[Minri’s Diary – 08] Where Did He Go?

08 where

[Minri’s Diary 08] – Where Did He Go?

Author : Charismagirl

Cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri

Genre : Romance, fluff

Length : Vignette, <2000W

Rating : PG-13, Teen

Note : Do not copycat without my permission. Enjoy!

Dia sudah pergi tiga hari, tanpa kabar apapun…

***

Aku tidak pernah merasa sekacau ini.

Uring-uringan di sofa ruang tengah sembari menonton TV–namun aku sama sekali tidak fokus pada acara yang ditayangkan di layar. Cuaca sedang buruk. Hujan deras turun sejak beberapa jam yang lalu. Pikiranku penuh dengan seseorang yang sudah tiga hari tidak bertemu denganku, pacarku yang manis, memiliki senyum kotak yang selalu membuatku terpesona–Baekhyun.

Beberapa kali aku menatap ke layar ponselku berharap ada panggilan atau sekedar pesan singkat darinya. Namun, tidak ada apapun. Layar itu tetap hitam.

Tiga hari yang lalu ketika aku pulang dari rumah Sungyoung untuk membicarakan perihal kostum yang akan dipakai saat malam Prom nanti, aku sengaja mengambil jalan yang lebih panjang, memutari komplek perumahan agar aku bisa lewat di depan rumah Baekhyun. Namun, ketika aku melewatinya, rumah itu tampak sepi sekali. Tidak ada aktivitas dari dalam. Tirai jendela kamar Baekhyun tertutup rapat. Aku pulang dengan wajah murung. Hari itu, aku tidak melihat wajahnya.

Seperti ada yang kurang jika sehari saja tidak melihat wajahnya, senyumnya, tawanya. Kukira setelah tiba di rumah aku bisa menghubunginya atau sekedar berkirim pesan untuk mengetahui keberadaannya. Ternyata tidak.

Hari berikutnya aku memutuskan untuk kembali melewati rumah itu. Hasilnya tetap sama. Sampai aku perlu bertanya tetangga sebelah rumahnya yang saat itu sedang menyiram tanaman.

“Maaf, apakah Anda tahu kemana penghuni rumah ini?” tunjukku pada rumah keluarga Byun.

“Mereka pergi kemarin, membawa satu koper.”

“Kemana?”

“Maaf, saya tidak tahu.”

Jawaban itu membuat hatiku berkecamuk. Tidak ada kabar apapun yang aku dapatkan dari Baekhyun. Hari kedua aku menghubungi ponselnya, tetap tidak tersambung. Aku mencoba mengingat-ingat percakapan terakhir kami. Mungkin saja ada yang aku lupakan atas alasan perginya Baekhyun bersama keluarganya.

Empat hari sebelumnya kami mengobrol di tepi lapangan basket yang letaknya tidak jauh dari rumahku. Disana tidak hanya ada kami berdua. Ada Chanyeol dan Sungyoung yang sedang bermain basket. Mungkin mereka sedang tidak bermain sungguhan, karena sejak tadi aku hanya melihat Sungyoung berjingkit menggapai bola di tangan Chanyeol dan lelaki jangkung itu tidak mau menyerahkannya. Ya, perbedaan tinggi badan membuat gadis berambut sebahu itu kesal dan berujung pada mengomeli Chanyeol.

“Minri tidak akan meninggalkanku ‘kan?” tanya Baekhyun saat aku hampir tertawa melihat Chanyeol baru saja terpeleset. Aku menelengkan kepala padanya.

“Tidak. Tentu saja tidak. Memangnya kau pikir aku mau kemana, hm?”

Baekhyun menunduk, membuat poninya menjuntai. Dia menyentuh rumput dengan telapak tangannya. Aku merasa masih ada yang ingin dia bicarakan, masih ada yang dia pikirkan.

“Aku ingin kita berada di kampus yang sama,” lirihnya.

“Tentu saja.” Aku memegang tangannya. “Kita sudah membicarakan ini sebelumnya. Aku akan masuk jurusan sastra, dan kau musik. Meskipun berbeda jurusan, kita tetap bisa bertemu setiap hari di kampus.”

