I AM YOUR MAID (Chapter 15 B) – Ending

Tittle: I AM YOUR MAID (Chapter 15 B) – Ending

GG

Author: Dindong L.Kim (@adinda_elements)

Main Cast :

–         XI LUHAN

–         SHIN NAOMI (OC)

Support Cast :

– KIM JONG IN

– KIM MINRAE (OC)

– PARK CHANYEOL

– BYUN BAEKHYUN

– SEO SANG AKH (OC)

Genre: Romance,Friendships,Angst

Ratting: PG 15

Length: Chaptered

Disclaimer:

THIS FF IS MADE BY DINDONG L.KIM 😀

Dindong Notes :

Sorry for typos ^_^

And Long Update ^_^

Maaf sekale kalau ceritanya bener – bener gaje, but hope you like it..

Warning : Typo bertebaran 🙂

Chapter sebelumnya..

Preview Chapter sebelumnya :

‘Pesawat menuju Pulau Jeju akan segera berangkat. Penumpang diharap segera memasuki pesawat’

Sehun langsung mengumpulkan barang – barangnya. Apa yang diumumkan sesaat yang lalu merupakan pesawatnya.

“jaga dirimu baik – baik” Sehun memeluk Luhan. Dibalik pelukan Luhan mengangguk, mengiyakan apa yang Sehun perintah.

“dan jagalah Naomi” ketika Sehun melepaskan pelukannya, ia sempat berkata seperti itu. Luhan terkejut dan tak tau apa yang harus ia jawab. Ini benar – benar membuatnya pusing.

“aku tau siapa kau. Pikirkanlah baik – baik. Harta sekalipun takkan membuatmu bahagia jika tak ada kasih sayang di kehidupanmu” Sehun menepuk bahu Luhan pelan, lalu berlari menuju pesawatnya yang akan mengantarnya menuju Jeju. Luhan yang melihat kepergian Sehun hanya bisa tersenyum tipis. Ia lantas menghidupkan ponselnya kembali.

“apa yang harus kulakukan ?”

Preview End.

Sang Akh meremas telapak tangan Baekhyun ketika sampai di depan sebuah rumah yang cukup besar. Tatapan matanya yang biasa tegas, entah mengapa sekarang berubah menjadi takut dan kelam. Baekhyun menoleh sedikit untuk melihat keadaan Sang Akh. Ia tau, Sang Akh sedang ketakutan sekarang.

“kau yakin ? atau kita harus menelfon Chanyeol dan Minrae ?” Sang Akh menggeleng. ia kemudian menatap Baekhyun namun tatapannya sudah agak tenang dari sebelumnya. Gadis itu lantas tersenyum seraya menepuk punggung tangan Baekhyun pelan.

“percayalah Baek. Aku sudah siap untuk ini”

Baekhyun tersenyum mendengar ucapan gadisnya. Ia lantas mengacak rambut Sang Akh pelan dan sebelum mereka menekan bel rumah itu, keduanya sama – sama menghirup oksigen sejenak. Melepas rasa stress yang membelenggu.

Belum sempat Sang Akh menekan bel namun seseorang telah lebih dulu keluar dari rumah itu. Sang Akh yang tau betul dengan pria yang baru keluar itu lantas tercengang. Matanya terbelalak kaget dan tangannya ia gunakan untuk menutup mulutnya yang sedikit terbuka. Baekhyun hanya heran melihat ekspresi Sang Akh. Di dalam benaknya, ia berpikir ‘apa ini yang bernama Jong In ?’

“Taehyung ? sejak kapan kau disini ?” Baekhyun mengernyit. Sekarang, siapa lagi Taehyung ?

Pria yang dipanggil Taehyung itu juga berekspresi sama dengan Sang Akh. Terkejut, ya sangat terkejut. Bahkan matanya yang telah bulat itu semakin bulat ketika melihat sosok Sang Akh di depannya. tanpa aba – aba, Taehyung memeluk Sang Akh dengan erat. “aku merindukanmu, Noona”

Baekhyun yang melihat adegan pelukan itu merasa kesal. Tatapannya pada Taehyun bahkan sangat mengerikan. Rahangnya mengeras dan saat itu juga ia menarik Sang Akh agar menjauh dari Taehyung. Ia bahkan berdiri diantara Sang Akh dan Taehyung. “bisa bersikap sewajarnya ?” sinisnya.

Sang Akh yang melihat perubahan ekspresi Baekhyun lantas tertawa. Ia bahkan memukul punggung Baekhyun pelan untuk menyalurkan rasa gelinya dengan sikap Baekhyun yang posesif terhadapnya. Sama halnya dengan Sang Akh, Taehyung juga tertawa melihat Baekhyun.

“Noona, apa ini kekasihmu ?” Taehyung menunjuk Baekhyun masih dengan tawa yang hampir memudar. Sang Akh mengiyakan dengan sebuah anggukan.

“maafkan aku Hyung. Noona hanya sahabatku sewaktu di Tokyo. Dia tempat curhatku, kau tak perlu khawatir. Aku bahkan sudah menganggapnya Noonaku sendiri. Aku hanya merindukannya.” Taehyung tersenyum lebar kearah Baekhyun. Sementara Baekhyun ? entahlah, pria itu merasa malu. Wajahnya bahkan sudah memerah sekarang. untung saja cahaya yang ada sangat minim, jadi Baekhyun tak perlu khawatir kalau – kalau Taehyung dan Sang Akh melihat wajahnya bersemu.

“sejak kapan kau pindah Tae ? kupikir kau masih di Tokyo” Sang Akh kembali berdiri di depan Taehyung. Baekhyun yang sudah malu lebih memilih diam.

“kekasihku sakit Noona. Sudah hampir 1 bulan ia dirawat di Indie Hospital dan kebetulan sekolahku sedang libur sejak 1 minggu lalu. ayah dan ibu juga sudah mengizinkanku.” Sang Akh mengangguk mendengar penjelasan Taehyung.

“bagaimana dengan…” Sang Akh menggantung ucapannya. Ia melihat Baekhyun sekilas sebelum melanjutkan ucapannya. Baekhyun mengangguk seakan setuju dengan apa yang Sang Akh katakan selanjutnya. “..Jong-In ?”

Taehyung menyeringai ketika nama itu disebutkan. Jong In, ya Jong In. Taehyung tau betul dengan orang itu. orang yang selama ini sering menyakiti ibunya dan juga beberapa wanita termasuk Sang Akh. Bajingan ? bukan, Jong In bukan bajingan. Ia hanyalah orang gila yang tertutup oleh paras rupawan. Mungkin bejat adalah perumpamaan untuk Jong In yang lainnya.

“untuk apa Noona mencari pria bejat seperti dia ?” raut wajah Taehyung yang semula ramah sekarang berubah menjadi mengerikan dengan seringaian. Sang Akh mengerti kenapa Taehyung bisa seperti ini karena ia sudah mengenal betul siapa Kim Taehyung, adik tiri Kim Jong In.

“maksudku, apa Jong In sudah keluar dari ‘tempatnya ?’ ” Sang Akh melanjutkan ucapannya. Ia memberikan penekanan pada kata terakhir kalimatnya. Taehyung memutar bola matanya kesal. Jujur saja, ia sangat malas jika harus bercerita tentang kakak tirinya.

