Immortal Love [freelance]

536252_314418015367820_593321188_n

Title : Immortal Love

Scriptwriter : NayaKim

Cast : You, Zhang Yi Xing (EXO-M)

Support Cast : Kim Jong In (EXO-K)

Length : Ficlet

Genre : Sad, Hurt/Comfort, Angst!

A/N :

This is my first Angst! Hope it will be fine.

Summary :

Bagaimana perasaanmu terhadap orang yang kau sukai?

Bagaimana perasaanmu ketika kau belum mengungkapkan perasaanmu, tiba-tiba saja dia sudah meninggalkanmu selamanya?

***

Aku selalu menatap wajahnya dan mencuri-curi pandang ke arahnya ketika ia sedang berlatih dance bersama temannya. Gerakannya yang sangat indah membuatku menyukainya dan berdecak kagum. Mungkin gerakannya tidak lebih hebat dari Jong In –sahabatnya, tapi menurutku, dia adalah yang paling hebat diantara semuanya. Senyumku mengembang ketika alunan musik mulai terdengar. Ia berada di barisan depan, di samping kanan Jong In. Kemudian, ia memulai aksinya. Menggerakkan tubuhnya kesana kemari, meliuk-liukkan tubuhnya, melompat, berlari, hingga adegan scorpion dance milik boygroup Infinite.

Tak lebih dari sepuluh menit ia menari. Bisa kulihat ia kelelahan, berjalan perlahan menuju ke sudut ruangan dan duduk menyandarkan punggungnya ke dinding kaca. Napasnya terengah, dada dan pundaknya pun naik turun mengikuti tempo pernapasannya. Ia mengelap keringat yang mengucur di pelipisnya dengan punggung tangannya. Dalam situasi seperti ini, otakku baru saja memunculkan satu kata. Keren.

Aku berjalan perlahan menghampiri tempat dimana ia berada sambil membawa sebotol air mineral di tangan kanan dan menyembunyikannya di balik tubuh kecilku. Detak jantungku mulai berdetak tak karuan ketika kami sudah berjarak 1 meter darinya. Ia mendongak menatapku, bingung. Aku pun menyunggingkan senyum canggungku, menyodorkan botol yang sedari tadi kugenggam.

“Sepertinya, kau butuh ini.”

Dia tak menjawab, hanya menatapku kemudian beralih ke botol tersebut secara bergantian. Mungkin ia bimbang, mengambilnya atau tidak. Ia tak merespon cukup lama. Dan akhirnya, kuletakkan botol tersebut di sampingnya dan berharap ia akan meminumnya.

“Tenang. Aku tidak memberi racun ke dalam minuman itu. Aku membelikannya untukmu, karena kulihat kau tak membawa minum.” Jelasku. Aku pun segera meninggalkannya dengan botol tadi. Baru beberapa langkah, suara seseorang terdengar jelas di telingaku.

“Terima kasih.”

Aku tahu suara itu. Ku putar kepalaku kebelakang dan tersenyum manis. Kemudian menghadap ke depan seperti semula. Aku melanjutkan langkahku yang sempat terhenti dan berjalan keluar ruangan tersebut dengan sebuah perasaan yang tak dapat kugambarkan.

Lalu, kejadian ini pun terjadi.

Laki-laki itu, laki-laki yang beberapa hari ini kukagumi, laki-laki yang beberapa hari ini memenuhi memori otakku, laki-laki yang selalu terbayang di kepalaku, laki-laki yang hingga saat ini memenuhi otakku, sekarang sedang berjuang melawan takdirnya.

***

Bel berbunyi keras ke seluruh penjuru ruangan di sekolah ini. Menandakan pelajaran telah usai. Aku melangkahkan kaki keluar kelas dan melihat ke arah pintu kelasnya, berharap ia belum keluar dari sana agar aku bisa melihatnya sebelum aku pulang dan.. BINGO! Ia keluar dari kelas itu bersama teman-temannya. Tak mau ketinggalan, aku berjalan di belakang mereka dengan jarak yang terpaut 7 meter agar tak dikira seorang stalker. Dan kebetulan, mereka juga berjalan ke arah yang sama denganku, halte bus, yang tempatnya tak jauh dari sekolah.

Ia terlihat sangat bebas ketika bersama temannya. Bagai tersengat listrik, senyum dan tawanya yang cerah itu membuatku juga ikut mengulum senyum.

Langkah mereka terhenti ketika sampai di penyebrangan. Aku pun juga menghentikan langkahku, tapi dengan jarak beberapa orang yang berjajar di antara kami. Lampu penyebrangan masih berwarna merah, menunjukkan penyebrang harus berhenti dan menunggu lampu berwarna hijau kembali.

Kendaraan mulai berlalu lalang dihadapanku dengan jumlah yang tidak sedikit. Mungkin karena ini saatnya jam makan siang, para pekerja kantoran sedang mencari makan diluar kantor.

Pandanganku teralihkan ketika salah satu dari penyebrang lainnya terdorong hingga ke tengah jalan raya. Sebuah truk besar dengan kecepatan di atas rata-rata melaju ke arahnya dan menghantam tubuhnya.

Tubuhnya yang lemah tergeletak di tengah jalan –dengan posisi membelakangiku. Semua orang segera menghampiri orang tersebut dengan raut wajah bertanya-tanya seperti, ‘apa dia baik-baik saja?’ ‘apa dia meninggal?’ ‘apakah dia selamat?’. Aku berdo’a dalam hati agar orang yang mengalami insiden ini bukanlah orang yang kusukai.

