Perfect Breakfast part 2 [freelance]

perfect-breakfast

Title : Perfect Breakfast

Author : AngevilBoo

Main Cast :

Oh Se Hoon (EXO)
Kim HyunRa (OC)

Other Cast : You’ll find them~

Length : Twoshoot

Genre : Romance, Family, Marriage Life

Rating : PG17+ or Mature

Disclaimer : I dont own anything beside Story and OC. This is pure My Imagination. If there are similarities, it’s not intentional and I apologize. The other cast belongs to God and their parents. Thank You^^

Author’s Note : Ini FF Twoshoot pertama saya, dan merupakan Sequel dari FF ‘My Pervert Devil’. Ini menceritakan kehidupan HunRa sesudah menikah, ato setelah mereka hidup bahagia.

Poster Credit : Yessy Mandzukic Art^^

Personal WP : http://kyohaerinhoonra.wordpress.com

                                                                      —*–*—                    

Sehun menggerutu tak jelas diatas tempat tidur. Pria itu terus menghela nafasnya menahan kesal. Ia terus memperhatikan pintu berdaun dua berwarna hitam itu. Menunggu benda itu terbuka dan menampilkan objek yang tengah dinantinya.  Hari sudah menunjukkan pukul 11 malam lewat. Dan Hyunra tak kunjung menampakkan batang hidungnya sejak tadi. Gadis itu menghilang dari pandangan Sehun sejak sejam yang lalu. 

Hancur sudah malam impiannya.

Padahal Sehun sudah menyusun berbagai rencana dan strategi malam ini. Tapi kini? Menyebalkan. Lagipula Hyunra juga sudah berjanji.

Saat-saat berduanya dengan sang Istri, itu bukanlah hal yang mudah untuk ia dapatkan akhir-akhir ini. Semenjak Sehun sudah memegang Perusahaan Ayahnya dan menyandang status tertinggi disana, ia jarang pulang cepat. Pria itu lebih banyak menghabiskan waktunya dengan komputer dan berkas-berkas sialan itu dibandingkan Keluarganya.

Dan tadi itu adalah hal langka. Sehun begitu merindukan Istrinya. Sentuhannya. Tubuhnya. Semuanya. Tapi kini ia juga tak dapat menyangkal bahwa sekarang ada sosok yang lebih penting dan diperhatikan oleh Hyunra. Anaknya.

Huh, Kenapa Yazid harus menangis disaat seperti ini?

Itu membuatnya harus menunda hasratnya pada Istrinya. Benar-benar menyebalkan. Sehun tidak suka menunggu. Hyunra pergi meninggalkannya untuk menidurkan Yazid terlebih dahulu. Kenapa Yazid sulit sekali untuk tidur malam ini. Dan kenapa juga harus malam ini?

Pria itu terus menatap pintu kamarnya itu, menunggu Istrinya muncul dari sana. Tapi sudah hampir 2 jam, gadis itu tak kunjung terlihat. Ini membuatnya kesal, tapi tak mungkin ia memarahi Yazid karena hal ini.

Ayah mana yang marah kepada anaknya sendiri karena memonopoli Ibunya? Ini terdengar aneh, tapi Sehun cemburu pada anaknya sendiri.

Yazid itu laki-laki, meskipun masih bayi. Dan sekarang Sehun melupakan kenyataan bahwa Yazid adalah anaknya, hanya karena hasratnya. Dasar Ayah yang aneh.

Rasa kantuk mulai menghampirinya. Sehun terus berusaha menahannya, ia masih berusaha setia menunggu Istrinya datang, dan menagih janjinya. Seakan tak ingin malam ini terlewat. Tapi rasa kantuk benar-benar menggodanya.

Kini tempat tidur besarnya terasa bagaikan kapas yang begitu halus. Nyaman. Udara di ruangan ini seakan mendukung, menyapu pipi Pria itu. Ini sungguh cobaan yang sangat berat.

Sehun merutuki dirinya yang tidak tahan dengan rasa kantuknya. Matanya terasa begitu berat, hingga saat-saat kedipan terakhir, bibir Pria itu mengucapkan sesuatu sebagai akhir dari kesadarannya. Sebagai tanda terlelapnya ia.

