Diposkan pada 123adinda

My Wife Is … ? (Chapter 3)

My Wife Is … ? (Chapter 3)

Untitled-9

Starring by :

❤ XI LUHAN

❤ SHIN NAOMI

❤ OH SEHOON

❤ KIM JONG IN

Author : @adinda_elements / Dindong Elements

Ratting : teen / pg 16

Genre  : Sweet Romance

Note : Banyak typo dan juga kata – kata yang tidak sesuai / alur yang pasaran -_- jadi mohon dimaafin yah 😀

My Wife Is … ? (Chapter 3)

‘Love ?’

RobWen 18

Preview Last Chapter :

Setibanya di areal parkiran, Naomi mendudukkan Luhan di Jok samping pengemudi. Ya, kali ini yang akan memajukan mobil adalah Naomi. mengingat Luhan sedang mabuk berat sekarang. setelah keduanya masuk ke dalam mobil, Naomi mulai menghidupkan mesin mobil dan ia terkejut ketika mendapati kepala Luhan jatuh ke pundaknya. Dengan segera mungkin, Naomi mengembalikan posisi kepala Luhan. Kemudian ia juga memasangkan sabuk pengaman pada pria itu.

“eumhh, maaf—-” Naomi menoleh kearah Luhan. Gadis itu lantas tersenyum simpul. Entah kenapa, tapi Naomi merasa kalau permintaan maaf Luhan itu ditujukan untuknya. Ya, percaya diri memang tapi apa itu salah ?

|Teaser | (Chapter 1) Let’s Laugh, Let’s Fight | (Chapter 2) This Feeling | (Chapter 3) Love ?

-Author Pov –

Naomi memarkirkan mobil Luhan di basemant apartment. Ia melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil sesegera mungkin. Kemudian, ia berjalan mengitar dan membuka pintu mobil yang berada di samping Luhan.

“apakah aku harus memapahmu ?”

Naomi menatap prihatin kearah Luhan yang sudah tak berdaya. Ya, tentu saja pria itu tak berdaya. Ia bahkan minum dengan jumlah yang luar biasa. Naomi menghela napas kemudian membuka sabuk pengaman Luhan dan setelahnya ia meletakkan lengan Luhan di bahunya. Ketika berusaha untuk mengangkat pria itu, Naomi malah merasa keberatan sehingga membuat dirinya jatuh tersungkur ke depan dengan posisi yang tak layak.

Naomi menghembus poninya sebal, ia tak menyangka badan tirus Luhan memiliki massa yang begitu berat. Dengan cepat, Naomi bangkit dan kembali berusaha memapah Luhan. Naomi mengerahkan 100 persen kekuatannya, bahkan wajahnya sudah memerah tapi Luhan tetap saja tak bergerak. Untuk sesaat, Naomi memutuskan berhenti dan ia mulai memikirkan cara lain untuk membawa Luhan masuk ke dalam apartment. Well, tidak mungkin ia dan pria itu tidur di dalam mobil. Bisa – bisa badannya remuk karena tak mendapatkan tempat yang layak untuk beristirahat.

CKITT

Naomi menoleh ke belakang dan mendapati sebuah mobil dengan kap terbuka baru saja datang. Seorang pria keluar dari mobil itu dan tanpa melirik kearah Naomi, ia lanjut saja merangkai langkah kakinya. “astaga” Naomi memukul dahinya pelan. Pria yang baru keluar dari mobil itu adalah pria yang kemarin tidak menghiraukannya sewaktu berada di lift. Fokus Naomipun terbagi dua kala itu, ia menatap Luhan dan pria dingin itu secara bergantian. Terlintas di benaknya untuk meminta bantuan si pria dingin. Tapi, bagaimana kalau ia kembali tidak dihiraukan ? Ughhh~ Naomi pasti akan merasa malu untuk kedua kalinya.

“Kenapa aku harus mengalami yang seperti ini ?” rutuk Naomi dan kemudian ia berlari mengejar si pria dingin. untung saja pria itu belum memasuki lobby apartment. Jadi, Naomi tak perlu mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlari.

“tunggu !”

Naomi mencegat pria dingin, ia bahkan berani memegang lengannya. Gadis itu kemudian tersenyum konyol ketika pria dingin menoleh ke belakang. Arah matanya yang tajam tertuju pada tangan Naomi yang melekat pada lengannya. Tau akan arah mata itu, Naomi segera melepaskan tangannya. Pria dingin hanya memutar bola matanya bosan dan berjalan kembali ke dalam lobby apartment. Naomi mendesah melihat pria dingin. ia tak tau jika pria dingin seperti itu masih hidup di zaman seperti ini.

“maaf, tapi aku perlu bantuanmu” Naomi memberanikan diri untuk menghadang pria dingin dari depan. Ia menampakkan air wajah iba, berharap pria dingin mau membantunya. Tapi ? si pria dingin malah menyuruh Naomi untuk menyingkir. Naomi mendengus. Ia tak mau menyerah. Apa yang ia inginkan harus terwujud.

“ayolah, kumohon” Naomi menangkupkan kedua tangannya. Ia benar – benar membutuhkan pria dingin untuk memapah Luhan ke apartmentnya. Pria dingin diam sejenak. Ia seperti memikirkan permohonan Naomi. Oh Ayolah, kuharap pria dingin mau menolong Naomi.

“5 menit” Naomi mengarahkan semua jari tangan kanannya. Ia hanya membutuhkan waktu 5 menit untuk memindahkan Luhan dari mobil ke apartmentnya. Pria dingin berbalik, sepertinya ia berniat untuk membantu Naomi. Senyum sumringah Naomi tampakkan dan ia langsung menggandeng pria dingin menuju mobil Luhan.

❤ ❤ ❤

Setibanya di depan pintu apartment, pria dingin menyingkirkan lengan Luhan yang berada di pundaknya. Tanpa mengucapkan apapun, pria dingin lantas pergi meninggalkan Naomi dan Luhan. Dari pintu apartmentnya, Naomi memekik menggumamkan kata ‘terima kasih’. Pria dingin tak menghiraukan ucapan Naomi, ia hanya terlalu sibuk untuk menekan kode password apartmentnya.

