Secret Darling | 14th Chapter

 

secret-darling

 

:: SECRET DARLING | 14th Chapter ::

.

.

.

Author : shineshen

Cast : Sehun | OC(s) | etc.

Genre : Marriage Life | Romance | Friendship

Rating : Teen

.

Poster by chocolatesoda © Café Poster Art ^^

.

Summary :

Shin Minhee adalah gadis berusia 18 tahun yang terjebak pernikahan konyol dengan seorang laki-laki berusia 21 tahun. Hanya karena kesalahpahaman yang menjebak mereka selama satu malam di Pulau Jeju.

 

Link to previous : Teaser | 1st Chapter | 2nd Chapter | 3rd Chapter | 4th Chapter | 5th Chapter | 6th Chapter | 7th Chapter | 8th Chapter | 9th Chapter | 10th Chapter | Kai’s Side Story | 11th Chapter | 12th Chapter | 13th Chapter

.

Pagi itu entah kenapa perasaan Sehun sedikit tak menentu saat akan keluar dari kamarnya. Beberapa menit sebelum ia mempersiapkan diri untuk keluar, ia memandangi dirinya sendiri di depan cermin cukup lama. Sehun menatap aneh pada refleksi dirinya sendiri yang terpantul pada permukaan cermin. Ia tampak tampan hari ini, dan entah kenapa tidak biasanya hari ini ia mulai memperhatikan penampilannya.

Sehun menghela napas panjang beberapa kali. Entah kenapa jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Sehun berpikiran polos, apakah mungkin ini efek dari pertambahan usianya.

Tidak mungkin, Sehun menolak pertanyaan konyol itu.

Apa mungkin… Karena ingatannya masih terorientasi pada romantisme dirinya dan Minhee semalam? Atau justru karena perkataan Luhan masih terus membayang di benaknya?

 

Buatlah Minhee menjadi milikmu sepenuhnya sebelum itu terlambat.

 

“Oppa, kukira kau masih tidur,” sapa Minhee saat melihat Sehun datang ke meja makan. Laki-laki itu duduk di kursi makan miliknya, lalu memperhatikan Minhee sedang sibuk dengan sesuatu yang ada di atas kompor.

Sehun menggeleng saat Minhee menoleh untuk melihat jawabannya. “Aku bangun pagi hari ini,”

“Kau tampak berbeda pagi ini,” sahut Minhee dengan nadanya yang riang. “Efek dari pertambahan usia?”

“Kau meledekku?” balas Sehun datar.

Minhee tertawa kecil sambil mematikan kompor dan memindahkan sesuatu yang sejak tadi dimasaknya ke atas sebuah piring lebar.

“Kau sudah dua puluh dua tahun, oppa.” Sahut Minhee. Gadis itu membalikkan tubuhnya dan meletakkan piring berisi nasi goreng itu ke atas meja makan. “Sudah seharusnya kau sedikit memperhatikan penampilanmu.”

“Kebanyakan dari temanku memperhatikan penampilan untuk mendapatkan pacar,” sahut Sehun sambil menunggu Minhee menyiapkan peralatan makan yang lain. “Tapi untukku, buat apa aku masih memperhatikannya berlebihan? Aku bahkan sudah tak lagi dalam tahap pencarian pacar.”

Minhee tertawa lagi lalu duduk di kursi makan setelah semua peralatan makan mereka siap di atas meja. “Tapi setidaknya, dengan memperhatikan penampilan kau jadi terlihat lebih tampan.”

Sehun tak membalas kata-kata Minhee lagi. Ia hanya memperhatikan Minhee saat gadis itu mulai menuangkan air putih ke dalam gelas masing-masing.

 

Buatlah Minhee menjadi milikmu sepenuhnya sebelum itu terlambat.

Kata-kata Luhan secara tiba-tiba kembali terngiang dalam kepala Sehun. Otomatis Sehun langsung menegakkan posisi duduknya, membuat Minhee sempat memandanginya bingung.

“Ada masalah?” Tanya Minhee sambil meletakkan teko air di tempatnya semula. Masing-masing dari mereka sepakat untuk menunda waktu makan mereka, menyadari kemungkinan mereka akan terjebak obrolan yang cukup rumit. Mereka tak saling mengatakannya, hanya saja mereka peka untuk menebak.

“Minhee,” panggil Sehun sedikit gugup. “Semalam eomma menelepon.”

“Benarkah?” Minhee merespon. “Apa si-eomeoni mengucapkan selamat ulangtahun padamu juga?”

“Iya,” jawab Sehun. Kita semua tahu ia sedang berbohong. Sehun hanya sedang mencoba untuk memancing Minhee pada tema obrolan yang sebenarnya.

“Apa si-eomeoni menanyakan kabar kita juga?” Tanya Minhee lagi.

Sehun mengangguk walau ekspresinya yang tampak gugup sedikit mencurigakan.

“Baiklah. Apa hari ini kita perlu untuk mengunjungi rumah mereka?” Tanya Minhee lagi, kali ini seraya mulai menyendokkan nasi ke atas piringnya.

“Tidak, bukan itu maksudku,” jawab Sehun dengan kegugupan yang semakin kentara.

Minhee mengernyit bingung dan berhenti menyendokkan nasi. “Apa maksudmu?”

Sehun menelan saliva-nya gugup. Sebenarnya ini tema obrolan yang sudah lama sekali rasanya tak mereka bahas. Mungkin mereka nyaris melupakannya, andai saja kata-kata Luhan kemarin malam tidak kembali mengingatkan Sehun.

“Minhee-ya, kau tahu… Eomma berpesan padaku,” Sehun semakin gelisah untuk meneruskan kebohongannya. Minhee mengerutkan keningnya semakin dalam.

“Kurasa perkataanmu itu terlalu berbelit-belit, oppa. Ada apa sebenarnya? Kenapa kau… Terlihat gugup?” ucap Minhee seraya memperhatikan Sehun lekat-lekat. “Katakan saja, oppa.”

“Eomma bertanya padaku—“ Sehun berucap pelan. “Kapan secepatnya kita memiliki anak.”

Minhee berhenti menatap Sehun dengan penasaran. Gadis itu terlihat terkejut, namun memilih untuk menyembunyikannya dan tak lagi spontan memukuli lengan Sehun seperti dulu. Sesaat suasana di antara mereka berubah menjadi canggung dan hambar. Sehun melirik Minhee takut-takut, betapa ia masih mengingat biasanya tema itu adalah tema yang paling dihindari oleh Minhee.

“Oh,” gumam Minhee sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Jujur, ia seketika merasa salah tingkah saat Sehun kembali menyeretnya pada tema obrolan itu. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak membicarakan itu lagi, dan kini mereka dihadapkan untuk kembali membahas tema itu.

“Uhm, bukankah kita sudah sepakat?” Minhee lanjut bertanya.

