We’ve Fallen in Love – Part 7 [end]

WVFIL POSTER

Title : We’ve Fallen in Love – Part 7 [end]

Author : Charismagirl

Main Cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri

Support Cast :

  • Park Chanyeol | Ahn Sungyoung | Do Kyungsoo | Lee Jinhee
  • Oh Sehun | Lee Hana |Kim Jongin
  • Byun Family | Park Family

Rating : PG-13, Teen

Length : Chapter

Genre : Romance, Friendship, Family.

Cr poster : zhrfxo

Note : Do not copycat without my permission. Enjoy the last story ^^/

Link : Prolog | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6| 7 (END)

Meskipun kata bahagia selamanya hanya ada di negeri dongeng. Bagi Minri Baekhyun adalah pangeran dalam negeri dongengnya yang menjelma menjadi nyata.

***

Kalau begitu kau bisa ke Bucheon ‘kan? Aku akan menjemputmu.”

“Benarkah? Ah, aku merindukan tempat itu.”

Bagaimana denganku?”

“Kita baru bertemu beberapa jam yang lalu.”

Benar juga. Tapi aku sudah merindukanmu~” nada bicara lelaki itu terdengar manja, menggelitik indera pendengarannya.

“Astaga Baek! Well, sekarang kau harus tidur.”

Selamat malam, mimpikan aku. Aku sayang padamu.”

“Selamat malam. Aku juga.”

PART 7 [LAST PART]

Minri berjalan beberapa meter di depan Baekhyun. Gadis itu tidak ingin berjalan berdampingan. Karena tiap kali Minri ingin memotret objek yang dipilihnya, kameranya tidak fokus. Sialan.

Gadis itu sudah berada di Bucheon. Daerah tempat tinggal Baekhyun.

Baekhyun menjemputnya pagi–bahkan ketika Minri belum mandi. Baekhyun menyusup ke dalam kamar Minri (sebenarnya Baekhyun sudah meminta izin pada Nyonya Park untuk membangunkan anak gadisnya itu), tapi tidak langsung membangunkan Minri. Dia malah berlama-lama memandangi wajah tidur Minri. Lalu terlintas di pikirannya untuk mengabadikan momen itu hingga Ia memotret gadis itu, suara kamera inilah yang membuat Minri terbangun. Minri hampir berteriak kalau saja Baekhyun tidak membekap mulutnya dengan tangan. Menyadari bahwa lelaki itu adalah Baekhyun –kekasihnya, melupakan soal penyusup dan wajah kacau setelah bangun tidur, Minri memeluk Baekhyun di atas kasurnya. Dan lelaki itu memberikan sapaan selamat pagi beserta kecupan manis di bibirnya.

Pagi yang menyenangkan, pikir Minri.

Mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju taman. Dan Baekhyun bilang dia sudah meminta beberapa temannya untuk datang.

Minri tiba-tiba berhenti. Baekhyun yang kebetulan tidak melihat ke depan jalan sontak menabrak tubuh gadis itu. Kemungkinan terburuk Minri akan tersungkur, namun Baekhyun memeluknya dari belakang. Gadis itu juga melakukan gerakan reflek untuk memukul lengan Baekhyun sembari melayangkan protes.

“Astaga Minri! Kalau aku tidak menahanmu, kau akan membuat lututmu berdarah!” omel Baekhyun. Minri hanya mendegus, karena tidak bisa mendebat lelaki itu–Baekhyun benar. “Memangnya apa yang membuatmu tiba-tiba berhenti?”

“Aku rasa aku mengenali dua orang disana–yang sedang duduk di bangku panjang.”

“Tentu saja, Chanyeol dan Sungyoung. Aku tahu betul bagaimana rupa punggung mereka.” Baekhyun mengerutkan kening, sesaat kemudian mengangkat satu sudut bibirnya saat dia yakin apa yang akan dilakukan sepasang kekasih itu. “Stt, aku punya ide bagus.”

Baekhyun membisikkan sesuatu pada Minri. Awalnya gadis itu menolak. Namun, karena hasutan Baekhyun, jiwa evil-nya hidup.

Mereka berdua mengendap-ngendap di sela-sela semak. Sesekali menekan tombol kamera untuk mengambil gambar kedua orang di bangku panjang itu. Mereka tampak seperti paparazzi yang mengambil gambar secara diam-diam.

Hmmphh…Yeol–.

DAR!!

Minri dan Baekhyun muncul bersamaan di kedua sisi bangku. Dengan segera menangkap wajah-wajah kaget dari lelaki jangkung dan kekasihnya dengan kamera masing-masing. Jahat memang. Minri dan Baekhyun sudah mengganggu kemesraan pasangan itu.

“Berciuman di tempat seperti ini.” Baekhyun tertawa lepas. Sementara Minri menutup mulutnya. Dia tidak ingin turut kena omelan kedua orang itu meskipun dia ikut andil dalam membuat keduanya malu setengah mati.

“Sialan Baekhyun!” Chanyeol berdiri, mengejar Baekhyun dan berusaha menggapai kamera di tangan lelaki yang lebih pendek darinya itu.

Sungyoung menunduk, menyapu bibirnya dengan punggung tangan, sementara wajahnya begitu merah tak terkendali.

“Maafkan aku, Sungyoung-ah. Ini semua ide Baekhyun.” Minri masih tidak bisa menghilangkan rasa geli di perutnya mengingat betapa lucu wajah mereka berdua saat tertangkap basah berciuman tadi.

Sungyoung mengerucutkan bibirnya. Tidak ada yang bicara hingga keheningan menyergap. Baekhyun dan Chanyeol masih setia kejar-kejaran. Sungyoung heran mengapa Chanyeol masih saja belum bisa menangkap Baekhyun padahal jelas-jelas kaki Chanyeol lebih panjang.

