[oneshot] The Romantic

 

tumblr_inline_mq4786kZ671qz4rgp

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Title                 : The Romantic [ First Love ]

Author           : Park hana

Cast                : Jung Soojung, Kim Jongin.

Genre             : Romance, School life dll.

Length           : Oneshot

Rating             : G

Warning         : Typo dimana-dimana!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

 

The Romantic

“Eomma kenapa kita harus selalu berbuat baik?” tanya ku pada ibuku.

Ibuku tersenyum sambil memengang kedua tangan mungilku.

“Karena Tuhan selalu mengawasi kita. Jika kita berbuat jahat maka Tuhan akan marah pada kita, tapi sebaliknya jika kita bersikap baik maka Tuhan akan memberikan apapun yang kita inginkan.”

Itulah yang ibuku katakan padaku saat aku masih kecil. Aku selalu mempercayai apa yang ibuku katakan, bahkan ketika dia mengatakan bahwa Semua manusia itu adalah orang baik dan jika mereka jahat maka mereka punya alasan tertentu.

Aku mempercayainya sangat mempercayainya bahkan sampai sekarang aku masih mempercayainya. Aku juga mempercayai saat dia mengatakan bahwa ketika manusia meninggal maka mereka berada di tempat yang indah, oleh karena itu aku tidak boleh sedih saat ibuku pergi ketempat indah itu.

Aku menatap foto ibuku yang tengah aku genggam, dia seorang wanita yang cantik benar-benar cantik.

Aku rasa aku tahu kenapa dia bisa secantik ini, ibuku memiliki hati yang baik dan kecantikannya merupakan hadiah dari Tuhan karena hatinya itu.

Aku mengusap foto tersebut dengan seulas senyum tipis, setelah puas aku pun menaruh kembali foto tersebut. Ku ambil tas sekolah milikku kemudian berangkat menuju sekolah.

Begitu aku menginjakkan kakiku di luar, aku merasakan percikan air menetes di wajahku yang membuatku langsung menengadahkan kepalaku keatas.

“Awan hitam” gumanku pelan.

Aku menyunggingkan senyuman tipis, karena entah kenapa hatiku selalu merasa hangat ketika hujan turun. Hujan, aku menyukai hujan karna ibu ku juga.

Aku mengambil payung yang ada didalam tas milikku kemudian membukanya, setelah itu akupun melanjutkan perjalananku menuju sekolah.

***

Saat-saat hujan seperti inilah, membuatku malas untuk memperhatikan pelajaran yang guruku sampaikan. Ini selalu terjadi dan seakan tak bisa kutolak. Aku menyukai suara ketika ribuan tetesan air jatuh dari langit. Tapi, entah dimulai sejak kapan perhatianku terhadap hujan sedikit teralihkan.

Orang itu, yang tiba-tiba saja selalu muncul di ingatanku membuat perhatianku selalu tertuju padanya.

Seseorang yang sejak pertama kali aku melihatnya tidak pernah aku lihat tersenyum sekalipun. Seseorang yang selalu sendirian sama sepertiku.

Ketika dikelas selalu beginilah aku, mencuri pandang padanya. Saat aku melihatnya rasanya ada ada perasaan aneh didalam perutku dan juga jantungku seakan ingin meledak.

“kim Jongin,apa yang kau lakukan padaku?”

***

Waktu pulang tiba, satu-persatu murid dikelasku pergi. Sekarang hanya tinggal aku sendirian didalam ruangan kelas kosong ini.

Aku selalu pulang terakhir, karena kelas selalu tampak berantakan jadi aku selalu membereskannya dulu.

Tak butuh waktu lama untukku membersihkan kelas, dan akupun langsung pulang setelah itu. Ketika aku melewati koridor, aku merasa kalau sedari tadi ada yang mengawasiku. Dan Ketika aku menoleh kearah belakangku, anehnya aku tak menemukan siapapun bahkan ketika aku mengitari sekitarku aku juga tidak melihat siapapun. Ah, mungkin ini hanya perasaanku saja.