“entahlah, aku sudah tak ingin berhubungan dengan orang gila itu” balasnya ketus.

“temanku Tae, temanku diculik Jong In.” lirih Sang Akh dan Taehyung sangat terkejut dibuatnya. Diculik ? sejak kapan ? bukankah Jong In masih di rumah sakit Jiwa ? tak mungkin Jong In kabur dengan penjagaan ketat seperti itu.

“Noona serius ? kupikir orang gila itu masih di tempatnya.” Sang Akh mengangguk lemah. Baekhyun yang sedari tadi hanya diam masih tak ingin mengeluarkan sepatah kata apapun. Karena ya, ia tak tau harus berbicara seperti apa. takutnya nanti, Baekhyun terbawa oleh emosinya sendiri.

“aku melihatnya kemarin di rumah sakit tempat temanku di rawat Tae. Aku takut jika Jong In melakukan sesuatu yang buruk pada temanku.” Sang Akh meremas bajunya dan Baekhyun bantu menenangkan dengan cara mengelus bahu gadis itu pelan.

“sebaiknya Noona dan Hyung masuk. Aku akan menelfon orang tuaku.” Baekhyun dan Sang Akh mengikuti apa yang Taehyung katakan. Mereka bertiga masuk ke dalam rumah itu.

❤❤❤

“Bagaimana Oppa ? kau sudah menemukannya ?” Minrae bertanya pada Chanyeol yang masih saja telaten dengan apa yang ia cari di dalam laptopnya. Begitu pula dengan Minrae, gadis itu bahkan bertanya masih dengan tatapan yang tertuju pada smartphonenya. Ia juga sedang mencari sesuatu.

“aku sudah menemukan beberapa, tapi masih ada 4 rumah sakit lagi yang harus ku geledah. Bagaimana denganmu ?” Chanyeol juga bertanya dengan tatapan yang tidak dialihkan dari laptopnya.

Minrae mengerucutkan bibirnya, ia lantas menggeleng pelan. “tidak ada. Aku tidak menemukan satu pasienpun yang bernama Jong In” gadis itu kemudian melirik Chanyeol yang sepertinya tampak sangat lelah. Lelah ? ah iya, jelas saja Chanyeol lelah, sudah hampir 2 jam pria itu asik dengan laptopnya. Bahkan kacamata yang biasanya setia bertengger di hidungnya ketika bermain laptop lupa ia pakai. Minrae kemudian berjalan pelan menuju Chanyeol.

“Oppa, kacamatamu” Minrae menyodorkan kotak kacamata yang berada dalam tasnya. Chanyeol melirik kearah Minrae, ia lalu menerima kacamata itu. “terima kasih” pungkasnya. Minrae mengangguk dan tanpa diduga, gadis itu memeluk Chanyeol.

“terima kasih sudah mau membantu mencari sahabatku oppa” lirih Minrae dan selanjutnya ia mengecup pipi Chanyeol sekilas. Shock ? speechles ? senang ? entahlah. Chanyeol sendiri merasa aneh dengan perasaannya saat ini. Semuanya terasa sangat manis dan teraduk. Bahkan untuk mengatakan terima kasih saja Chanyeol tak mampu.

❤❤❤

Luhan menyenderkan punggungnya di kepala tempat tidur. Pandangannya lurus menatap dinding polos tak bercorak itu.

mulai sekarang, kau kunamai XiMi

O, kau benar. Terdengar aneh memang, tapi itu membuat hatiku merasa sedikit lega

LUHAANNNN!

Bentakan, tawa dan saran itu kembali terputar di otak Luhan seperti roll film yang sedang dimainkan. Kejadian yang menyenangkan hingga paling menyedihkan kembali Luhan ingat. Ia ingat betapa cantiknya Naomi ketika tersenyum dan tertawa. Luhan juga ingat betul wajah Naomi yang kesal ketika membangunkannya. Dan yang paling pedihnya, Luhan ingat betapa ketakutannya wajah Naomi waktu itu. waktu dimana ia benar – benar kehilangan kendali atas nalurinya.

Luhan menutup mata sebentar. Ia lalu meremas rambutnya dan teriakan yang cukup keras keluar dari mulutnya sedetik kemudian. Luhan bingung sekaligus menyesal. Ia bingung untuk memilih antara Naomi dan Tiffany dan lagi, ia akan menyesal jika harus melepas salah satunya. Egois ? tamak ? bukan. Luhan bukan ingin seperti itu. jika harus memilih satu maka untuk perasaan yang sekarang Luhan sangat takut jika harus berpisah dengan Naomi.

Ini semua benar – benar memusingkan. Bukannya senang, tapi Luhan malah menganggap kedatangan Tiffany sebagai musibah. Kenapa ? kenapa gadis itu harus kembali masuk ke dalam lingkaran hidupnya ? disaat Luhan merasa sedih selama ini kemana saja Tiffany ? jangankan menenangkan Luhan, mengangkat telfon atau memberi kabar saja dia tak pernah.

Berbeda dengan Naomi. gadis itu bahkan rela sebagai bahan pelampiasan agar Luhan bisa tenang. Bahkan Naomi terlihat bagaikan malaikat oleh setan seperti Luhan. Tidak hanya disaat senang, disaat – saat paling buruk dalam hidup Luhan. Naomi ada dan selalu mensupport Luhan. –IYM 10 C

Luhan tersenyum kecut. Ia kemudian mengambil ponselnya yang berada di sampingnya. Dengan cekatan, Luhan menekan – nekan layar segi empat itu dan tak berapa lama kemudian tampaklah foto seorang gadis dengan atribut ospek yang terpasang di badannya. Untuk sekian kalinya, Luhan terpesona dengan sosok itu. sosok yang beberapa hari ini sering menjarah pikiran dan juga hatinya. sosok yang hadir untuk memperbaiki hubungannya dengan kedua sahabat idiotnya. Sosok yang hadir sebagai pengganti Tiffany.

‘Shin Naomi’ lirih Luhan dan ia menyentuh wajah Naomi yang tampak bingung di layar ponsel itu.

“aku ingat awal pertemuan kita. Saat itu kau terlambat datang ke kampus dan dengan berani, kau menghambatku lalu mengajakku pergi bersama” Luhan menengadah. Menatap langit – langit kamarnya seolah sedang melihat layar bioskop. Ia ingat semuanya.

Luhan ingat bagaimana wajah panik Naomi ketika terlambat untuk pertama kalinya. Luhan juga ingat saat ia membentak Naomi ketika pembukaan penerimaan mahasiswa baru. Wajah kesal itu. Luhan merindukannya.Oh iya, jangan lupakan makanan yang ia kirimkan pada Naomi.

ughh, jika dipikir – pikir sepertinya yang lebih dulu jatuh ke dalam pesona Naomi adalah Luhan. Bukan sebaliknya.

“sudahlah, yang perlu kau tau. Ku lakukan ini semua hanya untuk memperbaiki hidupku dan orang yang berhasil membantuku adalah kau”

Pengakuan Luhan saat itu benar – benar tulus. Ia memang mencintai Naomi dan entahlah, perasaan pada Tiffany seperti sudah menguap entah kemana. Tapi, Luhan ingat dengan penolakan Naomi yang terkesan halus. Sangat halus malahan. Naomi mengatakan kalau kalimat Luhan bukanlah lelucon yang bagus dan pernyataan Naomi benar – benar membuat Luhan terpukul.

