We’ve Fallen in Love – Part 5

 PicsArt_1404320780971

Title : We’ve Fallen in Love – Part 5

Author : Charismagirl

Main Cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri

Support Cast :

  • Park Chanyeol | Ahn Sungyoung
  • Byun Baekbeom
  • Oh Sehun | Kim Jongin
  • Byun Family | Park Family

Rating : PG-13, Teen

Length : Chapter

Genre : Romance, Friendship, Family.

Cr poster : zhrfxo

Link : Prolog | 1 | 2 | 3 | 4 | 5

Note : Do not copycat without my permission. Enjoy the story ^^/

“Hyung… Senang kau kembali.”

“Ya, senang bertemu denganmu lagi, Baek.”

***

Minri memaksa ayah dan ibunya untuk pulang malam itu juga. Dia tidak pamit pada Baekhyun. Dia bahkan tidak membiarkan matanya melakukan kontak pada lelaki itu.

Jadi, pukul 6 sore mereka pulang. Minri seperti bukan Minri. Dia hanya diam, sesekali melirik layar ponselnya. Ibunya sempat bertanya barangkali Minri sedang sakit, tapi gadis itu hanya menjawab baik-baik saja. Itu berarti ibunya tidak punya pertanyaan lanjutan seperti ‘kenapa?’ dan Minri bersyukur ibunya benar-benar berhenti bertanya.

PART 5

Hari berikutnya. Baekhyun keluar kamarnya dengan keadaan kacau. Kepalanya terasa pening akibat tidurnya yang tidak nyenyak. Ada bayang-bayang hitam di bawah matanya. Segala sesuatu yang terjadi kemarin membuat pikirannya tidak henti-hentinya memikirkan Minri. Perubahan drastis yang terjadi pada gadis itu sebelum dia pulang, jelas menyisakan tanda tanya besar di kepala Baekhyun.

Baekhyun melirik pintu kamar di samping kamar tidurnya. Hari ini adalah hari pertama gadis itu sudah tidak disana. Baekhyun mendekati ruangan itu, lalu membuka pintunya.

Sepi dan tak tersentuh.

Semenjak Minri pulang, kamar itu kembali di rapikan, kembali kosong, terasa hampa. Baekhyun masuk ke dalam kamar itu. Dia menyapukan pandangan ke seluruh ruangan. Dia baru akan keluar karena menyadari bahwa tidak ada apapun yang tersisa dari gadis itu, namun selembar kertas kecil berwarna kuning di atas meja rias menarik perhatiannya.

Baek, aku sungguh minta maaf karena aku tidak bicara apapun padamu lagi setelah di taman itu. Ada satu hal yang tidak bisa aku jelaskan. Mungkin kau bisa bertanya pada ayah dan ibumu tentang ‘perjodohan’.

Aku ingin berterimakasih karena kau telah mengajakku ke kafe temanmu (maaf dan terimakasih karena kau telah membayar makananku), lalu mengajakku ke ladang ilalang yang sangat indah. Aku suka tempat itu.

Kuharap kau masih menganggapku teman.

-Minri, Park.

Baekhyun melipat kertas itu, lalu membawa serta bersamanya. Dia tidak begitu mengerti dengan kalimat yang ditulis gadis itu di paragraf awal dan sepertinya dia memang harus menanyakan pada orang tuanya nanti.

Dia keluar dari kamar lalu perlahan menutupnya. Kenyataan bahwa kamar itu akan terus kosong membuat Baekhyun merasa ada bagian dalam dirinya yang terasa hilang.

Hilang terbawa gadis itu.

***

Bumi terasa begitu cepat berputar. Matahari dan bulan telah silih berganti. Namun Minri masih merasa ingatannya tidak bisa berpindah dari Bucheon dan keindahannya. Semenjak mendengar hal yang tidak terduga dari mulut orang tuanya, Minri jarang bicara pada mereka. Namun Minri bersikap seolah tidak tahu apa-apa

Minri tahu harusnya dia bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi, namun dia merasa hati dan pikirannya belum siap untuk menerima kemungkinan apapun. Satu kata ‘perjodohan’ saja suda cukup membuat Minri muak. Dan dia tidak ingin mengacaukan pikirannya sekarang.

Baekhyun. Lelaki itu sudah cukup mengganggu pikirannya dengan berbagai cara. Terkadang Minri tersenyum sendiri mengingat momen menyenangkan yang terjadi di Bucheon. Namun, senyum itu memudar saat dia ingat dengan satu hal yang membuatnya menyesal mengapa dia harus bertemu dengan lelaki itu, mengapa dia harus jatuh cinta. Karena tak lama setelah dia menyadari perasaannya, dia dihadapkan pada kenyataan yang menyakitkan. Mereka –Baekhyun dan Minri–akan menjadi kakak-adik.

