US | Plan

bulletin board

US | Plan

Author : Charismagirl

Cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri
  • Byun Chanhee

Support Cast :

  • Ahn Sungyoung
  • Park Chanyeol

Genre : Family, romance, friendship.

Rating : PG-13

Length : Series.

Note : Do not copycat without my permission.

Our life is full of plan. What should we do first?

Ada kehidupan baru. Ada yang baru saja melihat dunia. Disana, dari puluhan kotak kubus kaca yang tersusun rapi berisi manusia, ada satu jiwa yang membuat Chanhee tidak bisa melepaskan pandangannya. Seorang bayi kecil dengan wajah putih pucat berbias merah muda di pipinya masih memejamkan mata dengan tenang sementara tubuhnya terbungkus kain merah muda lembut membuatnya tampak seperti kepompong.

Chanhee berdiri di balik dinding kaca. Kedua tangannya menempel di dinding itu, dia pun hampir membuat hidungnya menyentuh kaca. Anak itu mengerjapkan matanya dengan senyum yang tak lepas dari bibir mungilnya. Sudah sekitar sepuluh menit sejak bayi itu di tempatkan disana Chanhee sama sekali tidak ingin beranjak. Di dalam kotak kaca itu, bayi perempuan dengan hidung mungil dan pipi yang merah adalah adiknya. Chanhee tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya ketika mendengar tangisan bayi setelah melewati dua jam yang menegangkan di depan ruang bersalin ibunya. Chanhee tidak sendiri, dia bersama ayahnya –yang tampaknya merasakan ketegangan yang sama—hingga saat bayi itu di bawa keluar oleh seorang suster ke ruang intensif bayi, Chanhee langsung mengikuti mereka.

Anak itu ingin sekali menyentuh pipi adiknya yang lembut. Tapi ada rasa takut, kalau sentuhannya bisa membuat bayi itu menangis. Dan Chanhee tidak ingin membuat adiknya menangis. Chanhee berjanji akan menjaga adiknya sepenuh hati. Dia akan menemani adik cantiknya bermain setiap hari–bermain permainan apapun yang diinginkan adiknya.

“Chanhee-ya,”

Chanhee menoleh ke belakang saat mendengar suara yang dia kenali sebagai suara ayahnya, dan merasakan satu tangan menyentuh bahunya. Anak itu mendongakkan kepala, menatap wajah ayahnya. Dengan mata mengerjap, Chanhee tersenyum menampakkan deretan gigi susunya yang rapi. Namun, senyum itu segera memudar saat dia sama sekali tidak menangkap raut bahagia dari ayahnya.

“Apa yang terjadi, Appa?” Chanhee sepenuhnya berbalik.

Baekhyun mensejajarkan tingginya dengan Chanhee. Kedua tangannya menyentuh bahu Chanhee. Tanpa berkata apapun, Baekhyun menarik Chanhee ke dalam rengkuhannya, menepuk pelan bahu mungil anak itu. Lalu terisak.

“Apapun yang terjadi, Chanhee tidak sendiri. Masih ada Appa dan adik kecil.”

Appa, wae?” Chanhee membalas pelukan ayahnya. Sama sekali tidak mengerti mengapa ayahnya harus menangis dan mengucapkan kalimat yang sulit dipahami. Meskipun Chanhee terlalu polos untuk menjadi peka, tapi dia cukup bisa membedakan bagaimana tangis bahagia, bagaimana tangis penuh duka.

Eomma Chanhee…”

Eung?” Chanhee berusaha melepaskan pelukan Baekhyun. Lalu menatap wajah ayahnya. Seketika kepanikan memenuhi pikirannya.

Eomma pergi, ke sisi Tuhan.”

Butuh waktu beberapa detik sebelum Chanhee menjerit, “Andwae!”

Chanhee menutup kedua telinganya. Nafasnya memburu. Dia menggelengkan kepalanya, sementara air mata mulai mengaburkan pandangannya. “Appa bohong! Eomma tidak mungkin pergi!”

Anak itu melesat ke belakang Baekhyun, berlari dengan kaki mungilnya. Mencari sebuah ruangan dimana ibunya berada –ruang persalinan. Tepat saat Chanhee tiba disana, pintu putih itu terbuka lebar. Ranjang beroda didorong oleh beberapa perawat. Tubuh ibunya terbaring di sana dengan selimut yang tertutup sampai leher, lalu seorang dokter menarik selimut itu ke atas, hingga seluruh tubuh pun tertutup.

Eomma…” dengan bibir bergetar Chanhee terus memanggil ibunya. Namun tidak ada jawaban.

Dan Chanhee merasa seolah besok tidak ada lagi mentari pagi untuknya.

***

Eomma… eomma….”

Minri menghentikan kegiatan menulisnya mendengar Chanhee terus saja memanggilnya. Anak itu sedang tidur –itu yang Minri tahu. Chanhee tidak bermaksud tidur di kamar Minri dan Baekhyun. Anak itu hanya sedang merasa bosan di kamarnya hingga dia memutuskan berbaring malas-malasan di kamar Minri sambil bercerita tentang sekolah yang diinginkannya (sudah hampir tahun ajaran baru dan Chanhee selesai dengan pendidikan taman kanak-kanaknya), namun dia tertidur dan Minri tidak tega membangunkan Chanhee untuk sekedar meminta anak itu berpindah tidur ke kamarnya sendiri.