Sehun menatap Minhee sedikit bingung. “Apa? Sepakat?”

“Ya. Sepakat,” balas Minhee dengan nada yang sedikit gamang. “Tidak ada kehamilan sampai aku lulus kuliah. Kau masih ingat itu, kan?”

“Memangnya iya?” Sehun balik bertanya. Ingatannya sudah parah.

“Kau tidak ingat?” Minhee balik bertanya juga. “Memangnya si-eomeoni tidak mengetahui hal itu?”

Sehun menggeleng dengan ekspresi bingung. “Astaga, aku bahkan lupa.”

“Astaga, kau lupa?” ulang Minhee. “Itu kesepakatan kita, oppa. Tidak ada kehamilan. Sampai aku lulus kuliah. Mengerti?”

“Oh,” ucap Sehun spontan. “Maafkan aku, Minhee-ya.”

Minhee hanya tersenyum simpul sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Minhee melanjutkan kegiatannya dengan menyedokkan nasi ke atas piring Sehun, berharap tema obrolan ini segera berakhir. Bukankah masih banyak tema obrolan pagi hari yang lebih nyaman untuk dibicarakan?

Minhee berucap pelan, “memangnya kalau aku hamil sekarang… Kau sudah siap?”

 

.

.

| 14th Chapter |

.

.

 

Minhee berucap pelan, “memangnya kalau aku hamil sekarang… Kau sudah siap?”

Mendengar pertanyaan Minhee, Sehun menelan saliva-nya gugup. “Uhm—“

“Sebelum yakin kita siap menjadi orangtua, kita harus belajar tentang banyak hal…” Minhee memulai ucapannya. “Apa kau pernah tahu apa saja yang harus kau siapkan saat istrimu hamil?”

Sehun terdiam. Ia hanya menggeleng sebagai jawabannya.

“Saat seorang wanita hamil, dia bisa menjadi sangat manja. Dia tidak mau bergerak banyak, karena itu akan menyebabkan pegal yang luar biasa pada pinggang ataupun punggungnya. Dia bisa menjadi sangat manja, jadi jangan salahkan jika bisa saja tengah malam aku membangunkanmu hanya demi seporsi tteokboki. Lalu setiap pagi kau akan tersiksa dengan suaraku saat muntah-muntah, menangis saat tidak nyenyak tidur di malam hari, juga senam hamil dan cek kandungan ke dokter yang bahkan harus lebih kau dahulukan daripada jadwal kuliahmu.” Celoteh Minhee panjang lebar.

Sehun terdiam semakin gugup saat Minhee berceloteh panjang lebar tentang ibu hamil di depannya.

“Dan jangan lupa jika status kita adalah pasangan rahasia,” tambah Minhee. “Kau harus menyembunyikan keadaanku sebenarnya yang sedang mengandung anakmu, sedangkan aku harus mengambil cuti kuliah selama sembilan bulan penuh jika ingin tidak ada seorangpun yang tahu.”

Sehun menatap Minhee yang sejak tadi berceloteh tenang di hadapannya. “Uhm… Kelihatannya… Kau sudah lebih banyak tahu, ya?”

“Oh, tentu saja,” jawab Minhee. “Aku sudah mendapatkan cukup banyak referensi sejauh ini. Setidaknya aku memiliki persiapan dan tahu hal apa saja yang harus kulakukan. Cepat atau lambat, itu pasti terjadi. Benar, kan?”

“Aku juga sebenarnya tidak berharap seperti itu,” sahut Sehun lalu menghembuskan napas berat. “Kau pikir apakah menjadi ayah di usia semuda ini akan menyenangkan?”

Minhee terdiam dan menundukkan kepalanya sejenak menatap permukaan meja makan.

“Jika kau berpikir bahwa menjadi ayah di usia seumuranmu tidak akan menyenangkan, jadi apa kau pikir menjadi ibu di usia seumuranku akan menyenangkan?” Minhee membalas ucapan Sehun. “Jika kita masih berpikiran seperti itu, itu adalah tanda kita sama sekali belum siap menjadi orangtua.”

“Astaga, kenapa sulit sekali mengatakan hal yang sebenarnya padamu?” keluh Sehun sambil mengacak rambutnya frustasi.

Minhee memandang bingung pada Sehun. “Apa maksudmu?”

“Aku hanya mengingkanmu, Minhee.” Sahut Sehun jujur pada akhirnya. “Kau ingat ucapanku sebelum menciummu semalam? Aku ingin kau menjadi milikku, Minhee. Milikku selamanya.”

Minhee semakin bingung dengan arah pembicaraan Sehun. “Aku tidak mengerti apa sebenarnya maksudmu,”

“Ada sesuatu yang menyadarkanku semalam tentang apa arti memiliki sesungguhnya,” sahut Sehun lalu secara tiba-tiba menggenggam tangan Minhee kuat.

Minhee memandang Sehun lekat dan sedikit tajam. Sekarang ia sudah bisa sedikit meraba apa maksud Sehun yang sebenarnya. Gadis itu mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Sehun, namun genggaman itu terlalu kuat.

“Kau menginginkanku?” Tanya Minhee datar.

“Ya, kau bisa sebut aku begitu.” Jawab Sehun tak kalah datarnya. “Aku mengingkanmu seperti layaknya seorang suami menginginkan istrinya secara utuh.”

 

 

Di pojok ruang perpustakaan yang sepi, Minhee menyandarkan tubuhnya di salah satu rak. Gadis itu terduduk di lantai dingin perpustakaan dan menekuk lututnya. Tubuhnya masih bergetar gugup mengingat pembicaraannya dengan Sehun pagi tadi, pembicaraan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Ya, memang tidak ada yang terjadi. Tidak ada kejadian menegangkan yang lebih. Minhee hanya gugup, dan ia bersumpah itu adalah pembicaraannya yang paling membuatnya gugup selain saat tragedi jus wortel beberapa waktu yang lalu.

Sekarang Minhee tak habis pikir mengapa Sehun menyeretnya pada tema itu. Dan obrolan pagi tadi serius, berbeda dengan obrolan dengan tema serupa yang pernah terjadi di awal-awal pernikahan mereka.

Sekarang memikirkannya kembali saja sudah membuat lutut Minhee lemas. Entah Sehun mendapat bujukan dari mana sampai mulai berpikir seperti itu, atau mungkin karena Sehun sudah lebih dewasa daripada sebelumnya. Minhee tak tahu apa alasan sebenarnya mengapa Sehun mengingkannya. Yang jelas Minhee sendiri masih jauh dari kata siap. Minhee belum sedewasa dugaannya sendiri, karena pada nyatanya Minhee masih ketakutan Sehun akan benar-benar melakukan sesuatu yang diinginkannya itu pada Minhee.

