We’ve Fallen in Love – Part 6

WVFIL POSTER

Title : We’ve Fallen in Love – Part 6

Author : Charismagirl

Main Cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri

Support Cast :

  • Park Chanyeol | Ahn Sungyoung
  • Byun Baekbeom
  • Oh Sehun
  • Byun Family | Park Family

Rating : PG-13, Teen

Length : Chapter

Genre : Romance, Friendship, Family.

Cr poster : zhrfxo

Link : Prolog | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6

Note : Do not copycat without my permission. Enjoy the story ^^/

“Baiklah, sekarang aku ingin bertanya, maukah kau jadi kekasihku, Nona Park?”

***

“Baekhyun-ah!” sapa pria itu lantas tersenyum.

Hyung,” Baekhyun menuruni tangga itu lalu menghampiri Baekbeom. Dia memberikan pelukan seperti apa yang ayahnya tadi lakukan. “Senang kau kembali.”

“Ya, senang bertemu denganmu lagi, Baek.”                           

PART 6

Di kediaman keluarga Park.

“Nyonya Byun, senang bicara dengan anda lagi… kami baik-baik saja….”

Minri menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tengah. Awalnya dia tidak tahu siapa yang bicara dengan ibunya sampai-sampai wanita itu tertawa senang sekali. Hingga ibunya menyebut kata keluarga Byun barulah Minri yakin bahwa yang bicara dengan ibunya sekarang adalah Nyonya Byun.

“Benarkah?” Tawa ibunya tiba-tiba berhenti. Raut wajah wanita itu berubah serius. Dia melirik ke arah Minri yang tidak mengerti mengapa dia harus ditatap seperti itu.“malam ini?… aku mengerti.”

Minri memberengutkan wajahnya. Dia terus mendengarkan percakapan ibunya dan seseorang yang di balik telpon itu. Setelah mereka selesai bicara, ibunya meletakkan gagang telpon. Lalu duduk di samping Minri.

“Malam ini kita akan makan malam bersama keluarga Byun, dan kau akan bertemu dengan Baekbeom.” Ibunya berucap tanpa pengantar apapun. Minri perlu waktu berpikir beberapa detik agar dia mengerti kemana arah pembicaraan ibunya itu.

“Kenapa kalian tidak pernah memberitahuku tentang perjodohan ini? Tapi tenang saja, aku sudah tahu. Aku sudah mendengar semuanya.”

“Benarkah?” Ibunya tersenyum senang, lalu baru akan memeluk Minri. Tapi gadis itu memberi jarak.

“Aku tidak setuju, Mom. Bolehkah aku menolak?”

“Tapi, Minri-ya,”

“Mom! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menerima perjodohan ini. Aku perlu kebebasan untuk menentukan pasangan hidupku sendiri!!” Minri beranjak dari kursi. Dengan langkah yang sedikit dihentakkan dia berangsur menjauh dari tempat itu.

Minri berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Selama hidupnya dia tidak pernah berbicara sekasar itu pada ibunya. Meskipun marah, dia tidak pernah menaikkan nada bicaranya karena dia akan lebih memilih berdiam diri dalam kamar.

Minri merasa dadanya sesak. Dia tidak ingin mengecewakan wanita yang paling dia muliakan itu, namun keegoisan dan prasangka buruknya telah menyatu, membuatnya gelap mata. Tidak ada yang bisa membuka jalan pikirannya tentang kebaikan yang bisa didapatkannya dari perjodohan itu. Apalagi laki-laki yang akan dijodohkannya bukanlah lelaki yang dicintainya.

Gadis itu membuka pintu kamarnya dengan kasar menyebabkan pintu itu beradu dengan dinding. Dia sendiri sempat terkejut dengan suara benturan itu. Namun dia tidak mempedulikan pintu itu, kakinya melangkah lebar ke kasur, lalu menelungkupkan tubuhnya disana.

Sebenarnya dia tidak ingin menangis, tapi entah kenapa air mata emosionalnya mengalir begitu saja, membuatnya tiba-tiba terisak. Selanjutnya dia melesakkan kepalanya di bawah bantal dan menangis nyaring. Sampai tidak terasa, diapun tertidur.

***

Minri terbangun pukul enam dengan mata yang berat, Ia merasa tubuhnya hangat tertutup selimut. Padahal seingatnya dia berbaring sembarangan tadi. Kakinya beranjak menuju cermin. Matanya bengkak. Sulit rasanya membuka mata. Minri melihat keadaan kamarnya, pintu telah tertutup dan lampu tidur yang menjadi penerangan. Minri yakin ibunya yang telah melakukan ini semua.

Bicara tentang wanita itu, Minri harusnya minta maaf atas kelakuannya yang tidak sopan tadi.

