Diposkan pada Fanfiction

My Cruel Husband [Chapter 2]

my cruel husband

Author: Mingi Kumiko

Cast: Byun Baek Hyun and Kim Yoon Hee

Genre: Marriage life, romance

Rating: PG-17

Summary:

Hubungan Baekhyun dan Yoonhee pun mulai membaik seiring dengan intensitas kebersamaan mereka. Namun, di kala Yoonhee telah merasa nyaman dengan semuanya, sekelebat rasa bersalah masih menyelimuti benak Baekhyun.

Apakah yang membuat Baekhyun seakan tak bisa memaafkan dirinya sendiri? Dan mampukah Yoonhee meyakinkannya bahwa ia tak akan lagi mempermasalahkan hal itu?

Chapter 1

.

.

Setelah pagi yang sangat buruk itu, Yoonhee tetap menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Ia coba sama sekali tak mengusik atau pun mengingat hal tersebut agar tetap fokus dengan kegiatan mengajarnya.

“Anak-anak… kemarin sudah ibu ajarkan cara membuat huruf R, ‘kan? Nah, sekarang… siapa yang tahu, apa huruf setelah R?” celoteh Yoonhee dengan senyuman cerahnya. Benar-benar seperti bidadari, itu lah salah satu dari banyaknya alasan mengapa para murid di kelasnya sangat suka padanya.

“Huruf Q, bu!” sahut salah satu muridnya. Mendengar muridnya yang aktif namun salah itu, Yoonhee segera menghampirinya. Sambil bersendeku, ia sentuh lengan Jaehyun–nama murid itu–pelan, kemudian berucap, “Jaehyun sayang… Q itu huruf sebelum R. Nah, kalau setelah huruf R namanya S.”

“Aku salah ya, bu?” tanya Jaehyun.

“Iya… tapi sekarang sudah tahu,’kan?”

“Ya. Huruf setelah R itu S. Aku akan mengingatnya,”

“Anak pintar…” Yoonhee mengelus lembut rambut Jaehyun, kemudian kembali menuju papan tulis.

 

“Jadi, anak-anak… huruf setelah R adalah S. Ayo kita belajar menulis huruf S!” Yoonhee memandu muridnya, menulis perlahan-lahan bentuk huruf S di papan kapur.

“Bisa menulisnya, anak-anak?” tanya Yoonhee pada murid-muridnya.

“Bu, kok angka limanya gendut?” celoteh Chanmi, muridnya juga.

“Huruf S memang mirip angka 5 sayang…” jawab Yoonhee dan tak lupa mengembangkan senyuman ketika berucap.

 

Ia pun berkeliling kelas, memeriksa pekerjaan muridnya satu per satu dalam menulis huruf S. Saat berjalan, tiba-tiba saja ia rasakan berat di kepalanya, tubuhnya lemas, dan serasa hanya kaki yang menumpu seluruh tubuhnya. Ia pun oleng dan langsung ambruk.

“Bu Yoonhee!” murid-murid sontak kaget dan berteriak. Untung saja ada orang tua dari beberapa murid yang menunggui anak-anaknya di sisi ujung kelas. Jadi, Yoonhee bisa dengan cepat mendapat pertolongan.

 

Ia langsung dibawa ke ruang kesehatan dan tubuhnya dibaringkan.

“Cepat hubungi suaminya agar langsung datang!” perintah kepala sekolah pada guru lain. “Baik, Bu…”

 

***

09.00 AM

Metro Corporation

“Aku frustasi, nampaknya aku memang sudah keterlaluan padanya!” rutuk Baekhyun sambil melempar sebuah pensil yang ada di mejanya.

“Kalau aku boleh bilang sih, kau memang sudah gila, hyung…, bagaimana bisa kau tega mengguyur seorang perempuan di malam hari? Pasti dia sangat kedinginan!” sahut lawan bicaranya yang tidak lain adalah bawahannya yang bernama Kim Jong In. Mereka sangat dekat, jadi Baekhyun memperbolehkannya memanggil namanya tanpa menggunakan honorifik.

“Rasanya aku benar-benar kehilangan kendali. Habisnya dia pergi diam-diam di acara yang sangat penting bagiku. Aku kan jadi merasa tidak enak pada teman-temanku,”

Ya, hyung! Bukannya kau bilang sudah minta maaf dan mengaku bersalah? Kalau sudah begitu, jangan lagi mengungkit-ungkit rasa kesalmu padanya. Siapa suruh sejak awal tak memberinya kesan yang baik?”