“Naomi tak sengaja menampar seorang gadis bernama Sulli dan karena itu ia mendapatkan skorsing. Naomi tak menerima dan akhirnya satu – satunya jalan keluar adalah ia harus melaksanakan dua syarat dari perjanjian itu”

Mata Luhan terbelalak kaget ketika perkataan Minrae di rumah sakit kembali mengisi otaknya. Dua persyaratan ? ah benar, apa mungkin Naomi menolaknya karena persyaratan itu ? astaga, jika benar. Berarti tak tertutup kemungkinan jika Naomi juga mencintainya, bukan ? Luhan kemudian tersenyum dan ia kembali asik dengan ponselnya. Namun, ia bukan melihat foto lagi. Luhan menekan nomor panggilan cepat 4 dan selanjutnya ponsel itu ia letakkan di telinganya.

❤❤❤

‘Arghhh, kepalaku’ lirih Naomi ketika ia baru saja terbangun dari tidurnya yang sama sekali tak ada nyamannya. Naomi melihat ke sekeliling. Tempat ini masih sama dengan tempat sebelumnya. Tempat, dimana ia dipukul dan ditampar entah berapa kali. Bahkan Naomi sendiri tak tau dengan kekacauan dan memar yang telah meraja lela di seluruh bagian tubuhnya. Tentu saja bagian yang paling parah adalah wajahnya.

Dengan tenaga seadanya, Naomi memilih untuk membawa badan terikatnya ke dinding. ia juga berusaha menggapai boneka beruang yang berada tak jauh dari badannya. ‘hai Lu. Bagaimana kabarmu ? kuharap kau baik – baik saja disana.’ Setiap hari Naomi selalu mengatakan hal yang sama pada boneka beruang itu. keinginannya untuk memeluk boneka itu sangat besar. Tapi, bagaimana bisa ia memeluk boneka itu ketika tangan dan kakinya terikat ?

Naomi menghela napasnya kasar. Ia kemudian menatap pintu kayu yang berada tepat di hadapannya. Sesaat kemudian, pintu terbuka. Rasa takut dan kalud kembali menghampiri Naomi. ia takut, sangat takut jika yang datang adalah Jong In. jika dihitung sejak hari pertama, kira – kira sudah 2 hari Naomi disekap di ruangan ini dan jangan lupakan penyiksaan tak berprasaan yang selalu Naomi terima setiap kali Jong In berkunjung.

“kau siapa ?” Naomi heran dengan siluet wanita paruh baya yang muncul dari balik pintu itu. wanita itu tak menjawab. Ia langsung saja berjalan mendekat kearah Naomi.

“ini” wanita itu memberikan sebuah ponsel pada Naomi.

“maafkan aku. tapi, mana mungkin aku memegang ponsel dengan keadaan seperti ini ?” Naomi memperlihatkan ikatannya. Wanita paruh baya itu lantas membuka semua ikatan Naomi. ada kelegaan di hati Naomi ketika semua ikatan itu lepas. Astaga, Naomi bahkan tak menyangka jika sakitnya diikat selama berhari – hari sungguh berjasa.

“cepatlah kau telfon seseorang sebelum Jong In datang. Maaf, tapi hanya ini yang bisa kulakukan.” Naomi cepat – cepat menuliskan nomor telfon yang ia ingat. Setelah penggilan itu tersambung, Naomi kemudian menunggu beberapa saat dengan cemas.

maaf nomor yang anda tuju—-’ Naomi mendesah ketika panggilan pertamanya tak di angkat. Karena ia tak bisa mengingat nomor ponsel yang lain, Naomi kemudian kembali menelfon nomor yang sama dan setelah menunggu, rupanya panggilan itu kembali berakhir dengan suara operator.

Tak sampai disitu perjuangan Naomi. dengan perasaan cemas yang semakin membesar, Naomi kembali menghubungi nomor itu. ia berharap seseorang yang ada di seberang mengangkatnya, sehingga Naomi bisa meminta pertolongan.

“Yeoboseyo ?” mata Naomi membulat seketika. Ia kenal betul dengan suara ini. Tanpa basa – basi lagi, Naomi lalu menjawab panggilan itu.

“Minrae ? kau disana ? Min–” belum sempat Naomi menyelesaikan ucapannya, namun seseorang mengambil ponsel itu. Naomi lantas mendongak dan mendapati Jong In sudah berdiri di hadapannya. Dengan tatapan murka, Jong In menatap Naomi.

“Bibi, kau sudah pintar rupanya” Jong In mengucapkannya dengan suara lemah namun mampu membuat wanita paruh baya yang memberikan Naomi ponsel tadi takut. Wanita itu bahkan sudah menggigil.

“keluar dan kembalilah ke Tokyo. CEPAT!!!” Bentak Jong In dan wanita itu mengangguk lemah. Ia kemudian langsung pergi meninggalkan Naomi.

“kenapa kau sejahat ini ?” Jong In menyeringai ketika mendapati Naomi kembali membangkang padanya. Ia kemudian menjongkok dan mengelus pipi Naomi pelan. Namun Naomi dengan cepat menepisnya. “JANGAN SENTUH AKU BAJINGAN!”

Dan ‘PLAK’ Naomi kembali mendapat tamparan dari Jong In. rasa sakit yang menjalar tak Naomi gubris. Ia muak dengan kelakuan Jong In. memangnya apa yang Naomi perbuat hingga Jong In seperti ini ? kenapa Jong In tak membunuhnya saja ?

“apa kau berniat untuk kabur ? manis ?” Jong In kembali mengelus pipi Naomi dan kemudian ia malah menamparnya dengan kuat. Bahkan ada darah yang keluar di sudut bibir Naomi.

“KENAPA KAU MELAKUKAN INI SEMUA ?” Bentak Naomi.

“Kurasa sudah saatnya untuk mengeksekusi” Jong In mendekat dan menangkap pergelangan tangan Naomi. ia kemudian menarik gadis lemah itu keluar dari ruangan. Naomi yang tak tau apa yang akan Jong In lakukan padanya lantas hanya bisa memberontak. Walaupun ia tau itu tak berarti tapi Naomi terus saja berontak.

‘Lu’ lirihnya pelan sebelum Jong In mendorongnya agar masuk ke dalam mobil.

❤❤❤

Minrae baru saja selesai menyelimuti Chanyeol, yang tertidur setelah dua hari belakangan ini asik mencari Naomi. Chanyeol bahkan terlalu memaksakan dirinya untuk berusaha semaksimal mungkin agar Naomi bisa di temukan. Namun, apa yang Chanyeol lakukan terlalu berlebihan sehingga seperti inilah jadinya. Ia kelelahan.

Sebelum meninggalkan Chanyeol, Minrae mengusap puncak kepala pria itu pelan. Ia kemudian berjalan perlahan keluar dan tak lupa, Minrae juga membawa tasnya. Setelah keluar dari kamar Chanyeol, Minrae kemudian merasa ponselnya bergetar. Dengan cepat, Minrae mengambil ponsel yang berada di dalam tasnya.