“Oh, jadi dia tinggal di unit 324” Naomi bergumam ketika melihat pria dingin masuk ke dalam unit 324. Setelah itu ia juga masuk ke dalam apartmentnya. Dengan susah payah, Naomi berjalan sedikit demi sedikit menuju kamar Luhan. Ia bahkan hampir berniat untuk menyeret Luhan bak pembunuh yang menyeret korbannya. Tapi, tindakan itu sepertinya tidak manusiawi. Well, setidaknya Naomi masih memiliki hati nurani. Buktinya sekarang ia sudah merebahkan badan Luhan ke atas ranjang dan ia memapah bukan menyeret.

beratmu sungguh mengerikan

Naomi menatap lurus kearah Luhan yang sedari tadi selalu saja menggumamkan kata – kata yang tak memiliki arti. Gadis itu kemudian menyingkirkan peluh yang entah sejak kapan sudah berkumpul di dahinya. Walaupun napasnya memburu seperti baru saja selesai lari marathon, tapi setidaknya Naomi bersyukur karena masih ada pria dingin yang menolongnya. Ya, walaupun hanya sampai depan. Tapi itu sudah lebih dari cukup.

Huaaa~

Rasa kantuk akhirnya melanda Naomi. badannya yang letih dan juga malam yang sudah sangat larut membuat Naomi sering menguap kala itu. Gadis itu kemudian memilih untuk membuka sepatu Luhan terlebih dahulu dan menyelimuti pria itu sebelum ia mengurus kelelahan dirinya sendiri.

Setelah selesai dengan Luhan. Naomi memutuskan untuk kembali ke kamarnya. gadis itu berbalik dan hendak memulai langkah. Tapi, pergerakannya terhenti ketika tangannya di pegang. Gadis itu langsung melirik ke bawah –tepat kearah tangannya. ia mendesah pelan sebelum meletakkan kembali tangan pria itu.

“apa kau bodoh ? bermain wanita dan minum sampai mabuk berat seperti ini. Hebat~ kau benar – benar si mesum yang menggemaskan.” Naomi berjongkok lalu mengacak poni Luhan gemas. Oh astaga, kali ini Naomi merasa kalau Luhan benar – benar pria imut nan menggemaskan. Lihatlah wajah damainya itu sangat jauh berbeda dengan wajahnya semalam yang bisa dikatakan —-mengerikan. Naomi kemudian mencubit hidung mungil Luhan pelan dan setelahnya ia pergi dari kamar itu.

❤ ❤ ❤

Pagi ini, Naomi sengaja mengatur alarm lebih cepat dari sebelumnya. Ia berniat untuk menyediakan makan pagi yang layak untuk Luhan, mengingat kemarin mereka hanya makan mie instant dan Naomi juga tak lupa untuk membuat segelas jus tomat. Kenapa jus tomat ? ya, karena ia sudah mencari – cari di internet tentang makanan yang dapat menetralkan racun dari alkohol dan yang pertama keluar adalah jus tomat.

Seraya bersenandung kecil, Naomi larut dalam kegiatan memasaknya. Ia bahkan sudah menghabiskan 1 jam waktu paginya hanya untuk mengolah bahan makanan mentah itu. setelah memasukkan wortel ke dalam panci berisi rebusan iga sapi, Naomi bergegas untuk membangunkan Luhan. Well, sebenarnya Naomi sudah melupakan kejadian ‘nakal’ Luhan malam itu. jadi, ia tak memiliki alasan untuk merasa canggung ketika berada dekat dengan pria itu.—err, tidak sepenuhnya juga.

Dengan perlahan, Naomi membuka pintu kamar Luhan. Ia menyembulkan kepalanya terlebih dahulu dan setelah itu matanya menangkap sosok Luhan yang masih bergelung dengan selimutnya. Tanpa ragu, Naomi masuk dan mendekat ke ranjang pria itu.

“Luhan, bangunlah. Luhan ?”

Naomi menggoyang – goyangkan tubuh Luhan pelan, namun pria itu malah berbalik dan semakin mengeratkan selimutnya. Naomi sebal dan menghembus poninya. Ia lalu berjalan mengitari ranjang Luhan dan kembali membangunkan pria itu dengan menggoyangkan badannya. Tapi, lagi – lagi pria itu berbalik.

Astaga’ Naomi menepuk dahinya pelan. Ia tak menyangka kalau Luhan sangat sulit untuk dibangunkan. Seperti kerbau saja –pikir Naomi. kemudian Naomi kembali ke posisi semula. Sebuah ide gila terlintas di otaknya, ia lalu mendekatkan tangannya ke pipi Luhan dan detik selanjutnya gadis itu mencubit pipi chubby tak bersalah itu.

Hei !’ Luhan menepis tangan Naomi yang ada di pipinya. Masih dengan posisi tidur, pria itu menatap Naomi. pandangannya masih kabur dan kepalanya juga terasa sedikit pusing. Butuh waktu bagi pria itu untuk mengenal Naomi yang sedang tersenyum. Karena tak percaya dengan apa yang ia lihat, Luhan bahkan mengerjap – ngerjapkan matanya tak percaya. Sungguh, apakah Naomi benar – benar berada di depannya dengan senyum sumringah sebagai ekspresinya ?

“Naomi ?” Luhan bergumam dengan aksen bertanya. Naomi mengangguk mantap.

“sejak kapan aku berada di apartment ? apa ada yang mengantarku ?” Luhan kembali melontarkan pertanyaan. Ia baru ingat tentang apa yang ia lakukan semalam. Bukankah semalam ia memutuskan untuk bermain ke club ? tapi sejak kapan tubuhnya berada di ranjangnya sendiri ? apa mungkin dia mengendarai mobil dalam keadaan mabuk ? atau apa mungkin ia diantar oleh wanita bayarannya ? entahlah, Luhan hanya menantikan jawaban Naomi.

“A~ itu—-“ Naomi memberi jeda pada perkataannya. “ada tiga wanita yang mengantarmu semalam dan mereka juga menginap disini. Kau benar – benar tak ingat ?” lanjutnya bohong. Luhan menggeleng pelan. Ia benar – benar tak ingat dengan kejadian semalam. Tapi, ia ragu dengan apa yang Naomi katakan. Apa benar yang mengantarnya adalah ketiga wanita bayaran itu ?