“Jangan menyudutkanku seperti itu! Mau bagaimana lagi, aku hanya bingung bagaimana cara berinteraksi dengannya. Di malam pertama kami, ia menangis tanpa henti, padahal aku sama sekali tak melakukan apapun, karena tidak tahan, jadi aku mengacuhkannya.

“Kalau kemarin malam itu…, entahlah, tapi aku harus akui, dia sangat cantik dan membuatku berpikir yang macam-macam, belum lagi statusnya sebagai istriku, membuatku merasa bebas akan apapun yang ingin kulakukan terhadapnya.”

“Nampaknya kau mulai tertarik pada gadis bernama Kim Yoon Hee itu,”

“Bukan begitu maksudku…, intinya, aku benar-benar tidak tahu bagaimana cara untuk memulai awal yang baik dengannya. Seperti, ketika aku hendak menyentuhnya, namun tangan yang kuulurkan gemetaran, saat aku ingin menyampaikan sesuatu, lidahku pun menjadi kelu.”

“Sungguh puitis! Lalu, bagaimana permintaan maafmu? Apa sudah ditanggapi olehnya?” tanya Jong-in.

“Dia tak mengatakan apapun setelah aku mengucapkan permintaan maaf.”

 

Bip… bip… bip…

Ponsel Baekhyun bergetar, menandakan ada panggilan masuk. Saat ia leihat layar ponselnya, Tertera nama taman kanak-kanak tempat Yoonhee mengajar. Ia pun segera mengangkatnya.

“Halo…”

“Maaf Pak, saya hanya ingin memberi tahu kalau istri Anda pingsan saat mengajar. Saya harap bapak bisa menjemputnya sekarang.”

“Istriku… Yoonhee pingsan maksudnya?”

“Iya,”

“Baiklah, aku segera ke sana. Terima kasih sebelumnya.”

 

Baekhyun pun menutup panggilan dan langsung beranjak dari kursi tempat ia duduk.

“Kenapa, hyung?” tanya Jong-in.

“Istriku pingsan di tempatnya mengajar. Aku harus segera ke sana. Beritahu ayahku jika aku membatalkan rapat hari ini.” Tukas Baekhyun dan segera pergi ke garasi untuk mengambil mobil.

 

Sesampainya ia di TK Cattleya, Baekhyun langsung menuju UKS untuk menemui Yoonhee. Ia hampiri tempat istrinya itu tidur, dan tanpa mengulur waktu terlalu lama, Baekhyun segera mengangkat tubuh Yoonhee untuk ia bawa ke mobil untuk ia bawa pulang ke rumah.

.

.

Setelah ia bujurkan tubuh Yoonhee di kasur, Baekhyun bergegas mengganti baju kantornya dengan pakaian santai sehari-hari. Setidaknya hal itu akan lebih memudahkannya jika nanti akan merawat Yoonhee.

 

Ia duduk di pinggiran kasur, meletakkan kain yang telah dicelupkan ke air dingin ke dahi istrinya.

“Suhu tubuhnya bisa sampai setinggi ini pasti karena ulahku. Ini semua salahmu, Baek!” Baekhyun bergolak dengan dirinya sendiri.

 

Baekhyun mulai suntuk menunggui Yoonhee yang tak kunjung bangun. Namun jika ia beranjak pergi, ia akan bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Tidak ada pilihan lain, Baekhyun harus tetap menunggu Yoonhee siuman.

 

Beberapa menit kemudian, mata Yoonhee mulai mengerjap-ngerjap, pertanda ia sudah mulai sadar. Matanya mengerling ke segala arah, bermaksud memahami apa yang sedang terjadi. Ya, ia belum sepenuhnya sadar.

“Kau sudah sadar?” tanya Baekhyun. “Kenapa aku ada di sini?” Dengan nada suara yang pelan, Yoonhee balik bertanya.

“Rekanmu menghubungiku karena katanya kau jatuh pingsan saat sedang mengajar. Dan seperti yang kau lihat sekarang, aku menjemputmu untuk membawamu pulang.” Jelas Baekhyun.

 

Setelah penjelasan itu, suasana pun mendadak hening. Yoonhee lebih memilih mengangguk tanpa menimpali ujaran Baekhyun.

“Kenapa kau bisa pingsan?” Baekhyun bertanya–pura-pura tidak tahu apa alasannya–untuk memecah keheningan.

“Aku tidak apa-apa,” jawab Yoonhee datar.

“Apa karena kau terlalu memikirkan ulahku tadi malam?”

“Sudah kubilang, aku tidak apa-apa, Baekhyun-ssi…” Yoonhee tetap berlaga sok kuat di hadapan suaminya itu tanpa mempedulikan degupan jantungnya yang berdetak amat kencang sedari tadi.