“Minri benar.” Baekhyun mengangkat kepalanya dan tersenyum. Dia mencium pipiku singkat. Kemudian aku merasa suhu tubuhku menghangat. Kuharap Chanyeol dan Sungyoung tidak melihat kejadian tadi.

“Mau bernyanyi untukku?” tawarku.

“Tenggorokkanku sedang tidak enak.”

“Kau sakit?” Aku meletakkan punggung tangan di dahinya, namun kurasa suhu tubuhnya normal-normal saja.

“Mungkin ini karena….” Baekhyun menggantungkan kalimatnya dan menatapku dengan tatapan minta maaf.

“Es krim. Aku tahu itu,” aku mengalihkan pandangan ke arah lain. Sedikit merasa sebal karena dia tidak mendengarkan perkataanku untuk tidak makan es krim setiap hari. “Dengar ya, aku tahu kau maniak es krim. Tapi kau tidak harus memakannya setiap hari Baek!”

Baekhyun memegang kedua pipiku dengan gemas. Membuat bibirku mengerucut seperti ikan.

“Baeeuk, kau maeeu appeu? (Baek, kau mau apa?)” tanyaku dengan suara tercekik. Maklumilah kalau perkataanku tidak jelas karena Baekhyun masih menekan kedua pipiku.

“Menciummu boleh ‘kan?”

Eung?”

Aku membulatkan mataku saat kulihat sebuah benda bulat jingga melayang ke arah aku dan Baekhyun. Aku segera menarik kerah baju Baekhyun, membawanya agar menunduk.

Bukk!

Bola itu mendarat tepat di samping kami.

“Chanyeol! Kau mau membunuh kami, ya!” Baekhyun berucap dengan lantang, sesaat kemudian dia terbatuk.

“Baek, kita tidak akan mati hanya karena kena lemparan bola basket.” Bisikku, mencoba menenangkan Baekhyun.

Chanyeol hanya melongo di tempatnya berdiri. Dia menengok ke belakang punggungnya dimana Sungyoung sedang bersembunyi disana. Sepertinya aku tahu siapa pelakunya. Lebih baik aku mencari cara agar Baekhyun berhenti memelototi Chanyeol yang tidak bersalah.

“Ayo kita ikut bergabung bermain basket bersama mereka,” ucapku lantas berdiri. Baekhyun masih dengan wajah kesal ikut berdiri. Lalu kami berdua menghampiri Chanyeol dan Sungyoung. Bola basketnya sedang berada di tanganku. Lalu pertandingan tanpa peluit pun dimulai. Aku menyerahkannya pada Baekhyun.

“Minri, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud mengganggu kalian.” Sungyoung bicara–dengan nada menyesal–padaku saat kami berdiri bersisian. Sementara Baekhyun dan Chanyeol sedang bebebut bola basket.

“Tidak apa-apa,” jawabku sembari memegangi bahunya. Aku tertawa pelan, lalu menarik tangan Sungyoung untuk bergabung dengan dua lelaki yang berbeda tinggi badan disana. Bukan aku yang marah, tapi Baekhyun. Dia gagal menciumku. Haha!

Aku tersenyum tipis mengingat kejadian itu. Namun perlahan senyum itu luntur saat aku teringat akan percakapan serius antara aku dan Baekhyun –pengecualian untuk perihal es krim –sebelum lemparan bola Sungyoung membuyarkan semuanya.

Apa kali ini dia yang harus pergi karena urusan perkuliahan? Tapi mengapa dia tidak bilang apapun padaku?

Seseorang tolong berikan aku titik terang–

Kriingg!

Telpon rumahku berbunyi. Dengan segera aku melompat dari sofa saat bunyi itu terdengar tiga kali. Lalu mengangkatnya.

“Halo, kediaman keluarga Park disini.”

“Minri, sayang.”

Eomoni?” suara ibu Baekhyun, pikirku. Ada secercah kelegaan saat aku mendengar suara beliau. “Ada apa?”