Alis Minrae bertaut ketika mendapati nomor asing terpampang di layar ponselnya. Ia hendak menjawab panggilan itu, namun panggilannya telah lebih dulu terputus. Tanpa prasangka apapun, Minrae kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. Namun, lagi – lagi benda segi empat itu bergetar dan Minrae mengangkatnya dengan cepat.

“Yeoboseyo ?”

“Minrae ? kau disana ? Min–” mata Minrae terbelalak kaget.

“Naomi ? bagaimana keadaanmu ? dimana kau sekarang ? Naomi, Naomi!! Jawab Aku!! Naomi!!” Minrae berbicara dengan keras pada ponselnya. Namun nihil. Panggilan telah lebih dulu terputus. Gadis itu tak habis pikir, ia kemudian kembali menghubungi nomor yang baru saja menelponnya.

maaf, nomor yang an—

“SHIT!” Baru kali ini Minrae berkata kotor. Tapi kemudian, ia buru – buru menelpon Baekhyun. Sekedar memberitahukan bahwa Naomi baru saja menelponnya.seraya menunggu Baekhyun mengangkat telponnya, Minrae terlihat sangat gelisah. Sedari tadi ia selalu saja bergerak kesana – kemari. Minrae juga bisa dikatakan cemas. Ia cemas karna Naomi sepertinya benar – benar akan mendapat masalah besar kali ini.

“Yeobose—”

“Sunbae, Naomi baru saja menghubungiku”

❤❤❤

Luhan sekarang berada di dalam restaurant mewah dan elegant. Makanan yang di sediakan juga sangat berkelas. Matanya yang tajam kini tengah menatap sosok Tiffany yang baru saja datang. Gadis itu kemudian memilih tempat duduk yang berhadapan langsung dengan Luhan.

“ada apa Lu ? kenapa kau menyuruhku datang ?” Luhan menghirup sedikit udara sebelum mengutarakan maksud pertemuannya dengan Tiffany kali ini.

“maafkan aku Fany. Tapi aku–” Luhan menggantung ucapannya.

Beberapa saat keduanya diam. Mereka saling lempar tatapan dan akhirnya dengan keberanian yang dirasa cukup, Luhan kembali melanjutkan ucapannya. “aku ingin pernikahan kita dibatalkan.” Tiffany tampak tak terkejut. Ia malah menatap Luhan seakan meminta alasan, kenapa Luhan membatalkan rencana pernikahan mereka.

“maafkan aku Fany. Tapi, kurasa hubungan kita memang harus berakhir disini. Aku, telah mencintai gadis lain.” Luhan menunduk. Ia takut jika harus melihat wajah sedih Fany. Bukannya Luhan masih mencintai Tiffany, hanya saja setiap wajah wanita yang sedang sedih kembali mengingatkan Luhan pada wajah Naomi.

“pergilah Lu” Luhan menegakkan kepalanya. Alisnya bertaut. Ia tampak bingung dengan apa yang Tiffany ucapkan.

“Naomi membutuhkanmu Lu. Cari dan temukan dia. Pastikan gadis itu baik – baik saja” Tiffany menggenggam tangan Luhan. Ia kemudian menepuknyanya pelan seraya mengulas sebuah senyum manis.

“apa maksudmu Fany ? aku tak mengerti semua ini” Luhan terlihat sangat konyol sekarang. ia menelaah mata Tiffany, berharap ada kebohongan ataupun sejenisnya disana. Tapi, ternyata mata itu malah ikut tersenyum, polos dan jujur.

“kau lihat cincin ini ?” Tiffany memperlihatkan cincin yang tersematkan di jari manis tangan kanannya. Luhan kemudian menarik tangan Tiffany agar bisa melihat cincin itu dengan jelas.

“aku berbohong Lu.” Luhan menegakkan kepalanya. Alisnya kembali bertaut. Hei, apa lagi sekarang ? kenapa banyak sekali yang tidak Luhan ketahui dari Tiffany ? tatapannya yang lurus seakan menginginkan penjelasan lebih.

“sebenarnya aku menikah disana Lu, bukan karena urusan pekerjaan. Aku sudah memberi tahu ibumu dan aku sangat berterima kasih pada Naomi yang mau menggantikanku di hatimu. Aku kembali hanya ingin membantu memperjelas perasaanmu. Aku tak ingin kau ragu dan pernikahan yang ku umbar beberapa hari lalu hanyalah sebuah kebohongan” mata Luhan memerah. Ia merasa seperti sedang dipermainkan, namun perkataan Tiffany selanjutnya berhasil mereda emosinya.

“aku tau, aku salah karena sudah mempermainkan perasaanmu. Maafkan aku dan sekarang, aku ingin kau pergi dari sini secepat mungkin. Cari Naomi dengan cara apapun. Dia milikmu, Lu” Tiffany tersenyum kembali.

“aku tak mengerti denganmu Fany. Tapi terima kasih untuk semuanya” Luhan mengacak rambut Tiffany sejenak sebelum ia berlari keluar restaurant. Tiffany yang masih duduk hanya menumpu kepalanya dengan kedua tangannya dan beberapa saat kemudian ponselnya berbunyi.

“semuanya selesai” ucapnya dan kemudian ia menutup sambungan itu.

❤❤❤

“SUNBAE!” Pekik Minrae ketika Baekhyun baru saja tiba di depan rumah Chanyeol. Dengan cepat, inrae masuk ke dalam mobil Baekhyun. Ternyata, di dalam mobil juga ada Sang Akh dan Taehyung.

“apa kau yakin kalau itu suara Naomi ?” Baekhyun memajukan mobilnya kemudian. Ia bertanya dan Minrae mengangguk seraya menyodorkan ponselnya pada Sang Akh. “itu nomornya” Ujar Minrae.

Sang Akh meneliti nomor itu pelan – pelan. Setelah beberapa saat menelaah, ia sama sekali tak tau nomor siapa itu. Taehyung yang berada di sebelah Minraepun meminta ponsel Minrae. ia juga menelaah nomor itu. semua harapan kinitertumpu pada Taehyung. Sang Akh dan Baekhyun berharap Taehyung mengetahuinya, namun Minrae hanya heran melihat kehadiran Taehyung. Hei~ pantas saja ia seperti itu. ia juga belum mendapat cerita apa – apa dari Baekhyun dan Sang Akh.

“kurasa aku tau ini nomor siapa” ungkap Taehyung dan Baekhyun memberhentikan laju mobilnya mendadak. Membuat Sang Akh hampir saja menghantukkan kepalanya dengan dashbor mobil. Sang Akh tak marah, ia hanya terlalu fokus dengan apa yang akan dikatakan Taehyung selanjutnya.

“ini nomor salah satu pengasuhku dan Jong In di Tokyo. Astaga, kenapa bibi bisa ada disini ?” Dahi Taehyung berkerut. Ia benar – benar tak mengerti jalan pikiran kakak tiri gilanya.

“Bagaimana Tae ? apa kita bisa melacak keberadaan nomor itu ?” Sang Akh menatap Taehyung yang tampak sedang berpikir dan kemudian Taehyung menggeleng sebagai pertanda bahwasanya tidak mungkin mereka bisa melacak nomor itu. Jong In bukanlah orang bodoh yang gegabah.

