My Cruel Husband (Chapter 1)

my cruel husband

 

Author: Mingi Kumiko

Cast: Byun Baek Hyun and Kim Yoon Hee

Genre: Marriage life, romance

Rating: PG-17

Summary:

Kim Yoon Hee benar-benar tak bahagia dengan pernikahannya bersama Byun Baek Hyun. Suaminya itu selalu memperlakukannya dengan kasar dan tak pernah sekali pun bersikap manis padanya.

Apakah ia bisa bertahan menjalani bahtera rumah tangga bersama Baek Hyun? Atau Yoonhee akan balik bersikap sama dengan apa yang Baekhyun lakukan terhadapanya?

 

***

Gadis itu terduduk kaku, menunduk sembari menggigiti kuku jemarinya. Tak henti-hentinya ia linangkan air mata kesedihan hingga membasahi pipinya.

 

Yoonhee –nama gadis itu–mencoba duduk tegak, kemudian menyeka air matanya. Namun apa yang ia lakukan itu percuma, air matanya tak kunjung pula berhenti.

Ya! Mau sampai kapan kau akan terus menangis? Diamlah, dasar merepotkan, cih!” Yoonhee mendengar seseorang mencercanya kasar.

 

Dia adalah Byun Baek Hyun, sang calon pemilik saham terbesar dari perusahaan ternama di Korea Selatan. Seorang pria yang baru saja menikahi seorang gadis yang berprofesi sebagai guru di sebuah taman kanak-kanak tersebut.

 

Apalagi yang dapat menyatukan mereka hingga bisa seperti ini kalau bukan sebuah perjodohan yang telah direncanakan oleh kedua orang tua mereka? Mengingat mereka adalah rekan bisnis yang sudah lama saling mengenal.

 

Mendengar Baekhyun berkata seperti itu, Yoohee mendadak ketakutan dan berusaha menghentikan isakannya. Walaupun itu sulit, tentunya.

“Kau tak menyukaiku ya? Baiklah, aku tak akan mengganggumu. Aku akan tidur di ruangan lain.” tukas Baekhyun, ia lantas melangkah perlahan meninggalkan Yoonhee.

 

Yoonhee hanya bisa memandangi punggung Baekhyun yang perlahan-lahan hilang di balik pintu itu dengan tatapan nanar.

 

***

Waktu belajar-mengajar di TK tempat Yoonhee mengajar dilaksanakan tiap hari Senin hingga Jum’at. Berhubung ini adalah hari Sabtu, jadi ia libur.

 

Ini masih pagi, tapi ia telah mendapati keadaan rumahnya sangat sepi. Baekhyun berangkat pagi-pagi sekali tanpa memberitahunya. Untuk apa juga, mereka berdua kan sama-sama tak berkepentingan satu sama lain.

 

Tok! Tok! Tok!

Terdengar suara pintu diketuk, Yoonhee pun segera berlari untuk membukanya.

“Cari siapa ya?” tanya Yoonhee setelah ia membuka pintu dan dilihat lah seorang lelaki yang nampaknya seumuran dengan Baekhyun.

“Ini benar rumah Byun Baek Hyun?” lelaki itu balik bertanya.

“Iya.”

“Anda istrinya ya? Hm…, aku hanya ingin mengantar undangan ini.” ia menyerahkan secarik amplop pada Yoonhee.

“Baiklah, akan kusampaikan setelah ia pulang nanti. Terima kasih.”

 

Yoonhee kembali berkutat dengan aktivitasnya–membersihkan rumah–setelah lelaki pengantar surat (yang sepertinya teman Baekhyun) telah pamit.

.

.

Yang ditunggu akhirnya datang, Yoonhee membukakan pintu, berusaha ramah menyambut suaminya yang sudah pasti lelah habis bekerja.

“Baekhyun-ssi… ini, ada undangan untukmu,” ucap Yoonhee sembari menyerahkan secarik amplop yang masih tersegel rapih. “Letakkan saja di meja dekat TV, nanti kulihat sendiri.” jawab Baekhyun tak acuh sambil melepas dasi dan jasnya. “Ba, baiklah…” tukas Yoonhee. Seketika rasa mangkal dan kecewa berkecamuk dalam benaknya. Keramahannya sama sekali tak digubris oleh Baekhyun.

