ESPRESSO

 

espresso copy2

Title                       : Espresso

Author                  : Sehunblackpearl

Main Cast            :

–  Oh Sehun (EXO)

–  Choi Jinri aka Sulli f(x)

–  Kim Jongin aka Kai (EXO)

Length : Oneshot

Summary : Hanya rasa pahit yang memenuhi hati dan lidah Sehun saat meminum espresso. Dan semua hanya karna satu gadis. Sulli.

Genre : Romance, friendship, angst

Rated : PG

Disclaimer : Plot dan isi cerita milik saya, f(x) dan Exo milik SM. Sehun suami saya :*😀

A/N: Annyeong^^ Saya gamau bacot panjang-panjang yah, cuman mau bilang kalo ff ini sebenarnya udah pernah aku pos tahun lalu, tapi entah kenapa pengen aku pos sekali lagi. And this is the edited version. Kata-katanya udah banyak yang aku ganti, tapi ceritanya tetep sama. Yah itu aja sih, silahkan dibaca🙂

Warning : Typo everywhere. I don’t accept bash and don’t tolerate siders and plagiator.

*EPRESSO*

Bagaimana bisa kau jatuh cinta padanya tapi berbagi mimpimu denganku? Terkadang hal yang paling kau inginkan adalah satu-satunya hal yang tak dapat kau lihat.

“Kenapa mukamu kau buat begitu?” Oh Sehun tidak bisa tidak bertanya ketika dilihatnya gadis di depannya yang dari tadi sepertinya sibuk dengan pemikiran sendiri menggembungkan pipinya berkali-kali. Sekali diliriknya, gadis itu menggembungkan pipi kanannya, diliriknya lagi gadis itu sudah menggembungkan pipi kirinya. Sebentar kemudian dia sudah mengerucutkan bibirnya. Dalam satu menit, begitu mereka mengisi salah satu meja di kafe itu, dia sudah bermain-main dengan wajahnya lebih dari sepuluh kali.

“Ah, tidak. Jangan hiraukan.” Gadis itu, Sulli melambaikan tangan kanannya ke arah Sehun sedangkan tangan kirinya dibiarkannya bergerak spontan menyentuh tengkuknya. Salah satu kebiasaannya saat gugup. Pandangannya kembali diarahkan ke jalanan basah yang jelas terlihat dari jendela kaca kafe itu. Meletakkan dagunya bersandar di tangan kanannya, pandangannya tak lepas dari butiran-butiran kristal sisa hujan tadi sebelum mereka masuk ke dalam kafe yang sudah mereka kunjungi lebih dari seratus bahkan mungkin seribu kali itu.

Hhhaahh. Sulli menghela nafasnya berat. Keresahan tercermin jelas di wajah putih susunya, dari sudut matanya dilihatnya pria putih susu juga yang duduk di hadapannya memegang menu kafe itu. “Kenapa dia memegang menu itu? Padahal dia selalu memesan menu yang sama?” bisiknya tidak pada siapa-siapa. Dilihatnya Sehun masih saja membaca-baca menu kafe itu.

Seorang waitress dengan kemeja putih dan celana hitam panjang, tidak ketinggalan afron hitam yang melingkar di pinggangnya berdiri di samping meja mereka dengan senyum ramah sabar menunggu pelanggan tetapnya itu untuk memutuskan pesanannya. “Pasti dia hanya akan memesan espresso dan muffin. Kenapa lama sekali sih?” gerutu Sulli dalam hatinya. Tidak sabar melihat Oh Sehun yang terus memandangi daftar menu kafe itu.

“Aku mau espresso dan muffin.” Ujar Sehun akhirnya meletakkan daftar menu itu. “Sudah kuduga.” Rutuk Sulli lagi pada dirinya sendiri. “Ah, lalu untuk wanita ini di depanku ini. Tolong berikan cafe au lait. Jangan terlalu banyak espresso tapi susunya juga jangan terlalu banyak, dia ini sedang diet. Foamnya buat agak tebal karena dia sangat menyukainya, malah dia lebih suka mencicipi foamnya saja daripada au laitnya sendiri. Lalu tolong strawberry cake rendah kalori dan lemak, seperti yang kukatakan dia ini sedang diet, jangan yang mengandung terlalu banyak telor karena itu tidak bagus untuknya. Dan beri lebih banyak strawberry karena dia ini sebenarnya monster penggila strawberry yang bersembunyi di balik tubuh wanita.” Ujar Sehun dalam satu hembusan nafas.

Waitress yang tadi menulis pesanan yang dengan cepat dan bertele-tele diucapkan Sehun. Wanita yang rambutnya dikuncir satu ke belakang itu mengulang pesanan yang sudah dicatatnya – mengulangi pesanannya saat Sehun mengoreksinya – dan masih sambil tersenyum melenggang dengan anggun menjauhi Sulli dan Sehun yang masih duduk di bangku mereka menuju counter, menyerahkan catatan berisi pesanan itu kepada pria tinggi berambut keriting yang selalu berdiri di situ.

“Senyum bisnis.” Cibir Sulli begitu wanita itu berbalik dari mereka. Pandangannya mengikuti setiap langkah yang diambil high heels hitam yang menempel di kaki si waitress.

“Tuntutan profesi.” Jawab Sehun dari bangkunya. Sehun sedikit merilekskan badannya, kemudian kedua tangannya sudah bersandar di meja kayu bundar di hadapannya menopang wajahnya yang diletakkannya di atas kedua telapaknya.

