We’ve Fallen in Love – Part 3

WVFIL POSTER

Title : We’ve Fallen in Love – Part 3

Author : Charismagirl

Main Cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri

Support Cast :

  • Park Chanyeol | Ahn Sungyoung | Do Kyungsoo | Lee Jinhee
  • Byun Family | Park Family

Rating : PG-13, Teen

Length : Chapter

Genre : Romance, Friendship, Family.

Cr poster : zhrfxo

Link : prolog | 1 | 2 | 3

Note : Do not copycat without my permission. Enjoy the story ^^/

Baekhyun merasa ada debaran aneh dalam dadanya. Menatap Minri terlalu lama berpotensi memberikan gangguan pada sistem di tubuhnya. Dia meletakkan tangan kanannya ke dada kiri, bibirnya bergumam pelan, “kenapa?”

***

“Aku akan melakukan apapun, asalkan tidak menggendongnya.”

“Kalau begitu hibur anak ini, buat tangisannya reda.”

“Hansoo-ya, jangan menangis… Kau terlihat jelek jika–”

HUEEEE!!

Tangisan anak kecil itupun terdengar semakin nyaring dan memekakkan telinga. Minri memejamkan matanya sembari menarik nafas dalam. Dia benar-benar ingin memukul Baekhyun sekarang, sungguh.

PART 3

“Carilah cara yang lebih berguna Baek!” Minri memeluk Hansoo, membiarkan anak itu bersandar di dadanya. Suaranya sedikit teredam dalam pelukan Minri. “Kau baru saja mengatainya jelek.”

“Dia belum mengerti, Minri.” Baekhyun mengepalkan tangannya gemas. “Kau benar-benar ibu yang cerewet.”

“Kau ayah yang menyebalkan–Ya! Aku bukan ibunya.”

“Aku juga bukan ayahnya!”

“Ya sudah, hentikan! Kenapa kita malah mendebatkan hal tidak berguna macam ini.” Minri merasa tekanan darahnya meningkat jika dia terus-terusan beradu mulut dengan Baekhyun.

Hansoo masih menangis, namun sudah lebih pelan daripada saat Baekhyun mengatakan bahwa anak itu jelek. Sebenarnya sedikit membingungkan jika Hansoo menangis karena perkataan itu. Baekhyun benar –Hansoo belum mengerti dengan apa yang mereka katakan.

Remember geudaega…

¯(Ingatkah, saat hal sulit menghampiri?
Aku selalu mengubah air matamu menjadi sebuah senyuman
Jadi, janganlah kau menangis saat ku tak ada, Jangan menangis
Karena kau selalu menangis tersedu…
)

Minri membeku saat dia mendengar suara nyanyian yang berasal dari mulut Baekhyun. Tidak hanya Minri, Hansoo-pun juga ikut terdiam. Anak itu menarik nafasnya pendek-pendek pasca menangis.

Hansoo menatap Baekhyun sambil mengisap jempolnya. Anak itu tampaknya menyukai dengan apa yang Baekhyun lakukan. Dia tersenyum, membuat matanya melengkung. Anak itu terlihat manis sekali jika tersenyum. Dan kalau saja rambut Hansoo tidak pendek–potongan anak lelaki–Minri mengira anak itu berjenis kelamin perempuan. Dia cukup cantik untuk seukuran anak lelaki.

Baekhyun menyelesaikan lagunya dengan begitu mempesona, membuat Minri hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya. Baekhyun sudah berhenti bernyanyi, tapi Minri masih merasa pendengarannya terisi oleh suara indah lelaki itu.

Mungkin Baekhyun tidak akan menjadi ayah yang menyebalkan nanti kalau dia bisa mendiamkan anaknya melalui sebuah nyanyian dengan suaranya yang lembut –terlalu indah untuk dimiliki lelaki biasa yang tidak mengerti musik.

***

Minri, Baekhyun dan Hansoo sedang duduk santai di ruang tengah. Hansoo sibuk memainkan PSP hitam milik Baekhyun–dengan sedikit tidak rela–membiarkan anak itu menekan tombol-tombol disana dengan asal. Dan merelakan jika nantinya mainan kesayangan Baekhyun itu lecet atau berlumur liur.

Baekhyun juga menyumbangkan bola basketnya untuk dijadikan mainan Hansoo. Sementara Minri hanya menyerahkan sebuah boneka rilakuma. Mereka tidak akan menyangka bahwa akan mendapat kunjungan dari bocah berumur satu tahun –di pagi hari.

Minri dan Baekhyun sedang duduk di lantai, di depan meja. Dengan selembar kertas dan sebuah pulpen. Mereka sedang mendiskusikan pembagian tugas mengurus Hansoo. Meskipun awalnya Minri menolak keras untuk terlibat, tapi melihat Baekhyun yang sepertinya baru kali ini berurusan dengan anak kecil, membuatnya tidak tega jika nanti Hansoo harus kelaparan atau mengalami hal buruk.

