Diposkan pada exofanworldfreelance, Fanfiction, Freelance

I Love You part 1 [freelance]

PicsArt_1396546662643

Author: Irna Cho

Genre ; Romance, little comedy

Cast : Tari (Oc), Kris (Exo M), EXO Member, Kim Hyejin (Oc)

Rating : T (17+)

Diration : 22 Page

Length : Chapter

Disclamer : All the cast are from God except the OC is my imagination and the storyline too.

 Note: FF ini sudah di publikasikan sebelumnya di http://fanfictionside.wordpress.com/ jadi tolong di lihat nama authornya jika ada kesamaan cerita. Happy reading…

 

Pagi ini salju kembali turun, membuat siapa pun yang hendak keluar mengurungkan niatnya dan memilih bermalas-malasan didalam rumah mereka yang hangat. Namun tidak untuk gadis cantik bermata bulan sabit yang sejak tadi sudah sibuk dengan kopernya. Sibuk mengisinya dengan beberapa pakaian. Begitu seterusnya hingga dia rasa cukup. Di pinggir tempat tidur duduk seorang yeoja manis dengan iris mata kecoklatan, rambutnya yang lurus sebahu membingkai wajahnya sempurna. Dengan postur tubuh yang lumayan tinggi dan kulitnya yang tidak seputih kulit wanita Korea pada umumnya cukup membuat setiap pria yang melihatnya merasa kagum akan kecantikan alami yang dimilikinya. Jika dilihat gadis ini memang bukan keturunan Korea. Dia berkebangsaan Indonesia yang sedang menetap sementara di Seoul untuk menyelesaikan kuliahnya.

“Kau yakin tidak ingin ikut?” Tanya yeoja bermata bulan sabit itu, Kim Hyejin.

Ani, biar aku disini saja. Akhir tahun ini sepertinya aku tidak mengambil cuti. Lagi pula aku tidak mau merepotkanmu disana.” Ujar gadis Indonesia tersebut.

“Aish, kau itu… seperti baru mengenalku seminggu dua minggu saja. Kalaupun kau merepotkan, aku akan dengan senang hati direpotkan olehmu. Sudahlah, lebih baik kau ikut aku saja ke Gwangju. Daripada kau sendirian disini.” Bujuk Hyejin. Namun yeoja manis itu hanya tersenyum menenangkan.

Gwaenchana, aku akan baik-baik saja disini. Lagi pula aku sudah terbiasa sendiri, sebelum bertemu denganmu aku kan hidup sendiri disini.” Hyejin menghela nafas mendengar penuturan sahabatnya itu.

“Kau itu memang keras kepala Tari-ya. Baiklah… kau jaga diri baik-baik di sini, jangan membawa masuk orang asing. Jika ada yang bertamu dan kau tidak mengenalnya, lebih baik tidak usah kau bukakan pintunya. Pura-pura saja tidak ada orang, dan jangan mudah percaya pada orang lain. Pulang kerja kau harus segera pulang, kalau perlu kau minta jemput saja dengan Suho oppa atau dongsaengdeul-nya itu jika kau pulang malam. Jangan…“ Ucapannya yang panjang lebar itu terputus karena Tari segera membekap mulutnya.

“Kau itu terlalu berlebihan mengkhawatirkanku. Aku seperti anak umur sembilan tahun yang sedang dijaga oleh seorang Ahjjuma cerewet.” Hyejin hanya mencibir seraya mendelik ke arah sahabatnya itu.

“Bukan maksudku begitu, kau itu terlewat polos. Kau ingat, kau hampir di tipu dua kali oleh pria brengsek macam Minhyuk. Jika saat itu Chanyeol tidak menemukanmu, aku tidak tahu apa yang akan dibuat si brengsek itu padamu. Aigoo… mengingatnya saja membuatku geram.” Ucap Hyejin berapi-api.

Arasseo arasseo. Aku akan mengikuti semua kata-katamu. Puas?” Ucap Tari akhirnya.

Hyejin mengambil mantel coklatnya yang tergantung di belakang pintu kamarnya, dan membungkus tubuhnya yang sudah tebungkus jaket tebal. Dua manusia berbeda kebudayaan itu kini menarik koper yang tidak terlalu besar menuju pintu apartemen mereka.

“Ingat pesanku, jaga dirimu dengan baik.” Ucap Hyejin lagi di depan pintu apartemen.

“Kau sudah mengatakan itu berulang kali Hyejin-ah.” Tari mencubit gemas pipi Hyejin.

“Baiklah kalau begitu, aku pergi.” Baru saja Hyejin akan melangkahkan kakinya, pintu apartemen di samping mereka terbuka. Enam namja yang akhir-akhir ini sedang di gilai para yeoja muncul dari balik pintu apartemen mereka.

“Kau sudah mau berangkat Hyejin-ah?” Tanya namja tertua di antara mereka yang merupakan leader dari ke lima namja tersebut.

Mereka adalah trainee disalah satu agensi artis terbesar di Korea yang baru saja debut. Mereka menyebut diri mereka EXO, Tari dan Hyejin sebenarnya tidak terlalu begitu mengikuti Boygrup atau Girlgrup selayaknya anak-anak remaja jaman sekarang. Mereka hanya sekedar tahu siapa itu Super Junior, Bigbang, DBSK. Tapi tidak tahu yang mana-mana saja lagu-lagu mereka. Yang Hyejin dan Tari tahu, Sorry-Sorry adalah lagu milik Super Junior. Selebihnya mereka tidak tahu, bukan karena mereka tidak punya televisi. Di ruang tamu apartemen mereka yang tidak begitu luas, bertengger televisi keluaran terbaru. Tapi yah, mereka memang jarang meyalakannya. Biar cerewet, Hyejin adalah seorang kutu buku. Dia anak tunggal dari seorang pengusaha hotel di Gwangju, statusnya yang sebagai anak tunggal mengharuskan dia mempelajari bisnis begitu keras yang nantinya akan di pakai untuk menggantikan Appa-nya sebagai direktur utama. Sedangkan Tari yang notabenenya bukan warga Korea, membuat dia tidak mau menyia-nyiakan waktunya untuk hal yang di anggapnya tidak terlalu penting. Bisa di terima di Seoul University bukanlah perkara mudah, butuh perjuangan dan kerja keras. Dan dia tidak mau menyia-nyiakan itu semua. Jadilah kedua yeoja ini kurang up to date dengan dunia remaja, tapi bukan berarti mereka kurang pergaulan. Mereka cukup populer dikalangan kampus mereka karena kepintarannya. Tapi semenjak mereka mengenal anak-anak EXO, sedikit demi sedikit mereka mulai mengenal musik Kpop yang sebenarnya wajib diketahui oleh remaja Korea pada umumnya.