“Ciih. Aku tidak suka.” Sulli mencibirkan bibirnya lagi mendengar pembelaan Sehun terhadap waitress yang sudah dikenalnya lebih lama dari Sulli, sejak dia mulai sering mengunjungi kafe itu masa kuliah dulu. “Lagipula kenapa kau seenaknya memesan untukku?” katanya kali ini sambil memanyunkan bibirnya menunjukkan ketidaksukaannya atas apa yang dilakukan Sehun tadi.

“Oh, kau sepertinya tidak keberatan. Buktinya kau tidak mengatakan apa-apa saat kusebut pesanan tadi.” Sehun membela diri, wajahnya masih diletakkannya di tempat yang sama. Senyum jahil dikembangkan di wajah tampannya, menatap Sulli mesra.

“Tapi bukan berarti aku suka kan?” Sulli masih dengan keras kepala tidak mau setuju dengan Sehun.

“Aku terlalu mengenalmu, manis. Kau tidak akan menolak pesananku tadi karena kau terlalu meyukai mereka.” Dikedipkannya mata kirinya pada Sulli yang mencibir padanya (lagi) sebagai tanggapan perkataannya itu.

“Panggil aku noona maknae.” sepasang tangan Sulli mendaratkan cubitan, mengekpresikan rasa gemasnya di pipi putih Sehun. Cubitannya yang bukan main kerasnya dilepasnya dari pipi putih salju itu setelah beberapa “ouh”; “aduh sakit”; “lepaskan gadis barbar”; dan “orang melihati kita, bodoh” dari bibir tipis Sehun yang tentu saja ditujukan untuknya.

“Dasar kau maknae tidak sopan.” cibir Sulli setelah kembali duduk manis di kursinya masih menunjukkan wajah masamnya pada Sehun yang sibuk menggosok-gosok pipi putihnya.

“Barbar.” Balas Sehun menjulurkan lidahnya ke arah Sulli.

“Sini kuubah kau jadi kentang rebus.” Sulli bangkit dari kursinya dan mengacak-acak poni Sehun. Si waitress dengan heels tinggi dan senyum bisnis seperti yang dikatakan Sulli tadi datang tidak lama setelahnya menginterupsi Sehun yang berusaha memperbaiki poninya dan Sulli yang masih sibuk membuat suasana hati Sehun menjadi lebih buruk dari cuaca di luar jendela yang sedari tadi setia dipandangi Sulli.

Espresso dan muffin diletakkan tepat di depan Sehun dan segelas au lait ditambah strawberry cake persis seperti yang diminta Sehun tadi di sisi meja depan Sulli. Strawberry cake persis seperti yang diinginkan Sulli. Setelah sedikit basa-basi dan terima kasih ditambah senyum bisnis yang tidak pernah ketinggalan, si waitress heels tinggi berpaling melenggok meninggalkan Sehun dan Sulli kembali tenggelam dalam dunia mereka berdua.

Sehun menyesap espresso dari gelas kecil yang diletakkan di depannya. Hanya minuman ini yang selalu diminumnya setiap kali mengunjungi kafe ini. Espresso buatan sahabatnya Kai yang sudah dikenalnya sejak SMA dan menjadi sahabatnya sejak kuliah, sejak mereka memutuskan untuk meninggalkan rumah orangtua mereka dan tinggal di apartemen kecil yang mereka bagi berdua.Kai bekerja di kafe ini setelah semester kedua mereka di universitas.

Panas dari espresso yang baru dimasukkan Sehun ke dalam kerongkongannya langsung menurun ke dadanya. Ada rasa getir yang tertinggal di dadanya setiap tetesan espresso itu menyentuh lidah dan berjalan di sepanjang kerongkongannya akhir-akhir ini, yang dulunya perasaan itu tidak ada. Entahlah, rasanya espresso buatan sahabatnya itu kini membuat dia merasakan sesuatu yang pahit di dalam hatinya, sepahit espresso itu terasa di lidahnya.

Diam-diam diintipnya sosok gadis seindah mutiara itu dari balik gelas yang masih ditempelkannya di bibirnya. Tidak ada gadis yang lebih menarik hati dari gadis ini. Gadis tercantik yang pernah disaksikan dua bola matanya sejak ia bisa melihat melaluinya. Kulit bersih seputih kapas, mata yang indah, senyum sempurna yang membuat hati ingin meloncat girang setiap melihatnya. Dia sempurna. Ditambah strawberry cake di hadapannya yang segera disantapnya dengan gembira. Sehun terlalu mengenal Sulli. Dia tahu semua tentang Sulli. Karena Sulli…….

“Apa aku secantik itu?” Sehun terseret keluar dari lamunannya mendengar suara lembut Sulli dari depannya ditambah tawa terkikih Sulli. Ya, dia memang cantik.

“Mimpi saja kau.” Jawab Sehun cepat, segera meletakkan gelas espressonya kembali ke atas tapak kecil di atas meja kayu itu.

“Hihi, tidak usah malu. Aku tahu aku ini cantik. Makanya kau sampai terpana seperti itu melihatku.”

“Terpana apanya? Bodoh.” Sehun mengerutkan alisnya tanpa mengurangi ketampanannya.

“Gelasmu itu sudah menempel di bibirmu selama eeem..” diangkatnya jam tangannya sebentar. “Tiga, empat menit kau tahu. Dan kau menatapku seperti ini.” Dipraktekkannya ekspresi wajah Sehun yang terlihat lucu di matanya tadi. “Hihi bodoh sekali kau ini.”

“Oh, kalian berdua datang lagi.” Kai yang sama sekali tidak diharapkan Sehun kehadirannya tiba-tiba sudah berdiri di samping meja kayu bundar mereka, dengan kemeja putih berlengan panjang dan jeans hitam persis seperti yang digunakan wanita tadi, hanya saja Kai tidak memakai afron. Kedua tangannya tenggelam di balik kantong celananya.

