Diposkan pada exofanworldfreelance, Fanfiction, Freelance

Private Arrangement [Chapter-Two]

pa1

Allendale’s Proudly Present: Private Arrangement [Chapter-Two]

Genre: Marriage and Drama | Rating: PG-17 | Main Cast: Park Chanyeol and Shin Yeonju | Support Cast: Kim Jongin, Lee Hana, and others

 

.

.

.

 

Summary:

Park Chanyeol, penerus L.co Group ke empat, punya masalah: ia harus menikah dan memiliki pewaris. Bahkan bukan ibunya saja yang mendesak Chanyeol. Ada sebuah tradisi dimana penerus saat ini menginjak usia dua puluh tiga dan harus segera merencanakan masa depan perusahaan dengan membuat penerus baru. Chanyeol tidak merasa keberatan, tentu saja, ia hanya mempercayakan ibunya dalam hal ini. Namun terjadi banyak kendala, dua kali bertunangan, sebanyak itu pula ia gagal menikah.

Mengetahui dilema Chanyeol, Shin Yeonju menawarkan diri untuk menjadi pengantinnya. Tapi Yeonju bertekad menjaga jarak dari lelaki itu. Dan ia akan melakukan apa pun untuk menyembunyikan kelemahan terbesarnya, bahwa ia sudah bertahun-tahun jatuh cinta kepada Park Chanyeol.

Setelah lonceng pernikahan dibunyikan, Yeonju menduga Chanyeol merahasiakan sesuatu darinya. Apakah rahasia yang disembunyikan Chanyeol? Bagaimana kehidupan pernikahan mereka? Dan apa reaksi Chanyeol bila mengetahui bahwa istrinya ternyata sudah lama mencintainya?

 

Disclaimer:

Inspired by movie of Anna Karenina and Boys Before Flowers.

Walaupun cerita ini terinspirasi dari kedua fim tersebut, cerita sepenuhnya berbeda. Saya cuma mengambil beberapa Kejadian dan kebiasaan dari kedua film.

Do not copy-paste this fanfiction without my permission and don’t be a Silent Readers.

 

 

***

 

 

 

Di malam yang dingin, Yeonju mengurung diri di kamar. Wanita itu menepuk hidung Mouse lalu beranjak menuju meja riasnya. Kaleng kecil berwarna hitam polos tergeletak di atas meja. Ia mengusap permukaan usangnya sekilas sebelum mengeluarkan kancing yang siang itu ia sembunyikan di saku celananya. Huruf C perak berkelip di bawah cahaya lilin ketika ia menatapnya.

Yeonju sudah mencintai Chanyeol selama empat tahun. Ia bertemu dengannya di pesta pernikahan manager L.co Group dengan karyawan River Web Design—tidak lama setelah pria itu kembali ke Korea. Chanyeol tidak menyadari keberadaan Yeonju, tentu saja. Mata hitam  kecokelatan Park Chanyeol tertuju ke atas kepala Yeonju ketika mereka diperkenalkan, dan tidak lama setelahnya pria itu berpamitan untuk berbincang-bincang dengan Nam Seorin, gadis yang tersohor akan kecantikannya. Yeonju memperhatikan dari pinggir ruang dansa, duduk di samping deretan wanita tua, ketika Chanyeol melentingkan kepala ke belakang dan tertawa lepas. Lehernya kuat, mulutnya terbuka lebar penuh tawa. Dia benar-benar pemandangan yang memikat.

Ketika itu sudah lewat tengah malam, dan Yeonju sudah sejak lama bosan dengan keriuhan acara. Bahkan, ia pasti sudah pulang jika tidak menganggu kesenangan temannya, Jung Hyegi. Hyegi memaksanya hadir karena sudah lebih dari satu tahun sejak kegagalannya dengan Yonggi, dan suasana hati Yeonju masih muram. Namun keributan, hawa panas, dan tubuh yang berdempetan, juga tatapan orang asing terasa tak tertahankan, membuat Yeonju menghindari ruang dansa. Ia mendapati dirinya berada di sekitar kamar kecil wanita sampai ia mendengar percakapan dua orang lelaki.

“Taehyun tidak berpikir logis. Menikahi wanita dari kalangan bawah tidak bisa diterima oleh nama besar keluarga kita.” desis pria tua beruban. Pria itu memegang cerutu mahal, serta pakaian yang Yeonju rasa dibuat khusus oleh perancang istimewah.

Yeonju tidak mengenali lelaki muda yang di hadapan pria tua itu. Tetapi ketika lelaki itu bicara, Yeonju merasa kenal dengan suara itu. “Kurasa Taehyun Hyung hanya mengikuti kata hatinya. Walau bagaimanapun, tidak akan ada yang bisa mencegahnya, termasuk Ayah.”

“Chanyeol,” pria tua yang dipanggil Ayah itu memegang pundak anaknya, memberikan kasih sayang  tulus yang dimilikinya. “Kau-lah satu-satunya harapanku. Jangan hancurkan masa depan perusahaan leluhur kita. Kau boleh mencintai wanita manapun. Namun aku hanya berharap kau menikah dengan wanita terhormat. Itu dua hal yang berbeda, nak.”

Tubuh Chanyeol menjadi kaku, bahunya tegak dan Yeonju yakin Chanyeol menahan napasnsya.

“Jangan seperti Taehyun, hanya memikirkan  diri sendiri. Egois, benar-benar egois.”

