Secret Darling | 15th Chapter

secret-darling

 

 

:: SECRET DARLING | 15th Chapter ::

.

.

.

Author : shineshen

Cast : Sehun | OC(s) | etc.

Genre : Marriage Life | Romance | Friendship

Rating : Teen

.

Poster by chocolatesoda © Café Poster Art ^^

.

Summary :

Shin Minhee adalah gadis berusia 18 tahun yang terjebak pernikahan konyol dengan seorang laki-laki berusia 21 tahun. Hanya karena kesalahpahaman yang menjebak mereka selama satu malam di Pulau Jeju.

 

Link to previous : Teaser | 1st Chapter | 2nd Chapter | 3rd Chapter | 4th Chapter | 5th Chapter | 6th Chapter | 7th Chapter | 8th Chapter | 9th Chapter | 10th Chapter | Kai’s Side Story | 11th Chapter | 12th Chapter | 13th Chapter | 14th Chapter

.

Entah sudah berapa kali Minhee memeriksa deretan baju santainya dari tumpukan teratas hingga tumpukan terbawah, ia tetap tak menemukan pakaian yang kira-kira mendekati keinginan Sehun. Pakaian feminin, maksudnya. Sebagai perempuan, Minhee nyaris tidak memiliki rok sama sekali. Saat sekolah, Minhee masih bisa mengandalkan rok seragamnya sebagai salah satu koleksi rok yang ia miliki. Namun berhubung sekarang ia telah lulus dari bangku sekolah—dan lagipula semua seragam sekolahnya ia tinggalkan di rumah orangtuanya, jadi sekarang ia tidak memiliki koleksi rok. Hanya ada dua potong gaun yang ada di lemarinya. Satu potong gaun berwarna putih yang Minhyuk berikan padanya, dan satu lagi gaun pesta malam berwarna violet pemberian Luhan .

Selebihnya tidak ada lagi, dan Minhee tentu saja tidak mungkin memakai gaun dengan model seperti itu kecuali untuk menghadiri acara formal.

Minhee menyerah dan akhirnya memilih sepotong kemeja dengan lengan menggelembung motif polos berwarna biru laut dan celana sepanjang lutut berwarna putih polos. Setidaknya gaya pakaian itu lebih feminin dibandingkan dengan gaya berpakaiannya sebelumnya.

Minhee keluar dari kamarnya, tepat saat Sehun juga keluar dari kamarnya. Laki-laki itu keluar sambil masih mengacak-acak rambut basahnya dengan handuk, dan Minhee sungguh terperagah melihat bagaimana penampilan Sehun sekarang.

Sehun seketika tersadar bahwa Minhee dengan memperhatikannya dengan raut terkejut, jadi ia menoleh dan mengerutkan kening bingung melihat reaksi Minhee.

“Kenapa kau mengenakan warna baju yang sama denganku?!” seru Minhee heboh. Gadis itu menuding pakaian yang dikenakan Sehun sekarang, dan benar saja. Sekarang ia dan Sehun sama-sama mengenakan atasan berwarna biru laut. Yang membedakan mereka adalah modelnya tentu saja. Jika Minhee memilih model lucu dengan lengan menggelembungnya itu, Sehun lebih memilih kaos berlengan panjang dengan warna yang senada. Minhee mengenakan celana sepanjang lutut berwarna putih cerah, sedangkan Sehun mengenakan celana jeans panjang berwarna putih pudar.

Mendengar reaksi heboh Minhee, Sehun hanya mengangkat kedua tangannya cuek. “Aku tidak mengintipmu saat berganti pakaian, oke? Secara kebetulan saja kita satu pemikiran untuk memilih warna pakaian.”

Minhee memicingkan matanya. “Lalu kau ingin ke kampus dengan pakaian seperti itu?”

Sehun memutar matanya sambari memutar langkah menuju kamar mandi. “Gaya berpakaianku memang seperti ini—kecuali untuk jeans, sebenarnya aku lebih suka yang warnanya gelap. Memangnya kau tidak pernah memperhatikan, ya?” Sehun melirik sinis. “Dan lagi, siapa bilang kita akan ke kampus hari ini,”

“Apa?!” seru Minhee shock. “Jadi… Jadi… Kau menyuruhku berganti pakaian karena—“

“Kita akan jalan-jalan hari ini,” potong Sehun sambil memutar tubuhnya lagi menghadap Minhee. “Dosenmu tidak akan keberatan ‘kan, jika aku meminjammu satu hari saja?”

Minhee membelalakan matanya lalu cepat-cepat menyusul Sehun yang sudah melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.

“Kau menyuruhku membolos kuliah?!” Tanya Minhee shock. Ia mengernyit saat bertatapan wajah dengan Sehun, namun Sehun hanya membalas dengan raut wajah cueknya.

“Satu hari saja,” sahut Sehun datar. “Aku yakin si-eomeoni juga akan memberikanmu izin. Perlu aku telepon si-eomeoni sekarang, hm?”

 

Yang benar saja?! Eomma pasti akan memberikanmu izin, Oh Sehun! Bahkan mungkin jika kau meminta izin untuk membawaku ke luar negeri dan tidak akan pernah mengajakku kembali ke Korea, eomma akan setuju saja mendengar permintaan gilamu itu! Rutuk Minhee dalam hati.

“Kau menyebalkan,” tandas Minhee datar. “Kenapa kau tidak mengabarkan padaku sebelumnya jika kau ingin mengajakku jalan-jalan hari ini?”

“Memangnya kemarin kapan kita ada waktu untuk bertemu, hm?” Sehun balik bertanya dan melipat tangannya di depan dada saat berhadapan kembali dengan Minhee. “Kau bahkan terlalu asyik berlatih drama bersama pacar barumu itu seharian, dan saat pulang aku menemukan pintu kamarmu sengaja kau kunci.”

Minhee berusaha menahan emosinya yang lagi-lagi mulai naik. “Pacar baruku?! Siapa yang mengatakan padamu jika Jungkook adalah pacar baruku, eoh?!”

“Bahkan sebelum aku menyebutkan namanya, kau sudah tahu siapa orang yang kumaksud,” dengus Sehun sebagai jawaban. “Aku bahkan merasa tidak tahu apapun tentang dirimu, Minhee, meskipun aku adalah suamimu sekarang. Tapi dia seakan mengetahui segalanya tentang dirimu, bahkan mungkin menghapal setiap rincian hal yang kau sukai dan kau benci. Tidakkah kau merasa cemburu jika hal yang sama terjadi sebaliknya pada dirimu sendiri?”

Minhee benapas naik-turun dalam helaan dan hembusan kasar. “Lalu kau pikir aku sama sekali belum pernah merasa sakit hati padamu?” balas Minhee kelepasan. “Apa kau bisa banyangkan bagaimana rasanya jika berhari-hari kau rela menyiapkan hadiah untuk seseorang, lalu pada hari yang seharusnya ia justru membuatmu patah hati dan membuatmu menangis seharian. Tidakkah kau merasa sakit hati jika hal yang sama terjadi pada dirimu sendiri?”

Sehun terdiam seketika saat mendengar semua ocehan Minhee yang keluar tanpa bisa ia ingat untuk kendalikan. Rasa bersalah itu kembali muncul dalam hati Sehun, apalagi melihat airmata yang mulai menggenang di pelupuk mata Minhee. Gadis itu menangis lagi. Harusnya Sehun ingat, Minhee adalah gadis yang sedikit sulit untuk mengatur emosinya dan ia akan menumpahkan segalanya lewat tangisan.

