[Oneshot] Can You Love Me

Can YouLove Me

Title : Can You Love Me

Author : Sehunblackpearl

Cast :

–  Oh Sehun (EXO)

–  Choi Yoon Hae (OC)

Additional Cast :

–  Taehyung (BTS)

Genre : Romance, friendship, School life

Rated : T

Disclaimer : Plot is mine. Don’t be plagiator. Exo is not mine, but sehun is xD

Warning : Don’t copy this story without my permission. I don’t tolerate siders and plagiator.

*Can You Love Me*

Ini adalah sebuah kisah cinta.

Butuh tiga minggu sampai aku tau nama anak lelaki itu. Anak lelaki adik kelasku yang tinggi dan putih dan pendiam dan tidak punya ekspresi. Tiga bulan sampai aku benar-benar bicara dengannya. Tapi hanya tiga menit. Dan aku jatuh cinta padanya.

Tidak kusangkal. Tiga menit. Secepat itu. Hanya karna sebuah senyuman dan kebaikan hatinya, sejak detik itu seluruh duniaku seolah terfokus hanya pada sosok tinggi itu.

“Yaaak kubilang tunggu aku.” aku berteriak sambil berlari. Nafasku serasa akan habis saat itu juga saking lelahnya paru-paruku berusaha menambah pasokan oksigen untuk tubuhku. “Yaak Kim Taehyung! Kubilang tunggu.”

Kim Taehyung, pria yang sedang kukejar dan kuteriaki itu hanya tertawa. Berhenti sebentar – aku bernafas lega – menjulurkan lidahnya ke arahku. “Payah. Kau lambat sekali.” Ejeknya. Lalu dia segera berbalik menghadapkan punggungnya padaku lagi dan mulai menggerakkan kakinya yang jauh lebih panjang dari kaki kecilku, berlari, semakin jauh meninggalkanku.

“Yaaaaak…” teriakku lagi tak karuan. Tapi teriakanku segera redam, hilang bersama hembusan angin. Taehyung tidak mendengarnya dan dia melanjutkan larinya yang sangat tidak mungkin untuk dapat kuimbangi. Melihat sosok Taehyung yang sekarang hanya terlihat seperti titik – yang sedikit besar – di kejauhan sana, aku akhirnya berhenti berlari. Memilih berhenti mengejarnya.

Berusaha mengabaikan kenyataan bahwa mungkin saja sekarang Taehyung sudah ada di halte dan nanti malam aku harus mentraktirnya makan bulgogi karena aku sudah kalah balapan, aku akhirnya berjalan santai, menikmati sensasi dingin tiap kali angin berhembus di sekitar rambutku, sedikit menerbangkannya dan menggelitik telingaku.

Aku mengerang kesal saat kurasakan keringat yang menetes di sepanjang punggunggku karena berlarian tadi. Rambutku pun sedikit basah karena keringat. Ugh, betapa bencinya aku dengan butir-butir air yang mengandung urea itu. Nanti malam aku harus mencuci sendiri seragamku, tidak ada kemungkinan eomma akan mau mencucikan seragamku yang bau ini. Menyebalkan. Ditambah lagi aku harus mengeluarkan banyak uang untuk membayar bulgogi untuk si Taehyung bodoh itu. Apa hari ini bisa jadi lebih buruk lagi?

Tepat saat aku bertanya dalam hatiku, tidak sengaja tali sepatu kiriku terinjak oleh kaki kananku sendiri. Membuat aku hilang keseimbangan. Oh yeah, tentu saja hari ini bisa jadi lebih buruk. Aku menutup mataku, siap merasakan sakit yang akan menghantam lututku dan sedetik kemudian aku tidak jatuh. Aku mengernyitkan keningku karena rasa sakit tidak kunjung menyerang sistemku. Ditambah dengan kenyataan bahwa aku merasakan sebuah tangan yang melingkar di lengan kananku. Menahanku sehingga lututku tidak perlu bertemu dengan jalan beraspal dan dihiasi warna merah, entah karna lebam atau karna darah.

Aku mengeluarkan nafas yang kutahan saat akan jatuh tadi dengan sangat lega. Siapapun yang sudah mencegahku terjatuh, betul-betul perlu mendapat rasa terima kasih yang besar dariku. Aku berbalik perlahan untuk melihat sosok penolongku itu.

Hal yang pertama kulihat begitu wajahku berbalik menghadap pada orang yang telah dengan baik hati menolongku itu adalah putih. Seragam berwarna putih dan kancing bajunya. Aku sedang berhadapan langsung dengan dada seorang pria. Pria yag kurus. Perlahan genggamannya dilepaskan dari pergelagan tanganku, menyisakan bekas cengkraman  berwarna merah. Aku mendongakkan kepalaku untuk mempertemukan mataku dengan wajah pemilik tangan besar itu.

Oh Sehun, adik kelasku yang tidak terlalu ramah dan baru berbicara denganku sekali atau dua kali sedang berdiri di depanku. Tangan yang sudah mencegahku terjatuh tadi adalah miliknya. Tapi kenapa? Bukan kenapa dia menolongku – aku sangat berterima kasih dia sudah melakukannya – tapi kenapa dia ada di belakangku? Tanpa sadar, keningku kukerutkan dan aku menelengkan kepalaku, menatap – dadanya – sedikit bingung. Dia seharusnya jauh di depan, bersama Taehyung mungkin.

“Apa Noona baik-baik saja?” suara baritonnya segera meyadarkanku dari pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu benakku dan aku segera menggerakkan bola mataku memandang wajahnya.

