Truly, I Love You (chapter 16)

truly-i-love-you-3_zpsbad042c5

Title : Truly, I love You | Author : Kanemin| Main cast : Do Kyung Soo (D.O), Sakura (OC)| Support Cast : Exo-K member, Chen (Exo-M), Yunju, EunYeol|Length : chaptered| Genre : Romance, Married Life

Disclaimer: the idea is mine, everything on this fic based on my imagination, don’t ever too serious, why so serious?? this is just a fiction😀

Sorry for the typo, haha saya hanya manusia biasa yang terkadang banyak salah. Enjoy everyone.

-Chapter 16-

-0-

Kau hanya berpikir terlalu banyak

 

Matahari naik meninggi, jam di dinding menunjukkan pukul 7 lewat 15 menit. Dengan rambut yang dikuncir amat tinggi sakura tergesa-gesa menuruni tangga sembari mengikat dasinya. Rompi yang ia kenakan juga belum sempat di kancinginya. Di ujung tangga hampir saja ia tergelincir kalau tak lekas memegang pegangan tangga. “hati-hati.” Ujar seseorang dari arah meja makan. Sakura mengalihkan pandangannya ke meja makan dan melihat D.O yang tengah sibuk meminum susunya.

“kau kenapa sudah disini kyungsoo? Memangnya kau sudah sembuh?”

“menurutmu?” balas D.O singkat. Dengan tenang D.O melanjutkan sarapannya tanpa memedulikan lagi sakura yang tengah menggelembungkan pipinya kesal.

Sakura mengoles rotinya dengan roti sambil berdiri, ia juga masih belum sempat dengan rapi mengancingi rompinya, bahkan dasi yang sedari tadi disibukkannya belum terpasang rapi. “ahjumma boleh minta tolong masukan susuku ke tempat minum saja? Akan kubawa sebagai bekal.” Kata sakura pada ahjumma yang dibalas dengan anggukan singkat ahjumma yang tadi sedang meletakkan buah di meja.

Tanpa sakura sadari, D.O yang tadi berpura-pura sibuk memakan rotinya, memerhatikannya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia menggelengkan kepalanya pelan melihat seragam sakura yang masih berantakan. “apa libur sehari membuatmu lupa cara memakai seragam yang benar, hah?” ucap D.O pelan.

“eoh? Eung, nanti saja kurapikan di mobil. Oh iya, semalam dokter Jo menelponku dan berpesan kalau hari ini kau masih belum boleh pergi kemanapun.”

“hm.” D.O mengelap mulutnya dan bangkit.

Sakura baru saja memakan rotinya saat tiba-tiba D.O sudah berdiri di hadapannya dan mengarahkan tangannya ke leher sakura. “kau… mau apa?” sakura melangkah mundur karena D.O terasa berdiri terlalu dekat.

“merapikan dasimu.” D.O hanya menatap sakura datar.

Sakura terbelalak, “tidak perlu, sungguh.”

“ck. Makan saja rotimu dan diam.”

Sakura terdiam membisu begitu mendengar D.O berkata demikian. Ada nada memerintah yang selama ini memang tak pernah kuasa sakura tolak dalam setiap perkataan D.O

D.O melangkah maju, jarak mereka hanya beberapa senti dekatnya dan aroma tubuh D.O yang selama ini selalu menjadi kegemaran sakura langsung masuk memenuhi indra penciumannya.

Deg

Deg

Deg

Sakura tak henti-hentinya menghitung setiap hentakan jantungnya dalam setiap tarikan nafasnya. Tak banyak yang bisa dilakukannya selain tunduk terdiam, sakura tak berani mengangkat kepalanya, takut berhadapan langsung dengan wajah D.O, yang dengan serius membetulkan letak dasi sakura, setelah dasi rapi D.O tak lupa mengaitkan kancing di rompi sakura sehingga membuatnya menjadi lebih rapi dari sebelumnya.

“angkat kepalamu.” Perintah D.O yang melihat sakura terus saja tertunduk sejak tadi.

Perlahan sakura mengangkat kepalanya, berusaha bersikap tenang walau hatinya sejak tadi sudah berdebar begitu keras. Sakura menatap D.O, membalas tatapan mata D.O yang jatuh langsung tepat dimatanya. Sakura menelan ludahnya, pesona D.O memang begitu kuat dan ia memang tidak pernah bisa menahannya.

D.O mengangkat tangannya dan mengarahkannya ke belakang kepala sakura. Ia meraih ikatan rambut dan dengan gerakan pelan ia menarik ikatan tersebut membuat rambut sakura, yang tadi sudah tertata rapi di puncak kepala, tergerai sempurna jatuh menjuntai di bahunya. “eoh?” ucap sakura bingung.

“jangan mengangkat rambutmu terlalu tinggi, kau sama saja membiarkan kulitmu terbuka begitu saja dan dengan mudah dilihat orang lain, aku tak suka. Begini saja lebih baik.” Komentar D.O dengan nada datarnya, dia berdehem sebentar sebelum beralih kembali duduk di kursinya.

Wajah sakura yang tadinya pucat, memerah seketika, rona marun itu langsung membias di kedua pipinya yang tirus. Sakura berusaha menahan senyumnya, karena entah kenapa mendengar ucapan D.O barusan benar-benar membuatnya bahagia tak terkira.