“ah sudahlah, kau tak perlu memikirkannya. Bagaimana kalau kita sarapan ?” Naomi mengalihkan pembicaraan, berusaha membuat Luhan untuk tidak memikirkan siapa yang mengantarnya. Bisa menjadi masalah besar nantinya jika Luhan tau bahwasanya semalam Naomi mengikutinya.

“Bisa bantu aku ?” Luhan menaikkan tangannya. meminta Naomi untuk membantunya bangkit dari ranjang. Tanpa merasa ada yang janggal, Naomi lalu menyambut tangan Luhan dan ketika ia hendak menarik pria itu. ia malah terjatuh keatas ranjang Luhan karena pria itu menariknya cukup kuat. Seertinya ia sengaja.

Deg Deg Deg

Jantung Naomi kembali berdetak dengan kencang disaat wajah Luhan yang benar – benar berada tepat di depannya. mata bulat yang besar itu menatap lurus objek di depannya. untuk beberapa saat keduanya saling tatap – menatap. “Apa kau —” Luhan menggantungkan pertanyaannya. Ada rasa ragu yang tersirat di hatinya ketika hendak melontarkan pertanyaan itu.

“A—apa ?” Naomi tergagap. Ia penasaran sekaligus takut dengan apa yang akan Luhan tanyakan. Keduanya sama – sama menatap lurus tanpa melirik ataupun menoleh kearah manapun.

“eumh—apa kau masih—- marah ?” Luhan menampakkan raut wajah khawatir. Naomi bersyukur karena apa yang Luhan tanyakan sangat mudah untuk di jawab. Well, ia sudah melupakan kejadian malam itu. Naomi kemudian menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah lengkungan bulan sabit. Dengan detak jantung yang tak karuan, Gadis itu mencubit hidung Luhan.ia bahkan tertawa keras setelahnya. Luhan yang tak tau dengan maksud dari tindakan Naomi hanya mengernyitkan dahinya.

“aku tidak suka dengan suasana kemarin. Terlalu mencekam dan membosankan. Jadi, mari kita sudahi saja” Naomi menampakkan deretan giginya yang putih itu setelah melepaskan cubitannya terhadap hidung Luhan. Akhirnya pria itu dapat mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Ya, entah kenapa tapi Luhan merasa senang ketika melihat tawa Naomi. ia bahkan tak tau jika di dunia ini masih ada wanita yang tertawa dengan tidak anggun seperti itu.

“tapi, kau belum menyelesaikan masalah yang ini” Luhan tersenyum jahil seraya menunjuk pipi, tempat dimana Naomi menamparnya kemarin. Gadis itu kemudian terdiam. Ia memberhentikan tawanya yang cukup keras itu. kemudian tangannya bergerak mendekat kearah pipi Luhan.

Deg Deg Deg

Bukan hanya Naomi yang takut suara jantungnya terdengar, namun Luhan juga. Ia juga merasa heran, kenapa jantungnya bisa berdetak secepat ini ? padahal ia sudah sering berada sedekat ini dengan gadis manapun, bahkan jauh lebih dekat. Tapi, jantungnya tak pernah berdetak secepat ini sebelumnya. Ini aneh.

BUGH

Belum juga tangannya sampai di pipi Luhan, tapi gadis itu malah melemparkan bantal yang berada di dekatnya. “Bagaimana ? apa sakitnya sudah hilang ?” Naomi menatap jahil kearah Luhan yang masih terkejut setelah mendapatkan pukulan telak di pipinya dengan bantal. Tapi kemudian, pria itu membalas dengan cara menggelitik Naomi.

“Baiklah baiklah, hentikan—HaHaHaHa— hentikan Lu !” Naomi merasa sangat geli ketika Luhan menggelitik bagian pinggangnya. Well, pinggang merupakan daerah sensitif Naomi selain leher. Keduanya tertawa keras bak anak – anak yang sedang asik bermain satu sama lain. Mereka bahkan sama – sama lupa dengan pernikahan yang sudah ada di depan mata dan tingkah mereka yang sekarang sangat jauh dari kesan dewasa.

“Hei, lepaskan tanganmu !” Luhan memukul pelan tangan Naomi yang secara tiba – tiba datang untuk mencubit perutnya.

“aku takkan—HaHaHaHa— melepaskannya sebelum kau berhenti menggelitikku” Naomi mengancam, namun tawanya belum juga berhenti. Luhan memicingkan mata, bukannya berhenti tapi ia malah semakin gencar menggelitik Naomi. tak mau kalah, Naomi juga semakin gencar mencubiti perut Luhan. Keduanya semakin larut dengan kegiatan pagi yang tak biasa itu.

Beberapa menit kemudian, keduanya setuju untuk berhenti karena rasa lelah telah menghampiri. Napas keduanya memburu seperti baru saja melakukan kegiatan olah raga berat. “Lihatlah, kau membuat perutku memerah” Luhan menggerutu seraya menyingkap kaosnya. Menampakkan perutnya yang berbentuk itu.

“Hei ! Kau Gila ? tidakkah kau menghargai ada seorang gadis disini ?” wajah Naomi memerah seketika. Ia tak menyangka jika Luhan akan menyingkap kaosnya. Dengan cepat Naomi menyuruh Luhan untuk menurunkan kaosnya lagi. Luhan terkekeh melihat ekspresi malu Naomi. ia merasa baru saja menang lotre berhadiah jutaan won ketika berhasil menggoda Naomi lagi.

“kukira kau bukan seorang gadis lagi” Luhan menatap jahil kearah Naomi.

Dahi gadis itu berkerut. “jadi ? kau mengumpamakanku sebagai seorang pria ?” tanyanya.

“tidak” Luhan menggeleng dan semakin mendekatkan badannya dengan Naomi.

“jadi ?”

“kau akan menjadi istriku” ‘Blush’ wajah Naomi bersemu merah. Ia bahkan tersenyum kecil setelah mendengar tuturan Luhan. Dengan cepat, Luhan mengecup pipi Naomi dan kemudian ia berlari dari ranjangnya. Ya, setidaknya ia ingin menyelamatkan diri dulu. Wanti – wanti kalau Naomi akan menamparnya lagi.

i—itu tadi ?’ Naomi memegang pipinya yang baru saja di cium Luhan. Ia bangkit dari ranjang Luhan. Matanya membulat sempurna dan ia merasa ada banyak kupu – kupu yang berterbangan di perutnya. Tapi kemudian—-

“Hei ! XI LUHAN ! Kau harus mendapatkan hukuman!”]

