahnya, dia akan mengambil tisu atau sapu tangannya dan membersihkan wajah gadis itu sampai tidak bernoda sedikitpun.

Ya, awalnya memang hanya sentuhan-sentuhan biasa yang polos tanpa ada maksud lain dan niat jahat sedikitpun dari hatinya. Dia, Sehun betul-betul tidak pernah berniat sedikitpun untuk melakukan apapun yang jahat pada anak kedua keluarga Kim yang pada mereka Sehun sudah mengabdikan diri selama sembilan tahun.

Maka Sehun tidak pernah betul-betul tahu sejak kapan dia akan menyelinap ke kamar Joo Young, putri dari Tuan Kim pada malam hari saat seluruh penghuni rumah sudah tertidur. Hal itu terjadi begitu saja dan dia tidak ingat tepatnya kapan.

*You’re Crazy and I’m Out of My Mind*

Kim Joo Young anak kedua dari keluarga Kim tentunya adalah seorang gadis yang cantik. Baiklah, mungkin memang tidak cantik dalam artian wajahnya begitu indah hingga membuat setiap pasang mata yang melihat akan bertekuk lutut menyembah-nyembah cintanya. Tapi dia memang memiliki senyum yang manis dan dia begitu polos.

Orang-orang menyebutnya idiot, termasuk keluarganya. Hanya segelintir orang yang menolak memanggil gadis itu idiot, keterbelakangan mental, dan semacamnya. Ayahnya, almarhum ibunya, kakak laki-lakinya dan Oh Sehun, pria yang sudah selalu dipercaya Tuan Kim selama sembilan tahun untuk menjaga putrinya itu.

Memang benar, Joo Young memiliki kekurangan. Meskipun sudah akan berulang tahun yang ketujuhbelas bulan Agustus nanti, tapi dia memiliki otak dan kemampuan berpikir setingkat anak berumur empat tahun. Sehun sendiri tidak mengerti kenapa dia bisa begitu.

Saat pertama melihat gadis itu, dia pun berpikir kalau Joo Young tentulah mengalami keterbelakangan mental meskipun Tuan Kim sendiri mengatakan bukan demikian. Sehun saat itu hanya mengiyakan setiap kata Tuan Kim namun dalam hati dia percaya Tuan Kim hanya berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa putrinya itu tidak idiot di saat segala bukti sudah sangat menjelaskan bagaimana terbelakangnya gadis itu. Saat itu Joo Young delapan tahun dan Sehun enam belas.

Tapi kemudian setelah menghabiskan waktu bersama Joo Young, dia sadar. Gadis itu memang tidak terlihat seperti idiot. Wajahnya terlihat sangat normal, dia tidak tersenyum seperti idiot atau menggerakkan anggota badannya seperti anak-anak cacat mental lainnya dan mulutnya tidak menganga juga tidak berliur sembarangan. Joo Young bahkan terlihat sangat normal. Badannya juga berkembang seperti anak perempuan pada umunya. Menunjukkan gejala-gejala akil balik seperti remaja perempuan pada umumnya. Hanya saja otaknya memang tidak berkembang mungkin. Dia berpikir seperti anak usia empat atau lima tahun. Dan dia terlihat begitu bebas selayaknya anak kecil. Dan Sehun memutuskan dia tidak akan menyebut maupun menganggap anak ini idiot.

*You’re Crazy and I’m Out of My Mind*

“Oppa.. oppa…” Joo Young berlarian dan melompat-lompat kegirangan. Dia langsung berlari memeluk oppanya saat bayangan pria itu yang berdiri di dekat pintu yang menuju halaman belakang tertangkap oleh matanya. “Oppa pulang. Oppa pulang.” Teriaknya girang, tidak mau melepaskan pelukan pada oppanya.

Sehun tersenyum melihat gadis yang terlihat begitu bahagia itu. Oppanya, Joon Myun tertawa melihat kelakuan adiknya yang tidak ubahnya seperti anak kecil. Dia kembali memeluk tubuh adiknya itu dan mengelus rambut dan punggungnya penuh sayang.

Lima menit kemudian, mereka bertiga, Sehun, Joo Young, dan Joon Myun sudah duduk di atas rumput yang dipotong rapi di halaman belakang kediaman Kim. Joo Young meletakkan kepalanya di pangkuan oppanya dan dia bermain-main dengan boneka yang baru saja diberikan oppanya sebagai oleh-oleh. Joo Young tersenyum bahagia, membuat dua pria itu pun ikut-ikutan tersenyum bahagia melihatnya.

“Gomawo.” ujar Joonmyun sambil tersenyum memandangi adik perempuannya yang masih asik bermain dengan teman barunya di kakinya.

“Untuk apa?” Sehun yang sedari tadi juga menatap Joo Young, mengangkat kepalanya untuk berganti menatap Joonmyun. Dia mengernyitkan sebelah alisnya.