“Aku membuatkannya susu, kau memandikannya, aku menidurkannya,…” Minri membacakan list yang sudah mereka diskusikan. Sementara Baekhyun menyimak sembari menumpukan dagunya di lengan.

“Tunggu–kita sepakat untuk tidak membuatku mengurusnya sendirian. Kenapa aku harus memandikannya?”

“Kita-sudah-mendiskusikannya.”

“Tapi,” Baekhyun melirik Hansoo yang sedang mencoba berdiri dengan berpegangan pada bola basket. Anak itu berjalan pelan mengiringi bola yang menggelinding. “Bagaimana kalau tiba-tiba matanya kemasukan sabun, atau aku membuatnya kalap, menenggelamkannya, membuatnya terpeleset.”

“Kau mau membunuhnya, ya!”

“Ayolah, Minri…”

Minri mengalihkan pandangannya ke arah lain. Baekhyun baru saja menunjukkan ekpresi ‘anak anjing yang kelaparan’ membuatnya tampak manis dan menggemaskan. Minri tidak ingin goyah hanya dengan wajah itu.

“Baek, kalau kau tidak mencobanya, kau tidak akan pernah menyentuhnya.”

Entah sejak kapan, Hansoo berada di samping Baekhyun. Dia merangkak ke pangkuan Baekhyun lalu mencoba berdiri. Hansoo tertawa pelan. Tangan mungilnya menggapai wajah Baekhyun.

“Baiklah.” Baekhyun akhirnya menyerah. Mungkin dia tidak perlu khawatir yang berlebihan. Dia akan melakukannya dengan hati-hati. Dan ngomong-ngomong, Hansoo lucu juga. Tidak, tidak, tapi dia lucu sekali!

***

Minri membawa makanan ringan dan dua gelas jus di atas nampan, lantas meletakkannya di atas meja. Dia memperhatikan Baekhyun yang sedang bermain dengan Hansoo. Baekhyun mengikatkan pita merah muda di seputar kepalanya. Hansoo menyukai hal itu.

Minri yakin Baekhyun tidak dapat mengelak ketika Hansoo menyerahkan pita panjang berwarna merah muda punya Minri yang tadinya terikat di leher boneka rilakumanya. Sekarang pita itu berpindah ke kepala Baekhyun. Demi apapun Baekhyun tampak manis jika berpenampilan seperti itu. Tanpa sadar Minri tersenyum. Senyum itu tidak bertahan lama karena Minri segera menggantinya dengan sebuah tawa mengejek. Ups, dia kelepasan kontrol.

“Jangan menertawakanku,” ucap Baekhyun dengan nada datar–yang menyadari bahwa Minri mentertawakannya.

“Kau tampak manis Baek, sungguh.” Minri meneguk jus jeruknya, mengabaikan Baekhyun yang mendelik tajam padanya.

Appa,” panggil Hansoo pelan.

Baekhyun segera menoleh pada Hansoo dengan kening berkerut. Sejak kapan dia menjadi ayah. Dia bahkan belum menikah, apalagi membuat bayi, ish!

“Aku bukan ayahmu, ya.” Baekhyun mencubit hidung Hansoo dengan pelan, membuat anak itu tertawa geli. “Ayahmu bernama Lu Han.”

Ting tong!

Bel rumah keluarga Byun berbunyi. Minri meletakkan gelasnya lalu beranjak dari sana. Dia berharap tidak ada lagi hal yang mengejutkannya atau dia benar-benar akan gila. “Biar aku saja,” ucapnya lalu berjalan menuju pintu.

“Baekhyun-ah!” seru seorang lelaki jangkung saat Minri baru saja membukakan pintu. Dia tidak sendirian. Ada seorang gadis yang tingginya hanya sebatas dagu lelaki itu sedang menatapnya dengan kening mengkerut, lalu gadis itu tersenyum canggung.

Lelaki jangkung itu melangkah mundur dengan cepat –Minri pikir dia akan tersandung kakinya sendiri. Dia memperhatikan nomer rumah yang ada di depan, lalu kembali ke hadapan Minri.

“Ini benar rumah Baekhyun. Tapi kau siapa?” tanya lelaki itu sembari melongokkan kepalanya ke dalam, barangkali dia menemukan pencerahan sendiri.

“Aku… teman Baekhyun,” ucap Minri ditambah dengan senyuman.

“Baekhyun tidak pernah mengenalkanmu padaku,” ucap lelaki itu.

Gadis di sampingnya menyenggol lengan lelaki itu. Menghentikan bicaranya yang semakin tidak terarah. Lebih baik dia menanyakan sesuatu yang jelas. Dan yang terpenting mereka sudah tidak salah alamat.