“Sayang,”

Minri menoleh ke arah pintu, dia mendapati ibunya dengan pakaian rapi. Ingatan Minri melayang pada pernyataan ibunya yang membuat dia marah, hingga ia memutuskan berlari ke kamarnya.

“Kami mohon agar kau ikut makan malam bersama kami.”

“Aku akan bersiap-siap, Mom. Tunggulah sebentar.”

Ibunya tersenyum tenang. Mungkin dengan cara ini dia bisa membahagiakan kedua orang tuanya. Meskipun dia harus mengorbankan perasaannya sendiri.

“Kami menunggu di bawah.”

Setelah ibunya menghilang di balik pintu, Minri pergi ke kamar mandi. Dia benar-benar bersiap. Meskipun tidak tahu caranya berdandan dengan cantik. Dia tidak akan membuat kedua orang tuanya kecewa.

Gadis itu memilih dress berwarna krem dengan panjang selutut dan memiliki renda di sisi lengan. Baju itu adalah hadiah dari ibunya saat ulang tahunnya –tahun lalu. Dia duduk di depan meja rias. Membubuhkan bedak di wajahnya, berusaha menutupi matanya yang bengkak. Lalu perlahan bibirnya membentuk seulas senyum. Minri memperhatikan refleksi dirinya dalam cermin. Semakin lama senyum itu semakin terlihat menyedihkan.

***

Sedan hitam milik keluarga Park berhenti di salah satu restoran italia besar di Seoul. Minri turun dari mobil lalu melangkah tegap. Dia mempertahankan bibirnya agar tetap tersenyum ketika dia mereka masuk ke dalam sebuah ruangan pribadi. Keluarga Byun telah duduk disana, menunggu kedatangan mereka. Ada empat kursi yang telah terisi, Nyonya Byun, Tuan Byun, Lelaki dengan wajah asing-yang Minri yakini adalah Baekbeom, dan satu orang lagi… Baekhyun.

Keluarga Park menghampiri meja itu. Mereka saling menyapa satu sama lain dengan senyuman. Tapi tidak dengan Baekhyun. Lelaki itu hanya duduk diam di kursinya, meskipun dia sempat bersalaman pada ayah dan ibu Minri.

“Kami senang kalian datang,” ucap Nyonya Byun. Wanita itu tampak elegan dengan balutan dress panjang berwarna ungu muda. Senyum ramah wanita itu masih tetap sama dengan yang Minri lihat pertama kali. “Hai Minri sayang, kau tampak cantik sekali,” ucap wanita itu saat dia beradu pandangan dengan Minri.

Minri berterimakasih dengan pelan dan membungkukkan tubuhnya sedikit. Lalu mereka semua duduk.

Percakapan resmi dimulai dengan saling memperkenalkan satu sama lain. Tentunya memperkenalkan Baekbeom pada Minri adalah hal yang paling penting, karena mereka baru pertama kali bertemu.

Baekbeom. Putra sulung keluarga Byun itu memiliki wajah yang tampan, berbadan tegap dan memiliki rahang tegas. Dia juga memiliki pesona tersendiri jika sedang tersenyum. Namun Minri malah memokuskan pandangannya pada seorang lelaki yang duduk di samping Baekbeom.

“Senang bertemu denganmu, Minri-ssi,” ucap Baekbeom seraya tersenyum.

Minri terkesiap. Dia tersenyum canggung pada Baekbeom. Huh, semoga dia tidak ketahuan memperhatikan Baekhyun.

Hidangan telah tersusun rapi di meja makan. Tapi Minri hanya meneguk air putih. Lagipula kedatangannya kesini bukan untuk mengisi perut, dia hanya ingin memenuhi undangan makan malam yang entah akan berujung seperti apa.

“Maaf, aku ke belakang dulu.”

Minri beranjak dari kursinya lalu berjalan menuju toilet. Tak lama setelah itu, Baekhyun menyusulnya.

“Minri,”

Baekhyun mencekal tangan Minri saat gadis itu akan memasuki bilik dengan tulisan ‘ladies’ di depan pintunya.

“Baekhyun!” Minri berucap dengan suara tercekik. Dia cukup kaget dengan kehadiran Baekhyun yang tiba-tiba. Pria itu hampir selalu mengejutkannya dengan kehadirannya yang mendadak itu.

Baekhyun memojokkan Minri ke dinding. Tidak ada aktivitas yang terdengar dari dalam toilet–berarti tidak ada orang saat ini di sekitar mereka. Hal ini sedikit membuat Baekhyun lega karena dia bisa bicara dengan leluasa pada Minri.

“Kupikir kau tidak akan datang,” ujar Baekhyun dengan senyum pahit.

“Aku tidak ingin membuat keluargaku malu dengan tiba-tiba membatalkan undangan makan malam hanya karena aku.”

“Kau tahu akhirnya akan seperti apa ‘kan? Mereka sedang merencanakan hari pernikahan untukmu dan Hyung.”

