Posted in Chapter, Drama, EXO-K, Family, Fanfiction, MULTICHAPTER, Romance, SCHOOL LIFE, Se Hun, sehunblackpearl

[CHAPTERED] Mr. Friday (Part 9)

Mr Friday 5 copy

Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 | Part 7 | Part 8

Tittle : Mr. Friday

Author : Sehunblackpearl

Main Cast :

–  Park Bo Ram (OC)

–  Oh Sehun (EXO)

Supported Cast :

–  Yoona (SNSD)

–  Park Chanyeol (EXO)

Genre : Romance, schoollife

Rated : PG-15

Summary : Ini cinta pertama Bo Ram. Entahlah cinta pertama yang kesampaian atau tidak kesampaian. Cinta pertama katanya lebih sering membuat sedih. Tapi yang dirasakan Bo Ram, tidak dapat dijelaskannya sendiri. Cinta pertama yang serumit ini apa ada gadis lain yang mengalaminya? Kenapa dia terlibat hubungan cinta yang terlalu rumit dan berbelit-belit begini? Ada Bo Ram, Sehun, Jong In, Hye Ju, dan wanita ini yang ada di kamar Sehun, duduk di atas tubuh setengah telanjang pria itu. Bo Ram muak.

Disclaimer : Plot dan isi cerita absolutely mine. Exo milik SM Entertainment tapi Sehun punya saya 🙂

Warning : I don’t accept bash and can’t tolerate siders and plagiator. Respect please! 🙂

A/N: Dear Silent readers, please stop being such a pain in the ass 🙂 Mulailah memberikan komentar. Jangan perkosa hak saya sebagai penulis^^ Saya menghargai walau komentar kalian sesingkat apapun. Tapi bagusan kalau panjang-panjang juga sih xDDD Also i’m so sorry for my fellow reader. Maap yah kalau kalian kelamaan nunggu. Dan ini mungkin waktu yang gak begitu tepat buat update. Mungkin para reader sekarang lagi pada mudik dan mana ada yang sempat baca ff xDDD  Author note di akhir cerita nanti dibaca yah, ada pengumuman penting /jiaaah bahasanya-_- mana di bold lagi-____-/

Banyak yg berspekulasi soal Yoona juga yah, ada yg benar juga sih praduganya tp banyak yg ga bener. Langsung aja main kesel ama Sehun. Haha . Pokoknya kalian baca aja deh 🙂 Happy reading chingu-ya!^0^

^^Mr. Friday^^

Bo Ram membeku di tempat ia berdiri. Seolah kehilangan seluruh kekuatannya bahkan untuk hanya bergerak seinci pun. Ingin mengatakan sesuatu tapi tidak bisa. Dia terlalu shock melihat Sehun yang entahlah habis atau sedang melakukan apa dengan wanita ini. Bo Ram memutuskan bahwa melempar sendal rumah yang dipakainya pada Sehun adalah hal terbaik yang dapat dilakukannya sekarang. Jadi dia melakukannya lalu berbalik, meninggalkan kamar Sehun dan Sehun yang kebingungan serta wanita itu yang tidak mengerti apa-apa.

Bo Ram pura-pura tidak mendengar teriakan Sehun memanggilnya “Yaak Bo Ram. Kau kenapa?” dan “Kau mau kemana?” Bo Ram terus berlari keluar rumah Sehun, tidak peduli menggunakan sendalnya terlebih dahulu. Dia langsung menuju rumahnya, menerobos masuk dan mengabaikan ibu Sehun dan ibunya yang mengerutkan wajah dan bertanya “Bo Ram? Kenapa kau cepat sekali kembali? Apa Sehun sudah meminum obatnya?” Bo Ram langsung naik ke lantai dua, masuk kamarnya dan menguncinya.

Sehun tentulah laki-laki paling brengsek yang bernafas di dunia ini. Dan Bo Ram heran bagaimana dia bisa terlibat begitu jauh dengannya. Salahkan dirinya sendiri yang walaupun sudah tau Sehun punya dua pacar tapi tetap mau bermain-main dengannya. Bo Ram membuat hatinya sendiri terluka. Sehun memang brengsek dan dia idiot mau dengan sadar dipermainkan Sehun seperti ini.

“Bo Ram…” suara Sehun dari balik pintu memanggilnya. “Bo Ram, kau kenapa?” tanya Sehun dengan suara beratnya kalau sedang sakit.

Bo ram mengutuk hatinya yang di saat begini masih saja bergetar tak tentu mendengar suara Sehun. Bukan, bukan suara Sehun. Itu suara Mr. Friday. Mr. Friday yang sangat disukainya.

“Bo Ram, kurasa kau salah paham.” ujar Sehun lagi dari balik pintu. Suaranya lemas dan jelas sekali terdengar kalau dia terengah-engah, kehabisan napas. Entah karena berlari mengejar Bo Ram atau karna alasan yang lainnya.

“Pergilah Sehun. Aku tidak mau mendengarmu.” sahut Bo Ram malas.

“Ya, tapi kau sepertinya salah paham. Biarkan aku menjelaskan dulu.” kata Sehun lagi. “Tolong buka pintunya.”

“Kau mengesalkan sekali sih.” Teriak Bo Ram, dia melempar bantalnya ke pintu yang tertutup. Walaupun tau bantal itu tidak akan mengenai Sehun tapi dia ingin melampiaskan kemarahannya. “Kubilang pergi. Pergi. Pergiii!!!” Bantal, boneka, selimut, dan semua yang dapat dijangkau tangannya dilemparkan Bo Ram ke pintu.

Hening sejenak.

