Secret Darling | 13th Chapter

secret-darling

:: SECRET DARLING | 13th Chapter ::

.

.

.

Author : shineshen

Cast : Sehun | OC(s) | etc.

Genre : Marriage Life | Romance | Friendship

Rating : Teen

.

Poster by chocolatesoda © Café Poster Art ^^

.

Summary :

Shin Minhee adalah gadis berusia 18 tahun yang terjebak pernikahan konyol dengan seorang laki-laki berusia 21 tahun. Hanya karena kesalahpahaman yang menjebak mereka selama satu malam di Pulau Jeju.

 

Link to previous : Teaser | 1st Chapter | 2nd Chapter | 3rd Chapter | 4th Chapter | 5th Chapter | 6th Chapter | 7th Chapter | 8th Chapter | 9th Chapter | 10th Chapter | Kai’s Side Story | 11th Chapter | 12th Chapter

.

“Aku—aku sedang mencari…” kata-kata gagap Minhee terputus saat ia melihat siluet seseorang yang memang sedang dicarinya melintas di koridor seberang, tepat di balik punggung Sulli. Ya, itu Sehun. Sehun yang sedang berjalan sendirian, sambil sibuk menyusun beberapa berkas yang ada di tangannya. Ia kelihatan sibuk, ya sibuk. Wajar karena ia sedang menjalani tingkat terakhirnya di kampus ini.

Mulut Minhee baru saja akan memanggil nama Sehun, saat tiba-tiba ia mengurungkan niat tepat ketika ada seorang gadis yang memasangkan sebuah snapback ke atas kepala Sehun sambil merangkulnya akrab dari belakang. Sehun menghentikan langkahnya kaget dan segera membalik tubuh untuk tahu siapa orang yang telah mendatanginya secara tiba-tiba itu.

Mulut Minhee terkunci secara otomatis. Lidahnya kelu dan bahkan untuk mengucapkan satu seruan terkejutpun ia tak mampu. Kakinya melemas dan bahunya mulai gemetar, hatinya sakit sekaligus sesak saat melihat laki-laki yang selama ini dicintainya dipeluk oleh gadis lain seperti itu.

Minhee merasa seluruh tubuhnya mati rasa, syaraf matanya kaku dan tak bisa memindahkan arah pandangnya meskipun matanya sudah memanas.

“Minhee, ada apa?” Tanya Sulli sedikit cemas saat Minhee tiba-tiba saja terdiam seperti patung. Sulli mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah Minhee, namun tak ada reaksi berarti dari gadis itu. Sulli mengerutkan keningnya menyadari tatapan Minhee yang terpaku pada satu arah. Namun sebelum mencari tahu apa yang terjadi, Sulli mengguncang lembut bahu Minhee guna mengembalikan kembali kesadaran gadis junior yang ada di hadapannya itu.

“Minhee!” seru Sulli kecil. Minhee mengerjapkan matanya, dan memandang Sulli. Gadis itu mencoba tersenyum di hadapan Sulli, meskipun hatinya semakin perih melihat pemandangan yang ada di balik punggung Sulli.

Sulli mengerutkan keningnya saat melihat cara tersenyum Minhee yang berubah. Sebagai mahasiswi seni teater, Sulli bisa merasakan jelas perubahan emosi Minhee yang tanpa dibuat-buat.

“Kau…”

“Maaf, aku harus pergi, sunbaenim.” Potong Minhee sambil menundukkan sejenak kepalanya ke bawah, berusaha menyembunyikan airmata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.

Sulli tak bisa berkata apa-apa saat Minhee melangkah begitu saja meninggalkannya sambil menundukkan kepala. Sulli tak bisa berhenti mengerutkan keningnya, merasa janggal atas perubahan emosi Minhee yang tiba-tiba.

Sulli segera ingat dengan jawaban yang harus ia cari tahu. Pasti kunci dari perubahan emosi Minhee ada di sana, sebab mengingat tatapan Minhee yang terpaku pada satu arah tadi.

Sulli segera membalikkan tubuhnya untuk mencari tahu apa jawaban itu, dan disanalah ia menemukannya. Mulut Sulli membundar kecil, ia sedikit kaget dengan kenyataan bahwa kedua orang itu sudah bertemu kembali. Namun ada kenyataan kecil lain yang lebih membuatnya terkejut dalam lubuk hatinya, yaitu bilamana ia mengingat perubahan emosi Minhee yang pasti dikarenakan kehadiran kedua orang itu di balik punggung Sulli.

Apakah ada kenyataan yang Minhee sembunyikan selama ini?

“Oh,” sahut Sulli kecil dan pelan. “Jung Daeun sudah kembali rupanya.”

 

 

.

.

| 13th Chapter |

.

.

 

Minhee masih terus berlari melewati koridor demi koridor. Selama koridor itu masih terus menyambung, Minhee terus melangkahkan kakinya. Ia tak tahu kemana arah semua koridor itu, bahkan kini ia tak peduli lagi ia sedang berada dimana.

Minhee berlari sejauh yang ia bisa. Berharap bisa menghindari semua kenyataan yang baru saja dilihatnya. Semua kenyataan itu menyakiti hatinya. Minhee mungkin bisa berbohong selama ini, pura-pura membenci Sehun dan bertingkah seenaknya pada suaminya itu. Namun ia tak bisa membohongi hatinya. Waktu telah membuat kebenciannya pada tali pernikahan itu terkikis, bahkan terganti oleh rasa cinta yang tak pernah ia duga. Minhee merasakan itu walau tak pernah mengucapkannya dan walau seakan tak pernah merasakan itu semua.

Sehun adalah laki-laki pertama yang mencium ujung bibirnya diatas altar, laki-laki pertama yang pernah menyentuhnya begitu dekat, dan laki-laki yang begitu berat ia lepaskan saat ini mengingat traumanya di masa lalu karena kepergian cinta pertamanya yang tiba-tiba.

Sehun datang saat ia nyaris tak bisa membuka hatinya lagi untuk laki-laki, bahkan saat dirinya ragu apakah ia masih bisa mencintai dan mempercayakan hatinya lagi pada seorang laki-laki. Beberapa bulan yang telah ia lalui bersama Sehun nyaris sempurna, setidaknya itulah yang Minhee harapkan saat ia tersadar ia mulai mencintai Sehun seperti yang seharusnya.