“Secepat itu?” Minri bertanya lebih pada dirinya sendiri. Dia menurunkan pandangannya ke lantai.

Baekhyun memegang kedua bahu Minri membuat gadis itu mendongak, menatap Baekhyun.

“Kau bisa menolak semua ini, Minri. Jika kau menginginkannya. Aku akan membantumu.”

“Kenapa kau ingin sekali membantuku?”

“Aku tidak ingin kau menikah dengan Hyung.” Baekhyun mendekatkan wajahnya, menyelami lebih dalam ke mata hazel milik gadis di depannya. “Aku mencintaimu, Minri-ya.”

“Baek….”

“Kita bisa memperjuangkan semua ini,” lirih Baekhyun.

Lelaki itu memutus jarak diantara mereka berdua, menyatukan bibir mereka dalam ciuman hangat. Minri tidak menolak ciuman itu meskipun dia tahu bahwa mereka belum terikat hubungan apapun. Dia hanya ingin menumpahkan rasa rindunya yang bertumpuk-tumpuk juga kekesalannya pada kenyataan yang tidak seharusnya.

Dia menginginkannya. Dia ingin bersama Baekhyun, menjadi kekasihnya, dan pendamping hidupnya kelak. Tapi apakah semuanya akan semudah itu? Apakah penolakan yang akan dilontarkannya bisa diterima dengan mudah?

Minri dan Baekhyun terhanyut dalam momen itu, tidak tahu menahu bahwa Baekbeom–kakak laki-laki Baekhyun itu telah melihat dan mendengar semuanya.

***

Minri dan Baekhyun kembali ke ruang pertemuan keluarga bersama-sama. Lalu duduk ke tempat mereka masing-masing. Baekbeom diam-diam memperhatikan Baekhyun dan Minri. Kedua orang tua mereka masih asik bercengkrama ketika Baekbeom berdiri dan bicara.

“Aku ingin membawa Minri-ssi berkeliling sebentar. Apakah boleh?” tanya Baekbeom entah pada siapa.

Semua orang yang berada di ruangan itu menoleh padanya. Termasuk Minri, dengan kening yang berkerut dan kedua tangan saling bertaut.

“Tentu saja. Kalian pasti ingin mengenal lebih dekat.” Nyonya Byun menatap Minri dengan air muka senang, membuat gadis itu tidak punya pilihan lain selain mengiyakan keinginan Baekbeom.

Nyonya Park hanya diam, dia mengangguk pelan pada Minri sambil tersenyum menenangkan. Sekali lagi Minri berpikir untuk tidak mengecewakan kedua orang tuanya. Minri berdiri, dia membenarkan gaunnya lalu membungkuk singkat. Kemudian dia membawa langkahnya mengikuti Baekbeom sampai pada mobil putih milik pria itu.

 

“Santai saja,” ucap Baekbeom saat melihat Minri memandang lurus ke arah jalan. Mobil putih itu berjalan pelan menyusuri jalanan malam Seoul. Lampu-lampu jalanan serta pertokoan yang buka di malam hari membuat Seoul tampak terang dan ramai aktivitas.

Minri menoleh dan tersenyum canggung. Sejak mereka pergi dari restoran, tidak ada yang bicara dan itu membuat keadaan terasa kaku.

“Kita mau kemana Baekbeom-ssi?” tanya Minri.

“Seperti yang kukatakan tadi, kita akan berkeliling.” Baekbeom tersenyum, namun tidak menoleh pada Minri. Dia fokus pada jalanan yang mulai memadat. “Sebenarnya aku hanya ingin mengajakmu mengobrol. Tampaknya kau mengenal Baekhyun dengan baik.”

“Ka–kami hanya…”

“Apa pendapatmu tentang Baekhyun? Apa dia menjahilimu?” Baekbeom tertawa pelan.

“Terkadang, ya. Meskipun begitu, dia lelaki yang perhatian dan penyayang anak-anak.” Minri memandangi pertokoan yang mereka lewati. Dia tersenyum tipis memikirkan Baekhyun saat bersama Hansoo.

“Penyayang anak-anak?” Baekbeom mengerutkan keningnya. Seingatnya, Baekhyun adalah orang yang malas berurusan dengan anak kecil.

“Iya, ketika aku berada di Bucheon, Luhan-ssi menitipkan Hansoo pada kami.”

“Ah, Hansoo. Anak lucu itu. Aku merindukannya.”

“Akupun begitu.”

Baekbeom menepikan mobilnya di tepian sungai Han. Minri tidak menyangka mereka sudah sejauh itu berkeliling. Pria itu mematikan mesin mobil. Kemudian keluar. Minri mengikuti pria itu lalu berdiri di sampingnya. Kedua tangan Minri memegang pagar pembatas yang terasa dingin. Angin malam juga begitu dingin menyentuh kulitnya.