“Akan kutagih besok pagi!”

***

Pukul 12.45

Hyunra tersenyum dan bernafas lega setelah akhirnya berhasil menidurkan Yazid. Mata bulat gadis itu kini hanya terbuka setengahnya. Sudah lebih dari 2 jam ia bertarung melawan kantuknya, dan berusaha keras menenangkan dan menidurkan bayinya itu. Untunglah kini perjuangannya tak sia-sia.

Tubuh kurus gadis itu menggigil. Ia pun melirik tubuhnya yang kini terbalut gaun tidur berwarna baby pink selutut. Hyunra mengernyit sejenak, mengingat kenapa ia dengan maunya mengenakan pakaian tidur seperti ini. Jika bukan karena paksaan Sehun, dia juga pasti tidak mau. Tapi gadis itu dengan polosnya setuju, dan sekarang inilah hasilnya. Pakaian ini tak dapat melindungi tubuhnya dari dinginnya malam.

Hyunra pun mulai berjalan keluar dari kamar Yazid setelah sebelumnya mengecup kening bayi mungil itu. Ia berjalan sambil terus menguap dan mengucek matanya. Hingga saat sampai, ia terdiam melihat Sehun yang kini tengah terlelap dengan posisi miring menghadap kearahnya berdiri sekarang.

Gadis itu berjalan mendekati suaminya itu. Rasanya sudah lama sekali dia tidak melihat rupa tampan miliknya. Wajah Sehun saat tertidur berbeda jauh dengan wajah sehari-harinya. Kini ia terlihat lugu dan juga tampan. Bukannya dingin dan menakutkan.

Hyunra terus tersenyum melihatnya, hingga gadis itu berbisik pelan ditelinga suaminya itu. Suara lembut dan halus,

“Mimpi Indah, Sehun-ku!”

***

Sehun terbangun saat merasa matanya seperti ditusuk tajam oleh sinar remang-remang dari arah jendela. Pria itu menggeliat pelan. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada sesuatu yang sedari tadi didekapnya. Lembut. Sehun tak pernah tahu jika gulingnya bisa sehalus ini, tetapi juga terasa begitu rapuh.

Sehun pun mulai membuka matanya, dan mendapati sebuah punggung kecil dihadapannya. Ia terdiam sejenak, sebelum kembali tersenyum. Pria itu semakin menarik tubuh yang tengah membelakanginya itu kedekapannya, hingga kini tak ada jarak lagi diantara mereka.

Sehun menenggelamkan wajahnya pada rambut sehalus sutra milik gadis itu. Wangi tubuh gadis itu pekat sekali saat pagi hari seperti ini.

Gejolak pria itu bangkit tiba-tiba. Ia ingat akan sesuatu yang begitu ia dambakan sejak kemarin. Lengan kekar Sehun yang kini melingkar sempurna dipinggang kecil milik Hyunra.

Pria itu berpikir sejenak. Tubuh gadis itu terasa semakin ringan saja, dan pinggangnya juga semakin tipis dan kecil untuk ukuran lengan pria itu. Apa dia tidak makan selama aku tidak ada?

Tubuh istrinya itu terlihat lebih mungil dan kurus dari biasanya. Ia pasti kehilangan cukup banyak berat badan. Dan kini itu cukup mengkhawatirkan Sehun. Ia bisa terbang dibawa angin dengan tubuh sekurus ini.

Pria itupun berusaha untuk tak menghiraukan hal itu lagi. Ia kembali fokus pada hasratnya kini. Tangan Sehun yang berada diperut rata gadis itu, bergerak mengelus benda lembut itu dari luar. Pria itupun teringat bahwa Hyunra masih mengenakan gaun tidur yang ia suruh tadi malam. Seringaian tampannya pun keluar. Dia memang Istri yang patuh.

