Diposkan pada Fanfiction

Can You Hear My Heart??

kolon-sport-2

Tittle            : Can You Hear My Heart??

Author        : Khaerisma

Length       : Oneshoot

Genre         : romance, school life, sad, confused

Rating        : General

Cast                        :

–        Lee Junghee (OC)

–        Oh Sehun a.k.a  Sehun

Other Cast : find it by your self

 

Please to comen after/before reading this fanfiction

 

Note : FF ini sequel dari I… I confused

 

 

-Happy Reading-

tiga bulan pun berlalu dengan aku yang masih menjadi yeojachingunya. Aku senang sekali, bahkan tidak percaya bisa menjadi yeojachingunya. ya, walaupun sudah tiga bulan, aku tetap saja tidak percaya. Umur kami terpaut sembilan tahun. Karena itulah aku selalu berpikir-pikir, apakah aku pantas memiliki namja yang umurnya saja selisih sampai 9 tahun.

 

Aku kadang bertanya, ‘Oppa.. apakah tidak terlalu banyak selisih umur kita? Sembilan tahun loh..’ kataku padanya lewat SMS.

 

Yah,, Oppa. Panggilan oppa kudapatkan tidak sengaja. Sebelumnya.. aku hanya memanggilnya Sehun. Setelah itu Oppa. Memang, aku ragu kalau besok aku akan menikah dengannya.

 

Umurku 15 tahun, jika selisih sembilan tahun, otomatis umurnya 24 tahun. Waw.. cukup tua bukan? Aku saja tidak percaya. Aku berpikir, dengan aku yang masih duduk di bangku High School, dan dia yang sudah University namun memutuskan untuk bekerja saja. Aigoo,, dia sudah siap untuk menikah, sedangkan aku? Aku masih harus sekolah ke jenjang yang lebih tinggi dan tinggi lagi.

 

Aku pernah menghitung-hitung kapan aku siap. Dan ternyata.. masih sembilan tahun lagi? Aigoo masih lama.. itu berarti umurku 24 tahun dan dia? 32 tahun. Apa itu tidak terlalu tua?

 

Dia pun menjawab, ‘tidak. Itu malah bagus. Buktinya aku saja masih terlihat muda daripada para yeoja seumuranku. Iya tidak.’

 

‘iya sih’ jawabku singkat. Tapi aku tidak bisa berhenti disini saja masih ada banyak yang aku ingin tanyakan padanya tentang kepastian, ‘Oppa kan bisa mencari yeoja lain. Kasihan Oppa harus menungguku sembilan tahun kedepan’

 

‘aku akan menunggumu sampai hari itu tiba. Meski 1.000 tahun kedepan.’ Katanya, ya, perkataan itu dilebih-lebih kannya.

 

‘aku takut kehilangan oppa suatu hari nanti. Bagaimana kalau kita putus? Bagaimana kalau orang tuaku tahu semua ini dan akhir-akhirnya putus juga? Aku tidak mau kehilangan oppa.’ Kataku, sebenarnya, ini ungkapan hatiku yang tidak mau kehilangan dia.

 

‘kita tidak tahu kedepannya, saeng-ii. Kita hanya bisa berusaha. Aku akan berusaha untuk mempertahankanmu. Sekuat tenaga.’ Katanya.

 

‘aku sayang oppa.’ Kataku padanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

‘saeng-ii, ayo kita jalan-jalan. Sudah lama kita tidak jalan-jalan.’ Katanya mengajakku.

 

‘mwo? Baru 1 bulan kemaren jalan-jalannya. Dan sekarang minta lagi? Aigoo…’ kataku menjawabnya

‘1 bulan itu lama. Lagi pula aku kangen denganmu, saeng-ii.’ Katanya

 

‘Memangnya oppa sudah tahu tempatnya?’ tanyaku.

 

‘sudah.’ Jawabnya

 

‘baiklah..’ kataku menyetujuinya.

 

Ya, aku memang suka jalan-jalan. Tapi.. jika terlalu sering jalan-jalan dengannya bagaimana kalau lama kelamaan ketahuan oleh orang tua ku? Bisa-bisa aku putus dengannya. Jika aku selalu menolak, aku tidak tega dengannya yang selalu meminta jalan-jalan itu. Bisa-bisa dia sedih gara-gara aku. Maka dari itu aku menyetujuinya.

.

.

.

.

.

.

Saat waktu itu telah tiba.

 

Sebenarnya.. hari ini ada latihan bersama teman-temanku urusan sekolah. Tapi.. dari pada tidak ada waktu lain.. sebelum teman-teman tiba, aku ppergi dengan oppa. Ya.. sepedaku kutinggalkan ditempat temanku, hingga aku harus membuat alasan kenapa sepedaku ada disini dan aku tidak ada. Alasannya adalah ada urusan penting dengan kakaknya, supaya meyakinkan, sepedanya ditinggalkan disini kalau aku pasti akan kembali. Begitulah alasanku.

 

Aku dijemput dirumah temanku. Dan saat di perjalanan.. aku bersyukur mempunyai namjachingu seperti dia. Kadang, aku mencium aroma khas nya saat aku bersamanya. Aroma itu memang aromanya hingga aku saja ingin memiliki aroma itu.

