Chapter 1 : Devil and Angel

devil and angel

Author

rinaizawa

Cast

Park Chanyeol

Song Minji

Length

Chapter

Prologue

Chapter #1 : About You

 

##

Setelah bertemu dengan Minji, Chanyeol segera menuju ruang ganti. Mengingat sebentar lagi bel masuk akan berbunyi. Ia mengambil seragam yang ia simpan di dalam loker. Bukan langsung memakainya, Chanyeol malah menatap seragam putih itu dengan kosong. Pikirannya kembali mengingat kejadian di ruang seni tadi bersama Minji.

 

“Aku tidak menyangka kenapa kau diberikan julukan angel dan aku diberikan julukan devil?”

“Park Chanyeol!”

“Satu hal yang terlintas dalam pikiranku saat ini.”

“Mengapa – aku – menyukaimu?”

 

“Hahh. Benar – benar gila.”

Chanyeol menghela nafas. Mengapa ia berkata seperti itu di depan Minji? Mengapa ia harus mengatakan perasaan yang sudah lama ia sembunyikan selama ini? Perasaan yang hanya ia dan Tuhan yang mengetahui – mungkin sekarang Minji sudah mengetahuinya –. Sebenarnya Chanyeol tidak menyesal telah mengatakan itu semuanya. Hanya saja ia bingung. Bingung mengapa harus berkata demikian.

Memang benar Chanyeol menyukai Minji. Rasa suka itu muncul ketika mereka bertemu pertama kalinya saat hujan turun. Keduanya masih tingkat pertama di Junior High School. Waktu itu Chanyeol kebetulan melihat Minji yang belum di jemput. Dan terlihat dari raut wajahnya, Minji ingin sekali pulang cepat. Namun apa daya hujan turun sangat deras.

Chanyeol menghampiri seorang gadis yang sedang menunggu di teras sekolah –Saat itu Chanyeol belum mengetahui namanya–. Awalnya gadis itu bingung ketika Chanyeol memberinya sebuah payung berwarna merah.

“Pakailah. Kau ingin segera pulang kan?”

“Tapi …”

“Aku bisa menunggu hujan reda.”

Chanyeol memamerkan senyuman manisnya sehingga memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Meyakinkan gadis itu bahwa ia masih bisa menunggu hujan reda. Dengan ragu, gadis itu mengambil payung dari tangan Chanyeol. Pria itu merasa senang. Gadis itu tidak menolak tawarannya.

“Minji. Song Minji.”

“Park Chanyeol.”

Sejak saat itu Chanyeol mengingat nama Minji. Mencari tahu ia berasal dari kelas berapa dan bagaimana sifatnya. Setelah bertanya – tanya kepada teman sekelasnya, ada satu berita yang sedikit menyakitkan ketika Chanyeol mendengarnya. Ia tak menyangka ternyata selama ini Minji sudah memiliki seorang pacar. Dan satu hal lagi yang menyakitkan, Chanyeol tidak percaya jika pacar Song Minji adalah Wu Yi Fan, salah satu senior yang sangat Chanyeol kagumi.

Lantas keesokannya ia mulai bersikap berbeda dengan Minji. Berbeda dengan ketika ia meminjamkan payung. Ramah. Ia sengaja bersikap seperti ini. Berharap rasa sukanya akan hilang secepat mungkin.

“Ini –– payungmu. Gomawo.”

“Taruh saja disitu.”

Alis Minji tertaut. ‘Pria ini berbeda dari hari kemarin.’

Walaupun begitu, rasa suka dan cintanya kepada Minji masih belum pudar. Bahkan hingga sekarang. Maka ia yakin suatu saat nanti akan mendapatkan Minji dengan baik. Mungkin juga ia akan membuat Minji takluk pada seorang Park Chanyeol. Ia bertekad bulat waktu itu.