“Baiklah.” Sehun menghela napas, menyerah. Tidak ada gunanya bicara sekarang. Sehun tidak mengerti kenapa Bo Ram sampai semarah ini. Apa yang dilakukannya yang begitu salah sampai Bo Ram bereaksi begini?

Bo Ram mendengar langkah kaki Sehun yang menjauhi kamarnya dan dia menghela napas berat. Akhirnya pria itu pergi juga.

Bo Ram menatap kosong ke jendela kamarnya yang berhadapan langsung dengan jendela kamar Sehun. Jendela itu tertutup. Ck apa yang dilakukan Sehun di kamarnya dengan wanita dewasa begitu, setengah telanjang dan jendela kamarnya ditutup? Supaya Bo Ram tidak lihat?

Bo Ram menenggelamkan wajahnya ke bantal yang masih ada di atas tempat tidurnya. Dia kesal. Sehun penyebabnya. Sejak pria itu masuk dalam kehidupannya rasanya setiap hari suasana hati Bo Ram hanya berdasarkan apa yang dilakukan dan tidak dilakukan Sehun. Sehun membuatnya senang. Membuatnya kesal. Membuatnya marah. Membuatnya menangis, kecewa, berdebar-debar, dan mengalami perubahan mood yang begitu cepat setiap harinya.

Ini… cinta pertama. Entahlah cinta pertama yang kesampaian atau tidak kesampaian. Cinta pertama katanya lebih sering membuat sedih. Tapi yang dirasakan Bo Ram, tidak dapat dijelaskannya sendiri. Cinta pertama yang serumit ini apa ada gadis lain yang mengalaminya? Kenapa cinta pertamanya harus dengan pacar sahabatnya sendiri yang punya dua pacar? Dan kenapa dia terlibat hubungan cinta yang terlalu rumit dan berbelit-belit begini?

Ini bukan hari jum’at dan bukan hari flying Bo Ram. Dan sepertinya hari ini dia betul-betul jatuh. Bahkan sebelum dia merencanakan untuk terbang. Sehun sendiri yang mematahkan sayapnya.

Dan Bo Ram menangis di atas bantalnya.

^^Mr. Friday^^

Sehun turun dari lantai dua dan langsung bertemu dengan ibunya serta ibu Bo Ram yang menatap dia penasaran.

“Apa yang kau lakukan padanya?” ibunya langsung bertanya begitu sosok Sehun cukup dekat untuk dapat dimarahinya. Dia menatap tubuh bagian atas Sehun yang tidak ditutupi sehelai kain pun.

“Tidak tau.” Jawab Sehun seadanya.

“Kau tidak habis… melakukan hal yang tidak pantas padanya kan?” tanya ibunya lagi jelas menuduh.

“Tidak. Tentu saja tidak.” Sehun mengernyitkan keningnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. “Aku tidak mungkin melakukan apa-apa.”

“Eomma tidak percaya.” Kata Nyonya Oh lagi, yang langsung dipotong oleh ibu Bo Ram sebelum Sehun bahkan sempat membuka mulutnya untuk berbicara.

“Ah, sudahlah. Bo Ram memang kadang suka begitu. Marah-marah tidak jelas. Tidak usah dipikirkan Sehun.” Katanya dan dia tersenyum ramah pada Sehun.

Sehun mengangguk kemudian berbisik pelan “Kurasa dia ada sedikit salah paham.”

“Eh?”

“Ah, tidak. Tidak apa-apa.” Sehun kemudian memaksa otot-otot wajahnya untuk membentuk senyum lalu dia membungkuk hormat pada dua wanita itu. “Aku kembali ke rumah dulu kalau begitu.” Ujar Sehun. Nyonya Oh dan Nyonya Park mengengguk. Dan Sehun keluar dari rumah itu.

“Gadis tadi itu yang namanya Bo Ram?” adalah hal pertama yang didengar Sehun begitu dia melangkah masuk ke dalam rumahnya.

Yoona berdiri di dekat pintu, sengaja menunggu Sehun kembali dari mengejar gadis yang tadi tiba-tiba saja muncul di pintu kamar Sehun dan melemparnya dengan sendal. Tangannya dilipat di depan dada dan dia mengernyitkan keningnya, menunggu jawaban dari Sehun.

Yang ditanyai malah diam saja dan dengan malas berjalan melewatinya. Sehun menghempaskan badannya di atas sofa.

“Tadi itu Park Bo Ram kan?” Yoona tidak menyerah. Dia berjalan ke tempat Sehun meletakkan badannya. “Kenapa dia bersikap seperti tadi?” tanyanya lagi.

Sehun hanya menghela napas. Dia sendiri ingin tau jawaban untuk itu. “Tolong pijit punggungku lagi.” katanya.

“Aku tidak sengaja pulang untuk memijit punggung bodohmu itu.” Ujar Yoona kesal karna Sehun bukannya menjawab pertanyaannya, malah menyuruhnya memijit punggung. Adik yang tidak sopan dan tidak ada manis-manisnya sama sekali.

“Kau juga tidak sengaja pulang hanya untuk menanyakan yang mana Bo Ram kan?”

“Baiklah.” ujar Yoona akhirnya. Sehun sepertinya sedang kesal sekali. Entah apa yang dikatakangadis tadi padanya. Dia naik ke atas pinggang Sehun lagi dan melakukan apa yang sempat terhenti karna kehadiran Bo Ram tadi. “Lihat semua bekas pukulan ini.” ujarnya sambil memperhatikan bercak merah di tubuh Sehun, bekas dipukul ayahnya semalam. “Aigoo kau ini memang nekat sekali.”

“Biar saja.” sahut Sehun seadanya, tidak tertarik membalas perkataan Yoona lebih jauh.