 

Mengenakan masker ungu, jaket hitam, tas hitam, serta helm hitam membuatnya tampak begitu gemuk. Tapi.. jika kau melihatnya saat tak menggunakan itu semua, kau akan melihatnya berbadan kurus cungkring berkulit putih dan tentunya begitu tampan dimataku.

 

Yah,, naik turun jalan yang berliku-liku. Layaknya melewati hutan yang rimbun namun ini adalah jalan nya. Jalan naik tak masalah untukku. Ya,, sepanjang perjalanan itu.. terlalu banyak jalan menanjak. Karena tempat ini adalah daerah pegunungan.

 

Setelah sampai.. aku lega. Namun, ternyata harus tetap menggunakan motor untuk ke suatu tempat, yah, aku tidak tahu. Karena ini baru pertama kalinya aku kemari, di kebun buah suatu daerah. Dan jalan pun semakin tinggi dari pada yang tadi di perjalanan.

 

Setelah sampai ke tempat yang dituju oleh oppa, aku turun. Dan mulai mengikuti oppa dari belakang. Yah, sekarang aku dan oppa berada di taman yang tidak dibilang asri. Kata oppa, tempat ini dulu saat dia datang kemari, banyak tanaman yang berbuah tapi tidak boleh dipetik. Tapi tempat ini sekarang hanya berwarna hijau daun dengan tanah coklat dan waduk (?) yang sudah tidak digunakan lagi.

 

Aku dan oppa duduk di sebuah bangku panjang yang terbuat dari batang bambu menghadap waduk tersebut. Yah, walaupun begitu, aku masih saja belum bisa mendekat, ada jarak diantara kita.

 

“sini, ku foto kamu.” Begitulah katanya memutuskan keheningan diantara kita.

 

“tidak ah. Aku malu. Oppa duluan aja.” Kataku menolak.

 

Setelah perkataan itu, benar saja, dia berfoto ria sendiri dengan kameranya. Aku dibiarkannya sendiri bermain handphone yang kubawa.

 

Eh,, dia langsung pergi ketempat lain setelah foto ria itu tanpa mengajakku dulu. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya , jadi, aku hanya duduk diam menyaksikannya. Dan ternyata,,dia menyadarinya. Oppa pun berbalik dan mengatakan “ayo’’ padaku tanpa merangkulku.

 

Berjalan mengelilingi waduk tak terpakai itu. Aku melihat ada kapal bangau yang rusak tenggelam serta air yang kumuh. Berkeliling, dengan aku yang berusaha mengimbangi langkah kakinya yang begitu cepat. Terkadang, aku sampai tertinggal jauh karena nya.

 

Berhenti di jembatan dekat waduk tersebut. Aku duduk dan oppa berdiri berfoto lagi. Aku hanya duduk memandang oppa yang berfoto bersama waduk dan juga melihat handphone jika ada masalah dengan teman-temanku yang ada di rumah temanku.

 

Cpreett.. betapa terkejutnya aku, ternyata aku difoto olehnya. “Oppa!” kataku terkejut.

 

“hehehe, makannya mau difoto. Dari tadi aku tawari foto enggak mau kamu.”

 

“o- oke.” Kataku ragu dan mulai difoto. Cpreet

 

“foto in aku disini.” Katanya menyerahkan kameranya ke aku.

 

Aku menerimanya. Oppa siap dengan posisinya yang berjongkok disudut jembatan. Aku berpikir, bagaimana kalau aku dorong dia ke belakang, pasti dia akan tenggelam di waduk ini. Aku hanya bisa tertawa dalam hati.

 

Cpreet. Aku memfotonya hanya badan dan wajahnya saja. Air diwaduk itupun hanya sedikit. Aku memutar kameranya memperlihatkan foto tadi dan….

 

“pemandangannya juga difoto. Bukan hanya aku saja. Supaya membuktikan kalau aku sedang disini bersamamu.”

 

“ada-ada saja oppa ini. Oke lah.” Kataku langsung memfotonya tanpa aba-aba.

 

Aku dan oppa pun sibuk dengan handpone masing-masing beberapa menit. Dan setelah oppa selesai mengurusi handphone nya, oppa berkata, “dulu, saat aku kemari. Aku naik ke sana.” Kata oppa menunjukkan suatu tempat yang tinggi dengan jalan yang begitu rumit.

 

“benarkah? Disana ada apa?” tanyaku.

 

“ayo..” ajaknya lalu pergi tanpa meninggalkanku lagi, ya, karena dia menggenggam erat tanganku waktu itu. Berlari menaiki bukit, karena aku tidak mau ketinggalan, aku berlari lebih cepat dengannya dan akhirnya aku mendahuluinya.

 

“aku duluan..” ejekku karena aku yang berlari lebih cepat.

 

“oh ya? Aku bisa lari lebih cepat darimu.” Kata oppa. Memang benar, dia lari lebih cepat dengan melepaskan genggaman tangan kami. Dan aku pun tertinggal jauh olehnya.

 

“oppa, sudah. Aku capek.” Kataku memelankan langkahan kakiku diikuti langkah kaki oppa yang berhenti.

 

“sampai disini saja Oppa. Aku capek. Tak tahan.” Kataku dengan raut mukaku yang berkeringat.

 

“kamu disini dulu, aku mau kesana melihat pemandangan.” Katanya menunjukkan tempat yang bisa dibilang, didekatnya ada jurang.

 

“hati-hati oppa. Nanti kalau jatuh gimana.” Kataku agak takut kalau oppa jatuh ke bawah sana.