Aku mempercepat langakahku karena sudah di pastikan kalau aku tidak cepat-capat maka aku akan ketinggalan bis., dan aku harus pulang naik taksi jika hal itu terjadi.

Beruntung sekali karena ketika aku sampai di halte, bis yang akan aku naiki juga datang. aku naik,namun sat aku akan mengambil uang aku takmenemukan dompetku didalam tas.

“Ah pasti terjatuh di sekolah”gumanku pelan.

“Ahjusshi maaf aku tidak jadi naik” ujarku penuh penyesalan sambil membungkuk.

Aku mengoceh sendiri karena tidak menyadari kalau dompetku terjatuh. Ku tendang kerikil kecil karena kesal.

Begitu sampai di sekolah, aku langsung menuju kelas.Saat melihat bawah mejaku, ding-dong ternyata memang benar dompetku ada disana.

Aku menghela napas lega kemudian memasukan dompetku kedalam tas. Tak mau menyia-nyiakan waktuku yang berharga, aku pun memutuskan langsung pulang walaupun aku harus naik taski.

Bruk~~

Aku langsung menghentikan langkahku begitu mendengar suatu suara. Aku menoleh kearah kelas di sebelahku, kemudian mendekati jendela kelas tersebut.

Kedua mataku membelalak, tidak lupa aku menutup mulutku yang tengah menganga menggunkan kedua tanganku.

Badanku bergetar kali ini. aku berjongkok dan tak bisa berpikir apapun. Bagaimana tidak, semua orang pasti akan merasakan apa yang aku rasakan saat ini jika melihat seseorang yang tengah di keroyok.

“Aku harus menghentikannya” gumanku pelan.

Aku mengumpulkan seluruh keberanianku setelah sebelumnya aku berdoa terlebih dahulu.

Brak~~

“Hya apa yang kalian lakukan hah?” pekikku seraya menatap beberapa siswa yang sepertinya dari kelas B.

Mereka berempat langsung menatapku begitu juga orang tengah dikeroyok tadi. aku pun tak mau kalah, karena kini aku menatap mereka dengan tajam.

“Salah seorang dari mereka yang bisa disebut ketuanya kini tengah menghampiriku”

Dia menatap ku kemudian menunjukan smrik yang sejujurnya membuatku takut, tapi sebisa mungkin aku bersikap tenang seperti biasanya agar aku tak kelihatan sedang takut.

Aku menyilangkan kedua tanganku didada kemudian menyeringai.

“Hya cepat pergi, kalau kalian tidak mau aku laporkan pada guru besok” ancamku.

Lelaki didepanku ini tampaknya tidak senang dengan apa yang aku katakan, dia kemudian memberitahu teman-temannya untuk pergi. Saat melewatiku mereka masih saja menatapku dengan sinis.

Setelah mereka berempat pergi aku langsung menghela naps lega. Lututku gemetar bahkan sekarang aku sudah terduduk di lantai.

“Kau baik-baik saja?” tanyaku pada orang yang tengah dikeroyok tadi yang tak lain adalah Kim Jongin, dan inilah alasanku bisa seberani tadi.

Ketika melihat dia disakiti seperti tadi, rasanya jantungku sakit dan tiba-tiba aku jadi sesak napas padahal aku tidak punya penyakit asma sama sekali.

Jongin tampaknya tak mau mengiraukanku, dia hanya sibuk mengelapi darah disekitar bibirnya akibat pukulan orang-orang tadi.

Aku mendekatinya, kemudian menatapnya. Aku mengambil beberapa lembar tisu dalam tas, lalu memberikan padanya.

Dia menatapku tajam, seakan tak menyukai apa yang aku lakukan saat ini. Tak lama kemudian dia menepis tanganku yang memegang tisu.

Tanpa mengatakan apapun, dia berdiri dan sepertinya hendak pergi. Aku merasa sedih dengan apa yang dia lakukan, sekasar itu kah dia?.

Aku mengejarnya tanpa sadar, kemudian menahannya dengan cara memegang lengannya. Hal itu berhasil membuatnya menoleh kearahku.

