A Great Honeymoon

nagisa-yoonhee

Author: Mingi Kumiko

Cast:

  • Kim Jong In
  • Byun Baek Hyun
  • Nagisa Park
  • Kim Yoon Hee

Genre: Marriage life, romance

Rating: PG-17+ (Mature)

Length: Oneshot

Note: Ini sequel kompilasi dari My Cruel Husband dan Initially Just A Stranger. Kwokokokokok~ :v

.

.

Jongin dengan bringasnya melahap sebuah roti berisi coklat yang baru saja ia beli dari kantin ke mulutnya tanpa perlu menggigitnya menjadi potongan yang lebih kecil terlebih dahulu.

Are you hungry or something, dude?” tegur Baekhyun yang tak habis pikir dengan ulah kawannya yang satu ini. Jongin yang mulutnya masih terpenuhi oleh roti yang sudah tak jelas bentuknya serta bercampur dengan air liur itu pun lantas menoleh dengan pipi yang sedikit digembungkan. Sebelum membalas teguran Baekhyun, ia menelan rotinya.

“Aku tidak mengerti dengan Nagisa pagi ini, hyung. Aku tidak tahu kenapa wajahnya terlipat mangkal terus. Sialnya, itu berdampak pada suasana hatinya. Dia kan suka ceroboh kalau sedang bad mood. Jadinya, sarapan yang ia masak gosong dan rasanya sangat pahit, huh…,” jelas Jongin kemudian melanjutkan makannya.

“Memangnya dia tak cerita alasan kenapa suasana hatinya buruk?” tanya Baekhyun.

“Jangankan cerita, bicara denganku saja dia enggan. Aish, jeongmal…, eotteokhae?!”

“Besar kemungkinan penyebab kemarahannya adalah dirimu, Jongin-a…”

“Aku? Tapi aku ingat sekali, dia baik-baik saja kemarin, hyung…”

Mollasseo.” Baekhyun mengidikkan bahunya tak acuh.

 

Ketika mengunyah, tiba-tiba saja terbesit di otak Jongin mengenai percakapan mereka kemarin malam sebelum tidur.

 

Oppa, apa kau tak merasa bosan terus-terusan di rumah?” celetuk Nagisa.

“Bosan bagaimana? Kan ada kau di sampingku…,”

Oppa, aniyo! Maksudku…, apa kau puas dengan bulan madu kita waktu itu? Aku berpikir itu bukan bulan madu. Ayo, kita liburan ke suatu tempat? Terserah mau ke mana, yang penting kita bersenang-senang dan menghabiskan banyak waktu bersama di sana.”

Chagiya…, aku benar-benar tak bisa memikirkan itu sekarang. Kita perginya ketika aku sudah tak sibuk dengan pekerjaan saja ya?” ucap Jongin sambil mengelus lembut rambut Nagisa kemudian dengan perlahan mengecup pipi bulat istrinya itu.

“Terserah oppa, deh…” Nagisa coba memperlihatkan ketegarannya dengan tersenyum dan balas melingkarkan tangannya di pinggang Jongin.

Jaljjayo, oppa…” ucap Nagisa kemudian membenamkan kepalanya ke dada bidang Jongin.

 

OMO! Masa karena itu?!” Jongin langsung tersentak dan berhenti mengunyah roti tersebut. “Ada apa, Jongin?!” Baekhyun ikut tersentak. Kembali, Jongin menelan makanannya dengan tergesa-gesa.

Gwaenchanayo, hyung…, hanya masalah kecil. Bisa kutuntaskan sendiri.” celetuk Jongin seraya menyedot segelas minuman dingin. Baekhyun mengangguk dan kembali menjumput kentang goreng di hadapannya.

 

“O iya, ada sesuatu yang ingin kusampaikan. Hampir saja aku lupa!” Baekhyun menepuk jidatnya dengan telapak tangan.

“Apa, hyung?” Jongin pun dibuatnya penasaran.

“Aku punya voucher liburan ke pantai. Ada 4 tiket, yang dua untukku dan Yoonhee. Nah…, kau mau sisanya tidak?” penjelasan Baekhyun tersebut membuat mata Jongin terbelalak hebat. “HYUNG, JEONGMAL?!”

“Tentu saja aku bersungguh-sungguh. Bagaimana, kau ambil tidak?”

 

Demi apapun, Jongin benar-benar tidak menyangka hal ini akan terjadi padanya. Dalam hati, entah sudah berapa kali ia mengucap syukurnya karena kejutan yang amat mencengangkan ini.

 

Jongin segera berdiri dari kursi yang ia duduki, dengan gerakan cepat ia meraih tangan Baekhyun untuk digenggamnya. “Aku mau, hyung. Aku mau!” jawab Jongin antusias, ia mengatupkan bibir, memasang ekspresi penuh harap, matanya disipitkan, serta kepala yang diangguk-anggukkan.

“Jongin-a…,” panggil Baekhyun gelagapan.

“Kenapa, hyung?” balas Jongin.

