My Wife Is … ? (Chapter 2)

My Wife Is … ? (Chapter 2)

Untitled-95

Starring by :

❤ XI LUHAN

❤ SHIN NAOMI

OH SEHOON

KIM JONG IN

Author : @adinda_elements / Dindong Elements / Byun Deer Kookiry

Ratting : teen / pg 16

Genre  : Marriage life and action

Note : buat reader dina yang Muslim, mari kita sama – sama baca surah Al – Fatihah untuk saudara – saudara kita yang ada di Palestina dan untuk yang Non Muslim, mari bantu do’a agar serangan Israel bisa berhenti🙂

Jangan Lupa baca note dina yang ada di bawah, karena itulah yang paling penting..

Makasih ^_^

My Wife Is … ? (Chapter 2)

‘This Feeling’

7 {Poqi}

Preview Last Chapter :

Ditengah acara makan, Naomi mendapati ada bekas saus di pipi Luhan. Reflek, gadis itu mengusapkan ibu jarinya disana. Luhan yang tak tau langsung terkejut dengan perlakuan Naomi. jujur, Luhan memang berkencan dengan banyak gadis. Bahkan sudah tak terhitung lagi banyaknya. Tapi, baru kali ini ia mendapati perlakuan manis seperti ini. Biasanya para gadis yang mendekati Luhan hanya ingin hartanya.

Sebelum Naomi menarik tangannya, Luhan mencegat. Pria itu langsung bangkita dari duduknya dan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Naomi. tak ada perlawanan yang Naomi lakukan karena tangannya sedang berada di genggaman Luhan.

Dekat dan semakin dekat hingga hidung mereka bersentuhan bahkan Naomi maupun Luhan bisa dikatakan menghirup oksigen yang sama. Keduanya sama – sama menutup mata dan —

Teaser | Chapter 1 | Chapter 2❤

Hari telah beranjak malam. Matahari yang awalnya bertugas untuk menerangi aktifitas semua makhluk hidup yang ada di bumi telah berganti tugas dengan bulan yang siap menenangkan setiap makhluk hingga mereka terlelap. Naomi yang kala itu telah berbaring di ranjangnya belum juga merasa kantuk. Matanya yang bulat itu tak bosan – bosan melihat lurus kearah langit – langit kamarnya, bahkan gadis itu juga tidak bisa menghentikan helaan napasnya yang selalu berhembus setiap 10 detik sekali.

Apa yang kau harapkan ?

Naomi kembali menghela napasnya tatkala perkataan Luhan kembali mengisi ruang yang ada di otaknya. Ia benar – benar merasa bodoh dengan apa yang ia lakukan ketika makan malam beberapa saat yang lalu. seharusnya Naomi lebih berhati – hati dengan pria itu. mengingat aktifitasnya di China sangatlah membahayakan.

Ya, seharusnya Naomi bisa menghindar atau setidaknya, ia bisa mendorong pria itu agar menghentikan aksinya. Tapi, tatapan pria manis itu sangat memabukkan. Bahkan Naomi berani bersumpah bahwasanya Luhan adalah pria tertampan sekaligus pria termanis yang pernah ia temui. Terkadang Naomi sendiri juga merutuk karena keindahan wajahnya masih berada di bawah Luhan. Heol~

“Astaga, Apa yang kau pikirkan Naomi ? sadarlah! Kau tidak seharusnya memiliki pemikiran seperti itu, ingat tugasmu! Ingat!”

Naomi menggeleng – gelengkan kepalanya pelan, berusaha menghilangkan bahkan melenyapkan apa saja yang berkaitan dengan Luhan –kecuali tugasnya. kemudian, gadis itu melirik jam weker teddy bear yang berada di meja kecil bersebelahan dengan ranjangnya. Jarum pendek yang hampir sejajar dengan angka 1 menandakan bahwa Naomi benar – benar berada dalam kondisi yang kurang baik. Gadis itu lalu memutuskan untuk pergi ke dapur dan minum segelas susu, berharap rasa kantuk akan datang setelahnya.

Dengan perlahan, Naomi berjalan menuju dapur. Ia melakukannya secara perlahan agar Luhan tak terbangun dari tidurnya –pikir Naomi. suasana canggung akan menyelimuti jika mereka bertemu sekarang, mengingat insiden –almost- kissing, antara dirinya dan Luhan. Walaupun yang sebenarnya akan benar – benar merasa canggung hanyalah Naomi seorang, mengingat sikap Luhan setelah insiden itu hanyalah diam seraya tersenyum simpul dengan air wajah yang menyebalkan.

Setibanya di dapur, Naomi buru – buru mengambil sebotol susu dan langsung menuangkannya ke dalam gelas yang telah ia sediakan sebelumnya. Setelah merasa cukup, gadis itu segera membawa gelas berisi susu tersebut ke dalam kamarnya. baru saja berniat untuk menghindar dari Luhan, tapi pria itu malah muncul di hadapan Naomi ketika gadis itu hendak berjalan ke kamarnya.

“Lu–Luhan” suara Naomi terdengar serak. Ia bukan selesai menangis, hanya saja kerongkongannya terasa sangat kering untuk berkata – kata saat sekarang ini. Melihat Luhan yang berada berhadapan dengannya, membuat jantung Naomi berdegup kencang. Hal ini bahkan terasa lebih ekstream daripada berada di dalam rumah hantu.

