Kris [freelance]

Kris

Tittle: KRIS

Author: Phoenix_ART

Length: One Shot

Genre: Sad, Friendship

Rating: General (G)

Main Cast:           Wu Yi Fan (KRIS EXO)

Support Cast: EXO Member, Wu Yi Fan’s mother

Disclaimer: https://www.facebook.com/notes/exo-fanfiction/member-kris-assifa/572891716161550

Author’s note: I’m sorry, it can make you feel like really miss Wufan..

               

***___________***

                “Saat kau melihat matanya, kau tahu.. Dia mempunyai dunianya sendiri. Saat kau melihat senyumnya, kau akan ikut tertawa bersama dirinya, bersama tingkah lakunya. Lewat raut wajahnya, sebenarnya kau tahu, dia bukanlah seseorang yang di tampilkan wajah vampirenya itu. Dan saat kau tahu lebih dalam akan dirinya, kau tahu.. Bahwa kau sudah benar-benar masuk ke dalam ‘Galaxy’nya sendiri..

***___________***

                “Kau yakin kau akan tinggal disini?”, seorang namja dengan tubuh yang sangat tinggi menginjakkan langkah pertamanya di depan bandara ternama di wilayah Asia Timur, China. Ia masih memakai kemeja yang di lapisi sebuah kaos hitam polos di badannya.

                Wanita tua yang ada tepat di samping namja tersebut tersenyum tipis. Matanya menatap hamparan masyarakat yang lalu lalang di depan mereka. Rambut panjangnya masih tergerai tidak beraturan, namun masih tetap cantik dengan tubuh tinggi yang diturunkan pada anak kesayangannya. “Tentu saja.. Karena memang tempatmu disini..”

                “Tempatku?”, namja itu mengernyit heran. Alis tebalnya tampak saling mendekat satu dengan yang lainnya.

                “Tentu.. Kau yang akan tinggal disini..”

                “Apa?!”, ulang namja tersebut tidak percaya.

                “Kau akan tinggal disini, dan aku akan kembali ke Kanada.”, Wanita tua yang merupakan ibu dari namja muda tersebut mengeluarkan beberapa berkas dari tas tangannya. Lalu memberikannya kepada namja berambut hitam kecokelatan yang ada di sampingnya. “Aku sudah menyiapkan berkas kepindahan sekolahmu, kau tidak akan kesulitan disini. Bibi dan pamanmu akan menjagamu, aku juga sesekali mengunjungimu. Setelah urusanku selesai, aku akan terus menemanimu disini, arrachi?”

                Namja tinggi itu menggelengkan kepalanya. “Tapi, aku.. Mana mungkin aku bisa pindah secara mendadak seperti ini.. Aku belum.. “

                “Aku sudah menyiapkan semuanya untukmu Wufan. Jadi, dengar kata-kataku.”, kini wanita tua itu menghentikan sebuah taksi tepat di depan mereka. Membuat namja itu semakin memajukan bibirnya cemberut.

                “Tapi.. Bagaimana dengan ayah?”

                Wanita yang kini tengah sibuk memasukkan barang-barangnya ke kursi belakang taksi tersebut sejenak menghentikan aktivitasnya. Kemudian menoleh pada anak satu-satunya  dan tersenyum tipis.

                “Aku sudah bilang, aku akan mengurus semuanya. Belajarlah yang baik disini, dan aku akan kembali saat semuanya selesai.”

***_____________***

                Namja tinggi itu duduk di depan sebuah ruangan lumayan besar di dalam gedung sekolah yang terletak dekat dari pusat kota. Namja itu memainkan handphonenya, sampai suara gesekan pintu menghentikan jari-jarinya untuk tetap bersentuhan dengan keyboard handphonenya.

                “E.. Eoh..  Selamat pagi..”, Namja tersebut bangkit dan membungkukkan badan tingginya hampir 90o . Dua orang wanita yang umurnya mungkin hampir sama itu telah berdiri di depannya.

                “Wu Yi Fan?”

                Namja tinggi itu mengangguk cepat setelah menegakkan tubuh tingginya kembali.

                “Apa kau bisa berbahasa China?”, ucap salah satu wanita yang mengenakan seragam layaknya para guru yang ada di sekolah tersebut.

                Ia menganggukkan kepalanya lagi, lalu menambahkan, “Tentu saja, ibuku tidak lupa mengajarkan bahasa kami sendiri..”,  ia tersenyum kepada wanita yang satunya, ibu satu-satunya yang tentu sangat ia sayangi.

***___________***

                Wu Yi Fan, lebih di kenal dengan sebutan Wufan tengah memutar-mutarkan bola basketnya di atas tanah yang berlapiskan semen tebal yang tidak akan hancur walau sebanyak apapun bola itu di pantulkan. Tubuh tingginya sengaja ia dudukkan di salah satu kursi tempat dimana biasanya anggota klub beristirahat.