Minri merindukan segalanya. Kerinduannya akan Bucheon tidak lepas dari lelaki bernama Baekhyun. Lelaki itu dan senyum manisnya sukses membuat Minri gila. Dan dia merasa lebih gila karena tidak bertemu dengan lelaki itu. Sial.

Minri tersadar dari lamunannya ketika seorang gadis–teman sekelasnya–lewat tidak jauh dari tempatnya berdiri. “Park In-Hwa!” panggil Minri pada gadis yang sedang berjalan beriringan dengan lelaki tinggi, berkulit tan dan berwajah tampan, lelaki itu–Kim Jongin –adalah kekasihnya.

In-Hwa menoleh ke belakang, diikuti Jongin.

“Hai Minri,” sapa gadis itu sembari tersenyum.

Minri menghampiri In-Hwa dengan setengah berlari. “Aku ingin meminjam catatanmu.”

“Kita baru beberapa hari masuk kuliah. Belum banyak catatan dari pelajaran kemarin. Ada-ada saja.”

“Hey sungguh, catatanku kacau sekali. Please.”

Kacau sekali karena aku hanya memikirkan Baekhyun. Batin Minri menggema.

“Ini pertama kalinya kau meminjam catatanku,” ucap In-Hwa sembari menyerahkan buku tulisnya pada Minri.

“Kuharap ini yang terakhir,” Minri berujar sembari tersenyum kalem. “Thanks.” Dia berbalik, lalu berjalan ke gedung timur. Tempat yang nyaman dan tenang untuk mencatat adalah perpustakaan. Minri membolak-balikkan buku In-Hwa bersyukur karena memang catatan pelajaran kemarin hanya sedikit.

Dia merasa bahwa dia belum sepenuhnya siap untuk kembali belajar karena pikirannya dipenuhi oleh lelaki itu. Wajahnya selalu muncul di setiap Minri tidak fokus pada hal lain. Sebenarnya dia bisa menyalahkan beberapa lembaran foto yang telah dicetaknya. Dia mencetak beberapa pemandangan alam yang didapatnya di daerah Bucheon beberapa waktu lalu dan entah mengapa dia juga mencetak foto yang–tanpa sengaja–memuat Baekhyun.

Dan salahkan ide bodohnya untuk memajang satu per satu foto itu di dinding kamarnya. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikirannya. Kenapa dia terus-terusan memikirkan lelaki itu. Apa dia tergila-gila pada lelaki itu? Astaga!

“Hey,” seseorang merangkul bahunya dengan tiba-tiba, membuat dia kembali pada kesadarannya.

“Singkirkan tanganmu Oh Sehun!”

Dengan atau tanpa melihat siapa yang meletakkan tangan di bahunya, dia hapal bahwa suara berat yang terkadang terdengar seperti minion di telinganya adalah Oh Sehun. Si lelaki berkulit putih–lebih putih dari orang korea kebanyakan, tampan, tinggi dan populer. Teman seperjuangannya.

“Galak sekali, PMS ya?”

Minri menoleh ke samping, menatap Sehun dengan tatapan datar. Hanya beberapa detik sebelum Sehun tersenyum minta maaf dan mengangkat jari telunjuk dan tengah bersamaan.

“Kau serius mengikutiku? Aku ingin ke perpustakaan.”

“Kaupikir aku tidak pernah kesana? Aku tahu. Dan aku ikut.”

Minri hanya memutar bola mata, lalu membiarkan Sehun berjalan beriringan dengannya. Sehun mahasiswa cerdas, hanya saja berada dalam perpustakaan bukanlah gayanya. Biasanya dia lebih memilih untuk membaca buku di bawah pohon oak.

Mereka berdua berteman sejak awal masuk kuliah. Tidak ada perasaan yang lebih dari seorang teman. Sehun orang yang peduli, menyenangkan dan terkadang menyebalkan. Mereka bisa saling mengerti. Kalau Minri ingin bicara maka Sehun bisa menjadi pendengar yang baik. Begitupula sebaliknya.

Minri mengambil tempat di sudut ruangan. Dia meletakkan buku catatan In-Hwa di atas meja, kemudian mengambil bukunya dari dalam tas.

Sehun duduk di seberangnya. Minri pikir lelaki itu akan meminjam beberapa buku untuk bahan bacaan, tapi ternyata tidak. Dia mengeluarkan i-Pad putih miliknya. Minri sempat melirik layar itu, Sehun membuka aplikasi game dan mengaturnya dengan mode diam.

“Bagaimana liburanmu?” tanya Sehun tanpa melihat Minri.

Minri menggantungkan pulpennya di udara. Dia baru menyalin beberapa paragraf namun mendadak ingin berhenti.

“Liburan? Ya… ya begitulah.”

“Begitulah bagaimana? Memangnya kau kemana?”

“Bucheon.”

