[CHAPTERED] Mr. Friday Part 10 (Final)

Mr Friday 5 copy

Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 | Part 7 | Part 8 | Part 9

Tittle : Mr. Friday

Author : Sehunblackpearl

Main Cast :

–  Park Bo Ram (OC)

–  Oh Sehun (EXO)

Supported Cast :

–  Yoona (SNSD)

–  Kim Jong In (EXO)

–  Lee Hye Ju (OC)

Genre : Romance, schoollife, fluff

Rated : PG

Disclaimer : Plot dan isi cerita milik saya. SNSD and EXO is not mine but Sehun is 😄

Warning : Beware of typo. Do not bash and plagiarize. And do comment^^

^^Mr. Friday^^

“Oppa…”

Sehun menghentikan gerakan tangannya di tubuh Bo Ram saat mendengar panggilan oppa diikuti pekikan tertahan.

Sehun mengerang kesal tapi kemudian dia turun dari atas tubuh Bo Ram dan dia kembali duduk bersandar ke pohon. Membantu Bo Ram duduk dan mengancingkan kemeja sekolahnya. Dia menolak menatap kepada pemilik suara yang baru saja menginterupsi kegiatannya dengan Bo Ram (lagi-lagi). Tanpa perlu melihatnya, dia tau kalau suara itu adalah milik Hye Ju.

“Oppa dan Bo Ram….” ujar Hye Ju sambil berjalan mendekat pada dua orang yang baru dipanggilnya. “Kalian pikir apa yang sedang kalian lakukan di sini?”

Bo Ram tidak menjawab. Dia sibuk merapikan seragam dan rambutnya dan apapun yang ia rasa perlu untuk diperbaiki.

Sehun yang memberikan tanggapan atas pertanyaan Hye Ju. “Kau sendiri apa yang kaulakukan di sini Hye Ju?” dengan balik bertanya.

“Aku mencari oppa.” Jawab Hye Ju yang sekarang sudah berdiri tepat di depan Bo Ram dan Sehun.

“Dan urusan apa tepatnya sampai kau mencarinya?” tantang Bo Ram. Tapi tantangannya tidak terdengar segalak yang dia inginkan. Malah yang keluar dari mulutnya hanya bisikan pelan dan dia tidak berani mengangkat wajahnya untuk bertatap muka langsung dengan Hye Ju.

“Ini antara aku dengan pacarku.” balas Hye Ju sarkastik. Dia tidak menangkap sepenuhnya kata-kata Bo Ram. Tapi kalau Bo Ram mengira dia akan takut dengan bisikan pelannya itu, Bo Ram salah besar. “Kuharap kau tidak usah ikut campur Nona Park.”

Bo Ram mengangkat wajahnya untuk menatap Hye Ju. Membelalakkan matanya mendengar Hye Ju masih menyebut Sehun pacarnya. Kemudian mengalihkan pandangannya pada pria yang duduk di sampingnya. Yang diharapkan Bo Ram adalah Sehun akan langsung menyangkal kata-kata Hye Ju atau memberikan sedikit pembelaan pada dirinya atau apapun yang bisa membuat Bo Ram tidak perlu risau.

Tapi harapannya berbeda dengan kenyataan. Bo Ram benci melihat Sehun yang hanya menundukkan wajahnya, menghindari kontak mata dengan Bo Ram.

“Katakan sesuatu.” bisik Bo Ram hampir putus asa. Hanya satu kalimat yang Bo Ram perlukan. Sehun menegaskan kalau dia dan Hye Ju sudah berakhir. Tapi Sehun mengangkat wajahnya dan menatap Bo Ram bersalah.

Itu adalah saat Bo ram sadar kalau lagi-lagi Sehun mempermainkannya. Dia tidak betul-betul putus dengan Hye Ju. Dia sudah membohongi Bo Ram. Membuat gadis itu mengalami patah hati entah untuk yang keberapa kali. Bo Ram sudah berhenti menghitung ini adalah patah hati bagian keberapa. Dan itu bukan menjadi fokus perhatiannya sekarang.

Yang dia tau, rasanya sekarang seperti batu besar sudah dijatuhkan menimpa dadanya dan dia tidak bisa bernapas. Dia merasa sudah dikhianati Sehun. Bo Ram bingung mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sehun putus dengan Sehun. Tidak benar. Sehun hanya mencintai Bo Ram. Ragu-ragu. Sehun hanya mempermainkannya sejak awal. Mungkin saja benar. Apakah perempuan bernama Yoona itu benar saudara kandung Sehun? Tidak tahu kebenarannya.

Bo Ram betul-betul lelah dengan Sehun, dan segala permainannya ini. Jadi dia melakukan hal pertama yang dapat terpikir olehnya. Mencabuti rumput yang berada paling dekat dengan tangannya secara kasar dan sekuat tenaga, lalu melempar rumput-rumput yang berhasil tercabutnya dalam sekali hentakan bersama sedikit tanah pada wajah Sehun. Bo Ram mendengar teriakan Hye Ju saat dia melakukannya tapi dia tidak bisa peduli lagi.

Sehun hanya diam dan menatapnya sendu. Membuat Bo Ram semakin muak. Dia tidak perlu tatapan itu. Sehun sudah terlalu jauh menyakitinya. Satu tatapan sendu dan ribuan kata maaf dari Sehun pun tidak akan bisa menyembuhkan sakit hatinya sekarang.

Bo Ram dengan segala sisa kekuatannya memaksa tubuhnya untuk berdiri. Melihat Sehun sekilas penuh kebencian. Dan ia berjalan meninggalkan tempat itu. Sengaja menghentak-hentakkan kakinya dan menabrak Hye Ju. Dan menghilang membawa hatinya yang terluka dari tempat itu. Dari hadapan Sehun yang menjadi penyebabnya.

^^Mr. Friday^^

Bo Ram melempar tasnya ke sembarang arah begitu dia mengunci kamarnya. Dan tanpa mengganti pakaian maupun melepas kaus kakinya dia langsung menenggelamkan badannya ke atas kasurnya. Menutup wajahnya dengan bantal. Menghalangi matanya dari mendapat penerangan.

Teringat akan wajah Jong In sore tadi saat mereka sedang kencan di coffee shop dekat sekolah. Ekspresi pria itu. Tatapannya.

Ck. Bo Ram mendecak kesal kemudian melempar bantal yang digunakan menutupi wajahnya ke sembarang arah. Bukan begini seharusnya.

Hari ini dia bermaksud mengakhiri semuanya. Setelah kejadian di belakang sekolah tadi siang, akhirnya otaknya mulai bisa berpikir secara logis. Tidak hanya mengikuti apa yang diinginkan hati (dan hormon remajanya). Sejak awal Bo Ram lah yang paling tersakiti dalam permainan ini. Bukan siapa-siapa.