“aku tak yakin Noona. Jong In pasti sudah menghancurkan ponsel yang dipakai teman Noona untuk menghubungi gadis ini” Taehyung menunjuk Minrae yang ada di sampingnya.

“kalau tak keberatan, kau boleh memanggilku Minrae” ujar Minrae dengan sedikit penekanan. Sungguh, ia benci jika di panggil ‘gadis ini’.

“jadi bagaimana sekarang Taehyung ?” sahut Baekhyun masih dengan keadaan mobil yang berhenti mendadak. Ia masih belum berniat untuk menghidupkan mesin mobilnya dan kembali melajukannya. Baekhyun tak tau jika harus pergi kemana.

“tunggu sebentar Hyung. Aku akan menghubungi Ayah. Kurasa Ayah tau dimana tempat kesukaan Jong In” Taehyung lantas mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Ia kemudian menekan tombol dial 2, untuk panggilan cepat pada ayahnya. Tak sampai 10 detik menunggu agar panggilan Taehyung disaut.

“Ayah ? apa ayah tau tempat kesukaan Jong In Hyung di Seoul ?” Taehyung langsung saja menyampaikan maksud dari panggilannya.

“…………….” Wajah Taehyung berubah pucat seketika setelah mendapat jawaban dari Ayahnya. Lantas Taehyung langsung mematikan sambungan secara sepihak.

“Bagaimana ?” Tanya Minrae sedikit resah. Ya, Minrae sangat resah sekarang. karena tadi, sewaktu Naomi menelpon, suara gadis itu terdengar sangat parau. Sepertinya ia baru saja menangis.

“ini tak bagus Noona” pungkas Taehyung seraya menggeleng lemah.

❤❤❤

Luhan memacu mobilnya secepat mungkin yang ia bisa. Matanya yang tajam tak pernah berhenti menelusur kearah luar. Ia memang tak tau ingin kemana, tapi matanya selalu was – was dengan keadaan setiap daerah yang dilaluinya.

‘Kau dimana ?’ Lirih Luhan dan sialnya ia harus berhenti, menunggu lampu jalanan berubah hijau kembali. Seraya menunggu, Luhan menyempatkan diri untuk menelpon Chanyeol. Setelah beberapa kali mencoba, Luhan hanya mendapati suara operator yang menjawab. Ia lantas berinisiatif menelpon Baekhyun, namun hasilnya sama saja.

Luhan yang frustasi melempar ponsel kearah jok sampingnya dan bertepatan dengan itu, lampu telah berubah menjadi hijau. Luhan kembali memacu mobilnya, namun ia harus kembali berhenti karena ada kerumunan orang di depannya. karena mobilnya tak bisa bergerak, Luhan memutuskan untuk keluar dan melihat apa yang membuat macet panjang seperti ini.

“permisi, permisi” Luhan menerobos masuk ke dalam kerumunan. Ia menyelipkan badan kurusnya setiap kali melangkah. Hingga akhirnya mata rusa itu melihat dua buah mobil hancur. Satu mobil hancur di bagian kanan dan yang satunya lagi di depan. Alis Luhan bertaut tatkala melihat sebuah boneka beruang yang sudah berlumuran darah terletak begitu saja di sela pintu salah satu mobil. Belum puas dengan hasil yang di dapat, mata Luhan kembali menelusur untuk mencari siapa saja korban kecelakaan itu. namun nihil, ia tak mendapati satu orangpun.

“kasihan sekali gadis ini. Kurasa ia kehilangan banyak darah” indera pendengar Luhan menangkap pembicaraan dua orang gadis yang berada di sebelahnya. Ia kemudian mendekat dan menanyakan apa dua gadis itu mengetahui korban kecelakaan itu.

“ini. Ini adalah salah satu korbannya.” Salah satu gadis memperlihatkan sebuah foto di ponselnya yang mana ada seseorang telah bermandikan darah segar. Luhan mematut foto itu lama hingga akhirnya ia bisa melihat seseorang di dalam foto itu mengenakan baju berwarna biru terang, mirip seperti baju untuk pasien rumah sakit. Jantung Luhan berdetak, ia berharap seseorang di dalam foto itu bukanlah gadis yang sedang ia cari.

Semakin menyangkal kalau gadis di foto itu bukanlah Naomi, Luhan malah mendapati separuh wajah korban kecelakaan yang belum ternodai oleh darah sangat mirip dengan Naomi. rasa takut lantas menghampiri Luhan. Ia kemudian mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya dan ketika seorang polisi melintas di depannya, Luhan mencegat.

“permisi, apa korbannya sudah di evakuasi ?” Tanya Luhan.

“ya, bawahanku baru saja membawa para korban ke rumah sakit terdekat”

Setelah mendengar penjelasan salah satu opsir polisi yang bertugas, Luhan lantas berlari kembali menuju mobilnya. Hatinya takut, otaknya tak mampu berpikir jernih lagi, semuanya kusut bahkan sulit untuk diluruskan. Luhan masuk dan menghempaskan pintu mobil kuat. Ia menghidupkan mesin mobilnya dan ‘DRRT DRRT’ ponselnya berbunyi kemudian. Tanpa melihat siapa yang memanggil, Luhan langsung saja meletakkan ponsel itu ke telinganya.

“Kau dimana Lu ? apa kau bisa ke rumah sakit Hanyang ? Naomi membutuhkanmu, dia kritis” Luhan terbelalak. Apa yang ia takutkan terjadi begitu saja. tak ada sepatah katapun yang Luhan keluarkan. Pikirannya terlampau kusut dan kelam. Panggilan Baekhyun masih tersambung namun Luhan telah lebih dulu melempar ponsel itu ke sembarang arah. Dengan perasaan kacau balau, Luhan memajukan mobilnya. Menerobos apapun yang berusaha menghalangi laju mobilnya. Ia tak memperdulikan keselamatannya. Yang Luhan butuhkan hanyalah sebuah kalimat yang mengatakan kalau Naomi baik – baik saja.

Setibanya di rumah sakit Hanyang, Luhan memarkirkan mobil di sembarang tempat. Suara ibu – ibu yang memakinya karena kesalahan kecil itu tak dihiraukan. Ia terus saja berjalan cepat, masuk ke dalam rumah sakit.

“Bagaimana keadaan Naomi ?” Luhan yang melihat sosok Baekhyun semakin mempercepat langkahnya. ia kemudian berhenti di sebelah Minrae yang sedang terduduk di depan pintu ruang UGD. Wajahnya basah karena air mata. Bibirnya bergetar dengan skala kecil, menandakan kalau ia sedang ketakutan.

“da—darah. Banyak sekali darah” Minrae yang menggigil ketakutan lantas meremas kedua tangannya yang entah sejak kapan sudah berlumuran darah. Sang Akh yang semula berdiri di samping Baekhyun langsung bergerak mendekat kearah Minrae. gadis itu memeluk Minrae seraya menepuk punggungnya pelan.

“Naomi gadis kuat, aku yakin itu” tenang Sang Akh namun Minrae tampaknya masih belum bisa tenang.