“Oh ya.” ujarku sedikit canggung. “Berkatmu. Terima kasih sudah menolongku.” Dan aku tersenyum (canggung).

Dia hanya menganggukkan kepalanya sekali dan berjalan melewatiku. Aku pun segera bergerak, hendak mengikuti langkahnya tapi dia segera berbalik dan menahanku.

“Sebaiknya Noona mengikat tali sepatu dulu. Jangan sampai terinjak lagi.” Dia mengarahkan pandangannya pada tali sepatuku yang tidak terikat. Dan aku segera menuruti perkataannya, berjongkok untuk mengikatkan tali yang dimaksudya. Biasanya aku membiarkan tali sepatuku begitu saja, karna meskipun kuikat pasti akan lepas lagi. Tapi karena Sehun menyuruhku untuk mengikatnya – mengingat dia sudah menolongku tadi agar tidak terjatuh – maka aku kali ini mengikatnya dengan baik.

“Kenapa tadi kau ada di belakangku? Kupikir kau bersama Taehyung.” Aku membuka suara, berusaha mencari topik di tengah kegiatan mengikat tali sepatu dan berusaha mencairkan atmosfer yang terlalu canggung di antara kami berdua.

“Itu….” jawabannya hampir terdengar seperti sebuah bisikan. “Tidak baik kalau perempuan berjalan sendirian malam begini.” Aku mendongakkan kepalaku demi melihat sosok yang sedang berbicara itu. Dan kulihat dia menghadapkan wajahnya ke samping kiri, jelas semu merah di wajah seputih susu itu tak luput dari pandanganku meskipun di antara cahaya remang. “Karena Taehyung berlari begitu dan meninggalkan Noona sendiri di belakang, jadi aku sengaja berjalan di belakangmu. Supaya aku bisa memastikan tidak terjadi apa-apa.”

Jelas sekali dia sangat malu mengatakan alasan kenapa dia berjalan di belakangku. Aku tahu itu begitu melihat tangan kirinya yang berjalan menuju tengkuknya sendiri dan mengusapnya.

Aku berdiri dan meneliti wajahnya untuk beberapa detik yang singkat dan kemudian kedua ujung bibirku kugerakkan membentuk senyum. “Terima kasih.” Bisikku hampir kepada diriku sendiri.

Butuh tiga minggu sampai aku tau kalau namanya adalah Oh Sehun. Dia adik kelasku yang tinggi dan putih dan pendiam dan tidak punya ekspresi dan canggung tapi sekarang aku tahu dia baik hati. Tiga bulan sampai aku benar-benar bicara dengannya. Tiga menit sebuah kejadian kecil yang membuat aku tahu kebaikannya. Tiga detik yang singkat aku mempelajari struktur wajah tampannya. Dan aku jatuh cinta padanya.

.

.

Cinta terkadang datangnya tak diduga. Tiba-tiba saja dia ada. Tanpa pernah disangka. Bahkan oleh si pemilik hati.

“Kau perempuan paling menyedihkan yang pernah kutemui.”

Aku menulis angka-angka di atas bukuku sambil menyenandungkan segala bunyi-bunyian menyenangkan yang kutau. Pura-pura tidak mendengar kata-kata pedas yang baru saja terucap dari bibir menyebalkan sahabatku – yang sama sekali tidak berguna – Kim Min Ju. Tugas Fisika lebih pantas mendapat perhatianku dari pada perempuan menyebalkan yang hanya tau mengoceh itu.

“Yaaak aku tau kau mendengarku. Jangan pura-pura tuli.”

Bersamaan dengan kata-katanya, sebuah bantal mendarat di kepalaku.

“Jangan ganggu aku.” Aku melempar bantal yang tadi dengan sukses menghantam tengkorak kepalaku kembali pada Min Ju. “Aku sedang konsentrasi.”

“Tidak perlu sok bersikap seperti siswa teladan.” katanya lagi, kali ini tanpa diiringi lemparan bantal. “Itu tidak membuatmu jadi tidak menyedihkan.”

Aku memutar kepalaku dan melotot pada Min Ju yang tiduran di atas kasurku. “Kalau kau segitu tidak ada kerjaannya lebih baik kau membantuku menyelesaikan ini dan berhenti malas-malasan di kasurku, memberantaki komik-komikku dan memakan semua sisa cemilanku.” erangku kesal. “Atau kau pulang saja sana. Suuh suuh.”

Detik berikutnya aku merasakan kepalaku tertarik ke belakang, atau lebih tepatnya rambutku yang ditarik oleh Min Ju.

“Kau jatuh cinta dengannya.” Lebih terdengar seperti pernyataan dari pada pertanyaan. Aku memutar bola mataku malas. Ternyata memang sebaiknya tadi tidak kuceritakan padanya. Aku pura-pura mengerang malas dan berharap dia akan berhenti membahas tentang aku menyukai Oh Sehun.

“Kurasa tidak tepat kalau kau katakan jatuh cinta. Karena….” aku mecoba beralasan –

“Aku tidak peduli.” – tapi dengan cepat ditangkal olehnya. “Masalahnya kau suka dengan Oh Sehun. Temannya Taehyung. Adik kelas kita.”

Aku mengangguk pelan. Masih berharap dalam hati dia akan membiarkan masalah ini begitu saja.

Tapi Min Ju bukan tipe yang akan melewatkan hal demikian, Begitu saja.

“Aku ingin tau apa pendapat Taehyung mengenai ini.”