Naomi berlari mengejar Luhan. Gadis itu tersenyum simpul ketika mendapati Luhan sedang berdiri di depan kompor seraya menghirup bau sup iga sapi yang menguar. Ia kemudian menghampiri pria itu.

“merasa lapar, hmm ?”

Luhan menoleh kesamping. Wajahnya yang sekarang sangat kental akan kesan seperti orang yang sudah lama tak makan. Naomi bahkan tertawa ketika melihat wajah lucu itu. karena gemas, ia kembali mencubit pipi Luhan seraya berkata “ini hukumanmu”

“duduklah. Kurasa kau sangat kelaparan” Naomi mendorong badan Luhan untuk duduk di salah satu kursi meja makan. Ia kemudian mulai menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk makan. Setelah merasa semuanya selesai, Naomi kemudian juga ikut duduk. Ia mengambil tempat duduk yang berhadapan dengan Luhan.

“tapi, kau minum jus tomat dulu”

Luhan mengernyit. Ia menatap jijik kearah segelas penuh jus tomat itu. well, Luhan sangat tidak menyukainya jus sayur seperti tomat, wortel dan lainnya. Bukan hanya benci, tapi perutnya juga menolak untuk di beri asupan seperti itu. dulu, sekitar umurnya baru beranjak angka 7 pria itu pernah meminum jus wortel dan jus itu berakhir di taman belakang. Lebih tepatnya ia memuntahkan kembali jus itu.

“a—apa ? aku tak mau. Memang apa untungnya minum jus sayur seperti itu ?” Luhan menolak, ia bahkan memundurkan kembali gelas jus tomat itu.

Tak mau kalah, Naomi kembali mendorong jus itu supaya berada lebih dekat dengan konsumennya. “kau harus minum. Ini bisa menetralkan racun alkohol” ucapnya. Tapi, Luhan tetp saja menolak dan untuk kesekian kalinya aksi dorong dan tolak – menolak terjadi diatas meja makan. Luhan yang tak ingin meminum jus dan Naomi yang bersikukuh agar Luhan meminum jus itu. apapun alasannya, pria itu harus meneguk habis jus itu.

“baik. Bagaimana kalau kita buat persetujuan ?” Luhan menengahi dan Naomi langsung menatapnya seakan bertanya ‘persetujuan seperti apa ?

“aku akan bersedia meminum jus itu” Naomi tersenyum simpul mendengar persetujuan Luhan. Ia kemudian kembali menyodorkan jus itu. tapi Luhan mencegat pergerakan gelas jus. Tatapannya pada jus tomat masih menyiratkan kesan jijik.

“aku belum selesai bicara”

“lanjutkan” pinta Naomi. gelas jus tomat sekarang berada di tengah – tengah mereka.

“aku akan bersedia meminum jus tomat, jika kau bisa membuatku gugup” pria itu menarik sudut bibirnya –lebih tepatnya ia menyeringai. Mulut Naomi terbuka sedikit ketika mendengarnya. Membuat Luhan gugup ? bagaimana caranya ? padahal yang biasanya membuat situasi gugup adalah pria itu sendiri. Tapi sekarang ?

Hei, Naomi bahkan tak memiliki banyak pengalaman dengan pria. Jadi, bagaimana caranya ? mencari di internet bukanlah solusi untuk kali ini. Bertanya ataupun menelfon seseorang juga bukan jalan keluar. Arghh~ tapi bagaimanapun juga Luhan harus meminum jus tomat itu. gadis berumul 20 tahun itu berpikir sebentar, ia menatap Luhan secara keseluruhan. Meneliti apa yang membuat pria itu gugup. Sementra Luhan ? pria itu sangat senang dengan persetujuan yang ia buat sendiri. Jangankan Naomi, ia sendiri bahkan tak tau sesuatu yang bisa membuatnya gugup.

“Apa aku boleh melakukan apapun ?” Luhan mengangguk. Mengiyakan apa yang Naomi Tanya. Kemudian gadis itu membentuk sebuah seringaian di wajahnya. Ia lantas menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Luhan. Alangkah terkejutnya pria itu akan tindakan mendadak Naomi. matanya yang telah bulat itu semakin bulat tatkala melihat wajah Naomi yang semakin dekat. Untuk kedua kalinya, jantung Luhan berdetak kali lebih cepat dari biasanya.

Jarak wajah mereka hanya beberapa centi sekarang. Naomi sudah memejamkan matanya dengan posisi miring 34o. detak jantung Luhan semakin cepat. Ia bahkan tak tau jika wajahnya sudah memerah. deruan napas yang awalnya teratur, sekarang telah memburu bagaikan bunyi cerobong kereta api.

“Baik, aku menyerah” hampir saja mereka berciuman, tapi Luhan telah lebih dulu menyerah. Ia tak menyangka jika pergerakan mendekat yang lambat seperti tadi bisa membuatnya gugup setengah hidup. Naomi kemudian memundurkan wajahnya. Ia tak menyangka jika salah satu adegan yang ada di dalam drama bisa ampuh menaklukkan pria mesum seperti Luhan. Gadis itu kemudian kembali menyodorkan segelas jus tomat dengan senyum kemenangan tercetak di wajahnya.

Luhan mengambil alih gelas jus tomat. Tangannya yang tirus itu bergetar. Naomi yang melihat hanya bisa terkekeh, ia heran kenapa Luhan begitu takut dengan jus tomat. apa mungkin ada masa lalu yang suram tentang jus tomat ? Ah sudahlah, yang jelas pria itu mau minum jus tomat sekarang.