“Apa kau tidak merasa ini terlalu berlebihan?” Baekhyun agaknya merasa risih dengan tingkah aneh pria berkulit tan itu. Apa dia tidak sadar jika sedari tadi para karyawan yang menghabiskan waktu di kantin tengah menatapnya dengan pandangan nanar dan seakan jijik?

Eo, maafkan aku, hyung.”

 

***

Jongin membuka pintu rumahnya hingga engselnya berdecit. “Aku pulang…” ujarnya. Kemudian datanglah Nagisa untuk menyambutnya. “Aku sudah masak, oppa bisa langsung ke meja makan.” kata Nagisa sembari berusaha melepas ikatan simpul pada dasi yang Jongin kenakan.

 

Hari ini memang Nagisa tetap menjalankan kebiasaannya, namun Jongin tahu kalau ia melakukannya dengan setengah hati. Itu wajar dan Jongin bisa memakluminya. Pasti pernyataannya kemarin membuat Nagisa kecewa.

 

“Nagisa!” panggilnya sebelum gadis itu melangkah lebih jauh untuk menghindarinya.

“Aku lelah, bicaranya nanti saja.” tolak Nagisa.

“Tapi aku ingin bicara sekarang. Istri tidak boleh menolak perintah suami, right?” slogan itu seakan sudah menjadi password agar Nagisa menuruti apapun yang Jongin perintahkan. Akhirnya ia pun berbalik dan mengambil langkah untuk menghampiri Jongin.

“Mau bicara apa, oppa?” tanya Nagisa. Sama sekali tak tersirat kemarahan atau ratapan sedih di wajah cantik tersebut. Dengan perlahan Jongin mengeluarkan dua buah lembar kertas dari saku celananya.

Ige mwoya?” tanya Nagisa sembari mengamati dua helai kertas tersebut.

“Aku dapat voucher liburan ke pantai untuk dua orang. Mau tidak?” tawar Jongin. Seketika Nagisa pun menutup mulutnya dengan salah satu tangan, ia terkejut bukan kepalang.

“Kemarin kamu bilang ingin liburan, ‘kan? Memang tidak bisa berduaan saja sih karena ada Baekhyun hyung juga. Tapi itu tidak akan jadi masalah, ‘kan chagi?”

Oppa, gomawoyo!” Nagisa dengan refleks memeluk erat Jongin saking senangnya.

“Ayo segera kemasi barang-barangnya…” ajak Jongin.

“Kenapa harus sekarang?”

“Kita perginya besok. Maaf ya mendadak, aku juga baru dapat voucher ini tadi siang.”

“Tidak masalah. Ya sudah, aku ke kamar dulu ya?”

 

***

Baekhyun’s home

09.30 PM

“Sudah minta izin untuk cuti belum, Yoonhee-ya?” tanya Baekhyun seraya merebahkan tubuhnya ke kasur.

“Sudah, oppa…” jawab Yoonhee sembari meletakkan barang-barang yang harus dibawa esok hari ke dalam koper.

“Besok aku juga mengajak Jongin dan istrinya.”

“O, begitu…” Yoonhee asal mengangguk saja.

“Ya sudah, berhenti lah berkutat dengan koper. Besok biar aku yang selesaikan. Sekarang segera lah tidur. Kau juga baru saja selesai membuat PR untuk murid-muridmu, ‘kan? Pasti lelah.” kata Baekhyun sambil menepuk-nepuk kasur, menunjukkan di mana posisi Yoonhee seharusnya tidur.

 

Yoonhee dengan mudahnya menurut. Ia pun membaringkan tubuhnya di sebelah Baekhyun.

Jaljjayo, yeobo…” ucap Baekhyun lembut tepat di telinga Yoonhee, membuatnya menoleh dan membalasnya dengan senyuman sendu. “Nado, oppa…”

 

***

Jongin’s home

06.30 PM

Nagisa mengerjap-ngerjapkan matanya tatkala sinar mentari pagi dengan lembut menerpa wajahnya. Ia mengucek matanya seraya melakukan peregangan, ia pun menoleh ke samping untuk menengok Jongin. Didapati lah suaminya itu yang masih tertidur dengan posisi memunggunginya. Ia pun berinisiatif membangunkannya dengan memutar tubuh Jongin agar telentang terlebih dahulu.

Oppa, ireona!” katanya sambil menggoyang-goyangkan tubuh lelaki bertubuh jangkuk itu. Tingkah Nagisa barusan membuat Jongin tergugah, ia sedikit mengerang seraya berusaha membuka matanya yang masih menempel. Ketika matanya terbuka, ia pun mendapati seorang wanita cantik dengan mata sayunya telah ada di depan wajahnya –itu Nagisa.

“Nagisa…,” ucap Jongin seraya mengelus lembut pipi Nagisa.

YA! Oppa…, aku menyuruhmu bangun, cepatlah!”

“Bangun untuk apa?”

Oppa ini bagaimana, sih? Katanya kita akan liburan ke pantai dan harus menjemput Baekhyun-ssi ke rumahnya terlebih dahulu, jadi ya kita harus siap-siap sekarang!” jelas Nagisa dan masih belum sama sekali berpindah dari posisinya semula –meletakkan kedua tangannya di kedua sisi tubuh Jongin.