“Yaaak, jangan berani-berani kau beri tau dia.” Ujarku cepat, mengancam Min Ju. Demi Tuhan, hal yang lebih buruk dari Min Ju mengetahui aku suka dengan Sehun adalah Taehyung, sepupuku itu mengetahuinya. Dia tidak akan berhenti menggoda dan menyusahkanku nanti.

Min Ju mengerang – di saat seharusnya aku yang melakukan hal itu – frustasi.

“Kau ini. Kapan kau akan berhenti menyukai pria yang lebih muda darimu?”

Aku diam.

“Percayalah. Nanti kau akan menyesali ini.” ujarnya sekali lagi. Tapi kata-katanya terdengar seperti instrumen yang fals di telingaku. Aku memilih tidak mendengarkannya.

.

.

Mencintai seseorang secara diam-diam itu seperti komidi putar. Seakan berjalan tapi sebenarnya tidak kemana-mana.

Aku menjadi menyedihkan. Tepat seperti yang dikatakan Min Ju. Seperti seorang stalker, aku terus mengikuti langkah Oh Se Hun. Kemana kaki panjangnya melangkah, ke situ kuseret tumitku mengikutinya. Hal-hal yang disukainya, kupaksa diriku sendiri untuk ikut menyukainya. Aku begitu jauh terlibat dalam perasaanku padanya. Hingga ke suatu titik di mana sudah tidak ada kata kembali pada kehidupan kelas tiga yang seharusnya ada di posisi fokus.

Kenyataan bahwa kelas kami bersebelahan menjadi keuntungan terbesarku. Setiap hari, aku  bisa memandanginya. Saat jam pelajaran, saat dia mau ke toilet. Aku akan selalu bersenandung kecil dalam hati melihat sosok tinggi itu berjalan pelan melewati kelasku. Wajahnya yang kulihat dari jendela adalah bagian favoritku.

“Kau tau? Semakin hari kau semakin menyedihkan saja.”

Aku selalu bersikap seolah tidak mendengar satu suku kata pun yang terlontar dari mulut Min Ju. Sahabatnya ini sedang jatuh cinta, dan hal terakhir yang seharusnya dilakukannya adalah mengatai aku menyedihkan. Dia seharusnya mendukungku. Itu yang para sahabat lakukan. Tapi karena Min Ju adalah semacam sahabat yang tidak bisa menyebut dirinya sahabat kalau tidak bersikap menyebalkan, jadi aku memilih berpura-pura seakan headset sedang menempel di telingaku dan aku sedang medengar lagu-lagu menyenangkan – tentu saja tentang cinta – sehingga instrumen fals nya terhalang untuk dapat didengar.

“Aku betul-betul serius. Pasti kau akan menyesali ini nanti.” katanya lagi, dia memakukan matanya kepada tanganku yang sedang sibuk menyalin catatannya. Aku tetap pura-pura tidak mendengarnya. Rasanya dia sudah mengatakan itu hampir seribu kali sejak dua bulan yang lalu. Nanti dia akan capek sendiri mengatakan hal yang sama berulang-ulang.

“Ngomong-ngomong Jong In kemarin meneleponku.” Aku melenguh begitu mendengar dia mengubah topik pembicaraan dan kali ini menyerangku dengan menyebut nama mantanku.

“Apa yang diinginkannya darimu?” jawabku santai. Menebunyikan emosi dalam bentuk apapun di suaraku.

“Tidak ada. Hanya sedikit menanya kabar. Berbasa-basi.” balasnya lagi. Aku berani bertaruh setelah ini dia akan mengatakan hal yang tidak akan membuatku senang sama sekali. “Lalau kau tau?”

“Tidak.”

“Aiiisssh. Itu bukan pertanyaan. Tak usah dijawab.” dia memukul lenganku pelan. Aku memutar bola mataku. “Dia menanyakan kabarmu.” Sudah kuduga.

Seperti aku peduli saja.

“Oh.”

“Yaaak, apa kau tidak punya reaksi yang lebih manis dari itu?”

“Maaf. Tapi aku tidak peduli dengan dia.” Ujarku setegas yang aku bisa. Aku mengatupkan rahangku. Kemudian menambahkan. “Lagi.” Dan aku kembali mencurahkan perhatianku kepada catatan Fisika yang sempat tertinggal. Kata-kata Min Ju berikutnya hanya samar-samar kudengar. Instrumen fals yang selalu kutolak untuk mendengarnya.

Aku melirik sekilas ke arah jendela di ujung lain kelasku. Dan di sana sedang berdiri Oh Se Hun. Bersama Taehyung sepupuku dan teman-teman mereka yang lainnya. Menungguku untuk pulang bersama. Otot-otot wajahku segera berkedut hendak membentuk senyum. Dan tersenyum adalah hal berikut yang kulakukan. Betapa pulang bersama mereka sekarang sangat kunantikan.

Siapa yang peduli dengan seorang mantan kekasih ketika pria putih tampan berdiri di depan pintu kelas, menunggu untuk pulang bersama? Yang pasti bukan aku.

Tanpa sadar, tanganku bergerak sendiri ke arah dinding di sampingku. Dengan pulpen warna biru, tanganku menodai dinding kuning itu. Dengan tiga huruf. OSH.

Kudengar cibiran Min Ju di sampingku yang berkata tentang betapa menyedihkannya aku. Tapi aku tidak bisa peduli lagi. Aku betul-betul menyukainya.

.

.

Kau tau kau sungguh mencintai seseorang saat segala tindakan dan kata yang terucap olehnya begitu mempengaruhimu sampai ke tingkat kau begitu bahagia serasa melayang di angkasa atau kau begitu kecewa hingga bahkan bernafas menjadi begitu menyakitkan.

