We’ve Fallen in Love – Part 4

WVFIL POSTER

Title : We’ve Fallen in Love – Part 4

Author : Charismagirl

Main Cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri

Support Cast :

  • Park Chanyeol | Ahn Sungyoung | Do Kyungsoo | Lee Jinhee
  • Byun Family | Park Family

Rating : PG-13, Teen

Length : Chapter

Genre : Romance, Friendship, Family.

Cr poster : zhrfxo

Link : Prolog | 1 | 2 | 3 | 4

Note : Do not copycat without my permission. Enjoy the story ^^/

“Apa kau menyukaiku?”

“Eh… tidak–tentu saja tidak.”

***

Dengan langkah pelan, Baekhyun masuk ke dalam kamar itu. Dia berdiri disana cukup lama, untuk sekedar memperhatikan cara Minri tidur, cara dia bernapas dan cara dia tersenyum dalam tidurnya.

Baekhyun merasa ada debaran aneh dalam dadanya. Menatap Minri terlalu lama berpotensi memberikan gangguan pada sistem di tubuhnya. Dia meletakkan tangan kanannya ke dada kiri, bibirnya bergumam pelan, “kenapa?”

PART 4

Minri mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum dia mendudukkan diri dengan tiba-tiba. Dia ketiduran–baru menyadari setelah tidak ada bocah manis bernama Hansoo di samping tempat tidurnya. Hanya tersisa botol susu Hansoo dan boneka rilakumanya.

Kemana anak itu?

Minri sempat berpikir bahwa Hansoo turun sendiri dari tempat tidur lalu merangkak entah kemana. Atau bisa jadi dia diculik alien luar angkasa yang sedang mengincar anak-anak–oh tidak, fantasinya terlalu tinggi.

Gadis itu segera turun dari tempat tidur, mencari-cari Hansoo ke seluruh sudut ruangan di kamarnya. Dia membuka pintu kamar mandi –tidak ada siapapun disana. Minri menengok ke bawah kolong tempat tidur, ibunya pernah bercerita kalau waktu kecil, Minri pernah tertidur disana. Dan lagi-lagi dia tidak menemukan apapun.

Dengan setengah berlari, dia keluar dari kamar. Kepanikan mulai menyergap saat dia tidak mendengar suara apapun. Karena selain Hansoo, Baekhyun juga tidak ada. Apa sekarang aliennya juga menculik lelaki seumuran Baekhyun?

“Baekhyun!” jerit Minri saat dia berada di ruang tengah. Dan sekali lagi, tidak ada siapapun disana.

Jantungnya berdegup kencang. Memang wajar kalau Minri mengalami hal tersebut karena dia telah berlari. Namun apakah Minri boleh berkata bahwa dia sedang mengkhawatirkan Hansoo dan juga Baekhyun?

Pintu utama rumah itu menarik perhatiannya. Jika tidak ada di dalam, berarti mereka di luar, Minri meyakinkan dirinya. Dengan langkah terburu-buru dia menuju pintu lantas membukanya.

Bahunya merosot. Dia bahkan merasa tubuhnya akan meleleh di lantai marmer sebentar lagi.

Mereka tidak apa-apa. Tidak ada alien yang menculik mereka–eh, berhentilah berfantasi yang tidak-tidak Park Minri!

Baekhyun sedang memegangi Hansoo yang berdiri. Anak itu melangkahkan kaki dengan langkah mungilnya. Sepertinya Baekhyun sedang mengajari anak itu berjalan. Mereka berdua manis sekali jika bersama-sama seperti itu!

Baekhyun mendongakkan kepalanya saat menyadari bahwa Minri memperhatikan mereka di depan pintu. Dia sempat menangkap senyuman di bibir gadis itu–tanpa tahu apa maknanya.

Minri segera mengalihkan pandangannya pada Hansoo, lantas menghampiri anak itu. Minri jongkok di depan Hansoo–mengambil alih bocah kecil itu dari tangan Baekhyun. Dan Baekhyun membiarkannya.

“Apa Hansoo sudah lama terbangun?” tanya Minri.

“Tidak. Dia bangun tepat saat aku memeriksa ke kamarmu.”

“Syukurlah,tidak ada tragedi jatuh dari ranjang.” Minri mendesah lega. Gadis yang tadi bilang tidak ingin ikut campur sekarang bersikap seolah dia adalah ibunya. Manusia memang sulit diprediksi.