 

Perlahan-lahan, Baekhyun meraih tangan istrinya. Ia paksa Yoonhee untuk sedikit menoleh dan menghadap ke arahnya. Kedua tangan Baekhyun mulai menangkup pipi Yoonhee dan wajahnya pun semakin mendekat, kemudian tertunduk.

 

Kening dan hidung mereka saling beradu, lalu Baekhyun memejamkan matanya. Ia menghela napas panjang, mengumpulkan segenap keberanian untuk berucap.

 

Sudah jelas jika jarak mata mereka berdua sangat dekat dan membuat mereka saling bertatapan sangat dalam,

“Aku tahu aku salah dan kau pasti sangat membenciku. Maaf, hanya itu yang bisa aku ucapkan. Aku mulai sadar, aku adalah sosok lelaki yang buruk, aku sangat jahat dan aku bukan suami yang baik untukmu.” Ucap Baekhyun sambil tetap menangkup pipi Yoonhee dengan kedua tangannya.

“Tapi sekarang, aku sudah tahu apa yang harus kulakukan. Aku akan memperbaiki diri. Aku janji, aku akan belajar bagaimana cara membuatmu tersenyum dan nyaman ketika bersamaku.” Lanjutnya.

Jeongmalyo?” tanya Yoonhee tanpa mampu menyembunyikan gurat wajah gugup dan ragunya.

“Apa…, kau mau memberiku satu kesempatan lagi?” tanya Baekhyun, mimik wajahnya menyiratkan kesanggupan akan apa yang barusan ia katakan. Yoonhee pun mengangguk pelan, walaupun masih terbesit segelintir keraguan dalam hatinya, namun ia berusaha yakin bahwa apa yang Baekhyun ucapkan barusan bukanlah sebuah bualan belaka.

Baekhyun membalasnya dengan tatapan sendu dan tersenyum. Ia rengkuh tubuh Yoonhee, kemudian mendekapnya erat.

“Terlalu bodoh jika aku menyia-nyiakan sosok bidadari yang teramat sempurna seperti dirimu, Yoonhee…” ucap Baekhyun seraya mempererat dekapannya pada Yoonhee.

 

***

Malam ini sungguh berbeda dari malam-malam sebelumnya bagi Yoonhee maupun Baekhyun. Serasa malam ini lebih damai dan hangat.

 

Kini mereka tengah bersama-sama menonton TV di ruang tangah. Walaupun kecanggungan masih benar-benar menyelimuti mereka.

Hoaaam…” tiba-tiba Baekhyun menguap. “Kau mengantuk, Baekhyun-ssi?” tanya Yoonhee. Mendengar pertanyaan menggelikan dari istrinya, Baekhyun pun langsung menoleh dan menatapnya dengan bibir yang mengerucut.

“Kenapa wajahmu seperti itu?” heran Yoonhee.

“Kenapa masih memanggilku menggunakan honorifik, eo?”

“Maaf, itu karena aku sudah terbiasa memanggilmu seperti itu…,”

“Panggil aku ‘chagiya’!”

MWO?!” pekik Yoonhee refleks.

“Aku cuma bercanda, kok… Panggil aku apa kek, asal kau tahu saja, itu terdengar layaknya aku adalah atasanmu.”

“Baekhyun… oppa?” ucap Yoonhee ragu.

Aigogwiyeobda!” seru Baekhyun dengan sedikit membuka mulutnya membentuk huruf ‘O’.  “Apa itu panggilan yang bagus?” tanya Yoonhee. “Ne, johayo! Mulai sekarang panggil aku dengan sebutan itu, oke?” kata Baekhyun, Yoonhee pun mengangguk patuh.

 

“Sudah malam… apa kau tidak ingin tidur?” celetuk Baekhyun.

“Aku belum mengantuk. Apa kau mengantuk? Hm, tidur duluan saja,”

“Ya sudah, aku pergi ke kamar dulu,” Sembari beranjak dari sofa, Baekhyun dengan jahil mengacak-acak poni Yoonhee.

 

Ia berjalan menuju ruang kamar yang ada di sebelah dapur, tempatnya biasa tidur setelah menikah dengan Yoonhee. “Oppa-ya!” Yoonhee memanggilnya tatkala ia hendak menarik gagang pintu ke bawah. Baekhyun lantas menoleh, kemudian bertanya, “Apa?”

“Kenapa tidur di situ?” ucap Yoonhee dengan suara yang kelewat lembut dan menyiratkan kecanggungannya untuk bertanya demikian. Baekhyun tersenyum gemas melihat Yoonhee yang salah tingkah.