“Untuk segalanya.” kata Joonmyun lagi, masih tetap tidak mau menatap Sehun. “Untuk setiap waktu yang kau berikan pada Joo Young. Untuk setiap kata-kata menenangkan ketika dia ketakutan. Untuk setiap pelukan ketika dia bermimpi buruk. Dan segala kasih sayang yang kau berikan padanya.” Joonmyun mengelus-elus kepala adik perempuan yang sangat disayanginya itu. Sayang dia mengalami nasib seperti ini. “Aku juga sangat berterima kasih karena kau tidak memanggilnya idiot.” Kali ini Joonmyun mengangkat kepalanya, mempertemukan matanya dengan lawan bicaranya dan tersenyum hangat, dipenuhi rasa terimakasih dan salut.

Tidak banyak orang yang mau menerima keadaan adiknya yang seperti ini. Orang-orang selalu mengatai Joo Young di belakang dan bahkan keluarga mereka sering kali memperlakukan Joo Young seolah setingkat lebih rendah, bukan, bukan hanya setingkat, tapi jauh beberapa tingkat lebih rendah dari mereka. Dan menganggap keberadaan gadis itu mencoreng nama baik keluarganya yang terpandang. Tapi Sehun yang bukan siapa-siapa kecuali seorang anak yang dipungut ayahnya dari jalanan memperlakukan Joo Young dengan begitu berharga. Joonmyun sangat bersyukur Joo Young masih memiliki orang-orang yang menyayanginya. Bukan hanya ayah dan oppanya.

“Aku.. tidak pernah menganggapnya idiot.” gumam Sehun pelan tapi cukup kuat untuk dapat didengar oleh Joonmyun. Dan Joonmyun tersenyum lalu kembali pada aktivitas awalnya, mengelus dan menyisir rambut Joo Young dengan jarinya.

Satu sisi diri Sehun merasa bersalah. Dia tidak pantas mendapatkan rasa terima kasih yang begitu besar dari keluarga Kim. Dia bukanlah apa-apa kecuali manusia bejat. Dia sama sekali tak layak dengan senyum Joon Myun yang begitu tulus padanya. Dia sudah mengambil keuntungan dari gadis itu. Dia… mengotori kepercayaan keluarga Kim untuknya.

*You’re Crazy and I’m Out of My Mind*

Beberapa hari setelah kepulangan Joonmyun, Sehun tau kalau Joonmyun akhirnya memutuskan untuk tinggal di Kediaman Keluarga Kim untuk seterusnya. Dia sudah menyelesaikan seluruh studinya sampai S2 dan memutuskan untuk kembali menetap di rumahnya. Toh memang dari awal semua ilmu yang dipelajarinya adalah untuk adiknya. Agar dia dapat menyembuhkan adiknya, membuatnya menjadi normal kembali. Hanya itu yang diinginkannya.

Joonmyun adalah seorang Psikolog. Dia memilih bergelut di bidang itu karena rasa sayangnya yang begitu besar pada adiknya dan keinginan untuk menyembuhkan adik satu-satunya itu.
Sehun merasa sangat bersalah atas ketidaksukaan yang begitu besar yang muncul di hatinya saat Joonmyun mengatakan tentang hal ini.

“Appa, aku sudah memutuskan untuk tinggal di rumah ini dan untuk sementara aku tidak akan bekerja sama sekali.” ujar Joonmyun saat mereka makan malam berempat beberapa hari setelah kepulangannya.
Sehun, yang sedang menyantap makan malamya tersedak nasi yang baru ia telan. Terkejut dengan apa yang baru saja disampaikan Joon Myun.

“Apa kau baik-baik saja?” Joonmyun dengan panik segera menuangkan air putih dan menyodorkannya pada Sehun. Sehun, dengan wajah yang merah mengucapkan terima kasih pelan lalu segera menghabiskan isi gelas yang tadi diberikan Joonmyun padanya.

Setelahnya Joonmyun melanjutkan lagi. “Aku ingin berusaha untuk membuat Joo Young menjadi normal lagi.” Katanya menatap pada Joo Young. Kasih sayang yang begitu besar terhadap Joo Young terpancar jelas dari tatapan mata Joonmyun. “Joo Young-ah, oppa akan tinggal di sini selamanya.” Katanya lagi kali ini pada Joo Young sambil tersenyum.

“Jinjayo?” Joo Young menanggapi kegirangan, dia menepuk tangannya senang dan tertawa. “Oppa tidak akan kemana-mana lagi?”

“Ya.” Joonmyun mengangguk dan tersenyum.

“Akan selalu menemaniku?” tanya JooYoung lagi.

“Tentu saja.”

Dan demikian, Sehun merasa tidak senang dengan masalah Joonmyun yang akan tinggal di rumah itu untuk seterusnya. Bukannya dia tidak suka Joonmyun akan selalu bersama Joo Young. Hanya saja nanti dia tidak akan bebas…. Tidak. Tidak. Sehun menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. Mungkin juga ini sudah saatnya dia berhenti melakukan hal yang tidak sehat ini pada Joo Young. Yah, mungkin memang ini waktunya.

*You’re Crazy and I’m Out of My Mind*

Sehun pertama kali datang ke kediaman keluarga Kim saat dia enam belas tahun. Bisa dikatakan dia dipungut dari jalanan oleh Tuan Kim.