“Aku tidak menyangka kalau aku akan dijodohkan dengan gadis cantik sepertimu.”

“Eh?” Minri menoleh sesaat, lalu kembali memandangi sungai. Apa Baekbeom menyetujuinya? batin Minri. “Aku tidak pernah tahu bahwa orang tuaku mempunyai jalan pikiran seperti itu–menjodohkanku, mengambil kebebasanku…. Maaf.” Minri berdeham saat suaranya terdengar serak.

“Kau menerima perjodohan ini?” tanya Baekbeom.

“Maaf Baekbeom-ssi, maaf.” Minri memeluk dirinya sendiri. Kedua telapak tangannya menggosok lengan, menyalurkan kehangatan. Perlahan air mata mengaburkan pandangannya.

“Bicaralah pada kedua orang tuamu, buat mereka mengerti.” Baekbeom menepuk pelan bahu Minri, bersamaan dengan itu air mata menetes di pipi Minri. Baekbeom kembali menghampiri pintu mobilnya. Tangan kanannya sudah menggapai gagang pintu, namun suara Minri menginterupsinya.

“Tapi, Baekbeom-ssi…”

“Kau tidak perlu memikirkanku.” Baekbeom tidak pernah terlihat kecewa. Dia begitu tenang dan tidak terbaca. Minri semakin tidak mengerti harus berbuat apa.

***

Minri tidak bisa tidur nyenyak. Bayangan hitam tampak di bawah matanya. Dan ketika pagi menjelang Minri tidak bisa bicara satu katapun pada keluarganya. Di meja sarapan dia hanya diam sembari menunduk. Ibunya pun tidak mengajaknya bicara. Hingga akhirnya dia memutuskan pergi ke kampus lebih awal dengan hati yang masih terasa janggal.

***

Minri baru saja selesai dengan kelasnya. Dia berjalan beriringan dengan Sehun yang sejak tadi tersenyum seperti orang gila sembari memandangi layar ponselnya. Jika sedang berada di kampus, Minri tampak seperti tidak punya masalah apapun di rumahnya. Untuk hal semacam ini, dia begitu ahli menyembunyikannya.

“Semoga aku tidak tertular gila,” sindir Minri sembari menabrakkan tubuhnya pada Sehun, kemudian berjalan lebih cepat. Sehun mendesis kesal lalu menjitak kepala Minri. Sementara gadis itu melayangkan tatapan setajam laser pada Sehun. Tidak berpengaruh sama sekali, Sehun tidak akan ciut dengan wajah Minri.

“Siapa yang kaubilang gila?”

“Siapa lagi kalau bukan Oh Sehun yang berwajah datar sekarang tersenyum-senyum sendiri. Tidakkah itu gila? Memangnya apa yang membuatmu sebegitu bahagianya?”

“Aku sedang chat dengan Hana.”

“Benarkah?” Minri menoleh antusias pada Sehun. “Kau sedang melakukan pendekatan dengannya? Wah, kupikir kau tidak peduli. Dan aku tidak pernah mendengar dari mulutmu kalau kau tertarik pada gadis itu.” Minri membuka bungkusan snack di tangannya, kemudian memasukkan keripik kentang itu ke dalam mulutnya sampai penuh.

“Memangnya aku harus cerita padamu tentang hal ini? Lagi pula kau tidak pernah juga bercerita tentang percintaanmu dan kita impas, oke?”

Minri meneguk kunyahan keripik kentang, membersihkan tenggorokkan sebelum berkata, “Ya, kita impas.”

“Tapi, bolehkah aku bertanya nanti tentang lelaki yang di depan gerbang itu? Sejak tadi dia terus-terusan memperhatikanmu,” ucap Sehun dengan santainya.

Minri mengedarkan pandangannya ke depan gerbang. Tinggal beberapa langkah lagi dia akan mencapai gerbang itu namun Minri tampak membeku di tempatnya berdiri.

“Baekhyun….”

“Kau mengenalnya? Bagus. Aku tidak perlu khawatir kau akan menjadi korban kriminal sindikat perdagangan–eh, lagi pula wajah lelaki itu seperti bukan penjahat. Dan mana ada orang yang mau memperdagangkan gadis kurus sepertimu.”

“Diam kau Oh Sehun!”

“Oke, aku akan diam.” Sehun kembali meneruskan langkahnya, dan Minri tidak ingin berdiri konyol sendirian, maka dari itu dia berjalan di samping Sehun. Apakah dia harus menemui Baekhyun?

“Hai Hana,” panggil Sehun pada gadis yang berdiri beberapa meter dari mereka berdiri. Dia sontak melambaikan tangan dan tersenyum pada Sehun. Sepertinya sebentar lagi Minri akan–

“Aku duluan ya, bye.”

–ditinggal.