Keadaan diam menyelimuti keduanya. Tak ada yang bersuara kecuali arah pandangan mata yang tak henti – hentinya menatap objek di depannya. Naomi benar – benar merasa sangat canggung sekarang. ia takut, takut kalau Luhan kembali menggodanya. Sudah cukup rasanya gadis itu merasa malu dengan tingkahnya yang tiba – tiba salah ketika berhadapan dengan Luhan beberapa saat lalu.

“apa yang kau lakukan ?”

Arah pandangan Luhan masih sama, hanya saja kali ini ia bersuara. Naomi meneguk salivanya sebelum menjawab apa yang Luhan tanyakan. Ia ingin menjawab bahwasanya ia sulit tidur dan memutuskan untuk meminum segelas susu agar rasa kantuk segera melandanya. Simpel memang. Tapi Naomi takut jika Luhan malah terpancing dan semakin memperpanjang pertemuan yang tidak sengaja ini.

“aku harus segera kembali ke kamarku. Selamat malam”

Naomi memutuskan untuk mengalihkan arah pembicaraan. ia kemudian berjalan menuju kamarnya dengan langkah yang lebar, berharap bisa menjauh dari Luhan untuk sementara waktu sampai detakan jantungnya bisa kembali normal. Naomi tersenyum simpul ketika tangannya telah menggapai kenop pintu kamar. Tapi, ia merasa ada yang janggal ketika hendak memasuki kamar.

Gelas susunya tertinggal di patri dapur

Naomi memejamkan matanya sebal akan kebodohannya yang meninggalkan gelas susunya. ia kemudian berbalik dan mendapati Luhan sedang meminum susunya. astaga, bukankah seharusnya pria itu meminta izin terlebih dahulu ? jujur, ingin sekali rasanya bagi Naomi untuk menghampiri dan menjambak rambut pria itu karena dengan seenaknya meminum apa yang ia butuhkan. Tapi, hanya helaan napas yang Naomi berikan sebagai respond. Naomi kemudian memutuskan untuk kembali masuk ke kamarnya. ya, walaupun ia tidak dapat meminum segelas susu, setidaknya ia bisa menjaga jarak dari pria itu untuk sementara waktu.

PRANK!

Naomi terkejut lantas kembali menoleh ke belakang. Mulut Naomi terbuka sedikit ketika melihat gelas yang berisi susu itu telah jatuh tergeletak di lantai dengan pecahan yang tersebar. Ia menatap marah kearah Luhan yang tampak sengaja melakukan itu. wajah menyebalkan itu lagi – lagi ia perlihatkan. Dengan perasaan sebal, Naomi kembali merajut langkahnya menuju dapur lebih tepatnya ia memutuskan untuk membersihkan pecahan gelas.

Tanpa menoleh ataupun melirik, Naomi terus saja membersihkan pecahan – pecahan bening itu. ia bahkan sama sekali tak berniat untuk memarahi Luhan. Sementara dalang di balik ini semua hanya melipat kedua tangannya diatas dada seraya memperhatikan gerak – gerik Naomi yang sedang membersihkan pecahan gelas. Bibirnya terangkat sedikit seperti sedang menyeringai.

Setelah membersihkan semua pecahan gelas, Naomi bangkit dari posisi jongkoknya dan langsung membuang semua pecahan itu kedalam kantong plastik hitam yang berada di bawah wastafel. ‘ini menyebalkan’ umumnya di dalam hati dan ketika berbalik, alangkah terkejutnya Naomi ketika mendapati Luhan sudah berada tepat di hadapannya dengan jarak yang emm—terlalu dekat.

“menyingkirlah, aku mengantuk”

Naomi mendorong pundak Luhan pelan. Tapi pria itu tetap saja tidak bergerak. Entah kekuatan Naomi terlalu pelan, atau memang Luhan lebih kuat daripada dirinya. Untuk beberapa saat, keduanya hanya diam dan saling melempar tatapan.

“aku ingin tidur” Naomi merunduk dan berusaha melarikan diri melalui daerah samping Luhan –re : areal dibawah ketiak Luhan.

“Hei!” dengan sedikit paksaan, Luhan menarik lengan Naomi dan kembali menyudutkan gadis itu ke wastafel. Bahkan tangannya sudah menghimpit lengan Naomi. membuat gadis itu tidak dapat bergerak maupun melarikan diri. Naomi kemudian menatap Luhan, berharap pria itu melepaskannya sehingga detakan jatungnya tidak secepat sekarang ini. Ya, bisa dibilang ia takut sekarang.

“kau berbeda” ujar Luhan seraya menatap Naomi. dahi gadis itu lantar berkerut, menampakkan jejeran pegunungan kecil disana.

“ma—maksudmu ?” tanyanya karena apa yang Luhan lontarkan terdengar ambigu. Tapi tetap saja, dengan jarak seperti ini apakah Luhan bisa mendengar detangan jantungnya ? well, Naomi hanya berharap supaya Luhan tidak mendengarnya. Oh God, please.

“kau bertingkah seperti ingin menjauhiku dan tingkahmu dimulai ketika” Luhan menoleh ke langit – langit apartment sebentar, pura – pura memikirkan perkataan apa yang akan ia katakan selanjutnya. “insiden hampir ciuman itu selesai” lanjutnya.

Blush

Naomi merasa panas di sekujur tubuhnya terutama wajah. Ia bahkan tak perlu menerka seberapa merah wajahnya sekarang ini, dampak dari perkataan Luhan. Tapi untungnya penerangan yang minim membuat Luhan tidak bisa melihat wajah merah Naomi. Fiuh~ untunglah.