Minhee mengingat kejadian itu lagi.

Mereka memang hanya berdebat kecil di awal, namun entah mengapa menjadi tangisan untuk Minhee di akhir. Gadis itu terlalu sensitif… Atau memang itu terlalu menyakitkan untuknya?

Di hari-hari pertamanya tinggal satu apartemen bersama Minhee, Minhyuk sering menemuinya di sela jeda kelas mereka. Minhyuk mengatakan beberapa hal yang tersembunyi tentang Minhee. Tentang bagaimana kemampuan Minhee yang tidak bisa terduga dalam megendalikan emosi, bagaimana gadis itu tampak kuat dan tegar saat memendam sakit hati namun sebenarnya ia lemah. Tentang bagaimana gadis itu sedikit sulit mengatur airmata saat emosinya sudah di ambang batas. Sedikit banyak Minhyuk sudah memberi tahu bagaimana cara untuk menghadapi emosi Minhee, namun agaknya Sehun lupa akan itu semua karena kini ia sudah terlanjur membuat Minhee menangis lagi.

 

“Minhee-ya…”

“Aku benci padamu, oppa.”

Dan Sehun tak bisa berbuat apa-apa saat Minhee meninggalkannya sendirian bersama seluruh rasa bersalahnya atas pertengkaran baru mereka pagi ini…

 

.

.

| 15th Chapter |

.

.

 

 

Aku merindukanmu tapi aku tidak bisa mendekatimu
Kenyataan memaksaku harus meninggalkanmu
Kau, yang memberiku  begitu banyak cinta yang hangat
Ke dalam mataku yang kering dan kesepian ini [1]

 

Minhee terpekur membaca sebait sajak yang tertulis dalam naskah drama miliknya. Jantungnya berdebar lagi, entah sudah keberapa kalinya semenjak ia terus mengulangi bunyi sajak itu dalam kepalanya. Jari telunjuknya sengaja ia jadikan pembatas halaman sementara agar ia tidak kehilangan halaman dimana sebait sajak itu tertulis.

Hari ini Minhee terpaksa membatalkan niatnya ke kampus. Ia merasa amat bersalah karena harus kembali membolos latihan drama hari ini, padahal ia adalah pemeran utama yang seharusnya memiliki kehadiran yang penting dalam setiap periode latihan.

Minhee berkali-kali meminta maaf lewat Sulli, dan seniornya itu mengatakan ia bisa memaklumi ketidakhadiran Minhee. Baiklah, Sulli memang memaklumi ketidakhadiran Minhee. Tapi bagaimana dengan panitia dan pemeran yang lain? Minhee sungguh tidak enak hati pada mereka semua. Belum lagi pemikiran Minhee akan perasaan Sulli sebagai panitia mahasiswa yang bisa dibilang berkontribusi paling besar, adalah tanggung jawab Sulli untuk mengatur segala jadwal para pemeran selama berlatih. Meskipun Sulli memaklumi, pasti ada rasa kecewa juga di hatinya. Apalagi ia juga yang selama ini dianggap sebagai panitia yang paling dekat dengan Minhee.

Memikirkan segalanya sungguh membuat Minhee semakin tak enak hati dan merasa bersalah. Jadi untuk sedikit menebus rasa bersalahnya, setidaknya hari ini ia harus belajar tentang naskahnya sendiri meskipun itu secara otodidak dan tidak bersama para pemeran yang lain. Jadi saat latihan bersama nanti, setidaknya Minhee sudah merasa memiliki kemajuan tentang pematangan emosi. Pekerjaan rumah yang tersisa hanya ekspresi wajah, penghapalan dialog, serta adaptasi dengan karakter pemeran yang lain.

 

Minhee berhenti menatap deret demi deret dialog yang terpampang di depan wajahnya saat tiba-tiba ia mendengar suara ketukan halus di pintu kamarnya. Begitu halus, bahkan Minhee nyaris tidak mendengarnya barusan. Minhee bangkit dari duduknya dan meletakkan naskah itu diatas tempat tidurnya, lalu mulai mendekati pintu dengan alis yang terangkat.

Tangan Minhee mulai menyentuh kenop pintu yang dingin, saat tiba-tiba sebuah kertas tak sengaja terinjak oleh kakinya. Minhee menurunkan pandangannya ke bawah kaki, lalu melihat sacarik kertas berwarna putih ada di bawah telapak kakinya sekarang.

Minhee membungkuk untuk memungut kertas itu, menelitinya sebentar sebelum mulai membuka lipatannya yang sengaja dibagi dua. Ada sedikit rembesan tinta dari deret kata-kata yang tertulis dengan tinta hitam di baliknya.

 

Maafkan aku. Aku menyesal atas pertengkaran kita tadi pagi.

Aku serius ingin mengajakmu mengunjungi suatu tempat sore ini.

Kumohon kau keluar dari kamarmu, Minhee-ya.

 

 

Minhee tercenung sesaat selesai membaca pesan itu. Itu adalah pesan yang ditulis Sehun dan disampaikan pada Minhee lewat celah di bawah pintu.

Minhee menghela napasnya sesaat. Ia mendekap kertas itu selama beberapa detik, sebelum akhirnya melangkah menuju meja riasnya dan membereskan sedikit penampilannya di sana. Minhee melangkah keluar dari kamarnya setelah ia merasa cukup siap.

 

Sehun sedang duduk di kursi sambil menelungkupkan wajahnya di atas meja makan, tepat saat Minhee membuka pintu kamarnya. Medengar suara derit halus pintu yang terbuka, Sehun kontan mengangkat wajahnya dan tatapannya langsung membentur sosok Minhee yang terdiam canggung di mulut pintu kamarnya. Tatapan mereka saling terhenti di udara, suasana canggung semakin sarat terasa saat pertama kalinya mereka bertemu lagi semenjak pertengkaran pagi hari tadi.

 

Uhm… Kau sudah siap?” Tanya Sehun untuk memecah suasana canggung, setelah sebelumnya ia terlihat sulit untuk membuka percakapan dengan Minhee.

Sehun tak lagi membahas soal surat yang tadi ia selipkan lewat celah bawah pintu.

Minhee mengangguk.

Sehun bangkit dari kursi dan berjalan menghampiri Minhee. Laki-laki itu menggandeng tangan kanan Minhee dan membawanya sampai ke dekat pintu keluar apartemen mereka. Mereka berhenti sejenak di belakang pintu untuk memakai sepatu.

 

Sehun turun bersimpuh dengan satu lutut menghadap rak sepatu, menatap Minhee sambil menunjuk deretan sepatu milik Minhee.

Which one?”

Minhee dengan polos menunjuk sepasang sepatu kets birunya yang biasa ia pakai ke kampus. Sehun menuruti permintaan Minhee; lalu entah apa yang sedang mempengaruhi pikiran laki-laki itu sekarang, yang jelas Sehun membantu Minhee memasangkan sepatu itu di kakinya. Minhee memakai kaos kakinya sendiri, namun Sehun berinisiatif untuk mengikatkan tali sepatu Minhee. Minhee sejak tadi terdiam. Ia bingung sekaligus heran dengan semua yang Sehun lakukan untuknya.

