We’ve Fallen in Love – Part 2

WVFIL POSTER

Title : We’ve Fallen in Love – Part 2

Author : Charismagirl

Main Cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri

Support Cast :

  • Park Chanyeol | Ahn Sungyoung | Do Kyungsoo | Lee Jinhee
  • Byun Family | Park Family

Rating : PG-13, Teen

Length : Chapter

Genre : Romance, Friendship, Family.

Cr poster : zhrfxo

Link : Prolog | 1 |

Note : Do not copycat without my permission. Enjoy the story ^^/ there’s a guest cast *whisper*

“Apakah kau kekasih Baekbeom… Oh, kau kekasih Baekhyun!”

“Aku berada disini bukan untuk menjadi baby sitter.”

***

Previous Part

“Selanjutnya apa yang harus kita lakukan?” tanya Minri pelan, lebih pada diri sendiri.

“Tidur.” Balas Baekhyun sekenanya lantas masuk ke dalam rumahnya.

“Apa?! Dasar mesum.”

“Pikiranmu yang mesum! Aku tidak mengatakan bahwa kita akan tidur berdua.”

“Tapi kau membuat kata yang kau ucapkan itu ambigu!”

“Kau yang mesum!”

“Heh. Kau mau aku pukul ya? Aku pernah belajar bela diri asal kau tahu.”

“Dan aku memegang sabuk tertinggi dalam olahraga Hapkido.”

Perdebatan itu masih berlanjut ketika mereka berdua sudah berada dalam rumah. Langit perlahan menjadi gelap. Cahaya bulan mengintip malu di balik gumpalan awan.

Kedua anak muda itu, untuk pertama kalinya tinggal bersama. Dan sepertinya, harapan ibu Minri agar Minri bisa berteman baik dengan Baekhyun adalah hal yang sulit diwujudkan karena mereka sama-sama keras kepala. Sama-sama memiliki rasa gengsi yang tinggi. Dan yang terpenting, mereka seperti magnet yang berada di kutub yang sama.

Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya?

PART 2

Jarum pendek jam dinding menunjukkan angka delapan. Sedikit lewat dari jam makan malam biasanya. Suasana rumah keluarga Byun tampak sepi karena saat ini hanya ada dua orang yang menghuni rumah itu.

Minri belum makan.

Di dapur tidak ada makanan.

Minri tidak bisa memasak.

Kenyataan-kenyataan itu membuat gadis berambut coklat yang duduk di meja makan hanya menatap embun yang menetes di permukaan botol cola. Dia mengeluarkan botol cola yang ada dalam kulkas sejak sepuluh menit yang lalu, namun belum ingin meminumnya. Dia kurang suka minuman bersoda. Meminum-minuman semacam itu membuat perutnya kembung. Tapi disisi lain perutnya akan terasa kenyang.

Dalam lemari penyimpanan ada beberapa bungkus makanan ringan. Minri yakin semuanya milik Baekhyun. Sebenarnya Minri ingin meminta sedikit makanan itu, untuk sekedar mengganjal perutnya yang malang. Namun dia mengurungkan niat tersebut. Dia tidak bicara pada Baekhyun semenjak perdebatan mereka selesai –tepat setelah Baekhyun memilih untuk mandi. Karena kalau tidak, mereka akan terus berdebat tiada ujung.

Minri menuang cola ke dalam gelas tinggi. Desisan buih soda terdengar begitu segar. Minri menelan ludahnya. Dia mulai mengangkat gelas itu, lalu meneguknya satu tegukan. Dia hampir menyemburkan minumannya saat si pemilik rumah masuk area dapur dengan santainya.

Gadis itu memperhatikan pergerakan Baekhyun yang berjalan menuju dispenser. Lelaki itu sama sekali tidak menatapnya. Mereka seperti berada di dunia yang berbeda. Mengabaikan kehadiran Baekhyun, Minri kembali meneguk cola-nya.

Tiba-tiba Baekhyun duduk di seberang meja Minri. Dia meletakkan gelasnya yang berisi air putih di atas meja.

Kruuk!

Bunyi mencurigakan yang dikenali Baekhyun sebagai suara perut lapar, Baekhyun yakini berasal dari perut Minri. Baekhyun ingin menertawakan gadis itu habis-habisan, tapi dia sedikit merasa kasihan pada tamunya yang sedang kelaparan itu.