Karena itu saat Jong In mengajaknya untuk melakukan kencan sepulang sekolah, Bo Ram sudah bertekad ini akan menjadi yang terakhir dia berhubungan dengan ketiga orang itu. Tapi Jong In berkeinginan lain.

“Oppa sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu.” Ujar Bo Ram memberanikan diri sore itu sehabis dia menyeruput latte nya.

“Apa itu?” jawab Jong In santai seraya setia memandangi wajah Bo Ram. Satu tangan menopang dagunya dan dia tersenyum.

Bo Ram berusaha menyembunyikan kegugupannya dengan memain-mainkan gelas lattenya. Menghindari kontak maa dengan Jong In.

“Itu.. sebenarnya….”

“Ya?”

Bo Ram mengintip wajah Jong In sekilas. Dia masih pada posisi yang sama dengan tadi. Bo Ram berdehem, menarik nafas panjang sekali lalu mulai membuka suara lagi. “Aku harus jujur.”

“Tentang?” Jong In menaikkan alisnya mengiringi pertanyaannya itu.

“Sebenarnyaakusudahmempermainkanoppa.” ujar Bo Ram cepat.

“Hah?” kali ini Jong In mengerutkan alisnya. “Bicara pelan-pelan Bo Ram.” lalu terkekeh setelah meminum cappucino dari gelasnya.

“Aku…” Bo Ram mencoba mengulangi kalimatnya. Kali ini lebih pelan. “Sebenarnya tidak menyukai oppa.” Dia menggigit bibir bawahnya gugup.

Jong In diam. Tidak bisa memikirkan kata-kata apa pun untuk membalas perkataan Bo Ram. Bahkan otaknya belum mampu mencerna sepenuhnya apa yang baru saja dikatakan Bo Ram. Tangannya yang memegang gelas cappucino nya tergantung di udara.

Setelah beberapa saat hanya berselimutkan kebisuan dan kelumpuhan tiba-tiba di antara keduanya akhirnya Jong In yang memutuskan untuk memecahkan keheningan duluan. Pertama ia berdehem. Lalu meletakkan gelasnya ke atas tapak dengan sedikit cangggung menyebabkan bunyi gemeretak yang jelas terdengar akibat pertemuan antar permukaan kaca. Untuk beberapa detik yang sama sekali tidak lama dia memakukan pandangannya pada meja sebelum dia mengalihkan pandangannya pada sosok gadis yang tampak sangat gelisah di hadapannya.

“Lanjutkan…” ujar Jong In setenang mungkin.

“Aku tidak tau bagaimana tepatnya menjelaskan ini…” Lagi, Bo Ram menggigit bibir bawahnya. “Aku agaknya sudah jatuh cinta dengan Sehun.” Bo Ram sedikit takut-takut menatap wajah Jong In. Dia tidak tau akan bagaimana reaksi Jong In dengan ini.

Jong In masih diam. Menatapnya. Memberi isyarat agar Bo Ram kembali melanjutkan penjelasannya.

Bo Ram semakin gugup. “Tapi kan kita sama-sama tau kalau dia dan Hye Ju….” Bo Ram berhenti. Ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Kemudian menarik nafas banyak-banyak ke dalam paru-paru dan mengeluarkannya kembali dalam sekali hembusan. “Lalu oppa memintaku jadi pacar sedangkan yang kutau oppa ini suka dengan Hye Ju. Jadi… kupikir oppa menggunakanku sebagai rebound dan aku juga mau berpacaran denganmu dan… beginilah akhirnya kita.”

“Begini bagaimana?” tanya Jong In akhirnya setelah dia menunggu beberapa detik tanpa ada penjelasan lanjutan dari Bo Ram lagi.

“Yaaahh begini. Begini.” balas Bo Ram. Keragu-raguan terdengar jelas dalam suaranya. Dia sendiri tidak tau begini bagaimana yang dimaksudnya.

Jong In mengernyitkan keningnya tanpa mengeluarkan suara untuk menanggapi kata-kata Bo Ram. Dia memilih menunggu Bo Ram menjelaskan “begini” itu bagaimana.

“Aku tau oppa masih sangat suka dengan Hye Ju.” kata Bo Ram hati-hati, berusaha memilih kata yang tepat. “Aku melihat apa yang kalian lakukan di dekat toilet malam itu. Waktu kita berempat pergi ke bar.”

Jong In tertegun mendengar pernyataan Bo Ram yang terakhir. Untuk sejenak tidak tau apa yang harus dikatakan. Jadi dia meletakkan tangannya di keningnya lalu mengusap rambutnya kemudian menutupi matanya. Bo Ram hanya menatapnya yang menjadi salah tingkah.

“Tentang itu… aku minta maaf.” Jong In menatap Bo Ram. “Itu adalah salah satu kebodohanku. Tapi… tapi.. Bo Ram. Kalau kau memberi kita kesempatan aku berjanji aku akan menyayangimu sebagaimana seharusnya seorang pria yang jatuh cinta.”

Bo Ram tidak mengharapkan Jong In mengatakan hal seperti itu. Sama sekali.

“Kita berdua ini tidak seharusnya mengganggu mereka sama sekali. Dan aku sudah betul-betul memikirkan ini Bo Ram. Sejak beberapa hari yang lalu. Aku tau kita bisa mencoba hubungan ini. Jadi ayo kita pertahankan hubungan ini. Soal cinta, pasti akan tumbuh dengan sendirinya. Secara perlahan.”

Bo Ram kehilangan kata-kata. Apa yang baru saja diucapkan oleh Jong In terus berputar-putar menginvasi seluruh spasi di otaknya. Membuat kepalanya penuh dan terasa sakit. Apakah kali ini Jong In serius dengannya? Ya, wajahnya mengatakan seperti itu. Ekspresi dan tatapan mata itu bukan sesuatu yang dapat dibuat-buat.

“Jadi apa jawabanmu?”

Tapi Bo Ram menolak memberikan jawaban bagi Jong In. “Aku akan memikirkannya. Tapi tidak sekarang.” hanya itu yang dapat diberikannya untuk menjawab pertanyaan Jong In.

Bukan begini seharusnya. Bukan ini akhir yang diharapkan oleh Bo Ram. Dia dan orang yang dulu disangkanya adalah Mr. Friday. Yang paling diinginkannya adalah Mr. Friday yang sesungguhnya. Tapi orang itu sudah selalu mempermainkannya. Bo Ram tidak yakin sikap seperti apa yang harus diambilnya mengenai masalah ini.

^^Mr. Friday^^

Bo Ram mengabaikan Sehun lagi. Menutup rapat-rapat jendela kamarnya dan berusaha menghindari Sehun tiap dia akan berangkat ke sekolah. Dan dia berhenti berbicara dengan Hye Ju. Persahabatannya dengan Hye Ju sudah berakhir. Berakhir sepenuhnya saat Hye Ju menamparnya di kelas kemarin pagi. Entah untuk alasan apa. Tapi Bo Ram sudah tidak peduli lagi alasan apa yang dimiliki Hye Ju untuk perbuatannya itu. Karena orang itu sudah bukan sahabatnya lagi.