Minri tidak punya pilihan lain selain menghampiri Baekhyun, maka ketika jarak mereka semakin dekat Baekhyun mencekal pergelangan tangannya.

“Kau datang lagi.”

“Aku ingin bicara denganmu, tentang hal ini, untuk terakhir kalinya.”

Minri membiarkan Baekhyun menariknya pelan menuju mobilnya. Lalu dia duduk di bangku depan. Baekhyun menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, membawa mobilnya menyusuri jalanan selama sekitar sepuluh menit dan tidak ada yang bicara saat itu. Lalu Baekhyun menghentikan Porsche hitamnya di tepi taman.

“Aku tidak menyangka perjalanan cintaku sesulit ini, Baek.” Minri memulai pembicaraan.

“Tidak sesulit yang kau bayangkan. Aku punya berita bagus untukmu.”

Minri menoleh pada Baekhyun, dia memberanikan diri untuk menatap mata lelaki itu. “Berita bagus apa yang kau maksud? Pengunduran tanggal pernikahan? Atau kau ingin mengajakku melarikan diri–”

Baekhyun menarik Minri ke dalam pelukannya, membuat Minri tidak bisa melanjutkan bicaranya. Tubuh hangat Baekhyun menyatu dengannya, membawakan kenyamanan yang tidak terdefinisi, membuat Minri enggan untuk menjauh. Tapi sayangnya dia harus menjauh.

“Sudah berakhir. Tidak ada lagi perjodohan itu. Baekbeom Hyung telah menolaknya.” Baekhyun mengeratkan pelukannya. Tidak membiarkan Minri bergerak sedikitpun.

“Kenapa bisa….”

“Dia mengajakku bicara setelah kami tiba di rumah.” Perlahan Baekhyun melonggarkan pelukannya, lalu mulai bercerita.

Malam itu, Baekhyun baru saja memasuki kamar pribadinya. Tak lama setelah dia melepas tuxedo-nya, Baekbeom mengetuk pintu kamarnya yang sedikit terbuka.

“Masuklah Hyung,” ucap Baekhyun lalu membuka kancing kemejanya satu persatu lantas mengganti baju dengan kaos abu-abu longgar.

“Aku ingin bicara padamu.”

Baekbeom duduk di tepi ranjang Baekhyun, sementara Baekhyun menarik kursi meja belajarnya lalu duduk tanpa membalikkan kursi itu hingga dia bisa menyandarkan dagunya di kepala kursi.

“Bicaralah Hyung. Kita sudah lama tidak bertemu. Aku bisa melewatkan sepanjang malam denganmu untuk berbagi cerita,” ucap Baekhyun sembari tersenyum.

“Tentang makan malam tadi.”

Wajah Baekhyun berubah serius. Dia menegakkan duduknya.

“Aku tidak pernah bertemu dengan Park Minri sebelumnya. Tapi aku cukup menyadari bahwa dia tertarik padamu.”

“Gadis yang dijodohkan dengan Hyung–“ Baekhyun mengerutkan keningnya dalam. “A-apa yang Hyung maksud dengan tertarik padaku?”

“Kau menyukainya?” tanya Baekbeom.

Ng… aku, tidak tahu.”

“Kau tidak bisa berbohong padaku, Baek.” Baekbeom beranjak dari ranjang Baekhyun. Dia menepuk bahu adik lelaki-nya itu. Baekhyun tidak mengerti apa maksud Baekbeom membahas perihal perjodohan dan Minri. “Perjuangkan perasaanmu bersama gadis itu.”

“Hah? Tapi, Hyung,”

“Aku akan bicara pada ibu dan ayah. Aku akan menolak perjodohan ini.”

“Kenapa?”

“Kita punya seseorang yang kita cintai masing-masing, Baek. Kita tidak perlu memperebutkan gadis yang memang sudah mencintaimu lebih dulu.”

“Aku tidak mengerti.”

“Aku punya seorang gadis yang aku cintai.”

“Benarkah? Tapi kenapa Hyung mau saja dijodohkan?”

“Aku tidak bisa menghancurkan kebahagiaan ayah dan ibu begitu saja. Mereka begitu antusias saat membicarakan keluarga Park. Tapi sekarang aku percaya, kau bisa menggantikanku.”

“Terimakasih Hyung, kau memang terbaik.”

Ketika Baekhyun mengakhiri ceritanya, dia melihat Minri tampak membeku di kursinya. Gadis itu menautkan kedua tangannya. Kali ini Baekhyun bisa menyelimuti kepalan tangan itu dengan telapak tangannya yang hangat.

“Baek, aku….” Baekhyun menarik minri lagi ke dalam pelukannya.

“Bagaimana perasaanmu terhadapku, Minri-ya?” bisik Baekhyun.