Minri menelungkupkan kepalanya di atas meja, membuat dahinya membentur meja itu –tidak begitu keras tapi kentara terdengar. Demi apapun dia malu dengan suara tadi! Minri yakin Baekhyun sudah mendengarnya karena suasanya sepi di dapur itu membuat semuanya terdengar jelas, bahkan suara cicak yang berdecak-decak seolah mengejek Minri bahwa gadis itu memiliki nasib yang begitu naas.

“Sudah tahu lapar, malah minum soda,” gerutu Baekhyun sembari menyodorkan gelasnya yang tampaknya tak tersentuh, “minum air putih saja. Aku akan memasak.”

“Aku tidak memintamu memasak.” Minri mengabaikan gelas Baekhyun.

Kruuk!

Uh, perut berhentilah membuatku malu! Jerit Minri dalam hati.

“Memangnya siapa yang ingin memasak untukmu? Aku juga lapar, tahu.”

Setelah mengatakan hal itu, Baekhyun menyalakan kompor dan merebus air. Dia mengambil beberapa bahan untuk membuat sup. Sementara Minri duduk diam, sesekali melirik Baekhyun yang tampak serius memotong sayuran–dengan poni yang jatuh ke depan menutupi dahinya. Dari sudut pandang ini, Baekhyun tampak mempesona.

Baekhyun bisa memasak. Sedikit memberi nilai tambah pada personalitas seorang lelaki. Biasanya para lelaki hanya tahu menyuruh-nyuruh, atau kalaupun memasak –mereka akan memilih makanan instan. Baekhyun berbeda.

Minri bersyukur bahwa dia membawa ponselnya di kantong celana, hingga dia tidak perlu duduk seperti patung pajangan. Dia menekan sedikit rasa gengsinya untuk berharap Baekhyun mau memberinya makanan.

Oh ayolah, Minri butuh asupan makanan.

Sekitar lima belas menit kemudian, sup ayam buatan Baekhyun telah selesai. Aroma kaldu menguar memenuhi ruang makan membuat perut Minri semakin berontak.

Tapi Baekhyun bilang dia tidak memasak untuk Minri. Bagaimana ini?!

Tanpa Minri tahu, Baekhyun mengambil dua mangkuk nasi dan mengisinya penuh. Dia menyodorkan mangkuk itu pada Minri beserta sumpitnya. Lantas meletakkan panci sup di tengah-tengah meja makan.

“Kurasa aku sudah memasak terlalu banyak. Karena kau adalah tamu, maka aku akan membaginya denganmu.”

Minri mendongak, menatap Baekhyun dan kuah sup itu secara bergantian. Dia menelan ludahnya. Dengan gerakan lambat dia mengambil mangkuk berisi nasi, lalu mengambil potongan ayam dalam sup sebelum memasukkan ke dalam mulutnya.

Persetan dengan gengsinya. Masa bodoh dengan reputasinya bisa saja jatuh ke level terendah–di depan Baekhyun.

“Kau tampak menikmatinya. Apa masakanku begitu enaknya?” Baekhyun terkekeh pelan melihat Minri makan begitu lahap.

“Terserah apa katamu.” Minri menanggapi dengan ketus.

Baekhyun tidak masalah jika tidak ada ucapan terimakasih. Asalkan membuat tamunya kenyang baginya sudah cukup. Apalagi melihat gadis itu makan dengan lahapnya. Tanpa sadar Baekhyun tersenyum tipis.

Dan tanpa sadar sebenarnya dia telah memberikan perhatian berlebih pada gadis itu.

***

Minri berjalan menuju ruang tengah. Sudah pukul sebelas tepat, hampir tengah malam, tapi dia belum juga diserang kantuk. Dia melihat Baekhyun sedang duduk sembari menonton TV. Baekhyun menoleh padanya sesaat, sebelum kembali fokus pada layar.

Gadis itu memilih duduk di sofa single. Dia harus bicara, setidaknya satu kata terimakasih terucap dari bibirnya. Mungkin sebaiknya Minri bersikap lebih lembut dan tidak seenaknya karena Baekhyun baru saja menyelamatkan hidupnya –dengan memberinya makanan enak. Minri tidak bisa membohongi dirinya bahwa masakan Baekhyun memang enak.