“O iya ya? Tapi sebelumnya…, aku mau…,” Jongin menyeringai licik seraya mengusap-usap bibir merah muda milik istrinya itu, memberikan kode.

Oppaya…” Nagisa mengeluh dengan nada yang manja. Jongin pun mulai bisa menerima dan tak ingin lagi menuntut. Nampaknya istrinya itu masih terlalu malu jika harus dengan rutin memberinya morning kiss.

 

Namun tanpa Jongin duga sebelumnya, Nagisa malah makin mendekatkan wajahnya dan mendaratkan bibirnya di atas bibir Jongin, dapat pula ia dengar suara Nagisa yang terkekeh kecil sebelum gadis itu menciumnya. Nagisa dengan perlahan meraup bibir bawah suaminya dan lebih membulatkan bibirnya. Jongin memilih untuk tak membalas ciuman tersebut dan hanya mengelus tengkuknya. Mengingat ini masih pagi, alangkah lebih baiknya kalau ia menahan diri terlebih dulu daripada nanti ia kehilangan kendali di tengah ciuman tersebut.

 

Setelah sekitar dua menit, Nagisa pun mengendurkan bibirnya dan berhenti mencium Jongin. “Apa Anda sudah puas, Tuan Kim?” tanya Nagisa dengan wajah mengejeknya. Jongin terkekeh kecil sambil mengangguk, mengiyakan.

 

Ia pun bangkit dari posisi telentangnya, dengan iseng menyisir poninya dengan jemari.

“Aku duluan ya yang mandi?” pinta Nagisa tatkala Jongin menatapnya.

“Kau siapkan barangnya saja…, biar aku duluan yang mandi.” jawab Jongin.

Oppa kan bisa memanaskan mobil terlebih dulu, ayolah!” Nagisa terus saja membujuknya, namun Jongin juga tak mau mengalah. Nagisa sangat lama jika sudah berkutat di kamar mandi, alangkah baiknya kalau ia yang duluan mandi agar lebih cepat bersiap-siap pergi, pikir Jongin.

“Oke, oppa, oke?” tanya Nagisa sembari membentuk lingkaran dengan jari telunjuk dan ibu jarinya. Jongin tak kunjung menjawabnya dan memilih diam saja.

 

Aish, diam berarti iya. Aku mandi duluan!” celetuk Nagisa, ia pun membuka selimutnya dan segera turun dari tempat tidur menuju kamar mandi. Namun ternyata Jongin juga ikut turun dari ranjang dan langsung mengangkat tubuh Nagisa dari belakang.

Oppa! Apa yang kau lakukan?” sentak Nagisa saking terkejutnya.

“Tentu akan jauh lebih efisien jika kita melakukannya bersama-sama, right?” Jongin menyeringai licik.

Oppa, turunkan aku!! HUUUAAAA!!” Nagisa coba memberontak dengan menendang-nendangkan kakinya ke segala arah. Berharap pertahanan suaminya itu akan goyah dan mengurungkan niat untuk mengajaknya “memasuki” kamar mandi bersama-sama.

“Bukankah apapun yang kita lakukan bersama akan selalu terasa menyenangkan, chagiya?” goda Jongin sambil menyentuh hidung Nagisa dengan hidungnya sendiri. Wajah gadis yang tengah ia kerjai itu pun mendadak bersemu merah, namun segera ia sembunyikan semburat tersebut dengan menutup seluruh wajahnya dengan tangan.

 

***

Baekhyun’s home

08.00 AM

“Yoonhee-ya, sudah kau siapkan belum kopernya?” tanya Baekhyun yang tengah duduk santai di ruang tamu dengan sedikit berteriak sembari menyesap secangkir kopi.

 

Di sisi lain, Yoonhee yang tengah meletakkan barang satu per satu ke dalam koper pun dibuatnya mendengus tatkala mendengar teriakan Baekhyun dari sudut ruang tamu. Menyebalkan sekali, padahal kemarin malam ia bilang akan mengambil alih pekerjaan Yoonhee mengemasi barang-barang. Tapi yang ada malah ia dengan santainya duduk di sofa empuk sambil menikmati kopi buatannya!

 

Pekerjaannya akhirnya selesai, hanya tinggal mengangkat koper itu ke bagasi mobil. Namun, mobil yang ditugaskan untuk menjemput mereka masih belum datang.

“Yoonhee-ya…” terdengar suara yang kelewat familiar di telinganya memanggil. Yoonhee lantas menoleh dan didapati lah Baekhyun sudah berdiri menyandar di ambang pintu.

“Mobil jemputannya sudah datang, ayo segera berangkat!” lanjutnya. Ia melangkan untuk menghampiri Yoonhee, lantas menarik kopernya menuju halaman depan.

 

Yoonhee berjalan di belakang Baekhyun. Mobilnya terparkir tepat di depan pagar rumah mereka. Ia melihat sepasang Jongin dan Nagisa tengah membantu Baekhyun mengangkat kopernya ke bagasi.

