Diposkan pada Fanfiction

Devil (1/3)

Untitled-i

Devil (1/3)

Starring by :

❤ XI LUHAN | SHIN NAOMI ❤

Author :

Byun Deer Kookiary

Genre :

Romance ? and School life

Length :

ThreeShot

!! PG 17 !!

SORRY FOR TYPO ^_^

Before : Teaser and Talk

Now : Chapter 1

Let’s start here :

❤ Truth Or Dare ❤

Hari ini hari Senin. Hampir seluruh mata pelajaran pokok disuapkan para guru pada siswa – siswanya. Tak terkecuali Naomi. bahkan sebelum kelas dimulaipun gadis itu telah lebih dulu meracau tentang nasibnya beberapa jam ke depan. Ingin sekali rasanya bagi gadis itu untuk membolos. Tapi, ia sendiri tak tau ingin kemana setelah membolos. Pulang ke rumah akan membuat dirinya berada pada keadaan genting. Bermain ke café ataupun tempat bermain online akan membuatnya ditangkap oleh polisi sekolah. Menguntit idolanya ? tidak, tidak mungkin. Karna Choi Minho –penyanyi yang menjadi idola Naomi tidak memiliki jadwal apapun hari ini. Jadi, gadis itu memutuskan untuk berdiam di kelas dan mendengarkan apapun yang dilontarkan para guru, walaupun ia sendiri tak tau apa maksud dan tujuan dari semua tuturan para guru itu.

“apa dia tidak lelah ? mengoceh tanpa henti sejak kelas dimulai. Heol~ mungkin baterainya baru saja di charge.” Naomi kembali meracau ketika guru Kang asik bercerita tentang entahlah, Naomi sendiri tak tau apa yang wanita lajang itu katakan. Ia kemudian melirik kearah lapangan bola. Kosong, tak ada siapapun. Oh tentu saja begitu. Sekolahnya memiliki rutinitas untuk tidak mengadakan jam pelajaran olah raga di hari senin. Alasannya ? entahlah, mungkin kepala sekolah ingin terlihat beda dari yang lain.

“Hei, nona Shin. Apa kau bisa menjelaskan tentang hukum newton ?” Naomi yang sedang asik menatap lapangan bola terkejut ketika namanya dipanggil. Ia menoleh kearah guru Kang dan sekarang semua perhatian kelas tertuju padanya. Gadis itu kemudian menggeleng dengan wajah tak berdosanya. Guru Kang mengerang frustasi, ia tak tau lagi apa yang harus dilakukan untuk membuat Naomi fokus padanya.

“temui aku sepulang sekolah. Apapun alasanmu, kalau kau tak datang maka orang tuamu yang akan kupanggil. Mengerti ?” mulut Naomi terbuka sedikit ketika mendengar ancaman guru Kang. Jika disuruh untuk memilih salah satu, Naomi pasti akan memilih untuk tak datang. Tapi, orang tua yang ke sekolah ? bisa – bisa ia akan mendapat masalah yang lebih besar nantinya. Mengingat ancaman ayahnya beberapa hari yang lalu. pria berumur itu tak mau ikut campur dengan Naomi. mau putrinya pergi dari rumah, membolos, membuat onar ataupun mati sekalipun, ayahnya tetap tak mau ikut campur sebelum semua nilai Naomi naik.

“baiklah, apapun katamu” Naomi memutar manik mata hitamnya bosan.

❤ ❤ ❤

“Lihatlah ! kau menjadi lubang hitam sekolah kita.” Guru Kang melempar beberapa kertas hingga membentuk sebuah tumpukan yang menggunung. Naomi yang tau isi dari semua kertas itu hanya bersikap biasa seraya menatap guru Kang santai. Kesan takut bahkan tak ia perlihatkan ketika guru Kang marah – marah padanya. Padahal setiap guru yang ada di ruangan itu menatap ngeri kearah guru Kang.

“aku hanya melakukan apa yang ingin kulakukan. Bukan apa yang kubutuhkan.” Naomi balas dengan nada mengejek. Ia tau catatan sikap buruknya sudah lewat batas. Tapi tetap saja, seberapapun skornya ia tidak akan dikeluarkan. Toh, sekolahnya tidak akan mengeluarkan siswa kelas 3 atau 12. Sungguh keuntungan yang luar biasa bukan ?

“KAU—” Guru Kang menunjuk Naomi geram. Sementara yang ditunjuk malah tersenyum melihat telunjuk guru Kang yang mengarah padanya. Astaga, gadis itu bahkan tak memiliki kelemahan apapun kecuali orang tuanya. Sungguh sulit menyuruhnya untuk sekedar membaca, bahkan membuat tugas rumahpun ia tak pernah. Padahal ujian masuk Universitas akan diadakan lebih kurang 2 bulan lagi.