“arasseo,” kata sakura pelan, “aku pergi dulu kyungsoo.” Tambahnya lagi sembari membalik badan.

Sakura baru hendak melangkahkan kakinya begitu ia tiba-tiba saja memutuskan berbalik dan mendekati tempat duduk D.O, “terima kasih.”

Cup.

Sakura mendaratkan kecupan singkat di pipi kanan D.O, hanya sebuah kecupan manis dalam sepersekian detik. Sakura menggigit bibirnya malu, dan tanpa berani menatap D.O lagi, ia langsung berbalik dan bergegas pergi.

Ditempatnya, D.O yang tidak pernah menyangka sebelumnya, terdiam kaku karena perbuatan spontan sakura yang tidak dapat dipungkiri cukup menggetarkan hatinya. Dari sudut bibirnya, yang mungkin saja tidak ada orang yang pernah membayangkannya, D.O tersenyum tipis. Senyuman tulus yang memang datang dari hatinya.

-0-

Jam pertama dan kedua lewat begitu saja bagi sakura, gadis itu sejak sepagian tadi hanya sibuk mencorat-coret bukunya dengan gambar-gambar dan juga tulisan-tulisan tak jelas. Tak biasanya memang sakura begitu, tapi harus diakui perbuatan D.O pagi tadi padanya berimbas begitu besar terhadap kelakuannya setelah itu.

“kau mau ke kantin?” Tanya eunyeol begitu bel istirahat nyaring dibunyikan.

“tidak. Aku di kelas saja.” Tolak sakura halus, ia menyangga kepalanya dengan kedua tangannya yang terlipat.

“oke.” Balas eunyeol singkat, sebelum kemudian beranjak.

Eunyeol pasti memang sudah janji dengan sehun, pikir sakura. Gadis itu yang sebelumnya jarang menghabiskan waktunya di kantin, belakangan memang jadi semakin sering pergi kesana karena sehun, dan sakura tahu eunyeol mengajaknya barusan hanya untuk sekedar basa-basi biasa. “dasar gadis itu,” gumam sakura pelan.

Dikelas hanya tinggal beberapa orang termasuk dirinya ketika ia tiba-tiba saja merasa bosan. Sakura bangkit dan memutuskan keluar, mungkin jalan-jalan sebentar ke taman akan membuat rasa bosannya hilang. Batinnya.

Sakura bersenandung pelan ketika melintasi lorong, perasaannya memang sedang begitu baik hari itu, entah kenapa. Sakura masih terus bersenandung riang begitu di persimpangan koridor ia melihat chen yang tengah membawa banyak buku menuju tangga arah perpustakaan. Berpikir kalau ia juga tak ada kerjaan, sakura memutuskan untuk mengikuti laki-laki itu.

Sakura mempercepat langkahnya sampai ia kemudian sudah jalan beriringan bersama chen, “hai.” Sapanya ramah.

Chen menoleh sebentar, walau sebenarnya dari aroma tubuhnya saja ia sudah siapa yang menyapanya, “hai.” Balasnya sembari memalingkan wajah.

Sakura mengerutkan alisnya, chen tak biasanya bersikap tak ramah begini padanya. “hmm mau kubantu membawakannya?” Tanya sakura berusaha mencairkan suasana yang dibuat kaku dengan balasan chen barusan.

“tidak perlu.” Ucap chen dengan datar dan bahkan ia tak melihat wajah sakura sedikitpun.

Sakura berdecak pelan, ada apa dengan laki-laki ini, batinnya. Sakura memutuskan diam sampai mereka memasuki perpustakaan dan chen menyerahkan buku-buku yang tadi dibawanya kepada petugas.

“terima kasih.” Ujarnya begitu petugas menyerahkan kembali kartu anggotanya, dan sesaat setelah itu chen langsung berlalu menuju rak-rak buku hendak mencari buku-buku baru yang akan dipinjamnya.

Sakura mendengus kesal, “kenapa dia bersikap seolah-olah tak ada aku disini?”

Dengan langkah kaki yang pasti, sakura menyusul chen menuju rak-rak buku. Chen sedang memilih-milih buku begitu sakura berdiri di sebelahnya. “chen-ah, kenapa kau bersikap aneh begini padaku?” Tanya sakura.

Chen tidak menjawab, ia hanya sibuk menelusuri puluhan buku disana demi menemukan buku yang dicarinya. Chen berjalan ke rak sebelah tanpa menghiraukan sakura. Sakura mendengus keras, chen aneh sekali dan dia tak pernah bersikap cuek begini sebelumnya.

“ya!” sentak sakura, belasan pasang mata yang sedang ada disana langsung menatapnya kesal. Termasuk petugas perpustakaan di meja depan tadi. Sakura tak menghiraukannya.

“ini perpustakaan. Jaga suaramu.” Pesan chen cepat. Ia beralih lagi ke rak lainnya.

“ya!” sentak sakura lagi.

Kali ini chen menyerah, ditariknya sakura keluar perpustakaan sebelum pengunjung lain yang mengeluarkan paksa mereka berdua.

Sakura langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada begitu mereka sudah berada di luar perpustakaan. “kenapa kau jadi mendiamkanku begini, chen-ah?”

“aku tak mendiamkanmu, aku hanya malas berbicara dengan orang yang melupakan janjinya sendiri.” Jelas chen cepat.

Sakura mengerutkan alisnya untuk kesekian kalinya, “janji apa?”