Ketika Chanyeol membisu, Ayahnya melanjutkan.

“Aku tahu kau tidak akan membantah keinginan ibumu. Mungkin lebih baik jika kau lupakan semuanya dan cobalah menyadari kalau kau memegang tanggung jawab besar. Bersyukurlah usiamu masih menginjak sembilan belas, kau masih punya waktu empat tahun untuk memburu istri.”

Ketika Chanyeol tidak menjawab, Pria tua kaya raya itu menepuk pundaknya dan bergegas meninggalkan seorang anak lelaki yang seperti kebingungan untuk berbuat apa. Ia heran dengan hidupnya sendiri. Seorang lelaki di usia sembilan belas seharusnya mengantongi hak sebagai lelaki yang sudah bisa memutuskan apa yang akan dipilihnya nanti. Namun, Chanyeol tahu itu tidak berlaku untuk dirinya. Chanyeol menjadi linglung, ia terguncang bahwa ia tidak punya pilihan. Ia tidak pernah mendapat kesempatan.

Kemudian Chanyeol mendongakkan kepala ke belakang dan menenggak botol anggur.

“Sial,” gumamnya saat menurunkan botol.  Mulut lebarnya tertekuk kesakitan atau karena emosi lain yang sulit dipahami . “Sialan.”

Dan Chanyeol berbalik pergi.

Setengah jam kemudian, Yeonju melihat Chanyeol lagi. Dia ada di ruang dansa, bercanda gurau dengan teman-temannya, dan seandainya tidak melihatnya sendiri, Yeonju tidak akan percaya bahwa pria ini sama dengan pria yang tadi merasa terguncang dan frustasi. Namun Yeonju melihatnya, dan ia tahu. Terlepas dari Yonggi dan pelajaran berat yang ia dapat mengenai cinta, duka, dan kehilangan. Yeonju tahu. Pria ini menyimpan rahasianya sebaik Yeonju menyembunyikan rahasia. Pria ini bisa membuatnya jatuh cinta sepenuh hati—setengah mati.

Selama empat tahun Yeonju mencintai Chanyeol, meskipun ia tahu pria itu tidak mengenalnya. Ia diam dan melihat Chanyeol bertunangan dengan Hyegi, dan ia tidak memperlihatkan kekesalannya. Lagi pula, apa gunanya berduka jika pria itu tidak akan pernah menjadi miliknya? Yeonju melihat Chanyeol bertunangan lagi dengan Kim Seukhye yang datar, dan ia tetap tenang—setidaknya penampilan luarnya. Namun ketika kemarin di gereja ia menyadari Seukhye mencampakkan Chanyeol, ada sesuatu yang liar dan tak terkendali muncul di dadanya. Kenapa tidak? Ujarnya. Kenapa tidak berusaha mendapatkan pria itu?

Dan Yeonju pun melakukannya.

Yeonju memutar kancing yang di pegangnya. Selanjutnya ia akan bersikap sangat hati-hati dalam menghadapi Chanyeol. Cinta, seperti yang sudah ia ketahui, adalah kelemahannya. Ia harus memberitahu Chanyeol mengenai perasaanya, bukan dengan ucapan maupun tindakan. Yeonju membuka kaleng hitamnya dan memasukkan kancing itu dengan hati-hati.

Yeonju berderap ke tempat tidurnya—dimana Mouse sedang mendengkur. Wanita itu menatap hampa ke dalam gelap. Tidak lama lagi ia akan berbagi tempat tidur dengan lebih dari sekedar Mouse. Apakah ia bisa berbaring bersama Chanyeol tanpa memperlihatkan cintanya yang begitu besar? Yeonju gemetar saat memikirkan pertanyaan itu dan memejamkan mata sambil tertidur.

 

 

 

***

 

 

Satu minggu kemudian, Chanyeol menghentikan mobil sport merahnya di depan rumah keluarga Shin dan turun dari mobilnya. Mobilnya yang baru. Mobil mewah pemberian pamannya—Park Junsu, sebagai hadiah pertunangannya dengan Shin Yeonju. Chanyeol berencana mengajak Yeonju ke Grand Hall dan berniat mengenalkan tunangannya ke wartawan. Sejujurnya ini ide pamannya tapi Chanyeol tidak merasa keberatan. Walaupun ia sendiri tidak semangat untuk membuat konferensi pers, tentu saja, tapi mau tidak mau ia harus melakukannya.

Demi kehormatan Shin Yeonju. Wanita itu layak mendapatkannya, pikir Chanyeol.

Ia menggeser kacamatanya dengan percaya diri, lalu menaiki tangga dan mengetuk. Sepuluh menit kemudian, ia duduk santai di perpustakan yang agak membosankan sambil menunggu tunangannya datang. Sebenarnya Chanyeol sudah melihat perpustakan ini empat hari yang lalu ketika menemui Shin Donghyun untuk membicarakan urusan pernikahan. Tiga jam yang sangat membosankan, hanya berhasil dibuat ceria oleh kenyataan bahwa Yeonju pintar bermain piano. Chanyeol harus mengingatkan Jongin untuk membelikan piano sepulangnya nanti. Yeonju sendiri tidak muncul selama kunjungan itu. Sudah tradisi wanita yang bersangkutan tidak hadir—padahal kehadirannya bisa sedikit menyegarkan Chanyeol.