“Baekhyun!!” seru lelaki itu, setelah dia melihat seorang lelaki yang dicarinya muncul dalam jarak beberapa meter di belakang Minri. Minripun menoleh ke belakang.

“Ya idiot! Untuk apa kau kemari?”

Baekhyun berjalan menghampiri pintu. Dia bersama Hansoo dalam gendongannya. Minri tidak menyangka bahwa Baekhyun sudah tidak takut untuk menggendong anak itu.

“Hahaha!” lelaki yang disebut idiot oleh Baekhyun itupun tertawa keras sembari memegangi perutnya. “Kau mengurus bayi sekarang? –Oh, lihat, pita di kepalamu itu.” Lelaki itu kembali meneruskan tawanya. Sementara Minri harus menahan diri untuk tidak ikut tertawa.

Baekhyun menarik pita di kepalanya, membuat pita itu terlepas. Dia merasa malu, didapati oleh temannya dalam keadaan seperti itu.

“Diam kau Chanyeol jelek. Dasar telinga yoda!”

Namanya Chanyeol, ucap Minri dalam hati.

“Baik, baik, kau bilang hari ini kita akan ke toko komputer. Makanya aku menjemputmu, dan aku membawa Sungyoung bersamaku.”

“Hai Sungyoung,” sapa Baekhyun. “Sayang sekali, aku hari ini sibuk–”

“Sebaiknya kalian masuk. Tidak baik bicara di depan pintu.” Minri menginterupsi ucapan Baekhyun. Namun semuanya setuju untuk masuk ke dalam rumah dan bicara dengan damai.

“Jadi kau benar-benar harus mengurus bayi?” Chanyeol tertawa lagi. Sungyoung mencubit pinggang Chanyeol, membuat lelaki itu mengaduh. Lalu di detik berikutnya dia tersenyum lebar pada Sungyoung–kekasihnya. Ya, mereka adalah sepasang kekasih.

“Berhentilah tertawa sebelum kau membuat rahangmu lepas,” desis Sungyoung. Uh, jangan heran kalau gadis itu mendadak kejam. Tapi tenang, Chanyeol tidak akan pernah tersinggung.

Baekhyun berdeham.

“Begitulah. Luhan Hyung menitipkannya padaku.” Baekhyun mengakhiri kalimatnya dengan sebuah helaan nafas.

“Dan dia temanmu?” tanya Sungyoung–mengarahkan pandangannya pada Minri yang sedang memberikan botol susu pada Hansoo.

Baekhyun menganggukkan kepalanya. Memerhatikan Chanyeol dan Sungyoung bergantian dengan kening mengkerut. Karena dia tidak mengerti mengapa kedua temannya itu harus tiba-tiba tersenyum dengan kompak, menggoda Baekhyun seolah-olah dia baru saja ketahuan berkencan.

“Sungguh hanya teman? Kau tidak pernah membawa perempuan ke rumahmu.”

Baekhyun memutar bola matanya. Pertanyaan dan pernyataan yang Chanyeol lontarkan membuatnya sedikit jengah.

“Dia anak dari keluarga Park, anak teman ayah–” Baekhyun berhenti bicara, menyadari bahwa mungkin mereka berdua –Chanyeol dan Sungyoung–tidak akan mengerti dengan apa yang dijelaskan Baekhyun, maka dari itu dia memutuskan untuk memanggil Minri saja. “Minri, kesini sebentar.”

Baekhyun melambaikan tangannya pada Minri, lalu gadis itu menghampiri Baekhyun–bersama dengan Hansoo.

“Perkenalkan, mereka temanku. Dia si telinga yoda–” Baekhyun berdeham merasa bersalah, “maksudku, dia Chanyeol, dan dia Sungyoung.”

Minri mengulurkan tangan kanannya yang bebas.

“Namaku Minri, senang bertemu dengan kalian.”

“Kau gadis yang cantik, kau pasti merawat wajahmu dengan sungguh-sungguh,” ucap Sungyoung sembari tersenyum.

Minri menarik ujung bibirnya dengan canggung, sedikit merasa tersipu. Namun tidak bisa mengelak. Dia tidak pernah melakukan perawatan sungguh-sungguh seperti yang dikatakan gadis bernama Sungyoung itu.

“Terimakasih, Sungyoung-ssi.”

“Tidak usah bicara begitu formal. Panggil Sungyoung saja.”

Minri mengangguk. Lalu Sungyoung beranjak dari duduknya dan menarik Minri untuk duduk di karpet bulu–bersama dengan Hansoo. Kedua perempuan itu sudah terlibat dalam pembicaraan yang tidak terlalu dimengerti Baekhyun.

Baekhyun memperhatikan Minri dari jauh, Minri lebih sering tersenyum setelah dia bertemu Sungyoung.

Dan Baekhyun pikir, dia sudah menyukai senyuman itu.

“Hei, dia pacarmu ‘kan? Mengaku saja.”