“permisi.” Suara lembut milik seorang siswa membuat guru Kang berhenti memarahi Naomi sejenak. Wanita itu kemudian menoleh kesamping dan mendapati siswa terpintar berdiri disana dengan tumpukan buku di tangannya. Naomi yang belum pernah sekalipun bertemu dengan siswa terpintar hanya menatap heran pemuda itu. ia tak habis pikir, apa pemuda itu bisa melihat dengan ketebalan kaca mata yang luar biasa seperti itu ? gadis itu kemudian menggeleng kasihan.

“Xi Luhan, apa yang sedang kau lakukan ?” guru Kang mengubah intonasi bicaranya yang keras menjadi lebih lembut. Pemuda yang ada di hadapannya mengangguk singkat lalu kembali memulai ucapannya.

“apa ibu masih memiliki brosur tentang universitas jurusan administrasi negara yang ada di daerah gwangju ? teman sekelasku berminat untuk melanjutkan kesana.” Naomi menatap sengit kearah pemuda bernama Luhan itu. ia terlihat sangat tenang dan berwibawa dalam berbicara. Tapi, menurut pandangan Naomi. cara bicara Luhan terdengar sok dan mengada – ada. Tanpa disangka, Luhan juga ikut menatap Naomi. tatapannya itu, terlihat berbeda dan liar bahkan jauh dari kata tenang. Lebih tepatnya, Luhan yang ia lihat sekarang ini bukanlah Luhan yang sebenarnya.

“ini.” Guru Kang memberikan apa yang Luhan minta.

“terima kasih bu.” Luhan menunduk sedikit sebelum beranjak dari hadapan guru kang dan juga Naomi. tapi, sebelum pemuda itu pergi. guru Kang telah lebih dulu mencegatnya. Sebuah lampu terang muncul diatas kepalanya.

“tunggu, Xi Luhan. Apa kau bisa membantuku ?” Luhan berbalik dan menatap guru Kang dengan senyum tipis tertempel di wajahnya. Ada perasaan aneh yang hinggap di hati Naomi. sepertinya akan terjadi sesuatu yang tak biasa setelah ini.

“ya ?”

“hingga ujian masuk Universitas di selenggarakan, apa kau bisa mengajari gadis ini ?” Naomi membelalakkan matanya ketika guru Kang kembali menunjuknya. Ternyata apa yang ia rasakan benar adanya. Sungguh, jika saja guru Kang bukan gurunya ia pasti akan mencekik wanita tak laku itu.

“ibu gila ? belajar dengannya sama saja dengan mendorongku ke dalam kuali besar yang penuh dengan kuah sup menggelegak.” Naomi menatap sengit kearah Luhan dan ia juga tak menyangka jika Luhan membalas tatapannya dibalik kaca mata tebal itu. ada sedikit getaran di dadanya ketika melihat kilatan di mata Luhan. Sepertinya Luhan memang memiliki sesuatu yang belum ia perlihatkan hingga saat ini.

Guru Kang tersenyum penuh kemenangan. “setidaknya aku melihat kelemahanmu sekarang.” Naomi menatap geram kearah guru Kang. Ia menarik rambutnya kuat – kuat sekedar untuk mengaplikasikan ke geramannya.

“kurasa, kita bisa memulainya dengan segera mungkin.” Luhan kembali tersenyum. Ia senang jika harus mengajar Naomi. namun gadis itu malah menatap Luhan sengit. tapi, tidakkah Naomi tau akan bahaya yang sedang mengintainya ? gadis itu memang terlihat kuat sekarang. namun, bagaimana jika dengan Luhan ? akankah kadar kekuatannya bisa menyamai kekuatan seorang pemuda yang sedang—-

❤ ❤ ❤

Warna langit yang semula terang, kini telah berganti gelap dan hiasannya yang bertaburan membuat kesan cantiknya sulit sekali dihindarkan. Dari semua hiasan itu, ada satu yang bercahaya paling terang dan juga besar. Ia menyendiri dan tampak berbeda dengan yang lainnya. Tapi, seindah apapun langit malam ini tak akan membuat Naomi senang. Ia bersama beberapa temannya harus mengikuti kelas tambahan guna untuk meningkatkan nilainya yang anjlok bak perosotan anak taman kanak – kanak.

Sedari tadi Naomi selalu saja memainkan bibirnya. Ia mengumpat, merutuk bahkan menyumpahi guru Seul Bi yang asik menerangkan rumus – rumus fisika yang bentuknya saja tidak bisa Naomi ingat. Ada yang lengkung, lurus dan berkelok. Semuanya terlihat sama tetapi memiliki perbedaan dalam penggunaannya. Oh astaga, apa ini yang disebut neraka dunia ?