Bo Ram segera meloncat berdiri dari tempat tidurnya sewaktu deringan ponselnya tertagkap oleh telinganya. Dengan cepat dia meraih benda itu dari atas meja belajarnya dan melihat nama yang tertera di ponsel itu. Sehun. Dengan malas Bo Ram memandangi layar ponselnya. Dia berjalan kembali menuju tempat tidurnya dan melempar badannya ke atasnya. Masih sambil menatap layar ponselnya. Membiarkannya berdering terus. Sampai berhenti.

Begitu ponselnya selesai berdering, Bo ram meletakkan ponsel itu di sampingnya. Dan dia kembali melakukan aktivitas awalnya. Membaca buku. Tapi beberapa detik kemudian, ponselnya berbunyi kembali. Bo ram melirik sekilas dan kembali mengabaikannya ketika dilihatnya nama peneleponnya.

Sampai tujuh kali ponselnya berdering barulah akhirnya Bo Ram memutuskan untuk mengangkat telepon Sehun dengan tujuan memarahinya.

“Apa maumu?” adalah yang pertama keluar dari mulutnya begitu dia menekan tombol terima.

“Bo Ram…” balas Sehun.

“Apa lagi yang kau inginkan dariku?” ujar Bo Ram sinis.

“Bo Ram aku….”

“Kau apa?” Bo Ram segera memotong. “Mau membohongiku lagi? Memberikan alasan lain lagi? Sudahlah oppa. Aku sudah tidak pesuli denganmu. Kau mau dengan Hye Ju atau siapapun aku tidak mau tau. Lakukan sesukamu.”

“Tidak Bo Ram. Kau salah paham.”

“Benar aku salah paham.” balas Bo Ram lagi dengan cepat. “Aku memang sudah salah paham tentangmu. Hanya karna kau mengantarku ke toko kacamata waktu itu, kupikir kau baik. Karena kau menyimpan kaset rusak yang kuberikan aku jadi simpatik padamu. Dan aku tertipu dengan semua ciuman-ciumanmu juga sentuhanmu. Kupikir kau itu betul-betul mencintaiku. Hanya aku. Tapi aku salah. Dari awal kau hanya mempermainkanku. Kau tidak pernah serius. Aku ini memang salah paham dan sudah berlaku bodoh sekali oppa.”

“Bo Ram bukan itu yang kumaksud. Kumohon dengarkan aku.”

“Tidak. Oppa yang dengarkan aku.” Bo Ram mulai merasakan getaran di suaranya. Dia tidak mau pembicaraan ini berlanjut lebih lama lagi. “Aku sudah tidak mau lagi jadi gadis bodoh. Aku sudah tidak mau peduli lagi denganmu oppa.”

“Bo Ram…” Sehun kali ini mengerang frustasi.

“Tidak. Jangan katakan apa-apa.” Bo Ram menggeleng-gelengkan kepalanya meskipun Sehun tidak melihatnya melakukan itu. Dia sudah terlalu merasakan sakit.

“Baiklah.” Sehun menghela nafas. Akhirnya menyerah. Apapun yang dikatakannya sekarang tidak akan membantu sama sekali. “Besok jumat.” Ujarnya lirih. Berharap Bo Ram tidak akan menolak mendengarnya kali ini. “Datanglah ke Garosugil. Mr. Friday akan menunggumu di sana.”

Bo Ram diam. Kali ini dia tidak menyerang Sehun lagi atau memotong perkataannya. Dua kata menghentikannya dari melakukan itu. Mr. Friday.

“Datanglah ke tempat kalian pertama bertemu. Dia akan menunggu. Mr. Friday yang akan menunggumu. Bukan Oh Sehun. Datanglah.” ulang Sehun lagi. Tanpa menunggu jawaban dari Bo Ram, Sehun memutus sambungan telepon mereka.

Bo Ram masih diam bahkan setelah semenit berlalu sejak tidak terdengar suara lagi dari ponselnya. Perlahan dia mengalihkan pandangannya ke arah jendelanya yang tertutup. Kalau dia memberanikan diri membuka jendela itu pemandangan seperti apa yang akan didapatnya? Tapi dia memilih tidak usah tau jawaban akan pertanyaan itu dan malah berbisik pelan.

“Bodoh. Aku tidak akan datang padamu. Aku sudah berjanji dengan Jong In oppa.” dia meletakkan tangannya di atas kepalanya, menggenggam sekepal rambutnya. “Di Garosugil.” lanjutya lagi.

^^Mr. Friday^^

Jumat. Hari yang mengesankan itu datang lagi diiringi hujan deras sore itu. Rasanya hari sangat cerah saat Bo Ram meninggalkan rumah tadi. Entah bagaimana saat dia ada di dalam bus cuaca segera mengalami pergantian.

Jumat selalu mengesankan. Begitu juga hujan. Kobinasi keduanya yang sangat disukai Bo Ram. Hanya saja kali ini dia sudah tidak semengesankan dulu lagi bagi Bo Ram. Dia pernah bertemu dengan seorang pria di hari jumat. Pria yang baik hati. Suatu hari hujan, dia telah mengantarkan Bo Ram ke toko kacamata karena khawatir dengannya yang tidak bisa melihat jelas.

Suatu hari jumat dia bertemu dengan seorang pria di kereta. Pria itu pada hari jumat berikutnya mengantarnya pulang saat kakinya terkilir.

Suatu hari jumat dia bertabrakan dengan seorang pria di sekolah. Tidak sengaja mengantarkan kaset yang salah pada orang itu. Pria itu menyimpan baik-baik kaset rusak yang dibawakannya walau tak ada hubungannya dengannya. Itu semua bukan ketulusan yang dibuat-buat. Pria itu memang baik hati. Pria yang dinamainya Mr. Friday. Dia yang seperti itu… Bo Ram telah jatuh hati padanya. Sampai sekarang pun Bo Ram masih tetap sangat menyukainya. Karena pada suatu hari jumat pria itu telah membuatnya jatuh cinta. Bertambah cinta setiap hari jumat berikutnya datang lagi.

Tapi lagi, suatu hari jumat sahabatnya membohonginya. Mengatakan pria itu yang telah menyakitinya. Dan jumat selanjutnya dia tau orang yang dicintainya telah menjadi milik orang lain. Sahabatnya sendiri. Dia patah hati.

Suatu hari jumat dia tau Mr. Friday adalah orang yang sama dengan pria yang telah membuatnya jatuh cinta itu. Dan mengalami patah hati bagian kedua.

Suatu hari jumat dia menyaksikan pria itu memeluk wanita lain. Lagi-lagi mengaduk-aduk isi hatinya.