 

***

Secarik amplop yang beberapa waktu lalu Baekhyun dapatkan dari temannya dengan perantara Yoonhee itu ternyata berisi undangan reuni untuk para alumni dari SMP Renaissance, tempat Baekhyun bersekolah setelah ia lulus SD dulu.

 

Ia tahu betul kalau acara reuni identik dengan ajang pamer pencapaian yang telah mereka raih setelah beranjak dewasa. Para alumni wanita memperlihatkan gelimpangan perhiasan yang menghiasi tubuh mereka, kalau siswanya… entahlah, Baekhyun belum pernah melihat yang seperti itu di TV.

 

Baekhyun mondar-mandir sambil bersenggut dagu. Menimang-nimang pertimbangannya sedari tadi. Haruskah ia pergi sendiri, atau mengajak Yoonhee selaku istrinya? Rasanya sungkan juga kalau dia meninggalkannya di rumah sendirian.

Ajak saja lah, tak ada salahnya juga. Baekhyun dengan mantap memutuskan.

 

Ia menghampiri Yoonhee yang sedang duduk di lantai ruang tamu dan menghadap meja. Rupanya ia masih sibuk mengoreksi PR murid-muridnya yang dikumpulkan tadi pagi.

Eqhem…” Baekhyun pura-pura menyerakkan suaranya. Karena merasa ada yang janggal dengan suara suaminya, Yoonhee pun menoleh.

“Kau… apa sedang sibuk?” tanya Baekhyun.

“Aku? Iya, aku sibuk.” tandas Yoonhee.

“Bisa ditunda tidak? Aku ada perlu.”

“Perlu apa?”

“Mau ikut aku ke acara reuni SMPku?”

“Reuni SMP? Kita kan tidak satu sekolah dulunya.”

“Maksudnya… hm, kau kan istriku, aku ingin mengenalkanmu pada teman-temanku.”

“Aku tak punya gaun untuk pergi.”

“Kalau itu… pakai gaun eomma yang memang diberikan padamu saja. Bagaimana?”

Eomma-mu tak pernah memberikan gaunnya padaku.”

“Ada di aku, mau kuberikan padamu. Tapi lupa,”

“Ya, terserah.”

 

Baekhyun pun mengambil gaun di lemarinya untuk ia berikan pada Yoonhee. Ia pilah mana yang sekiranya cocok dan paling bagus. Setelah lama menimang-nimang, akhirnya pilihannya jatuh pada gaun berenda warna putih. Gaun itu sedikit terbuka karena hanya menutupi bagian dada dan akan memperlihatkan paha dan kaki Yoonhee yang jenjang.

 

“Kau pakai ini ya?” Baekhyun menyodorkan gaun tersebut pada Yoonhee. “Baiklah. Aku ganti baju dulu.” Yoonhee hanya menurut dan melakukan apa yang Baekhyun inginkan tanpa melakukan protes sedikitpun.

 

Yoonhee selesai berganti baju. Ia keluar dari kamar dan segera menuju garasi. Tadi Baekhyun sempat bilang kalau ia menunggunya di situ.

 

Setelah memasuki mobil, tanpa mengapresiasi penampilan Yoonhee terlebih dahulu, Baekhyun pun segera menginjak gas dan. Memangnya penting?

 

Sampailah mereka di halaman depan SMP Renaissance yang sangat luas. Setelah meletakkan mobil di area parkir, mereka segera turun dan berjalan bersisian. Cahaya matahari menyiram halaman sekolah yang masih lengang.

“Hey, Byun Baek Hyun!” tiba-tiba terdengar suara panggilan yang memekik tertuju pada Baekhyun. Yang dipanggil pun menoleh, mencoba mencari dari mana sumber suara itu berasal. Saat ia menoleh ke kiri, didapati lah Park Chan Yeol, sahabat terdekatnya ketika bersekolah di SMP Renaissance. Setelah lulus SMP, Chanyeol  melanjutkan sekolahnya di Kanada.

“Chanyeolie!” Baekhyun berseru tertahan, ia tersenyum girang tatkala melihat sahabatnya yang lama tak ia jumpai telah ada di hadapannya. Ketika Chanyeol mendekat, segera lah ia peluk dengan sangat erat.

Miss you so much, bro!” ucap Chanyeol sambil menepuk-nepuk punggung Baekhyun.

Me too, kekeke~” jawab Baekhyun. Ia pun melepaskan pelukannya pada Chanyeol. Malu juga jika ada orang yang melihat tingkah kolot mereka.