“Bucheon? Tempat wisata apa yang bisa kau kunjungi disana? Kenapa kau lebih memilih Bucheon daripada Jeju–”

Stt! Jangan keras-keras.” Minri memperingatkan Sehun yang bertanya seperti gerbong kereta–bersambung dan panjang sekali.

“Ayah dan ibuku yang mengajakku kesana, mereka mengunjungi rumah keluarga Byun–rekan kerja ayah.” Minri kembali fokus pada catatannya. “Ah sudahlah, jangan bicara lagi. biarkan aku mencatat dengan tenang.”

Sehun menurut. Dia tidak bertanya apapun lagi. Sedikit membuat Minri lega karena dia tidak harus menceritakan tentang putra bungsu keluarga Byun–dan ketampanannya, beserta perasaan anehnya. Lalu rencana perjodohan yang tidak dia mengerti.

Setengah jam kemudian Minri menutup bukunya dengan lega. Dia meregangkan badan, lalu memperhatikan ke sekitarnya. Dia melihat seorang gadis sedang memperhatikan ke arah mereka–atau bukan, dia hanya memperhatikan Sehun saja. Dan dia mengenali gadis itu.

“Sehun,”

Hm?”

“Hana sedang memperhatikanmu. Kurasa dia tertarik padamu.”

Minri beranjak dari duduknya setelah memasukkan semua alat tulis dan bukunya. Dia memakai tas punggungnya, lalu berjalan ke luar ruangan.

“Hey, tunggu aku!” Sehun membawa tasnya dengan terburu-buru, lalu menyejajarkan langkahnya dengan Minri. “Apakah Hana yang kau maksud adalah Lee Hana?”

“Ya, kau sudah tahu tentangnya?”

“Dia mengirimkan surat ke locker-ku.”

***

Baekhyun duduk sendirian di meja makan. Makan malam telah siap, namun ibu dan ayahnya belum juga tiba. Dia menunggu. Ada beberapa hal yang masih mengganjal dan harus ditanyakannya. Hal yang diungkit Minri dalam surat singkatnya.

Dia membaca ulang surat itu, lalu menarik nafas–yang kini terasa berat. Sudah beberapa hari dia tidak melihat gadis itu. Dia tidak bisa membohongi dirinya bahwa dia ingin bertemu gadis itu, melihat keadaannya dengan matanya sendiri. Apakah dia baru saja bilang bahwa dia merindukan Minri?

Baekhyun menegakkan duduknya saat ibunya masuk ke ruang makan, kemudian tidak lama ayahnya menyusul.

“Ayah,” panggil Baekhyun. “Ada yang ingin aku bicarakan–bersama ibu juga.”

“Tidakkah sebaiknya kita menyelesaikan makan dulu?” Nyonya Byun mengambil gelas berisi air putih kemudian meneguknya.

Baekhyun memasukkan surat Minri ke dalam saku jaketnya. Dia menunduk, sekedar menarik nafas, mengumpulkan keberanian untuk bicara.

“Apakah ada hal yang belum aku ketahui tentang perjodohan?”

Nyonya Byun tampak melebarkan matanya. Wanita itu meletakkan gelas minuman di meja, sedikit membentur piring membuat suara dentingan terdengar.

“Kau sudah mendengarnya?”

Baekhyun hanya diam, menunggu penjelasan selanjutnya dari orang tuanya. Dia tidak ingin berlagak sok tahu. Meskipun dia sudah mulai menemukan titik terang tentang alasan Minri marah, alasan Minri tidak ingin bicara padanya, alasan Minri menghindarinya. Gadis itu pasti mengira Baekhyun juga ikut terlibat, atau bersekongkol dengan orang tuanya.

“Mungkin memang saatnya kami bicara padamu, Baek,” Tuan Byun berujar, membuat Baekhyun menoleh pada pria setengah baya itu. “Kami menjodohkan kakakmu dengan putri keluarga Park.”

Baekbeom Hyung dan Minri?

Baekhyun mencengkram surat Minri yang ada di sakunya. Melimpahkan kekesalannya pada surat yang tidak bersalah itu. Demi apapun, mendengar hal itu dari kedua orang tuanya, membuat hatinya berdenyut sakit.

“Keluarga kita sudah berteman cukup lama, dan perusahaan kita akan semakin berkembang jika bergabung dengan keluarga Park. Maafkan kami tidak mengatakannya dari awal. Kakakmu adalah pewaris pertama, jadi dialah yang semestinya menduduki kursi direktur menggantikan ayah.”

“Bagaimana kalau Minri tidak menyetujui hal ini?” tanya Baekhyun.

Kedua orang tuanya saling bertatapan, kemudian ibunya mulai angkat bicara.

“Kami tidak punya hak untuk memaksa. Tapi kenyataan bahwa putri keluarga Park adalah gadis yang penurut membuat kami bisa bernafas sedikit lebih lega. Kami sengaja mempertemukanmu dengannya, mengenalkan kau pada gadis itu dan sebaliknya agar kalian bisa dekat dan bersaudara dengan baik nantinya.”