Saat itu, Sehun yang yatim piatu dulunya tinggal di Panti Asuhan. Tapi dia memutuskan lari dari sana pada umur lima belas tahun. Dia berhenti sekolah dan mulai tinggal di jalanan. Dia baru tertangkap mencuri roti di sebuah toko kelontong saat dia pertama bertemu dengan Tuan Kim. Pria Konglomerat itu yang entah untuk alasan apa menyuruh bodyguardnya jangan menyentuh anak itu sedikitpun. Lalu membawanya dengan mobilnya ke sebuah toko mi. Dan dia menemani Sehun yang makan dengan begiu lahap seolah-olah tidak pernah makan. Dan memang itu adalah pertama kalinya Sehun makan setelah tiga hari.

“Aku akan memberimu makan setiap hari. Tiga kali sehari.” ujar Tuan Kim sambil memandangi Sehun yang sedang makan mi dari piringnya yang ketiga. Sehun langsung berhenti menjejali mulutnya dengan mi mendengar perkataan Tuan Kim. “jangan berhenti.” ujar Tuan Kim lagi. Dan Sehun, dengan ragu-ragu kembali melanjutkan makannya, kali ini dengan lebih pelan dan bertata krama.
“Seperti yang kukatakan tadi,” Tuan Kim memulai lagi. “Aku akan memberimu makan setiap hari, sampai kau kenyang. Membelikanmu baju yang baru, dan kau akan bisa mandi setiap hari. Dan kau akan berkesempatan untuk mendapat pendidikan. Tapi dengan homeschooling.” Sehun menatap Tuan Kim terpana. Beliau berdehem lalu melanjutkan lagi “Tapi kau harus melakukan sesuatu untukku.” Katanya.

Sehun langsung mengangguk semangat. Dia sudah tinggal di jalanan selama setahun, kelaparan dan memang dia jarang mandi hingga tubuhnya berbau. Dan apapun yang terjadi dia tidak akan pernah mau kembali ke Panti Asuhan. Dan dia akan melakukan apapun yang Tuan Kim yang baik ini katakan jika memang Tuan Kim akan melakukan segala yang dikatakannya tadi.

“Aku ingin kau tinggal di rumahku.” ujar Tuan Kim. Dan sekali lagi Sehun menatap pria di hadapannya terkejut. Apa dia serius? Melakukan semua itu dan Sehun hanya perlu tinggal di rumahnya yang Sehun yakin pasti seperti istana. “Dan kau harus menemani putriku yang bungsu setiap hari. Ibunya sudah meninggal lima tahun yang lalu dan oppanya saat ini belajar di luar negeri sedangkan aku sibuk setiap hari mengurus perusahaan. Jadi dia selalu kesepian.”

Dan tanpa pikir panjang Sehun langsung menyetujui tawaran Tuan Kim. Terhitung detik itu juga Sehun menjadi bagian dari keluarga Kim. Dia pun tinggal di rumah Keluarga Kim dan mendapat segala yang dijanjikan Tuan Kim pada awalnya. Dan setiap hari dia menemani putri dari pria itu yang selanjutnya diketahuinya tentang keadaannya yang tidak biasa itu. Dan sejak itu setiap hari setelah belajar pekerjaannya adalah menemani Kim Joo Young kecil yang sekarang sudah tidak begitu kecil lagi.

*You’re Crazy and I’m Out of My Mind*

Semenjak Suho memutuskan untuk tinggal di kembali di kediaman Kim, hidup Sehun yang selama sembilan tahun begitu-begitu saja mengalami perubahan yang signifikan.

“Appa, ada yang ingin kukatakan.” ujar Suho pada satu malam saat mereka berempat duduk di ruang keluarga bersama. Saat itu Sehun sedang mengawasi Joo Young yang bermain dengan perabot-perabot yang ada di ruangan itu dan Tuan Kim sedang membaca salah satu bukunya.

“Hm?” adalah tanggapan Tuan Kim satu-satunya dari balik bukunya.

“Aku berpikir… emmm” Joonmyun sedikit menggaruk tengkuknya, lalu melanjutkan “Aku kan sudah pulang dan sudah kukatakan bahwa aku akan selalu menjaga Joo Young.” ujar Joonmyun sedikit ragu-ragu. “Jadi.. eenng aku berpikir kalau Sehun sudah tidak perlu untuk menjaga Joo Young lagi.”

Sehun begitu terkejut mendengar kata-kata Joonmyun. Begitu juga Tuan Kim. Sedagkan Joo Young masih asik dengan setiap perabot yang dilihatinya. Sehun menelan ludahnya sendiri. Jadi, beginilah akhirnya. Sang oppa sudah kembali dan dia tidak dibutuhkan lagi dan mereka akan membuangnya kembali ke jalanan seperti dulu.

Tuan Kim menatap Joonmyun tajam. Lalu dia menyuruh Sehun untuk duduk mendekat pada mereka berdua dan bertanya “Apa maksudmu mengatakan hal seperti itu Joonmyun?”