“apa yang sebenarnya terjadi Baek ?” pertanyaan awal Luhan yang tak dijawab kembali ia tanyakan. Baru saja Baekhyun hendak menjawab pertanyaan Luhan namun pintu ruang UGD telah lebih dulu terbuka. Semua perhatian kemudian tertuju pada pria paruh baya berjas putih yang baru saja keluar dari ruangan itu.

“aku menyesal mengatakan ini. Tapi maaf, teman kalian tak bisa kuselamatkan” keadaan hening menyelimuti seketika. Sang Akh yang awalnya tak menangis kemudian juga ikut menangis dengan apa yang dikatakan dokter barusan. Minrae bahkan semakin memperkuat tangisnya. Mereka berdua menangis seraya memeluk satu sama lain.

Baekhyun tak dapat berkata. Ia menunduk dan tubuhnya merosot ke lantai. Ia menutup wajahnya. Bagaimana dengan Luhan ? pria ini jauh merasa lebih terpuruk. Ia bahkan bersikukuh mengatakan pada Dokter bercanda dengan apa yang baru saja dikatakannya, namun nihil. Tak ada senyum atau tawa diwajah keriput itu.

Mata Luhan telah memerah, ia menjambak rambutnya kuat – kuat. Ia tak percaya, sangat tak percaya. Semuanya bahkan terlalu cepat berlangsung. Luhan belum bisa menerima kenyataan jika Naomi lebih dulu pergi sebelum sempat merasakan kebahagiaan dari Luhan. Air mata yang telah berkumpul di sudut mata Luhanpun akhirnya terjatuh. Dengan cepat, Luhan berlari masuk ke dalam ruang operasi Naomi. ia berharap gadis itu masih bernafas.

“Naomi ? kau baik – baik saja ? Naomi ? Jawab aku, kumohon” Luhan menggenggam tangan Naomi yang dingin dan pucat. Ia bahkan menciuminya disertai dengan tetesan air mata. Kemudian Luhan mengelus puncak kepala Naomi yang masih memiliki bercak darah disana sini.

“Naomi” lirih Luhan namun tetap saja, Naomi tak menjawab.

“apa aku sudah terlambat ?” Luhan kembali menciumi punggung tangan Naomi.

“Aku mencintaimu”

-Fin (?)-

Wawww~ akhirnya ini ff kelar juga😀

Makasih banget banget banget untuk semuanya yang udah mau baca ini ff😀

Jeongmal gomawo yeorobuuunnn~

Gimana Finnya ? nggak enak banget ya ?

Haduduh, maafin dina yang udah PHP-in kalian *pundung di toilet

Kkk~ yang penting ini ff udah selesai dan dina pen nagih komentar atas keabsurban ini fanfict😀

Mungkin gak ada yang special di ff ini, but thank you very much buat yang udah baca, Like dan komentar..

Saya mencintai kalian semua😀

-PRANK :p jangan buru – buru komentar yeee.. karna, ff ini blon slesai-

“Anak muda ? kau baik – baik saja ?” Luhan buru – buru tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara opsir polisi yang baru saja ia Tanya. Pria itu lantas mengangguk dan opsir polisi berlalu pergi begitu saja.

‘aku menyesal mengatakan ini. Tapi maaf, teman kalian tak bisa kuselamatkan’ Perkataan Dokter yang sempat berada dalam lamunan Luhan datang menginterupsi otak pria itu. dengan perasaan takut dan khawatir, Luhan berlari menuju mobilnya. Ia kemudian masuk ke dalam mobil dan sebelum memajukan mobilnya, Luhan menyempatkan diri untuk melihat ponselnya.

‘5 panggilan tak terjawab’

Mata Luhan terbelalak ketika melihat ada 5 panggilan tak terjawab tertera di layar ponselnya. Ia kemudian membuka peringatan tersebut dan tampaklah bahwa orang yang menelpon Luhan adalah Baekhyun. Seketika itu juga Luhan takut jika apa yang ia lamunkan beberapa saat lalu menjadi kenyataan. Luhan tidak menghubungi Baekhyun terlebih dahulu, ia malah menghidupkan mesin mobilnya dan langsung menginjak pedal gas.

Selama diperjalanan menuju rumah sakit terdekat, sekelebat bayangan tentang Naomi yang meninggalpun kembali menghampiri otak Luhan. Dengan susah payah, Luhan menepis semua pemikiran buruk itu. yang ia inginkan hanyalah mendapati Naomi dengan keadaan yang baik – baik saja. tak ada luka ataupun cidera. Mustahil memang, tapi setidaknya pemikiran itu dapat membantu menenangkan pemikirannya sejenak.

Setibanya Luhan di depan rumah sakit terdekat, ia memarkirkan mobilnya di sembarang tempat. Sama persis dengan apa yang ada di dalam lamunannya dan tak lupa, ia juga dimarahi oleh ibu – ibu. Beberapa kesamaan itu membuat hati Luhan semakin sakit dan takut. Namun Luhan tak mau fokus dengan itu semua yang ada dipikirannya hanyalah Naomi, Naomi dan Naomi.

‘DRRT DRRT’ ponsel Luhan berbunyi. Dengan cepat, pria itu mengangkatnya.

“Yeoboseyo”

“Yeoboseyo Lu, kau dimana ?”

“aku di rumah sakit Hanyang. Ada urusan apa kau menelfonku, Baek ?”

“tunggu di meja resepsionist. Aku akan kesana” sambungan telfon terputus saat itu juga. Luhan menggerutu dan ketika ia hendak menelfon Baekhyun lagi, ponsel pria itu sudah tak aktif. Luhan hanya bisa menahan erangannya dalam hati karena ia tak mungkin melepaskannya sekarang. terlalu bahaya dan akan mengusik ketenangan para pasien.

Tak sampai 5 menit menunggu, akhirnya Baekhyun datang dengan nafas yang tersengal. “darimana kau tau Naomi disini Baek ?” Luhan langsung saja bertanya pada Baekhyun yang masih mengatur nafasnya yang tak karuan.

“ceritanya sangat panjang Lu. Sebaiknya kau ikut aku, Naomi membutuhkanmu” tanpa diperintah, Baekhyun langsung saja menarik ujung baju Luhan dan kemudian ia kembali berlari dengan rute yang sama seperti sebelumnya, namun arahnya berbeda.

Setibanya di depan sebuah ruang rawat, Baekhyun langsung mendorong Luhan untuk memasuki ruangan itu. Luhan tak memberontak atau sejenisnya, ia ingin tau apa yang akan Baekhyun lakukan padanya dan sekarang ia tau dengan sikap Baekhyun tadi. Semuanya. mulai dari menelfon, menarik bahkan mendorong badannya untuk memasuki ruangan didominasi warna biru laut itu. Baekhyun hanya ingin menunjukkan, kalau gadis yang Luhan cari berada di ruangan itu.

Dia disana. Wajah itu masih saja terlihat lucu di mata Luhan walaupun ada beberapa goresan dan lebam di beberapa sisinya. Rambut yang acak – acakan tak membuat pesona gadis itu luntur di mata Luhan. ‘Naomi ?’ lirihnya dengan nada pelan dan Naomi yang sedang sibuk berbicara bersama Minrae, Sang Akh dan satu pria lagi tak dapat mendengarnya.