Minri menarik nafas pelan, lalu menyentuhkan hidungnya ke bahu lelaki itu. Dia melingkarkan kedua tangannya di punggung Baekhyun, membuat lelaki itu tersenyum dibalik punggung Minri.

“Aku sayang…padamu. Tapi–” Minri memundurkan tubuhnya, lalu memindah kepalanya ke dada lelaki itu. “Terlalu takut untuk mengharapkan kita bisa bersatu. Aku takut membuat hatiku semakin sakit jika hal itu tidak terwujud.”

“Jadi, kau menerimaku?” tanya Baekhyun, lalu melepaskan pelukan mereka berdua. Dia menatap mata gadis itu, kali ini Baekhyun melihat pancaran kebahagiaan dari sana.

“Kau tidak meminta apapun tadi.”

Baekhyun tetawa pelan sembari mengacak rambut Minri. “Baiklah, sekarang aku ingin bertanya, maukah kau jadi kekasihku, Nona Park?”

Eum…” Minri menggerakkan bola matanya ke kiri dan kanan, berlagak sedang berpikir keras, membuat Baekhyun sedikit kehilangan kesabaran hingga dia memegangi pipi Minri dan memberikan kecupan kejut.

“YAK!” Minri menutup mulutnya, dengan pipi merona merah.

“Jawabanmu?”

“Ya Baekhyun, tentu saja. Kau sudah mencuri hatiku sejak awal. Puas kau?”

“Tidak.”

Baekhyun menarik tubuh Minri, membawa mereka berdua ke dalam ciuman lembut dan menuntut. Dengan bibir yang saling bertautan dan mata terpejam, Minri bisa merasakan betapa lembut tekstur bibir Baekhyun. Pertama kali dalam hidupnya Minri merasa begitu bahagia. Kupu-kupu terasa menggelitik dalam perutnya. Ciuman itu berakhir ketika Baekhyun melepaskan tautan bibirnya, lalu mengecup permukaan bibir gadis itu.

“Aku sayang padamu.”

“Akupun begitu, Baek.”

***

Minri dan Baekhyun memutuskan untuk pergi ke kafe. Suara perut lapar dari Minri membuat Baekhyun tidak tahan jika membiarkan gadis itu pulang begitu saja tanpa memberinya makan. Baekhyun sempat menggelitik perut Minri dan berkata ‘mengapa kau terus berbunyi di depanku, perut…’ dan itu sontak membuat Minri tertawa lepas. Baekhyun mengajak perutnya bicara, bukankah itu terlihat menggemaskan?

Gadis itu sempat memukul tangan Baekhyun. Siapa yang tahan kalau perutnya digelitik seperti itu? Dan saat itu juga Minri melakukan pembalasan lebih kejam, gadis itu menarik rambut Baekhyun sebagai sentuhan terakhir. Tawa memenuhi mobil itu. Mereka akhirnya berangkat ke kafe sepuluh menit kemudian.

Baekhyun membukakan pintu kafe lalu masuk, Minri mengekorinya di belakang. Tangan mereka bertaut satu sama lain. Hal itu mengalirkan kehangatan tersendiri untuk Minri. Mereka mengambil tempat duduk di tengah karena semua pojok telah terisi penuh. Dia malas kalau orang-orang melihat padanya.

Mereka duduk berseberangan. Wajah tenggelam dalam buku menu, sekitar lima menit barulah mereka selesai memilih. Baekhyun memutuskan untuk memesan jajangmyeon, cola dan pudding stroberi. Minri memesan pesanan yang sama namun dia memilih rasa coklat untuk puddingnya.

Selama menunggu makanan mereka dibuat, Minri dan Baekhyun mengobrol. Baekhyun bilang dia sudah selesai dengan penelitiannya. Tersisa menunggu sidang. Minri mengepalkan tangannya pada Baekhyun untuk memberi semangat. Baekhyun malah menarik genggaman tangan gadis itu lantas mengecupnya, membuat Minri menarik kembali dengan wajah malu.

“Dasar cheesy.”

Dan Baekhyun tidak malu untuk melakukannya lagi, meskipun beberapa orang tengah melihat ke arah mereka.

Pesanan mereka tiba sepuluh menit kemudian. Asap mengepul dari atas mangkuk, membuat aromanya menguar. Minri tidak sabar ingin segera memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya.

“Selamat makan!” seru Minri, kemudian mulai makan dengan tenang.

Baekhyun berdecak pelan sembari menggeleng. Gadis itu tidak tahu bahwa saus mengenai sudut bibirnya dan itu membuat wajahnya tampak lucu. Baekhyun mengambilkan tisu dan menyerahkannya pada Minri.

“Nanti saja,” komentar gadis itu.

“Kau seperti anak kecil, tahu.” Baekhyun akhirnya memajukan tubuhnya dan mengelap sudut bibir Minri. Namun gadis itu tampak tidak terganggu. Dia tetap meneruskan makannya.