Kening anak itu tampak berkerut. Titik-titik keringat menghiasi dahinya membuat Minri berasumsi bahwa anak itu tengah mengalami mimpi buruk.

Minri menutup laptopnya kemudian meletakkan benda itu di atas nakas. Minri menghampiri Chanhee di atas kasurnya. Satu tangannya mengusap dahi Chanhee, lalu memeluk anak itu. Mengusap kepalanya sembari sesekali melayangkan kecupan di rambutnya.

“Chanhee-ya, Honey, Eomma disini.”

Eomma!” tubuh Chanhee menegang. Anak itu terbangun dengan mata berkilat penuh ketakutan. “Jangan tinggalkan Chanhee…” Chanhee memeluk Minri erat sekali sampai Minri merasakan piyamanya sedikit tertarik.

Eomma selalu bersama Chanhee.” Minri menepuk-nepuk pelan punggung Chanhee sampai anak itu sedikit lebih tenang.

Ceklek!

Pintu kamar mandi di dalam kamar itu terbuka. Baekhyun keluar dari sana dengan handuk putih yang bertengger di rambutnya yang basah sehabis keramas. Minri meletakkan telunjuknya di bibir saat Baekhyun baru saja ingin berucap sesuatu. Minri yakin Baekhyun akan bertanya apa yang terjadi pada anak mereka.

Baekhyun mematikan TV yang memang sudah menyala sejak Chanhee masuk kamar mereka. Pergerakan itu membuat Chanhee menyadari kehadiran Baekhyun disana.

Appa,” panggil Chanhee, lalu menegakkan duduknya. “Kesini…” Chanhee menepuk bagian kosong dari kasur di sampingnya, meminta Baekhyun untuk berada di sisinya. Baekhyun menggantung handuk yang baru saja dipakainya itu di atas jemuran kecil di samping lemari, lantas menghampiri Chanhee.

“Chanhee terbangun?” tanya Baekhyun lalu mengusap kepala anak itu.

Chanhee mengangguk sambil melengkungkan bibirnya ke bawah, mengingat betapa mengerikannya mimpi buruk yang dialaminya.

“Malam ini Chanhee ingin tidur disini bersama Eomma dan Appa. Boleh ya?”

“Kena–”

“Ya Chanhee. Tentu saja boleh.” Minri menginterupsi ucapan Baekhyun. Karena mungkin saja pria itu akan menolak keinginan Chanhee. Sudah lama, sejak Chanhee mulai sekolah di taman kanak-kanak, Chanhee tidak pernah lagi tidur bersama Minri dan Baekhyun. Anak lelaki itu punya kamar sendiri dan dia tidak pernah mengeluh takut–satu hal yang membuat Minri bangga. Namun kali ini, Minri akan membiarkan Chanhee tidur bersamanya. Sorot matanya seperti anak kucing yang kehilangan arah, bagaimana bisa seorang ibu membiarkan anaknya berada dalam ketakutan berkepanjangan,

Yaey! Terimakasih Eomma, Appa.” Chanhee berbaring di tengah. Satu tangannya memegang tangan Minri, dan tangan yang lain memegang tangan Baekhyun lalu meletakkan di atas perutnya. Minri dan Baekhyun berbaring menyamping.

“Tidurlah yang nyenyak, Sayang.” Minri mencium pipi Chanhee. Lalu Baekhyun melakukan hal yang sama. Chanhee tersenyum tipis, lantas memejamkan matanya. Anak itu bernafas teratur. Beberapa menit terlewat dalam keheningan. Dia sudah tidur kembali.

“Minri-ya,” bisik Baekhyun. Dia melepaskan tangan Chanhee dengan pelan, lalu duduk. Dia yakin Minri belum tidur.

Minri membuka matanya pelan. Kemudian mengikuti Baekhyun untuk duduk. “Ada apa Baek?” bisik Minri, tidak kalah pelan.

“Apa kau tahu apa yang baru saja terjadi pada Chanhee?”

“Entahlah. Kurasa dia mengalami mimpi buruk.”

“Chanhee belum pernah terlihat setakut itu tadi.”

“Aku tahu Baek. Sebaiknya tidak usah tanyakan tentang mimpi itu padanya, kecuali anak itu mau menceritakannya sendiri.”

“Setuju.” Keduanya menyudahi percakapan malam itu dan memilih untuk segera tidur. Hari esok telah menunggu mereka.

Minri baru akan kembali ke tempatnya saat Baekhyun menahan lengannya. “Kau melupakan satu hal,” ucap Baekhyun. Dengan kening berkerut Minri mengendikkan bahu. Dia tidak merasa melupakan apapun. “Kesini sebentar.” Meskipun tidak mengerti, Minri tetap mendekatkan tubuhnya. Dia tidak bisa terlalu dekat, takut pergerakannya bisa saja membuat Chanhee terusik.