Wow, who is she? This cute and sweet girl… Is she your girlfriend?” celetuk Chanyeol tatkala ia lihat Yoonhee yang berdiri di sebelah Baekhyun.

“Bukan.” tandasnya singkat.

So?”

She is my wife. Oh iya, bisa tidak, bicaranya pakai bahasa biasa saja? Banyak gaya sekali kau, baru sampai Kanada saja!” oceh Baekhyun.

Sorry, sorryWoah, daebak! Kau menikah muda, istrinya cantik dan tipe idealku pula!” seru Chanyeol.

“Kalau mau, ambil saja… Hahaha~”

Hush! Apa-apaan kau ini, aku tak sebrengsek itu. Ya sudah, aku masuk dulu. Siapa tahu cinta pertamaku sudah di dalam, aku sangat merindukannya, kekeke…” Chanyeol pun berlalu pergi meninggalkan Baekhyun  dan Yoonhee.

 

“Kalau mau, ambil saja… Hahaha~”

Kalimat yang terlontar dengan ringan dari mulut Baekhyun tersebut benar-benar membuat hati Yoonhee sakit. Dadanya mengempis seketika, digantikan rasa marah, sedih, putus-asa bercampur jadi satu. Ia menahan tangis hingga terasa sesak.

Apa setidakpenting itu, keberadaanku di matanya? Jahat!

 

Yoonhee yang dadanya seakan mau pecah itu pun segera berlari menjauhi Baekhyun. Untuk apa dia terus di sana, tak ada gunanya juga, ‘kan?

 

Ia mendengar dengan samar suara Baekhyun yang memintanya untuk kembali, namun ia acuhkan. Terlalu sakit baginya kalau harus berbalik dan menatap wajah Baekhyun.

 

Sampailah ia di sebuah ruangan lengang yang ada di sekolah tersebut. Semilir angin menerpa wajah dan mengeringkan pipinya yang basah oleh air mata. Meratapi kesedihannya, menunduk, dan lagi-lagi menangis.

“Ayah, ibu… aku tersiksa sekarang. Kalau begini caranya, bagaimana aku bisa tersenyum dan terus bersikap seolah semuanya baik-baik saja?

“Dia kejam dan tak pernah peduli padaku. Bahkan dia berkata pada temannya hal yang sangat membuatku sedih. Apa yang sebaiknya aku lakukan? Haruskah aku tetap menjadi kuat dan menutupi semua yang kurasakan?” Yoonhee melebur sesalnya, bermonolog dengan angin.

 

Ya! Di sini kau rupanya,” terdengar suara yang mengejutkan dari Baekhyun. Yoonhee tak menyangka kalau lelaki keparat itu benar-benar akan menemukannya.

“Gadis merepotkan, cepat kembali! Acara akan segera dimulai.” lanjut Baekhyun, ia raih tangan Yoonhee dan segera menariknya paksa. Namun dengan cepat Yoonhee menepis dan melepas gandengan tangan Baekhyun.

“Berhenti bertingkah seenaknya padaku!” bentak Yoonhee. Baekhyun pun terperanjat kaget dan memicingkan mata. “Kau istriku dan kau milikku. Apapun yang kulakukan, kau harus terima dan menurutinya!” tegas Baekhyun dan kembali menarik tangan Yoonhee kasar.

 

Mereka sampai di ruangan tempat acara diselenggarakan. Terlihat sangat ramai karena para undangan tengah asyik bicara dan melebur kerinduan dengan kawan-kawan lamanya.

 

Chanyeol telah kembali dari menemui cinta pertamanya, jadi sekarang ia bersama Baekhyun dan mengobrol banyak dengannya.

“Kapan kalian menikah?” celetuk Chanyeol. “Baru beberapa minggu, kok!” jawab Baekhyun kemudian menelan hidangannya di meja.

“Hai, nona… Menikah muda itu menyenangkan, bukan?” kini Chanyeol gantian menggoda Yoonhee. Mendadak ia terkesiap mendengar pertanyaan menyentil yang diutarakan Chanyeol.

“Hmmm, etto… Ah, iya.” ucap Yoonhee terbata-bata.

“Baekhyun itu orangnya berisik sekali, kuat-kuat lah kau dengannya. Tapi walaupun begitu, ia baik dan perhatian, kok!” jelas Chanyeol.