“Aku masuk dulu,” ujar Baekhyun lalu beranjak dari duduknya. Dia menolehkan kepala ke halaman rumah saat sebuah mobil yang dikenalinya berjalan semakin mendekat, lalu berhenti di depan teras.

Ayah Hansoo–Luhan.

“Hansoo-ya…,” panggil Luhan dengan suara yang cukup nyaring.

Minri menoleh ke sumber suara, lalu berdiri dengan menggendong Hansoo di tangannya.

Luhan menghampiri mereka dengan setengah berlari. Dia memeluk Hansoo sebentar dan mencium kedua pipinya, membuat anak itu mengerutkan hidungnya lucu. Lalu Luhan membawa Hansoo ke dalam gendongannya.

“Ah, anak Appa pintar sekali.” Seru Luhan.

“Paaa paaa….” Hansoo berceloteh sambil menggapai wajah Luhan.

“Akhirnya kau datang Hyung.” Baekhyun menghela nafas pendek.

“Aku ucapkan terimakasih untukmu dan kekasihmu, Baek.”

Hyung!” Baekhyun meninggikan nada suaranya membuat Minri sedikit berjengit. “Dia bukan–”

“Ah, kita belum berkenalan.” Luhan mengulurkan tangan kanannya yang bebas. “Aku Luhan, sepupu tertua Baekhyun.”

Wajahnya masih sangat muda untuk menjadi seorang ayah, batin Minri.

Minri menatap Baekhyun dan Luhan bergantian, sebelum menyambut uluran tangan pria itu. “Namaku Minri–putri keluarga Park, kolega keluarga Byun.”

“Dan bukan kekasihku,” sambung Baekhyun, membangunkannya pada kenyataan bahwa mereka hanyalah teman.

Minri melepaskan uluran tangannya, lalu mengangguk pelan. Sebagian dari dirinya merasa sedikit–sedikit saja –tidak rela saat Baekhyun mengklarifikasi bahwa perkiraan Luhan selama ini adalah salah, meskipun pada kenyataannya memang demikian. Mereka tidak lebih dari teman–Minri bahkan ragu apakah lelaki itu menganggapnya teman.

“Apa?!” jerit Luhan kaget.

“Perhatikan rahangmu itu Hyung.” Baekhyun berucap dengan wajah datarnya. Dia kembali melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam rumah.

“Maafkan aku telah salah paham.”

“Tidak apa-apa Luhan-ssi. Senang bertemu denganmu–dan juga Hansoo.”

“Tapi aku akan senang sekali kalau kalian menjalin hubungan. Kalian serasi sekali. Sungguh!”

Baekhyun berhenti di depan pintu, tanpa berbalik. Tapi telinga tajamnya telah menangkap semuanya. Luhan dan perkakataan konyolnya sukses membuat Baekhyun kembali berdebar.

***

Kediaman keluarga Byun berangsur sepi setelah Hansoo dan Luhan pulang, begitupula bibi Lee. Malam itu mereka kembali berdua. Tidak ada perbincangan panjang seperti malam sebelumnya. Minri sudah masuk ke dalam kamarnya tepat jam sembilan. Hal itu membuat Baekhyun sedikit kesepian.

Baekhyun tidak terbiasa tidur di waktu awal maka dari itu dia memilih untuk membuka galeri kameranya lalu memindahkannya ke dalam PC. Dia berencana menggunakan kamera itu besok pagi.

Dia teringat akan percakapannya dengan Minri tentang hobi mereka mengenai fotografi. Dia berniat mengajak gadis itu ke suatu tempat. Itupun kalau dia mau. Sebenarnya Baekhyun berharap banyak agar dia mau. Karena Baekhyun tidak pernah punya teman untuk hunting bersama. Pernah waktu di musim panas dia mengajak Chanyeol. Tapi lelaki jangkung itu malah mengabaikannya karena dia tampak tertarik pada seorang gadis.

Mereka–Chanyeol dan si gadis berambut sebahu–tidak sengaja bertemu di sebuah taman. Saat itu si gadis sedang kesusahan mengumpulkan apelnya yang jatuh dari dalam keranjang karena dia tersandung. Dia sempat menyelamatkan dirinya untuk tidak terjembab ke rumput, tapi tidak dengan keranjang buahnya.