 

Minhee bahkan tak tahu siapa gadis tadi. Gadis bersurai pirang dengan penampilan modis dan cantik yang bisa dikatakan berbeda seratus delapan puluh derajat dengan penampilannya sendiri. Minhee tak pernah peduli dengan penampilannya. Ia tidak pernah peduli apakah ia terlihat anggun seperti seorang gadis yang seharusnya. Minhee selalu tampil dengan gayanya yang sederhana, lebih banyak menggunakan celana jeans dan kaos setiap pergi ke kampus. Alasan lain mengapa Minhyuk selalu mengomentarinya sebagai perempuan yang tidak pantas disebut sebagai perempuan.

Namun dibalik itu semua hati Minhee sangat lembut, dan sangat memenuhi syarat sebagai hati seorang perempuan yang sebenarnya. Minhee berhati hangat dan mudah iba, meskipun ia seringkali takut melihat anak kecil yang terlalu banyak dan bergerombol. Minhee cengeng dan mudah menangis, dan sebagai buktinya ia bahkan menangis saat ini hanya untuk kenyataan yang belum ia ketahui secara langsung alasannya.

 

Brak!

 

Minhee terlalu sibuk dengan rasa sakit yang menusuk dalam hatinya, sampai-sampai pandangannya terus menunduk sepanjang perjalanan. Ia bahkan tak lagi sadar sudah berapa kali menubruk bahu orang-orang yang berpapasan dengannya, dan kini gadis itu benar-benar tersungkur saat bertubrukan dengan seorang senior laki-laki yang berbelok dari koridor berbeda.

Minhee jatuh terduduk, ia masih menangis dengan kepala yang tertunduk. Paper bag yang sedari tadi didekapnya terangsur jauh dari posisinya sendiri, dan kini paper bag itu tergeletak di dekat kaki senior yang baru saja ditubruknya.

Beruntung saja senior itu tidak marah, tidak mengomel pada Minhee, namun justru bingung melihat Minhee menangis dan tak langsung bangkit dari jatuhnya.

 

Senior itu membungkuk dan memungut paper bag Minhee yang ada di bawah kakinya. Ia melangkah mendekati Minhee dan mengangsurkannya tangannya—bermaksud untuk membantu gadis itu berdiri. Namun Minhee mengabaikan pertolongan itu, ia memaksakan dirinya bangkit sendiri walau masih dengan airmata yang berurai.

 

“Minhee?” Tanya senior itu setelah berhasil melihat wajah Minhee. “Minhee, ada apa denganmu? Kau terluka?”

Senior itu ternyata Kai, sahabat dari seorang laki-laki yang baru saja menghancurkan hati Minhee. Kai mengernyitkan kening bingung sekaligus cemas melihat airmata yang berurai di wajah Minhee dan sesenggukan Minhee yang terdengar menyedihkan.

“Minhee, jawab aku. Apa kau terluka? Mengapa kau menangis?” ulang Kai cemas. Laki-laki itu memegang kedua bahu Minhee, meminta Minhee berterus terang namun gadis itu tak bisa menjawab apapun selain dengan isak tangisnya.

Perlahan Minhee menyingkiran kedua tangan Kai yang memegang kedua bahunya. Gadis itu bergegas mengambil kembali papar bag yang masih ada di tangan Kai. Lalu ia mengadahkan wajahnya sebentar, melihat wajah Kai, sebelum melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan Kai yang masih terdiam bingung melihat keadaan gadis itu.

Minhee melangkah semakin jauh dari posisi Kai, sedangkan Kai masih terdiam di posisinya. Ia sibuk berpikir mengapa keadaan Minhee bisa menyedihkan seperti itu, seakan berbeda kontras dengan Minhee yang ditemuinya tempo hari. Minhee yang menyebalkan dan cerewet, namun baru saja ia menemukan Minhee dalam keadaan menangis seperti baru saja patah hati.

 

Kai akhirnya memutuskan untuk melanjutkan langkahnya menuju kelas yang sebentar lagi akan dimulai, walau pikirannya masih dipenuhi dengan tanda tanya. Saat tiba di kelas, Kai bertemu Sehun yang sudah duduk di kursinya. Kening Kai mengerut kembali, kali ini karena melihat Sehun sedang gembira dengan sebuah snapback baru yang ada di tangannya.

Kai duduk di kursi kosong yang ada di sebelah Sehun. Ia memperhatikan Sehun sebelum akhirnya mengusik keasyikan sahabatnya itu.

 

Snapback baru?” Tanya Kai sambil mencondongkan tubuhnya untuk melihat snapback itu lebih dekat.

Sehun mengangguk gembira. “Yap, dan kau tahu? Ini asli dari Los Angeles. Jadi font ini bukan sekedar logo.” Celoteh Sehun sambil menunjuk logo Los Angeles yang tercetak di sana.

Kai hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Ia mengerti betul fakta bahwa Sehun mencintai koleksi bernama snapback, dan semua koleksinya itu ia biarkan memenuhi kamar di rumah orangtuanya yang sekarang dibiarkan kosong semenjak Sehun pindah ke apartemen bersama Minhee. Dan Kai juga bukannya tak ingat bahwa hari ini Sehun ulangtahun, ia sebenarnya ingat hanya saja ia memiliki kejutan lain yang akan diberikannya pada Sehun selesai kelas terakhir nanti.

Kai melirik Sehun yang masih mengabaikan dirinya, masih lebih memilih asyik meneliti snapback barunya lebih jauh.

 

“Sehun-ah,” panggil Kai dengan nada serius.

“Hm,” gumam Sehun sebagai respon.

Kai mengeluh kesal saat Sehun hanya meresponnya seperti itu. “Sehun, kau dengar aku?”

“Ya, Kai. Aku mendengarmu. Ada apa, hm?” respon Sehun lebih jelas pada akhirnya. Sehun melirik Kai beberapa kali, walaupun fokusnya masih tersita oleh snapback baru itu.

“Sehun, apa kau baru saja bertengkar dengan Minhee beberapa saat yang lalu?” Tanya Kai serius. Mengingat bagaimana Minhee menangis, Kai kira satu-satunya penyebab dari airmata itu adalah Sehun. Namun entahlah, itu hanya sekedar firasatnya.

“Bertengkar?” Sehun balik bertanya. Kali ini ia benar-benar memperhatikan Kai, dan Sehun berani bertaruh jika wajah Kai terlihat sangat serius kali ini. Padahal… Jarang sekali Kai bisa terlihat sampai seserius ini.