“Eh,” tersadar akan sesuatu, Sungyoung menoleh pada Minri. “Kapan kau ke Bucheon dan apa yang kaulakukan disini?”

“Aku hanya ingin jalan-jalan bersama Baekhyun.”

“Tampaknya kalian dekat. Jauh lebih dekat daripada saat aku ke Seoul waktu itu.”

“Sebenarnya… kami berkencan.”

“Apa?!” Sungyoung menatap Minri dengan pandangan tidak percaya, namun jelas di matanya berkilat-kilat kebahagian. “Akhirnya Baekhyun menemukan gadis yang tepat!”

Minri hanya tersipu.

“YEOOOLLL!!” Ugh, Minri tidak pernah menyangka suara si muka inosen semacam Sungyoung bisa sekeras itu.

Ketika Chanyeol sudah menangkap Baekhyun beserta kameranya. Panggilan Sungyoung membuatnya menoleh. Baekhyun dengan segera memanfaatkan kelengahan lelaki jangkung itu untuk melarikan diri–lagi.

Chanyeol membiarkan Baekhyun lolos. Dia lebih mementingkan panggilan dari Sungyoung. Belum sampai Chanyeol di depan Sungyoung. Gadis itu sudah mengatakan hal yang membuatnya terkejut.

“Baekhyun dan Minri telah berkencan!”

Waaah!! Baek ayo sini, aku tidak akan membunuhmu.” Chanyeol melambaikan tangannya pada Baekhyun dan Baekhyun percaya Chanyeol sepenuhnya melupakan soal kejadian yang membuatnya (mungkin) malu. “Kalian berkencan ya. Selamat!!” Chanyeol mengapit leher Baekhyun dengan lengannya yang panjang. Harusnya dia tidak usah percaya pada Chanyeol tadi.

Berbeda dengan kedua lelaki si pembuat ribut itu, Sungyoung dan Minri berpelukan. Wanita tidak akan melakukan cekik-mencekik untuk memberikan selamat. Meskipun mereka semua sebenarnya berjiwa evil akut.

Keempat pemuda yang sedang bersantai di taman itu memiliki kegiatan spesifik masing-masing. Baekhyun dan Minri sedang mengecek isi kamera mereka. Sementara Sungyoung dan Chanyeol bermain ttakji.

“Kyungsoo-ya!!” panggil Baekhyun. Ketiga orang lainnya yang berada di sana mengarahkan pandangannya pada seseorang yang dipanggil Baekhyun. Kyungsoo, semua mengenalnya. Dia sedang membawa kue di tangannya bersama dengan seorang gadis berbando bunga di sampingnya–Jinhee.

“Hai Baek, hai semuanya.” Kyungsoo seperti mendiskusikan sesuatu pada Jinhee sebelum mereka menghampiri keempat temannya yang lain.

“Apa yang kalian lakukan disini?” tanya Kyungsoo.

“Hanya bermain-main.”

“Ah! Ini adalah sisa kue yang ada di toko. Tadinya akan ku bawa pulang, tapi kurasa lebih baik kita memakannya bersama-sama.”

“Wah!” Minri melepaskan kameranya lalu mengintip kue yang dibawa Kyungsoo dibalik kotak merah muda.

“Kau serius?” timpal Chanyeol.

Kyungsoo dan Jinhee membuka kotak kue tart itu. Masih utuh. Keempat pemuda yang tadi berada disana meneguk liur. Mereka sedang dalam mode lapar.

“Ayo dimakan.” Jinhee memotong-motong kue berkrim coklat dan vanilla itu. Lalu memberikan potongan kecil pada mereka satu per satu.

Beruntung Minri membawa hand senitizer dalam tas kecilnya.

Kyungsoo dan Jinhee ikut bergabung bersama mereka. Mereka bercanda dan mengobrol. Kyungsoo baru tahu bahwa Baekhyun dan Minri berkencan. Lalu dia memberi selamat dengan mencolekkan sedikit krim ke wajah Baekhyun. Sebenarnya Kyungsoo tidak bermaksud memulai peperangan. Namun, entah mengapa semuanya sudah dalam mode siap.

“Yak! Aku tidak sedang ulang tahun.” Baekhyun mengomel seraya menyapu krim di pipinya.

“Peperangan krim kue tidak mengenal waktu.” Ucapan dari mulut Minri memulai segalanya. Taman itu terdengar ramai dengan suara tawa dan seruan bahagia dari enam pemuda. Kue yang di bawa Kyungsoo kini menjadi senjata perang. Kyungsoo tidak keberatan, lagi pula mereka sudah menghabiskan satu kotak, berarti mereka cukup kenyang dan puas dengan kuenya.

Sekarang waktunya bersenang senang!

“Daaah! Sampai jumpa lagi.” Tiga pemuda dan tiga orang gadis itu berpisah di pertigaan jalan.

Langit berwarna jingga berpendar. Minri dan Baekhyun pulang dengan baju berhias krim kue disana-sini. Untung saja kamera sudah mereka amankan, sehingga mereka tidak perlu repot untuk membersihkan salah satu benda yang mereka sayangi itu dari krim kue. Baekhyun berjalan bersisian dengan Minri, membuat lengan mereka sesekali bersentuhan.

“Kau akan menginap ‘kan?”

Satu anggukan kecil dari gadis itu membuat Baekhyun tersenyum lebar dengan senyum kotaknya yang khas.

***

Matahari telah bergulir ke bagian lain. Saatnya malam tiba untuk daerah Bucheon dan sekitarnya. Minri kembali menginap di rumah keluarga Byun, tujuannya kali ini tidak untuk mengisi liburan, tapi lebih kepada menghabiskan waktu menyenangkannya bersama Baekhyun.