“Apakah Baekhyun sedang ada di rumahmu?”

Baekhyun? Kupikir Baekhyun sedang bersama mereka.

“Tidak. Aku tidak bertemu dengannya beberapa hari. Ada apa Eomoni?”

“Maaf, harusnya aku menghubungimu sejak beberapa hari yang lalu… khawatir pada anak itu aku jadi lupa… kecelakaan… rumah sakit….”

“Halo? Eomoni, aku tidak mengerti.” Suara Nyonya Byun terdengar putus-putus dan hal ini membuatku frustasi. Apalagi di luar sedang hujan deras.

“….menghilang.”

Jeder!!

Tidak ada suara lagi yang terdengar setelah bunyi petir yang mengerikan itu. Aku berjalan mondar mandir di depan TV. Lalu mematikan TV itu. Aku sedang mencoba berpikir, merangkai kalimat yang diucapkan ibu Baekhyun tadi. Beberapa hari mereka menghilang, lalu tiba-tiba ibu Baekhyun menelponku. Ini aneh. Dan mengkhawatirkan. Kalau Baekhyun sedang tidak bersama mereka… kemana anak itu?!

Ting tong!

Kali ini terdengar suara bel rumah. Jantungku berpacu dengan tidak normal. Aku menepis firasatku yang baru saja menghampiri dan menyimpulkan bahwa telah terjadi hal yang buruk pada Baekhyun.

Aku membukakan pintu rumah. Dan aku tidak bisa menyembunyikan segala keterkejutanku tentang seorang lelaki yang baru saja datang dengan piyama dan perban di kepala–

“Baekhyun!!”

Aku menghampirinya lantas memeluknya –hal yang pertama harus aku lakukan sebelum bertanya apa yang sudah terjadi dengannya, mengapa dia datang dengan piyama dan kepala berperban.

“Minri, aku takut.” Baekhyun berucap dengan bibir bergetar. Tubuhnya basah kuyup dan hal ini membuatku juga ikut basah karena telah memeluknya dengan erat.

Aku jauh lebih takut. Aku merindukanmu, lalu tiba-tiba kau datang dengan keadaan yang seperti ini. Aku takut…

“Baek, sebenarnya apa yang–”

Baekhyun mencengkram baju belakangku saat suara petir kembali terdengar. Aku melepaskan pelukan kami lantas menutup pintu.

“Kau menghilang tiga hari,” ucapku dengan nada putus asa.

“Aku… aku… mengalami kecelakaan.”

Aku merasakan hatiku berdenyut sakit. Aku tidak menduga dia mengalami hal mengerikan itu, sampai kepalanya perlu di perban.

Dia menautkan tangannya satu sama lain. Bibirnya tampak pucat dan terus bergetar. Dia tidak membawa apapun. Datang dengan basah kuyup. Jangan katakan kalau dia…

“Kau kabur dari rumah sakit ya?!” tuduhku.

Satu anggukan kecil dikepalanya membuat kakiku lemas. Sungguh, Baekhyun tidak pernah bertindak selancang ini. Meskipun dia sering bertingkah kekanak-kanakan, tapi harusnya dia tahu bahwa keadaannya sedang sakit.

“Aku akan mengantarkanmu kembali ke rumah sakit.” Aku berbalik, hendak melangkah ke dalam rumahku –mengambil kunci mobil dan mungkin handuk untuk mengeringkan tubuh–tetapi Baekhyun menahan lenganku.

“Aku tidak mau.”

“Aku akan mendengarkan penjelasanmu nanti, setelah kau sembuh. Lukamu belum kering. Ku mohon….”

“Aku tidak mau. Minri tidak menjengukku karena Minri tidak suka tempat itu. Aku ingin disini saja.” Baekhyun tahu aku tidak suka rumah sakit. Tapi kalau dia memang butuh kehadiranku disana, aku pasti datang dan menjaganya sampai dia sembuh. Malangnya, aku sama sekali tidak mendapatkan kabar dengan musibah ini.

“Maafkan aku,” Aku mendunduk, merasa bersalah dan tidak berguna.