“A—aku hanya, se—sebaiknya kita–” Naomi gugup bukan main kala itu. ia bahkan tak tau ingin menjawab seperti apa karena, ia sendiri juga tidak tau apa yang salah dengan dirinya sendiri. Padahal sebelumnya, Naomi memiliki banyak teman pria dan hanya kali ini ia merasa gugup di depan seorang pria. Terlebih lagi dia adalah Luhan, Calon suami ‘pura – puranya

“kau mengharapkannya, hmm ?” Luhan mendekatkan kepalanya seraya memperlihatkan seringaiannya yang —–sexy itu.

“mengharapkan apa ? aku hanya tak suka di goda oleh ‘pria mesum’ sepertimu” Naomi membantah dengan air muka yang dibuat seangkuh mungkin. Berharap Luhan membebaskannya dan ini selesai. Tapi tidak begitu kenyataan yang ada, Luhan malah bergerak semakin dekat dan wajahnya berhenti ketika berada beberapa centi dari wajah Naomi. mata gadis itu membulat sempurna ketika melihat aksi luhan –lagi.

“apa yang ingin kau lakukan ?” ucapnya dengan napas yang terengah. Bahkan ia sendiri lupa bagaimana cara mengambil napas ketika jaraknya dan Luhan sangat dekat seperti ini.

Luhan kembali menampakkan seringaiannya. “melanjutkan kegiatan yang tertunda, kau mengharapkannya bukan ?” ucapnya dan pria itu kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Naomi. kali ini keduanya sama – sama membuka mata, tidak seperti sebelumnya.

Dekat, sangat dekat dan hidung mereka bersentuhan untuk kedua kalinya..

Dan—

Naomi merasa pegangan Luhan terhadap tangannya melonggar. Gadis itu lantas menahan pergerakan wajah Luhan. Ia meletakkan tangannya tepat mengenai bibir pria itu. gadis itu menghela napasnya sebagai pertanda kalau kali ini ia bisa melawan apa yang Luhan lakukan terhadapnya. Padahal bibir mereka akan benar – benar tertaut jika saja tangan Naomi tidak datang sebagai pengganggu. Naomi lalu mendorong wajah Luhan dan ia kembali menciptakan jarak yang normal diantara keduanya. Tak tau kenapa, tapi sekarang Luhan merasa ada sesuatu yang menjanggal di hatinya. mungkinkah itu perasaan kecewa ? entahlah, Luhan sendiri malas untuk menelaahnya.

“Bukankah kau tak mau menikah denganku ? tapi kenapa ? kenapa kau malah menggodaku ? bukankah kita sepakat untuk mengurus urusan masing – masing ? tapi sekarang apa ? kau malah bertingkah seakan———— seakan kau ingin—” Naomi belum menyelesaikan protesnya tetapi Luhan ?!. Pria itu kembali menyerangnya dengan tiba – tiba. Ia mencium bibir Naomi dan melumatnya. Mata Naomi melebar seketika dan saat itu juga tangannya reflek bergerak dan…

PLAK!’ Ia menampar Luhan dan membuat pria itu menghentikan aksi egoisnya yang secara tiba – tiba merenggut kesucian bibir Naomi.

“APA YANG KAU LAKUKAN ?!” Naomi benar – benar marah sekarang. wajahnya yang semula bersemu sekarang berubah menjadi merah padam akibat emosinya yang telah sampai dipuncak. Ia menatap tak percaya sekaligus shock pada Luhan. Begitupun Luhan, ia juga menatap Naomi tak kalah bengis karena berani menamparnya begitu saja. Pria itu mengelus pipi bekas tamparan Naomi.

“JUJUR SAJA, KAU MENGHARAPKAN ITU BUKAN ? DASAR GADIS MUNAFIK, SETIDAKNYA KAU TAU KALAU KAU ADALAH GADIS PALING BERUNTUNG YANG ADA DI DUNIA INI KARENA TINGGAL SATU ATAP DENGANKU!” Luhan balik membentak Naomi.

Naomi menggertakan giginya, tangannya sudah terkepal dan berniat untuk meluncurkannya tepat di wajah Luhan. Setidaknya itu akan membuat bekas berupa lebam berwarna biru tua dan dengan begitu Luhan tidak akan berani berbuat macam – macam dengannya.

Kakak! Cepatlah kembali

Naomi tersentak kaget ketika perkataan Ae-Ryeong adiknya terputar di audio player otaknya. Tangan yang semula terkepal, melemah kala itu juga. Tatapannya yang penuh kebencian juga berubah menjadi lebih lembut. Nafasnya yang menderu cepat kembali normal. ‘Andai saja pekerjaanku tidak di landasi oleh keluargaku, kau pasti akan mati saat ini juga’ gumam Naomi.

“aku mengantuk” Naomi memutuskan untuk diam dan berusaha melupakan apa yang baru saja terjadi. Gadis itu jalan melewati Luhan tanpa menoleh ataupun melirik. Ia tak ingin memperpanjang semuanya sekarang.

“Hei, kau mau kemana ? ada yang belum terselesaikan disini” untuk kedua kalinya Luhan mencegat Naomi, tapi ia tidak menarik Naomi seperti sebelumnya. kali ini suara pria itu melunak. Naomi menghembuskan napasnya pelan, ia lalu berbalik dan melepaskan pegangan Luhan.

“bukankah sudah kukatakan ? aku mengantuk” Naomi mengulangi apa yang ia katakan sebelumnya dengan nada datar, bahkan air wajahnya terlihat sangat datar sekarang. Luhan mendesis ketika mendengar jawaban Naomi.

“kau lupa ? bagaimana nasib pipiku ? ada niat untuk meminta maaf ?”