Chanyeol dengan sifat heroiknya itupun bangkit. Dia membantu gadis itu mengumpulkan buah apelnya sampai terkumpul semua. Lalu pandangan mereka bertemu. Baekhyun tahu keduanya memiliki ketertarikan yang sama. Gadis itu segera menunduk, memberikan Chanyeol sebiji apel merah. Baekhyun sempat memotret semuanya. Bagaimana Chanyeol tersenyum konyol dan terus-terusan menatap buah apel di tangannya seolah-olah itu adalah bongkahan kristal yang tidak sengaja dia tendang. Maka saat perjalanan pulang, dia tidak henti-hentinya bicara tentang gadis itu. Saat dia menggigit apel itu, dia seperti tersetrum. Baekhyun pikir dia keracunan.

“Baek, ini manis sekali! Apalagi saat aku membayangkan wajah gadis itu.”

Baekhyun hanya bisa memutar bola matanya mendengar perkataan Chanyeol yang satu itu.

Ini bukan kisah tentang snow white dan apel merah dari penyihir, tetapi Baekhyun baru saja menceritakan pertemuan pertama Chanyeol dan Sungyoung–yang sekarang telah resmi menjadi sepasang kekasih.

***

Minri tidak punya pilihan lain selain melangkahkan kakinya ke dapur. Tenggorokkannya terasa kering, membuat tidurnya sedikit terganggu. Harusnya dia bersedia–setidaknya satu–botol air mineral dalam kamarnya.

Jam menunjukkan pukul satu tengah malam. Suasana terasa mencekam. Minri melirik waspada ke sekitarnya dengan kaki yang melangkah semakin cepat. Kesejukan menerpa wajahnya saat dia membuka pintu lemari pendingin. Dengan segera dia mengambil sebotol air mineral lalu meneguknya sampai setengah. Setelah merasa cukup, dia menutup pintu lemari pendingin itu, berniat membawa air yang tersisa ke dalam kamarnya.

Tapi, ada seseorang berdiri di samping kulkas.

“Aaaaaaa–hmpp!”

Teriakan Minri seketika teredam karena sebuah tangan telah membekap mulutnya. Keadaan dapur yang sedikit gelap membuat Minri tidak melihat dengan jelas. Namun ketika orang itu mendekatkan wajahnya barulah Minri bernafas lega.

Baekhyun…

“Jangan berteriak, Nona Seoul.”

Minri terpaku pada tatapan lelaki itu, tangannya di mulut Minri terasa meregang, bertahan di pipinya. Minri memejamkan mata sesaat, merasakan jari-jari yang lembut itu menyentuh wajahnya. Sebelum akhirnya dia tersadar. Minri menyingkirkan tangan Baekhyun dari wajahnya, membuat tangan itu terhempas ke udara.

Aish! Kau mengagetkanku.” Minri memundurkan kakinya, memberi jarak pada mereka berdua. “Ke-kenapa kau terbangun?”

“Aku belum tidur.” Baekhyun tersenyum tipis, lalu membuka pintu kulkas.

“Oh.” Minri meneguk lagi air mineralnya. Suasana terasa begitu canggung. Dia harus segera kembali ke kamarnya. “Aku duluan–“

“Sebentar,” Baekhyun menahan lengan Minri. “Apa kau besok… err…”

Sial. Mengapa aku harus gugup.

“Ya?”

“Ti–tidak.” Baekhyun melepaskan pegangan tangannya. “Selamat tidur.”

“Ya, kau juga.” Minri berlari kecil menuju kamarnya. Minri merasa sedikit aneh ketika Baekhyun mengucapkan selamat tidur, untuk pertama kalinya. Dan mengapa bibirnya malah tersenyum terlalu lebar sekarang. Pasti ada yang salah. Aish!

***

Pagi kembali menyambut. Terhitung sudah tiga hari Minri berada disana. Sementara orang tuanya masih belum memberi kabar yang jelas tentang kepulangan mereka.

Minri memutuskan ingin jalan-jalan di sekitar daerah itu. Dia merasa bosan terus-terusan berada di rumah. Baekhyun tidak terlalu banyak bicara pada Minri, membuat gadis itu merasa kehadirannya kembali diabaikan.

Dia tidak menyalahkan Baekhyun. Dari awal mereka memang sudah tidak bisa terlalu dekat. Jangankan berharap menjadi dekat, hal kecil saja bisa menjadi perdebatan. Minri ingin membuat sebuah pengakuan konyol bahwa dia merindukan perdebatannya dengan lelaki itu.