“Tak bisakah kau mengucapkan kata terima kasih padaku?”

Dia menyipitkan kedua matanya lalu menepis tanganku yang menyentuhnya

“Aku tidak memintamu menolongku!”

Deg!!!

Aku terpaku begitu mendengar ucapannya barusan. Dia melanjutkan langkahnya sedangkan aku hanya masih terdiam, sakit itulah yang aku rasakan. Aku tertunduk dan ingin sekali aku menangis.

“Ibuku mengatakan bahwa seseorang mempunyai alasan tertentu untuk berbuat jahat, dan aku pikir inilah alasan kenapa mereka memukulimu, ini karena kau sendiri. Ini juga tampaknya alasan kau tidak pernah punya teman dan selalu sendiri, kau begitu dingin”

Aku terus meracau tanpa aku sadari, dia kini sudah berada dihadapanku. Dia memegang daguku dan mengangkatnya membuat wajahku menengadah.

“Orang-orang begitu mudah menceramahi orang lain tanpa melihat terlebih dahulu pada dirinya sendiri. Kau harus bisa menilai dirimu sendiri apakah kau layak mengatakan hal tadi pada orang lain ketika kau sendiri seperti itu”

Deg!!

Sekali lagi, aku terpaku mendengar kata-katanya. Kenapa dia mengatakan hal semenyakitkan ini. apakah memang dia orang yang seperti ini.

Aku termenung semabari menatap punggungnya yang perlahan mulai menjauh. Tak terasa air mataku jatuh membasahi pipiku. Aku memukul-mukul dadaku pelan karena sekali lagi disana terasa begitu sesak, tampaknya aku harus memeriksakan diriku kedokter.

***

Sepanjang malam,aku terus memikirkan kata-kata Jongin padaku tadi siang.

“Umma apayang harus aku lakukan?” tanyaku pada foto ibuku yang saat ini aku pegang.

Aku memutuskan untuk berbaring seraya memeluk foto ibuku. Aku merindukanmu umma dan juga Eonni.

Ya, sudah dua hari eonni ku jesica yang sekarang sedang sekolah di luar negri tidak meneleponku. Biasanya dia akan meneleponku setiap hari.

Mataku mulai terasa berat jadi aku memutuskan untuk memejamkan mataku. Dan tak butuh waktu lama, akupun sudah memasuki alam mimpiku.

***

Normal POV

Dikamarnya kini Jongin tengah duduk seraya menatap kearah langit-lngit kamarnya. bukankah ini konyol ketika kau di pukuli karena menolak seorang gadis.

“Haishh ini menyebalkan” gerutunya

Bruk!!!

Jongin sepertinya tidak merasa kaget dengan suara-suara berisik barang-barang yang berjatuhan dan juga teriakan-teriakan kedua orang tuanya yang sedang bertengkar.

Hal itu sepertinya adalah hal yang sudah biasa baginya. karena tak mau mendengar pertengakaran orang tuanya yang selalu terjadi setiap hari.Dia pun memutuskan untuk pergi.

Saat melewati kedua orang tuanya, ingin rasanya Jongin hanya lewat tanpa memperdulikan keduanya, namun tiba-tiba saja dia berubah pikiran dan menghentikan langkahnya. lalu menatap kearah kedua orang tuanya.

“Hyak sebaiknya kalian bercerai, karena itu akan jauh lebih baik!” ucap Jongin tanpa ekspresi sedikitpun. namun jauh di lubuk hatinya dia merasa sedih melihat pertengkaran tersebut.

Wajah ayahnya mengeras mendengar ucapan Jongin barusan, memang selama ini Jongin tidak pernah berkomentar apapun. Ini adalah pertama kalinya dan mungkin itu semua karena dia sudah muak dengan semua pertengkaran kedua orang tuanya.

“COBA LIHAT ANAKMU! DIA SUDAH BERANI MENCERAMAHI KEDUA ORANG TUANYA, APA KAU TIDAK MENGAJARKANNYA SOPAN SANTUN?”