Chen diam, dia hanya menatap sakura lama dengan ekspresinya yang ia buat sedater mungkin, sangat bukan dirinya.

Sakura memiringkan kepalanya berusaha mengingat janji yang dikatakan chen. Ia memang sama sekali tak ingat apapun soal janji… “astaga!” dengan keras sakura tercekat dengan suaranya sendiri. Ia menepuk jidatnya dan menggaruk rambutnya yang tak gatal.

“sudah ingat?”

Ditanya demikian, bukannya menjawab, sakura malah hanya menggigit bibirnya malu. Bodoh sekali, bodoh sekali, batinnya berulang-ulang. Sakura mendesah dalam, “maafkan aku. Sungguh maafkan aku.”

“aku menunggumu, menghubungimu berkali-kali seperti orang bodoh yang tak satupun panggilanku kau jawab. Kalau kau memang tak berniat untuk pergi denganku, sebaiknya sejak awal kau tidak perlu berjanji sakura.”

Mendengar kata-kata chen membuat perasaan bersalah membuncah dalam dadanya, sakura ingat, ia ingat kata-katanya kalau ia akan menemani chen ke sebuah acara penghargaan, dan ia ingat kalau chen juga sudah berpesan pada eunyeol agar mengatakan padanya jangan melupakan janjinya, dan ia juga ingat ia bahkan tidak tahu janji apa yang dimaksud itu. “mainhae.” Dari semua kata yang bisa saja dikatakannya, hanya itu yang mampu dikeluarkan sakura. “maafkan aku chen-ah.”

Chen mendesah, “sudahlah, lagipula itu sudah lewat. Aku hanya mau berpesan, lain kali jangan pernah berjanji kalau kau tak tahu bisa menepatinya atau tidak. Dan kalau kau sudah berjanji, jangan sampai mengingkarinya sakura, janji adalah hutang. Aku ke kelas duluan ya.” Setelah menepuk kepala sakura, chen berlalu dari hadapan gadis itu, dan menghilang di ujung lorong.

Sakura menunduk lemas. Ia sangat kecewa pada dirinya sendiri, bagaimana mungkin dia bisa melupakan janjinya pada chen. Dan bodohnya ia bahkan sama sekali tidak mengecek ponselnya padahal biasanya sakura selalu memeriksanya sebelum tidur. “mainhae chen-ah” desahnya sekali lagi.

-0-

Hari menjelang sore begitu sakura memasuki rumah, tadi saat pulang sekolah eunyeol sempat mengajaknya melihat tim baseball berlatih, tapi mengingat D.O juga tak akan ada dilatihan itu, sakura memutuskan langsung pulang ke rumah.

Sakura bergegas ke kamarnya dan mencari ponselnya, kebiasaan buruknya ia memang sering sekali lupa meletakkan barang tersebut. Sakura membongkar setiap pelosok kamarnya, lemari, laci meja belajar, dan sofa di ujung ruangan yang bahkan sampai didorongnya demi melihat apa mungkin terjatuh di bawah sofa. Tidak berhasil menemukan di bawah sofa, sakura berlanjut membongkar kasurnya, mengangkat selimut dan disanalah tergeletak ponselnya. “hah, kau disini rupanya.” Ujarnya.

Sakura menyalakan ponselnya dan benar saja, ada lebih dari 20 panggilan tidak terjawab dan semuanya dari chen. Ia mengetuk-ngetukkan kepalanya dengan ponsel. “pabo. Pabo. Pabo. Jinjja pabo.” Katanya berulang-ulang.

“nona?” panggil ahjumma dari balik pintu kamar yang memang tidak ditutup sakura.

“eoh? Ya?”

“ada nona yui di depan, dia ingin bertemu dengan nona.”

“eonni?”

Ahjumma mengangguk mengiyakan.

“arasseoyo, aku akan ke bawah sebentar lagi. Terima kasih ahjumma.”

Sakura mendesah lagi, “chen pasti memang marah padaku makanya dia sampai bersikap seperti tadi. Astaga kau bodoh sekali sakura. Bo-doh se-ka-li.” Sakura meletakkan lagi ponselnya di meja. Dia juga melepas tasnya yang masih tersampir di punggungnya.

“sakuraaaaaaaa!!!” teriak Yui kencang. Dia langsung memeluk sakura begitu gadis itu turun dari tangga. “astaga aku merindukanmu sungguh.”

Sakura membalas pelukan yui erat. Dia juga begitu merindukan yui, kakak perempuannya yang baru ia temukan begitu datang ke Negara ini. “aku juga merindukanmu eonni.”

“aku kan selalu bilang berkunjunglah ke apartemenku, tapi mana. Kutunggu-tunggu kau juga tak kunjung datang. Menyebalkan sekali kalian berdua ini.” Celoteh Yui.

D.O yang sejak tadi duduk di sofa hanya memutar kedua bola matanya malas, yui datang dan dia pasti akan mengacaukan sesuatu. Baru datang tadi saja, ia sudah marah-marah akan banyak hal. Dasar perempuan, gerutunya dalam hati.

“hey kau, kesini.” Suruhnya pada D.O

Dengan malas D.O bangkit dan mendekat ke arah yui.

“coba lihat. Coba lihat adik perempuanku. Ya! Kau apakan adikku, hah? Kenapa dia sampai sekurus ini. Coba lihat.” Kali ini yui menaikkan nada suaranya, dan memberikan tatapan galak kearah D.O

“tidak eonni, kyungsoo tak berbuat apa-apa aku hanya, akhir-akhir ini tidak makan banyak.”