Apalagi setelah mendengar bahwa Minji sudah lama putus dengan Yi Fan. Awalnya Chanyeol sekedar ingin tahu apa penyebab mereka bisa putus. Namun setelah mendengar penyebabnya tidak bisa diceritakan, membuat Chanyeol semakin penasaran. Bahkan ia berkali – kali mendekati Se Hun – sahabat dekat Minji – untuk bertanya hal tersebut. Tapi Se Hun malah bertanya balik padanya.

“Apa ini urusanmu? Buat apa kau mengetahuinya?”

Rasanya Chanyeol ingin menghajar tembok yang tak berdosa saat itu juga. Salahkah jika ia bertanya? Oh tentu saja salah. Ia bukan siapa – siapa Song Minji. Bahkan mereka tidak saling akrab. Wajar saja jika Se Hun tidak menjawab dan memberi pertanyaan balik. Meski kejadian itu terjadi satu tahun yang lalu, Chanyeol tetap penasaran hingga sekarang. Ia akan mencari tahu jawaban itu nanti.

Chanyeol menutup pintu lokernya. Bersiap – siap kembali ke kelas. Namun ia sedikit kaget melihat temannya, Byun Baek Hyun, berdiri disana. Seingat Chanyeol sejak tadi ia merasa sendiri berada di ruang ini. Mengapa Baek Hyun tiba – tiba berada disini?

Baek Hyun tertawa kecil. Sepertinya Chanyeol tidak menyadari kehadirannya tadi. Pria itu kembali membuka loker Chanyeol. Ia ingin bercermin untuk merapikan rambutnya yang sedikit berantakkan. Baek Hyun tersenyum sendiri melihat pantulan bayangan di cermin. Ia sangat percaya diri jika dirinya semakin tampan.

“Byun Baek Hyun. Kau sangatlah tampan.” Ia mengerling matanya nakal.

“Gila!” desis Chanyeol.

“Aku terima pujianmu, kawan.” Baek Hyun mendengar apa yang barusan di ucapkan Chanyeol.

“Sejak kapan kau disini?”

“Sebelum kau memasang kemeja di bajumu.” Baek Hyun menutup pintu loker. “Memikirkan sesuatu?”

Bukannya menjawab, Chanyeol berlalu begitu saja. Baek Hyun tak kehabisan akal. Ia berlari menyusul Chanyeol. Mensejajarkan langkah keduanya. Namun Chanyeol tetap saja tidak peduli dengan pria disampingnya.

“Seperti Song Minji, misalnya?”

Chanyeol menoleh sekilas lalu pandangannya kembali fokus ke depan. Ia sempat mendengar Baek Hyun tertawa kecil. Seperti meremehkannya.

“Oh ayolah.”

“Baek.”

Baek Hyun menoleh.

“Apa kau tahu sesuatu?”

##

Minji kembali ke kelas dengan cepat. Jantungnya berdebar tak karuan setelah mendengar pernyataan dari Chanyeol. Walaupun begitu, wajahnya menunjukkan ekspresi datar. Seolah tidak ada masalah pada gadis yang di juluki Angel itu. Sehingga orang – orang disekitarnya tidak merasakan perubahan sikap pada Minji.

Setibanya di kelas, Minji segera menuju ke bangku duduknya. Merapikan rambutnya sesaat yang sedikit berantakkan. Pikirannya kembali melayang pada kejadian di ruang seni tadi. Saat Chanyeol mengungkapkan perasaan padanya. Minji menghela nafas berat. Seakan ada beban besar. Namun bukan itu permasalahannya. Bukan beban seperti memiliki hutang di bank atau di kejar polisi Korea Selatan. Ini berbeda.

Bukannya Minji tidak yakin atau tidak percaya dengan pernyataan Chanyeol sebelumnya. Hanya saja ia takut jika pria itu benar – benar menyukainya. Ia tidak mau kejadian beberapa tahun yang lalu kembali terulang padanya. Bahkan ia tidak ingin mengingatnya lagi sekarang. Sungguh ia berharap kalau Chanyeol hanya mengerjainya tadi.

“Ya! Song Minji!”