                Wufan memutar bolanya pelan, membentuk sebuah bentuk garis-garis bulat seperti galaxy yang biasa ia temui di buku. Ia mengerjapkan matanya, tidak terlalu memperhatikan apa yang dengan refleks ia lakukan, karena Wufan tengah mengatur nafasnya saat ini. Nafasnya mulai memburuk.

                Semenit, dua menit, hingga akhirnya lima menit, Wufan merasa bahwa ia seperti akan benar-benar mati di tempat terbuka seperti itu. Nafasnya telah kembali sekarang, walaupun masih tersisa sedikit rasa yang tidak pernah di rasakannya sebelumnya.

                Teringat akan sesuatu, Wufan mengambil beberapa kertas dari dalam tas berwarna hitam yang biasa ia bawa ke sekolahnya. Mata tajam keturunan ayahnya itu meneliti setiap isi dari tulisan dari setiap lembaran-lembaran kertas yang kini ia pangku di kedua lututnya. Seakan-akan mata elang itu akan menangkap sesuatu yang salah di balik tenangnya lautan huruf di atas kertas tersebut.

                Di tangan kanannya sudah tergenggam sebuah pena bertinta hitam. Ia memejamkan matanya sekali lagi, menempelkan ujung pena di atas lembaran kertas terakhir, melukiskan sebuah tanda tangannya sendiri di tempat yang sudah di sediakan, khusus hanya untuknya.

                “Mom, please.. Trust me..”

***_____________***

                “Xi Luhan..”

                “Dan.. Wu Yi Fan..”, tampaknya itu nama terakhir yang di sebut oleh seorang pria berbadan buntal yang memakai kacamata serta topi hitam di depan puluhan para trainee di sebuah agensi ternama yang berasal dari Korea Selatan  di China.

                Empat namja maju dua langkah di antara puluhan trainee lainnya. Wufan juga ikut melangkahkan kakinya maju di ujung kiri tiga orang lainnya. Sejenak ia melirik di samping kanannya, mendapati seorang namja yang tingginya hampir sama dengannya. Wufan belum pernah bertemu dengan mereka, mungkin pernah melihatnya sesekali tanpa sadar, karena memang trainee yang berada dalam agensi tersebut tidak sedikit. Semuanya dibagi menjadi beberapa kelompok, dan sayangnya, dia dan tiga namja lainnya mungkin berasal dari kelompok yang berbeda. Intinya, Wufan sama sekali tidak mengenalnya.

                “Kalian bersiaplah, dua hari lagi tempat kalian bukan disini lagi, tetapi berada di pusat agensi ini di dirikan. Jadilah yang terbaik, karena kita tidak kalah jauh di bandingkan mereka. Mengerti?”

                Keempat namja tersebut mengangguk.

                “Bagus, kalian boleh pulang sekarang, besok kalian harus kembali kesini, dan kita akan mengurus beberapa hal yang harus di selesaikan.”, namja berbadan gempal tersebut kemudian keluar dari ruangan tersebut diikuti puluhan trainee yang tidak lolos untuk saat ini. Menyisakan mereka berempat.

                Seorang namja yang memiliki tubuh tidak terlalu tinggi tiba-tiba maju di depan Wufan dan dua namja lainnya. Ia membungkukkan badannya, lalu tersenyum. “Namaku Zhang Yixing.Aku harap kita semua bisa bekerja dengan baik. Mohon terima kekuranganku, dan aku juga akan bekerja dengan baik.”, Sebuah lesung pipit muncul dan semakin jelas ketika ia tersenyum lebar memandang tiga sosok di depannya.

                “Namaku.. Xi Luhan.. Kalian bisa memanggilku Luhan.”

                “Namaku.. Huang Zi Tao. Salam kenal semuanya..”

                “Eum.. Dan kau? Ge?”, ucap namja di samping Wufan yang memperkenalkan dirinya sebagai Huang Zi Tao.

                “E.. Eoh.. Na.. Namaku… Wu Yi Fan..”

***_____________***

                Namja tinggi itu sudah berada di depan bandara terkenal di China. Ia mengingat kembali bagaimana ia ‘dipindahkan dengan mendadak’ oleh ibunya disini. Kini, ia sadar. Ia bahkan akan pergi lebih jauh dari tempat ia berasal.

                Wufan menarik nafasnya, memakai kacamata hitamnya. Membuat mata tajamnya tergantikan oleh kaca yang berbingkai besi hitam yang sangat elegan. Badan tingginya mengenakan kaos berwarna putih, dan kemeja berwarna merah. Rambutnya yang lumayan panjang menutupi telinganya, sehingga orang tidak akan sadar kalau ia memakai earphone yang ia pakai dari belakang.

                Sentuhan tangan di pundaknya mengagetkannya. Buru-buru ia melepaskan earphonenya dengan mencabutnya dari lubang telinganya.

                “Gege! Kau sudah lama disini?”, seorang pria yang seingat Wufan berdiri di sampingnya saat pengumuman kelolosan trainee itu sibuk memegangi barang-barangnya yang selalu saja hampir lepas dari pengawasannya.

                Wufan mengamati pria itu sejenak, “A.. Ah.. Tidak, aku juga baru sampai..”