Oh, sepertinya Baekhyun lupa bahwa masih ada Chanyeol di sampingnya.

“Ku bilang bukan.”

“Dia cantik, tahu. Kau tampak serasi dengannya.”

“Aku tahu.”

Aku tidak buta untuk menyadari kalau dia memang cantik.

“Atau kau masih dalam masa pendekatan? Dimana kau kenal dengannya?–Oh, apa dia malah sudah menolakmu?”

Bukk!

Sebongkah bantal sofa menjadi jawaban–yang tidak diinginkan Chanyeol–atas pertanyaannya yang beruntun. Bantal itu mendarat tepat di wajah Chanyeol. Dia dan mulut idiotnya itu membuat Baekhyun tiba-tiba kehilangan kesabaran.

***

“Kau akan tinggal disini?” tanya Sungyoung pada Minri. Kedua gadis itu sedang berada di dapur, sementara Hansoo bersama Baekhyun dan Chanyeol di ruang tengah–suara mereka terdengar sampai dapur.

“Hanya beberapa hari, sampai orang tuaku kembali dari Jeju–dari pekerjaan mereka.” Minri membuka pintu kulkas, memperhatikan deretan minuman kaleng dan susu kotak. “Susu atau soda?”

Sungyoung menoleh pada Minri, “Eum, susu saja.”

Vanilla.” Minri meletakkan kotak susu vanilla di depan Sungyoung.

“Wah! Kau tahu aku akan memilih vanilla.

“Hanya menebak-nebak.” Minri mengendikkan bahu.

“Apa kau sudah lama kenal dengan Baekhyun?” tanya Sungyoung lalu menyeruput susu kotaknya.

“Tidak. Walaupun orang tuaku–terutama ibu–sering menceritakan tentang Baekhyun, dan juga Hyung-nya, tapi aku baru kali ini bertemu dengannya.”

“Dia orang yang baik kok, walau terkadang menyebalkan.”

Kata ‘terkadang’ sepertinya lebih cocok diganti dengan ‘sering’, batin Minri.

“Err… Minri-ya, maaf, kalau Baekhyun sungguh menyukaimu bagaimana?”

Uhhuk! Minri harus meletakkan minumannya jika ditanyai hal semacam ini. Dia terancam menyemburkannya.

“Hah?” Minri menjatuhkan rahangnya, sesaat, sebelum dia tertawa. “Tidak mungkin. Kau ini ada-ada saja.” Minri memukul lengan Sungyoung pelan.

“Aku serius, Minri. Baekhyun tidak pernah peduli pada perempuan. Maksudku, menaruh perhatian atau tiba-tiba bicaranya berubah lembut. Itu yang dilakukannya hanya saat dia berhadapan denganmu.”

“Benarkah?” Minri menghentikan tawa dan mengubahnya menjadi senyuman. “Dia memperlakukanku begitu karena aku adalah tamu. Dia mengatakannya sendiri.”

Sungyoung menurunkan pandangannya. Merasa tidak yakin kalau Baekhyun hanya melakukannya dengan alasan seperti itu. Lagipula mana ada orang suka yang mengaku secepat itu.

“Hei! Lagi membicarakan aku ya?” Chanyeol tiba-tiba muncul, membuat kedua gadis itu terkesiap. Mereka menoleh bersamaan. Berikutnya, Chanyeol harus mendengarkan omelan dari mulut Sungyoung.

Minri memutuskan untuk beranjak dari dapur–meninggalkan kedua orang yang sedang terlibat dalam pertengkaran kecil yang Minri pikir itu cukup manis. Dia tersenyum tipis. Rasanya bahagia melihat Sungyoung dan Chanyeol bersama, meskipun baru mengenal mereka, Minri merasa mereka berdua begitu serasi.

“Heh, jangan sembarangan minum punyaku!”

Indirect kiss. Hahaha.”

Suara dari dapur semakin terdengar samar saat Minri kembali ke ruang tengah.

Minri berhenti dalam jarak beberapa meter dari Baekhyun –yang sedang mencubit gemas pipi Hansoo. Lelaki itu menoleh padanya. Pandangan mereka beradu sesaat, sebelum Baekhyun memutusnya dan menatap ke arah lain.

Gadis itu teringat pertanyaan Sungyoung. Merasa ada sesuatu yang menggelitik jika hal yang mereka bicarakan benar-benar terjadi.

***

“Ya! Turunkan anak itu.” Baekhyun berusaha menggapai Hansoo yang berada di gendongan Chanyeol. Dia mengangkat tinggi anak itu, Baekhyun berpikir kepala Hansoo akan menyentuh atap. “Kau bisa membuat bahunya terkilir. Ya ya ya!” Baekhyun tidak akan berhenti mengoceh pada Chanyeol sebelum lelaki itu melepaskan Hansoo dari tangannya.

