Fly High!

Title : Fly High

Sequel of Aint a fool

Lenght : Oneshoot

Genre : Romance, School Life, Fluffy-angst.

Cast : Do Kyungsoo (DO EXO)

Park Jihyo (YOU)

Fly High

‘Anak kecil bermimpi, orang dewasa mewujudkannya’

 

 

Siapa yang tidak mengenal Do Kyungsoo? Si ketua osis, juara umum, juara olimpiade, kesayangan para guru, lelaki yang tidak banyak berulah.

Tapi lihat sekarang? di tengah teriknya matahari yang mulai naik, dia berlari sendirian di lapangan basket yang sepi. Mengelilinya berkali-kali dengan kemeja seragamnya yang kusut dan mulai dibasahi keringat. Wajahnya kelelahan, tetapi dia tidak boleh berhenti atau hukumannya akan ditambah. Benar-benar irony.

Seorang gadis menatapnya dengan diam dari pinggir lapangan yang lebih tinggi. Dia terus memperhatikan anak laki-laki yang berlari cepat dengan peluh sudah membanjiri pelipisnya. Merasa kasihan sekaligus aneh.

Jika yang sedang berlari saat ini adalah Kim Jongin yang memiliki kebiasaan telat ataupun Park Chanyeol yang suka bolos, itu adalah hal yang wajar. Tapi Kyungsoo? Ayolah, Jihyo yang otaknya terlalu payah saja tidak pernah dihukum mengitari lapangan basket sebanyak 10 kali tanpa berhenti karena alasan apapun. Dan, bagaimana bisa dia dihukum? Bukankah dia anak kesayangan guru?

“Sedang apa kau disini?” Kyungsoo tiba-tiba berdiri dihadapannya dengan penampilan yang begitu berantahkan. Rambutnya lepek, bajunya basah, napasnya tersenggal, keringat terus menetes, mukanya memerah dan seperti biasa, raut wajahnya datar.

“Sudah selesai hukumannya?”

Kyungsoo mengangguk, kemudian dia mengambil sebotol mineral dingin dari tangan gadis itu yang memang disediakan untuknya. Dari caranya meneguk air itu yang begitu cepat, Jihyo menduga Kyungsoo nyaris dehidrasi. “Kenapa tidak masuk kelas?” tanyanya sembari membuang botol mineral yang sudah kosong, mengelap kasar sisa air yang berjatuhan di dagunya dan duduk disebelah gadis itu.

“Aku beralasan sedang sakit perut.” Itu memang merupakan alasan pasaran yang gadis itu gunakan untuk membolos pelajaran fisika yang bikin ngantuk, tapi setidaknya dia berhasil lolos. “bagaimana bisa kau dihukum?” dia bertanya seolah hal itu adalah kejadian paling tidak mungkin di dunia. Tapi benar, itu sangat tidak mungkin. Dari ketika Jihyo masuk kelas dan mendengar bisikkan temannya bahwa Kyungsoo dihukum guru Lee untuk mengitari lapangan sebanyak 10 kali, dia merasa sedang dibohongi dengan lelucon bodoh. Hingga dia membuktikannya dengan mata kepala sendiri, dia bahkan masih tidak percaya.

“Aku tidak membuat PR.”

Jihyo kaget, “Hanya karena itu?”

“Aku satu-satunya yang tidak membuat PR.” Ulang Kyungsoo, membuat kekagetan Jihyo bertambah.

Bahkan ketika dia pulang jam 2 malam, Kyungsoo masih sempat mengerjakan PR matematika sulit yang dikumpul sebelum bel masuk dan mendapatkan nilai sempurna. Dia tidak pernah tidak mengerjakan tugas apapun walau sibuk setengah mati. Tapi ketika diwaktu lenggang seperti sekarang, dimana jabatan ketua osisnya sudah diserahkan ke anak kelas dua dari sebulan yang lalu ataupun guru-guru tidak membebaninya lagi dengan olimpiade ini-itu, dia seharusnya belajar lebih giat agar mendapat universitas terbaik, bukannya berulah nakal seperti yang dilakukannya akhir-akhir ini. Ya, nakal. Kyungsoo sekarang tidak lagi terkenal karena nama baiknya. Tapi karena status baik-baiknya hampir tercoreng karena kelakuan-kelakuan tidak wajar yang dia lakukan.

“Pertama ulangan matematika-mu mendapat nilai 40, sekarang kau tidak mengerjakan tugas. Kau sulit dihubungi dan kau suka menyendiri. Apa masalahmu, Do Kyungsoo?” Tanya Jihyo to-do-point. Gadis itu tidak hanya menanyakan ini sekali, sudah kesekian kalinya dan Kyungsoo selalu menjawab dengan hal yang sama.

“Semuanya baik-baik saja.” Jawabnya datar. Dia mencoba meyakinkan bahwa itu adalah kebenaran, tapi tentu saja yang dilihat Jihyo begitu berbeda.

“Tapi kau tidak baik-baik saja.”

Begitulah Kyungsoo, dia jarang menceritakan masalahnya dengan orang lain. Tipikal yang memendam sendiri, bukan hanya Jihyo yang tidak tahu, sahabat dekatnya juga. Dan mereka semua dibuat bingung oleh tingkah tidak biasanya Do Kyungsoo.

“Aku baik-baik saja. Kau kembalilah ke kelas, aku ingin ke ruang osis.” Kyungsoo berdiri dan berniat meninggalkan Jihyo. Tetapi gadis itu langsung mengikutinya dengan kekesalan menumpuk di dalam dada.

“Untuk apa? Bukankah kau bukan ketua osis lagi?”

Ruang osis selalu lebih penting bagi Kyungsoo daripada pacarnya sendiri.

“Aku tidak mau acara ulang tahun sekolah dibuat gagal.”

Jihyo kembali membuka mulut ketika Kyungsoo terus cuek dan membuka computer osis di ruangan yang hanya berisikan mereka berdua, “apakah aku ini pacarmu? Mengapa kau tidak mau bercerita?”

“Apa yang harus ku ceritakan?”

“Kyungsoo? Kau tidak percaya padaku?” Jihyo bertanya kesal. Dia semacam tidak dianggap. Kesibukkan Kyungsoo terhadap organisasi kesayangannya sehingga tidak memiliki waktu satu haripun selama sebulan terlihat lebih baik daripada dia yang seperti sekarang. Jihyo terbiasa dicuekin ataupun tidak dihubungi seharian. Tapi dia tidak suka melihat keadaan Kyungsoo yang sekarang. Jelas sekali sesuatu yang tidak baik-baik saja sedang terjadi kepada pria bermata besar itu.

“Jihyo ayolah, aku tidak mood bertengkar.” Jawab Kyungsoo malas-malasan. Dia menghela napas berat ketika mendapati mata Jihyo mulai berair, merasa bersalah. Lebih tepatnya semuanya menjadi salah. Kyungsoo menjambak rambut basahnya sendiri dan mengeluarkan desahan frustasi, “baiklah. Aku akan menceritakannya. Tapi setelah aku siap, ok? Jangan paksa aku, tolong.” Mohonnya dengan sangat.

Jihyo sedang tidak ingin mengerti. Tapi melihat bagaimana Kyungsoo yang tampak merasa bersalah sekaligus serba salah. Dia jadi membatalkan semua kata-kata pedas yang sudah dia siapkan, mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali agar airmatanya hilang, kemudian tersenyum manis, “kau tampak sexy ketika berkeringat.” Ucapnya sembari mengelap keringat Kyungsoo dengan tangannya.

Setidaknya, setelah beberapa hari terakhir, Jihyo bisa melihat sedikit tawa ringan dari bibir Kyungsoo.

———–

Kyungsoo sedang kebanyakkan uang karena hadiah juara satu olimpiade fisikanya baru cair kemaren sore. Sehingga dia mentraktir 5 temannya beserta Jihyo berikut pacar baru Baekhyun disebuah restoran mahal. Kedua sejoli yang baru jadian itu tampak begitu mesrah, saling suap-suapan satu sama lain dan seperti dunia hanya milik mereka berdua. Biarkan saja Baekhyun sesenang itu, toh mendapatkan Taeyeon sunbae tidak semudah mendapatkan nilai 0 di ulangan Kimia.

“Tidak bisakah kau carikan aku pacar?” keluh Chanyeol kepada mereka semua, dia tampak begitu iri sekaligus merana karena melihat kemesrahan temannya itu. Park Chanyeol mana pernah betah melajang.

Suho keheranan, “Kemana Seulgi? Kalau tidak salah kalian baru jadian sebulan yang lalu.”

“Sudah putus dari seminggu yang lalu, kau kemana saja?” Chanyeol membalas dengan nada bicaranya yang menjadi aneh di akhir. Dia seperti sedang takjub, tapi pandangan matanya kearah lain. Ke arah belakang Kyungsoo dan Jihyo, membuat mereka berdua ikutan melihat ke belakang karena penasaran. “Dia cantik sekali. Apakah diantara kalian ada yang mengenalnya?”

Dua orang gadis berpakaian sangat terbuka beserta satu lelaki tampan yang berhasil membuat Chanyeol terkagum. Tidak salah, kah?

Jihyo langsung memasang muka masam, “seleramu tidak serendah itu, kan?” tanyanya sinis. Tentu dia kenal siapa gadis yang dimaksud Chanyeol. Dia tahu siapa mereka bertiga. Orang yang paling tidak ingin Jihyo temui setelah kelulusannya di sekolah menengah pertama.