Naomi jengah. Benar – benar jengah. Ia tak tau jika kelas tambahan terasa begitu membosankan atau bahkan semengerikan ini. Jika dihitung – hitung, sudah lebih dari 3 jam guru Seul Bi berada di depan kelas. Tapi, kenapa dia belum berhenti mengoceh juga ? tidakkah ia tau, bahwa disini ada seorang gadis yang memiliki jadwal padat ? Naomi menghela napasnya cukup kasar. Membuat bunyi kecil yang mampu menarik perhatian teman kelas tambahannya.

‘apa yang mereka lihat ?’ Naomi menatap nanar semua teman kelas tambahannya termasuk guru Seul Bi ketika bertemu pandang dengannya. Entah kenapa, tapi tatapan Naomi terlihat mengerikan dan membuat semua orang di ruang kelas itu kembali asik dengan kegiatan sebelumnya. Melihat semua telah kembali normal. Naomi memutar bola mata hitamnya kesal.

“baiklah siswa sekalian, saya rasa materinya cukup sampai disini. Jangan lupa untuk mengulanginya di rumah dan jika masih ada yang belum jelas, kalian bisa menghubungi saya. Mengerti ?” semua siswa kompak mengatakan mengerti. Guru Seul Bi lantas pamit dan para siswa juga ikut keluar dari ruang kelas itu satu per satu. Raut ceria tercetak di wajah masing – masing siswa. Tapi tidak dengan Naomi dan beberapa temannya yang lain. Raut wajahnya masih saja masam seperti sebelumnya karena ia beserta beberapa temannya diberi tugas untuk membersihkan ruang kelas tambahan. Heol~ padahal jam dinding hampir menunjuk angka 9. Ini sungguh keterlaluan.

Tok Tok Tok

Naomi yang kala itu sedang menggeser meja langsung menoleh kearah pintu. Mulutnya sedikit terbuka ketika melihat pria itu disana. Pria yang beberapa jam lalu ditawari untuk menjadi tutornya dalam belajar. Jadi, apa yang pria itu lakukan di depan kelas tambahan ? pikir Naomi. karena tak ingin di sebut sebagai gadis yang tanpa pikir panjang, Naomi memutuskan untuk mengabaikan pria itu. ia kembali larut dengan tugas bersih – bersihnya.

Tapi, Hei— tetap saja ujung matanya melirik kearah pria berkaca mata yang bersender di pintu itu. dan tak berapa lama kemudian, salah satu teman kelas tambahannya yang juga sedang bersih – bersih memberanikan diri untuk mendekati pria itu.

“Xi Lu—han ?” siswi yang mendekati Luhan bertanya dengan terbata. Naomi yang kala itu sedang asik dengan sapu, hanya mendengar. Ia tak mau menoleh ataupun sekedar melihat. Mungkin saja pria itu sedang menunggu seseorang dan yang pasti seseorang itu bukan Naomi. jadi, untuk apa ia memperhatikannya ? jika saja yang ada di depan pintu itu Minho, tanpa segan Naomi pasti menghampiri dan memeluknya. Terlihat murahan memang, tapi itulah impian Naomi. bisa menyentuh bahkan berpelukan. Kadang ia juga berandai – andai bagaimana rasa bibir seorang Minho.

“ah ya. Apa kau bisa memanggil siswa bernama Shin Naomi ? aku memiliki sedikit urusan dengannya.” Mata Naomi melebar seketika. Apa pendengarannya masih normal ? kenapa Luhan mencarinya ? tapi tetap saja, gadis itu berpura – pura tak mendengar hingga akhirnya seorang siswi datang menepuk bahunya pelan.

“Naomi, ada yang mencarimu.” Gadis itu berkata. Lantas Naomi menegakkan kepalanya dan menatap siswi yang memanggilnya seraya mengangguk pelan seakan bertanya ‘siapa ?

“itu, dia menunggumu di depan.” Siswi itu menunjuk kearah luar kelas. Naomi menghela napas. Sebelum menghampiri Luhan, ia memberikan sapu yang ia pegang kepada siswi yang memanggilnya. Siswi yang diberikan sapu oleh Naomi menggerutu pelan. Sementara gadis yang memberikan sapu langsung saja berjalan menuju depan kelas tambahan.

“ada apa kau mencariku ?” Naomi mendapati Luhan sedang bersender di dinding kelas tambahannya. Pria berkaca mata itu lalu menoleh dan menjauhkan punggungnya dari dinding. ia menatap Naomi dari atas hingga ke bawah, seperti menelaah sesuatu. Hingga akhirnya ia bersuara “kau, Shin Naomi ?” tanyanya dan Naomi mengangguk mantap dengan tang yang dilipat di bawah dada. Ia menatap Luhan malas.

“apa kau masih lama ? kita harus memulai materinya segera mungkin.” Dahi Naomi mengernyit hingga membentuk deretan pegunungan. Apa yang pria berkaca mata ini katakan ? memulai materi segera mungkin ? heol~ apa dia ingin memulainya malam ini ? tidakkah sekarang sudah terlalu larut ?