                Kemudian namja tersebut meletakkan setenteng plastik yang di pegang sebelumnya itu di atas sebuah koper besar. “Aku Huang Zi Tao. Panggil aku Taozi saja.. Aku sudah mendengar dari staff, aku akan menjadi bungsu di antara kita berempat, dan aku harus memanggil kalian Gege, bukan?”

                Wufan mengangguk kaku. Ia masih benar-benar belum tahu apa yang harus ia lakukan dengan orang baru seperti Taozi. “Ya… Salam kenal.. Aku..”

                “Wu Yi Fan? Benarkan?”

                Wufan mengangguk.

                “Tapi.. Apa aku harus memanggilmu dengan nama panjang seperti itu? Apa tidak bisa menjadi lebih singkat?”

                “Wufan.. Kau mungkin bisa memanggilku Wufan.”, jawab Wufan pelan. Lalu mengambil barang bawaannya yang tidak sebanyak punya Tao. Punya Tao bahkan mungkin jauh lebih banyak.

                “Ah, aku mengerti..”, Tao melihat kea rah dalam bandara, mata yang memiliki kantung mata seperti panda itu melihat dua namja yang sepertinya trainee seperti dirinya, dan beberapa staff yang menemani mereka. “Ge.. Ayo masuk. Mereka sudah ada di dalam..”, Taozi masih sibuk menata susunan barang bawaannya.

                Wufan mengangguk, namun ketika ingin melangkahkan kakinya masuk ke dalam bandara tersebut, suara Taozi menghentikannya.

                “Ge.. Bisa kau bantu aku?”

***____________***

                Wufan dan Taozi sudah menjadi lebih dekat. Perbincangan ringan mereka berdua di pesawat membuat mereka jauh lebih nyaman satu dengan yang lainnya, di bandingkan dengan dua namja yang lain, yang hanya diam.

                “Luhan gege, kau tidak apa-apa?”, Taozi menghampiri seorang trainee yang di panggilnya dengan nama Luhan.

                Luhan masih memegangi perutnya, wajahnya pucat. “Y.. Ya, tidak apa-apa..”

                “Kau terlihat pucat..”, ucap Wufan, sedangkan satu namja lainnya yang sebelumnya memperkenalkan namanya sebagai Zhang Yixing itu mengelus pundak Luhan pelan.

                “Tidak apa-apa.. Aku hanya.. Takut ketinggian..”

***____________***

                “Taozi akan sekamar dengan Wufan untuk sementara, sedangkan Luhan akan sekamar dengan Yixing terlebih dahulu. Setelah kalian berkumpul nanti, mungkin teman sekamar kalian akan berubah. Baik-baiklah disini, ini kunci kamar kalian..”, seorang wanita muda yang saat itu mengalungkan ID card asrama membagikan dua buah kunci masing-masing untuk Wufan dan Yixing.

                “Disini kalian tidak boleh lambat, dan kalian juga masih trainee. Kalian harus tepat waktu ketika kalian harus di suruh berkumpul. Mengerti?”, ucap wanita itu dalam bahasa Korea.

                “N.. Ne..”, ucap Wufan dan Luhan.

                “Bagus. Sekarang kalian bereskan pakaian kalian, setelah itu kalian harus ke tempat latihan. Berkas-berkas kalian sudah kami urus sepenuhnya. Jadi kalian hanya perlu berlatih, dan kalian akan menjadi terkenal nanti. Kalian punya waktu setengah jam untuk membereskan pakaian kalian.”, kemudian wanita itu pergi dari hadapan keempat namja itu.

                “Ge, apa yang dia ucapkan?”, Tanya Taozi.

                “Kau tidak mengerti? Bukankah kita sudah mempelajarinya saat di China?”, Tanya Luhan.

                “Tidak.. Aku sedikit bermasalah dalam mempelajari bahasa..”

                “Dia bilang, kita harus datang ke tempat latihan, setengah jam setelah ini..”, jawab Wufan singkat.

***___________***

                Badan tinggi itu memakai jacket bergaris putih saat memasuki ruangan latihan bersama tiga namja lainnya.  Rambutnya yang panjang dibuatnya terikat ke belakang, membentuknya seperti ekor kuda yang terlalu pendek.

                Dilihatnya ada beberapa namja yang sudah berlatih di dalamnya. Mereka sedang menari, ada juga yang memakai kesempatan istirahatnya untuk berlatih menyanyi. Di sudut ruangan terdapat seorang pria yang tampaknya berasal dari benua Eropa yang sedang memperhatikan semuanya. ‘Sepertinya dia pelatihnya..’, batin Wufan.

                Wufan melirik ketiga namja lainnya. Sepertinya sama seperti dirinya, mereka merasakan kegugupan itu. Ini pertama kalinya mereka di pertemukan untuk orang asing yang sangat tidak mereka kenal. Wufan tersenyum tipis, “Tidak apa.. Kita harus melewatinya bersama, kan?”