Annyeong haseyo…” sapa Yoonhee ramah pada mereka berdua.

“Yoonhee noona!” seru Jongin tatkala ia menoleh ke sumber suara yang barusan mengucapkan salam tersebut.

Jongin­a, kita bertemu lagi.”

 

Sebelumnya Jongin memang pernah mampir ke rumah Baekhyun dan bertemu dengan Yoonhee. Walaupun tak terlalu akrab, tapi ia memperbolehkan Jongin memanggilnya dengan sebutan ‘noona’.

“Kenalkan ini istriku. Cantik, bukan?” celetuk Jongin seraya merangkul pundak Nagisa dan mengisyaratkan lewat gerakan kepala agar gadis itu menjawab sapaan Yoonhee.

“Halo, aku Nagisa. Senang bertemu denganmu, Yoonhee-ssi…” masing-masing dari mereka pun kemudian berjabat tangan dan melemparkan senyuman canggung.

“Istrimu sangat lolly ya, Jongin?” kata Yoonhee. Ucapan Yoonhee barusan bukanlah sekedar pujian untuk mencairkan suasana canggung, namun yang ia katakan barusan memang benar adanya, Nagisa memang masih terlihat seperti murid SMA.

“Oh iya, jangan memanggilku dengan sebutan yang terlalu formal, kau bisa memanggilku ‘eonnie’. Kau pasti lebih muda dariku, ‘kan?” ujar wanita berusia 25 tahun itu.

“Iya, aku masih 21 tahun, Yoonhee eonnie…”

“Wah, kalian cepat sekali akrab ya?” celetuk Baekhyun tiba-tiba.

“Lebih bagus begitu kan, hyung?” timpal Jongin.

 

***

Di dalam mobil, Jongin sebagai pengemudi pun tengah asyik berbincang dengan Baekhyun. Gelak tawa tak henti-hentinya menyertai pembicaraan mereka. Berbeda dengan keadaan di jok belakang, sunyi senyap. Nagisa tidur sambil memeluk boneka minions, sedangkah Yoonhee, dengan bosannya, ia menyimak pembicaraan Jongin dan Baekhyun yang tak jelas ke mana arahnya.

“Maafkan istriku ya, noona…, dia terlalu semangat menyiapkan barangnya sampai larut malam, jadi kurang tidur, deh!” jelas Jongin pada Yoonhee.

Eo, tidak masalah, Jongin-a…, seharusnya aku juga mengantuk pagi ini, hanya saja aku sudah minum segelas kopi.” balas Yoonhee.

“Kau ikut tiduran saja, yeobo…” celetuk Baekhyun.

Ne…” Yoonhee mengangguk patuh.

.

.

Mereka akhirnya sampai di tempat tujuan –pantai. Yoonhee terbangun tatkala suara deruman mobil tak lagi terdengar.

Noona, tolong bangunkan Nagisa ya? Aku dan Baekhyun hyung harus mengangkat barang-barang darii bagasi, nih!” celetuk Jongin.

“Oke, Jongin …”

 

Setelah Jongin keluar dari mobil, Yoonhee dengan ragu mulai membangunkannya.

“Nagisa, bangun…” ucap Yoonhee pelan seraya menggoyang-goyangkan tubuh gadis berkulit milky way itu.

“Nagisa…” Yoonhee berucap lebih keras daripada tadi. Akhirnya ia berhasil membangunkan Nagisa. Matanya yang masih menempel pun mengerjap-ngerjap.

Eonnie, annyeong…, Maaf aku tidur terus selama perjalanan. Aku ngantuk sekali, hoams…” Nagisa menutup mulutnya yang menguap dengan kedua telapak tangannya.

“Iya, tidak masalah, kok!” Yoonhee tersenyum simpul, namun di mata Nagisa, senyuman itu terlihat begitu tulus.

.

.

LET’S HAVE FUN TOGETHER, WOAH !!!” seru Baekhyun sambil berlarian di pasir putih dengan kaki telanjangnya.

 

Mereka menghabiskan waktu di pantai dengan penuh kegembiraan. Nagisa dan Yoonhee pun sudah mulai akrab. Mereka mengobrol asyik di bawah pohon bakau.

“Oh…, jadi kau itu keturunan Jepang? Pantas saja, kau sangat imut seperti masih berusia belasan tahun.” celetuk Yoonhee.

“Ah, eonnie bisa saja! Tapi di mataku, eonnie benar-benar terlihat dewasa. Tidak seperti aku…, Jongin oppa sering bilang kalau aku kekakan-kanakan.” Nagisa mendadak mengerucutkan bibirnya dan bersenggut dagu.

“Tapi kelihatannya Jongin sangat bahagia memilikimu?”

“Dia sering bilang, apapun yang kulakukan selalu dapat menghiburnya. Hampir setiap saat dia berhasil membuat pipiku memerah karena tersanjung.” oceh Nagisa.

“Aduh…, romantis sekali ya?”