“Apa boleh, aku tidur di kamarmu?” tanya Baekhyun. “Iya…, boleh…,” jawab Yoonhee polos. Setelah mendengar jawaban Yoonhee, Baekhyun pun menghampirinya.

 

Ia menjulurkan tangannya kepada Yoonhee dan istrinya itu lantas mendongak. Ia pun lantas dihadapkan dengan sebuah senyuman yang terukir indah di bibir Baekhyun. “Mari memasuki kamar bersamaku?” ajaknya. “Eo?” Yoonhee nampak terkejut.

“Ayolah, tidak apa-apa…” Baekhyun mencoba meyakinkannya.

“Baiklah…” Yoonhee pun meraih tangan Baekhyun untuk ia genggam.

 

Baekhyun merebahkan tubuhnya di kasur empuk kamar Yoonhee –atau mungkin bisa disebut kamar mereka berdua. Karena di sanalah seharusnya mereka menghabiskan sepanjang malam bersama-sama.

“Ah…, ternyata tempat ini nyaman sekali ya?” celoteh Baekhyun yang berbaring dengan menumpukan kepalanya di kedua telapak tangan. Yoonhee hanya bisa mengangguk sambil menarik selimut, kemudian bergelung kemul.

 

Secara mengejutkan, Baekhyun yang awalnya tidur dengan posisi berbaring tiba-tiba saja memiringkan tubuhnya dan melingkarkan tangan pada pinggang Yoonhee, seperti malam kemarin. Dan lagi-lagi Yoonhee dibuatnya membelalakkan mata.

“Besok jangan pingsan lagi ya?” Baekhyun berucap sambil tetap memejamkan matanya. “Aku hanya ingin memelukmu. Sudahlah…, hitung-hitung penghangat selain selimut yang kini kaugunakan.” Timpal Baekhyun sebelum Yoonhee mambalas ucapan sebelumnya.

Jaljayo…” ucap Baekhyun, namun kali ini lebih lembut dan sungguh menghanyutkan–atau mungkin lebih tepat disebut berbisik–hingga Yoonhee tak mampu berkutik.

 

***

Matahari mulai menyembul dari ufuk timur sana. Menandakan hari sudah pagi. Mata Yoonhee terkerjap, kepalanya sedikit berat untuk bangun dan melakukan peregangan. Ia rasakan deru napas yang sedikit berisik di leher dan telinganya. Ketika ia menoleh, didapati lah wajah polos Baekhyun ketika tengah tertidur.

 

Kini giliran Baekhyun yang mulai terbangun. Matanya juga masih terasa berat untuk dibuka. Ia pun segera menarik tangannya yang terlingkar di pinggang Yoonhee kemudian melakukan sedikit peregangan.

“Selamat pagi…” ucap Yoonhee dengan senyuman menghiasi wajahnya.

“Hey, chagi… Kau bangun duluan rupanya.” Balas Baekhyun menanggapi salam Yoonhee. Yang ditanggapi salamnya pun sedikit kaget karena barusan ia dengar Baekhyun memanggilnya dengan sebutan ‘chagi’.

“Aku juga baru bangun, kok! Ya sudah kalau begitu oppa, aku mandi duluan, ya?”

“Baiklah…”

 

Selesai mandi dan berpakaian sangat rapih dan anggun, Yoonhee berlarian kecil menuju dapur untuk menyiapkan sarapan–seperti biasanya. Namun mengingat hubungannya dan Baekhyun yang perlahan-lahan mulai membaik, kali ini ia mengusahakan tak akan menyiapkan makanan yang hanya sekedar roti panggang.

“Bau apa ini? Harum sekali!” ucap Baekhyun mengagetkan Yoonhee yang sedang fokus memasak. Baekhyun makin mendekati dapur dan menghampiri istrinya yang tengah mengolah bahan-bahan makanan itu.

“Tidak biasanya?” heran Baekhyun ketika menengok apa yang sedang istrinya. “Etto…” Yoonhee bingung bagaimana untuk membalas Baekhyun.

Aish, jangan terlalu gugup jika sedang dekat-dekat denganku, kekeke…” Baekhyun terkekeh kecil.

“Baiklah, sepertinya keberadaanku di sini hanya akan membuyarkan konsentrasimu dalam memasak. Aku tunggu di meja makan, ya?” oceh Baekhyun. “Ne, oppa!

 

Akhirnya Yoonhee selesai memasak dan segera meletakkan hidangannya di atas meja makan.

“Ini masih panas.” Katanya. “Jadi untuk ini tujuanmu bangun pagi?” celetuk Baekhyun. “Hm, entahlah… aku sangat ingin makan kimbab hari ini. Kalau menunggu nanti mana bisa, aku terlalu sibuk mengurusi anak-anak.” Tukas Yoonhee.