***____________***

                “Apa kita akan membentuk sebuah grup yang berlainan gender?”, ucap seorang pria tinggi yang memiliki telinga seperti Yoda. Mata besarnya mengerjap ketika melihat Wufan dan ketiga namja lainnya.

                “Apa?”, ucap seorang Staff yang berdiri di samping Luhan.

                “Dia.. Bukankah dia perempuan?”, tanyanya polos sambil menunjuk kea rah Luhan.

                “Apa?! Aku laki-laki!”, sanggah Luhan cepat. Pipinya tampak memerah, membuatnya salah tingkah. Memang, wajah manis yang di milikinya bahkan bisa mengalahkan seorang wanita sekalipun.

                “A.. Ah.. Jamsahamnida..”, pria itu langsung membungkukkan badannya meminta maaf.

                “Sudah, sekarang kalian akan bersatu dengan keempat pria yang berasal dari China. Mungkin kalian akan di bentuk sebuah grup seperti Super Junior. Tapi mungkin akan di buat sub grup juga. Karena kami sengaja mendatangkan trainee dari China, agar kalian juga bisa mempromosikan debut kalian nanti di China. Dan dia..”, seorang staff lainnya menunjuk Wufan. Membuat trainee lainnya menatap kea rah Wufan.

                “Dia berasal dari Kanada, walaupun dia juga mempunyai darah China. Kemampuan berbahasanya lumayan bagus. Kalian juga bisa mempromosikan debut kalian ke luar negeri nanti. Kalau kalian ingin terus berusaha, mungkin kalian akan debut beberapa tahun lagi, atau mungkin beberapa bulan. Besok kami akan menentukan nama grup kalian. Untuk nama panggung sendiri, kalian bisa menentukannya sendiri. Tapi tidak perlu terburu-buru. Kalian bisa memikirkannya nanti. Yang penting untuk saat ini adalah kalian harus berkonsentrasi penuh pada latihan kalian. Aku tidak ingin mendengar kemalasan pada kelompok ini. Mengerti?”

                Semuanya mengangguk, beberapa menjawab “Nde.. Algeusseumnida..”

***_____________***

                Mata tajamnya menatap kea rah cermin. Badan tingginya itu di gerakkan semaksimal mungkin. Bergerak kesana kesini, mengikuti alunan lagu yang tidaklah lambat. Peluhnya sudah dari tadi terus saja mengalir dari tubuhnya. Ia tidak menghiraukan lagi perih di matanya saat keringat itu terkadang mengenai matanya. Ia hanya menyapunya singkat, melanjutkan gerakannya lagi.

                Hingga rasa sakit yang pernah beberapa kali itu ia rasakan di dadanya. Membuatnya langsung terduduk. Kakinya tiba-tiba lemas. Nafas yang keluar dari hidungnya tersengal-sengal. Tangan panjangnya meraih sebuah botol yang berisikan air mineral. Meminumnya dengan cepat, mengatur nafasnya kembali.

                Tubuh tingginya di baringkannya pada lantai itu. Menatap langit-langit ruang latihannya yang berwarna putih polos, tanpa hiasan apapun.

                ‘Badanmu sangat kaku, kau tidak mungkin debut kalau seperti ini. Kau mungkin akan ditunjuk sebagai leader nanti, tapi tidak mungkin kau akan menjadi leader kalau seperti ini. Badanmu sama seperti Chanyeol. Dia juga sangat kaku, tapi dia sudah mengalami kemajuan. Sedangkan kau, kau sama sekali tidak berkembang! Apa mungkin kau hanya mengandalkan kemampuan rapp mu itu? Aku tidak mengerti, selama ini apa saja yang kau pelajar? Bahkan kau tidak menyanyi, Yifan. Kau benar-benar parah.

                Wufan memejamkan matanya. Kata-kata itu terus terngiang di kepalanya. Ia merasa sesuatu bergetar dari sakunya. Ia merogohnya, mendapatkan sebuah handphone kecil itu bergetar. Lalu ia menekan salah satu tombol, dan menempelkan benda kecil tersebut di telinganya.

                “….”

                “Ya, aku baik-baik saja bu..”

***____________***

  1. Nama itu di pilihnya sendiri. Dengan suara berat yang ia miliki, ia menyebutkan nama singkat itu saat staff menanyakan nama panggung apa yang mereka pakai.

                “Baiklah.. Jadi, sekarang kami akan memanggil kalian dengan nama panggung kalian mulai saat ini. Suho dan Kris akan kami jadikan sebagai leader.Mungkin kalian akan menanyakan kenapa mereka yang di pilih, bukan?”

                Semua member mengangguk.

                “Kami membiasakan yang paling tualah yang menjadi leader. Tapi kenapa ada dua leader? Kalian akan kami bentuk menjadi satu grup yang bernama EXO. Tapi kalian akan kami bagi juga menjadi dua sub grup. EXO-K untuk Korea, dan EXO-M untuk China. Mungkin ada saatnya kalian akan kami satukan nanti.”