“Iya…”

Baik dan perhatian dengkulmu, huh?!

Yoonhee hanya bisa mengiyakan apapun yang Chanyeol ucapkan. Daripada bicara aneh-aneh, itu hanya akan menambah masalah. Bisa-bisa setelah pulang, Baekhyun mengomeli, atau bahkan menyiksanya habis-habisan.

 

“Permisi…” terdengar seseorang berucap demikian yang membuat Chanyeol dan Baekhyun menoleh. Yoonhee yang penasaran pun ikut berbalik dan ingin tahu siapa yang tadi berucap.

“Jung Soo Jung…” gumam Baekhyun dan terbelalak seketika. Serasa aliran darahnya berhenti saat itu juga.

Oh godhow beautiful you are, Soojung-ah!” puji Chanyeol pada seorang alumni tersebut.

“Kau bisa saja Chanyeol…” Soojung tersipu malu.

“Halo, Baekhyun!” sapa Soojung pada Baekhyun yang sedari tadi hanya menunduk.

“Jangan belaga tak mengenalnya begitu, bro… Walaupun sudah lama tak bertemu, tapi kuyakin kau masih ingat kalau Soojung ini cinta sekaligus pacar pertamamu. Hahaha…,” oceh Chanyeol yang secara tidak langsung telah membeberkan fakta yang baru saja diketahui Yoonhee.

Mantan pacarnya cantik sekali… batin Yoonhee sembari diam-diam menatap Soojung.

 

“Apa-apaan kau, Chanyeol! Hai, Soojung! Benar sih… kau semakin cantik,” kata Baekhyun yang telah membuang jauh-jauh kecanggungannya terhadap Soojung.

“Kudengar, kau baru saja menikah. Ayo, kenalkan istrimu padaku!” oceh Soojung. Yoonhee lagi-lagi terkesiap. Ia rasakan sesuatu menyentuh lengannya, Yoonhee pun menoleh dan didapati Baekhyun sudah berdiri di hadapannya dan memberikan isyarat melalui matanya. Otot dan bola mata Baekhyun diarahkan ke kanan. Yoonhee membacanya sebagai, perkenalkan dirimu pada Soojung, jangan membuatku malu!

 

Yoonhee pun tertunduk kaku dan menurut saja. Ia melangkah menghampiri Soojung, kemudian tersenyum. “Annyeong haseyo…” ucapnya sambil membungkuk Sembilan puluh derajat.

“Istrimu polos dan sangat manis, Baekhyun! Tidak cocok untumu, terlalu cantik!” canda Soojung dan disambut tawa renyah Chanyeol.

“Kita sepemikiran, Jung…” timpal Chanyeol.

“Kalian ini, seenaknya sendiri! Begini-begini kami saling mencintai, kekeke…” timpal Baekhyun. Ucapan Baekhyun tersebut terdengar sangat menggelitik untuk telinga Yoonhee. Ia memicingkan matanya karena heran.

Pintar sekali sih merangkai kata? Kenapa tidak jadi penulis saja? Pasti nanti bukunya akan jadi best seller! Rutuk Yoonhee mangkal.

 

Yoonhee lama-lama tak tahan juga bila terus bersama Baekhyun. Mengingat ia yang pendiam dan sudah jelas tak punya pembicaraan yang ada sangkut pautnya dengan Baekhyun, Chanyeol, dan Soojung, ia pun minta izin untuk ke kamar mandi, namun setelah itu tak kembali lagi.

 

Akhirnya ia berhasil lolos dari Baekhyun. Walaupun ia bingung akan ke mana setelah ini, tapi ia amat senang tak terkira. Ia pun memutuskan berdiri menunggu taksi lewat di depan toko swalayan yang ada di dekat SMP Renaissance.

 

Selang menit berlalu, namun tak kunjung ia dapatkan taksi. Kalau begini caranya, Baekhyun bisa-bisa menemukannya dan ia gagal menghindar lagi. Ia pun bingung bukan kepalang. Berharap-harap cemas, semoga taksi yang ia tunggu segera datang.

 

Tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang berhenti tepat di hadapannya. Ia pun menatap lekat-lekat mobil itu, berusaha mencari tahu siapa yang ada di dalam mobil tersebut. Mobil itu pun membuka kacanya, “Bu Yoonhee!!!” terdengar anak kecil yang berseru lantang. Yoonhee pun terkejut. Itu Hanmi, muridnya di TK Cattleya.