“Aahh jangan salah paham dulu.” Kata Joonmyun sambil tertawa ringan. “Aku tidak bermaksud bahwa Sehun sudah tidak diperlukan lagi.” Dia menatap Sehun tulus. “Maksudku adalah bukankah Appa juga sudah selalu memberikan pendidikan yang layak bagi Sehun dengan homeschooling dan aku tau Appa sudah mengajarkannya tentang bagaimana menjalankan perusahaan dan semacamnya. Jadi kupikir bagaimana kalau mulai saat ini appa memakai Sehun di perusahaan saja? Dan dia sudah tidak perlu lagi menjaga Joo Young. Karena aku yang akan melakukannya.” katanya lagi.

Sehun merasa lega Joonmyun bukannya memberikan ide agar dia ditendang keluar dari rumah itu. Tapi… dia tidak usah menjaga Joo Young lagi? Bekerja di perusahaan?

“Lagipula Appa kan sudah hampir saatnya memilih pewaris perusahaan. Aku dan Joo Young tidak mungkin bisa.” Joonmyun melanjutkan lagi dengan lembut dan santai. “Sedangkan Sehun, dia kan sudah belajar tentang bisnis. Dan dia juga kan saudara kami.”

Sehun tercengang mendengar pernyataan terakhir Joonmyun. Saudara? Pewaris? Bukan, dia hanya pelayan, dibayar untuk menemani Joo Young, bukan untuk jadi pewaris perusahaan yang besar itu. Bukan hanya perusahaan, tapi juga sekolah yayasan, dan seluruh Grup Geu Dok milik Tuan Kim dan seluruh kekayaannya. Sehun menatap Joonmyun tidak percaya. Yang dibalas dengan senyuman yang tidak pantas didapatkannya.

“Kurasa… idemu benar juga. Lagi pula, Sehun juga kan anakku. Baiklah, aku akan memikirkan di mana harus meletakkannya besok.” Tuan Kim menanggapi ide Joonmyun secara positif dan dia mengangguk-anggukkan kepalanya yang sudah mulai banyak ubannya.
Bahkan Tuan Kim setuju dengan ide gila ini. Sehun tidak mengerti cara berpikir orang kaya. Dia kan bukan anak Tuan Kim, dan tidak pernah ingat kalau Tuan Kim mengadopsinya. Kalaupun ya, tentunya sekarang dia adalah Kim Sehun, bukan Oh Sehun.
Dan lagi, dia jadi semakin didera rasa bersalah. Kalau dia dianggap anak dan saudara, maka apa saja yang telah dilakukannya sebagai saudara pada gadis yang seharusnya adiknya? Sehun ada di posisi paling bersalah di dunia ini.

*You’re Crazy and I’m Out of My Mind*

Pertama kali sentuhan-sentuhan tangan biasa itu berubah jadi tidak biasa adalah suatu kali musim gugur, saat Joo Young mulai menginjak empat belas tahun. Saat itu adalah saat di mana Sehun mulai menyadari kalau Joo Young kecil yang selama ini dijaganya sudah tidak begitu kecil lagi.

Tubuh gadis itu bertambah tinggi, wajahnya pun menjadi sedikit berubah, jadi smakin seperti wanita. Payudara mulai muncul, dan pinggangnya makin ramping. Dan sering kali para pelayan wanita melarang Sehun untuk ini dan itu. Mereka membuat lebih banyak hal-hal yang bersifat privasi dan Joo Young mulai memiliki suatu dunia yang tak boleh dimasuki Sehun.

Pada satu hari yang panas, gadis itu merengek-rengek pada Sehun. Tidak membiarkan Sehun sedikitpun kesempatan untuk menyelesaikan bahkan satu halaman dari buku Kalkulus yang sedang dipelajarinya.

“Joo Young-ah, oppa sedang belajar.” Ujarnya malas kepada Joo Young yang masih terus menarik-narik tangannya.

“Tapi oppa….” rengek Joo Young lagi, masih menarik-narik lengan Sehun.

“Tidak bisa. Aku harus bisa menguasai ini. Atau besok guru Choi tidak akan memaafkanku.”

Tentu saja, Guru Choi yang adaah dosen itu sangat keras dalam hal mendidik Sehun, karena yang beliau tau, Sehun, yang meskipun mengaku bermarga Oh, tapi disebut-sebut oleh Tuan Kim sebagai anak keduanya. Dan karna anak pertama sedang di luar negeri, belajar Ilmu Psikologi yang tentunya tidak akan begitu berguna untuk memimpin perusahaan. Maka Guru Choi sejak awal yakin kalau Oh Sehun inilah yang akan menjadi Pemimpin Grup Geu Dok milik Tuan Kim. Jadi, dia sebagai guru yang dipercayakan Tuan Kim bertanggung jawab untuk mempersiapkan calon pemimpin ini sebaik mungkin.

“Oppaaaa….” Joo Young berteriak tepat di telinga Sehun agar membuatnya terganggu dengan belajarnya dan memutuskan untuk menemaninya. Tapi Sehun bergeming. Gangguan Joo Young tidak lebih menakutkan dari Guru Choi.

Akhirnya Joo Young menyerah. Tapi sebelumnya, dia menjambak rambut Sehun lalu dia tiduran di lantai dan menangis.