Alis Naomi terangkat dan kepalanya membengkok ke kanan sedikit. Ia heran dengan apa yang Luhan katakan, bukankah korbannya adalah Naomi ? tapi ? What the—

“A—” Naomi berhenti sejenak ketika hendak melemparkan protes. “maaf dan biarkan aku pergi sekarang” Naomi kembali menyusun langkah untuk pergi ke kamarnya. ia benar – benar ingin menjauh dari Luhan sekarang ini. Meladeni Luhan hanya akan membuat emosinya terpancing.

“Hei! Kau mendengarkanku ?” Luhan kembali menarik Naomi, tapi kali ini gadis itu menepisnya. Namun, Naomi malah kehilangan keseimbangan dan akhirnya ia terjatuh. Tangan kanannya lebih dulu mengenai lantai sehingga terdengar bunyi retakan. Ada rintih kesakitan keluar dari mulut mungilnya. Luhan yang melihat itu langsung berjongkok dan menanyakan keadaan Naomi.

“kau baik – baik saja ? apa tanganmu terkilir ?”

“aku tak apa, biarkan aku pergi sekarang. kumohon” Naomi bangkit dan langsung meninggalkan Luhan yang masih berada di dapur. Tanpa menghiraukan sakit di tangannya, Naomi langsung saja masuk ke kamarnya.

kau gadis seperti apa ? kenapa kau menolakku ?

Luhan masih terpaku di tempatnya. Ia menatap lurus kearah pintu kamar Naomi yang baru saja tertutup. Ada tersirat secercah rasa bersalah di hatinya. melihat wajah Naomi yang marah di awal memang membuat hatinya senang. Tapi, ketika wajah lembutnya muncul. Luhan merasa seperti orang jahat. Orang jahat yang menyiksa gadis kecil tak berdosa.

❤❤❤

Pagi kembali datang dengan matahari sebagai buktinya. Surai – surainya yang berwarna kuning keemasan itu masuk ke dalam kamar Naomi melalui pori – pori kain jendelanya. Naomi yang kala itu masih terlelap merasa terusik dengan pancaran sinar matahari. Dengan kesadaran yang belum sempurna, Naomi memutuskan untuk menyelesaikan mimpinya yang belum selesai.

Secara perlahan, Naomi bangkit dari ranjangnya. ‘AWW’ Gadis itu merintih kesakitan ketika tak sengaja menekankan tangan kanannya sewaktu hendak bangkit. Ia lalu menggerakkan sedikit pergelangan tangannya. Rasa ngilunya masih terasa tapi, Naomi tidak terlalu memikirkannya. Toh, ia pernah mengalami patah tulang di bagian leher. Jadi, terkilir di bagian pergelangan tangan bukanlah masalah paling serius yang ia hadapi.

Naomi kemudian bergerak untuk membersihkan tempat tidurnya. Setelah itu ia memutuskan untuk mandi. Tak ada sesuatu spesial yang gadis itu lakukan pagi ini. Ia hanya melakukan rutinitas seperti biasanya. Tapi tetap saja, pikirannya masih di penuhi oleh kejadian tadi malam.

❤❤❤

Naomi membuka pintu kamarnya dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi ia ingin bersikap normal di hadapan Luhan, tapi di lain sisi ia takut kehilangan kontrol tubuhnya sendiri. Kedua argument itu selalu bertengkar di pikirannya sejak pagi dan sekarang ia memutuskan untuk tidak bertemu langsung dengan Luhan. Ya, setidaknya ia bisa meminimalisir rasa gugupnya.

Naomi menyembulkan kepalanya dari dalam kamar. Ia memperhatikan sekeliling. ‘Luhan belum bangun’ itulah yang Naomi pikirkan ketika melihat keadaan apartment masih sama dengan yang semalam. Naomi menghela napas leganya. Ia kemudian keluar dari kamar.

Jam dinding telah menunjuk angka 11 dan itu berarti jam makan siang akan datang. Naomi kemudian berjalan ke dapur. Ia membuka kulkas dan menatap miris pada semua bahan makanan mentah yang siap diolah. Oh Good, andai saja pergelangan tangan kanannya tidak terkilir ia pasti akan mengolah beberapa bahan tersebut.

Setelah melihat bahan makanan selama beberapa saat, Naomi akhirnya memilih untuk mengambil dua cup mie instant. Ia kemudian menyeduh kedua mie tersebut dalam tempat yang berbeda. Setelah selesai memasak mie, Naomi memutuskan untuk menonton televisi di ruang tamu. Setidaknya dengan begitu ia bisa menghabiskan waktu senggangnya sampai pria itu –re : Luhan melakukan sesuatu yang mengejutkan.

HAHAHA

Tawa Naomi lepas ketika ia menonton salah satu acara komedi yang sedang di tayangkan. Tingkah kocak para pembawa acara benar – benar mengocok perut gadis itu. saking senangnya, Naomi tak sadar ketika Luhan keluar dari kamarnya. fokus gadis itu hampir sepenuhnya mengarah ke televisi. Karena tak ingin mengganggu, Luhan kemudian melangkahkan kakinya menuju dapur. Bermaksud untuk menemukan sesuatu yang bisa dimakan.

Setibanya di dapur, Luhan membuka kulkas dan hanya mendapati bahan makanan mentah di dalamnya. Ia menghela napas dan menoleh kearah Naomi yang berada di sofa ruang tamu. ‘setidaknya kau bisa tertawa’ Luhan bergumam pelan dan setelah itu ia mengambil minuman kaleng.