 

“iya, jangan khawatir.” Jawabnya yang masih berjalan di terjalan itu.

 

Aku duduk di batu hitam besar yang bisa untuk ku buat duduk disana. Menantikannya selesai berfoto ria dengan alam. Menyejukkan badanku dengan angin yang berhembus kesana kemari yang terasa sejuk.

 

“kau diam disitu dan aku foto kamu. Bagus jika kamu ku foto begitu.” Katanya melihat aku duduk santai diatas batu besar nan hitam itu.

 

“ah, baiklah..” kataku setuju.

 

Oppa pun memotret ku. Dan cpreeet. “tunggu dulu. Diperbesar pasti lebih bagus.” Katanya dan cpreet, memotoku.

 

“bukannya sudah?” tanyaku.

 

“tadi saeng-ii keliatan kecil. Mukamu ga keliatan.sekarang kan mukamu yang cantik itu keliatan, saeng-ii.”.

 

“oppa. Jangan begitu ah.” Kataku malu-malu.

 

Setelah foto tersebut, oppa pun kembali. “mau ke atas lagi atau turun?” tanyanya.

 

“turun saja. Aku sudah tidak kuat lagi.”. “oke.” Katanya setuju dan kami pun bergandengan tangan lagi menuruni bukit itu.

 

Karena aku memutuskan untuk mengikuti dibelakangnya, oppa pun mempercepat langkah kakinya menuju ayunan berhadapan itu. Oppa duduk di ayunan tersebut dan aku berdiri disamping ayunan. Masih ada rasa something jika aku duduk disampingnya terlalu dekat seperti itu.

 

“sini.” Ajaknya supaya aku duduk disisinya tapi aku menggeleng dan bilang, “aku disini saja.” Ucapku. Dia hanya berdiam setelah aku menjawab seperti itu dan memutar beberapa lagu di handphonenya.

 

Ayolah.. aku tidak mau membuat oppa seperti ini, dia begitu kecewa dengan jawabanku yang tadi..

.

.

.

.

“oppa, aku duduk dimana? Disana atau disini?” tanyaku. Disana yang kumaksud berhadapan dengan oppa, dan disini yang kumaksud berada disamping oppa dengan jarak yang amat dekat. Bahkan bisa menyentuh kulitnya.

 

“disini saja.” Katanya yang kulihat ada senyum diwajahnya dan juga mematikan lagu yang dimainkannya.

 

“tidak disana saja?” tanyaku.

 

“disini saja, cukup kok.” Katanya lalu sedikit bergeser memberiku ruang untuk duduk di dekatnya.

 

Ber ayun-ayun.. ya begitulah suasanaku saat ini. Oppa dan aku tidak ada yang berbicara, hanya mengayunkan ayunan dengan kaki kami hingga begitu cepatnya aku sampai tidak kuat dengan kecepatan ini, ingin bilang kalau mengayunnya terlalu cepat, namun tidak ingin berbicara.

 

“ayo kita foto berdua.” Ajaknya.

 

Tanpa menunggu aku menjawab dahulu, dia sudah menyiapkan kameranya menghadap ke kami berdua. Merangkul kepalaku supaya aku mendekat kepadanya. Sontak saja, ini bukan diriku yang sebenarnya. Aku selalu menolak seorang laki-laki seperti ini, bahkan berpegangan tangan saja aku tidak mau. Yah,, entahlah,, jika aku menolaknya, aku tidak ingin mengecewakannya, jadi,, aku beranikan dengan detak jantungku ini yang semakin berdegup kencang.

 

Cpreet. Aku hanya senyum. Cpreet, cpreet, dan cpreet… hingga beberapa kali. Rangkulan yang terasa di kepalaku ini semakin lama semakin erat saja saat berfoto. Sebenarnya aku ingin sekali melepaskan rangkulan tangannya ini.. tapi.. entahlah, tanganku ini tidak berani menyentuh tangannya dan menyeretnya melepaskan rangkulan ini. Aku hanya bisa senyum saja saat ini.

 

Dan akhirnya.. selesai sudah berfotonya. Oppa pun melepas rangkulannya. Oppa memperlihatkan foto tadi, dan ternyata.. oh tidak! Semuanya jelek. Aku terlalu erat dirangkul. Hanya satu yang bagus dengan aku yang tidak dirangkul dan.. dipojok. Aigoo..

 

“oh iya. Oppa.. kenapa mereka menggunakan motor dan mobil kesana? Memangnya ada apa disana?” tanyaku melihat beberapa kendaraan melewati taman ini. Aku kira hanya sampai di taman ini, dan ternyata masih ada diseberang sana.

 

“tidak tahu. Dulu aku tidak sampai sana. Ayo pulang. “ ajaknya keluar dari ayunan tersebut dan menuju ke sepeda motornya diikuti dengan diriku yang berada dibelakangnya. Aku menyiapkan handphoneku untuk memotret nya diam-diam. Dan.. ternyata berhasil dengan dia yang menghadap kemari dengan sepeda motornya. Yah,, biasanya aku hanya bisa memotretnya dari belakang.

 

Saat aku sudah siap untuk pulang, ternyata hati oppa berkata lain dan bicara padaku, “kita coba kesana dulu.” Katanya begitu. Aku hanya menurut saja karena aku hanya membonceng nya.

