Truly, I Love You (chapter 15)

truly-i-love-you-3_zpsbad042c5

Title : Truly, I love You | Author : Kanemin| Main cast : Do Kyung Soo (D.O), Sakura (OC)| Support Cast : Exo-K member, Chen (Exo-M), Yunju, EunYeol|Length : chaptered| Genre : Romance, Married Life

Disclaimer: the idea is mine, everything on this fic based on my imagination, don’t ever too serious, why so serious?? this is just a fiction😀

Sorry for the typo, haha saya hanya manusia biasa yang terkadang banyak salah. Enjoy everyone.

-Chapter 15-

-0-

Cerita itu memang sudah lama, namun entah kenapa terus membayangi

Sakura mengepal-ngepalkan tangannya tak sabar. Dokter Jo sudah datang beberapa saat yang lalu dan saat ini sedang di dalam kamar D.O memeriksa laki-laki itu. sakura baru saja hendak membuka kamar D.O untuk masuk dan disaat yang sama dokter Jo keluar. Dia tersenyum melihat sakura, “dia baik-baik saja, hanya demam biasa.” belum sempat sakura bertanya, dokter Jo sudah menjelaskannya seakan tahu dari tatapan kekhawatiran di mata sakura.

“oh, uhm. Kamsahamnida ahjussi, maaf merepotkanmu.” Ucap sakura setelahnya.

“ah tidak, ini kan memang sudah jadi tugasku, dia hanya perlu istirahat sebentar saja, dan untuk beberapa hari sebaiknya jangan banyak kegiatan dahulu. Tubuhnya kelelahan, dan kuharap kau memerhatikan makanannya, sepertinya tidak banyak makanan yang masuk ke dalam perutnya beberapa hari ini.”

Sakura menatapa dokter jo lama, daya tangkapnya yang memang lemah masih berusaha mencerna semua yang dikatakan dokter jo. Melihat sakura yang menatapnya bingung, dokter jo tersenyum. “ini sudah kujelaskan juga pada ahjumma, tugasmu hanyalah menemaninya sakura.”

“eoh?”

“aku pulang dulu, kalau ada apa-apa lagi jangan ragu-ragu langsung saja menelponku.” Dokter jo mengacak rambut sakura pelan dan berlalu. sakura membungkuk sebentar dan berjalan pelan di belakang dokter jo.

“ah.” Dokter jo tiba-tiba saja berbalik membuat sakura mengerjap kaget. “hubungan kalian sepertinya membaik, aku senang melihatnya.”

“ye?” sakura mengeritkan keningnya heran, tidak mengerti kenapa dokter jo tiba-tiba saja berkata begitu. Namun, setelah beberapa saat berpikir, sakura menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Ia ingat tadi saat dokter jo datang, dia masih dalam posisi yang sama, berada dalam pelukan D.O, “uhm.” Sakura tersenyum salah tingkah dan dokter Jo malah membalasnya dengan tawa renyah.

“jaga D.O baik-baik sakura.” pesan dokter Jo sebelum menuruni tangga.

Sakura menghela nafasnya, “memalukan sekali.” Gerutunya pelan.

Ahjumma keluar dari kamar D.O dengan membawa nampan berisi beberapa obat yang baru saja diberikannya pada D.O, “kyungsoo sudah tidur ya ahjumma?” tanya sakura.

“iya nona, dokter Jo tadi mengatakan untuk langsung istirahat.”

Sakura mengangguk mengerti. “baiklah,” sakura mengurungkan niatnya untuk memeriksa kondisi D.O, “ini sudah malam, ahjumma bisa pulang.”

Ahjumma mengangguk patuh dan segera berlalu dari hadapan sakura.

Sakura’s POV

Setelah menimbang lagi, aku tetap memutuskan untuk tidak masuk ke kamar kyungsoo. dia butuh istirahat, dan kurasa kalau aku masuk hanya akan mengganggunya. “selamat malam kyungsoo,” kataku pada pintu putih kamarnya yang bergeming.

“mianhae eunyeol-ah. Kyungsoo sakit dan aku tak mungkin meninggalkannya,” ujarku sembari merebahkan diri. Tadi setelah membersihkan diri, ponselku berdering dan ternyata eunyeol yang menelpon.