Seraya meminum minuman kalengnya. Mata Luhan tak sengaja melirik kearah salah satu patri dapur. Bibir pria itu terangkat sedikit dan ia menghampiri patri tersebut. Sebelum memungut kertas yang tersandar pada mangkuk, Luhan meletakkan kaleng minuman keatas patri itu terlebih dahulu.

Walaupun tulisannya berantakan, tapi mata Luhan masih bisa menangkap huruf – huruf apa saja yang tertera di kertas itu..

Tanganku masih terasa sedikit sakit,jadi tak ada makan siang hari ini..

hanya mie instant yang bisa kubuat..

jika kau tak menginginkannya, kau bisa membeli makanan di luar..

Luhan tersenyum simpul setelah membaca surat itu. ia pikir Naomi akan membencinya setelah insiden semalam, tapi gadis itu malah berbaik hati dengan membuatkannya mie instant walaupun tangan kanannya sedang berada dalam keadaan yang tak baik. Kemudian, pria itu menghampiri Naomi yang masih asik dengan acara tvnya.

“terima kasih” Luhanberucap dengan nada pelan. Tapi itu sudah lebih dari cukup bagi Naomi untuk mendengarnya. Sontak gadis itu menoleh dan mendapati Luhan sudah berada di sampingnya dengan senyum sumringah –untungnya air wajah Luhan yang sekarang tidak menyebalkan seperti tadi malam.

Selama beberapa saat Naomi tak mampu berkata – kata. Ia kini sedang berusaha mengontrol detak jantungnya yang entah sejak kapan mulai berdetak cepat. Keadaan canggung meliputi keduanya. Untuk mengurangi suasana canggung, Luhan memutuskan untuk menonton acara komedi yang sedang ditonton Naomi. karena tak tau ingin menjawab apa, Naomi juga mengikuti cara Luhan untuk menyingkirkan suasana canggung.

Ting Nong

Bunyi bel berhasil mengalihkan pandangan keduanya dari televisi ke pintu. Naomi bangkit terlebih dahulu untuk membuka pintu dan Luhan menyusul dari belakang. Naomi yang berada di depan langsung membuka pintu dan mendapati pelayan apartment berada di hadapan mereka.

“ya ? ada yang bisa saya bantu ?” Naomi bertanya dengan sopan dan pelayan hanya mengangguk seraya memberikan beberapa koper pada Naomi. gadis itu hanya melihati koper itu satu per satu ketika dimasukkan oleh pelayan. Setelah 5 koper berhasil dimasukkan, pelayan itu pamit dan Naomi kembali menutup pintu.

Setelah pintu tertutup sempurna, Naomi mulai mendekati ke-5 koper itu. ia mendapati ada tiga tag name yang bertuliskan ‘Shin Naomi’ di dalamnya dan dua diantaranya bertuliskan nama Luhan. Tanpa ambil pusing, Naomi menyeret kopernya satu per satu dan tidak memperdulikan Luhan ketika berselisih. Sudah dua koper yang Naomi pindahkan ke kamarnya dan ketika ia hendak menyeret koper yang ketiga, gadis itu terkejut ketika mendapati Luhan sudah berada di depan pintu kamar dengan koper terakhir Naomi disampingnya. ia menatap koper itu beberapa saat hingga akhirnya baru berani menatap Luhan.

“terima kasih” Naomi hanya mengeluarkan ekspresi sekaligus suara yang datar. Ia lantas mengambil alih pegangan koper yang berada di tangan Luhan. Ketika hendak menutup pintu kamar, Luhan mencegat dan membuka kembali pintu itu.

“apa kau–” Luhan memberi jeda pada pertanyaannya. “marah padaku ?” lanjutnya.

Naomi menggeleng pelan seraya menatap ke lain arah. Jujur, ia masih belum kuat untuk menatap atau sekedar berhadapan dengan Luhan sekarang. “apa kau sudah selesai ? aku harus menyusun pakaianku” ujarnya masih menatap ke lain arah.

Luhan menggeleng. ia kemudian melepaskan tangannya dari pintu Naomi dan disaat itu juga Naomi menutup pintu kamarnya. sepeninggal Naomi, Luhan berbalik. Raut wajahnya kental akan kesan kecewa.

aku hanya ingin meminta maaf padamu’ gumamnya dan kemudian pria itu kembali menuju areal depan apartment untuk mengambil koper – kopernya.

❤❤❤

Terima kasih

Ucapan itu,merupakan ucapan termanis yang pernah Luhan katakan padanya. Naomi bahkan tersenyum sendiri jika mengingatnya. Wajah Luhan dengan senyum merekah kala itu sangatlah tampan. Ia bahkan tak tau sudah berapa kali mengingat ucapan terima kasih Luhan tersebut.

Kegiatan menyusun barang – barangnyapun hampir selesai dan untungnya ia mendapatkan tasnya berada di dalam salah satu koper tersebut. Naomi mengambil tasnya dan mengobrak – abrik isinya. Satu benda yang ia cari di dalamnya. Foto keluarga itulah benda terpenting yang ada di dalam tas tersebut.

“sayangku, syukurlah kau masih ada disini” Naomi memeluk foto keluarganya tersebut. Kemudian ia meletakkan foto itu diatas meja kecil yang bersebelahan dengan ranjang. Naomi tersenyum simpul melihat foto keluarga itu. ia merasa energinya baru saja terisi kembali.

Setelah lepas dari pikiran keluarganya, Naomi kemudian mengambil kotak P3K yang juga berada di dalam tas tersebut. Ia mengeluarkan sebuah botol kecil dan ketika membuka tutupnya, aroma yang kuat menguar dari botol itu. lantas Naomi mencolek sedikit isinya dan kemudian menggosokkan di areal pergelangan tangan kanannya.