Mereka bahkan sudah tinggal satu apartemen, dan seakan tak ada halangan lagi untuk Sehun melakukannya. Mereka sudah resmi sebagai pasangan suami istri… Dan… Dan…

Dan Minhee bingung memikirkan cara supaya Sehun tidak melakukan hal gila itu. Memikirkannya saja sudah membuat Minhee stress.

 

“Mine, apa yang sedang kau lakukan disini?” Tanya seorang laki-laki yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.

Minhee mendongak dan sedikit terkejut melihat Jungkook memergokinya sedang duduk menyandar di pojok perpustakaan, jadi secara spontan gadis itu menarik tangan Jungkook ke bawah. Jungkook ikut terduduk di lantai, di sebelah Minhee.

“Jangan berisik,” bisik Minhee takut-takut. “Jika Nyonya Ahn menemukan kita, kita bisa diusir!”

Jungkook paham dan ikut membungkam mulutnya sendiri. Seberkas kenangan masa kecil mereka saat bermain petak umpet kembali menggelitik memori Jungkook, membuat tanpa sadar Jungkook terkekeh kecil sendirian.

Mendengar kekehan kecil Jungkook, Minhee menoleh dan memandangi Jungkook dengan aneh. “Kau tertawa sendirian? Astaga!”

“Aku hanya ingat dengan permainan lama kita, Minhee,” sahut Jungkook sambil masih tersenyum-senyum. “Kau masih ingat saat aku sering memintamu menemaniku bersembunyi di balik semak? Agar Bibi Kahi tidak bisa menemukanku dan membawaku pulang?”

Minhee terdiam bingung. Ia mencoba mengingat-ingat kenangan yang sudah lama terkubur dalam memorinya itu. Ya, ia memang ingat. Ia masih mengingatnya. Namun setelah itu ia juga kembali mengingat perpisahan menyedihkannya saat harus melepas Jungkook pindah ke Amerika.

Kejadian itu sudah lebih dari sebelas tahun yang lalu.

 

“Kau sudah berhasil mengingatnya?” Tanya Jungkook lagi. Minhee tersadar dari ilusinya, lalu cepat-cepat mengangguk untuk menjawab pertanyaan Jungkook.

“Dulu Bibi Kahi—“

 

“Astaga, sedang apa kalian berdua di situ?” suara seorang perempuan terdengar kaget. Namun beruntung suaranya tidak terlalu besar, dan Nyonya Ahn hanya berdehem keras dari kursinya saat mendengar ada yang berseru tertahan di salah satu pojok rak buku.

Jungkook dan Minhee kontan mendongakkan kepalanya menuju asal suara yang memergoki mereka. Mata mereka melihat Eunji sedang berdiri shock di salah satu rak buku dekat posisi mereka duduk. Jungkook dan Minhee sama-sama memberikan isyarat pada Eunji agar membungkam suaranya.

 

“Astaga! Apa kalian berkencan di pojok perpustakaan?” seru Eunji tertahan saat ia sudah mendekatkan langkahnya pada Jungkook dan Minhee.

Jungkook dan Minhee saling berpandangan, kemudian menggeleng bersamaan.

“Apa maksudmu? Kami sama sekali tidak berkencan.” Protes Minhee sambil mengerucutkan bibirnya.

“Kalaupun iya kami berkencan, memangnya tidak ada tempat yang lebih layak selain pojok perpustakaan ini?” sambung Jungkook. Minhee melirik tak suka mendengar perkataan Jungkook, namun ia tak bisa berbuat apa-apa.

“Jadi benar gosip jika kalian sedang berkencan?” Tanya Eunji semangat.

Minhee membelalakan matanya lebar, sedangkan Jungkook justru menyipitkan matanya saat memandang Eunji.

“Dari mana kau dengar gosip itu?” Tanya Jungkook.

“Seorang senior yang mengenal kalian pernah melihat kalian bertemu di salah satu café. Sekarang gosip itu sudah diketahui para pemeran drama yang lain.” Celoteh Eunji. “Dan kalian harus tahu, sekarang mereka semua menyebut kalian sebagai pasangan cinta lokasi.”

“Apa?!” desis Minhee panik.

Jungkook melirik Minhee. “Memangnya kenapa? Bukankah justru bagus jika mereka menganggap kita sungguhan pacaran?”

“Aku tidak mengerti apa tujuanmu berkata seperti itu, Jungkook.” Balas Minhee datar.

“Sudahlah kalian ini. Lebih baik sekarang kalian pindah dari posisi itu, sebelum ada yang memergoki kalian lagi selain aku,” Eunji kembali berceloteh sambil mengarahkan telunjuknya bergantian pada Jungkook dan Minhee.

Jungkook bangkit lebih dulu lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Minhee berdiri. Namun gadis itu hanya memandangi tangan Jungkook yang terulur di depannya. Ia mengabaikannya dan lebih memilih berdiri dengan usahanya sendiri. Eunji melihat kejadian itu dan menggeleng-gelengkan kepalanya prihatin.

“Oh, kau ditolak, Jungkook?” bisik Eunji pelan.

Jungkook melirik Eunji sekilas lalu melenggangkan kakinya menyusul kepergian Minhee. “Kurasa tidak. Aku hanya belum berhasil.”

 

 

“Mine, kau harus datang ke latihan drama hari ini!” tegas Jungkook saat Minhee bahkan masih merapikan peralatan tulisnya dari atas meja. Laki-laki itu sudah menghampirinya lebih dulu sebelum Minhee menyelesaikan beres-beresnya.

Minhee melirik Jungkook sesaat. Lalu matanya menangkap pandagan tak suka Minchan di balik tubuh Jungkook. Dan jangan lupakan juga tatapan sinis Melanie ketika melewati muka kelas, otomatis karena ia melihat Jungkook datang menghampiri meja Minhee saat kelas bubar.

“Ya, aku pasti akan datang,” sahut Minhee malas-malas sambil menjejalkan notes bergarisnya ke dalam tas. Dari balik punggung Jungkook, Minhee melihat Minchan pergi lebih dulu dan otomatis meninggalkan Minhee berdua dengan Jungkook di kelas.

“Minchannie!” panggil Minhee tergesa sambil menyusul langkah Minchan. Jungkook terpana melihat Minhee bahkan seakan tidak memperdulikannya. Niat hatinya untuk memberikan sesuatu pada Minhee saat mereka tinggal berdua saja pun pupus seketika.

Apakah ini balasan atas kesalahannya yang telah meninggalkan Minhee di masa lalu?

 

Jika saja perpisahan itu tak pernah terjadi dan Jungkook tak harus mengikuti ibunya hijrah ke Amerika, ia pasti masih memiliki hati Minhee sampai detik ini.