Perlahan tangan Sehun bergerak jahil dengan menelusup masuk kedalam gaun tidur milik Hyunra. Sementara gadis itu masih tenang dalam tidurnya. Kini ia mengelus perut gadis itu secara langsung tanpa perantara. Lembut sekali.

Hyunra pun yang sedikit terganggu menggeliat pelan, tapi itu tak menghentikan Sehun. Ia tetap mengelus dan merayapkan tangannya kesana kemari.

“Hmmm…..”

Sehun dengan perlahan membalikkan tubuh mungil Istrinya itu menghadap kearahnya. Hingga kini ia dapat melihat wajah polos bagai boneka milik Hyunra. Sehun tersenyum miring, ia semakin menarik Hyunra kedalam pelukannya.

Pria itu memberikan kecupan-kecupan singkat di setiap inci wajah pucat istrinya itu. Kening, mata, hidung, dan pipi. Lalu turun pada bibir mungil miliknya. Belum puas, bibir Sehun pun semakin turun kebawah. Hingga kini berada di leher jenjang milik Hyunra.

Pria itu menyeringai kecil ketika melihat tanda yang ia buat tadi malam masih berbekas. Bibirnya pun mengambil alih. Mengecup dan menciumnya lembut. Selagi tangan pria itu mengelus lembut pinggang milik istrinya itu.

Hyunra yang tak tahan pun, semakin menggeliat dan tanpa sadar mendesah. Itu membuat hasrat Sehun semakin menjadi. Satu tangan Pria itu kembali bergerak menelusup kedalam gaun gadis itu, selagi yang lainnya memeluk pinggang milik Hyunra untuk menahannya.

“Sakitt~ Akhh…..”

Hyunra yang semakin tidak kuatpun mulai membuka matanya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Hingga tersadar saat merasakan rasa perih di lehernya. Seperti digigit. Juga elusan lembut di perut dan punggungnya. Ia pun membelalakkan matanya. Satu tangan gadis itu bergerak mendorong dada Sehun.

“Se-Sehun… Hentikan!”

Gadis itu memejamkan matanya, tubuhnya semakin menggeliat. Sehun terus menahan tubuh gadis itu dengan memeluk pinggangnya erat. Sementara bibirnya yang terus bergerak turun dileher gadis itu yang kini dipenuhi bercak-bercak kemerahan.

“Sehun, Hentikan. Sakitt..” rengek Hyunra padanya. Tangan mungil gadis itu terus memukul pelan dan mendorong tubuh suaminya itu menjauh.

Dengan tiba-tiba, Sehun membalikkan tubuh mereka, hingga kini posisi pria itu menindih tubuh mungil Istrinya. Hyunra terkejut, bibirnya ia gerakan untuk mengeluarkan protes tapi justru suara nista itu yang keluar. Ciuman Sehun kini mulai memperluas daerah jajahannya. Ia bergerak turun ke dada gadis itu.

Hyunra pun panik. Tubuh gadis itupun bergetar ketakutan, tangannya semakin meronta memukul dada pria itu hingga Sehun pun menangkap dan menahannya. Pria itu beralih ke telinganya untuk berbisik pelan, “Tenang, Sayang~”

“Kau diam saja, oke?”

Pria itupun kembali melanjutkan pekerjaannya. Tangan kiri pria itu menahan tangan Hyunra, sedangkan yang satu lagi bergerak halus dari punggung hingga perut gadis itu. Dan kini turun ke paha miliknya.

Tubuh gadis itu menggigil sekarang. Ayolah, siapa yang tidak panik mendapat serangan mendadak seperti ini?

“Sehun.. Ja-jangan!” ujar gadis itu gelagapan. Ia benar-benar tidak siap sekarang. Tapi Sehun mana mau tahu akan hal itu. Ia sudah dibutakan oleh nafsunya sendiri. Memang hampir selalu.

Hyunra berdoa dalam hati, ia takut. Ia tahu ini salah, Sehun berhak melakukannya. Ini memang kewajibannya, tapi melihat Sehun yang tengah menyerangnya seperti orang mabuk begini menakutinya.