“Ya, Hanmi… kebetulan sekali kita bertemu di sini ya?” balas Yoonhee. Setelah menjawab sapaan Hanmi, ia pun tersenyum ramah pada ayah Hanmi.

“Sedang apa di sini, bu?” tanya Kris –ayah Hanmi.

“Saya menunggu taksi, pak…” jawab Yoonhee.

“Ibu, naik mobil ini saja.” Sahut Hanmi.

“Aduh, jangan… Nanti merepotkan. Oh iya, ibunya Hanmi di mana, pak?”

“Ibu Hanmi baru saja melahirkan dan sekarang kami mau ke rumah sakit.”

“Melahirkan? Jadi sekarang Hanmi punya adik? Kenapa aku baru tahu ya? Sepertinya saya harus menjenguknya.”

“Bagaimana kalau kita turuti Hanmi, kalau ibu ingin menjenguk, sekalian bersama kami saja.” Saran Kris.

“Boleh, tapi saya belum beli kadonya, pak. Menyusul saja ya?”

“Itu bukan masalah…”

 

Yoonhee pun menaiki mobil Kris dan duduk di belakang kursi pengemudi. Ia sedikit canggung pada Kris dan Hanmi karena jenis pakaian yang ia gunakan.

“Dari mana, bu? Kok pakai gaun?” tanya Kris.

“Saya dari… dari… SMP Renaissance,” Yoonhee sedikit berat untuk menjawab.

“Oh, reuni ya bu? Istriku dulu juga sekolah di situ. Sayangnya sekarang dia tidak bisa hadir.” tukas Kris.

 

Sekarang ia bingung, apa yang sebaiknya dikatakan. Apa ia harus berbohong dan mengaku sebagai alumni sekolah itu? Tapi… bukankah tak ada hal baik yang didapatkan ketika seseorang tengah berbohong?

Anu… Bukan saya yang sekolah di sana,” ucap Yoonhee.

Mwo, lalu?”

“Suami saya,”

“Lho, ibu sudah menikah? Wah, saya tidak menyangka…”

“Ya, begitulah…”

“Tapi kenapa tidak pulang bersama suaminya?”

 

BANG!

Pertanyaan yang sedari tadi Yoonhee harapkan tak keluar dari mulut Kris, akhirnya sekarang terdengar juga. Bisa apa dia sekarang? Berbohong, mana mungkin! Itu hanya akan memperpanjang urusan. Tapi untuk mengakui apa yang sebenarnya telah terjadi malah lebih tidak mungkin.

“Ah… Itu lho, pak… saya ini memang agak teledor. Acaranya masih lama, sedangkan saya masih harus mengoreksi PR murid-murid. Jadi ya, saya minta izin pulang duluan. Begitulah, hehehe…”

“Ya, untuk urusan karir dan rumah tangga memang harus seimbang. Awalnya saya juga sering teledor kok, bu… Tapi lama-lama juga terbiasa dan bisa membagi waktu.”

“Iya, pak… Saat ini saya juga masih belajar.”

 

***

Setelah menjenguk ibunya Hanmi, Yoonhee pun diantarkan pulang oleh Kris. Tak lupa ia ucapkan terima kasih pada suami dari Nyonya Ryu itu sebelum ia memasuki rumah.

 

Saat ia coba menarik gagang pintu ke bawah, ternyata pintu tak bisa dibuka. Baekhyun belum pulang. Untung saja ia menyimpan kunci cadangan di bawah rak sandal, jadi ia bisa masuk dengan mudah tanpa menunggu Baekhyun selaku pembawa kunci untuk pulang terlebih dahulu.

 

Yoonhee pun segera memasuki kamar untuk berganti baju tidur. Rentetan kegiatan konyol hari ini membuatnya merasa sangat lelah.

 

Setelah berganti baju, ia langsung membaringkan tubuhnya di kasur yang nyaman, kemudian mematikan lampu, bergegas bergelung kemul, memejamkan mata, dan tidur dengan damai.

 

Ketika ia benar-benar akan tertidur pulas dan kehilangan kesadaran, tiba-tiba ia mendengar suara engsel pintu yang berdecit. Yoonhee tahu jelas kalau itu adalah Baekhyun. Tapi apa pedulinya? Yang terpenting sekarang adalah tidur dengan nyenyak, beristirahat untuk memulihkan tenaga.