Chanyeol langsung memfokuskan pandangan kepada Jihyo dengan raut sumringah, “Apakah dia temanmu? Kau punya nomor teleponnya? Atau alamat SNSnya? Tidak ada salahnya sekali-sekali berbuat baik kepadaku, Jihyo-ya.” Tiba-tiba Chanyeol memelas sekaligus memohon. Walaupun Jihyo tahu sekalipun, dia tidak berniat menyimpan ataupun mengingat itu.

“Aku punya.”

Reflek semua pandangan langsung terarah kepada laki-laki yang bicara barusan. Chanyeol menatapnya bahagia. Jihyo mungkin tidak akan memberikannya, tapi Kyungsoo pasti membantunya. “Apa? Kau mengenalnya?” itu adalah pertanyaan sama yang ingin diucapkan Jihyo, tapi dengan ekspresi yang berbeda dengan Chanyeol, tentu saja.

“Dia Bang Minah, pernah satu les piano denganku dulu.” Kyungsoo menjawab seadanya, tidak sadar jika gadis disebelahnya sudah menyiapkan beribu pertanyaan sekaligus cerita buruk tentang Bang Minah. Kenapa Jihyo baru tahu sekarang bahwa Kyungsoo mengenal Minah? Gadis itu tidak pernah gedit pada Kyungsoo, kan?!

“Yaampun bro, kenapa tidak bilang dari dulu jika memiliki kenalan secantik itu?”

Belum sempat Kyungsoo membalas pertanyaan tidak penting dari si playboy cap teri busuk itu, seseorang dengan suara riang lebih dulu menyapa dirinya. “Hi Kyung! Kau masih mengingatku kan?”

Kyungsoo tersenyum ramah, “ya, tentu saja.”

Sedangkan Chanyeol langsung sibuk tebar pesona. “Mau bergabung dengan kami? Masih muat untuk tiga orang lagi!” tawarnya disertai senyum unjuk gigi nya yang manis. Semua juga setujuh jika Chanyeol tampan dan menyenangkan, tapi sekaligus menyebalkan karena hobbynya yang tidak betah berpacaran dengan gadis yang sama dalam waktu panjang. Dan gadis seperti Minah adalah tipenya, gadis paling cantik di kota dan berbadan sexy.

“Apakah boleh?” minah bertanya atas persetujuan yang lain, karena benar saja, dia beserta sepasang temannya tidak mendapatkan kursi lagi karena sisanya sudah dibooking ataupun di duduki.

Semua mengangguk, kecuali Jihyo. dia tampak tidak senang dan ingin pergi dari tempat itu sekarang juga. Karena suasana tiba-tiba menjadi tidak enak. Ini semua Karena Park Chanyeol! Apa maksudnya menawarkan tiga orang parasit ini?

Mereka duduk dikursi yang masih kosong, kemudian Minah menyadari keberadaan Jihyo, yang sama sekali tidak memberikannya senyum walau sekedar formalitas. “Hi Jihyo! Lama sekali tidak melihatmu. Kau tampak gendutan!” ucapnya disertai senyum. Jihyo tahu itu senyum palsu. Maka dari itu dia merasa jijik.

Muka Jihyo tampak semakin memerah karena menahan kesal, tiga orang yang barusan bergabung adalah yang paling menyebalkan didunia ini. “Ya, lama sekali. Kau semakin jelek.”

Taeyeon tertawa mendengar jawaban abstrak Jihyo, diikuti Baekhyun yang sepertinya satu selera humor dengan gadis imut itu. Sedangkan Chanyeol tampak sangat tidak setujuh.

“Hi Jihyo, apa kabar?” pertanyaan seorang lelaki disebelah Minah membuatnya merasa semakin jengkel. Bukan dengan pertanyaannya sebetulnya, tapi dengan orangnya. Dia ingat bahwa dia pernah sedikit mengagumi lelaki ini ketika SMP. Tapi rasa kagumnya langsung hilang begitu saja ketika lelaki ini sempat mempermalukannya dulu.

“Kau tidak lupa dengan Myungsoo, kan? Kau dulu sangat menyukainya.” Minah berhasil membuat keadaan di satu meja itu menjadi awkward. Bahkan Taeyeon dan Baekhyun tidak memiliki keberanian untuk pamer kemesraan lagi.

“Aku ingat Myungsoo, tapi aku tidak ingat pernah menyukainya.” Jawab Jihyo terang-terangan, sama sekali tidak perduli dengan perasaan siapapun,

Chanyeol berdehem. Memang disuana seperti ini dia yang paling dibutuhkan, “jadi kalian dengan Jihyo merupakan teman lama?”

Minah mengangguk percaya diri, “ya, kami berempat merupakan teman SMP.”

Chanyeol tertawa, “pantas kalian tampak akrab!”

Jadi begini definisi akrab dari Park Chanyeol? Anak TK juga tahu jika mereka sedang perang dingin.

Makanan mereka telah tiba disusul dengan yang baru dipesan oleh Minah, Myungsoo beserta Hara, gadis berwajah boneka yang datang bersama dua orang itu.

Semuanya cepat mengakrabkan diri, kecuali Jihyo dan Myungsoo yang tampak diam daritadi. Myungsoo memang pendiam tapi Jihyo tidak berminat mengucapkan satu kata-pun karena mood nya yang begitu kacau. Sekali lagi, salahkan Park Chanyeol yang mengajak-ajak mereka bertiga bergabung!

Kyungsoo menyenggol pelan lengan Jihyo dan berbisik, “kenapa tidak makan? Bukannya tadi kau lapar?”

“Aku sudah kenyang.”

Kyungsoo berani bertaruh bahwa Jihyo hanya makan dua suap lalu mengaduk-aduk ilfil terhadap makanan favoritnya itu. Yeah, gadis itu masih kepikiran dengan kata-kata Minah. Gendut. itu termasuk hal yang ditakuti Jihyo. Dia akui akhir-akhir ini dia banyak makan. Tapi apakah dia segendut itu ? rasanya dia benar-benar ingin bersumpah untuk tidak akan memakan apapun lagi. Dia menyesal, merasa insecure dan jelek. Apalagi itu dikatakan dari bibir orang yang tidak dia sukai. Dia sangat sakit hati!

Lelaki itu tidak memperdulikannya lagi dan lanjut menghabisi makanannya. Jihyo tidak menyukai Minah dan Kyungsoo termasuk yang sadar tentang itu.

————–

“Dia mengatakan gayaku norak kemudian memakai barang yang sama seminggu kemudian.” Jihyo lanjut bercerita dengan suara yang terdengar emosi ketika Kyungsoo mengantarnya pulang. Seperti biasa, masalah anak remaja perempuan yang takut kalah saing ataupun kalah popular. Itu lah dugaan Kyungsoo tentang apa yang terjadi antara Jihyo dan Minah. “Aku tahu jika dia lebih kurus, lebih sexy, tapi apakah dia merasa secantik itu?” suara Jihyo semakin meninggi dan sialnya, Kyungsoo harus mendengar itu semua tanpa gangguan dari kebisingan radio ataupun pesawat terbang. “mana handphone-mu?” Jihyo meminta Kyungsoo memberikan handphonenya seperti sedang menagih utang. Lelaki yang sibuk menyetir itu tanpa pikir panjang langsung mengeluarkan handphone-nya dari saku celana dan memberikannya pada Jihyo, berharap dengan begini gadis itu bisa sedikit lebih tenang “Aku harus menghapus nomor Minah!”

“Silahkan. Tapi tahan emosimu.” Ucap Kyungsoo seperti memohon. Gadis itu terus marah-marah, bahkan Kyungsoo yang tidak salah apapun diperlakukan seperti tersangka. Kyungsoo tidak tahu cara menghentikannya.

“Bagaimana bisa aku tahan emosi setelah dia mengataiku gendut? Tapi apakah aku benar-benar gendut? Kenapa kau tidak mengatakannya dari dulu?” Jihyo tampak kesal dicampur frustasi. Dia seperti ingin bunuh diri didetik ini juga. Oh, ayolah, gendut ataupun tidak, apakah itu begitu penting? Kenapa perempuan begitu ribet dan merepotkan? Kyungsoo tidak pernah habis pikir.

Kepala Kyungsoo semakin pusing. Satu tangannya dia gunakan untuk memijat-mijat kepalanya sedangkan satunya memegang setir. “Sudah sampai!” Kyungsoo mengingatkan. Karena gadis itu tidak berhenti berceloteh.

Karena kesibukkannya marah-marah terus sedaritadi, Jihyo bahkan baru menyadari mobil Kyungsoo sudah berhenti didepan pagar rumahnya. “Jangan lupa makan malam. Kau tidak makan apa-apa tadi.” Ingat Kyungsoo.

Jihyo membuka pintu mobil Kyungsoo dengan emosinya yang masih belum hilang. Gadis itu berjalan cepat memasuki rumah dengan pandangan Kyungsoo yang terus mengawasinya. Lelaki itu masih belum menjalankan mobilnya dari depan rumah Jihyo, menatap sedih gadis itu. Dia mengambil handphonenya yang tergeletak di atas bangku Jihyo dan mengetik pesan, ‘kau kurus. Jangan lupa makan!’

Tapi Kyungsoo tidak yakin Jihyo mau mendengarkannya. Seperti biasa, gadis itu keras kepala.