Minri keluar kamar, siap untuk pergi–meskipun dia hanya membawa ponsel dan sedikit uang di sakunya. Gadis itu menutup pintu kamar tidurnya. Dia baru saja menoleh ke pintu sebelah, kemudian terkesiap saat pintu itu terbuka.

Baekhyun keluar dari kamarnya dengan keadaan rapi. Sebenarnya tidak terlalu rapi, tapi dia tampak berbeda. Lelaki itu mengenakan celana jeans panjang dan kaos putih lengan pendek. Dia juga menggantung kamera di lehernya. Sepertinya dia mau pergi.

“Kau ingin ikut denganku?” tawar Baekhun pada Minri yang hanya berdiri diam di depan pintu kamarnya. “Mungkin mencari beberapa objek untuk di potret.”

Ng…

Apa tidak salah dia mengajakku?

Minri berpikir sesaat, kemudian mengangguk.

“Tapi sebelumnya aku ingin pergi ke kafe terlebih dahulu. Tidak apa-apa?”

Sure. Aku akan ikut kemanapun. Aku bosan mengurung diri di rumah terus, tidak ada hal yang menyangkan yang bisa aku kerjakan,” jelas Minri –entah sadar atau tidak, dia mengerucutkan bibirnya. Wajahnya terlihat menggemaskan.

Sebenarnya Baekhyun tidak menanyakan tentang hal itu, tapi Minri mengungkapkan padanya. Dan Baekhyun merasa sedikit bersalah–dia tidak pernah mengajak Minri melihat-lihat Bucheon. Tapi, bukannya kemarin mereka sibuk menjaga si kecil Hansoo? Ya, Baekhyun tidak perlu merasa bersalah sebesar yang ada dalam pikirannya.

***

Cuaca tidak begitu terik, juga tidak mendung. Benar-benar suasana yang mendukung untuk jalan-jalan.

Minri dan Baekhyun berjalan beriringan di tepian jalan. Mungkin beberapa orang yang baru melihat mereka, mengira mereka adalah sepasang kekasih. Minri mebidikkan kameranya beberapa kali ke taman yang mereka lewati. Dia pun tidak segan-segan jongkok untuk memotret objek bunga yang berada di tepi taman.

Baekhyun hanya memperhatikan gadis itu diam-diam. Tersenyum tipis saat mendengar gadis itu bicara pada objek yang di potretnya –misalnya bunga.

“Hai bunga cantik, aku akan memotretmu, jangan bergerak ya.”

Walaupun sedikit konyol, tapi Baekhyun tidak mentertawakannya. Dia baru pertama kali melihat sisi humoris gadis itu. Baekhyun jarang melihatnya tersenyum. Gadis itu lebih sering memasang wajah datar dan galak–apalagi ketika mereka berdebat.

“Itu kafenya.” Ucapan Baekhyun membuat Minri berhenti, dan mengarahkan pandangannya pada jari telunjuk lelaki itu.

Do cake and pastry.

Sebuah kafe yang tidak begitu besar. Bagian depan kafe terbuat dari kaca, sehingga tampaklah aktivitas di dalam kafe itu. Ada beberapa pengunjung yang sedang makan dan mengobrol. Dan juga pelayan yang mondar-mandir menghampiri meja pesanan.

“Ayo kesana.” Baekhyun hampir saja lancang untuk menarik tangan Minri–namun dia tersadar bahwa dia tidak semestinya melakukan hal itu. Dan bersyukur Minri melangkah lebih dulu hingga gadis itu tidak menyadari uluran tangan Baekhyun yang tergantung di udara.

 

Dentingan bel berbunyi saat Minri dan Baekhyun masuk ke dalam kafe. Baekhyun segera menghampiri meja kasir –dia mengenali salah satu lelaki seumuran yang ada disana. Seorang lelaki berperawakan kecil, berambut hitam kelam dan bermata besar.

“Hei, Kyungsoo!” sapa Baekhyun pada lelaki itu. Dia tampak sibuk menghitung jumlah pesanan yang tertera di kertas. Kegiatannya terganggu dan dia harus menghitungnya ulang. Tapi lebih baik membalas sapaan seseorang yang telah memanggilnya –dan sedikit mengganggu pekerjaanya.