Aku tidak menginginkan hubungan persaudaraan dengan gadis itu.

“Dan jika dia memang tidak setuju. Kita bisa membatalkan semuanya–dengan berbagai pertimbangan.” Tuan Byun mengakhiri percakapan itu dengan sebuah kejelasan. Tidak ada yang bisa Baekhyun katakan lagi. Namun setelah mereka selesai makan malam, Baekhyun menanyakan alamat keluarga Park.

Dia harus bicara pada gadis itu.

***

Hari demi hari berlalu. Baekhyun tidak bisa langsung ke Seoul setelah meminta alamat keluarga Park pada ibunya, karena dia sedang dikejar deadline laporan penelitiannya. Dan itu menyebalkan. Kesibukannya membuat dia tidak bisa meluangkan waktu sedikitpun, meski dalam pikirannya terus mengingat gadis itu.

Namun akhirnya dia punya waktu. Hari minggu di tengah hari, di cuaca yang cerah Baekhyun tiba di depan rumah keluarga Park. Halaman rumahnya begitu luas dengan berbagai tanaman bunga warna-warni. Dia tidak datang sendirian.

“Ya Park Chanyeol !Tutup mulutmu sebelum lalat memasukinya!” Sungyoung menyikut pinggang Chanyeol. Lelaki jangkung itu tampak antusias melihat keadaan rumah Minri. Di halaman itu, ada taman, gazebo, dan ayunan yang tergantung di pohon.

“Aku yakin sebelum lalat melakukannya, kau lebih dulu membekap mulutku… dengan mulutmu,” Chanyeol berbisik saat mengucapkan kalimat yang terakhir, membuat Sungyoung merona, seperti mendidih. Lalu tangannya tidak segan-segan memukul lengan Chanyeol.

Baekhyun menjalankan mobilnya pelan. Telinganya sedikit panas karena sepanjang perjalanan, dua idiot di bangku belakang–Baekhyun memang kurang ajar menyebut temannya sendiri adalah idiot–terus-terusan bermesraan. Baekhyun menahan diri untuk tidak melemparkan kedua orang itu keluar dari mobilnya.

“Ahn Sungyoung, coba lihat ke sana.” Chanyeol menunjuk ke satu titik, dimana ada kandang kecil berbentuk rumah, bercat biru muda dan ada penghuninya. “Minri memelihara anjing.”

“Wah! Kwieoptaaaa….” Sungyoung berangsur mendekati Chanyeol karena letak anak anjing itu di kaca samping Chanyeol.

Chanyeol berhenti memperhatikan hewan berbulu putih itu, dia menoleh pada Sungyoung –yang tanpa gadis itu sadari bahwa jaraknya dengan Chanyeol begitu dekat. Chanyeol mencium pipinya kilat.

Sungyoung sontak memundurkan tubuhnya. Dia memegang pipinya yang terasa panas. Chanyeol tanpa rasa bersalah hanya melayangkan senyuman idiot–yang begitu manis bagi Sungyoung.

“Ah, kita sudah sampai.”

Baekhyun meregangkan tubuhnya lalu menoleh ke belakang. Terasa aneh ketika kedua pasangan itu hanya diam setelah beberapa saat lalu mengungkit masalah anjing yang lucu.

“Kenapa kalian?” tanya Baekhyun setelah dia membalikkan badannya. “Bertengkar?”

“Ah, ti–tidak. Ayo turun!” Sungyoung membuka pintu mobil Baekhyun, kemudian melompat kecil, menginjakkan sepatu kets-nya ke rumput.

Mereka bertiga berdiri di depan rumah Minri. Baekhyun tampak ragu menekan bel, hingga kali ini Chanyeol yang mengambil tindakan. Chanyeol menekan bel beberapa kali, sebelum seseorang yang ingin mereka temuilah yang membukakan pintu.

“Hai Minri!” Sapa Sungyoung seraya melambaikan tangannya.

“Hai,” sapa Minri sembari tersenyum canggung. Dan dia membenarkan rambutnya yang entah sekarang bagaimana karena dia baru saja bangun dari berguling-guling di kasur.

Baekhyun…

Minri menoleh pada Baekhyun sesaat, kemudian mempersilakan mereka bertiga masuk. Sebenarnya Minri sedikit bingung dengan kedatangan mereka bertiga yang terlalu tiba-tiba namun dia senang bertemu mereka lagi. Sungyoung, Chanyeol dan … Baekhyun. Sedikit mengobati rasa rindunya.

“Aku akan membuatkan minuman untuk kalian, tunggu sebentar.”

Minri beranjak dari kursi kemudian berjalan menuju dapur. Baekhyun sedikit lancang, dia mengikuti gadis itu hingga ketika Minri menyadarinya gadis itupun terkesiap.