“sungguh melegakan” ucapnya setelah isi botol itu mengenai pergelangan tangan kanannya yang terkilir.

Beberapa saat kemudian, ia menggerakkan pergelangan tangannya lagi dan ternyata apa yang ia oleskan telah menimbulkan hasil.

BAMM’ Naomi terlonjak kaget ketika mendengar suara pintu tertutup yang cukup keras. Ia kemudian keluar dari kamar dan mendapati Luhan sudah berada di ambang pintu dengan jaket kulit beserta celana jeans panjang. Alis Naomi bertaut, kemana Luhan akan pergi malam – malam begini ? pikirnya.

Setelah Luhan pergi, Naomi langsung mengganti bajunya dengan pakaian alakadarnya.sebuah kaus berlampiskan jaket bulu tebal dan ditemani dengan celana jeans panjang. Ia kemudian mengambil ponselnya dan langsung memakai sepatu kesayangannya ketika berada di depan pintu apartment. Setelah menutup pintu, Naomi lantas berlari menuju lift. Tetapi, ia mendapati lift itu baru saja mencapai lantai 30. Naomi mengetuk – ngetukkan jari di dagunya, berusaha memikirkan alternatif lain supaya tidak ketinggalan jauh dari Luhan.

Ketika sedang berpikir, Naomi tak sengaja melirik sebuah palang yang berada di atas pintu berwarna putih transparan. ‘tangga darurat’ ia membaca palang itu dan Naomi pikir hanya ini satu – satunya cara untuk tidak kehilangan Luhan. Dengan cepat, ia berlari menerobos pintu itu.

‘sudah lama aku tidak berolah raga’ ujarnya dan mulai berlari menuruni satu per satu anak tangga itu.

❤❤❤

“Berhenti disini” Naomi memerintah supir taksi untuk berhenti di depan sebuah —-klub malam. Ia menatap daerah sekitar yang penuh akan hal – hal yang –ehem. Naomi menampakkan raut wajah jijiknya dan kemudian arah pandangan matanya menangkap sosok Luhan. Ya, Luhan. Tapi pria itu tak sendiri. Ia—ia sedang bersama wanita dan –apa aku harus menjelaskannya secara teliti ?

“dasar mesum” kata – kata itu sukses Naomi lontarkan ketika melihat Luhan masuk ke dalam salah satu klub malam dengan seorang gadis berpakaian se*y berada dalam pelukannya. Mereka bahkan terlihat seperti sudah kenal lama, padahal Naomi yakin kalau gadis itu adalah salah satu gadis bayaran yang ada di daerah ini.

Walaupun merasa jijik, Naomi memutuskan untuk terus mengikuti Luhan. Ya, setidaknya inilah tugas yang diberikan bosnya. Setelah membayar ongkos taksi, Naomi kemudian berjalan cepat menuju klub malam yang Luhan masuki. Seraya merajut langkah, Naomi menutupi kepalanya dengan kupluk jaketnya. Tapi tetap saja para lelaki hidung belang datang dan menggodanya.

Gadis manis, kenapa kau berpakaian seperti ini disini ? apa kau tidak salah tempat ?

Hey, apa kau ingin ikut bersama kami ?

ayo kita check ini

Itulah yang dikatakan beberapa pria hidung belang ketika berpapasan dengan Naomi. tapi gadis itu hanya menggeleng pelan dan melanjutkan jalannya. ‘tempat ini sungguh mengerikan’ ujarnya dalam hati seraya mengeratkan kupluk jaketnya.

“HEI?!” Naomi terkejut ketika tangannya tiba – tiba ditarik oleh seorang pria hidung belang. Ia menatap marah kearah pria itu. sementara yang ditatap hanya menyeringai, menampakkan wajah mesumnya.

“Sayang” pria itu mengucapkan kata ‘sa–yang’ dengan nada yang seduktif. Ia bahkan dengan berani mengelus pipi Naomi yang mulus itu. dengan kasar, Naomi menepis tangan pria hidung belang yang secara berani menyentuh pipinya. Gadis itu lantas menatap marah kearah pria yang berada di depannya.

“astaga, kau ganas sekali. Apa kita perlu menjinakkannya di dalam kamar hotel ?” Naomi ternganga mendengar ucapan pria itu. ia bahkan bersumpah kalau apa yang pria itu ucapkan adalah ucapan paling menjijikkan yang pernah ia dengar. Naomi hanya menggeleng dan meninggalkan pria hidung belang itu disana.

“HEI?!” Naomi lagi – lagi harus terkejut dengan tingkah tiba – tiba pria itu. Dengan berani, ia memegang lengan Naomi dan menariknya. Gadis itu meronta – ronta untuk dilepaskan, namun pria hidung belang tak ingin melepaskannya.

kau akan terima akibatnya nanti’ Naomi bergumam masih dengan reaksi merontanya, tapi tetap saja pria itu terus menariknya hingga mereka berdua sampai di sebuah gang sempit dengan penerangan minim. Pria hidung belang melepaskan tangan Naomi dan menyudutkan gadis itu di salah satu dinding.

“malam ini kau adalah milikku” pria hidung belang menyeringai dan ia mulai melancarkan aksinya. Tangan nakalnya bergerak menyusup hendak melepaskan jaket Naomi. wajahnya yang semula berada di jarak yang normal mulai mendekat.

“Kau yakin ?” sebelum bibir pria hidung belang menyentuh bibir Naomi, gadis itu lebih dulu mengeluarkan pertanyaan.