                “Permisi.. Tapi, saya bukan yang paling tua disini. Masih ada Luhan ge dan Minseok ge..”, Wufan membuka suaranya.

                “Kau bisa berkomunikasi dengan banyak orang dari dalam ataupun luar Korea dan China. Kau bisa berbahasa Inggris. Untuk Minseok, tidak, maksudku untuk Xiumin, dia belum bisa berbahasa China.Dan untuk Luhan, ia tidak memiliki aura seorang Leader. Ia akan kami jadikan sebagai Visual grup bersama Kai. Karena mereka punya aura dimana ketika orang melihat grup ini, merekalah yang paling menonjol.”

***_____________***

                “Hanna.. Deul.. Set! We are one! Annyeonghasseyo! EXO imnida!”, ucap kedua belas trainee terpilih dan kini menjadi sekarang mereka menjadi member resmi dari EXO. Ribuan teriakan penonton terdengar di telinga mereka, menyambut boyband baru dari agensi ternama itu. Dari agensi terkenal yang berada di negeri Ginseng tersebut.

                “Annyeonghasseyo.. Kris imnida..”, Wufan memperkenalkan namanya sambil membungkuk kepada lautan penonton yang terus saja berteriak setelah member yang lainnya memperkenalkan dirinya masing-masing.

                Ia menatap semua penonton yang di dominasi oleh wanita tersebut. Mencoba merekam  semua moment yang tidak akan terulang kembali dalam hidupnya. Saat ia bersama yang lainnya merasakan sesuatu yang sama di hati mereka. Kegugupan akan ribuan pikiran yang menakuti mereka. ‘Bagaimana jika aku melakukan kesalahan? Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku bisa berinteraksi dengan orang sebanyak itu?

                Ia berjanji tidak akan melupakannya. Wufan memejamkan matanya sebentar, mencoba mendengar suara fans lebih dalam. Memorinya semakin merekam makin banyak. Bagaimana Baekhyun puluhan kali mengecek suaranya ditemani oleh Kyungsoo di belakang panggung, bagaimana Chanyeol terus melatih kecepatan berbicaranya, bagaimana Suho terus melatih cara berlatih berbicara pada banyak orang sebagai leader. Bagaimana wajah Xiumin yang kelihatan gugup, atau Luhan yang sibuk dengan handphonenya, mungkin untuk meredakan rasa gugupnya. Terlintas di pikirannya kembali, bagaimana Yixing yang sibuk menelpon ibunya yang berada di China, dan bagaimana Jong In terus menari bahkan di sela-sela saat wajahnya sedang di poles make up tipis.

                “We are one!! EXO saranghajaaa!!!”, semua member akhirnya menutup konser pertama mereka dengan membungkukkan badannya di depan ribuan penonton.

                Wufan merasakan Chanyeol menyinggung sedikit lengannya, sambil tersenyum lebar, “Kris hyung, kita berhasil!!”

***______________***

                “Kita akan.. liburaann!!”, ucap Suho senang kepada anak-anaknya yang tengah berlatih pada saat itu. Tidak hanya latihan, sebenarnya mereka tengah syuting sebuah variety show tentang mereka sendiri. Kesuksesan mereka benar-benar menarik minat semua stasiun televise Korea untuk mengontrak mereka agar mengisi beberapa acara di stasiun televise tersebut.

                “Jinjja? Yehet!”, ucap Sehun senang. Ia tengah duduk di samping Luhan yang sedang melakukan push up.

                Kedua belas member membentuk sebuah lingkaran kecil, mencoba merundingkan kemana mereka akan pergi. Jadwal mereka terlalu padat, mereka tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan ini. Mereka juga sebenarnya sudah merasa lelah, ini saatnya mereka mendapatkan kesegaran kembali pada tubuh dan pikiran mereka.

                “Jadi, kalian harus menuliskan tempat yang ingin kalian kunjungi..”, Suho membagikan kertas kecil yang telah dipotong Kyungsso sebelumnya. Kyungsoo juga memberikan masing-masing satu pena untuk satu orang.

                Semua member menganggukkan kepalanya, lalu sibuk memikirkan kemana tempat yang sebaiknya bisa di kunjungi oleh semuanya. Tempat yang indah, nyaman, dan tentu saja semuanya senang. Mereka mulai menuliskan di masing-masing kertas yang mereka miliki. Beberapa dari mereka terlihat menatap satu dengan yang lain, mencoba menyatukan pikiran. Tentu saja ada yang terlihat seperti mencontek keinginan orang lain.

                “Hyung, kau serius akan menuliskan itu? Pftthh..”, Chanyeol menutup mulutnya, menahan agar tawanya tidak menyembur keras. Kata-kata Chanyeol sukses mengalihkan semua perhatian para member. Beberapa pasang itu melihat kea rah Chanyeol dan Wufan.

                “Dia menuliskan Galaxy! Kau benar-benar gila, hyung! Hahahaa…”. Chanyeol menunjuk-nunjuk Wufan yang menggaruk lehernya pelan. Semua member tertawa seakan menganggap Chanyeol hanya bercanda seperti biasanya.