Minhee tak tahu harus berkata apa. Ia menyimpan banyak kebingungan sekaligus keheranan, meskipun semua itu hanya berputar-putar dalam benaknya dan sama sekali tak mampu untuk ia ungkapkan. Selama Sehun mengikat tali sepatunya sendiri, Minhee masih terdiam linglung untuk berpikir.

 

“Sebenarnya… Kita mau kemana?” Tanya Minhee kecil, saat mereka berdua sudah ada dalam balok elevator yang akan membawa mereka menuju lantai bawah.

“Kau akan tahu nanti,” jawab Sehun sambil tersenyum simpul.

Pintu elevator terbuka, tepat saat Sehun menyelesaikan kalimatnya. Laki-laki itu menggenggam tangan Minhee lagi dan menariknya halus untuk keluar dari balok elevator. Bahkan setelah mereka sudah keluar dari gedung apartemen dan mulai berjalan di trotoar bersama pejalan kaki lainnya, Sehun masih menggenggam tangan Minhee.

Mereka berjalan lumayan cepat dan beberapa kali mendahului pejalan kaki yang lain. Saat ini waktu memang sudah menunjukan jam pulang karyawan kantor, bertepatan juga dengan jam pulang beberapa pelajar, jadi wajar jika jalanan terlihat cukup padat dan trotoar juga dipenuhi oleh pejalan kaki yang berlalu-lalang. Minhee hanya terdiam dan membiarkan Sehun membawanya menerobos kerumunan orang-orang yang semakin ramai. Gadis itu mendekatkan diri pada Sehun dan berlindung di balik punggung lelaki itu, sedangkan tangan kirinya yang terbebas menggenggam ujung jaket Sehun.

Mereka berjalan selama kurang lebih sepuluh menit, sebelum akhirnya Minhee merasakan orang-orang di sekitar mereka yang semula ramai kini sudah berangsur menghilang dan jalanan yang ada di sisi mereka terlihat renggang. Minhee menjauh dari punggung Sehun dan mulai meneliti lingkungan yang ada di sekitarnya, mengerutkan kening bingung saat sejauh matanya memandang ia hanya bisa melihat deretan kedai dan kios penjual makanan yang berjajar di sepanjang sisi trotoar.

Namun belum sempat bertanya, matanya sudah terkunci pada pemandangan yang mulai terlihat di depan sana. Hamparan air jernih yang memantulkan sinar matahari senja, terlihat hangat sekaligus manis. Hamparan itu begitu luas, diisi oleh beberapa perahu dengan hiasan neon berwarna-warni yang melintas dan bisa terlihat dari kejauhan. Mulut Minhee membulat kecil, dan Sehun yang melihatnya hanya tersenyum simpul.

 

“Hangan Park.” Ucap Sehun sambil melirik Minhee beberapa kali. “Kau suka?”

“Astaga, aku baru tahu ada tempat seperti ini di Seoul,” sahut Minhee polos. “Dan… Oh! Ini di tepi Sungai Han?”

Sehun mengangguk lalu mengajak Minhee berjalan menyusuri Sungai Han dari dekat pagar pembatas. Mereka melihat beberapa anak kecil sedang asyik bermain di taman yang terlihat menyenangkan itu, ada pula beberapa anak laki-laki dengan kemeja seragam sekolah mereka yang masih melekat tengah bertanding basket. Ada beberapa gadis dengan warna almameter yang sama duduk di tepi lapangan, menyorak penuh semangat pada teman laki-laki mereka yang sedang bertanding memperebutkan bola di tengah lapangan.

Lalu ada pemandangan unik lain, yaitu sepasang kakek dan nenek yang tengah duduk santai di kursi taman menikmati pemandangan Sungai Han; seorang ayah dan ibu muda yang tengah menemani balita kecil mereka belajar berjalan; serta orang dewasa yang sedang lari sore ataupun bersepeda di sepanjang jogging track taman. Ada pula beberapa pasangan yang sedang jalan-jalan sore ditemani es krim ataupun kembang gula di tangan mereka.

Minhee terkekeh.

 

“Terimakasih telah membawaku ke sini. Aku sangat terhibur, oppa.” Sahut Minhee sambil mengerling pada Sehun.

Sehun ikut tersenyum. “Kau baru sekali ini mengunjungi Hangan Park?”

“Yap,” jawab Minhee. “Rumah orangtuaku cukup jauh dari sini. Dan eomma juga tidak pernah mengizinkanku pergi terlalu jauh dari rumah, bila tak ada orang yang menjagaku.”

“Aku sudah sering mengunjungi taman ini semenjak masih sekolah,” ujar Sehun. Ia menghentikan langkah di dekat lapangan basket dan menunjuk beberapa anak lelaki yang sedang bertanding di tengah lapangan sana. “Saat SMA, aku juga sering bertanding bersama teman-temanku di sana.”

Minhee ikut mengalihkan pandangannya menuju arah yang ditunjuk Sehun. “Dan gadis-gadis seperti itu juga ada? Teman-teman perempuanmu duduk di sana seperti mereka dan melihatmu bertanding?”

“Ya,” jawab Sehun singkat.

Minhee merengutkan wajahnya. “Lalu siapa yang namanya paling sering mereka teriakkan?”

“Hansol, Kai, dan…” Sehun sedikit menggumam, “… aku.”

“Oh,” ucap Minhee singkat lalu pura-pura mengalihkan pandangannya ke arah Sungai Han. “Jadi… Kau idola, hm?”

“Hei, ada apa?” Sehun balik bertanya, ia memagut dagu Minhee untuk mengembalikan tatapan gadis itu padanya. Percaya atau tidak, darah Minhee sungguh berdesir saat Sehun menyentuh dagunya.

“Kau cemburu?” Tanya Sehun lagi lalu tersenyum miring di depan wajah Minhee.

Minhee menggeleng, lalu berusaha menyingkirkan tangan Sehun dari dagunya. “Ini tempat umum, Oh Sehun. Jangan macam-macam, oke?”

Mereka melanjutkan langkah kembali dan berpapasan dengan sepasang ayah dan ibu muda yang sedang menemani balita mereka belajar berjalan. Minhee memandangi balita itu lekat, dan balas tersenyum saat orangtua balita itu melempar senyum padanya. Saat mereka selesai berpapasan, Minhee masih saja memperhatikan keluarga kecil itu dengan lekat. Sehun memandangi kelakuan Minhee dan mulai berencana iseng untuk menggodanya.

“Sepertinya kau sangat tertarik dengan bayi itu,” celetuk Sehun saat Minhee masih saja asyik menoleh memandangi keluarga kecil itu. Minhee tersadar dan segera menukar fokusnya pada Sehun.

“Eh, uhm, apa?” Tanya Minhee linglung.

Sehun memutar matanya lalu mengulang kata-katanya, “sepertinya kau sangat tertarik pada bayi itu. Memangnya ada apa? Apa aku juga ingin memiliki bayi seperti noona itu?”

“Apa maksudmu?!” Minhee bertanya shock. “Aku hanya merasa bayi itu lucu, mirip dengan anak bibiku. Itu saja.”

“Kau yakin?” Sehun kembali menggoda Minhee.

“Kau menyebalkan!” tandas Minhee sambil memukul lengan Sehun.