“ya tentu saja, kau pikir aku main – main ?” balasnya dengan nada angkuh.

Naomi yang sudah tersudut memutar bola matanya bosan. Bibir tipisnya itu kini telah membentuk sebuah seringaian, sama seperti seringaian Luhan tadi malam. “kau hanya membuang waktuku” ujarnya dan langsung menendang selangkangan pria hidung belang. Ughh~ itu pasti sakit.

Pria hidung belang yang tak terima dengan tendangan Naomi mulai marah. Ia bangkit dan hendak menampar Naomi, namun gadis itu lebih dulu menahan tangan pria hidung belang. Ia kemudian memutar tangan kekar itu ke belakang tubuh pemiliknya hingga menimbulkan bunyi tulang bergeser. Tidak sampai disitu, Naomi bahkan kembali menendang pria hidung belang. Namun kali ini ia menendang di bagian punggung, membuat pria hidung belang jatuh tersungkur ke tanah.

“kau bahkan terlihat sangat lemah, aku heran kenapa pria lemah sekaligus angkuh sepertimu masih ada di dunia ini” Naomi berjongkok dan mengangkat kepala pria hidung belang. Gadis itu menyeringai sebelum berucap lagi. “kau tadi mengelus pipiku, hmm ?” tanyanya. Namun pria hidung belang tak menjawab. Rasa sakit yang Naomi berikan benar – benar berjasa.

‘Bugh

Naomi memukul telak pipi kanan pria hidung belang, sehingga menimbulkan lebam berwarna biru tua. Gadis itu lantas tersenyum puas. “itu baru kusebut mengelus” ucapnya kemudian.

Naomi bangkit dan sebelum pergi, ia merapikan jaketnya yang rusak akibat disentuh tangan kotor pria tadi. ‘Bodyguard wanita tidaklah selemah yang semua orang pikirkan’ gumamnya seraya melihat tubuh pria hidung belang yang tak berdaya.

Setelah merasa semuanya kembali seperti semula, Naomi berlari menuju klub malam yang Luhan masuki. Sebelum masuk ke dalam klub malam, Naomi menghela napasnya sebentar. Di dalam otaknya telah tercetak apa – apa saja yang orang lakukan di dalam dan menurut Naomi, semua yang mereka lakukan merupakan suatu tindakan yang tidak bermoral. Maka dari itulah, ia sangat marah ketika Luhan menciumnya.

“kuharap ini tak seburuk yang kupikirkan” ucapnya dan kemudian masuk ke dalam klub malam tersebut.

Bunyi dentuman speaker DJ menyambut kedatangan Naomi. bunyi dentuman itu benar – benar membuat pekak telinga setiap insan. Tapi sepertinya tak ada yang terusik oleh bunyi tersebut. Malahan kebanyakan dari mereka menikmati suara yang tak karuan itu. Naomi menggeleng pelan dan tanpa memikirkan perbuatan orang – orang sekitarnya, ia terus mencari Luhan. Pria yang merupakan alasannya untuk menginjak tempat biadab ini.

Tak butuh waktu lama bagi Naomi untuk mencari Luhan. Sepertinya pria itu terkenal di kalangan dunia malam. Lihatlah sekarang, wajahnya yang polos itu telah berhasil menarik perhatian 3 wanita bayaran sekaligus. Wow~ Luhan memang si mesum yang Profesional.

Naomi memilih duduk di depan bar dan memperhatikan gerak – gerik Luhan dari sana. Gadis itu menutup matanya kesal ketika melihat salah satu wanita bayaran dengan mudahnya membiarkan Luhan merabanya. Oh Astaga, apa gadis itu tak tau malu ? –pikir Naomi.

Menunggu, melihat dan terkejut..

Itulah yang Naomi lakukan ketika menguntit Luhan. Gadis itu melirik ponselnya sekilas, angka 2.06 A.M terpampang jelas di layarnya. Kemudian ia menghela napas untuk kesekian kalinya. “ia sudah bermain, menghabiskan 4 botol alkohol ukuran sedang, menari dengan penari sexy di lantai dansa, bercengkrama dengan wanitanya. Bukankah dia sudah mabuk berat ? tapi kenapa masih betah ?” Naomi menghitung apa saja yang telah Luhan lakukan. Ia bahkan sudah mulai pusing dengan kebisingan yang ada di dalam klub.

Naomi menopang dagunya, ia menatap bosan kearah Luhan yang masih asik dengan 3 wanita bayarannya. ‘Menguntit ternyata bukanlah sesuatu hal yang menyenangkan untuk dilakukan’ pikir Naomi.

“astaga, Luhan benar – benar menyusahkan” rutuk Naomi ketika melihat Luhan sudah mulai kacau. Dengan cepat, ia bangkit dan menghampiri Luhan beserta 3 teman wanitanya.

“aku harus membawanya pulang” Naomi memberi isyarat kepada wanita yang duduk di atas paha Luhan. Wanita itu menyingkir dengan segera dan ketika Naomi hendak memapah Luhan untuk keluar dari klub, salah satu wanita bayaran mencegatnya.

“kau ingin bawa pangeranku kemana ? kami bahkan belum memulai permainan yang sebenarnya” rutuk wanita itu dan Naomi hanya membalas dengan sebuah dengusan.

“kalian sudah dibayar ?” ketiga wanita itu menggeleng.

“pantas saja. Jadi, kalian dibayar berapa dalam satu kali permainan ?”

“450.000 won” ungkap salah satu wanita bayaran. Naomi kemudian membulatkan mulutnya dan menyuruh ketiga wanita itu untuk bersabar.