Saat ini Minri sedang membantu Nyonya Byun memasak. Dia tidak banyak ikut andil dalam menentukan menu ataupun menghitung porsi tiap bumbu, namun dia rasa membantu memotong sayur adalah hal yang cukup dibutuhkan. Nyonya Byun memberinya nasihat serta mengajarkannya cara memasak dengan ramah. Minri teringat ibunya yang hampir selalu meminta Minri belajar memasak. Tapi, jangankan belajar, berada di area dapur saja Minri enggan.

“Hai Mom, hai sayangku.” Baekhyun memasuki area dapur dengan senyum sumringah. Dia bahagia menemukan para wanita yang disayanginya sedang memasak bersama.

Minri melayangkan tatapan tajamnya pada Baekhyun, tanpa berkata apapun. Cara Baekhyun memanggilnya tadi membuat bulu kuduknya meremang, dan yang lebih membuat Minri ingin segera membekap Baekhyun adalah lelaki itu berkata di depan Nyonya Byun. Betapa malunya Minri.

“Kalian memasak apa?” Baekhyun mengintip dari punggung Minri, membuat deru nafasnya mengenai bahu gadis itu.

“Kusarankan sebaiknya kau menunggu di luar saja,” ucap Minri setengah berbisik, namun yakin bahwa Baekhyun bisa mendengarnya.

“Oh, apa itu? Mom, aku alergi timun!”

Minri tanpa sengaja melepaskan pisau di tangannya, hingga pisau itu beradu dengan meja pantry. Dia cukup terkejut dengan pekikan Baekhyun di telinganya.

“Baekhyun, kau bisa membuat tangan Minri teriris.” Nyonya Byun memberikan peringatan cukup keras pada putranya itu.

Baekhyun meringis seraya menatap Minri dengan pandangan menyesal. Minri melirik Baekhyun dengan tersenyum tipis, diapun menggelengkan kepalanya mengisyaratkan bahwa dia baik-baik saja. Baekhyun keluar dari area dapur setelah sebelumnya berbisik pada gadis itu.

“Aku memperingatkanmu untuk tidak membuat dirimu terluka, Nona Park.”

***

Baekhyun dan Minri menatap langit bertabur bintang dari balkon kamar masing-masing. Menikmati semilir angin yang berhembus pelan, menerbangkan beberapa helaian rambut mereka.

Ujung pagar balkon mereka hanya terpisah setengah meter. Hingga saat Baekhyun menoleh, masih dapat melihat dengan jelas bahwa gadis itu sedang memejamkan matanya. Pancaran cahaya lampu membuatnya tampak seperti bercahaya. Baekhyun membiarkan detik-detik berlalu dengan memandangi gadis itu. Baekhyun tidak menyangka bahwa gadis yang dia anggap menyebalkan itu telah resmi menjadi kekasihnya.

Minri menghentikan kegiatannya kemudian menoleh pada Baekhyun. Pandangan mereka beradu.

“Kupikir kau sudah masuk ke dalam,” ucap Minri.

“Aku menunggumu. Kau mengantuk tidak?”

“Sedikit, eum… Baek –” Minri menautkan jari-jarinya lalu mendekat ke ujung balkon, lalu Baekhyun melakukan hal yang sama. “Sebelum aku tidur, aku ingin mendengarmu bernyanyi.”

“Eh? Aku tidak bisa…”

“Kau lupa ya? Waktu itu kau bernyanyi untuk membuat tangisan Hansoo reda.”

“Baiklah,” Baekhyun menggapai puncak kepala Minri sembari mengacak rambutnya pelan. “Kau ingin aku menyanyikan lagu apa?”

“Kau tahu ‘Baby’?”

Baekhyun berdeham sebentar, sebelum mulai bernyanyi, langsung ke bagian tengah.

¯(Mengapa mata ini menjadi berbinar?
Mengapa hati ini berdebar begitu gila?
Aku tidak akan lupa semua ini, disaat sesak menjadi sesuatu yang berharga

Semua berawal dari impianmu, kata – katamu yang bahkan lebih berharga dari air matamu
Melampaui manisnya nektar di surga
Cause you are my baby, baby, baby…
Aku berjanji padamu, semua ini tidak akan berakhir
Aku mencintaimu…)

Minri bersandar di dinding sampai tidak terasa Baekhyun telah menyelesaikan satu bait lirik lagunya. Gadis itu menarik kedua ujung bibirnya kemudian beranjak dari sana.

“Trims.”

“Hey, tidak ada yang gratis ya,” ucap Baekhyun dengan senyuman jahilnya.

“Maksudmu aku harus bayar… dengan uang?”

“Nanti saja kuberitahu.” Baekhyun berjalan menuju pintu, dan Minri melakukan hal yang sama. “Dah, mimpi indah… mimpikan aku ya.”

“Kau juga, selamat malam, Baek.”

Baekhyun memberikan love sign sebelum mereka masuk ke dalam kamar masing-masing dan menggeser pintu balkon. Malam ini berlalu begitu cepat. Bulan mengintip di balik awan. Menemani tidur mereka berdua beserta mimpi indah yang menghampiri mereka.

***

Dua minggu berlalu. Semenjak Minri pulang dari Bucheon, dia dan Baekhyun tidak bertemu. Lelaki itu sibuk mengurus berkas-berkas kelulusan dan tetek bengeknya. Ya, Baekhyun sudah melalui masa sulit sidang dan dia dinyatakan lulus. Sebenarnya Minri ingin sekali memeluk Baekhyun dan memberinya selamat saat lelaki itu mengatakan padanya tentang hal itu. Namun jarak tidak mengizinkannya.