“D.O sunbae sakit apa?” tanya eunyeol dari seberang.

“uhm, tubuhnya panas dan ya begitulah. Eh sudah malam, sudah ya. bye.”

Belum sempat eunyeol mengatakan apa-apa lagi aku langsung menutup teleponnya. Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Kutatap langit-langit kamar sembari memegangi dadaku yang sejak kejadian tadi terus saja berdetak kencang. Apa yang akan kyungsoo katakan ya, kalau saja tadi aku berani menyuarakan isi hatiku. Kalau saja aku berani mengatakan kalau aku mencintainya, reaksi kyungsoo bagaimana ya. “hah…” desahku cukup keras. Dasar bodoh, kurasa aku tak akan pernah berani mengatakannya. Walaupun penasaran dengan apa yang kyungsoo rasakan, aku tidak cukup siap dengan kemungkinan terburuk yang mungkin saja akan dia berikan.

Aku memejamkan mataku. Kyungsoo hebat sekali bisa membuat perasaanku terombang-ambing seperti ini. bagaimana mungkin siang tadi aku yang begitu marah padanya setengah mati berubah menjadi begitu takut kehilangannya.

-0-

Aku memutus sambungan teleponku dengan eunyeol, aku baru memberitahunya kalau aku tak akan masuk sekolah hari ini. aku ingin menjaga kyungsoo.

Matahari sudah mulai tinggi saat aku menuju dapur, ahjumma sedang sibuk menyiapkan sesuatu. “ahjumma,” panggilku.

Ahjumma sedikit terlonjak kaget dan menoleh, “nona? Nona sakura kenapa belum bersiap-siap? Ahjussi sudah menunggu di depan.”

“aku tidak masuk sekolah hari ini, kyungsoo kan sedang sakit. Katakan pada ahjussi dia pulang saja. aku tak akan kemana-mana hari ini.”

Ahjumma menatapku sejenak, ragu. Aku mendorong ahjumma pelan keluar dari dapur, “sudahlah ahjumma, apa ini bubur untuk kyungsoo? biar aku yang antar.”

Ahjumma tidak sempat mengatakan apa-apa lagi karena aku sudah membawa nampan berisi mangkuk bubur ditanganku. “aku naik dulu ya.”

Aku mengetuk pintu kamar kyungsoo pelan, hanya ada jawaban samar yang kudengar. “aku masuk ya.” kataku kemudian. Aku membuka pintu kamar kyungsoo perlahan. Kulihat kyungsoo sedang duduk di tempat tidurnya membaca sesuatu.

“hey,” sapaku.

Kyungsoo menoleh dan menyunggingkan senyum tipis, dia menutup buku yang sedang dibacanya dan menatapku. “kenapa kau disini?” tanyanya. dan terdengar ketus di telingaku.

Aku menelan ludahku, kenapa nada bicara kyungsoo begitu? Dia tak suka aku disini? Aku menghela nafas, “membawakanmu makanan, kau kan harus minum obat.”

“maksudku kenapa kau disini dan tidak pergi sekolah?”

Aku tersenyum canggung, “oh, kau kan sedang sakit, jadi uhm kurasa tidak apa-apa kalau aku membolos hari ini.” jelasku. Kyungsoo mengerutkan keningnya dan masih menatapku.

Aku berdecak, “sudahlah, kenapa harus mempermasalahkannya, aku kan hanya akan tidak masuk sehari. Uhm ini buburmu, kusuapi ya?”

“tidak perlu,” kyungsoo menggerakkan tangannya hendak mengambil mangkuk di tanganku,

Aku menarik tanganku, “ih, kusuapi saja. kalau kau makan sendiri nanti buburnya tak kau habiskan.”

Author’s POV

D.O hanya mengerutkan keningnya heran. Gadis dihadapannya memang sulit untuk diberitahu dan seharusnya D.O ingat itu. sakura mulai menyuapkan bubur ke mulutnya, tak ada pembicaraan keluar diantara mereka. Hanya diam dan senyap yang bergaung didalam kamar.

Selama menyuapi D.O, tak sekejap pun sakura berani mengangkat kepalanya. Ia bahkan menghitung setiap helaan nafasnya, udara di ruangan memang agak menyesakkan bagi sakura dan ia tahu kenapa.