“Ayo diminum. Apa perlu kubantu ?” Naomi memainkan alisnya jail. Entahlah, ketakutan Luhan yang sekarang begitu asik untuk dilihat. Fokusnya bahkan tak pernah berpindah kelain tempat. Ia benar – benar menantikan saat dimana Luhan meminum jus itu.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Luhan meminum jus itu dan hebatnya ia menghabiskan jus tomat dalam sekali minum. Naomi bertepuk tangan tanda senang. Tapi kemudian dahinya berkerut. Wajah Luhan berubah pucat. Bibir mungilnya yang semula berwarna merah, sekarang berubah menjadi putih. Gadis itu lantas mendekat pada Luhan.

“kau baik – baik saja ?” Luhan menoleh pada Naomi yang telah berada di sebelahnya. Pipinya yang tirus itu menggembung. Sepertinya pria itu akan muntah beberapa saat lagi.

“lebih baik kau muntahkan di wastafel !” Naomi menarik Luhan dan kemudian mendorong kepala pria itu agar menghadap wastafel. Di detik berikutnya, Luhan benar – benar memuntahkan jus tomat itu. Naomipun menggosok – gosok punggung pria itu. wajahnya benar – benar khawatir.

“ambilkan aku tissu” Luhan menyuruh Naomi. gadis itu mengangguk dan langsung mengambil apa yang pria itu suruh. Naomi kembali dengan sebungkus tissue di tangannya. Luhan mengambil tissue itu dan ia membersihkan mulutnya yang kotor.

“kenapa kau memuntahkannya ? apa kau alergi jus tomat ?” baru saja Luhan menegakkan kepalanya, namun Naomi telah lebih dulu melontarkan beberapa pertanyaan padanya. Luhan menggeleng dan kembali menghapus sisa muntahan yang berada di sudut bibirnya.

“aku tak tau, hanya saja aku merasa mual jika minum minuman seperti itu” Luhan bersandar pada wastafel dan Naomi mengikutinya.

“kau aneh. minum minuman alkohol kuat tapi minum segelas jus tomat saja muntah. Sungguh memilukan” Naomi menggeleng pelan dan detik berikutnya ia mendapati pukulan pelan terhadap kepalanya. Ia menatap Luhan yang merupakan dalang di balik insiden pemukulan itu.

“maaf” Naomi menampakkan raut wajah bersalah. “kalau begitu, ayo kita makan” lanjutnya dan langsung berjalan menuju meja makan –lagi.

❤ ❤ ❤

HaHaHaHa~

Naomi dan Luhan tertawa lepas ketika sedang asik mencuci piring. Mereka bahkan memainkan busa sabun yang banyak itu. lihatlah sekarang, wajah mereka berdua sungguh putih dan berbuih karena tertutup oleh busa.

Ting Nong’ Itu suara bel. Naomi dan Luhan menghentikan aksi mainnya dengan busa sabun. Mereka lalu berlari menuju pintu depan untuk membuka pintu. Luhan memutuskan untuk membuka pintu dan ketika pintunya terbuka mata keduanya terbelalak kaget. Mereka mendapati ayah dan ibu Luhan berada di sana.

“Ayah ? Ibu ?”

❤ Shin Naomi Pov ❤

“Ayah ? Ibu ?” Luhan tampak terkejut ketika mendapati ibu dan ayahnya berada di depan. Akupun juga begitu, tapi sesaat kemudian kubungkukkan badanku sebagai tanda hormat. Mereka membalasnya dan Luhan langsung menyuruh kedua orang tuanya masuk.

Dengan sopan, Luhan menyuruh kedua orang tuanya duduk di sofa ruang tamu. Sementara aku dan Luhan sengaja mengambil tempat duduk di bawah mereka. Ya, kami melakukannya untuk meninggikan yang lebih tua.

“tunggu sebentar. Kurasa I—ibu dan A—ayah merasa haus. Aku akan mengambil minuman dulu.” Entah mengapa, tapi aku merasa gugup ketika melontarkan kata ayah dan ibu. Aku pamit ke dapur dan dari telingaku, aku mendengar Luhan memulai pembicaraan dengan ayahnya.

Setibanya di dapur, aku segera menyiapkan segala sesuatu untuk diberikan pada ayah dan ibu Luhan. Kurasa segelas teh hangat untuk keduanya bisa ku hidangkan. Ya, kuharap mereka bisa menikmatinya.

Ketika sedang menyeduh teh, aku dikejutkan oleh kedatangan ibu Luhan. Wanita paruh baya itu menepuk bahuku pelan sehingga membuatku sedikit terlonjak. Aku menoleh dan wanita itu merekahkan senyum manisnya.

“bagaimana Luhan ? apa dia baik padamu ?” itulah yang ibu Luhan tanyakan padaku. Akupun mantap menjawab dengan sebuah anggukan. Wanita paruh baya itu mengangguk – angguk dan membentuk huruf o dengan mulut mungilnya. Oh, lihatlah dia. Pantas saja anaknya cantik. Ternyata keturunan ibu.

“rasa takutku begitu kental ketika menerima terror itu.” Ibu Luhan kembali berbicara. Aku menoleh dan menatap ibu Luhan. Raut wajahnya yang semula ceria berubah menjadi murung kala itu. senyumnya yang manis itu tak lagi tercetak di wajah oval itu.

“terror ? maksud bibi ?”

Ibu Luhan menarik udara sekilas sebelum melanjutkan ucapannya. “6 bulan yang lalu, suamiku menerima telfon misterius. Orang itu mengancam akan membunuh Luhan jika suamiku tidak memberikan sejumlah uang padanya. suamiku tidak percaya dengan ancaman seperti itu. jadi, dia tidak memberikan uang itu.” Ibu Luhan menyeruput teh hangat yang baru saja selesai kuseduh.

“lalu ?” kumiringkan tubuhku menghadap Ibu Luhan. Ia tersenyum kecut. Tatapannya lurus menatap air teh yang tergenang di cangkir mungil itu. sepertinya ada sesuatu di balik tatapan itu.

“ancamannya ternyata tidak main – main. Sudah 4 bulan terakhir ini Luhan selalu mengalami kejadian yang hampir merenggut nyawanya. Perampokan, menabrakkan diri, kecelakaan bahkan wanitapun menjadi media mereka untuk mencelakai Luhan.” Mataku terbelalak kaget mendengarnya. Semua kejadian itu bahkan terdengar sangat sadis, tapi beruntungnya Luhan bisa selamat. Sungguh luar biasa. Tapi, kenapa pria itu tidak pernah merasa terancam ? kehidupan bebasnya bahkan sangat susah untuk di hentikan.