“Yang tadi itu memang Bo Ram kan?” tanya Yoona sekali lagi, menghentikan aktivitas memijit punggung Sehun. Dan dia mendekatkan wajahnya ke wajah adik satu-satunya itu.

“Ya.” jawab Sehun menggumam.

“Kalian tidak seperti pasangan yang baru berciuman panas di pagar rumah sendiri semalam.” komentar Yoona.

“Bukan urusanmu.” Jawab Sehun kesal.

“Kenapa kau jadi sensitif begitu?” balas Yoona dan dia mencubit pipi Sehun gemas membuat Sehun semakin kesal. “Haha kau sekesal itu karna dia marah padamu kan?”

“Aku tidak kesal. Minggir kau. Aku mau duduk saja.”

Menuruti perintah Sehun, Yoona menyingkir dari pinggang Sehun. Dia tersenyum geli melihat tingkah adiknya yang jarang seperti ini.

“Tapi wajahmu berkata lain.”

Sehun hanya diam. Ya dia memang kesal. Kesal dengan Bo Ram yang membuatnya bingung. Sejak mengenal Bo Ram dunianya serasa berbalik. Bo Ram gadis yang paling menarik hatinya sampai sekarang. Tapi gadis itu bermain sangat sulit untuk didapatkan. Memang tidak sesulit itu. Bo Ram membalas perasaannya begitu juga tiap ciumannya, dari yang pertama hingga yang semalam. Semua berbalas. Tapi itu yang membuatnya semakin membingungkan. Bo Ram menunjukkan kalau dia punya perasaan yang sama dengan Sehun. Tapi di saat yang sama dia juga terus saja menghindar dan melarikan diri. Entah apa yang ditakutkannya.

Kadang dia terlihat sangat jatuh cinta tapi kemudian dia tiba-tiba saja menangis tidak jelas. Dia menghindar lalu muncul lagi dengan sendirinya tanpa dicari. Menghindari ciuman Sehun dan hari belum sempat berganti, dia sudah membalas setiap ciuman Sehun, membiarkan Sehun menyentuhnya lebih jauh. Bo Ram gadis paling labil yang sudah dikencaninya sejauh ini. Dan lagi Bo Ram malah pacaran dengan Jong In, selingkuhan Hye Ju. Ditambah fakta kalau Bo Ram sahabat Hye Ju tidak membantu sama sekali.

Cubitan keras di pipinya membuat Sehun berteriak kesakitan sekaligus tersadar dari lamunannya.

“Bengong saja.” Kata Yoona cuek saat Sehun menatapnya terganggu. “Kau pikir hanya Bo Ram yang perlu dipikirkan hah?”

“Aku…..” Sehun menundukkan kepalanya. “Tidak mengerti dia.”

“Hah?”

“Kubilang aku tidak mengerti. Dia membuatku bingung.”

“Apa-apaan? Ini tidak seperti kau.” Kata Yoona menanggapi. Dia menatap Sehun jauh lebih bingung. “Memangnya apa yang dilakukannya yang membuatmu bingung?”

“Semua.” Sehun menghela napas lagi. Rasanya seluruh semangat hidupnya sudah keluar dari tubuhnya bersamaan dengan napas yang dihembuskannya tadi.

“Aigoo cinta pertama memang memusingkan.”

Sehun tertegun mendengar kata-kata Yoona. Cinta pertama? Bo Ram bukan cinta pertamanya. Memang benar, dia baru pertama merasakan yang seperti ini. Begitu dalam menyukai seorang perempuan. Tapi ini bukan cinta pertama. Dia yakin itu. Dia tertarik dengan Bo Ram. Sangat tertarik. Tapi ini bukan cinta.

“Aku.. tidak jatuh cinta.” bisiknya hampir kepada dirinya sendiri. “Aku.. tidak pernah jatuh cinta dan tidak akan dalam waktu dekat ini.”

“Dan kau uring-uringan begini hanya karna dia marah padamu?” jawab Yoona cepat. “Kau masih bilang kau bukannya jatuh cinta.” Yoona menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dasar. Sekeren apapun, tetap saja bocah. Kau itu jatuh cinta. Cinta pada Bo Ram. Park Bo Ram. Terima kenyataan itu. Bocah.” Yoona mencibirkan bibirnya setelah menyebut Sehun bocah.

Yoona bingung bisa-bisanya Sehun menyangkal perasaannya saat yang dibicarakannya setiap hari melalui telepon adalah tentang gadis tetangganya itu. Dari tawa Sehun yang selalu didengarnya tiap kali membicarakan gadis itu saat dia menelepon Yoona, Yoona tau kalau Sehun sudah jatuh terlalu dalam, dalam perasaannya pada Bo Ram. Dan Sehun masih bisa bilang kalau dia tidak jatuh cinta? Adiknya ini ternyata memang masih bocah.

^^Mr. Friday^^

Bo Ram menyandarkan kepalanya di pohon di belakang bangunan sekolah. Menghela napas lebih dari ratusan kali. Rasanya lemas sekali. Dia kehilangan seluruh semangatnya.

Tiga hari sejak kejadian itu. Bo Ram betul-betul mengabaikan Sehun sama sekali. Tidak mau keluar rumah kecuali ke sekolah. Mengunci jendelanya rapat-rapat dan mengabaikan setiap telepon dan pesan dari Sehun.

Mungkin dia salah melakukan hal seperti ini tapi mengingat kembali Sehun yang sedang tidur menelungkup dengan tubuh setengah telanjang dan gadis itu duduk di atasnya membuat darah Bo Ram mendidih. Dia ingin merebus Sehun dengan darahnya itu.