Suatu hari jumat pria itu meminta coklat valentine darinya padahal pria itu sudah memiliki dua kekasih. Itu adalah saat dia sadar pria itu memang playboy seperti yang dituduhkan temannya.

Suatu hari jumat dia patah hati berkali-kali. Sampai dia hampir kehilangan akalnya.

Karena keasikan melamun, Bo Ram tidak memperhatikan langkahnya. Saat dia akan menginjakkan kakinya naik ke trotoar dia terpeleset dan jatuh ke genangan air di atas jalan beraspal. Dia tidak bisa mencegah jatuhnya itu sehingga dia hanya berteriak.

“Ugh… sial.” rutuknya saat dirasakannya air menyentuh kulitnya.

“Oh ya ampun. Maaf.” suara panik seorang wanita membuat Bo Ram mengangkat wajahnya menatap pemilik suara itu. Dan sebelum Bo Ram sempat bereaksi tangannya sudah ditarik dan dia sudah terbangun dari jalanan itu. Dibawa ke tempat yang teduh dari hujan. “Aduuuh bagaimana ini? Aku betul-betul minta maaf. Aku tidak tau ada orang di situ.” Ujarnya panik sambil mengambil tas Bo Ram yang terjatuh di jalanan. “Bagaimana yang kena payungku? Sakit tidak? Aduuuh kau basah kuyup. Bagaimana ini? Aku tidak ada handuk.” lanjutnya lagi.

Bo Ram ingin menjelaskan pada wanita di hadapannya itu bahwa dia bukan jatuh karena payungnya tapi mengurungkan niatnya saat dilihatnya wanita itu sangat panik. Biarlah. Rasanya kejadian seperti ini pernah terjadi. Bo Ram merasa seperti de javu. Sambil melap kacamatanya, Bo Ram membiarkan wanita itu sibuk memeriksa apakah masih ada barang Bo Ram yang tertinggal di tanah, dan ia mengkonsentrasikan otaknya mencoba mengingat kejadian yang mirip seperti ini. Tapi kemudian dia mengerang kesal saat yang muncul di kepalanya hanya Sehun. Oh yeah. Tentu saja itu adalah awal dia bertemu sehun.

“Eh? Kau Bo Ram kan?” Bo Ram segera tersadar dari lamunannya (lagi) saat mendengar namanya disebut. Segera dipasangnya lagi kaca matanya untuk melihat wanita itu. “Oh kau mungkin tidak mengenalku ya.” Kata wanita itu lagi, menunjukkan senyumnya yang harus Bo Ram akui sangat manis.

Dan yang pertama muncul dalam ingatan Bo Ram adalah kejadian di Garosugil juga. Sehun memeluknya. Dan yang kedua saat perempuan ini ditemuinya di kamar Sehun. Duduk di atas tubuh setengah telanjang Sehun. “Eem aku tau kau.” Sehun menyebut wanita itu noonanya. “Di sekitar sini, aku tidak tau tepatnya di mana. Sehun memelukmu.” Tapi siapa yang tau apa hubungan mereka yang sebenarnya? “Dan minggu lalu di kamar Sehun…” dia sengaja menggantung kalimatnya.

“Ya.” Dan gadis itu tersenyum. “Aku adalah kekasihnya yang lebih tua.”

^^Mr. Friday^^

Sehun sudah menunggu di tempat yang dia katakan selama tiga jam. Sejak hujan belum turun sampai sekarang hujan itu tinggal titik air kecil yang jatuh di atas jalan yang sudah basah. Sudah pukul enam. Tapi Bo Ram tidak kunjung nampak bayangannya. Dari arah mana pun Sehun mencoba menemukan sosok gadis itu, tetap tak ada.

Apa dia begitu salah berharap Bo Ram akan datang menemuinya walaupun memang dia sudah membuat gadis itu terluka?

Dia ingin menemui gadis pujaannya itu. Sekarang. Setelah tidak ada lagi yang muncul begitu saja di jalannya untuk mendapatkan Bo Ram. Tidak Hye Ju maupun Jong In maupun orang lain. Hanya satu kesempatan yang dibutuhkannya untuk bicara dengan Bo Ram. Menjelaskan.

Tapi sepertinya gadis itu sudah tidak akan memberikan kesempatan itu. Mungkin sudah waktunya menerima kenyataan itu. Sehun melirik arlojinya. Pukul enam lewat dua belas. Sebaiknya dia pulang.

^^Mr. Friday^^

Jong In bolak-balik melirik jam yang tergantung di dinding kafe itu. Sudah dua setengah jam sejak waktu yang dijanjikan dengan Bo Ram. Sudah tiga gelas cappucino masuk ke lambungnya. Dan empat gelas jus diminumnya sambil menunggu gadis itu. Berkali-kali setiap didengarnya bel yang ada di pintu berbunyi menandakan pengunjung yang baru datang, Jong In terus menatap ke pintu itu. Tapi tidak ada sosok yang ditunggunya itu berdiri di pintu kafe. Membuatnya semakin gelisah.

Apakah Bo Ram lupa kalau mereka ada kencan hari ini? Berkali-kali dia mencoba menghubungi ponsel Bo Ram tapi tidak sekali pun tersambung. Atau apakah dia sengaja mematikan ponselnya karena memang tidak bermaksud datang?

Apakah mungkin menurut Bo Ram sama sekali tidak ada gunanya untuk mencoba menjalin hubungan yang betul-betul serius dengan Jong In? Lalu bagaimana dengan waktu itu? Waktu Bo Ram menciumnya…

Jong In melirik sekali lagi saat didengarnya bel di pintu itu berbunyi lagi. Berharap kali ini Bo Ram akan muncul dari balik pintu itu.

Dan di sana berdiri gadis itu. Dengan kaus rajut lengan panjang yang sedikit kebesaran dan celana jeans pendek yang hanya menutupi sebagian kecil dari pahanya. Di udara sedingin ini dengan pakaian minim begitu. Dari nafasnya yang tidak teratur dan rambutnya yang sedikit basah Jong In tau dia sehabis berlari di bawah hujan. Jong In mengangkat lengannya dan tersenyum ke arah gadis itu saat mata gadis itu mulai mencari sosoknya. Dan gadis itu sendiri segera tersenyum saat dia menangkap bayang Jong In melalui lensa kaca matanya.

Ternyata Bo Ram tetap datang walaupun terlambat.

^^Mr. Friday^^

Bo Ram berlari di sepanjang jalan Garosugil. Dia sudah bersikap sedikit tidak baik pada Yoona tapi dia tidak bisa mempedulikan hal itu sekarang. Yang dipedulikannya dia harus segera menemuinya. Sudah tidak ada keraguan lagi dalam hatinya. Menguap seketika waktu mendengar kata-kata Yoona tadi.

Kata-kata wanita itu terus terngiang-ngiang di kepala Bo Ram. Berputar-putar membuatnya pusing.