“jadi, aku disewa untuk mencari tahu siapa penelfon misterius itu ?”

“bukan hanya itu, kau juga harus menangkapnya dan juga mencari tahu motif dibalik terror itu.” aku mengangguk. Oh, baiklah. Sekarang aku mengerti apa tugasku. Menangkap penelfon misterius dan melindungi pria mesum ? sepertinya itu terdengar mengasikkan.

“tapi, bagaimana dengan acara pernikahan ? apa aku harus me—me.” Lidahku terasa kelu ketika hendak mengatakan ‘melaksanakannya’. Aku juga tak tau, kenapa lidahku bisa menjadi kelu seperti ini.

Ibu Luhan menoleh padaku. Senyum manis itu akhirnya mengisi wajah cantiknya. “setidaknya kau harus melakukannya supaya bisa selalu berada dekat dengannya.”

Kugigit bibir bawahku kemudian. Masih ada satu pertanyaan yang mengganjal di hatiku dan kalau tidak kutanyakan, misi yang sedang kujalani bisa saja gagal. Kutatap Ibu Luhan dengan ragu, apa aku harus menanyakan ini ?

“emhh, Bibi. Bagaimana jika aku benar – benar menyayangi—-”

“kenapa lama sekali ?” pertanyaanku belum selesai, namun Luhan telah lebih dulu datang. Ia bahkan dengan seenaknya memeluk pinggangku. Apa dia gila ? melakukan hal seperti ini di depan ibunya sendiri. Heol~ akal sehatnya pasti sedang dipinjam seseorang. Ibu Luhan hanya tertawa kecil seraya mengacak rambut anaknya gemas. Ekspresi macam apa itu ?

“aigo, kalian cocok sekali. Ayo kita ke depan.” Ibu Luhan pergi lebih dulu ke depan, meninggalkanku dan pria mesum berdua di dapur dengan posisi seperti tadi.

“Hei, lepaskan ! apa kau tidak malu pada ibumu sendiri ?” kupukul tangan Luhan yang melingkar di perutku. Pria itu terkekeh, kemudian melepaskan pelukannya.

“apa yang kau bicarakan dengan ibuku ?”

“tidak ada.” Kutinggalkan Luhan dengan pertanyaannya itu. ia kemudian menyusulku dan membantu membawa nampan berisi teh. Untuk sesaat, aku merasa senang karena tingkah Luhan sangat manis. Tapi, dilain sisi aku dicambuk sebuah rasa takut. Takut dengan perasaanku sendiri. Bagaimana jika nantinya aku jatuh cinta pada Luhan ?

❤ Author Pov ❤

Jarum pendek jam dinding sudah menunjukkan angka 7 dan disaat itulah kedua orang tua Luhan memutuskan untuk pulang. Naomi dan Luhan mengantar sampai areal basement dan ketika mobil bermerkan merchandise itu melesat pergi, keduanya kembali ke apartment.

Setibanya di dalam apartment, Luhan mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu sementara Naomi lanjut melangkahkan kakinya hingga dapur. Gadis itu kemudian mengambil sebuah bungkusan yang terlihat seperti mangkuk dan setelah itu, ia kembali berjalan menuju depan.

“kau mau kemana ?” Luhan bertanya karena Naomi tampaknya hendak pergi membawa sebuah bungkusan. Gadis itu berbalik dan menjawab ingin memberikan bungkusan itu. tanpa menunggu balasan Luhan, ia langsung saja melanjutkan jalannya.

dia mau kemana ?’ Luhan memicingkan matanya. baru kali ini Naomi keluar membawa bungkusan. Apa dia sedang menyembunyikan sesuatu ? itulah pertanyaan yang terngiang – ngiang di otaknya. Karena tak mau menerka – nerka, Luhan memutuskan untuk mengikuti Naomi supaya jawaban dari pertanyaannya bisa menemukan jawabannya dengan pasti.

❤ ❤ ❤

Naomi menggigit bibir bawahnya ketika hendak menekan bel pintu unit 324. Kalian tau itu unit siapa ? ya, itu adalah unit tempat tinggal pria dingin. Naomi kemudian menoleh kearah bungkusan yang berisi sup iga sapi yang sedang ia pegang. Ia bermaksud untuk memberikannya pada pria dingin dengan maksud sebagai ucapan terima kasih.

Dengan perasaan ragu, Naomi akhirnya menekan bel itu. entah sejak kapan, keringat dingin mulai memenuhi dahinya. Ia bahkan merasakan gempa skala kecil. Ia takut, takut kalau pria dingin tak membukakan pintu. Padahal, ia hanya ingin mengucapkan terima kasih dengan berbagi sup iga.

Sudah lebih dari 5 menit Naomi menunggu di luar unit 324. Ya, sebenarnya yang salah adalah dirinya sendiri. Seharusnya, Naomi menekan kembali bel itu setiap 20 detik sekali jika pintu belum dibuka. Tapi, gadis itu malah memilih untuk menekan sekali saja dan kemudian menunggu.

apa aku harus menekan bel lagi ?’ itulah yang terlintas di hatinya. gadis itu kemudian kembali menekan bel unit 324 dan akhirnya pintu itu terbuka. Menampakkan sosok seorang pria tampan. Tapi, wajah ini bukanlah wajah pria dingin. Naomi kemudian kembali mengecheck nomor unit apartment itu untuk mengetahui apa ia salah atau tidak.

“siapa ?” tanya pria itu.

“eumhh, aku Naomi. Shin Naomi. aku tinggal di unit 327. Apa kau penghuni unit ini ?” Naomi bertanya dengan nada pelan. Pria itu kemudian tersenyum ramah dan jujur, senyuman itu sangat bercahaya di mata Naomi.

“aku Jong In dan ya, aku penghuni unit ini.” Naomi menepuk dahinya pelan. Jika dilihat dari nomornya, unit ini merupakan unit yang dimasuki pria dingin. tapi, kenapa Jong In yang keluar ? apa mungkin pria dingin pindah unit semalam ? ah~ itu tidak mungkin. Bukankah terlalu cepat baginya untuk pindah ?