Pria itu sangat sulit mengendalikan dirinya, dan terkadang terkesan kasar. Ia mengingat saat dulu dimana Sehun menyentuhnya sesuka hatinya. Itu membuatnya trauma. Dan ini memang sudah cukup lama, sejak terakhir kali suaminya itu menyentuhnya hingga seintim ini.

Hingga tiba-tiba,

“Hoekkk~~Hoekk~”

Suara keras itu menggema dan memasuki indra pendengaran kedua makhluk diatas tempat tidur itu. Refleks Sehun menghentikan kegiatannya. Suara tangisan itu masih terdengar, Hyunra dengan sigap mendorong tubuh Sehun pelan, tapi Pria itu tetap diam dan tak mau menyingkir.

“Kau mau kemana?”

Hyunra gugup, dengan perlahan ia pun menjawab, “I-Itu.. Hmm, Yazid menangis.”

“Lalu? Apa kau lupa janjimu? Aku belum selesai denganmu!”

“N-Ne, tapi aku harus menenangkannya dulu. Bolehkan?” tanya Hyunra lugu. Sehun menarik nafas gusarnya, suara tangisan itu semakin terdengar. Ayolah, kenapa seperti ini lagi?

Dengan sangat tak rela, Pria itupun menyingkir dari atas tubuh gadis itu setelah sebelumnya mencium bibir mungil milik Hyunra sedikit kasar. Mencurahkan kekesalannya.

Hyunra pun dengan segera berlalu dari Kamar itu. Dalam hati begitu bersyukur Tuhan mendengarkan doa nya. Ia dengan cepat berjalan menuju kamar Yazid.

Sehun mengacak rambutnya frustasi. Pria itu kembali membaringkan tubuhnya ditempat tidur yang kini berantakan itu. Menyebalkan. Sudahlah kemarin Makan Malamnya gagal. Dan kini Sarapan Paginya pun juga harus sama. 

Pria itu terus menggerutu kesal. Ini hari Minggu. Satu-satunya hari libur baginya. Harinya bersama keluarganya. Harinya bersama Istrinya. Dan jika sekarang gagal, maka ia harus menunggu satu minggu lagi untuk melakukannya?

Tidak. Tidak bisa.

Hari ini tidak boleh gagal. Ia harus menagih janji Istrinya itu. Ini harus diselesaikan karena ini sungguh menyiksanya. Dengan raut kesal, Pria itupun bergumam,

“Aku harus mendapatkan sarapan pagiku!”

***

Yazid terlihat aneh hari ini. Saat Hyunra datang dan segera menggendongnya, bayi mungil itu pun berhenti menangis dengan segera. Hyunra yang berpikir jika anaknya itu sudah tenang pun berniat meletakkannya kembali diatas tempat tidur, tapi belum sampai menyentuh, Yazid sudah kembali menangis keras. Dan Hyunra pun kembali menggendongnya, dan bayi itupun kembali tenang.

Gadis itu mengernyit heran, ia menatap bayi tampan berusia 7 bulan itu aneh. Sudah 2 hari ini Yazid seakan tak mau berpisah dengannya. Bukannya Hyunra tidak senang dan tidak suka. Tapi biasanya anaknya itu lebih banyak menghabiskan waktu dengan tidur selayaknya bayi-bayi yang lain. Gadis itu melirik jam sejenak, pukul 06.13. Tidakkah ini terlalu pagi untuk ukuran seorang bayi bangun tidur?

Hyunra mengelus pipi pucat milik Yazid lembut. “Ada apa denganmu pagi ini, sayang? Apa kau tidak bisa tidur?”

Yazid tetap diam menatap Ibunya itu. “Kau tidak suka tempat tidurnya ya?”

“Apa kau haus? Mau Omma buatkan susu?”

“Atau kau lapar?”

Hyunra yang melihatnya bayi nya itu hanya terus-terusan diam sambil menatapnya polos, menghela nafasnya pelan. Jujur saja, ia masih mengantuk. Tapi karena ulah Sehun, ia terbangun secara paksa. Dan ditambah lagi, Yazid yang akhir-akhir ini berbeda dari biasanya. Ia lebih banyak bermain daripada tidur, dan tentu saja Hyunra harus menemaninya.