“Lalu, bagaimana dengan Baekhyun-ssi?”

“Kami masih pengantin baru, liburan ini saja terhitung sebagai bulan madu.”

“Tapi walaupun begitu, masa tidak ada hal yang membuatmu terkesan padanya sih, eonnie?” mendengar pertanyaan tersebut, sejenak Yoonhee pun bergeming untuk berpikir.

“Ada sih…,” gumamnya. “Terkadang dia melakukan aegyo jika menginginkan sesuatu dariku. Contohnya…, ya, kau tahu sendiri lah apa, hehehe…” ujar Yoonhee.

“Hahaha, suami eonnie ternyata sangat lucu ya?”

“Eh iya, ngomong-ngomong…, kau pernah tinggal di Jepang ya? Apa kau familiar dengan dunia manga, anime? Atau mungkin kau ber-cosplay, wajahmu sangat mendukung soalnya.” kata Yoonhee dan membuat Nagisa terlonjak kaget. Pertanyaan barusan membuat semangat Nagisa untuk menjawab benar-benar berkobar!

“Aku dulu cosplayer, tapi sejak menikah dengan Jongin oppa, sudah tidak lagi.”

“Kenapa begitu?”

“Kata Jongin oppa itu tidak baik. Awalnya aku yang egois sedikit tidak terima. Tapi setelah mendengar penjelasannya dan menelaah lebih jauh, dia benar. Ya, pokoknya begitulah! Sudah lama sekali, bahkan aku telah melupakannya. Oh, eonnie suka Jepang juga?”

“Aku banyak nonton anime dan membaca manga untuk mencari metode mengajar.”

“Wah, cara yang eonnie terapkan unik sekali ya?”

 

***

Malamnya, kedua pasang suami-istri itu menghabiskan waktu makan malam bersama di dekat pantai. Mereka memilih sebuah kedai yang tempat duduknya hanya beralaskan karpet tebal serta terdapat meja besar yang muat menampung banyak piring, mengingat banyak sekali makanan yang mereka pesan.

“Temanku merekomendasikan tempat ini. Katanya sih semua makanannya enak, jadi aku pesan hampir semua menu. Ayo, jangan sungkan-sungkan buat makan!” kata Baekhyun seraya membelah sumpitnya menjadi dua bagian.

 

“Apa kita akan sanggup menghabiskan semua ini, hyung?” celetuk Jongin. Ia meneguk liur, tercengang dengan banyaknya makanan yang terhidang di hadapannya.

“Pasti bisa, kok…” jawab Baekhyun sembari menjumput tahu dari sumpitnya.

“Nagisa, ayo dimakan…, jangan sungkan-sungkan!” kata Baekhyun yang tanpa sengaja melihat Nagisa yang hanya diam.

Ne…,” ia hanya mengiyakan sambil menunduk polos.

 

Ah, semua menu yang dipesan terlihat menggiurkan. Tapi kalau kucicipi semua, pasti Jongin oppa akan memarahiku. Masa bodohlah, Baekhyun-ssi menyuruhku makan tanpa perlu merasa sungkan, bukan? Nagisa membatin. Matanya berbinar melihat makanan lezat tersaji tepat di depan matanya. Tanpa ragu, ia pun segera mengambil sendok dan menyiduk menu yang sekiranya menggugah selera makannya.

 

Baekhyun mulai kelimpungan dalam menghabiskan makanan yang ia pesan sendiri. Perutnya mulai kembung dan tak sanggup lagi menelan. Begitu juga dengan Jongin. Apalagi Yoonhee, jauh sebelum Baekhyun menyerah, terlebih dahulu ia telah meletakkan sumpitnya di atas meja.

 

Hanya Nagisa yang sampai saat ini masih menelan makanannya dengan santai. Satu per satu menu ia cicipi dengan rasa antusias. Mulutnya tak henti-hentinya terbuka untuk mengunyah.

“Nagisa, kau hebat!” Baekhyun tercengang tatkala dengan lekat-lekat memperhatikannya makan.

 

Pasti saat ini juga, ketiga orang di dekatnya mengira kalau perut Nagisa berasal dari karet. Belum lagi Jongin yang sedari tadi tanpa sepengetahuan Yoonhee dan Baekhyun terus saja menyenggol lengannya, mengisyaratkan agar ia berhenti makan. Nagisa pun hanya bisa membalasnya dengan tatapan mata yang mengisyaratkan, aku tidak mau.

“Makanannya enak, sungguh!” kata Nagisa dan tetap dengan lahapnya menyantap makanan dari piringnya. “Nagisa sangat menggemaskan ya?” ucap Yoonhee.

 

***

“Kau itu, dasar memalukan! Pasti Baekhyun hyung akan berpikir kalau aku jarang mengajakmu jajan!” omel Jongin sepulangnya mereka dari acara makan malam barusan. Cercaan pedas Jongin itu seketika membuat air mata Nagisa berurai dari pelupuk matanya.

“Niatku kan cuma mau menghargai Baekhyun-ssi yang telah menraktir kita. Bukan kah dia kelihatannya senang? Hiks…” Nagisa coba memberi pembelaan pada dirinya sendiri.