“Aku lapar, Baek.” Minri mendongakkan kepalanya untuk menarik nafas, lalu menghabiskan makanannya sampai mangkuk itu kosong. “Aaah! Enak sekali,” ucap Minri sembari memegangi pipinya dengan kedua tangan.

Baekhyun makan dengan pelan. Dia sudah menghabiskan dua per tiga isi mangkuknya, sementara Minri sekarang telah beralih pada pudding coklatnya.

“Hei, Minri.”

Minri mendongak saat sebuah suara yang dia kenali sebagai suara Sehun memanggilnya dalam jarak dekat. Benar saja, Sehun –bersama Hana –berdiri di belakang Baekhyun. Dan Baekhyun perlu memutar badannya untuk melihat orang yang memanggil Minri.

“Hai,” sapa Minri balik. Dia berhenti makan.

“Oh, kau lelaki yang tadi di depan pintu gerbang,” ucap Sehun sembari mengulurkan tangan. “Namaku Oh Sehun. Dan ini kekasihku, Lee Hana.”

What?!” Minri memekik dari meja seberang, namun dia segera mengendalikan dirinya.

“Aku Byun Baekhyun, eum…” Baekhyun melirik ke arah Minri. “Kekasih Minri.”

Minri baru saja meneguk cola-nya, sontak tersedak. Bukan tidak senang atau apa, hanya saja kalimat itu terasa asing dan menggelitik di telinganya.

“Kami ke sana ya. Selamat makan.” Sehun dan Hana berlalu, mereka mengambil tempat yang cukup jauh dari Minri.

Minri segera mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan pada Sehun. Jari-jarinya menari secepat kilat sebelum dia menekan tombol ‘send’.

To : Bubble Sehun.

Kalian sungguh berkencan? Kupikir kalian baru saja saling kenal.–ah ku ucapkan selamat ya. Longlast!

Sekitar lima menit kemudian Minri mendapatkan balasan.

Kau juga. Selamat! Soal Hana, sebenarnya –aku bersumpah ini lucu sekali! Kami sudah lama saling memperhatikan diam-diam. kalau begini artinya kami sudah tau sifat masing-masing ‘kan? Jadi, langsung saja aku ajak dia berkencan.

Minri sempat memekik, lalu membalas lagi.

What?! Astaga.

Satu lagi balasan dari Sehun.

Kusarankan kau untuk segera melepas ponselmu, pacarmu memandangimu sejak tadi.

“Huh?” Minri mendongakkan kepalanya dan mendapati Baekhyun menatapnya dengan pandangan menintimidasi. Minri memberikan sebuah cengiran ditambah dengan ucapan minta maaf.

Baekhyun memaafkannya dengan sebuah senyuman manis. Sesederhana itu. Minta maaf dan memaafkan bisa menjadi salah satu sumber kebahagiaan.

***

Baekhyun mengantarkan Minri pulang setelah sebelumnya menghabiskan waktu selama dua jam lebih untuk makan dan mengobrol di kafe. Porsche hitam milik Baekhyun memasuki area halaman rumah Minri dengan kecepatan pelan. Sebenarnya Baekhyun ingin menghabiskan waktu lebih lama, tapi sayangnya dia harus pulang sekarang.

Mobil berhenti tepat di depan teras rumah. Minri membuka sabuk pengaman. Tidak ada kerusakan pada sabuk pengaman itu berarti Baekhyun sudah memperbaikinya. Gadis itu belum ingin turun dari mobil meskipun Baekhyun sudah mematikan mesin mobilnya.

“Minri-ya,” panggil Baekhyun.

Minri menoleh tanpa bertanya lanjut. Dengan begitupun Baekhyun tahu kalau gadis itu tengah memusatkan perhatian padanya.

“Aku menemukan objek yang paling indah untuk selalu ku abadikan dalam kameraku.”

“Benarkah?” Minri mengerutkan kening. “Kau tidak pernah menunjukkannya padaku. Jahat sekali.”

“Aku tidak perlu menunjukkannya padamu, karena setiap kali kau bercermin, kau akan menemukan objek itu.” Baekhyun tersenyum sembari mengusap pipi Minri. Lagi-lagi merona merah.

“Baek!” Minri memukul pelan paha Baekhyun. Dia baru saja dirayu, dia tahu itu. Minri berangsur mendekat. Baekhyun merasa tercekat saat gadis itu mendekatkan wajahnya, lalu mendaratkan bibirnya ke pipi Baekhyun. “Terimakasih.”

Minri segera keluar dari mobil itu. Dia melambaikan tangannya dengan riang. Mobil hitam itu melesat pelan ke luar gerbang sampai akhirnya hilang di belokan jalan.