 

Jungkook menyusul langkah Minhee keluar kelas dan otomatis menjadi orang terakhir yang meninggalkan kelas. Setelah keluar kelas Jungkook sedikit bingung, ia kehilangan jejak Minhee. Sejauh matanya memandang ia tak bisa menemukan dimana Minhee. Semua kelas yang kebetulan bubar secara bersamaan membuat lorong itu ramai oleh mahasiswa lainnya. Jungkook mengeluh, ia sama sekali tak ada ide untuk menemukan dimana Minhee. Jungkook menyerah dan memutuskan untuk menunggu kedatangan Minhee saja di ruang latihan drama. Jungkook yakin Minhee pasti datang hari ini.

 

 

Jungkook termanggu dengan naskah drama yang terpampang di depan wajahnya. Sudah kurang lebih setengah jam ia hanya memandangi deretan dialog itu, sedangkan konsentrasinya melayang entah kemana. Pikirannya masih terus terorientasi pada kedatangan gadis itu, gadis yang ditunggunya namun hingga detik ini belum juga menampakan batang hidungnya dalam ruangan.

 

“Kau sudah mulai menghapal dialogmu?” Tanya seorang senior yang tiba-tiba menghampirinya.

Jungkook menoleh pada senior itu, lalu menggeleng dengan senyum miris.

“Kau pasti sedang menunggunya,” sahut senior itu sambil terkekeh. “Gadis itu benar-benar pacarmu ya, ternyata.”

Jungkook mengangkat alisnya mendengar celotehan seniornya itu. “Pacarku? Siapa?”

“Pemeran utama wanita kita,” jawab senior itu. “Siyoon pernah memergoki kalian sedang kencan di sebuah café. Jadi gosip itu benar, kan?”

Jungkook tertawa kecil mendengar penuturan senior itu. Ia lalu menggeleng sebagai jawabannya.

Senior itu mengangkat kepalanya dan memandang ke arah pintu masuk—tepat saat Minhee datang, dan otomatis itu merupakan kunjungan pertamanya ke ruang latihan ini. Senior itu tertawa dan menepuk-nepuk bahu Jungkook.

“Lihat, gadismu sudah datang,” sahut senior itu.

Jungkook seketika menoleh menuju arah yang dimaksud senior itu dan menemukan Minhee sedang berjalan sedikit bingung di sana. Jungkook tersenyum kecil.

“Hampiri dia,” sahut senior itu lagi. “Kutahu kau benar-benar suka padanya.”

Senior itu melangkah meninggalkan Jungkook, namun dari jauh ia masih memperhatikan saat gadis itu mendekat ke arah Jungkook. Senior yang hanya berada satu tingkat di atas Jungkook itu tak bisa menyembunyikan seringai tipisnya, teringat lusinan rencana tersirat yang sudah ia simpan dalam kepala.

 

“Hai,” Minhee menyahut dengan maksud memanggil Jungkook. Namun Jungkook pura-pura tak mendengar. Minhee memutar matanya.

“Jungkook,”

Masih tidak ada respon.

“Jeon Jungkook!”

Dan tidak ada respon lagi. Minhee mulai jenuh. Gadis itu mengerucutkan bibirnya.

 

“Kookie!”

Dengan panggilan itu Jungkook baru mau menolehkan kepalanya merespon panggilan Minhee, lalu tersenyum lebar sebagai balasannya.

“Hai, Mine!” balas Jungkook ceria. “Kukira kau tidak akan datang lagi hari ini,”

Minhee hanya memutar matanya jengah.

Tepat belum lama setelah Minhee tiba disana, Sulli menghampiri mereka lalu berkacak pinggang.

“Minhee-ya, kenapa kau baru datang, huh?” tegur Sulli sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Minhee terbelalak mendengar suara Sulli, lalu perlahan mulai menatap kehadiran Sulli di sana. Minhee tersenyum salah tingkah, lalu cepat-cepat membungkukan tubuhnya menghadap Sulli.

“Maafkan aku, sunbaenim.” Sahut Minhee kecil.

Sulli menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aigoo,”

“Aku berjanji setelah ini aku akan rajin datang,” sahut Minhee lagi.

Sulli mengangkat alis dan menghembuskan napas panjangnya. “Oh, baiklah.”

Minhee menggigit pelan bibir bagian bawahnya saat memandangi kepergian Sulli.

Namun baru beberapa meter beranjak, Sulli tiba-tiba menghentikan langkah kembali dan menoleh pada Minhee dari balik bahunya. Minhee sedikit terlonjak.

“Lagipula…” gumam Sulli pelan. “Sepertinya aku tahu mengapa kau tidak bisa datang kemarin,”

 

 

Hari ini latihan berjalan lancar. Semua pemeran datang dan mereka bisa memulai latihan tepat pada waktunya. Awalnya Minhee masih merasa canggung untuk berhadapan dengan Jungkook lagi, ditambah laki-laki itu tak bisa menyembunyikan senyumnya saat seluruh pemeran serta anggota panitia yang lain menggoda dan menuduh mereka sudah berpacaran. Minhee kesal, jadi ia tidak bisa berkonsentrasi sepenuhnya. Minhee tak bisa tersenyum meski naskah memerintahkannya tersenyum, dan Minhee tak bisa menyentuh tangan Jungkook saat ada adegan yang mengharuskan mereka melakukan skinship.

Kepala Minhee mendadak pusing selama latihan drama berlangsung, padahal latihan itu tidak berat dan menyita waktu terlalu lama. Minhee memanfaatkan jeda istirahat dengan menengangkan dirinya sendiri dari rasa kesal yang bergejolak dalam batinnya, tak cukup membantu meskipun Eunji sudah menghampirinya dan mencoba mendinginkan hati Minhee.

‘Mereka semua hanya bercanda, Minhee.’— Setidaknya itulah yang Eunji katakan. Namun mereka harusnya tahu Minhee adalah salah satu tipe orang yang sedikit sulit diajak bercanda dan terlalu serius dalam menghadapi suatu hal, jadi meledek Minhee bisa dipastikan bukanlah hal bagus.

 

Minhee berhasil menyelesaikan latihan hari ini, setidaknya gadis itu berhasil memendam amarah dan rasa kesalnya. Minhee pulang sendirian. Sengaja menghilangkan dirinya sendiri dari kerumunan kru drama yang lain saat mereka sama-sama menunggu kendaraan di halte bus. Terutama dari Jungkook. Minhee sungguh tak ingin Jungkook tahu bahwa arah rumahnya sudah berubah dari arah rumahnya yang lama. Arah apartemen Minhee dengan arah rumah orangtuanya memang berbeda dari kampus, itu pula yang menyebabkan Minhee lebih suka pulang sendirian dibandingkan bersama teman yang lain kecuali Minchan. Karena seperti yang Minhee cemaskan, ia takut teman-temannya akan sibuk bertanya dimana rumahnya yang sebenarnya. Minhee bukannya tidak mau menerima tamu, hanya saja Minhee tak mau ada siapapun teman kuliahnya yang datang ke apartemen bersamanya dengan Sehun.

Bisa terjadi skandal besar-besaran jika mereka ketahuan sudah menikah selama ini.