“Hik.. hik.. oppa tidak sayang Joo Young.” Begitu dia terus menangis sampai Sehun juga tidak tahan dan memutuskan mungkin memang Joo Young yang merajuk lebih menyeramkan dari Tuan Choi.

“Baiklah. Kau mau bermain apa?” tanya Sehun, meletakkan bukunya di atas meja. Kalkulus bisa menunggu.

Joo Young langsung mengangkat kepalanya dan tersenyum senang pada Sehun.

“Joo Young mau keluar.” Katanya, berdiri lalu meloncat kegirangan mengelilingi Sehun. Tidak ada tanda-tanda kalau dia sempat menangis tadi. “Ayo oppa, ayo cepat.”

Sehun melangkah dengan enggan mengikuti Joo Young. Mana di luar sangat panas. Dia sedang tidak ingin meninggalkan sanctuary yang dingin dengan AC ini. Tapi ini adalah permintaan Tuan Putri, jadi dia harus menurutinya.

Sehun membawa Joo Young bermain keluar dari kediaman keluarga Kim. Berjalan di jalanan yang penuh dengan daun-daun kuning yang berguguran. Joo Young, yang notabenenya memang mempunyai sifat dan otak setingkat anak umur lima tahun berlarian di sepanjang jalan, tertawa dan begitu bahagia hanya dengan melintasi jalan penuh daun berguguran itu.

Sehun memutuskan untuk membawanya ke taman. Membelikannya balon, yang kemudian selalu dipegang gadis itu. Joo Young terus berjalan ke sana kemari, berbicara dengan pohon, jangan heran dia memang otaknya kekanak-kanakan begitu juga sifatnya. Setengah jam kemudian, dia duduk di salah satu kursi taman, kelelahan dan wajahnya sedikit pucat. Semangatnya yang tadi seolah menghilang begitu saja, tidak menyisakan bahkan setengahpun darinya.

“Kenapa? Kau sudah lelah?” tanya Sehun.

Joo Young hanya mengangguk sambil memegangi perutnya. Dan itu tidak luput dari perhatian Sehun.

“Kenapa? Ingin ke toilet?” tanyanya. Joo Young hanya menggeleng lemah. Semangatnya yang tadi betul-betul tidak berbekas, bahkan sedikit pun. “Kau kenapa?” tanya Sehun lagi, khawatir saat dilihatnya bahu Joo Young bergetar, gadis itu menangis. Joo Young biasanya hanya menagis kalau permintaannya tidak dipenuhi, seperti saat Sehun tidak mau menemaninya tadi.

“Oppa…” ujar Joo Young pelan, menatap pada Sehun. Matanya berkaca-kaca. “Oppa.. Joo Young.. Joo Young akan mati.” Katanya.

Sehun terkejut mendengarnya. Matanya terbelalak. “K.. Kenapa? Kenapa kau bilang begitu?”

“Habis… perutku sakit sekali.” Erang Joo Young masih memegangi perutnya.

“Sakit perut tidak membuatmu mati Joo Young-ah.” Sehun terkekeh. “Sudah kubilang, apa kau mau ke toilet?” Dan kata-katanya ini dibalas dengan pukulan Joo Young di lengannya.

“Aku bukan mau pup.” Teriaknya keras, membuat Sehun cepat-cepat menutup mulutnya. Dan menatap malu ke orang yang memandangi mereka.

“Y.. yaak. Kau tidak boleh teriak begitu Joo Young-ah.”

“Oppa tidak mau mendengarku.. hiks..”

“Baiklah. Oppa sekarang mendengar. Perutmu sakit sekali dan kau tidak mau ke toilet. Dan kau akan mati. Kenapa?” Sehun mengerutkan keningnya. Dia tau Joo Young berpikir seperti anak-anak, tapi memangnya sakit perut seperti apa yang membuatmu mati? Sehun sewaktu usia lima tahun tidak pernah berpikir dia akan mati karena sakit perut.

“J,, jadi.. perutku sakit sekali Oppa. Rasanya seperti dipukul keras-keras. Seperti… eenngg kalau piano yang ada di tempat kita belajar musik itu dibanting ke perutku.” katanya. Meskipun Sehun ingin bertanya memangnya Joo Young pernah dipukul dengan piano besar itu, tapi dia memilih mengurungkan niatnya atau Joo Young akan merajuk lagi. Jadi dia diam saja dan membiarkan Joo Young melanjutkan penjelasannya. “Terus.. terus.. keluar darah.” katanya.

“Darah?”

Joo Young mengangguk.

“Dimana?” Sehun memriksa seluruh tubuh Joo Young. Dia tidak menemukan bagian yang luka dan berdarah dan dia menatap Joo Young dengan menelengkan kepalanya. Apa sekarang Joo Young mulai membayang-bayangkan hal yang tidak terjadi? Mungkin sudah waktunya mengurangi waktu menontonnya.

“Bukan di situ.” Bisik Joo Young.

“Jadi?”

Joo Young dengan malu-malu menunjuk ke bagian selangkangannya. Wajahnya merah dan dia menggigit bibirnya lalu melanjutkan. “Ahjumma lalu memaksa aku memakai busa yang tidak enak kupakai di celanaku oppa. Oppa.. aku akan mati.” Joo Young menangis lagi. “Tapi semuanya bohong. Bilang aku tidak akan mati.”