Minri masuk ke dalam rumahnya. Langkahnya terhenti di ruang tengah saat dia menemukan ibunya tengah merajut syal. Wanita itu mengerjakannya sudah sejak berbulan-bulan lalu. Minri lah yang minta dibuatkan oleh ibunya.

Mom,” Minri menghampiri wanita itu lalu memeluknya. Wanita itu meletakkan benang wol dan syal setengah jadi itu di atas meja. “Maafkan aku. Aku sudah bersikap tidak baik kemarin.”

Nyonya Park membalas pelukan Minri dan mengusap punggung anaknya dengan sayang. Bahkan ketika Minri melawan ibunya, wanita itu tetap memberikan pelukan hangat padanya, memberikan kasih sayang tiada tara. Ugh, tiba-tiba Minri ingin menangis.

“Ibu mengerti perasaanmu, Nak. Kami tidak akan memaksamu melakukan hal yang tidak kau inginkan. Perjodohan itu sudah dibatalkan dengan berbagai pertimbangan.”

Mom memang yang terbaik!” Minri mencium pipi ibunya, lalu mengambil syal di atas meja. Sedikit lagi syal itu akan menjadi utuh.

“Kau tampak berseri-seri. Coba ceritakan pada Eomma apa yang membuatmu begitu bahagia hari ini?”

Mom, aku baru saja mendapatkan seorang kekasih.” Minri menunduk seraya menggulung benang di jari telunjuknya.

Nyonya Park mengacak rambut Minri pelan. “Anak Eomma sudah dewasa.”

“Namanya Baekhyun.”

Nyonya Park menghentikan pergerakkan tangannya. Matanya membulat kaget. Wanita itu tentu tidak asing dengan nama yang disebutkan Minri, tapi kenapa? Dan apa Baekhyun yang Minri maksud adalah Baekhyun yang berasal dari keluarga Byun?

“Byun Baekhyun.”

Hati ibunya mencelos. Minri menceritakan semua alasan mengapa dia menolak untuk dijodohkan. Dan ibunya mengerti. Minri telah jatuh cinta pada Baekhyun, jauh sebelum dia diperkenalkan dengan Baekbeom.

***

Minri baru selesai mandi, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Nama Baekhyun terpampang di layar. Dengan segera dia mengangkat telpon itu.

“Halo?”

Sedang apa?” tanya Baekhyun dengan suara letih.

“Baru saja selesai mandi.” Minri menggosok-gosok rambutnya menggunakan handuk, kemudian menghempaskan tubuh ke kasur.

Oh, pantas saja aku mencium aroma stroberi.”

“Disaat lelah begitu masih bisa merayuku, ck. Kau baru saja tiba ‘kan?”

Terdengar tawa lembut dari Baekhyun membuat Minri tidak bisa menahan senyumnya.

Ya, aku baru tiba. Dan aku tidak lelah untuk menghubungimu. Kenyataan bahwa kau adalah kekasihku membuatku begitu bersemangat.” Ada jeda beberapa saat. “Apakah besok kau ada kuliah?”

“Tidak, memangnya kenapa?”

Kalau begitu kau bisa ke Bucheon ‘kan? Aku akan menjemputmu.”

“Benarkah? Ah, aku merindukan tempat itu.”

Bagaimana denganku?”

“Kita baru bertemu beberapa jam yang lalu.”

Benar juga. Tapi aku sudah merindukanmu~” nada bicara lelaki itu terdengar manja, menggelitik indera pendengarannya.

“Astaga Baek! Well, sekarang kau harus tidur.”

Selamat malam, mimpikan aku. Aku sayang padamu.”

“Selamat malam. Aku juga sayang padamu, Baek.”

***TBC***

HAAAIII!! Aku kembali ^o^/ maaf sedikit lebih lama. Aku tau kalo aku bilang ‘sibuk’ itu alesan klasik, tapi ya ini beneran:/ aku udah semester 7 menn. Lagi sibuk-sibuknya PPL, ngajar ke sekolah. –udah deh curhatnya-_-

Seperti biasa, jangan panggil ‘THOR’ aku punya nama, namaku Rima. Terserah mau panggil kak, eonni, adik, dongsaeng, dsb.

DAAAN YANG GAK KALAH PENTING, ini udah part 6, berarti part depan END dong yaaaa. Hayoo yg penasaran tunjuk tangan~ /ga/

As always, sorry for typo. Thanks for read. Keep support and love us!!

SEE YOU NEXT PART!!

©Charismagirl, 2014.

 

282 thoughts on “We’ve Fallen in Love – Part 6

  1. Sempet kesel sih sama orang tua Baek sama Minri, karena maksain buat ngejodohin Minri sama Baekbom. Tapi akhirnya orang tuanya ngertiin mereka

    aku sukaa banget sama cerita ini konfliknya ga panjang, dan ga rumit jadi slow bacanya juga♥♥♥♥

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s