“Tapi Nagisa, harusnya kau bisa menjaga sikapmu! Memangnya pantas seorang wanita makan sebanyak seperti tadi? Apa kau selapar itu, huh?!”

“Iya, iya! Bagimu aku cuma seorang gadis yang memalukan, aku memang tidak ada baik-baiknya. Terserah kau, aku benci padamu, hiks!” Nagisa menyeka dengan kasar air mata yang berlinang di pipi dengan punggung tangannya. Ia pun dengan langkah tergesa-gesa langsung menutup pintu dari depan dan meninggalkan kamarnya.

 

Ia tiba di halaman depan villa, ternyata di sana ada Baekhyun yang tengah duduk santai sambil mendongak, memandangi selimut malam yang tengah memayungi bumi dengan jutaan gemintang di langit. Nagisa pun mengurungkan langkahnya dan memilih berbalik.

“Nagisa, sedang apa kau di sana?” suara Baekhyun yang menegurnya membuat langkahnya terhenti. Setelah sekiranya matanya sudah tak sembab lagi, ia pun berbalik.

“Baekhyun-ssi, gwaenchanayo… aku cuma sedang mencari angin segar.”

Geurae? Kalau begitu, duduklah di sebelahku!”

“Apa tidak apa-apa?” tanya Nagisa sedikit ragu.

“Tidak ada yang akan marah, Yoonhee sedang ke kamar mandi, sebentar lagi juga kembali.”

“Oh begitu…, baiklah.” Nagisa pun akhirnya duduk di samping Baekhyun, namun jarak di antara mereka cukup jauh –sekitar 30 meter.

 

“Bintangnya banyak.” kata Nagisa. Bukannya membalas perkataan tersebut, Baekhyun malah sibuk menatap wajah Nagisa dari samping. Tunggu dulu, jangan berpikir yang macam-macam. Ia hanya merasakan adanya sesuatu yang ganjil. Pipi Nagisa sangat merah. Namun sepertinya itu bukan karena riasan. Apa jangan-jangan, gadis manis ini baru saja menangis?

“Nagisa, kenapa pipimu merah? Dan nampaknya…, matamu jadi agak sembab?” celetuk Baekhyun.

“Aku? Aniyo, Baekhyun-ssi. Aku baik-baik saja, kok!” Nagisa coba mengelak.

“O iya, bicara denganku pakai bahasa yang formal saja, dong! Kita kan sudah saling kenal.”

“Jadi aku boleh memanggilmu Baekhyun oppa?”

“Tentu saja!”

 

“Aku tahu ada yang kau sembunyikan. Kenapa? Apa kau ada masalah dengan Jongin?” Baekhyun benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi pada Nagisa.

Oppa, maafkan aku ya yang tadi…” Nagisa berucap sambil menunduk.

“Yang tadi? Memangnya kau salah apa?”

“Maaf kalau aku melahap semua makanan hingga hampir tak bersisa.”

“Oh, itu… santai saja lagi! Aku dan Yoonhee senang kok melihat tingkah lucumu. Kami sama sekali tak keberatan. Malahan bagus, daripada mubadzir, ‘kan?” jelas Baekhyun.

OMO! Jangan-jangan, Jongin memarahimu karena itu? Benar begitu?” Nagisa mengangguk singkat.

“Dasar Jongin payah! Mari, kuantar kau padanya. Aku akan mengomelinya habis-habisan!” Baekhyun mendadak saja dibuat geram.

Andwae! Pasti nanti dia akan sedih…”

“Ya sudah. Tujuan awalmu ke mari bukan untuk melihat bintang, ‘kan? Karena kau ada masalah dengannya, jadi kau ingin menghindarinya, apa aku benar?”

“Aku tidak ingin menghindar, aku hanya perlu waktu untuk sendiri. Tapi, terima kasih ya oppa, setidaknya aku lebih tenang sekarang.”

 

Baekhyun pun mengantar Nagisa ke kamarnya, ia juga ingin menemui Jongin. Setidaknya, ia harus tahu bagaimana keadaan yang sebenarnya. Bukan malah menyimpulkan sendiri mengenai tanggapannya dan Yoonhee tentang tingkah Nagisa tadi.

 

Tapi belum juga sampai kamar, mereka sudah berpapasan dengan Jongin dengan wajah khawatirnya. “Nagisa!” serunya dan dengan cepat ia langsung menghampiri gadis yang barusan ia panggil itu.

“Heh, bocah! Kuberitahu ya, kami sama sekali tak keberatan kalau Nagisa makan dengan lahap tadi. Kau ini, dasar hiperbola!” Baekhyun tak kuasa jika tak mengomeli Jongin.

Mianhaeyo, hyung…” Jongin hanya bisa berucap demikian sambil membungkuk sembilan puluh derajat.

“Ya sudah, jaga istrimu baik-baik. Jangan selalu mengomelinya!”

Ne, hyung. Kamsahamnida.”