“Kau kenapa sih, Baek? Aku tidak akan membuatnya terluka, tenang saja.” Chanyeol mencium pipi Hansoo dengan gemas.

“Sepertinya Chanyeol sudah berpengalaman mengurus anak kecil. Tidak usah terlalu khawatir.” Minri bicara pelan pada Baekhyun. Sejak tadi gadis itu hanya memperhatikan Baekhyun yang terus mengomel pada Chanyeol. Sementara Sungyoung lebih memilih menonton TV sambil memakan keripik kentang. Dia sedang berkutat pada acara musik kesukaannya.

“Kau membelanya ya?” tanya Baekhyun dengan nada sengit dan wajah tidak suka.

“Tidak.” Minri memutar bola matanya. Jangan mulai lagi, pikirnya. Dia sedang malas berdebat.

Sesaat setelah Baekhyun mendengus kesal, Hansoo tiba-tiba menjambak rambut Chanyeol membuat lelaki itu menjerit.

“Dia tahu kau bisa mencelakainya.” Baekhyun tertawa kejam, kemudian mengambil alih Hansoo dari tangan Chanyeol.

“Kau bilang tidak suka mengurus bayi,” gerutu Chanyeol kemudian mengambil bola basket Baekhyun dan melambungkannya rendah.

“Dia keponakanku,” jawab Baekhyun seadanya.

“Aku punya ide!” Chanyeol kembali merebut Hansoo lalu membawanya menjauh dari Baekhyun. Dia mendudukkan anak itu dalam jarak beberapa meter dari mereka berempat–karena kebetulan mereka juga berdekatan. Lalu Chanyeol menyerahkan bola basket pada Hansoo.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Baekhyun.

“Aku hanya ingin tahu siapa yang akan dia pilih.” Chanyeol menarik pergelangan tangan Sungyoung membuat gadis itu memekik karena kegiatannya terganggu.

“Boyband kesukaanku akan tampil, ish!” omel Sungyoung.

“Sebentar saja, manis.”

“Manis kepalamu,” gerutu Sungyoung sambil menyembunyikan wajahnya yang tiba-tiba merona.

“Nah! Kau berdiri disana.” Chanyeol mendorong Baekhyun sampai Baekhyun berdiri di samping Minri, tubuh mereka sempat bertabrakan, namun Baekhyun hanya mengendikkan bahu, menyadari kalau Minri pasti ingin bertanya.

“Dia selalu punya cara untuk membuat semuanya menjadi ramai,” ucap Baekhyun pelan pada Minri yang masih memasang wajah bingung.

“Kalau Hansoo memilihku, maka kau harus mencium gadis itu!” tunjuk Chanyeol pada Minri.

“Haa?” Minri membulatkan matanya. Kenapa? Kenapa harus dia yang jadi korban. Ugh, permainan macam apa ini. Minri mulai panik hingga dia menarik ujung belakang baju Baekhyun. Secara otomatis Baekhyun menahan tangan gadis itu.

“Kalau kau kalah,” Baekhyun memberi jeda. Berpikir untuk memberi hukuman yang lebih menyebalkan untuk Chanyeol. Entah secara sadar atau tidak, dia masih menggenggam tangan Minri. “Kau harus….” Baekhyun menatap Chanyeol dan Sungyoung bergantian. Mereka adalah pasangan kekasih, pikir Baekhyun. Kalau diberi hukuman yang sama dengannya tidak akan berefek apa-apa. Baekhyun yakin mereka sudah sering melakukannya. “Kau harus menggendong Sungyoung sampai rumahnya.”

“Apa menggendongku? Oh tidak! Kami akan menjadi pusat perhatian sepanjang jalan. Hentikan permainan ini!” protes Sungyoung, jelas-jelas tidak setuju.

“Baik. Aku setuju, Baekhyun.” Chanyeol berucap tanpa ragu-ragu.

“Yeol,” bisik Sungyoung. Satu senyuman manis tanpa dosa dari wajah kekasih jangkungnya itu membuat Sungyoung tidak bisa melayangkan protes yang berkelanjutan. Sial.

“Ayo mulai.”

Chanyeol dan Sungyoung berdiri di sebelah kanan, sementara Baekhyun dan Minri di sebelah kiri. Mereka sama-sama berjongkok. Lalu memanggil nama Hansoo, membuat suara bercampur baur.

“Hansoo-ya. Aku bisa mengangkatmu tinggi sekali. Kau harus memilihku.” Chanyeol merentangkan tangannya.

“Ya! Ayahmu menitipkanmu padaku. Aku-lah harusnya yang kau pilih.” Minri memejamkan matanya sesaat, lalu menghela nafas. Kalau begini, mereka bisa kalah, pikirnya.

“Baek, bicaralah lebih lembut,” ujar Minri.

“Aku tidak bisa. Kau saja!”