“maaf, aku mungkin salah.” Naomi memutuskan untuk pergi dari hadapan Jong In. ya, walaupun belum banyak bicara dengan Jong In tapi gadis itu merasa malu.

“Hei, tunggu ! apa mungkin kau mencari Sehun ?” Jong In menahan tangan Naomi. gadis itu kemudian berbalik dan melebarkan senyumnya. Ia lalu kembali ke tempatnya semula –tepat di hadapan Jong In.

“bagaimana ciri – cirinya ?” mata Naomi berbinar – binar. Berharap ciri – ciri pria bernama Sehun itu mirip dengan pria dingin.

“dia tinggi, putih, tampan. Tapi tidak lebih tampan dariku dan yang terpenting ia tak banyak bicara.” Penjelasan Jong In membuat Nomi yakin kalau pria dingin adalah Sehun. Gadis itu kemudian memberikan bungkusan sup iga sapinya pada Jong In. alis pria itu bertaut, ia bertanya – Tanya kenapa Naomi memberikan bungkusan itu padanya.

“jadi begini. Temanmu Sehun, membantuku semalam dan aku hanya ingin berbagi makanan dengannya. Ya, sebenarnya aku ingin membalas tindakan baiknya.” Jong In mengangguk lalu merekahkan senyum manisnya. Sumpah demi apapun, senyum Jong In sangat manis. Sikapnya yang sopan membuat Naomi terkesan dengannya.

“apa aku juga boleh mencicipinya ?” Jong In menaik dan turunkan alisnya. Naomi terkekeh pelan dan menjawabnya dengan sebuah anggukan.

“selamat malam dan maaf sudah mengganggumu.” Naomi pamit dan Jong In kembali membalas dengan senyuman. Oh astaga, kenapa pria itu harus tersenyum ? tidakkah dia tau betapa tersiksanya Naomi karna harus memendam sikapnya yang bisa saja salah kala itu. gadis itu mengangguk lalu berjalan pergi meninggalkan Jong In.

“Sejak kapan Sehun mau membantu orang lain ? tidak biasanya.” Jong In bergumam sendiri. Ia kemudian masuk ke dalam apartmentnya dan juga Sehun.

❤ ❤ ❤

“kau darimana saja ?”

Baru juga sampai, tapi Naomi telah lebih dulu mendapatkan pertanyaan dari Luhan. Gadis itu kemudian menatap Luhan aneh. ada yang aneh dari pria itu. nada pertanyaannya sangat tajam, seperti membutuhkan jawaban yang benar – benar pasti. Tatapan matanya juga tajam, tak seperti sebelumnya.

“aku dari unit sebelah. Memberikan sup iga buatanku.” Melihat tingkah aneh Luhan, Naomi memutuskan untuk langsung masuk ke dalam kamarnya. tubuhnya merasakan aura aneh yang menguar dari pria itu. Perasaannyapun tak enak.

“kau hebat. Mendapatkan pria dalam waktu yang pendek.”

Naomi menghentikan tangannya yang hendak membuka kenop pintu kamarnya. ia kemudian menoleh dan menatap Luhan seakan menanyakan ‘apa maksudmu ?’. Luhan yang mengerti dari arti tatapan Naomipun bangkit dari duduknya. Ia kemudian berjalan mendekati gadis itu. setibanya di dekat Naomi, Luhan menyenderkan punggungnya ke dinding. matanya melirik kearah gadis disampingnya.

“kau, ingin memberikan supmu atau ingin berkenalan ? ah benar, kau ingin menggodanya, hmm ?” Luhan menyipitkan mata seraya mencondongkan wajahnya pada Naomi. ia bertanya bak polisi yang ingin meminta penjelesan terhadap tersangka. Naomi yang baru mengetahui maksud dari perkataan Luhan langsung terkejut. Ia lalu mendorong wajah Luhan yang mendekat.

“aku hanya ingin berterima kasih. Apa itu salah ?” Naomi kini membalas Luhan. Gadis itu meletakkan kedua tangannya di bawah dada. Ia menatap Luhan dengan tatapan menantang. Jika saja ada efek grafis, mungkin sudah ada kilat yang menyambar- nyambar di tengah mereka.

“berterima kasih ? untuk apa ?”

“berterima kasih untuk—-” Naomi menghentikan ucapannya. Ia baru teringat bahwasanya Luhan tak tau jika ia dan Sehun yang membawanya pulang. Gadis itu kemudian menoleh kesamping. Ia memikirkan jawaban apa yang harus di berikan.

“katakan saja kalau kau—” ketika Luhan hendak menyerang Naomi lagi, ia terhenti di pertengahan. Naomi telah lebih dulu memotongnya.

“kenapa sikapmu seperti ini ? kau bersikap seolah – olah sedang cemburu. Apa itu benar ?”

Skak mat untuk Luhan. Matanya terbelalak kaget dan mulutnya gagu untuk menepis apa yang Naomi tuduhkan padanya. Cemburu ? entahlah, tapi Luhan merasa sedikit ‘aneh’ pada hatinya ketika melihat Naomi memberikan sup iga sapinya pada pria yang ada di unit 324. Ia bahkan kesal ketika melihat Naomi terlihat malu – malu di depan pria itu.

“ah benar. kau cemburu padaku, hmm ?” Naomi menunjuk Luhan dengan telunjuknya. Air wajahnya terlihat sungguh menyebalkan sekarang jika dilihat dari pandangan Luhan. Senyumnya yang jahil itu juga ikut ia persembahkan.

“tidak tidak. Untuk apa aku cemburu pada gadis sepertimu.” Luhan memilih untuk pergi dari hadapan Naomi. ia tak tau ingin berkata apa lagi jika masih berada di depan gadis itu. semua ocehannya hilang seketika disaat Naomi menuduhnya cemburu.

“dia kenapa ? aku bahkan hanya asal tebak.” Naomi menggeleng pelan dan memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya.

❤ ❤ ❤

—- kau bersikap seolah – olah sedang cemburu—-

Luhan mengacak rambutnya kesal ketika perkataan Naomi kembali berdengung di telinganya. Ia menatap langit – langit kamarnya dan entah sejak kapan bayangan wajah Naomi sudah ada di sana. Pria itu kemudian mengerjapkan matanya, berusaha menghilangkan khayalan itu.