“kyungsoo.” ucap sakura, dia sudah tak tahan dengan kebekuan yang malah membuat perasaannya tak karuan.

“hm.”

Sakura mengangkat kepalanya, dan mendapati kedua bola mata D.O tengah menatapnya menanti kelanjutan ucapannya.

“uhm, aku minta maaf.”

“untuk?”

Sakura kembali menunduk, menatap D.O hanya akan membuatnya sulit untuk menjelaskan. “untuk semuanya, dan soal yang kemarin di sekolah. Aku benar-benar minta maaf, aku tak seharusnya mengatakan hal itu padamu. Aku.. aku sudah keterlaluan kemarin dan hari-hari sebelumnya.”

Sakura hanya mendengar D.O mendesahkan nafasnya. Dia kembali mengangkat kepalanya, “kau mau memaafkanku kan?” tanyanya memastikan.

D.O bergeming, dia hanya memberikan tatapan menilai pada sakura.

Sakura mendesah, “aku tahu aku sangat keterlaluan, dan bukan hal yang mudah memang memaafkanku, aku…”

“gomawo,” D.O menyela sakura sebelum gadis itu menyelesaikan perkataannya.

“huh?” sakura menatap D.O bingung,

“gomawo,” ulang D.O

Sakura diam, dia tadi meminta maaf dan melihat D.O yang tak memberikan respon apapun, sakura mengira D.O memang semarah itu padanya tapi tiba-tiba laki-laki itu malah mengucapkan terima kasih.

“terima kasih untuk apa?”

“menjagaku dan tetap disisiku semalam.”

Rona merah seketika terbias diwajah putih sakura, dia juga tak tahu kenapa ia harus bersemu tapi mengingat kejadian semalam memang selalu membuatnya berdebar.

Sakura berdehem, “oh, itu kan bukan apa-apa.” Ucapnya yang ia usahakan sedatar mungkin tapi jelas sekali kalau sakura salah tingkah.

D.O tersenyum, sedikit. Dan mengangguk, “gomawo.” Ujarnya sekali lagi.

Kening sakura berkerut, “kyungsoo! aku kan tadi minta maaf padamu, tapi kau malah terus menerus mengucapkan terima kasih. Apa sebenarnya kau sedang menghukumku ya.” sakura mendengus kesal, ia juga tanpa sadar menaikkan nada suaranya.

D.O menatap sakura, tepat dimatanya. Sakura juga kali ini tak mengalihkan tatapannya dari D.O, kalau sedang jengkel ia memang jadi pemberani. Detik-detik berikutnya, mereka hanya saling menatap satu sama lain. Sakura sadar kalau kupu-kupu didalam perutnya mulai beterbangan, dan itu bukan pertanda baik.

“aku sudah memaafkanmu.” Kata D.O pada akhirnya, pipi sakura yang belakangan dilihatnya semakin tirus itu sudah seperti tomat. Dan percayalah, saat ketika sakura mulai kehilangan pertahanannya setiap saat mereka bertatapan adalah saat yang paling disukai D.O, bagaimanapun hari-hari ketika sakura sudah datang dalam hidupnya, tidak dapat dipungkiri, memang sudah merubah banyak hal. Terlalu banyak hal.

Bola mata sakura berbinar, “benarkah?”

“hm.”

“jinjja?”

“hm.” D.O kali ini mengangguk, “tapi…”

“apa?” balas sakura cepat,

“tapi kau harus berjanji satu hal padaku.”

“apa?”

“jangan pernah lagi mencoba untuk menghindariku.” D.O berkata dengan nada pelan, dalam dan penuh penekanan.

Sakura mengangguk, “arasseo.”

D.O’s POV

Melihat anggukkan sakura entah kenapa aku ingin berteriak saja. rasanya bahagia sekali. Dan jangan tanyakan alasannya karena aku juga tidak tahu. “pejamkan matamu.” Suruhku.

“untuk apa?” tanyanya dengan nada heran,

“lakukan saja.” harusnya aku menyuruhnya berjanji untuk melakukan apapun yang kusuruh tanpa banyak bertanya.

Sakura menatapku sebentar dan memejamkan matanya.