Bicara mengenai EXO, mereka cukup terkenal sebagai artis pendatang baru. Bagaimana tidak, sebelum debut saja mereka sudah mempunyai banyak fans. Tidak jarang, banyak Exotic-sebutan untuk fans EXO-menunggu di depan apartemen mereka dari pagi hingga malam, bahkan menginap pun juga pernah. Hanya demi melihat idolanya. Tari dan Hyejin yang melihat itu kadang suka merasa kasihan, tapi apa yang bisa mereka perbuat. Entah apa namanya, keberuntungan mungkin. Ketidak sengajaan membuat Tari dan Hyejin menjadi tetangga mereka. Kedekatan mereka pun bisa di katakan akrab.

Hyejin tersenyum ke arah Suho dan mengangguk. “Ne, aku titip Tari eoh.”

“Ya, kau pikir aku ini barang bisa di titip-titipkan seperti itu?” Tari tampak protes. Namun Hyejin tidak mempedulikan protesannya, Tari menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil mencibir kesal.

“Serahkan saja pada kami, jika si brengsek Minhyuk itu berani datang kesini aku tidak akan segan-segan menendangnya sampai ke hutan amazon.” Ucap Chanyeol percaya diri. Semua pun terkekeh mendengarnya.

“Kau memang selalu bisa ku andalkan.” Ucap Hyejin mengacungkan jempolnya.

“Kenapa hanya Chanyeol hyung? Begini-begini aku juga bisa diandalkan.” Namja berperawakan tinggi yang pintar menari itu ikut angkat bicara. Tari dan Suho hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum kecil melihat tingkah namja bernama Kai itu.

Ne, aku mengandalkan kalian semua.” Kata Hyejin akhirnya. “Kalau begitu aku pergi dulu, ne.” Pamitnya kemudian, dan melangkah menuju lift.

Tari beralih menatap keenam namja yang masih berdiri di dekatnya, saat Hyejin sudah menghilang di balik pintu lift. “Kalian mau pergi latihan?”

Ne, sepertinya kami pulang agak telat hari ini. Jika ada apa-apa, kau telepon aku saja atau yang lainnya ya.” Ucap Suho, leader dari kelima namja tersebut.

“Issh… oppa, kau ingin seperti Hyejin, huh? Aku kan bukan anak kecil yang harus di jaga 24jam.” Tari merengut kesal.

“Kau memang bukan lagi anak kecil noona, tapi kepolosanmu itu melebihi anak berumur sepuluh tahun.” Ucap D.O menimpali. Dan itu sukses membuat wajah Tari semakin keruh. Namja bersuara indah di antara mereka selain D.O terkekeh, kemudian berkata.

“Kau itu terlalu mudah percaya pada orang lain noona, sudah ku bilang ikuti saja kata-kataku. Kau pacaran dengan Kris hyung atau dengan Suho hyung, ku jamin hidupmu akan tenang dan damai noona.

“Jika aku tenang dan damai, itu tandanya aku mati bodoh.” Ucapnya yang sukses membuat para namja itu meledak dalam tawa. “Sudah, berhenti mengatakan hal yang tidak-tidak.”

“Kau payah noona, apa kurangnya Kris hyung. Dia tampan, kaya, populer. Kenapa kau tidak menyukainya? Aku bersedia jadi cupidmu noona.Namja bertubuh kecil itu masih saja berceloteh, membuat Tari semakin geram ingin mencekiknya.

“Ya, Baekhyun-ah… jika kau tidak segera menutup mulutmu, sendal ini tidak akan segan-segan mendarat di kepalamu.” Ucap Tari yang bersiap membuka sendalnya. Namja bertubuh kecil yang ternyata bernama Baekhyun itu segera mengambil ancang-ancang untuk berlari. Namun Baekhyun berlari menuruni tangga darurat untuk menghindari lemparan sandal yang mungkin akan mengenai wajah tampannya.

“Ya, jangan lari kau.”

Noona, ingin ku salamkan dengan Kris hyung tidak?” Baekhyun kembali berteriak saat dia sudah menuruni satu lantai.

“BACOOOOON” Tari berteriak kesal. Namun Baekhyun malah tertawa geli dan kembali berlari menuruni tangga.

“Lihat kan? Betapa bodohnya dia, ada lift malah menggunakan tangga darurat.” Ucap Tari terengah-engah berjalan ke arah Suho dan yang lainnya. “Ya, Chanyeol-ah berhenti tertawa. Tidak ada yang lucu.”

Ani, kalian berdua sangat lucu. Kadang seperti adik kakak yang akur, kadang seperti Tom and Jerry.” Chanyeol menutup mulutnya menahan tawa agar tawanya tidak meledak, sehingga membuat kegaduhan di sekitarnya. Jangankan tertawa, bicara saja suaranya sudah cukup membuat berisik.

Aigoo… Dia benar-benar terobsesi menjadi cupid cintamu noona.” Ucap Kai yang juga tidak bisa menyembunyikan tawanya.

“Sudah tidak usah dipikirkan, Baekhyun memang senang menggodamu.” Suho tersenyum. “Kalau begitu kami pergi dulu, ne.

“Eoh, hati-hati dijalan.” Tari masih cemberut. Tapi dia tetap melambaikan tangannya pada kelima namja itu.

Mereka pun ikut menghilang di balik pintu lift seperti Hyejin sebelumnya. Senyuman masih tertinggal dalam wajah tampan mereka. Tari kembali masuk kedalam apartemennya, langsung saja dia menyandarkan punggungnya pada pintu yang sudah tertutup. Dia memegang dadanya, mengatur detak jantungnya yang agak tidak beraturan.

Kris. Satu nama itu selalu sukses membuat darahnya berdesir, dan membuat kerja jantungnya menjadi dua kali lipat lebih cepat. Namja itu memang tidak kurang apapun, tapi dialah yang kurang. Kris, terlalu sempurna untuknya. Dia tidak mungkin mencintainya. Pikir gadis itu.

Selama ini, Tari memang menyimpan perasaan untuk namja keturunan China itu tanpa di ketahui siapa pun. Bahkan Hyejin sekali pun. Dia selalu merasa tidak pernah pantas untuk berharap Kris mempunyai perasaan yang sama sepertinya. Dan selalu berfikir Kris tidak akan mungkin menyukai gadis biasa seperti dirinya. Jadilah selama ini Tari hanya menyimpan perasaannya tanpa mengharapkan balasan apapun dari namja itu. Buatnya, asalkan bisa dekat dan bisa terus melihatnya itu semua sudah cukup baginya. Dia cukup sadar diri untuk tidak berharap lebih.

                                                                 <<<>>>

Malam semakin larut, hawa dingin pun semakin terasa menusuk tulang. Jalanan-jalanan dan atap-atap rumah sudah tertutupi salju tebal. Namun itu semua tidak menghentikan kedua belas namja yang sedang fokus pada latihannya. Bergerak kesana kemari di depan kaca besar sebesar dinding. MAMA dari EXO masih mengalun di ruang latihan mereka, mengiringi dua belas anak manusia yang tengah menggerakkan tubuhnya mengikuti alunan lagu. Peluh sudah mengalir dari pelipis masing-masing, namun tidak sedikit pun melunturkan semangat mereka. Mereka berbaris menghadap belakang, seorang pemuda tinggi pemimpin dance dari grupnya berada di tengah-tengah barisan, lutut mereka menekuk hingga akhirnya menempel pada lantai dengan tangan kanan terangkat ke atas juga kepala yang menengadah. Menandakan berakhirnya gerakan mereka seiring berhentinya lagu.