“Apa maksudmu? Kau baru saja bertemu dengan Minhee?” lanjut Sehun bertanya lebih dalam.

Kai mengangkat alisnya. “Kau sama sekali tidak tahu jika Minhee datang ke kampus?”

Sehun mengerutkan keningnya dan menggeleng cepat. “Tidak, setahuku Minhee tidak datang ke kampus hari ini. Bahkan kulihat tadi pagi… Ia masih tidur.”

“Kau yakin?” Tanya Kai memastikan.

Sehun mengangguk yakin. “Memangnya… Apa yang terjadi? Kau bertemu dengannya tadi?”

Kai menghembuskan napas panjang, lalu mengangguk. “Dan kau tahu? Kulihat ia menangis.”

 

 

Sehun membolos kelas terpenting hari ini, sungguh.

Sesaat setelah mendengar kabar dari Kai jika ia melihat Minhee sedang menangis, Sehun langsung meninggalkan kelasnya dan tak peduli sedikitpun walaupun Dosen Lee sudah tiba di mulut pintu.

Sehun mengabaikan panggilan marah Dosen Lee, juga Kai yang tak berhenti memanggil namanya dengan panik dan mengejarnya sampai ke lobi gedung fakultas. Sehun tidak peduli meskipun tadi pagi Dosen Lee sudah mewanti-wantinya agar tidak membolos kelasnya, namun yang ada sekarang Sehun malah meninggalkan kelas itu tanpa pamit baik-baik.

Saat ini yang ada di pikirannya hanya Minhee, Minhee dan Minhee.

Pertanyaan mengapa gadis itu menangis, pertanyaan mengapa gadis itu datang ke kampus tanpa memberitahunya, juga pertanyaan apakah Minhee melihatnya saat ia bertemu dengan Daeun di perjalanan menuju ruangan Dosen Lee tadi.

Daeun adalah sahabat lamanya yang sudah beberapa bulan ini mengambil cuti kuliah. Sebelumnya gadis itu mengabarkan jika mungkin saja ayahnya akan memindahkannya kuliah ke luar negeri, namun sekarang gadis itu justru kembali dengan tiba-tiba tepat di hari ulangtahun Sehun. Dan snapback ini pemberiannya, betapa gadis itu mengingat jika sang sahabat sangat menggilai snapback.

 

Sehun tiba di apartemennya dalam waktu setengah jam, lebih lambat dari harapannya karena tanpa diduga bus yang ia tumpangi terjebak kemacetan di jalan raya. Setelah tiba di apartemen, Sehun langsung menerobos masuk ke kamar Minhee dan beruntungnya kamar itu tidak dikunci.

Langkah Sehun terhenti beberapa meter di belakang pintu kamar saat ia melihat Minhee terbaring di atas tempat tidurnya dengan kondisi yang berantakan. Rambut gadis itu terurai acak-acakan, menutupi seluruh wajahnya yang setengah tertelungkup. Pakaian gadis itu bukan lagi satu stel piyama yang dilihat Sehun tadi pagi, melainkan pakaian yang biasa ia kenakan ke kampus setiap hari. Jantung Sehun berdegup kencang, menyadari kebenaran yang diucapkan Kai saat di kampus tadi.

Sehun melangkah mendekati Minhee, dan saat itulah kakinya tak sengaja menginjak sesuatu yang tergeletak begitu saja diatas lantai. Sehun mengarahkan pandangannya ke lantai, dan melihat sebuah paper bag berwarna kelabu cerah tergeletak di dekat kakinya. Sehun membungkuk untuk mengambil paper bag itu, sedikit terkejut saat melihat selembar syal rajut berwarna putih terbungkus plastik bening di dalam sana. Sehun mengeluarkan syal beserta kemasannya dari dalam paper bag, dan bersamaan dengan itu ada sebuah kartu yang terjatuh ke lantai. Sehun kembali membungkuk untuk memungut kartu itu, dan kemudian tersenyum simpul saat membaca sederetan aksara hangeul yang tertulis disana.

Sehun kembali memasukkan kartu beserta syal itu ke dalam paper bag, lalu meletakkan paper bag itu di atas meja belajar Minhee agar lebih rapi. Selesai membereskan paper bag itu, Sehun melanjutkan langkahnya mendekati Minhee dan sedikit bersimpuh untuk melihat wajah Minhee lebih dekat.

Wajah Minhee tak terlihat jelas, karena surai cokelatnya menutupi wajah itu. Yang jelas kedua mata Minhee tertutup dan hembusan napas teraturnya menunjukan indikasi bahwa ia sedang tertidur. Fisiknya baik-baik saja, ia tak terluka sedikitpun. Tapi Sehun mengulas senyumnya sedih karena ia tak tahu kesakitan apa yang sedang Minhee rasakan dalam hatinya saat ini. Rasa bersalah begitu dalam memenuhi ruang hati Sehun saat ia melihat permukaan bantal membasah di bawah wajah Minhee. Gadis itu menangis, ia menangis banyak.

Sehun menyentuh pipi Minhee, dan rasa bersalahnya semakin pekat saat ia merasakan pipi Minhee masih terasa licin akibat airmata. Gadis itu benar-benar menangis, dan Sehun yakin jika penyebabnya adalah dirinya sendiri.

 

“Maafkan aku,” gumam Sehun pelan walaupun ia tahu Minhee tak bisa mendengar dan merasakannya saat ini.

 

 

Matahari sore yang hangat bersinar di langit kota Seoul. Cahayanya yang terang jatuh tegak lurus di depan jendela kamar Minhee, membuat kamar itu menjadi terang benderang seketika. Minhee terusik dari rasa silau itu, lalu memaksakan diri untuk mengerjapkan matanya.

Kepalanya pusing, dan matanya masih terasa berdenyut akibat terlalu banyak menangis. Minhee bangkit dari posisi tidurnya lalu duduk bersandar pada kepala tempat tidur, matanya memandangi silau kaca jendela yang tertembus oleh cahaya matahari sore. Minhee melirik jam tangan yang masih melingkar di pergelangan tangan kirinya, dan jarum pendek di sana nyaris mendekati angka 6. Minhee mengeluh, lalu segera turun dari tempat tidurnya.