 

Yah, jalan semakin terjal dan tentunya semakin menanjak naik. Aigoo, kakiku semakin kupaksa berpegangan semakin erat pada tempatnya. Yah,, aku tidak berani berpegangan padanya, hanya berani berpegangan pada tas hitamnya saja dan belum cukup untuk menahan semua ini.

 

Setelah dirasa cukup, kami turun dari kendaraan tersebut. Dan melihat pedagang keripik kentang disana.

 

“beli dua.” Kata oppa membeli keripik kentang tersebut. Oppa pun merogoh saku nya dan ternyata… tidak ada money disana.

 

“tunggu sebentar. Mungkin disini.” Kata oppa menuju ke sepeda motornya, membuka jok yang ada dimotornya dan walla, ada uang nya.

 

“aku lupa kalau menaruh uangnya disana.” Kata oppa munuju kemari lalu membayarnya.

 

“ini.” Kata oppa memberikan keripik kentang itu padaku.

 

“ah,, gomawo oppa. Aku mengganti berapa?” tanyaku. Aku tidak ingin merepotkan oppa karenanya.

 

“ani. Tak usah membayar.” Kata oppa.

 

“ah… gomawo.” Kataku.

.

.

.

Kami duduk di seberang sepeda motor, menyaksikan pemandangan yang begitu indah. Ya, aku memang tidak pernah kemari. Tapi aku sudah pernah melihat pemandangan seperti ini setiap tahun, karena setiap aku berkunjung serta pulangnya ke rumah nenekku, aku selalu melihat pemandangan ini.

 

“aku tidak pernah kemari. Pemandangannya bagus yah.. sawah terasering dan pegunungan yang berjejeran seperti itu begitu menawan.” Kata oppa yang sepertinya memang baru pertama kali ini melihat pemandangan alam seperti ini.

 

“ne.” Jawabku. Memang indah. Walaupun pernah berkali-kali aku melihat seperti ini, namun suasananya berbeda. Sebab, hari ini di sini, melihat pemandangan alam ini, bersama Oppaku tersayang.

 

“foto aku disini dengan pemandangan menakjubkan ini.” Perintah oppa memberikan kameranya padaku lagi.

 

Entahlah, aku tidak tahu kapan dia siap untuk difoto kali ini. Sebab, oppa selalu saja menggerakkan tangan dan kepalanya saat aku bersiap memfotonya. Daripada menunggu lama, langsung saja kufoto. Cpreet, dan sepertinya kedaan di foto ini kurang baik, jadi, kufoto lagi saja dia. Cpreet, kedua kalinya.

 

“sudah belum? Kok lama.” Katanya yang tidak menyadari aku memfotonya dua kali.

 

“udah kok. hehe” Kataku memberikan kameranya pada oppa.

 

“gantian kamu yang kufoto.” Kata oppa.

 

“ne. Disini?” tanyaku, aku tidak tahu posisi mana yang bagus untukku berfoto.

 

“terserah. Disitu juga bagus.” Dan cpreet.

 

“sudah yuk. Dah siang.” Kata oppa mengajak pulang. Bukankah tadi juga sudah mau pulang? Malah pergi kesini.

 

Yah, kami kembali menyusuri jalan bebatuan yang menurun. Dan posisi dudukku pun terus saja maju kedepan, semakin mendekati posisi oppa.

 

Pernah sekali, karena aku tidak bisa menahan supaya posisi dudukku tidak maju kedepan, aku ternyata maju kedepan terlalu dekat dengan oppa. Ya, saat itu tas punggung oppa berada didepan. Sehingga, aku menempel pada punggul oppa. Betapa  malunya diriku.. aku tidak pernah melakukan hal seperti ini walaupun tak kusengaja. Dan aku hanya tertawa lirih karena itu.

 

“ada apa?” tanya oppa yang sendang menyetir itu mendengar suara tawaku ini.

 

“ani.” Kataku.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Mwo? Mampir makan lagi? Bukankah sudah kubilang aku tidak ingin mampir makan lagi setelah kita jalan-jalan oppa? Begitulah ocehanku didalam hati setelah oppa memampirkan kami ke sebuah rumah makan.

 

“oppa, bukankah aku sudah bilang?” kataku agak cemberut. Ya, itu karena mampir makan lagi.

 

“aku lapar.” Katanya.

 

“oh.” Kataku. Pasti tadi pagi oppa belum makan. Pantas saja kalau tadi sempat sakit perut.

 

.

.

.

.

.

Rumah makan [Skip]

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

“gomawo oppa.” Kataku setelah sampai di rumah temanku.

 

“ne.” Kata oppa lalu pergi menjauh.

.

.

.

“annyeong.. mian menunggu. Apa aku terlambat?” tanyaku kepada teman-teman yang telah berada dirumah Hyora, temanku pemilik rumah ini.

 

“terlalu terlambat, Hee-ah. Sudah selesai dari tadi.” Kata temanku Yeorin. Yah, ucapan ini membuatku menjadi merasa bersalah karena seperti mengejekku.

 

“ah, mian. Aku tidak sengaja. Tadi ada urusan.” Kataku merasa bersalah sekali.

 

“urusan apa? Pacaran?” tanya Yeorin padaku. Jelas-jelas ini membuatku muak. Ya, dia langsung terang-terangan bicara seperti itu padaku langsung.

 

“bukan!” kataku menjawabnya.