————

Semenjak pertemuan mereka di restoran itu, hidup Jihyo tidak pernah lepas dari Minah, Myungsoo dan Hara. Mereka bertiga terus menjadi bayang-bayang buruk hidupnya. Seperti sekarang, kerja kelompok bersama dirumah Jongin menjelang ujian akhir. Apa-apaan? Bahkan mereka tidak satu sekolah. Pelajaran apapun terasa sepuluh kali lipat lebih susah jika melihat wajah tiga orang itu yang selalu membuat Jihyo muak.

“Kyungsoo, aku tidak mengerti vector yang ini. kau tahu cara menyelesaikannya?”

Kyungsoo mencoret-coret kertasnya sambil memberikan Minah penjelasan, gadis itu tampak focus terhadap kertas dan suara Kyungsoo yang terdengar begitu semangat seperti seorang guru sungguhan. “Yaampun, kau sangat pintar, Kyungsoo!” puji Minah kagum. Cowok berandalan memang keren, tapi cowok pintar membuatmu merasa terjamin. Jadi wajar jika Minah terlihat begitu kagum.

“kau sudah mengerti?”

Minah mengangguk sumringah, tidak sulit membuat gadis itu mengerti, toh dia memang pintar, “ya, terimakasih. Ini berkatmu.”

“Kyungsoo, bagaimana dengan yang ini?” giliran Hara yang bertanya.

Jihyo menatap mereka semua dengan pandangan yang tidak dapat dibaca siapapun, yang jelas sesuatu yang tidak menyenangkan sedang berlalu lalang dalam pikirannya. Dia juga ingin seperti itu, dijelaskan kemudian mengerti. Bukannya semakin di ajarkan, semakin tidak tahu. Setiap kali Kyungsoo mengajarkannya, pasti berakhir dengan Jihyo yang merasa kasihan dengan anak itu. Dia tidak akan mengerti bahkan sampai Kyungsoo merasa tidak sanggup mengatakan apapun lagi.

“Kau masih tidak menyukaiku karena kejadian itu?”

Jihyo mendongak sewaktu menyadari Myungsoo bermaksud berbicara dengannya. Bodoh, dia bahkan baru sadar jika Myungsoo berada disebelahnya.

“Aku tidak pernah menyukaimu.” Jawabnya acuh, fokusnya masih kerarah Kyungsoo yang entah tampak semakin keren dimatanya sekarang. Dia tampak begitu jauh.

“Aku minta maaf. Aku benar-benar tidak bermaksud melakukannya.”

“Tidak perlu, aku sudah melupakan semuanya.”

Ya, kalau saja mereka tidak hadir lagi dalam hidupnya, Jihyo pasti masih melupakan kejadian itu. Kejadian dimana dia dipermalukan oleh Minah karena ketahuan menyukai Myungsoo. Baiklah, katakan bahwa Myungsoo tampan, keren, terkenal, jago olahraga, tentu banyak yang mengaguminya termasuk Jihyo. Tapi waktu itu Myungsoo dengan sinisnya mengatakan, “aku tidak suka gadis cantik tapi otak kosong.” Didepan banyak orang. Jihyo memang lupa kejadian lengkapnya, tapi dia tidak pernah lupa rasa sakit yang dia rasakan ketika itu terjadi, dimana mereka semua mentertawakannya dan memandangnya rendahan.

Jihyo seperti ketinggalan banyak karena mengingat kejadian lampau, kemudian dia kembali tersadar ketika orang-orang dalam ruangan ini bercerita sumringah soal cita-cita.

“Aku ingin bersekolah Hukum di New York.” Ucap Minah bangga, memiliki keyakinan besar bahwa dia mampu masuk ke salah satu universitas terbaik di New York.

“Jauh sekali. Kenapa tidak disini saja? Bukannya hukum di SNU juga bagus?” Chanyeol tentu saja akan sedih jika ditinggal Minah secepat ini. Dia bahkan belum sempat mengencani Minah dan dia tidak akan suka jika harus hubungan jarak jauh. “Aku tidak mampu meninggalkan Seoul. Maka dari itu Komunikasi SNU adalah tujuanku.”

“Aku ingin menjadi Arsitektur, kata kakak sepupu-ku, Korean University cukup bagus.” Sehun memang suka menggambar, dia juga lumayan bagus dalam matematika dan fisika, apalagi ayahnya merupakan arsitektur terkenal, jadi wajar jika dia bisa menggeluti dan mendapatkan bidang itu dengan mudah.

“Aku ingin mencoba audisi menari dan ikut kelas seni.” Kali ini si lelaki berkulit tan yang berbicara. Dance-nya tidak ada yang meragukan dan tampangnya juga tidak terlalu memalukan untuk menjadi artis. Bahkan sudah banyak adik kelas ataupun anak seangkatan yang tergabung dalam fans club Kim Jongin. Belum jadi artis saja dia sudah terkenal.

“Jurusan olahraga. Itu selalu menarik perhatianku dari dulu.” Myungsoo menambahkan. Semuanya menyebutkan cita-cita mereka dengan mata berbinar. Hara di Ekonomi, Suho memilih Kedokteran, Baekhyun hukum SNU agar tidak jauh-jauh dari Taeyeon sedangkan Kyungsoo dan Jihyo terdiam.

“Kau apa Kyungsoo?” lelaki itu masih berpikir. Tidak mungkin anak teratur dan terencana seperti dia tidak memiliki cita-cita apapun. “Teknik mesin. Tapi aku belum tahu dimana.” Jawabnya dengan keragu-raguan. Dia bukan tipe yang seperti ini, maka sekali lagi terlihat jelas keanehan kyungsoo.

Sedangkan jihyo, dia tampak kebingungan. Ketika berumur 5 tahun dia ingin menjadi seorang ballerina karena les balletnya. Ketika berumur 10 tahun dia ingin menjadi dokter karena ambulan yang boleh menerobos lampu merah membuat jantungnya berdetak cepat, ketika berumur 13 tahun dia ingin menjadi arsitektur karena nilainya bagus dalam kesenian menggambar. Lalu ketika berumur 18 tahun, dia tidak kepikiran sama sekali untuk menjadi apa. Semuanya malah terasa abstrak ketika dia harus serius terhadap satu tujuan. Diamana seharusnya cita-cita itu akan dia gapai selangkah lagi. Dia merasa blank dan tatapan mereka semua, membuatnya merasa ingin menangis.

“Aku….tidak memiliki cita-cita. “ ucap gadis itu pasrah.

Jihyo berani bertaruh bahwa Kyungsoo tidak suka mendengar itu, Minah senang karena melihatnya kalah telak sekali lagi ataupun Myungsoo menahan tawanya karena gadis yang pernah dia olok-olok dulu tetap lah si anak bodoh yang memalukan.

Jihyo merasa sedih. Untuk kesekian kalinya, dia kembali merasa insecure karena otaknya yang payah.

————–

“Tumben kau tidak pernah keluar rumah lagi,” itu adalah sindiran tidak langsung dari ibunya yang baru pulang bekerja, wanita dewasa itu bahkan masih menggunakan pakaian kantor walaupun jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. “kemana Kyungsoo? Aku jarang melihatnya akhir-akhir ini.”

Jihyo duduk dimeja makan kemudian menegak segelas air dengan terburu-buru, dia nyaris tersedak, “Sibuk. Sebentar lagi kelulusan.”

“Kukira kalian putus. Lalu kenapa kau tidak sibuk sama sekali?”

Wajar jika ibunya mengira begitu. Kyungsoo tidak pernah lagi menampakkan wajahnya didepan mereka, dia tidak sesempat dulu. Bahkan kesibukkannya dengan osis, acara sekolah ataupun olimpiade masih memiliki waktu ketimbang sekarang.

“Karena aku tidak memiliki tujuan!” Jihyo mengucapkannya dengan ekspresi campur aduk antara kesal, marah, sedih ataupun kecewa dengan dirinya sendiri.

Ibunya malah tertawa dan ikut duduk dimeja makan, “kenapa anak-ku sama sekali tidak mau berusaha?” dia mengelus-elus rambut Jihyo lembut, sudah lama sekali dia tidak melakukan perlakuan sayang kepada anak gadis semata wayangnya ini. “Dulu ibu paling pintar di Kelas, ibu bahkan bersekolah di Harvard dan mendapat nilai bagus. tapi akhirnya ibu memilih menikah dengan ayahmu yang orang biasa dan tidak bisa apa-apa.” Ibunya nyaris terkikik mendengar deheman ayahnya yang sedang memainkan sebuah tab di ruang belakang. “tapi kau lihat sekarang? Gaji ayahmu jauh lebih besar dari ibu.”

Jihyo tetap cemberut, ibunya menceritakan itu ratusan kali dari dia masih kecil hingga sekarang. Jadi itu bukanlah cerita baru yang akan membuatnya terkagum-kagum atau merubah mindset-nya dalam waktu sedetik.

“Ibu, apakah boleh aku bersekolah di luar negeri?”

Ibunya tiba-tiba shock mendengar itu. ya, luar negeri. Jihyo bermaksud bersekolah diluar negeri yang artinya dia harus memiliki otak pintar agar mampu. “Kyungsoo akan berkuliah di Columbia University.” Dia bercerita dengan sedih. Jihyo bahkan menangis ketika Kyungsoo menceritakan semuanya kepadanya beberapa hari yang lalu. Yeah, itu adalah masalah Kyungsoo. Sebuah masalah yang membuatnya menjadi bertindak nakal dan mencoba berbagai hukuman yang seharusnya tidak akan dia rasakan seumur hidup. Mereka berhenti berhubungan satu sama lain dalam sementara waktu untuk berpikir apa yang harus mereka lakukan dalam hal ini. dan alhasil, Jihyo merindukan lelaki itu setengah mati.