Minhee berdiri dan sesaat menghadap cermin sebesar badan yang ada di pintu lemari, sedikit mengejek betapa berantakan penampilannya saat ini. Matanya bengkak, rambutnya kusut, dan ekspresi wajahnya tampak seperti orang depresi. Depresi karena patah hati.

Minhee menyeringai mengejek dirinya sendiri, lalu berlalu dari depan cermin itu. Minhee bermaksud untuk mengecek keadaan di luar kamarnya, namun di depan pintu yang masih tertutup ia menghentikan langkahnya sebentar. Gadis itu menempelkan telinga kanannya pada permukaan pintu, berharap bisa mendengar suara-suara di balik pintu itu. Namun nihil. Tak ada suara apapun, dan Minhee kira ia masih saja sendirian berada di apartemen.

Minhee menyerah pada harapannya bahwa Sehun akan pulang tepat waktu hari ini. Sekarang sudah hampir senja dan apartemen masih sepi. Minhee mengeluh kecewa pada dirinya sendiri, lalu memutar kenop pintu untuk selanjutnya menghadapi situasi sepi di luar.

 

Tepat di depan pintu kamarnya, Minhee kembali terpaku. Bukan karena ia menemukan sesuatu yang mengecewakan lagi, namun kali ini hal itu lebih tepat disebut sebagai hal yang mengejutkan. Minhee bingung sekaligus tak mengerti dengan keadaan apartemennya saat ia membuka pintu kamarnya. Semuanya terlihat berbeda.

Apakah mungkin Sehun yang mengubah semua dekorasinya?

Tapi… Bagaimana caranya? Minhee sungguh tak mengerti.

 

Puluhan jejer lilin aromaterapi membentuk jalur vertikal yang saling berhadapan, dan jalur itu tegak lurus menuju meja makan yang ada di ruang tengah. Minhee mengikuti jalur itu dan melihat meja makan sudah rapi dengan berbagai peralatan yang lazim ada di meja saat acara makan malam romantis, dilengkapi dengan kue ulangtahun yang kemarin dibelikannya untuk Sehun. Kue itu masih utuh dan kini tergeletak di tengah meja makan, namun bedanya kini diatas lilin itu sudah tersemat beberapa batang lilin kecil dengan ulir warna-warni. Minhee mendekati kue itu, dan menghitung bahwa jumlah dari lilin di atas permukaan kue itu berjumlah dua puluh dua. Minhee mengangkat alisnya.

 

Tepat saat itu juga Minhee mendengar suara pintu yang menutup bergema dari ruang tamu. Minhee kontan menolehkan kepalanya ke arah sana, dan melihat Sehun baru saja memasuki apartemen dengan beberapa tas plastik di tangannya. Langkah Sehun terhenti saat menyadari Minhee ada di depan meja makan, Sehun salah tingkah seakan-akan ia baru saja tertangkap basah.

Ya, dia tertangkap basah. Minhee sudah terlanjur bangun sebelum semua persiapan kejutan itu selesai.

“Minhee?” Tanya Sehun salah tingkah. Laki-laki itu melangkahkan kakinya pelan mendekati Minhee, sedangkan gadis itu balas memandangnya dengan tatapan kebingungan yang polos.

“Kau… Sudah bangun?” lanjut Sehun, masih dengan nada salah tingkah.

Minhee hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Sehun.

Sehun tergagap. “Uhm, untuk kejutan ini… Sebenarnya aku—“

“Seharusnya aku yang menyiapkan semua kejutan ini untukmu,” potong Minhee dengan suaranya yang masih serak. Sehun memandang Minhee lekat, kembali merasa bersalah mendengar suara gadis itu yang masih serak akibat terlalu banyak menangis.

“Ah, tidak apa-apa. Kita bisa merayakannya bersama,” sahut Sehun sambil mengembangkan senyumnya, berusaha agar suasana hambar ini tidak bertahan lama.

Minhee tersenyum tipis, lalu mengalihkan pandangannya pada tas plastik ada di tangan Sehun. “Itu apa?”

“Oh, ini—“ Sehun ikut memandangi tas plastik yang ada di tangannya, “—ini makanan.”

“Kau membelinya di restoran?” Tanya Minhee lagi.

Sehun mengangguk. “Maaf… Kau tahu ‘kan, aku tidak bisa memasak.”

“Jangan salahkan seorang laki-laki jika ia tidak bisa memasak,” kekeh Minhee kecil. “Seharusnya kau salahkan aku. Aku seorang perempuan, tapi aku tidak bisa memasak. Mungkin aku bukan istri yang sempurna untukmu.”

 

Kau pikir aku seorang suami yang sempurna untukmu? Aku bahkan membuatmu patah hati dan menangis seharian. Sadarlah, Minhee. Bisik Sehun sedih dalam hatinya.

 

Dinner.” Sahut Sehun untuk mengalihkan tema sebelumnya. “Kita akan dinner malam ini.”

Candlelight dinner?” kekeh Minhee. “Tapi… Lihat penampilanku? Buruk sekali.”

“Siapa peduli?” senyum Sehun sambil menarik kursi untuk Minhee. Minhee ikut tersenyum, lalu duduk di atas kursi itu.

“Tunggu. Bukankah seharusnya aku yang menyiapkan semua ini?” Tanya Minhee setelah ia duduk. Gadis itu mendongak menatap Sehun, lalu sedetik kemudian mengernyit bingung melihat Sehun tetap tersenyum.

“Biar aku saja,” jawab Sehun. “Kau tunggu sebentar. Oke?”

 

Minhee berhenti protes dan akhirnya menurut untuk menunggu Sehun yang menyiapkan segalanya. Sementara Sehun sibuk di dapur, Minhee tersenyum kecil di atas kursi makannya. Namun rasanya masih perih saat ia mengingat kejadian siang tadi. Merasa konyol juga karena ia menangisi itu semua seharian, merasa salah tingkah jika ingat ia juga memperlihatkan airmata itu di depan Kai.

Semua kejadian hari ini begitu rumit dan memunculkan banyak perasaan yang saling berbentrok satu sama lain. Ia masih ingat kebenciannya yang menyala saat matahari masih bertengger terik tadi, namun saat matahari telah tenggelam kebencian itu secara ajaib sirna dan berganti menjadi perasaan lain yang memenuhi hatinya.

Oh Sehun. Mengapa laki-laki itu begitu mudah merubah perasaan Minhee?

 

“Makan malam sudah siap,” Sehun datang dan membuyarkan lamunan Minhee seketika.