Meskipun begitu, mereka masih bisa berkirim pesan singkat. Setiap pagi Minri mendapat ucapan selamat pagi dan peringatan dari Baekhyun bahwa dia harus sarapan pagi. Jika Minri tidak membalas, maka lima menit kemudian Baekhyun pasti menelponnya membuat Minri mengumpat dibalik selimut merah mudanya sebelum mengangkat panggilan lelaki itu. Suaranya membuat Minri tersenyum, suaranya membuat Minri tertawa. Dan hari-hari yang dijalaninya terasa ringan dan membahagiakan. Lelaki itu membuat segalanya lebih berwarna.

Bicara tentang imbalan yang diinginkan Baekhyun saat Minri memintanya bernyanyi, sampai sekarang Baekhyun belum mengatakannya. Baekhyun berkata bahwa dia akan memberitahunya nanti saat mereka bertemu di hari wisuda Baekhyun. Jadi hari ini, tepatnya malam hari di ballroom hotel Kim, acara penting itu dilaksanakan. Dan Minri dengan konyolnya tidak mempersiapkan apapun, padahal dia tahu bahwa Baekhyun meminta–boleh disebut memaksa –Minri untuk datang. Persiapan disini maksudnya adalah gaun, sepatu, make up dan semacamnya. Dia bisa gila.

Siang hari, di tengah matahari terik Minri berada dalam mobilnya. Mengendara Audi hitam itu dengan kecepatan yang cukup berbahaya menuju tempat tinggal Hana, kekasih Sehun. Awalnya Minri meminta bantuan Sehun namun lelaki itu menyarankan agar dia pergi dengan Hana. Karena Sehun tidak yakin bantuannya akan membuahkan hasil.

Ketika Minri tiba di tempat tinggal Hana, ternyata Sehun juga berada disana. Jadi, mereka pergi bertiga. Minri tidak mempermasalahkan hal ini yang penting sekarang dia harus mendapatkan gaun yang cocok untuk pergi. Mobil Audi itu melesat di jalanan Seoul menuju mall dengan kecepatan sedang, karena Sehun dengan kurangajarnya menjitak kepala Minri saat Minri menjalankan mobilnya dengan gila, Sehun bilang dia dan Hana tidak ingin berakhir mati konyol karena kecelakaan lalu lintas. Dan Minri menurut.

“Bagaimana?” tanya Minri saat dia baru saja keluar dari ruang ganti sebuah butik.

Sehun dan Hana saling berpandangan dengan tersenyum. Minri mengerutkan keningnya. Dia menarik-narik gaunnya ke bawah, kemudian membenarkan bagian atas. Dia bingung. Bahunya terbuka, dan panjang gaun itu hanya setengah paha, membuatnya tidak terbiasa.

“Kita akan cari gaun lain.” Minri baru akan masuk ke dalam ruang ganti lagi tapi suara Hana menginterupsinya.

“Tidak, Minri. Gaun ini sangat cocok untukmu. Kau tampak sangat cantik. Aku serius.” Hana memberikan jempol kanannya sembari tersenyum tulus. Sementara Sehun mengacak pelan rambut gadis itu. Mereka sepemikiran.

“Tapi–”

“Minri, kau bilang sudah tidak punya banyak waktu.”

“Astaga Sehun! Kau benar!”

Setelah itu Minri kembali mengganti pakaiannya dan membayar gaun itu (melupakan soal protesnya pada pilihan Hana dan Sehun). Mereka berpindah ke tempat selanjutnya, toko sepatu. Dengan sedikit perdebatan Minri menjatuhkan pilihannya pada high heels perak dengan hiasan permata berwarna merah muda. Padahal pilihan pertamanya ada pada sepatu flat putih berhias bunga matahari–Sehun dan Hana menolaknya.

Tempat terakhir yang mereka harus datangi adalah salon. Demi apapun Minri benci tempat ini! Sebenarnya tidak sebesar bencinya pada hewan cicak. Tapi, dia benar-benar menghindari tempat ini. Ibunya sering menyeretnya kesini untuk perawatan wajah, rambut dan sebagainya. Awalnya Minri sebal, namun akhirnya dia berterimakasih pada ibunya. Minri tahu semua itu untuk kebaikannya sendiri.

Hari sudah menjelang malam saat Minri selesai dengan urusannya di salon. Itu artinya pesta pemberkatan kelulusan Baekhyun sebentar lagi. Dengan langkah cepat Minri menuju ballroom. High heels yang dipakainya membuat dia tidak leluasa berlari. Dia harusnya tahu bahwa dia tidak perlu berlari karena penampilannya saat ini benar-benar tidak mendukung. Beberapa pasang mata memperhatikannya membuatnya sedikit risih. Berharap saja semoga dia bisa menemukan ruangannya dengan cepat, lalu bertemu dengan Baekhyun.

***

Baekhyun beberapa kali melirik jam tangannya. Sebentar lagi acaranya mau dimulai, tetapi Minri belum juga menampakkan kehadirannya. Dia takut terjadi apa-apa pada gadis itu. Beberapa kali Baekhyun mencoba menghubungi gadis itu namun dia tidak mengangkat telepon, juga tidak membalas pesan singkatnya.

Baekhyun berjalan ke sudut ruangan. Dia mengambil minuman. Kecemasannya pada gadis itu membuat tenggorokkannya kering. Kemudian seorang gadis yang baru memasuki ballroom menarik perhatian Baekhyun. Pasalnya, dia mengenali postur tubuh itu dengan benar. Gadis itu dengan rambut coklatnya yang tergerai menutupi bahunya yang sedikit terbuka. Demi apapun dia tampak seperti putri dari negeri dongeng. Penampilannya saat ini benar-benar berbeda dari yang sebelumnya. Baekhyun tidak pernah menyangka gadis itu bisa secantik ini.