“Aku ingin bicara denganmu,” ucap Baekhyun, menahan tangan Minri yang baru saja akan membuka pintu kulkas.

“Kurasa kita tidak punya urusan apapun, Baek.”

“Ini perihal ‘perjodohan’ yang kau tulis di suratmu.”

Minri tertawa hambar. “Kau sudah tahu. Sekarang aku merasa bodoh dan dimanfaatkan.”

“Tidak Minri, mereka sayang padamu.”

“Dan sama sekali tidak memikirkan perasaanku?!”

“Minri,” Baekhyun memegang tangan gadis itu. “Mengapa kau terus menghindariku?”

“Aku menyukaimu, Baek.”

Minri menunduk, lalu melepaskan tangan Baekhyun. Dia melewati Baekhyun dan mulai menyiapkan minuman. Dia tidak tahu mengapa mulutnya harus berkata sejujur itu, membuat Baekhyun membeku tak berkutik di belakangnya.

“Pergilah, Baek. Tunggu di ruang tengah.”

“Kau tidak boleh menyuruhku pergi sebelum kau mengatakan hal yang lebih jelas tentang apa yang kau katakan tadi.” Baekhyun meraih lengan gadis itu.

“Tidak ada yang ingin kukatakan lagi.” Minri berusaha keras melepaskan pegangan tangan Baekhyun yang terasa semakin erat.

“Tapi setidaknya–”

“Kau harus tahu Baek, kalau aku tidak suka dengan perjodohan ini!”

“Perasaan kita sama, Minri-ya. Aku juga–”

Seseorang baru saja memasuki area dapur. Minri akhirnya bisa melepaskan cekalan tangan Baekhyun di lengannya.

“Baekhyun-ah! Kapan kau tiba? Lama tidak bertemu denganmu.” Minri mengenali itu sebagai suara ibunya. Dia tidak menoleh, dan tetap fokus pada empat gelas kaca dan jus jeruk instan yang dituangnya.

“Halo Nyonya Park.”

“Ey, lama tidak bertemu membuat kau lupa dengan panggilanku. Panggil aku Eomoni.”

Ne, Eomoni.”

“Apa yang kalian lakukan disini?” tanya Nyonya Park lalu berjalan mendekati mereka berdua.

“Aku akan membantu Minri membawa nampan.”

“Biar aku saja, kalian tunggulah di luar.” Nyonya Park mendorong tubuh Minri pelan, membuat gadis itu harus bergeser.

“Aku sudah selesai,” ucap Minri lalu membawa nampan dan melengos ke luar dapur. Baekhyun memperhatikan gadis itu dengan sorot mata sedih.

Nyonya Park menepuk pelan bahu Baekhyun sembari berkata. “Maafkan dia, mood-nya sedang buruk.” Baekhyun mengangguk maklum kemudian mengikuti Minri ke ruang tengah. Sebenarnya tidak perlu diberitahupun Baekhyun tahu bahwa gadis itu memang sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.

***

Minri kembali ke ruang tengah dengan membawa nampan di tangannya. Dia mendapati Sungyoung dan Chanyeol yang sedang bermain gunting-batu-kertas, dimana yang kalah harus menerima jitakan oleh yang menang. Tampaknya mereka sedang menghilangkan rasa bosan.

Minri tersenyum tipis melihat ke dua orang itu. Ada untungnya juga Baekhyun membawa mereka karena mereka bisa menaikkan mood Minri ke level yang lebih baik. Dia menoleh saat Baekhyun duduk di sofa seberang Minri, dengan wajah yang sulit dibaca. Minri benar-benar tidak ingin membahas apa yang mereka bicarakan di dapur.

“Boleh kami minum sekarang?” tanya Chanyeol pada Minri–yang dari tadi menghindari tatapan Baekhyun. Dan Chanyeol haus.

“Y-ya, tentu saja.” Minri menyerahkan gelas berisi jus jeruk itu pada Chanyeol dan Sungyoung. Sementara satu gelas lagi masih terabaikan. Baekhyun tahu gelas yang tersisa adalah untuknya, maka dia harus mengambilnya sendiri.

Canggung kembali menyergap, karena Sungyoung dan Chanyeol asik menghabiskan minumannya, seperti mereka sedang berlomba. Lalu dentingan gelas yang beradu dengan meja, mengakhiri kesunyian itu. Chanyeol menghabiskan minumannya lebih dulu dan dia tersenyum lebar.

“Kau kalah, Nona Ahn.” Chanyeol mencolek dagu Sungyoung, membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya.

“Kau mencuri start tadi!”

Baekhyun hanya memutar bola matanya, lantas mengambil gelasnya. Dia meneguk jus itu. Matanya tidak lepas dari Minri. Dia merasa kedatangannya agak sia-sia karena Minri tidak ingin mendengarkannya, dan tidak ingin bicara banyak.