 

Selesai sarapan, Yoonhee pun segera membereskan piring-piring kotor, kemudian mencucinya hingga bersih. Setelah itu dilanjutkan mengelap sampai kering, dan meletakkannya di rak.

 

Baekhyun memandangi Yoonhee yang tengah sibuk itu dari kejauhan. Ia benar-benar takjub dan tak menyangka kalau istrinya akan serajin itu. Ia tak pernah tahu sebelumnya, karena biasanya setelah menghabiskan roti panggang buatan Yoonhee, ia langsung pergi ke kantor tanpa pamit terlebih dahulu pada istrinya.

 

Seusai menuntaskan pekerjaannya di dapur, Yoonhee pun beranjak menuju kamarnya, berniat mengambil tas dan segera berangkat, naik kendaraan umum tentunya.

Oppa, kenapa tak kunjung berangkat?” heran Yoonhee ketika melihat Baekhyun yang masih duduk-duduk santai di kursi meja makan.

“Tentu saja karena aku menunggumu,” tukas Baekhyun singkat.

“Menungguku…, untuk apa?”

“Ayo, kita berangkat kerja bersama?” ajak Baekhyun. Ia pun berdiri dan beranjak dari kursi tempat ia duduk. Segera menghampiri Yoonhee dan menggandeng tangannya untuk menuju garasi.

Oppa, tapi aku belum mengambil tas.” Kata Yoonhee.

“Kau tak lihat apa yang ada di tangan kiriku, eo?” balas Baekhyun, Yoonhee pun menarik otot matanya untuk menoleh ke kiri. Ternyata benar, Baekhyun tengah menenteng tasnya.

 

Baekhyun menginjak gas dan segera melaju dengan kencang menuju tempat tujuan.

Oppa, terima kasih ya, sudah mau mengantarku. Akhir-akhir ini sering ada bahaya di dalam bus yang kunaiki. Syukurlah ada kau!” ujar Yoonhee yang merasa amat sangat senang apabila Baekhyun mau mengantarnya bekerja.

“Ini bukan apa-apa. Sudah kewajibanku, bukan?” balas Baekhyun yang tak ingin Yoonhee menganggap serius apa yang telah ia lakukan. Karena baginya, ini adalah salah satu cara untuk menebus semua kesalahannya terhadap Yoonhee.

 

Mereka pun sampai di TK tempat Yoonhee mengajar. Segera Yoonhee lepas sabuk pengamannya dan membuka pintu.

“Yoonhee-ya!” secara refleks Baekhyun memanggilnya, ia pun urung membuka pintu mobil dan berbalik menghadap Baekhyun.

 

Muach!

Kecupan singkat dan sekilas itu didaratkan oleh Baekhyun di bibir Yoonhee tatkala ia menoleh. Yoonhee langsung terperanjat kaget dan terkesiap saat itu juga.

 

Baekhyun mendadak merasa tak enak melihat ekspresi aneh yang tersirat di wajah Yoonhee. Ia memutar otak untuk berpikir bagaimana cara membuat Yoonhee kembali bersikap biasa saja padanya.

MORNING KISS !!!” seru Baekhyun dengan wajah penuh aegyo.

“Hahaha… oppa ada-ada saja!” Yoonhee terkekeh geli melihat tingkat imutnya. Ia memukul pelan lengan Baekhyun, kemudian menutup mulutnya dengan tangan, menahan tawa.

“Ya sudah, selamat bekerja ya! Jangan pingsan lagi…” kata Baekhyun memperingatkan.

“Siap!! Terima kasih sekali lagi, oppa…” Dan akhirnya, Yoonhee benar-benar turun dari mobil Baekhyun.

 

Ia berdiri menunggu Baekhyun berlalu bersama mobilnya. Sambil sesekali melambaikan tangan pada Baekhyun, mengisyaratkan ‘sampai jumpa!’.

 

***

Metro Corporation

10.00 AM

“Jongin-a, ternyata… jika kita menyayanginya, wanita akan menjadi sangat manis, ya?” celetuk Baekhyun di sela kesibukannya memperhatikan layar komputer.

“Wah, hubungan kalian sudah jadi lebih baik rupanya? Aku turut senang, hyung!” timpal Jongin.

“Lalu, apalagi yang harus kulakukan?” tanya Baekhyun meminta saran.

“Kau bawakan saja dia makan siang. Sebentar lagi kan jam istirahat.”

BINGO! Kau sangat jenius, Jong-in! Aku janji akan membujuk ayahku menaikkan gajimu!”