“Akhirnyaaaaa selesai juga.” Namja bertubuh kecil itu berseru dan langsung merebahkan dirinya di atas lantai tanpa peduli lantai itu kotor atau tidak. Sedangkan yang lainnya langsung duduk dan menenggak minuman yang telah di sediakan sambil menyeka peluh dengan handuk kecil seraya menetralkan pernafasan mereka yang terengah-engah.

Hyung kenapa kalian tidak pulang dulu ke dorm?” Tanya Sehun, salah satu magnae di grupnya sambil mengipas-ngipas menggunakan tangannya.

“Tanggung, lagi pula jika kami ke dorm dulu percuma. Toh kami juga tidak bisa langsung istirahat, hanya menaruh koper lalu pergi lagi untuk latihan.” Jawab sang leader bermata tajam itu.

“Aish itu melelahkan sekali. Kenapa kalian tidak menetap saja di Korea?” Ucapan si magnae Sehun mendapat sebuah senyuman hangat dari Chanyeol.

“Ide bagus Sehunie. Kalau begitu kau katakan pada Soo Man sajangnim, ne.

“Kenapa harus aku? Kris hyung saja, kan dia leader di EXO M.” Jawab Sehun polos.

“Tapi ini kan idemu, jadi akan lebih baik jika kau yang mengatakannya.” Lagi-lagi Chanyeol masih mempertahankan wajah manisnya.

“Ini memang ideku, tapi kan bukan berarti harus aku yang mengatakannya.” Dengan polosnya lagi-lagi Sehun menjawab dengan wajah tanpa rasa bersalah. Membuat yang lainnya terkekeh dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Chanyeol yang sudah jengkel di buatnya mengangkat tangannya ingin menjitak Sehun dengan ekpresi yang bisa membuat nenek-nenek asma seketika. Namun tidak di lakukannya, dia hanya memukul udara kosong. Dan ketika Sehun menoleh, Chanyeol segera memasang wajah malaikatnya kembali.

EXO M dan EXO K, satu grup yang di pisah menjadi dua kubu. Satu untuk di Korea dan satu untuk di China. Namun biar mereka terpisah jarak, keakraban dan persahabatan yang terjalin tetap begitu erat. Kekompakan tidak bisa di hindari dari mereka. Dan biar pun mereka terpisah menjadi dua, mereka selalu mengatakan jika mereka adalah satu di setiap perkenalan mereka.

“Kau mau menelepon siapa Baekhyun-ah?” Tanya Luhan yang masih belum bangun dari tidurannya.

Noona-ku.” Jawab Baekhyun santai. Luhan hanya mengatakan ‘Oh’ tanpa suara. Tanpa ada rasa curiga sedikitpun, mereka tidak ada yang mempedulikan sang lead vocal bertubuh kecil itu.

Yeobseo noona.

“Eoh, Baekhyun-ah. Waeyo?” Jawab yeoja di seberang sana.

“Memangnya aku tidak boleh meneleponmu noona? Aish…kau ini.” Baekhyun pura-pura kesal. Tapi kemudian kembali melanjutkan. “Kami sebentar lagi pulang. Kami bersama EXO M, mereka sudah datang.” Baekhyun melirik Kris, sedangkan yang di lirik tidak sadar akan adanya bahaya yang sebentar lagi menimpanya. “Kau sedang apa noona?” Tanya Baekhyun sumringah. Entah apa yang sedang di pikirkan anak itu saat ini.

“Hanya sedang membaca buku. Waeyo?

“Ah ani, hanya bertanya. Hmm Noona…” Panggilnya lagi. “Kata Kris hyung dia merindukanmu.”

Kris yang mendengar namanya di sebut tidak sengaja menyemburkan air yang sedang di minumnya ke muka Chen yang tepat berada di hadapannya karena kaget. Dia membelalakan matanya ke arah Baekhyun seolah ingin memakannya. Kris langsung merebut ponsel yang berada dalam genggaman Baekhyun dan langsung mematikannya. Semua member EXO menahan tawa melihat ekspresi Kris yang berubah jadi horor kecuali Chen yang baru saja kena semburan dari sang leader mengusap wajahnya pasrah menahan kesal.

“YA! Apa yang kau lakukan, huh?” Member yang lain saling berpelukan, takut-takut jika Kris benar-benar mengamuk.

“Aku hanya membantu menyampaikan isi hatimu hyung.” Ucap Baekhyun seraya mundur perlahan. Tangannya membentuk huruf ‘V’ dengan menampilkan sederet gigi putihnya. Membuat matanya menjadi segaris.

“Isi hati kau bilang?”

Ne, sebagai dongsaeng yang baik aku tahu isi hatimu hyung kalau kau sebenarnya menyukai Tari noona, iya kan?” Dengan yakin Baekhyun mengucapkannya secara gamblang, membuat Kris semakin membulatkan matanya.

MWO? YA, neo micheosseo? Tahu apa kau soal isi hatiku?” Kini Baekhyun semakin mundur ke belakang sebelum akhirnya dia mengambil langkah seribu.

“YA! KEMBALI KAU BYUN BAEKHYUN…” Kris mengejar Baekhyun yang berlari memutari ruang latihan mereka. Jadilah mereka kejar-kejaran dengan berputar-putar mengelilingi ruangan tersebut.

Sedangkan Tari yang berada di apartemennya bingung karena Baekhyun yang tiba-tiba memutuskan sambungan teleponnya.

“Aish, bocah ini. Lagi-lagi dia mengerjaiku.” Tari menggerutu kesal. Di hempaskannya ponselnya ke sofa dan kembali ke kegiatannya yang tadi sempat tertunda.

<<<>>> 

“Aaarrgh….. Hyung aphayo, geumanhae.” Baekhyun meringis, lebih tepatnya berteriak karena Kris sejak tadi tidak berhenti memukuli kepalanya.

“Kau tahu, kau sudah membuat hyung-mu ini malu.” Ucap Kris, sekali lagi menjitak kepala Baekhyun.

“Kenapa harus malu hyung, harusnya kau senang.” Baekhyun mengusap-usap kepalanya yang mungkin sudah bertumpuk benjolan-benjolan seperti Sinchan.

“Apa kau bilang?” Kris merangkul leher Baekhyun dengan kencang yang membuat namja itu terbatuk-batuk. Mungkin lebih tepatnya hampir mencekiknya.

“Sudahlah hyung, jangan di pukuli lagi. Kasihan dia.” Suho mencoba menengahi. Mendengar Suho membelanya Baekhyun langsung memasang muka memelas pada Suho meminta di kasihani.