“Oh, oppa. Kau sudah siap kerja?”

“Yap.” Kai tersenyum menganggukkan kepalanya ke arah Sulli.

“Kenapa masih memakai baju itu?” tanya Sehun tidak mengharapkan jawaban, dia tahu apa jawaban Kai setelah itu.

“Aku malas. Pulang begini saja. Hehe.” Sehun sudah terlalu hapal dengan kelakuan sahabatnya itu.

Sehun tidak mengharapkannya tapi memang Kai selalu melakukan segala sesuatu yang diharapkan Sehun untuk tidak dilakukannya. Dia duduk di kursi yang diduduki Sulli setelah menyuruh Sulli untuk sedikit bergeser dan mereka membagi kursi yang tadinya hanya diduduki Sulli sendiri.

Dengan kedua matanya, Sehun melihat dua sahabatnya yang lebih tua beberapa bulan darinya duduk di hadapannya dengan cara yang paling tidak bisa disalahkan Sehun. Jemari keduanya saling terkait dan Sulli mengambil sesendok dari strawberry shortcake yang dipesankan Sehun sesuai yang diinginkan Sulli tadi dengan sendok kecil yang disediakan disampingnya. Sesendok kecil strawberry shortcake yang dipesan Sehun sesuai keinginan gadis itu, disuapkannya ke mulut Kai yang sudah terbuka bersiap menerima strawberry shortcake itu. Beberapa detik kemudian, strawberry shortcake sudah berpindah ke atas lidah Kai dan sebuah cubitan mesra yang jelas penuh dengan rasa cinta milik Kai medarat di pipi putih Sulli.

Senyum bahagia terkembang di wajah cantik Sulli. Dan meski terdengar sangat jahat, Sehun ingin menghapus senyum itu dari wajah cantik itu. Bukan, bukan begini seharusnya. Dia tidak mau jika senyum itu adalah karena Kai. Hatinya yang mudah hancur tidak bisa menerimanya. Dan, lagi. Sehun merasakannya lagi. Entah karena pengaruh espresso buatan Kai tadi atau penyebab lain. Lagi, dia merasakan pahit itu di dalam hatinya.

—__—

Malam musim gugur yang panas. Sehun memutuskan duduk di balkon apartemen yang dibaginya dengan Kai. Malam sepi seperti ini, Sehun lebih memilih memandang langit malam musim gugur. Dipandanginya bintang-bintang yang berkedip menggodanya menuntut agar ia memberi lebih banyak perhatian pada keindahan mereka. Sehun selama ini bukan seorang pria sentimen yang berbicara dengan langit malam tentang kesedihannya. Atau mengajak bintang-bintang untuk ikut berdiskusi tentang laranya dan membantu mengatasi sedihnya. Tidak, dia bukan orang seperti itu.

Tapi apa yang dapat dilakukannya di malam seperti ini selain duduk di balkon mencoba berkomunikasi dalam diam bersama bintang. Di saat dia hanya sendiri di rumah, baiklah bukan sendiri, dia ditemani Koro, kucing hitam yang dipeliharanya dengan Kai sejak tahun lalu. Di saat dia tahu sekarang ini Sulli sedang menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama Kai, sahabatnya itu, menonton di bioskop, minum kopi starbucks, tertawa bersama tanpa Sehun, berbagi kenangan indah hanya berdua. Hanya SUlli dan Kai.

“Twinkle twinkle little star.” Perlahan bibirnya menyenandungkan lagu anak-anak itu di luar kesadarannya. “How I wonder what you are.” Dipejamkannya matanya seiring lirik lagu yang sudah di hapalnya dengan baik itu meluncur begitu saja dari mulutnya. “Up above the world so high. Like a diamond in the sky.” Lirik itu merasuk begitu saja ke dalam sanubari Sehun. Mengingatkan Sehun bahwa dia memang benar bagai intan di langit jauh. Begitu tinggi, di atas jangkauan Sehun. Tidak teraih.

Setelah terdiam beberapa saat memandang langit yang ramai bintang, segera ia masuk kembali ke dalam apartemennya yang kosong. Diraihnya iPodnya yang diletakkannya begitu saja di meja, iPod yang juga dibaginya dengan Kai. Setelah diambilnya iPod itu dan diangkatnya Koro yang tertidur lelap di kursi, dan menerima sedikit cakaran dari Koro karena mengganggu tidurnya, dan dia kembali duduk di kursi di balkon itu, iPod di tangan kanan dan Koro tidur di pangkuannya.

Sehun mencoba menikmati kesendiriannya malam itu. Diputarnya lagu yang beberapa minggu terakhir ini selalu didengarkannya karena lagu itu yang begitu tepat menggambarkan perasaannya.

Untouchable like a distant diamond sky. I’m reaching out and I just can’t tell you why. I’m caught up in you.

Sekali lagi, lirik lagu itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Tanpa dapat dibendungnya, satu demi satu kata yang terucap dari bibirnya menambah rasa sakit yang tidak tahu dari mana datangnya.

I get dolled up for you. I want to shine even more beautifully. Why are you the only one not to know my true value?

Lagi, satu lagi lagu yang mengiris-iris hatinya menjadi potongan-potongan yang lebih kecil. Semakin hari semakin kecil dan tidak berbentuk. Sampai Sehun sendiri tidak tahu lagi apa itu betul hatinya. Kenapa dia tidak mengerti? Nilai sesungguhnya dari Sehun. Dia berusaha menjadi lebih baik, bersinar seperti bintang-bintang kecil sana yang terus menggodanya. Tapi dia tidak bisa menjadi bintang. Dia tidak bisa meraih orang yang dicintainya. Sejauh apapun dia melambung ke udara, tetap saja bintang yang diinginkannya itu tak sanggup diraihnya. Dia tidak bisa. Dia ingin tapi tak mampu.