“kenapa aku seperti ini ?”

Luhan mendengus sebal akan perasaannya sendiri. Ia menghela napasnya cukup keras sehingga menimbulkan bunyi. Pria itu kemudian menoleh kearah pintu kamarnya. kejadian malam itu kembali teringat olehnya. Kejadian dimana terjadi keributan besar. Kejadian yang meninggalkan bekas di pipinya.

Kemudian pria itu menoleh kesampingnya, ia tersenyum ketika mengingat kejadian pagi ini. Kejadian dimana tawanya sangat lepas dengan gadis itu. kejadian dimana ia melupakan jati dirinya yang seorang player dan cassanova. Ia bahkan baru tau kalau kebahagiaan yang sebenarnya itu bukan hanya mencari perhatian orang lain. Kuncinya hanya tertawa dan nikmati apa yang ada.

“apa aku bahagia denganmu ?”

Luhan bertanya pada langit – langit kamarnya. ia menatap sesuatu tak memiliki nyawa itu lamat dan ia tertidur sebelum mendapatkan jawaban atas berbagai pertanyaan yang melanda otaknya.

❤ ❤ ❤

“Sehun, kau sudah pulang. Kenapa cepat sekali ?”

Jong In yang sedang menonton televisi menoleh kesamping dan mendapati teman apartmentnya baru pulang. Tak respond yang diberikan atau lebih tepatnya Sehun tak menjawab, ia hanya menatap Jong In sekilas dan kemudian pria itu masuk ke dalam kamarnya. Jong In mendengus lalu mengikuti Sehun.

“Hei, ada gadis yang mengantarkanmu makanan. Apa kau ingin memakannya ?”

Sehun baru saja hendak menukar bajunya, tapi Jong In malah menanyakan sesuatu yang tak penting. Pria itu lagi – lagi menatap Jong In dan kali ini ia menjawab dengan sebuah gelengan. Jong In yang melihat itu mengangkat bahunya pelan dan itu berarti sup yang Naomi berikan tadi bebas untuknya. Pria berkulit tan itu mulai merajut langkahnya menuju dapur. Tapi, pergerakannya berhenti seketika. Ia berbalik lagi dan melontarkan pertanyaan yang lain pada tean apartmentnya.

“Bagaimana keadaannya ?” Sehun menoleh kearah Jong In ketika pertanyaan itu tertangkap oleh indera pendengarnya. Wajahnya yang datar itu berubah murung seketika. Ia kemudian mengangkat sedikit sudut bibirnya. “kenapa kau ikut campur dalam urusanku ? kau sendiri bahkan belum menemukan apa yang sedang kau cari.” Ucapnya dengan nada sinis.

Jong In berdecak kesal. Tangannya sudah terkepal dan ia berniat untuk melayangkannya pada Sehun.

Bugh

Pukulan Jong In tepat mengenai pipi kanan Sehun. Bibirnya bahkan mengeluarkan darah. Sehun yang tak terima akan perlakuan Jong In, membalas apa yang ia lakukan dan alhasil kedua pria tampan itu sama – sama memiliki luka lebam di pipi masing – masing.

Sehun kembali tersenyum sinis. “bukankah kita sepakat ? urusanmu adalah urusanmu dan urusanku adalah urusanku.” Jong In mendesah dan kemudian pergi meninggalkan kamar Sehun.

❤ See You Next Time ❤

Hai, dina kembali ^_^

Kali ini, saya punya berita untuk kalian.

Jadi gini, saya ingin hiatus selama 2 atau 3 bulan.

Kenapa ? ya, karena saya ingin menganalisis, menciptakan ide dan memperbaiki kosa kata hingga narasi cerita yang tidak baku.

Dilain sisi, saya juga mau intropeksi diri.

Saya tau kalau readersdeul nganggap saya egois dan untuk kali ini..

Kali ini saja, saya mohon pada readersdeul semua yang baca ff ini untuk mengisi kotak komentar dan tidak menjadi sider di chapter ini. readersdeul terserah ingin komentar apapun.

Saya berharap komentarnya bisa kembali stabil seperti semula *hanya harapan. Kalau lebih juga gak papa 😀 tapi, semua tergantung readersdeul. Saya hanya bertugas membuat fanfic 😀 dan saya harap, kalian bisa suka dengan fanfic saya ^_^

Alasan utama saya ingin hiatus adalah karena ‘terjadi penurunan jumlah komentar yang signifikan

Mungkin ini terdengar mendadak,tapi saya sudah memutuskannya cukup lama.

Maaf

Maaf

Maaf

Maaf

Makasih untuk kalian yang sudah mau memaafkan saya ^_^

Well, di chapter ini kalian suka bagian yang mana ?

Me : waktu XiMi kayak anak kecil di kamar Luhan 😀 itu lucu bingit ^_^

Makasih perhatiannya dan sekali lagi,

Jangan jadi sider pelis 😀

Oke ? Annyeong ^_^

Ps : rencananya next chapter itu ada romance + action. Naomi bukan main tonjok aja, tapi di chapter selanjutnya dia bakalan bawa pistol. Untuk apa ? haha, kita tunggu jumlah komentarnya naik dulu 😀

Iklan

Penulis:

A Girl who love her Mother and Father ^^ A Girl who claim Byun Baekhyun to be her Husband

297 tanggapan untuk “My Wife Is … ? (Chapter 3)

  1. Anyeong New Readers Imnida *Bow 90 Derajat
    Aku Bru Nemu Ni FF Krna Iseng ” Ngetik FF My Wife Eh Yg Mncul ini..Keren Bnget Cma Koreksi Dkit…Bhsa nya Udh bgus..cma yg kurang tu Author POV Sma Cast POV nya Nga Ad Jdi Readers nya jdi Bngung ini Yg ngomong Siapa itu aja sih dri aku…
    oh Ya aku izin baca Previous Chapter nya

  2. sehun sekmar jong in. tp knp mr k smpe tonjok tonjkn gt y. bingung dgn mslh mrk apa sih.???
    ah aku senang dsn naomi mulai akrab sm luhan. ah sprtx mrk mulai slg munyukai

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s