Chanyeol mengelilingi perpustakan dan memeriksa isi rak. Kelihatannya buku-bukunya menggunakan bahasa Latin, dan ia bertanya-tanya apakah Yeonju sungguh-sungguh membaca semua dalam bahasa Latin, atau dia hanya mengoleksi buku ini ketika Yeonju masuk sambil memakai blazer. Chanyeol tidak pernah bertemu dengan wanita itu sejak siang itu di kantor gereja, namun Yeonju memperlihatkan ekspresi yang hampir sama—ekspresinya merupakan perpaduan antara tekad dan sedikit rasa tidak suka. Anehnya, Chanyeol menganggap ekspresi tersebut sangat memikat.

Chanyeol membungkuk sedikit. Kemudian sambil tersenyum ia berkata. “Kau selalu terlihat cantik, Nona Shin.”

Yeonju menelengkan kepala. “Terima kasih atas kesopananmu, Chanyeol-ssi, tapi kau baru bertemu denganku dua kali.”

Senyum Chanyeol semakin lebar, memperlihatkan lebih banyak giginya. Rayuan yang payah, batin Chanyeol. “Maafkan aku Nona Shin, aku memang tidak pandai untuk menyenangkan hati wanita.”

“Begitu.” Mulut Yeonju berkedut, entah kesal atau geli, sulit memastikannya. “Yang kulihat justru sebaliknya.” gumamnya pelan.

Chanyeol mengangkat alisnya, merasa tidak yakin apa yang baru saja di dengarnya. Jam besar di ruangan itu berdenting, dan mengingatkan Chanyeol untuk segera membawa Yeonju ke Grand Hall sebelum pria itu memaksa Yeonju untuk mengatakan sekali lagi apa yang barusan dikatakannya. Chanyeol menggenggam tangan Yeonju yang sehalus sutra, berjalan keluar melewati pintu yang besar. Jarak Chanyeol dengan Yeonju sangat dekat yang membuat pria itu bisa mencium aroma mawar sambil memikirkan apa yang harus diucapkan. Yang ada dalam pikirannya hanyalah –walaupun secara teknis ia hanya memanfaatkan rahim Yeonju, ia tidak akan membuat Yeonju merasa diabaikan.

Chanyeol memandang ke arah tunangannya yang kaku. “Kalau boleh jujur, aku senang kita memiliki kesepakatan untuk menikah.”

Alis Yeonju terangkat dengan skeptis. “Benarkah?”

“Benar.”

Mereka berhenti di hadapan mobil Chanyeol, dan Yeonju menatap kendaraan itu dengan kening berkerut. “Mobilmu baru?”

“Ya,” Chanyeol membukakan pintu untuk Yeonju. “Sebenarnya ini hadiah pertunangan kita dari pamanku.”

Sambil duduk Yeonju mengangguk. Chanyeol bergegas menuju kemudi dan siap berangkat.

Grand Hall tidak teralu jauh sehingga hanya membutuhkan waktu setengah jam mereka sudah sampai. Yeonju melirik Chanyeol yang sedang berbicara pada seseorang di teleponnya. Tak pernah sekalipun ia membayangkan akan datangnya hari ini, hari dimana ia duduk di sebelah Chanyeol sebagai tunangan pria itu. Sayangnya kesepakatan menikah yang ditawarkan Chanyeol bukanlah impiannya. Namun Yeonju bersikeras akan menerima apa pun konsekuensinya, bahkan jika ia tidak akan mendapatkan cinta Chanyeol. Mulut Yeonju menjadi kaku memikirkan itu. Betapa pilunya ia membayangkan pernikahan tanpa berlandaskan cinta—seperti yang diminta Chanyeol. Haruskah pria itu tahu bahwa aku sudah mencintainya lebih dari empat tahun? Yeonju membatin muram.

“Kita masuk lewat pintu belakang, disana ada para penasehatku yang akan membimbing kita. Aku tidak mau di konferensi pers nanti aku menjadi tunangan yang payah. Kita harus terlihat seperti calon pengantin yang kasmaran. Bagaimanapun, kehadiranmu lah yang menentukan nasib L.co Group, kau mengerti?”

Dengan susah payah Yeonju menganggukkan kepalanya. Ia tidak mau mengecewakan pria yang dicintainya.

Chanyeol tersenyum, menatap tunangannya dengan seksama. “Kau tahu betapa berharganya dirimu. Setelah semua ini selesai, ingatkan aku untuk memberimu hadiah, apapun yang kau mau, katakan saja aku akan menyanggupinya.”

“Sebenarnya—”

“Kita tidak punya banyak waktu. Kajja!” potong Chanyeol. Pria itu melesat keluar mengacuhkan perkataan Yeonju, bahkan tidak memberi kesempatan untuknya menyelesaikan kalimat.

Yeonju terdiam. Ia menarik napas dengan hati-hati seolah-olah tindakan tersebut bisa menyelamatkannya atas situasi kedepan. Yeonju keluar dari mobil, dan mengikuti langkah Chanyeol yang lebar.

Ketika mereka sampai di pintu belakang, seorang wanita sekitar tiga puluh tahun memberi salam pada Chanyeol dan Yeonju. Sambil menyerahkan beberapa dokumen penting kepada mereka berdua, wanita yang disebut sebagai manager Lee oleh Chanyeol ini terus-menerus bicara pada seseorang di ponselnya.