“Koro.” Bisiknya pelan di telinga kucing hitam yang berbaring nyaman di pangkuannya. Dengan lembut dielusnya bulu Koro. “Apakah dia akan melihatku? Misalnya suatu hari nanti, apa dia akhirnya akan memandangku?” Setiap kata yang terucap, bertambah satu sayatan di hatinya. Ia tahu semuanya itu tidak akan mungkin pernah terjadi.

“Apa aku akan mendapatkan kesempatan?” tanyanya lagi. Koro, kucing hitam yang diajaknya berbicara itu, hanya menjawab dengan ngeongan pelan. “Kenapa? Apa kau lelah? Sini.” Dibalikkannya kucing hitam itu menghadap padanya, dipaksanya untuk menatap matanya. Kucing hitam yang terganggu tidurnya itu menatapnya sebentar dengan malas kemudian kembali memejamkan matanya. “Oh? Kau tidak ingin berbicara denganku? Haha, baiklah. Kembalilah tidur.” Diletakkannya kembali kucing hitam itu di pangkuannya. Kucing itu menggeliat menyamankan posisinya di pangkuan Sehun. Kemudian kembali memejamkan matanya. Mendengkur ringan di pangkuan Sehun.

Sehun menatap satu-satunya kucing di rumah itu. Dia bisa tidur dengan nyaman di pangkuan Sehun. Sedangkan pria itu, Sehun tidak pernah bisa terpejam di malam seperti apapun, di ranjang atau sofa senyaman apapun. Dia tidak pernah bisa menghilangkan kegundahannya, memikirkan orang yang ia cintai tidak merasakan seperti yang dirasakannya. Dia tidak bisa terlelap jika memikirkan debaran itu hanya miliknya dan tidak pernah berbalas. Berkali-kali, ia selalu bertanya tapi tidak mendapat jawaban yang diinginkannya. Kenapa? Kenapa Sulli harus bersama Kai? Kenapa Kai?

Panasnya musim gugur malam itu ditambah rasa sepi yang tidak bisa diusirnya. Bintang-bintang kecil yang berkedip menggodanya tapi tidak dapat menarik hatinya. Koro yang terlelap dengan nyaman di pangkuannya. Di luar kendalinya, bulir-bulir air mata tumpah dari pelupuk matanya. Satu demi satu jatuh di atas bulu hitam Koro. Kucing itu hanya menggeliat pelan lalu mengeong terganggu karena butir-butir air yang menjatuhi bulunya. Bintang-bintang kecil itu masih dengan genit berkedip-kedip tersenyum bermain mata dengannya. Tapi Sehun, dia hanya merasa sepi.

—__—

“Aku mau Macchiato ringan segelas. Espressonya sedikit saja. Eeeem lalu untuk gadis ini tolong cappucino dan panekuk coklat.” Sehun tersenyum pada waitress yang sama, dengan heels hitam tinggi dan senyum bisnis. Waitress yang tidak disukai Sulli.

“Kenapa kau tidak memesan espresso dan muffin?” Sulli mengerutkan dahinya, mempertanyakan kelakuan Sehun yang tidak biasanya.

“Ah, akhir-akhir ini lambungku tidak enak.” Jawab Sehun singkat, menolak menatap Sulli tepat di matanya. Dia tahu, jika menatap mata coklat itu sekali lagi, dia hanya akan merasakan rasa pahit itu lagi di hatinya meskipun ia tidak meminum espresso.

“Oooh bukankah adik kami ini tidak bisa dikalahkan apapun? Sekarang kau kalah dengan lambungmu dan memilih untuk tidak meminum espresso?” ujar Sulli dengan candaan khasnya, sambil mengacak-acak rambut Sehun seperti yang selalu dilakukannya.

“Kalau tetap kupaksakan bisa-bisa aku mati. Lebih baik mengalah.” Kata Sehun sambil merapikan poninya yang lagi-lagi hancur setelah pertama dicubitnya dulu tangan Sulli yang tidak mau berhenti memberantaki poni berharganya itu.

“Kau mengalah eoh?” Sulli kembali menunjukkan senyumnya. Senyum yang tidak bisa dibenci Sehun seberapapun ia ingin untuk membencinya.

“Hm hm.” Balas Sehun lebih singkat dari segala jawaban yang pernah diberikannya pada Sulli sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Masih menolak untuk bertemu pandang dengan Sulli. Bukan, Sehun bukan mengalah pada espresso itu. Tapi dia mengalah pada rasa cintanya. Mengalah pada Sulli. Karena dia tahu semua sia-sia.

Segera setelahnya, waitress yang sama datang dengan pesanan dua orang itu. Setelah meletakkan pesanan keduanya, waitress itu kembali berbalik melenggok menjauh dari Sehun dan Sulli. Heelsnya dihentak-hentakkan menimbulkan suara di sepanjang jalan yang dilewatinya.

“Kenapa dia? Apa dia sedang kesal?” tanya Sulli, pandangannya mengekor waitress yang baru berlalu itu. “Dia juga tidak tersenyum seperti biasanya.”

“Kenapa kau peduli?” timpal Sehun, ikut-ikutan menatap waitress itu.

“Haha aku bukannya peduli. Hanya saja dia tidak seperti biasa. Dan aku benci yang tidak biasa.” Sulli kembali menghadap meja kayu bundar di depannya, menyibukkan dirinya dengan panekuk coklatnya.

“Oh.” Aku juga tidak seperti biasa, kenapa kau tidak bertanya? Tutur Sehun dalam hatinya.