“aku akan membayar kalian lebih. Tapi, biarkan dia pulang bersamaku. Setuju ?” Naomi memberikan pilihan. Ketiga wanita bayaran itu saling tatap dan akhirnya mereka bertiga mengangguk. Naomi yang merasa menang kala itu langsung mengambil dompet Luhan yang berada di saku celana bagian depannya. ia membuka dan mengeluarkan beberapa lembar uang 50 ribu won dari dalamnya. ‘uangmu bahkan lebih banyak dari gajiku’ rutuk Naomi ketika melihat uang cash Luhan.

“ini” Naomi memberikan 350 ribu won pada semua wanita bayaran itu.

Kata protespun terucap. “Hei, apa ini ? uang ini tidak sesuai dengan perjanjian kita”

“kau tidak menerimanya ? Oh, kau pikir pria ini akan membayarmu ? kurasa tidak dengan keadaan mabuk berat seperti itu” Naomi menyeringai. Ia merasa kembali menang kali ini, melihat ketiga wanita bayaran itu terdiam dan langsung saja pergi.

“450 ribu won hanya untuk duduk, minum, dan bercumbu ? kalian pasti gila” Naomi meledek ketiga wanita bayaran itu. kemudian fokusnya kembali pada Luhan yang benar – benar terlihat kacau. “siapa sebenarnya yang ingin membunuhmu ?” ucapnya dan kemudian ia mengangkat tubuh Luhan dan memapahnya keluar dari klub.

Setibanya di areal parkiran, Naomi mendudukkan Luhan di Jok samping pengemudi. Ya, kali ini yang akan memajukan mobil adalah Naomi. mengingat Luhan sedang mabuk berat sekarang. setelah keduanya masuk ke dalam mobil, Naomi mulai menghidupkan mesin mobil dan ia terkejut ketika mendapati kepala Luhan jatuh ke pundaknya. Dengan segera mungkin, Naomi mengembalikan posisi kepala Luhan. Kemudian ia juga memasangkan sabuk pengaman pada pria itu.

“eumhh, maaf—-” Naomi menoleh kearah Luhan. Gadis itu lantas tersenyum simpul. Entah kenapa, tapi Naomi merasa kalau permintaan maaf Luhan itu ditujukan untuknya. Ya, percaya diri memang tapi apa itu salah ?

❤ See You Next Time❤

Hai, dina kembali bawa ini ff ^_^

Kali ini, dina pengen ngumumin sesuatu buat kalian..

Dilihat dari komentar di chapter sebelumnya yang kebanyakan menulis komentar seperti ini =>

‘Bagus Thor !’

‘Lanjut Thor !’

‘Daebak Thor !’

‘Next Thor !’

‘Jangan lama – lama ngepostnya thor !’

Sungguh, komentar kalian yang diatas itu benar – benar gak ada artinya buat dina *maaf

Yang dina butuhkan disini itu saran ataupun setidaknya kalian memberikan sedikit review untuk ff ini..

Iya, memang benar jumlah komentar ff ini tinggi.. malahan sangat tinggi.. tapi, yang dina butuhkan itu komentar yang bermutu dan tidak hanya sekedar melepas hutang begitu saja.

Kalau alasan kalian memberikan komentar seperti diatas karena tidak ada waktu, seharusnya kalian juga memikirkan dina dan juga para author lain yang bela – belain gak tidur dua hari cuman untuk menyelesaikan satu ff..

Dina juga mau nanya, emang readers disuruh bayar untuk berkomentar ?

Nggak kan ? trus kenapa kalian membalas kami –para author dengan komentar seperti itu ?

Tidakkah kalian memikirkan betapa stressnya kami memikirkan kelanjutan cerita – cerita ini ?

Oh, mungkin alasan kalian berkomentar seperti itu karena dina ataupun beberapa author lainnya tidak membalas komentar kalian, sehingga dengan senang hati kalian memberikan komentar seperti diatas ? benar ?

Ok, dina akan jelasin..

Dina dan para author yang nggak balas komentar kalian itu bukan berarti nggak tau isi komentar kalian. Kami hanya terlalu bingung untuk menjawab seperti apa. bahkan kami sering melihat komentar kalian sebagai penambah semangat ketika sedang melanjutkan cerita khayalan ini.

Terserah kalian ingin bilangin dina inilah, dina itulah..

Tapi ini memang apa yang dina rasain..

Jujur, udah dua hari ini dina tidur larut malam hanya untuk nyelesaiin ini ff -_-

Ya sudahlah, mungkin setelah membagikan curahan ini dina yakin jumlah komentar bakalan berkurang drastis.

Dan untuk kalian yang sudah menjadi komentator, terima kasih ^_^ u’re the best *love sign

Untuk yang berkomentar di Chapter sebelumnya, dina juga mau ngucapin terima kasih ^_^

Kalian memang baik ^_^

Maaf udah buat kalian tersinggung, marah atau apa.

Dina gak punya maksud lain kok selain membuat kalian tau, betapa susahnya kami para author untuk menyelesaikan satu chapter ff..

Terima kasih untuk perhatiannya, maaf atas semua kesalahan dina dan sampai jumpa ^_^

Annyeong, Pyeong~

234 thoughts on “My Wife Is … ? (Chapter 2)

  1. ohh ctax naomi it bodyguard y!! tah aku mulai mngrt . crtx naomi it dsewa ayh luhan untk jd bodyguard luhan slm org yg dcr ayah luhan it ktmu. tp sp dan knp ingin mmbunuh luhan?????

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s