“Tapi hyung, benarkan kau menyukai Tari noona?” Tanya Baekhyun masih belum ada kapoknya. Kris kembali memberikan tatapan tajamnya pada Baekhyun yang membuat namja itu seketika langsung mengunci mulutnya. Yang lain hanya menahan tawanya sejak tadi, tidak berani bicara jika Kris sudah mengeluarkan tanduknya. Mereka berjalan beriringan menuju tempat parkir untuk segera pulang dan istirahat.

“Chanyeol-ah, coba kau hubungi Tari, mungkin dia ingin di bawakan sesuatu. Aku yakin dia pasti belum makan.” Perintah Suho yang mulai menjalankan mobilnya.

Terdengar nada sambung saat Chanyeol menempelkan ponsel putih itu ke telinganya, namun kemudian operator yang bicara. Di coba sekali lagi dan hasilnya tetap sama, “Tidak di angkat hyung, mungkin dia sudah tidur.”

“Hmm yasudah kalau begitu, mungkin dia memang sudah tidur.” Ucap Suho yang kini sudah fokus pada jalanan di depannya.

“Bukankah setiap hari dia selalu masak?” Tanya Xiumin penasaran.

“Biasanya kalau sedang sendiri dia tidak masak, paling-paling dia akan membuat ramyeon atau membeli makanan di luar.” D.O menjawab.

“Sendiri? Memang Hyejin kemana?” Kali ini giliran Lay yang bertanya.

“Ini kan akhir tahun, dia pasti selalu pulang ke rumah orang tuanya jika libur panjang.”

“Berarti selama beberapa minggu ini Tari noona sendirian di apartemennya? Kenapa dia tidak ikut saja dengan Hyejin noona?” Tao yang sejak tadi diam pun ikut bicara.

Molla. Mungkin café tempatnya bekerja tidak memberinya libur.”

“Lalu kenapa dia tidak minta cuti saja? Libur panjang begini malah memilih bekerja. Dia itu bodoh atau apa? Sendirian di apartemen, kalau ada yang berniat jahat dengannya bagaimana?” Kris ikut bicara, namun terlihat sedikit kesal. Dan itu malah mengundang kecurigaan untuk yang lainnya. Sedangkan Baekhyun, dia tersenyum penuh arti melihat tingkah hyung-nya itu.

“Kau jangan marah-marah disini, tanya sendiri pada orangnya.” Ucap Chanyeol, dan itu membuat Kris sedikit salah tingkah.

“Siapa yang marah-marah? Aku tidak marah. Aku hanya bertanya.” Jawabnya sedikit gugup.

“Eoh, hyung… aku jadi terpikirkan sesuatu.” Tiba-tiba Kai mengangkat wajahnya dari PSP-nya.

“Apa?” Tanya Chanyeol penasaran. Semua member pun menatap Kai penasaran, Luhan yang juga sejak tadi sibuk dengan ipodnya pun melepas headphone-nya dan ikut menatap Kai.

“Kau yakin Tari noona sudah tidur? Bagaimana jika si Minhyuk itu datang dan kembali mengganggunya? Dia pasti tahu jika Hyejin noona pergi ke Gwangju, dan dia juga tahu kan kalau siang itu adalah jadwal kita latihan dan baru akan kembali tengah malam.” Ucapan Kai sukses membuat perubahan dari raut wajah Kris.

“Tidak mungkin. Dia tidak akan berani kembali kesana setelah ku hajar.” Chanyeol meyakinkan.

“Apa yang tidak mungkin untuk orang psycho seperti dia? Kalian tahu sendiri si brengsek itu begitu terobsesi pada Tari noona.” Kai masih bersikeras.

“Aish… eotteokhae? Terakhir kali Tari noona hampir di perkosa.” Ucap Sehun menggoyang-goyang tangan Luhan gelisah. Membuat Luhan jadi ikutan stres.

“Sudah-sudah, semoga saja tidak terjadi apa-apa.” Luhan mencoba menenangkan Sehun.

“Aish…kalian membuatku ikutan stres. Sudah, dia pasti baik-baik saja.” Kris terlihat gusar di tempatnya. Dalam hatinya dia juga sangat mengkhawatirkan yeoja itu.

Hyung-ah palli…” Sehun meminta Suho untuk menyetir lebih cepat.

“Kau jangan membuatku grogi Sehun-ah.” Suho yang biasanya tenang pun jadi ikutan gelisah.

“Psycho.. bisa melakukan apa pun.” Xiumin menggumam pelan sebelum akhirnya menghela nafas berat. Namun masih bisa tertangkap oleh pendengaran Kris dengan jelas. Lagi-lagi itu membuat Kris habis kesabaran. Kris mengeluarkan ponsel keluaran terbarunya, segera dia ketik nomer yang sudah dia hapal di luar kepalanya. Tidak berapa lama dia berdecak kesal, menandakan tidak adanya jawaban dari panggilannya.

“Kenapa tidak aktif?” Gumamnya frustasi. Tanpa di sadarinya, gerak-geriknya itu tidak luput dari perhatian para member yang lain, membuat mereka semakin heran akan sikapnya. Namun tidak untuk Baekhyun dan Tao. Mereka justru tersenyum penuh arti.

“Berhenti.” Seru Kris tiba-tiba. Terdengar decitan ban mobil yang cukup keras akibat rem mendadak yang di lakukan Suho. Membuat semua member semakin heran akan tingkahnya Kris.

“Ya, hyung kau ingin kita mati bersama? Ada apa sih?” Chen yang sudah terbang ke alam mimpi terpaksa harus terhempas kembali dalam kesadaran.

Wae hyung? Tadi aku di suruh cepat, sekarang malah di suruh berhenti.” Suho semakin stres di buatnya.

“Minggir, biar aku saja yang menyetir. Kau terlalu lama.” Kris segera keluar menuju pintu kemudi. Suho yang masih kaget hanya bisa ternganga di buatnya.

“Ya, kenapa diam? Cepat pindah.”

Suho yang tidak mengerti akan sikap Kris hanya menurut pasrah. Chen yang masih bingung mencolek Tao yang duduk di sebelahnya.

“Ada apa sih?” Tanya Chen dengan suara pelan.

“Ada cinta.” Jawaban Tao membuat Chen mengerutkan keningnya. Chen menggaruk-garuk kepalanya bingung. Tao yang melihatnya terkikik geli.

“Sudah, gege tidur lagi saja sana.” Chen yang tidak mengerti akhirnya kembali tidur.

<<<>>> 

Suara bel apartemennya membuat Tari yang ingin masuk ke kamar untuk segera tidur segera mengurungkan niatnya. Membuatnya mau tidak mau harus melihat siapa yang bertamu malam-malam. Berikutnya, derap langkah kaki lebih dari lima orang membuat kegaduhan kecil di luar sana.

“Siapa sih yang membuat kegaduhan tengah malam begini?” Ucap Tari kesal. Saat pintu sudah di buka, muncullah dua belas namja dengan nafas terengah-engah di depan pintunya.

“Kalian kenapa? Habis lomba maraton?” Tanya Tari polos.

“Kau baik-baik saja kan? Si brengsek itu melakukan apa padamu? Katakan padaku.” Kris yang masih terengah-engah langsung menodong pertanyaan yang membuat Tari mengerutkan keningnya bingung.