“Heh, gadis sialan, bangun kau!” cerca Baekhyun kasar. Yoonhee yang melapisi seluruh tubuhnya dengan selimut pun terkejut bukan kepalang. Tak pernah ia sangka, Baekhyun yang selalu mengacuhkannya bisa berkata sekasar itu.

 

Namun Yoonhee tetap tak menghiraukannya, ia masih saja asyik berkutat dengan guling. Secara mengejutkan, Baekhyun malah menarik selimut dan melemparnya ke lantai. Ia pun terperanjat kaget dan langsung bangkit.

“KAU INI APA-APAAN SIH?!” bentak Yoonhee karena tak terima dengan sikap Baekhyun.

“KAU YANG APA-APAAN, SEENAKNYA SENDIRI PERGI DARI ACARA. MEMALUKAN, TAHU!” Baekhyun membalas bentakan Yoonhee dengan suara yang tak kalah memekik, bahkan urat lehernya sampai keluar. “Kau sendiri yang membuatku tidak betah. Apa salah jika aku pulang duluan?” sanggah Yoonhee.

 

Ia cengkram erat lengan Yoonhee hingga tak bisa berkutik ataupun meronta. Baekhyun menarik tangan Yoonhee dan menyeretnya menuju kamar mandi dan langsung mendorong tubuhnya hingga menabrak dinding. Kemudian ia menyalakan shower, dengan cepat, air yang teramat sangat dingin pun mengalir dan membasahi tubuh Yoonhee, membuatnya sontak bersedekap, menggigil kedinginan.

“Ampun, Baekhyun-ssi…, aku kedinginan, hiks!” isak Yoonhee. Bibirnya pucat pasi, matanya sayup-sayup, serta kakinya gemetaran.

Setelah merasa puas melapiaskan amarah, Baekhyun pun mematikan shower-nya. Secara perlahan ia menghapus jarak tubuhnya dan tubuh Yoonhee, dan tindakannya tersebut membuat dada mereka berhimpitan.

“Baekhyun-ssi… apa yang kau lakukan?” tanya Yoonhee dengan kecemasan yang tak pelak tersirat jelas di wajahnya.

 

Wajah keduanya makin tak berjarak, kini hidung mereka pun saling beradu. Yoonhee yang terdesak segera memalingkan wajah agar tak menatap Baekhyun. Hal yang ia lakukan itu malah justru membuat deru napas Baekhyun makin terasa di lehernya.

 

Melihat leher putih bersih terpampang jelas di depan matanya, Baekhyun tak kuasa menahan hasratnya untuk menciuminya.

 

Ia mendesah, merasakan kenikmatan yang sebelumnya tak pernah ia rasakan dari Yoonhee.

“Baekhyun-ssi… hentikan…” pinta Yoonhee yang mulai merasa geli karena ulah Baekhyun.

Setelah beberapa saat, akhirnya ia berhenti mencium dan melumat leher Yoonhee. Leher yang baru saja ia cium itu langsung meninggalkan bekas kemerah-merahan, dan tentu saja masih basah karena air liur Baekhyun.

 

Yoonhee yang awalnya memalingkan wajah pun perlahan menatap Baekhyun lamat-lamat. Memasang wajah, kasihanilah aku. Yang ditatap pun hanya membalas dengan sorot mata yang tajam.

“Maaf, tapi sepertinya aku mulai suka dengan hal ini…” kata Baekhyun, kemudian ia eratkan lagi cengkraman di lengan Yoonhee, tangan satunya menjalar dan merengkuh pinggangnya. Pria itu makin memajukan tubuhnya dan memiringkan wajah, dengan gerakan cepat ia meraup bibir bawah Yoonhee, menghisapnya dengan amat sangat rakus.

 

Yang dicium pun terbelalak dan gemetaran, tubuhnya menegang. Tak sanggup memberontak, apalagi melepaskan diri. Sungguh mustahil.

 

Seakan tak mempedulikan Yoonhee yang mulai sesak karena Baekhyun yang menciumnya terlalu lama, ia terus saja melumat bibir istrinya itu, membuat penjelajahan bibirnya makin jauh, dan sesekali membuat gigi mereka saling berbentur.