Sehun meringis, sedangkan Minhee terkekeh puas. “Rasakan,”

 

Matahari yang bersinar semakin redup mengindikasikan hari yang sudah semakin mendekati malam. Taman mulai sepi dan kini hanya tinggal beberapa orang dewasa yang tersisa. Beberapa anak kecil yang tadi Minhee lihat mulai membubarkan diri satu-persatu, sedangkan segerombolan remaja tanggung yang tadi Minhee lihat sedang berkumpul di lapangan basket mulai meninggalkan area taman dan beberapa dari mereka menyerbu bus yang akan membawa mereka pulang menuju rumah masing-masing.

Angin bertiup dingin, membuat Minhee melingkarkan tangannya untuk memeluk tubuhnya sendiri. Sehun tersadar dan menoleh melihat keadaan Minhee. Secara spontan Sehun melindungi tubuh Minhee yang sedikit menggigil dalam dekapannya.

 

“Kau kedinginan?” Tanya Sehun pelan pada Minhee yang tenggelam dalam pelukannya.

Minhee mengangguk kecil, namun tak mengatakan apa-apa. Mungkin gadis itu tidak sanggup.

“Ayo kita mampir ke salah satu kedai kopi,” ajak Sehun. “Kita bisa melindungi diri dari angin dingin yang bertiup sepanjang senja ini. Ayo.”

 

Sehun memindahkan jaket yang membalut tubuhnya ke atas tubuh Minhee, lalu cepat-cepat membawa Minhee menuju kedai kopi terdekat untuk menghindar dari angin dingin yang bertiup terus-menerus.

Mereka berhasil mendapatkan salah satu meja terbaik yang ada dalam kedai tersebut, dimana jendela besar yang ada di sisi kanan meja tersebut menghadap langsung menuju pemandangan Sungai Han. Mereka sama-sama memesan cokelat panas, lalu menghabiskannya sambil menunggu angin tidak berhembus terlalu kencang lagi.

 

“Bagaimana perasaanmu sekarang?” Tanya Sehun sebelum menyeruput cokelat panasnya. Matanya menatap Minhee kala cangkir putih itu menutupi separuh wajahnya.

Minhee tersenyum kecil dan memainkan cangkirnya yang sudah setengah kosong. “Aku senang.”

“Kau tidak marah padaku lagi, kan?” Tanya Sehun sebagai pertanyaan kedua.

Minhee memicing pada Sehun dan kali ini sedikit merubah cara tersenyumnya. Gadis itu menggeleng sebagai jawaban.

“Sebenarnya aku ada satu kejutan untukmu,” sahut Sehun lagi, merubah tema percakapan.

Minhee menatap Sehun dengan alis yang berkerut penasaran. “Apa itu?”

“Tunggu di sini sampai aku kembali,” sahut Sehun sambil tersenyum simpul.

“Baiklah, aku akan menunggu,” balas Minhee sambil menopangkan dagu di atas tangan kanannya. “Tapi pastikan kejutan itu akan menyenangkan. Janji?”

“Janji.” Balas Sehun sambil tersenyum manis.

 

Sehun bangkit dari kursinya dan meninggalkan Minhee dengan senyum yang membekas. Setelah Sehun menghilang di balik pintu kaca kedai, Minhee memudarkan senyumnya. Gadis itu mengitari mulut cangkir dengan jari telunjuknya, menanti menit demi menit yang terus berjalan semenjak Sehun keluar dari kedai. Beberapa kali Minhee memandang Sungai Han yang ada di luar sana, semakin indah ketika matahari mulai tenggelam dan yang terisa untuk menerangi permukaan air hanyalah cahaya dari neon warna-warni yang berpendar dari perahu-perahu wisata.

 

Saat itulah tiba-tiba ponsel milik Minhee berbunyi, menandakan ada panggilan mencoba untuk masuk. Minhee memeriksa layar ponselnya dan seketika mengerutkan kening bingung saat membaca nama Sehun tertera sebagai nama kontak yang mencoba menghubunginya.

 

Oppa?”

 

Tutup kedua matamu sekarang,” pinta Sehun lewat sambungan telepon itu.

 

Minhee mengerutkan keningnya dan tak langsung menuruti permintaan Sehun, atau setidaknya mengatakan ‘iya’. Gadis itu membalasnya, “untuk apa?”

 

Untuk kejutanmu,” jawab Sehun.

 

“Dimana kau sekarang, oppa?” Tanya Minhee ingin tahu lagi.

 

Aku ada di salah satu sisi kedai, dimana aku bisa melihatmu tetapi kau tidak bisa melihatku,” jawab Sehun lagi. “Ayolah, cepat… Just close your eyes, baby.”

 

Minhee menghela napas panjang sebelum akhirnya menjawab, “yes, I do.

Panggilan itu berakhir dan Minhee pun menuruti permintaan Sehun untuk menutup kedua matanya. Gadis itu menanti dengan jantung berdebar, sibuk berspekulasi dengan pikirannya sendiri mengenai hadiah apa yang mungkin Sehun persiapkan untuknya.

 

Sebuah cincin?

Lamaran yang sesungguhnya?

Oh, kau gila, Shin Minhee.

 

“Kau boleh buka kedua matamu sekarang,” suara Sehun tiba-tiba sudah terdengar ada di dekatnya, tepatnya di hadapannya, membuat Minhee sedikit terkejut ketika Sehun ternyata tiba dalam waktu secepat itu.

“Apa yang kau bawa di sana?” Tanya Minhee sebelum memindahkan kedua telapak tangannya dari atas mata. “Kuharap itu bukan serangga.”

Just open your eyes,” jawab Sehun dengan kekehnya yang terdengar menyebalkan untuk saat ini. “And you will find the answer.

“Jangan menyiapkan lelucon yang menyebalkan, oke?” ujar Minhee memastikan. “Jika terbukti jika leluconmu ini menyebalkan, aku akan menjitak kepalamu sepuluh kali.”

“Dan jika terbukti ini adalah kejutan yang manis?” Tantang Sehun. “Apa yang akan kau berikan padaku sebagai ucapan terimakasih, hm?”

Minhee terdiam sesaat, bingung. “Uhm… Aku—“

“Kau harus menciumku di depan pintu apartemen nanti,” potong Sehun dengan suara berbisik. “Tapi kali ini harus kau yang menciumku lebih dulu. Setuju?”

“Apa?!” Minhee terbelalak. “That’s not fair!”

That’s pretty fair,” sanggah Sehun. “Let me say, that’s one of my due. You are my wife. Remember?”

Ugh,” keluh Minhee. “Whatever. Up to you, Mr. Oh.”

 

“Oke, kau boleh membuka mata sekarang. Perlu kuhitung mundur?” tawar Sehun. Minhee hanya bisa mengangguk pelan, dan beberapa detik kemudian ia malah menyesal telah menyetujui hitungan mundur Sehun.

Sehun mulai menghitung mundur, sedangkan Minhee mencoba untuk menahan debaran jantungnya saat perlahan ia mulai membuka matanya.

“Oke, ini sangat sederhana. Tapi semoga kau suka,” sahut Sehun pelan. Minhee membuka matanya secara penuh dan terbelalak melihat boneka berbentuk tokoh kartun Disney yang lucu kini ada di depan matanya. Sehun bersembunyi di balik boneka itu, cemas-cemas menebak bagaimana ekspresi Minhee sekarang.