“Baek,” panggil Minri.

“Ya?” balas Baekhyun tanpa menatap gadis itu.

Thanks.”

“Yap, kau adalah tamuku, kalau kau belum lupa.”

Baekhyun langsung mengerti arah pembicaraanku, batin Minri.

“Kupikir kau tidak akan peduli padaku.”

“Lalu membiarkanmu tak terurus dan aku akan diomeli oleh ayah ibuku serta ayah ibumu juga. Tidak, terimakasih.”

Begini lebih baik, batin Minri. Dia lebih senang melambungkan tinggi rasa gengsi masing-masing, ketimbang harus berdiam diri, menganggap satu sama lain seperti tidak terlihat.

“Kudengar kau mahasiswa tingkat akhir–sedang menyelesaikan penelitian, benar?”

Baekhyun memperkecil volume televisi karena tampaknya Minri tertarik untuk bicara dengannya. Dan sebenarnya Baekhyun juga ingin tahu banyak tentang gadis itu. Meskipun… meskipun… ish! Baekhyun sendiri bingung kenapa dia harus sebal pada gadis ini.

“Ya, kau benar. Apa ibumu menceritakan banyak hal tentangku?” sungut Baekhyun.

“Begitulah.” Minri mengalihkan pandangan ke layar TV–yang menayangkan berita sepakbola–saat dirasa menatap Baekhyun terlalu lama membuatnya tidak nyaman.

“Kau mahasiswi Konkuk,” ucap Baekhyun.

“Dan ibumu pasti menceritakan tentangku juga.”

Mereka berdua tertawa pelan. Atmosfer kecanggungan perlahan memudar. Minri mulai berpikir bahwa Baekhyun tidak semenyebalkan yang dia kira. Sepertinya lelaki itu bisa diajak berteman karena mereka cocok dalam beberapa hal.

“Kau suka fotografi?” tanya Baekhyun.

“Ya. Aku suka memotret, mengabadikan keindahan alam.” Minri menelengkan kepalanya pada Baekhyun. Dia baru sadar kalau ada kamera yang cukup besar di samping Baekhyun duduk.

“Aku punya rekomendasi tempat yang bisa membuatmu mendapatkan banyak objek yang bagus.” Baekhyun mengangkat kameranya –menekan beberapa tombol. Sepertinya dia mengecek hasil jepretannya.

“Aku lebih suka memotret objek yang tidak bergerak. Kalau kau?”

“Sebaliknya –misalnya saja manusia. Err… Mungkin beberapa tempat di daerah ini akan menarik perhatianmu.”

“Terimakasih atas tawaranmu.”

“Tidak masalah.”

Obrolan itu berlanjut, sampai pada makanan kesukaan, kebiasaan, hal yang disukai atau tidak disukai. Minri mendongakkan kepalanya. Foto keluarga Byun yang terpajang di dinding sedikit menarik perhatiannya.

Dalam foto itu ada Tuan Byun, Nyonya Byun, Baekhyun dan seorang lelaki lagi yang tampak lebih tua dari Baekhyun. Lelaki itu memiliki wajah yang mirip dengan Baekhyun. Tidak terlalu banyak perbedaan yang kentara, namun pembawaannya lebih tampak dewasa dari Baekhyun.

“Dia kakakmu?” tanya Minri pada Baekhyun.

“Ya, Baekbeom Hyung. Sekarang sedang bekerja di luar daerah, dia mengurus perusahaan cabang perusahaan ayah.”

Minri mengangguk sembari membulatkan mulutnya.

“Kau menyukainya?”

“Hah?”

“Sejak tadi kau terus memandanginya.”

“Memangnya kalau aku memandanginya berarti aku suka padanya begitu?” Minri mengerucutkan bibir. “Aku hanya… eum… kalian mirip.”

“Ya, kami berbeda 6 tahun.”

Minri tidak begitu fokus lagi ketika dia merasa matanya terpejam perlahan. Bersandar di sandaran sofa semakin berpotensi membuatnya tertidur dengan segera.

“Minri,” panggil Baekhyun.