“Kau juga tidak seperti biasa. Apa yang membuatmu kesal?” tiba-tiba Sulli mengangkat wajahnya, menatap Sehun. Mata mereka bertemu dan Sehun tanpa alasan yang begitu spesifik tiba-tiba merasakan panik menjalar di sepanjang tengkuk hingga punggungnya.

“Tidak seperti biasa apanya?” Sehun memalingkan wajahnya menatap keluar jendela kaca di samping mereka. Dipandangnya jalanan kering di luar kafe itu. Semalam hujan, sekarang jalan itu sudah kering. Cepat sekali berubah.

“Katakan pada noonamu ini, siapa yang sudah membuat maknae kecil kami sedih?”

“Noona apanya?” ujar Sehun dengan nada mengejek, matanya belum dialihkannya dari jalanan kering yang dipandangnya dari jendela itu.

“Buka mulutmu.” Kata Sulli tiba-tiba. Sehun memalingkan wajahnya dan dilihatnya sendok kecil berisi panekuk coklat tepat di depan wajahnya. Sulli di seberangnya tersenyum lebar, mengulurkan sesendok panekuk coklat ke wajahnya dan masih dengan sabar menunggu Sehun membuka mulutnya.

Setelah merasa cukup diam dan tidak merespon Sulli, akhirnya Sehun membuka mulutnya ragu-ragu dan sendok berisi panekuk itu langsung masuk ke mulutnya. Hangat. Panekuk itu terasa hangat dan manis tapi tetap saja yang terasa di lidah dan hati Sehun adalah pahit walaupun dia tidak meminum espresso. Perlahan sendok itu ditarik keluar dari mulutnya dan dilihatnya Sulli tersenyum padanya. Tersenyum bahagia. Masih senyum itu yang terlukis di wajah Sulli. Senyum yang sama dengan yang diberikannya pada Kai.

Kenapa? Kenapa kau tersenyum bahagia seperti itu padaku? Sedangkan luka hatiku ini juga kau yang membuatnya? Kau sungguh wanita kejam.

Sehun menundukkan kepalanya, merasakan emosi yang tidak pernah berhasil diartikannya di ulu hatinya. Yang dapat dilakukannya hanya memalingkan pandangannya dari Sulli. Dengan begitu apa pun itu di dadanya yang membuat nafas Sehun sesak bisa sedikit berkurang dan melegakannya.

—__—

Cafe au lait

“Kenapa kau tidak minum espresso lagi?” wangi khas campuran espresso dan susu ditambah foam dari segelas au lait yang tertangkap indra pencium Sehun mengundang si pemilik nama mendongak, menatap wajah sahabatnya yang memegang segelas au lait di masing-masing tangannya, satu disodorkan tepat di depan wajah Sehun.

“Kenapa?” segelas au lait segera berpindah tangan. Ditempelkan Sehun gelas au lait itu ke bibir tipisnya, mengalirkan campuran espresso, susu, dan foam ke dalam kerongkongan Sehun setelah pertama dihirupnya nikmat wangi kaffe latte itu. Kemudian gelas yang baru dikurangi sedikit isinya itu diletakkannya di lantai, tepat di sampingnya. Matanya kembali fokus ke layar PS2 nya, melanjutkan permainan yang sempat tertunda saat Kai datang membawa au lait.

“Kutanya kenapa kau tidak minum espresso lagi?” Kai mengambil posisi duduk di samping Sehun dan au laitnya.

“Aku tahu kau tanya apa. Kenapa kau bertanya?” jawab Sehun tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.

“Aku hanya mengkhawatirkan perubahan sikap sahabatku. Salah?”

“Apa kau segitu tidak punya hal yang harus dikhawatirkan? Sampai khawatir denganku.”

“Itu karena kau spesial.” Sehun terdiam. Belum pernah selama enam tahun pertemanan mereka sekalipun Kai menyebutnya spesial. Kata-kata itu membuatnya terhenyak.

“Apa-apaan kau? Tiba-tiba bicara yang bikin merinding begitu.” jawab pria berambut coklat itu memandang sahabatnya yang duduk di sampingnya. Disentuhnya belakang lehernya, menunjukkan pada sahabatnya itu betapa merindingnya dia. “Lihat. Bulu-buluku sampai berdiri begini.”

“Ya, kau.. aiissh. Dasar..” Kai menjitak kepala Sehun tanpa mengurangi sedikitpun dari segala tenaga yang dimilikinya. Tak lama, keduanya sudah terlibat adu gulat.

“Ya, aku ini sangat mengkhawatirkanmu tahu.” Kai meminum au laitnya setelah lelah melakukan sedikit olahraga dengan Sehun di malam hari.

“Sudah kubilang jangan buat aku merinding.”

“Yaaaak bodoh. Kau ini dasar… betul-betul kau ini…” Kai menggeleng-gelengkan kepalanya memandang Sehun yang sibuk dengan gelas au laitnya. “Terkadang aku khawatir, bagaimana kalau nanti aku menikah dan kau harus hidup sendiri?”

Deg. Kata-kata Kai tiba-tiba membuat jantung Sehun untuk beberapa detik yang terasa lama dan menyesakkan berhenti berdetak. Kenapa tiba-tiba membicarakan tentang menikah? Memangnya Kai ingin menikah? Dengan siapa? Oh, tentu saja dengan Sulli. Memangnya siapa lagi? “Dasar kau ini. Memangnya kau mau menikah?” Sehun menyembunyikan wajahnya dari jarak pandang Kai dengan memalingkan wajahnya ke arah yang berlawanan dari wajah Kai.

“Aku kan bilang seandainya bodoh.”

“Dengan siapa?”