Noona kenapa kau diam saja? Kau tidak apa-apa kan?” Kini giliran Sehun yang ribut.

Semua member EXO menatapnya menunggu jawaban. Kris yang tidak sabar, meraih tubuh Tari untuk di periksanya. Di putarnya tubuh Tari, di lihatnya dari atas ke bawah, wajah, tangan, seolah meneliti takut-takut ada yang lecet. Tari yang semakin bingung akhirnya melepaskan tangan Kris dari tubuhnya.

“Kau itu kenapa sih? Datang-datang jadi aneh begini, harusnya kau memberikanku oleh-oleh.” Ucap Tari, yang sukses mendapat hadiah jitakan dari Kris.

“Oleh-oleh yang kau pikirkan, kami itu sedang mencemaskanmu.” Ucap Kris habis kesabaran. Tari mengusap-usap kepalanya yang di jitak Kris sambil mencibir tak jelas.

“Kau jangan pikirkan oleh-oleh dulu, kami punya banyak untukmu. Sekarang katakan pada kami, apa si Minhyuk itu datang menganggumu lagi? Dia pasti sedang bersembunyi di dalam, katakan saja tidak usah takut. Kami akan melindungimu.” Luhan segera menerobos masuk dan di ikuti yang lainnya, mencari-cari sosok yang di maksud. Tari semakin pusing dengan ulah tetangganya yang tiba-tiba aneh itu.

“Minhyuk?” Ulang Tari. Semua mengangguk tanpa menatapnya. “Kalian lupa, dia sudah tenang di dalam penjara. Jika kalian ingin menemuinya datanglah ke kantor polisi.” Ucap Tari tenang. Semuanya diam seketika. Dan sedetik kemudian.

“KKAMJOOOOOONG…….”

Yang di teriakinya entah sudah kabur kemana. Tari hanya bisa menepuk jidat menghadapi ulah tetangganya yang ajaib itu. Akhirnya mereka pun keluar dan kembali ke dormnya. Kecuali Kris yang masih berdiri di sana menatap Tari.

“Syukurlah kau baik-baik saja. Kau itu, selalu saja membuatku cemas.” Kris mengacak-acak rambut Tari. Tanpa di sadari Kris, perlakuannya justru membuat wajah gadis itu merona.

“Kau sudah makan?” Tanya Kris lagi.

“Sudah. Tadi aku masak ramyeon.” Jawab Tari cepat, menutupi kegugupannya.

Ramyeon? Musim dingin begini kau makan ramyeon? Kau mau sakit? Kau harus makan nasi. Tunggu di sini, biar ku belikan makanan di luar. Kau tidak masak kan?” Kris berbalik dan hendak melangkah keluar. Namun Tari segera menghentikannya.

“Tidak usah. Ini sudah tengah malam, udaranya semakin dingin. Nanti kalau kau yang sakit bagaimana?”

“Kau mengkhawatirkan orang lain, tapi dirimu sendiri tidak kau pedulikan.” Tari hanya mendengus mendengar ucapan Kris. Sikapnya yang seolah dia peduli, membuatnya semakin berharap. Dan dia benci dengan harapan itu, karena dia tahu harapannya akan sia-sia. Tapi jika begini, membuatnya bingung harus bersikap bagaimana pada namja di depannya ini. Kadang sikapnya sungguh manis, kadang juga dingin. Kris seperti menarik ulur hatinya. Dan dia benci itu.

“Ya, kenapa kau malah diam saja?”

Ara, aku akan makan. Sudah kau kembali saja ke dorm-mu, tidak usah membeli makanan. Aku akan masak.” Ucap Tari akhirnya.

Geurae, kalau begitu masaklah sekarang.” Bukannya keluar dan kembali ke dorm-nya seperti yang Tari bilang, Kris malah menghempaskan tubuhnya ke sofa ruang tamu Tari.

“Kau tidak kembali ke dorm-mu?” Tanya Tari heran.

Wae? Tidak boleh aku makan disini? Aku juga belum makan.”

Tari menghela nafasnya, dan akhirnya dia segera menuju dapur. Sebentuk senyum kecil terukir samar pada wajah Kris tatkala dia menatap punggung gadis itu yang semakin menjauh.

<<<>>> 

“Ya, kau mau mebodohi kami, huh?” Kai meringis saat kupingnya di tarik Lay.

Appo hyung.” Kai mengusap-usap kupingnya yang memerah.

“Gara-gara kau kita hampir malu di depan Tari. Untung saja kita tidak sampai mengobrak-abrik apartemennya.” Ucap Xiumin.

“Aku kan tidak mengatakan jika itu benar terjadi. Aku hanya bilang seandainya, bagaiman jika.” Kai membela diri.

“Tapi ucapanmu itu meyakinkan sekali.” Baekhyun ikut nimbrung.

“Salah kalian, kenapa mempercayaiku?”

“Kau yang memaksa kami untuk mempercayaimu babo.” Luhan menoyor kepala Kai.

“Kris dimana? Sejak tadi aku tidak melihatnya. Dia tidak ke kantor polisi untuk menemui si Minhyuk kan?” Semua member melihat sekeliling mencari keberadaan Kris setelah mendengar ucapan Suho.

“Kemana lagi? Sudah pasti sedang melepas rindu.” Ucap Baekhyun tiba-tiba.

“Memang kau yakin Baekhyun-ah, jika Kris menyukai Tari?” Tanya Luhan.

“Belum sih. Hehehe…” Baekhyun memamerkan gigi-giginya yang putih. “Tapi aku ingin menyatukan mereka berdua. Bukankah mereka sangat cocok? Jika di lihat-lihat Tari noona itu type ideal-nya Kris hyung. Baik, perhatian dengan orang-orang di sekitarnya dan pintar memasak.” Baekhyun tersenyum bangga.

“Bukannya kau mencoba mendekatkan Tari dengan Suho hyung? Kenapa tiba-tiba jadi pindah haluan?” Kini giliran Chanyeol bertanya.

“Ck, Tari noona itu bukan yeoja yang banyak bicara. Dia agak pendiam. Sedangkan Suho hyung itu sangat tenang sekali. Apa jadinya jika dua orang yang tidak banyak bicara di satukan? Pasti sungguh membosankan. Lagi pula aku tidak merasakan adanya getaran cinta di antara mereka berdua. Tidak seperti dengan Kris hyung, aku memang belum tahu apakah mereka saling menyukai. Tapi aku yakin jika ada cinta di salah satu hati itu. Kalau dengan Suho hyung aku tidak merasakan apa pun, malah aku merasakannya getaran itu ada pada temannya.” Suho yang sedang minum pun tersedak mendengar ucapan terakhir Baekhyun. Tiba-tiba mukanya menjadi merah, membuat yang lainnya menatap curiga.

“Benarkan ku bilang.” Ucap Baekhyun penuh arti. Pelan, namun masih bisa terdengar dengan yang lainnya termasuk Suho.