“mwo?! Ahjumma, kau tak memberinya makan?”

“ani eonni, jinjja. Ahjumma selalu memberiku makan sungguh.”

D.O mendesah, ia sudah tahu hal ini akan terjadi begitu yui berkunjung. Kakak perempuannya memang berisik sekali.

“ah jinjja, sudah. Hari ini sakura akan ikut denganku, kita akan berbelanja dan makan makanan enak. kau tidak perlu berganti baju, begini saja.”

“huh? Tapi eonni, kyungsoo tidak ikut?” Tanya sakura

“aku sudah tahu jawaban apa yang akan diberikannya sekalipun aku mengajaknya. Jadi sudah, ayo kita pergi. Jaga rumah baik-baik kyungsoo-ya. Ahjumma kami pergi.” Yui menggenggam tangan sakura. Setelah mengambil tasnya di sofa, mereka berdua beranjak keluar rumah.

“dia bersikap seolah-olah sakura miliknya.” Gumam D.O sebelum naik lagi ke kamarnya.

-0-

Yui bersenandung riang selama menyetir, perasaannya memang sedang bahagia. Dia memang selalu memimpikan memiliki adik perempuan yang bisa diajak bersenang-senang, belanja ini itu, dan bergosip tentang banyak hal, sampai kemudian D.O lahir dan meruntuhkan segala impiannya. Adik manis yang selalu diimpikannya langsung sirna begitu melihat D.O yang beranjak besar dengan kepribadian yang menyebalkan. Untungnya sakura kemudian datang. Semua ciri adik manis memang dimiliki oleh sakura. Cantik, manis, penurut, dan polos. Dari banyak aspek, kalau dilihat-lihat beruntung sekali D.O bisa mendapatkan gadis seperti sakura. Dan sayang sekali sakura harus mendapatkan laki-laki menyebalkan seperti D.O. Walau begitu, kalau dilihat lagi dan lagi D.O dan sakura memang sangat cocok satu sama lain, mungkin memang bukan secara sifat tapi dari sisi yang tak bisa yui jelaskan, dilihat bagaimanapun D.O memang seolah-olah memang diciptakan untuk sakura begitupun sebaliknya.

“kita mau pergi kemana eonni?” Tanya sakura tiba-tiba.

“eoh? Uhm membeli baju, sepatu, pergi ke salon, makan, belanja lagi? Mana yang ingin kau lakukan duluan?”

Sakura tertawa bingung, “terserah eonni saja. Aku ikut.”

Kali ini yui yang tertawa senang, “ah kau memang adik perempuan impianku sakura. baiklah kita belanja dulu saja ya.”

Yui sibuk sibuk memilihkan sakura baju, dari baju yang satu dan berganti dengan yang lainnya, begitu terus berulang-ulang sampai yui menjatuhkan pilihannya pada gaun hijau muda berpotongan selutut yang terlihat manis di tubuh sakura. “cantik. Ayo kita bayar.”

Sakura mengikuti kemanapun yui pergi, gadis itu membawa sakura menjelajahi setiap toko yang ada di pusat perbelanjaan tersebut. Setelah sekitar dua jam lamanya mereka berkeliling, yui berhasil mendapatkan beberapa potong baju untuk sakura, dan juga beberapa pasang sepatu. Gaun hijau muda yang tadi dipakainya juga dilarang untuk dilepas oleh yui. Bahkan sekarang sakura sudah dipakaikan sepatu cantik ber-heels pendek.

“sekarang kita ke salon ya, kau pasti jarang merawat rambutmu. Kaja.” Entah dapat energi dari mana tapi yui memang sama sekali tak terlihat lelah sedikitpun.

Sebelum memasuki salon, yui mengatakan kalau ia sering sekali pergi kesana. Tak heran banyak pegawai salon yang sudah mengenalnya. Dan begitu mereka bertanya siapa gadis yang bersamanya, dengan riang yui menjawab, “adik perempuanku.”

Sakura menunduk sopan membalas sapaan pegawai-pegawai disana.

Satu jam berlalu begitu saja. Mereka sudah selesai dengan perawatan masing-masing. Yui memberikan tatapan menilai pada penampilan baru sakura. “kau sering-sering begini. Kyungsoo pasti tak akan pernah melirik gadis lain. Ayo makan.”

Sakura menyentuh rambutnya yang baru saja di curly, dan pipinya seketika membias kemerahan. Dalam hidup, pasti ada saat dimana seorang perempuan merasa cantik dan dia bahagia dengan perasaannya itu.

“ah aku lelah tapi aku senang.” Ujar yui begitu pelayan yang tadi mencatat pesanannya berlalu. Yui menyandarkan punggungnya ke sofa.

“eonni aku jadi tak enak, kau jadi mengeluarkan banyak uang hari ini, aku—“

“sstt! Uang bukan masalah selama kau bahagia, karena kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang. Dan hari ini aku bahagia, sungguhan.”

“kyungsoo beruntung sekali punya kakak seperti eonni,” kata sakura tulus.

Yui tertawa kecil, “percayalah aku tak pernah begini dengannya. Dia juga anak laki-laki, dan dengan sifatnya yang begitu menyebalkan, hanya akan jadi mimpi bisa menghabiskan waktu seperti ini.”