Hampir saja jantung Minji melompat keluar. Bisa – bisa ia mendadak masuk ruangan ICU nantinya. Minji menoleh ke samping melihat siapa yang berteriak di telinganya tadi. Kang Ji Yun. Memang gadis di sebelahnya ini suka sekali berteriak. Maka Minji bersikap seperti biasa. Mungkin jika orang lain yang melakukan ia akan marah. Namun, Minji bukanlah seseorang yang pemarah. Sekesal apapun kejadian yang ia hadapi, ia takkan menyimpan kekesalan itu lebih dari setengah jam. Semua orang tahu itu. Dan sebaliknya, hal ini berbanding terbalik dengan Chanyeol. Tak salah jika mereka di juluki Devil dan Angel.

“Ji Yun – ah. Jangan lagi.”

Ya, Minji berusaha menghilangkan sifat Ji Yun yang satu ini. Menurutnya, selalu berteriak itu tidaklah bagus. Bisa saja ada orang yang tidak menyukai sifat Ji Yun. Minji bisa menerimanya karena ia sudah hafal betul sifat seorang Kang Ji Yun – mereka sudah berteman lama – Tapi bagaimana dengan orang yang baru mengenal gadis itu? Bisa – bisa tidak ada lagi yang mnyukai Ji Yun.

“Mian.” Ji Yun mengangkat dua jari kanannya. “Mengapa kau terlihat tidak bersemangat? Oh ya, ku dengar kau meleraikan pertengkaran Park Chanyeol dan Choi Jongseok?”

Oh tidak, jangan bahas itu Ji Yun – ah, batin Minji.

Minji mengangguk. Sengaja ia tidak menjawab pertanyaan Ji Yun karena Minji memang tidak ingin membahas hal itu lagi. Sama saja mengingatkannya pada kejadian tadi.

“Daebak! Ngomong – ngomong …”

Perkataan Ji Yun terhenti saat Yoon sonsaengim memasuki kelas. Minji merasa beruntung ketika Ji Yun akan memberinya pertanyaan lagi. Ia terselamatkan dari berbagai macam pertanyaan yang akan di lontarkan Ji Yun. Biasanya gadis itu akan memberi pertanyaan yang bisa membuat seseorang terkena diare. Namun selama ini, Minji belum pernah merasakan diare akibat pertanyaan Ji Yun.

Tanpa sengaja Minji melihat Chanyeol masuk bersama Baek Hyun di belakang Yoon sonsaengnim. Mereka hampir saja terlambat jika kelas sudah disiapkan. Chanyeol sempat melihat Minji sekilas, namun gadis itu buru – buru membuang pandangannya ke sembarang arah. Ia masih malu untuk bertatap muka dengan Chanyeol. Sementara Chanyeol juga merasakan hal yang sama. Namun ia hanya bisa menujukkan ekspresi datar seperti biasanya.

“Baiklah. Sebelum memulai pelajaran, aku akan memilih siswa dari kelas ini untuk mengikuti bimbingan olimpiade pelajaran matematika.”

Suasana kelas kembali riuh. Mereka mulai menyebut nama yang akan di panggil Yoon sonsaengnim. Ada yang menyebut Minji dan ada juga yang menyebut Chanyeol. Keduanya memang termasuk pintar dalam pelajaran matematika. Bahkan keduanya adalah rival.

“Wah wah. Sepertinya kalian berdua akan terpilih.” Bisik Baekhyun. Chanyeol mendengus. Dalam hati ia akan merasa sangat senang jika mereka berdua terpilih dalam bimbingan. Artinya, mereka bisa bersama – sama dalam beberapa waktu.

“Ugh. Ji Yun – ah. Mengapa kalian menyebut namaku?” Minji sedikit risih ketika teman – teman menyebut namanya dan Chanyeol. Bukannya menjawab, Ji Yun semakin mengeraskan suaranya menyebut nama Minji.

“Sudah diam!” teriakkan Yoon sonsaeng berhasil membuat siswa di kelas tersebut diam. “Aku telah memilih namanya jauh sebelum memasuki kelas ini. Bahkan sebelum kalia meneriaki nama usulan kalian itu.” Ujarnya dengan nada khas.