“Hei, Baek.” Kyungsoo mendongak, namun dia mendapati seorang gadis di depannya. Dia mengerutkan keningnya. Dia tidak mungkin salah mengenali suara Baekhyun. Dalam hati bertanya-tanya apakah gadis itu memiliki suara yang persis sama dengan temannya itu. Namun belum selesai Kyungsoo berpikir, Baekhyun muncul dari balik punggung gadis itu-seperti baru saja menunduk.

“Lama tidak bertemu.”

“Tidak juga. Kau sudah kesini empat hari yang lalu,” sungut Kyungsoo tidak peduli. “Ada apa?”

“Ingin makan cake stroberi buatanmu, memangnya apalagi?”

Kyungsoo memperhatikan gadis di depannya –yang sedang mengedarkan pandangan ke seluruh Kafe. Gadis asing yang tidak pernah dilihat kyungsoo sebelumnya.

“Maaf, kalian datang bersama?”

“Ya, dia temanku, Minri.”

“Hai, aku Kyungsoo.” Kyungsoo tersenyum, membuat bibirnya berbentuk hati. Minri pikir Kyungsoo akan sama dinginnya dengan Baekhyun, tapi ternyata setelah dia tersenyum, dia tampak lebih ramah. Dan juga manis.

“Senang berkenalan denganmu.” Minri melirik jejeran kue yang ada di etalase. “Apa kau punya black forest?”

“Sepertinya koki kami sedang membuatnya.”

Well, aku mau yang itu dan cappuccino ice.”

“Kyung, aku mau–”

“–Strawberry short cake dan milk shake strawberry. Tunggu sepuluh menit, oke.” Sambung Kyungsoo lalu meninggalkan meja kasir. Baekhyun merapatkan mulutnya, menelan kembali kata-kata yang sudah lebih dulu diucapkan Kyungsoo.

Minri melirik Baekhyun. Makanan Baekhyun identik dengan warna merah muda. Makanan dan minumannya tidak jauh dari yang berbahan dasar stroberi. Dasar maniak, jerit Minri jahat, dalam hati.

Minri pikir Baekhyun akan memesan Americano dan cake keju. Tapi kalau dipikir-pikir, stroberi juga cocok sih dengan wajah manisnya, pipi lembutnya dan matanya yang seperti puppy.

“Kau memperhatikanku,” ucap Baekhyun, tanpa menatap Minri.

“Ah? Ti–tidak! Percaya diri sekali,” gerutu Minri, kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain. Sial! Dia ketahuan.

Minri memutuskan untuk beranjak dari sana. Dia mengambil tempat duduk yang dekat dengan jendela. Baekhyun mengekori gadis itu lalu mereka duduk hampir bersamaan. Keduanya sama-sama memandang keluar.

Seorang gadis berpakaian cerah baru saja memasuki Kafe. Dia adalah gadis yang cukup dekat dengan Kyungsoo. Mereka sudah berteman cukup lama. Gadis itu sering datang ke Kafe untuk membantu Kyungsoo bekerja. Dan terlalu mudah untuk disadari bahwa gadis itu–Jinhee–menyukai putra pemilik toko kue Do Cake And Pastry.

“Kyungsoo-ya…” panggilnya di depan meja konter. Dia tampak habis berlari dan sekarang sedang mengatur nafasnya.

Kyungsoo keluar dari ruangan belakang–tempat untuk membuat kue. Dia mengangkat kedua ujung bibirnya setelah melihat kehadiran gadis itu.

“Apa aku terlambat? Maaf, tadi aku harus menemani ibu membersihkan gudang. Dan aku tidak menyangka itu akan menyita waktu beberapa jam.”

Stt.” Kyungsoo memegang bahu gadis itu. “Kau baru terlambat beberapa menit.”

“Benarkah?” Jinhee menolehkan kepalanya pada jam dinding. Lalu menyengir. Kyungsoo menahan diri untuk tidak mencubit pipinya. “Sekarang apa yang harus aku lakukan?”

“Mungkin kau bisa mengantarkan pesanan ini pada pelanggan di sebelah sana.” Kyungsoo menyerahkan nampan yang berisi kue beserta minuman. Jinhee mengikuti arah pandangannya pada Kyungsoo.

“Baekhyun!”

“Yap, kau ingin menagih sesuatu padanya kan?” Kyungsoo terkikik geli. Mungkin Jinhee akan membuat Baekhyun malu di depan temannya itu –berharap saja Baekhyun tidak mengeluarkan jurus Hapkido-nya pada Kyungsoo nanti.