“Aku tidak mengatakan ingin menikah kan? Seandainya. Kau ini tuli ya?”

“Kau akan menikah dengan Sulli?”

Kai akhirnya memutuskan diam. Tidak menjawab pertanyaan Sehun yang terakhir. Dia tidak ingin terlibat dalam pembicaraan ini lagi dengan Sehun. Terakhir kali mereka melakukannya, Sehun dan Kai tidak berbicara satu dengan yang lain selama dua minggu. Mereka saling menghindari yang hal itu sangat susah dilakukan karena keduanya tinggal di satu kamar apartemen yang sama. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana akhirnya mereka berbaikan dan kembali saling menyapa satu sama lain.

Sehun berdiri dari lantai, berjalan menuju kamarnya. Dengan keras dibantingnya pintu kamar pribadinya itu dan dikuncinya dengan kasar. Meluncur, manjatuhkan pantatnya ke lantai tepat di depan pintu kamar yang terkunci itu, masih punggungnya bersandar di pintu kayu yang telah digunakannya lebih dari lima tahun itu. Diletakkannya kepalanya di atas lututnya, mencoba untuk tidak mempercayai hatinya yang sekali lagi mempermainkannya.

Mereka akan menikah. Sulli dan Kai akan menikah. Maka dia akan sendiri. Tertinggal sendiri. Kedua sahabatnya itu akan menikah dan bahagia selamanya kemudian dia akan menangis sendiri seperti yang selama ini dilakukannya. Menangis di balik pintu sendiri. Tidak. Dia tidak bisa. Apa dia akan sanggup? Menyaksikan orang yang begitu dicintainya digandeng tangannya oleh orang lain dan bukan dirinya, di saat yang diinginkannya hanyalah tangan itu untuk selalu menggenggam tangannya.

Sehun mengacak-acak frustasi rambutnya sendiri sebelum dibukanya lagi pintu kamarnya, menunjukkan seorang pria berkulit agak gelap duduk di lantai dengan gelas au lait di tangannya. Au lait buatan sahabatnya itu sendiri. Dengan langkah cepat, Sehun segera menghampiri sahabatnya itu. Dipandanginya au lait yang masih digenggamnya dan segelas lagi au lait diletakkan di lantai, au lait milik Sehun.

Tanpa merepotkan dirinya berpikir dua kali, langsung dilayangkannya pukulan keras tepat ke pipi Kai. Kai yang tidak menyangka akan datang serangan mendadak dari sahabatnya, terkejut, matanya terbelalak tak mengira yang akan terjadi. Au lait di tangannya jatuh ke lantai, tubuhnya tersungkur ke samping, menabrak satu lagi gelas au lait menumpahkan seluruh isi au lait itu.

“Apa-ap…” tanpa sempat menyelesaikan kalimatnya, satu lagi kepalan tangan penuh kekuatan mendaratkan pukulan di wajah Kai. Sudah terlalu terlambat untuk menyesali perbuatannya. Sehun menatap au lait yang tumpah membasahi lantai. Au lait buatan sahabatnya. Espresso yang meskipun sudah ditambahkan susu dan foam, masih terasa pahit saat dia membiarkannya mengalir melalui kerongkongannya. Au lait buatan sahabatnya yang sudah tidak lama lagi adalah sahabatnya sejak dia tidak bisa menghapuskan rasa cemburu semenjak ia mengenalkan Sulli pada sahabatnya itu dan semua mulai berubah. Ia pun mulai merasa sesak di dadanya saat ia meminum espresso buatan sahabatnya itu yang terasa pahit baik di hati maupun di lidahnya. Biarlah, espresso-espresso itu bertumpahan tanpa harus menyerang barikade hati Sehun. Tanpa harus mengikis luruh semestanya. Biarlah begitu agar tak lagi pahit itu dirasakannya baik di hati maupun lidahnya.

—__—

“Omo, kenapa dengan wajahmu?” rasa terkejut dengan jelas tergambar di wajah Sulli ditambah dengan khawatir saat gadis itu melihat variasi warna merah, ungu, dan biru yang terlukis dengan jelas dan bangga di wajah putih Sehun. Sehun hanya menutup mulutnya, tidak berniat mengeluarkan sepatah kata pun untuk memuaskan rasa penasaran gadis itu. Wajahnya terlihat kesal dan bosan dan seolah mengatakan ‘tanya tentang wajahku sekali lagi, kau juga akan bangun dengan wajah seperti ini besok.’

Tapi Sulli tidak menyerah. Dia tidak bisa menyembunyikan maupun mengatasi rasa shocknya melihat wajah Sehun yang penuh warna seperti itu begitu dia duduk di kursinya tadi. “Yaaak Sehun. Setelah rambutmu, apa akhirnya kau memutuskan untuk mewarnai wajahmu dengan warna pelangi juga?” Senyum jahil tidak dapat dihilangkan Sulli dari wajahnya mengingat kembali rambut pelangi Sehun dulu saat tukang salon salah mencat rambutnya dengan berbagai kombinasi warna cerahi.

“Yaaaak Choi Jin Ri. Kau mau mati?”

Sulli menutup bibirnya rapat-rapat setelah mendengar Sehun membentaknya, bahkan memanggilnya dengan nama aslinya. Dia mengerti betapa seriusnya kekesalan Sehun saat ini.

“Kenapa?” Sulli memecahkan suasana hening di antara mereka berdua setelah waitress baru yang tidak dikenalnya mencatat pesanan yang diucapkan Sulli untuk keduanya berjalan ke counter membelakangi Sehun dan Sulli, bersenda gurau dengan pria tinggi keriting yang berdiri di belakang counter.