Minhee menatap kedatangan Sehun yang riang, lalu mengulaskan senyum saat hidangan itu tersaji rapi diatas meja makan. Sehun menyusul duduk di kursi makan yang berhadapan dengan kursi Minhee. Laki-laki itu menggeser piring lainnya sedikit menyingkir dan mengetengahkan kue ulangtahun yang Minhee beli tempo hari dari Ahreum Bakery.

 

“Selamat ulangtahun,” ucap Minhee tulus. “Semoga di usiamu yang bertambah ini, kau menjadi seseorang yang lebih baik.”

“Semoga aku bisa menjadi seseorang yang lebih baik,” ulang Sehun sambil mempersiapkan diri untuk meniup deretan lilin. Namun dalam hatinya, Sehun mempersiapkan keinginan lain yang jauh lebih sempurna.

 

Semoga aku bisa menjadi suami yang lebih baik lagi untuk Minhee. Semoga aku tidak pernah membuatnya menangis lagi. Aku mencintainya, dan berjanji untuk cinta itu sepenuh hatiku.

 

Sehun meniup lilin-lilin di atas kue ulangtahunnya setelah mengucapkan keinginan rahasianya itu dalam hati. Minhee bertepuk tangan setelah Sehun selesai meniup semua lilinnya.

“Adakah yang ingin kau ucapkan padaku selain ucapan selamat ulangtahun?” Tanya Sehun dengan mata mengerjap polos pada Minhee.

Minhee mengerutkan kening menengar pertanyaan itu. “Apa? Memangnya ucapan apa lagi yang kau harapkan dariku?”

“Misalnya saja—” Sehun menggumam kecil. “—ucapan cinta?”

Pipi Minhee rasanya memanas saat Sehun menggodanya seperti itu. Sehun menyadari jika Minhee merasa salah tingkah dengan ucapan itu, lalu laki-laki itu malah menambahkannya dengan kekehan menyebalkan.

“Bermimpi saja,” balas Minhee dengan nada pura-pura tak peduli. Gadis itu mencolekkan whipped cream dari tepian kue ulangtahun itu pada wajah Sehun, membuat Sehun terlonjak.

“Kau pikir aku semudah itu mengatakan cinta pada seorang laki-laki?”

 

Minhee bangkit dari kursinya saat Sehun berniat untuk balas mencolekkan whipper cream di wajahnya. Untuk waktu beberapa menit lamanya mereka saling berkejar-kejaran di ruang makan hanya untuk balas-membalas mengotori wajah dengan krim putih itu. Mereka saling tertawa keras, dan tampak seperti anak kecil. Nyaris tak bisa dipercaya bahwa mereka adalah pasangan yang sudah menginjak usia kuliah.

Hingga tiba-tiba Minhee jatuh akibat terpeleset lantai yang licin. Gadis itu mendarat dengan posisi terduduk di atas lantai, namun beruntung sepertinya itu tidak terlalu menyakitkan untuk Minhee. Gadis itu memang sempat meringis, namun ia mengurungkan tangisannya saat Sehun menangkap tubuhnya dari belakang.

“Kau kalah!” seru Sehun seperti anak kecil dan langsung balas mencolekkan krim putih itu pada pipi Minhee.

“Lepaskan! Lepaskan! Kau menyebalkan!” seru Minhee balik. Minhee mencoba melepaskan diri dari pelukan Sehun, sama sekali tak sadar jika permainan mereka itu menimbulkan suatu nuansa romantis tersendiri di antara cahaya lilin yang berpendar remang.

Mereka masih saling tertawa lepas seperti anak kecil, menganggap permainan colek-mencolek krim ini tak ada bedanya dari permainan yang biasa ada di ulangtahun mereka sewaktu masa kecil dulu.

 

“Tunggu!” seru Minhee tiba-tiba. Gadis itu memaksa untuk melepaskan diri sepenuhnya. Minhee segera bangkit ketika sadar akan sesuatu.

“Aku punya sesuatu untukmu,” lanjut Minhee riang. “Tunggu sebentar.”

Sehun mengenyit saat mendengar kata-kata Minhee. Namun ia tak bisa bertanya apa-apa sebab Minhee sudah terlebih dahulu pergi meninggalkannya. Minhee masuk ke dalam kamarnya, lalu sesaat kemudian keluar kembali sambil membawa sebuah benda di tangannya.

Paper bag yang tadi ditemukan Sehun dalam kamar Minhee. Oh, kejutan ulangtahunmu gagal, Minhee. Sehun sudah tahu apa isi dari paper bag itu sebelum kau memberikannya.

 

“Kenapa kau tertawa?” protes Minhee saat melihat Sehun mencoba menyembunyikan tawanya.

“Tidak,” jawab Sehun. “Itu hadiahku?”

Minhee mengangguk lalu menyerahkan paper bag itu pada Sehun. “Semoga kau menyukainya.”

“Kuharap hadiah ini berisi hal yang romantis,” celetuk Sehun sambil mengeluarkan hadiah itu dari dalam paper bag. “Oh, sebuah syal?”

Minhee merengut. “Kau tidak suka?”

“Oh, tentu saja aku menyukainya, sayang,” jawab Sehun sedikit menggoda. “Seperti aku menyukaimu.”

Pipi Minhee kembali memanas rasanya. Lagi-lagi Sehun menggodanya seperti itu. Minhee tak tahan lagi untuk melayangkan satu pukulan ke lengan Sehun.

Yak, kenapa kau memukulku? Ini ‘kan hari ulangtahunku, seharusnya hari ini ada pengecualian.” Protes Sehun.

Minhee mengerucutkan bibirnya. “Apa maksudmu menggodaku terus? Kau sengaja, kan?”

Sehun hanya terkekeh menyebalkan, lalu mengacungkan syal itu lagi pada Minhee. Minhee mengerutkan keningnya melihat kelakuan Sehun.

“Sebagai istri yang baik, kau harus melingkarkan syal ini padaku.” Sahut Sehun sambil tetap mengacungkan syal itu.

“Apa?” protes Minhee. “Kenapa—“

“Sudahlah, jangan banyak protes. Oke?” potong Sehun sambil terus memaksa Minhee menerima syal itu lagi. Minhee memutar matanya walau pada akhirnya ia mengambil syal itu dari tangan Sehun.