Minuman mereka datang lebih dulu beberapa saat kemudian. Yui meminumnya seraya menatap sakura dalam, “sakura.” panggilnya.

Sakura mengangkat kepalanya, “ya?”

“kau bahagia?”

Sakura mengerutkan dahinya bingung, “tentu saja.” Jawabnya walau ia tak mengerti bahagia dalam hal apa yang dimaksud yui, “pergi seperti ini dan menghabiskan waktu dengan eonni, tentu saja aku bahagia.” Jelasnya lagi.

“bukan itu. Kau bahagia hidup bersama kyungsoo? Kau bahagia dengan pernikahan kalian?” nada bicara yui tiba-tiba saja berubah serius.

Ditanya demikian membuat sakura merasa sedikit gugup. Arah pembicaraan yang serius seperti ini membuatnya sedikit bingung, “aku bahagia.” Jawabnya pendek.

Yui menggenggam tangan sakura, “kyungsoo memang anak yang sulit. Dia keras, egonya juga tinggi, sampai sekarang aku bahkan tak sanggup menghadapinya kalau dia sudah berkeras dengan egonya itu. Tapi, sejak pertama kali aku melihatmu dulu. 10 tahun lalu itu, aku sudah menyukaimu, Si Gadis manis yang penurut. Ketika itu aku tak pernah membayangkan kau akan jadi adik iparku, pernikahan kalian memang sesuatu yang mengejutkan, tidak terkecuali bagiku. Aku juga kaget begitu mendengar keputusan tersebut. kalian masih sama-sama muda, tapi dalam hidup, keputusan-keputusan mengejutkan memang harus diambil kan dalam keadaan mendesak.”

“aku menikah demi urusan bisnis kan eonni?”

Yui menggeleng, “ada banyak hal yang lebih penting dari itu sakura. iya mungkin sekarang kau berpikir pernikahan kalian memang hanya soal bisnis, tapi percayalah padaku ada banyak hal yang begitu penting sampai akhirnya kau dan kyungsoo dinikahkan. Jadi sesulit apapun itu, kumohon bertahanlah dengannya, dia memang egois, kejam, seenaknya, dingin, cuek, dan masih banyak lagi sifat buruknya. Tapi, sebenarnya hatinya lembut sakura, dia hanya kesulitan menunjukkannya. Dan satu lagi, kyungsoo tidak akan pernah melepaskan apapun yang sudah jadi miliknya.”

“huh?”

“kau sudah jadi miliknya kan? Jadi dia tidak akan pernah melepaskanmu. Tidak akan pernah.”

Sakura baru saja hendak menanggapi ucapan yui begitu makanan datang. Ia menutup lagi mulutnya yang sudah setengah terbuka. Apa maksud ucapannya barusan? Batin sakura.

-0-

“sakura mianhae, eoh? Aish aku kesal sekali kalau ada meeting dadakan seperti ini. Astaga maafkan aku ya.” Ujar yui di depan pintu taksi yang tadi diberhentikannya.

“tidak apa-apa eonni, terima kasih untuk hari ini.”

Yui memeluk sakura erat, “lain kali kita pergi lagi dan aku janji hal seperti ini tak akan terjadi lagi. Dan makan yang banyak, kau kurus sekali.”

Sakura mengangguk dalam pelukan yui. Dia memang harus pulang sendiri dengan taksi karena yui yang baru saja ditelepon dan diminta datang secepatnya untuk meeting. “sampai bertemu lagi eonni, aku menyayangimu.”

“aku juga menyayangimu, oh ya.” Yui melepas pelukannya, “jangan lupa mengunjungi eomma dan abeoji. Mereka merindukan kalian berdua.”

Sakura mengangguk lagi.

Yui memasukkan kepalanya ke jendela pintu taksi, berbicara dengan supir. “ahjussi, tolong kau antarkan nona ini ke alamat ini.” Yui memberikan kertas kecil. “dan ini bayarannya, ahjussi harus benar-benar mengantarnya ya.”

“baiklah nona.” Balas supir taksi berkepal plontos itu sembari menerima beberapa lembar uang puluhan won yang diberikan yui.

“masuklah.” Suruh yui pada sakura lembut, “hati-hati ya.”

“eonni juga hati-hati.” Sakura melambaikan tangan sampai taksi mulai berjalan membelah keramaian jalan di depan restoran yang tadi dikunjunginya.

“ah adikku.” Gumam yui senang. Dia memang benar-benar senang hari itu, sungguh-sugguh senang.

-0-

Langit sudah sepenuhnya gelap begitu taksi memasuki komplek perumahan dan berhenti di depan rumah bernomor 8 itu. “terima kasih ahjussi.” Ucap sakura sopan.

“ah nona, uang yang diberikan nona tadi lebih banyak sekali, ini nona.” Kata supir taksi sembari hendak memberikan sisa uang kepada sakura.

“ah tidak apa-apa, ambil saja ahjussi. Terima kasih.” Tolak sakura halus, dan segera keluar setelah mengambil beberapa kantung belanjaannya.

Sakura baru hendak memencet bel agar ahjumma membuka gerbang begitu ada suara yang memanggilnya,

“sakura.”

Dari balik mobil yang sudah sejak sejam yang lalu terparkir disana itu, chen keluar.

“chen?” Tanya sakura heran.