“Hahaha, hyung ada-ada saja…, aku kan hanya asal bicara,”

“Itu bukan masalah. Oke, aku akan segera pergi ke TK Cattleya sekarang juga. Sampai jumpa!”

 

***

Lonceng berdentang nyaring, pertanda jam belajar-mengajar di TK Cattleya telah usai. Yoonhee selaku guru pun menghimpun para anak didiknya untuk berdoa sebelum pulang.

“Seperti biasa ya anak-anak, kalau belum dijemput, jangan pulang dulu…” ucap Yoonhee seraya berjalan menuju bingkai pintu dan berdiri untuk menuntun murid-muridnya.

“Hati-hati di jalan ya, sayang…” ucap Yoonhee sambil mengelus lembut kepala setiap muridnya yang berjalan keluar kelas.

 

Seluruh muridnya pun telah keluar dari kelas. Kini ia beralih menengok taman bermain. Terdapat banyak sekali anak dari TK Cattleya yang masih menunggu jemputan dengan bermain wahana yang ada di taman tersebut. Ia lantas berjalan pelan menuju taman bermain, berniat menemani para murid-murid yang masih belum pulang itu.

“Bu Yoonhee!” panggil salah seorang muridnya membuat dirinya menoleh. “Iya, sayang…, belum pulang ya?” tanya Yoonhee. “Katanya, hari ini Mama ada urusan dan terlambat menjemputku.” Tukas Minhyuk. “Oh, kalau begitu ibu temani main ayunannya, ya?” tawarnya berbaik hati. “Terima kasih, bu…”

 

Tiba-tiba terdengar suara deruman mobil dari depan taman, Yoonhee pun mendongak untuk mengetahui orang tua siapa yang datang menjemput. Siapa tahu itu orang tua Minhyuk yang tak jadi menjemput terlambat.

 

Tapi mendadak Yoonhee merasa ada yang janggal. Seperti ia kenal betul dengan mobil yang berhenti agak jauh dari hadapannya tersebut. Pengendara mobil itu pun membuka pintunya dan bergegas keluar.

 

Yoonhee terperanjat kaget tatkala melihat Baekhyun lah yang keluar dari mobil itu. “Yoonhee-ya!” panggil Baekhyun sambil melambaikan tangannya pada Yoonhee. Yang dipanggil pun segera berdiri.

“Ibu ada perlu, sebentar ya?” ucap Yoonhee pada Minhyuk sebelum ia menghampiri Baekhyun. “Itu pacar ibu? Wah, lucu ya?” oceh Minhyuk. “Hehehe, bukan…” Yoonhee menyangkal sambil terkekeh garing.

 

Oppa, ada perlu apa ke mari?” tanya Yoonhee. “Aku membawakanmu ini.” jawab Baekhyun sambil mengangkat kotak makanannya. “Untukku?” bingung Yoonhee.

“Iya, kau belum makan siang, ‘kan?”

“Hm, belum sih…”

“Ya sudah, ayo kita makan bersama-sama!”

“Tapi ada beberapa murid yang belum dijemput. Aku harus menunggui mereka.”

“Tidak bisa digantikan guru lain ya? Waktuku untuk makan siang tidak banyak.”

“Kalau begitu, kita makan di bangku taman saja, ya?”

“Oke…”

 

Yoonhee pun mengajak Baekhyun untuk duduk di bangku dekat wahana prosotan. Setelah duduk, Baekhyun membuka kotak makanannya.

“Wah, ini enak sekali!” seru Yoonhee. “Syukurlah jika kau menyukainya…” Baekhyun tersenyum sendu tanda syukurnya.

 

Yoonhee menjumput sepotong ayam goreng dengan sumpitnya. Nikmat sekali rasanya. Seakan itu adalah ayam goreng terenak yang pernah ia rasakan.

“Pelan-pelan makanannya, chagi…” Baekhyun mengingatkan istrinya yang terlalu semangat mengunyah makan siangnya.

 

“Bu Yoonhee… Aku sendirian di sana, ibu jahat, kenapa tak kunjung kembali?” tiba-tiba saja Minhyuk datang dan mengomeli Yoonhee.

“Astaga, maaf Minhyukie… Ibu lupa. Ya sudah, kau di sini saja. Kau mau ini?” balas Yoonhee, ia pun mengangkat Minhyuk untuk duduk di pangkuannya dan menyodorkan secuil daging ayam ke mulut Minhyuk. “Ayo, buka mulutmu…”

Oishi!” seru Minhyuk. “Anak pintar, dari mana kau tahu istilah itu?” heran Yoonhee dengan Minhyuk yang mendadak saja bicara bahasa Jepang. “Dari iklan kulkas yang ada di TV, bu.” jawab Minhyuk. “Wah, kreatif sekali! Lebih banyak lagi cari istilah dari TV ya…” Yoonhee mengelus lembut kepala Minhyuk.