Sehun, yang wajahnya jadi semerah kepiting rebus tidak bisa mengatakan apa-apa. Dia sekarang tau masalah yang dialami Joo Young tapi terlalu malu untuk menjelaskannya. Jadi dia hanya memeluk Joo Young, mencium puncak kepalanya, menenangkannya agar tidak menangis lagi.

“Sshhh… Jangan menangis Joo Young-ah.” Aaah, Joo Young sekarang sudah dewasa. “Ahjumma dan yang lain tidak berbohong. Kau memang tidak akan mati. Itu bukan penyakit, itu adalah hal yang wajar, tandanya sekarang Joo Young sekarang sudah besar.” katanya sambil tersenyum menatap Joo Young yang menatapnya ragu.

“Benarkah?”

“Eoh..” Sehun menganggukkan kepalanya meyakinkan Joo Young.

“Kalau begitu.. oppa juga begitu?” tanya Joo Young polos. Sehun terdiam. Lalu berdehem.

“Eeng, itu.. oppa tidak. Tapi ahjumma juga begitu dan eonni. Tapi laki-laki tidak. Hanya perempuan.” kata Sehun. Joo Young mengangguk-angguk polos mendengar penjelasan Sehun.

“Jadi kalau sudah besar akan sakit seperti ini?”

“Ya.”

“Kalau begitu aku mau jadi kecil lagi. Aku tidak suka besar.”

Sehun tiba-tiba sakit kepala mendengar kata-kata Joo Young yang begitu polos. “Tapi menjadi besar adalah sesuatu yang harus disyukuri dan dirayakan Joo Young-ah. Bukannya kau suka sesuatu yang dirayakan?” Sehun tersenyum saat melihat senyuman di wajah Joo Young. “Ah, bagaimana kalau oppa membelikanmu es krim? Sebagai perayaan kau sudah de.. eh, besar.”

Joo Young langsung semangat mendengar es krim dan dia mengangguk cepat dan langsung tertawa girang lagi. Es krim tentu saja selalu berhasil pada anak-anak. Sehun pun membeli es krim untuk Joo Young, yang langsung dimakannya lahap, sebagaimana anak kecil sesusia otaknya.

Sehun menatp wajah polos Joo Young. Gadis ini, di saat gadis lain seusianya sedang duduk di salah satu bangku sekolah, mendengarkan guru, dia menghabiskan seluruh waktunya berlarian di sekitar rumahnya dan tertawa. Gadis lain saat ini sudah mendapatkan masing-masing satu pacar untuk dirinya dan Joo Young, setiap hari hanya bersama Sehun dan para pelayan, terkadang bersama Appanya di malam hari atau dengan oppanya jika sang oppa sedang libur. Yang lain sekarang sedang dalam usia mengidolakan para artis-artis pria yang ganteng, dan di sinilah Joo Young, merasa bahagia hanya dengan es krim yang dibelikan Sehun.

Joo Young bahkan tidak tau apa-apa tentang hal-hal yang sudah sewajarnya diketahui bahkan anak di bawah usianya. Dia tidak tau apa yang terjadi pada dirinya.

Tentu, Joo Young memiliki ayah yang kaya, sangat kaya. Dia memiliki kekayaan yang hanya bisa diimpikan oleh gadis-gadis lain. Tapi untuk apa? Dia bahkan tidak mengerti untuk apa semua itu. Dia tidak memiliki apa yang paling penting untuk dimiliki. Kemampuan otak yang normal. Timbul rasa iba yang sangat besar dalam hati Sehun untuk Joo Young.

Sehun memegang tangan Joo Young, menjauhkannya dari mulutnya. Dan dia meletakkan balon di samping kepala Joo Young kemudian mencium bibir gadis itu. Dia menutup matanya, sedangkan Joo Young membelalakkan matanya. Ciuman itu hanya berlangsung selama tiga detik dan Sehun langsung melepaskannya. Tidak tau kenapa dia melakukannya.

Tidak ada kupu-kupu, atau bintang-bintang, atau malaikat beterbangan di sekitar kepalanya. Tidak ada cupid memanah hatinya. Waktu tidak terasa melambat, dan bukan hanya Joo Young yang terlihat di matanya saat ini. Seorang ibu yang melintas dengan anaknya terlihat jelas. Penjual balon dan es krim juga sangat jelas tertangkap oleh Sehun bayangannya. Pohon-pohon, bangku-bangku taman, tidak ada yang menghilang. Tidak ada perasaan khusus saat mencium Joo Young. Dia hanya ingin melakukannya.
Dan begitulah bagaimana sentuhan-sentuhan di tangan biasa berubah menjadi sentuhan tidak biasa di wajah, bibir, tangan, kaki, paha, payudara Joo Young yang mulai membengkak, bahkan daerah-daerah privat gadis itu. Tapi Sehun, dia tidak melakukannya karena cinta. Dia hanya ingin melakukannya.

Saat itu Sehun dua puluh dua dan Joo Young empat belas.