“Lalu siapa yang terpilih?” celetuk Yoongi.

“Song Minji dan –“

Yoon Hyuna sengaja menjeda kalimatnya. Membiarkan siswa dihadapannya penasaran.

“Park Chanyeol.”
##

Minji berjalan menuju ke perpustakaan. Sedari tadi senyum terus terlukis di wajahnya karena ia tak sengaja bertemu dengan teman – temannya. Bahkan dari mereka ada yang menyapanya. Namun semua itu memudar ketika seorang pria muncul di hadapan Minji. Pria itu tersenyum. Sangat kaku. Berbeda dengan Minji yang memasang tatapan aneh pada sang pria.

“Hai. Yoon sonsaeng memanggil kita.”

Chanyeol merutuk kesalahannya. Mengapa ia harus memakai kata ‘hai’ untuk mengajak Minji? Ini terkesan kaku.

Minji berlalu meninggalkan Chanyeol. Ia membatalkan niatnya ke perpustakaan lalu berbalik arah menuju ruang dewan guru. Sementara Chanyeol mengikuti gadis itu dari belakang. Ia mencoba mensejajari langkah keduanya. Minji menoleh sekilas, pandangan mereka beradu. Namun ada yang aneh. Chanyeol tersenyum. Apakah ia bermimpi melihat pria itu tersenyum? Selama 2 tahun sekolah disini, baru kali ini Minji melihat senyuman Chanyeol. Jujur, Minji mengakui Park Chanyeol sangat tampan ketika tersenyum.

“Ya Song Minji ada tembok di depanmu.”

 

 

“Akh.”

 

Entah terlalu asik memandangi Chanyeol, Minji tidak memperhatikan tembok di hadapannya. Alhasil jidatnya menabrak tembok tersebut. Chanyeol menahan tawanya. Untung saja tidak ada siswa yang berlalu lalang di daerah ini. Minji meringis. Dasar Park Chanyeol kenapa ia tidak bilang sebelumnya, rutuknya. Ia merasa sangat malu sekarang.

“Kau tidak apa – apa?” Chanyeol hendak memeriksa jidat Minji, namun gadis itu menepisnya dengan cepat.

“Tidak ada yang perlu kau khawatirkan.”

Minji berjalan lagi mendahului Chanyeol. Ia tidak tahu bagaimana nasib jidatnya sekarang. Namun, panggilan Chanyeol membuat langkahnya terhenti.

“Ya! Kau mau kemana? Ruang dewan guru disini.”

 

Oh tidak!

 

Sepertinya Minji benar – benar salah tingkah. Bahkan ia bisa melupakan dimana letak ruang dewan guru. Ia menoleh ke belakang. Mendapati Chanyeol melambaikan tangannya ke arah gadis itu. Chanyeol tahu kalau Minji sedang salah tingkah, maka ia memilih bersikap seperti tidak tahu apa – apa. Padahal ia ingin tertawa sejak tadi.

Minji menunduk. Ia sangat malu. Bisa – bisanya ia bersikap seperti ini. Di depan Park Chanyeol setelah insiden tadi pagi. Entah apa yang ada di pikirannya tadi. Yang jelas ini semua akibat senyuman Chanyeol.

“Apa kau begitu gugup di dekatku?” bisik Chanyeol. Minji menatap pria itu kesal lalu menginjak kakinya.

“Argh!”

Chanyeol mengangkat kakinya sebelah yang sakit akibat di injak Minji. Sedangkan gadis itu tersenyum puas melihat Chanyeol kesakitan.

“Apa itu sakit?” sindir Minji.

“Kau benar – benar gila.” Desis Chanyeol.

Minji tidak mempedulikan Chanyeol lagi. Ia masuk begitu saja tanpa mengajak Chanyeol. Pria itu menatap Minji yang sudah masuk duluan.

‘Gadis yang unik. Di depan orang lain ia bersikap ramah tetapi di depanku ia berubah 180 derajat.’