 

Sebenarnya juga, Minhee sedikit takut-takut kembali ke apartemen. Tadinya ia berpikir mungkin ia akan pulang ke rumah orangtuanya saja hari ini, namun mengingat bagaimana cerewetnya keluarganya di rumah, Minhee kembali memikirkan ulang gagasannya tersebut.

Bisa-bisa keluarganya akan salah paham padanya dan Sehun, menganggap mereka baru saja bertengkar hebat sampai memutuskan pisah rumah. Yang ada orangtua masing-masing akan ikut tinggal di apartemen mereka (lagi), menjaga mereka sampai kira-kira ‘pertengkaran’ yang mereka sebut mereda. Sehun dan Minhee semakin tidak bisa berkutik jika ada keluarga mereka yang ikut tinggal di apartemen, mereka tidak bisa berdebat ataupun tidur di lain kamar.

Lagipula bisa dikatakan Minhee masih sedikit trauma dengan tragedi jus wortel paling konyol yang pernah terjadi dalam hidupnya. Ia masih ngeri memikirkan hal semacam itu akan terulang kembali, apalagi mengingat sedang ada hal aneh yang terjadi pada diri Sehun saat ini.

Oh, hell no!

 

Minhee turun dari bus dan melangkah memasuki lobi apartemennya. Minhee sempat berhenti sesaat di depan pintu elevator yang sudah terbuka di hadapannya, masih merasa ragu akan melanjutkan langkahnya menuju lantai apartemennya. Minhee sedikit berdebar saat melewati lantai demi lantai menuju lantai apartemennya. Seperti Minhee kecil di masa lalu, sosok gadis yang sangat takut menaiki elevator jika tidak digendong. Namun kali ini Minhee merasa takut dan berdebar untuk alasan yang lain. Minhee yang sudah semakin dewasa memang tidak lagi takut menaiki elevator sendirian. Alasan ketakutan yang saat ini dirasakannya berbeda. Minhee takut cepat-cepat tiba di apartemennya. Minhee takut membuka pintu dan menemukan Sehun sudah tiba lebih dulu di sana.

Minhee takut bertemu suaminya sendiri.

Apakah itu terdengar konyol untuk didengar?

 

Bahkan setelah Minhee tiba di depan pintu apartemennya, gadis itu lagi-lagi mematung. Beruntung tetangga yang satu lantai dengannya sedang tidak ada yang melintas di sana, jadi mereka tak perlu menaruh curiga yang tidak sesuai dengan alasan sebenarnya saat mereka melihat Minhee terpaku memandangi pintu apartemennya sendiri seperti ini.

Tenggorokan Minhee mendadak kering. Tangannya terasa berkeringat dingin tanpa alasan yang jelas saat hendak meraih kenop pintu. Minhee begitu cemas. Kata-kata Sehun tadi pagi selalu berputar di kepalanya. Membuat perutnya melilit layaknya ia sedang tegang menunggu sesuatu yang mendebarkan.

 

Bagaimana jika Sehun benar-benar akan melakukannya malam ini?

Meskipun Minhee menolak, Minhee tahu ia hanya seorang gadis delapan belas tahun dengan pertahanan yang lemah. Memangnya apa yang bisa ia lakukan saat berhadapan dengan laki-laki? Saat adu memukul dengan Minhyuk pun, ia selalu kalah.

 

Dengan keberanian dalam hati yang sedikit ia paksakan, Minhee mulai menyentuh kenop pintu yang terbuat dari besi itu. Rasanya dingin, namun agaknya telapak tangan Minhee telah mati rasa karena rasa dingin itu kalah oleh rasa kebas yang tiba-tiba menyelubungi permukaan telapak tangannya. Minhee menutar kenop itu perlahan, begitu lambat.

 

Tunggu. Eh?

Pintu masih dalam keadaan terkunci? Jadi Sehun belum pulang?

 

Minhee terpaku di depan pintu apartemennya yang masih menutup, pandangannya membentur pintu kayu yang kokoh dengan kosong. Ada pertanyaan yang bergejolak dalam hatinya, mengapa ia menemukan pintu masih terkunci. Padahal hari sudah beranjak sore. Minhee bahkan merasa ia pulang terlambat hari ini, namun ternyata ia tidak lebih terlambat daripada Sehun.

Minhee cepat-cepat mengeluarkan kunci cadangan miliknya untuk membuka pintu. Dan setelah Minhee masuk ke apartemennya, keadaan apartemen masih sama seperti tadi pagi sebelum ia meninggalkannya pergi ke kampus. Minhee adalah tipe orang yang suka memperhatikan segala sesuatunya terlalu detail, jadi ia bisa memastikan bahwa tak ada benda di dalam sana yang bergerak atau berpindah tempat satu inci pun dari tempat semula. Berarti kesimpulannya Sehun memang benar-benar belum pulang.

Jujur ada sedikit rasa lega di hati Minhee melihat ia ternyata pulang lebih awal daripada Sehun. Setidaknya ia tidak setegang sebelumnya saat otaknya mulai tergelitik memikirkan hal yang aneh-aneh, jadi ia bisa bernapas lebih lega sekarang. Ia akan cepat-cepat masuk ke kamar, lalu mengunci pintunya. Dan… Aman.

Minhee segera melaksanakan bayangan rencana yang beberapa detik lalu terusun dalam otaknya itu. Ia segera masuk ke dalam kamarnya sendiri, lalu mengunci pintunya. Minhee menghembuskan napas lega saat ia merosot bersandar pada pintu kamarnya. Setidaknya ia sudah bisa melepaskan ketegangan itu malam ini.

Tidak ada kejadian aneh apapun yang akan terjadi malam ini, Minhee.

 

Setidaknya itulah yang Minhee pikirkan di menit-menit awal kedatangannya di apartemen. Ia sungguh lega, karena ketakutan yang sejak tadi pagi disimpannya tidak terbukti malam ini.

Namun tiba-tiba ia terpikirkan satu hal saat matanya tak sengaja terarah pada bingkai foto diatas meja belajarnya yang berisi fotonya bersama Sehun saat masih menggunakan baju pengantin.

Sehun… Sehun…

Bagaimana jika Sehun pulang terlambat hari ini karena ia ada janji bertemu dengan gadis yang dilihat Minhee kemarin?

 

***

 

Sebutlah Minhee gadis yang ambigu.

Sebutlah Minhee gadis yang aneh.

Gadis itu layaknya gadis ajaib yang mungkin memiliki seribu pemikiran berbantahan satu sama lain dalam kepalanya. Gadis itu begitu mudah mengubah keinginannya, pendapatnya, apa yang ia pikirkan dan hendak ia katakan, atau segalanya.

Minhee gadis yang cengeng. Ia suka menangis tanpa sebab yang terlalu jelas, atau setidaknya itu hanyalah secuil masalah yang sepele.