Kyungsoo benar, mereka berdua tidak akan bisa menerima ini dengan mudah. Berpisah dalam jarak yang jauh sekaligus lama. Rindu itu menyiksa, perasaan ragu untuk mencari pengganti ataupun setia juga menambah beban. Tapi bersekolah disana dengan jurusan teknis mesin adalah mimpi Kyungsoo. dia diterima. Dan Jihyo tidak memiliki hak untuk menghentikannya.

Ibunya mengecup singkat dahinya, “boleh, jika kau merasa mampu.” Sebuah jawaban yang merupakan harapan palsu. Toh, siapa saja tahu jika Jihyo tidak akan mampu.

Kenapa semuanya terasa sangat sulit?

————–

Ujian akhir sekolah tinggal 2 minggu lagi. Jadi mereka bersepuluh, termasuk Minah, Myungsoo dan Hara memutuskan untuk ke everland sekedar jalan-jalan ataupun melepas penat. Kapan Jihyo bisa terbebas dari 3 makhluk menyebalkan ini?

Jihyo sama sekali tidak ingin ikut, tapi bayangan tentang Minah yang bisa bebas mendekati Kyungsoo karena dia tidak ada tentu membuatnya naik darah. Dia juga sangat merindukan Kyungsoo. Jadi disinilah dia sekarang, pergi ke wahana hiburan tanpa merasa terhibur sedikitpun.

“Aku ingin naik itu, kau juga mau, Kyungsoo?”

 

 

Kyungsoo mengangguk, dia suka ketinggian. Jadi ketika Minah menantangnya untuk naik Roller Coaster, dia sangat setujuh. Sedangkan Jihyo hanya bisa melihat mereka berdua tanpa menawarkan untuk ikut. Dia tidak berani jika harus menaiki itu.

Kenapa Minah begitu menyebalkan? Dia sengaja mendekati Kyungsoo dan membuatnya merasa jengkel secara terang-terangan. Dan yang membuatnya semakin jengkel, Kyungsoo malah terima-terima saja semua perlakuan genit Minah. Dasar lelaki.

“Kau berpacaran dengan Kyungsoo selama 3 tahun?”

Jihyo mengangguk membenarkan. Myungsoo sekali lagi kembali mengganggunya. Tapi tenang saja, Jihyo tidak akan membuatnya berhasil melakukan itu.

“Sama sekali tidak merasa bosan?”

Dia menggeleng. Suaranya terasa begitu berharga untuk sekedar menjawab pertanyaan itu dengan ucapan. Gadis itu merasa tersesat. Dan sialnya hanya ada Myungsoo yang menyebalkan didekatnya.

“Kalian pernah melakukan apa saja hingga kau tidak berani putus dengannya?”

Jihyo sontak menatap geram kearah Myungsoo, merasakan dia bermasuk kurang ajar atas pertanyaannya barusan, “sering make out ya? Atau tidur bareng?” tanya Myungsoo berani frontal. Tidak ada Kyungsoo disini, jadi dia merasa bebas mengungkapkan kekesalahannya atas kecuekkan Jihyo kepadanya. Lagipula, di mata Myungsoo, yang Jihyo punya hanyalah kecantikkan sedangkan Kyungsoo adalah seorang laki-laki. Apalagi yang dia ambil selain ‘itu’?

Gadis itu tersenyum. Senyum sinis yang terlihat begitu memuakkan bagi yang menerima, “jika aku berpacaran denganmu, mungkin aku sudah serusak itu. Tapi sayangnya Kyungsoo tidak brengsek sepertimu.”

Mereka memang berpacaran lama, tapi Kyungsoo hanya pernah mencium bibirnya, pegan tangan, yang paling parah cium leher. Dan lelaki itu tidak pernah berani berbuat lebih, takut kebablasan katanya.

Pria bermata tajam itu merasa terhina dengan kata-kata Jihyo yang memang bermaksud menghinanya. “semoga saja Kyungsoo tidak meninggalkanmu demi gadis lain yang lebih baik.” Jihyo tahu bahwa Myungsoo mencoba memancing emosinya, tapi gadis itu sekali lagi tertawa mengejek ditengah mood nya yang sedang sangat buruk.

“Kenapa? Kau takut Minah suka dengan Kyungsoo dan akan mencampakkanmu sebentar lagi? Dasar pria menyedihkan.”

Jihyo pergi dari hadapan Myungsoo sebelum lelaki itu berani melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya. Lelaki itu memang menyukai Minah maka dari itu dia menjadi pengikut setianya. Lelaki yang bodoh, kan?

Jihyo mencari Kyungsoo dan mendapati pria bermata besar itu sedang menggendong seorang gadis yang kaki polosnya tampak berdarah, sontak Jihyo berlari kearah mereka.

“Minah kenapa?” tanya Chanyeol panic. Well, dia seperti sedang melihat istrinya yang berjuang karena melahirkan normal.

“Tadi dia terjatuh dari wahana itu,” Kyungsoo menunjuk sebuah wahana yang cukup tinggi dan mendudukkan Minah di sebuah kursi istirahat. Lutut gadis itu berdarah dan dia menangis. Jihyo tidak yakin yang dia tangisi adalah sakit dilututnya atau kenyataan bahwa luka itu akan meninggalkan bekas pada kakinya yang mulus. “Kyungsoo, paha-ku terasa sakit.” Minah meringis, raut wajanya seperti benar-benar kesakitan.

Pandangan Kyungsoo tertuju pada paha gadis itu yang terbuka seperempatnya. Kyungsoo menjadi salah tingkah, mukanya bahkan memerah, kentara sekali. “Mungkin mata kakimu keseleo.” Dia memilih untuk memijat-mijat ujung kaki gadis itu.

“Bukan disitu, tapi disini.” Minah memindahkan dengan paksa tangan Kyungsoo pada pahanya. Reflek pria itu langsung melepaskan pegangannya seperti sedang tersengat panas.

Enak banget sih bisa pegang-pegang gratis.

Jihyo maju ke hadapan Minah dan menyuruh Kyungsoo menyingkir. “dimana yang sakit? Aku cukup bagus dalam memijat.” Jawabnya percaya diri. Dia kemudian tersenyum licik dan mencubit-cubit kasar paha Minah. Membuat gadis itu berteriak kesakitan beberapa kali. “dipijit memang rasanya sakit diawal.” Ucapnya beralasan, agar dia bisa melakukan ini lebih lama.

“Stop, kurasa aku baikkan!” Minah bangkit dan ajaibnya dia bisa berdiri dengan baik, tidak seoleng tadi. Mukanya semakin memerah bukan karena tangisan, tapi karena kekesalahannya terhadap Jihyo yang sangat menumpuk.

Well, gadis itu seharusnya tahu sedang berhadapan dengan siapa.

————-

Kyungsoo pasti marah besar. Jihyo berani menjamin. Maka dari itu dia tidak mengangkat telepon pria itu ataupun mencoba membaca pesannya. Dia merasa takut. Dan gadis itu menangis ditemani hujan yang terus turun di dalam sebuah café yang temboknya dilapisi kaca.

Dia pernah berjanji kepada Kyungsoo untuk tidak mmebuat keributan lagi, karena itulah Jihyo selalu sabar ketika Minah dengan terang-terangan mencoba menggoda Kyungsoo dihadapannya. Tapi tadi siang, dia tidak bisa menahan semuanya sehingga tangan gadis itu reflek memukul wajah Minah dengan kasar.

“Kenapa kau selalu terobsesi dengan apa yang aku miliki, huh?”

“Aku tidak terobsesi dengan apa yang kau milikku. Kyungsoo hanya terlalu baik untukmu, kau tidak pantas” Minah melipat kedua tangannya didepan dada, menatap sengak kearah Jihyo yang tampak begitu kacau, begitu kalah, dan tidak bisa menahan sabar lagi.

“Tapi dia milikku. Kenapa kau begitu jahat?!”

Jihyo tidak mengerti kenapa Minah berakhir sedendam ini kepadanya. Dia memang menyebalkan, Minah juga. Mereka dulu awalnya teman lalu karena Myungsoo semuanya berubah. Demi apapun, Jihyo tidak pernah berniat merebut Myungsoo dari gadis itu. Dia hanya kagum, tidak cinta, apalagi ingin memiliki. Jika Minah adalah seorang bitch, maka dia juga. Mereka berdua setara dan sejajar dengan sifat buruk yang sama.

“Kau takut Kyungsoo aku rebut? Lihat? Siapa yang insecure sekarang? Siapa yang merasa tidak dicintai?” Minah mengejeknya, membuat emosi Jihyo semakin naik ke otak. Hanya ada mereka berempat, Minah, Myungsoo, Hara dan dirinya yang berdiri seorang diri. Myungsoo dan Hara hanya diam disana, tidak berniat memisahkan ataupun ikut campur, tapi jelas, mereka pasti di pihak Minah.

“Fuck off! Gadis jalang!”

Minah tertawa sinis, dia menang jauh dan dia merasa diatas awan, “well, well, well. Siapa yang murahan, hmmm? Kau memberikan tubuhmu kepada Kyungsoo kan, maka dari itu dia betah denganmu? Ya tentu saja, kau hanya punya itu.”