“Apanya yang benar?” Tanya Suho sedikit membentak dan salah tingkah.

Ani.”

Suho melangkah memasuki kamarnya di ikuti tatapan penuh arti dari teman-temannya. Bagaimana tidak, Suho yang biasanya tenang tiba-tiba menjadi gugup dan merona. Semuanya terkikik geli saat Suho sudah menghilang di balik pintu kamarnya.

“Jangan tertawa. Aku tahu kalian menertawakanku.” Teriak Suho dari dalam kamarnya. Sontak semuanya membekap mulutnya masing-masing.

<<<>>> 

Tidak banyak yang di masak Tari. Hanya menu sederhana seperti telur gulung, tumisan sayur yang berisi sawi putih, kol, wortel, brokoli, juga irisan daging. Dan sup kimchi. Biarpun tidak seenak masakan hotel bintang lima, tapi masakannya cukup membuat siapa pun yang mencobanya selalu ingin lagi.

Oppaaa kemarilah, masakannya sudah siap.” Panggil Tari. Kris menuju dapur dengan wajah yang terlihat begitu antusias, entah karena wangi masakan Tari yang begitu mengundang selera atau ada pemikiran lain yang bersarang di otaknya.

“Kau masak apa? Wangi sekali.”

“Makan, dan jangan banyak tanya. Yang jelas aku tidak akan meracunimu.” Tari mengambil piring dan menyerahkannya pada Kris.

“Aku kan hanya bertanya, jika tidak mau jawab yasudah.” Kata Kris tak acuh.

“Aku hanya bisa masak seperti ini. Aku belum sempat ke supermarket untuk belanja bulanan.”

Gwaenchana, apapun yang kau masak pasti akan terasa enak.” Tari pun hanya bisa tersenyum menanggapinya.

“Ambilkan aku nasi.” Kris menyodorkan piringnya pada Tari.

“Ini nasi ada di depanmu, kenapa minta di ambilkan?” Tanya Tari bingung.

“Aku maunya di ambilkan olehmu. Palli… aku sudah lapar.” Tari yang bingung mau tidak mau akhirnya mengambilkan nasi untuk Kris.

Gomawao.” Ucap Kris, setelah mengambil piringnya yang telah terisi nasi.

Tidak banyak yang mereka bicarakan selama acara makan malam sederhana itu berlangsung, hanya bercerita satu sama lain tentang bagaimana kegiatan mereka selama ini. Sesekali tawa renyah terdengar dari keduanya. Bukan makan malam yang romantis memang, tapi cukup membuat kedua insan ini tersenyum senang. Perasaan bahagia, tak ingin berakhirnya waktu terasa dalam hati keduanya. Tanpa Tari ketahui, sesungguhnya keadaan seperti ini membuat seorang Wu Yi Fan yang biasa di panggil Kris ini merasa gugup. Beruntungnya, Kris mampu menyembunyikan kegugupannya di hadapan gadis pemilik bola mata coklat itu, yang entah sejak kapan selalu mampu membuat dadanya berdebar setiap memikirkannya.

Selesai makan malam, Kris masih berada di apartemen Tari. Belum ada niat untuknya kembali ke dorm. Atau mungkin memang dia sengaja berlama-lama di apartemen gadis itu. Kris kembali ke ruang tengah, dan duduk disana sibuk dengan ponselnya. Tidak untuk Tari, gadis itu masih menyibukan diri di dapur. Membereskan piring-piring dan yang lainnya.

Oppa, kau mau buah tidak?” Teriak Tari dari arah dapur.

“Eoh, boleh.” Jawab Kris tanpa mengalihkan perhatiannya pada layar ponselnya. Entah apa yang sedang dia lakukan dengan ponsel putihnya itu.

Tari datang dengan membawa sepiring apel yang telah di potong dan di kupas bersih. Menjatuhkan tubuhnya di samping Kris, lalu menyodorkan piring kecil yang berisi buah itu ke hadapannya. Tanpa sedikit pun pandangannya beralih pada layar televisi di depannya.

“Kau tidak lihat kedua tanganku sedang sibuk?” Tanpa berniat menoleh sedikit pun Kris tetap focus pada layar ponselnya.

“Sibuk katamu? Hanya bermain game kau bilang sibuk. Aku tidak mau tahu, habiskan! Tadi kau sendiri yang bilang mau.”

“Suapi aku!” Ucapan Kris sukses membuat Tari secara refleks menoleh ke arahnya.

Mworagoyo?

“Suapi aku. Kau tidak dengar? Kalau tidak mau, yasudah aku tidak mau makan.” Tari hanya bisa geleng-geleng kepala menghadapi kelakuan namja satu itu. Benar-benar susah di tebak. Mau tidak mau akhirnya Tari pun menuruti permintaan Kris. Melihat sikap Kris yang santai memakan apel dari tangannya membuat Tari sedikit kesal. Bagaimana tidak, gadis itu mati-matian melawan detakan jantungnya yang hampir melompat dari tempatnya. Sedangkan pria di depannya ini dengan santainya memakan dan menelan apelnya dengan begitu lancar seolah tidak terjadi apa-apa.

“Kau kenapa diam saja?” Tanya Kris.

“Kau tidak lihat jika aku sedang nonton TV?” Jawab Tari bohong. Padahal sesungguhnya gadis itu sedang berusaha menenangkan dirinya yang di landa kegugupan. Kris hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.

“Ini sudah malam, kau tidak mau pulang?” Tanya Tari mencari bahan pembicaraan.

Waeyo? Kau tidak suka aku ada disini?” Kris balik bertanya.

“Ish kau itu. Aku tanya kau malah balik bertanya. Bukan seperti itu maksudku, kau baru saja datang dari China dan langsung pergi latihan tanpa istirahat terlebih dulu. Memang kau tidak lelah? Kau tidak mau istirahat?” Kata Tari. Namun ucapannya itu malah mengundang senyuman nakal dari Kris, ide jahil melintas begitu saja dalam otaknya.

“Eiiiyy… kau mengkhawatirkanku ya?”

Mwo? Percaya diri sekali kau.”

“Sudahlah, mengaku saja jika kau memang mengkhawatirkanku.” Senyuman jahil masih tercetak jelas di wajahnya.

“Dengar ya Tuan Wu Yi Fan yang terhormat, masih banyak hal yang jauh lebih penting yang harus aku lakukan di banding mengkhawatirkanmu.” Dalam hati dia mengutuki dirinya sendiri. Harusnya tadi dia tidak usah mengatakan hal semacam itu, beginilah jadinya. Dengan senang hati Kris akan menggodanya habis-habisan.

“Maksudmu, mengkhawatirkanku adalah hal yang tidak penting begitu? Hei kau dengar baik-baik nona Indonesia, banyak wanita di luar sana yang lebih cantik dan seksi daripadamu mencari-cari perhatianku.” Kata Kris bangga.

“Lalu, apa urusannya denganku? Jika memang kau tertarik, dekatilah mereka.” Kris kesal sendiri mendengar ucapan Tari.