“Minri-ya,” ujar Sungyoung. “Ayo kita jalan-jalan. Aku ingin berkeliling Seoul.”

“Ide bagus!” Chanyeol menimpali. “Iyakan Baek?”

Baekhyun hampir menyelesaikan tegukan terakhirnya, namun dia tersedak. Seenaknya saja Chanyeol dan Sungyoung ingin pergi kemana-mana padahal yang berkuasa tentang arah perjalanan mereka adalah Baekhyun. Baekhyun yang membawa mereka, Baekhyun yang membawa mobilnya. Jangan bilang setelah ini dia akan menjadi supir. Enak saja.

Minri hanya diam, menunggu reaksi Baekhyun.

“Baek, ini kesempatanmu untuk mengenal satu sama lain, lebih dekat,” bisik Chanyeol pada Baekhyun yang masih tampak berpikir.

Baekhyun menarik nafas, lalu menegakkan duduknya. Dia memandangi Minri sekali lagi sebelum akhirnya berkata, “Baiklah.”

Alasan Baekhyun mengiyakan ajakan Chanyeol sebenarnya karena dia ingin bicara pada gadis itu, mengenai perasaan mereka berdua.

Lalu sorakan dari Sungyoung dan Chanyeol pun tidak bisa dihindari. Mereka melakukan high five. Aura yang kentara berbeda. Anggap saja kalau kedua kekasih itu berada di musim semi, sedangkan Baekhyun dan Minri berada di musim gugur–dingin, tidak ada warna.

***

Minri tidak punya pilihan lain selain harus duduk di bangku depan, di samping Baekhyun. Dia tidak mungkin berjejal di belakang bersama pasangan kekasih itu. Selain takut mengganggu, Minri juga merasa tidak enak pada Baekhyun. Baekhyun bukanlah supir.

Minri memang menolak keras pada perjodohan itu, tapi dia tidak dapat berbuat banyak. Apakah menentang keputusan orang tuanya adalah satu-satunya jalan untuk melepaskan diri dari perjodohan itu?

Dia tidak pernah membenci Baekhyun. Percayalah, perasaannya semakin dalam saat dia berusaha menerima kenyataan bahwa dia telah dijodohkan dengan Baekbeom. Minri berusaha menghindari Baekhyun untuk menata kembali perasaannya, agar dia tidak terlalu banyak berharap yang justru nanti bisa membuat hatinya semakin sakit.

Baekhyun melirik ke sampingnya ketika Minri baru saja masuk ke dalam mobilnya. Gadis itu tampak mengepalkan tangannya dan air muka yang suram. Baekhyun ingin sekali menggenggam tangan itu, membuat gadis itu merasa lebih baik, meskipun dia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.

Porsche hitam milik Baekhyun mulai melaju pelan, keluar dari area halaman rumah Minri. Suasana dalam mobil tampak sepi beberapa menit, sebelum Chanyeol dan Sungyoung membuatnya ramai dengan percakapan mereka. Minri hanya memandang ke arah jalan dengan kedua tangan saling bertautan.

Mobil memasuki daerah jalanan yang padat sehingga Baekhyun harus menurunkan kecepatan mobilnya dan mengikuti alur. Mereka menghabiskan waktu dua puluh menit di dalam mobil itu.

Kemudian mobil berhenti di salah satu pusat perbelanjaan besar. Ada kafe, butik dan bioskop di dalamnya. Sungyoung turun lebih dulu dari mobil, kemudian disusul Chanyeol. Minri sedang berusaha melepaskan sabuk pengamannya yang tampak tersangkut. Baekhyun tidak tahu hal itu.

Baekhyun mematikan mesin mobil, pendingin mobil dan mematikan musik. Dia baru akan keluar mobil tapi tangan Minri menahannya.

“Baek, bisa kau menolongku?”

Minri menarik-narik sabuk pengamannya yang tersangkut. Baekhyun mengurungkan niat untuk keluar padahal dia sudah membuka pintu mobil di sebelahnya. Dia merangsek mendekati Minri. Lelaki itu menunduk, mengutak-atik penghubung yang macet itu.

“Maaf, kursi ini jarang diisi makanya aku tidak tahu kalau pengaitnya bermasalah.”

Minri hanya diam. Dia tidak peduli dengan sabuk pengaman yang macet atau semacamnya, dia ingin cepat-cepat keluar dari mobil karena dia merasa nafasnya terasa menyempit. Jarak ini terlalu dekat untuk mereka berdua. Minri bisa mencium aroma tubuh Baekhyun bercampur farfum. Sistem tubuhnya seperti baru saja di acak-acak.

Klik!

Setelah memastikan bahwa sabuk pengaman itu telah terbuka, Baekhyun mengangkat wajahnya tanpa memundurkan tubuhnya. Wajah mereka berhadapan dalam jarak beberapa inci saja. Baekhyun bertahan dalam posisi itu, dia membiarkan diri mereka membeku dan mata saling beradu.