Gadis bermarga Park itu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Jelas menampakkan bahwa dia tengah mencari seseorang. Baekhyun meletakkan gelasnya lalu menghampiri gadis itu dengan langkah pelan. Dia menarik kedua ujung bibirnya saat dia berdiri tepat dibelakang gadis itu.

“Kau sangat cantik, Nona Park.”

Gadis itu sontak berbalik. Betapa dia ingin merosot ke lantai karena merasa begitu lega. Akhirnya dia menemukan Baekhyun. Akhirnya dia bertemu dengan Baekhyun.

“Baek!” Minri memberi Baekhyun pelukan singkat. Dia tidak ingin lepas kendali di tengah orang banyak seperti ini. Walaupun sebenarnya dia ingin sekali memeluk lelaki itu dalam waktu yang lama. Demi neptunus, dia merindukan lelaki itu dan segala yang ada padanya.

“Ya, sayang. Aku merindukanmu.” Baekhyun memegang kedua bahu Minri lalu tersenyum pada gadis itu.

“Baekhyun-ssi, acaranya akan segera di mulai.” Salah satu teman lelaki Baekhyun memanggil Baekhyun, membuat Minri harus meredam rasa rindunya lagi. Dia baru bertatap muka dengan lelaki itu tapi lelaki itu harus pergi lagi, ke depan panggung bersama teman-temannya.

“Aku kesana dulu,” ujar Baekhyun. “Carilah tempat duduk paling depan agar aku dapat melihatmu.” Minri mengangguk, lalu menepuk pelan lengan Baekhyun, mengisyaratkan bahwa dia baik-baik saja.

Acara berjalan dengan khidmat. Mulai dari kata sambutan yang disampaikan oleh ketua universitas, fakultas sampai jurusan. Minri menemukan satu tempat duduk kosong di depan. Dia cukup terkejut ternyata di sebelahnya adalah Nyonya Byun beserta Tuan Byun. Mereka mengobrol sebentar, lalu perhatian mereka teralihkan ketika mahasiswa terbaik memberikan pidato singkat–dan suara itu adalah suara Baekhyun.

“… saya berterimakasih pada Tuhan yang telah melimpahkan cintanya pada kita semua sehingga kita bisa sampai dalam tahap ini. Saya berterimakasih pada orang-orang yang telah memberikan dukungan moril dan materil. Ayah, ibu dan seorang gadis di samping mereka…”

Beberapa pasang mata menatap kemana arah mata Baekhyun tertuju. Nyonya Byun mengusap lengan Minri pelan. Dan saat itu dia sadar bahwa Baekhyun telah menyebutnya secara tidak langsung. Ugh, dia sedikit malu menjadi pusat perhatian.

Riuh tepuk tangan terdengar saat Baekhyun mengakhiri pidato singkatnya. Acara dilanjutkan dengan pengukuhan dan pengalungan tanda alumni. Minri tidak henti-hentinya tersenyum melihat Baekyun dari jauh. Dia bangga pada lelaki itu. Dan saat pandangan mereka bertemu, Baekhyun memberi isyarat agar gadis itu mengikutinya ke suatu tempat.

Baekhyun dan Minri menghentikan langkah saat mereka berdua tiba atap gedung. Sepi. Cahaya temaram berasal dari lampu di tiang yang tidak begitu tinggi. Atap di gedung itu bukan tempat yang buruk. Disana terdapat kolam renang besar yang biasa dipakai oleh pelanggan hotel pagi hari.

Baekhyun menghadapkan tubuhnya pada gadis itu.

“Kenapa kita harus kesini Baek?” tanya Minri sesekali melirik ke kanan dan kiri. Suasananya sedikit menyeramkan.

“Aku ingin bicara berdua denganmu.”

“Oh baiklah, tapi sebelumnya–” Minri mengambil satu langkah kecil, lalu melompat ke tubuh Baekhyun. Dia melingkarkan kedua tangannya di pinggang lelaki itu. “–biarkan aku memelukmu. Aku… merindukanmu, Baek.”

“Selama yang kau mau,” lirih Baekhyun lantas membalas pelukan gadis itu.

“Selamat atas kelulusanmu.” Minri menggerakkan kepalanya di dada Baekhyun. Merasa begitu nyaman dalam posisi seperti itu.

“Terimakasih sudah datang.”

Hmm. Oh iya, apa yang ingin kau katakan Baek?”

Baekhyun melepaskan pelukannya lalu menatap ke dalam mata gadis itu. Minri merasa terpaku pada tatapan itu hingga dia tidak bisa mengalihkan pandangannya lagi.

“Kau masih ingat dengan imbalan yang aku inginkan ketika aku bernyanyi untukmu?”

“Ya, lalu?”

“Aku ingin kau menikah denganku.”

“H—hah?” Minri merasa tenggorokkannya tercekat. Detakan jantunya berjalan lebih cepat sementara darahnya berdesir tidak terkendali. Kalimat yang diucapkan lelaki itu benar-benar mengejutkan.

“Maksudmu kau sekarang sedang… melamarku?” tanya Minri dengan suara tercekik.

“Ya, memangnya apalagi.” Baekhyun menyentuhkan lututnya di lantai. Satu tangannya meraih tangan gadis itu. Kemudian dia mengeluarkan kotak beludru merah dari dalam kantong celananya. Kilauan berlian tampak menyala-nyala angkuh saat Baekhyun membuka kotak itu. Sebuah cincin.

Would you marry me?”