“Noona sedang apa?”

Aku berusaha untuk menahan senyumanku saat kata-kata itu tertangkap oleh telingaku. Tenang Choi Yoon Hae. Tenang. Kendalikan dirimu.

“Hanya sedang tidur-tiduran.” ucapku pada handphone ku. Tentu saja bukan pada alat itu aku sedang bicara, tapi pada orang di ujung lain sambungan telepon ini.

“Tidak belajar?” tanya suara bariton yang membuat jantungku melonjak-lonjak girang itu.

“Kalau aku belajar, aku tidak akan berbicara di telepon denganmu sekarang ini.” Aku seharusnya terdengar kesal tapi aku tidak bisa mengendalikan bahkan cara berbicaraku sekarang begitu juga suara seperti decitan yang terdengar setelah kata-kataku. Ya ampun aku jadi terdengar seperti tikus. Kuharap Se Hun tidak menganggapku orang aneh

“Haha benar juga.”

Ya Tuhan. Kuatkan aku. Kuharap aku masih tetap hidup setelah kami selesai dengan percakapan di telepon ini. Bahkan hanya tawa singkat dan kata-kata seperti itu saja jantungku seakan mau meledak. Memompa seluruh liter darahku sekaligus menuju bilik jantung dengan terburu-buru. Aku betul-betul serius berharap dia tidak mendengar detak jantungku yang sangat kuat ini.

“Kau sendiri sedang apa?” kuberanikan diriku bertanya. Ouh tenanglah jantung. Kumohon.

“Sedang berbicara di telepon.” jawabnya. Dan aku tertawa. Seperti idiot. Bahkan saat dia tidak lucu aku masih sanggup tertawa. Dia punya efek sebesar ini terhadapku.

Aku senang mendengar suaranya. Walaupun hanya lewat telepon seperti ini. Terima kasih pada Taehyung yang sudah mau memberikan nomorku pada Se Hun, kalau sewaktu-waktu dia mau menghubungiku. Terkadang sepupuku yang satu itu berguna juga. Aku tidak peduli apa alasan Se Hun meneleponku sekarang. Yang jelas, saat aku sedang mengerjakan soal-soal Kimia ku tadi, aku hampir saja berteriak histeris saat melihat namanya – tentu saja aku juga menyimpan nomornya – tertera di layar ponselku.

Untung saja aku masih bisa mengendalikan diriku dan tidak melanjutkan niatku untuk salto di tempat saat itu juga, dan setelah dengan sengaja membiarkan ponselku berdering dua kali, baru aku menekan tombol terima di layar ponselku dan berkata “Halo.” dengan jantung yang berbunyi sekeras genderang.

“Ngomong-ngomong…” kudengar dia berkata ragu-ragu setelah kami membicarakan banyak hal yang tidak penting tapi tidak akan pernah kulupakan seumur hidup. “Bukankah minggu depan noona ulang tahun?”

Deg. Sekali lagi jantungku berdetak cepat tanpa bisa kukendalikan. Bagaimana dia bisa tau? Apa jangan-jangan dia.. Tidak. Tidak. Hentikan itu. Jangan langsung memikirkan kemungkinan dia menyukaimu.

“Y..ya.” jawabku akhirnya setelah diam selama beberapa detik yang terasa lebih lama dari seharusnya. “Dari mana kau tau?”

“Aku…”

Bertepatan dengan Sehun berkata “aku” sambungan kami langsung terputus. Mati. Tidak terdengar suara Oh Se Hun lagi. Tidak ada lanjutan kata-katanya tadi. Dan aku mengerang kesal menatap layar ponselku yang hanya menunjukkan warna hitam.

“Ough tidak sekarang.” ujarku kesal. Kemudian melempar benda itu ke atas kasurku, lalu melemparkan badanku sendiri ke atasnya. Seharusnya aku mengisi baterai ponselku tadi sore. Kenapa harus bertepatan dengan momen seperti ini sih?

“Kira-kira dia mau mengatakan apa yah?” tanyaku pada langit-langit kamarku. Tidak terdengar jawaban.

Tapi aku tidak begitu peduli. Biar bagaimanapun, ini luar biasa. Tadi sore aku hanya dapat memandang punggungnya dan menginjakkan kakiku di tiap bekas pijakannya. Mengejar bayangannya.Dan malam ini aku sedang bicara padanya. Aku bicara dengan Oh Se Hun. Terima kasih Tuhan. Terima kasih Eomma. Terima kasih Appa. Aku terlahir ke dunia.

.

.

“Jadi…” aku mendengar Min Ju berkata di sela-sela aku sedang menggambar tokoh kartun. “Apa yang membuatmu terlihat lebih menyedihkan dari biasanya hari ini?”

Aku bersenandung ringan, memilih tidak menjawab pertanyaannya. Aku sedang senang hari ini. Dan seorang Kim Min Ju tidak akan kubiarkan merusak kebahagiaanku hari ini. Aku tetap berkonsentrasi menggoreskan pensil di atas kertas, membentuk gambar tokoh yang kuinginkan. Tentu saja sampai seorang Kim Min Ju berpikir bahwa adalah ide yang sangat menyenangkan merusak hari Choi Yoon Hae. Dia menggunakan kedua telapak tangannya untuk menutup kertas gambarku, menghalangi ujung pensilku bersentuhan dengan kertas itu.

“Yaak. Kau pikir apa yang kau lakukan hah?” teriakku karena merasa terganggu.