Dengan gerakan tiba-tiba Baekhyun menahan tengkuknya. Lalu mencium bibirnya. Pria itu berlama-lama memainkan bibirnya, sampai Minri menyadari satu hal–mereka berciuman di antara tubuh Chanhee yang sedang tertidur pulas. Apa-apaan ini!

“Selamat malam, istriku.” Baekhyun tersenyum dengan wajah tanpa dosa, membuat Minri tidak bisa melayangkan protes atas perlakuan Baekhyun tadi. Dan malah memilih mengucap selamat malam yang serupa, lalu kembali ke tempat tidurnya.

***

Di pagi yang sejuk. Seperti pagi-pagi sebelumnya, Minri berada di dapur menyiapkan sarapan untuk Baekhyun dan Chanhee. Namun bedanya kali ini dia tidak menyiapkan kotak bekal Chanhee karena anak itu sedang berada dalam masa liburannya.

Baekhyun baru saja melangkah ke dapur dengan setelan jas rapi dan rambut yang disisir ke samping. Biasanya pria itu langsung menuju meja makan, namun kali ini dia menghampiri Minri yang masih mencuci piring lalu memeluk wanta itu dari belakang.

“Selamat pagi…”

“Kurasa kau harus menghabiskan sarapanmu sebelum kau terlambat.” Minri mengeringkan tangannya dengan serbet, lalu berbalik hingga tubuhnya menghadap Baekhyun.

“Tidak sebelum aku melakukan ini–” Baekhyun baru akan mendekatkan wajahnya, namun suara langkah mungil yang semakin mendekat –begitu dikenali Minri membuat wanita itu segera mendorong tubuh Baekhyun menjauh.

“Selamat pagi!” sapa Chanhee dengan nada ceria –seolah lupa dengan mimpi buruknya. Dia mengenakan kaos hijau cerah dan celana pendek santai. Kemudian Chanhee duduk di salah satu kursi di meja makan lantas meminum beberapa tegukan susu di mug bergambar batman miliknya. “Appa tidak sarapan?”

“Sepertinya Appa bosan pada menu sarapan yang Eomma siapkan, Chanhee-ya,” ucap Minri sembari menahan tawanya. Baekhyun mendelik kesal pada Minri.

Wae~ roti panggang Eomma paling enak di dunia. Chanhee tidak pernah bosan.” Chanhee mengambil sepotong roti berisi selai coklat, lalu memasukkan makanan itu sampai mulutnya penuh.

Baekhyun sempat mecubit gemas hidung Minri sebelum ia duduk di kursi samping Chanhee. Baekhyun mengambil segelas susu coklat–sudah jelas gelas itu bukan miliknya.

Chanhee mengambilkan selembar roti yang masih utuh lalu meletakkan di piring Baekhyun. “Appa harus makan yang banyak agar tidak lelah saat bekerja nanti.”

Minri duduk di depan Baekhyun dengan kedua tangan terlipat di meja, rasa geli di perutnya masih tersisa karena Baekhyun masih saja cemberut. Padahal, soal ciuman, Baekhyun tentu akan mendapatkannya dengan mudah, meskipun tidak sekarang.

“Chanhee benar.”

Chanhee tersenyum lebar mendengar ucapan Minri. Setelah itu Chanhee fokus pada makanannya. Dia baru saja menghabiskan satu potong roti, lalu mengambil potongan selanjutnya. Minri senang Chanhee makan dengan lahap.

Eomma,” Chanhee mendongak. Dia memberi jeda untuk menelan makanannya. Lalu bicara lagi. “Hari ini hari libur pertama Chanhee, eum… pasti bosan kalau kita hanya di rumah. Bagaimana kalau kita jalan-jalan, melihat sekolah baru Chanhee?”

“Boleh.” Minri mengacak rambut Chanhee. “Habiskan sarapanmu dulu.”

“Siap Eomma!”

Appa tidak diajak?” Baekhyun memberengutkan wajahnya, membuat Chanhee menoleh.

“Chanhee ingin mengajak Appa, tapi sayangnya Appa harus bekerja.” Chanhee mencium pipi Baekhyun, membuat remah roti yang tadinya berada di tepi bibir Chanhee beralih ke pipi Baekhyun. “Lain kali mungkin kita bisa jalan-jalan bersama.”

“Baiklah.”

***

Minri merapikan dasi Baekhyun. Selalu saja di saat seperti ini Baekhyun akan memperhatikan wajah Minri berlama-lama dengan kedua tangan yang melingkar di pinggang wanita itu. Dan Minri masih bisa merasakan jantungnya berdebar karena hal itu.

“Kau sudah tahu akan menempatkan Chanhee di sekolah yang mana?” tanya Baekhyun.

“Aku punya beberapa pilihan. Kita akan rundingkan ini nanti.” Minri mundur satu langkah ke belakang. Pergilah.”

Baekhyun memajukan wajahnya, mengecup bibir Minri dengan tiba-tiba. “Aku akan segera pulang.”

Appa…” Chanhee berlari ke arah Baekhyun, lalu memeluk perut Baekhyun. Baekhyun menunduk, menggelitik perut Chanhee dengan hidungnya, membuat anak itu terkikik geli. “Appa, hahaha,hentikan…”

Baekhyun tersenyum sembari mengacak rambut Chanhee. “Jaga Eomma baik-baik ya.”