Minri menggunakan tangan kirinya untuk menutup mulut. Air matanya tak terbendung. Bagaimana Minri bisa menggambarkan perasaan seorang gadis yang sedang dilamar oleh lelaki yang dia cintai. Bagaimana dia bisa menggambarkan tubuhnya menghangat saat lelaki itu mengecup punggung tangannya setelah cincin itu sudah tersemat dengan indah di jarinya.

I do, Baekhyun.”

***
Satu musim terlewati hingga hari yang ditunggu pun tiba.

Pernahkah kau membayangkan saat kegugupanmu berada di puncak? Saat menunggu pengumuman ujian misalnya. Perut terasa melilit dan keringat membanjiri tubuh. Maka saat ini di ujung karpet merah Minri merasakan hal yang sama. Dia menggenggam erat lengan ayahnya yang berada di sampingnya.

Dalam jarak beberapa meter dia melihat lelaki itu berdiri dengan tuxedo putih menunggunya dengan senyuman. Sementara Minri hanya bisa memikirkan kapan dia tiba disana tanpa harus menginjak gaun atau membuat dirinya terjatuh.

Langkah demi langkah memutus jarak antara Minri dan Baekhyun. Minri sempat mendengar temannya berbisik memberikan semangat. Minri menguatkan hatinya untuk tetap fokus, lalu berharap segala kecemasannya cepat berlalu. Tangannya disambut tangan Baekhyun lalu mereka berdiri bersisian.

“Kau wanita tercantik yang pernah kulihat.” Bisikan Baekhyun membuat Minri tidak bisa menahan senyumnya.

Pernikahan itu berlangsung dengan sempurna, bagi Minri. Segala perasaan campur aduk, kebahagiaan mendominasi. Dia tidak henti-hentinya tersenyum. Setelah mengucap sumpah hidup bersama, berjanji selalu ada dalam suka dan duka lalu ditutup dengan ciuman simbolis yang sakral, Minri tidak tahu lagi bagaimana cara mengungkapkah kebahagiaannya yang meletup-letup.

“Hai, selamat ya!” Sungyoung menerjang Minri dengan pelukan penuh kejutan. Hampir-hampir membuat Minri terjengkang. Apalagi mengingat keadaan gaunnya yang boleh Minri katakan sebagai gaun terumit yang pernah dipakainya.

“Terimakasih sudah datang.” Minri menepuk punggung Sungyoung pelan.

“Yo Baek! Selamat!” Chanyeol merangkul bahu Baekhyun, namun hanya sebentar Baekhyun menyingkirkan tangan itu. Lalu mendelik pada lelaki jangkung itu.

“Jangan buat tuxedo-ku kusut!”

Minri melirik Baekhyun, lalu tertawa pelan. Dia sudah melepas pelukannya pada Sungyoung, lalu menggandeng tangan Baekhyun.

“Jangan mengomeli Chanyeol terus, dia kan sahabatmu. Kau patut berterimakasih.”

“Aku tahu,” ucap Baekhyun lalu meninju bahu Chanyeol. “Terimakasih ya!”

“Segeralah menyusul kami.” Minri menahan diri untuk tidak tertawa. Karena secara bersamaan Chanyeol dan Sungyoung saling melirik dengan canggung.

“Sempurna.” Suara seorang lelaki membuat mereka berempat menoleh. Lelaki berambut hitam, berperawakan pendek dan bermata besar. Dia menggandeng seorang gadis cantik.

“Selamat atas pernikahan kalian,” ucap gadis itu sembari membungkuk singkat.

“Terimakasih cake-nya, Kyung.”

“Yeah, stroberi dan coklat. Perpaduan sempurna. Dan Hey! Aku seperti berada di negeri dongeng.” Kyungsoo mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.

Minri menyambut pelukan dari Jinhee–gadis yang bersama Kyungsoo. Teman-teman Baekhyun sudah datang, pikir Minri. Dia belum melihat teman-temannya. Sedikit sebal karena sampai saat ini dia belum juga melihat Sehun dan Hana.

Seorang lelaki tinggi bersama pasangannya muncul di perbatasan pintu ballroom. Sedikit membuat Minri tercengang. Namun dia ingin segera menjitak kepala keduanya. Mereka terlambat. Dan sekarang malah tebar pesona. Memakai kacamata hitam dalam ruangan seperti ini. Mereka pikir mereka selebriti, ya.

“Ah, maaf aku terlambat.” Sehun melepas kacamatanya setelah dia berdiri di depan Minri dan Baekhyun.

“Aku juga, maaf.” Hana menggaruk tengkuknya.

“Ish!–aku akan memaafkan kalian kalau kalian membawa kado untukku.”

“Tentu saja!”

Sehun mengambil ponselnya dalam saku celana lalu menelpon seseorang. Minri hanya mengerutkan keningnya karena bingung. Lalu matanya melebar ketika beberapa orang membawa sebuah kotak kardus besar, yang dibungkus cantik dengan bungkus kado. Saking besarnya, kotak itu bahkan harus dibawa menggunakan alat bantu dorong yang beroda.

“Woah!” tanpa sadar Minri membuka mulutnya.

“Teman-temanmu memang luar biasa,” bisik Baekhyun di telinga Minri membuat Minri bergidik. “Kau tahu apa isinya?” tanya Baekhyun kemudian.

“Tidak. Sama sekali tidak.”

“Bagaimana?” tanya Sehun lantas tersenyum puas. “Aku benar-benar menepati janjiku untuk memberimu kado yang besar.”

“Tapi ini terlalu besar,” komentar Minri.

Selanjutnya mereka berpelukan singkat dan memberikan selamat. Teman-teman Minri dan Baekhyun saling berkenalan, mereka mengobrol banyak. Sementara Minri dan Baekhyun harus tetap berdiri di depan, menyambut para tamu undangan sampai acaranya selesai.