Luhan hendak mendekati Naomi, namun langkahnya terpaksan ia hentikan. Ingatan Luhan tentang wajah ketakutan Naomi ketika melihatnya kembali terputar dengan jelas di memori otaknya. Luhan kembali mundur dan Baekhyun menautkan alis karna tingkah ragu – ragu Luhan tersebut. “ada apa Lu ? kau tidak merindukannya ?” Luhan menoleh mendengar ucapan Baekhyun.

“bagaimana jika Naomi masih takut padaku Baek ? aku tak ingin menyakitinya lebih” ucap Luhan namun suaranya seperti sengaja ditahan. Baekhyun menghela napas sebentar sebelum menyampaikan balasannya.

“NAOMI!” Bukannya membalas ucapan Luhan, Baekhyun malah memanggil Naomi. membuat gadis itu dan tiga orang lainnya menoleh. Buru – buru Luhan berbalik agar Naomi tak dapat melihat wajahnya. Luhan masih tak kuat jika Naomi meneriakinya dengan panggilan Monster.

“Lu ? kau datang ?” bukannya meneriaki dengan kata Monster, Naomi malah memanggil Luhan dengan namanya. Ia bahkan berkata dengan lembut dan tenang. Itu menandakan jika Naomi tak takut lagi dengan Luhan. Well, ingatan Naomi tentang Luhan sudah kembali ketika ia disekap oleh Jong In. kalian ingat boneka beruang yang senantiasa menemani Naomi ? dialah XiMi.

Luhan berbalik dan mendapati Naomi tengah menatapnya dengan senyum manis itu. rasa tak percaya mengunjungi hati Luhan. “kau tak takut padaku ?” Tanya Luhan dan Naomi menjawab dengan sebuah gelengan singkat.

“boleh aku memelukmu ?” pertanyaan lainnya Luhan lontarkan dan kali ini Naomi menjawab dengan sebuah anggukan. Luhan tersenyum lantas berjalan mendekat kearah Naomi. ia kemudian mendekap dan membawa Naomi kedalam pelukan hangatnya.

“maaf jika aku telat mencarimu” Naomi menggeleng kecil menanggapi permintaan maaf Luhan.

“kau tak perlu minta maaf Lu. seharusnya aku sadar diri karena telah salah mencintai seseorang dan aku yakin, kau sangat sibuk dengan acara pernikahanmu” Naomi melepaskan pelukannya. Ia kemudian menatap sendu kearah bola mata Luhan. Terlalu berat baginya untuk menerima kenyataan jika Luhan adalah orang yang ia cintai ditambah lagi, beberapa saat yang lalu Baekhyun mengatakan kalau Luhan akan menikah dengan Tiffany. Benar, pupus sudah harapan Naomi untuk sekedar mendapat balasan cinta dari Luhan.

Luhan tersenyum. Ia senang, walaupun bukan secara langsung namun Naomi baru saja mengatakan kalau ia sayang pada Luhan. Pria itu kemudian menggenggam tangan Naomi dan mengecupnya sekilas. “aku membatalkannya” alis Naomi bertaut sama halnya dengan Baekhyun.

“kau membatalkan pernikahanmu Lu ?” Naomi menatap Luhan antusias.

“tidak” Luhan menggeleng.

“lalu ?” setiap orang di dalam ruangan itu semakin penasaran karena sikap Luhan yang penuh teka – teki.

“kau akan mengetahuinya jika sembuh nanti” Luhan mencubit hidung Naomi pelan. Membuat warnanya yang semula pucat berubah merah. Sang Akh dan Baekhyun yang melihat itu hanya bisa tersenyum. Sementara Minrae ? ah benar, gadis itu sekarang sedang sibuk menghubunginya kekasihnya –Chanyeol. Ia ingin memberitahukan pada Chanyeol jika Naomi sudah ditemukan. Jadi, ia tak perlu lagi berselancar di dunia internet hanya untuk mencari Jong In.

“Noona, Hyung. Jong In sedang dirawat intensif sekarang dan kurasa ia akan kembali ke Tokyo untuk penyembuhannya. Terima kasih atas bantuannya” Taehyung membungkuk sedikit dan ketika ia menegakkan badannya kembali, Sang Akh lebih dulu memeluknya.

“kudo’akan agar Jong In cepat sembuh dan jaga kekasihmu baik – baik. Oke ?” Taehyung mengangguk dalam peluknya dan setelah itu ucapan perpisahan ia lontarkan.

❤❤❤

8 Hari kemudian…

Keadaan Naomi dari hari ke hari semakin membaik. Luka goresan dan lebam yang ada di wajahnya sudah agak pudar. Sejak hari pertama dirawat, Luhan selalu saja menjaga Naomi, ia bahkan hanya akan meninggalkan Naomi jika Minrae dan Sang Akh ada disana.

Hari ini, adalah hari terakhir Naomi di rumah sakit. Setelah cairan infusnya habis, maka Naomi sudah diperbolehkan untuk pulang.

“bagaimana kuliahmu Lu ? kau sering sekali bolos akhir – akhir ini” Luhan yang sedang mengupas apelpun berhenti. Ia kemudian menatap Naomi lembut disertai dengan senyum manisnya yang belakangan ini sering sekali ia tampakkan.

“aku bisa mengejar ketinggalanku. Kau tak usah khawatir” Luhan memasukkan potongan yang baru dikupasnya ke dalam mulut Naomi. gadis itu kemudian mengunyahnya pelan.

“tapi, kurasa hubungan kita ini tak baik Lu” ucap Naomi masih dengan apel yang ia kunyah. Luhan menatap heran kearah Naomi. “tak baik dari sisi mana ?” tanyanya.

Naomi membetulkan posisi duduknya sebelum melanjutkan ucapannya. “dengar Lu. Aku adalah pembantumu dan kau adalah tuanku. Kodrat kita sudah terlihat sangat jauh dari kenyataan itu, tapi kenapa kau sangat perhatian padaku seakan kau–” Naomi menggigit bibir bawahnya. “seakan kau cinta padaku ?”

Luhan terkekeh kecil mendengar ucapan polos Naomi. ia kemudian mengacak rambut gadis itu pelan. “kau masih belum mengerti perasaanku ?” Naomi menggeleng. ya, sebenarnya ia sudah bisa menebak jika Luhan juga mencintainya. Tapi, Naomi terlalu takut untuk mengiyakan tebakannya itu.

Luhan meletakkan potongan apel keatas meja. “begini, kau rasakan dan beri aku penjelasan. Oke ?” Naomi memiringkan kepalanya. Bibir mungilnya sengaja dikerucutkan untuk membentuk ekspresi penasaran.

‘CHU’

Tanpa aba – aba Luhan mencium Naomi. gadis itu bahkan tak memiliki persiapan apapun. Ia hendak melepas tautan itu, tapi sangat egois bagi Naomi jika harus menyangkal jika ciuman Luhan begitu memabukkan. Hingga ia melingkarkan tangannya ke leher Luhan dan menikmati setiap perlakuan Luhan terhadapnya. Keduanya saling membelokkan kepala ke kiri dan ke kanan agar mendapatkan posisi yang pas. Naomi sendiri bingung, sejak kapan ia mahir dalam perihal ciuman.

“aku kehabisan napas Lu” ucap Naomi di sela ciuman mereka dan akhirnya Luhan melepaskannya. Walaupun ada rasa kecewa, setidaknya Luhan harus menahan diri hingga akhirnya ia mendapatkan Naomi sepenuhnya.