“Aku pergi dulu.” Baekhyun sempat memegang tangan Minri sebelum Ia berjalan menuju pintu.

Minri merangkul Chanhee yang melambaikan tangannya riang pada Baekhyun. Punggung pria itu bergerak semakin menjauh sampai akhirnya menghilang di balik pintu.

***

Jalanan Seoul tampak padat. Minri dan Chanhee tengah berada di dalam bis. Chanhee memperhatikan ke luar jendela bis, menatap segalanya dengan mata berkilat antusias. Beberapa kali Minri menarik anak itu untuk duduk karena jendela sedang dalam keadaan terbuka dan Chanhee mencodongkan kepalanya-suatu hal berbahaya.

Eomma, apa nanti aku akan bertemu Jessy lagi?” tanya Chanhee sambil memperhatikan deretan toko-toko yang mereka lewati. Matanya berhenti pada satu titik–penjual es krim. Anak itu menelan ludahnya. Toko es krim semakin menjauh hingga menghilang dari pandangannya.

“Mungkin, kalau saja Jessy memilih sekolah yang sama dengan Chanhee.” Minri mengusap kepala Chanhee, lalu menciumi rambutnya yang selembut sutra.

“Jessy adalah teman yang menyenangkan. Dia bukan gadis manja–eum, mungkin sedikit manja. Tapi itu tidak apa-apa.”

“Chanhee suka dengan Jessy?”

Ne!

Minri tertawa ringan. Bagaimana mungkin Minri berpikir bahwa anaknya suka dengan Jessy dalam arti kedua anak itu sedang terlibat percintaan. Chanhee bahkan baru menginjak usia 6 tahun. Jawaban suka dari Chanhee berarti bahwa anak itu suka berteman dengan Jessy. Minri pikir begitu.

“Mungkin lain kali kita bisa berkunjung ke rumah Jessy.”

Berikutnya Chanhee bersorak, lalu mencium pipi Minri dan menempelkan hidungnya di hidung Minri. Tawa keduanya memenuhi bis kala itu. Ibu dan anak itu terlalu asik becanda hingga tidak sadar bahwa bis telah berhenti di pemberhentian.

Chanhee melompat ke luar bis. Lalu disusul Minri. Keduanya berjalan di tepian jalan dengan tangan bertautan. Chanhee sesekali menendang batu di depannya, mulutnya bersenandung.

Mereka melewati sebuah sekolah yang besar. Sekolah itu berdekatan dengan taman. Beberapa murid berseragam tampak bermain-main di lapangan. Langkah kaki mereka menyusuri taman, sampai mereka menemukan satu gedung besar lagi, namun kali ini bukan sekolah melainkan Universitas.

“Chanhee senang?”

“Senang sekali. Seandainya Appa tidak sibuk–Noona!”

Minri mengarahkan pandangannya ke depan gerbang Universitas. Seorang gadis berambut sebahu yang pernah Minri temui sebelumnya tampak berdiri di depan gerbang dengan tas ransel penuh di bahunya.

Eomma, ayo kesana. Noona itu yang pernah membelikanku es krim.” Chanhee menarik tangan Minri hingga dia berada di depan gadis yang dipanggil Chanhee dengan sebutan Noona tadi. Seingat Minri namanya….

“Ahn Sungyoung! Aku duluan ya.”

Ya, namanya Sungyoung.

Gadis lain–tampaknya teman Sungyoung itu melambai riang kemudian melangkah semakin menjauh. Sungyoung masih terpaku dengan kening berkerut saat Chanhee tersenyum lebar padanya, sementara Minri melangkah ragu.

“Chanhee?” Sungyoung memiringkan kepalanya. Tidak begitu yakin dengan nama anak lelaki yang menggemaskan itu.

Ne! Noona masih ingat dengan namaku. Yey!” Chanhee melepaskan tautan tangannya pada Minri lalu menarik ujung baju Sungyoung. “Ayo kita makan es krim lagi.”

“Chanhee…” tegur Minri, merasa tidak enak. Mereka bertemu di depan gedung Universitas gadis itu, lalu tiba-tiba mengajaknya makan es krim. Mungkin saja gadis itu sedang sibuk dengan studinya. Dan kehadiran Minri serta Chanhee adalah gangguan kecil.

“Tidak apa-apa Minri-ssi, saya sudah tidak ada kelas hari ini.”

Tidak perlu bicara begitu formal, bagaimana kalau kau memanggilku Eonni saja?” tawar Minri.

“Tidak apa-apa?”

“Tentu saja.”

Eomma, Noona, ayo…. Chanhee ingin makan es krim sekarang.” Chanhee memajukan bibirnya. Dan pembicaraan kedua wanita itu tampaknya belum akan berakhir.

Sungyoung mencubit pelan hidung Chanhee, sebelum mereka bertiga berjalan beriringan. Kali ini Chanhee berjalan di depan sementara Sungyoung dan Minri di belakangnya.

“Aku tidak menyangka kita bisa bertemu lagi,” ucap Minri.

“Ya, Eonni. Senang melihatmu dan Chanhee lagi.” Sungyoung menoleh pada Minri. “Kalau boleh tahu, apa yang kalian lakukan di sekitar sini?”