***

Tamu undangan sudah mulai sepi. Hal ini membuat Minri dan Baekhyun bisa duduk santai sambil menyantap cake mereka di Ballroom tempat resepsi. Minri meletakkan piring kuenya saat seorang anak kecil menarik perhatiannya.

“Ada apa, Minri-ya?” tanya Baekhyun, menyadari bahwa Minri sedang menyipitkan matanya memandangi seseorang.

“Baek, anak kecil yang bertuxedo hitam disana… Hansoo?” tunjuk Minri pada salah satu titik.

Baekhyun mengarahkan pandangannya pada tangan Minri. Kemudian kedua bibirnya terangkat. Gadis itu benar. Namun kali ini Hansoo tidak bersama ayahnya, anak lelaki itu berjalan pelan sambil bertaut tangan dengan Baekbeom dan ada seorang wanita yang tidak dikenal Baekhyun–di samping Baekbeom. Mereka menuju ke tempat Baekhyun dan Minri duduk.

“Paaa… paaa…” Hansoo bersuara sambil mempercepat langkahnya membuat Baekbeom harus memegang tangan anak itu lebih erat agar dia tidak jatuh. Hansoo sudah bisa berjalan sendiri, namun masih perlu bimbingan jika dia berjalan terlalu cepat, dia mungkin akan terjatuh.

“Hansoo-ya,” panggil Minri sambil merentangkan tangannya, sampai ketika Hansoo tepat berada di depannya, Minri mengangkat anak itu lalu mencium pipinya yang lembut.

“Paa… paa…” tangan mungil Hansoo memegang pipi Minri, dengan wajah menggemaskannya anak itupun tersenyum.

“Hansoo begitu menyukaimu, Minri-ya,” ucap Baekbeom.

Minri menoleh pada Baekbeom, lalu membungkuk kecil.

“Oh ya, perkenalkan Soojung.” Baekbeom merangkul ringan pinggang wanita di sampingnya. Wanita berambut hitam itupun tersenyum ramah. Dia memiliki perawakan yang hampir mirip dengan Minri, hanya saja sedikit lebih pendek. Wajahnya cantik. Baekhyun rasa, wanita ini adalah yang Baekbeom maksud dengan seorang yang dicintainya itu.

Annyeonghaseyo…” Baekhyun menyapa wanita itu, begitupula Minri.

“Selamat atas pernikahan kalian.”

“Terimakasih.”

Hyung, dimana Luhan Hyung? Kenapa Hansoo bersama kalian?”

“Luhan sedang mengobrol dengan ayah dan ibu.”

“Baek, Hansoo boleh menginap di rumahku tidak? Aku benar-benar merindukan anak ini…” Minri menyentuhkan hidungnya dengan Hansoo, sambil memainkannya dengan gemas. Dia bahkan bicara tanpa menatap Baekhyun.

Heee? Kau serius? Siapa yang akan menjaganya?”

“Kita.” Minri menyengir, kali ini memandangi Baekhyun. sementara Baekbeom dan Soojung tersenyum geli.

Baekbeom merebut Hansoo dari tangan Minri membuat Minri mengerucutkan bibirnya. “Kalian bisa membuat Hansoo yang lain dengan segera?”

Huh?” Minri dan Baekhyun saling berpandangan, sampai beberapa detik tersadar makna dari ucapan Baekbeom, wajah keduanya merona.

***

Baekhyun dan Minri tiba di rumah keluarga Park saat matahari baru saja berpindah ke bagian lain. Mereka tidak mungkin langsung mengambil perjalanan jauh ke Bucheon sementara mereka telah melewati hari yang panjang dan cukup melelahkan.

Minri menghempaskan tubuhnya ke kasur. Setelah membersihkan diri, mengganti gaun pernikahan dengan piyama tidur, dia bersiap untuk tidur. Sungguh tidak ada hal lain dalam pikirannya selain tidur. Dia benar-benar lelah.

Kamarnya telah di desain sedemikian rupa menjadi kamar pengantin. Dengan aroma bunga yang menenangkan, Minri yakin dia bisa tidur nyenyak. Kado-kado di letakkan di sudut ruangan. Banyak sekali kado. Minri memusatkan pandangannya pada kado yang Sehun berikan, kado itu besar sekali membuat Minri penasaran.

“Baek,” Minri memanggil Baekhyun saat lelaki itu baru saja keluar dari kamar mandi, dengan mengenakan kaos longgar dan celana pendek. Dan dia sedang mengeringkan rambutnya yang basah. “Sebelum tidur kurasa kita harus membuka kado-kado itu.” Minri memberi usul.

“Sebenarnya sebelum tidur, banyak hal yang ingin aku lakukan,” jawab Baekhyun dengan senyuman yang… menggoda. Sebentar, Minri mengenali itu adalah sebuah smirk. Yah.

Minri berdeham, lalu beranjak dari kasur. “Mau membantuku membukanya tidak?”

Minri menghampiri satu hadiah yang cukup besar, tapi tidak sebesar hadiah Sehun. Hadiah itu dibungkus kertas kado biru muda motif awan. Tanpa bantuan Baekhyun, Minri merobek pelan bungkusan hadiah itu, hingga selesai, tampaklah sebuah selimut merah muda (betapa Minri menyukai warna ini). Minri menarik selimut itu keluar lalu memeluknya. Terasa lembut dan harum.

“Dari siapa?” tanya Baekhyun sambil melirik kartu ucapan yang tergeletak di bawah.

Minri membuka kartu ucapan itu, lalu membacanya dalam hati.

Hai, (aku bingung bagaimana menulis kalimat pembukanya).