“Ah! Kau benar sekali.”

Jinhee mengangkat nampan lantas menghampiri meja Baekhyun. Lelaki itu tampak terkesiap ketika segelas minuman pesanannya diletakkan di meja, membuat bunyi benturan.

“Hai, kau menghilang empat hari,” ucap Jinhee.

“Tidak.” Baekhyun mengarahkan pandangannya pada Kyungsoo–yang berdiri di balik meja konter dan sedang menahan ketawa.

Jinhee sedikit berjengit saat melihat Minri. Dia pikir Baekhyun datang sendirian. Jinhee meletakkan piring yang berisi kue dan gelas minuman. Gadis itu tersenyum canggung pada Minri.

“Baek, kau belum menjalankan hukumanmu.”

“Jangan disini!”

“Aku tidak mau tahu. Kau kalah, tapi kau malah melarikan diri.” Jinhee mengambil ponsel di sakunya. “Sekarang atau aku tidak mau lagi berteman denganmu.”

Minri mencoba mengabaikan percakapan antara gadis berpakaian cerah dan Baekhyun yang tidak dia mengerti. Minri mengambil gelas cappuccino dan piring cake-nya. Lalu mulai makan dengan tenang.

Buing buing…

Uhhuk!

Minri seketika tersedak.

Minri sedikit menyesal karena menatap Baekhyun disaat yang tidak tepat. Laki-laki itu sedang melakukan aegyo di depan gadis yang mengantarkan pesanan mereka, dan gadis itu merekam dengan kamera ponselnya.

“Sudah ‘kan? Sana pergi.” Baekhyun mengusir gadis itu dengan mendorong tubuhnya pelan. Tampak rona merah di wajahnya sampai ke telinga.

“Kenapa kau melakukan itu? Menggelikan.” Minri menahan tawanya, ekspresi Baekhyun yang tidak biasa terus-terusan berputar di kepalanya.

“Aku kalah bermain game dengan Kyungsoo dan Jinhee.”

“Namanya Jinhee?” Minri mengangguk sembari terus memasukkan potongan kue ke dalam mulutnya.

“Anggap saja kau tidak pernah melihatku seperti tadi. Kau mengerti? Jangan mentertawakanku!” Baekhyun meletakkan sendok di piringnya membuat suara dentingan.

“Baiklah, baiklah.” Minri menghirup minumannya. “Lagi pula ekspresi itu cocok untukmu.” Sambung Minri.

Baekhyun tidak mempedulikan gadis di depannya. Dia fokus pada sarapan paginya. Sebenarnya dia sedikit kehilangan selera makan karena sudah mempermalukan dirinya sendiri di depan Minri. Tapi krim merah muda yang membalut cake itu terlalu sayang untuk dilewatkan.

***

Ladang rumput yang luas menjadi tempat kunjungan yang menakjubkan bagi Minri. Dia berlari pelan menyusuri tempat itu sembari menyentuhkan permukaan tangannya pada ilalang yang tinggi. Kemudian menoleh ke belakang dan melihat Baekhyun dalam jarak beberapa meter. Lelaki itu seperti mengarahkan kameranya pada Minri. Namun Minri hanya mengendikkan bahunya dan meneruskan langkah. Minri tidak perlu tahu apa yang Baekhyun potret.

Minri berhenti pada satu spot. Memandang hamparan awan berpendar di langit. Dia menyipitkan matanya karena silau, lalu menggunakan satu tangan untuk menghalau cahaya matahari yang memancar. Dia tidak pernah merasa sesenang ini. Seolah-olah alam menyatu dengan dirinya.

Minri mengarahkan kameranya pada jejeran ilalang tinggi. Menggunakan tangan kiri untuk mengatur lensa, lalu menangkap sebuah gambar. Gadis itu tersenyum, merasa puas dengan hasil jepretannya.

“Park Minri, kita istirahat disana.” Suara Baekhyun sontak membuat Minri menoleh. Lelaki itu menunjukk sebuah pohon besar yang rimbun. Dapat di pastikan bahwa mereka akan terlindung dari terik matahari jika bernaung di tempat itu.

Minri membawa langkahnya kepada tempat yang ditunjukkan Baekhyun. Lalu mendudukkan diri sembari mengecek isi kameranya. Baekhyun duduk beberapa puluh senti darinya. Lelaki itu memilih untuk berbaring dan menjadikan lengannya sebagai alas di kepala.