Mengingat Hyunra yang menjaga dan merawat Yazid sendiri. Sementara Sehun bekerja. Mereka tak memiliki satupun pelayan dari sekian banyaknya pelayan di Rumah Sehun dulu.

Setelah menikah, Sehun membeli rumah baru untuk mereka, dan tanpa pelayan. Hyunra benar-benar dituntut untuk menjadi Ibu Rumah Tangga yang mandiri di usianya yang masih 19 tahun.

Sebelumnya ia sempat bertanya kepada Sehun, kenapa Pria itu tak mau memiliki pelayan, dan juga.. Kenapa ia dilarang keras untuk keluar rumah tanpa dirinya. Rumah ini terlalu besar dan mewah untuk dihuni 3 orang.

Tapi Sehun dengan anehnya marah dan memberinya tatapan tajam sambil mengingatkannya untuk tak pernah menayakan hal itu lagi. Dan sebagai balasannya, Gadis itu harus rela sulit berjalan selama seminggu karena amukkan Sehun ditempat tidur-_- Dan itu juga sebagai peringatan, hingga sampai sekarang Hyunra tak pernah berani untuk menanyakannya lagi.

Hyunra melirik Yazid yang kini menyandarkan kepalanya dibahu miliknya. Mata bayi mungil itu mulai meredup. Hyunra semakin menepuk-nepuk pelan punggung bayinya itu untuk membuatnya cepat tertidur. Hingga beberapa saatpun, nafas teratur Yazid mulai terdengar. Mata bulat bayi itu pun tertutup sempurna.

Hyunra membaringkan Yazid dengan begitu hati-hati diatas tempat tidur. Bagaikan itu kue berukuran besar yang siap terjatuh kapan saja. Hingga ia berhasil, gadis itu kembali berjalan dengan hati-hati keluar kamar.

Hyunra kenbali melirik jam. Ini masih sangat pagi untuk ukuran hari Minggu. Gadis itu masih ingin tertidur, tapi mengingat Sehun yang kini tengah berada dikamar mereka dan apa yang dilakukan Pria itu padanya tadi membuatnya takut. Ia pun berpikir dua kali, sebelum akhirnya memilih untuk beranjak ke dapur. Untunglah saat itu perutnya berbunyi, kini ia punya alasan untuk menunda masuk kamar.

Gadis cantik itupun tiba di dapur. Ia membuka lemari es besar disana untuk melihat apa bahan yang bisa ia olah menjadi makanan untuknya. Sekalian saja kubuatkan untuknya.

Hyunra menyalakan kompor dan merebus air panas. Lalu memasukkan 2 helai roti ke pemanggangan. Setelahnya ia memilih untuk membuat teh hangat pagi ini. Sebelum masuk kemasakan inti. Ia sudah mengeluarkan bahan-bahan yang ia perlukan, untunglah semuanya sudah tersedia. Gadis itu memilih untuk membuat Bulgogi untuk sarapan mereka.

Saat sibuk dengan pekerjaannya, ia tersentak dan langsung menoleh saat merasakan sesuatu melingkari pinggangnya. Sesudahnya gadis itupun tersenyum manis melihat suaminya yang kini muncul dengan wajah kusutnya. Bahkan saat berantakanpun ia terlihat begitu tampan.

“Apa yang kau lakukan?” Sehun meletakkan dagunya pada bahu kecil gadis itu, selagi Hyunra yang tetap sibuk mencuci sayuran.

“Membuat sarapan.”

Sehun menghela nafasnya, “Tidakkah ini terlalu pagi untuk melakukan hal itu, nona?”

Hyunra melirik pria dibelakangnya sejenak sebelum menjawab, “Ya. Tapi perutku lapar. Lagipula kau juga pasti laparkan?”

Sehun semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang gadis itu, lalu kemudian teringat sesuatu. “Apa kau tidak makan selama aku tidak ada, hm? Tubuhmu semakin kurus!”