Aku menahan senyum, maafkan aku sakura tapi kurasa sejak kau menghindariku di hari-hari kemarin aku ingin sekali menghukummu dengan ini,

Aku mendekatkan wajahku dan dalam hitungan detik, aku menempelkan bibirku di bibirnya. hanya kecupan singkat, dan tak lebih dari dua detik tapi reaksi sakura setelahnya sangat berlebihan.

Sakura membuka matanya, mata besarnya itu menatapku tak percaya. Sakura berkedip cepat. Dia menyerahkan mangkuk ditangannya kepangkuanku dan berdiri. “habiskan sendiri buburmu, jangan lupa minum obatnya.” Ucapannya sangat cepat dan ia juga bergerak seperti kilat. Yang kutahu sepersekian detik kemudian pintu kamarku terbukan dan menutup lagi dengan cepat.

Aku menatap mangkuk bubur ditanganku dan mendesah, “dia berlebihan sekali.” Gumamku pelan.

Author’s POV

Sakura menggenggam daun pintu di belakang tubuhnya erat. Matanya masih terbelalak selebar-lebarnya, terlalu kaget dengan apa yang baru saja terjadi. Sakura memegang dadanya, dan menghela nafasnya keras. “aku sedang tidak bermimpi kan?” tanyanya pada dirinya sendiri.

Ia mengginggit bibirnya, masih juga tak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan D.O padanya, rasanya semua terjadi hanya dalam hitungan detik dan itu yang membuat sakura terus saja bertanya apakah itu nyata atau tidak.

“nona?” ahjumma berdiri di depan sakura dan menatapnya heran.

“hah?” sakura yang masih merasa melayang-layang itu gugup begitu menyadari ahjumma kang sudah berdiri di hadapannya. Dia melepas pegangannya pada daun pintu kamar D.O, “eng, kenapa ahjumma disini?”

“saya sedang beres-beres, nona sakura sendiri kenapa berdiri disini? Tuan muda sudah minum obatnya?”

“oh, kurasa sudah. Ta.. ta.. tanya saja sendiri, aku lupa kalau harus melakuakan sesuatu.”

Tanpa mengatakan apa-apa lagi ia langsung lari ke kamarnya meninggalkan ahjumma yang heran dengan sikap nona mudanya itu.

-0-

Seharian sakura hanya tidur-tiduran dikamarnya dan sesekali melihat buku pelajarannya, hanya melihat tanpa ada niat untuk membacanya. Gadis itu juga sesekali melihat keluar jendela hanya untuk memotret ranting-ranting pohon yang ada didekat jendela kamarnya.

“ah….” Desah sakura sembari menghempaskan tubuhnya ke kasur, “ck aku bosan sekali,” gumamnya. Dia mengecek ponselnya, melihat mungkin saja ada pesan masuk dari eunyeol, yang ternyata hanya membuatnya memberengut sebal karena tak ada pesan apapun dan dari siapapun.

Langit sudah semakin sore saat sakura memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Diliriknya pintu kamar D.O yang tertutup, dia pasti sedang istirahat. Pikir sakura. sakura turun menuju dapur, dan dilihatnya ahjumma kang sedang berkutat dengan masakannya.

“ahjumma.” Panggil sakura pelan.

Ahjumma kang menoleh dan tersenyum begitu melihat nona mudanya, “iya nona?”

“siang tadi, kyungsoo sudah makan dan meminum obatnya?”

“sudah nona,”

Sakura mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengambil kue di meja dan membuka kulkas mencari jus mangga kesukaanya. Sakura mengintip masakan yang sedang di masak ahjumma, terlihat seperti sup tapi sakura tak tahu apa namanya.

“NOONAAAAA…….” Teriak seseorang dari pintu depan. Sakura dan ahjumma sama-sama terlonjak kaget dan menoleh, sehun melambaikan tangannya semangat begitu melihat sakura yang muncul di pintu dapur.

“sehunee?” tanya sakura lebih kepada dirinya sendiri. sehun berjalan mendekat kearahnya, dan di belakangnya mengekor suho, kai, chanyeol, baekhyun, dan eunyeol. sakura menaikkan alisnya heran. “kenapa kalian disini?” tanyanya begitu sehun dan yang lainnya sudah berdiri di depannya.

Sehun dan yang lainnya saling melihat satu sama lain.