 

Ommo!” seru Minhee spontan. Minhee menarik boneka itu dari tangan Sehun dan langsung mendekapnya senang, layaknya seorang anak kecil yang baru saja diberi hadiah berupa boneka kesukaaannya.

Kecemasan Sehun luntur seketika, dan spontan ia tertawa lega saat melihat betapa senang ekspresi Minhee saat menerima boneka itu. Kemudian lelaki itu menopangkan dagu di atas kedua tangannya.

“Bagaimana? Kau suka?” Tanya Sehun dengan senyum lebar di wajahnya.

“Bagaimana bisa kau tahu kalau aku sangat suka Winnie The Pooh?” Minhee balik bertanya.

Sehun mengangkat bahunya. “You haven’t must to know.”

Ugh, annoying answer,” Minhee sedikit mengerucutkan bibirnya sambil memeluk boneka itu lagi. “But, thanks!”

“Oke, sekarang siap untuk hadiah kedua?” Tanya Sehun.

Minhee menatap Sehun dan membelalakan kedua matanya lagi. “Hadiah kedua?”

“Yap,” jawab Sehun. Ia mengarahkan tatapannya menuju luar kedai, tepatnya ke tepian Sungai Han. Sehun mengetuk-ngetukkan jari ke kaca jendela, “cuaca di luar sudah mulai bagus. Ayo kita jalan-jalan di sana,”

Minhee mengerutkan keningnya dan menunduk menatap cangkir cokelat panasnya yang masih terisi setengah. “Tapi minumanku belum habis,”

“Habiskan,” sahut Sehun sambil menuding cangkir putih itu. “Dan bersiaplah untuk hadiah kedua,”

Minhee menghabiskan cokelat cair itu dengan cepat, dan beruntungnya cokelat itu sudah lebih dingin dari sebelumnya. Setelah selesai ia menatap Sehun, lalu akhirnya laki-laki itu meraih tangannya lagi untuk mengajaknya pergi.

 

“Ada apa sampai kau mempersiapkan semua ini?” Tanya Minhee dengan alis berkerut. Merasa aneh saat Sehun hanya menjawabnya dengan tawa kecil.

“Apa kau mau merayuku agar melupakan pertengkaran tadi pagi?” lanjut Minhee setelah mereka beranjak dari meja kasir, lalu kini melangkah bersama menuju keluar kedai.

“Jangan ingat pertengkaran itu terus,” protes Sehun kecil. “Jangan buat aku merasa bersalah terus menerus. Kau tega padaku?”

Minhee terkekeh pelan sambil mengeratkan pelukannya pada boneka barunya, sebuah boneka berbentuk beruang madu yang sejak dulu jadi favoritnya. Winnie The Pooh. Bagaimana bisa Sehun tepat menebak tokoh kartun Disney kesukaannya?

 

“Maaf,” ucap Minhee kecil. Sesaat kemudian ia berpaling menatap Sehun, dan kembali bertanya, “dan juga… Sebenarnya kita ingin kemana?”

“Pilihlah bangku taman yang kau suka,” sahut Sehun, namun jelas bukan jawaban atas pertanyaan Minhee sebelumnya. Minhee menatap bangku taman yang kini berjajar di sepanjang jalur perjalanan mereka, sedikit bingung karena pada dasarnya semua bangku taman itu sama saja. Mengapa Sehun memintanya untuk memilih salah satu?

“Yang mana?” Minhee balik bertanya. “Menurutku semuanya sama saja, apa yang istimewa?”

“Pilih saja yang ingin kau duduki,” jawab Sehun lagi. “Yang memiliki pemandangan terbagus menuju Sungai Han, mungkin?”

Minhee meletakkan satu telunjuknya di dagu, lalu mulai sibuk berpikir bangku taman mana yang terlihat paling nyaman untuk mereka singgahi saat ini. Cukup lama ia memindahkan tatapan menilai dari satu bangku menuju bangku yang lain, sampai akhirnya mereka memilih salah satu bangku yang berjarak sekitar satu meter dari lampu taman.

 

“Baiklah, sekarang… Apa lagi?” Tanya Minhee sambil menolehkan kepalanya pada Sehun, setelah sejak tadi justru lebih banyak tersita oleh boneka baru yang ada di tangannya.

“Kau lebih menyukai boneka itu dibanding aku?” protes Sehun sambil pura-pura mengerucutkan bibirnya.

Minhee membulatkan mulutnya kecil. “Oh, astaga. Aku hanya senang sekali bisa mendapatkan tambahan koleksi Winnie The Pooh, jadi kali ini aku bisa menyimpannya di apartemen. Sebab semua boneka Winnie The Pooh milikku tertinggal di rumah,”

Sehun hanya menganggukkan kepalanya, mencoba terlihat memaklumi.

“Oh, aku nyaris lupa. Tadi aku juga sempat membelikanmu permen,” sahut Sehun. Sesaat kemudian ia lalu tampak sibuk mengeluarkan beberapa butir permen karamel dari dalam saku celananya. Minhee hanya terdiam bingung—mengapa Sehun menyimpan semua permennya itu di dalam saku? Apa pedagangnya tidak berbaik hati memberikan Sehun tas pembungkus?

“Oh, tunggu. Kurasa masih ada beberapa permen yang tertinggal… Astaga, mengapa sulit sekali?” keluh Sehun sendirian, sedangkan Minhee masih terdiam bingung melihat semua kesibukan Sehun tanpa tahu harus membantu dengan cara apa.

Sehun bergegas bangkit dari bangku itu guna mengambil beberapa bungkus permen yang masih tertinggal di sakunya, namun sialnya ia lupa jika semua permen yang sudah berhasil dikeluarkan ia letakkan begitu saja di atas pangkuan. Otomatis saat Sehun berdiri, semua permen itu jatuh dan berserakan di rumput.

Sehun terkejut, begitupun dengan Minhee yang cepat-cepat meletakkan Winnie The Pooh dalam pangkuannya dan berniat untuk mengambil permen itu satu-persatu dari atas rumput.

“Astaga, astaga… Biar aku saja,” sahut Sehun cepat lalu menyimpuhkan lututnya untuk mengumpulkan permen itu kembali.

Sehun mencegah Minhee sebelum berhasil menyentuh satu permenpun, dan Minhee langsung mengurungkan niatnya saat ia menilai bahwa sepertinya Sehun tak ingin dibantu.

“Tapi oppa, kau—“

 

Kata-kata Minhee terputus sebelum berhasil terucapkan sepenuhnya. Keheningan yang cukup panjang mengisi setelah Minhee memutus kalimatnya, pun dengan Sehun yang tak berkata apa-apa walaupun tangan kanannya kini sedang menyodorkan sebuah benda pada Minhee. Benda yang lain, dan itu sama sekali bukan bungkus butiran permen. Benda itu berbentuk kotak, dan terbuat dari kaca tipis.

Minhee terpana melihat benda itu, sedangkan Sehun yang tampak canggung untuk menatap mata Minhee sudah sejak tadi ikut membenturkan pandangan matanya pada kotak kaca yang kini berada di tangannya itu.

Suasana diantara mereka masih menghening, selaras dengan suasana Hangan Park yang tak banyak didatangi orang lagi semenjak hari berganti malam.

 

Sebuah cincin?

Lamaran yang sesungguhnya?