“Kami sedang melihat-lihat sekolah baru Chanhee. Menurutmu sekolah mana yang cocok untuknya?”

“Soal itu aku tidak begitu tahu. Tapi kurasa Chanhee cocok di tempatkan di sekolah manapun. Chanhee anak yang baik dan supel.”

“Begitu ya.”

Eomma,”

Minri menoleh pada Chanhee ketika anak itu bersorak bahagia. Rupanya mereka sudah tiba di kedai es krim tempat favorit Chanhee.

“Chanhee-ya,” sapa salah satu pegawai di kedai itu.

Chanhee berlari kecil menuju etalase, lalu melihat-lihat gambar berbagai jenis es krim di layar. Anak itu mengetuk-ngetuk dagunya, tampak sedang berpikir. Semua yang tampak di gambar membuatnya menelan ludah. Chanhee ingin semuanya, jeritnya dalam hati.

“Chanhee ingin yang mana?” tanya Minri membuyarkan lamunan anak itu tentang keinginannya memesan semua jenis es krim yang ada disana.

Hyung, aku ingin es krim vanilla dengan topping blueberry,” putus Chanhee akhirnya.

“Taeyong-ah, aku pesan dua milk shake cappuccino.

“Baik Noona, tunggu sebentar.”

Lelaki muda bernama Taeyong itu sudah cukup kenal dengan Minri dan Chanhee karena anak itu sering berkunjung ke sana. Taeyong bahkan tidak canggung untuk bicara banmal pada Minri. Dia mencatat pesanan Minri kemudian meminta ketiga orang itu duduk.

“Oh iya, kau tinggal dimana Sungyoung-ah?”

“Aku tinggal di sebuah flat yang tidak begitu jauh dari Universitas.”

“Sesekali berkunjunglah ke rumah kami.”

“Benar, Noona. Kita bisa bermain bersama-sama. Aku akan mengajak Chanyeol Ajussi bermain agen dan Noona bisa ikut bergabung dengan kami.” Sahut Chanhee dengan kedua tangan berlipat di atas meja. Sungyoung tidak tahu siapa Chanyeol Ajussi yang disebut Chanhee hingga ia hanya bisa tersenyum sembari menepuk lengan anak itu.

“Aku akan senang sekali bisa berkunjung ke tempat tinggal kalian.”

“Pesanan datang….” Kedatangan Taeyong membuat Chanhee bertepuk tangan pelan lalu menegakkan duduknya. Taeyong meletakkan semangkuk kecil es krim dan dua gelas cappuccino ke atas meja.

Trims.” Ujar Minri dan Sungyoung hampir bersamaan.

“Selamat makan,” seru Chanhee, kemudian dia tenggelam dalam kenikmatan es krim yang meleleh di lidahnya.

“Setelah selesai dengan studimu, apa rencanamu selanjutnya?” Minri melanjutkan obrolan mereka sambil sesekali menyesap minuman kesukaannya itu. (Baekhyun akan memarahinya jika tahu Minri terlalu sering meminum minuman berkafein itu.)

“Aku ingin membangun sebuah toko bunga, agar bisa menebarkan cinta ke seluruh kota.” Sungyoung tertawa pelan, merasa geli dengan ucapannya sendiri.

“Apa maksudmu orang-orang yang memesan bunga akan memberikan bunga itu kepada orang yang dikasihinya?”

“Kebanyakan seperti itu. ”

“Tapi akan ada dua kelompok berbeda yang datang. Yang pertama, mereka membeli bunga untuk hadiah ulang tahun, hari jadi pernikahan atau mungkin sarana untuk menyatakan cinta, mereka akan masuk ke dalam kelompok bahagia. Yang kedua, mereka membeli bunga untuk berkabung.

Eonni benar. Keduanya membutuhkan bunga.”

“Apa yang membuatmu begitu meminati tanaman?”

“Aku suka warnanya yang beragam dan juga wanginya.” Sungyoung melirik jam tangannya, lalu terkesiap. “Astaga! Aku harus segera pergi.”

“Maaf mengganggu waktumu.” Minri menepuk lengan Sungyoung.

Gwaenchana… Senang mengobrol denganmu Eonni. Aku pergi dulu.” Sungyoung memasang tas ranselnya. “Chanhee-ya, sampai berjumpa lagi.”

“Sebentar,” Minri mengeluarkan kartu nama dari dompetnya. “Kupikir kita benar-benar harus bertemu lagi lain kali.”

“Terimakasih, Eonni. Bye Chanhee.” Sungyoung sempat mencubit pipi Chanhee, sebelum mengambil kartu nama yang disodorkan Minri, kemudian keluar kedai dan berjalan cepat ke arah kiri.

Sekarang tersisa Minri dan Chanhee di meja persegi itu. Minri mengarahkan pandangannya pada satu titik yang sejak beberapa menit lalu Chanhee lihat. Ternyata anak itu memperhatikan satu keluarga kecil ada seorang pria yang Minri yakini adalah ayah, kemudian ada ibu dan dua orang anak.

“Kau sudah selesai dengan es krim-mu, Honey?”