Naomi menaikkan salah satu alisnya. “kau ingin memulainya sekarang ? maksudku, setelah tugas bersih – bersih ini selesai ?” dengan nada malas Naomi bertanya.

“bukankah sudah kukatakan, kita bisa memulainya dengan segera mungkin.” Pria itu tersenyum dan sungguh, senyuman itu lebih mendekat kearah seringaian atau ini memang ilusi Naomi semata karena penerangan yang kala itu sedikit tidak mendukung.

“tapi, aku baru saja menyelesaikan kelas tambahan. Kau pikir aku seorang Einstein yang memiliki IQ diluar batas hingga mampu bertahan belajar selama lebih dari 12 jam nonstop ? kau pasti ingin memasukkanku ke dalam rumah sakit jiwa.” Naomi mengerutu dengan wajah kesal. Raut wajahnya benar – benar berada di bawah standard sekarang.

“benar, aku lupa memberi tahumu. Seharusnya kau tidak mengikuti kelas tambahan lagi. secara khusus, guru Kang memberikanku wewenang untuk mengambil jam kelas tambahanmu dan” Luhan menjeda perkataannya sejenak, ia kemudian mengeluarkan selembar kertas dari tas punggungnya. “kau harus mengisi absensi ini. Kalau tidak, kau dianggap bolos dalam kelas tambahanmu dan membolos 3 kali akan membuat orang tuamu dipanggil. Lihatlah, tanggal hari ini sudah tercantum disana.” Luhan memberikan surat absensi itu pada Naomi.

Naomi kemudian menelaah surat itu dengan teliti. Ia memicingkan sedikit matanya untuk memastikan rentetan kata – kata yang tertulis di atas kertas itu. SIAL! Penerangan benar – benar membuat Naomi marah sekarang, matanya tak mampu melihat huruf apa saja yang tertulis disana hingga akhirnya ada sebuah cahaya berwarna putih bersinar di atas kertas itu.

Gadis itu lantas mendongak dan astaga. Sumpah demi apapun, sejak kapan Luhan berada tepat didepannya dengan layar ponsel yang mengarah ke kertas absensi ? jarak ini berbahaya, sungguh berbahaya. Naomi kemudian mundur dua langkah. “a—aku akan membacanya dikelas. Kau tetap disana.” Naomi memperingati dengan terbata dan setelahnya ia masuk ke dalam kelas tanpa melihat Luhan sedikitpun.

Setibanya di kelas, Naomi langsung membaca isi kertas itu dan gotcha! Benar apa yang Luhan katakan. Kertas ini merupakan surat absensi. Gadis itu kemudian di dekati oleh beberapa siswi yang memiliki tugas bersih – bersih sama dengannya. Ada yang terkesan dan ada juga yang kesal. Naomi yang resah dengan reaksi teman kelas tambahannya kemudian mendongak dan menatap semua siswi itu tajam. Tatapan yang sukses dan membuat semua siswi menjauh darinya.

“kami sudah membersihkan semuanya, termasuk tugasmu. Sampai jumpa besok Naomi.” semua siswi yang ketakutan keluar dari kelas secara bergantian. Naomi yang sebenarnya hanya merasa risih –tidak lebih menatap semua siswi itu seraya melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan. Apa tatapanku begitu menakutkan ? Tanya Naomi pada dirinya sendiri.

“Bagaimana ?”

“Bagaimana apanya ?”

Naomi menatap Luhan malas. Kenapa pria itu masih saja berada disini ? apa tugasnya sebagai tutor sebegitu penting hingga ia harus menyusul Naomi ke kelas tambahannya ? Arggghh~ guru Kang sungguh mempersulit keadaan. Punya kesalahan sebesar apa Naomi hingga diberi tutor segigih ini ?

“belajar tentu saja. Kau pikir aku akan mengajakmu ke club malam ?”

Naomi mengangkat sebelah bibirnya. Sedikit mencemooh dengan apa yang Luhan katakan. Guyonan yang garing di tambah raut wajah yang tegas. Naomi telah melabelkan pria itu sebagai seorang comedian yang gagal.

“Haha~” Naomi membuat tawa yang dibuat – buat. “jika aku boleh memilih. Membolos 1 kali tidak apa – apa, bukan ?” Naomi memberikan surat absensi pada Luhan. Gadis itu kemudian berjalan menuju tasnya yang disampirkan pada salah satu meja. Tanpa melirik, ia meninggalkan Luhan yang masih diam dengan surat absensi di tangan. Rasa senang menyelimuti hati Naomi ketika berhasil meninggalkan Luhan. Well, setidaknya impiannya yang ingin tidur lebih awal malam ini akan terkabul.

“kau ingin pulang ?” Naomi tersentak kaget. Bagaimana bisa pria itu berada di belakangnya sementara beberapa saat lalu ia masih terdiam di kelas. Tapi, Naomi berusaha bersikap senormal mungkin dengan berjalan seperti biasa. Tanpa berbalik, ia menjawab. “ya!”