 

Minhee bahkan masih ingat pertanyaan konyolnya saat masih berada dalam kedai tadi. Saat jantungnya berdebar setiap ia menebak dan bersepekulasi tentang hadiah macam apa yang akan diberikan Sehun untuknya. Semua debaran itu luruh saat ia menemukan Sehun menghadiahkannya sebuah boneka Winnie The Pooh yang lucu. Tidak terbukti bahwa Sehun akan memberikannya sebuah hadiah yang akan membuat jantung Minhee berdebar menahan salah tingkah. Namun ia sama sekali tak terpikirkan bahwa benda ini akan menjadi hadiah kedua yang tadi sempat disinggung oleh Sehun.

 

Jadi benda ini…. Cincin?

 

“Apa itu?” Tanya Minhee dengan nada polos setelah sejak tadi ia hanya bisa terpana bingung sekaligus berdebar ketika melihat kotak kaca itu disodorkan Sehun ke hadapannya.

“Ah, ini…” Sehun menggumam dengan nada yang sedikit salah tingkah. “Ini… Bukan perhiasan mahal. Hanya saja… Hanya saja… Kupikir kau akan menyukainya,”

“Apa itu cincin?” Tanya Minhee penasaran karena kotak kaca itu sedikit membias terkena cahaya lampu taman, jadi ia tak bisa melihat isinya secara jelas.

Sehun tergagap, “oh… Bukan, Minhee. Ini… Kalung.”

“Kalung?” Tanya Minhee. “Oh.”

“Kau tidak suka?” Tanya Sehun dengan nada khawatir.

“Oh, jujur sebenarnya aku jauh lebih menyukai kalung ketimbang cincin. Jadi—“

“Semoga kau menyukainya,” potong Sehun. Sehun lalu membuka kotak kaca itu dan mengeluarkan seuntai kalung berkilau berwarna putih dengan liontin kecil yang menarik perhatian Minhee sejak pertama kali ia bisa melihat bentuk liontin itu secara jelas.

“Gembok?” Tanya Minhee tiba-tiba saat ia menyadari bentuk dari liontin itu. Liontin itu sengaja dibentuk menyerupai gembok, dengan bentuk yang mungil dan sedikit taburan permata berwarna putih di bagian tengahnya.

“Ah, iya,” jawab Sehun sambil terkekeh salah tingkah.

“Kenapa gembok?” Tanya Minhee lagi, namun kali ini dengan pandangan mata yang lurus menatap iris kelam Sehun.

“Ya… Anggaplah ini simbolis atas hatimu,” jawab Sehun setelah sebelumnya beberapa kali berdehem pelan. “Hatimu… Terkunci.”

“Hah?” ulang Minhee yang merasa kurang paham dengan maksud ucapan Sehun.

Sehun balas menatap Minhee, mencoba mengalahkan rasa grogi yang entah kenapa begitu kuat menekannya saat ini.

 

Bahkan ini hanya seuntai kalung, Oh Sehun.

Ini bukan cincin. Kau bahkan belum memberikan cincin padanya. Padahal setiap wanita pasti menganggap cincin  sebagai simbolis bahwa pria meminta wanitanya untuk menerima cinta.

Tapi kau sudah menikahinya, kau sudah mencintainya, dan berharap bisa memilikinya selamanya. Tanpa sebuah cincin yang kau berikan padanya layaknya pinangan resmi seorang laki-laki.

Ini bahkan hanya seuntai kalung, Oh Sehun. Kau hanya perlu mengatakan sekali lagi saat ini, bahwa kau mencintainya.

 

“Aku ingin hatimu sudah terkunci,” lanjut Sehun dengan nada suara yang mulai stabil. Bahkan kini ia mulai memberanikan diri untuk membalas tatapan Minhee secara penuh, mengalahkan rasa grogi atas pernyataan cintanya sendiri.

Ini tak sama dengan kata cinta yang pernah Sehun ucapkan pada Minhee sebelumnya.

“Karena hatimu telah menjadi milikku untuk selamanya,”

 

Dan Minhee tak tahu, apakah ia masih ada dalam keadaan sadar atau tidak saat Sehun mencium punggung tangan kanannya selesai ia mengucapkan kalimat itu.

Kalimat yang menegaskan sekaligus meminta bahwa hati Minhee sudah terkunci dan menjadi milik Sehun selamanya.

 

***

 

Minhee berlari melintasi koridor demi koridor yang akan membawanya menuju ruang latihan drama. Ia sungguh buru-buru kali ini. Ia tak mau terlambat lagi. Sudah beberapa kali Minhee mangkir dari latihan drama yang seharusnya wajib ia hadiri, dan itu membuatnya tak enak hati pada semua kru. Hari ini Minhee bertekad harus tiba lebih cepat dari kru yang lain, lalu bila perlu membersihkan ruangan latihan terlebih dahulu sebagai tanda permintaan maaf. Minhee sungguh rela melakukan itu.

 

Minhee bernapas lega saat menemukan pintu ruangan latihan tidak dikunci. Dengan napas yang masih terangah-engah ia masuk ke dalam ruangan itu, namun tepat saat menutup pintunya kembali tubuh Minhee serasa membeku.

 

“Minhee-ya? Sedang apa kau?” Tanya seorang senior tiba-tiba. Minhee menelan saliva-nya payah dan dengan sedikit cemas memutar tubuhnya untuk menghadap senior itu. Jujur Minhee sedikit gentar ketika harus bertemu Sulli sekarang, apalagi jika mereka hanya berdua. Sungguh Sulli memang gadis yang baik hati, namun Minhee masih tak sanggup menahan rasa tak enak hati atas keabsenannya di beberapa kesempatan latihan perdana mereka.

“Kau datang terlalu awal,” lanjut Sulli sambil mengerutkan keningnya. “Jangan bilang kau membolos kelas hanya demi menjadi orang yang paling awal datang ke ruangan ini.”

“Aku tidak membolos, sunbaenim,” jawab Minhee dengan kepala yang sedikit menunduk. “Aku ke sini lebih awal karena… Karena… Sebagai permintaan maaf.”

Sulli mengangkat sebelah alisnya dan berjalan mendekati Minhee yang masih terdiam di depan pintu. Gadis itu memiringkan kepalanya untuk melihat Minhee lamat-lamat sambil tetap memasang mimik wajah heran.

“Oh, kekhawatiranmu sungguh berlebihan, Minhee…” sahut Sulli tiba-tiba dengan suaranya yang jernih. Gadis itu kemudian tertawa, membuat Minhee mengangkat kepalanya seketika dan sedikit bingung mengapa seniornya itu tertawa saat Minhee mengakui kesalahannya.

“Kau tidak perlu secemas itu, aku sangat mengerti keadaanmu saat ini,” lanjut Sulli dengan suara berbisik, lalu mengerling jenaka pada Minhee.

Minhee membulatkan mulutnya, merasa kaget sekaligus bingung.

Sunbaenim… Maksudmu—“

“Aku janji tak akan memberitahukan apapun pada yang lain,” sahut Sulli sambil merangkul bahu Minhee lalu mengajaknya masuk lebih dalam ke ruang latihan tersebut. Membawa Minhee sampai ke tempat yang paling lapang, tempat mereka biasa berlatih adegan bersama.

Sunbaenim, kau—“

“Aku sudah tahu,” potong Sulli lagi sambil tersenyum lebar. “Jadi… Kau menyukai Sehun, kan? Lalu kau kemarin cemburu karena… Uhm, karena… Daeun sudah kembali?”