Dia memang sedikit merasa bersalah saat tadi pagi dia mendorong Sehun jauh-jauh darinya. Padahal pria itu sudah dengan sengaja menunggunya di depan pagar rumahnya, berharap dapat berbicara walau hanya sebentar dengan Bo Ram. Melihat wajah Sehun yang betul-betul mendung dan penampilannya yang sedikit kacau, dia bahkan belum menyisir rambutnya, Bo Ram sedikit tergerak hatinya. Tapi mengingat Sehun yang sudah selalu mempermainkannya, emosi menguasai dirinya lagi. Jadi dia mendorong Sehun, menyuruh Do Bi menahannya agar tidak bisa mendekati Bo Ram dan berlari cepat-cepat ke halte. Jadi hari ini usaha Sehun untuk menjelaskan apapun yang dirasanya perlu untuk dijelaskan, gagal. Karna Bo Ram menolak mendengar.

“Hhhh….” Bo Ram menghela napasnya entah untuk yang keberapa ratus kalinya hari itu.

Terserah dia mau salah paham atau apa saja. Tetap tidak mengubah kenyataan kalau sehun sudah dan sedang mempermainkannya. Sehun punya dua pacar dan berniat menjadikannya yang ketiga. Dia sudah tidak mau. Karna itu selama tiga hari ini dia menghindari Sehun di rumah dan di sekolah. Kalau di sekolah, dia memanfaatkan Jong In sebagai tamengnya.

Tapi kalau saat ini, dia sedang membolos. Dia sudah cukup lelah dengan semua omong kosong tentang Sehun dan dia tidak sedang dalam mood untuk mendengarkan ceramah Guru Sejarahnya. Jadi dia memilih melarikan diri dari kelas dan beristirahat di bawah pohon besar yang ada di belakang bangunan sekolah. Mengistirahatkan hati dan pikirannya sejenak.

“Bo Ram.” Bo Ram terkejut mendengar suara pria yang sedang tidak ingin didengarnya. “Sedang apa kau di sini?” tanya suara itu.

“Chayeol Oppa?”

Pria tinggi itu menunjukkan senyum idiot saat Bo Ram berbalik menatapnya.

“Membolos?” tanya Chanyeol, dia mengambil tempat duduk tepat di samping Bo Ram.

“Seperti yang kau lihat.”

“Kau ini nakal juga yah ternyata.” Kata Chanyeol dan dia tertawa renyah dengan suara beratnya itu.

“Haha sedang tidak ingin mendengar sejarah. Oppa sendiri?”

Chanyeol diam sejenak, menatap lurus ke depan. Lalu menjawab dengan ragu-ragu “Sedang tidak ingin ada di kelas itu.”

Bo Ram menatap Chanyeol yang tidak biasanya tenang itu. Dia, Chanyeol hanya duduk dan diam, tidak hiperaktif seperti biasanya.

“Oppa…” panggil Bo Ram lembut membuat Chanyeol segera mengalihkan pandangan padanya. “Apa kau ingin membicarkannya?” tanya Bo Ram ragu. Dia sendiri tidak tau apa yang ingin dibicarakan Chanyeol atau apa yang dapat dilakukannya untuk membantu Chanyeol dengan masalahnya. Tapi mungkin dia bisa sedikit mendengar kalau Chanyeol sedang ingin mencurahkan isi hatinya.

Chanyeol hanya diam. Mengunci mulutnya rapat-rapat. Dan dia mencabuti rumput yang ada di dekat kakinya.

“Aku…” ujarnya pelan, masih tidak yakin apakah Bo Ram orang yang tepat untuk membicarakan masalahnya. “Apa menurutmu kami salah?” mempertemukan matanya dengan mata Bo Ram.

“Eh? Oppa dengan….” Bo Ram sengaja menggantungkan kalimatnya.

“Baek. Apa yang kami lakukan ini salah?”

Bo Ram terdiam sejenak, tidak tau harus menanggapi apa. Dia sendiri tidak pernah mengalami ataupun menjalani hubungan sesama jenis seperti itu. Tentu saja.

“Aku…tidak tau.” jawabnya akhirnya.

Chanyeol menundukkan kepalanya, kecewa dengan jawaban Bo Ram. Yah, memangnya apa yang diharapkannya akan dikatakan oleh gadis yang bukan homoseksusal.

“Maaf oppa tapi aku tidak mengerti.” Bo Ram meminta maaf dan dia benar-benar menyesal karna dia tidak bisa membantu pria tinggi itu sama sekali.

“Sudahlah, tidak apa. Tidak usah dipikirkan. Aku hanya sedikit iseng.” Chanyeol berusaha tersenyum tapi Bo Ram melihat jelas guratan kecewa yang jelas tergambar di wajahnya. Dan dia kembali menundukkan kepalanya dan mencabuti rumput di dekat kakinya.

“Aku… mungkin tidak tau apa yang terjadi dengan kalian.” Bo Ram membuka suara lagi. Dia menatap Chanyeol iba. Sunbaenya yang satu ini tidak biasanya terlihat semenyedihkan sekarang. “Tapi oppa, yang kutau kalau kau memang mencintainya, kau tidak perlu mempeduikan pendapat orang lain. Kau mencintainya. Titik. Tidak tau itu benar atau salah. Melanggar moral atau tidak. Menyakiti orang lain atau tidak. Yang jelas kalian saling mencintai. Lalu kenapa kalau orang menganggap itu salah? Itu bukan urusan mereka. Bukan hak mereka untuk menilai atau menjuri kalian. Orang lain tidak seharusnya ikut campur.” Berhenti sejenak, menarik napas panjang. “Itu… cinta kalian. Benar atau salah. Baik atau tidak. Hanya kalian yang berhak menentukan.”