                “Ya. Sekarang kita akan menyebutkan tempat yang kita inginkan satu per satu. Tempat yang paling banyak di sebut adalah tempat yang akan kita kunjungi. Di mulai dari.. Baekhyun?” , Kali ini Chanyeol mengambil alih pembicaraan.

                “Aku? Rumah nenekku..”, ucapnya singkat.

                “Apa?”

                “Rumah nenekku..”, Baekhyun kemudian tertawa.

                “Ah.. Bagaimana kalau Lay?”, Chanyeol mempersilahkan Lay untuk berbicara.

                “Aku? Rumah.. Nenek Baekhyun..”, jawab Lay dengan wajah polosnya.

                “Wae?”, Tanya Chen.

                “Baekhyun terus membisikkan aku untuk menulis seperti itu, dia bilang kalau tempat tersebut sangat indah, dan di sana hangat..”

                “Tapi.. Rumah nenekku di pegunungan..”, sambung Baekhyun membuat semua member kembali tertawa.

                “Arrasseo, arrasseo.. Bagaimana kalau Kris hyung?”, Tanya Tao.

                “Aku? Galaxy..”

***___________***

                Wufan merasakan sakitnya kembali. Ia memejamkan matanya, menekan dada dan perutnya yang di lapisi oleh beberapa otot yang berhasil ia bentuk beberapa tahun belakangan ini. Berharap agar rasa itu tidak semakin menjalar kea rah yang lain.

                Sakit itu membuat otot bagian dada dan perutnya seperti mati rasa. Keringat dingin mulai muncul dari keningnya, membasahi make-up yang sudah di buat oleh penata rias.

                “Hyung, gwenchana?”, Chanyeol duduk di sampingnya. Melihat Wufan yang masih menggigit bibirnya sendiri, menahan rasa sakitnya.

                “N.. Ne”

                “Aku akan panggilkan staff untuk merawatmu, kau tidak akan bisa tampil kalau seperti ini..”, Chanyeol berdiri dari tempatnya, langkahnya terhenti saat tangan Wufan yang mulai mendingin pucat menahannya.

                “Gwenchana.. Aku tidak apa-apa.. Kita tidak mungkin.. berhenti sampai disini..”

***__________***

                “Kenapa kau tidak berhenti saja? Ini masih belum terlambat.. Aku masih bisa memberikanmu uang bahkan lebih banyak dari yang agensimu berikan! Kau bahkan berulang kali sakit seperti ini. Kenapa kau tidak berhenti saja?! Kau bisa mati kalau kau seperti ini!”

                Seorang namja tinggi memejamkan matanya saat kata-kata itu terdengar di telinganya. Tangannya yang ditusuk oleh sebuah jarum infuse sedikit mengganggu gerakannya. Rambutnya di biarkan berantakan.

                “Mom, aku hanya perlu bersabar.. Kau tidak perlu khawatir.”, ucapnya pelan. Wufan membuka matanya kembali, menatap beberapa bayangan yang tampak akan masuk ke ruangannya.

                “Maafkan aku, tapi.. Aku benar-benar tidak bisa meninggalkannya..”, kemudian jari panjang yang dimilikinya menyentuh layar handphonenya kembali, memutuskan sambungannya. Ia menatap pada langit-langit. Begitu putih. Seperti awan bersih yang ada di langit. Wufan tersenyum pelan.

                “Kris ge.. “, Taozi muncul di depan ruangan, setelah ia membuka pintunya. Di belakangnya telah berdiri Chen, Kyungsoo, dan Suho. Wufan menegakkan sedikit posisinya. Tersenyum pada keempat namja tersebut.

                “Kau baik-baik saja?”, Suho berdiri di samping tempat tidur Wufan. Wufan mengangguk pelan, tersenyum mencoba meyakinkan mereka.

                “Apa kau makan dengan baik?”, Kyungsoo memegang kening Wufan. Mencoba merasakan suhu tubuh pria yang memiliki tubuh dimana Kyungsoo hanya sepundaknya.

                “Ne.. Gwenchana..”

                “Tubuhmu sudah tidak panas, syukurlah..”, kata Kyungsoo.

                “Sebaiknya kau menjaga kesehatan tubuhmu, hyung.. Kau tahu comeback kali ini kita akan di pecah menjadi dua bagian kembali, dan kami tidak mungkin comeback tanpa seorang leader..”, Chen mengambil sebuah apel lalu mengupas kulitnya dengan sebuah pisau.

                “Gege.. Kau yakin tidak apa-apa?”, Taozi mulai menangis.

                “Wufan tersenyum tipis. “Nde.. Aku tidak apa-apa, Taozi.. Aku akan segera sembuh. Dan aku tidak mungkin meninggalkan anak-anakku. Benarkan, Suho?”

***____________***

                Kata-kata itu hanya sebuah janji yang coba Wufan terapkan. Semakin hari, semakin jarang ia berkumpul dengan para member. Entah apa penyebabnya. Semua orang bertanya-tanya.