“menjenguk D.O hyung lah, tentu saja.” jawab kai.

“ah ya sudah, D.O ada dikamarnya kan? ayo naik.” Chanyeol berkedip pada sakura yang masih menampakkan wajah herannya.

Suho melempar senyum pada sakura, “kau pasti menjaga D.O dengan baik kan sakura?” ujarnya, dia kemudian menyusul yang lain menaiki tangga.

Sakura mengerutkan keningnya pada eunyeol, “kau!” tunjuknya pada eunyeol.

“wae?”

“kenapa tak memberitahuku dulu kalau kau mau kesini?”

“aku tak berniat kesini tau, tapi tadi sehun mengajakku ya sudah. Oh iya, ini pelajaran hari ini.” eunyeol membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa bukunya. “bagaimana keadaan D.O sunbae?”

Sakura mengambil buku-buku yang diletakkan eunyeol di meja makan, “dia sudah membaik.”

“ah, tadi chen menghampiriku dan menanyakanmu.”

Sakura menatap eunyeol bingung, “menanyakanku? Untuk?”

Eunyeol mengangkat bahunya, “dia tak bilang, tapi dia berpesan untuk bilang padamu soal jangan lupa janji malam ini. kau janji apa dengannya?”

Sakura mengerutkan keningnya, berpikir. “aku tak ada janji apa-apa dengannya.”

“oh, baiklah. Ya sudah aku pulang ya, ibuku minta diantar belanja. Sampaikan salamku pada D.O sunbae, semoga cepat sembuh. Dan bilang pada yang lain aku pulang duluan. Bye sakura.” eunyeol melambaikan tangannya dan segera berlari kecil bergegas keluar.

Ahjumma sedang menyusun kue dan minuman saat sakura kembali ke dapur, “ini untuk suho oppa dan yang lainnya kan ahjumma?” tanya sakura.

“iya nona.”

“aku saja ya yang membawanya keatas.” Kata sakura kemudian.

“ini berat nona, tidak usah.”

“ah aku bisa kok, sungguh.”

Ahjumma yang tak bisa menolak keinginan nona mudanya mengalah. Walau sedikit gemetar sakura kuat membawa nampan yang cukup berat tersebut. dengan hati-hati ia menaiki anak tangga satu persatu.

Begitu sampai di lantai dua, sakura langsung mendapati chanyeol dan baekhyun yang sedang membuka kota kaset ps yang ada di dekat tv, sakura meletakkan nampan di meja. “oppa? Kalian kenapa tak dikamar kyungsoo?”

Chanyeol menoleh, “oh. Tadi kami sudah kesana, dan aku ingat ada game yang belum kami selesaikan, iya kan baekhyun-ah?” jelas chanyeol sembari mengambil sepotong kue.

“eoh,” balas baekhyun singkat, ia masih sibuk mencari.

Sakura mengangkat bahunya, ia beranjak menuju kamar D.O ingin memanggil yang lain untuk minum dulu. Pintu kamar D.O terbuka sedikit begitu sakura hendak mengetuknya.

“yunju noona mengkhawatirkanmu saat dia tahu kalau kau sakit.”

Deg.

Gerakan tangan sakura tertahan begitu mendengar suara yang ia tahu milik sehun tersebut.

“dia tak menghubungimu hyung?” kata sehun lagi.

“tidak.”

“sejak dulu sepertinya yunju memang menyukaimu hyung. Kelihatan sekali iya kan sehun-ah?” kali ini kai yang bicara.

Sakura menelan air liurnya dari balik pintu, ia masih berdiri tak bergerak dari tempatnya semula, menguping pembicaraan sehun dan yang lainnya.

“huss, kenapa kalian jadi bergosip seperti ini. kita kan ingin menjenguk D.O, lagipula kalau nanti sakura dengar tidak enak kan.” suho akhirnya mengeluarkan suara.

“ah hyung, arasseo.” Ujar kai dan sehun bersamaan.

Sakura mengepalkan tangannya keras. Dadanya terasa sesak, mereka membicarakan yunju dan sakura tak boleh tahu. memangnya siapa sebenarnya yunju itu? kenapa ia tak boleh tahu? sakura menarik nafasnya dalam, perasaannya masih sesak ketika ia berusaha mengetuk pelan pintu kamar D.O

“kyungsoo ini aku.” katanya setelah mengetuk pintu.