Baekhyun tampak menikmati semilir angin dengan mata yang terpejam. Minri berpikir untuk melakukan hal yang sama. Minri akhirnya merebahkan dirinya di atas rerumputan, sembari terus mengecek hasil jepretannya. Gadis itu terpaku beberapa saat, ketika dia menemukan sosok Baekhyun dalam galerinya. Dia melirik ke samping. Baekhyun masih bergeming.

Minri mengarahkan kameranya ke langit. Ada banyak awan dengan berbagai bentuk. Mereka tampak seperti gerombolan domba di tengah salju.

“Baek,” panggil Minri. Merasa aneh karena suasana terlalu sepi.

Hmm?” gumam lelaki itu. Minri sempat mengira bahwa Baekhyun telah tertidur.

“Kau pernah mengajak orang lain kesini? Misalnya… pacarmu.”

Baekhyun memiringkan badannya. Minri menyadari hal itu, namun dia tetap tidak ingin berbalik. Dia berpura-pura fokus pada kameranya. Baekhyun menatapnya, dan bisa kalian bayangkan keadaan jantungnya sekarang.

“Aku tidak punya pacar.”

Minri menurunkan kameranya, lalu menelengkan kepalanya pada Baekhyun. Pandangan mereka bertemu.

“Kau orang pertama yang kuajak kesini.”

Minri segera bangkit dari berbaringnya. Dia tidak mengerti mengapa darahnya berdesir cepat saat dalam keadaan ini, hanya ada mereka berdua di dekat hamparan ladang ilalang dan lelaki itu terus menatapnya.

“Aku ingin pulang sekarang,” ucap Minri lantas–hendak-berdiri.

Baekhyun menarik pergelangan tangannya, membuat gadis itu kembali duduk.

“Kau curang.”

“Eh?”

“Aku belum bertanya apapun padamu.”

***

Minri berjalan beberapa langkah di depan Baekhyun. Pikirannya berkecamuk dengan sebuah pertanyaan yang dilontarkan Baekhyun, sebelum akhirnya Minri memaksa untuk pulang. Sekalipun Baekhyun tidak ingin pulang.

Namun beruntung lelaki itu tidak membiarkannya berjalan sendirian di daerah tempat tinggal orang.

“Apa kau menyukaiku?”

“Eh… tidak–tentu saja tidak.”

Suka. Bukankah rasa suka itu relatif? Kenapa Minri terlalu grogi untuk sekedar menjawab pertanyaan semacam itu. Mungkin dia bisa menjawab ‘Ya, aku suka berteman denganmu’. Tapi kenyataannya dia malah memilih kata tidak, lalu mengakhiri pembicaraan mereka. Tidak peduli bahwa Baekhyun sedang mempersiapkan pertanyaan baru untuknya.

Minri menoleh ke belakang. Lagi-lagi mendapati Baekhyun sedang menatapnya. Minri mempercepat langkahnya menuju rumah. Di halaman rumah itu dia mendapati mobil ayahnya terparkir.

Dia berhenti beberapa saat. Senyum mengembang di bibirnya sebelum akhirnya dia berlari kecil menuju pintu. Ayah dan ibu sudah datang, pikirnya. Minri berangsur mendekati pintu.

“Aku tidak sabar ingin menikahkan mereka.” Minri mendengar suara ibunya. Dia berhenti di depan pintu.

“Tapi kita belum mempertemukan mereka, Nyonya Park.” Kali ini suara Nyonya Byun yang menyahut.

Minri tidak tahu kemana arah pembicaraan kedua wanita itu dan siapa orang yang mereka maksud, sampai ayahnya berkata lagi. “Kurasa Minri dan Baekhyun sudah cukup dekat untuk menjadi kakak adik. Bibi Lee menceritakan kedekatan mereka.”

Kakak adik?

“Aku senang sekali menikahkan anakku dengan anak kalian.”

Jeder!

Saat itu juga Minri mendengar suara petir di kepalanya. Dia membeku di depan pintu. Beberapa meter dari tempat Minri berdiri, ada Baekhyun. Lelaki itu memperhatikan Minri yang sama sekali belum masuk ke dalam rumah.

Minri memutar tubuhnya, lantas berlari, bahunya sempat menabrak bahu Baekhyun namun gadis itu tampak tidak peduli. Berkali-kali Baekhyun memanggilnya. Gadis itu hanya berlari keluar pagar rumah Baekhyun.