“KENAPA KAU TERUS MENYALAHKANKU? BUKANKAH APA YANG DIAKATAKANNYA BENAR? SEBAIKNYA KITA BERCERAI SAJA!”

Jongin segera pergi dari rumah yang terasa seperti neraka itu, dia menaiki motornya kemudian pergi ke tempat yang lebih tenang.

Jongin memandangi sungai Han yang begitu tenang dan juga angin yang terus menerpa dirinya.

Beebrapa kali dia menghela napasnya panjang.

“Aku muak dengan orang-orang” gumannya pelan.

Dia kemudian teringat pada suatu foto yang dia simpan di saku celananya. Foto itu adalah foto Soojung yang dia ambil di dompet Soojung yang dia temukan di koridor sekolah. Dan dia juga yang menaruh dompet tersebut kedalam meja soojung.

Dia tersenyum tipis seraya menatap Foto Soojung.

“Aku pasti menyakiti hatinya!”

“Arghhhhhhhh”Jongin berteriak begitu keras seakan meluapkan semua hal yang membuat kepalanya terasa berat.

***

Canggung, itulah yang dirasakan Soo jung saat berpapasan dengan Jongin ketika dia akan pergi ke toilet. Tapi bukan hanya Soo jung saja yang merasakan hal tersebut, Jongin juga tampaknya tak bisa menyembunyikan perasaan canggungnya.

“Tsk. Kenapa aku harus bertemu dengan kau lagi!” ucap Jongin dingin untuk menyembunyikan kegugupannya.

Jongin kemudian pergi dari hadapan Soojung sambil menyenggol bahu Soojung dengan sengaja. Sedangkan Soo jung hanya bisa meremas kedua tangannya, bukan karena kesal melainkan dia menahan air matanya agar tidak jatuh.

Dan saat ini Soojung tengah duduk di atas kloset, dia termenung memikirkan perlakuan Jongin padanya.

“Apa dia benar-benar membenciku? Tapi kenapa?” tanyanya pada dirinya sendiri.

Saat dia akan keluar, tanpa sengaja dia mendengar suara seseorang memasuki toilet. Hal itu membuatnya mengurungkan niatnya untuk keluar dari toilet.

“Hari ini Gongchan oppa menanyakan soal Soo jung”

“Mwo? Maksudmu Soo jung yang di kelas kita?”

“Ya,aku tak mengerti kenapa dia menanyakan wanita itu. aku pikir oppaku tertarik padanya!”

“Memang aku akui dia sangat cantik, jadi pantas saja kalau banyak laki-laki yang menyukainya.”

“Ya memang benar dia cantik, tapi aku takut oppaku akan bernasib sama seperti lelaki lainnya. Kau lihat saja, tak pernah sekalipun wanita itu tersenyum. dia selalu menunjukan tatapan yang seakan-akan ingin menelan kita hidup-hidup.”

“Aku pernah mencoba berbicara dengannya tapi dia malah menatapku dengan tajam.membuatku jadi tidak nyaman. Dia juga tidak pernah berbicara pada siapapun dan bahkan tidak mempunyai teman”

“Ah bagaimana dia mempunyai teman kalau dia menatap lawan bicaranya dengan tatapan yang sekejam itu”

“Ah sudahlah ayo kita kembali”

Soojung menghela napasnya panjang. Dia tersenyum lirih ketika mendengar pembicaraan dua orang perempuan barusan tentang dirinya.

“Jadi seperti itulah mereka melihat diriku            !” gumannya dengan lirih.

***

Karena masih merasa sedih, Soojung tidak langsung pulang setelah dia membereskan kelas, namun dia malah kembali duduk di kursinya sambil menatap kearah luar dari jendela dengan sebelah tangan yang menopang dagu nya.

Beberapakali dia menghela napasnya panjang,dia terus memikirkan bagaimana orang lain melihat dirinya selama ini. dia bahkan berpikir untuk lebih sering tersenyum jadi teman-temannya akan merubah pikiran mereka tentang dirinya.

“Kau belum pulang?”

Soo jung menatap kearah seseorang yang saat ini sedang berdiri di pintu. dan betapa terkejutnya dia saat mengetahui bahwa itu adalah Jongin.