Minri memanggil Hansoo. Sebenarnya suaranya kalah nyaring dengan Chanyeol. Tapi dia sudah berusaha memenangkan pertarungan ini bersama Baekhyun. Mempertaruhkan ciuman pertamanya, apa-apaan ini.

Hansoo berjalan pelan, menggiringi bola basket yang menggelinding. Dia belum bisa berjalan dengan cepat. Langkah mungilnya sesekali terhenti karena jatuh terduduk di lantai. Lalu anak itu bangkit lagi, dia tertawa dengan suaranya yang menggemaskan. Tampaknya Hansoo senang sekali dengan kehadiran banyak orang.

Anak itu membelokkan langkahnya ke sudut dimana Chanyeol berada, membuat rona wajah Baekhyun mendadak mengeras. ‘Bagaimana ini’ jeritnya dalam hati.

“Kau lihat kan? Siapa yang akan dipilihnya.” Tinggal beberapa langkah lagi Hansoo menggapai Chanyeol.

“Hansoo-ya…

Namun, anak itu menoleh pada Baekhyun yang sedang tersenyum padanya. Hansoo mengerjapkan matanya. Lalu, dia melepaskan bola basketnya dan melempar pelan pada Chanyeol–hampir mengenai wajah Chanyeol, namun beruntung lelaki itu dapat menangkapnya dengan sigap. Kemudian Hansoo merangkak ke arah yang berlawanan, ke tempat Baekhyun dan Minri.

“YAAYY!” Baekhyun mengangkat tubuh Hansoo, hampir menerbangkannya. Lalu menciumi pipinya yang tembem itu. “Kau memang baik padaku, anak manis.”

Minri tersenyum senang karena kelegaan menyelimutinya. Dan satu alasan lain yang membuatnya senang adalah, Baekhyun benar-benar menyayangi Hansoo seperti anaknya sendiri.

 

“Daah! Pegang yang erat Sungyoung-ah,” Baekhyun melambaikan tangannya pada Chanyeol dan Sungyoung yang berdiri di depan rumahnya. Kedua teman Baekhyun yang merupakan pasangan kekasih itu akhirnya memutuskan untuk pulang.

Sungyoung berada di punggung Chanyeol sambil melingkarkan kedua lengannya ke leher lelaki jangkung itu. Mereka sempat berdebat. Sungyoung protes karena merasa Chanyeol menyentuh pantatnya. Padahal Chanyeol sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Dan Chanyeol beberapa kali menepuk lengan Sungyoung karena gadis itu terasa seperti sedang mencekiknya.

Perdebatan itu berakhir lima menit kemudian. Baekhyun kembali masuk ke dalam rumahnya setelah kedua temannya itu hilang dari pandangannya.

***

Setelah Chanyeol dan Sungyoung pulang, bibi Lee telah kembali. Wanita itu segera memasak makanan untuk makan siang.

Minri ikut berada di dapur, berusaha membantu pekerjaan wanita itu. Sekalian belajar memasak karena Minri baru saja memikirkan masa depan –bahwa dia nantinya akan menjadi istri dan ibu. Sedikit menggelikan, tapi inilah kenyataan.

Gadis itu melibatkan diri dalam hal potong-memotong sayur karena hanya itu pekerjaan yang paling mudah. Dia dan bibi Lee mengobrol ringan. Minri ditanya tentang daerah tempat tinggalnya dan kegiatan kesehariannya.

Setelah semuanya selesai, bibi Lee meninggalkan dapur, menyisakan Minri sendirian yang sedang membersihkan sisa-sisa sampah dan mencuci piring yang telah terpakai saat memasak tadi.

Baekhyun memasuki area dapur dengan Hansoo yang berada di gendongannya.

“Minri-ya, sepertinya anak ini haus.”

Minri mendongak, lantas berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangan.

“Sebentar, aku akan membuatkan susu untuknya.”

Baekhyun memutuskan untuk duduk di salah satu bangku di meja makan. Dia memperhatikan pergerakan Minri.

Tidak butuh waktu lama untuk Minri membuatkannya karena membuat susu bayi adalah pekerjaan mudah. Dia hanya membutuhkan sedikit air hangat, lalu memasukkan beberapa takar susu bubuk, kemudian mengocoknya.

“Apa aku boleh minta bantuanmu?”

“Apa itu?” Minri meletakkan botol susu di atas meja, kemudian duduk di samping Baekhyun.

“Tolong tuangkan air putih. Aku juga haus sekali.”

Tanpa berkata apa-apa, Minri beranjak dari kursi dan melakukan apa yang Baekhyun minta. Dia sudah menjaga Hansoo dengan serius, Minri yakin dia pasti lelah. Tidak ada salahnya sedikit membantu Baekhyun.

“Satu lagi,” ucap Baekhyun sembari menatap gelas yang baru diletakkan Minri di atas meja. “Aku tidak bisa meminumnya dengan tanganku sendiri.”