Baekhyun mengambil langkah kecil hingga berada di hadapanku. Dia memegang tanganku. Dengan tangannya yang dingin dan pucat.

“Minri tidak salah. Tapi … haiisshh!!

Baekhyun baru saja bersin.

“Astaga! Apa yang terjadi padanya Minri?” Aku menoleh pada ibuku yang baru saja lewat. Beliau tampak kaget lantas menghampiri kami berdua.

Aku bingung hendak menjelaskannya mulai mana.

“Sebaiknya kau bawa Baekhyun ke kamar tamu. Dia harus segera mengganti bajunya yang basah itu. Kau juga Minri-ya.”

“Baik, Mom.”

Aku bersyukur karena ibuku tidak bertanya lanjut tentang kedatangan Baekhyun yang tiba-tiba beserta keadaannya yang kacau itu. Aku meraih tangan Baekhyun lalu membawanya ke kamar tamu.

“Aku ganti baju dulu.” Lalu aku meninggalkan Baekhyun dalam kamar itu sendirian.

 

Aku kembali dengan membawakan handuk dan sepasang pakaian kering. Kurasa pakaianku yang cocok untuknya hanyalah celana training dan baju lengan panjang ukuran terbesar yang aku punya.

Aku duduk di bangku kayu depan meja belajar saat Baekhyun mengganti bajunya dalam kamar mandi. Aku tidak habis pikir mengapa Baekhyun bisa bertindak seberani itu untuk melarikan diri dari rumah sakit dan menuju rumahku melawan hujan deras di luar dan petir yang menyambar- nyambar.

Kreet.

Pintu kamar mandi terbuka, sosok Baekhyun keluar dari sana dengan mengenakan bajuku. Sedikit lucu tapi tidak buruk. Dia cocok mengenakannya mengingat ukuran tubuh kami tidak begitu berbeda. Aku hanya sedikit lebih pendek darinya. Itulah penyebab celana training yang dipakainya tidak cukup menutupi seluruh kakinya.

“Berbaringlah, aku akan megambilkan air hangat.”

“Minri disini saja.”

Aku menatap matanya yang tampak lelah itu. Dan bagaimana aku bisa menolak wajahnya yang memohon itu.

“Baik. Baik.”

Aku duduk di tepi kasur sementara Baekhyun naik ke kasur itu dan berbaring. Aku membenarkan selimutnya hingga menutup sampai bahu. Hidungnya tampak memerah. Baekhyun sedang sakit, lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?

Tapi ngomong-ngomong, tampaknya dia begitu bahagia. Buktinya saja, bibirnya tidak henti-hentinya tersenyum.

“Kenapa Baek?” tanyaku.

“Aku senang bersama Minri disini.”

“Harusnya kau di rumah sakit, tau.” Aku mencubit hidungnya. Tapi dia tertawa pelan dan membalasku.

“Tidak ada Minri disana. Aku merasa semakin sakit.”

“Kau ingin menceritakan padaku kenapa kau bisa mendapat kecelakaan ini?”

Baekhyun mengangguk, lalu menghela nafas. Dia mendudukkan diri dan menyandar di kepala ranjang.

“Saat itu aku terburu-buru ingin ke toko alat musik. Aku tidak melihat ada mobil yang lewat, jadi ketika aku menyeberang, aku tertabrak. Tubuhku terpental cukup jauh dan kepalaku membentur batu –tapi dokter bilang aku tidak apa-apa, tidak ada luka dalam.” Dia mempercepat kalimat terakhirnya setelah melihatku membelalakan mata. Uh, rasanya pasti sakit sekali. Dia meneruskan ceritanya, “Semuanya terjadi terlalu cepat. Aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya, karena saat aku sadar aku sudah berada di rumah sakit. Dan ponselku rusak.” Dia mengakhiri ceritanya dengan wajah lesu.

“Kita akan membeli ponselmu bersama-sama nanti.”

“Janji ya?” Matanya tampak berbinar.