“masuk.” Balas D.O

Sakura membuka pintu kamar perlahan, walau dengan sekejap mata ia bisa tahu air muka D.O, suho, kai dan sehun sedikit berubah. “hai noona,” sapa sehun, dia memang berusaha terlihat wajar tapi karna itulah sakura bisa langsung tahu, sehun sedang tegang sekarang.

“ahjumma menyiapkan kue dan minuman. Itu ada di dekat tv.” Ucap sakura, dia melemparkan seulas senyum dan kembali menutup pintu.

Suho melirik D.O yang masih menatap pintu yang baru saja tertutup itu dan melemparkan tatapan sinis kearah sehun dan kai. “apa sakura dengar pembicaraan kita hyung?” tanya kai pada suho.

“tidak tahu, tapi kalau dia memang dengar itu salah kalian.” Tegas suho. Dia berdehem sebentar lalu bangkit, “aku keluar dulu ya.” katanya meminta ijin.

D.O mendesahkan nafasnya, “kalian tak ingin keluar juga?”

“tidak, kami disini saja hyung.” ucap sehun.

-0-

Sakura membolak-balik majalah yang didapatnya di laci ruang tamu dengan bosan, ahjumma masih sibuk memasak dan sakura kehilangan semangat untuk membantu. Ia juga tak ada niatan naik bergabung bersama yang lainnya karena sepertinya sakura memang berada di luar lingkaran dan sama sekali tak ada hak untuk memaksa masuk.

“ck.” Ia melempar asal majalah yang sejak tadi tidak dibacanya itu. bosan sekali dan ia heran kenapa eunyeol harus pulang disaat D.O sedang didatangi teman-temannya seperti sekarang ini.

“sakura?” panggil seseorang, sakura menoleh dan di sampingnya sudah berdiri suho dengan gelas minuman di tangannya.

“oppa? Ada apa? Kau ingin menambah minuman lagi?”

Suho tersenyum, “tidak. aku ingin bersamamu saja. boleh aku duduk disini?” tanya suho meminta ijin.

“tentu saja.” balas sakura cepat, dia menggeser tubuhnya memberikan ruang kosong yang lebih luas untuk suho.

Suho mengambil tempatnya, duduk tepat di samping sakura. kalau aroma tubuh D.O seperti caramel, suho memiliki aroma yang lebih maskulin dari itu. aroma mint menguar begitu kuat ditambah dengan aroma pohon ek saat musim kemarau ketika daunnya berjatuhan. “sakura,” panggil suho.

“hm?” gumam sakura sembari menoleh,

“boleh aku memelukmu?”

Sakura menatap suho sebentar dan mengangguk, suho tersenyum dan menarik sakura kedalam pelukannya. Itu bukan pelukan biasa, itu pelukan hangat. Sangat hangat dari seorang kakak untuk adiknya. Walau sakura tak memiliki seorang kakak tapi ia tahu, bahkan rasanya pun jauh berbeda dari ketika D.O memeluknya. Tidak ada debaran menyakitkan di rongga dadanya, yang ada hanya rasa nyaman dan perasaan dilindungi.

“terima kasih sudah mau menjaga D.O, kau memang benar-benar gadis yang dibutuhkannya.” Ucap suho sembari mengelus kepala sakura.

“tapi aku bukan gadis yang diinginkannya oppa,” sakura sungguh sedang tidak ingin menangis, tapi ia juga bukan orang yang pintar menyembunyikan perasaannya. Walau tidak diinginkan, air mata mengaliri pipinya dan berakhir membasahi seragam suho.

Suho melepas pelukannya dan memegang kedua bahu sakura, “hei kenapa kau menangis?” tanyanya khawatir.

Sakura menunduk dalam tak berani melakukan kontak mata dengan suho. Ia menggeleng pelan sebagai tanggapan.

“sakura, coba lihat aku.” suruhnya dengan nada yang amat lembut.

Sakura mengangkat kepalanya, dan menghapus air matanya. Tak mau suho melihatnya menangis, ia sudah cukup cengeng di mata D.O dan ia tak mau suho menganggap hal yang sama.