Hyunra terkesiap, ia dengan segera mengelak ucapan suaminya itu, “T-Tentu saja aku makan. Dan tubuhku memang seperti ini, Sehun.”

Sehun menggeleng, “Tidak. Kau bohong, pinggangmu tidak sekecil ini beberapa minggu yang lalu.”

“Ap-Apa maksudmu? Memangnya pinggangku kenapa?”

“Ukurannya berubah.” Gadis itu pun terbelalak. Apa maksud ucapan pria ini? Bahkan sampai sekarang Hyunra tak pernah tahu berapa ukuran pinggangnya.

“U-Ukuran? Kau tidak mungkin tahu ukuran pinggangku! Aku tidak pernah mengukurnya.”

Sehun menyeringai jahil, ia dapat merasakan kegugupan dalam suara istrinya itu. Dia lucu sekali jika sedang panik.

“Tentu saja aku tahu, Sayang. Aku sangat tahu berapa ukuran tubuhmu, apalagi Pinggang. Jadi tidak usah mengelak lagi, hm!”

  1. Blush.

Hyunra pun segera menundukkan kepalanya, ini benar-benar memalukan. “Mian.”

Sehun tersenyum penuh kemenangan melihat kepolosan istrinya itu. Ia memang tidak akan pernah menang jika berhadapan dengannya. Pria itu pun beralih untuk menjahili istrinya dengan menghembuskan nafasnya dileher gadis itu. Membuatnya kegelian.

“Sehun, Gelii…”

Tidak ada respon, dan Sehun pun tak perduli. Ia tergoda untuk mengerjai istrinya itu lebih jauh.

“Se-Sehun, gelii.. Aku sedang memasak!”

“Aku tidak perduli!”

“Tapi aku lapar. Kau jugakan? Karena itu biarkan aku memasak sebentar.”

“Aku memang selalu lapar.” Suara berat Sehun terdengar, membuat gadis itu mengernyit heran.

“Kenapa? Apa kau tidak makan tadi malam?”

Masih sambil menghebuskan nafasnya dileher gadis itu, Sehun semakin mengeratkan pelukannya. Lalu menghela nafas kesal, “Makan malamku gagal!”

“M-Mwo? Wae? Kau pasti kelaparan sekarang kan? Kalau begitu tunggu sebentar ya!”

Sehun mengangguk dibahu Hyunra. Dalam hati kini ia tengah tertawa Iblis.

“Tapi.. Aku tidak lapar akan makanan.”

“Hah?”

Sehun dengan segera membalikkan tubuh Gadis itu hingga kini mereka pun berhadapan. Hyunra mendongakkan kepalanya menatap Suaminya itu heran.

“Sehun.. Kau pucat!” Tiba-tiba Hyunra beralih menggegam tangan suaminya itu yang ternyata mengeluarkan keringat dingin. Selagi Sehun yang kini tengah menatapnya tajam dengan pandangan sulit diartikan.

“Tanganmu dingin. Apa kau sakit?”

Sehun menarik pelan pinggang gadis itu, Hyunra yang masih belum menyadari tatapan buas dari Pria itu pun hanya diam dan pasrah saja.

“Apa kau mau menghangatkanku?”

Hyunra menatap Sehun bingung sejenak, sebelum tersenyum sambil mengangguk polos. “Hm, tapi bagaimana caranya? Apa aku harus membuat air hangat?” tanya gadis itu lugu, membuat Sehun menampilkan smirk nya.

“Tidak. Hanya….”

Sehun perlahan mendekatkan wajahnya kearah gadis itu, sementara Hyunra hanya terus terdiam. Hingga bibir mereka berduapun kembali bertemu. Sehun mulai melumat bibir mungil istrinya itu. Ia melakukannya dengan sangat lembut, sehingga kini tak ada perlawanan dari Hyunra. Gadis itu hanya pasrah saja. Dalam otaknya berfikir ini mungkin dapar membantu kesembuhan Sehun, yang sebenarnya tidak sedang sakit sama sekali.