*You’re Crazy and I’m Out of My Mind*

Joonmyun menarik kerah kemeja Sehun dengan kasar dan menatapnya marah.

Begitu Sehun pulang dari kantor, dia sudah langsung masuk ke kamarnya, ingin istirahat. Bekerja di perusahaan Tuan Kim jauh lebih melelahkan dari yang dapat dibayangkannya. Dia begitu sibuk dan begitu banyak orang yang berbicara dengannya, juga wanita yang langsung saja menggodanya karena dia anak dari pemilik perusahaan. Rasanya seolah kehidupan ditarik keluar dari dirinya.

Tapi Joonmyun, tanpa perasaan langsung masuk begitu saja ke kamar Sehun, menutup pintu kamar dan langsung saja memukul Sehun sampai terjatuh ke lantai lalu dia langsung menimpa Sehun, mencegahnya bangun dan menarik kerahnya.

“Kau.. apa yang kau lakukan pada Joo Young?” desisnya penuh kebencian. Joonmyun sendiri bahkan tidak ingin percaya dengan apa yang dilakukannya saat ini dan alasan dia melakukannya.

“Apa maksudmu Hyung?” balas Sehun heran.

“Don’t ‘Hyung’ me.” bentak Joonmyun, tanpa sadar berganti bahasa. “Kau.. manusia paling bejat yang hidup di dunia ini.” Satu pukulan di wajah Sehun. “kenapa hah? Kenapa kau melakukannya?” satu lagi pukulan di perut Sehun. Sehun tidak berusaha melawan sama sekali, dia tau tidak ada gunanya. “Teganya kau…” pukulan berikutnya di wajahnya lagi. “Bagaimana kau bisa melakukannya pada anak sepolos dia?” Joonmyun meletakkan tangannya di kerah Sehun lagi, menariknya dan dia sendiri mendekatkan wajahnya ke dada Sehun. “Joo Young tidak pantas mendapatkan ini semua.” Dia menangis.

Aaah, pastilah Joo Young yang polos itu telah menceritakan pada Joonmyun apa saja yang mereka lakukan berdua. Tentu saja, Joonmyun kan psikolog. Sangat mudah baginya membuat Joo Young menceritakan apa saja yang dialaminya setiap hari, setiap malam. Dan Joo Young yang polos itu pasti telah memberitahu oppanya, tidak sadar apa yang harus dan tidak harus diketahui oppanya. Tentu saja.

Sehun hanya diam, tau apa yang sedang dibicarakan Joonmyun dan apapun yang dikatakannya tidak akan ada gunanya, tidak akan memperbaiki apa yang ia rusak.

Kehormatan Joo Young, kehormatan Keluarga Kim, dan kepercayaan yang diberikan padanya. Bagaimana Joonmyun menganggapnya saudara, Tuan Kim menganggapnya anak. Dan setelah semua yang mereka lakukan untuknya, dia sudah merusak segalanya. Ya, merusak segalanya.

“Oppa….” teriakan Joo Young yang sedang berdiri di pintu kamar Sehun menghentikan gerak tangan Joonmyun yang sudah terkepal dan siap menghantamkan pukulan berikutnya ke tubuh Sehun. “Oppa.. Oppa.” Joo Young berlari dan memeluk tubuh Joonmyun. “Kenapa kalian berkelahi? Jangan oppa, jangan pukuli Sehun oppa lagi.” dan gadis itu menangis.
Baik Sehun maupun Joonmyun seolah tersayat hatinya melihat kepolosan adik “mereka” itu. Dia begitu kecil (otaknya) dan tidak mengerti apa-apa. Bahkan dia tidak membiarkan oppanya memukul Sehun yang memang layak untuk dipukul. Lalu Joonmyun ikut menangis, memeluk adiknya.

“Joo Young-ah… Kim Joo Young…” isak Joonmyun tepat di pucuk kepala adiknya. “Ooooh, betapa malangnya kau. Kenapa harus kau yang mengalami hal seperti ini? Kenapa? Oooh adikku. Apa yang sudah kau lakukan hingga pantas mendapatkan kehidupan yang begitu tidak adil seperti ini?” lanjutnya lagi, masih sambil menangis.

Rasa bersalah menghantam dada Sehun mendengar tangisan kakak beradik Kim itu. Ya, memang dia yang bersalah.
“Oppa semacam apa aku ini ya Tuhan???” erang Joonmyun lagi “Aku seharusnya melindungimu. Dimana aku saat bajingan brengsek ini merusak-rusak kehormatan adikku?”

“Oppa… jangan pukuli Sehun oppa. Jangan pukul oppa.” rengek Joo Young di dada Joonmyun. Dia tidak mengerti dan tidak peduli dengan kata-kata yang diucapkan Joomyun di sela tangisannya. “Joo Young sayang Joonmyun oppa. Sayang Sehun oppa. Jangan berkelahi. Joo Young sedih.”

Dan Sehun diam. Joonmyun berhenti berbicara, membisu. Langit-langit kamar diam, lemari dan lampu yang tergantung semuanya diam, begitu juga segala perabot di ruangan itu. Pintu-pintu dan jendela menolak berbicara. Hanya tangisan Joo Young, memohon agar kedua oppanya tidak bertengkar yang terdengar.