“kemana ?”

“rumahku tentu saja. Akan terdengar menggelikan jika aku pulang ke rumahmu.” Naomi berusaha mempercepat langkahnya. tapi, mana mungkin ia bisa berada jauh dari pria itu dengan langkah kaki yang tak sebanding dengan seorang pria. Aish~ menyebalkan

“Ah iya, aku juga lupa memberitahumu. Tuan Shin hanya memperbolehkanmu pulang jika diantarkan olehku dan ia bersumpah akan menutup pintu rumah rapat – rapat jika kau pulang sendirian.”SIAL! SIAL! SIAL! Naomi yang kadar kekesalannya sudah sampai ubun – ubun langsung menghentikan langkahnya. ia berbalik dan menatap Luhan marah. Jika saja Luhan seekor semut, Naomi pasti akan menginjaknya sekuat tenaga. Punya kekuatan apa pria itu hingga bisa memperngaruhi ayahnya yang keras kepala itu ?

“Kau… ARGGHHH!!” Naomi menggeram. Mencengkram rambutnya kuat – kuat. Ia benar – benar tidak tahu harus berbuat apalagi untuk melarikan diri dari Luhan.

“tetap membolos, hmm ?”

Walaupun kesal, tapi setidaknya inilah jalan terbaik yang harus di tempuh. Naomi menutup matanya sesaat sebelum melontarkan jawabannya. “awas saja jika kau tak mengantarku pulang.” Ia menunjuk Luhan seraya memicingkan matanya.

“tanggung jawab tidak boleh di selewengkan.” Naomi mengangguk singkat dengan jawaban Luhan.

“ayo.” Luhan berbalik dan mulai merajut langkah menuju gedung Cheonsa High School. Naomi yang memang tidak suka dengan keadaan sekolah di malam hari, ditambah hanya dia dan Luhanlah penghuni sekolah itu sekarang ini. Bukan penakut, tapi Naomi tak ingin bertemu makhluk kasat mata saat berada di sekolah itu nantinya.sr

“kenapa ?” Tanya Luhan yang tak mendengar derap langkah di belakangnya seraya berbalik. Ia menatap Naomi aneh yang masih saja diam di tempatnya semula. Ada yang tak beres dengan gadis itu. ia lalu kembali kearah Naomi.

“apa kita bisa mencari alternatif tempat belajar yang lain ? aku tidak suka keadaan sekolah di malam hari. Terlalu mencekam dan menakutkan.” Luhan menaikkan sebelah alisnya. Ia tak menyangka jika gadis keras kepala seperti Naomi bisa takut dengan makhluk – makhluk seperti itu. bukannya sok berani atau apa, tapi Luhan memang tak percaya dengan pemikiran seperti itu. sejak kecil ia sudah diajarkan untuk tidak percaya pada makhluk kasat mata.

“di rumahku ?” itu asumsi Luhan. Naomi tercengang mendengarnya.

“kau pasti bercanda. Bisa – bisa ibumu heran jika kau ketauan membawa seorang gadis ke rumah, pada malam hari seperti ini.” Di balik kacamatanya, Luhan memutar bola matanya bosan. Tapi, Naomi tak melihatnya dan itu dikarenakan lagi – lagi oleh pencahayaan yang minim.

“aku tinggal terpisah dengan ibu dan ayahku. Mereka di China. Mengurus salah satu cabang perusahaan yang hampir bangkrut.” Naomi ber-Oh ria. Keadaan hening tercipta selama beberapa saat. Keduanya sama – sama tak tau ingin berkata – kata seperti apa lagi. hingga akhirnya Naomi buka suara. “kau janji tidak akan berbuat yang macam – macam, bukan ?”

“jika kau baik, akan kubalas juga dengan kebaikan.” Naomi mengangguk dan kemudian Luhan menggenggam tangan Naomi. membawa gadis itu menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari gerbang Cheonsa High School. Satu hal yang janggal dari tingkah Luhan. Tolong di garis bawahi, Pria itu menggenggam, MENGGENGGAM, MENG-GENG-GAM tangan Naomi dan jika boleh jujur, baru kali ini ia melakukan skinship dengan seorang pria. Walaupun seorang fangirl tapi tetap saja Naomi masih terlalu canggung untuk memulai skinship dengan pria manapun. Ia sendiri bahkan tak tau jika pipinya sudah bersemu sekarang.

Astaga, apa yang terjadi ?

❤ ❤ ❤

“masuklah”

Naomi terlihat ragu ketika hendak melangkahkan kakinya kedalam apartment Luhan. Ia melihat kearah sekitar. Tak banyak orang yang lalu lalang di lorong ini. Rasa was – was dan takut hinggap di hatinya karna gadis itu baru menyadari bahwa mereka hanya berdua berada di dalam apartment Luhan. Bagaimana jika nantinya ada sesuatu yang diluar dugaan ? ah, ini terlalu memusingkan.