“Apanya yang kenapa?” Sehun menjawab Sulli dengan malas, ia mempermainkan kuncinya untuk mengalihkan sedikit perhatiannya dari orang yang paling menghancurkan hatinya saat ini. Menggegorogoti organ dalam itu seperti parasit, dan membuatnya lebih menyedihkan dari apapun.

“Waitress yang waktu itu sudah berhenti. Kenapa ya?” ujar Sulli ringan memandangi waitress baru yang masih berbicara dengan pria tinggi keriting di belakang counter itu. Satu tangannya sibuk bermain-main dengan rambut hitam panjangnya. “Lihat anak baru itu. Langsung menggoda si tinggi keriting itu.”

“Maksudmu Chanyeol?” Sehun mengerutkan dahinya mendengar pemilihan kata Sulli untuk menyebut pria tinggi itu.

“Terserahlah siapapun namanya.” Ujar Sulli memutar bola matanya malas. “Ngomong-ngomong kenapa wajahmu itu?” kembali Sulli mengalihkan perhatiannya pada memar di wajah Sehun.

“Hanya sedikit pertengkaran kecil kemarin.” jawab Sehun kembali mengalihkan pandangannya dari Sulli yang memandangnya penuh harap.

“Pertengkaran? Dengan Kai? Oh, terima kasih.” Sulli tersenyum ramah dan memberikan ruang pada waitress yang datang dengan nampan berisi dua gelas macchiato dan frappe coklat pesanan Sulli. “Kau bertengkar dengan Kai lagi?” lanjutnya lagi setelah si waitress berlalu, dengan sopan membiarkan keduanya kembali dalam pembicaraan mereka, meskipun sesekali ia mengintip wajah penuh lebam Sehun tapi tetap saja dia pergi dengan sopan memberikan privasi untuk kedua pelanggannya.

“Hm.” tanggap Sehun singkat, langsung menyibukkan dirinya dengan macchiato dan frappenya.

“Bodoh. Kenapa kalian bertengkar lagi?”

“Hanya sedikit masalah.”

“Seharusnya kau lebih baik lagi padanya dan tidak mencari masalah karena dia tidak lama lagi tinggal berdua denganmu.”

Sehun menghentikan tangannya yang hendak menyodorkan gelas macchiato ke mulutnya mendengar kata-kata Sulli.

“Ap.. apa maksudmu?” getar suara Sehun tidak bisa disembunyikan gemeretak bunyi gelas yang diletakkan dengan sedikit gemetar di atas tapak.

“Kami… kami akan menikah akhir musim gugur ini. Makanya….”

“Hentikan. Kalian tidak akan menikah. Hentikan itu.” Sehun serba salah. Dia merasa tidak enak mengatakan hal seperti ini kepada gadis yang lebih tua darinya itu. Tapi dia tidak bisa, hatinya tidak bisa menahan sakit di dadanya mendengar pengakuan itu langsung dari Sulli sendiri.

“Itu benar. Maaf, Sehun. Tapi dia melamarku dan… aku,, aku mencintainya. Kau tahu itu. Aku tidak sanggup menolaknya. Maaf.”

Tidak. Jangan minta maaf bodoh. Jangan. Itu hanya membuatku lebih sulit untuk membencimu. Jika kau begitu baik, maka bagaimana aku bisa membencimu? Hentikan itu.

“Aku tidak ingin menyakitimu, tapi….” bulir air mata satu demi satu jatuh dari mata coklat indah itu. Kata maaf tak hentinya dilantunkan bibir semerah strawberry yang menghiasi shortcake yang dipesan Sehun sesuai yang diinginkan Sulli hari itu.

Hentikan. Jangan menangis untukku. Jika kau menangis maka aku akan lebih sulit untuk mendendam padamu. Hentikan.

Butir-butir air yang tidak diketahui Sehun kenapa bisa jatuh dari matanya, mengalir turut meramaikan wajah Sehun yang penuh lebam merah, biru, dan ungu, menambah perih di bekas pertengkaran dia dengan Kai semalam. Tanpa diharapkan Sehun, air mata yang sudah bercampur keringat itu masuk ke dalam mulutnya, memaksa lidahnya mencicipi sedikit rasanya. Asin. Air mata itu terasa asin. Tapi kenapa? Yang terasa sangat jelas dan kuat tetap pahit. Baik di hati maupun lidahnya. Padahal dia tidak meminum espresso. Pahit itu tetap tidak hilang.

—__—

Kelopak terakhir sudah terjatuh. Kelopak-kelopak yang berguguran mengisi balkon apartemen yang dibagi Sehun dan Kai sudah berganti dengan butir-butir putih penanda musim baru. Di balkon apatrtemen itu, apartemen yang kini ditinggali Sehun sendiri. Sehun memakai baju hangatnya, dan duduk di balkon merasakan hembusan angin musim dingin menggelitik wajahnya. Dia bersenandung kecil mengikuti irama musik dari iPod yang seharusnya miliknya dan Kai – sekarang menjadi miliknya sendiri sejak Kai mengatakan dia boleh memilikinya. Koro, kucing hitam itu berusaha mencari kehangatan di kakinya. Dia masih tidur dengan nyaman di kaki Sehun.

Sehun mengelus bulu kucing itu dengan lembut. Kai meninggalkan begitu banyak hal yang seharusnya milik mereka berdua untuk dimiliki Sehun sendiri. Kucing hitam itu salah satunya. Seperti yang dikatakan Sulli, mereka menikah akhir musim gugur tepatnya tiga hari yang lalu kemudian Kai pindah dengan Sulli ke apartemen baru yang mereka beli berdua. Sesuai pengakuan Kai, mereka tidak ingin membuat pria lajang sahabat mereka merasa tidak nyaman jika mereka tinggal di apartemen Kai dan Sehun saat Sehun menawarkan keduanya untuk tinggal di apartemen itu.