Chanyeol menatap Bo Ram, kagum dengan pemikirannya. Dia tersenyum tulus pada Bo Ram dan berkata “terima kasih.”

“Ya, oppa.”

Ironis. Dia memberi nasihat yang demikian pada orang lain, padahal masalah cintanya sendiri tidak dapat diatasinya. Cintanya kepada Sehun itu salah, sangat salah. Dan dia memilih melarikan diri dari kenyataan itu, bukannya menghadapinya. Dia menghindari Sehun. Dia takut terluka. Pada akhirnya yang dilakukannya tidak sebijak yang dikatakannya.

“Aaahh untunglah aku memilih datang ke sini.” ujar Chanyeol sambil meletakkan kepalanya di pohon dan dia bernapas lega. “Kau betul-betul adik yang baik, Bo Ram.”

Bo Ram tersenyum. Dia senang bisa setidaknya membantu percintaan orang lain walaupun dia sendiri sangat tidak tertolong mengenai perasaannya juga hubungannya dengn Sehun.

“Ngomong-ngomong kau sendiri bagaimana dengan Sehun?” pertanyaan Chanyeol ini membuat Bo Ram terlonjak kaget.

“Ss.. Sehun? Aku.. eng.. kami.. tidak…” Bo Ram begitu terkejut dengan pertanyaan yang tiba-tiba dan tidak diharapkannya. Lagipula kenapa Chanyeol menanyakan dia dan Sehun sedangkan yang seharusnya ditau sunbaenya ini dia pacaran dengan Jong In.

“Jangan sangkal kau ada apa-apa dengannya.” Chanyeol terkekeh dengan suara bass nya yang sangat khas.

“Itu…”

“Aku lihat kau juga waktu dia menjemput motornya di rumahku.” dan dia tersenyum lebar, seolah-olah dia tidak sedang galau sedikitpun tadi.

“Oppa lihat?”

“Tentu saja aku lihat.”

Bo Ram menghela napas berat. Jadi Chanyeol sudah tau tentang hubungannya dengan Sehun. Sepertinya mereka tidak begitu pandai menyembunyikannya. Chanyeol tau, Hye Ju tau, Orangtua Sehun tau, begitu juga sepertinya dengan orangtuanya.

“Kau juga sudah melakukan sesuatu yang salah eh?” kata Chanyeol lagi diiringi dengan tawa ringan. Sisa-sisa kegalauannya yang tadi tidak terlihat lagi sedikitpun.

“Hhh… entahlah. Aku tidak mengerti. Entah kenapa aku tidak bisa lepas darinya.” jawab Bo Ram lemas. Dia menurunkan bahunya tidak bersemangat dengan topik yang sedang mereka bicarakan ini.

“Kalau begitu menyukainya, kenapa kau berpacaran dengan Jong In?”

“Aku… bukannya begitu menyukainya.”

“Jadi?”

“Aaaah aku tidak tau.” teriak Bo Ram frustasi. Dia memeluk lututnya dan menenggelamkan wajahnya di antara kakinya. “Dia membuatku gila.”

Chanyeol menepuk-nepuk bahu Bo Ram. Hanya itu yang dapat dilakukannya. Dia sama sekali tidak bisa membantu.

“Kau tau oppa? Sehun sendiri punya pacar yang lebih tua.”

Chanyeol tidak menjawab pertanyaan Bo Ram. Dia tau tentang itu. Walaupun dia tidak pernah melihatnya langsung atau bertemu dengan wanita yang lebih tua ini. Dan Sehun juga kan pacaran dengan Hye Ju, temannya Bo Ram seperti yang dikatakan oleh Jong In. Pasti sangat berat bagi Bo Ram. Seandainya Chanyeol tau bagaimana perasaan Sehun yang sebenarnya, dia akan sangat senang memberitau Bo Ram dan menenangkan hatinya. Tapi dia tidak tau. Jadi dia hanya akan melakukan apa yang bisa dilakukannya untuk gadis ini. Menepuk bahunya, mengelus rambutnya sampai dia merasa nyaman dan tenang. Meletakkan kepalanya di pelukannya, walaupun mungkin dia tidak seharusnya melakukan itu.

Bo Ram tidak protes sama sekali saat Chanyeol memeluknya. Pelukan ini tidak sama dengan pelukan Sehun. Bo Ram merasa aman dan terlindungi. Mungkin seperti inilah rasanya memiliki oppa. Malah, Bo Ram memposisikan dirinya dengan nyaman dalam lengan Chanyeol. Membiarkan dirinya terbuai sentuhan tangan besar itu di kepalanya. Sejenak istirahat dari segala sakit hati karna Sehun. Sampai dia tertidur.

^^Mr. Friday^^

Bo Ram terbangun masih dengan rasa hangat yang sama yang memenuhinya sama seperti seelum ia jatuh tertidur tadi. Lengan hangat Chanyeol masih berada pada posisi yang sama. Mungkin kalau orang lain melihat mereka pasti akan salah paham. Bagaimana kalau Sehun yang lihat?

Bo Ram merasakan napas hangat Chanyeol tepat di kepalanya. Ini betul-betul posisi yang sangat tidak enak untuk dilihat orang lain. Terlalu dekat begini.

“Oppa…” Bo Ram bergerak, melepaskan dirinya dari pelukan Chanyeol. “Oppa bang….” Bo Ram berbalik hendak membangunkan Chanyeol tapi berhenti sebelum sempat menuntaskan apa yang ingin dilakukannya itu. Terpana. Tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihat matanya. BoRam mengedip-ngedipkan matanya cepat, lalu menggeleng-geleng. Apa dia sudah mulai berhalusinasi? Apa Sehun punya efek yamg sebesar ini pada dirinya?