“Daeun?” Minhee balik bertanya. “Daeun? Siapa Daeun?”

Sulli membulatkan mulutnya saat mendengar pertanyaan polos Minhee. Sulli memutar bahu Minhee sampai mereka berhadapan, lalu menatap Minhee tak percaya. Minhee ikut kaget dan kini tatapan terbelalak mereka saling bertemu.

“Ada apa, sunbaenim?” Tanya Minhee ikut terbelalak.

“Kau menyukai Sehun, tapi kau sama sekali tidak tahu siapa Daeun?” ulang Sulli berlebihan.

Minhee hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan ekspresi sedikit bingung, meskipun dalam lubuk hati perlahan ia mulai menyadari apa maksud semua perkataan Sulli.

Daeun? Apakah ia gadis yang tempo hari Minhee lihat?

 

“Mereka bersahabat,” Sulli memutar matanya. Gadis itu mendecak kasihan pada Minhee, “aku satu sekolah dengan mereka sejak SMP. Jadi aku tahu betul bagaimana cerita pertemuan mereka.”

“Benarkah?” Tanya Minhee dengan suara kecil. Tanpa Minhee sadar, tema ini kembali membuatnya merasakan nyeri yang berdenyut dalam hatinya. Padahal nyeri itu belum sepenuhnya sembuh. Patah hati itu terlanjur Minhee rasakan.

“Ya,” jawab Sulli lalu kembali menatap Minhee. “Aku, Kai, dan mereka berdua satu sekolah sejak SMP. Lalu di SMA, kami kembali bertemu walaupun Kai baru menjadi murid pindahan di sekolahku saat semester lima.”

Minhee mendudukkan dirinya di samping Sulli. Gadis itu akan berusaha mendengarkan semua cerita Sulli dengan seksama, walau mungkin tahu ini akan menyakiti hatinya sendiri. Namun rasa keingintahuan Minhee begitu besar saat ini, membuatnya ingin tahu lebih banyak soal masa lalu Sehun yang belum sempat diketahuinya. Sulli adalah satu-satunya kunci bagi Minhee mengingat gadis itu sudah menjadi kawan sekolah Sehun sejak lama, karena jelas-jelas Sehun sendiri tak akan pernah menceritakan Minhee soal masa lalu itu. Begitupun dengan Kai. Alasan paling tepat milik kedua lelaki itu pasti karena mereka tak ingin menyakiti hati gadis rapuh seperti Minhee.

“Lalu… Apa yang terjadi?” Tanya Minhee kecil.

Sulli kontan menolehkan kepalanya ketika mendengar nada suara Minhee yang menyedihkan. “Astaga!” Ia membekap mulutnya sendiri, “tidak, aku tidak mau melanjutkan cerita ini! Aku tidak mau membuatmu sedih, Minhee.”

“Aku tidak apa-apa,” jawab Minhee dengan senyum palsu yang coba ia tampilkan layaknya senyum biasa. Ia berharap bisa membohongi Sulli kali ini, mengingat Sulli adalah salah satu pembaca ekspresi wajah yang cukup handal.

“Tidak.” Tegas Sulli lagi. “Tidak. Tidak. Tidak.”

“Ayolah, sunbaenim…” Minhee memelas.

“Kau memaksaku?” Tanya Sulli berlagak galak.

Minhee merasa ciut dan memutuskan berhenti merengek. Gadis itu menundukkan kepalanya sedih, dan diam-diam Sulli melirik ekspresi sedih Minhee. Ada rasa bersalah di hatinya karena ia sudah menyeret Minhee kembali ke tema ini. Siapapun tahu, patah hati bukanlah suatu hal yang indah diingat. Dan kini Sulli secara tidak sengaja telah mengingatkan Minhee kembali atas rasa sakit hatinya itu, lalu ia meninggalkannya begitu saja tanpa membantu Minhee untuk sembuh.

“Aku hanya tahu jika mereka sangat dekat sejak dulu,” ujar Sulli tiba-tiba, membuat kepala Minhee terangkat seketika. Sulli mencoba menghindari tatapan sedih Minhee. Membuat Sulli semakin bingung, ia harus melanjutkan cerita ini ataukah jangan.

“Kai dan Daeun sama-sama menjadi orang terdekat Sehun selama di sekolah sejak dulu, namun mereka selalu ada di sisi yang berseberangan. Mereka sama-sama sahabat terdekat Sehun, namun mereka tak pernah mau Sehun pertemukan dalam satu kondisi yang sama. Mereka terpisah, dan hanya Sehun yang menjadi batas antara mereka. Kurasa, mereka tak pernah saling menyukai. Aku bisa merasakan tatapan tak suka Kai ketika pertama kali Daeun datang dan masuk dalam persahabatan mereka.” Jelas Sulli panjang. Tatapannya menerawang, seakan mengingat masa lalu yang pernah terjadi saat tahun pertamanya di bangku SMP.

Minhee terpaku. Ia tak bisa mengucapkan kalimat apapun, meskipun telinganya menangkap semua kalimat Sulli dengan jelas. Otaknya pun merekam kalimat itu dan menyimpannya dalam satu memori di kepalanya.

“Mungkin saja karena Kai tahu bahwa…” kata-kata Sulli terputus dengan satu senyum tipis yang menyiratkan kesedihan untuk Minhee. “…bahwa mungkin persahabatan antara seorang laki-laki dan perempuan tidak akan bisa berjalan semulus yang mereka harapkan.”

 

Saat ada persahabatan yang tercipta antara laki-laki dan perempuan, ada sembilan puluh persen kemungkinan bahwa secercah perasaan lain hadir di antara mereka. Itu adalah keyakinan lama, namun bisa jadi hingga detik ini keyakinan itu tak sanggup terbantahkan. Walaupun secuil, namun perasaan itu pasti pernah ada. Perasaan memiliki lebih dari perasaan seorang sahabat yang seharusnya…

 

***

 

Rasanya sakit…

Bahkan memikirkannya saja sudah membuat napas Minhee sesak. Satu keping memori dalam otaknya berhasil menyimpan semua pembicaraannya dengan Sulli siang tadi, membuat hatinya semakin retak saat mengingat dan memutar ulang semua itu dalam kepalanya.

Dalam lubuk hati Minhee yang paling dalam, ia tak bisa menerima semuanya. Masa lalu itu datang ketika Minhee mulai bisa mengakui bahwa ia mencintai Sehun. Minhee baru saja mulai berpikir ia bisa memulai rumah tangganya dari awal, membangunnya dengan perasaan yang penuh ketika ia dan Sehun sudah mengungkapkan bahwa mereka saling mencintai. Minhee kira semuanya akan seperti kisah cinta yang dulu selalu diidamkannya. Minhee kira ia akan berubah dan menjadi istri yang baik untuk Sehun.

Minhee kira, ia dan Sehun akan saling memiliki selamanya saat kata cinta itu terucap oleh mereka di tepi Sungai Han.

 

Airmata Minhee meleleh, dan botol air mineral yang ada di tangannya terjatuh tanpa sadar. Botol itu menggelinding menuju sisi lain dari halte, dan baru berhenti saat membentur sepatu seorang anak lelaki yang berdiri tak jauh dari Minhee yang sedang terduduk sendirian di kursi tunggu halte.