“kau.. habis… berbelanja?” chen balik bertanya begitu melihat kantung-kantung belanjaan yang memenuhi kedua tangan sakura.

“eoh. Kau sedang apa disini?”

“menunggumu.”

“ne?”

“uhm aku merasa aku sedikit keterlaluan soal tadi di sekolah. Jadi, mianhae.”

Sakura membelalakkan matanya, “astaga kenapa jadi kau yang minta maaf, kalau kau tidak bersikap seperti tadi aku justru tidak akan sadar dengan kesalahanku. Dan mungkin saja aku akan mengulangi kesalahan yang sama. Terima kasih sudah bersikap seperti tadi chen-ssi.”

Chen tertawa kecil, gadis dihadapannya ini selalu bisa membuatnya bahagia. “uhm, kau ikut denganku tidak?”

“ikut?”

“hm. Tadi kulihat berita katanya aka nada pesta kembang api di sekitar sungai han. Dan seingatku, kau suka sekali dengan kembang api kan?”

Sakura mengangguk semangat. “kaja.” Katanya tanpa berpikir lagi.

Chen tersenyum, dan membawa sakura masuk ke mobilnya. Kantung-kantung belanjaan itu dimasukkannya ke dalam bagasi. “kau cantik sekali sakura.” puji chen begitu mereka memasuki mobil.

“terima kasih.” Balas sakura malu.

Setelah mendapat tempat parkir, sakura dan chen keluar dan mulai mencari tempat yang pas untuk melihat pertunjukkan kembang api tersebut. keadaan sudah ramai sekali, bahkan sampai berdesak-desakkan. Tak mau sakura sampai tersesat di tempat seramai itu, chen meraih tangan sakura dan menggenggamnya, “tidak apa-apa kan? Aku takut kau hilang.” Kata chen setengah berteriak.

Walau ragu sakura mengangguk pelan, sedikit risih memang. Selama ini hanya D.O yang senantiasa menggenggamnya seerat ini. Tapi sakura juga tidak mau kejadian dia menabrak banyak orang seperti dulu terulang lagi. Chen dengan cepat menemukan tempat yang sedikit kosong untuk mereka berdua.

Begitu sampai ditempat yang dimaksud chen, sakura segera menarik tangannya. “ah maaf.” Kata chen salah tingkah. Kalau saja sakura tahu, menggenggam tangannya ternyata bisa terasa begitu nyaman seperti tadi.

“lihat.” Pekik sakura tiba-tiba. Sebuah kembang api cantik meledak dilangit malam sungai han.

Chen mengalihkan pandangannya ke langit. Walau baginya sakura selalu terlihat jutaan kali lebih cantik dari kembang-kembang api tersebut.

Tak banyak yang mereka bicarakan selama pertunjukan kembang api, sakura hanya sibuk menikmati dan mengeluarkan pujian-pujian terhadap setiap kembang api yang meledak di hadapannya. Berbeda dengan chen yang merasa bahagia sendiri, bukan Karena cantiknya kembang api, tapi karena sakura sedang berada di sebelahnya. Berdiri dengan tepat di sampingnya dengan gaun cantik yang sangat pas di tubuhnya yang mungil itu.

“chen.” Panggil sakura dengan kencang. Suara gemuruh ledakan kembang api dan orang-orang disekelilingnya memang begitu riuh.

Chen menoleh.

“aku lupa bertanya. Penghargaan apa yang kau dapat saat acara kemarin?” Tanya sakura maish dengan berteriak.

“aku memenangkan banyak. Nanti saja kuperlihatkan pialanya. Yang jelas aku sangat berterima kasih padamu.” Jawab chen juga dengan berteriak.

“untuk?”

“pokoknya, sakura terima kasih.” Chen kali ini tidak berbicara dengan sakura, ia berteriak lebih kepada semua orang. Dengan teriakan yang lebih keras, chen berkata lagi “sakura terima kasih.”

Sakura mengerutkan keningnya heran, tak mengerti dengan maksud ucapan chen, ia mengangkat bahunya dan kembali menatap langit-langit yang masih dihiasi bunga-bunga api yang memancar. Lagipula, berteriak seperti tadi membuat tenggorokannya sakit.

Setelah pertunjukkan selesai, sakura memutuskan untuk langsung kembali ke rumah. Chen sempat mengajaknya makan terlebih dahulu tapi jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Sakura takut D.O mencarinya walaupun ia yakin itu tidak akan mungkin terjadi.

-0-

D.O mengetuk-ngetukkan tangannya di meja makan. Sudah sejak 3 jam yang lalu ia duduk disana, dan sudah ketiga kalinya ahjumma bolak-balik menghangatkan makanan. Dan saat ahjumma hendak mengahangatkannya lagi untuk keempat kalinya, D.O menghentikannya. “sudahlah ahjumma, tidak perlu dihangatkan lagi. Ahjumma pulang saja.” Suruh D.O pelan.

“tapi tuan, apa tidak sebaiknya tuan muda makan terlebih dahulu. Nona sakura mungkin sudah makan bersama nona yui.”

“aku mengerti. Pulanglah, ini sudah malam ahjumma.”

Ahjumma mengangguk patuh dan segera berlalu.

D.O mengambil ponsel yang sejak tadi tergeletak disana dan menghubungi yui. Saat yui mengajak sakura tadi, ia tak mengira akan semalam ini. Dan memang kemana saja yui membawa sakura sampai jam segini belum juga kembali. Di deringan kesekian yui baru mengangkat panggilannya.