“apa yang kau rasakan ?” Tanya Luhan dan Naomi berpikir sejenak.

“pipiku memanas” Naomi memegang pipinya yang memang panas, entah karena apa. padahal pendingin di ruang rawatnya sedang bekerja. Luhan tersenyum, ia kemudian mengambil telapak tangan Naomi dan meletakkannya diatas permukaan pipinya.

“pipimu juga memanas Lu” jawab Naomi polos.

“lalu ?” Naomi menarik tangannya kembali dan meletakkannya diatas dadanya. Ada debaran yang tak karuan disana.

Belum sempat Naomi menjawab pertanyaan Luhan, namun pria itu telah lebih dulu menarik Naomi untuk masuk ke dalam pelukannya. “kau mendengarnya ?” Naomi semakin mempertajam pendengarannya dan saat itulah ia mendengar suara debaran yang bahkan terdengar jauh lebih cepat darinya.

Dengan cepat Naomi menjauhkan diri dari Luhan. “kupikir jantungmu akan meledak. Kenapa ?” Luhan tertawa. Ia benar – benar ingin memangsa Naomi karena kepolosannya yang terlampau berlebihan, namun ia tak mungkin melakukannya. Mengingat fisik Naomi masih belum stabil.

“kau ingat ucapanku beberapa hari lalu ?” Naomi mengernyitkan dahinya. Ia terlalu pelupa untuk mengingat hal kecil itu. oh astaga, sungguh malang sekali Naomi. ia kemudian menggeleng pelan.

“tentang apa ?”

Luhan berdiri dan mengeluarkan sebuah kotak dari saku celananya. Naomi membulatkan matanya ketika Luhan membuka kotak itu dan memperlihatkan isinya yang merupakan sebuah cincin dengan permata kecil berwarna putih sebagai batunya. Tak sampai disitu, Luhan kemudian berjongkok seperti beberapa drama yang pernah Naomi tonton bak pria yang hendak melamar kekasihnya.

“aku bukan pria romantis dan suka bertele – tele. Dan oleh karena itu, pada kesempatan ini. Aku Xi Luhan, mengajak Shin Naomi untuk serius dalam menjalin hubungan. Bukan hanya sekedar teman, sahabat maupun kekasih. Tapi sebagai istri” Naomi menutup mulutnya. Ia tak menyangka jika Luhan mengatakan itu. matanya memerah dan siap menjatuhkan air di dalamnya.

“bagaimana dengan Tiffany Unni Lu ?” ucap Naomi dibalik telapak tangannya yang menutup mulutnya.

“kami sudah berpisah. Tiffany telah memiliki pria lain dan begitu juga denganku. Apa kau mau menerimaku ?” Naomi berpikir sejenak. Ia menatap Luhan lembut.

“kita belum terlalu mengenal satu sama lain Lu. Bagaimana mungkin kau melamarku secepat ini ?”

“kita bisa mengenal jika sudah menikah nanti” pungkas Luhan.

“tapi Lu, aku belum memberitahu orang tuaku”

“aku sudah membicarakan hal ini dengan orang tuaku dan juga ibumu”

“apa kau serius dengan ku ?” Naomi tampak ragu mengatakan itu dan Luhan mengangguk mantap.

“kau menerimanya ?” Tanya Luhan seraya tersenyum dan Naomi mengangguk pelan. Bagaikan kembang api yang baru saja meluncur, Luhan langsung menyematkan cincin itu di jari Naomi. ia lantas memeluk Naomi dengan erat.

Begitulah akhir kisah ini. Luhan dan Naomi yang awalnya memiliki kepribadian yang berbeda bersatu walaupun rintangan yang menghadang sangatlah banyak. Mulai dari konflik perasaan sendiri hingga penculikan. Semuanya bagaikan film romantis yang sebenarnya tak ada adegan romantisnya.

Semuanya bahagia ?

Ya, tentu saja..

Naomi dan Luhan menikah beberapa hari kemudian. Banyak teman dan juga kerabat yang menghadiri pesta pernikahan mereka. Kalian ingat Sehun ? ah bocah itu, ia sekarang sudah baikan dengan kekasihnya. Buktinya sekarang Sehun membawa kekasihnya yang bermarga Lee itu ke pernikahan Luhan dan Naomi.

Baekhyun dan Sang Akh ?

Jangan tanyakan lagi pasangan yang satu ini. Pasangan aneh yang terkadang seringkali meributkan hal sepele ini sangat senang mengumbar kemesraan di depan umum. Bahkan dengan santainya, Baekhyun seringkali kedapatan tengah mencium Sang Akh di kerumunan orang banyak. Sungguh menjijikkan. Tapi, itulah mereka. Pasangan aneh.

Chanyeol dan Minrae ?

Ahahaha~ jika Sang Akh dan Baekhyun adalah pasangan yang aneh, maka Chanyeol dan Minrae adalah pasangan unik. Kenapa begitu ? ya, karena Chanyeol tertular oleh virus Minrae yang sangat suka mencicipi makanan ini dan itu, hingga akhirnya mereka berdua mendirikan sebuah restaurant hasil dari sumbangan pasangan XiMi dan juga BaekSang. Tak disangka – sangka, dengan bermodalkan resep Minrae restaurant itu kini memiliki banyak pengunjung. Hoby menjadi bisnis. Bukankah itu menguntungkan ?

-END-

Okeh fine, ini udah end kok..

Ada yang mau protes ?

Silahkaaannnn~ kolom komentar terbuka untuk ananda semuanya😀

Okeh, dina ngaku kalau akhirnya rada – rada absurb gini..

Tapi, percayalah.. hanya seginilah kemampuan dina.. *Bow

Dan dina gak bakalan pernah bosan dengan kalian yang sudah berbaik hati menghargai tulisan dina ini dengan mengisi kolom komentar😀 *two thumbs for my beloved reader

Need sequel ?

Hadoh, entahlah..

Masih belum kepikiran ama sequel ataupun epilog..

Liat nanti sajalah jika ada yang mau dan kalau dina mood..

Last,

THANK YOU YEOROBUUUUNNNN~

-Bonus pict Cast-

Shin Naomi

kk

shin_young'

Xi Luhan

10575394_609436325852216_3868378091954871412_o

ByD0CzJCIAEkH-h.jpg large

Seo Sang Akh

tumblr_luf7tbBXIz1qmolwlo1_500

Byun Baekhyun

10561615_891794027502029_6386165627706111594_n

tumblr_n9w7znjCdA1riav2to1_500

Kim Minrae

320870_300542083291771_216350565044257_1284799_1727222623_n

Park Chanyeol

16699_897402656941166_4314240508633037076_n

Oh Sehoon

10557185_896817436999688_9011407050489165243_n

114 thoughts on “I AM YOUR MAID (Chapter 15 B) – Ending

  1. Ahaha….. baru baca ff sebagus ini sekarang. Aduh… late banget ya din. Tapi thanks banget buat ff nya. Aku ngabisinnya cuma 1 hari. Ahaha.. gak adil sama yg udah lam nunggu ya… mian… tapi sekali lagi the best dah…. keep writing dindong….

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s