Tapi aku tidak kesal dengan perbuatan Min Ju. Luar biasa. Oh Se Hun memang mempunyai pengaruh sebesar ini terhadap mood ku. Karena dia menelepon semalam, sampai sekarang aku masih belum bisa menenangkan hatiku sendiri. Rasanya seperti euforia setelah memenangkan lotre berhadiah saju juta US$. Tapi tentu saja satu juta US$ yang kumaksud di sini adalah suara bariton seorang pria yang sekarang pasti sedang duduk di salah satu kursi di samping kelas ini. Otot wajahku berkedut-kedut tak jelas lagi begitu ingatan akan suaranya mendesak memenuhi ingatanku. Dan aku tersenyum.

“Omo omo. Sekarang kau tersenyum seperti sudah gila.” kata Min Ju di sampingku.

“Yaak Kim Min Ju. Hari ini aku sedang senang. Jadi kata-katamu barusan akan kuabaikan.” Balasku sambil menunjukkan senyumku padanya. Dan aku mendekatkan bibirku ke telinganya, berbisik “Kau tau? Semalam Oh Se Hun meneleponku.” lalu menjauh dan tersenyum lagi.

“Benarkah?” teriak Min Ju, membuat teman-teman sekelas yang juga ada di ruang kelas saat jam istirahat itu menatap pada kami berdua.

“Yaak pelankan suaramu. Ini hanya antara kita.” Kataku seraya membekap mulutnya.

“Hhhmmmfff hmmff hmmmfff…”

Aku melepaskan tanganku dari mulutnya kemudian. Dan dia menghirup udara sebanyak-banyaknya masuk ke dalam paru-parunya sebelum membuka mulut untuk bicara lagi. “Kau tidak sedang mengarang cerita kan?”

“Tentu saja tidak.” Jawabku segera, sedikit tersinggung dengan tuduhan sahabatku, yang sekarang ini ingin segera kuputuskan hubungan persahabatan dengannya. “Lihat ini.” Dan aku menyodorkan ponselku ke arahnya. Menunjukkan riwayat panggilan dengan Oh Se Hun. Min Ju menatap layar ponselku tidak percaya.

“Ini nyata atau tidak nyata? Apa sekarang kita sedang ada di alam mimpi?” katanya lagi.

“Aku sendiri semalam berpikir ini tidak nyata, tapi ini nyata Min Ju. Lihat saja riwayat panggilan ini.”

“Lalu apa yang kalian bicarakan selama eeng..” dia menatap ponselku. “Hampir dua jam semalam?” dan dia menatapku tidak percaya (lagi).

“Banyak sekali.”

Dan aku mengulang percakapanku dengan Se Hun di telepon semalam. Tidak melewatkan satu abjad pun. Setiap kata. Setiap kalimat. Hingga bagian pembicaraan kami yang terakhir semalam.

“Uuggh dasar wanita menyedihkan.” erangnya setelah aku selesai mereka ulang percakapanku dengan Se Hun. “Kapan kau akan berhenti menjadi menyedihkan?” katanya lagi. “Seharusnya kau tau kalau ponselmu akan kehabisan baterai kan? Aku tidak percaya aku berteman dengan idiot sepertimu.”

Aku hanya diam, tidak berani menjawab kata-kata Min Ju. Sekali ini aku setuju dengannya. Aku ini memang menyedihkan. Seandainya aku memeriksa baterai ponselku, pasti aku sudah tau dari mana Se Hun tau tentang ulang tahunku. Dan mungkin saja setelah itu kami akan jadian. Oke. Itu khayalan yang terlalu jauh. Tapi siapa tau hubungan kami yang selama ini hanya sekedar pulang bersama akan menjadi sesuatu yang lebih. Kuharap.

.

.

“Aku tidak mengerti.” ujarku sedikit kesal setelah meletakkan kaleng soda ku dengan agak keras di atas meja. “Kenapa aku harus mentraktirmu makan ramyun sementara aku tidak kalah taruhan apa-apa minggu ini?”

Taehyung hanya menatapku sekilas dari balik mangkuknya, tapi langsung menggerakkan sumpitnya lagi dengan cepat tanpa mau repot menjawab pertanyaanku. Aku memandangnya kesal.

Tau kalau aku tidak akan mendapat jawaban dari Taehyung secepatnya, aku mengalihkan perhatianku ke layar ponselku. Sudah tiga hari. Se Hun tidak pernah menghubungiku lagi. Bahkan satu pesan singkat pun tidak pernah dikirimnya sejak itu. Dan untuk bicara langsung dengannya di sekolah ataupun di luar sekolah, rasanya terlalu susah untuk kulakukan. Mengingat aku belum tentu bisa mengendalikan detak jantungku dan rona merah di wajahku saat menatap wajahnya langsung.

Tapi tidak sekalipun ponselku berbunyi menunjukkan namanya di layar lagi. Yang ada selalu hanya pesan dari Min Ju atau Jong Dae teman semejaku, dan Jong In yang lebih sering tidak kutanggapi.

Aku mengangkat kepalaku menatap Taehyung saat kurasakan sumpit besinya dipukulkan ke dahiku. Aku melotot padanya dan dibalas dengan pelototan yang lebih menyeramkan olehnya.

“Kau suka Se Hun.” ujarnya. Aku melihat dia mengeraskan rahangnya.

“Tidak.” sangkalku cepat.

“Ya.”

“Tidak.”

“Kubilang ya.” katanya kali ini sedikit memaksa dan membentak. Dia menatapku tajam.