“Y-ya?” Minri membuka matanya dengan tiba-tiba, sedikit terkejut karena sepertinya dia kehilangan kesadaran beberapa detik.

“Tidurlah di kamarmu.”

Minri beranjak dari kursi. Dia tersenyum pendek pada Baekhyun, lalu naik ke lantai dua menuju kamar sementara-nya.

Baekhyun mengingat dengan benar bagaimana cara gadis itu tersenyum. Dia tampak manis. Kesan manja dan menyebalkannya hilang begitu saja. Dan Baekhyun menyukai senyumannya.

Menjadikan Minri teman bukanlah hal buruk. Lagipula Baekhyun memang membutuhkan teman untuk berbagi pendapat.

Beberapa menit setelah Minri masuk kamarnya, Baekhyun juga mulai merasa mengantuk. Hingga dia memutuskan untuk mematikan tivi lalu menaiki tangga menuju kamarnya. Dia sempat melirik pintu di samping kamarnya sebelum benar-benar masuk ke dalam area pribadinya.

Good night, Nona Seoul.

***

Minri bangun lebih pagi. Kalau biasanya dia masih bergelung dalam selimut merah muda lembut miliknya, maka sekarang tidak. Suasana tidur di rumah sendiri dan rumah orang lain tentu berbeda. Minri sudah mandi. Dia siap menjalani aktivitas hari ini meskipun dia belum mempunyai rencana untuk pergi.

Suasana begitu sepi karena tidak ada orang lain yang tinggal selain mereka berdua. Minri menghampiri pintu kamar Baekhyun yang masih tertutup rapat. Dia mendekatkan telinganya. Tangan kanannya mengepal, ingin mengetuk pintu. Dia berpikir, apakah dia akan mengganggu Baekhyun jika mengetuk pintu kamar lelaki itu sepagi ini untuk menanyakan apa yang akan mereka makan untuk sarapan?

Minri menarik lagi tangannya saat mendengar suara kunci yang di putar. Kenop pintu kamar Baekhyun bergerak lambat sebelum pintu itu terbuka. Minri melebarkan matanya. Baekhyun masih dengan mata setengah terpejam, dan rambut khas bangun tidur sedang berdiri di hadapannya. Tidak hanya itu, yang membuat Minri tercekat adalah lelaki itu hanya mengenakan singlet putih tanpa lengan. Minri memundurkan langkahnya dengan teratur.

Baekhyun menyadari kehadiran Minri. Dia mengucek matanya dengan pelan. Dengan sempoyongan dia menghampiri Minri. Gadis itu terus memundurkan tubuhnya sampai punggungnya membentur dinding. Tiba-tiba saja Baekhyun meletakkan kedua tangannya di samping kepala Minri.

Apa-apaan ini?! Harusnya Minri protes dan mendorong lelaki itu. Ugh, tolong selamatkan jantungnya yang malang. Kemana mulut Minri yang berisik dan cerewet itu? Kenapa dia malah bungkam tanpa perlawanan.

Minri terpaku ketika Baekhyun menatap matanya. Baru kali ini dia melihat Baekhyun dalam jarak yang begitu dekat. Lelaki itu tersenyum setengah.

“Selamat pagi, Nona Seoul.”

Tak lama kemudian Baekhyun tertawa lepas. Lelaki itu mundur beberapa langkah sembari memegangi perutnya.

“Kau berharap aku menciummu ya? Hahaha… wajahmu lucu sekali astaga!”

“Kurang ajar,” dengus Minri. Lalu tanpa belas kasihan menginjak kaki Baekhyun membuat lelaki itu memekik nyaring. “Yang itu sapaan selamat pagi dariku, Tuan Bucheon.”

Minri tidak peduli dengan Baekhyun yang melompat kecil menahan sakit di kakinya. Dia memilih untuk turun ke dapur, mengisi perutnya dengan sarapan seadanya lebih baik daripada harus meladeni kejahilan Baekhyun.

 

Minri menuruni anak tangga dengan langkah cepat. Mulutnya bersenandung pelan. Ini adalah pagi hari pertama di rumah orang lain. Semuanya terasa asing –namun cukup membuatnya nyaman.