“Apakah Chanhee tidak boleh memiliki adik kecil?” bukannya menjawab pertanyaan Minri, Chanhee malah mengajukan pertanyaan lain, membuat Minri mengerutkan keningnya tidak mengerti.

“Ada satu hal yang membuat Chanhee begitu takut tadi malam.” Chanhee yang tadinya duduk di seberang Minri, kini beralih ke sampingnya.

“Alasan mengapa Chanhee tiba-tiba ingin tidur bersama Eomma dan Appa? Kalau Chanhee ingin bercerita, eomma akan mendengarkan.”

“Chanhee bermimpi eomma pergi ke sisi Tuhan setelah melahirkan adik kecil. Eomma terbaring di ranjang rumah sakit dengan mata tertutup rapat, tidak mendengar saat Chanhee memanggil-manggil eomma. Chanhee takut… ”

Minri memeluk Chanhee. Wanita itu menahan air matanya yang tiba-tiba saja menghalangi pandangannya.

Stt… Eomma selalu bersama Chanhee. ”

***

Langit sore tampak jingga berpendar di luar jendela. Keluarga Byun sedang bersantai di ruang tengah. Minri berbaring di paha Baekhyun. Sementara pria itu memainkan rambut Minri di jarinya. Minri menceritakan beberapa hal pada Baekhyun. Termasuk soal mimpi Chanhee dan pertemuannya dengan Sungyoung –gadis yang pernah mereka temui di pagi minggu.

Chanhee sedang asik merangkai senapan agennya di karpet ruang tengah.

“Hanya sebuah mimpi buruk. Jangan terlalu dipikirkan. Apa kau lapar?” tanya Baekhyun.

Minri mendongakkan kepalanya menatap Baekhyun. “Ya, sedikit.”

“Mari kita makan di luar.”

Chicken.” Minri menyengir, membuat Baekhyun gemas hingga mencubit pipinya. Kalau ditanya soal makanan, maka Minri bisa bersikap jauh lebih kekanakan dari anaknya sendiri.

Tatapan Baekhyun melembut, dia mendekatkan wajahnya pada Minri. Napasnya menerpa lembut wajah Minri. Minri menunggu—menunggu bibir Baekhyun menyentuh bibirnya. Sampai ketika…

Ting tong!

“Ackk!”

Baekhyun dan Minri bersamaan memegang dahi mereka karena Minri bangun secara mendadak, menyebabkan dahi mereka beradu. Minri sedikit kaget dengan bunyi itu hingga Minri refleks bangun dari posisinya.

“Siapa sih?” keluh Baekhyun dengan wajah sebal.

“Sebentar,” Minri turun dari sofa, lalu berjalan menuju pintu. Baekhyun menoleh ke arah pintu, cukup penasaran siapa yang datang sore-sore begini.

Ajussi!” seru Chanhee senang.

“Hai, Chanhee.”

Ternyata Park Chanyeol.

“Yaey! Sudah lama Ajussi tidak kesini, ayo kita bermain agen.” Chanhee berdiri lalu menghampiri Chanyeol. Anak itu menarik pelan mantel Chanyeol.

“Masuklah, Yeol.” Minri kembali ke sofa di samping Baekhyun. “Kita jadi makan di luar?” tanya Minri pada Baekhyun.

“Chanhee ingin disini saja bersama Chanyeol Ajussi.” Chanhee kembali membuat dunia bermainnya. Dia tidak mengalihkan pandangannya pada senjata agen dan perlengkapan bermainnya yang lain.

“Chanyeol-ah, kau tidak mungkin datang kemari hanya ingin menemani Chanhee bermain ‘kan? Kau pria dewasa yang banyak kerjaan tahu,” ujar Baekhyun.

“Pada kenyataannya memang demikian. Kau tahu kan betapa sepinya apartment ku itu.”

Baekhyun menoleh pada Minri.

“Aku bersumpah akan mencarikan Chanyeol seorang istri.”

Sepertinya hanya Minri yang dapat mendengar hal itu. Minri tertawa pelan. “Kami keluar beli makanan dulu, ya.”

 

“Apa kau yakin bahwa Chanyeol belum memiliki kekasih?” tanya Minri saat Ia dan Baekhyun berada di dalam mobil. Kendaraan roda empat itu berjalan pelan melintasi jalanan sore Kota Seoul yang cukup ramai.

“Kau lihat sendiri ‘kan? Dia memilih bermain bersama Chanhee ketimbang berkencan dengan gadisnya–kalau saja dia memang memilikinya.”

Mobil mereka melintasi sebuah toko bunga yang cukup besar. Ingatan Minri melayang pada sepenggal percakapannya dengan Sungyoung.

“Baek, aku berpikir untuk membangun sebuah toko bunga.”

“Benarkah? Mengapa begitu tiba-tiba?”

“Aku hanya ingin mencoba hal baru. Lagi pula, aku masih bisa menulis disana. Kurasa ideku akan bertambah daripada harus berdiam diri di dalam apartment terus.”

Ada jeda beberapa detik karena Baekhyun harus konsentrasi memarkirkan mobilnya di depan toko restoran ayam tujuan mereka. “Kalau itu yang kau inginkan. Aku setuju.”