 

Baekhyun pun akhirnya melepas bibir Yoonhee. Ia kembali menyeringai, tanda kepuasan. “Bagaimana, kau senang, yeobo?” tanya Baekhyun. Yoonhee mendelik, menatap lekat-lekat mata Baekhyun sekali lagi.

 

Karena merasa tak paham dengan makna tatapan Yoonhee, Baekhyun pun memilih mengacuhkannya dan segera berbalik untuk meninggalkannya. “Selamat malam, sampai jumpa besok pagi!” ucapnya sambil berjalan menuju pintu.

 

Yoonhee mendadak ambruk seiring menjauhnya Baekhyun dari ruangan bersuhu rendah tersebut. Ia menangis dan benar-benar terisak, mengacak rambutnya yang basah dengan frustasi. Serasa ia benar-benar telah hancur kali ini. Kemudian dipeluk lah lutut dan ia gigiti kuku jemarinya. Terus menangis hingga energinya terkuras habis dan tak sadarkan diri di lantai kamar mandi.

 

***

Mendadak hati Baekhyun menjadi tak tenang beberapa saat setelah tingkah brutalnya terhadap Yoonhee. Ia coba lupakan kejadian barusan dan tidur, namun tak bisa. Kenikmatan bibir Yoonhee masih melekat di pikirannya.

 

Ia tahu betul Yoonhee sangat tak suka dengan ciuman yang ia berikan, belum lagi dengan Baekhyun yang mengguyurnya dengan air dingin di waktu selarut ini. Sungguh keterlaluan. Amat biadab. Tidak punya hati. Tapi mau bagaimana lagi, Baekhyun tak sanggup lagi menahan diri.

 

Tanpa pikir panjang, ia putuskan untuk kembali ke kamar Yoonhee dan menemuinya. Setidaknya, ia harus membuat hubungannya dengan Yoonhee lebih baik lagi.

“Yoonhee… hm, maaf soal yang tadi. Ada hal yang ingin kubicarakan padamu. Boleh aku masuk?” tukas Baekhyun. Setelah menunggu beberapa menit untuk mendapatkan jawaban dari Yoonhee, Baekhyun akhirnya berspekulasi bahwa dirinya mendapatkan nihil. Apa jangan-jangan Yoonhee tak sadarkan diri di kamar mandi? Matilah dia kalau sampai itu terjadi.

 

Ia pun nekat masuk, tak peduli telah ia dapatkan atau belum izin dari penghuni kamar. Toh, itu juga rumahnya. Kapan pun ia masuk, itu adalah haknya.

Perlahan, ia mendorong gagang pintunya. Setelah pintu terbuka lebar, ia tak menemukan Yoonhee berada di setiap sudut ruangan. Baekhyun tersentak kaget, apa Yoonhee masih ada di kamar mandi? Apa ia pingsan? Bagaimana kalau dia mati beku di sana? Pikiran-pikiran aneh sontak berkecamuk dalam otaknya. Ia mempercepat langkahnya menuju kamar mandi.

 

Dan…, BINGO! Kini didapati lah Yoonhee yang terkapar lemah di bawah shower. Baekhyun cepat-cepat menghampirinya.

“Yoonhee… Yoonhee…” Baekhyun mencoba membangunkan istrinya yang terbujur di atas lantai itu. Melihat kondisi istrinya yang tak kunjung bangun juga, ia pun segera membopong tubuh Yoonhee untuk dibaringkan ke kasur.

 

Dengan keadaan yang basah kuyup seperti itu, tak mungkin rasanya bagi Baekhyun untuk meninggalkan Yoonhee begitu saja. Kalau istrinya itu tidur dengan keadaan seperti itu, yang ada esoknya ia akan terkena flu. Tapi di sisi lain…, Yang Baekhyun pikirkan adalah, apa boleh kalau dia yang menggantikan baju Yoonhee? Apa kalau istrinya itu tahu, ia tidak akan marah? Sungguh, saat ini ia benar-benar berada dalam situasi yang membingungkan.

 

Baekhyun menghela napas, coba menjernihkan otak kotor dan delusi-delusinya yang belum tentu akan terealisasikan. Apa boleh buat, ia akan menggantikan pakaian Yoonhee. Perlu diingat, tujuannya juga untuk kebaikan Yoonhee, agar kondisi tubuhnya baik-baik saja.