Minri tampak berpikir.

“Aku mengerti,” ucapnya, lalu mengambil gelas dan membantu Baekhyun meminum minumannya.

Hansoo mengerjapkan matanya, memerhatikan gelas Baekhyun yang dipegang Minri, di depan mulut Baekhyun. Baekhyun menggumam, memberi isyarat bahwa dia sudah cukup. Minri melihat sudut bibir Baekhyun yang basah–refleks menyapukan punggung tangannya di bagian yang basah itu.

Baekhyun menarik nafas pendek, terkesiap dengan perlakuan itu. Sementara Minri segera menarik tangannya–tangan lancangnya –menyadari bahwa dia sudah bertindak bodoh dan memalukan.

“Biar aku yang memberinya minum.” Minri mengambil alih Hansoo dari gendongan Baekhyun, membawa serta susu yang tadi dibuatnya lalu berjalan cepat meninggalkan dapur.

Baekhyun meraba ujung bibirnya. Tidak tahu kenapa pipinya terasa menghangat.

***

Suara kecipak air berasal dari kamar mandi bersama yang letaknya tidak jauh dari dapur. Pintu kamar mandi itu dibiarkan terbuka karena di dalamnya Baekhyun sedang memandikan Hansoo.

Dia menggulung celananya sampai lutut beruntung saat ini dia memakai baju lengan pendek sehingga dia tidak perlu menggulungnya juga. Hansoo berada dalam bathub, sementara Baekhyun memegangi anak itu dari luar.

Minri lewat di depan pintu kamar mandi itu. Dia tertarik untuk melihat ke dalam. Baekhyun tampak kesusahan saat menyabuni tubuh Hansoo karena anak itu tidak bisa duduk diam. Dia terlalu asik bermain air. Anak itu menepuk-nepuk permukaan air, membuat cipratannya mengenai wajah Baekhyun.

“Hansoo-ya, jangan seperti itu, bisa-bisa aku basah semua nanti.”

Hansoo berhenti sebentar, dia memandangi Baekhyun dengan mata mengerjap pelan. Lalu meneruskan kegiatannya tadi kali ini lebih keras, ditambah dengan suara menggemaskan dari mulut mungilnya.

“Paa paa paaa….” Hansoo asik berceloteh sambil tertawa, tampaknya dia senang sekali bermain air.

“Baek, jangan terlalu lama, nanti Hansoo masuk angin.” Minri melongokkan kepalanya di depan pintu kamar mandi.

“Aku sudah berusaha, ya. Siapa suruh memberiku tugas seperti ini.” Baekhyun membilas tubuh Hansoo, lalu tiba-tiba anak itu tersedak.

“Baekhyun!” Minri masuk ke dalam kamar mandi, dia mengambil sisi yang lain di samping bathub. “Wajahnya tidak perlu di siram.” Minri mengusap wajah Hansoo, dengan telapak tangannya.

“Mana aku tahu. Harusnya dia bisa menahan nafas saat kusiram tadi.” Baekhyun mencibir.

“Anak satu tahun memangnya tahu apa, Baek?” Minri mengeluarkan Hansoo dari bathub. Lalu meletakkan anak itu di tepian, membiarkan anak itu berdiri sambil berpegangan dengan sisi-sisi bathub. Lalu Minri berdiri, menjulurkan tangannya untuk meraih handuk yang tergantung tepat di atas keran bathub itu. Handuk itu tidak basah karena permukaan air tidak terlalu tinggi.

Namun, ketika tangannya sudah hampir mencapai handuk itu, kakinya menginjak bekas tetesan sabun. Dia kehilangan keseimbangan. Baekhyun refleks berdiri, lalu menahan tubuh Minri. Gadis itu hampir tercebur ke dalam bathub kalau saja Baekhyun tidak menolongnya.

Untuk beberapa saat waktu seolah membeku. Mereka saling menatap dalam jarak dekat. Minri merasa jantungnya mulai bermasalah. Dia ingin mendorong tubuh Baekhyun, tapi kalau dia melakukan hal itu maka dia harus rela basah seluruh tubuh. Tiba-tiba saja Baekhyun mengangkat satu ujung bibirnya, lalu melepaskan Minri begitu saja.

Byurr!

Aaaack!

Dia terhempas ke permukaan air, membuat air itu terciprat keluar.

Ups, maaf tidak sengaja.”

Dia bohong! Jerit Minri dalam hati.

Gadis itu yakin sekali kalau Baekhyun sengaja. Karena harusnya tadi Minri bisa diselamatkan. Detik itu juga Minri memikirkan tentang pembalasan dendam. Ketika Baekhyun akan menegakkan tubuhnya, Minri malah menarik kerah depan Baekhyun hingga lelaki itu jatuh ke depan, Minri sempat menepi hingga lelaki itu tidak perlu menindih tubuhnya, walaupun mereka harus sedikit berbenturan. Beruntung tidak ada insiden kepala yang terbentur sisi bathub.