Trims.” Minri berangsur mendekat, lalu (akan) mencium pipi Baekhyun kalau saja pria itu tidak berbalik menghadapnya. Bibir mereka beradu sesaat. Minri mengabaikan hal itu. Dia segera turun dari mobil lalu disusul Baekhyun. Pandangannya tertuju pada sosok gadis yang ditemuinya tadi siang. Daftar rencananya bertambah satu lagi.

“Baek, aku sudah menemukan satu pegawai untuk toko bunga kita nanti.”

“Secepat itu?”

“Gadis itu…” tunjuk Minri.

“Kurasa aku juga menemukan satu pilihan untuk pendamping Chanyeol.”

Hah?

“Tapi memberikan Chanhee adik masih menjadi prioritas.”

“Baek!”

Satu kecupan kilat membuat Minri melongo di tempatnya. Dia bahkan tidak sadar bahwa Baekhyun sudah berjalan ke depan konter.

“Minri-ya….

***END***

Bonus picture(s)😀 BaekRi’s private room.

BaekRi's room

Chanhee’s room

chanhee's room

Why must end like this /\ I’m sorry for bad story. I just feel missing Chanhee soooo much!!! ;—; Next story? Gidaehejuseyoong ;3

Thanks for read.

Sorry for typo.

Kee support us!

LOVE YAAAA❤

©Charismagirl, 2014.

140 thoughts on “US | Plan

  1. Kirain Chanhee bakal punya adik lagi:( udah seneng keluarga Byun bakal nambah satu anggota keluarga yang pasti ngegemesin juga, tapi itu hanyalah sebuah mimpi huhuhu😥
    tapi ga papa, ceritanya tetep rame dan seruuuu♥

  2. Sial, aku kena tipuan cerita ini di plot awal😥 //Hiks
    Kakak pinter ya bikin readernya kejebak ._. Atau itu akunya aja kali ya yg ga sabaran minta jawaban langsung dan msh di tengah cerita aku nge-bm kakak–” Huuh, punya reader sekaligus dongsaeng yg rusuh dan imut *uhukk* kaya aku gini emang ribet ya kak ‘w’)/ Maklumin aja :3

    Dan hey, siapa yg nyangka aku yg dulunya bener2 stalker sejati kak rima skrg malah ketinggalan info kalo kakak udh post beberapa ff disini ;–; Kurikulum 2013 merubah semuanya emang-.-

    Btw, aku mau komen dong sama bonus pic kamar baekrinya. Itu bbh ga protes tuh sama konsep kamar pmr itu warna pink? ._.a

    Soal typo, hanya ada beberapa tanda baca aja kok yg kurang, but it’s okay🙂 Ga terlalu ngaruh kok🙂

    Hm, apa lagi ya? Kehabisan kata2 buat komen lagi –”

    Overall, Serie US yg ini bagus kok😉 Aku suka malah😀

    Ttp semangata ya kak sama karya-karya kakak yg selanjutnya ;3

    I’m always waiting for your story ;D

    • Yg sabar yes:D
      Ribet. Iya-.- pwahaha enggak kok udah biasa ngadepin reader macem macem.
      Stalker sejati.
      Kamu sempat menghilang sih. Aku kan kangen;3

      Gak. Baek ga boleh protes. Udah.
      Typo: middle name-_- kapan sih aku bebas typo.

      Makasih sukaaa
      Yaap! Semangat juga buat kamu😉
      THAAANKS ALMAAAA

      LOVEEE<33

  3. Hai eonni!!
    Akhirnya kita bertemu kembali haha :’v

    Aku kangen chanheeee>.< ngebayanginnya di ff ini pasti dia imut banget kaya papanya/?
    Awalnya aku kira beneran tau eon T_T
    Eh taunya si imut ini cuma mimpi, mimpinya serem amat eon buat anak umur segitu astaga. Eonni tanggung jawab! Wkwk

    Tapi chanhee pemberani banget, keren!
    Dia nggak sungkan cerita sama mamanya ya eon..
    aku jadi ikut terbawa susana huhu😥

    Eh ada noona sungyong nih.. chanhee bergembira bertemu noonanya ini wkwk
    ngomong ngomong kok chanhee tau ya jodoh pcy cuma asy haha /?
    Baekhyun kasian ya gak diajak wkwk, harusnya ceritanya cuti dulu gitu eon biar diajak /gak

    Ff ini moodbooster aku banget, setelah berabad abad gak ketemu chanhee
    makasyii eonni ku, lopyu yaa!❤
    Fighting and keep writing!

    Tertanda,
    Istri sah kyungsoo, Brenda.

    • Halooo brendaaa~
      Akhirnya kita bertemu di kotak komentar.

      Iyaaa… chanhee pasti unyuuw banget kayak papanya. Aku aja mau cubitin dia ;—-;
      Awalnya cuma penipuan. Hihi
      Maapiiiin. Kasian chanhee. Sini aku peluk duluuuw

      Huhu iya :” chanhee terbuka sama orang tuanya. Ga kayak aku/?

      Chanhee gembira apalagi kalo ditraktir eskrim.
      Sepertinya chanhee cenayang /ga
      Nanti2 bbh diajak deeeh~

      MAKASIH BANYAK BEIBS:**
      Loveyatuu<3
      Fighting!!