Maka keduanya pergi untuk kehidupan baru mereka. Meninggalkan Sehun sendiri dan patah hati.

“Kau juga. Carilah wanita yang lebih cantik lagi dari Sulli.” Bisik Kai padanya siang itu saat Sehun menyalam keduanya dengan hati yang sudah tidak berbentuk lagi, saking seringnya hancur menjadi kepingan-kepingan tidak berarti. Tapi dia tidak bisa mencari wanita lain. Baginya hanya ada satu cinta dan selamanya akan begitu.

“Koro, apa dia itu bodoh?” bisiknya pada kucing hitam itu. “Dari semua yang kami miliki bersama, dia meninggalkan semuanya untukku. Tapi dia mengambil sesuatu yang paling berharga untuknya sendiri.” Tangannya masih mengelus bulu kucing hitam yang seharusnya mereka miliki berdua itu.

“Membuatkan espresso terakhir saat kami masih tinggal bersama. Dia pikir itu membuatku merasa lebih baik?” sebutir salju jatuh tepat di atas bulu Koro dan kucing itu menggeliat tidak nyaman di pangkuannya. “Tapi aku tidak merasa lebih baik. Espresso itu terasa pahit. Sangat pahit di lidahku. Juga di hatiku.” kata-kata terakhir hanyalah bisikan getir. “Sekarang aku menyesal sudah mengenalkan Sulli pada Kai. Apa menurutmu aku terdengar jahat Koro?” Kucing hitam itu berbalik, menatap Sehun tepat di matanya seolah ingin mendengar dengan baik apapun yang sedang diceritakan pria itu. “Hihi, apa kau juga kesepian Koro? Sini kupeluk kau.” Diangkatnya kucing hitam itu ke pelukannya, Koro hanya mengeong pelan seolah mengerti duka majikannya.

“Di antara segala hal yang dapat dibawanya, mengapa harus hatiku yang dibawanya?” airmata kembali menganak sungai dari mata, ke garis hidung, dan membasahi pipinya.

Segala hal yang ada di dalam apartemen kecil miliknya dan Kai itu, semua adalah milik mereka bersama. Mulai dari apartemen itu sendiri, piring-piring, gelas, TV, video game, sofa, kursi, kamar mandi, dan hampir seluruhnya adalah milik keduanya bersama. Tapi ada hal-hal yang hanya milik mereka masing-masing. Debaran itu adalah salah satunya. Hanya Sehun yang merasa jantungnya seolah meledak setiap kali Kai tertidur tepat di bahunya. Sehun sendirilah yang merasa nafasnya sesak saat Kai meletakkan tangannya di dahinya. Hanya sehun yang setelah berkali-kali mengingkari perasaannya dan meyakinkan dirinya bahwa dia menyukai wanita, tetap saja akhirnya dia menyerah dan membiarkan debaran itu yang memimpin hatinya.

Setelah segala pertengkaran dan sakit hati, akhirnya hanya Sehun sendiri yang menutup matanya yang sudah terlalu kering dengan air mata hingga tak sanggup menangis lagi. Karena debaran itu, hanya miliknya sendiri. Tidak pernah milik mereka berdua. Kai dan dia tidak pernah berbagi debaran itu di malam seperti apapun. Dan Kai, sahabatnya yang telah diserahinya hatinya itu, memilih memunggunginya dan tersenyum pada Sulli. Memberikan tangannya untuk digenggam oleh Sulli. Kai pada akhirnya memilih Sulli dan bukan dia.

Ya, sejak awal semua memang hanya delusi semata. Debaran itu tidak pernah terbalas. Sehun menutup matanya dan sekali lagi merasakan angin berhembus di musim dingin sendiri. Mencoba menenagkan hati dan pikirannya. Lagi. Dia merasa pahit seperti espresso yang selalu dibuat Kai untuknya. Pahit itu terasa. Dia tetap terasa. Meskipun dia tidak meminum espresso.

Oh bagaimana bisa kau jatuh cinta padanya tapi berbagi mimpimu denganku? Terkadang hal yang paling kau inginkan adalah satu-satunya hal yang tak dapat kau lihat.

*ESPRESSO*

A/N: Okay, that’s it. Again, sorry for the lame ending. Anyway, “gantung ending” is my middle name😀 Tell me how you think🙂

Dan ini secangkir espresso buat yang mau ngasih komen😉 jadi ayo komentar teman-teman^^

Espresso

PS: Don’t call me “thor”. I’m 96L. Call me anything accept “thor”

56 thoughts on “ESPRESSO

  1. Ping-balik: [FF Review] Espresso by Sehunblackpearl | Indo Club Review

  2. Ga nyangka sehun jadi suka sama kai?o,o? Dari awal cerita kan sehun suka sulli tapi knp ending nya jadi suka sama kai?heran-,- why?
    Misal kalo ada lanjutan nya, dcerita selanjutnya ada cewe pengganti sullinya sis😉 *ngusul😀

  3. Woah ..so sehun loves kai?????? Kirain sakit hatinya sehun itu krn dia cinta sulli tp trnyta krn kai. Sumpah ini keren banget. Keren banget seriusan, ff terbagus yg prnh aku baca. Gaya bahasanya udh kyk penulis novel terkenal aja dan alurnya sangat mengejutkan. Mantap. Bikin lg ya ffnya klo bs sehun sulli luhan kali ini hihihi

  4. pertama saya baca, saya kira ini ff sad yang menceritakan kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan kebanyakan tapi,pada akhir kisah kakak memberikan kejutan yang WOW hahaha gx nyanka deh sama akhirnya

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s