“ada apa lagi sekarang ? kita tidak mungkin belajar di ambang pintu seperti ini.”

Naomi menggigit bibir bawahnya. “bukankah orang lain akan berkata yang tidak – tidak nantinya jika kita hanya berdua di apartmentmu ?”

Luhan tersenyum mendengar tuturan Naomi yang kental dengan aksen polos. Oh astaga, ternyata gadis keras kepala dan dikenal sebagai brandalan itu tidak lebih dari seorang gadis polos. “bukankah sudah kukatakan ? kau berbuat baik dan aku juga begitu. Masuklah. Tak kan ada yang akan membicarakan kita.”

“baiklah.” Terpaksa. Naomi masuk ke dalam apartment Luhan diikuti dengan tertutupnya pintu berbalutkan besi itu. Naomi lantas terkejut dan ia menatap nanar pintu besi itu.

“aku akan mengganti baju dulu. Tunggulah di ruang tamu.” Naomi mengangguk dan ketika ia hendak melangkah, Luhan berbalik dan kembali berkata. “jangan lupa pakai sandal rumah.” Seperti anak anjing yang patuh dengan induknya, Naomi kembali mengangguk. Setelahnya Luhan pergi meninggalkan gadis itu.

‘kenapa semua perintahnya harus kulakukan ? ini terasa aneh dan janggal.’ batin Naomi ketika sedang menunggu Luhan di ruang tamunya. Ia menatap ruangan itu. ada televisi besar, beberapa sofa, dekorasi yang elegan dengan warna keemasan dan juga ada foto seorang pria yang berada di atas salah satu meja. Karena penasaran, Naomi mendekati foto itu.

Ia mengangkat dan menelaah siapa yang ada di foto itu. alisnya bertaut. ‘apa ini Luhan ?’ tanyanya dalam hati. Di fotoitu, berdiri seorang pria dengan kaos biasa dengan wajah yang dibilang tampan. Bahkan sangat tampan. Tapi, jika itu Luhan. Kemana perginya kaca mata tebal itu ?

(buat yang kepo, ini foto Luhan yang diliat Naomi)

 10467101_895757410439024_5361653227855409772_o

“apa yang kau lihat ?” Naomi tersentak ketika mendengar suara Luhan. Ia buru – buru meletakkan foto itu ke tempatnya dan ketika berbalik, Wauwww~ siapa gerangan yang ada di hadapannya saat ini ? benarkah itu Xi Luhan ? pria pintar yang berkacamata tebal ? tapi kenapa ia seperti ini sekarang ?

“Lu-han ?” Naomi terbata ketika menggumamkan nama Luhan. Wajahnya sangat kental dengan kesan penuh pertanyaan sekarang.

“ya tentu saja. Kau pikir siapa lagi ?” Luhan terkekeh pelan melihat wajah Naomi yang polos.

“tapi, kemana kacamatamu ?”

“memakai kacamata hanya membuat kepalaku pusing. Aku tak ingin memancarkan aura ketampananku ke seluruh penjuru sekolah. Cukup dengan kepintaran untuk membuatku dikenal.” Naomi mengangkat sebelah bibirnya. Ia berdecak. Ternyata pria yang ada di depannya sangat percaya diri. Tapi, apa yang ia katakan tak ada salahnya juga memang.

“kurasa kita bisa memulainya sekarang juga.” Naomi memelankan suaranya ketika mengatakan hal spele seperti itu. ia tak menyangka jika bisa berada pada keadaan canggung seperti ini. Sebenarnya yang merasa canggung hanya dirinya seorang. Gadis itu kemudian berlari kecil menuju meja yang hendak digunakan sebagai alas menulisnya kelak. Luhan yang melihat itu terkekeh pelan.

Dengan cepat, Naomi mengeluarkan buku fisikanya yang kebetulan hanya buku itulah isi tasnya. Ia memegang pensil dan buku catatannya ia buka. Itu pertanda ia telah siap untuk memulai pelajaran. Luhan yang bertugas menjadi tutor Naomi, duduk berhadapan dengan gadis itu. ia hanya membawa sebuah pena dan jujur, menatap Luhan lurus seperti ini hanya membuat jantung Naomi berdetak dengan cepat. Apa yang salah ? inikah cinta pada pandangan pertama ?

“baiklah, kita akan mulai dengan beberapa materi yang kau anggap sulit dan sekarang, materi apa yang menurutmu sangat sulit ?” Naomi berpikir untuk menemukan jawaban atas pertanyaan Luhan dan beberapa saat kemudian ia menjawab. “bagaimana jika semuanya ?” Naomi tersenyum miring. Sifat setannya baru saja masuk beberapa saat lalu. ia berharap Luhan frustasi dan menyuruhnya untuk pulang.