“Aku ini kekasih Sehun yang lebih tua.” Itu yang dikatakan gadis itu pada Bo Ram lagi setelah Bo Ram keluar dari kamar mandinya masih dengan rambut basah dan mengenakan kaus rajut belang-belang dan celana jeans yang dipinjamkannya pada gadis itu. Dia meletakkan coklat panas di sisi meja depan Bo Ram dan satu dipegang untuknya sendiri.

Bo Ram hanya diam, memasukkan sebagian dari isi gelas yang baru disodorkannya ke dalam kerongkongannya. Dia sedang tidak ingin mendengar tentang itu sekarang. Dia bersedia saat perempuan bernama Yoona ini menawarkan untuk mencuci dan mengeringkan bajunya sebentar di apartemennya yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka bertemu itu adalah karena Bo Ram sudah merasa terlalu kedinginan. Bukan karena dia suka dengan Yoona.

“Sejak dulu Sehun tidak terbiasa dengan wanita.” ujar Yoona lagi. Dia mengintip ekspresi Bo Ram dari balik gelasnya. Gadis itu tenang sekali menanggapi kata-katanya. Tidak ada emosi terlihat sedikitpun. “Itu karena aku suka menjahilinya waktu kami masih SD.” Padahal dia ingin sedikit mengganggu gadis remaja yang kata Sehun sangat labil ini.

Oh jadi mereka sudah saling mengenal sejak masih SD. Bo Ram mendengar dengan sangat baik apa yang hendak disampaikan Yoona. Tapi dia memasang wajah seakan dia tidak peduli sama sekali.

“Dia itu sebenarnya saudara tiriku.” Yoona memperhatikan dengan seksama reaksi Bo Ram atas setiap kata-katanya. Dan tersenyum puas saat melihat raut muka Bo Ram yang segera berubah sewaktu dia menyebut kenyataan yang terakhir. “Kau tidak tau?” tanyanya pada Bo Ram yang kini sudah menatapnya. Gadis itu menggeleng lemah.

“Aku tidak mengerti.” bisiknya ragu. “Kalau dia saudara tirimu lalu kenapa kau ini kekasihnya?”

Yoona tertawa ringan mendengar pertanyaan Bo Ram. Huh ternyata dia memang peduli eoh? “Kau ingin tau?”

Bo Ram mengangguk.

“Baiklah akan kuberitau. Sehun itu adalah anak yang manis. Sangat manis.” seiring perkataannya senyuman terkembang di wajah cantik itu. “Saat kami pertama bertemu dulu dia masih sebelas tahun dan aku enam belas. Aku awalnya sangat benci dengan Sehun kau tau? Karena dia itu sangat tidak sopan dan tidak ramah. Sepertinya dia membenciku dan ibuku.”

Mulut Bo Ram membundar kecil mendengar penjelasan Yoona. Jadi Nyonya Oh bukan ibu kandungnya.

“Saat itu aku sudah remaja. Aku waktu ituada di usia dimana aku sedikit ego.” lanjut Yoona lagi. “Dan aku waktu itu berpikir aku tidak butuh bocah menyebalkan seperti dia sebagai adikku. Sampai kami resmi menjadi kakak adik kami masih belum bisa saling menerima. Tapi itu sebelum aku sadar.” Dia melirik Bo Ram lagi. Gadis itu masih setia mendengar ceritanya.

“Sadar apa?” desak Bo Ram saat Yoona tidak melanjutkan kata-katanya.

Yoona terkekeh. “Aku sadar kalau aku ingin punya keluarga yang normal maka aku yang harus berusaha untuk bisa menjadi saudara baginya. Lagi pula aku ini lebih tua dan sudah lebih dewasa waktu itu. Jadi aku mulai bersikap lebih baik padanya. Dan coba tebak. Ternyata dia itu anak yang sangat sangat sangaaaat manis.” Kemudian tawa Yoona pecah. Berhasil membuat kerutan di kening Bo Ram. Dia tidak mengerti kenapa Yoona tiba-tiba saja tertawa terbahak seperti itu.

“Oh maaf.” ujar Yoona sambil menyeka air matanya yang keluar karena tawanya tadi. “Aku tidak bisa menahan diri kalau mengingat dia waktu itu.” Yoona berusaha mengendalikan dirinya. Masih tetap tersenyum, dia meletakkan gelas coklatnya ke atas meja. “Waktu itu Sehun bilang begini padaku ‘sebenarnya aku ini tidak benci dengan noona’ oh dan itu adalah pertama kalinya bocah itu memanggilku noona. Lalu dengan wajah yang sangat merah dia bilang begini ‘Noona ini sangat cantik. Ini adalah pertama kalinya aku punya noona yang sangat cantik. Aku sangat senang. Tapi aku ini tidak pernah bergaul dengan perempuan’ oh dan ibu kandung Sehun itu sudah meninggal waktu dia lahir. Jadi yeah aku bisa memaklumi kata-katanya itu. Lalu dia bilang lagi ‘Jadi aku ini tidak tau bagaimana sikapku seharusnya dengan noona dan eomma. Tapi aku sangat senang kalian jadi bagian dari keluargaku. Aku sangat suka noona dan eomma.’ Begitu. Bukankah menurutmu dia itu sangat manis?”

Bo Ram tidak mengharapkan pertanyaan tiba-tiba Yoona. “Y.. yeah. Dia memang manis begitu.” Jadi dia menjawab seadanya.  “Tapi tetap tidak menjawab pertanyaan kenapa kau ini kekasihnya?” Bo Ram balik bertanya. “Eem Eonni?” tambahnya sedikit ragu.

“Baiklah kau ingin tau jawaban untuk itu.” Yoona membenarkan duduknya. “Tentu saja aku ini bukan kekasih dalam arti kekasih asmara bagi Sehun. Itu adalah waktu dia mulai masuk SMP. Harus kita akui kalau Sehun itu memang tampan sekali. Tapi seperti yang kukatakan dia itu tidak terbiasa dengan wanita. Jadi waktu tiba-tiba saja banyak gadis yang menempel padanya, Sehun tidak tau bagaimana bereaksi. Jadi dia bilang saja kalau dia itu sudah punya pacar. Dan karena dia sering pulang denganku, SMP nya dan SMA ku berdekatan, jadi orang-orang kira Sehun itu berkencan dengan peremuan yang jauh lebih tua, yang itu adalah aku. Hanya sebagian yang tau kalau aku ini noonanya Sehun.

“Waktu itu aku sempat mengejek Sehun. Dia bukannya memacari salah satu gadis yang menyukainya tapi malah terus menempel pada noonanya.” Yoona memutar bola matanya.

Bo Ram telah betul-betu salah sangka pada Sehun. Yoona memang betul-betul noonanya. Bo Ram mempercepat larinya. Berharap Sehun masih menunggunya.