Langkah mereka bergema di lorong yang sepi sampai ketika Yeonju melihat sekumpulan orang-orang penting dengan ekspresi tertegun menyambut Chanyeol. Kalau saja situasinya berbeda Yeonju akan sangat antusias melihat Prof. Thomas Law—dengan rambut yang memutih dan kumis lebat, seorang ilmuwan yang dikaguminya sejak dulu. Alih-alih kepanikan Yeonju malah semakin menjalar mengetahui betapa seriusnya pertemuan ini. Semua orang-orang yang berperanguh di Korea datang, itu sudah cukup membuktikan. Dan mereka semua memandang Chanyeol dengan hormat. Memandang hormat kepada tunangannya. Calon suaminya.

Lidah Yeonju menjadi kelu.

Tiga orang penasehat mengelilingi Yeonju. Setidaknya mereka semua menyambutnya dengan hangat. Beberapa petuah mungkin bisa membantu Yeonju.

“Pernikahan dari seorang pewaris L.co Group memang paling ditunggu-tunggu. Mereka ingin lihat apa yang mereka inginkan. Mereka tidak tahu dengan kesepakatan antara Anda dan Mr. Park, sejujurnya mereka tidak peduli. Yang mau mereka lihat adalah pasangan yang saling jatuh cinta. Jadi, kami harap kau bisa menanganinya dengan baik. Itu bergantung padamu, Miss Yeonju.”

Yeonju mengangguk tegas. “Aku paham, terima kasih.”

Para penasehat membungkuk pergi. Yeonju mencari-cari keberadaan Chanyeol dan menemukan pria itu sedang berbisik-bisik pada seorang pria tua dengan ekspresi serius. Sepertinya Chanyeol sepenuhnya menghormati ucapan pria tua berambut botak itu karena Chanyeol mencermati dengan baik kata demi kata yang dilontarkan si pria tua botak.

Kalaupun Chanyeol memiliki hubungan dekat dengan orang itu, kenapa ia tidak berencana untuk mengenalkannya padaku? renung Yeonju.

Pintu terbuka Cahaya kamera dimana-mana. Semuanya tampak kelap-kelip dan suara yang begitu ricuh terdengar ketika Yeonju dibawa masuk. Tiba-tiba Chanyeol sudah berada di samping Yeonju, ia mengenggam tangan wanita itu.

“Kau siap?” bisiknya.

Ragu-ragu Yeonju mengangguk. “Ya.”

Dan drama mereka pun dimuali.

 

 

 

***

 

 

 

Tiga minggu kemudian, Yeonju menyembunyikan tangan gemetarnya di balik rok gaun pernikahannya. Di belakang, Lee Hana, pelayan pribadi barunya, sibuk melakukan persiapan terakhir pada roknya.

“Anda kelihatan sangat cantik, Miss,” ujar Hana sambil bekerja. Yeonju tersenyum mendengar perubahan panggilan untuknya. Bagaimanapun ia akan menjadi istri Chanyeol dan sudah seharusnya ia siap menjadi Miss Yeonju Park.

Mereka berdiri di teras gereja tertutup yang tidak jauh dari pusat gereja. Di dalam gereja organ sudah dimainkan. Tidak lama lagi Yeonju harus berjalan memasuki gereja yang dipadati orang. Tubuhnya gemetar karena gelisah. Bahkan dengan pemberitahuan sesingkat ini, bangku gereja penuh.

“Saya pikir abu-abu agak membosankan ketika Anda memilihnya,” celoteh Hana, “tapi sekarang nyaris kelihatan berkilau seperti perak.”

“Ini tidak berlebihan, kan?” Yeonju menunduk cemas. Gaunnya dipasangi lebih banyak hiasan daripada yang semula ia inginkan, dengan pita-pita kuning pucat di depanjang garis lehernya. Rok luarnya ditarik ke belakang untuk memperlihatkan rok dalam berwarna abu-abu, merah, kuning yang dipenuhi border.

“Oh, tidak. Ini sangat modern,” sang pelayan menjawab. Dia menghadap Yeonju dan mengernyit. Kemudian tersenyum. “Mr. Park akan sangat terpesona melihat Anda, saya yakin. Bagaimanapun sudah lama sekali sejak terakhir kali dia melihat Anda.”

Well, itu benar, renung Yeonju, memang sudah beberapa minggu sejak terakhir kali ia bertemu Chanyeol—tepat setelah hari konferensi pers. Chanyeol pergi satu hari setelah kunjungannya kerumah guna membuat kesepakatan dengan Donghyun dan baru kembali ke Seoul kemarin. Yeonju bertanya-tanya apakah pria itu menghindarinya.  Chanyeol pernah mengatakan akan pergi ke Jeju untuk mengurusi beberapa hal penting mengenai bisnisnya disana, dan dia tidak pernah melakukan pendekatan dengan Yeonju. Namun semua itu tidak penting, Yeonju menegur diri sendiri. Bagaimanapun, sekarang tunangannya itu berdiri di depan gereja sambil menunggu kehadirannya.

“Siap?” tanya Bona yang bergegas masuk dari pintu gereja dan mengulurkan tangan untuk menyentak rok Yeonju. “Aku tak pernah menduga akan mengalami hari ini, sayangku, tidak pernah! Kau menikah, dan dengan seorang seperti Mr. Park. Keluarganya sangat baik—tidak ada jejak keburukan apa pun. Oh, Yeonju!”