“baiklah, kita akan memulainya dari awal.” Apa ? tidakkah dia berniat untuk melepaskan ku ? Naomi menggeram dan menatap Luhan intens seraya menggertakan giginya. Sementara yang ditatap hanya tersenyum miring dan mulai menjelaskan materinya. Oh God, akankah ini berlangsung lama ?

❤ ❤ ❤

Naomi melirik jam dinding yang terpaku manis tak jauh dari tempatnya berada. Ia mendesah ketika mendapati jarum pendek yang telah menunjuk ke angka 11. Gadis itu kemudian menutup matanya sebentar. Pikirannya kusut dan kalut. Apa yang Luhan komat – kamitkan di depannya benar – benar terdengar seperti suara nyanyian penghantar tidur. Yeah, bisa dikatakan jika Naomi sudah mengantuk kali ini. Bahkan ia sendiri mulai lelah untuk menghitung jumlah uapnya sendiri.

Melihat Luhan yang masih menjelaskan materi semakin membuat rasa kantuk Naomi membuta. Ia merebahkan kepalanya di meja. Matanya yang telah sayu kemudian tertutup secara perlahan. Suara Luhan yang awalnya terdengar jelas lama kelamaan berubah menjadi suara dengungan dan akhirnya hening. Tak ada yang terdengar.

❤ ❤ ❤

Naomi membuka mata secara terpaksa. Cahaya yang berasal dari lampu benar – benar mengusik ketenangan tidurnya. Mulut mungilnya kemudian mengeluarkan beberapa kata sumpah ditujukan untuk lampu biadab itu. tapi, Naomi merasa ada yang janggal. Tempat ini, ini bukanlah kamar Naomi. gadis itu kemudian bangkit dari posisi tidurnya. Mata hitam itu bergerak mengedar dan berhenti dengan objek disampingnya. Alis Naomi bertaut untuk beberapa saat.

“YAAA!” Alangkah terkejutnya Luhan ketika mendapati alarm pagi yang tak biasa. Naomi lantas memundurkan badannya. Raut wajahnya benar – benar kental dengan aksen shock sekarang. dengan cepat ia menyingkap selimut yang menutup badannya. Fiuh~ untung saja pakaiannya masih sama.

“Kau ? bisa pelankan suaramu ?” Luhan bangkit dan mengusap kedua matanya. ia menatap Naomi dengan mata yang sayu. Jujur, pemuda itu masih merasa mengantuk.

“Kau, –A—aku ba—bagaimana bisa ? YAA! Cepat jelaskan, apa yang terjadi semalam ?”

Luhan menggaruk tengkuknya pelan. Pemuda itu kemudian menguap dan meregangkan badannya. Ia lalu mengarahkan tatapan sayu itu pada Naomi. “kau tertidur dan badanku terlalu lelah untuk memapahmu pulang ke rumah.” Naomi ternganga mendengar alasan Luhan yang terdengar klise dan mengada – ada.

“ini, aku sudah memberi tahu ayahmu” Luhan memberikan ponselnya pada Naomi. dalam ponsel itu telah tertera sebuah pesan singkat yang berasal dari nomor ayahnya.

Baiklah.

Apa kau tak keberatan jika anakku menginap di apartmentmu ?

Atau, apa aku harus menjemputnya ?

Alis Naomi bertaut ketika membaca isi pesan itu. ia kemudian memberikan ponsel Luhan. Gadis itu lantas menatap Luhan marah. “kenapa tidak kau biarkan ayahku untuk menjemputku ? atau kau memang berniat yang tidak – tidak ?” tangan Naomi terlipat dibawah dadanya sekarang. ia benar – benar menunggu jawaban apa lagi yang akan pemuda itu berikan.

“semalam hujan turun dengan membabi buta. Aku tak ingin ayahmu mati kedinginan. ” Luhan menjawab masih dengan wajah polosnya. Alis Naomi terangkat sebelah. Raut wajahnya seperti bertanya ‘benarkah ?

“dan kenapa kau–” Naomi bungkam. Ia hendak protes tapi Luhan telah lebih dulu menutup mulutnya dengan sebuah ciuman. Terlalu cepat memang, tapi Luhan sudah tak tahan dengan bibir itu. bibir mungil yang sejak malam tadi selalu menghantui dirinya. Ia bahkan sudah berusaha mati – matian untuk tidak melakukan apa – apa ketika berada satu ranjang dengan Naomi.

“jika kau berani protes atau mengeluh, kau akan terima hukumanmu. Ingin mengadu ? sudah tak ada tempat lagi bagimu untuk lari dariku” Luhan menyeringai tepat beberapa centi di depan wajah Naomi. Ciuman mereka sudah terputus. Wajahnya yang polos tadi sudah tergantikan dengan wajah seseorang yang sangat mengerikan dengan seringaian seperti itu. Naomi meneguk air liurnya susah payah. Sebenarnya ia marah, sangat marah malahan. Karena Luhan baru saja mencuri ciuman pertamanya.