Bagaimana cara agar kita bisa bersama?

Minri menurunkan pandangannya, memutus kontak mata dengan Baekhyun. Entah apa yang dipikirkan Baekhyun hingga dia mencium pipi gadis itu, bibirnya bertahan beberapa detik sebelum Baekhyun merasakan setetes air dihidungnya. Baekhyun menjauhkan wajahnya, melihat jejak air mata di pipi gadis itu. Dia baru akan menyapu air mata itu, namun Minri melakukannya lebih dulu, lalu bergegas keluar mobil tanpa berkata apa-apa.

“Kalian tidak apa-apa? Kenapa lama sekali?” Chanyeol mengintip ke dalam dari arah pintu di samping Baekhyun.

Baekhyun bergeming, dia menyentuh bibirnya sesaat lalu kembali ke bangku kemudi. Tanpa rasa bersalah, Baekhyun mendorong wajah Chanyeol menjauh dengan telapak tangannya. Baekhyun tidak bisa lewat kalau Chanyeol menghalangi jalannya. Dan Chanyeol tentu saja tidak rela seseorang menyentuh wajahnya –pengecualian untuk Sungyoung–dia langsung menepis tangan Baekhyun.

Kemudian mereka berempat memasuki gedung pusat perbelanjaan. Chanyeol dan Sungyoung berjalan di depan, sementara Baekhyun dan Minri berada di belakang mereka.

***

“Apa mungkin Chanyeol tersesat? Ke toilet saja membutuhkan waktu yang lama sekali.” Sungyoung memandang ke luar Kafe tempat mereka duduk. Mereka berempat memutuskan untuk makan di salah satu Kafe karena Sungyoung baru saja mengeluhkan perutnya yang lapar.

“Dia bukan kakek-kakek pikun,” ucap Baekhyun seenaknya.

Aish!” Sungyoung melirik Baekhyun dengan tajam. “Tapi dimana dia sekarang?”

Beberapa saat setelah memesan, Chanyeol pamit ke toilet, namun setengah jam telah berlalu, dia belum juga kembali. Makanan yang mereka pesan telah terhidang di meja. Baekhyun dan Minri tidak menyentuh makanan mereka, mereka bilang ingin menunggu Chanyeol.

Sungyoung kembali menghadap makanan. Namun dia hanya memandangi sup kimchi pedas di depannya. Selera makannya mendadak menguap.

“Mencariku, Birthday girl?” suara bisikan lelaki yang tidak asing membuat Sungyoung bergidik.

“Yeol–” Sungyoung tidak berkata apa-apa saat sesuatu yang lembut menyentuh pipinya. Bibir Chanyeol. Bertahan beberapa detik, namun sukses membuat Sungyoung merasa atmosfer menghangat.

Baekhyun dan Minri hanya melongo di kursi mereka. Ugh, mereka berdua seperti menonton drama secara langsung di depan mata mereka.

“Yeol…” Sungyoung memegang kedua pipinya yang tampak merona. Chanyeol hanya tersenyum lebar lalu duduk di tempatnya. Dia membawa satu kue tart berukuran sedang di tangannya. “Te-terima kasih.”

“Sungyoung ulang tahun?” tanya Minri sambil memandangi kue tart yang dipasangi Chanyeol dengan lilin angka dua dan nol.

“Ya,” sahut Baekhyun.

Minri memperhatikan. Saat Chanyeol menyalakan lilin dan Sungyoung menutup matanya, memanjatkan harapan-harapan dalam hati sebelum meniup lilin itu. Minri bertepuk tangan pelan.

“Selamat ulang tahun Sungyoung-ah.” Minri berdiri dari tempatnya, lalu memberi pelukan singkat pada Sungyoung.

Gomawoyo.” Sungyoung membalas pelukan itu dengan erat, hampir membuat Minri sesak nafas. Setelah itu Minri kembali ke tempatnya.

Baekhyun mengulurkan tangannya pada Sungyoung, “Happy Birthday.”

“Terimakasih, Baek.” Sungyoung menoleh pada Chanyeol. Lelaki itu sedang memotong-motong kue yang dibawanya, dia mengerahkan konsentrasi penuh agar krimnya tidak berlepotan kesana kemari. Kemudian menyuapkan satu potong ke mulut Sungyoung.

“Kupikir kau lupa, Yeol,” ucap Sungyoung sambil mengunyah.

“Dia tidak akan lupa untuk hal-hal semacam itu,” komentar Baekhyun.

“Tepat sekali!” Chanyeol mencolekkan krim putih ke pipi Baekhyun. “Pacar macam apa yang lupa ulang tahun pacarnya sendiri.”