Dia membelokkan langkah menuju dapur. Aroma telur goreng tertangkap oleh indra penciumannya. Gadis itu mempercepat langkahnya. Sedikit bingung karena ada aktivitas di dapur itu padahal dia yakin tidak ada orang lain selain dia dan Baekhyun. Namun ketika dia menggapai perbatasan pintu dia melihat seorang wanita paruh baya dengan clemek jingga motif bunga tampak sibuk di dapur itu. Ada cukup banyak menu sarapan di meja makan. Dan masing-masing dibuat untuk dua porsi.

“Selamat pagi Nona!” sapa wanita itu beserta senyum lebarnya ketika dia melihat Minri memasuki area dapur. “Ayo sini sarapan.”

Minri membungkuk dengan canggung, lalu membalas senyum wanita itu dengan senyum terbaiknya. Dia menghampiri meja makan, lalu duduk di salah satu kursi.

“Aku bibi Lee, yang akan mengurus kalian –kau dan Baekhyun –untuk beberapa hari ke depan.”

Minri membulatkan mulutnya tanda mengerti. Jadi wanita ini yang akan menyiapkan makanan seperti yang telah diucapkan Tuan Byun kemarin. Minri pikir mereka berdua tidak perlu dititipkan pada siapapun, karena mereka berdua sudah cukup dewasa untuk bisa mengurus diri sendiri. Meskipun untuk urusan membuat makanan, Minri benar-benar payah. Tapi Baekhyun bisa memasak, setidaknya dia tidak akan kelaparan lagi.

“Dimana Baekhyun?”

“Mungkin Baekhyun–“

“Aku disini.”

Baekhyun muncul di perbatasan pintu dengan wajah segar. Dia mengenakan kaos lengan pendek. Sepertinya lelaki itu baru saja mencuci mukanya. Rambutnya tampak acak-acakan–membuat Minri sedikit terganggu. Kapan sih dia mau menyisir rambutnya? Batin Minri. Dia tidak merasa penampilan Baekhyun buruk, dia malah melihat sebuah pesona aneh yang terpancar dari lelaki itu. Pasti ada yang salah dengan otaknya, pikir Minri.

Pasti ada yang salah dengan jalan pikirannya.

Baekhyun duduk di bangku sebelah Minri dengan wajah santai–bersikap seolah-olah tidak ada insiden kaki diinjak. Dia menyomot sandwich : roti berlapis daging, keju dan sayur–tanpa timun. Sementara Minri lebih memilih makan telur dan sosis. Dia tidak suka sayur.

Mereka menghabiskan sarapan dalam diam. Hanya terdengar aktivitas dari sendok dan piring yang beradu. Bibi Lee meninggalkan mereka berdua di dapur. Wanita itu memulai pekerjaannya yang lain untuk membersihkan rumah.

Ting tong!

Bel pertama di hari ini.

Dentingan bel itu terdengar tiga kali, namun tampaknya tidak ada yang membukakan pintu. Minri menelengkan kepalanya sesaat pada Baekhyun, lalu beranjak dari kursi.

“Aku akan membukakannya.”

Baekhyun hanya menanggapi dengan gumaman, lalu meneruskan sarapannya.

Minri berjalan menuju pintu. Dia memutar anak kunci, kemudian membuka lebar pintu itu. Dia mendapati seorang pria yang tinggi badannya hampir sama dengan Baekhyun, berwajah muda dan berambut coklat seperti karamel, sedang berdiri di depan pintu–dengan seorang anak kecil di gendongannya.

Pria itu mengerutkan keningnya. Minri yakin kalau pria itu sedang dilanda kebingungan, karena mendapati Minri di rumah Baekhyun–mereka sama sekali tidak saling kenal satu sama lain.

“Apakah kau kekasih Baekbeom?”

“Baekbeom?” tanya Minri balik dengan kening berkerut.

“Oh, kau kekasih Baekhyun!”

“Hah?” kerutan di dahinya semakin dalam saat lelaki itu berseru dengan yakinnya. Satu pertanyaan yang harusnya Minri lontarkan ‘Anda siapa?’. Tapi belum sempat dia bicara. Anak di gendongan pria itu menginterupsi pikirannya.

Hueeee!!