“Minri-ya!”

Tanpa sadar bahwa dia sudah memanggil gadis itu secara informal, Baekhyun tetap memanggilnya seperti itu.

Gadis itu berhenti di sebuah taman. Dia mengatur nafasnya lalu duduk di salah satu spot di bawah pohon. Dia menekuk lututnya lalu menenggelamkan kepalanya disana.

Dia dijodohkan dengan putra keluarga Byun? Dia dan Baekhyun akan menjadi kakak adik?

Tolong berikan aku kejelasan akan hal ini! Jerit Minri dalam hati.

Berpikir tentang perjodohan. Minri sama sekali tidak menyukainya. Dia pikir perjodohan hanyalah sebuah batu loncatan untuk membuat perusahaan satu dan perusahaan yang lain meraih keuntungan.

Dan secara tidak langsung, Minri telah dimanfaatkan.

Minri tidak bisa menerima hal ini begitu saja, sekalipun lelaki yang dijodohkan dengannya adalah anak teman dekat ayahnya. Mereka tidak tahu perasaan masing-masing. Dia bahkan belum pernah bertemu dengan Hyung Baekhyun itu.

Kenapa disaat hatinya telah memilih Baekhyun, orang tuanya berkehendak lain.

“Park Minri,” panggil Baekhyun.

Minri mendongakkan kepalanya. Dia mendapati Baekhyun dengan wajahnya yang khawatir. Namun Minri ingin sendiri, dia perlu ketenangan, dia perlu kesiapan untuk mendengar yang sebenarnya dari ayah dan ibunya.

“Pergilah, Baek.”

“Apa yang baru saja terjadi?” tanya Baekhyun bersikeras tidak ingin pergi, dia malah mendudukkan diri di samping Minri.

“Ku bilang pergi!”

Minri sedikit menaikkan nada bicaranya. Baekhyun menatap matanya, dia melihat sebuah kecemasan dan kekecewaan disana.

“Kumohon…” lirih Minri kemudian menundukkan kepalanya lagi.

Gadis itu menunduk lama. Tidak tahu sejak kapan Baekhyun sudah tidak ada di sampingnya.

***

Minri memaksa ayah dan ibunya untuk pulang malam itu juga. Dia tidak pamit pada Baekhyun. Dia bahkan tidak membiarkan matanya melakukan kontak pada lelaki itu.

Jadi, pukul 6 sore mereka pulang. Minri seperti bukan Minri. Dia hanya diam, sesekali melirik layar ponselnya. Ibunya sempat bertanya barangkali Minri sedang sakit, tapi gadis itu hanya menjawab baik-baik saja. Itu berarti ibunya tidak punya pertanyaan lanjutan seperti ‘kenapa?’ dan Minri bersyukur ibunya benar-benar berhenti bertanya.

***TBC***

Mereka… terpisah?😄 I’m sorry if this story out of your expectation. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya kalau FF ini mungkin berakhir di angka 7, masih ada gelombang kehidupan dan cobaan untuk mereka *halaah*

Sorry for typo. Keep support and love!

Do not call me ‘thor’. Let be my friend! Follow me on my twitter @charismaagirl

THANK YOU SO MUCH! :* See ya!

©Charismagirl, 2014.

312 thoughts on “We’ve Fallen in Love – Part 4

  1. Bentar deh, jdi si minri dijodohin sm baekbeom? Atau baekhyun? Klo dijodohin sm baekbeom knp malah ngeakrab-in minrinya sm baekhyun? Trus itu ceritanya si minri kecewa krn baekhyun bukan jodohnya/ gmn xD? Duuh, ga sabar baca lanjutannya. Oke, lanjuut😀

  2. Ping-balik: We’ve Fallen in Love – Part 7 [end] | EXO Fanfiction World

  3. Kak rupanya cerita ini sulit
    ditebak kak •-• Aku sendiri kaget , tiba tiba pisah? Omo kok Minrinya di jodohin sm Baekbeom ? Bukan sama Baekhyun ? Padahal Baekhyun sama Minri saling suka deh, cuma belum pada nyadar ama perasaan masing2 aja

  4. andweyo
    kenapa?
    Minri beneran mau dijodohin sama kakaknya baekhyun?
    Kayanya baekhyun sama minri saling suka deh, cuma belum pada nyadar ama perasaan masing2 aja
    ah tapi seriusan dijodohinnya bukan sama baekhyun???

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s