Pemandangan seperti ini betul-betul tidak disangka Bo Ram akan dilihatnya. Chanyeol yang seharusnya tadi sedang tidur bersandar di pohon digantikan Sehun. Sehun tidur begitu pulas. Kenapa dia ada di sini?

Lagi-lagi Bo Ram mengutuk jantungnya yang berdebar gila setiap kali sosok Sehun ada di hadapan. Nyata atau tidak nyata. Wajah tidur pria itu entah kenapa sudah membuat darah Bo Ram berdesir, memaksa mengalir ke kepala, membuat wajahnya terasa panas seperti terbakar. Sedikit gemetar, Bo Ram menyentuh wajah Sehun untuk memastikan itu bukan halusinasinya saja. Dan wajah Sehun terasa sangat nyata di kulitnya. Ini bukan halusinasi. Orang ini memang Sehun. Wajah tampan ini, yang ingin dimilikinya hanya untuk dirinya sendiri, kulit ini yang begitu lembut. Tangan Bo Ram berjalan dari mata, pipi, hidung, bibir. Bibir itu, bibir yang dipakai mencium bibir Bo Ram, yang sangat disukainya. Tapi mungkin bibir ini juga sudah mencium Hye Ju dan perempuan di kamarnya itu dan mungkin perempuan-perempuan lainnya lagi.

Betapa laki-laki ini sangat disukainya. Dan tangan besarnya, dan wajahya yang tampan, dan bibirnya, dan hidungnya, matanya, rambutnya yang lembut, kulitnya dan semuanya. Semua. Perasaannya pada Sehun bukan sesuatu yang bisa dikendalikannya. Walaupun Sehun membuatnya kesal, walaupun Sehun punya pacar-pacar lainnya, dia tetap tidak bisa membenci pria ini. Dia sangat menyukainya. Dan dia merindukannya. Sentuhannya, ciumannya, senyumnya. Bo Ram sangat rindu. Walaupun dia tidak bicara dengan Sehun baru tiga hari, rasanya seperti sudah tiga millenium.

Dia tidak ingin mengakuinya tapi desakan dari dalam dirinya memaksanya untuk mendekatkan wajahnya pada wajah Sehun. Hendak mempertemukan bibirnya sendiri dengan bibir tipis pria itu. Dan yeah, sensasi ini yang sangat dirindukannya. Saat bibirnya serasa menyatu dengan Sehun. Seolah seluruh dunia serasa menghilang. Euforia tiap kali bibir mereka bersentuhan begini. Dia ingin dan ingin, lagi dan lagi, terus menerus, sampai otaknya lumpuh dan tidak sanggup lagi mengingat hal-hal di sekitar.

Bo Ram menutup matanya menikmati ciumannya dengan Sehun. Yeah, ini yang paling dirindukannya. Tiap kali bibirnya dan Sehun menari bersama begini. Saling berbalas ciuman dengan pria yang paling diinginkannya.

Sebentar. Apa dia baru saja mengatakan berbalas ciuman?

Bo Ram mebuka matanya dan dilihatnya Sehun yang masih menutup mata dan terus menciuminya. Dia juga menyadari tangan Sehun yang sudah dilingkarkannya seenaknya di pinggang Bo Ram.

Bo Ram cepat-cepat mendorong tubuh Sehun menjauh darinya tapi Sehun menahan Bo Ram dan malah memperdalam ciumannya sehingga Bo Ram terpaksa menampar pipinya agar menjauh. Sehun mengerang kesal karna Bo Ram melepas paksa ciuman mereka dan juga menamparnya.

“Padahal kau yang duluan menyerangku waktu aku tidur.” Sehun merengut. Jelas tidak senang dengan perubahan sikap Bo Ram yang selalu tiba-tiba.

Bo Ram pura-pura tidak mendengar kata-kata Sehun dan berusaha menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah. “Kenapa kau di sini?”

“Kau memang ingin bertanya kenapa aku di sini atau kenapa yang memelukmu aku, bukannya Chanyeol?” Sehun balik bertanya, tidak terlalu peduli menyembunyikan rasa cemburunya yang dengan jelas terdengar di suaranya.

Bo Ram mendengar jelas nada cemburu dalam kalimat Sehun. Apa-apaan? Dipikirnya dia ada dalam posisi boleh cemburu di saat begini?

“Aku sedang bertanya dimana Chanyeol oppa?” kata Bo Ram dingin.

“Kusuruh pergi.”

“Kenapa?”

“Duuuh tentu saja karna dia tidak boleh memelukmu seperti tadi itu.” Jawab Sehun sarkastik. Tadi dia sengaja membolos dan ingin mencari tempat tidur. Siapa sangka hari ini bukan hanya dia yang berniat membolos dan tidur di tempat yang ditujunya itu? Dan siapa sangka juga Chanyeol dan Bo Ram juga sedang membolos dan tidur di belakang sekolah, berpelukan. Dia tentu tidak membiarkan hal itu begitu saja. Hatinya tidak mengijinkan hal seperti itu terjadi di depan matanya. Di belakangnya juga takkan diijinkannya. Jadi dia membangunkan Chanyeol dan bertukar tempat dengannya lalu menyuruh Chanyeol pergi sejauh mungkin dari situ.

“Kenapa tidak boleh?”  Bo Ram mengerutkan keningnya.