 

Baiklah, itu adalah sekelumit penjelasan mengenai gadis bernama Shin Minhee. Gadis berusia delapan belas tahun yang ironisnya sudah merasakan apa rasanya menikah, walaupun semua orang yang mengenalnya tahu pasti akan sekacau apa pernikahannya kelak mengingat usianya yang bahkan belum melewati batas coming age.

Tapi Oh Sehun sudah menikahinya semenjak nyaris tiga bulan yang lalu, dan gadis itu sudah resmi menjadi istrinya. Mereka sudah sama-sama mengucapkan ikrar di atas altar, ikrar bahwa mereka akan saling menerima apapun kelebihan dan kekurangan pasangan masing-masing dan akan terus saling mencintai sampai maut menjemput.

Rasanya pasti aneh bagi orang-orang yang mengenal mereka jika mengingat bagaimana mereka bisa menyelesaikan ikrar itu dengan sempurna. Saat itu masalah justru timbul saat pendeta meminta Sehun mencium Minhee. Itu adalah masalah besar bagi mereka karena itu akan sama-sama menjadi ciuman pertama mereka.

Namun pada akhirnya mereka juga berhasil melewati prosesi itu, walaupun Park Minchan terus-terusan meledek Minhee bahwa ciuman mereka diatas altar tidak sah karena Sehun tidak mencium bibir Minhee secara penuh.

 

Baiklah, itu adalah sekilas tentang kejadian tiga bulan yang lalu.

Dan Minhee baru saja memimpikannya kembali.

 

Minhee terbangun dari tidurnya dengan tubuh bermandikan keringat lengket dan napas yang terengah seakan ia baru saja bermimpi mengikuti lomba marathon.

Tapi tidak. Ia tidak bermimpi ia mengikuti perlombaan apapun. Ia hanya memimpikan segala kejadian yang telah berlalu. Serentetan kejadian yang tersusun satu persatu semenjak ia menikah dengan Sehun. Ia baru saja memimpikannya kembali.

Oh, ini pasti gara-gara foto pernikahan yang diamati Minhee lamat-lamat sebelum ia jatuh tertidur semalam.

 

Minhee mengerjapkan matanya saat ia melihat bingkai foto pernikahannya tidak ada di tempat semula. Minhee memeriksa sekitaran tubuhnya dengan panik, takut-takut ia menindih bingkai itu selama tidur dan akan menyebabkan kacanya retak. Bingkai itu adalah hadiah tambahan pemberian Luhan. Luhan bilang bingkai itu dibelinya saat ia mengikuti seminar mahasiswa di Beijing. Melihat bagaimana detail ornamen tembaga yang halus di bingkai itu, tentu saja Minhee percaya meskipun raut wajah Luhan tak meyakinkan saat ia berceloteh soal bagaimana bisa ia membeli bingkai itu.

Wajah Minhee semakin pias saat tangannya meraba sesuatu yang dicarinya di bawah selimut. Oh, kau bodoh, Minhee. Bingkai itu benar-benar tidur bersamanya semalaman, dan entahlah bagaimana nasib bingkai itu sekarang. Mungkin saja kacanya retak. Mungkin saja ada ornamen yang patah. Minhee sedikit takut saat perlahan tangannya terangkat dan memperlihatkan kondisi bingkai itu depan wajahnya.

Wajah Minhee seketika lega. Sejauh ini ia melihat bingkai itu masih baik-baik saja. Tidak ada yang rusak, dan Minhee merasa selamat. Minhee menghembuskan napasnya lega dan segera meletakkan kembali bingkai itu di posisi yang seharusnya. Minhee memandangi foto yang terpajang di bingkai itu lagi, dan senyumnya sedikit terulas sebelum ia turun dari tempat tidurnya.

 

Minhee harus pergi ke kampus lagi hari ini. Hanya ada satu kelas yang harus dihadirinya hari ini, yaitu kelas Dosen Kim. Selebihnya jadwal Minhee sudah bebas, dan mungkin waktu itu akan diiisi oleh jadwal latihan drama seperti kemarin. Selama seminggu ini mereka memutuskan untuk memulai agenda latihan mereka dengan latihan ekspresi untuk para pemeran dari divisi sastra, dan juga pematangan emosi tokoh bagi semua pemeran. Mengenai latihan ekspresi, para pemeran dari divisi seni teater berjanji akan membantu para pemeran dari divisi sastra. Dan Minhee merasa benar-benar beruntung sebab Sulli berjanji akan turun tangan sendiri khusus untuk membantunya.

 

Minhee menerapkan gaya berpakaiannya yang seperti biasa hari ini. Raglan, jeans biru, serta sepatu kets yang nanti ia kenakan saat akan keluar dari pintu apartemennya. Minhee agaknya sudah sama sekali lupa pada kecemasannya semalam. Ia sudah merasa tenang pagi ini, jadi dengan cuek ia melangkah keluar dari kamarnya dan bahkan sempat bingung sendiri mengapa semalam ia mengunci kamarnya. Gadis itu benar-benar lupa.

 

“Minhee-ya.”

Gerakan Minhee yang baru saja menarik pintu kulkas terhenti. Gadis itu menoleh ke belakang dan mendapati Sehun sedang berdiri di depan pintu kamarnya—kamar tamu—dengan piyama yang masih melekat di tubuhnya. Rambutnya juga masih terlihat acak-acakan, efek dari bangun tidur.

Minhee mengerutkan keningnya. “Ada apa?”

“Cepat ganti pakaianmu,” perintah Sehun datar. Namun dari intonasinya, Minhee tahu jika Sehun ingin perintahnya itu segera dilaksanakan tanpa bantahan apapun dari Minhee.

Namun sayangnya Minhee bukan tipe orang seperti itu.

 

“Untuk apa?” Tanya Minhee lebih lanjut.

“Aku suamimu,” jawaban Sehun sama sekali tidak berkaitan dengan pertanyaan Minhee. “Penuhi saja apa yang aku perintahkan kepadamu, aku tidak suka kau membantah.”

“Aku tidak membantah,” sanggah Minhee sambil bersungut-sungut. “Aku hanya bertanya apa tujuanmu menyuruhku berganti pakaian.”

“Cepat ganti pakaianmu sekarang juga,” titah Sehun ulang. “Atau…”

“Atau apa?” sambar Minhee ketus.

Sehun memutar matanya. “… Atau aku akan benar-benar memaksamu.”

Minhee mengeluh keras mendengar ancaman Sehun. Minhee mendengus lalu berjalan kembali memasuki kamarnya untuk mengganti pakaiannya, sesuai dengan apa yang Sehun minta.

“Kau menyebalkan, Oh Sehun.” dengus Minhee saat ia melewati Sehun yang masih berdiri di depan kamarnya, kamar yang berbeda beberapa langkah saja dari kamar Minhee sendiri.