*You’re Crazy and I’m Out of My Mind*

Tuan Kim begitu terkejut. Dia shock bukan main mendengar kata-kata Sehun.

“Apa aku tidak salah mendengar?” ujar Tuan Kim, memandangi Sehun dan Joonmyun yang berdiri di depan mejanya.

Sehun dan Joonmyun telah mengetuk ke dalam kamar kerjanya beberapa menit lalu. Sedikit berbasa-basi tentang bagaimana sibuknya Tuan Kim dan perkembangan Joo Young. Lalu berdehem dan Joonmyun mengatakan bahwa mereka mendatangi Tuan Kim karena ada yang harus disampaikan oleh Sehun langsung kepada Tuan Kim.

“Apa telingaku tidak salah?” ulang Tuan Kim. “Yang kau katakan barusan….”

“Tidak, Aboji.” Sehun menggelengkan kepalanya lemah. “Anda sudah mendengarnya dengan baik.”

“Tapi.. kau… Joo Young…” Tuan Kim tergagap, tidak tau bagaimana merangkai kata yang tepat. Sehun dan Joonmyun diam, menunggu sampai Tuan Kim dapat mengekspresikan pikirannya. “Bagaimana kau mau menikahi dia yang seperti itu?”

Sehun terdiam. Dia sendiri tidak tau dan sangat ingin tau jawaban untuk itu. Joonmyun yang memaksanya melakukan ini. Joonmyun begitu marah dan kesal akan apa yang dilakukan Sehun pada adiknya. Tapi setelah memikirkannya dengan kepala dingin selama dua malam dan satu hari, maka dia melihat satu kesempatan.

Dengan keadaan Joo Young yang seperti itu, tidak akan ada pria yang mau menikahinya. Kalaupun ada, sangat jelas tujuannya adalah kekayaan mereka. Tapi Sehun, sudah bersama keluarga ini selama sembilan tahun, dan dia yakin Sehun pasti menyayangi adiknya itu. Maka dia mengatakan pada Sehun untuk menikahi Joo Young. Dan Sehun, entah bagaimana dibuatnya tidak bisa berkata tidak.

Maka di sinilah mereka sekarang, menyampaikan pada Tuan Kim mengenai masalah pernikahan ini.

“Aku… betul-betul ingin menikahinya, menjadikannya istriku.” Ujar Sehun pelan dan sedikit ragu-ragu.

“Kau… sadar apa yang kau katakan?”

“Ne, Aboji.”

“Apa kau mencintainya?” tanya Tuan Kim.

Sehun terdiam sejenak. Dan sebelum dia sempat mengeluarkan jawaban atas pertanyaan Tuan Kim, dia sudah merasakan Tuan Kim memeluknya. Hangat dan penuh suka cita.

“Aku… sangat bahagia Sehun.” ujar Tuan Kim. “Kalau begini, aku pasti bisa mati dengan tenang. Walaupun Joo Young tidak bisa menjadi normal. Tapi dia akan ada yang menjaganya sampai seterusnya. Aku… sangat bahagia.” Dia menepuk-nepuk punggung Sehun dan Sehun masih diam, membalas pelukan pria tua itu. Joonmyun tersenyum bahagia.

‘Apa kau mencintainya?’ Pertanyaan Tuan Kim terngiang-ngiang di kepala Sehun. Memantul-mantul di otaknya, di tiap untaian saraf di kepalanya, lagi dan lagi. Dan Sehun punya jawaban. Tidak.

*You’re Crazy and I’m out of My Mind*

A/N : Well, I know it’s garing, absurd, dan gak jelas. Sorry for the stupid story /bow/ Dan kalian tau kan si Sehun udah ngapain adiknya si Suho. Pasti ngerti kaaaaan? Walaupun ceritanya gak seru dan membingungkan tapi buat yang udah terlanjur baca sampe abis, kalian punya kewajiban memberi komentar. Jangan lupa, oke! ^^

282 thoughts on “[Oneshot] You’re Crazy and I’m Out of My Mind

  1. maaf ya baru bisa komen hehe. suka bgt sm cerita ini walaupun sudah baca smpe selesai tapi blm komen sm sekali. maaf yaaa.
    mungkin sehun blm bisa mengendalikan diri makanya dia berbuat jahat sm jooyung waktu itu. tapi syukur deh klw sehun mau nikahin jooyoung. klw gak gitu dia gak punya tanggung jawab dong

  2. Joo Young lucu, meskipun punya keterbelakangan mental, tapi disini kaka bisa bikin karakternya lucu.
    aduh itu sehun ngapain anak orang? emang bener-bener dah kelakuan si sehun. engga tau di untung

  3. Author kenapa bagus ? Terharu aku wkwk bagus bgt fix !
    Masih gak paham sih , tapi oke lah udh ada sequel nya hihihi
    Tapi ya Sehun walaupun keterlaluan dia tetep cowo yg kalo di kasih cewe gimanapun keaadanya bisa khilaf kan *janganditiru ! Junmyeon-ssi kau yg terbaik !

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s