“Tentu saja….” Sehun meletakkan tangannya di kedua sisi bahu Bo Ram. “karna kau itu hanya milikku seorang.” Tanpa peringatan Sehun sudah menjatuhkan tubuh Bo Ram, membuatnya tertidur di atas tanah. Sepertinya Sehun sudah pernah melakukan yang seperti ini sekali. Dejavu eh? “Hanya aku yang boleh memelukmu begitu.” Sehun sendiri dengan posisi merangkak sudah ada di atas tubuh Bo Ram. Sehun menyingkirkan poni yang menutup mata Bo Ram. “Mata ini.” Jemarinya dibiarkan menari di samping mata Bo Ram. “Hidung ini.” Lalu hidung. “Pipi ini.” Kemudian pipi. “Bibir ini juga. Terutama bibir ini.” Dan bibir. “Dagu ini juga. Hanya aku yang boleh.” Kemudian menyentuh dagu Bo Ram, turun ke bawah ke leher dan berhenti di atas dada.

“Yaak apa yang kau lakukan?”

“Melakukan yang sama dengan yang kau lakukan dengan tubuhku tadi.” Sehun tersenyum. Senyum yang diunjukkannya tiap kali dirinya dikuasai nafsunya. Dan ya, Sehun rasanya selalu terangsang setiap kali di dekat Bo Ram. Entah apa yang salah dengan hormon pria ini. Tapi bukan berarti Bo Ram juga tidak mengalami hal sama. Dia benci mengakuinya, tapi dia rasanya terlalu mudah terpengaruh dengan sentuhan-sentuhan Sehun. Entah kenapa kulitnya terlalu sensitif kalau jemari Sehun yang mencoba mengeksploitasi seluruh tubuhnya.

Pelan-pelan Sehun melepaskan kancing seragam Bo Ram. Dengan sentuhannya yang terasa seperti sihir, Bo Ram dibuatnya tidak dapat bergerak.

“Sepertinya sangat terbiasa.” dengan susah payah Bo Ram berhasil mengeluarkan suaranya, membuat Sehun berhenti sejenak dari kegiatannya. “Kau sudah sering melakukan ini kan?” kata Bo Ram lagi, suaranya sedikit bergetar. “Dengan Hye Ju… Dengan perempuan itu.. Apa kau menggunakan setiap wanita yang kau temui untuk melampiaskan nafsumu?”

Sehun terdiam. Sedikit shock dengan apa yang baru saja disampaikan Bo Ram. Dia dengan Hye Ju? Perempuan itu? Perempuan mana?

“Aku tidak melakukan yang seperti ini dengan Hye Ju. Hubungan kami tidak seperti itu.” ujarnya hampir berbisik. “Juga dengan perempuan itu. Perempuan manapun yang kau maksud.”

Bo Ram mendengus. Baiklah kalau memang tidak melakukannya, tapi Sehun punya dua pacar. Dia tidak melakukannya dengan kedua pacarnya, tapi melakukannya dengan Bo Ram yang tidak tau apa statusnya dengan Sehun. Lalu yang dilihat Bo Ram kemarin?

“Jadi yang kemarin itu apa? Aku rabun Sehun, bukan buta. Dan mataku tidak mungkin salah melihat.”

“Yang mana?” tanya Sehun lagi dengan polos. Dia menelengkan kepalanya, mengindikasikan kebingungannya

“Sudah kubilang aku rabun, bukan buta. Jangan berpura-pura bodoh. Kau setengah telanjang di kamarmu dengan… dengan…” Mata Bo Ram terasa memanas dan siap mengeluarkan air mata.

“Dengan Yoona?” Sehun membantu Bo Ram menyelesaikan kalimatnya. Dan rasanya sakit bagi Bo Ram. Dia seenteng itu menyebut nama wanita lain. “Apa sikap anehmu ini karna kau melihat aku dengan Yoona?”

Bo ram diam, menggigit bibirnya. Sehun terlalu membuat hatinya sakit. Bo Ram memutar wajahnya ke samping, menolak melihat wajah Sehun yang ada di atasnya.

“Bo Ram, jawab aku. Apa kau cemburu dengan Yoona?” tanya Sehun tidak percaya. “Kau… benar-benar cemburu dengan dia…” Kemudian tawa Sehun pecah. “Aahahaha kau cemburu dengan dia.”

Bo Ram kembali menatap Sehun yang tertawa seolah ini semua sangat lucu. Rasanya Bo Ram sudah dipenuhi niat untuk mengakhiri hidup Sehun di sini, sekarang. Mungkin dia bisa mencekiknya menggunakan seragam.

Di puncak kekesalannya, dia merasakan bibir Sehun mengecup bibirnya sekilas.

“Hehe aku betul-betul suka kau Bo Ram.” Sehun menunjukkan senyum termanisnya pada Bo Ram.

“Aku tidak peduli.” desis Bo Ram kesal. Dia melap bibirnya yang baru saja dikecup Sehun. Dia tau itu kekanak-kanakan. Tapi siapa peduli? Sebenarnya apa tujuan laki-laki yang satu ini? Mempermainkan perasaan Bo Ram sesukanya.

“Benarkah? Kau tidak peduli?” ujar Sehun geli. Senyum masih mengembang di wajah tampannya. “Kalau kukatakan kemarin aku putus dengan Hye Ju?”

Bo Ram terkejut mendengar kata-kata Sehun yang ini. Mereka putus? Tidak, jangan terbujuk, Bo Ram. Tetap saja, masih ada satu lagi. “Tetap tidak peduli.”

“Benarkah?”

“Ya.”

“Walaupun aku bilang kalau Yoona itu noonaku?”

Kali ini Bo Ram langsung menatap Sehun tidak percaya. Dia merespon kata-kata terakhir Sehun setara kecepatan cahaya. “Noona?”

Sehun mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Anak kandung appa dan eomma mu?”

“Yup.”

“Jadi kemarin…”

“Dia sedang memijitku. Malam sebelumnya appa memukuliku. Badanku sakit sekali, jadi kusuruh saja dia pijit aku. Tapi kau malah melemparku dengan sendal. Sedih sekali” Sehun pura-pura menangis.