Soojung langsung menyipitkan kedua matanya lalu mengambil tas miliknya dan beranjak dari duduknya.

Soo jung berjalan kearah Jongin, namun saat tepat berada di tempat jongin berdiri saat ini, Soojung hanya terus berjalan seakan menganggap bahwa tak ada siapapun disana.

Begitu Soojung melewatinya, Jongin kemudian tersenyum tipis. Beberapa detik kemudian Jongin berbalik untuk mengejar Soo jung.

Dia menarik lengan Soojung membuat Soojung menghentikan langkahnya dan menatap Jongin saat ini.

“Lepaskan!”ujar Soojung dingin.

Bukannya melepaskan pegangannya, Jongin malah menurunkan tangannya ke telapak tangan Soo jung dan menggenggamnya erat.

“Tersenyum, dia tersenyum!”ucap Soojung dalam hatinya ketika melihat jongin tersenyum.

Jongin pun menarik tangan Soo jung dan tanpa penolakan Soojung pun hanya mengikuti Jongin.

Mereka kini menaiki motor Jongin dan tengah menuju suatu tempat. Tak sekalipun mereka saling berbicara karena mereka terhanyut dalam pikiran mereka masing-masing.

“Aku, selama ini selalu mencoba tak memperdulikan sekelilingku. Tapi ketika aku melihatmu, kata yang terlintas di kepalaku adalah kenapa aku seperti melihat diriku sendiri. Kau tak pernah tersenyum dan selalu menatap orang dengan tajam bahkan mereka selalu menganggapmu orang jahat tanpa mereka mengetahui apapun tentang dirimu” batin Jongin.

“Aku tak menyangka bisa sedekat ini denganmu. Saat kau memegang tanganku tadi seakan ada sengatan listrik dalam hatiku. Jika aku bisa sedekat ini denganmu terus seperti sekarang, aku tidak akan perduli lagi apa yang orang-orang pikirkan tenangku. Entah mereka akan mengatakan bahwa aku terlihat seperti gadis yang kejam atau aku terlihat sangat menakutkan seperti seorang penyihir. Aku benar-benar tidak perduli”

Jongin ternyata membawa Soo jung ke sebuah pantai. Mereka saat ini sedang menatap lautan yang luas dengan ombak yang saling berkejaran.

Semenjak dari sekolah,sampai pantai tempat mereka berdiri saat initak sekalipun mereka mengeluarkan kata-kata ataupun saling berbicara satu sama lain. namun sesekali mereka saling mencuri pandang pada satu sama lain.

***

Soo jung menatap foto ibunya seperti biasa dia lakukan.

“Umma,disini. .” soo jung memegang dadanya.

“Terasa sangat sakit ketika mengetahui bahwa teman-temanku mengatakan bahwa aku seperti gadis jahat, tapi ketika dia memegang tanganku dan ketika aku melihat senyumannya untuk pertama kali. Hal yang terasa menyakitkan itu tiba-tiba saja hilang”

Dret dret~~

Ponsel Soojung berbunyi dan saat terlihat tulisan Sica eonni di layar ponselnya dia tersenyum sangat lebar.

“Eonni!” pekiknya

Ketika Soo jung sedang bahagia karena ditelepon oleh kakak perempuannya yang sedang berada di Amerika, hal sebaliknya malah terjadi pada Jongin yang saat ini tengah kesal akibat pertengkaran kedua orang tuanya.

Bug!!!

Jongin terkejut saat mendengar suara seperti suatu benda yang terbentur tembok. Pikirannya kini tertuju pada Ibunya, dan ternyata keyakinannya benar karena tak beberapa lama kemudian terdengar suara teriakan ibunya.

Betapa terkejutnya Jongin ketika dia menghampiri kedua orang tuanya, dia malah melihat ibunya yang tengah terduduk lemas dengan pipi yang memar dan darah di pinggir bibirnya.

“HYA APA YANG KAU LAKUKAN PADA IBUKU?” Pekik Jongin dengan mata memerah serta menatap ayahnya tajam.