“Mendekatlah,”

Sehun pun mendekatkan diri pada Minhee sesuai arahan gadis itu, lalu Minhee mulai melingkarkan syal itu di leher Sehun. Kegiatan gadis itu sempat terhenti saat ia menyadari pandangan Sehun yang terasa menganggu, lalu gadis itu mendongak dan balas menatap Sehun dengan pandangan jengah.

“Berhenti memandangiku seperti itu,” sahut Minhee datar. “Atau akan kucekik lehermu.”

Namun Minhee merasakan sensasi luar biasa saat rasa kesalnya mencair begitu saja, layaknya mentega yang dipanaskan diatas teflon, tepat ketika Sehun menyentuh pipinya dengan satu tangan.

“Aku mencintaimu, Minhee,” bisik Sehun dengan jarak yang mulai menipis di antara mereka. “Jadilah milikku untuk selamanya.”

 

***

 

Malam itu begitu romantis. Minhee bersumpah bahwa malam di tanggal 12 April itu adalah malam yang paling romantis seumur hidupnya. Dan ada sedikit hal yang membuat dirinya sendiri terkejut di sana.

Malam itu, untuk pertama kalinya Minhee berani membalas ciuman Sehun. Sungguh. Minhee pun tak tahu dari mana ia mempelajari itu semua, ia hanya mengikuti apa yang harus ia lakukan saat Sehun kembali memberinya ciuman manis seperti itu.

Selepas dari ciuman itu, Minhee tidak bisa berhenti untuk terus memikirkannya. Entah sensasi gila apa yang sudah merusak sistem kerja otaknya. Minhee hanya terus mengingat, betapa malam itu ia merasa begitu dekat dengan Sehun melebihi malam-malam sebelumnya semenjak kebersamaan mereka.

Namun tetap saja, selepas itu tidak ada hal aneh lain yang berlanjut. Semuanya berjalan normal. Makan malam romantis mereka adalah hal terakhir yang mereka lakukan sebelum kembali berpisah untuk memasuki kamar masing-masing. Hanya sepenggal ucapan selamat malam yang begitu jarang mereka ucapkan satu sama lain, mungkin itulah satu-satunya perbedaan malam mereka sebelum pergi tidur malam itu.

Minhee tak tahu. Sampai lewat dari tengah malam ia masih terus memikirkan mengapa bisa ia membalas ciuman Sehun dengan cara yang seharusnya. Minhee tak tahu hanya ia sajakah yang berpikiran aneh seperti ini, atau Sehun juga.

Tapi satu hal yang Minhee tahu di sini. Mungkin ia tidak lagi sepolos Shin Minheee yang dahulu. Pernikahan ini sudah banyak mengubahnya. Dan Minhee bingung, ia harus menyesal ataukah bersyukur dengan semua perubahan ini.

Memangnya ia sudah cukup dewasa untuk merasakan cinta?

 

 

Di sisi lain, Minhee tak pernah tahu jika Sehun tak jauh berbeda dengannya.

Selesai mengucapkan selamat malam untuk Minhee dan menutup pintu kamarnya, Sehun tidak bisa langsung jatuh tertidur. Sampai lewat dari tengah malam ia masih memikirkan semuanya, memikirkan semua yang sudah terjadi di malam ulangtahunnya yang hanya ia rayakan berdua bersama Minhee.

Sehun mungkin menganggap akibat semua adegan yang terjadi malam itu, pikirannya mulai konslet. Ia masih terus membayangkan sensasi saat pertama kalinya Minhee mau membalas ciumannya. Rasanya ratusan kali lebih manis daripada saat ia melakukannya secara sepihak seperti selama ini. Bahkan rasanya gila jika Sehun berharap Minhee tak akan pernah mendorong dirinya untuk memecahkan ciuman mereka. Walau mungkin Minhee menikmatinya juga, tidak mungkin jika gadis itu sampai lupa diri dan tidak melakukan kebiasaannya yang spontan.

Hei, tunggu. Omong-omong darimana Minhee belajar balas mencium seorang laki-laki seperti itu?

 

Pukul setengah dua malam Sehun masih terjaga dan rasa kantuk bahkan sama sekali tak ia rasakan. Rasanya seperti ia telah meminum bergelas-gelas kopi, kendati ia tak melakukannya. Lagipula, sejak kapan Sehun menyukai kopi?

Sehun selalu membenci minuman yang pahit sejak dulu.

 

Malam itu ponsel Sehun berdering, menandakan jika ada seseorang yang mencoba menghubunginya. Dan saat melihat siapa nama yang tercantum di layar, Sehun sedikit kecewa. Kenapa kakaknya itu baru mengubunginya setelah hari ulangtahunnya terlewati?

 

“Hai, hyung.”

 

Sehun-ah?” balas Luhan dari seberang telepon. “Kukira kau sudah tidur dan tidak akan mengangkat teleponku.”

 

“Aku belum tidur, hyung.” Balas Sehun datar. “Hyung, apa kau lupa—“

 

Selamat ulangtahun, adikku sayang!” seru Luhan riang. Sehun sampai harus menjauhkan telinganya sesaat dari speaker ponsel guna mencegah telinganya berdengung.

 

“Kau terlambat, hyung.” Balas Sehun datar. “Oke, baiklah. Terimakasih, hyung. Aku masih beruntung sebab Luhan hyung masih mengingat tanggal ulangtahunku.”

 

Sejahat itukah sampai aku melupakanmu?” balas Luhan. “Oh iya, bagaimana kabar Minhee? Apa dia menyiapkan kejutan ulangtahun untukmu?”

 

“I…” Sehun menggumam. “….Iya. Dia menyiapkan kejutan yang manis untukku, hyung.”

 

Oh begitu. Jadi pada akhirnya ia mengetahui tanggal ulangtahunmu?” Luhan balas bertanya.

 

“Ya, kurasa.” Jawab Sehun. “Kau yang memberitahunya, hyung?”

 

Bukan,” jawab Luhan. “Aku tidak mau mengaku saat ia menanyakannya. Jadi, mungkin ia bertanya pada eomma?”

 

“Aku tidak yakin,” jawab Sehun. “Oh, mungkin Kai yang memberitahunya.”

 

Baiklah,” sahut Luhan. “Lalu… Bagaimana rencanamu selanjutnya?”

 

Sehun mengerutkan kening setelah mendengar pertanyaan Luhan. “Apa? Rencana apa?”