Tubuh mereka tercelup habis. Kini mereka berdua kebasahan sana sini. Hansoo bertepuk tangan dengan riang. Anak itu seperti menonton komedi yang tidak dia mengerti, namun cukup untuk membuatnya tertawa cekikikan.

“YAK!” jerit Baekhyun. “Kenapa kau menarikku?”

“Harusnya aku yang bertanya kenapa kau melepaskanku padahal kau bisa menolongku tadi. Ish!”

“Sudah kukatakan kalau aku tidak sengaja.”

“Kau bohong!” Minri mendesak tubuh Baekhyun, dia berusaha bangkit. “Minggir kau!”

Baekhyun berusaha menahan ketawa. Dia memang sengaja membuat Minri tercebur. Ada kesenangan tersendiri saat mendengar gadis itu mengomel padanya.

***

Setelah memandikan Hansoo, Baekhyun dan Minri pun harus mandi juga karena insiden tercebur dalam bathub tanpa direncanakan. Sementara Hansoo diserahkan pada bibi Lee untuk dipakaikan baju dan ditabur bedak bayi.

Baekhyun merasakan kesenyapan setelah Minri membawa Hansoo ke dalam kamarnya. Baekhyun melewati kamar itu. Langkahnya terhenti di depan pintu yang sedikit terbuka. Lelaki itu melongokkan kepalanya ke dalam dan mendapati gadis itu sedang tertidur bersama dengan Hansoo di sampingnya.

Dengan langkah pelan, Baekhyun masuk ke dalam kamar itu. Dia berdiri disana cukup lama, untuk sekedar memperhatikan cara Minri tidur, cara dia bernapas dan cara dia tersenyum dalam tidurnya.

Baekhyun merasa ada debaran aneh dalam dadanya. Menatap Minri terlalu lama berpotensi memberikan gangguan pada sistem di tubuhnya. Dia meletakkan tangan kanannya ke dada kiri, bibirnya bergumam pelan, “kenapa?”

***TBC***

Let’s meet our cute couple!😄

ASY-PCY

Yeah! Ketemu lagi ;] masih ingin dilanjut? Wkak. Kerasa dongyaa ini agak panjang. Trus, aku ga janji part depan bakal tepat waktu atau engga soalnya persiapan perkuliahan yang bentar lagi aktif >,< otokett.

Setelah menyusun konsep, agaknya FF ini berakhir pada nomor punggung LuHan ‘-‘)/

Sorry for typo.

Do not call me ‘thor’ pls. My name is Rima, 93L.

Terimakasih sudah baca. Berkenan untuk memberikan komentar?

Thanks for your support!

Ps: Aku (dan seluruh cast) mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakannya. Mohon maaf lahir batin. Maaf atas kata dan perbuatan baik sengaja maupun tidak sengaja telah menyinggung kalian. Loveya all❤

©Charismagirl, 2014.

323 thoughts on “We’ve Fallen in Love – Part 3

  1. Aku balik lagi…..

    kenapa ya baca fanfic Baekhyun yang manis kaya gini tuh bikin pengen nyulik Baekhyun terus dibawa pulaaaang. Hahaha jangan deh, nanti Minri marah

    Chanyeol sama Sungyeong tuh couple yang ga kalah manisnya sama Baekhyun Minri, suka deh♥♥♥♥

  2. Ya ampun mereka sweet bgt si hahaha coba kalo hansoo td milih chanyeol, first kiss baekhyun minri haha smirk tp sygnya hansoo malah milih baekhyun

  3. Kkk, seneng bgt adegan celup2an(?)nya._. Mksdnya wkt mereka berdua nyelem(?) ke dalam bathub. Duuh, kok ga nemu kata yg tepat ya?😄 gara2 pesona mastin nih -eh byunbaek mksdnya. Aku lgi error. Jdi mohon maklum aja ya, kak rim xD oke, lanjuuut

  4. Ping-balik: We’ve Fallen in Love – Part 7 [end] | EXO Fanfiction World

  5. ngebayangin gmana kalo mereka punya anak nanti hahahaha
    disini ngebayangin baek ngurusin hansoo, berasa ngebayangin baek jadi hot daddy hahaha
    coba tadi hansoo ke arah chanyeol hahaha

  6. SAOLOH EON.. INI YG COMMENT BANYAK BANGET SAMPE PEGEL TANGAN AKU HARUS PIJIT TOMBOL BAWAH MULU :v
    BTW INI KEREN PAKE BANGETT.. CIEE YG DI GENDONG
    SAMA DOBI :v
    KEKNYA SI CABE UDH MULAI SUKAYAH EON.. KEEP WRITING AJADAH!

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s