“Oh yeah. Sekarang aku tau. Makanya kau menyuruhku mentraktirmu.” Aku memutar bola mataku.

“Mengalihkan pembicaraan?” Taehyung mengernyitkan keningnya.

“Tidak.” Jawabku lagi cepat. “Aku tidak suka dia. Lagipula dari mana kau dapat ide konyol begitu?”

“Kau…” bisiknya ragu. “Meneleponnya. Se Hun bilang kau meneleponnya.”

Aku membelalakkan mataku. Terperanjat  mendengar kata-kata sepupuku yang terakhir itu. Aku menelepon Oh Se Hun?

“Aku tidak meneleponnya.” aku berkata sambil mengerutkan keningku. Kenapa dia memanipulasi cerita seperti itu?

“Dengar. Aku tidak peduli kau meneleponnya atau tidak. Tapi kami menemukan buku berwarna hijau di laci mejamu dan…”

“Kalian memeriksa laciku?” aku meninggikan suaraku begitu mendengar kenyataan yang baru saja dibeberkan Taehyung.

“Ya. Waktu itu kami sedang iseng dan…”

Sebelum Taehyung menyelesaikan kalimatnya, aku melempar kaleng sodaku ke kepalanya dan berteriak “Memangnya kalian pikir hak apa yang kalian punya untuk membongkar laciku seperti itu hah?”

“No.. Noona. Tenang.”

“Aku tidak bisa tenang.” bentakku pada Taehyung. Aku merasa bersalah melihat raut wajahnya yang ketakutan. Tapi rasa kesal dan marah jauh lebih besar di hatiku. Mereka membongkar laciku dan membaca catatan hijauku. Dan itu dilakukan bersama Oh Se Hun. Seluruh isi hatiku kutuangkan di buku itu. “Aarghh….” aku mengacak-acak rambut panjangku frustasi. Ingin rasanya memukulkan kepalaku ke meja bundar di depanku sekarang ini.  “Bayar sendiri ramyunmu. Juga soda itu.” Kataku masih setengah berteriak pada Taehyung. Dan aku berlari menuju tempat aku memarkir sepedaku dan segera meninggalkan kedai itu.

.

.

Memangnya dengan terus menangisinya dia akan berubah jadi peduli?

Kata-kata Taehyung malam itu menjadi suatu titik balik dalam kehidupan kelas tigaku. Tepatnya bukan kata-katanya malam itu. Tapi apa yang diceritakannya malam itu.

Hal pertama yang kulakukan malam itu begitu mengunci kamar dan meletakkan kepalaku di atas bantal adalah menangis. Aku tidak tau tepatnya apa yang membuatku menangis. Kenyataan bahwa Se Hun berhenti menghubungiku atau karena perasaanku sudah terbaca olehnya dan teman-temannya atau karna aku terjatuh dari sepeda dan lututku sangat perih. Atau akumulasi ketiganya. Itu adalah air mata pertama yang kujatuhkan di tahun ketigaku di SMA.

Air mata kedua terjatuh keesokan harinya. Saat aku menceritakan hal-hal yang membuatku menangis malam sebelumnya pada Min Ju.

“Si brengsek itu melakukan hal seperti itu…” Lebih terdengar seperti pernyataan dari pada pertanyaan. “Kenapa dia memutarbalikkan fakta begitu?” kali ini pertanyaan.

“Aku tidak menyangka.” jawabku di sela isakku. “Kenapa dia kekanakan begitu sih?”

“Ssshhh… tenanglah. Selagi perasaanmu masih belum terlalu dalam. Kau sebaiknya melupakan dia saja.” Min Ju memang biasanya adalah sahabat paling menyebalkan yang bisa kau miliki, tapi dia bisa jadi sahabat yang baik saat dibutuhkan. Dan aku bersyukur dia adalah sahabatku sekarang. Tangannya yang digunakan untuk mengelus rambutku sedikit menenangkanku.

Air mata kedua kemudian diikuti dengan air mata ketiga dan keempat dan berikutnya dan berikutnya. Setiap hal yang dilakukan dan tidak dilakukannya membuatku menangis. Sejak hari itu aku jarang melihat Se Hun. Aku tidak sekali pun keluar kelas untuk melihat Se Hun yang biasanya duduk di kursi di depan kelasnya. Aku jarang melihat sosoknya lewat di samping jendela kelas kami, hampir tak pernah. Dan aku berhenti pulang bersama mereka. Aku jadi naik bus sekolah menuju halte, dulu aku tidak melakukan itu. Tapi aku tidak sanggup bertatap muka dengan Se Hun lagi. Dan tidak sekalipun sejak itu di layar ponselku tertulis namanya.

.

.

Don’t ignore me.

“Selamat ulang tahuuuuun….” aku hanya diam, pasrah saat kue ulang tahun ditempelkan ke mukaku saat seharusnya kue itu masuk ke perut, bukannya menjadi make up untuk wajah. Aku menutup mataku lagi saat serangan berikutnya dilancarkan oleh Taehyung. Tepung ditumpahkan di atas kepalaku. Jong Dae memecahkan telur mentah di atas kepalaku. Sudah kuduga ulang tahun memang selalu menjadi hari terjorokku. Kuharap berikutnya mereka tidak memanggangku di oven.