 

“sudahlah.. kita beritahu saja hal-hal yang harus dia lakukan .” kata Hyora menghiburku.

 

“iya. Nanti kamu yang beritahu ya..” kata Minri.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

‘oppa, mian kalo tadi aku masih belum seperti yang oppa harapkan.’ Kataku.

 

‘tidak apa kok.’ Katanya.

 

‘oppa,, apa oppa bisa mempertahankanku selama itu?’ tanyaku

 

‘semua itu kehendak tuhan, saeng-ii. Kalau besok kita akhirnya berpisah, itulah takdir kita.’ Kata oppa.

 

‘tapikan takdir bisa dirubah, oppa. Kalau kita berusaha.’ Kataku.

 

‘iya sih. Hehe.’ Jawab oppa.

 

‘kalau misalnya besok aku sekolah asrama di seoul bagaimana oppa? Apa oppa akan mencari yeoja baru?’ tanyaku.

 

‘tidak lah. Aku kan sudah punya kamu.’

 

‘tapi.. bisa saja oppa memutuskanku dan mencari yeoja baru.’

 

‘ani. Seorang namja yang mencari yeoja dan tak berhak memutuskannya, dan seorang yeoja yang mau atau tidaknya bersama namja dan berhak memutuskan namja itu kapanpun. Sepertiku, aku tidak berhak memutuskanmu kau yang berhak memutuskanku.’

 

‘tapi.. aku tidak beranii memutuskan.’ Kataku. Ya, aku takut kalau hanya menyebabkan patah hati pada orang yang kuputuskan.

 

‘berarti kita akan berpacaran selamanya.’

 

‘hehehe.’ Jawabku mengakhiri percakapan kami lewat SMS karena sudah malam.

.

.

.

.

.

.

.

‘oppa, aku takut kalau appa dan eomma ku tahu dan memutuskan kita.’

 

‘daripada seperti itu.. lebih baik kita sampai disini saja.’ Apa? Oppa memutuskanku? Bukankah oppa sendiri yang bilang kalau hanya aku yang bisa memutuskannya?

 

‘oppa.. benarkah itu?’ tanyaku tak percaya.

.

.

.

.

.

.

.

Omo! Aku ketiduran. Bagaimana balasannya tadi malam?, oh ini dia, ‘aku tidak mau kau dimarahi oleh eomma dan appamu, saeng-ii.’

 

Mwo? Jadi.. mulai saat ini oppa dan aku sudah putus? Apakah ini kenyataan? Aku masih belum bisa membiarkan ini semua.

 

‘jadi,, kita sudah putus yah..’ ucapan hatiku itu terus saja bernaung berulang-ulang tanpa henti. Aku tidak berani menangis, karena,, aku tidak boleh menangis. tapi.. entah air mata ini tidak ingin ku cegah keluar, yang ada hanyalah air menggenang dikelopak mataku tanpa menetes.

 

Hingga sampai sekolah dan masuk kedalam kelas pun, air mataku masih saja menggenang. Hingga akhirnya aku menempati bangku Hyora, dan bicara padanya, “aku putus.” Air mataku yang menggenang itu tumpah diiringi suara tangisanku yang lirih dan juga aku menutup wajahku dengan melipat kedua tanganku, menundukkan kepalaku, dan menenggerkannya di meja.

 

‘hiks.. hiks.. hiks..’ begitulah dengan Hyora yang mengelus-elus pundakku agar aku berhenti menangis. namun, usahanya sia-sia karena aku tidak berhenti menangis. hingga akhirnya banyak yang mengetahui kalau aku menangis. ada salah satu teman namja ku yang berkata, “Junghee menangis kah?” begitulah.

 

Entah, karena bel berbunyi, tangisanku mereda seketika. Namun, masih saja hatiku bertanya-tanya, ‘apakah aku putus dengannya?’

 

“sudahlah Hee-ah. Namja selain dia masih banyak didunia ini.” Kata Minjung, teman sebangkuku.

 

“ne. Tapi aku masih tidak percaya akan hal ini, Jung-ii”

 

“benarkah? Bagaimana bisa kau putus dengannya?” tanya temanku Inji yang sebangku dengan Hyora, dan tepat dibelakangku.

 

“ne. Tadi malam.”’ jawabku

 

“yang sabar ya Hee-ah.” Kata Inji

 

Ya, Minjung, Inji dan Hyora adalah teman dekatku, bisa dibilang kalau kami ini bersahabat. Aku selalu cerita tentang semua masalahku kepada mereka. Karena aku yakin kalau aku bercerita masalahku, aku akan menemukan solusi dari mereka. Tapi.. jika masalah ini tak pantas dibicarakan, aku hanya cukup memendamnya dalam-dalam.

 

“aku akan mencoba bicara lagi dengannya nanti.” Kataku memastikan benar atau tidaknya.

.

.

.

.

.

.

‘oppa, apakah tadi malam benar apa yang oppa katakan?’

 

‘menurutmu?’

 

‘aku tak tau oppa.’

 

‘aku hanya bercanda. Kan aku sudah bilang kalau kaulah yang berhak memutuskanku. Aku tidak berhak, saeng-ii.’ Apa? Jadi.. itu hanyalah candaan? Apa gunanya tangisanku itu? Oppa, kenapa kau sampai seperti ini?

 

‘mwo? Bercanda? Kenapa? Oppa sampai membuatku menangis tau.’