                “Kris ge..  Kau dimana??”, keluh Taozi saat ia mengemasi barang-barangnya untuk kembali ke Korea. Luhan yang menjadi teman sekamarnya saat itu duduk di sampingnya. Mencoba menenangkan sang maknae yang mulai panic.

                “Tenanglah.. Bukankah dia tidak akan meninggalkan kita? Mungkin dia sedang berkunjung di suatu tempat..”, kata Luhan pelan dan hati-hati.

***______________***

                Wufan belum juga muncul. Bahkan sampai semua member pulang ke Korea, untuk melanjutkan kegiatan mereka. Semua fans bertanya, dimana namja yang memiliki tinggi hampir 190 cm itu berada. Membuat semua member frustasi. Terlalu banyak comment yang ada di internet.

                “Kalian sebaiknya jangan melihat komentar apapun yang ada di internet, mengerti?”, ucap seorang wanita yang merupakan Staff agensi mereka.

                “Tapi.. Kami sendiri bertanya-tanya, Kris hyung ada di mana sebenarnya? Bukankah kalian seharusnya setiap jadwal kami?, Tanya Sehun.

                “Dia sudah bukan bagian dari kalian lagi..”, jawab Staff tersebut cepat. Wajahnya tampak memerah tidak sabaran. Beberapa kali ia harus mencoba untuk membenarkan kacamatanya yang terus saja menurun dari batang hidungnya.

                “A.. Apa?!”, Chanyeol yang hendak minum langsung tersedak. Kai harus membantunya untuk mengatur kembali lagi nafasnya dengan menepuk punggung pria yang tingginya hampir sama dengan Wufan.

                “Apa aku kurang jelas mengatakannya tadi?”

                “Tapi.. Kenapa? Apa yang dia lakukan sampai kalian harus  mengeluarkannya?! Kalian tahu dia adalah leader kami.”, ucap Tao dengan suara dingin. Matanya menatap ke lantai, membuat semua mata tertuju pada sosok yang terkenal sangat dekat dengan Wufan.

                “Dia yang memutuskan kontrak itu. Dia sudah..”, wanita itu melihat kea rah lain dimana tidak ada satupun member disana.

                “Apa?”

                “Dia sudah menanda tangani kontrak dengan agensi lain..”

                Malam itu seperti mimpi terburuk. Mimpi terburuk yang pernah ada. Berita terus menerus bermunculan di internet. Dari semua member EXO yang mempunyai akun dalam beberapa media sosial yang ada di internet yang tiba-tiba membuang Wufan dari daftarnya. Sampai kabar Wufan yang saat ini telah memutuskan kontraknya.

***_______________***

                Sebenarnya, Wufan tidak pergi. Wufan masih disini. Dia hanya membutuhkan waktu, untuk dirinya, terutama tubuhnya. Penyakit di dadanya semakin menyakitkan. Hingga akhirnya tahu, bahwa semakin lama otot jantungnya semakin melemah.

                Namja tinggi itu berjalan keluar dari sebuah rumah sakit yang ia tahu bahwa tidak akan ada satupun orang yang mengetahui tempat ia berada sekarang. Memang benar ia sudah membuat kesepakatan, bukan dengan agensi lain, melainkan dengan pihak rumah sakit lain.

                Ia merasakan handphone yang berada di tangannya bergetar terus menerus.

***__________________***

                Wufan duduk di sebuah restoran makanan di pinggiran kota Seoul. Milik keluarga  Chanyeol. Di sekitarnya sudah duduk sebelas namja yang duduk melingkari meja makan. Wufan menundukkan kepalanya.

                “Kris.. Kenapa kau menghindari kami?”, Tanya Suho. Matanya menatap lekat leader kedua dari EXO tersebut. Ia benar-benar tidak mengerti permasalahan ini. “Apa kau benar-benar memutuskan kontrak?”

                Wufan mengangkat wajahnya, membalas tatapan Suho. “Ne..”

                “Dan kau memutuskan bergabung dengan agensi lain?”, kali ini Kai yang mengeluarkan suaranya.

                Wufan menatap dancing machine itu. Kemudian tatapannya beralih pada masing-masing member. Sebenarnya ia tidak sanggup melihat setiap wajah mereka. Terlebih saat melihat Tao dan Sehun yang mulai menangis.

                Wufan menundukkan kepalanya lagi, “Ne..”

                Tangisan Tao dan Sehun semakin pecah. Bahkan Kyungsoo, Baekhyun, dan member lainnya mulai menangis sekarang.

                “Kau.. Pengkhianat, Ge!!”, isak Tao di pelukan Luhan yang mencoba menenangkannya.

***______________***

                Suasana mobil berwarna putih dengan sebelas namja di dalamnya itu hening. Semuanya sibuk dengan satu pikiran yang sama. Hanya suara isakan Taozi dan yang lainnya menatap keluar jendela. Menatap musim semi yang mulai berakhir. Menatap bunga-bunga yang mulai menutup keindahannya sendiri.