 

Berwibawa, anggun, keibuan, dan menyukai anak kecil. Beginilah yang namanya wanita idaman! Baekhyun diam-diam membatin. Menatap lekat-lekat Yoonhee yang tengah asyik menyuapi Minhyuk dengan ayam goring bawaannya tadi.

 

Chagi,” panggil Baekhyun. Seketika Yoonhee menoleh, semilir angin menerpa wajahnya dan menerbangkan beberapa helai rambut dan poninya.

Neomu yeppoyo… Baekhyun dibuat terpesona oleh wajah polos dengan senyuman natural itu.

Ne, oppa?” tanya Yoonhee yang membuat lamunan Baekhyun terpecah.

“Bukan apa-apa, hanya kau jangan terlalu fokus pada muridmu, pedulikan aku juga!”

“Maaf, tapi kau sudah dewasa, masa mau disuapi juga seperti Minhyuk?”

“Biar saja. Kau menyebalkan sih!” rutuk Baekhyun. Yoonhee pun gemas dan mencubit pinggang suaminya. “Aw, geli!” Baekhyun terperanjat kaget dan menjerit lantang.

“Hahaha…” Yoonhee pun terbahak melihat ekspresi kocak Baekhyun.

 

Makan siang pun selesai. Baekhyun dibantu Yoonhee untuk membereskan sisa-sisa makanan mereka.

“Aku pergi dulu ya…” Baekhyun pamit.

“Semangat bekerja, oppa!” seru Yoonhee.

“Tentu saja! Nanti malam jangan lupa masak, ya?”

“Siap!”

 

***

Baekhyun’s Home

09.00 AM

Seusai makan malam, Baekhyun membantu Yoonhee merapikan meja makan. Setelah itu, ia menunggu Yoonhee selesai mencuci piring. Ia bilang tak ada tugas untuk besok, jadi mereka bisa bersantai malam ini.

 

Yoonhee yang sedari tadi telah ia tunggu di sofa ruang tengah akhirnya datang dan menghampirinya.

Oppa…” panggil Yoonhee dan sontak membuat Baekhyun memutar kepalanya untuk menoleh. “Duduklah, Yoon-a…” Baekhyun mempersilakan. Sesuai perintah suaminya, Yoonhee pun mendudukkan dirinya di sebelah Baekhyun.

“O iya, katanya ada yang ingin oppa bicarakan? Kalau aku boleh tahu…, apa itu?” tanya Yoonhee ragu.

“Bukan apa-apa, hanya ayahku yang menanyakan kabar kita berdua. Dan beberapa waktu lalu, ibumu juga meneleponku,”

“O ya? Ibuku bilang apa padamu?”

“Kau benar-benar ingin tahu, yeobo?” oceh Baekhyun, ia pun kemudian menarik sebelah bibirnya, menyeringai.

“I, iya…, aku ingin tahu.” Jawab Yoonhee sedikit tergagap tatkala melihat ekspresi aneh Baekhyun, menerka-nerka jawaban apa yang sebentar lagi akan terlontar dari mulut lelaki berkulit milky way itu.

“Katanya, kalau kau terlalu sibuk dengan muridmu dan mengesampingkan aku, aku boleh mengekang aktivitasmu, loh…” ujar Baekhyun.

“M, mwo?” Yoonhee langsung tersentak kaget setelah mendengar penjelasan Baekhyun.

“Tenang, aku hanya cukup mengatakan “iya” atau “baiklah” pada ibumu. Aku tak akan benar-benar mengekangmu. Karena kurasa sudah sepantasnya kau lebih menyukai pekerjaanmu.” Celetuk Baekhyun. Ucapannya barusan cukup membuat Yoonhee menjerikan tatapannya, berusaha mencerna pelan-pelan tiap kata yang Baekhyun ujarkan, namun semakin ditelaah, perasaannya jadi bertambah aneh. Kenapa Baekhyun mengatakan hal seaneh itu?

“Apa maksud perkataanmu itu, oppa? Aku…, sungguh tidak mengerti!” tukasnya.

“Kau tahu apa maksudku, Nyonya Byun…”

“Apa kau berpikir kalau aku masih belum memaafkanmu karena perlakuanmu tempo hari, begitu?” ucapan ketus Yoonhee itu langsung ditanggapi dengan tatapan sendu Baekhyun yang mengarah padanya. Dalam hati, Yoonhee merutuk kesal. Kenapa suaminya itu harus kembali mengungkit hal yang telah berlalu? Karena baginya, itu sudah tak lagi menjadi masalah yang penting untuk diingat.