“Kau benar-benar menyebalkan.” Pria itu berbalik membelakangi Tari, kembali pada games di ponselnya. Di belakangnya, Tari hanya bisa memutar bola matanya. Lucu sekali. Pikirnya. Kenapa dia bersikap seolah-olah dia bukanlah pria yang menyebalkan.

“Sudahlah, lebih baik kau pulang saja. Aku ngantuk, ingin istirahat.” Kata Tari akhirnya.

Shireo. Aku masih ingin disini.”

“Kau itu keras kepala sekali. Ini sudah malam, waktu berkunjung untuk tamu sudah habis. Jadi kau pulanglah.”

“Jika ku bilang tidak, ya tidak. Lagi pula aku ini bukan tamumu. Jika kau ingin tidur, tidur saja. Kau tenang saja, aku tidak akan mengganggu tidurmu.” Kris masih santai bermain game pada ponselnya. Tidak ada gerak-gerik yang memperlihatkan dia akan beranjak dari duduknya.

“Terserah kau sajalah.” Tari akhirnya pasrah. Menghadapi Kris terkadang memang butuh kesabaran ekstra. Andai saja para yeoja itu tahu, bahwa seorang EXO Kris yang selalu mereka gila-gilai itu tidak seperfect yang mereka pikir. Dia selalu bersikap cool hanya di depan para fans-nya. Memikirkan hal itu, lagi-lagi membuat Tari merutuki dirinya sendiri. Dari sekian yeojadeul yang menggilainya, dialah salah satunya. Memang tidak bisa di pungkiri, Tari telah jatuh kedalam pesona seorang Kris. Beruntungnya, Kris tidak mengetahui hal itu.

“Tari-ya,” Panggilan Kris membuat Tari yang masih sibuk memakan apelnya itu menoleh.

“Hm?”

Tari yang baru saja menggigit potongan apelnya seketika terhenti karena mendapati wajah Kris yang kini sudah ada di hadapannya. Wajahnya begitu dekat dengan wajah Kris, bahkan hembusan nafasnya dapat Tari rasakan pada permukaan kulit wajahnya. Entah hanya perasaannya saja atau Kris memang benar-benar semakin mendekatkan wajahnya, memperpendek jarak di antara mereka. Tidak ada percakapan apapun, hanya mata mereka yang saling bertemu. Saling tenggelam akan bola mata yang sama-sama meneduhkan. Tari yang belum bisa mengartikan keadaan yang sedang terjadi itu hanya mampu diam, tidak mampu bergerak sedikit pun. Tatapan Kris benar-benar menenggelamkannya. Otaknya menyuruh tubuhnya untuk bergerak menjauh, namun tubuhnya berkata lain. Kris semakin menghilangkan jarak di antara keduanya, hingga akhirnya Kris menggigit ujung apel yang belum sempat Tari masukan semua ke dalam mulutnya. Mata mereka tak berkedip sedikit pun, saling menatap dan…hanya menatap. Kris menggigit apel itu semakin dalam, berniat menghabiskannya. Membuat kedua ujung hidung mereka bersentuhan. Kris berhenti di situ. Mempertahankan posisinya. Tepat saat Kris akan kembali bergerak dan menghilangkan jarak antara keduanya. Tari menggigit apel itu dan memutusnya. Dengan cepat dia segera bergeser menjauh. Membuang wajahnya, menyembunyikan rona merah yang tercetak jelas di wajah putihnya dari penglihatan Kris. Tanpa Tari sadari Kris tersenyum kecil sebelum akhirnya dia kembali duduk pada posisi awal.

“Aku haus, kau mau minum?” Tanya Tari tanpa memandang Kris.

“Hm, boleh.” Kris mengangguk, masih dengan ketenangannya. Segera saja Tari pergi dari sana, menghilangkan dirinya dari hadapan Kris. Gadis itu, kentara sekali jika dia salah tingkah. Dan lagi-lagi itu membuat kedua sudut bibir milik Kris tertarik.

Tidak lama kemudian Tari pun kembali membawa gelas penuh berisi air, di sodorkannya gelas tersebut kehadapan Kris.

“Aku tidak perlu meminumkannya untukmu juga kan?” Kris terkekeh sebelum akhirnya menjawab seraya mengambil gelas tersebut dari tangan Tari.

“Tidak perlu. Aku bisa minum sendiri.”

“Hanya mengambil minum saja kenapa lama sekali?” Tanya Kris saat Tari sudah kembali duduk di sebelahnya.

Geuraeyo? Sepertinya aku tadi tidak melakukan apapun, hanya perasaanmu saja mungkin.” Kris pun hanya mengangguk, tidak berniat melanjutkannya. Tanpa sepengetahuannya gadis itu masih sibuk untuk menenangkan detak jantungnya.

“Jika kau lelah, tidurlah.” Kata Kris kemudian.

“Hm, sebentar lagi. Aku masih ingin menonton.” Tari menyandarkan kepalanya pada bahu sofa. Alasan sebenarnya adalah dia masih ingin berlama-lama bersama Kris. Saat besok tiba, namja di sampingnya ini pasti akan kembali pada dunianya. Sibuk dan tak ada waktu, jangankan bertemu, melihatnya saja mungkin dalam seminggu hanya sekali. Tari yang bukan siapa-siapanya, tidak ada hak untuk meminta pria itu meluangkan waktunya. Hanya bermodalkan kata teman yang bisa gadis itu gunakan untuk sesekali menghubunginya. Tentu saja dengan bermacam alasan yang dia katakan jika pria itu bertanya ada apa, atau kenapa, setiap kali Tari menghubunginya. Hanya satu alasan yang tidak pernah dia katakan, alasan yang sebenarnya. Gadis itu hanya ingin mendengar suaranya. Dia merindukannya. Merindukan namja yang sudah merebut hatinya pada saat pertemuan mereka pertama kali.

“Tari-ya,” Panggil Kris.

“Hm…”

“Kenapa kau tidak ikut Hyejin ke Gwangju? Liburan sendirian memangnya enak?” Kini fokusnya sudah tidak lagi pada game-nya, melainkan pada layar televisi di depannya.

“Aku tidak mau terus-terusan merepotkan Hyejin dan keluarganya. Saat libur semester kemarin aku sudah berlibur kesana selama dua minggu, jadi liburan akhir tahun ini biar saja aku tetap di sini. Lagi pula pekerjaanku sebagai barista tidak libur.”

“Memang bos di tempatmu bekerja tidak memberikan libur?” Tanya Kris lagi.

“Dia memberiku libur seminggu. Hanya saja, aku yang tidak ingin mengambilnya.”

“Kau itu, jika waktunya libur kenapa tidak libur? Malah tetap bekerja. Harimu sudah penuh kau isi dengan jadwal kuliah yang begitu padat, sore hingga malam kau pakai untuk bekerja. Weekend pun kau tetap bekerja, sekarang di saat libur kau juga bekerja. Michindae. Badanmu itu terbuat dari apa memangnya?” Kris geleng-geleng kepala akan kelakuan Tari. Menurutnya, gadis itu benar-benar tidak waras.