‘Plak’…. Tewa Minah tidak berlangsung lama karena Jihyo menamparnya kuat. Myungsoo dan Hara reflek berdiri dan menyusul mereka. Anehnya, Minah tidak membalas sama sekali dan malah tersenyum puas.

“Baiklah, apa yang akan dilakukan Kyungsoo jika tahu kekasihnya adalah seorang monster kasar yang tidak berotak?”

Jihyo terdiam. Itu adalah ancaman nyata bahwa Minah akan mengadukannya pada Kyungsoo. Karena itu dia tiba-tiba merasa ketakutan, sangat ketakutan. Jihyo tidak lupa apa yang dilakukan Kyungsoo ketika dia bermasalah dengan Yoojin. Dan sekarang Minah, yang notabene merupakan teman cukup baik Kyungsoo, dia menamparnya, dan Kyungsoo pasti sangat marah.

“Kenapa teleponku tidak diangkat?!” Jihyo kembali ke kesadarannya ketika mendengar suara dingin yang menegurnya. Dihadapannya berdiri seorang pemuda dengan kaos dan celana yang tercap tetesan rintik hujan. Rambut hitamnya sedikit basah dan dia menatap Jihyo dengan tatapan yang begitu dingin dan menusuk.

Jihyo merasa menggigil. Bahkan hawa dingin dan bajunya yang terbuka tidak cukup menusuk-nusuk kulitnya. Sekarang tatapan Kyungsoo ikut membuatnya merasa beku. Lelaki itu melemparkan jaketnya yang dia tenteng kepada Jihyo, “kau boleh memakai pakaian sexy, kau boleh tidak makan seharian. Kau bebas, aku tidak pernah melarangmu. Tapi lihat? Kau merasa kedinginan, kan? Kau merasa tidak nyaman? Kenapa kau begitu keras kepala, Park Jihyo?!”

Kyungsoo tengah memarahinya. Suaranya yang lantang hampir kalah dengan derasnya hujan. Napasnya naik turun, mukanya memerah. Dan Jihyo hanya menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. “maaf.” Ucapnya lemah.

Kyungsoo jadi merasa serba salah. Dia berjalan kearah tempat duduk Jihyo kemudian berjongkok disana, membawa gadis itu larut ke-dalam pelukannya. “Bisakah kau tidak membuatku khawatir?” bisiknya mencoba lembut. Dia masih marah, tentu saja. Dan tangis Jihyo pecah dibahunya.

“Kau marah padaku?”

Jihyo dapat merasakan anggukkan Kyungsoo yang masih memeluknya, “kau tidak mengangkat telepon.”

Dia emosi karena khawatir? Atau karena Minah?

“Apa yang Minah katakan padamu?”

“Kau menamparnya, mengatakannya jalang, dan menghinanya tiada henti, itu benar?”

Jihyo mengangguk lemah. Dia masih menangis, Kyungsoo bahkan membiarkan airmata gadis itu terus berjatuhan hingga dia merasa lelah sehingga sesunggukkan. Kemudian Jihyo mengelap ingus dan airmatanya di kaos hitam milik Kyungsoo. “Dia yang memulai.”

Kyungsoo tidak semarah tadi, dia mencoba tenang, jauh dari apa yang dibayangkan Jihyo, gadis itu berpikir Kyungsoo akan semakin marah ketika Jihyo mengakui perbuatannya, “apakah dia menginjak-injak harga dirimu?”

Jihyo mengangguk membenarkan, “kau tidak marah?”

Raut Kyungsoo kembali berubah masam, “Aku marah! Kau tidak mengangkat teleponku!” dia berkata dengan nada merajuk.

Entah kenapa Jihyo merasa gemas melihat Kyungsoo yang seperti ini. matanya besar, kulitnya putih, hidungnya mancung, rambut hitamnya berantahkan karena basah. Dia sangat lucu dan manusiawi, berbeda dengan image ketua osisnya yang begitu beribawa dan serba sempurna.

“Aku tidak mau kau marahi.” Kemudian menjatuhkan dirinya lagi kepelukkan Kyungsoo. Gadis itu bahkan tidak sadar jika Kyungsoo pasti merasa kelelahan karena berlutut dilantai dengan posisi yang masih seperti tadi.

“Apa yang dia perbuat padamu?”

Jihyo membuka mulutnya dengan ragu-ragu, “Mereka merendahkanku dan mengatakan bahwa kau brengsek.”

Kyungsoo kembali tertawa, dia jarang tertawa karena sesuatu yang tidak lucu seperti sekarang. Tapi pria itu melakukannya, gigi putih dan rapinya bertengger indah, dia tidak marah sama sekali, dia merasa ingin mengeratkan pelukkannya pada Jihyo. Dan dia melakukannya. Membuat gadis itu merasa hangat sekaligus sesak napas.

“Tapi aku memang brengsek. Aku sering cuek kepadamu.” Kyungsoo mengakui kekurangannya yang lain. Walau dia mengerti brengsek seperti apa yang sedang dimaksud Jihyo.

Jihyo menggeleng, “tidak! Kau pria baik. Aku tidak suka mereka berkata begitu.”

Jihyo dapat merasakan bahwa pelukkan Kyungsoo melonggar. “Yasudah, lain kali kau tidak perlu mendengarkan mereka. Jangan diperdulikan, ok?”

Dari dalam pelukannya, Kyungsoo dapat mendengar perut Jihyo yang berbunyi, kemudian Kyungsoo langsung membebaskan gadis itu, memegang bahunya dan menatapnya mengejek, “kenapa? Lapar? Mau makan?”

Jihyo mengangguk spontan. Dia sangat kelaparan karena dietnya yang gila-gilaan. Dia bahkan belum makan apapun dua hari terakhir. Biasanya jika stress, Jihyo selalu banyak makan. Tapi akhir-akhir ini dia stress karena masalah yang bertubi-tubi. Tetapi sama sekali tidak mau makan. Semuanya terasa dua kali lipat lebih berat.

Kyungsoo membawanya keluar dari café yang hanya menyediakan menu minuman itu, menuju mobil Jazz hitamnya yang terpakir asal di parkiran depan. Hujan sudah mulai berhenti, tapi lelaki itu mengajak Jihyo berlari cepat menuju mobilnya, membukakan gadis yang tengah mengenakan jaket miliknya itu pintu lalu mempersilahkannya masuk bak tuan putri.

Sebelum dia menjalankan mobil, Kyungsoo tampak memerah tiba-tiba, matanya yang besar semakin besar, dia terus meraba-raba kantong celananya dengan raut panic “Sial! Dompetnya tinggal!” Sesalnya. Dia keluar rumah terburu-buru karena mencari Jihyo, jadi dia melupakan semuanya termasuk dompet. Sialnya lagi tidak ada duit sama sekali yang tertinggal di dalam kantongnya. Lalu, mengingat Jihyo yang tidak memesan minuman apapun tadi, Kyungsoo juga yakin gadis itu tidak membawa uang sama sekali.

Dia membuka laci dashboardnya dan menemukan setumpuk uang untuk parkir disana, tidak terlalu banyak, dan Jihyo juga melihat kearah sana, “makan di warung jalanan, mau? Aku lupa bawa uang.” Kyungsoo berkata dengan raut merasa bersalah. Bagaimana bisa dia begitu bodoh hingga lupa lagi membawa dompet ketika penting?!

Jihyo mengangguk sumringah, “aku memang ingin makan disana!”

Akhirnya laki-laki dengan bentuk bibir sexy itu bisa menghela napas lega, setidaknya dia tidak perlu balik kerumah untuk sekedar mengambil dompet, perut Jihyo pasti akan semakin tersiksa. Dia mengacak rambut pacarnya dengan gemas, “lain kali jangan mau diajak susah, ya.” (percakapan yang ini susah bgt pake bahasa baku)

“Aku tidak masalah hidup susah asal bersama Kyungsoo.”

Kyungsoo malah tertawa, “jangan berbicara seperti itu. kau seharusnya memaksaku untuk berkerja keras biar bisa menghasilkan banyak uang.”

“Tanpa aku paksa sekalipun kau selalu berkerja keras.”

Itu merupakan salah satu kebanggaan Jihyo terhadap Kyungsoo. Mungkin gadis sepertinya kebanyakkan menyukai pria brengsek yang menyenangkan ataupun suka berganti-ganti pacar karena wajah yang cantik. Tapi bagi Jihyo, anak laki-laki yang selalu sibuk karena sesuatu yang dia cita-citakan dan dia senangi tampak begitu keren. Jauh lebih keren daripada actor Hollywood peraih penghargaan terbaik Oscar. Maka dari itu Jihyo yakin bahwa Kyungsoo adalah yang terbaik walau dia tidak selalu memiliki waktu untuknya.

———

Sewaktu masih awal pacaran dulu, Kyungsoo sering mengajak Jihyo makan ditempat seperti ini, makanan pinggir jalan. dia sering lupa membawa uang saku. Dan untungnya, Jihyo sama sekali tidak keberatan diajak makan dimanapun, tanpa keluhan, gadis itu malah senang.

“Kita ngedate pertama kali disini.” Ucap Jihyo bangga karena masih mengingat itu. Kyungsoo hanya melihatnya makan, selain kenyang, dia tidak yakin uang nya cukup untuk membayar jika dia ikut makan. Jadi dia hanya memperhatikan gadis yang makan dengan lahap itu sambil senyum-senyum sendiri.