Aku tidak menyangka kalian menikah secepat ini. Dan yah, kurasa Baekhyun memang tidak sabaran. *ups*

Sungyoung bilang, kalian serasi sekali. Bahkan saat bertengkar pun terlihat romantis.

Selamat menempuh bahtera baru dan YANG PASTI CEPAT BERIKAN KAMI KEPONAKAN YANG LUCU ;3

Tertanda,

PCY & ASY

“Baca saja sendiri!” Minri menyerahkan kartu ucapan itu pada Baekhyun. Kalimat yang ditulis dengan huruf kapital dalam surat tadi membuat perutnya menggelitik. Minri beralih pada hadiah yang diberikan Sehun.

Minri menarik kotak besar itu, ke tengah ruangan.

“Baek, berhentilah tertawa!”

Sejak Minri menyerahkan kartu ucapan dari Sungyoung dan Chanyeol, Minri mendengar Baekhyun tertawa. Entah apa yang lelaki itu tertawakan.

“Bantu aku membuka yang ini. Membutuhkan waktu yang banyak kalau membukanya sendiri.”

“Baiklah istriku sayang,”

Istriku sayang? Minri merasa bulu kuduknya meremang.

Dengan senyum bahagianya, Baekhyun akhirnya ikut bergabung hingga kado itu sudah tidak berbungkus. Kotak kardus yang besar itu berhiaskan gambar televisi dan soundsystem. Lalu Minri membuka kardus itu.

Wh–what?!” dia memandang tidak percaya isi kardus itu.

Home Theater.” Baekhyun mendekat ke arah Minri, sembari memeluk pinggangnya yang ramping. Dia melayangkan kecupan ringan di rambut gadis itu. “Lengkap dengan PS.”

“Ada suratnya juga.” Minri menunduk, mengambil kertas putih yang terselip di sela sterofoam. Baekhyun merebut surat itu lalu membacanya cukup nyaring.

Dear, newly couple.

Semoga kalian suka hadiah kami. Tapi, jangan terlalu sering menonton TV!

Berikan kami keponakan yang banyak dan lucu!

Ah, sudahlah, selamat bersenang-senang ^^

-Sehun & Hana

Isi kartu ucapan dari dua kado pertama yang dibukanya tidak jauh berbeda. Minri heran bagaimana bisa mereka begitu kompaknya meminta keponakan yang lucu, bahkan Sehun dan Hana menambahkan kata ‘banyak’. Minri bukan mesin pembuat bayi, ya.

“YAK!” Minri memekik saat Baekhyun mengangkat tubuhnya, membuat kakinya tidak lagi menapak di lantai. Baekhyun tidak mempedulikan mulut gadis itu yang terus menggerutu. Dia menghempaskan tubuh Minri ke kasur, lalu menindihnya. “A-apa yang kau… –AHAHA!”

Minri menggeliat geli karena Baekhyun menggelitik pinggangnya tanpa ampun. Mereka berdua berguling di kasur sembari tertawa. Minri tidak mau mengalah. Dia juga melakukan serangan balik pada lelaki itu. Gadis itu mengatur napasnya, sementara bibirnya masih tersenyum lebar. Mereka berdua sama-sama berhenti. Baekhyun menumpukan tangannya di samping kepala Minri, menatap gadis itu dalam jarak dekat.

Dia telah menjadi istriku, suara itu menggema di kepalanya

“Terimakasih Baek, terimakasih sudah memilihku.” Minri berucap sembari tersenyum. Tangan kanannya mengusap rahang Baekhyun.

“Kita memang ditakdirkan untuk bersama.” Baekhyun memajukan wajahnya, menyatukan bibir mereka ke dalam ciuman yang hangat dan panjang.

Hidup mereka tidak berakhir sampai disana. Meskipun kata bahagia selamanya hanya ada di negeri dongeng. Bagi Minri Baekhyun adalah pangeran dalam negeri dongengnya yang menjelma menjadi nyata. Menjadikannya wanita paling bahagia di dunia.

END

FINALLY!! DENGAN SEGALA PERJUANGAN AKHIRNYA FF INI SELESAI YEAAHH!!

Terimakasih kepada Allah SWT, Tuhan YME.

Orang tua, dan teman-teman yang terlibat (Uchi, Alma, Faa, dkk).

Thanks to my love, my inspirator Byun Baekhyun❤

Ahn Sungyoung rp, dan kopel idiot manisnya PCY. Dan juga EXO!

Sorry for typo.

Aku minta maaf kalo (sengaja atau tidak sengaja) membuat kalian tersinggung. Maafkan komentar yang akhir2 ini telat dibalesnya, maaf juga yang belum sempat terbalas.

Maaf kalau ff ini tak sempurna, aku akan terus berusaha menjadi lebih baik ke depannya.

Ps: Kesempurnaan hanya milik Tuhan🙂

Terimakasih untuk tidak memanggil thor. Pertahankan yes!

Terimakasih untuk respon yang mengagumkan. >o<!!

Kritik dan saran yang membangun sangat diterima dengan tangan terbuka.

DAN YANG TIDAK KALAH PENTING:

thankspeech 001

Beribu-ribu terimakasih saya ucapkan pada semua reader (aku tulis pake tangan nih-maaf tulisannya jelek>,< semoga terbaca) dan maaf kalau ada yang gak disebut (makasih juga silent reader). Makasih yang udah bersedia meluangkan waktunya membaca FF ini, menulis di kotak komentar, menunggu dan menyukai FF ini.

Akhir kata, SAMPAI JUMPA DI FF LAINNYA~ *bow bareng semua cast(s)*

SELALU SAYANG KALIAN❤

XOXO

©Charismagirl, 2014.

266 thoughts on “We’ve Fallen in Love – Part 7 [end]

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s