Ucapan selamat ulang tahun tak berhenti mengalir dari mulut mereka semua. Min Ju, Jong Dae, Baekhyun, Jin Ri, dan semua yang terlibat dalam acara kejutan ulang tahun itu. Kado-kado diserahkan. Tidak satu pun dari mereka yang bersedia memelukku karena takut kotor, walaupun sebenarnya sebagian dari mereka sudah kotor, kulapkan tanganku ke seragamnya, atau kulempar sisa-sisa krim kepadanya. Dan selesai. Satu per satu dari mereka pulang. Yang tinggal hanya Min ju, Taehyung dan teman-temannya yang setia mengorbit di sekelilingnya. Termasuk Se Hun. Mereka yang terakhir menyalamiku.

“Selamat ulang tahun yang ketigabelas noona.” Taehyung tersenyum saat memberikan ucapannya. Aku mengabaikan kenyataan dia lagi-lagi menggodaku dengan mengataiku tiga belas tahun. Tapi siapa yang peduli? Saat dia memelukku tanpa ragu, aku merasa sangat disayangi oleh sepupuku ini.

Aku masih tersenyum saat Taehyung melepaskan pelukannya. Tapi itu sebelum aku sadar bahwa seorang pria tinggi yang paling kuharapkan berdiri agak jauh dari kami. Bersikap seolah tidak ada yang terjadi. Seolah dia tidak mengenalku. Seolah minggu sebelumnya dia tidak membicarakan tentang ulang tahunku melalui telepon. Dan senyuman segera terhapus dari wajahku.

“Se Hun, kemari. Ayo ucapkan selamat ulang tahun pada kekasihmu.”

Ada perasaan ingin mengubur diri sendiri saat itu juga ketika kudengar salah satu teman Taehyung, aku tidak tau tepatnya siapa, memanggil Se Hun. Tidak lupa juga menyebut aku kekasih Se Hun. Kejadian setelah itu serasa blur di mataku. Blur karena air mata yang memaksa ingin keluar.

Saat Se Hun menepis tangan Min Woo yang berusaha menariknya mendekati kami. Dan dia berjalan melewatiku. Kemudian menjauh.

Air mata kesekian karena Se Hun jatuh tepat setelah dia berjalan melewatiku. Tidak sekalipun kudengar kata penolakan darinya setelah mengetahui perihal perasaanku yang terpendam itu, tapi sebagai gantinya dia tidak menganggapku ada lagi. Itu adalah saat aku sadar diabaikan ternyata lebih menyakitkan daripada ditolak. Dan Se Hun sudah mengabaikanku.

.

.

Rasanya sangat berat untuk terus-terusan menunggu hal yang kau tau tidak akan pernah terjadi. Tapi lebih berat lagi untuk menyerah ketika kau tau itu adalah segalanya yang kau inginkan.

Jam kelima, jam pelajaran bebas. Sebenarnya bukan bebas.Tapi guru-guru sedang rapat. Jadi kelas-kelas jam pelajaran bebas.

Berita baiknya aku tidak perlu membaca puisi hari ini di depan kelas, masih bisa kutunda sampai sabtu depan. Berita tidak begitu baiknya adalah aku terjebak. Di kelas yang bukan kelasku. Tepatnya di kelas Taehyung yang kebetulan adalah kelas Oh Se Hun juga.

Entah bagaimana, aku berakhir di kelas Oh Se Hun. Mengerjakan tugas yang seharusnya adalah tugas mereka. Membuat review untuk cerita rakyat. Aku bersorak dalam hatiku saat Se Hun meminjam kertas tugasku dan mencontek pekerjaanku.

Aku mengabaikan Min Ju saat dia lagi-lagi mengatakan “Dasar wanita menyedihkan.” Tidak bisa kusangkal. Walaupun aku lebih sering menangis karena perasaanku pada Se Hun, tapi rasa cinta lebih dominan menguasai hatiku. Dan yeah ini adalah kontak langsung pertama yang terjadi di antara kami berdua sejak saat “itu”. Aku tahu aku menyedihkan tapi aku tidak bisa menyerah dengan perasaanku di saat aku tahu kalau pria yang duduk tidak begitu jauh dariku itu adalah segalanya yang kuinginkan.

Berita buruk hari ini adalah aku ada di posisi paling tidak baik saat ini. Aku tidak tau kenapa sekarang aku sedang berdiri di depan kelas Oh Se Hun. Setiap pasang mata menatapku. Hanya Min Ju yang menolak mempertemukan matanya denganku. Dia menundukkan kepalanya. Yeah, kalau dia masih berani menatapku setelah meletakkan aku dalam posisi seperti ini, aku akan membunuhnya dengan tatapanku, kalau tatapan bisa membunuh.

“Ayo mulai.” kudengar suara Taehyung menyuruhku untuk mulai bernyanyi.

Biar kuingat lagi kenapa aku harus menyanyi sekarang. Oh ya. Kami bermain Truth Or Dare. Saat giliranku aku memilih Truth yang di mana aku harus menjawab segala pertanyaan dengan jujur.

Kyung Soo yang bertanya. “Noona cinta dengan Se Hun kan?” Dan pertanyaan itu ditanya di depan Se Hun. Mereka semua kemudian mengalihkan pandangannya dari apapun yang awalnya mereka pandang ke aku. Jawaban seperti apa yang mereka harapkan sekarang? Aku menolak menjawab.

Min Ju yang kemudian datang dengan ide untuk memberikan hukuman aku harus menyanyi di depan kelas itu. Dan lagu yang harus kunyanyikan adalah lagu yang paling menggambarkan perasaanku saat ini. Itu adalah hal terbodoh yang pernah kudengar. Tapi aku tetap harus melakukannya. Hukuman adalah hukuman.