“Kau.. tidak sedang berbohong kan?” Bo Ram masih tidak percaya dengan informasi yang baru didengarnya.

“Tentu saja tidak.” Jawab Sehun cepat.

“Lalu kenapa selama ini tidak pernah kulihat?” tanya Bo Ram dengan nada menuduh yang sangat jelas.

“Dia tidak tinggal di rumah kami lagi. Dengar Bo Ram, aku tidak pernah melakukan apa yang kau pikirkan itu.”

Bo Ram hanya diam. Jadi, dia benar sudah salah paham.

“Dasar kau mesum.” kata Sehun tepat di depan wajahnya.

“Bu.. bukan mesum. Tapi kalau melihat begitu kan…. pasti jadi berpikir macam-macam.” ujar Bo Ram mengelak. “Lagi pula.. kau betul-betul putus dengan Hye Ju?” Cepat-cepat Bo Ram mengalihan pembicaraann.

“Ya.” Sehun tersenyum puas melihat perubahan raut muka Bo Ram. Mata gadis itu jelas menunjukkan rasa senangnya. “Aaah sudahlah. Dari pada membicarakan itu…” Sehun kembali meletakkan jari-jarinya di atas kancing kemeja Bo Ram. Melanjutkan kembali niat awalnya. “Bagaimana kalau kita lakukan saja apa yang kau pikir kulakukan dengan noonaku sendiri?”

Dan Sehun nyengir lebar. Di mata Bo Ram  terlihat seperti senyuman om-om genit. Aaaah tapi melihatnya membuat Bo Ram fly. Walaupun ini bukan hari flying nya. Kenapa pria ini selalu membuatnya serasa terbang? Dan sedetik kemudian menjatuhkannya lalu denan setiap sentuhannya dan kata-kata gombalnya mengangkatnya melayang bersama lagi? Membuat hatinya terasa seperti diaduk-aduk setiap kali.

Dan ngomong-ngomong apa Sehun benar-benar yakin mau melakukan hal itu di kawasan sekolah sekarang? Sehun pasti sudah kehilangan kewarasannya. Begitu juga Bo Ram.

=TBC=

A/N: Maap kalau ceritanya lagi-lagi mengarah ke ya to the dong. Ngomong-ngomong sori yah ini lama di update. Kemaren saya sedikit terlena mengerjakan oneshot dan sequelnya hehe. Habis itu saya jatuh. Jatuh dari sepeda. Sepedanya bukan sepeda saya. Melainkan sepeda papa yang gede dan gak sesuai ukuran badan saya xDDD Badan sampe memar semua. Bahu, lengan, pantat, paha, betis. Dan ini gak mengada-ada. Kenyataannya emang gitu. Tiap inci badan saya, ada lebam-lebam biru-ungunya. Dan lutut saya lecet. Kanan kiri. Habis itu saya malah batuk dan sedikit demam. Parah banget -_- Suara saya sampe ilang, kagak bisa ngomong dua hari. Nyiksa bangeeeeet 😦 Chapter ini baru dikerjain sehari ini. Maap yah kalau alurnya agak berantakan atau maksa atau gak memuaskan atau ada yg berlawanan sama chapter-chapter sebelumnya. Pikiran saya masih agak kacau soalnya.  Apalagi ngerjain chapter ini sambil ngelap ingus tiap dua menit -_____- dan diiringi batuk kayak nenek-nenek. Maap saya malah curhat. Tapi emang beneran saya sendiri gak puas ama chapter ini. Agak keteteran alurnya. Mana lebih pendek dari chapter sebelumnya T.T

Ngomong-ngomong, saya bikin poster baru. Itu dikerjain semalam. Bagus gak? Dan oh ya, soal perjodohan, saya memutuskan untuk menerima segala saran 😀 Jadi kan banyak yg minta dijodohin tapi ada juga yg  bilang takutnya nanti feel ceritanya ilang dan gak keliatan gimana Sehun ngedapetin Bo Ram nya. Jadi saya mutusin mereka gabakal dijodohin sekarang. Tapi nanti kalau udah dewasa gitu. Dan itu akan dibuat di cerita baru yang judulnya berbeda, cuman dia masih lanjutan dari cerita ini. Saya udah buat rancangan ceritanya sih. Dan Mr. Friday sendiri akan finish di chapter depan atau chapter selanjutnya atau selanjutnya lagi /sampe kiamat/ terus dilanjutin sama cerita baru itu. Kalian setuju gak? Don’t forget to tell me your opinion yaaaa ;;) Adieu.

PS: Don’t call me “thor” 🙂

Iklan

Penulis:

I'm a whole world trapped in a person.

197 thoughts on “[CHAPTERED] Mr. Friday (Part 9)

  1. haduuuuh sbnernya aku lagi males2nyq baca baca ff tp begitu buka email dan trnyata udh ampe final aku langsung baca kmrn hehe maaf bru koment soalnya ga ada kuota jd harus ketemu istri luhan dulu (read: WiFi) ini keren bgt
    eh itu klo.mau berbuat (?) pindah tmpat dlu sanaaa *eh

  2. .haha aduh jadi ketawa, maap baru komen saeng, kmarin2 wktuu udah slesai baca chpter ini pngennya lngsung komen tpi entah knapa spertinya otak z lagi heng,… saeng emang daebak slalu bkin org deg2an :*
    Ahh gue menyesal udah nyangka yg buruk2 ama yoona, yoona mian, ternyata kmu it kkak sehun, .__. dan astaga si sehun gila itu emang maw lakuin ‘itu’ di lingkungan sekolah #getokkepalasehun

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s