Di luar dugaannya, Yeonju melihat Bona yang tenang berlinang air mata.

“Aku sangat bahagia untukmu.” Bona memeluknya dengan kaku, menekan pipi sekilas di pipi Yeonju. “Apa kau sudah siap?”

Yeonju menegakkan tubuh dan menghela napas untuk menenangkan diri sebelum menjawab. Bahkan kegelisahannya tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang tersimpan di dalam suaranya. “Ya, aku sudah siap.”

 

 

***

 

 

Chanyeol menunduk menatap irisan bebek panggang di piringnya dan merenungkan betapa anehnya tradisi sarapan pernikahan. Teman-teman dan keluarga berkumpul untuk merayakan cinta padahal kenyataannya mereka seharusnya merayakan kesuburan. Bagaimanapun itulah tujuan inti penyatuan ini: menghasilkan anak.

Well, akhirnya ia menikah, dan mungkin ia harus menyingkirkan sikap sinis serta tidak mempermasalahkan apa pun selain kenyataan itu. Kemarin dalam perjalanan pulang menuju Seoul, Chanyeol mulai bertanya-tanya apakah dirinya pergi terlalu lama. Bagaimana jika Yeonju mulai muak diabaikan? Bagaimana jika wanita itu bahkan tidak mau hadir di gereja untuk mencampakkannya? Kemarin Chanyeol terpaksa tinggal di Jeju lebih lama daripada rencananya. Rasanya selalu ada alasan yang menunda kepulangannya—ladang lain yang ingin diperlihatkan pengawasnya, jalan yang sangat butuh perbaikan, dan jika ia mau jujur pada diri sendiri, tatapan tegas tunangannya. Shin Yeonju sepertinya sanggup melihat hingga ke dalam jiwanya dengan mata cokelat wanita itu, sepertinya bisa melihat ke balik permukaan tawanya, dan melihat apa yang disembunyikan Chanyeol di dalam jiwanya. Bahwa sebenarnya ia pergi ke Jeju bersama Kim Nari.

Namun Yeonju tidak mengetahuinya. Chanyeol meneguk anggur merahnya, merasa yakin dengan hal itu. Yeonju tidak mengetahui apa yang terjadi antara Chanyeol dengan Nari, dan dia tidak akan mengetahuinya jika dengan seizin Tuhan, ia bisa merahasiakannya.

“Pernikahan yang menyenangkan, ya?” seorang pria tua membungkukkan tubuh untuk menerikkannya di atas meja.

Chanyeol tidak mengenal pria itu—pasti kerabat dari pengantin wanita—tapi ia menyeringai dan mengangkat gelas anggurnya ke arah pria itu. “Terima kasih, Agashi. Aku juga menikmatinya.”

Pria itu mengedipkan sebelah mata dengan sikap menggelikan. “Lebih nikmati malam pengantinnya, ya? Kubilang, lebih nikmati malam pengantinnya! Ha!”

Pria itu benar-benar menikmati leluconnya sendiri hingga nyaris terbatuk saat tertawa.

Wanita tua yang duduk di seberang pria itu memutar bola mata dan berkata. “Cukup, Dongshik!”

Di sampingnya, Chanyeol merasakan tubuh pengantin wanitanya menegang, dan ia mengumpat pelan. Pipi Yeonju sudah mulai memperlihatkan rona lagi. Wajahnya sangat pucat selama upacara, dan Chanyeol sudah menyiapkan diri untuk menopangnya seandainya dia pingsan. Namun dia tidak pingsan. Alih-alih, Yeonju berdiri bagaikan prajurit di hadapan pasukan penembak dan mengulang sumpah pernikahannya dengan muram. Bukan ekspresi yang diharapkan pengantin pria dari pengantin wanitanya di hari pernikahan mereka—para penasehat juga menyadari itu, tapi Chanyeol sudah belajar untuk tidak peduli. Ia bahkan tidak peduli jika Shin Yeonju hanya menginginkan uang dan ketenaran dalam rumah tangga mereka.

Chanyeol meninggikan volume suaranya. “Maukah Anda menceritakan pernikahan Anda pada kami, Agashi? Kurasa kami akan sangat terhibur mendengarnya.”

“Dia tiak ingat,” wanita tua itu berkata sebelum suaminya sempat menjawab. “Dia sangat mabuk hingga tertidur sebelum naik ke tempat tidur.”

Para tamu tertawa.

Chanyeol meletakkan gelas anggurnya pelan-pelan dan melirik pengantinnya. Yeonju sedang menyusun makanannya menjadi tumpukan rapi di piring.

“Makanlah sebagian,” gumam Chanyeol. “Bebeknya tidak seburuk penampilannya, dan itu bisa membuatmu merasa baikan.”

Yeonju tidak menatap Chanyeol, tapi tubuhnya menegang. “Aku baik-baik saja.”

“Aku yakin kau baik-baik saja,” jawab Chanyeol santai. “Tapi kau sepucat kertas saat di gereja—sesaat wajahmu bahkan terlihat kehijauan. Kau takkan percaya betapa hancur leburnya perasaanku sebagai pengantin pria. Sekarang senangkan aku dan makan sedikit.”

Mulut Yeonju melengkung sedikit, dan dia makan seiris kecil bebek. “Apa kau mengucapkan semua hal sebagai lelucon?”