 

Terdengar Luhan menghela napas sedikit tidak sabar di seberang sana. “Astaga, Sehun-ah. Apa setelah melihat bagaimana manisnya kejutan itu, kadar cintamu padanya tidak bertambah?”

 

Sehun mengangkat alisnya mendengar tebakan Luhan. Oh, mengapa kakaknya itu tepat sekali menebak?

“Apa? Kadar cintaku padanya?” Sehun berpura-pura tidak tahu. “Memangnya aku pernah mengaku pada Luhan hyung, ya? Apakah aku mencintainya atau tidak,”

 

Aish, kau ini.” Keluh Luhan. “Tidak perlu mengakupun, aku sudah bisa membacanya. Kau dan Minhee itu saling mencintai.”

 

Sehun tidak menjawab. Atau lebih tepatnya, ia tak tahu harus menjawab apa.

 

Sehun-ah, kuberitahu kau.” Suara Luhan kembali masuk ke dalam kesadaran Sehun. Untuk selanjutnya Sehun mendengarkan kalimat kakaknya itu dengan sungguh-sungguh, sebab kali ini nada bicara Luhan terdengar serius.

Buatlah Minhee menjadi milikmu sepenuhnya sebelum itu terlambat,” bisik Luhan pelan. “Jika kau benar-benar mencintai Minhee, kau pasti tahu apa maksudku.”

 

***

 

Pagi itu entah kenapa perasaan Sehun sedikit tak menentu saat akan keluar dari kamarnya. Beberapa menit sebelum ia mempersiapkan diri untuk keluar, ia memandangi dirinya sendiri di depan cermin cukup lama. Sehun menatap aneh pada refleksi dirinya sendiri yang terpantul pada permukaan cermin. Ia tampak tampan hari ini, dan entah kenapa tidak biasanya hari ini ia mulai memperhatikan penampilannya.

Sehun menghela napas panjang beberapa kali. Entah kenapa jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Sehun berpikiran polos, apakah mungkin ini efek dari pertambahan usianya.

Tidak mungkin, Sehun menolak pertanyaan konyol itu.

Apa mungkin… Karena ingatannya masih terorientasi pada romantisme dirinya dan Minhee semalam? Atau justru karena perkataan Luhan masih terus membayang di benaknya?

 

Buatlah Minhee menjadi milikmu sepenuhnya sebelum itu terlambat.

 

Oppa, kukira kau masih tidur,” sapa Minhee saat melihat Sehun datang ke meja makan. Laki-laki itu duduk di kursi makan miliknya, lalu memperhatikan Minhee sedang sibuk dengan sesuatu yang ada di atas kompor.

Sehun menggeleng saat Minhee menoleh untuk melihat jawabannya. “Aku bangun pagi hari ini,”

“Kau tampak berbeda pagi ini,” sahut Minhee dengan nadanya yang riang. “Efek dari pertambahan usia?”

“Kau meledekku?” balas Sehun datar.

Minhee tertawa kecil sambil mematikan kompor dan memindahkan sesuatu yang sejak tadi dimasaknya ke atas sebuah piring lebar.

“Kau sudah dua puluh dua tahun, oppa.” Sahut Minhee. Gadis itu membalikkan tubuhnya dan meletakkan piring berisi nasi goreng itu ke atas meja makan. “Sudah seharusnya kau sedikit memperhatikan penampilanmu.”

“Kebanyakan dari temanku memperhatikan penampilan untuk mendapatkan pacar,” sahut Sehun sambil menunggu Minhee menyiapkan peralatan makan yang lain. “Tapi untukku, buat apa aku masih memperhatikannya berlebihan? Aku bahkan sudah tak lagi dalam tahap pencarian pacar.”

Minhee tertawa lagi lalu duduk di kursi makan setelah semua peralatan makan mereka siap di atas meja. “Tapi setidaknya, dengan memperhatikan penampilan kau jadi terlihat lebih tampan.”

Sehun tak membalas kata-kata Minhee lagi. Ia hanya memperhatikan Minhee saat gadis itu mulai menuangkan air putih ke dalam gelas masing-masing.

 

Buatlah Minhee menjadi milikmu sepenuhnya sebelum itu terlambat.

 

Kata-kata Luhan secara tiba-tiba kembali terngiang dalam kepala Sehun. Otomatis Sehun langsung menegakkan posisi duduknya, membuat Minhee sempat memandanginya bingung.

“Ada masalah?” Tanya Minhee sambil meletakkan teko air di tempatnya semula. Masing-masing dari mereka sepakat untuk menunda waktu makan mereka, menyadari kemungkinan mereka akan terjebak obrolan yang cukup rumit. Mereka tak saling mengatakannya, hanya saja mereka peka untuk menebak.

“Minhee,” panggil Sehun sedikit gugup. “Semalam eomma menelepon.”

“Benarkah?” Minhee merespon. “Apa si-eomeoni mengucapkan selamat ulangtahun padamu juga?”

“Iya,” jawab Sehun. Kita semua tahu ia sedang berbohong. Sehun hanya sedang mencoba untuk memancing Minhee pada tema obrolan yang sebenarnya.

“Apa si-eomeoni menanyakan kabar kita juga?” Tanya Minhee lagi.

Sehun mengangguk walau ekspresinya yang tampak gugup sedikit mencurigakan.

“Baiklah. Apa hari ini kita perlu untuk mengunjungi rumah mereka?” Tanya Minhee lagi, kali ini seraya mulai menyendokkan nasi ke atas piringnya.

“Tidak, bukan itu maksudku,” jawab Sehun dengan kegugupan yang semakin kentara.

Minhee mengernyit bingung dan berhenti menyendokkan nasi. “Apa maksudmu?”

Sehun menelan saliva-nya gugup. Sebenarnya ini tema obrolan yang sudah lama sekali rasanya tak mereka bahas. Mungkin mereka nyaris melupakannya, andai saja kata-kata Luhan kemarin malam tidak kembali mengingatkan Sehun.

 

“Minhee-ya, kau tahu… Eomma berpesan padaku,” Sehun semakin gelisah untuk meneruskan kebohongannya. Minhee mengerutkan keningnya semakin dalam.

“Kurasa perkataanmu itu terlalu berbelit-belit, oppa. Ada apa sebenarnya? Kenapa kau… Terlihat gugup?” ucap Minhee seraya memperhatikan Sehun lekat-lekat. “Katakan saja, oppa.”