Chanyeol menyusul masuk ke dalam. Ia berdiri tepat di samping Minji. Gadis itu memandangnya sinis. Sedangkan yang di tatap malah bersikap biasa saja. Seolah tatapan dari Minji hanya angin yang berhembus di sekitarnya.

Yoon Hyuna, sedang asyik dengan iPadnya. Ia tidak menyadari kehadiran siswa yang ia panggilnya. Hingga Minji memberi kode untuk berdehem. Ia tidak ingin berlama – lama berada disini. Terlebih lagi karena Chanyeol ada disini.

“Ah mian. Aku terlalu asik.” Hyuna tersenyum kikuk. “Sebenarnya aku hanya ingin mengatakan kalau hari ini aku tidak bisa membimbing kalian. Bagaimana jika kalian belajar berdua?”

Sebentar … ia mengatakan belajar – berdua? Dengan gadis itu? Antara Chanyeol dan Minji? Apa Chanyeol bermimpi yang indah semalam? Benar – benar tidak bisa di percaya. Chanyeol melirik Minji sekilas. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun seperti senang misalnya. Atau ia tidak menyukai belajar bersamaku? Ck!

“Hanya hari ini?” tanya Minji yang di jawab dengan anggukan Yoon sonsaengnim.

“Ya. Hanya hari ini.”

Chanyeol diam. Menunggu kalimat dari gadis ini. Jika sudah berada di dekat Minji, ia malas untuk berbicara. Namun sudah 2 menit waktu berjalan gadis itu masih saja diam. Mungkin ia menginginkan pria itu yang berbicara.

“Baiklah. Kami akan belajar bersama.” Hanya itu yang dapat ia katakan. Berbicara panjang akan membuat mood Minji memburuk.

“Aku akan menyerahkan materinya nanti. Saling belajar satu sama lain, jika ada yang tidak di mengerti kalian bisa menanyakan besok.”

Rasanya tidak terlalu buruk juga belajar bersama Song Minji, menurut perasaan Chanyeol. Setidaknya ia bisa berkenalan satu sama lain. Atau bisa mengenal Minji lebih dekat. Yang jelas, Chanyeol tidak seburuk yang Minji lihat selama ini. Pria itu bertekad akan berubah di hadapan Minji demi mendapatkannya.

“Baiklah.”

Setelah berpamitan, Minji keluar lebih cepat. Meninggalkan Chanyeol lagi. Dalam benaknya, mengapa ia harus belajar bersama Chanyeol? Apa pria itu akan menganggunya lagi nanti? Entahlah. Ia berharap tidak. Minji ingin benar – benar fokus pada olimpiade ini. Ia ingin mewakili sekolah. Membawa nama baik sekolah. Namun, ia harus ingat. Sebelum mewakili sekolah, ia dan Chanyeol diseleksi terlebih dahulu. Ini artinya ia harus belajar sungguh – sungguh jika ingin mewakili sekolah.

Tak lama kemudian, Chanyeol keluar. Saat ia ingin menyapa Minji, seseorang telah berjalan berdampingan dengan gadis itu. Dari kejauhan Chanyeol bisa menebak siapa orang itu. Oh Se Hun. Sahabat dekat Minji. Kalau sudah begini, Chanyeol hanya bisa diam dan tidak banyak berbicara.

“Jangan lupa sepulang sekolah di kelas 2-3. Aku menunggu mu disana.” Hanya itu yang Chanyeol ucapkan sebelum berlalu depan Minji dan juga Se Hun.

Minji menatap Chanyeol aneh. Seingatnya, pria itu baik – baik saja. Bahkan ia terlihat ramah tadinya. Dan sekarang? Benar – benar berbeda.

“Kau dan dia? Ada urusan apa?” tanya Se Hun setelah Chanyeol menjauh.

“Hanya belajar.”

“Ku dengar kalian mewakili sekolah..”

“Sepertinya.” Minji menjawab singkat. “Se Hun, apa yang kau ketahui tentang Park Chanyeol?’