Percakapan dengan Yoona tadi terus bermunculan di otaknya. Seperti sebuah estafet.

“Oh dan apa kau kenal Hye Ju?” Yoona berkata lagi setelah dia meneguk habis coklatnya.

Bo Ram mengangguk. “Dia… sahabatku.” ujarnya ragu.  Dia menggigit bibirnya mengingat sahabatnya itu. “Dulunya.” tambahnya lagi.

“Aaah dia sahabatmu.” kata Yoona. “Biar kutebak. Apa kalian berhenti bersahabat karena Sehun?” Bo Ram mengangguk. “Ah itu bodoh sekali.”

Ya memang bodoh.

“Kau tau? Hye Ju itu adalah sepupu Sehun. Dari pihak ibunya.” Kata Yoona, lagi-lagi membuat Bo Ram terperanjat. “Sehun memang jarang berhubungan dengan keluarganya dari pihak ibu. Tapi dia bertemu dengan Hye Ju setelah Hye Ju masuk ke SMA yang sama dengannya. Harus kukatakan Hye Ju menjadi sedikit posesif terhadap sepupunya yang tampan semenjak dia bertemu dengan Sehun.

“Dia tidak suka kalau Sehun berhubungan dengan perempuan lain. Tentu saja Sehun tidak keberatan sama sekali dengan sikap Hye Ju. Bahkan waktu Hye Ju menyebut-nyebut dirinya kekasih Sehun yang lebih muda.” Yoona memutar bola matanya malas saat mengucapkan kekasih yang lebih muda. “Seberapa besar rasa sayang Sehun pada ibuku dia tetap menghormati ibu kandungnya dan keluarganya. Dan yah dia tentu saja sangat senang Hye Ju sangat eenng katakanlah menyukainya. Tapi belakangan Sehun selalu mengeluh dengan sikap Hye Ju.” Yoona berhenti bicara. Menatap Bo Ram yang sedari tadi tidak berkedip memandangnya, mendengarkan kisahnya.

“Dan itu adalah karena seorang gadis tetangga yang manis tapi sangat labil.” Yoona terkekeh. “Tentu saja kalau kau tau siapa yang ku maksud.”

Ya. Bo Ram sekarang tau siapa yang dimaksud Yoona. Jadi tanpa berpikir dua kali, Bo Ram langsung bangun dari sofa dan berlari ke pintu. Mengabaikan Yoona yang memanggil namanya dan bertanya dia mau ke mana. Dia langsung memakai sepatunya yang masih basah dan berlari di sepanjang Garosugil.

Yang pertama dilakukannya setelah keluar dari bangunan apartemen Yoona adalah berlari ke kafe tempat dia sudah berjanji akan bertemu dengan Jong In. Bo Ram merasa sedikit bersalah melihat kekecewaan yang jelas terpancar di wajah Jong In saat dia mengatakan kalau dia tidak bisa terus bersama Jong In lagi. Apalagi Jong In sudah menunggunya selama hampir tiga jam. Tapi dia juga tidak ingin menyesal. Jadi dia dengan cepat meninggalkan kafe itu lagi. Meninggalkan Jong In yang kecewa.

Bo Ram berlari-lari kecil. Dia mengabaikan air yang terus memercik karena kakinya. Kaki putihnya yang basah terkena percikan air. Kaca matanya yang dipenuhi titik air dan membuat pandangannya jadi kabur. Dia tidak bisa mempedulikan itu sekarang. Dia harus ke sana. Menemui Mr. Friday. Semoga dia masih di sana. Semoga dia masih menunggunya seperti Jong In yang juga menunggunya di kafe itu.

Tapi Sehun tidak ada di situ saat Bo Ram menginjakkan kakinya di trotoar toko tempat mereka pertama bertemu itu. Bukankah Sehun mengatakan dia akan menunggu di sini? Apakah Bo Ram sudah membuatnya menunggu terlalu lama? Dia tidak menunggu seperti yang dikatakannya. Bahkan Jong In menunggunya meskipun harus berjam-jam. Tapi Sehun malah pulang. Bo Ram tidak tau seberapa lama Sehun menunggunya. Mungkin dia hanya menunggu sebentar lalu langsung pergi. Keraguan muncul lagi dalam diri Bo Ram.

Sebenarnya walaupun Sehun sudah tidak di sana lagi, dia bisa saja menemuinya besok atau malam ini juga bisa. Dia tinggal datang ke rumahnya. Tapi ini bukan tentang bertemu dengan Sehun saja. Kekecewaan yang begitu besar dirasakannya pada Sehun. Kenapa dia tidak menunggu lebih lama?

Bo Ram melangkahkan kakinya lagi meninggalkan emperan toko yang teduh itu. Dan berjalan di bawah hujan yang kini tinggal rintik-rintik kecil. Rasanya dia ingin menangis. Kenapa dia dan Sehun tidak pernah bisa bertemu dengan cara yang lebih baik? Tanpa salah paham dan semua kebohongan ini. Tanpa diiringi setiap kekecewaan.

Bo Ram berteriak terpekik saat dia jatuh untuk kedua kalinya hari itu. Pantatnya menyentuh lantai tangga yang baru saja hendak dipijaknya. Kenapa hari ini begitu menyebalkan? Setitik air mengalir di sepanjang garis wajah Bo Ram. Dia tidak yakin itu adalah air hujan yang mulai deras lagi atau air matanya. Dia memutuskan kalau itu adalah air matanya saat dirasakannya air itu tidak berhenti mengalir dari matanya. Jadi dia menangis. Tidak peduli tatapan aneh dari orang yang berlalu lalang di sepanjang jalan itu  yang ditujukan padanya. Bahkan dia tidak mengangkat pantatnya untuk bangun dari tangga itu. Untuk sementara biarlah begini.

“Kenapa tidak bangun?” tanya sebuah suara di belakangnya. Suara yang lantang dan sedikit serak. Suara Jong In. Bo Ram mengangkat wajahnya, menengadah dan yang dilihatnya pertama adalah sebuah payung transparan menghalangi titik-titik hujan jatuh ke atas kepalanya. “Kau bisa sakit kalau tidak segera bangun dari situ.” ujar suara itu lagi. Dan tangannya besarnya melingkar di kedua lengan Bo Ram, mendirikannya.

“Terima kasih oppa.” ujar Bo Ram dengan wajah tertunduk. Dia tidak ingin Jong In melihatnya dalam kondisi menyedihkan seperti ini. Itu akan sangat memalukan. Dia menolak Jong In dan mengejar Sehun. Tapi Sehun tidak ada di situ.

Sedetik kemudian Bo Ram merasakan kepalanya ditarik mendekat ke dada pria itu dan dilingkupi oleh lengan hangat itu.

“Syukurlah kau datang.”