Anak kecil di gendongan pria itu menangis keras. Minri melebarkan matanya. Dan semakin lebar lagi saat pria itu menyerahkan anaknya pada Minri. Gadis itu refleks menyambutnya. Dia perlu menjauhkan anak itu dari telinganya karena tangisannya semakin menjadi-jadi. Anak itu bisa membuat telinganya mendenging.

“Tuan, sebenarnya anda siapa dan kenapa dengan anak ini…”

“Perkenalkan aku–”

“Ada apa ini–Luhan Hyung!”

Baekhyun tampak kaget dengan kehadiran pria yang dia panggil dengan sebutan Hyung itu. Baekhyun menghampiri mereka berdua, sementara Minri sibuk menepuk-nepuk pantat anak kecil yang berumur sekitar satu tahun dalam gendongannya. Meredakan tangisan anak kecil itu adalah hal terpenting sebelum Minri benar-benar sakit telinga.

Mereka berempat–Minri, Baekhyun, Luhan dan anak kecil–duduk di ruang tamu. Anak kecil itu masih berada dalam gendongan Minri (bersyukur karena tangisannya sudah reda). Kini dia menarik-narik rambut Minri sambil tertawa dengan suara bayi yang khas.

“Mengapa Luhan Hyung tiba-tiba kesini dan membawa Hansoo sendirian? Memangnya dimana Yeon Noona?”

Nama anak ini Hansoo, ulang Minri dalam hati.

“Begini. Yeon pulang ke rumah ibunya dengan tiba-tiba dan dia meninggalkan Hansoo padaku. Sementara sekarang aku harus bekerja! Aku tidak mungkin membawa anak itu ke tempat kerjaku, Baek. Tolong aku ya.”

Baekhyun memijit keningnya dengan pelan. “Maksud Hyung–”

“Ya, aku menitipkan anak itu padamu.”

Minri yang sedang menggesekan hidungnya dengan Hansoo–karena dia gemas pada anak itu–seketika berhenti dan menatap Baekhyun dengan pandangan horror.

Luhan melirik jam tangannya, seketika memekik kaget. Kemudian dia berdiri.

“Aku harus segera pergi.” Luhan mencium pipi Hansoo lalu melangkah menuju pintu.

Hyung, sebentar, ini… itu…”

“Ah iya, dalam tas yang aku bawa ada beberapa pakaian, pampers, dan susu formula. Jaga dia baik-baik ya.” Luhan menelengkan kepalanya pada Minri. “Anggap saja kalian sedang dalam pelatihan mengurus anak. Nanti saja kenalan resminya. Aku sedang terburu-buru. Bye kekasih Baekhyun…”

Blam!

Bersamaan dengan suara pintu tertutup, Minri menjatuhkan rahangnya, menatap tidak percaya pada anak kecil yang berada di gendongannya. Sejak kapan dia menjadi kekasih Baekhyun. Pria itu sok tahu sekali. Dan sejak kapan dia mendapatkan profesi menjadi baby sitter, ha!

Minri mendudukkan anak itu di atas sofa. Lantas berdiri. Hansoo mengikuti pandangannya pada Minri dengan mata mengerjap lucu.

“Aku berada disini bukan untuk menjadi baby sitter.” Minri menatap Baekhyun dengan pandangan sengit–berharap lelaki itu segera mengambil tindakan dan tidak melibatkannya dalam kesusahan.

“Aku juga tidak menduga bahwa Luhan Hyung akan menitipkan anak ini.”

“Pokoknya aku tidak ingin bertanggung jawab jika terjadi sesuatu apapun itu. Jangan-libatkan-aku.”

“Yak! Kau itu perempuan, berbaik hatilah sedikit. Nanti juga kau akan jadi ibu.”

“Nanti, tapi tidak sekarang.”

Hansoo menatap Minri dan Baekhyun bergantian –menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan, sesuai dengan giliran bicara antara mereka berdua.

Mereka berhenti beradu mulut saat Bibi Lee muncul di ruang tamu dengan membawa tasnya. Baekhyun rasa dia punya ide bagus. Dia akan menyerahkan Hansoo pada Bibi Lee sehingga Baekhyun tidak perlu kerepotan mengurus anak itu.

Namun, ide-ide itu tidak akan terwujud karena Bibi Lee sudah memutus harapannya manisnya.