Langkah Se hun terhenti. Ia menoleh ke arah Minji. Sedikit kaget ketika mendengar Minji ingin mengetahui tentang Devil di sekolah ini. Tidak biasanya. Sebab yang Se Hun tahu, Minji tidak pernah ingin mengetahui tentang Chanyeol. Apapun itu.

“Ada apa memangnya?”

“Jawab saja.”

Bukannya menjawab, Se Hun malah tertawa membuat gadis itu berdecak kesal.

“Apa aku salah menanyakannya?” sungut Minji.

“Tentu saja salah Ji – ya. Tidak biasanya kau ingin mengetahui tentang pria itu. Apalagi dia rival mu, kan?” Se Hun masih saja tertawa.

“Rival? Aku tidak pernah menganggap dia rivalku.”

“Oh ayolah. Semua orang sudah menilai kalian sebagai rival dengan sifat yang berbeda. Yang satu berhati malaikat dan satunya berhati iblis.” Se Hun mengambil permen di kantongnnya dan memberikan pada gadis itu.

“Itu hanya pandangan kalian saja. Lagipula aku tidak merasa tersaingi dengan pria aneh itu.” Minji sedikit bohong dengan kalimatnya. Kadang ia merasa tersaingi dengan Chanyeol. Melihat nilai ujian mereka tidak pernah jauh berbeda. Selalu saja memiliki selisih nilai sedikit.

“Aku tidak yakin. Sewaktu – waktu ia bisa saja mengalahkanmu Minji.”

“Sekarang cukup jawab pertanyaanku Oh Se Hun.” Gadis itu mengembalikan topik yang sempat tergantikan.

“Kau mau aku menceritakan yang mana? Paling tidak kau tahu sedikit tentang Chanyeol bukan?”

“Aku benar – benar tidak tahu apapun tentangnya.”

Minji jujur. Ia tidak tahu apapun tentang Chanyeol. Sekalipun mereka sekelas, ia tidak pernah melirik pria tinggi itu. Bahkan ia sering lupa kalau Chanyeol siswa di kelasnya juga.

Mungkin yang ia tahu hanya ; Chanyeol siswa pintar meskipun tidak disiplin dalam segala aturan. Terbukti dari keseharian pria itu yang dilihat oleh Minji. Selebihnya? Bahkan Minji tidak tahu

“Benarkah? Apa kau juga tidak tahu jika Chanyeol menyukaimu sejak sekolah menengah pertama?”

Langkah Minji mendadak berhenti. Ia menoleh ke arah Sehun yang sedang tersenyum aneh. Lebih tepatnya senyum penuh misteri. Apa Sehun tahu tentang kejadian tadi pagi? Atau ia mengetahui sesuatu yang lain yang tidak diketahui Minji?

##

Bel sudah berbunyi lebih dari tiga kali. Menandakan jam pulang untuk seluruh siswa. Namun tidak untuk Chanyeol dan Minji. Seperti perintah Yoon sonsaengnim, mereka harus belajar bersama untuk pertama kalinya.

Jujur, Minji sedikit malas mengikuti bimbingan. Hanya satu hal yang membuat ia malas. Park Chanyeol. Entah kenapa gadis itu selalu merasa kalau Chanyeol telah menganggu kehidupannya sejak tadi pagi atau sekitar tujuh jam yang lalu. Dan Minji sedikit menyesal harus berurusan dengan pria itu tadi. Jika tidak, mungkin ia tidak mempedulikan siapa Chanyeol itu.

Tiba – tiba, pertanyaan Sehun tadi kembali terlintas dalam benaknya.

 

“Benarkah? Apa kau juga tidak tahu jika Chanyeol menyukaimu sejak sekolah menengah pertama?”

 

“Chanyeol? Sekolah menengah pertama?” Minji berbicara pada dirinya sendiri.

 

*

“Kemana gadis itu? Sudah 10 menit bel berbunyi.” Chanyeol menggerutu pelan setelah menunggu Minji yang tak kunjung hadir.