Ciuman itupun mulai menuntut dan kasar, membuat Hyunra melenguh pelan. Tangannya berada pada dada bidang milik suaminya itu. Perlahan tangan Sehun memulai aksinya. Membuat gadis itupun segera terbelalak. Oh tidak. Ini tidak benar.

“Hmm…..”

Melihat gadis ini mulai melakukan penolakan terhadapnya, Sehun semakin memeluk pinggangnya erat. Saat ada celah untuk bebas, Hyunra dengan segera melepaskan ciuman mereka dan menatap Sehun kaget. Pria itu mendesis kesal karena kelengahannya. Kini matanya kembali menatap tajam istrinya itu.

“Ap-Apa yang ingin kau lakukan?”

“Menurutmu apa yang ingin aku lakukan, hm?”

Hyunra terlihat panik saat kepala Sehun masuk kecelah lehernya. Ayolah, jangan ini lagi.

“Se-Sehun. Kau sedang sakit!”

“Aku tidak sakit, tapi aku lapar!”

“Ka-Kalau begitu biarkan aku memasak untukmu. Akhh….”

“Aku sudah bilang padamu, I’m not hungry for food, Babe~

“What?”

Hidung Sehun menelusuri tulang selangkang gadis itu, “Kau wangi sekali saat bangun tidur,” ujarnya dengan nafas berat. Sementara Hyunra sudah keringat dingin sekarang.

“Huh, Mana janjimu?”

“Janji?”

“Kau berjanji padaku tadi malam.”

Hyunra mengerjapkan matanya, “Benarkah?”

“Hm. Kau berjanji memberiku hakku.”

Gadis itu terlihat berpikir, selagi Sehun yang terus menghirup aroma tubuh Hyunra yang mengoar.

You don’t remember, Babe?” Hyunra menggeleng pelan.

Then let me remind you.” Tepat saat selesai mengucapkannya, bibir Sehun memulai aksinya dileher jenjang gadis itu. Hyunra dengan refleks meremas lengan kaus hitam milik Sehun.

“No! Stop it… It hurts~”

Sehun tak perduli, tidak ada penolakan kali ini. Hyunra mulai memukul tubuh Sehun, mendorongnya menjauh.

“Diam, Hyunra!”

“Se-Sehun, apa yang kau lakukan?”

“Aku menagih janjimu dan.. Menikmati sarapanku.”

Hyunra terbelalak, “Ap-Apa? Sarapan?”

“Hm. Tubuhmu.”

  1. Deg.

“Aku merindukannya.”

Hyunra merasa ingin pingsan saja sekarang, ia memejamkan matanya dan terus menggigit bibirnya menahan desahannya.

“Ta-Tapi, aku sedang memasak. Biar.. Biarkan aku memasak dulu!” alasan gadis itu polos.

“Aku tidak butuh masakanmu!” Sehun menjauhkan wajahnya dari leher gadis itu, membuatnya dapat kembali bernafas lega. Tapi tidak dengan tatapan Sehun yang mengintimidasi saat ini.

Emosinya mulai terpancing karena penolakan Istrinya itu. Terlihat raut kesal diwajahnya. Oh tidak, dia murka. Ini menakutkan. Hyunra dengan segera menundukkan kepalanya.

“Huhh!”

Hyunra tersentak saat Pria itu dengan tiba-tiba membuang nafas kesal dengan cukup keras. Ia takut. Gadis itu meremas ujung gaun tidurnya. Ini semakin terlihat tragis, dengan posisi Sehun yang masih terlalu dekat dengannya.

Sehun berusaha mengatur emosinya perlahan. Tidak, ia tidak boleh seperti ini lagi. Ini akan membuatnya terlihat seperti Iblis saat dulu. Kali ini ia harus memperlakukan Hyunra secara halus, karena gadis itu kini Istrinya. Ia tidak ingin Hyunra takut lagi padanya, ia tidak ingin gadis itu trauma lagi seperti dulu. Sehun merutuki dirinya dalam hati, saat melihat tubuh gadis itu yang mulai bergetar ketakutan.