“Nyaris semua. Aku tahu membosankan, tapi begitulah.” Chanyeol memberi isyarat pada pelayan, dan pria itu menghampiri. “Tolong isi lagi gelas anggur milik Miss Park.”

“Terima kasih,” Yeonju bergumam ketika pria itu menuang anggur. “sebenarnya, tidak.”

“Apa yang tidak?”

“Leluconmu.” Yeonju menatapnya, matanya terlihat misterius. “Itu tidak membosankan. Sebenarnya, aku menyukainya. Aku hanya berharap kau bisa menghadapi sifat tertutupku.”

“Kalau kau menatapku seperti itu, aku akan menghadapinya dengan terhormat.” bisik Chanyeol.

Yeonju menatap mata Chanyeol sambil menyesap anggur, dan Chanyeol bisa melihatnya menelan, cekungan di lehernya lembut dan rapuh. Malam ini ia akan meniduri wanita ini—wanita yang nyaris tidak ia kenal. Ia akan berbaring bersama wanita ini dan membelai kulitnya yang lembut dan hangat, dan ia akan menjadikan wanita ini istrinya. Istri yang tidak akan dicintainya. Namun Chanyeol akan semampu mungkin membuat Yeonju nyaman. Sejujurnya, Chanyeol bahkan tidak mampu menyakiti Yeonju. Bahwa kenyataannya ia telah memperlakukan Yeonju layaknya kuda.

Pikiran itu terasa aneh di tengah sarapan yang sangat beradab ini. Pernikahan orang-orang dalam kelas sosialnya sangat aneh. Dalam banyak hal sangat mirip dengan membiakkan kuda. Seseorang memilih sang betina dan jantan berdasarkan garis keturunan mereka, mendekatkan keduanya, dan berharap alam melakukan tugasnya dan menghasilkan lebih banyak kuda.

Seorang pewaris.

Chanyeol merenung sambil mengamati istri barunya, bertanya-tanya apa yang akan dikatakan wanita itu jika ia memberitahu betapa bajingannya ia. Namun, sepertinya Yeonju tidak peduli. Bukankah wanita ini yang mengajukan sendiri dengan tangan terbuka mengajaknya menikah? pikir Chanyeol. Ia sudah memberitahunya dari awal bahwa ia tidak akan bisa melakukan pernikahan yang berlandaskan cinta. Dan Yeonju dengan tegas menerimanya.

“Apakah kau menyukai anggurnya, Yeonju-ssi?”

“Anggurnya asam, tajam, dengan sedikit rasa manis dari buah anggur.” Yeonju tersenyum pelan. “Jadi, ya, aku menyukainya.”

“Bagus sekali,” gumam Chanyeol, kelopak matanya terkantup lambat. “Tentu saja, sudah tugasku sebagai suami untuk memastikan semua keinginanmu, sekecil apa pun, terpenuhi.”

“Benarkah?”

“Ya.”

“Kalau begitu apa tugasku sebagai istrimu?”

Memberiku pewaris. Jawaban itu terlalu lancang untuk diucapkan. Sekarang saatnya memperlakukan Yeonju dengan layak, bukan kenyataan kejam dari pernikahan seperti pernikahan mereka. “Yeonju-ssi, kau tak punya tugas yang lebih berat selain terlihat cantik dan memperindah rumah dan hatiku.”

“Tapi aku yakin tidak lama lagi aku pasti bosan dengan tugas-tugas ringan seperti itu. Aku menginginkan tugas tambahan untuk dikerjakan selain terlihat cantik.” Yeonju menyesap anggurnya. “Mungkin kau bisa menciptakan tugas yang lebih berat?”

Chanyeol menghela napas. “Apakah kau tak bisa memberi contoh mengenai tugas yang seharusnya dikerjakan seorang istri?”

“Oh, banyak contoh.” Senyuman bermain-main di bibir Yeonju. “Bukankah aku harus mematuhi dan menghormatimu?”

“Ah, tapi itu termasuk tugas ringan, dan kau meminta tugas berat?”

“Mematuhimu mungkin tidak selamanya terasa mudah,” gumam Yeonju.

“Tentu saja mudah. Aku hanya akan memerintahmu untuk melakukan seperti tersenyum. Dan aku sangat berterima kasih jika kau memberiku ruang privasi. Maukah kau mematuhiku untuk melakukannya?”

“Ya.”

“Kalau begitu aku sudah mendapatkan rasa hormat seorang istri yang berlimpah.”

“Tapi sepertinya aku mengingat sumpah yang lain.” Yeonju bekata sangat pelan. Namun Chanyeol mendengarnya. “Untuk mencintaimu.”

Chanyeol perlu diberi penghargaan karena mampu menyembunyikan keterkejutan yang jelas di wajahnya. Tapi ia tidak mau mengecewakan Yeonju di hari pernikahannya. “Sayangnya, itu adalah tugas yang sulit daripada yang lain—terkadang aku menjadi pria yang sangat tidak mudah untuk dicintai—dan aku takkan menyalahkanmu jika kau memutuskan untuk mengabaikannya.”

“Tapi, aku tidak mau melanggar sumpahku,” kata Yeonju.

Chanyeol menatapnya dan berusaha mencari tahu mana yang bohong mana yang perasaan sesungguhnya. “Aku tidak akan memaksamu, kau tahu?”

Yeonju mengendikkan bahu. “Tentu saja kau tidak perlu memaksaku. Aku hanya tidak ingin melanggar sumpah.”