                “Hyung..”, suara berat Chanyeol memecah keheningan. Mata bulat yang di miliki pria tersebut terlihat kosong. Alisnya bertaut dengan keningnya yang mengkerut.

                “Bisa kita.. Ke rumah Kris?”, tanyanya pelan.

                “Itu tidak akan berguna.. Dia sudah memilih jalannya..”

                “Kenapa kau melepas partner mu begitu saja?!! Kenapa kau tidak melakukan apa-apa sebagai leader kami?!! Apa kau tidak melihat dia berbohong, hyung?!!”, mata Chanyeol seketika berubah. Pelupuk matanya di penuhi oleh air yang mungkin akan keluar dengan sekali kedipan.

                “Apa.. Apa maksudmu?!”, Suho menghentikan mobilnya. Menatap ke belakang, menatap Park Chanyeol.

                “Aku mohon… Aku ingin menemui Kris hyung sekali lagi..”,

***________________***

                Sebelas namja berdiri di depan rumah bertingkat dua dengan nuansa putih dan hitam. Chanyeol berdiri di depan mereka, seakan ingin menyerbu rumah itu. Suho berdiri di sampingnya.

                “Chanyeol..”

                Chanyeol mengetuk pintu rumah tersebut, menekan bel rumahnya. Menunggu pintu itu akan terbuka.

                Sesuai harapannya, pintu itu terbuka. Dengan Wufan yang ada di depannya.

                Chanyeol memberikan sebuah bungkusan berplastik hitam kepada sosok yang ada di depannya. Matanya berair, namun kemarahan itu terlihat jelas dari matanya. Sedangkan Wufan hanya menatapnya bingung.

                “Kenapa..”

                “Kenapa kau harus berbohong, Wufan?!!!”, suara besar itu terdengar lantang namun bergetar saat memanggil namanya.

                “Hyu.. Hyung..”, panggil Baekhyun.

                “Kenapa kau berbohong tentang ini?!!! Kenapa membiarkan semua member salah paham?!! Kenapa kau membiarkan orang-orang menyebutmu pengkhianat?!!! Wae?!!!”, Chanyeol mulai terisak. Tubuhnya membungkuk, sampai beberapa member harus menopang badannya. Air matanya mengalir deras. Bahkan ia sudah tidak bisa lagi mengontrol emosinya.

                Suho menatap Wufan lekat. “Sebenarnya, ada apa disini, Kris?”

                “Kau bisa melihatnya…”, Kris memberikan bungkusan plastic itu kepada Suho. Suho mengambilnya, mengeluarkan beberapa obat-obatan disana. Wufan tersenyum pahit.

                “Apa aku harus mengatakan ini pada kalian? Apa seorang leader akan lemah seperti ini?”,

                “Wufan..”, Luhan menatap sosok tinggi itu. Ia benar-benar tidak menyangka saudara jauhnya ini akan mengalami hal seperti ini.

                “Tentu tidak. Aku tidak akan bisa lagi menjadi seorang leader. Aku bahkan tidak akan bisa melindungi kalian.”

                “Tapi.. Kenapa kau tidak mengatakannya kepada kami, Ge? Bukankah kita semuanya satu keluarga?”, Taozi terisak pelan.

                Wufan kembali tersenyum pahit, “Karena kita satu keluarga, apa kita ingin membuat keluarga kalian khawatir karenamu?”

                “Kau tahu, ini semakin membuat kami khawatir. Bahkan para fans sudah banyak melakukan hal-hal gila disana karenamu..”, ujar Xiumin.

                “Aku tahu Ge.. Justru, karena itu.. Aku sudah tidak pantas lagi berada di keluarga ini. Aku tidak akan berguna lagi disini sekarang..”, Wufan kemudian membungkukkan badannya di depan sebelas namja tersebut. Air matanya mulai turun dari pelupuk mata tajam yang di milikinya.

                “Tolong.. Karena kalian keluargaku.. Biarkan aku pada jalanku sendiri.. Dan… Aku berjanji aku akan baik-baik saja disini.. Jaga fans kita, jaga keluarga kita. Aku benar-benar tidak ingin menyakiti kalian lagi, lebih jauh.. Jadi, tolong biarkan aku pada jalanku sendiri..”

***_______________***

                 “This is like David and Goliath*. I am doing well. Because everyone is cheering me on, things are getting better. I am thankful to all the people who are supporting me and the comments. Wu Yi Fan will always be here.”

                                                                                                                                                                @Galaxy_fanfan

               

               

               

               

               

45 thoughts on “Kris [freelance]

  1. Hey…
    Sorry for being your silent readers, hahaLOL
    Okay awalnya aku yakin ini pasti akan bikin nangis
    Sok2 tegar gitu bacanya nahan air mata…
    Eh ternyata…
    Saat mereka mengunjungi rumah kris’ge nangis jugak -_____-

  2. ._.*gakbisaberkatakata
    Aku kangeen siabang naga yg satu iniii, ngebayangin mereka yg udah lama sama2 dan jadi keluarga
    Smngat mnulis trus authornim*bow

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s