“Jangan merutuk padaku.” Balas Sehun datar. Dengan sigap ia menahan lengan Minhee sebelum gadis itu berlalu dari dekatnya. “Oh, ya. Dan ada satu hal mengenai syarat pakaianmu yang baru nanti,”

“Apa lagi?” gerutu Minhee mulai kehilangan kesabaran.

“Pakailah pakaian yang feminin,” jawab Sehun dengan intonasi suara yang masih sama. “Aku mau kau terlihat cantik hari ini.”

 

Minhee benar-benar mengerutkan keningnya bingung kali ini. Apa maksud Sehun menyuruhnya berganti pakaian yang feminin?

Lalu… Lalu….

Terlalu banyak pertanyaan dalam kepala Minhee. Gadis itu tak sempat menanyakannya satupun pada Sehun, sebab laki-laki itu sudah lebih dulu memasuki kamarnya sendiri dan menutup pintunya lagi dengan rapat.

Minhee mencibir di balik pintu Sehun yang menutup.

“Dasar laki-laki aneh.”

 

 

Entah sudah berapa kali Minhee memeriksa deretan baju santainya dari tumpukan teratas hingga tumpukan terbawah, ia tetap tak menemukan pakaian yang kira-kira mendekati keinginan Sehun. Pakaian feminin, maksudnya. Sebagai perempuan, Minhee nyaris tidak memiliki rok sama sekali. Saat sekolah, Minhee masih bisa mengandalkan rok seragamnya sebagai salah satu koleksi rok yang ia miliki. Namun berhubung sekarang ia telah lulus dari bangku sekolah—dan lagipula semua seragam sekolahnya ia tinggalkan di rumah orangtuanya, jadi sekarang ia tidak memiliki koleksi rok. Hanya ada dua potong gaun yang ada di lemarinya. Satu potong gaun berwarna putih yang Minhyuk berikan padanya, dan satu lagi gaun pesta malam berwarna violet pemberian Luhan .

Selebihnya tidak ada lagi, dan Minhee tentu saja tidak mungkin memakai gaun dengan model seperti itu kecuali untuk menghadiri acara formal.

Minhee menyerah dan akhirnya memilih sepotong kemeja dengan lengan menggelembung motif polos berwarna biru laut dan celana sepanjang lutut berwarna putih polos. Setidaknya gaya pakaian itu lebih feminin dibandingkan dengan gaya berpakaiannya sebelumnya.

Minhee keluar dari kamarnya, tepat saat Sehun juga keluar dari kamarnya. Laki-laki itu keluar sambil masih mengacak-acak rambut basahnya dengan handuk, dan Minhee sungguh terperagah melihat bagaimana penampilan Sehun sekarang.

Sehun seketika tersadar bahwa Minhee dengan memperhatikannya dengan raut terkejut, jadi ia menoleh dan mengerutkan kening bingung melihat reaksi Minhee.

 

“Kenapa kau mengenakan warna baju yang sama denganku?!” seru Minhee heboh. Gadis itu menuding pakaian yang dikenakan Sehun sekarang, dan benar saja. Sekarang ia dan Sehun sama-sama mengenakan atasan berwarna biru laut. Yang membedakan mereka adalah modelnya tentu saja. Jika Minhee memilih model lucu dengan lengan menggelembungnya itu, Sehun lebih memilih kaos berlengan panjang dengan warna yang senada. Minhee mengenakan celana sepanjang lutut berwarna putih cerah, sedangkan Sehun mengenakan celana jeans panjang berwarna putih pudar.

 

Mendengar reaksi heboh Minhee, Sehun hanya mengangkat kedua tangannya cuek. “Aku tidak mengintipmu saat berganti pakaian, oke? Secara kebetulan saja kita satu pemikiran untuk memilih warna pakaian.”

Minhee memicingkan matanya. “Lalu kau ingin ke kampus dengan pakaian seperti itu?”

Sehun memutar matanya sambari memutar langkah menuju kamar mandi. “Gaya berpakaianku memang seperti ini—kecuali untuk jeans, sebenarnya aku lebih suka yang warnanya gelap. Memangnya kau tidak pernah memperhatikan, ya?” Sehun melirik sinis. “Dan lagi, siapa bilang kita akan ke kampus hari ini,”

“Apa?!” seru Minhee shock. “Jadi… Jadi… Kau menyuruhku berganti pakaian karena—“

“Kita akan jalan-jalan hari ini,” potong Sehun sambil memutar tubuhnya lagi menghadap Minhee. “Dosenmu tidak akan keberatan ‘kan, jika aku meminjammu satu hari saja?”

Minhee membelalakan matanya lalu cepat-cepat menyusul Sehun yang sudah melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.

“Kau menyuruhku membolos kuliah?!” Tanya Minhee shock. Ia mengernyit saat bertatapan wajah dengan Sehun, namun Sehun hanya membalas dengan raut wajah cueknya.

“Satu hari saja,” sahut Sehun datar. “Aku yakin si-eomeoni juga akan memberikanmu izin. Perlu aku telepon si-eomeoni sekarang, hm?”

 

Yang benar saja?! Eomma pasti akan memberikanmu izin, Oh Sehun! Bahkan mungkin jika kau meminta izin untuk membawaku ke luar negeri dan tidak akan pernah mengajakku kembali ke Korea, eomma akan setuju saja mendengar permintaan gilamu itu! Rutuk Minhee dalam hati.

 

“Kau menyebalkan,” tandas Minhee datar. “Kenapa kau tidak mengabarkan padaku sebelumnya jika kau ingin mengajakku jalan-jalan hari ini?”

“Memangnya kemarin kapan kita ada waktu untuk bertemu, hm?” Sehun balik bertanya dan melipat tangannya di depan dada saat berhadapan kembali dengan Minhee. “Kau bahkan terlalu asyik berlatih drama bersama pacar barumu itu seharian, dan saat pulang aku menemukan pintu kamarmu sengaja kau kunci.”

Minhee berusaha menahan emosinya yang lagi-lagi mulai naik. “Pacar baruku?! Siapa yang mengatakan padamu jika Jungkook adalah pacar baruku, eoh?!”

“Bahkan sebelum aku menyebutkan namanya, kau sudah tahu siapa orang yang kumaksud,” dengus Sehun sebagai jawaban. “Aku bahkan merasa tidak tahu apapun tentang dirimu, Minhee, meskipun aku adalah suamimu sekarang. Tapi dia seakan mengetahui segalanya tentang dirimu, bahkan mungkin menghapal setiap rincian hal yang kau sukai dan kau benci. Tidakkah kau merasa cemburu jika hal yang sama terjadi sebaliknya pada dirimu sendiri?”