Ingin sekali rasanya bagi Naomi untuk menampar Luhan dan mengadukan tindakan tidak bertuan tadi ke ayah ataupun gurunya. Tapi, perkataan Luhan buru – buru mengisi otaknya. Apa yang pemuda itu katakan memang benar. Tak ada yang percaya ataupun memihak pada Naomi sekarang. jangankan gurunya, ayah dan ibunya saja sudah angkat tangan untuk mengatasi sikap Naomi. apa ini karma ?

“kau pikir otakku sedangkal itu ? kita lihat saja, apa kau bisa mengatasi gadis liar sepertiku.” Naomi juga ikut menyeringai membuat Luhan semakin tertarik dengan apa yang akan ia perbuat terhadap gadis didepannya.

“mau melakukannya sampai akhir ? kau akan mendapatkan berbagai hukuman jika berada di jalan yang salah.” Naomi mengangkat sebalah alisnya ketika mendengar perkataan Luhan.

“Oh Ya ? apa sesuatu yang lebih buruk dari tadi ? aku akan menunggunya.” Sebenarnya Naomi tak yakin dengan apa yang barusan keluar dari mulutnya. Ia bahkan bisa dikatakan sangat takut jika harus melakukan skinship dengan seorang pria. Jangankan ciuman, bergandengan tangan saja sudah memuat jantung Naomi berdetak dengan cepat. Dan sekarang apa ? ia malah menyetujui apa yang mungkin bisa membuat jantungnya meledak mendadak. Ughh~ dasar mulut biadab, rutuk Naomi.

“sampai akhir ?” Luhan menjulurkan tangannya dan kemudian Naomi menyambut uluran tangan Luhan. “Call” balasnya dengan seringaian yang juga tak kalah menakutkan dari Luhan.

“kau, mandilah dulu. Aku akan mencarikan seragam sekolah baru untukmu.” Naomi membantah. Bukannya pergi mandi, ia malah menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Jika boleh jujur, ia masih mengantuk.

Luhan yang melihat sikap kekanakan Naomi tersenyum tipis. Ia tidak membentak Naomi ataupun marah. Pemuda itu malah mendekatkan dirinya pada Naomi. ia lantas memeluk gadis pembangkang dengan erat dari luar selimut.

“kau ingat apa yang kukatakan ? apa kau ingin kita melakukan itu sekarang ?” dari dalam selimut, Naomi membelalakkan matanya. Dengan reflek, gadis itu kemudian menyibak selimut yang melilit tubuhnya. Membuat Luhan mundur beberapa centi.

“Dasar mata empat mesum” umpat Naomi dan dalam sekejap ia telah masuk ke dalam kamar mandi yang berada di kamar itu. Luhan terkekeh melihat tingkah Naomi. menurutnya apa yang orang katakan selama ini sama sekali tak cocok untuk disematkan pada gadis polos seperti itu.

❤ CUUUTTTTT ❤

Hadududuh~ >.< ini apaan coba ?

Maaf yeth buat kalian yang nunggu *Bow

Ternyata ff ini dina bagi jadi tiga chapter 😀

Mungkin romancenya gak terlalu banyak disini, tapi din amah udah nyiapin full XiMi Moment di chapter duanya 😀

Jadi, kalian siap – siap untuk dugeun – dugeun yah 😀

Oea, disini ada yang kangen FF MWI ?

Pen itu ff dilanjut secepatnya ?

Beneran ?

Kalau iya, coba deh kamu like status dina yang ini

Kalau banyak yang like, ntar dina udahan aja waktu hiatusnya..

Setuju ?

Okeh, semoga kalian suka ini ff dan makasih buat yang udah komentar 😀

Buat yang Sider, dina mohon pada kalian untuk segera bertobat..

Karena ya, FF ini emang gak bakalan di protect..

Tapi setidaknya kalian bisa memberi dina semangat dalam bentuk like atau komentar 😀

Makasih perhatiannya..

Annyeong~

Iklan

Penulis:

A Girl who love her Mother and Father ^^ A Girl who claim Byun Baekhyun to be her Husband

148 tanggapan untuk “Devil (1/3)

  1. Aaa akbirny aku nemu juga ff buatan author, udah lama nungguin karya author, dan hasilnya waah ga nyesel deh semangat ya thor nulis chapt selanjutnya 😆

  2. Luhaaaaan,plisitu anak orang jangan seenaknya digituin! Ternyata Naomi itu emang beneran polos yak kkkkk~ suka sama ceritanya, suka sama Luhannya juga (?) Hohoho,izin baca chap 2 ya thor 😀

  3. luhan trnyata agk2 byuntae ya’-‘..tpi gkpp dehh..critanya seruuu thorr,,,greget jga ama luhann nya..serigala berbulu domba mah si luhan=))….Keep Writee thorrr^^ Jiayouuu!

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s