 

Setelah memasuki kamarnya, tanpa berucap sepatah kata pun pada Jongin, Nagisa langsung pergi ke halaman belakang yang dibatasi pagar penyekat. Laut nan biru, serta ribuan gemintang terpampang nyata di hadapannya. Nagisa terpaku, takjub akan keindahannya.

 

Jongin menghampirinya diam-diam. Dengan gerakan cepat ia genggam tangan Nagisa dan memaksanya untuk berbalik. Gadis itu seketika mendongakkan wajahnya, hendak mengomel protes atas sikap Jongin barusan. Namun sebelum ia berhasil, Jongin sudah terlebih dahulu menangkup wajahnya dan memandang Nagisa dengan raut penuh sesal. Sela jemarinya meraih helaian lembut rambut Nagisa. Ia makin mempersempit jarak wajahnya dengan wajah istrinya itu. Hidung mereka pun saling beradu, serta tak henti-hentinya saling menatap. Jongin menghela napas sejenak, lantas mulai berucap.

“Maafkan aku. Sungguh maafkan. Aku sangat mencintaimu. Bagiku, kekuranganmu adalah hal yang membuatmu terlihat spesial di mataku. Tapi mungkin, aku hanya tidak mengerti bagaimana cara mengungkapkannya padamu. Aku suka dengan sikapmu yang kekanak-kanakan, aku janji sekarang…, aku akan lebih menghargaimu. Maafkan aku, Sayangku…”

 

Jongin menutup matanya setelah mengutarakan seluruh isi hati dan penyesalannya pada Nagisa. Ia mulai melepas sentuhannya di bagian tengkuk istrinya itu. Tanpa ia ketahui, semburat merah merona di pipi Nagisa. Ia tersanjung mendengar apa yang Jongin ucapkan, membuatnya ingin terbang saat itu juga! Tapi segera ia sembunyikan ekspresi tersipunya itu dengan kembali berbalik, mendongak menatap langit.

 

“Aku sudah mengaku salah. Tapi…, kenapa kelihatannya kau masih marah?” celetuk Jongin sedikit mangkal.

“Aku hanya sedang tidak memiliki topik untuk dibicarakan.” jawab Nagisa tanpa sedikit pun menolehkan wajahnya ke arah Jongin.

“Kau yakin?” tanya Jongin yang dibalas anggukan singkat oleh Nagisa.

Perlahan tangan kanannya menggeladik dan ia sampirkan di pinggang Nagisa. Yang direngkuh pun dibuatnya mendongak dan secara intens menatap wajahnya. Jadilah kini keduanya kembali saling beradu pandang dengan jarak wajah yang makin menyempit saja. Nagisa pun menghadapkan tubuhnya ke kiri dan membuatnya dengan tepat berhadap-hadapan dengan Jongin.

 

Kini kedua tangannya telah ia lingkarkan ke bagian pinggang Nagisa. Ia tarik tubuh gadis itu dengan gerakan cepat dan membuatnya refleks menggelantungkan tangannya ke leher Jongin sebagai tempatnya berpegangan. Entah siapa yang memulai, detik berikutnya bibir mereka sudah saling bertaut dalam sebuah ciuman yang liar namun sangat hati-hati dan lembut. Nagisa mendengus kesal diam-diam. Sial, ia memang tak pernah bisa menguasai diri kalau sudah berhadapan dengan sentuhan mematikan suaminya itu.

 

Nagisa merasakan tubuhnya diangkat oleh Jongin, namun pria itu sama sekali tak melepas sapuan bibirnya pada bibir Nagisa. Jongin mendorong tubuh Nagisa hingga ia telentang di ranjang. Ia pun terbawa suasana, saat tubuh Jongin telah menindih dan berada di atas tubuhnya, Nagisa makin mengeratkan rengkuhan itu pada leher Jongin, memberikan isyarat agar Jongin makin memperdalam ciumannya.

 

Bibir Jongin melumat bibir atas dan bawahnya bergantian, mencari celah untuk masuk, sampai akhirnya Nagisa membuka bibirnya sedikit, memberi izin lidah pria itu bergerak dalam mulutnya.

 

Nagisa mencengkram bahu Jongin saat dia mulai kehabisan oksigen untuk bernapas, sedangkan pria itu mengerang frustasi dalam usahanya meloloskan sebuah dress yang masih menempel di tubuh istrinya. Saat akhirnya dia berhasil, dia menyentuh punggung telanjang gadis itu dengan telapak tangannya, merasakan sensasi saat kulit mereka bersentuhan.

 

Ia menarik selimut dengan asal hingga benda itu menutupi bagian pinggul sampai kaki mereka. Percintaan yang benar-benar dinikmati oleh keduanya.

 

Pintu kamar mereka tiba-tiba terbuka dan suara decitan engselnya pun terdengar.

“Jonginie, aku ada perlu mengenai client ki…, OMO!” Baekhyun terperanjat kaget hingga tak sanggup menuntaskan kalimatnya tatkala melihat sebuah pemandangan mencengangkan beberapa meter dari tempatnya kini berdiri.