Baekhyun mengambil tisu dan menyapu pipinya. Dia mendesis, sedikit kesal, sudah membela Chanyeol tapi diperlakukan seperti anak kecil. Minri yang berada di sampingnya hanya tertawa pelan.

Hari itu terasa sedikit menyenangkan. Tidak sepenuhnya menyenangkan karena mestinya Baekhyun bisa mengungkapkan hatinya juga. Tapi sayangnya, dia tidak punya waktu yang tepat untuk bicara berdua bahkan sampai waktunya Baekhyun pulang kembali ke Bucheon.

***

Baekhyun tiba di rumahnya sekitar pukul 8 malam. Setelah dia membersihkan tubuh dan mengisi perutnya lagi, dia memutuskan untuk beristirahat dalam kamarnya. Dia menatap langit-langit kamar sembari terus berpikir, me-reka ulang tiap momen saat dia bersama Minri.

Ingatannya melayang pada pertemuan pertama mereka, pertengkaran, mengurus Hansoo, jalan-jalan di padang rumput sampai gadis itu pulang tanpa berpamitan. Baekhyun mengakui bahwa dia memiliki perasaan suka terhadap gadis itu. Lebih-lebih Baekhyun menyayanginya.

Baekhyun berbaring menyamping. Matanya tertuju pada kamera yang terletak di atas meja belajarnya. Baekhyun mengambil kamera itu, lalu kembali membawanya ke atas kasur. Dia mulai membuka galeri.

Satu per satu foto Minri terlihat saat Baekhyun menekan tombol next. Hampir semua isi kameranya adalah gadis itu. Dia memotret gadis itu diam-diam. Awalnya dia tidak sengaja menangkap gambar gadis itu. Namun setelah dia mengecek ulang, dia sadar bahwa gadis itu adalah objek paling indah yang pernah dia potret. Dan berikutnya, Baekhyun terus mengarahkan lensa kameranya pada Minri, tentu saja tanpa sepengetahuan gadis itu.

Baekhyun menginginkan hubungan lebih dari sekedar teman. Bukan pula sebagai saudara. Dia menyayangi gadis itu sepenuh hatinya. Tapi kalau memang mereka tidak bisa bersama… “Haruskah aku menyerah?” gumam Baekhyun dengan helaan nafas putus asa.

***

Pagi hari yang cerah. Baekhyun menuruni anak tangga dengan setengah berlari. Samar-samar dia mendengar percakapan di ruang tengah. Deru mobil beberapa saat lalu yang terdengar sampai ke kamarnya membuatnya berasumsi bahwa ada yang datang. Apakah itu Minri?

Aigoo putraku… “ Baekhyun mendengar suara ibunya yang lembut dan penuh kasih. Dia memelankan langkah kakinya, semakin pelan, sampai akhirnya dia berhenti di tengah anakan tangga. Memperhatikan dari kejauhan. “Aku senang kau datang. Akhirnya pertemuan keluarga akan segera dilaksanakan. Kita akan makan malam bersama keluarga Park, malam ini.” Baekhyun mengeratkan pegangannya pada pagar pembatas tangga.

“Baekbeom-ah, kau tampak semakin dewasa.” Ayahnya memberi pelukan singkat pada Baekbeom dan menepuk bahu pria itu. Baekhyun terkesiap saat kakaknya menyadari kehadirannya dan menoleh padanya.

“Baekhyun-ah!” sapa pria itu lantas tersenyum.

Hyung,” Baekhyun menuruni tangga itu lalu menghampiri Baekbeom. Dia memberikan pelukan seperti apa yang ayahnya tadi lakukan. “Senang kau kembali.”

“Ya, senang bertemu denganmu lagi, Baek.”

***TBC***

Helooww! I’m back!😀 gimana? Apakah jalan ceritanya sudah cukup mengejutkan? Hihi. Baca komentar sebelumnya, kok kalian pada kompakkan gitu sih tanya ‘kenapa gak dijodohkan sama Baekhyun?’-_- hahah. Udah terjawab kan ya ;3

DO NOT CALL ME ‘THOR’. Mein name ist Rima-93 line).

Sorry for typo.

Faa, aku pake poster kedua, hehe—I promise for ‘suram’ part😀

Ps: HAPPY BIRTHDAY, Suchi!! Aka ASY, ma lovely dongsaeng~ (jan muntah/?) :* aku tau ini kecepetan tiga hari lewat dua jam(?), tapi gapapa dong ya. Hehehet. Doanya nyusul. Maapin aku cuma bisa ngasih kejutan kecil semacam ini :’) scene ultah itu atas kemauan aku sendiri ya. Meski kamu bilang ga perlu. Gak pake protes!

Ps (lagi) : Dirgahayu Republik Indonesia :* tetap berjaya!

Thanks for read! KEEP SUPPORT US!!

See ya next part :3

©Charismagirl, 2014

292 thoughts on “We’ve Fallen in Love – Part 5

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s