 

Namun tanpa ia duga sebelumnya, Baekhyun justru memeluknya dan mengelus lembut bagian belakang kepalanya.

“Aku merasa belum bisa menjadi suami yang baik untukmu. Kenapa setiap aku merasakan ketulusanmu, sekelebat rasa bersalah datang menyergap perasaanku? Terkadang aku berpikir, apakah aku layak untuk dimaafkan? Namun saat aku berpikir lagi, aku merasa…, aku tak ‘kan pernah pantas untuk dimaafkan. Lalu, apa yang harus aku lakukan?” ucap Baekhyun sambil terus mempererat dekapannya di tubuh Yoonhee.

 

Perlahan, Yoonhee mendorong tubuh Baekhyun agar ia bisa menatap wajahnya dengan jelas. Baekhyun tertunduk dalam diam. Yoonhee pun dengan sedikit keraguan mendongakkan kepala Baekhyun dengan ibu jari dan telunjuknya.

Oppa, kenapa kau menangis?” Yoonhee terkejut ketika melihat setetes air mata membasahi pipi tirus milik Baekhyun.

“Aku sudah benar-benar melupakannya.” Ucap Yoonhee seraya menyentuh dengan lembut lengan suaminya itu..

“Tapi tetap saja, itu semua salah–”

 

MUACH!

Yoonhee menyela sahutan Baekhyun dengan sebuah kecupan yang manis. Yang dicium pun dengan refleks terkejut dan lantas tertegun, tak percaya dengan apa yang barusan ia dapatkan.

“Aku sudah bilang, itu tidak akan jadi masalah. Aku senang dengan kau yang sekarang. Bagiku, kau adalah suami yang hebat. Sikapmu yang ternyata begitu manis membuatku nyaman berada di sisimu.

“Ini bukan sepenuhnya salahmu. Aku yang memulai semua ini. Salahku yang terus-terusan menangis di malam pertama kita. Pasti karena kau risih, jadi…, kau sedikit merasa kesal padaku. Byun Baek Hyun suamiku…, bukanlah orang yang jahat.”

“Terima kasih, Yoonhee…” ucap Baekhyun. Perlahan, ia mulai mempersempit jarak di antara wajah mereka. Kini hidung mereka saling beradu, deru napas masing-masing pun bisa keduanya rasakan. Bibir Baekhyun akhirnya menyentuh bibir Yoonhee. Keduanya sama-sama memejamkan mata, merasakan sapuan bibir yang terasa begitu manis dan hangat. Yoonhee makin membulatkan bibirnya. Sedangkan tangan Baekhyun mulai beranjak untuk menyentuh tengkuk Yoonhee, agar ia bisa menciumnya lebih manis, lebih lembut.

 

To be continue…

Sebelumnya aku minta maaf atas kekurangan di part sebelumnya, dan juga kayanya part ini kurang bisa memuaskan para readers. Aku udah coba review berulang-ulang sih, tapi tetep aja, kayanya part ini nggak seseru part sebelumnya. Maafin yak, huhuhu~

Ada yang minta orang ketiga dimasukin, semacam mantannya Yoonhee atau apalah gitu, penjabaran secara rinci tentang alasan mereka dijodohkan. Buat yang request, maaf buangett aku belum bisa mikir sampai ke sana. Tapi beneran deh, kalau aku dapet inspirasi, pasti bakal langsung aku garap.

Terima kasih juga buat yang udah suka sama alur ceritaku ini, semoga kalian nggak bosen nunggu part selanjutnya di-update ya…, makasih, makasih banyak !!!

Iklan

Penulis:

♬ Lely ♬ 99line ♬ warm hearted ♬ talk active ♬ let's be friend! ♬

114 tanggapan untuk “My Cruel Husband [Chapter 2]

  1. hhhmnn…baru nemuin ff ini..sekali nemuin terakhir update taun lalu…apakah author-nim sedang menyiapkan kejutan untuk para readers setianya??kita tuggu… T.T

    1. kagak neng, ane udah stuck.. sibuk sama urusan sekolah huhuhu, semester ini juga mau praktek ke perusahaan pdhl ane bego bgt sama pelajaran produktif. Maaf banget deh 😦

  2. Perubahan drastis, jadi so sweet gitu :3
    Tapi saat ini baek masih menebus perasaan bersalahnya aja ya? Semoga bakal saling suka
    Hehe ditunggu kelanjutannya 😀

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s