“Terimakasih untuk perhatianmu. Tapi hanya dengan cara ini aku bisa bertahan, kau tahu, aku bukan berasal dari keluarga kaya yang orang tuanya bisa mengirimkan uang setiap bulannya dengan jumlah banyak. Ayahku hanya seorang pegawai biasa yang harus menghidupi lima kepala sekaligus. Adik-adikku masih banyak membutuhkan biaya. Sebagai anak pertama aku justru berkewajiban membantu, setidaknya meringankan beban mereka. Dan inilah caraku, aku berusaha untuk menghidupi diriku sendiri di Negara ini dengan bekerja apapun selama itu bukan pekerjaan yang salah. Bahkan kau tahu dengan jelas, aku bisa sekolah di sini karena beasiswa yang ku dapat.” Masih bisa Kris lihat senyum yang terlukis di wajah Tari. Tidak ada kesedihan atau perasaan luka di wajahnya. Justru rasa bangga dan ketegaranlah yang Kris lihat. Dan itu sedikit membuatnya merasa bersalah.

Mianhae. Bukan maksud ku untuk-“

Arra! Kau hanya mengkhawatirkan ku, eoh?” Sela Tari. Membuat Kris menarik kedua sudut bibirnya. “Kemarilah.” Ucapnya. Biarpun tidak mengerti dengan ucapan Kris, gadis itu tetap menurutinya. Dia menggeser duduknya untuk mendekat ke arah Kris, sesuai permintaan pria itu tadi.

Tidak ada ucapan apapun yang Kris keluarkan. Dia hanya menarik gadis itu semakin mendekatinya. Menempatkan kepalanya pada bahunya. Merangkulnya. Memberikan rasa hangat pada Tari. Rasa hangat yang begitu membuatnya nyaman. “Tidurlah. Kau pasti lelah.” Hanya itu yang keluar dari mulut Kris. Setelahnya. Dia kembali menutup mulutnya. Membelai rambut Tari sesekali. Mencoba memberikan kenyamanan untuk gadis itu. Dan Kris memang membuatnya nyaman. Tari tersenyum di sela-sela belaian lembut milik Kris pada rambutnya.

“Tapi aku belum mengantuk.”

“Kalau begitu aku akan membuatmu mengantuk.” Tari terkekeh kecil dalam rangkulan Kris.

“Memang kau bisa?”

“Tentu saja.”

“Bagaimana jika aku belum mau tidur?” Kini giliran Kris yang terkekeh di buatnya.

“Kenapa kau keras kepala sekali, eoh?”

“Kau lebih keras kepala dari ku.” Kris menundukan kepalanya. Menatap Tari.

“Jadi kau masih bersikeras menginginkan ku pulang?”

“Tidak. Tetaplah di sini.” Ada rasa membuancah dalam dadanya. Seolah itu adalah kata-kata yang sejak tadi di tunggunya. Kata-kata yang ingin di dengarnya. Yang akan menjadi harapannya. Membuat senyumnya kembali terlukis.

“Kau merindukanku, hm?”

“Tidak.”

“Kau merindukanku.” Kali ini bukan lagi pertanyaan. Melainkan pernyataan.

“Tidak.” Dan lagi-lagi dengan tegas jawaban itu keluar dari mulut Tari.

“Kau merindukanku, Tari-ah.”

“Aku tidak merindukanmu, Oppa.

“Oh, terimakasih.”

“Hey, aku mengatakan tidak.” Tari melepas rangkulan Kris dan menatap pria itu dengan kerutan di keningnya.

“Aku anggap itu sebagai, Ya.”

“Kau gila.”

“Aku tidak peduli.” Kris kembali menarik Tari untuk bersandar di bahunya. Dan menempatkan kembali tangannya pada bahu gadis itu. Melingkarinya dengan sedikit posesif. Keduanya terdiam. Tapi tidak lama kemudian mereka tertawa bersamaan. Saling menertawai kebodohan masing-masing. Dan saat tawa itu mereda, mereka kembali terdiam. Seperti memikirkan sesuatu, yang entah apa hanya mereka masing-masing yang tahu.

“Tari-ah.” Masih dalam rangkulan Kris. Tari menjawab dengan gumaman.

“Kau menginginkan pria yang seperti apa untuk menjadi kekasihmu?”

“Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?”

“Hanya jawab saja.” Tidap perlu untuk berfikir untuk Tari menjawabnya sebenarnya. Hanya satu kata. Kau. Dan itu sudah menjawab semuanya. Tapi dia lebih memilih jawaban lain.

“Seorang pria yang baik dan menyayangiku. Seperti itu sudah cukup untukku.” Sebuah jawaban yang tidak begitu buruk untuk Kris. Dan itu membuatnya yakin untuk berbuat sesuatu. Karena jauh sebelum kedekatan mereka menjadi sahabat, Kris yakin akan perasaan yang di milikinya.

“Tari-ah.”

“Hm.” Lagi-lagi gadis itu hanya bergumam saat Kris memanggilnya. Namun kali ini gumamannya lebih pelan.

“Aku…aku me-“ Belum sempat Kris menyelesaikan kalimatnya, bahunya terasa lebih berat. Membuatnya menoleh dan mendengus pelan mendapati Tari sudah tertidur.

“Bukankah tadi dia mengatakan belum ingin tidur. Sekarang, dia tertidur di saat aku belum selesai bicara. Aissh jjinja. Bahkan kau belum mendengar apa yang ingin aku katakan.” Bisik Kris pelan.

Di sapukannya jemarinya pada wajah Tari. Ibu jarinya menelusuri bibir bawah gadis itu. Mendapati wajah polos Tari yang sedang tidur begitu dekat dengan wajahnya, membuatnya ingin mencuri sesuatu dari gadis itu. Tapi di urungkan niatnya tersebut, dia tidak mau melakukannya secara diam-diam. Di angkatnya tubuh Tari dan di pindahkan ke kamarnya. Saat Kris baru saja hendak beranjak untuk meninggalkan kamar tersebut, dia melihat sebuah bingkai kecil di meja samping tempat tidur Tari, bingkai yang menampakan foto seorang gadis yang sedang tersenyum dengan riang. Di ambilnya bingkai tersebut agar bisa memandangnya lebih jelas.

“Kau memang selalu terlihat cantik.” Gumam Kris pada foto di depannya.

Saat Kris ingin menaruh kembali bingkai itu pada tempatnya, dia seperti melihat sesuatu yang menyembul sedikit keluar dari belakang foto Tari. Seperti sebuah kertas tapi sedikit lebih tebal. Penasaran, dia coba keluarkan yang ternyata sebuah foto. Dan betapa kagetnya Kris melihat foto yang kini ada di genggamannya. Di pandanginya foto tersebut bergantian dengan wajah Tari yang masih pulas di sampingnya.

“Bagaimana Mungkin?”

TBC

Iklan

Penulis:

Tidak bisa Online seharian karena hidup di dunia pesantren. harap maklum

3 tanggapan untuk “I Love You part 1 [freelance]

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s