“apa? Aku sedang meeting. Ugh.” Sentak yui begitu tersambung.

“meeting? Kau tidak bersama sakura, noona?” Tanya D.O heran.

“sakura? dia pulang sendiri dengan taksi tadi jam 6 karena aku harus meeting mendadak. Anak itu belum pulang? Hah?” nada bicara yui langsung berubah panik.

D.O diam. Berpikir. Kemana gadis itu pergi?

“oh mungkin dia ada di kamarnya, aku hanya belum melihatnya saja.” Bohongnya agar yui tak banyak lagi bertanya.

“aigoo, merindukannya?” dengan nada yang berganti jahil, yui tertawa kecil di tempatnya “Ckck ya sudah cepat kau cek ke kamarnya, dan kalau dia memang tak ada langsung hubungi aku biar kuhubungi supir taksi yang tadi mengantarnya. Awas saja dia sampai menculik adikku.”

“kututup noona.” Ucap D.O singkat, sedikit menyesal karena menghubungi yui. Karena sikap noona-nya yang berlebihan itu sama sekali tak berkurang sedikitpun.

D.O’s POV

Aku menutup sambungan telepon noona dengan perasaan kecewa. Kemana gadis itu? Batinku khawatir. Lagi-lagi seperti ini. Sakura seolah tidak pernah berubah sedikitpun walau kemarin ia sudah berjanji untuk mengatakan padaku kemanapun ia akan pergi. Aku duduk dengan gelisah, sayup kudengar suara mobil di depan rumah. Mungkin itu sakura. batinku.

Aku masih duduk di tempatku begitu pintu rumah terbuka dan benar saja disanalah sakura, dengan banyak kantung belanja di tangannya dan dengan pakaian yang baru kali itu kulihat, berjalan masuk. Aku bangkit menghampirinya.

“kau darimana?” tanyaku langsung tanpa basa-basi.

Sakura sedikit terlonjak kaget, dia meletakkan bawaannya ke lantai. “eung pergi bersama yui eonni.”

“dia bilang, kau sudah tidak bersamanya sejak jam 6 sore. Lalu 3 jam tadi kau kemana?” aku sedikit menaikkan nada suaraku. Kesal memang, sekaligus juga khawatir.

“aku tadi bertemu chen di depan dan akhirnya aku pergi dengannya, karena aku—“

“chen?” sambarku. “dia lagi? Hah?!” dengusku gusar. Kenapa lagi dan lagi selalu laki-laki itu yang muncul dan mengacaukan banyak hal.

“aku merasa bersalah padanya karena mengingkari janji, jadi aku pergi—“

“kau tidak merasa bersalah padaku?” sambarku lagi. Aku menatapnya tajam. “kau juga sudah berjanji untuk selalu mengatakan kemanapun kau pergi tapi apa, kau berjanji kemarin dan hari ini kau baru saja mengingkarinya. Kau tidak merasa bersalah juga padaku?”

Sakura menunduk. Tak mau membalas tatapanku.

“apa aku harus membuatmu berjanji untuk tidak lagi menemui chen?”

Sakura mengangkat kepalanya, dan mengerutkan keningnya, “janji macam apa itu? Chen kan temanku, kau tidak bisa seenaknya melarangku berteman dengan siapapun.”

“kau memang bisa berteman dengan siapapun sakura tapi tidak dengan chen.”

“memangnya apa salah chen padamu, hah? Kenapa kau benci sekali dengannya?”

“aku hanya tidak suka dengannya.”

“kau egois sekali kalau begitu. Aku tidak pernah melarangmu berteman dengan siapapun, termasuk yunju lalu kenapa kau melarangku berteman dengan chen? Yang jelas kau tahu, dia hanya temanku.”

Aku terbelalak. Lagi. Nama itu muncul lagi dan aku heran kenapa sakura selalu saja membawa-bawa yunju dalam setiap pertengakaran yang dimulai jelas-jelas karena kesalahannya.

“berhenti membawa-bawa yunju dalam pembicaraan ini. Dia tidak ada hubungannya sama sekali.”

“oh tidak ada? Bisakah kau berhenti membohongiku kyungsoo? Suho oppa sudah menceritakannya padaku. Dan aku sudah tahu dengan jelas jenis hubungan apa yang kau miliki dengan yunju.”

Aku berdecak keras. “jangan bertingkah seolah-olah kau tahu banyak tentangku sakura. dan sekali lagi kukatakan, berhenti menyebutkan nama yunju.”

“kenapa? Kau mau melindungi gadis yang kau sukai itu? Hah?”

Aku merapatkan mulutku kesal, sakura sudah terlalu banyak bicara. “masuk ke kamarmu, bergaul dengan chen ternyata membuatmu jadi banyak bicara seperti ini.”

Sakura menggigit bibirnya, matanya berair. Dia memang cengeng.

“aku membencimu kyungsoo. aku membencimu.”

D.O’s POV

Sakura naik ke kamarnya dengan air mata yang mengalir di pipinya, aku tercekat, lagi-lagi sakura terluka karenaku. Aku tidak pernah bermaksud menyakitinya, tidak sedikitpun. Sakura hanya terlalu sering mengambil kesimpulan yang terlalu jauh. Aku hanya tak suka ia bergaul dengan chen dan dia selalu saja mengembalikannya ke persoalan yunju. Harus berapa kali lagi aku mengatakan kalau aku tak ada hubungan apa-apa dengan yunju. Harus berapa kali lagi aku mengatakannya sehingga membuat sakura percaya kalau yunju bukanlah siapa-siapa.