“kenapa kau menangis sakura?”

“tidak,” elak sakura sembari menggelengkan kepalanya.

“kalau ada hal yang menganggumu ceritalah padaku sakura,”

Sakura kali ini menatap suho dalam, jauh dalam hatinya dia memang sangat ingin menumpahkan segalanya pada suho, bertanya banyak hal, dan meminta jawaban atas segalanya. “kau mau berjanji untuk menjawab apapun pertanyaanku, oppa?”

Suho mengangguk mantap, “aku berjanji.”

Sakura mendesah, ini bukanlah pertanyaan yang baru baginya. Pertanyaan ini sudah kesekian kalinya ia tanyakan baik pada dirinya sendiri maupun pada D.O, “siapa yunju itu sebenarnya oppa?”

Ekspresi suho sedikit berubah begitu mendengar pertanyaan sakura, tapi dia kembali berusaha terlihat tenang saat hendak membuka mulutnya. “sebelum aku menjawabnya, boleh aku tahu kenapa kau bertanya soal ini?”

“aku hanya ingin tahu saja, sejak aku datang ke Negara ini tak banyak hal yang kuketahui tentang kyungsoo, dan sejak yunju muncul aku rasanya semakin menjadi orang yang paling tak tahu apa-apa tentang kyungsoo.”

“yunju hanya gadis yang saat SMP dulu sering bergabung bersama kami.”

Suho menatap sakura, pancaran mata gadis itu jelas sekali menyatakan bahwa ia ingin tahu, ia sangat ingin tahu. walau dari dalam lubuk hatinya suho sama sekali tak ingin sakura tahu apapun soal yunju tapi melihat gadis dihadapannya yang sudah begitu berharap seperti ini, suho tak tega. Suho tak tega kalau masih bersikeras tak mau menceritakan soal yunju. “apapun yang kau akan dengar dariku, aku tak ingin malah membuatmu berpikir yang macam-macam. Aku menceritakan ini hanya karena aku sudah berjanji akan menjawab apapun pertanyaanmu.”

Suho berdehem sebentar sebelum memulai ceritanya.

“ketika itu, yunju adalah murid baru di SMP kami yang baru saja pindah dari busan. Yunju masuk ke kelasku dan yang lainnya. Kami duduk di bangku kelas 2, sehun dan kai satu tingkat di bawah kami. Sama seperti sekarang, saat itu kami juga sudah dekat satu sama lain. Ketika yunju datang, sama sekali tak ada niatan dari siapapun diantara kami untuk lebih jauh mengenalnya. Yang kami tahu, yunju murid baru pindahan dari sekolah di busan. Dan hanya sebatas itu.”

Sakura tak berkedip sedikitpun, terlalu fokus pada setiap kata yang keluar dari mulut suho.

“harus kuakui, yunju gadis yang cantik. Banyak laki-laki yang ingin dekat dengannya, tapi sepertinya dari yang kuperhatikan, yunju sama sekali tidak memberikan sedikitpun perhatian pada setiap laki-laki yang coba mendekatinya. Berminggu-minggu setelah itu, laki-laki yang awalnya mendekatinya berbalik menjahilinya. Dari selentingan yang kudengar, mereka kesal pada sikap yunju. Setelahnya, hampir setiap hari yunju dijahili. Mulai dari Mejanya yang dicoret-coret, kursinya yang diberi permen karet, lokernya yang diisi tumpukan sampah, dan yang paling parah mereka mencoba mencelakinya.

Waktu itu sore hari, pulang sekolah. Aku dan yang lainnya sedang menunggu bus, dan ada yunju juga disana. Dia sendirian seperti biasanya, saat jalanan kosong yunju melangkah hendak menyebrang jalan dan dari kejauhan ada segerombol sepeda yang sedang mengarah kearah yunju. Aku tak mengira kalau sepeda-sepeda itu hendak mencelakai yunju sampai tiba-tiba saja D.O berlari kearah yunju dan menarik gadis itu kepinggir jalan sebelum tepat ada sebuah sepeda yang memang seolah sengaja hendak menabraknya.