Bosan menunggu gadis itu yang sedikit lama, Chanyeol berniat mengeluarkan ponselnya untuk bermain game untuk menghilangkan rasa bosan. Lagi pula ia sedikit mengantuk dan ingin tidur siang. Andai saja bimbingan belajar ini tidak ada, mungkin ia sudah terbaring di kasur empuknya.

15 menit kemudian, Minji datang dengan setumpuk buku di tangannya. Chanyeol yang sedikit memejamkan matanya begitu kaget ketika Minji melempar buku ke atas meja tepat di dekat kepalanya.

“Ya! Kau gila?” Chanyeol sedikit emosi karena tidur singkatnya terganggu.

“Yasudah kalau tidak ingin belajar.” Minji acuh. Ia tak peduli jika pria itu tidak ingin belajar denganya. Toh, ia masih bisa belajar sendiri.

“Aishh. Baiklah – baiklah. Aku minta maaf.” Chanyeol akhirnya mengalah. Ia tidak ingin berdebat dengan Minji untuk kali ini.

Gadis itu tersenyum tipis. Ia mulai meletakkan buku – buku itu dengan pelan. Chanyeol mengambil salah satu buku yang di bawa Minji. Berhubung dia tidak punya buku apapun.

“Aku akan baca terlebih dahulu materinya.” Gadis itu hanya mengangguk.

Keduanya larut dalam kegiatan membaca masing – masing. Chanyeol melirik Minji sekilas. Tiba – tiba ia tidak ingin belajar melainkan mengajak Minji berbicara. Mungkin karena tidak ada pengawas maka ia sedikit merasa bebas.

“Song Minji.”

“Hm?’

“Aku minta maaf atas perbuatan ku tadi pagi.”

Minji menoleh sekilas. Chanyeol sedang menatapnya dengan penuh penyesalan. Entah itu bisa dipercaya. Ia sedikit meragukan pria itu.

“Kau seharusnya meminta maaf pada Jongseok.” Lalu kembali fokus pada bacaannya.

“Tapi –“

“Sudah diam. Aku ingin belajar.”

Chanyeol mendengus kesal. Ia tidak suka bagaimana Minji memperlakukannya. Berbeda dari yang lain. Bukannya ia seorang ‘angel’? Apakah seorang angel seperti ini? Rutuk Chanyeol dalam hati. Ia tidak jadi semangat belajar. Kembali ia melihat Minji yang masih fpkus.

“Ya, kenapa kau yang bersikap dingin seperti ini? Bukannya orang lain bilang kau selalu ramah?” Chanyeol sedikit protes

Astaga pria ini benar – benar, umpat Minji dalam hati. Ia tidak habis pikir bagaimana Chanyeol tidak fokus dalam belajar pertama. Namun kata – kata Chanyeol barusan mengingatkan Minji pada satu hal. Bukankah pria itu orang yang sangat dingin, cuek, dan juga – tidak ramah. Tapi bagaimana bisa didepannya Chanyeol berubah total?

Kata – kata Sehun tadi kembali terlintas dalam pikirannya. Minji menggeleng. Berusaha menepis itu semua.

“Park Chanyeol, kalau kau tidak ingin belajar silahkan pulang saja.” Hanya itu yang bisa ia katakan. Setidaknya pria dihadapannya ini bisa diam hingga kegiatan diskusi ini selesai.

“Dasar.” Chanyeol kembali menyibukkan dirinya dengan buku – buku. Berusaha membacanya walau ia tahu otaknya tidak menyerap apapun saat ini. Setidaknya 1 atau 2% mungkin akan teringat dalam pikirannya.

 

Ddrtt. Ddrtt.

 

Sebuah ponsel berwarna putih berdering. Milik Minji. Gadis itu ingin mengangkatnya, namun ia sedikit ragu ketika melihat tidak ada nama pada kontak tersebut.

“Halo.”

“Lama tak bertemu, Jiji – ya.”

To be continue

Hai, meet with me again ^0^

Thanks for click continue and read it ^^

Please leave your comment after you read it. ‘Cause your comment can be support for me ^^v

See you😀

rinaizawa | adorableree

99 thoughts on “Chapter 1 : Devil and Angel

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s