“Jongin-ah”guman ayahnya saat melihat Jongin ada disana.

“Terus saja kalian seperti ini, abeoji BUNUH SAJA EOMMA” ucap Jongin yang semakin meninggi.

“Bukankah sudah aku bilang pada kalian lebih baik kalian bercerai saja. Kenapa kalian begitu egois hah?APA KALIAN TAK PERNAH BERPIKIR TENTANGKU SEDIKITPUN?”

Karena kesal, jongin pun pergi, dia menaiki motornya tanpa menghiraukan kedua orang tuanya yang saat ini tengah mengejarnya.

***

Jongin menghentikan motornya didepan sebuah gerbang suatu rumah. Dia turun dari motor dan melihat jam tangannya.

“8.40” ujarnya.

“Haruskah aku melakukan ini?” tambahnya.

Dia menyender pada motornya lalu memasukan kedua tangannya di saku celananya. Ponsel nya bebunyi dan terlihat nama Tao di layar ponselnya.

“Wae hyung?” tanyanya ketika menjawab telepon dari lelaki yang bernama tao.

“Hya bisakah kau membalas budi yang kau katakan padaku waktu itu Jongin-ah?” ucap Tao dengan suara yang seperti sedang kesakitan.

“Hyung waegeurae?” tanya Jongin sekali lagi.

‘Hya bodoh cepat datang dan bals budimu!” pekik Tao

Jongin pun memutuskan sambungannya, dia menaiki motornya kemudian pergi.

***

Soo jung POV

Aku melihat kursinya kosong,kemana dia? apa dia tidak masuk. Orang itu terus saja memenuhi pikiranku saat ini. sampai-sampai aku tidak bisa focus pada apa yang sedang songsengnim jelaskan.

Klek~~

Pintu kelas terbuka, aku melihat seseorang masuk dan itu adalah Jongin. ketika melihatnya seperti sekarang benar-benar membuatku sangat bahagia. Tapi,tunggu kenapa wajahnya. Wajahnya memar, bahkah dahinya tergores.

Park Songseng kini tengah mengomelinya, namun sepertinya tak sedikitpun dia mendengarkan ucapan park songseng.

“Kalau kau tidak memberitahuku kenapa wajahmu memar seperti itu, maka aku tidak punya alasan mengijinkanmu memasuki kelas. . “

Sebelum Park songseng menyelesaikan perkataannya, Jongin sudah terlebih dahulu pergi dari hadapan Park songseng.

Rasa khawatir kini menerpaku, apa dia berkelahi?ataukah gerombolan lelaki yang waktu itu mengeroyoknya lagi? aku begitu penasaran sampai-sampai aku tak sada rkalau saat ini aku sudah mengangkat tanganku.

“Park Songseng,apa boleh aku ijin ketoilet?” ijinku.

Semua siswa dikelas kini menatapku curiga karena mungkin tak biasanya aku ijin pada saat jam pelajaran.

“Eo” ucap Park songseng sambil mengangguk.

***

Itu dia, duduk di kursi yang berada di bawah sebuah pohon. Aku menatapnya dari balik dinding . Apa tidak apa-apa aku mendekatinya? .

Aku menyenderkan badanku di dinding dan semakin erat memegang kotak P3k yang tengah aku bawa.

“Apa dia tidak akan marah?” gumanku

Karena ragu bercampur takut, akhirnya aku memutuskan untuk mengundurkan niatku. Aku hendak melangkah pergi, namun aku mencoba menoleh kearahnya sekali lagi.

Deg!!

Aku ta bisa percaya ketika aku berbalik,tiba-tiba saja dia sudah berada dibelakangku dan kini tengah menatapku dengan tatapan yang seakan bertanya apa yang aku lakukan disana.

Aku menelan ludah, dan perasaan gugup menghampiriku. Aku memundurkan langkahku hendak pergi tanpa mengatakan apapun, tapi dia malah menahan tanganku.