 

‘benarkah? Aku hanya mengetesmu kemarin.’

 

‘jangan buat aku menangis lagi, ne?’

 

‘ne, saeng-ii’

.

.

.

.

.

.

.

‘saeng-ii, ayo kita jalan-jalan..’ gerutunya lagi.

 

Aish,, jijja? Baru tiga minggu sudah ingin jalan-jalan lagi? Aku menjawab, ‘baru tiga minggu sudah ingin lagi?’

 

‘hmm.’ Katanya. Sungguh, kalimat ini yang membuatku merasa jengkel sekaligus merasa bersalah.

 

‘baiklah.. besok sehari sebelum ujian.’ Kataku.

 

‘oke.’

.

.

.

.

.

‘oppa, besok aja ya, ada urusan nih,’ kataku, ya.. itu karna ada pertunangan didekat rumahku yang mengharuskan aku tidak bisa pergi.

 

‘hmmm.. baiklah..’

 

‘lagian juga belum ada tujuannya kan?’ tanyaku memastikan.

 

‘sebenarnya sih.. sudah..’

 

‘oh,, mian oppa.’

.

.

.

.

.

.

.

aku pernah bilang kepada oppa, kalau oppa boleh bilang kalau kita pacaran, itu karena oppa yang merasa terbebani karna hubungan rahasia ini. Asalkan appaku tidak mengetahuinya, oppa boleh bilang. Aku sempat berfikir, dulu, bukankah harus rahasia? Tidak boleh diketahui orang-orang? Dan oppa setuju? Tapi.. sekarang,, oppa malah merasa terbebani. Aku bingung dengan sifat oppa.

 

Sewaktu aku pulang dari club,, saat sampai rumah,, tiba-tiba appa bilang, “Hee-ah, tarus tasmu, dan duduk disini. Jangan tapi-tapian.’’

 

“ah,, baiklah appa.” Jawabku. Ya, aku langsung menaruh tasku itu, lalu duduk sesuai yang diperintahkan appa.

 

“Junghee,, kamu ngapain sama Sehun?” tanya oppa.

 

Mwo? Dari mana appa tahu? “m-maksud appa?”

 

“kau pergi jalan-jalan dengan Sehun kan? Appa tahu semuanya.” Aku hanya diam saja. Menunduk kebawah.

 

“appa kira hanya sms saja. Ternyata sampai jalan-jalan. Ya tuhann..” kata appa mengelus-elus dadanya.

 

“tapi, appa….” kataku mulai mengeluarka air mata.

 

“cukup! Besok, appa akan ke rumah Hyora!”

 

Aku hanya diam dan mengeluarkan air mata terus menerus.

 

“menangis untuk semua ini tu tidak ada artinya.. menangislah karena tuhan, Junghee…” kata eomma menambah.

 

Aku hanya ingin kebahagian. Tak pernah kah kalian sadari kalau aku ini ingin pergi jalan-jalan? Hanya itu… saja yang kalian kunjungi. Tak pernah ketempat lain. Oppa itu mengabulkan keinginan ku sebenarnya, apa kalian tak menyadarinya??

 

“kau kan sudah tau, jalan-jalan berdua itu tidak diperbolehkan. Peluk-pelukan, bergandengan, sentuhan saja tidak diperbolehkan.” Kata appa.

 

Ya tuhan… appa.. ini semua tak seperti yang kau bayangkan. Aku bahkan diam saja, tak berpelukan, bergandengan dan bersentuhan pun tak berlama-lama.

 

“Kau mendengarkan appa atau tidak, Junghee?” tanya appa melihatku seperti tak mempedulikannya.

 

“n-ne.” Kataku. Jika saja aku bisa menjelaskan apa yang ku inginkan pada Appa. Tapi.. pasti appa dan eomma tidak peduli dengan keinginanku.

.

.

.

.

.

.

.

.

Aku hanya bisa menangis semalaman. Dan mendengarkan appa dan eomma berbicara mengenai diriku kalau akan pergi ke rumah Hyora, mencari Sehun, dan masih banyak lagi. Ini masalahku, jangan disangkut pautkan dengan yang lainnya appa, eomma. Biarkan aku saja yang menjalani ini semua, Oppa dan Hyora tidak salah. Appa… eomma…

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

‘oppa, tadi aku dimarahi appa dan eomma.’ Kataku mengobrol dengan oppa.

 

‘mwo? Dimarahi? Kenapa?’ tanya oppa.

 

‘appa dan eomma sudah tau kalau kita pacaran. Kata appa juga, mencari oppa tapi sepertinya oppa menghindar terus dengan appaku.’

 

‘iya, saeng-ii. Tapi bukan menghindar karena oppa takut. Tapi malu dilihat orang-orang. Apa aku ke rumah kamu dan ngejelasin semuanya sama Appa Eomma kamu ya?’

 

‘jangan oppa. Aku gak mau. Biarin aja lah.’

 

‘oh, ok.’ Jawabnya mengakhiri perbincangan kami hari ini.

.

.

.

.

Paginya

 

Appa ku pergi kerja. Hari ini, hanya aku dan eommaku yang berada di rumah. Aku juga masih terbawa emosi. Seketika itu,, aku tiduran di kasur empukku. Sempat untuk kepikiran mandi dulu, namun tertunda-tunda karna kemalasanku dan masih emosi.

.

.

.