 

Pertama, terlebih dahulu ia keringkan tubuh Yoonhee menggunakan handuk. Setelah itu, dengan hati-hati ia melepas kaus yang dikenakan istrinya, kemudian celananya. Baekhyun sempat memejamkan matanya berulang kali, tak sanggup melihat, takut-takut kalau nanti bulu romanya merinding. Yah, padahal sebenarnya sedari tadi juga sudah merinding.

 

Setelah selesai menggantikan baju Yoonhee, ia pun meletakkan pakaian yang basah itu ke mesin cuci dan langsung kembali untuk melapisi tubuh gadis itu dengan selimut tebal, meletakkan kepala gadis itu pada posisi paling nyaman untuk tidur. Ia tatap wajah polos milik Yoonhee dan tanpa sadar membuat seulas senyum terukir di bibir Baekhyun. Ia mengelus rambutnya lembut dan penuh kasih sayang, sesekali ia juga menggumam.

 “Kalau melihat wajah tak berdosanya… aku jadi merasa lelaki terjahat di dunia,”

 

Baekhyun-a, sudah cukup dengan ciuman tadi… jangan menginginkan lebih! Dia sama sekali tak menyukaimu. batin Baekhyun bergolak, mencoba mengendalikan diri.

 

Bukanlah hal buruk jika aku menemaninya tidur sekali ini saja. Sungguh, aku sangat ingin mendekapnya erat. Baekhyun membatin kembali, namun kali ini tanpa keraguan. Ia pun merubah posisi tidur menjadi miring, kemudian ia lingkarkan tangannya pada pinggang Yoonhee.

Jaljjayo…” bisik Baekhyun pelan ke telinga Yoonhee.

 

***

Yoonhee mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih terasa berat untuk dibuka. Setelah itu, ia melakukan sedikit peregangan. Mendadak saja ia rasakan sebuah keganjalan, ia merasakan sebuah rengkuhan di pinggangnya. Saat ia menoleh, didapatilah Baekhyun yang tengah tertidur pulas dengan wajah polosnya. Yoonhee pun segera bangkit dan langsung terkesiap.

 

Di sisi lain, Baekhyun yang ada di sampingnya pun jadi terbangun karena gerakan berisik Yoonhee. Ia mendongak, dan didapati lah ekspresi muram Yoonhee. Baekhyun segera bangkit dari tempat tidur dan langsung menatapnya.

“Baekhyun-ssi… apa yang telah kau lakukan padaku?” tanya Yoonhee gemetaran sambil bergelung kemul untuk menutupi tubuhnya.

“Maafkan aku…, aku cuma menggantikan bajumu. Sungguh, hanya itu yang kulakukan. Aku tak berbuat macam-macam.” jelas Baekhyun gemetaran.

“Kemarin kau menyiksaku habis-habisan, setelah itu kau tega memperlakukanku seenaknya sendiri. Dan sekarang, kau berlaga sok baik padaku. Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu itu, Baekhyun-ssi?! PRIA GILA, TIDAK PUNYA PERASAAN, AKU BENCI PADAMU!!” Yoonhee melontarkan serapahnya. Buliran air mata mengalir deras dari pelupuk matanya.

“Yoonhee…, aku cuma tidak mau kau sakit, hanya itu!” Baekhyun berusaha meraih tangan Yoonhee untuk digenggamnya, namun dengan cepat Yoonhee menepisnya dengan kasar.

“Sekarang, kumohon kau pergi dari sini. Keluar dari kamarku!” usir Yoonhee, namun kini ia lebih bisa mengatur intonasi suaranya, lebih rendah dan terkesan kalem.

 

Pandangan sendu Yoonhee membuat Baekhyun seakan tak bisa menimpali apapun. Jadilah ia hanya menuruti permintaannya, keluar dari kamar tersebut.

“Baik, aku akan keluar. Tapi kumohon, pikirkan itu baik-baik, tujuanku hanya agar kau tidak sampai sakit. Untuk yang kemarin…, semua yang telah kulakukan, maafkan aku, Yoonhee-ssi…”

 

To be continue …

PS: Kalian bisa cek di > sini < kalau mau baca FF bergenre marriage life lainnya ^^

197 thoughts on “My Cruel Husband (Chapter 1)

  1. hahahahhhhhhhhhhhhaaaaaaaaa malu2 tapi mau nih si baekkkkkkkkiiiiiiiiiiiii
    Huhhhh buwahhaaahhhhhhhaaa aku g bisa berhenti ketawa hahahahahahhahahhhha

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s