“Bukankah kau datang untuk mengobatiku?” tanya nya

“Mwo?Sia-apa yang mengata-kan-nya?” tanyaku terbata

Dia tersenyum kemudian melipat tangannya didada, kini kedua matanya menunjuk pada kotak P3K yang sedang aku bawa. Dan akhirnya akupun tersenyum canggung.

***

Kini aku duduk dengannya dan tengah mengobati lukanya, ternyata bukan hanya didahi. Tapi tangannya juga sama.

“Apakau berkelahi?” tanyaku saat melilitkan perban di tangannya.

“Kenapa aku harus memberitahumu?” ucapnya dingin.

Aku menatapnya seraya berdecak karena kesal.

“Baiklah itu tidak apa-apa kalau kau tak mau memberitahuku. Lagi pula kita tidak saling kenal jadi tidak ada gunanya kau memberitahuku juga”

“Mulutmu benar-benar jahat, apa kau tahu dengan ekspresi wajahmu dan tatapanmu yang seperti itu makanya kau tidak mempunyai teman”

“Mwo? Lalu bagaimana denganmu sendiri? Kau juga tidak punya teman kan?”

Dia tersenyum kemudian menengadahkan kepalanya.

“Kedua orang tuaku menikah karena mereka di jodohkan. Mereka di Paksa menikah hanya karena untuk kepentingan kedua orang tua mereka. Mereka tidak saling menyukai tapi di paksa untuk menikah dan bahkan mereka harus terlihat sangat bahagia didepan semua orang. Tapi ketika di rumah mereka terus bertengkar, tanpa memperdulikan perasaan anak mereka.”

Kasian, dia benar-benar kasian. Aku tak bisa membayangkan kalau itu terjadi padaku. dan memang benar apa yang dikatakan ibuku kalau seseorang menjadi jahat karena mereka punya alasan tetentu. Begitu juga Jongin, dia selalu terlihat dingin dan jahat karena dia punya alasan tertentu.

“Aku selalu ingin berteman, tapi mereka selalu menganggap aku gadis yang angkuh dan sombong. Mungkin karena ekspresi wajahku, tapi itu semua Karena aku gugup dan tak tahu harus melakukan apa. aku tidak pernah pergi keluar untuk bermain dengan teman seumuranku. Aku selalu iri dengan teman-temanku yang mempunyai ibu jadi aku lebih senang memperhatikan mereka dengan ibu mereka dibanding aku bergabung dengan mereka”

Baru kali ini aku merasa bisa dengan bebas menceritakan apa yang aku rasakan pada seseorang, bahkan pada eonni dan ayahku sendiri aku tidak pernah melakukannya. Dia, lelaki ini kenapa terasa begitu special. Aku seakan bisa bersandar padanya.

“Ketika aku melihatmu pertama kali, aku tiba-tiba berpikir bahwa aku seperti melihat diriku sendiri”

Dia menatapku dengan tersenyum dan entah kenapa senyumannya terasa begitu hangat. Wajah dinginnya berubah menjadi hangat dan kenapa dadaku terasa akan meledak?.

Aku merasa bahwa aku selangkah lebih dekat dengannya. Dia yang selama ini hanya bisa aku lihat dari kejauhan kini bisa aku lihat dari dekat bahkan dia tersenyum padaku. satu hal yang benar-benar ingin aku katakan dalam rasa gugupku ini adalah . .

“Ayo berteman!”

Dia menoleh kearahku kemudian tersenyum. Aku membalas senyumannya juga membuat kami saling tersenyum satu sama lain.

Setelah ini, Hal yang aku harap adalah aku bisa terus dekat dengannya dan lebih dekat lagi.

Soojung POV End

END

 

Ah gak tahu kenapa pengen banget pengen cerita Kaistal gara-gara galau TLP >,< dan pasti banyak yang protes kalau ini gantung…

Hayo jawab???? Yakan gantung? *Plak

Oh lupa pokoknya terima kasih banyak yang udah mau baca,like dan comment yah ^^

Yupz yupz yupz samape disini dulu lah dan tunggu kelanjutan cerita Kai-stal selanjutnya di The romantic.

 

 

 

 

28 thoughts on “[oneshot] The Romantic

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s