Terdengar suara motor yang berhenti di depan rumahku. Sebenarnya aku bisa melihat siapa itu, namun, masih saja aku malas. Langkahan kakinya menuju rumahku dan,,

 

‘’tok-tok-tok-tok… permisi…’’ kata orang itu yang ternyata tamu di rumahku. Ogah ah membuka pintu itu, nunggu in eomma saja.

 

Dan dibukalah pintunya oleh eomma. Duduk di ruang tamu. Kamarku ini hanya bersebelahan dengan ruang tamunya. Jadi.. aku bisa mendengar percakapan mereka walaupun lirih.

 

Ah.. tamu eomma seperti biasanya rupanya, memperbaiki kompor. Sudah ah,, lanjutkan aja tidurannya.

 

‘’appa nya ada?” tanyanya

 

“tadi baru aja berangkat kerja.”

 

“oh,, begini bu, saya kan dicari appa nya di sekolah.. saya ga mau nemuin appanya itu nanti dikira ada masalah, ga sopan, malu, dan lain-lainnya, yang penting ga enak bu. Maksud kedatangan saya kemari itu mau minta maaf karna telah mengganggu anak ibu.” Hmmm? Siapa dia? Suara nya kok mirip… oppa! Untung saja aku ga jadi mandi, apa membuka pintunya, untung saja….

 

Aku melihat motornya yang dia parkirkan di depan rumah. Dan ternyata benar. Dia sehun oppa. Ya ampun oppa, bukannya sudah aku suruh untuk membiarkan saja? Oppa..

 

“maaf ya,, Junghee itu harus memikirkan sekolahnya dulu sampai tuntas. Ga boleh pacaran dulu. Sepupunya dulu juga sampai-sampai nikah muda dan belum menuntaskan sekolahnya. Saya ga mau hal ini terjadi pada Junghee, biarkan dia konsentrasi dengan sekolahnya, jangan yang lainnya.’’ Kata eomma sembari menangis.

 

“maaf ya bu. Saya ga bermaksud seperti itu. Ya sudah bu, saya mau kerja dulu, takutnya nanti terlambat.”

 

“ne. Silahkan.”

 

Oppa pun pergi meninggalkan rumah. Eomma pun berjalan menuju kamarku, membukanya, dan berkata, “kamu tau siapa yang datang tadi itu?” kata eomma yang masih menangis.

 

“ani. Aku kan tadi tiduran.” Kataku berbohong. Eomma pun pergi tanpa mengatakan sekatah kata apapun setelah itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

‘oppa,, kenapa oppa melakukan semua ini?’ tanyaku

 

‘ini semua demi kebaikan mu saeng-ii.’

 

‘tapi oppa,, aku tak mau berpisah denganmu.’

 

‘tak akan. Biar eomma mu tak suka, appa mu juga melarang. Biarkan bumi menolak ku tetap cinta kamu.’

 

‘ini ambil dari lagu ya, oppa?’ kataku curiga. Karna, oppa selalu menggunakan lirik lagu untuk bicara hal-hal yang berkaitan dengan lagu itu.

 

‘hehe, iya, saeng-ii.’

 

‘sudah kuduga. Kenapa sih oppa menyukaiku? Kan masih ada banyak yeoja yang juga menyukai oppa.’

 

‘oppa mencari yeoja yang menyukai oppa dan oppa yang menyukai yeoja itu. Itulah kamu.’

 

‘tapi.. apa bagusnya aku.’

 

‘kamu itu manis, seng-ii. Cantik, tembem juga pipi kamu.’

 

‘oh, gitu. Makasih ya oppa.’ Kataku. Sebenarnya, aku tak suka dengan pujian itu, oppa menilaiku secara fisik. Agamaku, sifatku, oppa tak memujinya. Bukankah walaupun fisiknya bagus, tapi saat tua besok tetep aja dah ga seperti sekarang.

.

.

.

.

.

.

.

Dan lama kelamaan, kami pun sudah jarang sekali mengobrol, bahkan sms pun tidak. Harus aku yang selalu memulainya. Padahal, dulu, dulu, dulunya itu selalu Sehun yang memulainya.

 

‘oppa, kenapa oppa sudah jarang ngobrol denganku?’

 

‘aku tak enak dengan appa dan eomma mu, saeng-ii.’

 

‘apa hubungan kita sudah putus oppa?’

 

‘lebih baik seperti itu, daripada kamu dimarahi terus.’

 

‘berarti kita sudah putus?’

 

‘ne. Itu yang terbaik buat kamu.’

 

‘yang terbaik untukku? Yang terbaik untukku itu tetap bersama oppa, bukan seperti ini.’

 

Dan oppa pun tak pernah membalas pesan yang kukirim untuknya.

 

Beberapa hari pun berlalu, dengan aku yang masih saja terus memikirkannya. Setiap saat aku melihatnya, itu justru membuatku merasa sedih. Sebaliknya, jika aku tak melihatnya, aku juga justru ingin melihatnya. Entah apa yang aku inginkan.

 

Bar tiga minggu lamanya, ada sebuah informasi dari dirinya yang disebarkannya dari jejaring sosial yang membuatku semakin bersedih hati. Pasalnya, aku selalu berharap Oppa akan kembali denganku namun,, ternyata Oppa sudah menemukan yeoja baru. Ya tuhan.. kenapa semua ini terjadi? Aku kira, ini akan menjadi yang pertama dan terakhir bagiku untuk mempunyai namjachingu. Dan ternyata, hanya membuat seorang mantan namjachingu saja.