“Makannya pelan-pelan.” Tegur Kyungsoo melihat Jihyo yang makan begitu terburu-buru, kemudian dia kembali melanjutkan aktifitasnya. Memperhatikan Jihyo makan dengan diam. “Aku tidak perduli kalau kau gendut. kau cantik ketika makan.” Gumamnya asal. Dia memang tidak pandai merayu seperti Park Chanyeol, tapi ini kenyataannya, dia berkata yang sesungguhnya dan tidak bermaksud merayu.

“Serius?”

“Ya, lagipula badanmu tidak pernah gendut.”

“Tapi Minah….”

“Seorang yang tidak menyukaimu akan terus berusaha untuk menjatuhkanmu, sayang.”

Kyungsoo mengerti hal-hal semacam itu, sedangkan Jihyo tidak. Kyungsoo tidak akan membiarkan perkataan orang mempengaruhi hidupnya, tapi Jihyo begitu muda dipengaruhi. Lelaki itu kemudian mengelap sisa-sisa noda di bibir Jihyo, “kau tidak usah mendengar orang lain yang sebenarnya hanya berniat menjatuhkanmu. Kau dengarkan saja aku, ibumu, ayahmu, teman-temanmu, atau siapapun yang menyayangimu. Kami tidak akan mencelakaimu.” Kyungsoo berkata dengan tersenyum. Jihyo merasa semakin terharu. Dia tidak ingin pergi dari Kyungsoo, sama sekali tidak ingin.

“Kenapa kau berpihak padaku? Bukankah kemaren aku sudah berjanji untuk tidak ribut lagi?”

“Aku selalu berpihak padamu!” tegas Kyungsoo. “Aku tidak ingat kapan aku tidak berpihak padamu.”

Jihyo memutar bola matanya. Tapi jika diingat-ingat, benar juga. Kyungsoo berpihak kepadanya……walaupun dia salah pada akhirnya Kyungsoo tetap berpihak padanya. “Jika kau jadi ke New York, jangan biarkan Minah dekat-dekat denganmu!” Jihyo memperingati. Dia kesal jika harus mengingat hal ini.

“Kau kenapa tidak bosan denganku?” Kyungsoo tiba-tiba menjadi serius.

“Siapa bilang aku tidak bosan? Kau sering sibuk, kau seperti lebih sayang teman-temanmu ataupun ruang osis. Terkadang aku kesal, tapi aku lebih kesal lagi mengetahui kenyataan jika kau bukan milikku.” Jihyo berkata cepat ditengah kunyahannya yang belum selesai, untuk dia tidak tersedak.

“I am sorry. I am really sorry, then.”

“Tidak perlu, aku juga banyak dosa.” Balas Jihyo sambil nyegir polos.

“Kenapa kau tidak menyukai Myungsoo?”

Entah itu perasaan Jihyo saja atau Kyungsoo benar-benar terlihat insecure. Dia yang selalu percaya diri dengan seragam rapi yang membalut tubuhnya di depan para adik kelas ataupun senior sangat berbeda dengan Kyungsoo yang ada didepan matanya sekarang. Jihyo tahu, walau tidak pernah Kyungsoo katakan secara langsung, pria itu cepat cemburuan. Dan dia tahu jika Kyungsoo menahan kekesalannya ketika Minah mengatakan gadis itu sempat menyukai Myungsoo.

Jihyo tertawa mencibir, dia menatap tepat ke manik mata Kyungsoo. Mana Mungkin dia mau dengan lelaki seperti Myungsoo yang senang sekali menghina harga diri orang? “karena aku hanya menyukai Do Kyungsoo.” Untungnya, gadis itu tidak berniat untuk memanggil kekesalannya lagi terhadap Kim Myungsoo, jadi dia tidak membahas lelaki itu dan menjawabnya dengan jawaban yang keju. Tapi dia memang bermaksud dengan kata-katanya.

“Bagaimana kalau Do Kyungsoo meninggalkanmu?”

“Aku akan menyusulnya,” itu tidak mungkin, Jihyo. “Baiklah, aku akan menunggunya!” lanjut Jihyo dengan jawaban yang lebih masuk akal.

“Janji, kan?”

Jihyo mengangguk dengan penuh keyakinan, “ya, janji.” Ucapnya ceria. Walau hatinya tidak seceria itu. dia merasa sedih, tentu saja. Kyungsoo akan pergi sebentar lagi. Bisakah har-hari Kyungsoo bersamanya terasa sangat lama dan ketika Kyungsoo pergi terasa cepat?

 

Semuanya berjalan seperti semua. Minah yang pada akhirnya meminta maaf setelah diberikan penjelasan oleh Kyungsoo, well, gadis itu terlalu kagum dengan pria itu maka dari itu dia menurut dengan mudah. Myungsoo juga melakukan hal yang sama, dia bahkan mengatakan pada Jihyo bahwa dia sempat serius menyukainya dulu.

Ujian akhir-pun selesai, Jihyo lulus walau nilainya tidak begitu baik, yang penting dia lulus, bukan? Dan nilai terbaik tentu saja di raih anak laki-laki yang berstatus sebagai pacarnya tersebut. Setidaknya Kyungsoo tidak melakukan perbuatan nakal dalam waktu yang lama sehingga membuat nilainya hancur total. Guru-guru yang sempat dia kecewakan memaafkannya dengan lapang dada, dia tetap kesayangan mereka.

Seharusnya Jihyo merasa baik-baik saja dan dengan tenang menunggu hasil test masuk universitas. Tapi yang dilakukanya sekarang adalah menyendiri di tempat karaokean dengan ruangan luas yang hanya ada dirinya sendiri. Dia duduk diatas meja dengan kaki yang bersila. Menyanyikan lagu-lagu sedih dengan suaranya yang begitu fals dan sesunggukkan. Jihyo menangis, dia tidak tahu caranya untuk berhenti menangis. Bahkan ketika dia menyanyikan lagu bahagia-pun, rasa sesak didadanya semakin parah.

Gadis itu merasa lelah. Sudah cukup lama dia berada disini, suaranya bahkan hampir habis. Dia juga sempat meminum sedikit beer sebelumnya, dia rasa air itu akan membantunya menjadi baikkan, tapi tenyata tidak sama sekali. Kyungsoo akan tetap meninggalkannya besok.

I am here without you, baby. But you’re still on my lonely mind. Mungkin, lagu yang dikenalkan oleh 3 doors down berjudul here without you itu akan menjadi playlist sehari-harinya setelah kepergian Kyungsoo. Apakah ini serius? Kyungsoo akan pergi. Kyungsoo akan beda pulau, beda Negara, beda benua dengannya. Amerika jauh, butuh waktu 30 jam-an untuk kesana dari Korea dengan pesawat. Bahkan transportasi tercepat-pun tetap membuatnya terasa jauh. Dan dia tidak lupa bahwa Minah juga berkuliah disana. Gadis itu bisa, tapi dia tidak.

Pintu ruangannya tiba-tiba terbuka. Bukan lagi seorang pelayan yang mengganggu karena menawarkan pesanan ataupun pengajuan penambahan jam. Tapi seorang remaja lelaki dengan mata, bibir, hidung, tubuh, kulit yang merupakan favoritnya. Laki-laki itu tampak tak kalah menderita. Bukan hanya pakaiannya yang berantahkan, hatinya juga.

Dia menghampiri Jihyo dan duduk disebelahnya. Mengambil mic yang satunya lagi kemudian melanjutkan syair dari lagu itu.

“But you’re still with me in my dreams. And tonight, girl, it’s only you and me.” Suaranya merdu. Jihyo sangat menyukai suara itu ketika menyanyi. Dan Jihyo merasa dia hanya ingin memeluk lelak ini. Memeluknya sangat erat sehingga dia tidak pernah bisa lepas lagi. Dia pasti akan sangat merindukan suara Kyungsoo. Dia pasti merindukan semuanya dari diri Kyungsoo.

Kyungsoo memutar lagu berikutnya. Semuanya sedih dan terakhir baby don’t cry dari EXO. Well, demi apapun dia tidak mau melihat Jihyo menangis lagi. Tapi dia memang tidak akan melihatnya lagi dalam waktu yang lama. Kenyataan itu jauh lebih menyakitkan dari segala perasaan sesak apapun yang dia rasakan sekarang.

“Aku ingin masuk Columbia University dari pertama kali pamanku menceritakan bagusnya kampus itu. Waktu itu aku masih berumur 10 tahun, aku mendengarnya dengan perasaan menggebu-gebu dan yakin bahwa aku bisa masuk sana ketika besar. Tapi ketika aku mendapatkannya, aku merasa menyesal.” Kyungsoo bercerita. Jihyo membayangkan Kyungsoo yang berumur 10 tahun dengan cita-cita itu, mengatakan bahwa dia mampu dan akan mewujudkannya ketika dewasa dengan mata yang berbinar-binar. Jihyo bahkan dapat merasakan bagaimana deg-deg-an dan menyenangkan itu duli.

Mata Kyungsoo masih berkaca-kaca. Lelaki yang menangis memang terlihat lemah. Tapi bukankah laki-laki itu harus berani? Termasuk berani untuk menangis. “Kupikir aku akan merasa puas. Kerja kerasku berhasil. Tapi ketika aku mendapatkannya, kenapa aku merasa sedih?”