Jadi di sinilah aku sekarang.  Mulai memetik gitar yang kupinjam dari Kyung Soo, aku bingung kenapa dia membawa alat musik itu setiap hari tapi yah sudahlah, itu bukan hal yang harus dipermasalahkan.

Aku mulai memainkan gitar, membunyikan intro dari lagu yang hendak kulantunkan. Kunci demi kunci. E minor. D. G. A. E minor lagi. D. G. A. Kemudian aku membuka mulutku dan mulai bernyanyi.

Untouchable like a distant diamond sky.

Aku menghindari kontak mata dengan siapapun di ruangan itu. Memfokuskan pandanganku ke senar gitar.

I’m reaching out and I just can’t tell you why.

I’m caught up in you. I’m caught up in you.

Untouchable oleh Taylor Swift. Lagu tentang suatu cinta yang tak terbalas. Seperti intan di langit jauh, kuraih tapi tak dapat jauh dari jangkauanku. Itu adalah Se Hun.

In the middle of the night when I’m in this dream

I wanna feel you by my side, standing next to me

Aku mengangkat wajahku, memberanikan diri memalingkan mata dari senar ke arah orang yang menjadi objek dari lagu ini. Se Hun.

You gotta come on come on

Say that we’ll be together

Hal yang tidak kuduga adalah saat aku mengangkat wajahku dan menatapnya, yang pertama terjadi adalah mataku bertemu dengan matanya. Dia telah menatapku dengan intens begitu aku mulai bernyanyi tadi. Tapi sedetik kemudian dia memalingkan wajahnya.

Come on come on

Little taste of heaven

Se Hun adalah orang pertama yang bertepuk tangan saat alunan nada terakhir dari gitar yang kupegang terdengar. Dan dia menatapku. Aku tau dia menatapku tapi aku tidak berani lagi balas menatapnya.

Aku mendengar salah seorang dari mereka berkata “Se Hun selanjutnya kau yang harus bernyanyi. Ayo balas nyanyian Yoon Hae noona.”

Tapi aku tidak merasa dia perlu membalas nyanyian itu. Tepukan tangannya saja sudah menjadi melodi indah yang membuatku bahagia. Aku sudah cukup puas dengan itu.

Karena ini adalah kisah cinta. Cinta yang tak terbalas.

.

.

Ini bukan candaan. Seberapa besar aku menyukaimu. Aku tau aku tidak jujur. Tapi setiap orang tau kenapa aku melakukan hal yang kulakukan itu.

“Nyanyianmu sangat bagus noona.”

Jantungku melonjak-lonjak girang saat kudengar kata-kata itu meluncur dari mulut Se Hun.

“Terima kasih.” jawabku singkat. Tidak tau hal lain apa yang harus kukatakan. Dan lagi, aku sibuk memikirkan bagaimana caranya menyembunyikan degup jantungku yang liar ini agar Se Hun tidak usah mendengarnya.

“Noona aku… tidak begitu mengerti bahasa inggris.” Kudengar suara bariton itu berucap lagi melalui ponselku. “Jadi aku meminta Taehyung mengartikan lagu itu dan…..” Menghela nafas. “Itu adalah lagu yang bagus.”

“Ya.”

Aku betul-betul ingin menjawab lebih panjang dari itu tapi otakku buntu. Hanya itu yang terpikir untuk kukatakan. Dan aku bersyukur aku tidak sedang bertatapan langsung dengan Se Hun sekarang. Karena kalau tidak, dia pasti sudah melihat senyum aneh di wajahku. Dan itu adalah hal terakhir yang aku ingin untuk dilihatnya.

“Apakah itu adalah ungkapan perasaanmu?”

Hening sejenak, dan kemudian dengan ragu aku membuka mulutku memberikan jawaban yang diharapkannya. “Ya.”

Hening lagi. Hanya suara nafas kami berdua yang terdengar.

Mungkin aku seharusnya berhenti menyukainya dan membuat diriku terlihat menyedihkan –

“Noona..” kudengar dia memanggilku. Terdengar jelas keragu-raguan dalam suaranya. “Apa kau jatuh cinta denganku?”

– Tapi hatiku tidak mengijinkannya. Apa sesungguhnya yang begitu salah dari berharap pria tinggi ini akan membalas debar gila ini?

.

.

END

A/N: Halo🙂 Mau curhat sedikit. Sebenarnya cerita ini berdasarkan pengalaman cintaku sendiri. Suka sama adik kelas, temennya sepupuku hehe. Cuman kejadian-kejadian yang di cerita ini udah diedit dari yang aslinya, ada pergantian setting dan semacamnya, tapi secara garis besar ini adalah kisahku haha. Anyway, maaf buat ending yang ngegantung gitu. Haha seperti biasa “gantung ending” udah mendarah daging dalam diri aku. Aku udah ngerencanain sequel buat cerita ini. Kalau menurut kalian cerita ini butuh sequel, kalian tinggal bilang di kotak komentar yah.

Saya menerima kritik dan saran. Bash juga kali ini saya terima. So this time you’re free to say anything you want. But don’t be silent reader okey🙂 And don’t call me thor. I’m 96L. Call me anything accept “thor”.

Much love for my fellow reader. And this is cookie for all of you😉 Just imagine I’m giving it to you okey:)

kukishias

188 thoughts on “[Oneshot] Can You Love Me

  1. kok sama kayak cerita aku ya? aku juga suka sama adek kelas #okelupakan._. feelnha dapet banget. aku sampe terharu/? dan lebih terharu lagi, endingnya gantung:””) wkwk btw ini udh ada sequelnya belum ya?

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s