 

‘selamat ya Hunnie,’ kataku, aku tak mau menambah kan kata ‘mempunyai yeoja baru’, itu hanya akan membuatku kembali lagi terhanyut kedalamnya saja.

 

Namun, lagi-lagi juga tak dibalasnya. Apa yang sedang dipikirkannya? Kenapa oppa tak mau mambalas? Sekali saja tak pernah. Ayolah..

.

.

.

.

‘chanyeol,, kenapa ya? Baru aja putus langsung deh punya pacar baru.’ Tanyaku pada teman baikku yang kadang,, bisa memberiku saran tertentu, ya, walaupun dia itu namja.

 

‘hmm? Biasa, namja memang suka seperti itu.’ Katanya. Apa? Biasa? Baru saja pisah 2 bulan kurang aja itu biasa?

 

‘biasa apanya? Baru aja 2 bulan kurang dah punya pacar baru. Apa itu biasa?’

 

‘kalau itu sih.. berarti dia sudah punya lirikan saat masih bersamamu.’ Jadi.. sehun memang playboy ya..

 

‘jadi.. itu artinya.. sehun memang tak menyukaiku dari dulu. Pantas saja selalu dia mengatakan kalau takdir, takdir, dan takdir terus.

 

Aku suka terdiam sendiri. Jarang tersenyum mulai saat itu. Hanya kebisingan hati yang ada dalam diriku. Tak mau semuanya terulang kembali. Akhirnya, kuhapus semua foto kenangan darinya. Mengingat tempat rekreasinya saja, sudah membuatku tak karuan. Aku hanya tak percaya, dulu kau sudah meyakinkanku menungguku 9 tahun, dan sekarang, kau pergi meninggalkanku begitu saja? Dan kau.. bukankah dulu kau sudah berjanji tak akan membuatku menangis lagi? Tapi ini, aku menangis dengan derasnya karena perbuatanmu, oppa.. Kau curang, oppa.

.

.

.

.

.

Aku mulai terjun ke dunia yang ku cita-citakan sejak kecil. Namun, ini agak sedikit bebeda. Memang, aku mencintai negaraku sendiri, namun sejak aku masih kecil, aku selalu bermimpi untuk tinggal di negara sebelah, jepang namanya. Memang, aku sudah menyukai manga dari dulu, namun aku mencoba terjun ke anime sejak aku masih berpacaran dengan oppa. Itu sukses membuatku merasa senang saat tak ada oppa pun.

 

Ya, saat aku berpisah dengannya. Aku akan terjun ke dunia maya saja, bersama teman-teman dunia mayaku yang lebih ramai dari pada di dunia nyata. Aku telah belajar banyak hal dari sana yang semakin hari semakin tenggelam ke dunia itu. Itu juga dapat membuatku lupa dari masalah yang kualami dulu, bersama Sehun.

 

Terkadang, aku juga ingin sekali sms dengannya. Ku beranikan diri menulisnya. Pertama.. nomer teleponnya. Yah, aku memang sudah hapal dengan nomernya, sekalipun nomer itu di hapus.. aku tetap saja mengingatnya. Malahan,, kadang aku tak sengaja menulis nomornya karna nomerku dan nomernya pada awal-awalnya sama.

 

‘Hunnie,, ayo kita baikan.’ Kata ku. Ya, mulai sekarang, aku memanggilnya Hunnie kembali. Aku tak mau memanggilnya Oppa karna sepertinya panggilan Oppa itu spesial untukku.

 

‘maaf saeng. Ga bisa sekarang.’ Katanya. Hunnie, apa kamu kira Balikan? Kalau balikan itu memang aku sudah tak mau, (walaupun terkadang masih ingin).

 

‘Hunnie.. Baikan sama Balikan itu beda lho. Lagian juga ak dah ga mau kok.’ Kataku.

 

‘oh, hehe. Iya saeng.’ Katanya. Ya ampun.. kenapa jawabannya selalu singkat? Padahal, aku saja menulis banyak tapi jawabannya singkat? Inilah yang tak kusukai dari nya.

.

.

.

.

Butuh waktu berbulan-bulan pula supaya aku bisa melupakannya dengan tenang. Dan karena aku terjun ke dunia anime itulah, aku menemukan orang yang kusukai kembali, dia adalah seorang namja. Yah, memang namja, karna.. teman-temanku di dunia maya kebanyakan namja. Namun, aku tetap saja berdiam diri, tak mau hal seperti itu terjadi lagi. Cukup dengan teman-teman dunia maya ini saja yang aku butuhkan. Mereka selalu saja menghiburku, tak tahu seberapa senangnya saat aku berteman dengan mereka semua.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

END

Cukup sekian saja yah.. ff ini adalah kisahku dengan beberapa perubahan sedikit. Mianhae kalo ff ini sangat kurang sempurna. Gomawo…

Iklan

Penulis:

Tidak bisa Online seharian karena hidup di dunia pesantren. harap maklum

6 tanggapan untuk “Can You Hear My Heart??

  1. masih TBC ya thor?
    yah…kirain udahan,,,hehehe….
    ceritanya bagus kok thor tapi labih bagus lagi kalo kata2 nya ga terlalu baku,,,hehehe,,just my opinion 🙂
    keep writing ya…
    gomawoyo…

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s