Jihyo membawa Kyungsoo kedalam pelukkannya, membiarkan pria itu menangis hebat, menumpahkan segala kesesakkan yang dia tahan pada dada gadis itu, sama yang seperti Kyungsoo sering lakukan kepadanya. “Aku mengenal Do Kyungsoo ketika dia berumur 15 tahun. Anaknya pintar dan dia selalu bersungguh-sungguh. Itu membuatku semakin kagum kepadanya. Ambisinya membuatnya tampak kuat dan wibawanya selalu membuatku merasa terpana. Dia tidak pernah menyerah karena hal bodoh, maka dari itu dia harus tetap berjuang dan meninggalkan kebodohan itu. jangan menjadikan ini beban, sayang. Aku bangga padamu. Kita masih bisa skype ataupun facetime, kan? Walaupun kau ataupun aku akan sibuk nantinya, tidak masalah jika pada akhirnya kita akan bersama lagi, bukan?”

18 tahun lebih dia hidup, untuk pertama kalinya Jihyo merasa bangga dengan kata-kata yang ia keluarkan. Dia merasa bijaksana, dan hebatnya dia bisa bangkit duluan daripada Kyungsoo.

Hatinya terasa jauh lebih tenang dan dia bisa tersenyum. Seperti yang dia katakan. Kyungsoo adalah lelaki ambisius yang mengagumkan. Tidak seharusnya dia menyesal ataupun menyerah kepada mimpi karena hal seperti ini. Jihyo merasa marah pada dirinya karena sempat terpikir untuk membuat Kyungsoo tetap disini apapun alasannya. “aku sudah berjanji akan menunggumu. Jadi pergilah, belajar yang giat biar bisa cepat tamat dan kembali kesini, ok?”

Kyungsoo mengangguk. Jihyo mengelap air mata pria itu dengan tangannya dan mereka melanjutkan bernanyi lagu-lagu lawas yang lucu. Berjoget-joget gembira seperti ini akan berlangsung selamanya.

“Sayang, kita harus pulang sekarang. pesawatmu jam 9 pagi!”

——–

Sudah 5 bulan Kyungsoo dan Jihyo berada dalam jarak yang sangat jauh. Kecanggihan internet membuat rindu diantara mereka terobati walau sedikit. Tetap saja keberadaan yang sebenarnya juga penting.

“Sayang…. Kau mengantuk?” Waktu di Korea sudah menunjukkan pukul 3 dinihari.

Jihyo menggeleng pada layar ipadnya, disana dia melihat Kyungsoo sedang berada di dalam ruang kelas yang sepi dengan kemejanya yang membuat dia tampak keren. Mungkin dia sedang belajar sampai pagi. “Aku kangen….”

Kyungsoo mengangguk setujuh, “aku juga. Libur masih lama. Kau tidak berniat main kesini?”

Jihyo menggeleng sedih, “belum sempat, sayang.”

“Ujian MID-ku mendapat 70, aku sangat sedih.” Kyungsoo bercerita. Dia selalu bercerita banyak hal, apa saja yang dia alami baik penting maupun tidak penting. Begitu juga yang biasanya dilakukan Jihyo ketika mereka skype ataupun facetime seperti sekarang.

“Hmmm.. itu nilai yang baik, sayang,” keliatan sekali Jihyo merasa matanya sakit tapi Kyungsoo membuat matanya terbuka lebar.

“Aku ingin pulang…. Disini aku tidak punya siapa-siapa.” Kyungsoo mengeluh hal yang sama untuk kesekian kalinya. Bahkan lelaki seperti Kyungsoo saja mengeluh menghadapi ini. Bagaimana dirinya?

“Kau harus tetap menjalaninya, sayang, aku marah jika kau berniat menyerah! Tidak punya siapa-siapa? Memangnya disana tidak ada perempuan cantik?”

“Banyak yang cantik. Kau serius mengizinkanku berselingkuh?!” tanya Kyungsoo terkejut. Mata besarnya hampir keluar, dia begitu lucu. Sial, lagi-lagi Jihyo merindukannya dan ingin menyentuhnya.

“TIDAK!” Jihyo berteriak, membuat Kyungsoo yang menunggu jawaban itu terkejut. “maksudku kau boleh melirik mereka sesuka hati jika merasa bosan. Tapi jangan sampai selingkuh. Awas!”

“Dasar pelit!”

Jihyo mendengar bunyi pesan masuk dari handphonenya, “Sebentar, ini ada email masuk.” Jihyo membuka pesan email pada Iphonenya dan meminta Kyungoo menunggu sebentar.

Benar, itu hal yang dia tunggu. Baik ataupun buruknya ditentukan dari pesan di email ini.

“Sayang….” Jihyo tiba-tiba berkata dengan begitu lemas.

“Ya?”

“Aku….”

“kenapa?!” Kyungsoo kaget karena Jihyo terlihat nyaris semaput. “Kau baik-baik saja, kan?” tanyanya panic. Mata besarnya seperti mau keluar. Sedihnya dia tidak akan mampu berbuat apapun jika terjadi apa-apa terhadap gadisnya itu.

Jihyo mencoba untuk mengangguk dan menjelaskan. “Aku…aku diterima di The art institute of New Year city!”

Shit. Apakah mereka berdua sedang bermimpi?

“kau serius?” suara Kyungsoo meninggi. Antara kaget, bahagia dan was-was bercampur jadi satu. Yang jelas dia benar-benar berharap bahwa Jihyo tidak berniat untuk mengerjainya.

“Congratulation Ms. Jihyo Park. You got accepted into The art Institute of New Year City with Fashion Design Major….” Dia menampakkan pada layar ipadnya pesan itu. benar, itu asli. Itu nyata. Ini bukan penipuan, kan? Astaga…apakah ini kenyataan? Mimpinya terwujud? Jihyo seperti ingin pingsan!

3 bulan yang lalu gadis itu mengikuti test tidak langsung di The art Institute of New Year City,ataupun universitas fashion lainnya di New York, dia mengirimkan gambarnya dan melakukan wawancara lewat skype. Dia merasa begitu hopeless, tidak yakin bahwa salah satunya akan menerimanya. Tapi setidaknya dia mencoba.

Jihyo tidak pernah kepikiran untuk menjadi seorang designer. Tapi ketika Chanyeol merebut paksa gambarnya yang berisikan Kyungsoo dengan kemeja berwarna putih dan tampak tampan, lelaki itu tidak jadi menghina dan malah berkata, “kenapa kau tidak sekolah designer saja? Gambarmu bagus, selera fashion-mu tidak terlalu buruk. Kau pasti akan di drop out dari tempat kuliahmu. Sedangkan jika sekolah fashion kau tidak perlu menghapal ataupun menghitung. Kau hanya perlu belajar menjahit.”

Park Chanyeol memang sedang tidak serius. Tapi dia mampu membuat mindset Jihyo langsung berubah dalam waktu sepersekian detik setelah mendengar ucapannya. Astaga, apakah dia terlalu bodoh hingga tidak kepikiran sampai sini?

“Lagipula, fashion design di New York pada bagus. Ayahmu pasti mampu membiayai kuliahmu disana!”

Rasanya, Jihyo ingin sekali memeluk Park Chanyeol dengan begitu erat ataupun memberikan apa saja yang anak ini mau. Dia berguna juga, sangat berguna. Ternyata Kyungsoo tidak terlalu salah menitipkan Jihyo pada Chanyeol jika dia membutuhkan sesuatu. Chanyeol-sangat-amat-berguna! Dan dia yang biasanya mendoakan kekualatan terjadi pada Chanyeol, saat itu berdoa pria itu dapat mengencani siapa saja perempuan paling cantik di dunia.

Kyungsoo memanggil-manggil namanya, “Jihyo, sayang, itu benar-benar asli! Kau akan bersekolah disini!”

Jihyo berteriak sekuat mungkin. Membangunkan seisi rumahnya. Dia benar-benar bahagia sehingga melompat-lompat tidak jelas dikasur. Akhirnya dia menemukan jalan untuk dekat lagi dengan Kyungsoo.

Sewaktu kecil Jihyo pernah ingin menjadi ballerina, dokter, ataupun arsitek, itu dulu, ketika dia masih belum mengerti cara mewujudkan mimpi. Tapi sekarang, dia ingin menjadi seorang Designer. Dia harus serius. Karena mimpinya berada dalam jarak yang begitu dekat, begitu tampak.

Karena anak kecil bermimpi, orang dewasa berusaha mewujudkannya.

The end.

Judulnya memang agak ga nyambung sih tapi coba dengerin lagunya shinee yang fly high. Lo emg harus terbang tinggi dan ngga takut jatuh untuk bermimpi (?)

Well, aku juga punya mimpi. Mimpiku mau jadi pacar Kyungsoo, boleh ngga?!!!!!

FF ini didedikasikan kepada dedek2 yang baru menjadi mahasiswa. Welcome to the jungle! Setahun yang lalu aku merasakan hal yang sama. Bingung mau kuliah apa. Terus aku juga ngerasain hal yang sama. Gmn ngga enaknya pisah sama temen. Terus juga ngeliat gmn yang harus LDR wow so sad sekali yang biasanya ke kantin berdua, ke wc berdua, keruang guru berdua tapi harus misah dalam jarak yang jauh. Mana kangen rasanya ngga enak bgt lagi (malah curhat).