      -rima-

  4. chanhee hanya ketakutan aja ma mimpi buruknya
    moga aja bukan pertanda buruk nggak kebayang kalo minri beneran meninggal jadi gk seru dong

  5. EEEOOOONNNNIIIIIII YYAAAA~i am commmiiiing 😘😘😘
    Masih ingatkah sma bocah ini?

    Kyyaaaa chanhee udh punya adee kpan bkinnya ya tuh baek -_-
    Eciiee ade nya cwe… :v

    Demi apa minri matii?aku gk mau ff ini end!!! Aku jg gk mau liat baek menderita.. td nya sih aku seneng bgt kalogk ada minri. Lampu hijau menyala!*plakk
    Tadinya aku mau gantiin posisi minri gtuu, jd ibu tirinya chanhee, trus bikin adik buat chanhee :v *sarap mode *

    Dan ternyata itu “mimpi” aku ketipuuu masa -_-

    Gagal deh jd ibu tirinya 😞

    Eeooonnnn!!bbhpmr dsini sweet nya kebangetann!!
    APa lagi adegan yg di kar itu loooh 😝

    Ada sungyeong yah? Ehhkpan mereka ketemu d ceritaini? Aku gk tauu yaahh 😣hwaaaa akuu ketinggalan jamaan ~T_T~

    Chanyeol jd joness ciiieeee 😜
    Sampe segtunya kmu jones. Sampe2 main sma bocah -_- makanyaa kawiin doong :v
    Tenang baek pasti ngejodohin kmu sma sunyeong!

    Kayanya dsini .byk adegan ngeh nya deh.. tp,, gkpp sayasuka saya sukaa!!

    Eon msih inget gk sma akuu?
    Setelah sekisn lma nya aku hiatus skrng aku kambek 😝
    Soal hiatus 6 blannya aku cabut deh.skrng hiatusnya udahan ^_^ tp aku gk terlalu sering on jg siih. Yaah kaloeonni ngeshare ff. Aku RCL ^^

    Aku blum baca yg we’ve fallin in love nya masaaa -_-ana lupa lg smpe mana aku baca? Aky usahain baca d awal daahh..

    Aaarrrggghhhhh ennniiiiii bogoshipooo~gmna kabarnya eonn?

    Sekian lamanya aku hiatis tanpabaca ff sangan terasa hambar bagaikn masakan tanpa bumbu*eeaaaa 😄

    Udh dulu deeh cuap cua nyaa. Aku lupa lg mau ngmong apa :3 saking rindunyaa akuuu…

    Okey deeh..

    KEEP WRITING AND FIGHTING YAAH EOONN!!!
    I ALWAYS SUPPORT YOU.. ♥♥♥♡♡♡

    Byyeeeee… 😘

    -nurul- ^_^

    • HAAAAI NURUL !! LONG TIME NO SEE. MAAFKEUN AKU YANG SELALU PELUPA. HIKS TT
      Tapi aku inget kok sama kamu. Hihi.

      Dan ternyata Cuma tipuan. Kapan bikinnya? ._.v kalo soal ini sih gausah ditanya. Akku gatau juga soalnya *eh
      Cewe dong, biar chanhee dipanggil oppa nanti.

      YAK!!-_- ga ada yang boleh gantiin minri.
      Gagal jadi ibu tiri? Lol

      Wooo~ adegan kamar aadegan favorit. Yuhuuuuu~

      Asypcy belom pernah ditemuin kok. Pernah sekali tapi ga kenal juga.
      Nah tinggal nunggu waktu aja. Dan entah kapan yeol baru nikah;–;

      Adegan ngeh gimana coba neng.

      Yeaah jangan hiatus lagi dong. Wkwk.
      Nah tu wvfilnya minta banget dikomenin.

      Nado bogoshipeeeoo.
      Kabar baik. Cuma ya rada sibuk TT hiks.
      Jadinya balesin komen lamaaaaa banget:/

      Okeee
      THANK YOU SOOOO MUCH!!
      ILY<333

      -rima-

  6. Mau berapa kali eonni bikin ff baekri aku tetep suka semuanya, alurnya, adegannya, perfect semuanya.

    Untung aja cuma mimpi ya eon. Kalo beneran hadoooooh aku nangis😥

    Chanhee kelakuan dr mana sih kecil2 udah begitu? Ampun deeeeeeeeh si anak imut itu wkwk.

  7. Yaampun
    Aku kaget pas baca chanhee uda punya ade
    Trus minri gaada T_T
    Jdi apa nnti akhirnya klo beneran minri gaada
    Untung itu cuman mimpi hufft lega banget rasaanya..
    Baekhyun disini selalu nyuri ciuman gitu yaa
    Bersyukur minri ga kewalahan ngadepin sikap baekhyun😉
    Buat chanyeol ketemu ama shinyoung dong eonn
    Kasian amet rasanya
    Yang satu ttg happy family yang satu lgi ttg nasib jones hahahahhaha
    klo chanyeol blum ama shinyoung nnti aku salip nii, biar aku aja yg jdi sama chanyeoll kkkk
    Fightingg eonn!!

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s