Perlahan, pria itun menyentuh dagu runcing milik Hyunra dan mengangkatnya. Terlihat ekspresi ketakutan gadis itu dengan wajah pucatnya seperti dulu. Sehun tidak bisa membuang tatapan tajamnya, ia memang sudah terlahir dengan itu.

Lama mereka bertatapan, hingga pria itupun membuka suaranya. Berusaha mengucapkannya selembut mungkin tetapi dengan nada tegas dan tak boleh ditolak.

“Dengar, aku sudah cukup menderita dengan tidak memiliki banyak waktu bersamamu dan Yazid. Dan ini sungguh menyiksaku dengan menahan diriku sedari kemarin untuk tidak menyentuhmu. Seperti hampir mati rasanya.”

Sehun mengucapkannya satu-satu agar Gadis itu dapat mencernanya cepat, karena mengetahui otak Hyunra yang masih lugu itu sungguh kolot dalam memproses perkataannya. Gadis itu hanya diam sambil mengerjapkan matanya. Sehun pun melanjutkan.

“Dan sekarang, aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Kau istriku. Aku hanya mengingatkanmu kalau emosiku sedang tidak terkendali saat ini, jadi kumohon jangan membantahku. Aku tidak ingin melukaimu.”

Hyunra terus berusaha mencerna ucapan Pria itu, hingga Sehun pun semakin mendekatkan wajahnya dan hidung mereka pun bersentuhan. Gadis itupun langsung gugup,

“Ja-jadi apa maumu?”

Sehun memejamkan matanya sejenak, Pria itu menggesekkan hidungnya dengan hidung mancung milik Hyunra pelan. Sebelum kembali membuka matanya dan menatap gadis itu tepat dikedua bola matanya.

Give me My rights as My breakfast!

  1. Deg.

Hyunra terbelalak, ia semakin meremas ujung gaunnya kuat. Tangannya bergetar. Otaknya segera berputar mencari alasan untuk menyelamatkan diri.

“Ka-kalau begitu, biarkan aku… mematikan kompor terlebih dahulu.” Hei! Alasan macam apa itu Kim Hyunra!

“Aku sudah mematikannya sejak tadi,” balas Sehun datar. Hyunra pun panik, ia mulai berpikir mencari alasan lain untuk menundanya.

“T-Tunggu….”

Hyunra refleks memekik kaget saat kedua tangan kekar Sehun bergerak menyentuh pinggang miliknya lalu tiba-tiba mengangkatnya. Sehun memanggul tubuh mungil milik Hyunra dibahu kanannya. Lalu berbalik dan berjalan santai menuju kamar mereka.

“Se-Sehun, turunkan aku!”

  1. Hening

“Sehun, rotinya gosong!”

  1. Hening.

“Sehun, kumohon~”

“Maaf, Aku tidak menerima penolakan saat ini, Nona!”

“Sehun!”

Seakan tak perduli, Pria itupun terus membopong tubuh ringan milik istrinya itu memasuki kamar. Smirk milik Sehun pun terlihat, dan kini membuat Hyunra benar-benar tak berdaya dan hanya bisa pasrah. Gadis itu menundukkan kepalanya. Pria itupun menyeringai penuh kemenangan.

Now, He got his Perfect Breakfast!

-END-

Yuhuu~

FF Twoshoot HunRa version selesai, yeheeee!

Oke, semoga suka ya, dan maaf kalo mengecewakan. Saya mikir keres buat Karakter Sehun itu Devil kayak di FF My Pervert Devil. Dan juga soal MPD, tunggu bentar lagi lanjutannya ya^^

Dan, mungkin saya pengen buat FF Oneshoot lainnya, tapi tentang kehidupan HunRa ato apa aja.. tapi castnya tetap mereka dengan karakter yg sama, cuman ceritanya yang beda^^ Itupun kalo dapat ide, dan kalo ada yang suka :D 

Hihi.. Kalo nggak suka dengan FF saya tentang mereka berdua nggak papa kok. Saya nggak maksa :) 

Tertanda,

Luhan beserta Istri

 

 

11 thoughts on “Perfect Breakfast part 2 [freelance]

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s