“Yap… Baek, harusnya hari itu kau mengajakku. Aku akan berusaha meluangkan waktuku. Aku–”

Baekhyun menyingkirkan selimutnya lalu berangsur mendekatiku. Dia memelukku, membuat napasnya yang hangat menerpa bahuku. Aku ingin waktu berjalan lebih lambat agar aku bisa menikmati momen ini lebih lama.

“Yang penting aku sudah berada disini, bersama Minri.”

“Lain kali kau harus berhati-hati. Aku sudah berpikir yang tidak-tidak tadi. Kukira kau pergi jauh tanpa memberitahuku.” Aku mengerucutkan bibir dengan wajah merengut.

“Aku tidak akan meninggalkan Minri.” Baekhyun menjauhkan lalu menatapku dengan jarak dekat. Dia tersenyum. Satu hal yang bisa membuatku bernafas lebih lega. Dia baik-baik saja. Lalu di detik berikutnya aku merasakan bibirnya yang dingin menyentuh bibirku dengan lembut. Kehangatan menyebar ke seluruh atmosfer.

“Sebaiknya kau istirahat, Baek.” Aku mencoba menyembunyikan wajahku yang merona. “Aku akan menelpon ibumu.”

“Bisakah aku meminta satu hal?”

“Ya?”

“Bilang pada ibuku agar aku tidak usah di rawat di rumah sakit. Please…

Harusnya aku tidak mengabulkannya. Aku tidak tahu seberapa parah luka yang ada ditubuhnya.

“Akan kuusahakan.” Aku menaikkan selimutnya lagi, sebelum dia memejamkan mata dengan senyuman di bibirnya membuatku ikut tersenyum.

“Selamat tidur, aku sayang Minri,” gumamnya dengan mata terpejam.

Dia tidak akan pergi. Dia sudah berjanji padaku. Sekarang yang harus aku lakukan adalah merawatnya sampai dia sembuh. Sampai dia kembali membuatku tertawa dengan tingkahnya yang kekanakan itu.

Betapa aku menyayanginya. Hingga berharap kami dapat terus bersama selamanya.

***END***

Wanna read their another stories?

[Minri’s Diary] 01 – My Boyfriend is a Baby | 02 – Still a Baby | 03 – My Black Pearl | 04 – Just a Little Mistake | 05 – This is Your Day | 06 – Under The Moonlight | 07 – Can I Kiss My Present?

——–

Haaayy!! Kangen mereka bedua ga? ._./

Apa jangan2 udah pada lupa sama ini cecunguk dua(?) Mereka banyak dapat job ff sih /ga\ WVFIL misalnya. Hahaha.

Thanks for read! Sorry for typo. /\

Do not call me ‘thor’ ^^

(well, apa aku perlu intro lagi?)> Hai, namaku Rima, kelahiran 1993. Kalian boleh panggil kak, karim (kak-rima), eonni, dongsaeng, dek, istri Baekhyun, Eomma Chanhee, teman, dll. Aku Baekhyun bias< udah.

Ps : entah kenapa aku yakin beberapa diantara kalian ikut nyoba ngomong sambil pipinya diapit/? lol

Mind to leave comment(s)?

© Charismagirl, 2014.

200 thoughts on “[Minri’s Diary – 08] Where Did He Go?

  1. Huaaaaaaa kangen banget :((( udah lama ga buka blog ini, soalnya lagi banyak-banyaknya tugas banget. Terakhir aku baca tuh yang We’ve Fallen in Love Part 2 kalo ga salah *aku juga lupa -_-
    Pokonya aku kangen samaa karya author yang satu ini, aku kangen sama couple BaekMinri aku kangen pokonya sama cerita-cerita eonni, dan sekarang nyuri nyuri waktu buat baca ff disini hahaha menghilangkan penat *malah curhat

    Oh iya jadi lupa buat komen ff nya, tapi mau komen apa ya? karya Rima eonni tuh bagus terus, feelnya pasti dapet, dan pasti rame jadi pengen baca terus. Pokonya ditunggu karya yang lain, aku juga mau baca ff yang lain yang belum aku baca, nyicil satu-satu

    Figthing eonni♥

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s