Ketika Chanyeol tidak menjawab, Yeonju merasa terabaikan. Seandainya saja ia memiliki keberanian yang lebih untuk berteriak kepada pria itu bahwa ia sudah mencintainya selama ini, dan bukan hanya karena sumpah pernikahan tapi ia memang akan mencintainya.

Chanyeol menyesap anggur dengan gerakan kaku. Betapa berengseknya ia memikirkan Kim Nari di tengah perayaan pernikahannya. Apa yang sedang dilakukan wanita itu sekarang? renung Chanyeol. Semakin cepat ia memiliki pewaris, semakin cepat ia bisa membawa Nari pergi bersama, dan kemungkinan bisa mencegah Yeonju melakukan sumpahnya. Chanyeol sudah perhitungkan itu. Ia harus segera meniduri Yeonju. Namun, Yeonju sendiri mengakui dirinya wanita tertutup. Mungkin ia harus mempertimbangkan untuk menunda hubungan suami-istri selama satu atau dua hari, agar Yeonju bisa terbiasa dengan kehadirannya dulu. Pikiran yang menggelisahkan.

Chanyeol menggeleng dan menyingkirkan semua pikiran menggelisahkan, lalu mengambil potongan bebek panggang lagi. Aneh, kenapa ia begitu memperhatikan Yeonju.

 

 

 

***

 

 

 

“Pernikahan yang indah, Miss,” malam harinya Hana berkata penuh damba ketika membantu Yeonju melepas gaun. “Tuan Chanyeol kelihatan sangat tampan dalam balutan jas krem, bukan? Sangat tinggi dengan bahu lebar yang indah.”

“Mmm,” gumam Yeonju. Pundak Chanyeol merupakan salah satu hal yang paling ia sukai dari pria itu, tapi fisik suami barunya sepertinya bukan sesuatu yang pantas untuk dibicarakan dengan pelayannya. Yeonju melepas rok dalamnya.

Hana menyampirkan rok itu di kursi dan mulai melepas ikatan korset Yeonju. “Dan Taun Chanyeol sangat baik. Dia menyumbang dana untuk panti asuhan dalam jumlah yang sangat besar. Tahukah Anda, Miss, dia memberi seratus dolar pada masing-masing pelayan di rumah ini, bahkan pada bocah kecil penyemir sepatu!”

“Benarkah?” Yeonju menahan senyum senang mendengar sifat murah hati Chanyeol ini. Ia sama sekali tidak terkejut. Ia duduk di meja rias mungil dan mulai melepas stockingnya.

“Seorang koki dirumah ini berkata Tuan Chanyeol majikan yang sangat baik. Memberi gaji yang pantas dan tidak pernah berteriak pada pelayan seperti yang dilakukan sebagian pewaris sebelumnya.” Hana mengibaskan korset dan dengan hati-hati memasukkannya ke lemari pakaian besar di sudut ruangan.

Ruangan ini dua kali lebih besar dari kamar Yeonju. Dulu ibu Chanyeol menempati kamar ini sebagai ruang pribadinya sebelum beliau pindah ke London. Semenjak suaminya meninggal, Yeonju mendapat kabar bahwa Mrs. Park tidak ingin menempati rumah ini lagi karena mengingatkannya dengan mendiang sang suami. Para pelayan sangat antusias menerima Mrs. Park muda yang baru. Pengurus rumah ini jelas-jelas wanita yang kompeten. Ruangan itu dibersihkan dengan baik.

Yeonju menyukai kamar barunya. Dinding putih pucat menenangkan, karpet merah tua dengan motif bintik-bintik emas. Perapian mungil dan cantik, dilapisi keramik biru dan dikelilingi rak kayu putih. Pada salah satu dinding ada pintu yang mengarah ke kamar Chanyeol—Yeonju cepat-cepat mengalihkan tatapannya dari sana—ke dinding seberang, tempat pintu mengarah ke ruang ganti pakaian, tapi ia mengabaikannya.

“Jadi, kau sudah bertemu pelayan lain?” tanya Yeonju untuk mengalihkan perhatiannya sendiri agar tidak memandangi pintu penghubung ke kamar Chanyeol seperti perempuan lemah yang mabuk cinta.

“Sudah, Miss,” Hana menghampirinya dan mulai menggerai rambut Yeonju. “Kepala pelayan, Mr. Yongguk, sangat tegas, tapi tampaknya adil. Ada enam pelayan lantai bawah dan lima pelayan lantai atas, dan saya tidak tahu berapa banyak pelayan lelaki.”

“Kuhitung ada tujuh orang,” gumam Yeonju. Tadi sore ia sudah diperkenalkan pada pengurus rumah ini, tapi membutuhkan waktu untuk mengetahui nama dan tugas mereka masing-masing. “Kalau begitu, mereka semua baik padamu?”

“Ya, Miss.” Hana terdiam sebentar, melepas begitu banyak jepit yang menahan tatanan rambut Yeonju. “Tapi…”

Yeonju menatap pelayan mungil itu melalui cermin rias. Alis Hana bertaut. “Apa?”

“Bukan apa-apa, Miss,” kata Hana, lalu cepat-cepat menambahkan, “Hanya pria itu, Kim Jongin. Saya bersikap sangat sopan ketika Mr. Yongguk memperkenalkan semua orang, dan pria itu. Kim Jongin, menatap saya dengan hidung terangkat—dan hidungnya sangat besar, Miss. Kurasa seharusnya ia tidak membanggakannya seperti itu. Dan dia berkata ‘Kau masih terlalu muda untuk menjadi pelayan pribadi, bukan?’ dengan suaranya yang sangat angkuh. Dan yang ingin saya ketahui, memangnya apa urusannya dengan dirinya?”