Aku pun berlari kecil untuk melihatnya. Dengan tanda tanya tanya besar di otakku dan penasaran yang sangat tinggi, kuterobos kerumunan orang dan… mataku membulat mendapati laki-laki yang kusukai itu terbaring lemah tak berdaya. Aku membekap mulutku, menahan tangis agar tidak pecah. Tapi, usaha ini sia-sia. Sebuah sungai kecil sudah terbentuk di ke dua ujung mataku.

***

Kini, dress berwarna hitam sudah melekat rapi di tubuhku sambil membawa setangkai mawar putih. Tempat ini begitu sunyi dan tenang, yang terdengar hanyalah suara isak tangis. Ya, sekarang aku berada di acara pemakamannya. Ia meninggal di tengah perjalanan menuju rumah sakit karena kehabisan banyak darah. Supir truk tersebut berusaha bertanggung jawab, namun ke dua orangtuanya menolak pertanggung jawaban sang supir. Mereka mengatakan bahwa mungkin ini adalah takdir anak sematawayangnya.

Aku menatap dengan pandangan kosong ke arah makamnya dan langsung tersadar ketika seseorang berbicara di sampingku.

“Aku benar-benar menyesal sekarang. Padahal waktu itu kami hanya bercanda padanya. Secara tak sengaja aku mendorongnya terlalu keras. Aku sangat, sangat menyesal telah berbuat seperti itu. Maafkan aku…”

Jong In menyesali perbuatannya. Aku mendekat ke arahnya dan menepuk punggungnya perlahan. Airmata penyesalan telah keluar dari ke dua sudut matanya. Ia terus mengeluarkan kata ‘menyesal’ dan ‘minta maaf’. Secara tak sadar, airmata yang sedari tadi kutahan, kini keluar dengan derasnya. Segera kuhapus airmataku dan berjalan ke arah makam laki-laki tersebut.

Kuletakkan bunga mawar putih yang ku genggam di atas tanah kecoklatan yang menutupi peti dirinya. Kenangan akan tentangnya mulai berputar jelas di otakku, seakan-akan sebuah rol film dokumenter.

Tangisku kembali pecah. Ku usap batu nisan yang terukir jelas namanya dengan lembut, membayangkan bahwa aku sedang membelai kepalanya yang kini tak akan bisa ku sentuh. Aku tersenyum, mengikhlaskan kepergiannya yang mendadak dan tak akan pernah kembali lagi. Kemudian, aku beranjak dari tempatku dan kembali menuju ke tempatku semula.

Kulihat Jong In masih  menangis menyesali perbuatannya. Aku pun berjalan ke arah Jong In, kemudian kurengkuh tubuh jangkungnya.

“Sudahlah…jangan menangis lagi. Mungkin ini adalah takdirnya.” Ucapku lembut tepat di telinganya dan mencoba menenangkannya. Ia membalas pelukanku erat, menumpahkan segala penyesalannya di bahuku. Aku menepuk-nepuk punggungnya lembut agar ia kembali tenang.

Sekarang kau tidak lagi nyata. Hanya meninggalkan nama dan memori. Kini, aku tak bisa melihatmu berlatih dance, tak bisa melihat senyummu, tak bisa melihat tawamu yang selalu manghangatkan hatiku.

Maaf, karena aku tak sempat mengungkapkan perasaanku padamu. Dan aku tahu ini sudah terlambat. Walaupun kini tubuhmu sudah tak lagi terlihat, perasaan suka dan sayang ini tetap mengalir untukmu.

Tuhan, aku berdo’a padamu. Lindungi dia dan bahagiakanlah dia di sana, di sisiMu. Jangan biarkan ia bersedih. Tolong sampaikanlah satu pesanku ini padanya bahwa aku masih menyayanginya dan aku akan mengingatnya dalam suka maupun dukaku.

***

Terima kasih karena kau telah hadir dalam kehidupanku.

Terima kasih karena kau telah membuat seberkas kenangan dalam memoriku.

Terima kasih karena kau telah memenuhi relung hatiku.

Terima kasih karena kau telah membuatku selalu memikirkanmu.

Terima kasih karena kau telah membuat mimpi indah tentang dirimu dikala aku terlelap.

Dan terima kasih atas segalanya.

.

.

.

You are still on my mind and can not change with anyone else. You are always to be number one in my heart and I will make you often smile, never sadly. Sorry, because you are to know my feels just now. And sorry, because I do not know what your feels to me. But, I will still  love you…

Zhang Yi Xing.

 

The end.

5 thoughts on “Immortal Love [freelance]

  1. Haaah, sakitnya tuh disini❤
    Sumpah ini ff bagus bangey. Ceritanya simpel tapi ngena bangt di hati.
    Duh, Lay kasian banget sih nasib kamu nak..
    Good story author! ^^

  2. 대박……ㅇㅅㅇ
    Keren. Aku terharu baca ff ini. Ceritanya bagus.
    Sebenarnya aku lagi cari ff yang cast utamanya selain sehun baekhyun kai dan luhan. Soalnya bosen ufah kebanyakan yang castnya orang itu. Pas aku ngeliat cover ff ini adalah bias ketigaku yaitu bang Lay. Aku langsung tertarik dan ini bagus sekali.

  3. Huuuuuaaaaaa T_T
    Aku sakit perut bacanya (?)*hah
    Tapi serius ini bneran sakit >.< hihi !
    Tapi ini keren, feelnya dapet aku suka
    Entahlah, mugkin karena aku baru aja mengalami hal yg sama beberapa minggu yg lalu
    Terlebih pov nya ini aku, Tuhaaaaaaaaaan menyayat banget*okeinilebay
    Terimakasih author sudah mau membagi karya ini kpada pembaca*bow
    Love yaaaa❤

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s