Aku lagi ngefeel bgt aja bikin ff ini. akunya yang ngefeel nulis, kalo yang baca belum tentu dpt feelnya wkwk. Mgkn aku musti ngedit lg tapi ntaran skrg ngantuk bgt (?) and Iam really sorry ga ngelanjutin ff seriesnya soalnya lg stuck. Kalo misal sampe tanggal 30 I don’t post anything, then I wont post anything until next month TT

dan tolong. jangan pd benci bgt sama minah dan myungsoo soalnya yg kalian benci tuh authornya yg ga smpt bikin alesan supaya nama mrk kembali baik (?) semuanya tergantung sudut pandang, kan.

Dan ini ada bonus Part buat pencitraan laki gue yang playboy dan murah bgt disini (tidaaaak). Tapi sori, bahasanya ga baku. Lagi males bikinnya jadi baku.

Chanyeol emang playboy dan suka ganti cewek keak ganti oli, sebulan sekali. Tapi dia bakalan berakhir lari ke satu cewe yang sama kalo lagi ngerasa bener2 sendirian, kesepian ataupun galau. Siapa lagi kalau bukan si Sissy, cewek jaman dia kelas 1 smp yang masih deket sampe sekarang sbg teman disaat susah. Dulu mereka awalnya putus dan marahan karena Chanyeol ketahuan selingkuh, tapi balikkan lagi, terus putus beneran pas Sissy ketahuan selingkuh juga. Ceritanya mau balas dendam. Maklum namanya juga baru tamat SD.

Namanya Sissy yang berarti beruntung, tapi nih cewe lebih sering sial daripada untung. Dia memang ga secantik gandengan2 chanyeol yang lain ataupun setenar mereka, tapi dia cewe pertama yang bikin Chanyeol gasuka hari libur karena gabisa liat Sissy.

Sekarang mereka udah sama-sama kuliah dan ketemuan karena alasan keduanya sama-sama sedang patah hati. Namanya juga partner-in-difficult-time.

Mereka berdua ada dalam mobilnya Chanyeol, keliling kota Seoul, ntah itu Hyundai, Lotte, Coex, Golden, mereka berdua bosen ke mall-mall itu. disaat kayak gini Seoul berasa kecil, ngga ada tempat nongkrong yang asik. Bosen.

Pada akhirnya Chanyeol nepiin mobil dia di sebuah tempat sepi dekat taman yang udah ngga keurus. Tapi bisa liat gunung dari sini. Mereka berdua diem dlm mobil yg msh menyala. Bodo amat habis bensin, yg penting galau ilang. Radio mobil Chanyeol sedang muter lagu2 dari band Radiohead, ituloh band rock lama kesukaan Chanyeol.

“Pinjem hp lo dong, bosen nih.” Chanyeol nyerain hp dia ke Sissy, sedangkan tuh cowok ngambil gitar dia dari jok belakang.

“Anjir! Mainan lo gini amat. Sampah emang.” Sissy ngetawain game-game di hp Chanyeol yang emang payah bgt. Ada flappy bird, 2048, candy crush, farm heroes, terus ngecek scorenya juga. “Gila, lo niat bgt main ginian!” sissy nyaris takjub. Ubin 2048 dia nyampe 8192.Anjir nih orang emang ye, coba kalo main game-game cowok keak Regnarok, Power Blank, Perfect World pasti cupu banget.

Chanyeol biarin Sissy cerewet ngomentarin isi Hpnya. Terus dia mulai ngejreng gitar dan matiin radio. Keaknya Sissy kenal nih lagu. Apalagi kalo bukan Creep-Radiohead. Chanyeol addicted bgt sama lagu ini, dia juga ikutan. Suara Chanyeol emang ngga bagus2 amat, tapi Sissy suka liat dia main gitar sambil nyanyi dengan suara yang ga bagus ini. Apalagi skrg dia ganteng bgt dengan celana pendek item selutut terus kaos yang dilapisi sweater abu-abu. Mana pake topi lagi. shit, tumben ganteng.

Sissy jadi ikutan nyanyi dan nyender di bahu Chanyeol. bahunya nyaman, lebar sih.

“Yeol, kenapa ya semua cowok tuh begitu? pada brengsek. gue capek tau ngga dimainin terus,” Chanyeol berhenti nyanyi, berhenti gitaran juga. Sissy keaknya galau bgt nih.

“Siapa sih yg berani mainin Sissynya Chanyeol? sini blg sama gue. gini2 gue jago tubir kali.”

“Gue serius nih. dia blg suka sama gue, apalah, tapi kenapa jadiannya sama cewek lain?”

Chanyeol ketawa, “Si Daehyun ya? anaknya emg gitu.”

“kok lo tau?” tanya Sissy kaget. Mereka kan lama ga ketemu, masa iya Chanyeol bisa tahu?

“gue kan selalu tau kalo tentang lo”

saking bosennya tuh cewe denger modusan chanyeol, dia jadi mati rasa dan ga mempan lagi.

“lo mah sotoy kali.”

“gausah salting gitu lah” Chanyeol toel-toel genit dagu Sissy.

“dih siapa yg salting. gue emg keak gini kan.”

“tapi sama gw jg msh suka gugup lo. aneh.”

“i am creep. i am a weirdo, what the hell am i doing here?” cewenya malah nyanyi lagu creep sambil ngejreng asal gitar Chanyeol.

“Suara lo jelek!”

“keak suara lo bagus aja.”

“Sama-sama jelek, udah, gue mah laki, gue ngalah.” Chanyeol malah belaga macho.

“lo galau kenapa lg sih? di putusin? di tikung? di duain? apa ditolak?”

“enak aja ditolak. yg berani nolak gue cuma lo doang kali. dia srg jalan sama mantannya, Sy. sekali dua kali gue maafin, 3 kali jelas dong gw ngamuk.” Chanyeol ngelus-elus kepala Sissy yang masih bertengger dibahunya..

“Wah elo sih. pasti ngerebut pacar orang. kebiasaan.”

“gue cinta sama dia, Sy. tapi dia nya gitu.”

“masih cinta ya? wkwkw pantes lo galau. biasanya juga bomat.”

“Gimana ngga cinta? Dapetnya susah.”

Anjir tuh cewek pasti special banget sampe bisa bikin Chanyeol jadi galau bgt gini.

“Lo kenapa sih kalo gue tembak ngga pernah mau?”

“Lo bakal duain gue lagi, nyet. Males banget.”

“Ga, ga bakal lagi kok, gue kan udah gede.” Bullshit bgt. Nih anak juga jadian sebulan sekali.

“Tetep aja gue gamauuu.” Sissy ngotot. Chanyeol jadi bête.

“Udah malem nih. sepi bgt lagi, jalannya gelap.”
“teroosssss?”

“Lo mau jadi pacar gue ngga?” tanya Chanyeol genit, dia cubit-cubit pipi Sissy. Tau ngga maksudnya apa? “Kalo blg gamau, gue tinggalin nih.” Ancemnya.

“AH CHANYEOLANJING BASI BGT LO! ANTAR GUE BALIK SKRG!”

“Yaelah si nyonya galak amat. Iya nya, saya mah siapa atuh hanyalah sopir.”

“Bagus nyadar.”

Sissy nyender kembali ke kursi mobil dan biarin Chanyeol nyetir. Dia memang gapernah mau diajak pacaran sama Chanyeol, karena tuh anak blum tentu serius. Lagian, dia udah terlalu nyaman dengan status Partnert-in-difficult-time mereka sekarang. nyaman bgt!

You’re so fucking special. I wish I was special.

Lagu creep tiba-tiba kerasa benar-benar nusuk dan cocok buat keadaan sekarang.

————-

Ini bukan Sissy GGS ye. aku awalnya bingung jg mau bikin namanya siapa. Kalo korea agak gaenak, mau bikin mawar ini bukan berita kriminal. Yaudah, Sissy itu namanya si ratu iran yg arti namanya beruntung. Canyeol tuh saggitarius boy dan cowo sag suka adventur, suka yg baru, tapi tetep aja cuma ada satu yg beneran stuck. ah gue jadi pen ganti nama jadi Sissy /abaikan.

Chanyeol disini keak karakter anak2 sekitarku yg playboy dan gatel sama cewe cakep. bedanya chanyeol ganteng bgt, mrk kagak.

Ini idenya dari IG Chanyeol dia main gitar lagu creep. ah emang keindahan ciptaan Tuhan yang satu ini tiada tara.

48 thoughts on “Fly High!

  1. ngakak parah bagian epilognya si chanyeol 😄 aih yang kyungsoo juga bikin ngakak deng 😄 jihyo bener bener mirip sama aku, berandalnya, cerewetnya, hobinya, oh bagian kura kura juga kita sama loh jihyo! /ini apaan sih/ tapi dapet kyungsoo juga gak ya? /plak!/ /abaikan bagian ini/

    overall, aku suka! soalnya jarang nemu ff cast kyungsoo yang bagus. banyakin yang kayak gini ya thor…keep writing! ^^

  2. wah wah keren, tapi, menurut aku tetap kereng yg cerita awalnya yah entah mengapa,,
    aku juga rada dislike scene Baekhyun yg katanya sangat menyukai Taeyong, aku gansuka itu,,, dan kenapa harus seulgi dicouple in sama suami guenunjuk Chanyeol,,
    terus juga gue kasian banget sama Jihyo diabenar2 sayang yah sama Do Kyungsoo sampai segitunya,, tpi kalo gue jadi diapun pasti sama,, sayangnya gue suka nya ama yeol yg idiot serta sering ternistahkan karakternya &ko jadi curhat*,, oke terlalu ngawur udah dulu, pokona mah daebakkkk

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s