 

Jongin dan Nagisa yang tengah asyik menghabiskan malam bersama itu pun tak kalah terkesiapnya. Dengan gerakan cepat Nagisa segera membalut seluruh tubuhnya dengan selimut. Ia malu bukan kepalang.

“Maafkan aku, sungguh maafkan. Aku tak melihat apapun selain punggungnya Jongin, sumpah! Kita bicarakan itu besok saja, ya? Selamat malam, silakan lanjutkan.” Baekhyun berbicara dengan posisi memunggungi mereka. Ia segera menutup kembali pintunya dan lekas-lekas kembali ke kamar.

 

Napasnya tercekat dan sampai sekarang ia masih belum bisa menormalkan degupan jantungnya. Pernah sekali ia melihat yang seperti itu saat tak sengaja mengunjungi sebuah web yang diselipi iklan demikian. Tapi kali ini, apa yang dilihatnya barusan benar-benar nyata dan sangat menyeramkan. Ia berdecak, merutuki kebodohannya, andai saja tadi ia bisa lebih sabar menunggu Jongin membukakan pintu, pasti tak akan seperti ini jadinya. Ya walaupun ia sendiri sebenarnya sudah pernah melakukan hal yang demikian dengan Yoonhee. Namun tetap saja, melihat orang lain melakukan itu secara langsung, itu sungguh menggelikan.

 

Ia membuka pintu dengan tangan yang masih gemetaran. Saat ia mendorong knopnya, oh sungguh, demi apapun…, apa kali ini Tuhan memang sedang berusaha mengujinya? Baru saja ia lihat kejadian menakjubkan dari kamar sebelah. Sekarang, di kamarnya sendiri, ia tengah melihat sesosok bidadari. Rambutnya yang panjang tergerai indah menutupi bahu. Ia duduk memeluk lutut padahal tengah menggenakan hot pants, jadilah paha mulusnya bisa dengan jelas terlihat.

Yeobo…” panggil Baekhyun lirih namun dapat sampai ke telinga Yoonhee dan membuat gadis itu menoleh.

Ne, oppa?” balas Yoonhee.

“Kau sengaja menggodaku ya?” derapan langkah Baekhyun membuat suasana lebih terasa menegangkan.

“Maksud oppa?” bingung Yoonhee. Jujur saja, ia sama sekali tak paham dengan pertanyaan Baekhyun. Tapi ekspresi aneh yang tersirat di wajah suaminya itu membuatnya khawatir. Nampaknya ada yang salah dengan otaknya. Apa yang barusan terjadi hingga membuatnya seaneh ini?

“Aku tak sengaja melihat aktivitas dari penghuni kamar sebelah. Nampaknya begitu asyik dan menggairahkan. Bagaimana kalau kita menyontohnya?”

 

CLECK!

Baekhyun mematikan lampu, satu-satunya sumber cahaya di ruang kamar mereka. Suasana gelap seketika menyelimuti. Baekhyun menyeringai licik tanpa sepengetahuan Yoonhee.

OPPA!!!”

Yoonhee dengan refleks menjerit tatkala ia rasakan sakit akibat serangan Baekhyun yang datang secara tiba-tiba tanpa aba-aba.

 

– END –

Halo semua…, lagi-lagi aku bikin sequel mengenai Jongin dan Nagisa, tapi kali ini ada juga gabungan dari FF Marriage Life-ku yang tokohnya Baekhyun. Maaf ya aku masih belum bisa bikin cerita tentang kehamilan Nagisa. Belum dapat inspirasi. Jadi anggep aja ini cerita sebelum Nagisa hamil ya? Hehehe…

Terus, kayanya cerita ini tetap lebih condong ke ‘Initially Just A Stranger’. Aku suka sama Nagisa, padahal itu OC buatanku sendiri #aneh.

Semoga kalian suka ya, komentarnya jangan lupa !!! ^^

Eh iya sebelumnya, ada beberapa readers yang ngira aku udah nikah gegara keseringan bikin sequel Initially Just A Stranger. Huft, jawabannya iya, aku sudah nikah. Nikah sama Chanyeol 😄 *kaboooooorr

38 thoughts on “A Great Honeymoon

  1. OMOOOOOOO. KERREEEEEEN! Aku udah lama loh nunggu ff ini huhu, tapi kalo menurut aku sih lebih enak bikin series yg campuran gitu sih, cuma kan setiap reader pasti seleranya beda hehehe. Tapi serius keren bangeeeeeeet, ngebayangin ekspresi baek yg kaget gitu sama jongin yg shock bgt pasti itu lucu banget wkwkwk. Semangat terus!!!ditunggu next seriesnya hehehe

  2. ohh my god
    baekkie jangan nyotoh itu dari kai
    ahh kai sesat nib emang
    lagian baekhyun ada2 aja sih masuk kamar orang kayak gitu
    gatau apa klo penghuninya lagi melakukan hal yang sangat ‘asik’
    hahaha

    sumpah kai tuh gapeka banget sama perasaan istrinya. cckkk dasar
    kai gak romantis nih

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s