Yeonju mengerjap. Ia belum melihat Hana tersinggung oleh siapa pun karena masalah apa pun. “Siapa kim Jongin yang kaubicarakan ini?”

“Dia ajudan Tuan Chanyeol,” kata Hana. Dia mengambil sisir dan menyapukannya di atas rambut Yeonju dalam tarikan-tarikan keras. “Pria bodoh, tidak mengetahui caranya tersenyum. Juru masak bilang dia sudah bekerja di sini sebelum ayah Tuan Chanyeol meninggal.”

“Kalau begitu dia sudah ikut Tuan Chanyeol selama bertahun-tahun.”

Hana mengepang rambut Yeonju dengan gerakan cepat dan pasti. “Well, saya rasa dia sangat sombong. Pria yang sulit disukai, angkuh, dan menyebalkan yang jarang saya temui.”

Yeonju tersenyum, tapi kemudian senyumnya memudar dan ia mendongak ketika mendengar sebuah suara, napasnya bertambah cepat.

Pintu yang menghubungkan ruangannya dengan ruangan Chanyeol terbuka. Chanyeol berdiri di ambang pintu dalam balutan jubah longgar merah di atas kemejanya. “Ah. Aku datang terlalu cepat. Aku kembali lagi nanti, ya?’

“Tidak perlu, Chanyeol-ssi.” Yeonju berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar. Ia kesulitan memaksa diri agar tidak menatap Chanyeol. Kancing kemeja pria itu terbuka di leher, dan bagian kecil kulit intim itu memberikan efek luar biasa pada dirinya. “Aku tidak membutuhkan bantuanmu lagi, Hana, terima kasih.”

Hana membungkuk memberi hormat, tiba-tiba tidak sanggup berkata-kata di hadapan majikan barunya. Dia beranjak ke pintu dan pergi.

Chanyeol menatap kepergian Hana. “Kuharap aku tidak membuat pelayan kecilmu ketakutan.”

“Dia hanya merasa gugup di rumah baru.” Yeonju memperhatikan Chanyeol melalui cermin ketika pria itu berkeliling kamar, makhluk buas yang eksotis. Ia istri pria itu. Yeonju berusaha keras agar tidak tertawa memikirkannya.

Chanyeol menghampiri perapian kecil dan menatap jam berbentuk bunga yang ada di atas rak. “Aku benar-benar tidak bermaksud mengganggu kebiasaan malam harimu. Aku benar-benar payah soal waktu. Aku bisa kembali setengah jam lagi, kalau kau mau.”

“Tidak. Aku siap.” Yeonju menghela napas, berdiri, dan berbalik.

Chanyeol menatap Yeonju, tatapannya sulit dijelaskan, dan Yeonju merasa perutnya mengencang saat menerima tatapan pria itu.

Kemudian Chanyeol berdeham dan mengalihkan tatapan. “Mungkin kau mau minum anggur?”

Seberkas rasa kecewa melanda Yeonju, tapi ia tidak memprlihatkannya. Ia menundukan kepala. “Kedengarannya menarik.”

“Bagus.” Chanyeol menghampiri meja kecil di dekat perapian tempat wadah anggur diletakkan dan menuangkan  dua gelas.

Yeonju mendekati perapian dan berdiri dekat Chanyeol ketika pria itu berbalik lagi

Chanyeol mengulurkan gelas. “Ini.”

“Terima kasih.” Yeonju menerima gelas itu dan menyesapnya.  Chanyeol memandangi api, jadi Yeonju duduk di salah satu kursi bercat putih dan melambaikan tangan ke arah kursi satunya. “Silahkan. Kau mau duduk, Chanyeol-ssi?”

“Ya. Tentu saja.” Chanyeol duduk dan menghabiskan isi gelasnya, lalu tiba-tiba membungkukkan tubuh, gelas menggantung di jemarinya. “Dengar, seharian ini aku berusaha mencari cara untuk mengatakannya dengan pantas, dan aku belum menemukannya, jadi aku akan langsung mengatakannya. Kita menikah lumayan cepat, dan aku tidak ada di sini selama pertunangan kita, yang merupakan kesalahanku sendiri, dan aku minta maaf. Tapi karena semua itu, kita tak punya kesempatan untuk saling mengenal dengan sepantasnya dan aku berpikir, ah…”

“Ya?”

“Mungkin kau ingin menunggu.”

 

 

 

 

***

To Be Continued

                                                                           ***       

 

Tolong kirim kritik dan saran kalian di socmed yang tersedia.

Twitter: @diptiwys | Email: houseofallendale@yahoo.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Penulis:

Tidak bisa Online seharian karena hidup di dunia pesantren. harap maklum

25 tanggapan untuk “Private Arrangement [Chapter-Two]

  1. Aku baca komen reader yg lain. Ternyata sama hal yg aku rasain. binggung sama kata2 yg kamu pake dalam penulisan ff ini. Berat banget bahasany, aku sulit memahami, sampe berulang antar kalimat aku baca ulang baru aku sedikit paham..
    Aku tunggu kelanjutannya..

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s