Minhee benapas naik-turun dalam helaan dan hembusan kasar. “Lalu kau pikir aku sama sekali belum pernah merasa sakit hati padamu?” balas Minhee kelepasan. “Apa kau bisa banyangkan bagaimana rasanya jika berhari-hari kau rela menyiapkan hadiah untuk seseorang, lalu pada hari yang seharusnya ia justru membuatmu patah hati dan membuatmu menangis seharian. Tidakkah kau merasa sakit hati jika hal yang sama terjadi pada dirimu sendiri?”

 

Sehun terdiam seketika saat mendengar semua ocehan Minhee yang keluar tanpa bisa ia ingat untuk kendalikan. Rasa bersalah itu kembali muncul dalam hati Sehun, apalagi melihat airmata yang mulai menggenang di pelupuk mata Minhee. Gadis itu menangis lagi. Harusnya Sehun ingat, Minhee adalah gadis yang sedikit sulit untuk mengatur emosinya dan ia akan menumpahkan segalanya lewat tangisan.

Minhee mengingat kejadian itu lagi.

Mereka memang hanya berdebat kecil di awal, namun entah mengapa menjadi tangisan untuk Minhee di akhir. Gadis itu terlalu sensitif… Atau memang itu terlalu menyakitkan untuknya?

 

Di hari-hari pertamanya tinggal satu apartemen bersama Minhee, Minhyuk sering menemuinya di sela jeda kelas mereka. Minhyuk mengatakan beberapa hal yang tersembunyi tentang Minhee. Tentang bagaimana kemampuan Minhee yang tidak bisa terduga dalam megendalikan emosi, bagaimana gadis itu tampak kuat dan tegar saat memendam sakit hati namun sebenarnya ia lemah. Tentang bagaimana gadis itu sedikit sulit mengatur airmata saat emosinya sudah di ambang batas. Sedikit banyak Minhyuk sudah memberi tahu bagaimana cara untuk menghadapi emosi Minhee, namun agaknya Sehun lupa akan itu semua karena kini ia sudah terlanjur membuat Minhee menangis lagi.

 

“Minhee-ya…”

“Aku benci padamu, oppa.”

 

Dan Sehun tak bisa berbuat apa-apa saat Minhee meninggalkannya sendirian bersama seluruh rasa bersalahnya atas pertengkaran baru mereka pagi ini…

 

 

 

 

 

| T B C |

 

 

 

Halo semuanyaaaaaa ~~~~~

 

Iya iya, aku tau aku lama lagi postingnya edisi ini… Aku ngga bisa janji lagi ding, soal posting yang seminggu sekali itu ._.v

Mulai chapter ini, aku umumkan bahwa paling cepet aku postingnya dua-tiga minggu sekali yaa… Inget, dua-tiga minggu sekali itu paling cepet banget. Jadi jangan buru-buru salahin aku kalo suatu hari nanti, update itu bakalan molor lebih dari dua minggu😀

Aku sudah tiba di penghujung bangku sekolah sekarang…. Sebagaimana siswa tahun terakhir yang lain, jadwalku sudah mulai menggila. Ditambah lagi jarak dari rumahku ke sekolah itu jauh—aku serius banget soal jarak jauh ini—jadi aku capek duluan tiap nyampe di rumah😥 Bikin aku mau pegang laptop aja susah😥

Jujur banget, aku merasa punya banyak kelalaian sama kalian semua… Mungkin komenan banyak yang terbengkalai ya, maaf banget aku ngga mampu balesin satu-satu😥

Aku menghargai kalian semua dalam menyampaikan apapun bentuk apresiasi kalian. Bener deh (/-\) Aku begitu seneng dan ngga menyangka kalo karya aku banyak yang suka, dan aku bersyukur kalian semua juga manis-manis :3

Aku harap, meskipun aku morat-marit ngurusin fic ini beserta komennya, aku tetap ngga kehilangan kalian. Partisipasi kalian mempengaruhi mood aku banget. Terkadang tengah malem aku suka bela-belain ngelanjut ngetik demi chapter-chapter yang belum selesai (/-\)

Semua itu berkat dorongan dari jumlah komen kalian yang cukup fantastis (menurut aku pribadi, soalnya baru sekali ini aku dapet komenan sampe sebegitu banyaknya >.< thanks all)

 

Guys, saat ini juga aku sedang dalam tahap mempersiapkan grand opening blog pribadiku😀 Tapi belum dibukan beneran sih… Ahahaha ~

Sebelum melanjutkan ‘bisnis’ di sana, seenggaknya aku sudah harus mempublikasikan beberapa cerita di sana. Jadi biar pas kalian (mau) berkunjung, blog itu ngga kosong-kosong amat😀

Well, aku mulai ‘berbisnis’ di sana mengingat belakangan ini aku mulai coba-coba nulis fanfiksi dengan tema yang berbeda… Soalnya blog umum ini kan basisnya fanfiksi EXO aja, jadi aku butuh tempat ‘berbisnis’ lain dimana aku bebas mau nulis fanfiksi dengan basis apa saja😀

Ada kemungkinan juga episode fic Secret Darling ini bakalan aku teruskan di sana… Aku tahu, aku mungkin ingkar janji soal gembar-gembor bakal posting di blog ini terus… Cuma aku mempertimbangkan supaya kalian lebih mudah kalo mau ngecek kelanjutan cerita judul ini. Kasian buat kalian yang harus ngecek setiap hari ke blog umum ini, padahal aku belum posting😦

Nanti, kalo rapi-rapinya udah beres, aku kasih tau kok alamat kalo mau berkunjung ke sana😀

 

Nah, sekian cuap-cuap aku kali ini ~

Pendapat kalian soal chapter ini aku tunggu selalu yaa ^^

Semoga kalian suka sama persembahan aku di chapter yang ini😀

 

Have some nice days, guys! 😉

 

[♥] : Kata makasih gak pernah kering aku ucapin ke kalian, para readers kesayangan aku :3

Sampe detik ini komentar masih terus mengalir, dan jumlahnya beneran buat aku terharu… Aku terharu dengan betapa excited-nya kalian sama fic ini… Terimakasih banyak, aku sayang kalian semua deh… Beneran (/-\)

Makasih banyak ya, komentar kalian kemarin-kemarin selalu melebihi harapan aku… Makasih buat semangatnya :3

Pertahankan terus ya jumlah komentar kalian, supaya gembok bala aku gak nemplok di chapter selanjutnya😀 mihihi ~

 

 

shineshen

 

 

 

 

393 thoughts on “Secret Darling | 14th Chapter

  1. Ping-balik: Secret Darling | 29th Chapter [Ending Page] – Shen's Fictionary

  2. minhee udah tau banyak tentang semua itu, uuuh kaga gw sangka! hahaha omongan mereka lucu nguquq gw bacanya! seketika scene di ganti ke bagian jeongkook, gw mulai kesel, si jeongkook peri ato apa sih tau aja minhee ada dimana, terus rumor udah nyebar kalo mereka pacaran.
    ciyee MinHun pen kemana?.

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s