Eomma bertanya padaku—“ Sehun berucap pelan. “Kapan secepatnya kita memiliki anak.”

 

Minhee berhenti menatap Sehun dengan penasaran. Gadis itu terlihat terkejut, namun memilih untuk menyembunyikannya dan tak lagi spontan memukuli lengan Sehun seperti dulu. Sesaat suasana di antara mereka berubah menjadi canggung dan hambar. Sehun melirik Minhee takut-takut, betapa ia masih mengingat biasanya tema itu adalah tema yang paling dihindari oleh Minhee.

 

“Oh,” gumam Minhee sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Jujur, ia seketika merasa salah tingkah saat Sehun kembali menyeretnya pada tema obrolan itu. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak membicarakan itu lagi, dan kini mereka dihadapkan untuk kembali membahas tema itu.

Uhm, bukankah kita sudah sepakat?” Minhee lanjut bertanya.

Sehun menatap Minhee sedikit bingung. “Apa? Sepakat?”

“Ya. Sepakat,” balas Minhee dengan nada yang sedikit gamang. “Tidak ada kehamilan sampai aku lulus kuliah. Kau masih ingat itu, kan?”

“Memangnya iya?” Sehun balik bertanya. Ingatannya sudah parah.

“Kau tidak ingat?” Minhee balik bertanya juga. “Memangnya si-eomeoni tidak mengetahui hal itu?”

Sehun menggeleng dengan ekspresi bingung. “Astaga, aku bahkan lupa.”

“Astaga, kau lupa?” ulang Minhee. “Itu kesepakatan kita, oppa. Tidak ada kehamilan. Sampai aku lulus kuliah. Mengerti?”

“Oh,” ucap Sehun spontan. “Maafkan aku, Minhee-ya.”

Minhee hanya tersenyum simpul sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Minhee melanjutkan kegiatannya dengan menyedokkan nasi ke atas piring Sehun, berharap tema obrolan ini segera berakhir. Bukankah masih banyak tema obrolan pagi hari yang lebih nyaman untuk dibicarakan?

 

Minhee berucap pelan, “memangnya kalau aku hamil sekarang… Kau sudah siap?”

 

 

 

 

| T B C |

 

 

 

Halo semuanyaaaaaa ~~~~~

Selamat malam takbiran ya buat teman-teman yang merayakan! ^^

Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin ~~🙂

 

Astaga, maafkan aku yang ngaret hampir tiga minggu ini😥

Jadi kemaren tuh pulsa modem aku abis (seperti biasa), jadi aku harus ngaret dulu sampe beli pulsa modem baru ._.

Btw ditambah lagi belakangan ini aku terpaksa membengkalai cerita ini sementara. Ugh, aku sedang gatau dan jujur lagi buntu mau nulis apa— jadi aku memutuskan buat melupakan cerita ini sebentar😦 Readers, doain ya supaya kemalasan tangan dan otakku ini cepat menyingkir ~

 

Oke, di sini aku kasih full Sehun-Minhee ya, sebagai permintaan maaf buat keterlambatan postingnya😉

Gimana? Moment-nya aneh ngga? Atau terlalu cheesy?😀

Dari pengetikan awal sebenernya aku udah ngerasa moment-nya pas-pas aja. Tapi pas aku review ulang kok kayaknya ada yang mengganjal ya(?) ._.

Atau karena aku udah bosen kali ya, bolak-balik ngecek fic ini terus. Makanya aku ngerasa ganjel pas review adegan-adegan yang udah jadi😀 hahaha

/ugh, alasan macam apa ini/

 

Eh btw aku mau sedikit bahas soal Kakak Daeun yang muncul di chapter kemaren😀

Kemaren banyak yang ngga suka ya, ada dia? Banyak yang protes sama aku kenapa harus pake cast dia, hahahaha

Banyak yang potek😄

Honestly, bukan kalian aja yang potek. Aku juga potek. Hahaha

Nah, sekarang apa alasan kenapa aku pake cast dia?

Hm, lebih buat penghayatan aja kali ya😀

Tapi tenang aja buat kalian, cast Daeun kayaknya ngga bakal muncul di chapter-chapter terdekat ini😀 Masih butuh waktu buat menunggu dia muncul sepenuhnya jadi cast tetap, so buat kalian para Sehun-Minhee shipper— kalian masih ada kesempatan buat menghela napas lega😀

Nah, buat imajinasi rasa sakit dan sedih-sedihan itulah (yang pasti bakal muncul suatu hari nanti) yang jadi dasar aku buat memilih cast Daeun. Aku memilih cast Daeun bukan berarti aku shipper😀

Di dunia ini, aku hanya mengabdi sebagai shipper Tom Felton-Emma Watson (Dramione ama Feltson sama aja, waks) dan Conan Edogawa-Haibara Ai😀 hahahaha #keluartopik

Dan patut dicatat lagi nih, aku memilih Daeun bukan maksud buat mojokin dia. Jadi jangan ada yang benci sama dia hanya karena aku menggambarkan tokoh dia di sini yaa🙂

But it’s okay if you have another reason to hate her😀 I don’t have due to prohibit you🙂

 

Nah, sekian cuap-cuap aku kali ini. Ngga banyak, kan? Hahahaha ~

Pendapat kalian soal chapter minggu ini aku tunggu selalu yaa ^^

Semoga kalian suka sama persembahan aku di chapter yang ini😀

 

[♥] : Kata makasih gak pernah kering aku ucapin ke kalian, para readers kesayangan aku :3

Sampe detik ini komentar masih terus mengalir, dan jumlahnya beneran buat aku terharu… Aku terharu dengan betapa excited-nya kalian sama fic ini… Terimakasih banyak, aku sayang kalian semua deh… Beneran (/-\)

Makasih banyak ya, komentar kalian kemarin-kemarin selalu melebihi harapan aku… Makasih buat semangatnya :3

Pertahankan terus ya jumlah komentar kalian, supaya gembok bala aku gak nemplok di chapter selanjutnya😀 mihihi ~

 

 

shineshen

514 thoughts on “Secret Darling | 13th Chapter

  1. So sweet ^^
    sekarang Minhee sudah sadar kalau dia udah jatuh cinta sama suami ya sendiri?
    ah. di sisi Minhee ada Jungkook sebagai cinta pertamanya, di sisi Sehun ada Daeun sebagai sahabat lamanya yang dekat.. Humm

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s