“Tuan muda, aku sudah menyelesaikan pekerjaanku. Aku akan kembali lagi mungkin siang hari nanti. Aku harus ke pasar membeli beberapa bahan makanan.”

Bibi Lee mengarahkan pandangannya pada Hansoo. “Waah! Lucu sekali dia. Kalian benar-benar luar biasa karena mau menjaga anak kecil itu. Semangat ya! Aku pergi dulu.”

Minri merasa kakinya lemas. Tinggal bersama lelaki yang baru dikenalnya nampaknya sudah tidak menjadi masalah, tapi kalau ditambah dengan kehadiran anak kecil berumur satu tahun, anak kecil yang hanya bisa merangkak dan membuat gelembung air liur, bagaimana dengan nasib hari liburnya?!

“Dia keponakanmu, dan aku hanyalah tamu, Oke. Kau harus mengingat hal itu.” Minri melangkah dari tempatnya berdiri, dia berniat menuju kamarnya.

“Baik, lakukan sesuka hatimu!”

Hueeee!!

Minri menghentikan langkahnya di anakan tangga, lalu berbalik. Baekhyun hanya menyuruh anak itu diam tanpa mau menggendong ataupun mengusap punggungnya. Dasar tidak berguna, pikir Minri.

Minri menghempaskan nafasnya dengan gusar, lalu kembali menghampiri Hansoo. Dia mengangkat anak itu dari sofa.

“Dasar bodoh! Kau tidak akan bisa mendiamkannya jika hanya melakukan hal seperti itu.”

“Mana aku tahu!”

“Gendong dia,” ucap Minri sembari menyerahkan Hansoo pada Baekhyun –dan lelaki itu hanya menyilangkan tangannya di depan dada.

“Aku takut mematahkan tulangnya.”

“Kau tidak akan mematahkan tulangnya jika hanya menggendongnya. Kecuali kau memelintir lehernya, atau menghempaskannya ke lantai marmer.”

“Kedengarannya sangat mengerikan. Dan… Yak! Mana mungkin aku melakukan hal itu.” Baekhyun mendesis kesal.

“Nah! Itu berarti kau tidak perlu takut.”

“Aku tetap tidak mau.”

“Baekhyun!!”

Minri menggoyang-goyangkan tubuhnya, mencoba mendiamkan Hansoo yang masih setia dengan suara tangisannya. Gadis itu merapatkan rahangnya sembari menatap Baekhyun tajam.

“Aku akan melakukan apapun, asal tidak menggendongnya,” ucap Baekhyun yakin.

“Kalau begitu hibur anak ini, buat tangisannya reda.”

“Hansoo-ya, jangan menangis… Kau terlihat jelek jika–”

HUEEEE!!

Tangisan anak kecil itupun terdengar semakin nyaring dan memekakkan telinga. Minri memejamkan matanya sembari menarik nafas dalam. Dia benar-benar ingin memukul Baekhyun sekarang, sungguh.

***TBC***

Sebelum aku cuap-cuap, mari berkenalan dengan tamu tak terduga kita :

Si kecil Hansoo

hansoo1

Papa Luhan😀

luhan

 

Yeaay!! Gimana? Mereka udah rada baikan kaaan –eh berantem lagi -.-/

Oh tidak Minri! Jangan pukul Baekhyun (hah?)

Cast lain munculnya part depan. Soalnya ini masih lokasinya dalam rumah sih. Ada pertanyaan? Nanya ukuran sepatu misalnya /ga-_-/

Thanks to Uchi buat nama si kecil, daripada kemaren aku bikin nama kayak puppy. Heol. Thanks to reader(s) yang udah ga manggil aku dengan sebutan ‘THOR’. Daripada kalian manggil THOR mending kak, dek, dan sebagainya yang lebih wajar. Ya kalo pengen juga, sekalian aja author, gitu! (aku gak lagi ngomel ya.)

Sorry for typo. Maaf kalau cerita ini di luar ekspektasi kalian. Respon di part sebelumnya membuatku terharu, senang sekaligus lil afraid(?) ‘-‘)/

MAKASIH BANYAK SEMUANYA!!😉

THANKS FOR READ, KEEP SUPPORT AND LOVE THE CAST(s)❤

©Charismagirl, 2014.

358 thoughts on “We’ve Fallen in Love – Part 2

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s