D.O marah sekali saat itu, ia menghampiri pengendara sepeda yang memakai seragam yang sama dengan kami dan memakinya. Aku tak pernah melihat D.O semarah itu sebelumnya, ia memang laki-laki yang dingin sejak dulu, dan dia juga bukan tipe laki-laki yang mau ikut campur urusan orang lain. Dan untuk kasus yunju, mungkin menurutnya semua yang dilakukan anak-anak terhadap yunju sudah keterlaluan dan aku memang setuju dengan hal itu. sejak itu, yunju yang awalnya pendiam mulai membuka dirinya terutama terhadap kami berenam. Dan secara tidak sengaja, yunju jadi semakin sering berkumpul bersama kami.

Aku tidak melihat adanya keanehan sampai kai tiba-tiba saja mengatakan kalau sikap yunju terhadap kami berlima agak berbeda dengan sikapnya terhadap D.O, aku tak tahu apa maksudnya itu tapi harus kuakui dia memang menunjukkan perhatiannya yang lebih terhadap D.O, ketika kami berkunjung ke rumahnya, D.O jugalah yang paling disukai oleh ibunya. Tapi bagiku, semua itu sesuatu yang sangat wajar, D.O memang anak yang sopan walaupun agak pendiam. Semakin hari perbedaan cara yunju bersikap semakin kelihatan tapi aku tak mau ambil pusing dan lagipula D.O tak berkomentar apa-apa.

Berbulan-bulan kemudian, Saat ujian kenaikan kelas tiba-tiba saja yunju menghilang, kami mencoba menghubunginya, bahkan sampai mendatangi rumahnya namun tetap saja, kami tak tahu yunju pergi kemana, pihak sekolah juga mengatakan yunju sudah mengundurkan diri dari sekolah dan meminta surat pindah, walau kami sudah berusaha membujuk pihak sekolah agar memberitahu kemana yunju pindah, mereka tetap bersikeras tak mau memberitahu apapun. Mereka bilang, yunju meminta kepindahannya dirahasiakan.

Jauh dilubuk hatiku, ketika itu aku kecewa. Sangat kecewa. mungkin baginya kami baik tapi tak cukup baik untuk dianggap teman karena sebagai orang yang sering bermain bersama untuk beberapa bulan lamanya dan kemudian ditinggalkan begitu saja tanpa kabar, aku merasa sangat tak dihargai olehnya. Tapi ya sudah, itu cerita bertahun-tahun lalu, sekarang tiba-tiba yunju kembali lagi dengan semua keadaan yang sudah berubah. Aku dan yang lainnya tak ada niatan lagi untuk mencari tahu kemana ia pergi selama ini. kisah itu sudah berlalu, kisah itu sudah lewat jauh di belakang. Kau juga sudah disini, menikah dengan D.O dan menjadi sahabat kami. Cerita soal yunju sudah berakhir sakura, yang ada hanya cerita kita, kau dan D.O, sehun, kai, chanyeol, baekhyun, dan aku.”

Suho menyentuh pipi sakura dan mencubitnya gemas, “aku tahu kau khawatir soal yunju dan D.O tapi aku berani menjamin, mereka tak ada hubungan apa-apa dulu apalagi sekarang setelah D.O memilikimu. Jangan menangis lagi, eoh?”

Sakura menyunggingkan senyumnya, cerita memang sudah jelas tapi hatinya tetap saja tidak bisa tenang. Senyuman kecil itu hanya agar suho tak khawatir lagi. rasanya tak adil kalau sakura harus melibatkan banyak orang dalam lingkaran perasaannya dan urusan pernikahannya dengan D.O, sikap D.O yang sering berubah-ubah sudah membuat segalanya cukup rumit dan sekarang ada yunju yang terus membayanginya, dan membuat semuanya seperti benang kusut.

-0-

TBC

Well, im back. FINALLY

Di 3 chapter terakhir akan ada banyak hal yang dijelaskan, jadi ya silahkan ditunggu bagi yang memang masih mau menunggu, kalau yang udah ga mau nunggu lagi dan mutusin untuk ga mau baca ini lagi, that’s ur choice so silahkan tinggalkan page ini, aku buat ini emang Cuma buat yang mau baca aja kok ^_^ dan yang masih mau baca like dan komen, terima kasih. Aku sayang kalian❤🙂

282 thoughts on “Truly, I Love You (chapter 15)

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s