Bo Ram mengerutkan keningnya mendengar kata-kata yang baru saja didengarnya. Dia lupa kalau ada dua orang yang memiliki suara serak itu. Jong In dan Sehun yang sedang sakit. Bo Ram mengangkat wajahnya untuk memastikan apakah dia sudah salah mendengar atau itu memang…

“Sehun oppa…” panggilnya lemah.

“Bukan.”

Oh itu memang bukan dia. Bo Ram hanya mengkhayalkannya.

“Ini adalah Mr. Friday mu.”

Itu adalah dia.

“Sehun selalu menyakitimu. Mr. Friday tidak akan melakukannya.”

Bo Ram mengangkat lengannya, membalas pelukan Sehun, kemudian menangis.

“Oppa… kau menungguku.”

“Tidak. Aku tadi sudah berhenti menunggumu.” balas Sehun. “Aku sudah akan pulang saat kau berlari ke sebuah kafe. Tapi aku melihatmu lagi berlari ke sini. Jadi aku kembali.”

“Aku tidak peduli… Yang penting kau di sini.” Air mata Bo Ram masih tetap keluar begitu saja, membasahi kemeja Sehun.

“Bo Ram, aku… minta maaf untuk semuanya. Tapi kumohon biarkan aku menjelaskannya.”

“Tidak.”

Sehun tertegun mendengar jawaban Bo Ram. Kalau dia tidak mau mendengar penjelasan Sehun lalu kenapa dia berlari kehujanan untuk menemuinya? Bo Ram masih tetap gadis yang tak dapat dimengertinya itu. “Komohon Bo Ram, hanya sekali.”

“Tidak perlu oppa. Aku tidak peduli dengan itu semua.” Bo Ram melepas pelukannya pada Sehun. Menjauhkan badannya dan menatap Sehun yang kecewa. “Aku tidak butuh penjelasan apapun. Kau sudah membuatku marah sekali.” Katanya lagi, membuat perasaan Sehun semakin kacau.

Bagaimana caranya untuk membuat Bo Ram selalu berada dalam pelukannya? Sehun tidak tau. Apakah dia sudah kehilangan seluruh kesempatannya? Di saat dia tidak melakukan apapun yang salah. Semua hanya salah paham. Seandainya Bo Ram membiarkannya menjelaskan walau hanya sekali. Walau Bo Ram tidak akan percaya. Walau penjelasannya hanya akan terdengar seperti kebohongan belaka. Hanya satu kesempatan yang dibutuhkannya. Tapi Bo Ram menolak memberikan satu kesempatan yang dibutuhkannya itu. Seperti yang dikatakannya dia sudah sangat marah pada Sehun.

“Tapi…” kata Bo Ram lagi mengembalikan perhatian Sehun padanya. “Aku akan melupakan semua itu kalau kau mau menciumku.” katanya lagi sambil tersenyum polos.

Tentu saja. Tidakkah hidup sangat indah?

Sehun langsung melangkah maju mendekat pada Bo Ram, membuang payungnya dan menangkup wajah Bo Ram dengan kedua tangannya lalu mempertemukan bibir mereka. Sehun tidak peduli kalau dia jadi tidak terlindung dari titik-titik air itu. Karena kalau ini adalah kisah cinta, bukankah ini adalah akhir yang tepat bagi mereka? Saat si tokoh pria mencium sang wanita diiringi rinai hujan. Pada hari jumat.

Suatu hari jumat mereka bertemu untuk pertama kali dan jatuh cinta untuk pertama kali. Cara yang klasik untuk menutup sebuah cerita cinta. Tapi inilah akhir bahagia yang diinginkan Bo Ram dari segala kisah hari jumatnya.

^^Mr. Friday^^

“Yaak oppa kenapa jam wekerku yang hilang ada di kamarmu?” Bo Ram tidak bisa tidak bertanya saat dilihatnya jamnya yang beberapa waktu ini dicarinya berdiri dengan bangga di meja belajar Sehun.

“Ooh itu. Bukankah kau sendiri yang melemparnya padaku?” jawab Sehun dari balik selimut dengan suara seraknya.

“Benarkah?” Bo Ram mengerutkan keningnya berusaha mengingat kapan dia melakukan itu, tapi tidak ada yang datang ke dalam memorinya jadi dia memilih mengabaikannya saja. Mungkin Sehun berbohong. Dia berjalan mendekati Sehun, duduk di kasurnya. “Kenapa kau ini mudah sekali sakit sih?” ujar Bo Ram seraya meletakkan tangannya di atas dahi Sehun untuk memeriksa suhu tubuhnya.

Sehun hanya mengedikkan bahu sebagai respon atas pertanyaan Bo Ram. Dia sendiri ingin bertanya kenapa Bo Ram tidak pernah sakit setelah ada di bawah hujan lebih lama dari Sehun.

“Kau ini lemah sekali oppa.”

Sehun pura-pura tidak mendengar ejekan Bo Ram. Sebagai gantinya dia berkata “Tapi bukankah kau sangat suka dengan suaraku saat aku sakit?” dan tersenyum.

“Itu lain cerita.”

“Apanya yang lain?” balas Sehun lagi masih sambil tersenyum. “Bukankah kau ini sudah jatuh cinta denganku sejak kita pertama bertemu? Dan menurutmu suaraku ini mengesankan sekali.”

“S.. siapa yang bilang begitu?”

“Hye Ju bilang kalau kau sangat suka dengan Mr. Friday dan tergila-gila dengan suaranya yang seksi itu.”

“Yaak itu tidak benar.”

“Karena itu waktu kita pertama bertemu di bus kau terus memandangiku. Karena aku mirip Mr. Friday dan..”

“Tidak. Itu tidak benar.” balas Bo Ram dengan setengah berteriak. Dia menutup seluruh wajah Sehun dengan selimutnya.

“Haha.. gaya rambutmu waktu itu…”

“Yaaak hentikan itu.” kata Bo Ram lagi masih dengan setengah berteriak. “Lupakan gaya rambutitu. Lupakan.”

“Hahaha…” Sehun tertawa dan berusaha menggapai tangan Bo Ram. Saat dia berhasil menggenggam tangan gadis itu dan membuat wajah Bo Ram mendekat padanya, mereka bertatapan langsung. Tiba-tiba ruangan itu menjadi hening untuk beberapa saat.

“Aah.. em..” Bo Ram berusaha memecahkan keheningan tiba-tiba itu dengan berdehem. “Sebaiknya oppa melupakan itu.”

“Tidak mau.”

Bo Ram mengerang kesal mendengar jawaban langsung Sehun. Bagaimana supaya pria ini mau melupakan kejadian memalukan itu?

“Tapi…” Sehun berkata lagi. “Aku akan melupakannya kalau kau mau menciumku.” Lalu menyeringai nakal. Dia menarik wajah Bo Ram yang semakin merah mendekat padanya. Lebih dekat. Semakin dekat.