Lelaki itu melihat Minhee, lalu melangkah mendekati gadis itu setelah sebelumnya memungut botol yang berhenti menggelinding di depan sepatunya itu.

“Mine,” sapa laki-laki itu dengan suara hangatnya yang biasa ia gunakan untuk menyapa Minhee. Nada suara sama yang tak pernah berubah semenjak sebelas tahun yang lalu, namun kini yang berbeda hanya suaranya yang sudah membesar karena faktor kedewasaan.

Minhee tak bergeming saat Jungkook duduk di sampingnya, lalu menyodorkan botol itu ke depan Minhee dengan senyum lebar yang terlukis.

“Mine?” ulang Jungkook saat Minhee tak kunjung memberikan respon. Laki-laki itu menatap Minhee lebih jelas, dan saat itulah ia terkejut melihat airmata yang meleleh satu persatu menuruni pipi Minhee.

“Mine, ada apa denganmu?” Tanya Jungkook cemas seraya bergegas menghapus airmata yang meleleh di pipi Minhee.

Minhee tersadar saat tangan Jungkook menyentuh pipinya, sekaligus terkejut dengan apa yang dilakukan Jungkook. Minhee spontan menepis tangan Jungkook dan menghapus airmata itu dengan tangannya sendiri.

“Sedang apa kau di sini?” Tanya Minhee cepat sambil mengucek mata guna membersihkan airmata yang masih menggenang di pelupuk matanya.

“Menunggu bus,” jawab Jungkook. “Aku menemukan botol airmu terjatuh, dan aku melihatmu. Aku menghampirimu untuk mengembalikan botol ini, lalu kulihat kau menangis. Aku hanya ingin menghapus airmatamu, namun kau malah menepis tanganku.”

Minhee merebut botol itu dari tangan Jungkook tanpa berkata apa-apa. Namun hal itu malah membuat Jungkook semakin penasaran dan mendekatkan wajahnya pada Minhee. Minhee tersentak, dan buru-buru mendorong Jungkook menjauh.

“Apa masalahmu, hah?!” hardik Minhee kalut. Gadis itu berdiri dan menatap Jungkook tajam.

“Aku hanya penasaran atas apa yang sedang terjadi padamu,” jawab Jungkook tenang. “Mine, kita baru terpisah selama sebelas tahun namun kau sudah banyak berubah seperti ini. Ada apa denganmu?”

“Tolong jangan ganggu aku saat aku memiliki masalah,” ujar Minhee lalu menelungkupkan wajahnya sesaat di telapak tangan.

“Aku hanya mencoba untuk membantumu,” sahut Jungkook sambil ikut berdiri dari duduknya. “Saat kau menangis, aku akan selalu ada di dekatmu, seperti dulu. Aku tidak akan merubah itu, Mine.”

“Maaf, tapi aku tak bisa lagi, Jungkook…” balas Minhee dengan isak yang mulai terdengar. Jungkook terkesiap mendengar isakan Minhee. Tangannya terulur untuk meraih Minhee, membawanya dalam dekapan seperti apa yang selalu terjadi di masa kecil mereka dahulu. Jungkook adalah tempat dimana Minhee bisa menumpahkan tangisannya, karena Jungkook adalah laki-laki yang paling peduli pada Minhee ketika ayahnya sedang pergi bekerja.

Namun uluran tangan Jungkook terhenti saat ucapan Minhee mematahkan harapannya yang sudah ia tanamkan sejak masa lalu, “karena aku tak akan bisa menjadi milikmu, Jungkook. Maafkan aku…”

Jungkook terpana. Minhee berlari pergi meninggalkan halte itu dengan membawa airmatanya yang kembali tumpah. Jungkook tak bisa bergeming. Tak bisa dipungkiri hatinya patah saat mendengar Minhee mengatakan kalimat itu. Kalimat yang menyatakan bahwa Jungkook tak bisa memiliki gadis itu lagi seperti masa lalu.

 

 

 

 

| T B C |

 

 

 

 

[1] Wendy Son – Because I Love You (Indonesian Translate)

 

Halo semuanyaaaaaa ~~~~~

Ugh, kangen deh sama kalian😀

Maaf banget sebelumnya buat very-very-slow-update aku belakangan ini… Banyak yang harus aku selesaikan ._. huahahaha

Tugas sekolahku sudah mulai menggunung! Hahahaha -.-

Dan itu tugas kelompok semua -_- bête deh. Sampe mau gumoh aja rasanya😥

 

Hei, hei buat kalian ~

Aku kayaknya ngga bisa banyak cuap-cuap ya kali ini, soalnya aku sudah menyiapkan ladang curhat yang lebih luaaasss di blog pribadi aku😀

Wanna visit my own blog? Let’s go to here : Shen’s Storyland😀

Tapi maaf kalo misalnya kalian belum nemu postingan apa-apa di sana…. Jadi gini, sejak nyaris dua minggu yang lalu tuh aku udah request poster sama salah satu artworker… Nah, sampe sekarang posterku belum jadi dan dia juga belum ngabarin apapun lagi sama aku😐

Aku ngga bisa nyalahin dia sih… Aku ngerti kok kalo semua orang itu punya kesibukan masing-masing… Jadi, mari kita sama-sama menunggu🙂

Aku sudah menyiapkan beberapa cerita, namun belum sempat aku posting mengingat keterbatasan poster yang aku miliki. FYI kemaren aku sudah sempet coba-coba bikin poster lewat PhotoShop, tapi ternyata hasilnya jelek banget😦

Jadi mau ngga mau, nasibku ya hanya bisa minta tolong bikinin poster sama para artworker baik hati😀

Oh, ya! Jangan lupa ya, kalo mau tau update-an aku di blog pribadiku, silahkan follow blog pribadiku ^^ #promosi

 

Oh, ya, ada pengumuman penting juga.

Buat kalian yang bertanya-tanya mengapa update Secret Darling ini super duper lama—mungkin sampe bikin kalian kesel karena terlalu lumutan—kalian bisa berkunjung ke link berikut : Secret Darling’s Behind The Scene.

Dimohon ya untuk berkunjung ke sana🙂 Soalnya ini urgent sekali, menyangkut hidup-matinya fic Secret Darling(?)😀 ahahaha

Jadi dimohon untuk memberi masukan kalian di sana yaa, aku sedang butuh sekali masukan dari kalian nih😉

 

Nah, sekian cuap-cuap aku kali ini ~

Pendapat kalian soal chapter ini aku tunggu selalu yaa ^^

Semoga kalian suka sama persembahan aku di chapter yang ini😀

 

Have some nice days, guys! 😉

 

[♥] : Kata makasih gak pernah kering aku ucapin ke kalian, para readers kesayangan aku :3

Sampe detik ini komentar masih terus mengalir, dan jumlahnya beneran buat aku terharu… Aku terharu dengan betapa excited-nya kalian sama fic ini… Terimakasih banyak, aku sayang kalian semua deh… Beneran (/-\)

Makasih banyak ya, komentar kalian kemarin-kemarin selalu melebihi harapan aku… Makasih buat semangatnya :3

Pertahankan terus ya jumlah komentar kalian, supaya gembok bala aku gak nemplok di chapter selanjutnya😀 mihihi ~

 

 

shineshen

342 thoughts on “Secret Darling | 15th Chapter

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s