Aku meraih kantung belanja yang tadi diletakkan sakura di lantai. Kubawa naik ke kamarnya. Aku berhenti di depan kamar sakura dan tak berani mengetuk ketika mendengarnya sedang meraung kencang. Aku mendesah dalam, apa sekarang aku sudah jadi laki-laki paling brengsek di dunia Karena sering sekali membuat perempuan menangis? Aku tidak pernah bermaksud menyakiti perasaannya. Tidak pernah dan tidak akan pernah. Tapi sakura sendiri yang terus saja membayangkan banyak hal yang sebenarnya tidak ada dan itu tentu saja membuat siapapun akan geram karena dia lah yang jelas-jelas sering pergi dan menghabiskan waktu berdua dengan chen tapi dia juga lah yang selalu saja mengatakan soal yunju yang adalah ini, itu dan masih banyak lagi.

“dia senang sekali berprasangka tanpa pernah mau berkaca.”

Tubuhku merosot di depan pintu kamar sakura. memutuskan untuk tidak masuk karena dalam keadaan begini, sendiri akan selalu terasa lebih baik.

Aku memutar-mutar asal ponselku bosan. Sudah hampir tengah malam, dan tangisan sakura juga sudah tidak terdengar lagi. Aku mendesah pelan dan bangkit. Mengangkat kantung-kantung dihadapanku dan membuka pintu kamar sakura. kamarnya gelap, sepertinya sejak tadi sakura memang tidak menyalakannya, aku menyalakan lampu tidur di sisi ranjang sakura. setidaknya, kamar ini butuh sedikit penerangan. Aku meletakkan kantung tersebut di dekat meja belajar.

Sakura tidak berbaring di tempat tidurnya, dia ada di sisi ranjang dan tertidur disana dengan kepala yang ia sanggah di ranjang dengan kedua tangannya. Aku menghampiri tubuh sakura dan mengangkatnya. Benar kata noona, gadis ini lebih kurus dari sebelumnya. Tubuh sakura lebih ringan dari saat dulu aku pernah mengangkatnya saat dia pingsan.

Setelah merebahkan tubuhnya, aku baru menyadari sesuatu, ada yang berbeda dari penampilan sakura. aku tersenyum kecil, jadi hari ini noona mendandaninya? Ck. Aku melepas sepatu yang dikenakan sakura. kalau ahjumma belum pulang akan kusuruh dia untuk menggantikan baju sakura, tapi Karena ahjumma sudah pulang dan tidak mungkin aku yang menggantikannya baju, aku langsung menyelimuti tubuh sakura.

Aku duduk di sisi ranjang, dan mengelus kepala sakura. “kau harusnya tak berpikir terlalu banyak sakura.” ucapku.

Aku mengelus pipinya yang tirus itu, “dan makan lebih banyak.”

Author’s POV

D.O mendekatkan wajahnya ke wajah sakura, dan mengecup kening gadis itu lama. “selamat malam sakura.” ucapnya setelahnya.

-0-

TBC

maaf ya telat sehari dari yang udah aku jadwalin. well, tugas numpuk ga kira-kira, tidur kurang, and something shit happened to my number one bias so yeah, i feel so fucked up these past few days. anyway, i just realised kalo next part itu minggu depan, well sorry to say it ga jadi minggu depan. kayanya ga akan bisa, but if i could ill post  the next chapter immediately. daaaaannn kabar gembira karena next chap bukan the last one. aku memutuskan untuk menamatkan fic ini di chapter 18

so chapter 17 (11 oktober), chapter 18 (last) (18 oktober)

ill try my best di sela-sela jadwalku, aku akan usahain lebih cepat dan kalo emang ga bisa, aku janji ga akan lewat dari jadwal (but sorry abt this time)

well sorry again for the late🙂

(oh iya ada yang tau dimana bisa req poster yang keren? aku pengen special poster buat 2 chapter terakhir. info ya😀 thanks before )

230 thoughts on “Truly, I Love You (chapter 16)

  1. padahal kyungsoo jujur aja kalo dia udah mulai sayang sama sakura, dan bilang kalo chen menyukai sakura, jadi gak kaya gini kan. tapi suka deh sama sifat kyungsoo yang kadang aneh kadang juga bikin ya gituuu

    suka deh ff nya, apa lagi cast nya kyungsoo. saranghae thor :*

  2. Dari chapter awal sampe 16 ini setiap chapternya ga ngecewain.
    Alurnya keren, trus pewatakan/? setiap tokoh nya tuh keren.
    Tata bahasanya juga bagus, ga berat. Pokoknya!!! Jempol deh buat ff ini!!!!

  3. Author!!!!!
    Makasih udah update, makasih banyak
    Gak peduli telat yang penting update!!!!
    Mian aku ambil hiatus selama setahun
    Mianhe jeomgnal
    saranghae thor
    2 bulan lagi aku comeback entar aku banjirin ff nya dengan komenanku
    Aku kangen bat sama karya karyamu
    setaon gak baca. bayangin (mian curhat)
    Kangen bat sm sakyu (sakura kyungsoo) aaa…

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s