Bibir mereka hampir bersentuhan ketika Bo Ram berbisik tepat di depan bibirnya “Nanti aku tertular sakitmu.”

Sehun diam sejenak. Sedikit menjauhkan wajahnya dari Bo Ram sebelum bibirnya membentuk senyuman lagi dan dalam sedetik dia sudah menarik Bo Ram rebah di atas kasurnya dan dia di atas Bo Ram.

“Ayo lakukan sesuatu yang lebih dari ciuman.”

Sehun  melepas kaca mata Bo Ram. Lalu menjalankan tangannya menuju kancing seragam sekolah gadis itu. Membuat catatan dalam kepalanya untuk tidak mencium gadis itu supaya dia tidak terlular demam.

Tentu saja. Bahkan demamnya tidak bisa menghalangi hormon Sehun saat Bo Ram ada di dekatnya. Apalagi di kamarnya seperti ini.

.

.

“Kenapa sepertinya mereka heboh sekali di lantai atas?” ibu Sehun bertanya seraya membolak-balik halaman majalah di pangkuannya.

“Entahlah. Mereka mengunci kamar itu.” Yoona menjawab sambil mengangkat bahunya. “Sehun sudah bukan bocah lagi kalau di dekat Bo Ram.” Ujarnya santai sambil menempelkan ujung gelas ke mulutnya, memasukkan jus di dalamnya menuju kerongkongannya. Tidak mempedulikan pandangan bertanya ibunya. Dia sedang menebak-nebak pemandangan di kamar di lantai dua dalam kepalanya.

=END=

A/N: Yuhuuu Sehunblackpear is here^^ Oke jadi itu adalah akhir dari Mr. Friday. Sekarang tinggal nunggu season dua *eaaaak season dua semacam Cinta Fitri aja yah lol. Ya ampun gimana menurut kalian endingnya? Apakah terlalu maksa? Apakah masih ada pertanyaan yang belum terjawab? Maaf deh kalau masih ada yang nyangkut di hati gitu.

Aku mau ngucapin special thanks to : ayy310, Noonanunanoonim, Dianmtha, Naynamika, qankin, dan Znnisa-hunnie^ Nama-nama yang baru aku sebut adalah mereka yang paling bikin aku terharu :”) Kalian udah mengikuti cerita ini dari dulu dan tetap setia bahkan setelah aku sempat menghilang tanpa pesan selama sembilan bulan. I love you soooooo much 🙂 ❤ Also big thanks for bubunni, choijungri, clyms, DJ, endahendaah, exomine, friscilathaliaa, HZ, Jongin-ahh, Jujusery, junginseung, Kim Ha Na, Lovaticexo, mikaela, my bacon, Rae220315, Rinauliya, rty0209, salmaamran, seheenaa, dan my bacon yang juga adalah reader lama dan udah menunggu lama untuk kelanjutan ff ini 🙂 Terima kasih juga buat exo_yen_shi eonni yang sangat aku sukai 😀 dan buat shafakinaaaar dongsaeng yang udah komen dan like di tiap ff aku.

Dan ucapan terima kasih gak habis aku ucapkan buat semua reader yang lama maupun yang baru yang gak sempat aku sebut dalam kesempatan ini. Percayalah aku sangat menyukai kalian semua. Semuanya. Walaupun gak aku sebutin namanya satu per satu. Niga neomu joha ^^ Kalian adalah black pearl – black pearl yang udah selalu memotivasi aku untuk mengerjakan ff ini *bisik* di saat aku lagi malas-malasnya.

Juga spesial shoutout to Choi Sina. Waktu aku menghilang kamu yang selalu datang, bolak-balik bertanya kapan aku bakal melanjutkan ff ini. Maaf kalau aku terlalu lama membuatmu menunggu. Begitu juga dengan Ayy310 dan Noonanunanoonim :”) Ucapan terima kasih aku buat kalian berdua gak ada habisnya. Buat Choi Sina, aku gak tau apakah kamu udah baca part-part yang kamu tunggu ini tapi aku harap kamu bakal baca entah itu nanti atau kapanpun. Juga buat Herasehunie.

Dan buat sahabatku Sugiura Chiaki atau Lili Alum yang waktu aku sering *bisik* galau dulu selalu menghibur dan nyuruh aku buat lanjutin ff ini, niga neomu joha chingu-ya :* :* Kamu salah satu sahabat terdaebak yang paling kusayang 😀 *jangan muntah ya -_-

Sekali lagi terima kasih buat semua pembacaku. Yang lama dan yang baru, yang komen dan yang sider. Terima kasih untuk apresiasi dan partisipasi kalian semua 🙂

Dan untuk season dua dari Mr. Friday ini bakal aku pos dengan judul berbeda. Aku masih bingung ngasih judul apa enaknya. Aku punya dua pilihan. “We Were In Love” atau “We Got What?” Kalian lebih suka yang mana? -,-

Oke cukup sekian. Sebelum A/N ini bisa dibuat jadi drabble aku akan hentikan sampai di sini. Dan gak lupa plis jangan panggil aku “thor”. Aku 96L. Panggil apa aja boleh. Aku dan suamiku ini masih tetap mengharapkan komentar dari kalian ^^

sehun

Tunggu part dua dari FF ini yah 🙂 Saranghae ❤ ❤ ❤

Tertanda : Istri Sehun 🙂 XOXO :* ({})

106 thoughts on “[CHAPTERED] Mr. Friday Part 10 (Final)

  1. huwahh akhirnya sehun sama boram bersatu(?) yeyy udah ga ada salah paham lagi,aduh tapi kasian jong in ,ya udah lah sama aku aja kali ya#plakkj

  2. ffnya benerbener daebak
    pertama aku kira sama jong in tapi sama sehun
    astaga gk ketebak jalan ceritanya aku suka aku sukaala mei mei
    ya ampun kalo bisa ada squel hak hak masih sempet minta ><
    tau lahh aku bener bener suka ffnya aku tunggu cerita yang laen

  3. Hiyaaaaaaaa Kakak!!
    Maaaaaaaf baru baca fanfic ini 😥 Aku bahkan ngga tau kalo ini udah final #hikssss!
    Btw, ini aku Kak … Choi Sina 🙂
    Selama beberapa bulan ini aku hiatus dan baru buka internet dua bulan yang lalu … terus aku mau minta maaf sekali lagi karena aku sempet lupa judul fanfic Kakak ini karena bookmark di ponselku keformat semua, jadi susah pas mau nyari di mbah google :3
    Ini aku juga ngebut bacanya dari chapter 7 Kak dan fanficnya memuaskan ko … cuma endingna kurang gereget xD Masih ada lanjutannya, ‘kah? Season 2? Sequelnya? Oke Kak … keep write ya! Ganbatte dan makasih udah tag nama Choi Sina di akhir cerita ini 🙂

    Ditunggu karya-karyamu yang lain 🙂

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s